Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian



Oleh: Marsigit

Kemenangan yang datang:

Terang teranglah sudah. Puas puaslah sudah. Akhirnyanya kesampaian juga harapanku. Inilah yang selamanya aku cari. Telah aku korbankan segalanya untuk menemukan kedamaian. Damai damailah sudah. Kini saatnyalah aku perlu bereuporia dalam kedamaianku. Dalam damaiku ini aku akan lebih banyak berafirmatif daripada berinterogated. Karena selama berafirmatif itulah aku terbebas dari keraguanku. Aku terbebas dari pertanyaanku. Inilah kepastian yang selama ini aku cari. Maka dalam kedamaianku maka pasti dan pastilah aku. Tiada keraguan lagi bagiku. Maka selesailah perjuanganku. Selesai dan selesai. Maka menanglah diriku. Menang dan menang. Maka merdekalah aku dalam kedamaian dan merdekalah aku dalam kemenangan

Memperdalam makna kemenangan:
Yah kemenangan itu begitu indahnya bagiku. Aku akan selalu menyanyikan kemenanganku itu dalam lagu dan syair kalimat afirmatif. Karena dengan kalimat afirmatif maka aku bisa selalu dalam kemenangan dan kepastian. Maka kujaga dan kupegang erat-eratlah kalimat afirmatif. Dan saya tidak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Inilah ilmuku. Inilah kepastianku. Inilah kemenanganku. Dalam kemenangan ini aku merasa seperti dalam ruangan yang serba indah dan serba ada. Tiadalah kekurangan dalam diriku. Maka hanyalah tinggallah satu yang perlu aku gapai, yaitu ketika aku harus mengahadap kepada sang Kholik. Tetapi kapan ya itu?

Begitu mendengan kalimat terakhir sebagai pertanyaan, maka muncullah orang tua berambut putih:
Salam, wahai hamba Tuhan. Terimakasih engkau telah memanggilku kembali. Apa khabar? Baik-baik saja bukan? Aku telah lama tidak berjumpa denganmu. Kemana sajakah engkau? Kelihatannya wajahmu berbinar-binar. Sepertinya hatimu juga bergembira. Kelihatannya engkau baru saja meraih sesuatu atau mencapai suatu hasil yang besar bahkan mungkin sangat besar.

Hamba menggapai kedamaian:

Salam, kembali wahai orang tua berambut putih. Benar apa yang engkau katakan. Ketahuilah bahwa aku sedang menikmati kemenanganku sendiri, maka janganlah kau usik diriku dengan titah-titahmu lagi. Semuanya yang engkau katakan, semuanya yang engkau pikirkan bahkan semuanya yang akan engkau ucapkan, terkira-kira aku telah mengetahuinya. Aku telah mengetahui prinsip dan pokoknya. Aku telah mengetahui arah dan tujuannya. Jadi biarlah aku menikmati kepastian dan kemenanganku ini sendirian tanpa engkau usik kembali. Maka sebenar-benar aku sekarang adalah aku yang tidak lagi memerlukanmu. Inilah yang selama ini aku perjuangkan. Inilah yang selama ini berusaha raih dengan segenap pengorbananku. Maka sekali lagi, aku dapat katakan bahwa diriku sekarang adalah sebenar-benar diriku yang tidak memerlukan dirimu lagi. Bahkan ketika engkau mengaku sebagai pertanyaanku dan ketika engka mengaku sebagai ilmuku sekalipun, maka sebenar-benar bahwa aku tidak lagi memerlukan dirimu lagi. Kenapa engkau hanya diam seribu bahasa. Bukankah engkau tadi juga sempat pergi, tetapi mengapa sekarang engkau menghampiriku lagi, wahai orang tua?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai, biarkan aku terdiam sejenak. Aku memerlukan waktu sejenak untuk meneteskan air mataku. Maka tidak pula hanyalah engkau yang menginginkan diam dan tenang. Akupun demikian. Maka sebenar-benar diriki sekarang adalah diriku yang tidak ingin engkau usik. Yaitu ketika aku diam. tetapi ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa diamku tidak lah sama dengan diammu. Jikalau diammu engkau rasakan sebagai euporia kemenangan. Maka diamku adalah euporia kesedihan. Aku terdiam karena tidak bisa melantunkan kata-kataku. Aku terdiam karena memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis. Tetapi mengapa ketika ketika aku terdiam dan menangis, engkau pergi dari hadapanku?

