Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian



Oleh: Marsigit

Kemenangan yang datang:

Terang teranglah sudah. Puas puaslah sudah. Akhirnyanya kesampaian juga harapanku. Inilah yang selamanya aku cari. Telah aku korbankan segalanya untuk menemukan kedamaian. Damai damailah sudah. Kini saatnyalah aku perlu bereuporia dalam kedamaianku. Dalam damaiku ini aku akan lebih banyak berafirmatif daripada berinterogated. Karena selama berafirmatif itulah aku terbebas dari keraguanku. Aku terbebas dari pertanyaanku. Inilah kepastian yang selama ini aku cari. Maka dalam kedamaianku maka pasti dan pastilah aku. Tiada keraguan lagi bagiku. Maka selesailah perjuanganku. Selesai dan selesai. Maka menanglah diriku. Menang dan menang. Maka merdekalah aku dalam kedamaian dan merdekalah aku dalam kemenangan

Memperdalam makna kemenangan:
Yah kemenangan itu begitu indahnya bagiku. Aku akan selalu menyanyikan kemenanganku itu dalam lagu dan syair kalimat afirmatif. Karena dengan kalimat afirmatif maka aku bisa selalu dalam kemenangan dan kepastian. Maka kujaga dan kupegang erat-eratlah kalimat afirmatif. Dan saya tidak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Inilah ilmuku. Inilah kepastianku. Inilah kemenanganku. Dalam kemenangan ini aku merasa seperti dalam ruangan yang serba indah dan serba ada. Tiadalah kekurangan dalam diriku. Maka hanyalah tinggallah satu yang perlu aku gapai, yaitu ketika aku harus mengahadap kepada sang Kholik. Tetapi kapan ya itu?

Begitu mendengan kalimat terakhir sebagai pertanyaan, maka muncullah orang tua berambut putih:
Salam, wahai hamba Tuhan. Terimakasih engkau telah memanggilku kembali. Apa khabar? Baik-baik saja bukan? Aku telah lama tidak berjumpa denganmu. Kemana sajakah engkau? Kelihatannya wajahmu berbinar-binar. Sepertinya hatimu juga bergembira. Kelihatannya engkau baru saja meraih sesuatu atau mencapai suatu hasil yang besar bahkan mungkin sangat besar.

Hamba menggapai kedamaian:

Salam, kembali wahai orang tua berambut putih. Benar apa yang engkau katakan. Ketahuilah bahwa aku sedang menikmati kemenanganku sendiri, maka janganlah kau usik diriku dengan titah-titahmu lagi. Semuanya yang engkau katakan, semuanya yang engkau pikirkan bahkan semuanya yang akan engkau ucapkan, terkira-kira aku telah mengetahuinya. Aku telah mengetahui prinsip dan pokoknya. Aku telah mengetahui arah dan tujuannya. Jadi biarlah aku menikmati kepastian dan kemenanganku ini sendirian tanpa engkau usik kembali. Maka sebenar-benar aku sekarang adalah aku yang tidak lagi memerlukanmu. Inilah yang selama ini aku perjuangkan. Inilah yang selama ini berusaha raih dengan segenap pengorbananku. Maka sekali lagi, aku dapat katakan bahwa diriku sekarang adalah sebenar-benar diriku yang tidak memerlukan dirimu lagi. Bahkan ketika engkau mengaku sebagai pertanyaanku dan ketika engka mengaku sebagai ilmuku sekalipun, maka sebenar-benar bahwa aku tidak lagi memerlukan dirimu lagi. Kenapa engkau hanya diam seribu bahasa. Bukankah engkau tadi juga sempat pergi, tetapi mengapa sekarang engkau menghampiriku lagi, wahai orang tua?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai, biarkan aku terdiam sejenak. Aku memerlukan waktu sejenak untuk meneteskan air mataku. Maka tidak pula hanyalah engkau yang menginginkan diam dan tenang. Akupun demikian. Maka sebenar-benar diriki sekarang adalah diriku yang tidak ingin engkau usik. Yaitu ketika aku diam. tetapi ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa diamku tidak lah sama dengan diammu. Jikalau diammu engkau rasakan sebagai euporia kemenangan. Maka diamku adalah euporia kesedihan. Aku terdiam karena tidak bisa melantunkan kata-kataku. Aku terdiam karena memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis. Tetapi mengapa ketika ketika aku terdiam dan menangis, engkau pergi dari hadapanku?

Hamba menggapai kedamaian menhampiri orang tua berambut putih:

Wahai orang tua berambut putih. Aku baru mengalami kejadian yang luar biasa yang menimpa diriku. Ketika engkau bertanya kenapa aku pergi, maka datanglah energi yang luar biasa dasyatnya sehingga melemparkan diriku ke tampat yang jauh. Ternyata tempat yang sangat jauh itu tidak lain tidak bukan adalah tempat di depanmu ini. Itulah mengapa serta merta aku menghampirimu, ketika engkau membuat pertanyaan. Tetapi aku tidak mengetahui dari manakah energi sebesar itu?

Orang tua berambut putih terperanjat mendengar penuturan hamba menggapai damai:

Oh hamba menggapai damai. Bukankah keadaanmu sekarang adalah bertentangan dengan apa yang engkau katakan dan engkau cita-citakan. Bukankah engkau merasa telah menemukan kedamaianmu? Engkau telah menemukan kepastianmu. Maka engkau ingin hidup menyendiri. Dan engkau tidak lagi memerlukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dengan sombongnya engkau tidak lagi menginginkan ilmu. Tetapi kenapa engkau masih melantunkan pertanyaan-pertanyaanmu? Bukankah engkau masih ingat bahwa pertanyaanmu itu adalah ilmumu. Ilmumu tidak lain-tidak bukan adalah diriku. Mengapa di satu sisi engkau menampikku sekaligus merindukanku? Bukanlah itu kontradiksi dalam pikiranmu?

Hamba menggapai damai:

Wahai orang tua berambut putih. Kenapa pertanyaanmu yang terakhir juga telah menyebabkan aku terlempar di depanmu? Perkenankanlah aku juga menginginka diam sejenak untuk sekedar meneteskan air mataku. Yang sekarang ini diamku agak berbeda dengan waktu yang lalu. Aku sedih karena aku juga melihat bahwa dalam dirimu terdapat kontradiksi. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa kontradiksi adalah sebenar-benar ilmu dalam pikiranku. Kenapa engkau menyesali kontradiksi itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai. Ingin aku katakan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku baru saja mengalami peristiwa seperti apa yang engkau alami. Begitu engkau melantunkan pertanyaanmu, maka datanglah energi yang besar sehingga melemparku ke hadapanmu.

Hamba menggapai batas dan orang tua berambut putih terhentak oleh kesadarannya sendiri, dan bersama-sama melantunkan kata-kata:
Jikalau engkau adalah ilmuku, maka aku ternyata adalah juga ilmumu. Maka aku telah menemukan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku dan engkau tidak dalam keadaan diam. Aku menjumpai bahwa aku dan engkau saling datang dan pergi. Aku dan engkau saling bertanya dan menjawab. Aku dan engkau saling memerlukan dan berjuang. Aku dan engkau belum berhenti. Aku dan engkau belum memperoleh kepastian. Aku dan engkau masih diliputi keraguan. Maka belumlah selesai perjuangan hidupku ini. Maka belumlah ada sebenar-benar kemenangan itu. Tetapi mengapa kita terburu-buru merayakannya?

Hamba yang lain datang menghapiri:
Wahai hamba menggapai batas. Bolehlah engkau menyebut diriku sebagai hamba ataupun sebagai orang tua berambut putih. Itu sama saja buatku. Tetapi aku juga terpaksa datang oleh karena pertanyaanmu yang terakhir. Aku ingin menyampaikan bahwa sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Maka “keadaan jelas” bagimu adalah sebenar-benar ancaman bagimu. Barang siapa telah merasa jelas akan sesuatu maka seketika “ruang gelap” telah menantimu. Mengapa? Karena bisa saja jelasmu itu adalah jelasnya sekedar ruanganmu, bukankah engkau juga menginginkan jelas pula untuk ruangan di sebelahmu. Bagaimana mungkin engkau memperoleh jelas akan ruang di sebelahmu jikalau engkau terperosok dalam-dalam pada suatu ruang saja. Bukankah “diam” mu itu menunjukkan bahwa engkau sedang menikmati “keterperosokkanmu” di dalam “ruang gelapmu”. Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Maka jikalau seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulitlah bahwa dia masih dapat dikatakan sebagai sebenar-benar hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan ketika matipun kita masih memerlukan ilmu. Bukankah kita memerlukan ilmu bagaimana kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Amien Ya robbal alamin.

