Apr 5, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)



Oleh Marsigit

Pada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika.

Oleh karena itu pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya.

Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA seperti yang pernah Pak Wono sebutkan.

Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Artinya, selama ini yang dilakukan oleh teman-teman di ITB, UGM dan PT yang lain menurut saya sudah selaras dengan Architectonic Mathematics; kecuali pada nuansa promosi kemandirian mahasiswa yang mungkin masih merupakan tantangan kita bersama.

Sedangkan yang masih menjadi persoalan besar adalah bagaimana menampakan atau mempromosikan Architectonic Mathematics pada proses belajar matematika di sekolah? Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang saya sebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah.

Artinya, secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak, is totally diferent. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri.

Transforming Phenomena meliputi transfer the ideas, transfor the theories, transform the paradigm, transfor the philosophy, transform the concept of mathematics, trasnform the method of mathematics, transform the attitude of mathematics, trasnform the resources of learning mathematics, trasform the method of teaching mathematics, transform the perception what is called the competences of mathematics.

Namun jangan sampai salah paham. Sekali lagi jangan sampai salah paham. Transformasi yang dimaksud adalah Transformasi Internal dikarenakan Potensi Internal dalam kerangka kemandirian untuk mengembangkan Wadah atau Dimensinya agar mampu menyadari Ruang dan Waktu Matematika dan Pendidikan Matematika. Singkat kata maka Self Transformation dari setiap Subyek atau Pelaku belajar dan mengajar itulah yang diperlukan. Dengan kata lain, diperlukan keadaan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI bagi siapapun yang ingin mempelajari Matematika, pada segala dimensinya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI? Hal demikian tidak akan dipahami kecuali kita memahami HAKEKAT CONSTRUCTIVISME.

Implikasinya, maka untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya....STOP DULU wahai Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engka lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka TUNGGULAH akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan.

PEMBERONTAKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA beresensi bahwa UNTUK MEMPERBAIKI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH  kita harus mentrasformir atau menemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Satu-satunya solusi kita "HARUS MENGINTRODUCIR APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI 'SCHOOL MATHEMATICS'".

Apakah yang disebut sebagai School Mathematics?

Saya uraikan di posting berikutnya.

Amin.

45 comments:

  1. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPS P.Mat D

    Pembelajaran matematika di perguruan tinggi berbeda dengan pembelajaran matematika di sekolah. Di perguruan tinggi, hendaknya mahasiswa dapat dengan mandiri menemukan struktur matematikanya namun Di Sekolah Dasar sebenarnya hendaknya dibentuk kemandirian dalam menemukan matematika oleh siswa sendiri, namun untuk melakukan inovasi ini diperlakukan berbagai perubahan. Bila para ahli matematika memaksakan perubahan pada pembelajaran matematika, maka akan berakibat buruk nantinya.

    ReplyDelete
  2. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena. Pada pembelajaran di sekolah hakekatnya sejalan dengan matematika sekolah yang diungkapkan oleh Ebbut yang memperhatikan psikologi anak. Sedangkan pembelajaran matematika pada jenjang perguruan tinggi dapat dengan menggunakan Pure Mathematics.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Matematika di berbagai tingakatan tentu berbeda-beda, matematika di perguruan tinggi yang berorientasi pada matematika murni tentu berbeda dengan matematika sekolah pada tingkatan pelajar. Transforming phenomena perlu dilakukan agar matematika murni perguruan tinggi dapat diterima di matematika sekolah dengan cara tertentu. Sehingga karakter belajar matematika siswa akan lebih berkembang. Transformasi yang dilakukan berupa intuisi matematika pelajar muda agar lebih mengidam-idamkan matematika.

