Apr 5, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)



Oleh Marsigit

Pada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika.

Oleh karena itu pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya.

Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA seperti yang pernah Pak Wono sebutkan.

Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Artinya, selama ini yang dilakukan oleh teman-teman di ITB, UGM dan PT yang lain menurut saya sudah selaras dengan Architectonic Mathematics; kecuali pada nuansa promosi kemandirian mahasiswa yang mungkin masih merupakan tantangan kita bersama.

Sedangkan yang masih menjadi persoalan besar adalah bagaimana menampakan atau mempromosikan Architectonic Mathematics pada proses belajar matematika di sekolah? Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang saya sebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah.

Artinya, secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak, is totally diferent. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri.

Transforming Phenomena meliputi transfer the ideas, transfor the theories, transform the paradigm, transfor the philosophy, transform the concept of mathematics, trasnform the method of mathematics, transform the attitude of mathematics, trasnform the resources of learning mathematics, trasform the method of teaching mathematics, transform the perception what is called the competences of mathematics.

Namun jangan sampai salah paham. Sekali lagi jangan sampai salah paham. Transformasi yang dimaksud adalah Transformasi Internal dikarenakan Potensi Internal dalam kerangka kemandirian untuk mengembangkan Wadah atau Dimensinya agar mampu menyadari Ruang dan Waktu Matematika dan Pendidikan Matematika. Singkat kata maka Self Transformation dari setiap Subyek atau Pelaku belajar dan mengajar itulah yang diperlukan. Dengan kata lain, diperlukan keadaan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI bagi siapapun yang ingin mempelajari Matematika, pada segala dimensinya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI? Hal demikian tidak akan dipahami kecuali kita memahami HAKEKAT CONSTRUCTIVISME.

Implikasinya, maka untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya....STOP DULU wahai Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engka lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka TUNGGULAH akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan.

PEMBERONTAKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA beresensi bahwa UNTUK MEMPERBAIKI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH  kita harus mentrasformir atau menemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Satu-satunya solusi kita "HARUS MENGINTRODUCIR APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI 'SCHOOL MATHEMATICS'".

Apakah yang disebut sebagai School Mathematics?

Saya uraikan di posting berikutnya.

Amin.

39 comments:

  1. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Matematika orang dewasa dan matematika anak merupakan hal yang sangat berbeda seperti kutub utara dan kutub selatan. Kita tidak bisa memaksa anak untuk memahami pemikiran kita sebagai orang dewasa. Saat ini matematika masih menjadi momok untuk anak. Banyak dari mereka mengatakan bahwa matematika merupakan matapelajaran yang sulit dan pada akhirnya mereka tidak menyukai matematika. Ketidaksukaan mereka akan matematika akan membuat mereka lebih tidak bisa memahami matapelajaran matematika. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa yang belajar pendidikan matematika maka alangkah baiknya jika kita jangan memaksakan pemikiran anak setara dengan kita. Kita yang harus merubah pikiran kita agar sama seperti mereka yang didalam filsafat sering disebut hemenitika. Sebab jika kita memaksakannya akan berdampak lebih menyeramkam karna anak merupakan cerminan kita,

    ReplyDelete
  2. Sejalan dengan elegi diatas bahwa benar pembelajaran matematika di SD sangat berbeda dengan pembelajaran matematika di pereguruan tinggi. Membicarakan tentang architectonic mathematics, yang dapat kami pahami bahwa architectonic mathematics merupakan asumsi dasar tentang bagaimana siswa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika yakni pertama, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika tau penalarannya, kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Pada jenjang SD pemahaman siswa lebih mudah dibangun melalui fenomena-fenomena yakni system pembelajaran dimana guru langsung mengajak siswa untuk belajar langsung dilapangan, mengajukan permasalah nyata sehingga siswa terbangun pikirannya untuk berpikir tantang masalah yang diajukan. Sedangkan, dalam perguruan tinggi pembelajaran lebih ditekankan bersifat Axiomatic mathematic yakni pembelajaran yang bersifat lebih formal. Maka guru harus benar-benar memahami karakter dan psikologi siswa untum menentukan pembelajaran yang tepat bagi mereka. Terima Kasih

