Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian



Oleh: Marsigit

Kemenangan yang datang:

Terang teranglah sudah. Puas puaslah sudah. Akhirnyanya kesampaian juga harapanku. Inilah yang selamanya aku cari. Telah aku korbankan segalanya untuk menemukan kedamaian. Damai damailah sudah. Kini saatnyalah aku perlu bereuporia dalam kedamaianku. Dalam damaiku ini aku akan lebih banyak berafirmatif daripada berinterogated. Karena selama berafirmatif itulah aku terbebas dari keraguanku. Aku terbebas dari pertanyaanku. Inilah kepastian yang selama ini aku cari. Maka dalam kedamaianku maka pasti dan pastilah aku. Tiada keraguan lagi bagiku. Maka selesailah perjuanganku. Selesai dan selesai. Maka menanglah diriku. Menang dan menang. Maka merdekalah aku dalam kedamaian dan merdekalah aku dalam kemenangan

Memperdalam makna kemenangan:
Yah kemenangan itu begitu indahnya bagiku. Aku akan selalu menyanyikan kemenanganku itu dalam lagu dan syair kalimat afirmatif. Karena dengan kalimat afirmatif maka aku bisa selalu dalam kemenangan dan kepastian. Maka kujaga dan kupegang erat-eratlah kalimat afirmatif. Dan saya tidak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Inilah ilmuku. Inilah kepastianku. Inilah kemenanganku. Dalam kemenangan ini aku merasa seperti dalam ruangan yang serba indah dan serba ada. Tiadalah kekurangan dalam diriku. Maka hanyalah tinggallah satu yang perlu aku gapai, yaitu ketika aku harus mengahadap kepada sang Kholik. Tetapi kapan ya itu?

Begitu mendengan kalimat terakhir sebagai pertanyaan, maka muncullah orang tua berambut putih:
Salam, wahai hamba Tuhan. Terimakasih engkau telah memanggilku kembali. Apa khabar? Baik-baik saja bukan? Aku telah lama tidak berjumpa denganmu. Kemana sajakah engkau? Kelihatannya wajahmu berbinar-binar. Sepertinya hatimu juga bergembira. Kelihatannya engkau baru saja meraih sesuatu atau mencapai suatu hasil yang besar bahkan mungkin sangat besar.

Hamba menggapai kedamaian:

Salam, kembali wahai orang tua berambut putih. Benar apa yang engkau katakan. Ketahuilah bahwa aku sedang menikmati kemenanganku sendiri, maka janganlah kau usik diriku dengan titah-titahmu lagi. Semuanya yang engkau katakan, semuanya yang engkau pikirkan bahkan semuanya yang akan engkau ucapkan, terkira-kira aku telah mengetahuinya. Aku telah mengetahui prinsip dan pokoknya. Aku telah mengetahui arah dan tujuannya. Jadi biarlah aku menikmati kepastian dan kemenanganku ini sendirian tanpa engkau usik kembali. Maka sebenar-benar aku sekarang adalah aku yang tidak lagi memerlukanmu. Inilah yang selama ini aku perjuangkan. Inilah yang selama ini berusaha raih dengan segenap pengorbananku. Maka sekali lagi, aku dapat katakan bahwa diriku sekarang adalah sebenar-benar diriku yang tidak memerlukan dirimu lagi. Bahkan ketika engkau mengaku sebagai pertanyaanku dan ketika engka mengaku sebagai ilmuku sekalipun, maka sebenar-benar bahwa aku tidak lagi memerlukan dirimu lagi. Kenapa engkau hanya diam seribu bahasa. Bukankah engkau tadi juga sempat pergi, tetapi mengapa sekarang engkau menghampiriku lagi, wahai orang tua?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai, biarkan aku terdiam sejenak. Aku memerlukan waktu sejenak untuk meneteskan air mataku. Maka tidak pula hanyalah engkau yang menginginkan diam dan tenang. Akupun demikian. Maka sebenar-benar diriki sekarang adalah diriku yang tidak ingin engkau usik. Yaitu ketika aku diam. tetapi ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa diamku tidak lah sama dengan diammu. Jikalau diammu engkau rasakan sebagai euporia kemenangan. Maka diamku adalah euporia kesedihan. Aku terdiam karena tidak bisa melantunkan kata-kataku. Aku terdiam karena memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis. Tetapi mengapa ketika ketika aku terdiam dan menangis, engkau pergi dari hadapanku?