    ReplyDelete

  4. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2


    Yang dapat saya pahami dari pembahasan elegi di atas adalah pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen) konsep-konsep dan struktur-struktur matematikanya. Mendorong kemandirian dalam hal ini memang dapat dilakukan pada orang dewasa, namun hal ini akan sangat sulit jika diterapkan kepada anak-anak. Perlu diketahui karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak itu sangat-sangat berbeda.
    Menurut Ebbutt dan Straker (1995), sifat Matematika sekolah adalah sebagai berikut: 1) Matematika adalah penelitian untuk pola dan hubungan. 2) aktivitas Matematika perlu kreativitas, imajinasi, intuisi, dan inovasi. 3) Matematika adalah kegiatan yang perlu berkomunikasi. 4) Matematika adalah kegiatan pemecahan masalah. 5) Algoritma adalah prosedur untuk menemukan solusi dari pertanyaan Matematika. 6) aktivitas Matematika perlu interaksi sosial.

    ReplyDelete
  5. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Secara pedagogis dan psikologis, karakter belajar matematika untuk orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Cara belajar matematika mahasiswa di perguruan tinggi sangatlah berbeda dengan cara belajar matematika anak SD. Anak SD belajar matematika secara konkret, butuh barangnya. Sedangkan mahasiswa belajar matematika secara formal abstrak. Mahasiswa sebaiknya belajar secara mandiri, melakukan riset dll sehingga dapat membanun pengetahuan sendiri.

    ReplyDelete
  6. Matematika merupakan ilmu yang dipandang oleh kebanyakan orang yaitu ilmu yang pasti, sehingga jika ada pertanyaan seperti yang disampaikan oleh Bapak Prof. Marsigit akan menimbulkan banyak jawaban yang berbeda sesuai dengan dimensi pikiran seseorang. Menurut dimnesi pikiranku matematika kontradiktif karena suatu yang dihitung atau diperkirakan bisa mempunyai dua jawaban, ya atau tidak, bisa atau tidak bisa, atau lainnya. Sesuatu yang ada pasti kontrakdiktif dengan sesuatu yang tidak ada. Mendidik tidak sama dengan mengajar, mendidik juga tidak sama dengan mentransfer pengetahuan semata. Mendidik lebih dari itu, sehingga pendidikan juga bukan hanya proses belajar dan mengajar saja. Pendidikan secara lebih dalam dan meluas diartikan sebagai proses belajar sepanjang hayat yang dilakukan dan dialami olegh manusia sehingga wawasan yang baru semakin bertmabng dan membentuk suatu pikiran yang dewasa dan membentuk karakter pada manusia yang memperoleh pendidikan tersebut. Oleh karena itu, proses pendidikan ini merupakan proses yang sangat berpengaruh pada tingkat kualitas sdumber daya manusia suatu negara. Jika suatu negara ingin maju, maka yang dimajukan adalah bidang pendidikannya. Berbicara tentang pendidikan juga akan membawa kita untuk mengambil makna lebih dalam tentang paham dan tidaknya peserta didik saat diberikan suatu pengetahuan yang baru, maka tugas kta sebagai pendidik lah untuk membuat suatu proses yang benar-benar bermakna sehingga keberhasilan pendidikan di negara kita dapat tercapai.

    ReplyDelete
  7. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Architectonic mathematics merupakan produk dari axiomatic mathematics, artinya suatu produk atau hasil dari matematika yang diajarkan di perguruan tinggi. Produk tersebut dihasilkan melalui proses riset atau penelitian. Untuk mahasiswa di perguruan tinggi, hal ini tidaklah sulit dan bukan merupakan ssuatu permasalahan. Namun, bagaimana menerapkannya untuk anak-anak, mereka tidak akan mampu melakukan riset tersebut. matematika untuk mahasiswa tentunya sangat berbeda dengan matematika untuk anak kecil atau anak sekolah. Maka tantangan yang harus dihadapi yaitu matematika yang bagaimanakah yang baik dan relevan untuk anak kecil, maka munculah matematika sekolah. Karena masih anak-anak, maka tahap mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri akan membutuhkan bantuan orang lain. Matematika sekolah bersifat sosial, sehingga sangat cocok untuk membantu anak mengkonstruksi pengetahuannya tentang matematika.

