Apr 5, 2013

Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 8: Architectonic Mathematics (1)



Oleh Marsigit

Pada Axiomatic Mathematics di Perguruan Tinggi, yang bercirikan sebagai formal abstrak, maka Architectonic Mathematics sebagai suatu produk, tampak sangat jelas pada Struktur Matematika.

Oleh karena itu pembudayaan matematika di Perguruan Tinggi dapat dilakukan dengan cara mendorong kemandirian mahasiswa untuk membangun sendiri (tentu dengan bantuan dosen), struktur-struktur matematika nya.

Aspek membangun sendiri matematika atau "to construct their own knowledge of mathematics", dapat dilakukan dengan berbagai cara, utamanya adalah melalui kegiatan RISET MATEMATIKA seperti yang pernah Pak Wono sebutkan.

Maka Kegiatan Riset Matematika dapat dipandang sebagai prosesnya Architectonic Mathematics. Artinya, selama ini yang dilakukan oleh teman-teman di ITB, UGM dan PT yang lain menurut saya sudah selaras dengan Architectonic Mathematics; kecuali pada nuansa promosi kemandirian mahasiswa yang mungkin masih merupakan tantangan kita bersama.

Sedangkan yang masih menjadi persoalan besar adalah bagaimana menampakan atau mempromosikan Architectonic Mathematics pada proses belajar matematika di sekolah? Hal ini tidaklah mudah dilakukan karena kita menghadapi apa yang saya sebut sebagai Transforming Phenomena antara belajar matematika bagi orang dewasa di Perguruan Tinggi dan belajar matematika bagi anak-anak di Sekolah.

Artinya, secara pedagogis dan secara psikologis, karakter belajar matematika orang dewasa dan anak-anak, is totally diferent. Oleh karena itu, agar Architectonic Mathematics dapat dikembangkan di SD kita harus melakukan Transforming Phenomena secara besar-besaran untuk semua aspek belajar matematika termasuk subyek belajar matematika dan matematika nya itu sendiri.

Transforming Phenomena meliputi transfer the ideas, transfor the theories, transform the paradigm, transfor the philosophy, transform the concept of mathematics, trasnform the method of mathematics, transform the attitude of mathematics, trasnform the resources of learning mathematics, trasform the method of teaching mathematics, transform the perception what is called the competences of mathematics.

Namun jangan sampai salah paham. Sekali lagi jangan sampai salah paham. Transformasi yang dimaksud adalah Transformasi Internal dikarenakan Potensi Internal dalam kerangka kemandirian untuk mengembangkan Wadah atau Dimensinya agar mampu menyadari Ruang dan Waktu Matematika dan Pendidikan Matematika. Singkat kata maka Self Transformation dari setiap Subyek atau Pelaku belajar dan mengajar itulah yang diperlukan. Dengan kata lain, diperlukan keadaan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI bagi siapapun yang ingin mempelajari Matematika, pada segala dimensinya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil melakukan PINDAH, atau HIJRAH atau INOVASI? Hal demikian tidak akan dipahami kecuali kita memahami HAKEKAT CONSTRUCTIVISME.

Implikasinya, maka untuk anak SD kita tidak bisa dan memang harus tidak mungkin mengajarkan Matematika sebagai Axiomatic Mathematics. Artinya....STOP DULU wahai Pure Mathematician jika engkau ingin bergaul dengan the Younger Learner of Mathematics. Jika engka lanjutkan atau engkau paksakan beserta Paradigma-paradigmamu, maka TUNGGULAH akibat-akibat yang tak terkirakan dan tak terperikan.

PEMBERONTAKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA beresensi bahwa UNTUK MEMPERBAIKI PENDIDIKAN MATEMATIKA DI SEKOLAH  kita harus mentrasformir atau menemukan "THE KIND OF MATHEMATICS THAT SUITABLE FOR YOUNGER LEARNER".

Satu-satunya solusi kita "HARUS MENGINTRODUCIR APA YANG KITA SEBUT SEBAGAI 'SCHOOL MATHEMATICS'".

Apakah yang disebut sebagai School Mathematics?

Saya uraikan di posting berikutnya.

Amin.

2 comments:

  1. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Matematika memiliki ruang dan waktunya sendiri. Matematika orang dewasa sangat berbeda dengan matematika anak-anak. Matematika di universitas sangat berbeda dengan matematika di sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar. Di universitas, meskipun dibantu dosen, mahasiswa secara mandiri membangun sendiri struktur-struktur matematika nya. Dosen hanya memberi arahan sedikit tentang sumber yang sebaiknya digunakan dan kompetensi yang seharusnya dicapai, tetapi secara garis besar mempercayakan pada mahasiswa untuk membangun ilmu pengetahuan matematikanya secara mandiri. Hal ini dapat dilakukan karena intuisi matematika yang dimilikioleh mahasiswa lebih tinggi dari pada siswa di sekolah. Hal ini disebabkan pengalaman yang lebih banyakdan persoalan yang dihadapi lebih kompleks.
    Intuisi matematika mahasiswa ini tentu saja sangat berbeda dengan intuisi matematika anak sekolah dasar. Jika dengan intuisi matematikanya mahasiswa dapat membangun ilmu pengetauannya secara mandiri lain halnya dengan siswa yang masih memerlukan fasilitator atau pembimbing dlam mencitakan ilmu pengetahuan. Hal ini karena pegalaman yang dimilik siswa sekolah dasar masih sedikit. Hal ini pula yang menyebabkan intuisi matematikanya belum bisa digunakan untuk memahami ilmu pengetahuan secara mandiri. Jika guru memaksakan siswa sekolah dasar untuk melakukan pembelajran mandiri, itu sama saja dengan membunuh siswa. Karena guru telah menganggap bahwa intuisi anak sekolah dasar sama dnegan intuisi orang dewasa. Yang ada siswa sekolah dasar tersebut bukan mendapatkan ilmu pengetahuan matematika yang dimaksud tetapi malah terjerumus ke dalam kesalahan pemahaman materi. Karenanya peran guru dalam pembentukan intuisi untuk memahami ilmu pengetahuan angatlah penting. Dalam hal ini guru dapat menggunakan cara konstruktivisme dalam pembelajaran.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  2. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Dalam pembelajaran matematika ada sebuah struktur yang dibangun selaras antara materi dengan jenjang peserta didik. Konsep Architectonic mathematics di perguruan tinggi sangatlah sesuai karena dengan konsep ini mahasiswa akan terdorong untuk membangun struktur matematikanya namun pada tataran sekolah dasar yang masih pada tahap kognitif konkret pengajar harus menerapkan strategi yang lain untuk mengkonstruk ilmu matematikanya. Dan strategi-strategi itulah harus terus ditemukan dan dikembangkan demi menunjang tumbuh kembang pengetahuan matematika anak sesuai dengan zamannya.

    ReplyDelete