Hamba menggapai kedamaian menhampiri orang tua berambut putih:

Wahai orang tua berambut putih. Aku baru mengalami kejadian yang luar biasa yang menimpa diriku. Ketika engkau bertanya kenapa aku pergi, maka datanglah energi yang luar biasa dasyatnya sehingga melemparkan diriku ke tampat yang jauh. Ternyata tempat yang sangat jauh itu tidak lain tidak bukan adalah tempat di depanmu ini. Itulah mengapa serta merta aku menghampirimu, ketika engkau membuat pertanyaan. Tetapi aku tidak mengetahui dari manakah energi sebesar itu?

Orang tua berambut putih terperanjat mendengar penuturan hamba menggapai damai:

Oh hamba menggapai damai. Bukankah keadaanmu sekarang adalah bertentangan dengan apa yang engkau katakan dan engkau cita-citakan. Bukankah engkau merasa telah menemukan kedamaianmu? Engkau telah menemukan kepastianmu. Maka engkau ingin hidup menyendiri. Dan engkau tidak lagi memerlukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dengan sombongnya engkau tidak lagi menginginkan ilmu. Tetapi kenapa engkau masih melantunkan pertanyaan-pertanyaanmu? Bukankah engkau masih ingat bahwa pertanyaanmu itu adalah ilmumu. Ilmumu tidak lain-tidak bukan adalah diriku. Mengapa di satu sisi engkau menampikku sekaligus merindukanku? Bukanlah itu kontradiksi dalam pikiranmu?

Hamba menggapai damai:

Wahai orang tua berambut putih. Kenapa pertanyaanmu yang terakhir juga telah menyebabkan aku terlempar di depanmu? Perkenankanlah aku juga menginginka diam sejenak untuk sekedar meneteskan air mataku. Yang sekarang ini diamku agak berbeda dengan waktu yang lalu. Aku sedih karena aku juga melihat bahwa dalam dirimu terdapat kontradiksi. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa kontradiksi adalah sebenar-benar ilmu dalam pikiranku. Kenapa engkau menyesali kontradiksi itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai. Ingin aku katakan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku baru saja mengalami peristiwa seperti apa yang engkau alami. Begitu engkau melantunkan pertanyaanmu, maka datanglah energi yang besar sehingga melemparku ke hadapanmu.

Hamba menggapai batas dan orang tua berambut putih terhentak oleh kesadarannya sendiri, dan bersama-sama melantunkan kata-kata:
Jikalau engkau adalah ilmuku, maka aku ternyata adalah juga ilmumu. Maka aku telah menemukan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku dan engkau tidak dalam keadaan diam. Aku menjumpai bahwa aku dan engkau saling datang dan pergi. Aku dan engkau saling bertanya dan menjawab. Aku dan engkau saling memerlukan dan berjuang. Aku dan engkau belum berhenti. Aku dan engkau belum memperoleh kepastian. Aku dan engkau masih diliputi keraguan. Maka belumlah selesai perjuangan hidupku ini. Maka belumlah ada sebenar-benar kemenangan itu. Tetapi mengapa kita terburu-buru merayakannya?

Hamba yang lain datang menghapiri:
Wahai hamba menggapai batas. Bolehlah engkau menyebut diriku sebagai hamba ataupun sebagai orang tua berambut putih. Itu sama saja buatku. Tetapi aku juga terpaksa datang oleh karena pertanyaanmu yang terakhir. Aku ingin menyampaikan bahwa sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Maka “keadaan jelas” bagimu adalah sebenar-benar ancaman bagimu. Barang siapa telah merasa jelas akan sesuatu maka seketika “ruang gelap” telah menantimu. Mengapa? Karena bisa saja jelasmu itu adalah jelasnya sekedar ruanganmu, bukankah engkau juga menginginkan jelas pula untuk ruangan di sebelahmu. Bagaimana mungkin engkau memperoleh jelas akan ruang di sebelahmu jikalau engkau terperosok dalam-dalam pada suatu ruang saja. Bukankah “diam” mu itu menunjukkan bahwa engkau sedang menikmati “keterperosokkanmu” di dalam “ruang gelapmu”. Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Maka jikalau seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulitlah bahwa dia masih dapat dikatakan sebagai sebenar-benar hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan ketika matipun kita masih memerlukan ilmu. Bukankah kita memerlukan ilmu bagaimana kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Amien Ya robbal alamin.