    ReplyDelete
  8. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Matematika untuk perguruan tinggi dan matematika sekolah tentu berbeda. Matematika di perguruan tinggi berorientasi pada matematika murni yang dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen) konsep-konsep dan struktur-struktur matematikanya. Sedangkan matematika sekolah harus memperhatikan aspek psikologi, sosial dan tahap perkembangan pola pikir siswa. Tahap berpikir anak-anak dalam belajar matematika adalah pada tahap operasi konkrit yang merupakan tahap dimana anak-anak akan dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda-benda konkrit. Dunianya anak-anak adalah dunia persepsi menggunakan pancaindera, berdasarkan pengalaman mereka seperti pernah dipegang, dilihat, dsb. Anak-anak membutuhkan hal-hal yang bersifat konkrit untuk mengkonstruksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  9. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dikatakan tingkat yang berbeda sudah pasti dalam segala halnya berbeda. Dalam memberi pemahaman pun berbeda, karena perbedaan tingkatan memiliki kemampuan yang berbeda dari sisi berpikir dan sikapnya. Begitu halnya mengajar matematika berbeda antara tingkat SD, SMP, SMA hingga PT. Arsitektonik matematika merupakan struktur logis yang digunakan oleh seseorang yang ingin merencanakan untuk mengatur isi dari sistem apapun.

    ReplyDelete
  10. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Membangun pengetahuan matematika bagi siswa harus dilakukan dengan memperhatikan tingkat perkembangan intelektualnya. Membangun pengetahuan siswa jenjang Sekolah Dasar berbeda dengan siswa pada jenjang Sekolah Menengah Pertama, apalagi pada jenjang Sekolah Menengah Atas bahkan di Perguruan Tinggi. Pembelajaran matematika di perguruan tinggi dilakukan dengan pembudayaan matematika secara mandiri dengan mengkontruksi sendiri struktur-struktur matematikanya (membangun pengetahuannya sendiri). Apabila pembelajaran matematika di perguruan tinggi diterapkan pada pembelajaran matematika sekolah dasar akan menimbulkan banyak masalah bagi siswa, karena pada sekolah dasar kemampuan berpikir siswa masih dalam tahap operasional konkrit.

    ReplyDelete
  11. Architectonic mathematics mendasarkan pada siswa membangun pengetahuan dari pengalaman belajarnya yang berkaitan langsung dengan benda kongkrit. Dari keterlibatan siswa tersebut, siswa memahami sendiri serta mencoba untuk membangun pengetauannya sendiri. Matematika yang masih terikat dari ruang dan waktu. Matematika yang membutuhkan banyak eksplorasi sendiri oleh siswa. Bukan matematika yang telah jadi, yang diberikan dari guru pada siswa.

    ReplyDelete
  12. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pada pembelajaran matematika dibedakan untuk sekolah dasar, sekolah menengah dan perguruan tinggi. Di dalam pembelajaran matematika sekolah dasar anak diminta untuk bermain sambil belajar. Selain dapat mengembangkan karakter siswa, penalaran yang digunakan juga masih bersifat induktif. Hal ini dikarenakan di tingkat sekolah dasar lebih untuk menanamkan prior knowledge yang akan digunakan di sekolah menengah.