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Menurut saya Penggunaan Architectonic Mathematics tidak tepat untuk digunkan oleh anak SD. Karena anak SD memerlukan bimbingan dalam belajar matematika, yang mana masih banyak dasar-dasar dalam perhitungan yang harus dijelaskan secara lebih jelas kepada mereka. Sehingga ketika mereka maniki tingkatan selanjutnya maka akan semakin mudah dalam mempelajari matematika.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Daya tangkap anak-anak dan orang dewasa sangatlah berbeda-beda, maka gaya belajar mereka juga berbda, untuk itu sebgaimana dipaparkan diatas harus adanya transformatif dalam pembelajaran Matematika baik dari segi teori, ide, paradigma, filosofi, konsep metode, atitut, dan lain sebagainya. untuk melakukan transformasi tersebut diperlukan inovasi dari daosen dan tentunya mahasasiswa itu sendiri, sehingga proses pemebelajaran Matematika bukan hanya transfer of knowladge tetapi constuct knowledge.

    ReplyDelete
  8. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tingkat berpikir anak yang berbeda-beda sesuai dengan usianya tentu menjadi pertimbangan ketika kita akan memberikan perlakuan. Anak yang tingkat berpikirnya sudah jauh berkembang mungkin akan diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan monitoring oleh guru. Pada anak dengan tingkat berpikir lebih rendah mungkin dapat diakali dengan memberikan tugas yang menarik. Pada tingkatan sekolah dasar, lebih penting membuat siswa tertarik daripada membuat siswa berpikir terlalu tinggi dan menyebabkan siswa tidak suka terhadap matematika.

    ReplyDelete
  9. Sejujurnya saya baru mengenal istilah “arsitektonik matematik” melalui website bapak ini pada tulisan diatas. Dalam proses pembelajaran matematik di perguruan tinggi, berbagai riset penelitian dilakukan, hal ini dapat menjadi jalan bagi para mahasiswa dengan bantuan dosen untuk membangun pengetahuannya dengan intuisi. Sebagai seorang manusia yang dewasa, haruslah kita mampu untuk memisahkan pembelajaran untuk anak/siswa di sekolah dengan matematika untuk dewasa di perguruan tinggi.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  10. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Architectonic Mathematics merupakan konsep belajar matematika yang biasa diterapkan di perguruan tinggi. Ide besar dari konsep ini adalah "to construct their own knowledge of mathematics”. Bagaimana caranya agar ide besar ini dapat diwujudkan? Caranya adalah dengan riset matematika. Melalui cara belajar melalui riset matematika ini pembelajar di perguruan tinggi dapat mengkonstruksikan sendiri pemahamannya tentang topic pada matematika. Bila konsep Architectonic Mathematics baik, dapatkah konsep ini diimplementasikan di jenjang pendidikan yang lebih rendah, bahkan di sekolah dasar? Ya, tentu saja. Tapi dengan satu catatan, transform atau ubah. Ubah cara penyampaiannya yang sesuai dengan cara berpikir anak-anak SD. Ubah sumber belajarnya yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual anak SD. Ubah pengemasannya agar dapat dirasakan menarik bagi anak SD yang masih senang bermain. Ubah, ubah, dan ubah untuk disesuaikan dengan keadaan siswa yang kita sasar.

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Disini saya hampir memahami hal yang sama dengan artikel yang sebelumnya saya baca. Kita memang selayaknya bagi pendidik gencar mencari cara untuk mempromosikan pembelajaran kepada para guru sekolah dasar untuk melatik mereka memberikan persoalan yang tidak berbau konsep dengan sesuatu yang abstrak. Karena tingkat pemikitan anak SD masih menggunakan sesuatu yang nyata. Belum bisa di ajak ke sesuatu yang abstrak.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Pembelajaran matematika di tingkat perguruan tinggi dan sekolah pastilah berbeda. Siswa masih membutuhkan suatu benda/contoh konkret dalam pembelajarannya. Tidak bisa langsung dibelajarkan dengan matematika yang abstrak. Tantangan dan tugas bagi guru di sekolah untuk membelajarkan matematika sesuai dengan karakter usia siswa karena dengan pembelajaran yang salah, akan memberikan dampak yang tidak baik kedepannya meski tidak bisa dirasakan dampaknya saat itu juga.

