Apr 5, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)



Oleh Marsigit

Pada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika.

Oleh karena itu pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya.

Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA seperti yang pernah Pak Wono sebutkan.

Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Artinya, selama ini yang dilakukan oleh teman-teman di ITB, UGM dan PT yang lain menurut saya sudah selaras dengan Architectonic Mathematics; kecuali pada nuansa promosi kemandirian mahasiswa yang mungkin masih merupakan tantangan kita bersama.

Sedangkan yang masih menjadi persoalan besar adalah bagaimana menampakan atau mempromosikan Architectonic Mathematics pada proses belajar matematika di sekolah? Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang saya sebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah.

Artinya, secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak, is totally diferent. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri.

Transforming Phenomena meliputi transfer the ideas, transfor the theories, transform the paradigm, transfor the philosophy, transform the concept of mathematics, trasnform the method of mathematics, transform the attitude of mathematics, trasnform the resources of learning mathematics, trasform the method of teaching mathematics, transform the perception what is called the competences of mathematics.

Namun jangan sampai salah paham. Sekali lagi jangan sampai salah paham. Transformasi yang dimaksud adalah Transformasi Internal dikarenakan Potensi Internal dalam kerangka kemandirian untuk mengembangkan Wadah atau Dimensinya agar mampu menyadari Ruang dan Waktu Matematika dan Pendidikan Matematika. Singkat kata maka Self Transformation dari setiap Subyek atau Pelaku belajar dan mengajar itulah yang diperlukan. Dengan kata lain, diperlukan keadaan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI bagi siapapun yang ingin mempelajari Matematika, pada segala dimensinya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI? Hal demikian tidak akan dipahami kecuali kita memahami HAKEKAT CONSTRUCTIVISME.

Implikasinya, maka untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya....STOP DULU wahai Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engka lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka TUNGGULAH akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan.

PEMBERONTAKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA beresensi bahwa UNTUK MEMPERBAIKI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH  kita harus mentrasformir atau menemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Satu-satunya solusi kita "HARUS MENGINTRODUCIR APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI 'SCHOOL MATHEMATICS'".

Apakah yang disebut sebagai School Mathematics?

Saya uraikan di posting berikutnya.

Amin.

90 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa karena kemampuan berpikir setiap tingkatan usia jelas tidak sama. Matematika sebagai formal abstrak merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri. Sedangkan model matematika sekolah, khususnya di SD, mempertimbangkan bahwa kemampuan berpikir siswa masih dalam tahap operasional konkrit. Maka untuk memahami konsep dan prinsip matematika masih diperlukan pengalaman melalui obyek konkrit.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi tersebut maka kita harus tahu bahwa matematika itu ada 2 jenis ada matematika dewasa dan ada matematika anak-anak. Dimana pengajaran antara keduany itu sangat berbeda. Untuk matematika dewasa diajarkan di tingkat perguruan tinggi yang mana pola pikir mereka sudah matang sedangkan untuk matematika anak-anak itu diajarkan pada tingkat sekolah, mulai dari kidder garden until high school. dimana dalam unsur matematika itu ada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika. Kita akan tahu b ahwa axiomatic itu tidak bisa di terapkan di anak-anak sekolah dasar, dimna axiomatic itu hanya bisa di tingkat perguruan tinggi, itu menurut saya, silahkan bagi yang lain yang kurang setuju tidak apa-apa.

    ReplyDelete
  3. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Secara material, matematika dapat berupa benda-benda kongkrit, gambar atau model kubus,
    berwarna-warni lambang bilangan besar atau kecil, kolam berbentuk persegi, atap rumah berbentuk limas,
    piramida-piramida di Mesir, kuda-kuda atap rumah berbentuk segitiga siku-siku, roda berbentuk
    lingkaran, dst. Secara formal, matematika dapat berbentuk matematika murni, matematika aksiomatis,
    matematika formal atau matematika yang didefinisikan secara deduktif. Secara normatif, maka kita tidak
    hanya mempelajari matematika secara material dan formal, tetapi kita berururusan dengan nilai atau value
    yang ada di sebalik matematika. Adapun secara metafisik, matematika menampakan berbagai tingkatan
    dimensi makna dan nilai yang hanya mampu diraih secara metakognisi. Itulah salah satu bentuk kesadaran adanya berbagai dimensi matematika. Membudayakan matematika di sekolah adalah rentang antara kesadaran adanya berbagai dimensi matematika, sikap mempelajari dan mengembangkannya yang
    didukung dengan pengetahuan tentang metode dan konten matematika, sehingga diperoleh keterampilan
    melakukan kegiatan matematika, sampai diperolehnya berbagai pengalaman melakukan kegiatan dan
    meneliti matematika serta mempresentasikannya dalam berbagai bentuk sesuai dengan dimensinya.

    ReplyDelete
  4. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPS Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1) menguraikan akan posisi guru yang sebenarnya. Guru hendaknya mampu memahami siswanya, di mana guru tidak boleh egois menentukan kehendanya sendiri. Begitu juga dalam penggunaan model pembelajaran. Guru harus peka terhadap siswanya. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan daya fikir yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  5. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Pada pembelajaran yang dilakukan di sekolah saat ini belum semua guru menerapkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa belum diberikan kesempatan untuk menemukan sendiri konsep matematikanya. Padahal yang kita ketahui bahwa konsep yang siswa sendiri membangun konsep tersebut akan lebih melekat pada siswa. Serta pengalaman yang diperoleh merupakan pengalaman bermakna. Pada elegi ini dijelaskan bahwa ketika di perguruan tinggi mahasiswa dituntut untuk melakukan riset untuk membangun konsepnya sendiri. Dan proses ini termasuk pada proses Architectonic Mathematics.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Mengubah secara perlahan-lahan dimulai dari guru sang pemegang kunci utama pembelajaran saat ini maka perubahan paradigm pembelajaran yang tadinya sangat setia menganut teacher center dapat diarahkan pada paradigma pengajaran yang berpusat pada siswa. Dengan menjadikan siswa sebagai yang utama di kelas maka guru memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk siswa membangun dan menemukan pengetahuan mereka sendiri layaknya arsitek yang merancang banguna yang hendak dibangunnya. Dengan cara ini siswa benar-benar belajar bermakna dan dapat memaknai apa yang dipelajari dengan lebih baik.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Matematika di perguruan tinggi dengan di sekolah dasar tentu berbeda tingkat kesulitannya, berbeda dimensinya karena melalui beberapa transformasi, sehingga apa yang diajarkan di perguruan tinggi haruslah bisa ditransformasikan lagi ke bawah agar konsep yang dipunyai oleh guru yang sudah lulusan perguruan tinggi dapat dipahami oleh siswa SD.

    ReplyDelete
  8. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Terdapat perbedaan antara anak-anak dengan orang dewasa. Perbedaan itu bukan hanya usia tetapi juga fisik, perkembangan psikologis, dan kecerdasan. Jadi, anak-anak dengan orang dewasa memiliki ruang dan waktu berbeda. Karena anak-anak masih dalam tahap konkret, matematika untuk anak terikat oleh ruang dan waktu dan akan sering berubah, lingkaran saat ini akan berbeda dengan lingkaran yang ditemuinya besok. Dua telinganya, akan berbeda dengan dua tangannya, dst. Untuk siswa yang masih duduk di bangku SD dan SMP, pembelajaran matematika dibutuhkan pembelajaran dengan alat/media menggunakan benda konkrit. Matematika untuk orang dewasa sudah pada tahap formal, sehingga tidak terikat oleh ruang dan waktu. Matematika formal itu idealis, berada di pikiran, dan akan selalu sama. Tanpa benda nyata tapi mampu dibayangkan, dan dengan mudah diasumsikan meskipun dipertanyakan keberadaan nyatanya, inilah yang disebut dengan Architectonic. Mereka bisa menemukan konsep pembelajaran dengan sendirinya, sehingga pemikiran mereka juga dapat menghasilkan penemuan-penemuan lain.