43 comments:

  1. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kedamaian merupkan hal yang cenderung dicari manusia dlam hidupnya. Dalam elegi di atas dijebarkan bahwa pentingnya ilmu pengetahuan dalam memperoleh kedamaian. Ketika pengetahuan manusia itu mencukupi dan luas maka dia mampu bersaing dalam ranah yang lebih tinggi sehingga hidupnya akan tenang. Yang tak boleh kita lupakan adalah untuk selalu ikhlas dalam hati dalam melaksanakan amanah. Teima kasih

    ReplyDelete
  2. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Keadaan damai berarti kita dalam keadaan pasti. Kedamaian akan membawa kita di dalam ruang yang gelap. Dimama kita sudah terjebak pada mitos. Sebenar-benarnya hidup adalah menggapai ilmu. Di dalam menggapai ilmu akan membawa kita di persimpangan jalan. Persimpangan jalan ketidakpastian untuk mencapai kepastian. Padahal sampai kita matipun kita tidak dapat menggapai kepastian itu. Oleh karenanya janganlah kita terjebak dalam perasaan damai dan janganlah sampai kita menggapai kedamaian itu sebab hal tersebut akan membawa kita kedalam ruang gelap dan kesombongam sehingga kita enggan untuk menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Berjuang itu tak terhingga, tak terbatas. Tidak ada perjuangan yang sudah selesai. Sebelum ajal menjemput, kita masih diwajibkan untuk berjuang dalam menghadapi sesuatu. Tak terkecuali dalam menggapai dan menuntut ilmu. Benar, janganlah kita berdiam diri karena jika diam berarti kita berada di wilayah yang gelap. Yang berarti kita sombong akan ilmu yang sudah kita punya. Sesungguhnya, kedamaian itu ketika kita sudah menggapai apa yang benar benar kekal, yaitu surganya Allah. sebaik-baiknya ilmu dan perjuangan itu adalah hal yang bermanfaat bagi orang lain dan dapat dikenang, bahkan ketika kita sudah tiada.

    ReplyDelete
  4. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Mengutip ungkapan dari "hamba yang lain" diatasa bahwa "sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya". tidak ada batas ruang ataupun batas waktu, menuntut ilmu bisa kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, dari apa saja dan dengan berbagai macam cara, setiap segi kehidupan bisa menjadi terpat belajar bagi para penuntut ilmu. karena itu ilmuan besar Thomas Alpha Edison selalu membawa alat tulis kemanapun dia pergi, karena dia menyadari bahwa dia bisa saja mendapat ide atau ilmu diruang dan waktu yang tidak terduga oleh sebab itu dia harus siap mencatatnya.

    ReplyDelete
  5. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Menggapai kedamaian diperlukan juga ilmu. Ketika ilmu sudah didapatkan perlulah didiringi dengan doa-doa dan ikhtiar. Ilmu agama menjadi pijakan pertama seseorang untuk menuntut ilmu yang lainnya. Apabila manusia belum menuntaskan ilmu pokok dalam agamanya, maka ilmu yang lain pun hanya akan diraih sejalan dengan kehidupannya. Dapat dikatakan mendapatkan ilmu tanpa bersyukur. Kedamaian letaknya dalam hati manusia. Seorang yang memiliki ilmu tinggi tanpa bersyukur dan munajat pada Allah swt, maka tak akan menemukan kedamaian dalam hatinya. Hanya kepuasan semu belaka yang didapatkan.

    ReplyDelete
  6. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Kedamaian yang hakiki adalah ketika kita mampu melaksanakan ibadah dengan khusuk dan ketika kita mampu membahagiakan kedua orang tua. Untuk memperoleh kedamaian diperlukan usaha yang tidak mudah, kita harus mampu mengontrol diri dan pikiran dari hal-hal yang hanya berorientasi pada duniawi saja. Ketika kita mampu mencapai ridhonya Allah swt disitulah letak kedamaian yang sebenarnya. Maka dari itu, kita harus memperbanyak dzikir yang berarti kita mengingat selalu bahwa kita ini adalah hamba-Nya yang lemah yang tidak mungkin bisa lepas dari kekuasaan-Nya.