Hamba menggapai kedamaian menhampiri orang tua berambut putih:

Wahai orang tua berambut putih. Aku baru mengalami kejadian yang luar biasa yang menimpa diriku. Ketika engkau bertanya kenapa aku pergi, maka datanglah energi yang luar biasa dasyatnya sehingga melemparkan diriku ke tampat yang jauh. Ternyata tempat yang sangat jauh itu tidak lain tidak bukan adalah tempat di depanmu ini. Itulah mengapa serta merta aku menghampirimu, ketika engkau membuat pertanyaan. Tetapi aku tidak mengetahui dari manakah energi sebesar itu?

Orang tua berambut putih terperanjat mendengar penuturan hamba menggapai damai:

Oh hamba menggapai damai. Bukankah keadaanmu sekarang adalah bertentangan dengan apa yang engkau katakan dan engkau cita-citakan. Bukankah engkau merasa telah menemukan kedamaianmu? Engkau telah menemukan kepastianmu. Maka engkau ingin hidup menyendiri. Dan engkau tidak lagi memerlukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dengan sombongnya engkau tidak lagi menginginkan ilmu. Tetapi kenapa engkau masih melantunkan pertanyaan-pertanyaanmu? Bukankah engkau masih ingat bahwa pertanyaanmu itu adalah ilmumu. Ilmumu tidak lain-tidak bukan adalah diriku. Mengapa di satu sisi engkau menampikku sekaligus merindukanku? Bukanlah itu kontradiksi dalam pikiranmu?

Hamba menggapai damai:

Wahai orang tua berambut putih. Kenapa pertanyaanmu yang terakhir juga telah menyebabkan aku terlempar di depanmu? Perkenankanlah aku juga menginginka diam sejenak untuk sekedar meneteskan air mataku. Yang sekarang ini diamku agak berbeda dengan waktu yang lalu. Aku sedih karena aku juga melihat bahwa dalam dirimu terdapat kontradiksi. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa kontradiksi adalah sebenar-benar ilmu dalam pikiranku. Kenapa engkau menyesali kontradiksi itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai. Ingin aku katakan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku baru saja mengalami peristiwa seperti apa yang engkau alami. Begitu engkau melantunkan pertanyaanmu, maka datanglah energi yang besar sehingga melemparku ke hadapanmu.

Hamba menggapai batas dan orang tua berambut putih terhentak oleh kesadarannya sendiri, dan bersama-sama melantunkan kata-kata:
Jikalau engkau adalah ilmuku, maka aku ternyata adalah juga ilmumu. Maka aku telah menemukan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku dan engkau tidak dalam keadaan diam. Aku menjumpai bahwa aku dan engkau saling datang dan pergi. Aku dan engkau saling bertanya dan menjawab. Aku dan engkau saling memerlukan dan berjuang. Aku dan engkau belum berhenti. Aku dan engkau belum memperoleh kepastian. Aku dan engkau masih diliputi keraguan. Maka belumlah selesai perjuangan hidupku ini. Maka belumlah ada sebenar-benar kemenangan itu. Tetapi mengapa kita terburu-buru merayakannya?

Hamba yang lain datang menghapiri:
Wahai hamba menggapai batas. Bolehlah engkau menyebut diriku sebagai hamba ataupun sebagai orang tua berambut putih. Itu sama saja buatku. Tetapi aku juga terpaksa datang oleh karena pertanyaanmu yang terakhir. Aku ingin menyampaikan bahwa sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Maka “keadaan jelas” bagimu adalah sebenar-benar ancaman bagimu. Barang siapa telah merasa jelas akan sesuatu maka seketika “ruang gelap” telah menantimu. Mengapa? Karena bisa saja jelasmu itu adalah jelasnya sekedar ruanganmu, bukankah engkau juga menginginkan jelas pula untuk ruangan di sebelahmu. Bagaimana mungkin engkau memperoleh jelas akan ruang di sebelahmu jikalau engkau terperosok dalam-dalam pada suatu ruang saja. Bukankah “diam” mu itu menunjukkan bahwa engkau sedang menikmati “keterperosokkanmu” di dalam “ruang gelapmu”. Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Maka jikalau seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulitlah bahwa dia masih dapat dikatakan sebagai sebenar-benar hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan ketika matipun kita masih memerlukan ilmu. Bukankah kita memerlukan ilmu bagaimana kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Amien Ya robbal alamin.