    ReplyDelete
  9. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendidikan matematika, yang dalam konteks ini disebut dengan matematika sekolah adalah matematika yang umumnya diajarkan di jenjang pendidikan formal dari SD sampai dengan tingkat SMA. Tidak termasuk tingkat perguruan tinggi karena di perguruan tinggi matematika didefinisikan dalam konteks matematika sebagai ilmu (matematika murni). Pelajaran matematika merupakan bidang studi yang diajarkan pada semua jenjang pendidikan mulai dari SD kelas rendah hingga perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran matematika dalam kehidupan. Matematika adalah salah satu disiplin ilmu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan seringkali siswa mengalami kesulitan dalam menggunakan ide-ide dasar, konsep-konsep matematika dalam kehidupan sehari- hari. Hal ini disebabkan karena pembelajaran matematika selama ini hanya menekankan pada hasil tidak menekankan pada prosesnya.

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Matematika perguruan tinggi merupakan matematika formal sedangkan matematika sekolah lebih mengarah ke matematika informal. Matematika formal sederhananya merupakan matematika yang berisi definisi yang jelas (dapat diterima semua orang/berlaku universal), aksioma yang di dasari atas sebuah kesepakatan dan tentunya dapat di sepakati oleh semua orang, dan teorema2 yang harus dibuktikan secara matematika (dengan pembuktian langsung ataupun tak langsung). Matematika informal merupakan matematika yang lebih mengarah pada kejelasan materi atau matematika yang semudah mungkin dapat diterima oleh peserta didik, atau pintu gerbangnya matematika yang sesungguhnya.

    ReplyDelete
  11. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Architectonic Mathematics dianggap sebagai suatu produk pada struktur matematika dengan cara mendorong kemandirian siswa dalam membangun konsepnya secara mandiri. Architectonic Mathematics diterapkan di perguruan tinggi tetapi akhir-akhir ini dikembangkan pada pembelajaran matematika sekolah melalui transforming phenonema.

    ReplyDelete
  12. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. matematika di perguruan tinggi dan matematika di sekolah tentunya berbeda. Matematika di perguruan tinggi lebih mengarah kepada matematika murni, sedangkan matematika di sekolah meruapakan matematika sekolah yang memperhatikan ruang dan waktu. Matematika di perguruan tinggipun akan berbeda di jurusan matematika murni dan pendidikan matematika, sebab objek yang di bahas tentu berbeda pula.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1) menguraikan akan posisi guru yang sebenarnya. Guru hendaknya mampu memahami siswanya, di mana guru tidak boleh egois menentukan kehendanya sendiri. Begitu juga dalam penggunaan model pembelajaran. Guru harus peka terhadap siswanya. Sebab seperti yang telah kita ketahui bahwa setiap siswa memiliki karakteristik dan daya fikir yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  14. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru berperan sebagai fasilitator di mana ia yang menyesuaikan dengan siswanya. Guru harus mampu menempatkan dirinya. Seperti pada proses pembelajaran antara di sekolah dasar dengan perguruan tinggi memiliki berbagai perbedaan. Pada pembelajaran matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun konsep sendiri. Sedangkan pada pembelajaran siswa sekolah dasar masih perlu adanya bimbingan khusus, sebab pada saat ini anak cenderung memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan masih dalam masa bermain. Oleh karena itu, peran guru di sini sangatlah penting. Guru hendaknya mampu memfasilitasi siswa dan mampu menyesuaikan dengan seluruh siswa sesuai dengan tingkatannya.

    ReplyDelete
  15. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Memang benar bahwa antara matematika anak kecil dengan matematika dewasa itu berbeda. Matematika anak kecil, mengikuti aliran Aristoteles, posisi pada tingkat anak kecil tidak bisa membayangkan materi-materi matematika yang abstrak. Akan membuat anak mudah stres dan kesusahan jika itu diterapkan pada anak kecil. Berbeda dengan matematika orang dewasa, untuk membayangkan materi-materi matematika yang abstrak itu sudah pada tingkatannya, karena matematika orang dewasa mengikuti aliran Plato. Jadi sebagai seorang guru yang faham akan cara mendidik para peserta didik, gunakan dan terapkan teori-teori cara mengajar yang memang sesuai dengan tingkatan-tingkata masing-masing. Jangan memaksakan teori-teori yang bukan pada tingkatannya karena itu hanya akan menghasilkan hasil yang tidak sesuai dengan yang diinginkan.

    ReplyDelete
  16. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika membicarakan matematika untuk anak-anak, saya teringat dengan potensi matematika. Apakah potensi matematika itu ada pada anak-anak? Jika ada, mungkin inilah yang harus diolah untuk pembelajaran matematika anak-anak. Saya sendiri berpikir kalau potensi matematika itu ada. Hanya saja antara setiap anak berbeda-beda besarnya, tergantung dimana dan oleh siapa dia dibesarkan. Jika hal ini diperhatikan dan digunakan dengan baik, maka tidak mustahil apabila anak-anak bisa cepat belajar matematika. Bahkan mungkin untuk mempelajari matematika tingkat tinggi. Ada kan kasus anak 13 tahun yang sudah menduduki perguruan tinggi? Belajar di jurusan matematika pula.

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Matematika dalam tingkatan sekolah tentulah berbeda - beda, hal ini berdasarkan konten, penalaran, pengalaman dan lain sebagainya. Oleh karena itu penyampaian dan kontennya tentulah berbeda. Oleh karena itu dalam SD sampai SMP menggunakan pendekatan induktif, dan SMA hingga perguruan tinggi menggunakan pendekatan deduktif.

    ReplyDelete
  18. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam postingan ini menyampaikan bahwa antara anak-anak dan orang dewasa tentu tidak dapat disamakan. Anak-anak dalam memahami tentu harus melalui wujud nyata atau konkrit. Sedangkan orang dewasa telah dapat memahami haal yang bersifat abstrak atau formal.

    ReplyDelete
  19. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014


    Dalam elegi ini terdapat kalimat sebagai berikut "stop Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engkau lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka tunggulah akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan."
    Elegi ini beresensi bahwa untuk memperbaiki pembelajaran matematika di negara kita ini, kita harus mentrasformir atau menemukan jenis matematika yang sesuai dengan siswa yang masih anak-anak. Itulah tugas guru sebagai fasilitator yang harus mampu memahami apa yang sesuai dan apa yang dibutuhkan anak-anak didiknya.

    ReplyDelete
  20. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika di Perguruan tinggi sangatlah berbeda dengan pembelajaran matematika di SD, SMP, maupun SMA. Dimana dalam pembelajaran matematika di perguruan tinggi mahasiswa dituntut mandiri dalam mengontruksi atau membangun struktur-struktur matematikanya. Kemandirian dalam mengontruksi struktur matematika nya ini dapat diadopsi dalam pembelajaran di SD, SMP, dan SMA ,namun masih berada dibawah bimbingan serta arahan dari seorang guru. Dengan siswa mengontruksi pengetahuannya diharapkan pembelajaran yang dilalui siswa bermakna bagi dirinya.

    ReplyDelete
  21. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Pembelajaran matematika dalam berbagai jenjang pendidikan tidaklah sama dan harus disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa dengan kemampuan berpikir siswa.