    ReplyDelete
  7. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Seperti yang pernah bapak katakan di kelas bahwasanya dalam hidup ini kita selalu bergerak, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk maju kita butuh pergerakan, bahkan saat meninggalpun kita bergerak. Dapat kita kaitkan bahwa pergerakan ini adalah ikhtiar kita untuk menggapai ridho ilahi. Ketika kita merasa semuanya sudah cukup, tidak melakukan ikhtiar maka itulah sebenar-benarnya keburukan yang menimpa kita. Merasa sombong dan tidak mau berusaha lagi maka hal itu menyebabkan kita menjadi manusia yang tidak berkembang. Dapat saya pelajari dari elegi ini bahwa belajar itu sepanjang hayat, jangan pernah cepat berpuas diri.

    ReplyDelete
  8. Terimakasih bapak atas sharing ilmu spritualnya melalui tulisan di atas. Semoga kita manusia mendapatkan tujuan dalam kehidupan yaitu salah satunya kedamaina dalam hidupnya. Tidak dirisaukan dengan berbagai perkara buruk yang telah dilakukan. Dikelilingi oleh nilai-nilai kebaikan.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  9. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang diberikan di atas. Namun, pada elegi kali, saya tidak cukup paham apa makna dan inti pelajaran yang dapat saya petik. Yang saya pahami bahwa menggapai kedamaian dalam hati bukanlah hal yang mudah. Setiap orang memiliki titik dan porsi damai-nya masing-masing. Terkadang dengan kesuksesan dan keberhasilan yang telah kita raih, mendatangkan kedamaian dan ketentraman dalam hati. Kepuasan, kesenangan, dan kelegaan atas usahanya itu. Namun apakah itu dapat menjadi bekal kita menghadap kepada Sang Pencipta. Itulah damai dalam persepsi yang lain. Ketika seorang hamba telah mampu konsisten dan istiqomah tunduk dan patuh kepada segala perintah Allah dan berusaha menjauhi laranganNya, maka kedamaian hakiki lah yang mampu ia rasakan. Oleh karenanya, kemungkinan pesan tersirat dalam elegi di atas adalah menggapai kedamaian dalam hidup bukanlah melulu karena kesuksesan urusan duniawi yang telah diraih, namun juga tentang upaya kita dalam beramal, berilmu, dan beribadah dalam rangka mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati sebagai bekal diri ketika menghadap kepada Sang Ilahi, Wallahu’alm bishowab.

    ReplyDelete
  10. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan bahwa saat seseorang telah mencapai kemenangan sesuai dengan definisi kemenangan dirinya maka dia kana merasa telah menggapai kedamaian. Namun sering kali kedamaian yang didefinisikan menurut dirinya tersebut membatasi potensi yang dimilikinya. Dia akan merasa sudah nyaman sehingga dia tidak mau berusaha lebih baik lagi. Berbeda apabila dia mendefinisikan kemenangannya dengan keikhlasan maka kedamaian yang dia peroleh akan lebih memotivasi dirinya. Oleh karena itu setiap perbuatan memang harus disertai dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  11. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kedamaian merupakan titik dimana kita merasakan kenyamanan yang hakiki di dalma diri kita. Kedamaian merupakan tujuan dari kehidupan kita. Kedamaian yang saya maksud disini adalah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan di ridhoi alloh swt untuk menikmati syurga yang telah dijanjikan. Kedamaian bisa tersebut bisa kita peroleh ketika kita memang benar-benar taat pada aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam proses taat ini tidaklah mudah karena banyak sekali godaan godaan yang memang dipersiapkan untuk menguatkan iman kita. Oleh karena itu, kedamaian akan benar-benar kita peroleh ketika iman kita sudah kuat dalam menghadapi cobaan-cobaan yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  12. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini yang saya pahami adalah mencari ilmu itu dilakukan sepanjang hayat. Saat kita puas dan merasa jelas dengan suatu ilmu yang kita miliki, itu artinya kita telah termakan kesombongan. Sehingga janganlah pernah merasa puas dan jelas dengan ilmu yang telah kita miliki. Ilmu itu selalu berkembang, sehingga ketika puas dengan ilmu yang sudah kita miliki maka dengan berjalannya waktu kita akan tenggelam dari ditinggalkan perkembangan zaman. Marilah selalu menuntut ilmu disetiap langkah kehidupan untuk menggapai kebahagian dan kedamaian di dunia dan akhirat. Terimakaih.