35 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian adalah suatu dambaan setiap umat manusia. Kedamaian akan membawa hati pada ketentraman, maka damai yang sesungguhnya adalah jika kita mampu berdamai dengan keadaan kita.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Damai dapat didapatkan dengan sebuah keikhlassan, ikhlas menerima setiap takdir yang tela diberikan takdir yang dating pada diri kita. Berdamai dengan hati untuk tetap teguh dan legowo dengan keadaan.

    ReplyDelete
  3. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian tidak akan dating pada hati yang tidak mensyukuri setiap nikmat setiap ujian yang dating. Karena kedamaian hanyalah untuk orang yang mau bersyukur dan menerima

    ReplyDelete
  4. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian hati ketika melihat nikmat yang didapat orang lain lebih banyak dari kita, tidak membenci dan iri terhadap orang lain juga merupakan salah satu cara mendapatkan kedamaian itu.

    ReplyDelete
  5. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta merupakan cara yang paling efektif dan tepat untuk mendapatkan kedamaian. Membaca kitab Nya dan selalu muhasabah diri.

    ReplyDelete
  6. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian adalah perasaan tenang sebagai hasil dari ketenangn hati dan pikiran. Disini sifat sombong akan terpojok oleh hati dan pikiran. Tugas kita pada dasarnya adalah mengupayakan untuk selalu memperoleh ketenangan hati dan pikiran itu.

    ReplyDelete
  7. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaiukum wr wb,

    Dari postingan di atas saya menyadari bahwa damai di sini adalah damai yang salah, damai yang harus dilawan. Sekalipun lelah menuntut ilmu dan memperjuangkan ilmu atau merasa telah mampu menggapai ilmu tetap saja ilmu itu tidak berhenti mengalir dalam pikiran kita. Sekalipun kita berusaha untuk tidak berpikir, sesungguhnya hal tersebut juga merupakan ilmu yang mengalir dalam pikiran kita karena adanya suatu keinginan yang hadir di dalam pikiran kita. Maka tidak mungkin bagi kita untuk menghentikan jalannya pikiran kita selagi kita masih bernyawa dan sehat akal. Jangan pernah merasa cukup dengan sedikit ilmu saja. Gapai dan tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya selama kita hidup di dunia ini. Jangan sampai kita terperosok dalam kebodohan karena malas menuntut ilmu. Jangan sampai kita merasa lelah dan puas jika sudah mendapatkan tambahan ilmu.
    Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dri elegi ini saya mendapat beberapa hal yang sangat berharga yaitu bahwa sesungguhnya tidak ada kemenangan sejati saat dalam hidup. Tidak ada kata cukup saat kita mencari ilmu. Kita tidak bisa mengatakan jelas akan suatu hal, lalu membuat malas mencari kejelasan yang lain. Dalam elegi ini menunjukan kehidupan kita, dimana ketika kita telah mencapai sesuatu lantas kita telah menang lalu lekas merayakannya, sungguh sedih membacanya, karena sejatinya kita masih malakukannya. Ampuni kesalahan dan kehilafan hamba ya Rabb. Sehingga sebenarnya tiada akhir dari perjuangan mencari ilmu itu sendiri karena hidup ini adalah ilmu itu sendiri. Berhentinya kita mencari ilmu ketika kita telah berpisah antara nyawa dan raga ini. Semoga akhir kisah dan perjuangan kita berakhir khusnul khotimah. Amiinn

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Seorang yang merasa bahwa dirinya berkecukupan ilmu, maka dia akan merasa bahwa dia tidak perlu belajar lagi, artinya dalam hal ini orang tersebut sudah cukup puas akan ilmu yang telah ia dapatkan sehingga membuatnya berada dalam kondisi stagnan. Dalam kondisi yang stagnan tersebut ia telah merasa mendapatkan kemenangan. Padahal hidup ini haruslah selalu disi dengan pengatahuan. Utamanya pengetahuan bagaimana agar kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Maka hal-hal apa sajakah yang harus kita lakukan sehingga kita bisa menggapai hal itu. Tentunya kita masih tetap membutuhkan ilmu.