100 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Damai itu indah. Kita mencari hidup bahagia. Salah satunya adalah dengan damai. Dengan demikian, agar jiwa tetap dalam keadaan damai perlulah kita untuk mencari dan berusaha hidup dalam keadamaian. Salah satu yakni mengurangi segala kesahalan yang pernah ada dengan memohon ampunan pada Alloh dan saudara-saudara bila ada salahnya.

    ReplyDelete
  2. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Pada kutipan:
    itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa tidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainya. berarti kita tidak boleh merasa cukup dan puas dengan ilmu yang telah kita miliki. sangat bahaya ketika kita berikhtiar mencari ilmu karena itu termasuk kesombongan yang luar biasa.

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Sebenar-benarnya hidup tidak pernah terhenti atas pencarian ilmu, manusia harus senantiasa mencari ilmu dan mencari ilmu tidaklah dalam keadaan diam. Begitu pentingnya ilmu sebab untuk menjemput akhir hayat masih dibutuhkan ilmu, ilmu terkait spiritual agar manusia bisa meninggalkan dunia yang fana dalam keadaan yang berada pada lindungan Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Pada awal elegi ini, Kedamaian yang dimaksudkan adalah kepuasan akan sesuatu dan tidak membutuhkan sesuatu yang lain. Jikalau kita berhenti karena kepuasan maka sebenar-benar hal tersebut bukanlah kepuasan melainkan kesombongan merasa mengetahui segala nya. Kodrat seorang manusia bahwa manusia itu tidak akan pernah puas di dalam hidupnya. Oleh karena itu, teruslah mencari, jangan pernah merasa puas untuk hal kebaikan termasuk ilmu.

    ReplyDelete
  5. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Ketika kita merasa puas atau menang terhadap sesuatu, sesungguhnya kita telah terjerumus ke dalam kegelapan dan kesombongan. Kesombongan karena kita tidak mau lagi berusaha/berikhtiar padahal apa yang kita punyai belum ada apa-apa. Sesungguhnya ketika manusia sudah merasa ilmunya telah banyak, berarti dia telah berada dalam kesombongan. Janganlah menjadi orang yang sombong karena merasa berilmu, ilmu tiada batasnya, dan tuntutlah ilmu setinggi langit. Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara makhluk lain, manusia haruslah mencari ilmu sebagai tuntunannya dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat. Belajar itu sepanjang hayat. Ilmu itu tak terbatas dan tak pernah habis untuk dipelajari, oleh karena itu manusia harus menuntut ilmu seumur hidupnya tanpa berhenti, sejak lahir hingga mati.

    ReplyDelete
  6. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi menggapai kedamaian di atas mengingatkan kita untuk selalu mencintai dan rindu akan ilmu. Suatu proses menuntut ilmu tak mengenal batas usia, baik sejak dalam kandungan hingga kembali kepada-Nya. Proses menuntut ilmu ini hendaknya kita awali dengan rasa ikhlas dan senang terlebih dahulu. Sebab dari rasa senang maka akan timbul rasa ingin selalu bertemu dan berusaha mengenal lebih jauh tentang ilmu tersebut. Kita dapat menstimulus diri kita dengan mengibratkan proses mencari ilmu seperti proses memakan cokelat. Semakin banyak makan cokelat maka akan semakin terasa manis, timbul rasa semangat, dan ingin mencobanya kembali.

    ReplyDelete
  7. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Di dalam hadits Rasullulah SAW berbunyi :”Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, waktunya adalah dari buaian ibu (bayi), sampai masuk liang kubur”. Hadits dari Rasul SAW tersebut menjelaskan bahwa dalam menuntut ilmu hukumnya adalah wajib. Jadi, jika diabaikan, disepelekan, atau tidak dilaksanakan kita akan mendapat dosa. Oleh karena itu, kita sebagai seorang Muslim segeralah (jangan menunda-nunda) untuk selalu menuntut ilmu, selagi kita masih diberi kesempatan oleh Allah swt. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari. Semoga dengan menuntut ilmu, kita akan memperoleh petunjuk dan kebenaran dalam Islam. Amiin.

    ReplyDelete
  8. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kedamaian ada pada diri sendiri. Kedamaian adalah apa yang kita rasakan. Kedamaian hanyalah akan didapat oleh mereka yang ikhlas berjalan untuk mencari ridhoNya. Tidak akan ada damai dihati orang yang sombong dan angkuh atas apa yang dimiliki, karena dia akan merasa takut jika kehilangan dari apa yang mereka sombongkan.

    ReplyDelete
  9. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Orang yang cepat merasakan kepuasan dalam dirinya atas semua yang telah ia lakukan sbenar-benarnya kurang baik. Karena seseorang yang merasa puas berarti ia sudah tidak akan berusaha lagi untuk mencapai sesuatu yang lebih dan ia hanya akan terdiam atas yang ia peroleh. Orang yang dmeikian sulit untuk menerima masukan atau saran dari orang lain dan cenderung memikirkan dirinya sendiri. Ingatlah selalu di atas langit masih ada langit, pepatah ini selalu membawa seseorang agar tidak cepat puas atas usaha yang telah ia lakukan. Dan bersyukurlah sesering mungkin.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Hidup akan terus berjalan. Dalam kehidupan yang berjalan ini, menggapai ilmu tentu tidak ada batasnya. Belum tentu ilmu yang diperoleh hari ini adalah ilmu yang baik esok hari. Selalu ada tambahan biarpun sedikit dalam apa yang sudah kita miliki. Dengan demikian, sikap puas diri dan sombong itu seharusnya hilang dari kehidupan kita atau diusahakan untuk dihindari. Dengan demikian, kita akan selalu terbuka akan perubahan, dan ilmu yang kita punya bukan mitos, melainkan logos.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam kehidupan tentunya kita mendambakan adanya kedamaian hati. Sampai-ssamapi ada orang yang pergi bersemedi dan bertapa untuk memperleh kedamaian hati. Saat hati merasa tentram, jiwa terasa damai dan penuh rasa bahagia. Namun, terkadang ada orang yang mencari kedamaian dengan cara yang salah seperti menghambur-hamburkan uang, pergi ke tempat-tempat wisata, atau malah mengkonsumsi minum-minuman keras. Pandangan yang salah menghasilkan perbuatan yang salah, karena itu berhati-hatilah dalam mencari kedamaian, jangan mencari di tempat yang salah.

    ReplyDelete
  12. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kedamaian adalah idaman semua manusia di muka bumi, bahkan kita menginginkan kedamaian untuk kehidupan setelah kematian. Kita akan menemukan kedamaian jika kita mampu menjadi pembawa damai bagi sesama dan lingkungan disekitar kita.
    Hidup di dunia ini adalah berusaha untuk menemukan kedamaian dengan terus mencari ilmu sehingga kita bisa menjadi manusia yang berpikir kritis, memiliki hati yang jernih dan mampu menyikapi setiap masalah secara bijak. Seseorang yang merasa puas dengan apa yang didapatkannya sesunggugnya hanyalah merugi, karena ilmu itu sangatlah tidak terbatas. Hanya saja sampai mana kita mampu memaknainya.

    ReplyDelete
  13. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kehidupan damai dalam bermasyarakat sangat dibutuhkan bagi tiap-tiap anggotanya. Tanpa kedamaian, seseorang akan menjadi lebih sulit untuk menjalankan kehidupannya dengan lebih optimal. Dengan kata lain perdamaian selalu menjadi kebutuhan dasar bagi setiap manusia. Secara umum perdamaian dipahami sebagai keadaan tanpa perang, kekerasan atau konflik. dalam realitas yang ada, masyarakat masih mengalami penderitaan akibat kekerasan yang tidak nampak dan ketidakadilan.

    ReplyDelete
  14. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sikap toleransi, menjadi titik awal yang berkelanjutan dalam upaya untuk menghadirkan perdamaian. Manusia hidup bukan dalam dunia asing, yang mana menganggap semua orang lain adalah asing, namun manusia hadir dalam kenyataan bahwa sampai kapanpun manusia akan hidup bersama-sama dengan sesamanya manusia. Sikap yang mulai kurang pada masa sekarang ini. Dengan memberi luang untuk orang lain mengimani agamanya, kerukunan akan terbangun dengan sikap toleransi dan saling menerima.