    ReplyDelete
  22. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam elegi ini, dipaparkan mengenai usaha untuk menerapkan pembelajaran matematika yang ada diperguruan tinggi agar dapat juga diterapkan dalam mengajarkan matematika di sekolah yakni siswa-siswa yang masih duduk di sekolah menengah bahkan di tingkat dasar agar lebih mandiri. Pembelajaran matematika yang diterapkan di perguruan tinggi merupakan matematika yang sejatinya dipahami dibangun oleh mahasiswa secara mandiri. Pembelajaran semacam ini dapa dilakukan dengan cara melakukan riset atau penelitian dalam bidang matematika, meskipun harus diakui bahwa dalam tingkat perguruan tinggi atau bagi mahasiswa sendiri hal ini juga sulit untuk dilakukan dan masih menjadi persoalan yang besar untuk segera diselesaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar, apakah metode atau cara tersebut dapat juga dilakukan terhadap matematika sekolah? Untuk diterapkan dalam matematika sekolah tentunya akan dibutuhkan transformasi atau perubahan-perubahan terhadap segala aspek yang terkait dengan sistem pendidikan yang ada dalam matematika sekolah.

    ReplyDelete
  23. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Untuk mentransformasi atau melakukan transformasi terhadap segala aspek yang ada dalam sistem pendidikan matematika sekolah bukanlah hal uyang gampang untuk dilakukan karena menyangkut perombakan secara keseluruhan. Untuk merubah atau mentransformasi satu atau dua aspek saja akan sangat sulit untuk dilakukan bagaimana kita akan dapat merubah atau mentransformasi keseluruhan aspek yang ada. Selain itu, para siswa yang tergolong masih muda dan pemikirannya yang belum terlalu matang, akan sangat sulit untuk dimasukkan hal-hal yang abstrak, karena sejatinya matematika diperguruan tinggi ini bukan sudah lebih tinggi tingkatan pemikirannya dibandingkan dengan matematika sekolah.

    ReplyDelete
  24. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pembelajaran matematika memilki tingkatan dimana terdapat 2 jenis yaitu pure mathematics dan school matematics. Pure mathematics ini pembelajaran pada tingkat perkuliahan mengenal tentang matematika abstrak. sedangkan pada matematika sekolah lebih menekankan pada perkembangan psikologi siswa dimana matematika dikemas secara menarik dan relevan pada dunia anak sehingga anak memiliki minat sendiri untuk mempelajari matematika

    ReplyDelete
  25. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Matematika memiliki ruang dan waktunya sendiri. Matematika orang dewasa sangat berbeda dengan matematika anak-anak. Matematika di universitas sangat berbeda dengan matematika di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar. Di universitas, meskipun dibantu dosen, mahasiswa secara mandiri membangun sendiri struktur-struktur matematika nya. Dosen hanya memberi arahan sedikit tentang sumber yang sebaiknya digunakan dan kompetensi yang seharusnya dicapai, tetapi secara garis besar mempercayakan pada mahasiswa untuk membangun ilmu pengetahuan matematikanya secara mandiri. Hal ini dapat dilakukan karena intuisi matematika yang dimilikioleh mahasiswa lebih tinggi dari pada siswa di sekolah. Hal ini disebabkan pengalaman yang lebih banyakdan persoalan yang dihadapi lebih kompleks.
    Intuisi matematika mahasiswa ini tentu saja sangat berbeda dengan intuisi matematika anak sekolah dasar. Jika dengan intuisi matematikanya mahasiswa dapat membangun ilmu pengetauannya secara mandiri lain halnya dengan siswa yang masih memerlukan fasilitator atau pembimbing dlam mencitakan ilmu pengetahuan. Hal ini karena pegalaman yang dimilik siswa sekolah dasar masih sedikit. Hal ini pula yang menyebabkan intuisi matematikanya belum bisa digunakan untuk memahami ilmu pengetahuan secara mandiri. Jika guru memaksakan siswa sekolah dasar untuk melakukan pembelajran mandiri, itu sama saja dengan membunuh siswa. Karena guru telah menganggap bahwa intuisi anak sekolah dasar sama dnegan intuisi orang dewasa. Yang ada siswa sekolah dasar tersebut bukan mendapatkan ilmu pengetahuan matematika yang dimaksud tetapi malah terjerumus ke dalam kesalahan pemahaman materi. Karenanya peran guru dalam pembentukan intuisi untuk memahami ilmu pengetahuan angatlah penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan cara konstruktivisme dalam pembelajaran.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  26. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Dalam pembelajaran matematika ada sebuah struktur yang dibangun selaras antara materi dengan jenjang peserta didik. Konsep Architectonic mathematics di perguruan tinggi sangatlah sesuai karena dengan konsep ini mahasiswa akan terdorong untuk membangun struktur matematikanya namun pada tataran sekolah dasar yang masih pada tahap kognitif konkret pengajar harus menerapkan strategi yang lain untuk mengkonstruk ilmu matematikanya. Dan strategi-strategi itulah harus terus ditemukan dan dikembangkan demi menunjang tumbuh kembang pengetahuan matematika anak sesuai dengan zamannya.

    ReplyDelete
  27. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurut saya, konsep architectonic mathematics sangat cocok diterapkan pada tahap perguruan tinggi karena pada tahapan ini siswa dianghap sudah mampu mengkontruksi pengetahuannya sendiri karena mereka sudah bisa berpikir abstrak, kemungkinan untuk siswa usia smp dan sma sudah dapat menerapkan metode ini. Namun menurut saya, untuk anak usia sd dan dibawahnya, menggunakan konsep ini tentu tidak sama ketika menggunakannya untuk anak usia PT, namun harus disesuaikam dengan perkembangan anak itu sendiri.

    ReplyDelete
  28. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Yang kami pahami dari elegi ini adalah pembelajaran matematika pada orang dewasa dan anak-anak pada dasarnya sangat berbeda. Matematika pada dasarnya mempelajari sesuatu yang tidak kongkrit (nyata), berbeda dengan fisika, kimia, atau biologi yang objeknya kongkrit ada di alam. Dalam mempelajari matematika, anak-anak kadang memerlukan suatu objek kongkrit yang bisa mewakili konsep matematika yang abstrak. Sehingga anak mampu menyelidiki pola, hubungan sehingga bisa membangun intuisi dan pemahaman matematisnya.

    ReplyDelete
  29. Muh Wildanul Firdaus
    17709251012
    Pendidikan matematika S2

    Menurut Ebbut & Straker, matematika sekolah seyogyanya tidak menggunakan matematika aksiomatis atau formal seperti yg dipelajari di universitas.

    Menurut mereka hakekat matematika sekolah yaitu:
    1. Matematika merupakan kegiatan penelusuran pola dan hubungan
    2. Matematika adalah kreativitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan.
    3. Matematika adalah kegiatan problem solving.
    4. Matematika merupakan alat berkomunikasi.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terima kasih Pak
    Menurut saya mengajar matematika untuk anak hendaknya berhati-hati dan dengan mempertimbangkan segala dampak yang akan terjadi. Mengajar matematika kepada anak sama saja membantu anak untuk membangun pondasinya dalam berpikir tentang matematika. Selain itu, cara berpikir anak, pengalaman anak, hoby, kegiatan yang disukai juga hendaknya menjadi pertimbangan khusus dalam mengajar matematika agar anak dapat termotivasi dalam rangka melanjutkan pondasi-pondasi tersebut untuk membangun konsep matematika yang kokoh seiring berjalannya usia mereka.

    ReplyDelete
  31. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya

    Kali pertama saya bersinggungan dengan istilah Architectonic Mathematics. Pada elegi ini saya belajar tentang bagaimana metode pembelajaran matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah. Meskipun baru pertama membaca ulasan tentang Architectonic Mathematics, saya setuju bahwa metode dan sistem belajar orang dewasa di Perguruan Tinggi dan anak-anak di sekolah memanglah berbeda. Bisa jadi perbedaan tersebut karena hasil penyesuaian dengan tugas perkembangan manusia. Pada elegi ini disebutkan bahwa metode dan sistem belajar matematika orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda, dipengaruhi oleh aspek pedagogis dan psikologis. Sungguh elegi ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya.