    ReplyDelete
  10. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Untuk menggapai kedamaian adalah dambaan semua orang. Maka cara yang ditempuh dalam mencapainya adalah dengan memiliki iman dan ilmu. Ilmu yang dicari tidak ada batasan ruang dan waktunya. Tingkat sd, smp, sma, sampai perguruan tinggi, hingga mendapatkan gelar merupakan bonus dari pencarian ilmu. Namun sesungguhnya menuntut ilmu adalah sepanjang hayat kita. Janganlah cepat merasa puas atas ilmu yang diperoleh. Karena semakin banyak yang kita pelajari maka semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Selanjutnya ilmu yang didapatkan harus berlandaskan iman. Keimanan kepada Allah SWT. merupakan pondasi agar menggunakan ilmu tersebut sesuai dengan ajaran Allah. Janganlah tersesat keadalam kegelapan, karena kegelapan akan melahap kedamaian itu.

    ReplyDelete
  11. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Merasa puas akan pengetahuan dan pencapaian kita membuat kita sombong dan merasa tidak perlu lagi belajar. Merasa mendapat kejelasan padahal bisa jadinkejelasan itu hanya persepsi kita. Ketika kita damai dalam kepuasan kita sesungguhnya damai kita semu. Damailah dalam pencarian, damailah dalam pembelajaran, damailah dalam berusaha yang tak kenal lelah.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pesan yang kami dapatkan adalah anjuran untuk belajar sepanjang hayat. Karena inti dari kehidupan manusia adalah senantiasa belajar sampai manusia tersebut sudah tidak sanggup lagi belajar. Dalam mempelajari seseuatu, ketika memahami sesuatu tidak dilarang untuk berbahagia setelah mencapai harapan atau tujuan, akan tetapi hendaknya kebahagiaan itu jangan dijadikan kepuasan sehingga merasa cukup untuk belajar, tapi jadikanlah kebahagiaan itu menjadi semangat baru dalam belajar. Semoga kami/kita senantiasa bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat yang baik. Amin.

    ReplyDelete
  13. Hidup itu memang tempatnya masalah, dan orang yang hidup itu pasti memiliki masalah. Ketika kita tidak ingin mendapatkan masalah maka janganlah menjadi orang yang hidup. Dan ketika kita ingin merasakan sesuatu kedamaian, ketenangan, itu akan kita dapatkan bukan dengan tanpa masalah. Ketenangan dan kemerdekaan bisa kita dapatkan dengan berteman dengan masalah dan menyelesaikannya dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Dan kita kan mendapatkan sebenar-benar ketenangan di Syurga-Nya, Amiin.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih, Prof atas ilmu yang diberikan. Melalui elegi ini saya semakin yakin jikalau ilmu tiadalah batasnya. Ilmu selalu dalam garis proses, tanpa ada titik finishnya. Jika kita merasa sudah sampai pada titik akhir, jika kita merasa menjadi juaranya, maka itu adalah kita yang akan masuk ke dalam ruang gelap. Terdapat satu pola hubungan. Kita yang merasa berilmu, adalah kita yang sombong. Dan kesombongan adalah satu hal terbesar yang menghalangi kita dalam mencari ilmu.

    Sungguh, lewat elegi ini saya merasa dilempar pada keadaan-keadaan di mana saya merasa memahami suatu hal. Nyatanya hal yang saya pahami kala itu, adalah hal baru lagi saat ini. Benar-benar semuanya tentatif. Sekali lagi, terimakasih Prof atas tulisan ini.