    ReplyDelete
  13. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam elegi ritual ikhlas 31: menggapai kedaiaman ini bahwa kedamaian itu datangnya dari hati dan dengan niat yang tulus serta ikhlas. Oleh karena itu menjadi orang yang ikhlas sejak sekarang lebih baik daripada tidak sabaran ketika tua dan tidak berdaya. Dalam hidupnya manusia yang memiliki rasa tulus ikhlas tidak akan pernah merugi dan kehidupannya akan damai.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Kedamaian yang abadi hanya ada di sisi Allah SWT, yaitu ketika kita berhasil mengapai syurga Allah SWT. Jika kedamaian di dunia, saya analogikan sebagai langkah-langkah kehidupan. Manusia dengan karunia akal dan hati seyogyanya mengapai ilmu untuk membekali dihari penghitungan amal, saya ibaratkan manusia hendaklah seperti tanaman padi yang berbiji lebat yaitu posisinya semakin menunduk artinya manusia semakin bertambah usia tidak malah berhenti belajar namun tetap mencari ilmu. Ketika kita berhasil mengetahui salah satu pengetahuan artinya kita melangkah maju, maka hendaklah kita menambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain, hal ini dimaksudkan agar langkah kaki kita semakin jauh ke depan.

    ReplyDelete
  15. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Semua orang selalu ingin hidup dalam kedamaian. Setiap orang memiliki ukuran perdamaian yang tidak sama dengan orang lain. Siapa yang bisa menjamin perdamaian hanya kepastian Allah swt.
    Untuk mendapatkan kedamaian kita hanya perlu selalu mendekatkan diri kepada Allah. Beribadah dan berdoa adalah cara untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Berdoa dengan ketulusan hati adalah kuncinya. Dengan berdoa yangdisertai ketulusan hati maka hal-hal baik akan terjadi dan akan terhindar dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
  16. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Kedamaian itu terletak dalam hati. Kedamaian dapat dicapai seseorang jika hatinya terasa tentram, nyaman, dan aman. Kedamaian dapat dicapai melalui banyak berdzikir, selalu rendah hati, dan mengingat Allah SWT. Jika hati mulai melakukan hal yang buruk seperti sombong, riya', dan lain-lain maka seseorang telah kehilangan kedamaian dirinya.

    ReplyDelete
  17. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. setiap orang tentu mendambakan kedamaian, dengan kedamaian hati merasa tentram dan bahagia. Dari hasil membaca elegi yang Prof. Marsigit tulisakan, saya merfleksi bahwa terkadang manusia terlalu berlebihan dalam merasa senang dan damai. Manusia lupa untuk terus belajar dan bertanya karena merasa sudah cukup bahagia. Padahal dalam hidup hendaknya selalu bertanya dan belajar.

    ReplyDelete
  18. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Kedamaian identik dengan ketenangan, kesejukan, kebahagiaan, ketentraman. Sungguh nikmat jika kita telah mencapai kedamaian. Kita dapat mencapai kedamaian dengan ilmu yang bermanfaat. Namun jangan cepat puas dengan ilmu yag kita dapat, kita harus terus mencari ilmu untuk terus merasakan kedamaian tersebut.

    ReplyDelete
  19. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Semakin kau mendayung sampan semakin terasa lautan yang luas. Demikianlah ilmu yang tiada batasnya. Maka tidak heran ada pepatah yang menyebutkan, tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat. Jangan biarkan diri kita merasa puas atas ilmu yang telah digenggam karena ini adalah jebakan ruang dan waktu yang salah sehingga kita termakan oleh mitos. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menggali potensi ikhtiar karena sebenar-benar dirimu adalah ilmumu.