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 31. Elegi ini menyampaikan kepada kita mengenai menggapai kedamaian. Ketika kita merasa bangga, puas terhadap hal yang.kita capai atau kita raih, sejatinya kita telah bersikap sombong. Kesombongan memang sangatlah dekat dan mudah dengan sengaja ataupun tidak dilakukan manusia. Belajar atau menuntut ilmu itu sepanjang hayat. bukan hanya ketika kita telah berhasil mencapai sesuatu lantas kita merasa memahami segalanya. bukan lantas ketika kita menggapai sesuatu lantas kita tak butuh ilmu lagi. Bahkan teruntuk matipun kita perlu ilmu agar kita meninggal dalam keadaan khusnul khatimah seperti yang disampaikan dipenghujung elegi ini.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Hidup berlimpah tanpa kedamaian tiadalah berarti. Hidup berkecukupan namun damai lebih indah dibandingkan hidup berlimpah namun hati dan pikiran selalu berkecamuk. Begitu juga dengan ilmu. Ilmu ada di kehidupan ini untuk menjawab kegelisahan yang ada, tujuannya adalah mencapai kedamaian hati dan pikiran. Oleh karena itu ilmu itu damai, bukan malah membuat seseorang sombong, gelisah dan tidak tenang.

    ReplyDelete
  17. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. menuntut ilmu dilakukan sejak dalam buaian sampai ke liang lahat. Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat”. dalam menuntut ilmu tadak ada ada akhirnya sebelum kita meninggal karena ilmu akan terus berkembang dan berubah.Jadi jangan lah kita cepat puas dengan ilmu yang kita miliki. selain itu kita tidak boleh sombong akan ilmu yang kita milika karena kesombongan akan membakar apa yang telah kita dapat dan akan menghalangi ilmu baru untuk kita terima.

    ReplyDelete
  18. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang dapat saya peroleh setelah membaca elegi tersebut adalah kedamaian dapat diperoleh dengan berbagai cara salah satunya yaitu dengan sebuah ilmu. Dengan ilmu seseorang bisa membuka jendela dunia. Ilmu yang sudah kita peroleh merupakan sebagian ilmu yang ada. Artinya bahwa ilmu itu banyaknya tidak terbatas. Orang yang berilmu seharusnya tetap membuka dirinya dengan terus menggali kemampuannya sehingga akan mendapat ilmu baru. Oleh karena itu, kita tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  19. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Menggapai kedamaian pada elegi ini memberikan pesan penting kepada kita agar jangan pernah berhenti dalam menuntut ilmu karena sebenar-benar hidup adalah ilmu. Sesungguhnya kita dalam menuntut ilmu itu tak akan mengenal batas apapun itu, bahkan dari kita di dalam kandungan sampai akhir hayat. Damainya hidup ketika kita bisa menyelaraskan hati dan pikiran kita. Berfikir adalah ilmu, dan ilmu itupun wajib kita cari. Dengan ilmu yang ihklas kita akan mampu merasakan kedamaian dalam hidup.

    ReplyDelete
  20. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian adalah suatu dambaan setiap umat manusia. Kedamaian akan membawa hati pada ketentraman, maka damai yang sesungguhnya adalah jika kita mampu berdamai dengan keadaan kita.

    ReplyDelete
  21. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Damai dapat didapatkan dengan sebuah keikhlassan, ikhlas menerima setiap takdir yang tela diberikan takdir yang dating pada diri kita. Berdamai dengan hati untuk tetap teguh dan legowo dengan keadaan.

    ReplyDelete
  22. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian tidak akan dating pada hati yang tidak mensyukuri setiap nikmat setiap ujian yang dating. Karena kedamaian hanyalah untuk orang yang mau bersyukur dan menerima

    ReplyDelete
  23. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian hati ketika melihat nikmat yang didapat orang lain lebih banyak dari kita, tidak membenci dan iri terhadap orang lain juga merupakan salah satu cara mendapatkan kedamaian itu.

    ReplyDelete
  24. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mendekatkan diri dengan Sang Pencipta merupakan cara yang paling efektif dan tepat untuk mendapatkan kedamaian. Membaca kitab Nya dan selalu muhasabah diri.

    ReplyDelete
  25. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kedamaian adalah perasaan tenang sebagai hasil dari ketenangn hati dan pikiran. Disini sifat sombong akan terpojok oleh hati dan pikiran. Tugas kita pada dasarnya adalah mengupayakan untuk selalu memperoleh ketenangan hati dan pikiran itu.

    ReplyDelete
  26. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaiukum wr wb,

    Dari postingan di atas saya menyadari bahwa damai di sini adalah damai yang salah, damai yang harus dilawan. Sekalipun lelah menuntut ilmu dan memperjuangkan ilmu atau merasa telah mampu menggapai ilmu tetap saja ilmu itu tidak berhenti mengalir dalam pikiran kita. Sekalipun kita berusaha untuk tidak berpikir, sesungguhnya hal tersebut juga merupakan ilmu yang mengalir dalam pikiran kita karena adanya suatu keinginan yang hadir di dalam pikiran kita. Maka tidak mungkin bagi kita untuk menghentikan jalannya pikiran kita selagi kita masih bernyawa dan sehat akal. Jangan pernah merasa cukup dengan sedikit ilmu saja. Gapai dan tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya selama kita hidup di dunia ini. Jangan sampai kita terperosok dalam kebodohan karena malas menuntut ilmu. Jangan sampai kita merasa lelah dan puas jika sudah mendapatkan tambahan ilmu.
    Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  27. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dri elegi ini saya mendapat beberapa hal yang sangat berharga yaitu bahwa sesungguhnya tidak ada kemenangan sejati saat dalam hidup. Tidak ada kata cukup saat kita mencari ilmu. Kita tidak bisa mengatakan jelas akan suatu hal, lalu membuat malas mencari kejelasan yang lain. Dalam elegi ini menunjukan kehidupan kita, dimana ketika kita telah mencapai sesuatu lantas kita telah menang lalu lekas merayakannya, sungguh sedih membacanya, karena sejatinya kita masih malakukannya. Ampuni kesalahan dan kehilafan hamba ya Rabb. Sehingga sebenarnya tiada akhir dari perjuangan mencari ilmu itu sendiri karena hidup ini adalah ilmu itu sendiri. Berhentinya kita mencari ilmu ketika kita telah berpisah antara nyawa dan raga ini. Semoga akhir kisah dan perjuangan kita berakhir khusnul khotimah. Amiinn

    ReplyDelete
  28. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Seorang yang merasa bahwa dirinya berkecukupan ilmu, maka dia akan merasa bahwa dia tidak perlu belajar lagi, artinya dalam hal ini orang tersebut sudah cukup puas akan ilmu yang telah ia dapatkan sehingga membuatnya berada dalam kondisi stagnan. Dalam kondisi yang stagnan tersebut ia telah merasa mendapatkan kemenangan. Padahal hidup ini haruslah selalu disi dengan pengatahuan. Utamanya pengetahuan bagaimana agar kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Maka hal-hal apa sajakah yang harus kita lakukan sehingga kita bisa menggapai hal itu. Tentunya kita masih tetap membutuhkan ilmu.

    ReplyDelete
  29. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Untuk menggapai kedamaian adalah dambaan semua orang. Maka cara yang ditempuh dalam mencapainya adalah dengan memiliki iman dan ilmu. Ilmu yang dicari tidak ada batasan ruang dan waktunya. Tingkat sd, smp, sma, sampai perguruan tinggi, hingga mendapatkan gelar merupakan bonus dari pencarian ilmu. Namun sesungguhnya menuntut ilmu adalah sepanjang hayat kita. Janganlah cepat merasa puas atas ilmu yang diperoleh. Karena semakin banyak yang kita pelajari maka semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita ketahui. Selanjutnya ilmu yang didapatkan harus berlandaskan iman. Keimanan kepada Allah SWT. merupakan pondasi agar menggunakan ilmu tersebut sesuai dengan ajaran Allah. Janganlah tersesat keadalam kegelapan, karena kegelapan akan melahap kedamaian itu.

    ReplyDelete
  30. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Merasa puas akan pengetahuan dan pencapaian kita membuat kita sombong dan merasa tidak perlu lagi belajar. Merasa mendapat kejelasan padahal bisa jadinkejelasan itu hanya persepsi kita. Ketika kita damai dalam kepuasan kita sesungguhnya damai kita semu. Damailah dalam pencarian, damailah dalam pembelajaran, damailah dalam berusaha yang tak kenal lelah.

    ReplyDelete
  31. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pesan yang kami dapatkan adalah anjuran untuk belajar sepanjang hayat. Karena inti dari kehidupan manusia adalah senantiasa belajar sampai manusia tersebut sudah tidak sanggup lagi belajar. Dalam mempelajari seseuatu, ketika memahami sesuatu tidak dilarang untuk berbahagia setelah mencapai harapan atau tujuan, akan tetapi hendaknya kebahagiaan itu jangan dijadikan kepuasan sehingga merasa cukup untuk belajar, tapi jadikanlah kebahagiaan itu menjadi semangat baru dalam belajar. Semoga kami/kita senantiasa bisa menjadi pembelajar sepanjang hayat yang baik. Amin.