    ReplyDelete
  15. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ilmu yang ada di dunia ini sangat banyak, hingga tak terbatas. Bahkan ada ilmu yang sebenarnya ada tetapi tidak pernah tersentuh bahkan terpikirkan oleh kita. Oleh karena itu, janganlah mudah merasa puas dengan ilmu yang telah kita dapatkan. Ilmu kita belum seberapa jika dibandingkan ilmu yang ada di dunia ini. Maka janganlah menjadi orang yang sombong karena telah merasa menguasai banyak ilmu.
    Sebanyak-banyak ilmu yang telah kita miliki, pasti ada lagi seseorang yang memiliki ilmu jauh lebih banyak dari ilmu yang kita miliki. Mencari ilmu itu tidak ada batasan usia. Mencari ilmu yang sesungguhnya itu dilakukan dari mulai kita dalam buaian hingga ke liang lahat. Maksudnya adalah mencari ilmu itu dari kita lahir sampai kita mati. Mencari ilmu sebaiknya dilakukan secara terus-menerus. Akan tetapi, ilmu yang banyak juga tidak akan berarti jika tidak kita amalkan atau terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  16. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Menggapai kedamaian diperlukan juga ilmu. Ketika ilmu sudah didapatkan perlulah didiringi dengan doa-doa dan ikhtiar. Ilmu agama menjadi pijakan pertama seseorang untuk menuntut ilmu yang lainnya. Apabila manusia belum menuntaskan ilmu pokok dalam agamanya, maka ilmu yang lain pun hanya akan diraih sejalan dengan kehidupannya. Dapat dikatakan mendapatkan ilmu tanpa bersyukur.

    ReplyDelete
  17. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terima kasih Pak melalui postingan Bapak, telah mengingatkan saya bahwa dalam hidup ini tidak ada kata berhenti untuk menggapai ilmu. Setinggi apapun prestasi dan pencapaian yang telah diraih, seberapapun usia maka ilmu tetap harus dicari. Apalagi saya yang masih sangat minim pengetahuan. Harus lebih bekerja keras dan berusaha untuk terus membaca dan belajar guna memperoleh ilmu agar tidak berada dalam kegelapan.
    Selain itu merasa jelas justru merupakan ancaman. Ancaman untuk berhenti mencari ilmu, ancaman untuk bangga diri dan merasa sombong. Sehingga kedamaian harus tetap terus menerus digapai bukan dengan berhenti menikmatinya tetapi dengan cara terus berjuang untuk mencari ilmu.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Kedamaian dicapai jika di dalam hati kita tidak ada rasa puas diri dalam menuntut ilmu. Merasa puas dalam menuntut ilmu menandakan bahwa hati kita terperangkap dalam ruang yang gelap. Kepuasan dalam menuntut ilmu akan menutup kesempatan yang lebih besar dalam memeproleh ilmu karena kepuasan akan mengantarkan kita pada perasaan telah mengetahui segala-galanya sehingga tidak perlu ilmu lagi. Dan pada akhirnya akan menimbulkan sifat sombong. Sifat sombong inilah yang merupakan faktor utama dalam menghilangkan kedamaian di dalam hati. Oleh karena itu, jauhilah rasa berpusa dan berbangga diri.

    ReplyDelete
  19. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Tidak ada seorangpun yang dapat benar-benar menggapai ilmu, yang ada hanyalah berusaha untuk menggapainya. Maka, tidak panas manusia untuk merasa cukup atau bahkan telah merasa menguasai suatu ilmu sehingga beranggapan bahwa tidak perlu lagi mencari ilmu. Hal yang demikian itu merupakan kesombongan yang dibenci oleh Allah SWT. Selama masih hidup, manusia harus selalu mencari ilmu bahkan terkadang manusia tidak menyadari hal itu. Dengan terus menerus belajar, ilmu yang dimiliki akan terus berkembang dan akan semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Selama ini yang membatasi ilmu adalah diriku sendiri. Terkadang saya suka merasa tahu sesuatu atau merasa bisa memahami apa yang dijelaskan. Saya belajar untuk melihat kebutuhan orang lain akan ilmu dari ulasan ini, tidak hanya mementingkan apa yang belum saya ketahui saja. Ya Allah, bantu hamba untuk menghilangkan sikap sombong yang terkadang suka melekat dalam diri. Astaghfirullahal'adzim, inilah kata-kata sebagai permohonan ampunan kepada-Mu ya robb.

    ReplyDelete
  21. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Kedamaian yang sesungguhnya adalah ketika hati terbebas dari penyakit hati seperti , sombong, iri, egois, munafik, dll. Jika merasa puas dengan ilmu yang telah dicapai, dan menganggap diri selesai untuk mencari ilmu, itu bukanlah suatu kedamain, itulah sebenar-benar bisikan syaitan untuk menjerumuskan kita kedalam kebodohan dan kesombongan. Intinya kita merasa damai jika hablumminallah dan hablumminannash kita terjalin dengan baik.