    ReplyDelete
  20. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Jika kita merasa memiliki banyak ilmu kemudian menjadi lalai dan terjebak dalam zona nyaman kedmaian, maka sesungguhnya kita tengah terjebak mitos. Perintah untuk menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat tentu memiliki makna yang besar, jika kita mau berpikir perintah tersebut sesungguhnya menggambarkan betapa besar dan luasnya ilmu. Bahkan sampai kita meninggal dunia ilmu itu tidak akan habis kita pelajari. Inilah kuasa Allah yang begitu sempurna. Maka dari itu jika kita merasa bahwa dirikita sudah memiliki banyak ilmu disitulah sesungguhnya kita sudah berlaku sombong. Karena setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki manusia sesungguhnya tidak lebih dari sebutir pasir di samudra. Maka dari itu janganlah berlaku sombong. Ilmu yang diberkasi sesungguhnya akan membawa kita semakin menyadari bahwa ilmu kita tak ada artinya dibanding dengan semua ilmu yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  21. Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    ReplyDelete

  22. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Artikel di atas menjabarkan kepada kita tentang arti kedamaian dan pentingnya ilmu pengetahuan. Kedamaian adalah salah satu hal yang relatif. hal tersebut akan menjadi berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. kita akan memperoleh kedamaian jika kita memiliki pengetahuan. Jadi, kita harus banyak memiliki pengetahuan dengan cara menuntut ilmu dengan ikhlas. Menuntut ilmu itu tidak memiliki batasan waktu, sejak kita lahir sampai nanti habis masa kita di dunia pun kita setiap harus akan terus memperoleh ilmu. Manusia yang tidak mempunyai keinginan untuk terus menambah ilmu pengetahuannya adalah menusia yang sombong, sedangkan manusia yang sombong tidak akan memperoleh apa-apa.

    ReplyDelete
  23. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Zona nyaman juga bisa dikatakan sebagai sbuah kedamaian, pada zona nyaman kita sudah dibatasi oleh mitos-mitos yang membuat kita berpikir bahwa ilmu kita sudah sampai batasnya. Padahal jelassekali ilmu itu berdimensi, ekstensif dan intensif. Meliputi yang ada dan yang mungkin ada, sangat jauh kiranya jika berpandangan telah menguasai segala ilmu.

    ReplyDelete
  24. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam mengapai kedamaian tentunya juga diperlukan ilmu. Kedamaian itu pasti,meliputi ketenangan hati dan piker. Ikhlasnya niat dan doa, serta ikhtiar akan mengantarkan dri pada ilmu. Kesombongan dalam menentukan diri sudah menggapai damai maka akan menghambat ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  25. Latifah Fitriasari
    PM C

    Kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Dalam hal ini ilmu adalah salah satu perbuatan baik yang memiliki dampak positif. Dampak tersebut bisa diterima bagi penerima maupun pemberi ilmu. Itulah arti penting ilmu yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Setiap hal di dunia memerlukan ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim,sesuai syariatnya. Sehingga ilmu sangat penting untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

    ReplyDelete
  26. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap manusia pasti menginginkan kedamaian. Maka untuk menggapai kedamaian kita harus senantiasa menuntut ilmu. Untuk menggapai damai bukannya dengan diam dan merasa tidak terjadi apa-apa. Karena diam bukan berarti damai. Diam justru menandakan kita tengah terperangkap dalam ruang gelap. Maka sebagai manusia kita tidak boleh diam. Kita harus senantiasa menuntut ilmu dan menuntut ilmu selama kita masih diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  27. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Ilmu dunia maupun ilmu akhirat penting untuk dimiliki setiap orang. Dengan berilmu, kita dapat merasa damai. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Kita memerlukan ilmu agar bisa meninggalkan dunia secara khusnul khotimah. Maka dari itu, kita jangan pernah merasa sombong dan puas dengan ilmu yang kita miliki, karena setinggi-tingginya ilmu adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Menggapai kedamaian hidup dapat dilakukan dengan melakukan pencarian ilmu secara ikhlas. Dengan adanya ilmu yang baru dan selalu berkembang/bertambah menunjukkan bahwa kita selalu bergerak untuk berpikir. Kedamaian dapat dicapai apabila seseorang memiliki pengetahuan yang luae mengenai banyak hal. Sehingga orang tersebut akan terbuka dengan pemikiran yang lainnya dan tidak tertutup dengan pengetahunan yang baru.