    ReplyDelete
  32. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Secara garis besar dikatakan matematika terbagi antara matematika abstrak dan matematika formal. Dimana matematika abstrak adalah matematikanya orang dewasa, pada dewa, para mathematicans yang mana matematika berdasar pada apa yang dipikirkan logos abstrak. Sedangkan matematika formal atau matematika sekolah adalah metematikanya anak-anak para daksa, para siswa. Yang mana matematika disini kebenarannya berdasarkan percobaan atau suatu kegiatan aktivitas sehari-harinya konkret. Dalam hal ini terdapat suatu fenomene yang mana matematika tidak sesuai untuk subjeknya, yang terparah yaitu memaksakan siswa anak-anak untuk belajar sesuatu yang abstrak. Maka disini perlu suatu pembelaan terhadap siswa atau anak anak karena suatu peristiwa yang tidak adil ini.

    ReplyDelete
  33. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Matematika murni adalah matematika untuk orang dewasa. Matematika murni tidak sesuai bagi anak-anak di sekolah, terlebih bagi anak-anak kecil. Anak-anak kecil mengenali sesuai melalui benda konkret, sementara matematika murni bersifat abstrak, maka anak-anak kecil tidak akan mungkin bisa menjangkaunya. Oleh karena itu, agar matematika dapat dikonstruksi sendiri oleh siswa, matematika harus disajikan sesuai dengan kemampuan siswa. Inilah perlunya inovasi pembelajaran, dari pembelajaran konvensional menuju pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif ialah pembelajaran yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya melalui pengalaman-pengalaman yang diciptakan oleh guru.

    ReplyDelete
  34. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Secara pedagogis dan psikologis jelas sangat berbeda sekali pola pikir anak-anak dan dewasa. Anak-anak khususnya di ranah sekolah pemikirannya belum sampai pada tahap abstraksi, mereka selalu belajar dari hal yang nyata atau konkrit (seperti halnya hermeneutika), sedangkan bagi mereka yang dewasa pedagogisnya sudah bisa untuk berpikir abstrak, maka Architectonic Mathematics cocok diterapkan pada mereka di perguruan tinggi. Tetapi sebenarnya walupun saya sudah di perguruan tinggi, terkadang beberapa materi matematika masih saya pikirkan bagaimana konkritnya.

    ReplyDelete
  35. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Membaca elegi di atas, saya dihadapkan dengan hal yang baru mengenai istilah Architectonic Mathematics di dalam pembelajaran matematika.Ini baru pertama kali saya mendengar istilah tersebut.Namun yang menjadi pusat perhatian dalam elegi ini bahwa belajar matematika orang dewasa dan anak amat berbeda sekali.Itu dsebabkan karena psikologi dan karakter anak yang berbeda sebagaimana yang telah disebutkan dalam elegi tersebut.Di lain hal, elegi di atas memberikan isyarat bagaimana membangun pondasi matematika pada generasi muda sebagai generasi pelanjut atau penerus.

    ReplyDelete
  36. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya sistem mengajar dan belajar pada orang dewasa dan anak-anak tidak hanya berbeda dalam bidang ilmu matematika saja. Tentunya ini juga dapat diterapkan pada bidang ilmu lainnya. Proses belajar suatu ilmu juga akan semakin menarik jika mengarah pada membangun sendiri ilmu pengetahuan. Namun, kondisi membangun sendiri akan suatu ilmu juga dapat disesuaikan dengan tahap usianya. Sejatinya, antara anak-anak dan orang dewasa memiliki kemampuan dalam dirinya. Ini yang diharapkan dapat dibangun secara satu kesatuan. Semoga para pendidik dan peserta didiknya juga menyadari pentingnya membangun ilmu terhadap diri sendiri. Terima kasih Prof untuk ulasan di atas.

    ReplyDelete
  37. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya Prof, menurut definisi yang diuraikan di artikel bahwa architectonic mathematics menganjurkan siswa mengkonstruk sendiri pengetauannya. Matematika seperti ini sesuai digunakan di tingkat perguruan tinggi di mana pelajar sudah memiliki cukup bekal untuk mulai hijrah dari yang selama ini berpikiran konkret menjadi berpikiran abstrak.

    ReplyDelete
  38. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Guru harus mengetahui kapan dan dimana materi matematika itu sudah boleh disampaiakan dan mana yang belum saatnya untuk disampaikan karena matematika itu bersifat berstruktur berhirarki. Tentunya pemberian materi itu harus memperhatikan ruang dan waktunya. Dalam mengajarkan matematika kepada siswa juga harus memperhatikan siswanya. Karena siswa itu berbeda-beda, sehingga metode yang digunakan juga harus disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan siswa.

    ReplyDelete
  39. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Berdasarkan elegi ini saya memahami bahwa Architectonic Mathematics merupakan konsep pembelajaran matematika yang menumbuhkan kemandirian siswa dalam membangun sendiri struktur matematikanya. Namun, yang menjadi tantangan kita adalah pembelajaran matematika bagi anak yang masih terikat dengan definisi dan teorema dalam bermatematika. Hal ini tentu tidak bisa dilepaskan dari peran ilmuwan murni yang membawa konsep matematis yang ‘rumit’ ke dalam pendidikan dasar, padah dalam membangun konsep matematis bagi anak perlu disesuaikan dengan karakter anak. Architectonic Mathematics harus mulai dikenalkan dalam pembelajaran matematika di SD agar anak-anak dapat dengan mudah memahami matematika dan menjauhi kesan matematika yang rumit akan teorema dan definisi.

    ReplyDelete
  40. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Saat seseorang menerapkan Architectonic Mathematics seseorang tersebut harus menyadari subjek yang menerapkan Architectonic Mathematics. Apabila subjek tersebut adalah anak SD maka Architectonic Mathematics dapat dengan belajar matematika dengan mengkonstruksi pengetahuanya namun berdasarkan contoh dan bukan contoh yang diberikan oleh guru, apalagi contoh tersebut diberikan dalam konteks yata. Namun hal ini akan berbeda pada SMP dan SMA ydimana siswa telah mampu setidaknya untuk mengkonstruksi pengetahuan yang dimilikinya walaupun dengan bantuan dari gurunya. Namun untk Architectonic Mathematics yang diterapkan di perguruan tinggi maka tidaklah susah mahasiswa mengkonstruksikan sendiri pemahamannya tentang topik pada matematika.

    ReplyDelete
  41. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Penggunaan Architectonic Mathematics menurut saya tidak tepat untuk digunkan oleh anak SD. Karena anak SD masih memerlukan bimbingan dalam belajar matematika, yang mana masih banyak dasar-dasar dalam perhitungan yang harus disampaikan kepada mereka dengan jelas. Sehingga kedepannya mereka dapat memahimi dengan baik mengenai perhitungan matematika.

    ReplyDelete
  42. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Sebab utama kesulitan dalam memahami matematika adalah kaarena sifatnya yang abstrak. Hal ini sangat kontras dengan alam pikiran kebanyakan dari peserta didik yang terbiasa berfikir tentang objek-objek yang konkret. Bahasa matematika adalah bahasa yang abstrak, bahasa yang begitu banyak dipenuhi lambang. Karena sifatnya yang abstrak inilah seringkali kebanyakan peserta didik mengira bahwa matematika itu tidak ada hubungannya dengan dunia lain.