    ReplyDelete
  22. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Untuk kesekian kalinya, lagi- lagi, dan lagi-lagi kita dingatkan untuk tidak merasa puas dan bangga dengan yang kita raih.Merasa puas dan bangga terkadang mengantarkan kita pada sifat keakuan.Orang yang berilmu tidak akan pernah merasa jenuh pada satu titik ,dia akan berusaha untuk menggapai titik selanjutnya.
    Di lain sisi yang dapat saya tangkap dari elegi tersebut bahwa kedamaian tidaklah semata-semata diekpresikan lewat euforia semata, tetapi kedamaian juga dapat diaktualisasikan melalui diam,melalui butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi karena memikirkan betapa indah kuasa-Nya Allah SWT.

    ReplyDelete
  23. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Semua hal di dunia ini ada ilmunya, seperti yang Prof tulis, Mati pun butuh ilmu, ilmu untuk berpulang ke sisi-Nya dalam khusnul khotimah. Manusia telah dibekali akal untuk berpikir dan terus belajar. Proses belajar itu harusnya berlangsung terus-menerus sampai akhir hayat karena ketika seseorang berhenti belajar, itu artinya ia merasa telah mengetahui segalanya dan bersikap sombong

    ReplyDelete
  24. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya setiap kehidupan itu ada kontradiksinya, ada sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah menciptakan perselisihan, perdebatan karena perbedaan. Sedangkan positifnya adalah membuat kehidupan ini menjadi berwarna-warni dan saling melengkapi antar manusia karena adanya perbedaan. Pada elegi ini, semakin banyak mencari ilmu, maka kta akan semakin banyak menemukan kontradiksi. Oleh karena itu, untuk membuat kontradiksi itu tidak menimbulkan perselisihan, maka dibuat aturan-aturan atau tata krama untuk membatasi semua kegiatan manusia sehingga dapat menciptakan perdamaian antara setiap manusia.

    ReplyDelete
  25. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Kedamaian merupakan tujuan bagi tiap manusia, namun tentunya dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Ada kedamaian yang bersifat kepuasan nafsu, ada kedamaian yang bersifat kesombongan, dan ada kedamaian yang mencelakai orang lain. Sesungguhnya damai-damai tersebut adalah damai imajiner, damai yang realitasnya ada di dalam kegelapan. Bagi saya damai adalah kegelisahan, kegelisahan untuk terus menuntut ilmu, kegelisahan untuk terus berdoa, dan kegelisahan untuk terus belajar ikhlas.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Merasa dalam kondisi sudah tau, sudah nyaman, dan memutuskan untuk berhenti berproses, berhenti berfikir, berhenti bertanya adalah sebenar-benar ancaman yang serius. Ia mengancam kita dengan segala marabahayanya namun kita tidak merasanya. Oleh karena itu, kita tidak boleh membiarkan diri kita dalam kondisi diam, apalagi diam dalam kondisi lama. Kita tidak boleh membiarkan diri kita berhenti bertanya, berhenti berfikir, berhenti merenung. Karena berfikir, bertanya, merenung merupakan tanda bahwa kita masih hidup, bahwa pikiran kita masih bisa berfikir, hati kita masih bisa merasa.

    ReplyDelete
  27. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B s2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Kita memang wajib mensyukuri nikmat Allah, tapi bukan berarti kita harus merasa puas. Justru kita harus selalu merasa kurang dan menginginkan lebih. Kita tidak boleh berhenti di satu titik dan merasa puas berada di situ. Jika kita cepat merasa puas maka kita tidak akan menjadi pribadi yang lebih baik ataupun mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita miliki sekarang. Rasa puas mendatangkan rasa nyaman yang berlebihan sehingga kita malas untuk berusaha meraih hal-hal yang lebih baik. Bertentangan dengan kewajiban kita untuk selalu berusaha.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    PEP S2 B