    ReplyDelete
  29. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menuntut ilmu merupakan kewajiban dalam agama islam. Oleh karena itu perintah pertama Tuhan kepada umat manusia adalah menuntut ilmu. Kenapa menuntut ilmu. Karena ilmu dapat menjaga kita, orang yang berilmu akan dinaikkan derajatnya satu derajat lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu marilah kita menuntut ilmu dengan ikhlas. Karena menuntut ilmu meruapakan suatu kewajiban.

    ReplyDelete
  30. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual ikhlas ke 31 : menggapai kedamaian menjelaskan tentang kepuasan mencapai sesuatu hingga menyebabkan kedamaian dalam dirinya, namun seperti yang kita ketahui bahwa sebenar-benarnya hidup adalah ilmu. Elegi ini menceritakan bahwa meskipun kita telah mencapai titik dimana hidup ini sudah lengkap atau tercipta kedamaian dalam diri hendaknya kita tidak pernah puas dengan ilmu yang kita miliki, karena ilmu tidak ada batasnya. Sebagai manusia kita dituntut untuk mencari ilmu sampai akhir hayat kita, bahkan ketika kita matipun kita masih memerlukan ilmu, karena kita memerlukan ilmu bagaimana bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah

    ReplyDelete
  31. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Cita-cita seorang hamba ialah dapat memperoleh kenikmatan terbesar, yakni melihat wajahNya, namun karunia itu tidak akan diberikan kepad sembarang orang. Adapun pintunya ialah dengan khusnul khatimah (akhir hayat yang baik). Seseorang di akhir hayatnya akan merefleksikan kehidupan yang telah ia jalani, kata-kata yang terlontar terakhir kalinya ialah kata-kata yang biasa ia pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. jika ia suka mencibir, maka yang keluar ialah kata-kata cibiran, jika ia senang mengeluh maka yang keluar tak lain ialah keluhan, maka sebenar-benar harapan seseorang ialah meninggal dalam keadaan melafalkan kalimat-kalimat yang baik. Sehingga haruslah seseorang itu membiasakan diri berkata dengan perkataan yang baik dan berkalimah tayyibah, Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  32. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Seseorang tidak akan merasa damai kecuali ia tak lagi membutuhkan apa yang tidak ia milliki atau dengan kata lain, kedamaian akan mneghampiri seseorang yang senantiasa bersyukur dan merasa bahwa apa yang ia miliki sudah lebih dari cukup dan melalu menghaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT. Maka secara spiritual diperlukan sikap tawadhu dan qanaah. Qanaah berarti sikap yang menerima apa adanya. Menarima apa adanya di sini tidak serta merta duduk berdiam diri sembari menunggu rizki Allah turun melainkan tetap berusaha sebaik-baiknya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  33. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sesungguhnya tidak ada kemenangan sejati saat dalam hidup. Tidak ada kata cukup saat kita mencari ilmu. Kita tidak bisa mengatakan jelas akan suatu hal, lalu membuat malas mencari kejelasan yang lain. Dalam elegi ini menunjukan kehidupan kita, dimana ketika kita telah mencapai sesuatu lantas kita telah menang lalu lekas merayakannya, sungguh sedih membacanya, karena sejatinya kita masih malakukannya. Ampuni kesalahan dan kehilafan hamba ya Rabb. Sehingga sebenarnya tiada akhir dari perjuangan mencari ilmu itu sendiri karena hidup ini adalah ilmu itu sendiri. Berhentinya kita mencari ilmu ketika kita telah berpisah antara nyawa dan raga ini. Semoga akhir kisah dan perjuangan kita berakhir husnul khotimah. AmiinnS

    ReplyDelete
  34. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PMA

    Ada saatnya setelah kita berusaha sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya untuk menggapai cita-cita, kita harus berserah dan berikhtiar. berdamai dengan diri sendiri dan dunia disekitar kita. untuk bersiap menjemput kedamaian yang abadi diakhirat nanti, tapi jika kita masih mampu, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapat.