    ReplyDelete
  32. Hidup itu memang tempatnya masalah, dan orang yang hidup itu pasti memiliki masalah. Ketika kita tidak ingin mendapatkan masalah maka janganlah menjadi orang yang hidup. Dan ketika kita ingin merasakan sesuatu kedamaian, ketenangan, itu akan kita dapatkan bukan dengan tanpa masalah. Ketenangan dan kemerdekaan bisa kita dapatkan dengan berteman dengan masalah dan menyelesaikannya dengan ilmu dan pengalaman yang dimiliki. Dan kita kan mendapatkan sebenar-benar ketenangan di Syurga-Nya, Amiin.

    ReplyDelete
  33. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih, Prof atas ilmu yang diberikan. Melalui elegi ini saya semakin yakin jikalau ilmu tiadalah batasnya. Ilmu selalu dalam garis proses, tanpa ada titik finishnya. Jika kita merasa sudah sampai pada titik akhir, jika kita merasa menjadi juaranya, maka itu adalah kita yang akan masuk ke dalam ruang gelap. Terdapat satu pola hubungan. Kita yang merasa berilmu, adalah kita yang sombong. Dan kesombongan adalah satu hal terbesar yang menghalangi kita dalam mencari ilmu.

    Sungguh, lewat elegi ini saya merasa dilempar pada keadaan-keadaan di mana saya merasa memahami suatu hal. Nyatanya hal yang saya pahami kala itu, adalah hal baru lagi saat ini. Benar-benar semuanya tentatif. Sekali lagi, terimakasih Prof atas tulisan ini.

    ReplyDelete
  34. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Ilmu yang ada di dunia ini sangat banyak, hingga tak terbatas. Bahkan ada ilmu yang sebenarnya ada tetapi tidak pernah tersentuh bahkan terpikirkan oleh kita. Oleh karena itu, janganlah mudah merasa puas dengan ilmu yang telah kita dapatkan. Ilmu kita belum seberapa jika dibandingkan ilmu yang ada di dunia ini. Maka janganlah menjadi orang yang sombong karena telah merasa menguasai banyak ilmu.
    Sebanyak-banyak ilmu yang telah kita miliki, pasti ada lagi seseorang yang memiliki ilmu jauh lebih banyak dari ilmu yang kita miliki. Mencari ilmu itu tidak ada batasan usia. Mencari ilmu yang sesungguhnya itu dilakukan dari mulai kita dalam buaian hingga ke liang lahat. Maksudnya adalah mencari ilmu itu dari kita lahir sampai kita mati. Mencari ilmu sebaiknya dilakukan secara terus-menerus. Akan tetapi, ilmu yang banyak juga tidak akan berarti jika tidak kita amalkan atau terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  35. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Menggapai kedamaian diperlukan juga ilmu. Ketika ilmu sudah didapatkan perlulah didiringi dengan doa-doa dan ikhtiar. Ilmu agama menjadi pijakan pertama seseorang untuk menuntut ilmu yang lainnya. Apabila manusia belum menuntaskan ilmu pokok dalam agamanya, maka ilmu yang lain pun hanya akan diraih sejalan dengan kehidupannya. Dapat dikatakan mendapatkan ilmu tanpa bersyukur.

    ReplyDelete
  36. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terima kasih Pak melalui postingan Bapak, telah mengingatkan saya bahwa dalam hidup ini tidak ada kata berhenti untuk menggapai ilmu. Setinggi apapun prestasi dan pencapaian yang telah diraih, seberapapun usia maka ilmu tetap harus dicari. Apalagi saya yang masih sangat minim pengetahuan. Harus lebih bekerja keras dan berusaha untuk terus membaca dan belajar guna memperoleh ilmu agar tidak berada dalam kegelapan.
    Selain itu merasa jelas justru merupakan ancaman. Ancaman untuk berhenti mencari ilmu, ancaman untuk bangga diri dan merasa sombong. Sehingga kedamaian harus tetap terus menerus digapai bukan dengan berhenti menikmatinya tetapi dengan cara terus berjuang untuk mencari ilmu.

    ReplyDelete
  37. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Kedamaian dicapai jika di dalam hati kita tidak ada rasa puas diri dalam menuntut ilmu. Merasa puas dalam menuntut ilmu menandakan bahwa hati kita terperangkap dalam ruang yang gelap. Kepuasan dalam menuntut ilmu akan menutup kesempatan yang lebih besar dalam memeproleh ilmu karena kepuasan akan mengantarkan kita pada perasaan telah mengetahui segala-galanya sehingga tidak perlu ilmu lagi. Dan pada akhirnya akan menimbulkan sifat sombong. Sifat sombong inilah yang merupakan faktor utama dalam menghilangkan kedamaian di dalam hati. Oleh karena itu, jauhilah rasa berpusa dan berbangga diri.

    ReplyDelete
  38. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Tidak ada seorangpun yang dapat benar-benar menggapai ilmu, yang ada hanyalah berusaha untuk menggapainya. Maka, tidak panas manusia untuk merasa cukup atau bahkan telah merasa menguasai suatu ilmu sehingga beranggapan bahwa tidak perlu lagi mencari ilmu. Hal yang demikian itu merupakan kesombongan yang dibenci oleh Allah SWT. Selama masih hidup, manusia harus selalu mencari ilmu bahkan terkadang manusia tidak menyadari hal itu. Dengan terus menerus belajar, ilmu yang dimiliki akan terus berkembang dan akan semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  39. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Selama ini yang membatasi ilmu adalah diriku sendiri. Terkadang saya suka merasa tahu sesuatu atau merasa bisa memahami apa yang dijelaskan. Saya belajar untuk melihat kebutuhan orang lain akan ilmu dari ulasan ini, tidak hanya mementingkan apa yang belum saya ketahui saja. Ya Allah, bantu hamba untuk menghilangkan sikap sombong yang terkadang suka melekat dalam diri. Astaghfirullahal'adzim, inilah kata-kata sebagai permohonan ampunan kepada-Mu ya robb.

    ReplyDelete
  40. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Kedamaian yang sesungguhnya adalah ketika hati terbebas dari penyakit hati seperti , sombong, iri, egois, munafik, dll. Jika merasa puas dengan ilmu yang telah dicapai, dan menganggap diri selesai untuk mencari ilmu, itu bukanlah suatu kedamain, itulah sebenar-benar bisikan syaitan untuk menjerumuskan kita kedalam kebodohan dan kesombongan. Intinya kita merasa damai jika hablumminallah dan hablumminannash kita terjalin dengan baik.

    ReplyDelete
  41. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Untuk kesekian kalinya, lagi- lagi, dan lagi-lagi kita dingatkan untuk tidak merasa puas dan bangga dengan yang kita raih.Merasa puas dan bangga terkadang mengantarkan kita pada sifat keakuan.Orang yang berilmu tidak akan pernah merasa jenuh pada satu titik ,dia akan berusaha untuk menggapai titik selanjutnya.
    Di lain sisi yang dapat saya tangkap dari elegi tersebut bahwa kedamaian tidaklah semata-semata diekpresikan lewat euforia semata, tetapi kedamaian juga dapat diaktualisasikan melalui diam,melalui butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi karena memikirkan betapa indah kuasa-Nya Allah SWT.

    ReplyDelete
  42. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Semua hal di dunia ini ada ilmunya, seperti yang Prof tulis, Mati pun butuh ilmu, ilmu untuk berpulang ke sisi-Nya dalam khusnul khotimah. Manusia telah dibekali akal untuk berpikir dan terus belajar. Proses belajar itu harusnya berlangsung terus-menerus sampai akhir hayat karena ketika seseorang berhenti belajar, itu artinya ia merasa telah mengetahui segalanya dan bersikap sombong

    ReplyDelete
  43. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada dasarnya setiap kehidupan itu ada kontradiksinya, ada sisi negatif dan positif. Sisi negatifnya adalah menciptakan perselisihan, perdebatan karena perbedaan. Sedangkan positifnya adalah membuat kehidupan ini menjadi berwarna-warni dan saling melengkapi antar manusia karena adanya perbedaan. Pada elegi ini, semakin banyak mencari ilmu, maka kta akan semakin banyak menemukan kontradiksi. Oleh karena itu, untuk membuat kontradiksi itu tidak menimbulkan perselisihan, maka dibuat aturan-aturan atau tata krama untuk membatasi semua kegiatan manusia sehingga dapat menciptakan perdamaian antara setiap manusia.