    ReplyDelete
  13. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bismillahirrohmanirrohiim.
    Seperti yang telah sering dijelaskan oleh Prof.Marsigit bahwa matematika untuk anak-anak berbeda dengan matematika untuk orang dewasa. Matematika untuk anak-anak ialah aktivitas, tidak akan ada belajar matematika tanpa aktivitas. Objek matematika untuk anak-anak ialah objek-objek yang ada di sekitar kehidupannya sehari-hari. Sedangkan matematika untuk orang dewasa meliputi definisi, teorema, dan pembuktian. Oleh karena itu, tidak sepantasnya jika matematika hanya diajarkan dengan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Matematika harus dikonstruk sendiri oleh siswa layaknya siswa ialah arsitek bagi pengetahuannya sendiri. Dengan begitu, proses pembelajaran matematika akan menjadi lebih bermakna.

    ReplyDelete
  14. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ada banyak pembeda antara anak-anak dan orang dewasa. Salah satunya adalah banyaknya pengalaman yang mereka dapatkan. Pengalaman- pengalaman itulah yang pada akhirnya membentuk pola pikir.
    Anak-anak yang belum memiliki banyak pengalaman memiliki pola pikir yang masih sangat sederhana, mereka akan melakukan hal-hal yang mereka sukai saja, dan urusan belajar adalah salah satu yang tidak mereka sukai. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, dan mereka sudah memahami bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.
    Architectonic Mathematics dalam hubungan dengan pembelajaran matematic, tentu juga memiliki perbedaan antara anak dan dewasa. Kita sebagai pendidik memiliki kewajiban untuk mendesain kedua jenjang pembelajaran tersebut. Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA.

    ReplyDelete
  15. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam memberikan transfer ilmu matematika, maka kita juga harus menyelaraskan dan membuat keadaan yang harmonis antara materi yang akan diajarkan dengan strategi kita dalam mentransfer ilmu. Ada kalanya materi matematika dibawa ke dalam realistik matematika, misalnya yang berkaitan dengan bangun ruang,bangun datar, SPLDV, dsb. Namun kita jangan memaksakan materi-materi yang tidak bisa direalistikkan ke harus tranferkan ke siswa dengan metode realistik, misalnya saja materi determinan matriks, integral parsial, dsb. Jadi memang kita harus bisa menelaah materi dan startegi apa yang tepat untuk mentransferkan ilmu matematika tersebut.

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Beberapa kali Bapak mengulas tentang school mathematics dan pure mathematics yang totally different. Secara tidak langsung dapat diibaratkan bahwa anak-anak dan orang dewasa adalah berbeda dimensinya. Bukan tidak mungkin jika siswa sekolah diberikan materi tentang matematika yang murni adanya. Hanya saja belum tepat penyampaiannya dalam hal ruang dan waktunya. Setiap tahap perkembangan kognitif siswa seyogyanya diperhatikan pula apa yang hendaknya mereka capai dalam hal tujuan pembelajaran matemtaika. Jika mereka tidak siap akan hal tersebut maka akan menjadi bencana lah bagi mereka.

    ReplyDelete
  17. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Anak SD dan mahasiswa perguruan tinggi memiliki pengalaman dan tingkat perkembangan kognitif yang berbeda pula. Sehingga dalam proses pembelajaran matematika di perguruan tinggi itu tidak mungkin jika diterapakan pada proses pembelajaran di SD. Hal itu karena keduanya awalnya sudah memiliki paradigma yang berbeda. Matematika murni itu sifatnya formal abstrak, sedangkan matematika sekolah itu realistik dan konkrit. Keduanya memiliki paradigma awal yang berbeda, sehingga jika paradigmanya saja sudah berbeda jauh antara langit dan bumi maka tidak mungkin keduanya melebur jadi satu. Saat matematika murni memkasa untuk memasuki ranah mateamtika sekolah maka itu sama saja dengan merusak intuisi anak. Hal itu dapat diibaratkan seperti, larva yang turun dari gunung dan membakar segala sesuatu yang ada di bawahnya. Terimakasih