    ReplyDelete
  35. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Batas Perjalanan Kehidupan manusia itu tidak ada yang mengetahui selain Tuhan YME. Jangan hanya karena memperoleh kedamaian dan kemenangan sesaat itu mereka terjebak dalam euphorianya, di dalam kesenangannya. Karena jika itu berarti dia telah melupakan jalan hidupnya yang tidak hanya berhenti di saat itu, masih ada hari esok, esok, esok…dan esoknya lagi, maka seharusnya semuanya disikapi kedamaian dan kemenangan keikhlasan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  36. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dari elegi ini, saya belajar bahwa sesungguhnya kita masih harus banyak belajar. Sebanyak-banyak ilmu yang kita dapat, masih ada hal selanjutnya yang perlu kita pelajari. Jangan pernah puas atau sombong dengan ilmu yang dimiliki. Dan bahkan banyak hal yang pikiran kita tidak bisa jangkau.

    ReplyDelete
  37. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Itulah sebabnya mengapa islam memerintahkankita untuk terus belajar dari sejak kita lahir hingga kita wafat. bahkan bayi yang lahir saja belajar. hanya orang yang sombong yang merasa talah memiliki ilmu yang cukup dan tidak merasa perlu lagi untuk belajar. belajar itu tidak melulu terkait akademis. seorang suami sepatutnya terus belajar bagaimana menjadi suami yang baik dalam pandangan Allah, begitu pula seorang istri. maka belajar itu tidak akan pernah selesai.

    ReplyDelete
  38. Assalamualaikum Wr. Wb. Harus diakui bahwa, meskipun tujuan kita hidup di dunia untuk menggapai kedamaian, namun kehidupan kita diikat oleh hukum dialektik di mana setiap entitas memiliki kutub yang berkontrdiksi dengannya. Ada siang dan malam. Ada suka dan duka. Ada senang dan sedih. Ada amal dan dosa. Ada hidup dan mati. Dua kutub tersebut saling merasuki sehingga tak bias kita menetapkan ada tidaknya kedamaian hakiki itu. Namun yang harus kita pahami adalah, dunia ini hanyalah persinggahan, sehingga kedamaian yang didapatkan adalah ketika berada pada jalan Allah menuju kedamaian sejati yaitu alam akhirat. Semoga kita selalu berada dalam jalan yang lurus dan ditempatkan pada Syurga Allah. Aamiin!!

    ReplyDelete
  39. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menggapai kedamaian, kedamaian tidak benar-benar ada dalam kehidupan ini. Kedamaian hanya masalah ruang dan waktu serta peranan dari sudut pandang seseorang. Kedamaian hidup, kedamaian hati, kedamaian pikiran, dan kedamaian yang lainnya hanya bisa digapai dan diperoleh dengan keihklasan. Dalam hidup ini, ada banyak tuntutan dan kewajiban yang harus kita lakukan sebagai manusia, sebagai hamba Allah SWT, maka kedamaian itu akan kita nikmati bila kita memenuhi kewajiban itu dan ikhlas selama prosesnya.

    ReplyDelete
  40. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    semua orang pasti mendambakan kedamaian dan ketenangan hidup. kunci damai adalah menikmati dan menjalani sesuatu dengan ikhlas. selain itu juga bisa dengan membaca Al-Qur'an, dengan membacanya hati kita bisa menjadi tenang.

    ReplyDelete
  41. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup di dunia ini adalah berusaha untuk menemukan kedamaian dengan terus mencari ilmu sehingga kita bisa menjadi manusia yang berpikir kritis, memiliki hati yang jernih dan mampu menyikapi setiap masalah secara bijak. Seseorang yang merasa puas dengan apa yang didapatkannya sesunggugnya hanyalah merugi, karena ilmu itu sangatlah tidak terbatas. Hanya saja sampai mana kita mampu memaknainya.

    ReplyDelete
  42. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  43. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Maka tidak mungkin bagi kita untuk menghentikan jalannya pikiran kita selagi kita masih bernyawa dan sehat akal. Jangan pernah merasa cukup dengan sedikit ilmu saja. Gapai dan tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya selama kita hidup di dunia ini. Jangan sampai kita terperosok dalam kebodohan karena malas menuntut ilmu. Jangan sampai kita merasa lelah dan puas jika sudah mendapatkan tambahan ilmu.

    ReplyDelete