    ReplyDelete
  13. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Hal penting yang dapat diambil dari elegi ini bahwa pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya. Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang disebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah. Secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak berbeda. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematikanya itu sendiri. sehingga kita harus dapat menempatkan segala sesuatunya sesuai dengan tempatnya serta ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  14. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Architectonic mathematics sebagai salah satu sarana yang dapat digunakan untuk mengembangkan ilmu dan segala hal yang berhubungan dengan matematika tentunya akan mengalami banyak tantangan. Dalam proses belajar matematika antara orang dewasa dan anak – anak berbeda oleh karen itu perlu penerapan pembelajaran yang sesuai dengan tingkatan dan karakter dari peserta didik. Sebagai pendidik hendaknya dapat menerapkan matematika yang sesuai dengan karakter dan tingkat berpikir peserta didik agar tidak memaksakan ilmu matematika kepada tingkatan yang tidak sesuai agar pembelajaran matematika dapat dilakukan dengan maksimal. Kegiatan penelitian dalam bidang matematika juga akan sangat membantu dalam aplikasi matematika dan pengajarannya.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pendidikan yang dilaksanakan di Perguruan tinggi juga menggunakan Andragogi atau pembelajaran orang dewasa. Architectonic Mathematics juga sangat diperlukan dalam proses belajar matematika di sekolah. Architectonic Mathematics dilakukan sedari siswa SD sampai perguruan tinggi gunanya untuk transfer fenomena yang meliputi semua kompetensi dalam matematika yaitu transfer ide, transfer teori, paradigma, transfer filsafat, dan masih banyak lainnya. Dan jika siswa dapat mencakup semua kompetensi dalam matematika tersebut, maka sampai pada perguruan tinggi siswa tidak akan kesulitan jika dihadapkan pada pembelajaran yang didasarkan pada fenomena yang terjadi.

    ReplyDelete
  16. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pembelajaran matematika untuk orang dewasa dan anak-anak memiliki perbedaan yang sangat jauh berbeda. Matematika pada anak-anak masih sangat membutuhkan media atau alat-alat konkrit yang bisa mempermudah siswa belajar untuk memahami matematika. Sedangkan pembelajaran matematika pada orang dewasa lebih cenderung menggunakan simbol-simbol abstrak yang dikembangkan dari benda-benda konkrit yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Selainmatematika yang bersifat abstrak, matematika untuk orang dewasa pun membutuhkan logika dalam proses berpikir, sehingga bisa lebih mempermudah mengabstraksi hal-hal yang abstrak tersebut.

    ReplyDelete
  17. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jika dikaitkan dengan teori perkembangan kognitif oleh Piaget, maka tingkatan mahasiswa sudah masuk ke tahapan operasional formal, dimana mahasiswa sudah saatnya dituntun untuk "find their own knowledge" dengan bantuan dosen. Sedangkan anak SMP, atau bahkan SD masih dalam tahapan operasional kongkrit, dalam hal ini matematika sekolah. Maka tidak serta merta menerapkan prinsip pengajaran andragogi pada orang dewasa disamakan dengan matematika sekolah yang masih menggunakan pedagogi. Maka perlu dipahami hakekat matematika sekolah dan bagaimana mengajarkannya.

    ReplyDelete
  18. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa karena kemampuan berpikir setiap tingkatan usia jelas tidak sama. Matematika sebagai formal abstrak merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri. Sedangkan model matematika sekolah, khususnya di SD, mempertimbangkan bahwa kemampuan berpikir siswa masih dalam tahap operasional konkrit. Maka untuk memahami konsep dan prinsip matematika masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkrit.

    ReplyDelete
  19. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi tersebut maka kita harus tahu bahwa matematika itu ada 2 jenis ada matematika dewasa dan ada matematika anak-anak. Dimana pengajaran antara keduany itu sangat berbeda. Untuk matematika dewasa diajarkan di tingkat perguruan tinggi yang mana pola pikir mereka sudah matang sedangkan untuk matematika anak-anak itu diajarkan pada tingkat sekolah, mulai dari kidder garden until high school. dimana dalam unsur matematika itu ada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika. Kita akan tahu b ahwa axiomatic itu tidak bisa di terapkan di anak-anak sekolah dasar, dimna axiomatic itu hanya bisa di tingkat perguruan tinggi, itu menurut saya, silahkan bagi yang lain yang kurang setuju tidak apa-apa.