    Rasanya tidak sanggup membuat komentar untuk menggapai kedamaian ini. Menghela nafas panjang dan diam. Keadaan damai adalah keadaan yang dirindukan. Namun diam pun berarti berhenti dan membiarkan diri berada dalam ruang-ruang gelap. Ini pun kontradiksi. Mungkin rasanya nyaman, sudah merasa jelas posisinya, namun ini kegelapan ini pun ketidaknyamanan, karena posisi yang stagnan itu akan menyakitkan ketika terpaksa berubah dan terlempar keluar. Trimakasih untuk mengingatkan, selalu berusaha menggapai damai, tak henti, hingga sang Khalik sendiri yang mengambil kita dari dunia ini.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Sebuah kedamaian adalah proses yang dapat kita ciptakan sendiri. Kenapa? Karena sebuah kedamaian itu bersifat relatif sesuai dengan ruang dan waktunya. Kedamaian setiap orang memiliki arti dan deskripsi yang berbeda. Menurut saya damai adalah ketika kita bisa melaksanakan ibadah dengan tenang, nyaman, dan khusyuk. Sehingga bisa mencapai ridho dan jannahnya Allah swt.

    ReplyDelete
  31. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pesan yang saya dapatkan dari elegi ini adalah kita harus selalu waspada akan hal-hal yang akan menjerumuskan kita ke dalam ruang yang gelap, sesaat setelah kita merasakan keindahan ruangan yang terang benderang. Ketahuilah bahwa rasa bangga dan sombong itu memiliki batas yang sangat tipis, sehingga ketika kita mencoba memisahkannya, kadang kita sendiri menjadi bingung. Apakah saya baru saja bersikap sombong di hadapan Allah? Maka sesaat setelah kepuasan menghampiri, kita seharusnya merasa cemas karena ruang kegelapan akan menghampiri kita lebih dekat.

    ReplyDelete
  32. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 31 ini, saya memahami bahwa dalam menggapai kedamaian yang dibutuhkan hanyalah sikap tawadu’ dan tidak cepat berpuas diri terhadap apa yang telah dicapai. Meskipun sesuatu yang telah diraih melewati perjuangan yang berat, tetap itu bukanlah apa-apa tanpa adanya pertolongan dari Allah SWT. Untuk itu, janganlah terlalu menikmati perolehan yang telah dicapai karena sesungguhhnya itu adalah awal dari keterpurukan.
    Misalnya dalam menuntut ilmu. Sedalam apapun seseorang menguasai ilmunya, tetapi ia masih kecil dihadapan ilmu karena jangkauan ilmu itu tidak ada batasnya. Maka, gapailah kedamaian dengan ilmu, sikap tawadu’ dan memohon kepada Allah SWT agar dibukakan rahmat dan pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  33. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof.. atas postingan diatas sangat menyadarkan saya. bahawa orang yang merasa berilmu ialah termasuk orang yang sombong. sungguh dari membac elegi elegi terdahulu saya menjadi sangat takut akan diri saya termasuk menjadi orang yang sombong. padahal tidak ada yang perlu disombongkan didunia ini. semuanya milik Allah dan akan kembali kepda Allah dan seharusnya kesombongan hanya milik Allah semata.

    ReplyDelete
  34. Junianto
    17709251065
    PM C

    Tentu setiap manusia di dunia ini menginginkan kedamaian dalam hidupnya, dalam keluarganya, dalam masyarakat, dan dimanapun dia berada. Namun, pada kenyataannya tidak semua manusia bisa mendapatkannya. Hal ini terjadi karena kedamian itu tidak bisa didapatkan begitu saja/ ada dengan sendirinya tetapi manusia harus berusaha/ ikhtiar untuk mendapatkannya. Kedamaian bisa kita raih manakala kita bisa menyelaraskan hati dan pikiran. Jika kedua hal ini dapat berjalan beriringan dan seimbang, niscaya kedamaian akan bisa dirasakan oleh manusia.

    ReplyDelete
  35. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mengarungi kehidupan diperlukan ilmu. Ilmu bisa menuntun kita melakukan hal yang bermanfaat. Maka orang yang mencari ilmu bisa dikatakan sedang mencari kedamaiaan hidup. Ditengah kehidupan yang tidak pasti dan kehidupan yang sering berubah, maka ilmu diperlukan untuk menghadapi itu semua. Jangan sampai kita tersingkir dari dunia gara-gara tidak punya ilmu untuk mengikuti perubahan tersebut.

    ReplyDelete