    ReplyDelete
  43. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pola pikir anak-anak dan orang dewasa tentu sangatlah berbeda, begitu pula dalam matematika. Matematika untuk anak-anak jangan diberikan pada orang dewasa begitu juga matematika dewasa jangan diberikan kepada anak-anak. Hal ini akan berpengaruh pada pola pikir mereka, karena tidak sesuai dengan kondisi. Dalam pembelajaran, guru juga tidak sepantasnya memaksakan kehendak kepada siswa bahwa siswa harus menyukai matematika dan melakukan semua intruksi guru. Sudah waktunya biarkan siswa menemukan konsep mereka dan guru memfasilitasi akan hal itu. Dengan demikian, siswa akan membangun konsep matematika menurut pengalaman yang telah mereka lakukan.

    ReplyDelete
  44. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Bila kita mengajarkan matematika pada anak SD dengan cara yang sama dengan cara mengajarkan matematika pada mahasiswa seperti riset, maka kita sedang menghidupkan hantu pada anak SD. Hantu ini akan hidup dalam pikiran anak-anak, menjadi beban, dan akan membuat anak-anak takut bertemu dengan matematika. Sehingga ke depannya anak-anak tidak akan tertarik belajar matematika, sehingga mereka akan kesulitan dalam mempelajari ilmu matematika

    ReplyDelete
  45. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Matematika formal dan matematika sekolah berbeda. Mahasiswa belajar matematika formal maka mahasiswa dituntut untuk mandiri mencari sumber belajar selain dosen. Mahasiswa juga sudah mulai mengenal riset yang bisa diimplementasikan pada masyarakat. Untuk matematika sekolah dari sd, smp, sma. menurut saya guru berperan sangat penting sebagai sumber belajar meskipun teacher centered ini kadarnya semakin berkurang di level sma. Jadi porsi teacher centered di sd lebih banyak, sedangkan porsi student centered lebih banyak di sma guna mempersiapkan masuk jenjang perkuliahan.

    ReplyDelete
  46. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Darui elegi di atas, saya mengetahui bahwa Architectonic Mathematics merupakan konsep pembelajaran matematika yang menumbuhkan kemandirian siswa dalam membangun sendiri struktur matematikanya. Namun, yang menjadi tantangan kita adalah pembelajaran matematika bagi anak yang masih terikat dengan definisi dan teorema dalam bermatematika. Padahal selama menjadi mahasiswa pendidikan matematika ketika s1, perbedaan matematika formal di perguruan tinggi dengan matematika sekolah memang terjadi adanya. Ketika belajar matematika di kampus, banyak mata kuliah-mata kuliah yang sebenarnya nantinya tidak akan kami ajarkan ketika terjun ke sekolah.Itulah tantangan yang kita hadapi, kita harus mampu menjelaskan matematika berangkat dari yang paling sederhana ke yang paling rumit atau abstrak, dan membuat para siswa mampu membangun pengetahuan matematika sendiri, tentunya tetap dengan tujuan kompetensi tertentu. Karena Proses belajar suatu ilmu juga akan semakin menarik jika mengarah pada membangun sendiri ilmu pengetahuan. Wallahu'alam bishowab.

    ReplyDelete
  47. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Terima kasih Pak Prof. atas postingan ini. Dari elegi ini saya benar-benar menemukan alasan kenapa dalam mengenalkan matematika kepada anak-anak sama sekali tidak bisa dan tidak memungkinkan untuk mengajarkan matematika seperti di perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan perkembangan psikologis dan karakter antara anak-anak dan orang dewasa sangat berbeda. Dimana bagi orang dewasa ia mampu mempelajari matematika yang bersifat abstrak, sedangkan bagi anak-anak ia mengenal matematika dari hal yang bersifat konkrit atau nyata, yang bisa dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, janganlah mencoba untuk mengenalkan matematika abstrak kepada anak-anak karena itu tidak akan mungkin bisa. Tetapi cobalah mengenalkan matematika melalui cara-cara yang memang sesuai dengan perkembangan psikologis anak.

    ReplyDelete
  48. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Elegi ini menjawab pertanyaan saya mengenai architectonic mathematics. Saya masih belu mengerti mengapa istilahnya demikian, tapi saya memahaminya sebagai konstruktivisme dalam belajar matematika. Anak yang membangun sendiri konsep matematikanya. Saya setuju dengan hal ini, sebab jika anak tidak membangun sendiri konsepnya, si anak akan semakin kesulitan di jenjang selanjutnya. Berarti ada sesuatu yang kurang beres di jenjang sebelumnya.
    Dalam pengalaman mengajar, hal ini sangat nyata. Sering terjadi anak-anak yang tidak matang secara konsep, akan kesulitan. Pernah suatu ketika anak diajarkan menggunakan jarimatika ketika awal belajar perkalian. Itu mudah dan cepat, bukan? Seakan anak bisa. Namun ketika di kelas berikutnya, mereka tidak mengingat bagaimana cara melakukan jarimatika, dan mereka tidak punya konsep perkalian itu seperti apa, maka mereka kesulitan. Guru perlu memfasilitasi anak membangun konsep, bukan untuk membuat anak bisa mengerjakan soal. Bisa mengerjakan soal adalah buah dari konsep yang terbangun tadi, bukan cara-cara instant yang dangkal atau sekedar hafal.

    ReplyDelete
  49. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Matematika orang dewasa dan matematika anak merupakan hal yang sangat berbeda seperti kutub utara dan kutub selatan. Kita tidak bisa memaksa anak untuk memahami pemikiran kita sebagai orang dewasa. Saat ini matematika masih menjadi momok untuk anak. Banyak dari mereka mengatakan bahwa matematika merupakan matapelajaran yang sulit dan pada akhirnya mereka tidak menyukai matematika. Ketidaksukaan mereka akan matematika akan membuat mereka lebih tidak bisa memahami matapelajaran matematika. Oleh karena itu, kita sebagai orang dewasa yang belajar pendidikan matematika maka alangkah baiknya jika kita jangan memaksakan pemikiran anak setara dengan kita. Kita yang harus merubah pikiran kita agar sama seperti mereka yang didalam filsafat sering disebut hemenitika. Sebab jika kita memaksakannya akan berdampak lebih menyeramkam karna anak merupakan cerminan kita,

    ReplyDelete
  50. Sejalan dengan elegi diatas bahwa benar pembelajaran matematika di SD sangat berbeda dengan pembelajaran matematika di pereguruan tinggi. Membicarakan tentang architectonic mathematics, yang dapat kami pahami bahwa architectonic mathematics merupakan asumsi dasar tentang bagaimana siswa memperoleh pemahaman dan mampu membangun konsep matematika yakni pertama, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui logika tau penalarannya, kedua, siswa mampu memahami dan membangun konsep matematika melalui pengamatannya terhadap fenomena matematika. Pada jenjang SD pemahaman siswa lebih mudah dibangun melalui fenomena-fenomena yakni system pembelajaran dimana guru langsung mengajak siswa untuk belajar langsung dilapangan, mengajukan permasalah nyata sehingga siswa terbangun pikirannya untuk berpikir tantang masalah yang diajukan. Sedangkan, dalam perguruan tinggi pembelajaran lebih ditekankan bersifat Axiomatic mathematic yakni pembelajaran yang bersifat lebih formal. Maka guru harus benar-benar memahami karakter dan psikologi siswa untum menentukan pembelajaran yang tepat bagi mereka. Terima Kasih

    ReplyDelete
  51. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  52. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  53. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  54. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Menurut saya Penggunaan Architectonic Mathematics tidak tepat untuk digunkan oleh anak SD. Karena anak SD memerlukan bimbingan dalam belajar matematika, yang mana masih banyak dasar-dasar dalam perhitungan yang harus dijelaskan secara lebih jelas kepada mereka. Sehingga ketika mereka maniki tingkatan selanjutnya maka akan semakin mudah dalam mempelajari matematika.