    ReplyDelete
  44. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Kedamaian merupakan tujuan bagi tiap manusia, namun tentunya dengan pemaknaan yang berbeda-beda. Ada kedamaian yang bersifat kepuasan nafsu, ada kedamaian yang bersifat kesombongan, dan ada kedamaian yang mencelakai orang lain. Sesungguhnya damai-damai tersebut adalah damai imajiner, damai yang realitasnya ada di dalam kegelapan. Bagi saya damai adalah kegelisahan, kegelisahan untuk terus menuntut ilmu, kegelisahan untuk terus berdoa, dan kegelisahan untuk terus belajar ikhlas.

    ReplyDelete
  45. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Merasa dalam kondisi sudah tau, sudah nyaman, dan memutuskan untuk berhenti berproses, berhenti berfikir, berhenti bertanya adalah sebenar-benar ancaman yang serius. Ia mengancam kita dengan segala marabahayanya namun kita tidak merasanya. Oleh karena itu, kita tidak boleh membiarkan diri kita dalam kondisi diam, apalagi diam dalam kondisi lama. Kita tidak boleh membiarkan diri kita berhenti bertanya, berhenti berfikir, berhenti merenung. Karena berfikir, bertanya, merenung merupakan tanda bahwa kita masih hidup, bahwa pikiran kita masih bisa berfikir, hati kita masih bisa merasa.

    ReplyDelete
  46. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B s2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Kita memang wajib mensyukuri nikmat Allah, tapi bukan berarti kita harus merasa puas. Justru kita harus selalu merasa kurang dan menginginkan lebih. Kita tidak boleh berhenti di satu titik dan merasa puas berada di situ. Jika kita cepat merasa puas maka kita tidak akan menjadi pribadi yang lebih baik ataupun mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari yang kita miliki sekarang. Rasa puas mendatangkan rasa nyaman yang berlebihan sehingga kita malas untuk berusaha meraih hal-hal yang lebih baik. Bertentangan dengan kewajiban kita untuk selalu berusaha.

    ReplyDelete
  47. Kartika Kirana
    17701251039
    PEP S2 B

    Rasanya tidak sanggup membuat komentar untuk menggapai kedamaian ini. Menghela nafas panjang dan diam. Keadaan damai adalah keadaan yang dirindukan. Namun diam pun berarti berhenti dan membiarkan diri berada dalam ruang-ruang gelap. Ini pun kontradiksi. Mungkin rasanya nyaman, sudah merasa jelas posisinya, namun ini kegelapan ini pun ketidaknyamanan, karena posisi yang stagnan itu akan menyakitkan ketika terpaksa berubah dan terlempar keluar. Trimakasih untuk mengingatkan, selalu berusaha menggapai damai, tak henti, hingga sang Khalik sendiri yang mengambil kita dari dunia ini.

    ReplyDelete
  48. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Sebuah kedamaian adalah proses yang dapat kita ciptakan sendiri. Kenapa? Karena sebuah kedamaian itu bersifat relatif sesuai dengan ruang dan waktunya. Kedamaian setiap orang memiliki arti dan deskripsi yang berbeda. Menurut saya damai adalah ketika kita bisa melaksanakan ibadah dengan tenang, nyaman, dan khusyuk. Sehingga bisa mencapai ridho dan jannahnya Allah swt.

    ReplyDelete
  49. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pesan yang saya dapatkan dari elegi ini adalah kita harus selalu waspada akan hal-hal yang akan menjerumuskan kita ke dalam ruang yang gelap, sesaat setelah kita merasakan keindahan ruangan yang terang benderang. Ketahuilah bahwa rasa bangga dan sombong itu memiliki batas yang sangat tipis, sehingga ketika kita mencoba memisahkannya, kadang kita sendiri menjadi bingung. Apakah saya baru saja bersikap sombong di hadapan Allah? Maka sesaat setelah kepuasan menghampiri, kita seharusnya merasa cemas karena ruang kegelapan akan menghampiri kita lebih dekat.

    ReplyDelete
  50. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 31 ini, saya memahami bahwa dalam menggapai kedamaian yang dibutuhkan hanyalah sikap tawadu’ dan tidak cepat berpuas diri terhadap apa yang telah dicapai. Meskipun sesuatu yang telah diraih melewati perjuangan yang berat, tetap itu bukanlah apa-apa tanpa adanya pertolongan dari Allah SWT. Untuk itu, janganlah terlalu menikmati perolehan yang telah dicapai karena sesungguhhnya itu adalah awal dari keterpurukan.
    Misalnya dalam menuntut ilmu. Sedalam apapun seseorang menguasai ilmunya, tetapi ia masih kecil dihadapan ilmu karena jangkauan ilmu itu tidak ada batasnya. Maka, gapailah kedamaian dengan ilmu, sikap tawadu’ dan memohon kepada Allah SWT agar dibukakan rahmat dan pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  51. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof.. atas postingan diatas sangat menyadarkan saya. bahawa orang yang merasa berilmu ialah termasuk orang yang sombong. sungguh dari membac elegi elegi terdahulu saya menjadi sangat takut akan diri saya termasuk menjadi orang yang sombong. padahal tidak ada yang perlu disombongkan didunia ini. semuanya milik Allah dan akan kembali kepda Allah dan seharusnya kesombongan hanya milik Allah semata.

    ReplyDelete
  52. Junianto
    17709251065
    PM C

    Tentu setiap manusia di dunia ini menginginkan kedamaian dalam hidupnya, dalam keluarganya, dalam masyarakat, dan dimanapun dia berada. Namun, pada kenyataannya tidak semua manusia bisa mendapatkannya. Hal ini terjadi karena kedamian itu tidak bisa didapatkan begitu saja/ ada dengan sendirinya tetapi manusia harus berusaha/ ikhtiar untuk mendapatkannya. Kedamaian bisa kita raih manakala kita bisa menyelaraskan hati dan pikiran. Jika kedua hal ini dapat berjalan beriringan dan seimbang, niscaya kedamaian akan bisa dirasakan oleh manusia.

    ReplyDelete
  53. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam mengarungi kehidupan diperlukan ilmu. Ilmu bisa menuntun kita melakukan hal yang bermanfaat. Maka orang yang mencari ilmu bisa dikatakan sedang mencari kedamaiaan hidup. Ditengah kehidupan yang tidak pasti dan kehidupan yang sering berubah, maka ilmu diperlukan untuk menghadapi itu semua. Jangan sampai kita tersingkir dari dunia gara-gara tidak punya ilmu untuk mengikuti perubahan tersebut.

    ReplyDelete
  54. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Damai dari perspektif orang itu berbeda-beda, namun kedamaian yang sesungguhnya adalah damai ketika apa yang kita kerjakan di ridhoi Allah sehingga hati merasa selalu tentram. Kedamaian hati seseorang akan terpancar dari wajahnya, begitu juga dengan kegelisahan seseorang. Maka marilah sama-sama saling membantu untuk mencari kedamaian yang sejati. Amin.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  55. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Menuntut ilmu adalah kewajiban insan manusia. Saya pernah membaca suatu nasehat bahwa sebenarnya manusia lebih membutuhkan ilmu daripada makanan. Manusia dapat hidup hanya dengan makan sehari sekali, tetapi manusia membutuhkan ilmu setiap saat. Ada suatu pepatah yang mengatakan untuk menuntut ilmu itu dari ayunan sampai ke liang lahat, artinya kita harus mencari ilmu dari kecil hingga meninggal.

    ReplyDelete
  56. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kedamaian merupkan hal yang cenderung dicari manusia dlam hidupnya. Dalam elegi di atas dijebarkan bahwa pentingnya ilmu pengetahuan dalam memperoleh kedamaian. Ketika pengetahuan manusia itu mencukupi dan luas maka dia mampu bersaing dalam ranah yang lebih tinggi sehingga hidupnya akan tenang. Yang tak boleh kita lupakan adalah untuk selalu ikhlas dalam hati dalam melaksanakan amanah. Teima kasih

    ReplyDelete
  57. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Keadaan damai berarti kita dalam keadaan pasti. Kedamaian akan membawa kita di dalam ruang yang gelap. Dimama kita sudah terjebak pada mitos. Sebenar-benarnya hidup adalah menggapai ilmu. Di dalam menggapai ilmu akan membawa kita di persimpangan jalan. Persimpangan jalan ketidakpastian untuk mencapai kepastian. Padahal sampai kita matipun kita tidak dapat menggapai kepastian itu. Oleh karenanya janganlah kita terjebak dalam perasaan damai dan janganlah sampai kita menggapai kedamaian itu sebab hal tersebut akan membawa kita kedalam ruang gelap dan kesombongam sehingga kita enggan untuk menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  58. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Berjuang itu tak terhingga, tak terbatas. Tidak ada perjuangan yang sudah selesai. Sebelum ajal menjemput, kita masih diwajibkan untuk berjuang dalam menghadapi sesuatu. Tak terkecuali dalam menggapai dan menuntut ilmu. Benar, janganlah kita berdiam diri karena jika diam berarti kita berada di wilayah yang gelap. Yang berarti kita sombong akan ilmu yang sudah kita punya. Sesungguhnya, kedamaian itu ketika kita sudah menggapai apa yang benar benar kekal, yaitu surganya Allah. sebaik-baiknya ilmu dan perjuangan itu adalah hal yang bermanfaat bagi orang lain dan dapat dikenang, bahkan ketika kita sudah tiada.