    ReplyDelete
  20. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Secara material, matematika dapat berupa benda-benda kongkrit, gambar atau model kubus,
    berwarna-warni lambang bilangan besar atau kecil, kolam berbentuk persegi, atap rumah berbentuk limas,
    piramida-piramida di Mesir, kuda-kuda atap rumah berbentuk segitiga siku-siku, roda berbentuk
    lingkaran, dst. Secara formal, matematika dapat berbentuk matematika murni, matematika aksiomatis,
    matematika formal atau matematika yang didefinisikan secara deduktif. Secara normatif, maka kita tidak
    hanya mempelajari matematika secara material dan formal, tetapi kita berururusan dengan nilai atau value
    yang ada di sebalik matematika. Adapun secara metafisik, matematika menampakan berbagai tingkatan
    dimensi makna dan nilai yang hanya mampu diraih secara metakognisi. Itulah salah satu bentuk kesadaran adanya berbagai dimensi matematika. Membudayakan matematika di sekolah adalah rentang antara kesadaran adanya berbagai dimensi matematika, sikap mempelajari dan mengembangkannya yang
    didukung dengan pengetahuan tentang metode dan konten matematika, sehingga diperoleh keterampilan
    melakukan kegiatan matematika, sampai diperolehnya berbagai pengalaman melakukan kegiatan dan
    meneliti matematika serta mempresentasikannya dalam berbagai bentuk sesuai dengan dimensinya.

    ReplyDelete
  21. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPS Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1) menguraikan akan posisi guru yang sebenarnya. Guru hendaknya mampu memahami siswanya, di mana guru tidak boleh egois menentukan kehendanya sendiri. Begitu juga dalam penggunaan model pembelajaran. Guru harus peka terhadap siswanya. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan daya fikir yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  22. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pada pembelajaran yang dilakukan di sekolah saat ini belum semua guru menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa belum diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep matematikanya. Padahal yang kita ketahui bahwa konsep yang siswa sendiri membangun konsep tersebut akan lebih melekat pada siswa. Serta pengalaman yang diperoleh merupakan pengalaman bermakna. Pada elegi ini dijelaskan bahwa ketika di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk melakukan riset untuk membangun konsepnya sendiri. Dan proses ini termasuk pada proses Architectonic Mathematics.

    ReplyDelete
  23. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Mengubah secara perlahan-lahan dimulai dari guru sang pemegang kunci utama pembelajaran saat ini maka perubahan paradigm pembelajaran yang tadinya sangat setia menganut teacher center dapat diarahkan pada paradigma pengajaran yang berpusat pada siswa. Dengan menjadikan siswa sebagai yang utama di kelas maka guru memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk siswa membangun dan menemukan pengetahuan mereka sendiri layaknya arsitek yang merancang banguna yang hendak dibangunnya. Dengan cara ini siswa benar-benar belajar bermakna dan dapat memaknai apa yang dipelajari dengan lebih baik.

    ReplyDelete
  24. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika di perguruan tinggi dengan di sekolah dasar tentu berbeda tingkat kesulitannya, berbeda dimensinya karena melalui beberapa transformasi, sehingga apa yang diajarkan di perguruan tinggi haruslah bisa ditransformasikan lagi ke bawah agar konsep yang dipunyai oleh guru yang sudah lulusan perguruan tinggi dapat dipahami oleh siswa SD.

    ReplyDelete
  25. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Terdapat perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa. Perbedaan itu bukan hanya usia tetapi juga fisik, perkembangan psikologis, dan kecerdasan. Jadi, anak-anak dengan orang dewasa memiliki ruang dan waktu berbeda. Karena anak-anak masih dalam tahap konkret, matematika untuk anak terikat oleh ruang dan waktu dan akan sering berubah, lingkaran saat ini akan berbeda dengan lingkaran yang ditemuinya besok. Dua telinganya, akan berbeda dengan dua tangannya, dst. Untuk siswa yang masih duduk di bangku SD dan SMP, pembelajaran matematika dibutuhkan pembelajaran dengan alat/media menggunakan benda konkrit. Matematika untuk orang dewasa sudah pada tahap formal, sehingga tidak terikat oleh ruang dan waktu. Matematika formal itu idealis, berada di pikiran, dan akan selalu sama. Tanpa benda nyata tapi mampu dibayangkan, dan dengan mudah diasumsikan meskipun dipertanyakan keberadaan nyatanya, inilah yang disebut dengan Architectonic. Mereka bisa menemukan konsep pembelajaran dengan sendirinya, sehingga pemikiran mereka juga dapat menghasilkan penemuan-penemuan lain.