    ReplyDelete
  55. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Daya tangkap anak-anak dan orang dewasa sangatlah berbeda-beda, maka gaya belajar mereka juga berbda, untuk itu sebgaimana dipaparkan diatas harus adanya transformatif dalam pembelajaran Matematika baik dari segi teori, ide, paradigma, filosofi, konsep metode, atitut, dan lain sebagainya. untuk melakukan transformasi tersebut diperlukan inovasi dari daosen dan tentunya mahasasiswa itu sendiri, sehingga proses pemebelajaran Matematika bukan hanya transfer of knowladge tetapi constuct knowledge.

    ReplyDelete
  56. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tingkat berpikir anak yang berbeda-beda sesuai dengan usianya tentu menjadi pertimbangan ketika kita akan memberikan perlakuan. Anak yang tingkat berpikirnya sudah jauh berkembang mungkin akan diberikan kesempatan untuk mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dengan monitoring oleh guru. Pada anak dengan tingkat berpikir lebih rendah mungkin dapat diakali dengan memberikan tugas yang menarik. Pada tingkatan sekolah dasar, lebih penting membuat siswa tertarik daripada membuat siswa berpikir terlalu tinggi dan menyebabkan siswa tidak suka terhadap matematika.

    ReplyDelete
  57. Sejujurnya saya baru mengenal istilah “arsitektonik matematik” melalui website bapak ini pada tulisan diatas. Dalam proses pembelajaran matematik di perguruan tinggi, berbagai riset penelitian dilakukan, hal ini dapat menjadi jalan bagi para mahasiswa dengan bantuan dosen untuk membangun pengetahuannya dengan intuisi. Sebagai seorang manusia yang dewasa, haruslah kita mampu untuk memisahkan pembelajaran untuk anak/siswa di sekolah dengan matematika untuk dewasa di perguruan tinggi.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  58. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Architectonic Mathematics merupakan konsep belajar matematika yang biasa diterapkan di perguruan tinggi. Ide besar dari konsep ini adalah "to construct their own knowledge of mathematics”. Bagaimana caranya agar ide besar ini dapat diwujudkan? Caranya adalah dengan riset matematika. Melalui cara belajar melalui riset matematika ini pembelajar di perguruan tinggi dapat mengkonstruksikan sendiri pemahamannya tentang topic pada matematika. Bila konsep Architectonic Mathematics baik, dapatkah konsep ini diimplementasikan di jenjang pendidikan yang lebih rendah, bahkan di sekolah dasar? Ya, tentu saja. Tapi dengan satu catatan, transform atau ubah. Ubah cara penyampaiannya yang sesuai dengan cara berpikir anak-anak SD. Ubah sumber belajarnya yang sesuai dengan tingkat perkembangan intelektual anak SD. Ubah pengemasannya agar dapat dirasakan menarik bagi anak SD yang masih senang bermain. Ubah, ubah, dan ubah untuk disesuaikan dengan keadaan siswa yang kita sasar.

    ReplyDelete
  59. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Disini saya hampir memahami hal yang sama dengan artikel yang sebelumnya saya baca. Kita memang selayaknya bagi pendidik gencar mencari cara untuk mempromosikan pembelajaran kepada para guru sekolah dasar untuk melatik mereka memberikan persoalan yang tidak berbau konsep dengan sesuatu yang abstrak. Karena tingkat pemikitan anak SD masih menggunakan sesuatu yang nyata. Belum bisa di ajak ke sesuatu yang abstrak.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  60. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Pembelajaran matematika di tingkat perguruan tinggi dan sekolah pastilah berbeda. Siswa masih membutuhkan suatu benda/contoh konkret dalam pembelajarannya. Tidak bisa langsung dibelajarkan dengan matematika yang abstrak. Tantangan dan tugas bagi guru di sekolah untuk membelajarkan matematika sesuai dengan karakter usia siswa karena dengan pembelajaran yang salah, akan memberikan dampak yang tidak baik kedepannya meski tidak bisa dirasakan dampaknya saat itu juga.

    ReplyDelete
  61. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Bismillahirrohmanirrohiim.
    Seperti yang telah sering dijelaskan oleh Prof.Marsigit bahwa matematika untuk anak-anak berbeda dengan matematika untuk orang dewasa. Matematika untuk anak-anak ialah aktivitas, tidak akan ada belajar matematika tanpa aktivitas. Objek matematika untuk anak-anak ialah objek-objek yang ada di sekitar kehidupannya sehari-hari. Sedangkan matematika untuk orang dewasa meliputi definisi, teorema, dan pembuktian. Oleh karena itu, tidak sepantasnya jika matematika hanya diajarkan dengan mentransfer pengetahuan dari guru kepada siswa. Matematika harus dikonstruk sendiri oleh siswa layaknya siswa ialah arsitek bagi pengetahuannya sendiri. Dengan begitu, proses pembelajaran matematika akan menjadi lebih bermakna.

    ReplyDelete
  62. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ada banyak pembeda antara anak-anak dan orang dewasa. Salah satunya adalah banyaknya pengalaman yang mereka dapatkan. Pengalaman- pengalaman itulah yang pada akhirnya membentuk pola pikir.
    Anak-anak yang belum memiliki banyak pengalaman memiliki pola pikir yang masih sangat sederhana, mereka akan melakukan hal-hal yang mereka sukai saja, dan urusan belajar adalah salah satu yang tidak mereka sukai. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah dapat membedakan mana yang baik dan yang tidak baik, dan mereka sudah memahami bahwa belajar adalah suatu kebutuhan.
    Architectonic Mathematics dalam hubungan dengan pembelajaran matematic, tentu juga memiliki perbedaan antara anak dan dewasa. Kita sebagai pendidik memiliki kewajiban untuk mendesain kedua jenjang pembelajaran tersebut. Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA.

    ReplyDelete
  63. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam memberikan transfer ilmu matematika, maka kita juga harus menyelaraskan dan membuat keadaan yang harmonis antara materi yang akan diajarkan dengan strategi kita dalam mentransfer ilmu. Ada kalanya materi matematika dibawa ke dalam realistik matematika, misalnya yang berkaitan dengan bangun ruang,bangun datar, SPLDV, dsb. Namun kita jangan memaksakan materi-materi yang tidak bisa direalistikkan ke harus tranferkan ke siswa dengan metode realistik, misalnya saja materi determinan matriks, integral parsial, dsb. Jadi memang kita harus bisa menelaah materi dan startegi apa yang tepat untuk mentransferkan ilmu matematika tersebut.

    ReplyDelete
  64. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Beberapa kali Bapak mengulas tentang school mathematics dan pure mathematics yang totally different. Secara tidak langsung dapat diibaratkan bahwa anak-anak dan orang dewasa adalah berbeda dimensinya. Bukan tidak mungkin jika siswa sekolah diberikan materi tentang matematika yang murni adanya. Hanya saja belum tepat penyampaiannya dalam hal ruang dan waktunya. Setiap tahap perkembangan kognitif siswa seyogyanya diperhatikan pula apa yang hendaknya mereka capai dalam hal tujuan pembelajaran matemtaika. Jika mereka tidak siap akan hal tersebut maka akan menjadi bencana lah bagi mereka.