    ReplyDelete
  59. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Mengutip ungkapan dari "hamba yang lain" diatasa bahwa "sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya". tidak ada batas ruang ataupun batas waktu, menuntut ilmu bisa kapan saja, dimana saja, dengan siapa saja, dari apa saja dan dengan berbagai macam cara, setiap segi kehidupan bisa menjadi terpat belajar bagi para penuntut ilmu. karena itu ilmuan besar Thomas Alpha Edison selalu membawa alat tulis kemanapun dia pergi, karena dia menyadari bahwa dia bisa saja mendapat ide atau ilmu diruang dan waktu yang tidak terduga oleh sebab itu dia harus siap mencatatnya.

    ReplyDelete
  60. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Menggapai kedamaian diperlukan juga ilmu. Ketika ilmu sudah didapatkan perlulah didiringi dengan doa-doa dan ikhtiar. Ilmu agama menjadi pijakan pertama seseorang untuk menuntut ilmu yang lainnya. Apabila manusia belum menuntaskan ilmu pokok dalam agamanya, maka ilmu yang lain pun hanya akan diraih sejalan dengan kehidupannya. Dapat dikatakan mendapatkan ilmu tanpa bersyukur. Kedamaian letaknya dalam hati manusia. Seorang yang memiliki ilmu tinggi tanpa bersyukur dan munajat pada Allah swt, maka tak akan menemukan kedamaian dalam hatinya. Hanya kepuasan semu belaka yang didapatkan.

    ReplyDelete
  61. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Kedamaian yang hakiki adalah ketika kita mampu melaksanakan ibadah dengan khusuk dan ketika kita mampu membahagiakan kedua orang tua. Untuk memperoleh kedamaian diperlukan usaha yang tidak mudah, kita harus mampu mengontrol diri dan pikiran dari hal-hal yang hanya berorientasi pada duniawi saja. Ketika kita mampu mencapai ridhonya Allah swt disitulah letak kedamaian yang sebenarnya. Maka dari itu, kita harus memperbanyak dzikir yang berarti kita mengingat selalu bahwa kita ini adalah hamba-Nya yang lemah yang tidak mungkin bisa lepas dari kekuasaan-Nya.

    ReplyDelete
  62. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Seperti yang pernah bapak katakan di kelas bahwasanya dalam hidup ini kita selalu bergerak, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk maju kita butuh pergerakan, bahkan saat meninggalpun kita bergerak. Dapat kita kaitkan bahwa pergerakan ini adalah ikhtiar kita untuk menggapai ridho ilahi. Ketika kita merasa semuanya sudah cukup, tidak melakukan ikhtiar maka itulah sebenar-benarnya keburukan yang menimpa kita. Merasa sombong dan tidak mau berusaha lagi maka hal itu menyebabkan kita menjadi manusia yang tidak berkembang. Dapat saya pelajari dari elegi ini bahwa belajar itu sepanjang hayat, jangan pernah cepat berpuas diri.

    ReplyDelete
  63. Terimakasih bapak atas sharing ilmu spritualnya melalui tulisan di atas. Semoga kita manusia mendapatkan tujuan dalam kehidupan yaitu salah satunya kedamaina dalam hidupnya. Tidak dirisaukan dengan berbagai perkara buruk yang telah dilakukan. Dikelilingi oleh nilai-nilai kebaikan.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  64. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang diberikan di atas. Namun, pada elegi kali, saya tidak cukup paham apa makna dan inti pelajaran yang dapat saya petik. Yang saya pahami bahwa menggapai kedamaian dalam hati bukanlah hal yang mudah. Setiap orang memiliki titik dan porsi damai-nya masing-masing. Terkadang dengan kesuksesan dan keberhasilan yang telah kita raih, mendatangkan kedamaian dan ketentraman dalam hati. Kepuasan, kesenangan, dan kelegaan atas usahanya itu. Namun apakah itu dapat menjadi bekal kita menghadap kepada Sang Pencipta. Itulah damai dalam persepsi yang lain. Ketika seorang hamba telah mampu konsisten dan istiqomah tunduk dan patuh kepada segala perintah Allah dan berusaha menjauhi laranganNya, maka kedamaian hakiki lah yang mampu ia rasakan. Oleh karenanya, kemungkinan pesan tersirat dalam elegi di atas adalah menggapai kedamaian dalam hidup bukanlah melulu karena kesuksesan urusan duniawi yang telah diraih, namun juga tentang upaya kita dalam beramal, berilmu, dan beribadah dalam rangka mendapatkan ketenangan dan ketentraman hati sebagai bekal diri ketika menghadap kepada Sang Ilahi, Wallahu’alm bishowab.

    ReplyDelete
  65. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan bahwa saat seseorang telah mencapai kemenangan sesuai dengan definisi kemenangan dirinya maka dia kana merasa telah menggapai kedamaian. Namun sering kali kedamaian yang didefinisikan menurut dirinya tersebut membatasi potensi yang dimilikinya. Dia akan merasa sudah nyaman sehingga dia tidak mau berusaha lebih baik lagi. Berbeda apabila dia mendefinisikan kemenangannya dengan keikhlasan maka kedamaian yang dia peroleh akan lebih memotivasi dirinya. Oleh karena itu setiap perbuatan memang harus disertai dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  66. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kedamaian merupakan titik dimana kita merasakan kenyamanan yang hakiki di dalma diri kita. Kedamaian merupakan tujuan dari kehidupan kita. Kedamaian yang saya maksud disini adalah meninggal dalam keadaan khusnul khotimah dan di ridhoi alloh swt untuk menikmati syurga yang telah dijanjikan. Kedamaian bisa tersebut bisa kita peroleh ketika kita memang benar-benar taat pada aturan-aturan yang telah ditentukan. Dalam proses taat ini tidaklah mudah karena banyak sekali godaan godaan yang memang dipersiapkan untuk menguatkan iman kita. Oleh karena itu, kedamaian akan benar-benar kita peroleh ketika iman kita sudah kuat dalam menghadapi cobaan-cobaan yang ada.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  67. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini yang saya pahami adalah mencari ilmu itu dilakukan sepanjang hayat. Saat kita puas dan merasa jelas dengan suatu ilmu yang kita miliki, itu artinya kita telah termakan kesombongan. Sehingga janganlah pernah merasa puas dan jelas dengan ilmu yang telah kita miliki. Ilmu itu selalu berkembang, sehingga ketika puas dengan ilmu yang sudah kita miliki maka dengan berjalannya waktu kita akan tenggelam dari ditinggalkan perkembangan zaman. Marilah selalu menuntut ilmu disetiap langkah kehidupan untuk menggapai kebahagian dan kedamaian di dunia dan akhirat. Terimakaih.

    ReplyDelete
  68. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam elegi ritual ikhlas 31: menggapai kedaiaman ini bahwa kedamaian itu datangnya dari hati dan dengan niat yang tulus serta ikhlas. Oleh karena itu menjadi orang yang ikhlas sejak sekarang lebih baik daripada tidak sabaran ketika tua dan tidak berdaya. Dalam hidupnya manusia yang memiliki rasa tulus ikhlas tidak akan pernah merugi dan kehidupannya akan damai.

    ReplyDelete
  69. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Kedamaian yang abadi hanya ada di sisi Allah SWT, yaitu ketika kita berhasil mengapai syurga Allah SWT. Jika kedamaian di dunia, saya analogikan sebagai langkah-langkah kehidupan. Manusia dengan karunia akal dan hati seyogyanya mengapai ilmu untuk membekali dihari penghitungan amal, saya ibaratkan manusia hendaklah seperti tanaman padi yang berbiji lebat yaitu posisinya semakin menunduk artinya manusia semakin bertambah usia tidak malah berhenti belajar namun tetap mencari ilmu. Ketika kita berhasil mengetahui salah satu pengetahuan artinya kita melangkah maju, maka hendaklah kita menambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain, hal ini dimaksudkan agar langkah kaki kita semakin jauh ke depan.