    ReplyDelete
  26. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendidikan matematika, yang dalam konteks ini disebut dengan matematika sekolah adalah matematika yang umumnya diajarkan di jenjang pendidikan formal dari SD sampai dengan tingkat SMA. Tidak termasuk tingkat perguruan tinggi karena di perguruan tinggi matematika didefinisikan dalam konteks matematika sebagai ilmu (matematika murni). Pelajaran matematika merupakan bidang studi yang diajarkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD kelas rendah hingga perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran matematika dalam kehidupan. Matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan seringkali siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan ide-ide dasar, konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini disebabkan karena pembelajaran matematika selama ini hanya menekankan pada hasil tidak menekankan pada prosesnya.

    ReplyDelete
  27. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Matematika perguruan tinggi merupakan matematika formal sedangkan matematika sekolah lebih mengarah ke matematika informal. Matematika formal sederhananya merupakan matematika yang berisi definisi yang jelas (dapat diterima semua orang/berlaku universal), aksioma yang di dasari atas sebuah kesepakatan dan tentunya dapat di sepakati oleh semua orang, dan teorema2 yang harus dibuktikan secara matematika (dengan pembuktian langsung ataupun tak langsung). Matematika informal merupakan matematika yang lebih mengarah pada kejelasan materi atau matematika yang semudah mungkin dapat diterima oleh peserta didik, atau pintu gerbangnya matematika yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  28. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Architectonic Mathematics dianggap sebagai suatu produk pada struktur matematika dengan cara mendorong kemandirian siswa dalam membangun konsepnya secara mandiri. Architectonic Mathematics diterapkan di perguruan tinggi tetapi akhir-akhir ini dikembangkan pada pembelajaran matematika sekolah melalui transforming phenonema.

    ReplyDelete
  29. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. matematika di perguruan tinggi dan matematika di sekolah tentunya berbeda. Matematika di perguruan tinggi lebih mengarah kepada matematika murni, sedangkan matematika di sekolah meruapakan matematika sekolah yang memperhatikan ruang dan waktu. Matematika di perguruan tinggipun akan berbeda di jurusan matematika murni dan pendidikan matematika, sebab objek yang di bahas tentu berbeda pula.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1) menguraikan akan posisi guru yang sebenarnya. Guru hendaknya mampu memahami siswanya, di mana guru tidak boleh egois menentukan kehendanya sendiri. Begitu juga dalam penggunaan model pembelajaran. Guru harus peka terhadap siswanya. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan daya fikir yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  31. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru berperan sebagai fasilitator di mana ia yang menyesuaikan dengan siswanya. Guru harus mampu menempatkan dirinya. Seperti pada proses pembelajaran antara di sekolah dasar dengan perguruan tinggi memiliki berbagai perbedaan. Pada pembelajaran matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun konsep sendiri. Sedangkan pada pembelajaran siswa sekolah dasar masih perlu adanya bimbingan khusus, sebab pada saat ini anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan masih dalam masa bermain. Oleh karena itu, peran guru di sini sangatlah penting. Guru hendaknya mampu memfasilitasi siswa dan mampu menyesuaikan dengan seluruh siswa sesuai dengan tingkatannya.

    ReplyDelete
  32. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Memang benar bahwa antara matematika anak kecil dengan matematika dewasa itu berbeda. Matematika anak kecil, mengikuti aliran Aristoteles, posisi pada tingkat anak kecil tidak bisa membayangkan materi-materi matematika yang abstrak. Akan membuat anak mudah stres dan kesusahan jika itu diterapkan pada anak kecil. Berbeda dengan matematika orang dewasa, untuk membayangkan materi-materi matematika yang abstrak itu sudah pada tingkatannya, karena matematika orang dewasa mengikuti aliran Plato. Jadi sebagai seorang guru yang faham akan cara mendidik para peserta didik, gunakan dan terapkan teori-teori cara mengajar yang memang sesuai dengan tingkatan-tingkata masing-masing. Jangan memaksakan teori-teori yang bukan pada tingkatannya karena itu hanya akan menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.