    ReplyDelete
  65. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Anak SD dan mahasiswa perguruan tinggi memiliki pengalaman dan tingkat perkembangan kognitif yang berbeda pula. Sehingga dalam proses pembelajaran matematika di perguruan tinggi itu tidak mungkin jika diterapakan pada proses pembelajaran di SD. Hal itu karena keduanya awalnya sudah memiliki paradigma yang berbeda. Matematika murni itu sifatnya formal abstrak, sedangkan matematika sekolah itu realistik dan konkrit. Keduanya memiliki paradigma awal yang berbeda, sehingga jika paradigmanya saja sudah berbeda jauh antara langit dan bumi maka tidak mungkin keduanya melebur jadi satu. Saat matematika murni memkasa untuk memasuki ranah mateamtika sekolah maka itu sama saja dengan merusak intuisi anak. Hal itu dapat diibaratkan seperti, larva yang turun dari gunung dan membakar segala sesuatu yang ada di bawahnya. Terimakasih

    ReplyDelete
  66. Antara matematika dewasa dan matematika anak-anak jelas berbeda. Hal ini harus dipahami oleh guru aagar pembelajaran tidak mengakibatkan siswa sebagai korban. Pada matematika dewasa, siswa diarahkan kepada pengkonstruksian pengetahuan secara mandiri serta sudah terkait dengan hal abstrak, namun pada matematika anak-anak tidak dapat terapkan hal tersebut. Anak-anak masih sangat membutuhkan bantuan dan arahan guru dalam memahami konsep matematika. Pemahaman anak-anak juga perlu didukung dengan benda-benda konkrit dan dihindari dengan yang abstrak.

    ReplyDelete
  67. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Matematika memiliki salah satu dimensi yang sangat sulit dipahami oleh anak, yaitu abstrak formal. Mengikuti suatu kaidah aksiomatis dan rigid, serta asbtrak, tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan anak menjadikan matematika sering ditinggalkan dan anak tidak mau menyentuhnya. Untuk itu perlu dilakukan transformasi pandangan dalam membelajarkan matematika pada anak. Matematika suatu aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang diformalkan, selalu mengaitkan matematika dengan kehidupan siswa sehari-hari.

    ReplyDelete
  68. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam transformasi pure math ke matematika sekolah, tentu bukan konten dan aksioma yang dirubah, tetapi lebih ke potensi internal, hakikat mengkontruk pengetahuan matematika siswa sehingga siswa mampu memahami matematika sebagai bagian dari kehidupannya. Esensi dari elegi ini ingin menjelaskan batas antara pure math dan matematika sekolah

    ReplyDelete

  69. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Uraian pada artikel ini memberikan gambaran bahwa matematika itu berdimensi, maksudnya, seperti yang kita tahu, matematika dipelajari mulai dari sekolah dasar sampai pada tingkat perguruan tinggi, namun pada setiap jenjangnya matematika memiliki karakteristik yang berbeda. Bagi seorang anak, belajar adalah kegiatan, maka belajar matematika seharusnya juga merupakan kegiatan bermatematika, sehingga melalui kegiatan tersebut anak mampu mengkontruksi pengetahuan matematikanya sendiri dengan bantuan guru, itulah yang disebut sebagai konstruksitivisme dan matematika sekolah, yaitu kegiatan matematika yang sesuai untuk anak sekolah. Oleh karena itu, belajar matematika di sekolah tidak boleh sama dengan mahasiswa yang belajar matematika di perguruan tinggi. Karena matematika perguruan tinggi merupakan matematika yang sudah abstrak.

    ReplyDelete
  70. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pentingnya peranan matematika menjadikan mata pelajaran matematika diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Dalam pendidikan mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Hal ini bertujuan untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis. Faktor kemampuan awal (prior knowledge) yang dimiliki mahasiswa selama menempuh pendidikan pada jenjang sekolah menengah dapat mempengaruhi prestasi belajarnya di perguruan tinggi. Karena matematika kuliah dan waktu di sekolah sangat jauh berbeda. Sehingga seakan matematika di sekolah hanya sebuah titik dalam sebuah bidang datar yang luas.

    ReplyDelete
  71. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Dalam elegi ini, dipaparkan mengenai usaha untuk menerapkan pembelajaran matematika yang ada di perguruan tinggi agar dapat juga diterapkan dalam mengajarkan matematika di sekolah yakni siswa-siswa yang masih duduk di sekolah menengah bahkan di tingkat dasar agar lebih mandiri. Pembelajaran matematika yang diterapkan di perguruan tinggi merupakan matematika yang sejatinya dipahami dibangun oleh mahasiswa secara mandiri. Pembelajaran semacam ini dapat dilakukan dengan cara melakukan riset atau penelitian dalam bidang matematika, meskipun harus diakui bahwa dalam tingkat perguruan tinggi atau bagi mahasiswa sendiri hal ini juga sulit untuk dilakukan dan masih menjadi persoalan yang besar untuk segera diselesaikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang besar, apakah metode atau cara tersebut dapat juga dilakukan terhadap matematika sekolah? Untuk diterapkan dalam matematika sekolah tentunya akan dibutuhkan transformasi atau perubahan-perubahan terhadap segala aspek yang terkait dengan sistem pendidikan yang ada dalam matematika sekolah.

    ReplyDelete
  72. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Matematika di perguruan tinggi berbeda dengan matematika di sekolah, utamanya sekolah dasar. Matematika di perguruan tinggi diperuntukkan bagi orang dewasa sedangkan matematika sekolah adalah untuk anak-anak. Matematika diperguruan tinggi adalah tentang bagaimana mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sndiri struktur-struktur matematikanya. Sedangkan matematika di sekolah seharusnya berupa aktivitas-aktivitas untuk mengenalkan matematika kehidupan sehari-hari bagi anak-anak.

    ReplyDelete
  73. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Dari elegy di atas dapat disimpulkan bahwa pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri struktur-struktur matematika nya. Karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak sangatlah berbeda. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang digunakan ketika di Perguruan Tinggi jangan digunakan dalam pembelajaran di Sekolah Dasar karena keduanya sangat bertentangan.
    Secara garis besar,dari elegi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan matematika mempunyai beberapa tahapan. Dalam pembelajaran matematika perlu disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa, kemampuan berpikir peserta didik. Salah satunya matematika sebagai formal abstrak. Model matematika ini merupakan model pembelajaran yang diterapkan di perguruan tinggi. Dalam model pembelajaran ini, bertujuan untuk membangun ilmu matematika dan struktur-strukturnya sendiri, walaupun masih dengan bantuan dosen.

    ReplyDelete
  74. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 Pmat C 2017

    Sebagai tambahan komentar saya di atas. Pembelajaran matematika menurut hakekat konstruktivisme adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep atau prinsip-prinsip matematika dengan kemampuannya sendiri melalui proses internalisasi, sehingga dengan konsep atau prinsip itu akan terbangun kembali transformasi informasi yang diperoleh menjadi konsep atas prinsip baru

    ReplyDelete
  75. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Pada dasarnya matematika yang diajarkan di sekolah disesuaikan dengan kemampuan koginitif siswa. Semakin meningkat jenjangnya maka materi yang diajarkan pun semakin kompleks. Jarak antara perguruan tinggi dan Sekolah Dasar sangatlah jauh sehingga matematika yang dipelajari pun jauh berbeda. Jika pada perguruan tinggi yang dipelajari adalah matematika formal maka pada sekolah dasar maupun sekolah menengah yang dipelajari merupakan matematika non formal. Oleh karena itu metode pembelajaran yang digunakan pun akan sangat berbeda. Seorang guru hendaknya menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan materi serta kemampuan kognitif siswa.

    ReplyDelete
  76. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Architectonic Mathematics dengan aspeknya "to construct their own knowledge of mathematics", memberikan pemahaman yang lebih baik bagi siswa, tapi ini hanya dapat dianggap mudah oleh siswa di universitas, tetapi tidak untuk siswa sekolah. Hal ini disebabkan oleh perbedaan karakter antara pembelajaran orang dewasa dan belajar anak. Jadi perlu diadakan suatu fenomena transformasi untuk anak-anak yang belajar di sekolah. Dan ini adalah tugas bagi orang-orang dari pendidikan matematika, bukan matematika murni.