    ReplyDelete
  70. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Semua orang selalu ingin hidup dalam kedamaian. Setiap orang memiliki ukuran perdamaian yang tidak sama dengan orang lain. Siapa yang bisa menjamin perdamaian hanya kepastian Allah swt.
    Untuk mendapatkan kedamaian kita hanya perlu selalu mendekatkan diri kepada Allah. Beribadah dan berdoa adalah cara untuk lebih mendekatkan diri pada Allah. Berdoa dengan ketulusan hati adalah kuncinya. Dengan berdoa yangdisertai ketulusan hati maka hal-hal baik akan terjadi dan akan terhindar dari hal-hal yang buruk.

    ReplyDelete
  71. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Kedamaian itu terletak dalam hati. Kedamaian dapat dicapai seseorang jika hatinya terasa tentram, nyaman, dan aman. Kedamaian dapat dicapai melalui banyak berdzikir, selalu rendah hati, dan mengingat Allah SWT. Jika hati mulai melakukan hal yang buruk seperti sombong, riya', dan lain-lain maka seseorang telah kehilangan kedamaian dirinya.

    ReplyDelete
  72. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. setiap orang tentu mendambakan kedamaian, dengan kedamaian hati merasa tentram dan bahagia. Dari hasil membaca elegi yang Prof. Marsigit tulisakan, saya merfleksi bahwa terkadang manusia terlalu berlebihan dalam merasa senang dan damai. Manusia lupa untuk terus belajar dan bertanya karena merasa sudah cukup bahagia. Padahal dalam hidup hendaknya selalu bertanya dan belajar.

    ReplyDelete
  73. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Kedamaian identik dengan ketenangan, kesejukan, kebahagiaan, ketentraman. Sungguh nikmat jika kita telah mencapai kedamaian. Kita dapat mencapai kedamaian dengan ilmu yang bermanfaat. Namun jangan cepat puas dengan ilmu yag kita dapat, kita harus terus mencari ilmu untuk terus merasakan kedamaian tersebut.

    ReplyDelete
  74. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Semakin kau mendayung sampan semakin terasa lautan yang luas. Demikianlah ilmu yang tiada batasnya. Maka tidak heran ada pepatah yang menyebutkan, tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat. Jangan biarkan diri kita merasa puas atas ilmu yang telah digenggam karena ini adalah jebakan ruang dan waktu yang salah sehingga kita termakan oleh mitos. Oleh karena itu, kita harus senantiasa menggali potensi ikhtiar karena sebenar-benar dirimu adalah ilmumu.

    ReplyDelete
  75. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Jika kita merasa memiliki banyak ilmu kemudian menjadi lalai dan terjebak dalam zona nyaman kedmaian, maka sesungguhnya kita tengah terjebak mitos. Perintah untuk menuntut ilmu dari ayunan hingga liang lahat tentu memiliki makna yang besar, jika kita mau berpikir perintah tersebut sesungguhnya menggambarkan betapa besar dan luasnya ilmu. Bahkan sampai kita meninggal dunia ilmu itu tidak akan habis kita pelajari. Inilah kuasa Allah yang begitu sempurna. Maka dari itu jika kita merasa bahwa dirikita sudah memiliki banyak ilmu disitulah sesungguhnya kita sudah berlaku sombong. Karena setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki manusia sesungguhnya tidak lebih dari sebutir pasir di samudra. Maka dari itu janganlah berlaku sombong. Ilmu yang diberkasi sesungguhnya akan membawa kita semakin menyadari bahwa ilmu kita tak ada artinya dibanding dengan semua ilmu yang ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  76. Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    ReplyDelete

  77. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Artikel di atas menjabarkan kepada kita tentang arti kedamaian dan pentingnya ilmu pengetahuan. Kedamaian adalah salah satu hal yang relatif. hal tersebut akan menjadi berbeda antara satu orang dengan orang yang lain. kita akan memperoleh kedamaian jika kita memiliki pengetahuan. Jadi, kita harus banyak memiliki pengetahuan dengan cara menuntut ilmu dengan ikhlas. Menuntut ilmu itu tidak memiliki batasan waktu, sejak kita lahir sampai nanti habis masa kita di dunia pun kita setiap harus akan terus memperoleh ilmu. Manusia yang tidak mempunyai keinginan untuk terus menambah ilmu pengetahuannya adalah menusia yang sombong, sedangkan manusia yang sombong tidak akan memperoleh apa-apa.

    ReplyDelete
  78. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Zona nyaman juga bisa dikatakan sebagai sbuah kedamaian, pada zona nyaman kita sudah dibatasi oleh mitos-mitos yang membuat kita berpikir bahwa ilmu kita sudah sampai batasnya. Padahal jelassekali ilmu itu berdimensi, ekstensif dan intensif. Meliputi yang ada dan yang mungkin ada, sangat jauh kiranya jika berpandangan telah menguasai segala ilmu.

    ReplyDelete
  79. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dalam mengapai kedamaian tentunya juga diperlukan ilmu. Kedamaian itu pasti,meliputi ketenangan hati dan piker. Ikhlasnya niat dan doa, serta ikhtiar akan mengantarkan dri pada ilmu. Kesombongan dalam menentukan diri sudah menggapai damai maka akan menghambat ilmu itu sendiri.

    ReplyDelete
  80. Latifah Fitriasari
    PM C

    Kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Itu terjadi karena ilmu mampu menembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyingkap yang tersembunyi. Dalam hal ini ilmu adalah salah satu perbuatan baik yang memiliki dampak positif. Dampak tersebut bisa diterima bagi penerima maupun pemberi ilmu. Itulah arti penting ilmu yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Setiap hal di dunia memerlukan ilmu. Karena menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi seorang muslim,sesuai syariatnya. Sehingga ilmu sangat penting untuk kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

    ReplyDelete
  81. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Setiap manusia pasti menginginkan kedamaian. Maka untuk menggapai kedamaian kita harus senantiasa menuntut ilmu. Untuk menggapai damai bukannya dengan diam dan merasa tidak terjadi apa-apa. Karena diam bukan berarti damai. Diam justru menandakan kita tengah terperangkap dalam ruang gelap. Maka sebagai manusia kita tidak boleh diam. Kita harus senantiasa menuntut ilmu dan menuntut ilmu selama kita masih diberi kesempatan.

    ReplyDelete
  82. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Ilmu dunia maupun ilmu akhirat penting untuk dimiliki setiap orang. Dengan berilmu, kita dapat merasa damai. Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang menuntut ilmu. Kita memerlukan ilmu agar bisa meninggalkan dunia secara khusnul khotimah. Maka dari itu, kita jangan pernah merasa sombong dan puas dengan ilmu yang kita miliki, karena setinggi-tingginya ilmu adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  83. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Menggapai kedamaian hidup dapat dilakukan dengan melakukan pencarian ilmu secara ikhlas. Dengan adanya ilmu yang baru dan selalu berkembang/bertambah menunjukkan bahwa kita selalu bergerak untuk berpikir. Kedamaian dapat dicapai apabila seseorang memiliki pengetahuan yang luae mengenai banyak hal. Sehingga orang tersebut akan terbuka dengan pemikiran yang lainnya dan tidak tertutup dengan pengetahunan yang baru.

    ReplyDelete
  84. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Menuntut ilmu merupakan kewajiban dalam agama islam. Oleh karena itu perintah pertama Tuhan kepada umat manusia adalah menuntut ilmu. Kenapa menuntut ilmu. Karena ilmu dapat menjaga kita, orang yang berilmu akan dinaikkan derajatnya satu derajat lebih tinggi dari pada orang yang tidak berilmu. Oleh karena itu marilah kita menuntut ilmu dengan ikhlas. Karena menuntut ilmu meruapakan suatu kewajiban.