    ReplyDelete
  18. Antara matematika dewasa dan matematika anak-anak jelas berbeda. Hal ini harus dipahami oleh guru aagar pembelajaran tidak mengakibatkan siswa sebagai korban. Pada matematika dewasa, siswa diarahkan kepada pengkonstruksian pengetahuan secara mandiri serta sudah terkait dengan hal abstrak, namun pada matematika anak-anak tidak dapat terapkan hal tersebut. Anak-anak masih sangat membutuhkan bantuan dan arahan guru dalam memahami konsep matematika. Pemahaman anak-anak juga perlu didukung dengan benda-benda konkrit dan dihindari dengan yang abstrak.

    ReplyDelete
  19. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Matematika memiliki salah satu dimensi yang sangat sulit dipahami oleh anak, yaitu abstrak formal. Mengikuti suatu kaidah aksiomatis dan rigid, serta asbtrak, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan anak menjadikan matematika sering ditinggalkan dan anak tidak mau menyentuhnya. Untuk itu perlu dilakukan transformasi pandangan dalam membelajarkan matematika pada anak. Matematika suatu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang diformalkan, selalu mengaitkan matematika dengan kehidupan siswa sehari-hari.

    ReplyDelete
  20. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam transformasi pure math ke matematika sekolah, tentu bukan konten dan aksioma yang dirubah, tetapi lebih ke potensi internal, hakikat mengkontruk pengetahuan matematika siswa sehingga siswa mampu memahami matematika sebagai bagian dari kehidupannya. Esensi dari elegi ini ingin menjelaskan batas antara pure math dan matematika sekolah

    ReplyDelete

  21. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Uraian pada artikel ini memberikan gambaran bahwa matematika itu berdimensi, maksudnya, seperti yang kita tahu, matematika dipelajari mulai dari sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi, namun pada setiap jenjangnya matematika memiliki karakteristik yang berbeda. Bagi seorang anak, belajar adalah kegiatan, maka belajar matematika seharusnya juga merupakan kegiatan bermatematika, sehingga melalui kegiatan tersebut anak mampu mengkontruksi pengetahuan matematikanya sendiri dengan bantuan guru, itulah yang disebut sebagai konstruksitivisme dan matematika sekolah, yaitu kegiatan matematika yang sesuai untuk anak sekolah. Oleh karena itu, belajar matematika di sekolah tidak boleh sama dengan mahasiswa yang belajar matematika di perguruan tinggi. Karena matematika perguruan tinggi merupakan matematika yang sudah abstrak.

    ReplyDelete
  22. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pentingnya peranan matematika menjadikan mata pelajaran matematika diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Dalam pendidikan mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis. Faktor kemampuan awal (prior knowledge) yang dimiliki mahasiswa selama menempuh pendidikan pada jenjang sekolah menengah dapat mempengaruhi prestasi belajarnya di perguruan tinggi. Karena matematika kuliah dan waktu di sekolah sangat jauh berbeda. Sehingga seakan matematika di sekolah hanya sebuah titik dalam sebuah bidang datar yang luas.

    ReplyDelete
  23. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dalam elegi ini, dipaparkan mengenai usaha untuk menerapkan pembelajaran matematika yang ada di perguruan tinggi agar dapat juga diterapkan dalam mengajarkan matematika di sekolah yakni siswa-siswa yang masih duduk di sekolah menengah bahkan di tingkat dasar agar lebih mandiri. Pembelajaran matematika yang diterapkan di perguruan tinggi merupakan matematika yang sejatinya dipahami dibangun oleh mahasiswa secara mandiri. Pembelajaran semacam ini dapat dilakukan dengan cara melakukan riset atau penelitian dalam bidang matematika, meskipun harus diakui bahwa dalam tingkat perguruan tinggi atau bagi mahasiswa sendiri hal ini juga sulit untuk dilakukan dan masih menjadi persoalan yang besar untuk segera diselesaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar, apakah metode atau cara tersebut dapat juga dilakukan terhadap matematika sekolah? Untuk diterapkan dalam matematika sekolah tentunya akan dibutuhkan transformasi atau perubahan-perubahan terhadap segala aspek yang terkait dengan sistem pendidikan yang ada dalam matematika sekolah.