    ReplyDelete
  33. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika membicarakan matematika untuk anak-anak, saya teringat dengan potensi matematika. Apakah potensi matematika itu ada pada anak-anak? Jika ada, mungkin inilah yang harus diolah untuk pembelajaran matematika anak-anak. Saya sendiri berpikir kalau potensi matematika itu ada. Hanya saja antara setiap anak berbeda-beda besarnya, tergantung dimana dan oleh siapa dia dibesarkan. Jika hal ini diperhatikan dan digunakan dengan baik, maka tidak mustahil apabila anak-anak bisa cepat belajar matematika. Bahkan mungkin untuk mempelajari matematika tingkat tinggi. Ada kan kasus anak 13 tahun yang sudah menduduki perguruan tinggi? Belajar di jurusan matematika pula.

    ReplyDelete
  34. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Matematika dalam tingkatan sekolah tentulah berbeda - beda, hal ini berdasarkan konten, penalaran, pengalaman dan lain sebagainya. Oleh karena itu penyampaian dan kontennya tentulah berbeda. Oleh karena itu dalam SD sampai SMP menggunakan pendekatan induktif, dan SMA hingga perguruan tinggi menggunakan pendekatan deduktif.

    ReplyDelete
  35. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam postingan ini menyampaikan bahwa antara anak-anak dan orang dewasa tentu tidak dapat disamakan. Anak-anak dalam memahami tentu harus melalui wujud nyata atau konkrit. Sedangkan orang dewasa telah dapat memahami haal yang bersifat abstrak atau formal.

    ReplyDelete
  36. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Dalam elegi ini terdapat kalimat sebagai berikut "stop Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engkau lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka tunggulah akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan."
    Elegi ini beresensi bahwa untuk memperbaiki pembelajaran matematika di negara kita ini, kita harus mentrasformir atau menemukan jenis matematika yang sesuai dengan siswa yang masih anak-anak. Itulah tugas guru sebagai fasilitator yang harus mampu memahami apa yang sesuai dan apa yang dibutuhkan anak-anak didiknya.

    ReplyDelete
  37. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika di Perguruan tinggi sangatlah berbeda dengan pembelajaran matematika di SD, SMP, maupun SMA. Dimana dalam pembelajaran matematika di perguruan tinggi mahasiswa dituntut mandiri dalam mengontruksi atau membangun struktur-struktur matematikanya. Kemandirian dalam mengontruksi struktur matematika nya ini dapat diadopsi dalam pembelajaran di SD, SMP, dan SMA ,namun masih berada dibawah bimbingan serta arahan dari seorang guru. Dengan siswa mengontruksi pengetahuannya diharapkan pembelajaran yang dilalui siswa bermakna bagi dirinya.

    ReplyDelete
  38. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika dalam berbagai jenjang pendidikan tidaklah sama dan harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa dengan kemampuan berpikir siswa.

    ReplyDelete
  39. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Pada dasarnya matematika yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kemampuan koginitif siswa. Semakin meningkat jenjangnya maka materi yang diajarkan pun semakin kompleks. Jarak antara perguruan tinggi dan Sekolah Dasar sangatlah jauh sehingga matematika yang dipelajari pun jauh berbeda. Jika pada perguruan tinggi yang dipelajari adalah matematika formal maka pada sekolah dasar maupun sekolah menengah yang dipelajari merupakan matematika non formal. Oleh karena itu metode pembelajaran yang digunakan pun akan sangat berbeda. Seorang guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi serta kemampuan kognitif siswa.