    ReplyDelete
  85. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual ikhlas ke 31 : menggapai kedamaian menjelaskan tentang kepuasan mencapai sesuatu hingga menyebabkan kedamaian dalam dirinya, namun seperti yang kita ketahui bahwa sebenar-benarnya hidup adalah ilmu. Elegi ini menceritakan bahwa meskipun kita telah mencapai titik dimana hidup ini sudah lengkap atau tercipta kedamaian dalam diri hendaknya kita tidak pernah puas dengan ilmu yang kita miliki, karena ilmu tidak ada batasnya. Sebagai manusia kita dituntut untuk mencari ilmu sampai akhir hayat kita, bahkan ketika kita matipun kita masih memerlukan ilmu, karena kita memerlukan ilmu bagaimana bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah

    ReplyDelete
  86. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Cita-cita seorang hamba ialah dapat memperoleh kenikmatan terbesar, yakni melihat wajahNya, namun karunia itu tidak akan diberikan kepad sembarang orang. Adapun pintunya ialah dengan khusnul khatimah (akhir hayat yang baik). Seseorang di akhir hayatnya akan merefleksikan kehidupan yang telah ia jalani, kata-kata yang terlontar terakhir kalinya ialah kata-kata yang biasa ia pergunakan dalam kehidupan sehari-hari. jika ia suka mencibir, maka yang keluar ialah kata-kata cibiran, jika ia senang mengeluh maka yang keluar tak lain ialah keluhan, maka sebenar-benar harapan seseorang ialah meninggal dalam keadaan melafalkan kalimat-kalimat yang baik. Sehingga haruslah seseorang itu membiasakan diri berkata dengan perkataan yang baik dan berkalimah tayyibah, Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  87. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Seseorang tidak akan merasa damai kecuali ia tak lagi membutuhkan apa yang tidak ia milliki atau dengan kata lain, kedamaian akan mneghampiri seseorang yang senantiasa bersyukur dan merasa bahwa apa yang ia miliki sudah lebih dari cukup dan melalu menghaturkan rasa syukur dan terima kasih kepada Allah SWT. Maka secara spiritual diperlukan sikap tawadhu dan qanaah. Qanaah berarti sikap yang menerima apa adanya. Menarima apa adanya di sini tidak serta merta duduk berdiam diri sembari menunggu rizki Allah turun melainkan tetap berusaha sebaik-baiknya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  88. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Sesungguhnya tidak ada kemenangan sejati saat dalam hidup. Tidak ada kata cukup saat kita mencari ilmu. Kita tidak bisa mengatakan jelas akan suatu hal, lalu membuat malas mencari kejelasan yang lain. Dalam elegi ini menunjukan kehidupan kita, dimana ketika kita telah mencapai sesuatu lantas kita telah menang lalu lekas merayakannya, sungguh sedih membacanya, karena sejatinya kita masih malakukannya. Ampuni kesalahan dan kehilafan hamba ya Rabb. Sehingga sebenarnya tiada akhir dari perjuangan mencari ilmu itu sendiri karena hidup ini adalah ilmu itu sendiri. Berhentinya kita mencari ilmu ketika kita telah berpisah antara nyawa dan raga ini. Semoga akhir kisah dan perjuangan kita berakhir husnul khotimah. AmiinnS

    ReplyDelete
  89. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PMA

    Ada saatnya setelah kita berusaha sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya untuk menggapai cita-cita, kita harus berserah dan berikhtiar. berdamai dengan diri sendiri dan dunia disekitar kita. untuk bersiap menjemput kedamaian yang abadi diakhirat nanti, tapi jika kita masih mampu, jangan pernah merasa puas dengan apa yang kita dapat.

    ReplyDelete
  90. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Batas Perjalanan Kehidupan manusia itu tidak ada yang mengetahui selain Tuhan YME. Jangan hanya karena memperoleh kedamaian dan kemenangan sesaat itu mereka terjebak dalam euphorianya, di dalam kesenangannya. Karena jika itu berarti dia telah melupakan jalan hidupnya yang tidak hanya berhenti di saat itu, masih ada hari esok, esok, esok…dan esoknya lagi, maka seharusnya semuanya disikapi kedamaian dan kemenangan keikhlasan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  91. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dari elegi ini, saya belajar bahwa sesungguhnya kita masih harus banyak belajar. Sebanyak-banyak ilmu yang kita dapat, masih ada hal selanjutnya yang perlu kita pelajari. Jangan pernah puas atau sombong dengan ilmu yang dimiliki. Dan bahkan banyak hal yang pikiran kita tidak bisa jangkau.

    ReplyDelete
  92. Shelly LUbis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Itulah sebabnya mengapa islam memerintahkankita untuk terus belajar dari sejak kita lahir hingga kita wafat. bahkan bayi yang lahir saja belajar. hanya orang yang sombong yang merasa talah memiliki ilmu yang cukup dan tidak merasa perlu lagi untuk belajar. belajar itu tidak melulu terkait akademis. seorang suami sepatutnya terus belajar bagaimana menjadi suami yang baik dalam pandangan Allah, begitu pula seorang istri. maka belajar itu tidak akan pernah selesai.

    ReplyDelete
  93. Assalamualaikum Wr. Wb. Harus diakui bahwa, meskipun tujuan kita hidup di dunia untuk menggapai kedamaian, namun kehidupan kita diikat oleh hukum dialektik di mana setiap entitas memiliki kutub yang berkontrdiksi dengannya. Ada siang dan malam. Ada suka dan duka. Ada senang dan sedih. Ada amal dan dosa. Ada hidup dan mati. Dua kutub tersebut saling merasuki sehingga tak bias kita menetapkan ada tidaknya kedamaian hakiki itu. Namun yang harus kita pahami adalah, dunia ini hanyalah persinggahan, sehingga kedamaian yang didapatkan adalah ketika berada pada jalan Allah menuju kedamaian sejati yaitu alam akhirat. Semoga kita selalu berada dalam jalan yang lurus dan ditempatkan pada Syurga Allah. Aamiin!!

    ReplyDelete
  94. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi menggapai kedamaian, kedamaian tidak benar-benar ada dalam kehidupan ini. Kedamaian hanya masalah ruang dan waktu serta peranan dari sudut pandang seseorang. Kedamaian hidup, kedamaian hati, kedamaian pikiran, dan kedamaian yang lainnya hanya bisa digapai dan diperoleh dengan keihklasan. Dalam hidup ini, ada banyak tuntutan dan kewajiban yang harus kita lakukan sebagai manusia, sebagai hamba Allah SWT, maka kedamaian itu akan kita nikmati bila kita memenuhi kewajiban itu dan ikhlas selama prosesnya.

    ReplyDelete
  95. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    semua orang pasti mendambakan kedamaian dan ketenangan hidup. kunci damai adalah menikmati dan menjalani sesuatu dengan ikhlas. selain itu juga bisa dengan membaca Al-Qur'an, dengan membacanya hati kita bisa menjadi tenang.

    ReplyDelete
  96. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Hidup di dunia ini adalah berusaha untuk menemukan kedamaian dengan terus mencari ilmu sehingga kita bisa menjadi manusia yang berpikir kritis, memiliki hati yang jernih dan mampu menyikapi setiap masalah secara bijak. Seseorang yang merasa puas dengan apa yang didapatkannya sesunggugnya hanyalah merugi, karena ilmu itu sangatlah tidak terbatas. Hanya saja sampai mana kita mampu memaknainya.

    ReplyDelete
  97. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Merasa puas dan merasa telah menggapai ilmu adalah kesombongan diri yang akan menjebak pikiran sehingga enggan menuntuk ilmu lagi. Jangan sampai kita rugi karena merasa tak perlu lagi belajar. Jangan sampai kita merasakan pahitnya kebodohan karena tak mau melawan lelahnya belajar. Setelah membaca beberapa postinan dalam blog ini memang saya merasa mulai mendapatkan kepuasan, namun saya sadar kepuasan yang saya rasakan itu semu. Sesungguhnya itu adalah rasa sombong yang muncul yang hendak menghentikan saya untuk terus membaca postingan di blog ini. Saya sadar dan melawan rasa puas tersebut. Saya yakin masih banyak ilmu yang harus saya gali karena ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit. Semoga kita selalu jadi manusia yang haus akan belajar dan tidak terlena oleh kedamaian yang mengarah pada malas menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  98. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Maka tidak mungkin bagi kita untuk menghentikan jalannya pikiran kita selagi kita masih bernyawa dan sehat akal. Jangan pernah merasa cukup dengan sedikit ilmu saja. Gapai dan tuntutlah ilmu sebanyak banyaknya selama kita hidup di dunia ini. Jangan sampai kita terperosok dalam kebodohan karena malas menuntut ilmu. Jangan sampai kita merasa lelah dan puas jika sudah mendapatkan tambahan ilmu.

    ReplyDelete
  99. Alman Kresna Aji
    15301241022
    S1 Pendidikan Matematika 2015
    Menurut saya, benar bahwa hidup yang sejati adalah ilmu. Ilmu yang sejatinya akan menyadarkan kita bahwa begitu kecilnya dan lemahnya kita dihadapan Allah SWT. Selain itu dengan adanya ilmu seharusnya kita akan semakin dekat dengan Allah SWT sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kedamaian itu juga merupakan ilmu, dimana ilmu tersebut merupakan ilmu yang akan mendekatkan kita kepada Sang Pencipta

    ReplyDelete