    ReplyDelete
  24. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Matematika di perguruan tinggi berbeda dengan matematika di sekolah, utamanya sekolah dasar. Matematika di perguruan tinggi diperuntukkan bagi orang dewasa sedangkan matematika sekolah adalah untuk anak-anak. Matematika diperguruan tinggi adalah tentang bagaimana mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sndiri struktur-struktur matematikanya. Sedangkan matematika di sekolah seharusnya berupa aktivitas-aktivitas untuk mengenalkan matematika kehidupan sehari-hari bagi anak-anak.

    ReplyDelete
  25. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dari elegy di atas dapat disimpulkan bahwa pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri struktur-struktur matematika nya. Karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang digunakan ketika di Perguruan Tinggi jangan digunakan dalam pembelajaran di Sekolah Dasar karena keduanya sangat bertentangan.
    Secara garis besar,dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan matematika mempunyai beberapa tahapan. Dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, kemampuan berpikir peserta didik. Salah satunya matematika sebagai formal abstrak. Model matematika ini merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri, walaupun masih dengan bantuan dosen.

    ReplyDelete
  26. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas. Pembelajaran matematika menurut hakekat konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi, sehingga dengan konsep atau prinsip itu akan terbangun kembali transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep atas prinsip baru

    ReplyDelete
  27. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pada dasarnya matematika yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kemampuan koginitif siswa. Semakin meningkat jenjangnya maka materi yang diajarkan pun semakin kompleks. Jarak antara perguruan tinggi dan Sekolah Dasar sangatlah jauh sehingga matematika yang dipelajari pun jauh berbeda. Jika pada perguruan tinggi yang dipelajari adalah matematika formal maka pada sekolah dasar maupun sekolah menengah yang dipelajari merupakan matematika non formal. Oleh karena itu metode pembelajaran yang digunakan pun akan sangat berbeda. Seorang guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi serta kemampuan kognitif siswa.

    ReplyDelete
  28. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Architectonic Mathematics dengan aspeknya "to construct their own knowledge of mathematics", memberikan pemahaman yang lebih baik bagi siswa, tapi ini hanya dapat dianggap mudah oleh siswa di universitas, tetapi tidak untuk siswa sekolah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakter antara pembelajaran orang dewasa dan belajar anak. Jadi perlu diadakan suatu fenomena transformasi untuk anak-anak yang belajar di sekolah. Dan ini adalah tugas bagi orang-orang dari pendidikan matematika, bukan matematika murni.

    ReplyDelete
  29. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Perguruan Tinggi dengan di Sekolah Dasar memiliki pendidikan matematika yang berbeda. Di Perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mandiri dengan cara mengkontruksi sendiri struktur-struktur matematikanya. Di Sekolah Dasar siswa hendaknya tidak ditekankan untuk bisa mengkontruksi sendiri struktur-struktur matematika seperti di Perguruan Tinggi, karena pola pikir mahasiswa dan anak-anak sangatlah berbeda. Daya nalar mahasiswa sudah mumpuni untuk melakukan hal yang demikian, sedangkan anak-anak masih belum mumpuni karena anak-anak masih cenderung suka bermain dan kurang menyukai aktivitas belajar.

    ReplyDelete
  30. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pemebelajran matematika untuk anak anak memerlukan pendekatan yang berbeda dengan yang telah dilakuakn pure mathematics terrhadap orang dewasa. Jika kedua generasi tersebut disama ratakan, maka generasi muda akan merasakan susahnya belajar matematika. dan berakhibat kepada ketidaksukaannya terhadap pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  31. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Kemampuan berpikir orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Jadi, sudah selayaknya cara pendekatan yang akan dilakukan pada keduanya mesti berbeda, begitu pula dalam pembelajaran matematika. Matematika yang memang kajiannya abstrak, harus disampaikan sesuai dimensi ruang dan waktunya. Bagi anak-anak yang belum sepenuhnya bisa membangun sendiri pengetahuannya apabia diberikan konsep-konsep abstrak harus diajarkan dengan penyampaian materi yang sesuai dengan tingkatannya.