    ReplyDelete
  40. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru merupakan fasilitator bagi siswa untuk mengkonstruk pengetahuan siswa, sehingga guru yang inovatif adalah guru yang mampu menyediakan media yang interaktif yang dapat meningkatkan ketertarikan dan keingin tahuan siswa untuk mempelajari matematka. Sehingga dengan kontekstual menggunakan media benda konkrit akan membantu mengkonstruk pengetahuan siswa menjadi lebih nyata dan mudah dipelajari sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.

    ReplyDelete
  41. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tentunya metode pembelajaran yang dilakukan di Perguruan Tinggi dan sekolah menengah berbeda, di dalam pembelajaran perguruan tinggi diharuskan pembelajaran yang mandiri, karena subjeknya merupakan mahasiswa yang suah mampu berpikir abstrak, berbeda dengan siswa sekolah menengah yang mempelajari suatu materi perlu media yang konkrit agar mudah didpahami.

    ReplyDelete
  42. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi sebelumnya telah disinggung sedikit mengenai Architectonic Mathematics. Yaitu matematika dipandang sebagai ilmu jika besifat sintetik a prior. Dan matematika yang menjelma pada sekolah adalah Architectonic Mathematics. Diman sifat dari pandangan ini bahwa siswa membangun pengetahuannya ibarat seorang arsitek membangun rumah dalam hal ini rumah matematika yang berlandaskan intuisi matematika siswa. Sehingga hal ini merupakan gagasan yang sangat bagus dalam pembelajran pada jaman sekaran, yang lebih menaktifkan aktivitas siswa dalam memperoleh pengetahuannya. Atau dengan kata lain pembelajran dengan model ini merupakan pembelajaran dengan pendekatan constructivisme.

    ReplyDelete
  43. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam elegi ini, dipaparkan mengenai usaha untuk menerapkan pembelajaran matematika yang ada diperguruan tinggi agar dapat juga diterapkan dalam mengajarkan matematika di sekolah yakni siswa-siswa yang masih duduk di sekolah menengah bahkan di tingkat dasar agar lebih mandiri. Pembelajaran matematika yang diterapkan di perguruan tinggi merupakan matematika yang sejatinya dipahami dibangun oleh mahasiswa secara mandiri. Pembelajaran semacam ini dapa dilakukan dengan cara melakukan riset atau penelitian dalam bidang matematika, meskipun harus diakui bahwa dalam tingkat perguruan tinggi atau bagi mahasiswa sendiri hal ini juga sulit untuk dilakukan dan masih menjadi persoalan yang besar untuk segera diselesaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar, apakah metode atau cara tersebut dapat juga dilakukan terhadap matematika sekolah? Untuk diterapkan dalam matematika sekolah tentunya akan dibutuhkan transformasi atau perubahan-perubahan terhadap segala aspek yang terkait dengan sistem pendidikan yang ada dalam matematika sekolah.

    ReplyDelete
  44. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Untuk mentransformasi atau melakukan transformasi terhadap segala aspek yang ada dalam sistem pendidikan matematika sekolah bukanlah hal uyang gampang untuk dilakukan karena menyangkut perombakan secara keseluruhan. Untuk merubah atau mentransformasi satu atau dua aspek saja akan sangat sulit untuk dilakukan bagaimana kita akan dapat merubah atau mentransformasi keseluruhan aspek yang ada. Selain itu, para siswa yang tergolong masih muda dan pemikirannya yang belum terlalu matang, akan sangat sulit untuk dimasukkan hal-hal yang abstrak, karena sejatinya matematika diperguruan tinggi ini bukan sudah lebih tinggi tingkatan pemikirannya dibandingkan dengan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  45. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pembelajaran matematika memilki tingkatan dimana terdapat 2 jenis yaitu pure mathematics dan school matematics. Pure mathematics ini pembelajaran pada tingkat perkuliahan mengenal tentang matematika abstrak. sedangkan pada matematika sekolah lebih menekankan pada perkembangan psikologi siswa dimana matematika dikemas secara menarik dan relevan pada dunia anak sehingga anak memiliki minat sendiri untuk mempelajari matematika

    ReplyDelete