    ReplyDelete
  77. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Perguruan Tinggi dengan di Sekolah Dasar memiliki pendidikan matematika yang berbeda. Di Perguruan tinggi, mahasiswa dituntut untuk mandiri dengan cara mengkontruksi sendiri struktur-struktur matematikanya. Di Sekolah Dasar siswa hendaknya tidak ditekankan untuk bisa mengkontruksi sendiri struktur-struktur matematika seperti di Perguruan Tinggi, karena pola pikir mahasiswa dan anak-anak sangatlah berbeda. Daya nalar mahasiswa sudah mumpuni untuk melakukan hal yang demikian, sedangkan anak-anak masih belum mumpuni karena anak-anak masih cenderung suka bermain dan kurang menyukai aktivitas belajar.

    ReplyDelete
  78. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Pemebelajran matematika untuk anak anak memerlukan pendekatan yang berbeda dengan yang telah dilakuakn pure mathematics terrhadap orang dewasa. Jika kedua generasi tersebut disama ratakan, maka generasi muda akan merasakan susahnya belajar matematika. dan berakhibat kepada ketidaksukaannya terhadap pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  79. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Kemampuan berpikir orang dewasa dan anak-anak itu berbeda. Jadi, sudah selayaknya cara pendekatan yang akan dilakukan pada keduanya mesti berbeda, begitu pula dalam pembelajaran matematika. Matematika yang memang kajiannya abstrak, harus disampaikan sesuai dimensi ruang dan waktunya. Bagi anak-anak yang belum sepenuhnya bisa membangun sendiri pengetahuannya apabia diberikan konsep-konsep abstrak harus diajarkan dengan penyampaian materi yang sesuai dengan tingkatannya.

    ReplyDelete
  80. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Setiap kita ialah subyek belajar yang harus memaksimalkan potensi yang diberikan Allah kepada kita. Maka sebagai seorang calon matematikawan kita harus dapat mengembangkan diri dalam bidang matematika tanpa mengurangi jatah kita untuk mnegembangkan diri bagaimana mengembangkan potensi matematika siswa, sebagai seorang calon pendidik. Karena matematika orang dewasa dan anak-anak ialah dua dunia yangberbeda. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  81. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Matematika yang kita peroleh di kelas tidak dapat langsung diberikan kepada siswa, kita harus menerjemahkan terlebih dahullu kedalam bahasa anak-anak. Bahasa anak-anak pun jauh berbeda dengan bahasa yang kita gunakan. Bahasa anak-anak memiliki struktur yang lebih sederhana. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  82. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. matematika di perguruan tinggi dan matematika di sekolah tentunya berbeda. Matematika di perguruan tinggi lebih mengarah kepada matematika murni, sedangkan matematika di sekolah meruapakan matematika sekolah yang memperhatikan ruang dan waktu. Matematika di perguruan tinggipun akan berbeda di jurusan matematika murni dan pendidikan matematika, sebab objek yang di bahas tentu berbeda pula.

    ReplyDelete
  83. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pendidikan Matematika adalah matematika yang berorientasi pada anak-anak di sekolah. Pendidikan matematika sangatlah berbeda dengan matematika murni, dan keduanya secara jelas harus dibedakan. Akan tetapi selama ini pendidikan matematika untuk anak-anak itu masih terkena oleh bayang-bayang matematika murni, maka keadaan ini haruslah segera dirubah yaitu melalui para pendidik, para ahli yang berkecimpung di dunia pendidikan matematika untuk mencari dan menentukan strategi pbm yang tepat untuk anak-anak. Karena jika tidak maka anak-anak pun akan kesulitan memahami matematika itu sendiri.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  84. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Pada komen saya sebelum ini, saya menyebutkan tentang salah satu artikel salam satu jurnal yang saya baca tentang transformasi dari matematika orang dewasa menjadi matematika yang dapat diajarkan di sekolah. transformasi tersebut melalui beberapa tahap. namun dalam artikel ini di fokuskan pada pemodelan matematika (mohon maaf jika salah menterjemahkan). bagi yang berminat, berikut adalah judul artikel nya: Mathematical modelling as a professional task. semoga bermanfaat.

    ReplyDelete
  85. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Untuk membangun pengetahuan matematika bagi peserta didik harus dilakukan dengan memperhatikan tingkat perkembangan intelektualnya. Inilah yang dimaksud dengan matematika sekolah. Membangun pengetahuan peserta didik jenjang SD berbeda dengan peserta didik pada jenjang SMP, dan berbeda pula pada peserta didik pada jenjang SMA.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  86. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Tataran untuk jenjang SD, SMP, SMA harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektual peserta didik pada masing-masing jenjang. Membangun pengetahuan matematika pada jenjang SD tidak bisa menggunakan cara-cara untuk jenjang SMP maupun SMA, demikian sebaliknya. Jadi, matematika sekolah sangatlah terikat oleh ruang dan waktu.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  87. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pada postingan sebelumnya telah disebutkan tentang Architectonic Mathematics yang penting dikembangkan dalam meningkatkan intuisi matematika seorang siswa. Namun dalam penerapannya belum sepenuhnya dapat dilakukan karena keterbatasan kemampuan siswa (terutama siswa SD) yang masih lemah. Penerapannya akan berhasil andaikan adanya banyak perubahan yang dilakukan, namun tentunya perubahan ini akan banyak berdampak bagi siswa dan bagi matematikanya itu sendiri. Perlu dipikirkan sesuatu yang lebih manusiawi untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, sehingga matematika dapat dipahami dan dinikmati oleh para siswa.

    ReplyDelete
  88. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Karakter belajar orang dewasa dengan anak-anak itu berbeda. Orang dewasa mempunyai keterampilan menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit dan rasional, orang dewasa juga mampu mencari informasi yang relevan. Sementara anak-anak masih membutuhkan bimbingan guru untuk mampu mengkontruksikan pemahamannya sendiri baik secara personal maupun bersama teman-temannya. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena untuk semua aspek belajar matematika termasuk subjek belajar matematika dan matematikanya itu sendiri. Guru sebagai penyedia sarana dan situasi sedangkan anak harus aktif mengkontruksikan pemahamannya secara terus menerus. Sehingga ketika guru telah mampu melatih anak membangun kontruksinya, maka anak akan menemukan intuisi matematika dalam dirinya sehingga akan diterapkan dalam kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  89. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Dari elegi ini saya mendapatkan bahwa pendidikan matematika anak SD sangat berbeda dengan matematika seorang dewasa, dengan kata lain untuk mampu mengajarkan matematika kepada anak SD, seorang pendidik harus mampu mentransformasi pandangan atau perspektif mereka tentang pedagogic anak. Hal ini supaya kita mengerti bahwa cara anak dalam mempelajari sesuatu berbeda dibandingkan cara belajar orang dewasa. Sehingga, hal tersebut perlu diperhatikan dan dimengerti oleh seorang pendidik.

    ReplyDelete
  90. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya setuju dengan elegi diatas. Matematika sekolah tidak dapat disamakan dengan matematika murni. Matematika sekolah memandang siswa sebagai objek sehingga pembelajaran harus inovatif karena pola pikir siswa belum sampai pada tahap abstrak. Hal tersebut dapat difasilitasi dengan kontukstivisme. Jika ingin menjadi seorang pendidik, maka kita harus pandai mentransformasi matematika murni menjadi matematika sekolah yang dapat diterima siswa sehingga pembelajaran menjadi bermakna.

    ReplyDelete