    ReplyDelete
  32. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Setiap kita ialah subyek belajar yang harus memaksimalkan potensi yang diberikan Allah kepada kita. Maka sebagai seorang calon matematikawan kita harus dapat mengembangkan diri dalam bidang matematika tanpa mengurangi jatah kita untuk mnegembangkan diri bagaimana mengembangkan potensi matematika siswa, sebagai seorang calon pendidik. Karena matematika orang dewasa dan anak-anak ialah dua dunia yangberbeda. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  33. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Matematika yang kita peroleh di kelas tidak dapat langsung diberikan kepada siswa, kita harus menerjemahkan terlebih dahullu kedalam bahasa anak-anak. Bahasa anak-anak pun jauh berbeda dengan bahasa yang kita gunakan. Bahasa anak-anak memiliki struktur yang lebih sederhana. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  34. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. matematika di perguruan tinggi dan matematika di sekolah tentunya berbeda. Matematika di perguruan tinggi lebih mengarah kepada matematika murni, sedangkan matematika di sekolah meruapakan matematika sekolah yang memperhatikan ruang dan waktu. Matematika di perguruan tinggipun akan berbeda di jurusan matematika murni dan pendidikan matematika, sebab objek yang di bahas tentu berbeda pula.

    ReplyDelete
  35. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pendidikan Matematika adalah matematika yang berorientasi pada anak-anak di sekolah. Pendidikan matematika sangatlah berbeda dengan matematika murni, dan keduanya secara jelas harus dibedakan. Akan tetapi selama ini pendidikan matematika untuk anak-anak itu masih terkena oleh bayang-bayang matematika murni, maka keadaan ini haruslah segera dirubah yaitu melalui para pendidik, para ahli yang berkecimpung di dunia pendidikan matematika untuk mencari dan menentukan strategi pbm yang tepat untuk anak-anak. Karena jika tidak maka anak-anak pun akan kesulitan memahami matematika itu sendiri.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  36. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Pada komen saya sebelum ini, saya menyebutkan tentang salah satu artikel salam satu jurnal yang saya baca tentang transformasi dari matematika orang dewasa menjadi matematika yang dapat diajarkan di sekolah. transformasi tersebut melalui beberapa tahap. namun dalam artikel ini di fokuskan pada pemodelan matematika (mohon maaf jika salah menterjemahkan). bagi yang berminat, berikut adalah judul artikel nya: Mathematical modelling as a professional task. semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  37. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Untuk membangun pengetahuan matematika bagi peserta didik harus dilakukan dengan memperhatikan tingkat perkembangan intelektualnya. Inilah yang dimaksud dengan matematika sekolah. Membangun pengetahuan peserta didik jenjang SD berbeda dengan peserta didik pada jenjang SMP, dan berbeda pula pada peserta didik pada jenjang SMA.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  38. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Tataran untuk jenjang SD, SMP, SMA harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual peserta didik pada masing-masing jenjang. Membangun pengetahuan matematika pada jenjang SD tidak bisa menggunakan cara-cara untuk jenjang SMP maupun SMA, demikian sebaliknya. Jadi, matematika sekolah sangatlah terikat oleh ruang dan waktu.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  39. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pada postingan sebelumnya telah disebutkan tentang Architectonic Mathematics yang penting dikembangkan dalam meningkatkan intuisi matematika seorang siswa. Namun dalam penerapannya belum sepenuhnya dapat dilakukan karena keterbatasan kemampuan siswa (terutama siswa SD) yang masih lemah. Penerapannya akan berhasil andaikan adanya banyak perubahan yang dilakukan, namun tentunya perubahan ini akan banyak berdampak bagi siswa dan bagi matematikanya itu sendiri. Perlu dipikirkan sesuatu yang lebih manusiawi untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, sehingga matematika dapat dipahami dan dinikmati oleh para siswa.

    ReplyDelete