Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 31: Menggapai Kedamaian



Oleh: Marsigit

Kemenangan yang datang:

Terang teranglah sudah. Puas puaslah sudah. Akhirnyanya kesampaian juga harapanku. Inilah yang selamanya aku cari. Telah aku korbankan segalanya untuk menemukan kedamaian. Damai damailah sudah. Kini saatnyalah aku perlu bereuporia dalam kedamaianku. Dalam damaiku ini aku akan lebih banyak berafirmatif daripada berinterogated. Karena selama berafirmatif itulah aku terbebas dari keraguanku. Aku terbebas dari pertanyaanku. Inilah kepastian yang selama ini aku cari. Maka dalam kedamaianku maka pasti dan pastilah aku. Tiada keraguan lagi bagiku. Maka selesailah perjuanganku. Selesai dan selesai. Maka menanglah diriku. Menang dan menang. Maka merdekalah aku dalam kedamaian dan merdekalah aku dalam kemenangan

Memperdalam makna kemenangan:
Yah kemenangan itu begitu indahnya bagiku. Aku akan selalu menyanyikan kemenanganku itu dalam lagu dan syair kalimat afirmatif. Karena dengan kalimat afirmatif maka aku bisa selalu dalam kemenangan dan kepastian. Maka kujaga dan kupegang erat-eratlah kalimat afirmatif. Dan saya tidak mau lagi direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan lagi. Inilah ilmuku. Inilah kepastianku. Inilah kemenanganku. Dalam kemenangan ini aku merasa seperti dalam ruangan yang serba indah dan serba ada. Tiadalah kekurangan dalam diriku. Maka hanyalah tinggallah satu yang perlu aku gapai, yaitu ketika aku harus mengahadap kepada sang Kholik. Tetapi kapan ya itu?

Begitu mendengan kalimat terakhir sebagai pertanyaan, maka muncullah orang tua berambut putih:
Salam, wahai hamba Tuhan. Terimakasih engkau telah memanggilku kembali. Apa khabar? Baik-baik saja bukan? Aku telah lama tidak berjumpa denganmu. Kemana sajakah engkau? Kelihatannya wajahmu berbinar-binar. Sepertinya hatimu juga bergembira. Kelihatannya engkau baru saja meraih sesuatu atau mencapai suatu hasil yang besar bahkan mungkin sangat besar.

Hamba menggapai kedamaian:

Salam, kembali wahai orang tua berambut putih. Benar apa yang engkau katakan. Ketahuilah bahwa aku sedang menikmati kemenanganku sendiri, maka janganlah kau usik diriku dengan titah-titahmu lagi. Semuanya yang engkau katakan, semuanya yang engkau pikirkan bahkan semuanya yang akan engkau ucapkan, terkira-kira aku telah mengetahuinya. Aku telah mengetahui prinsip dan pokoknya. Aku telah mengetahui arah dan tujuannya. Jadi biarlah aku menikmati kepastian dan kemenanganku ini sendirian tanpa engkau usik kembali. Maka sebenar-benar aku sekarang adalah aku yang tidak lagi memerlukanmu. Inilah yang selama ini aku perjuangkan. Inilah yang selama ini berusaha raih dengan segenap pengorbananku. Maka sekali lagi, aku dapat katakan bahwa diriku sekarang adalah sebenar-benar diriku yang tidak memerlukan dirimu lagi. Bahkan ketika engkau mengaku sebagai pertanyaanku dan ketika engka mengaku sebagai ilmuku sekalipun, maka sebenar-benar bahwa aku tidak lagi memerlukan dirimu lagi. Kenapa engkau hanya diam seribu bahasa. Bukankah engkau tadi juga sempat pergi, tetapi mengapa sekarang engkau menghampiriku lagi, wahai orang tua?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai, biarkan aku terdiam sejenak. Aku memerlukan waktu sejenak untuk meneteskan air mataku. Maka tidak pula hanyalah engkau yang menginginkan diam dan tenang. Akupun demikian. Maka sebenar-benar diriki sekarang adalah diriku yang tidak ingin engkau usik. Yaitu ketika aku diam. tetapi ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa diamku tidak lah sama dengan diammu. Jikalau diammu engkau rasakan sebagai euporia kemenangan. Maka diamku adalah euporia kesedihan. Aku terdiam karena tidak bisa melantunkan kata-kataku. Aku terdiam karena memberi kesempatan kepada diriku untuk menangis. Tetapi mengapa ketika ketika aku terdiam dan menangis, engkau pergi dari hadapanku?

Hamba menggapai kedamaian menhampiri orang tua berambut putih:

Wahai orang tua berambut putih. Aku baru mengalami kejadian yang luar biasa yang menimpa diriku. Ketika engkau bertanya kenapa aku pergi, maka datanglah energi yang luar biasa dasyatnya sehingga melemparkan diriku ke tampat yang jauh. Ternyata tempat yang sangat jauh itu tidak lain tidak bukan adalah tempat di depanmu ini. Itulah mengapa serta merta aku menghampirimu, ketika engkau membuat pertanyaan. Tetapi aku tidak mengetahui dari manakah energi sebesar itu?

Orang tua berambut putih terperanjat mendengar penuturan hamba menggapai damai:

Oh hamba menggapai damai. Bukankah keadaanmu sekarang adalah bertentangan dengan apa yang engkau katakan dan engkau cita-citakan. Bukankah engkau merasa telah menemukan kedamaianmu? Engkau telah menemukan kepastianmu. Maka engkau ingin hidup menyendiri. Dan engkau tidak lagi memerlukan pertanyaan-pertanyaan. Bahkan dengan sombongnya engkau tidak lagi menginginkan ilmu. Tetapi kenapa engkau masih melantunkan pertanyaan-pertanyaanmu? Bukankah engkau masih ingat bahwa pertanyaanmu itu adalah ilmumu. Ilmumu tidak lain-tidak bukan adalah diriku. Mengapa di satu sisi engkau menampikku sekaligus merindukanku? Bukanlah itu kontradiksi dalam pikiranmu?

Hamba menggapai damai:

Wahai orang tua berambut putih. Kenapa pertanyaanmu yang terakhir juga telah menyebabkan aku terlempar di depanmu? Perkenankanlah aku juga menginginka diam sejenak untuk sekedar meneteskan air mataku. Yang sekarang ini diamku agak berbeda dengan waktu yang lalu. Aku sedih karena aku juga melihat bahwa dalam dirimu terdapat kontradiksi. Bukankah engkau pernah mengatakan bahwa kontradiksi adalah sebenar-benar ilmu dalam pikiranku. Kenapa engkau menyesali kontradiksi itu?

Orang tua berambut putih:
Wahai hamba menggapai damai. Ingin aku katakan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku baru saja mengalami peristiwa seperti apa yang engkau alami. Begitu engkau melantunkan pertanyaanmu, maka datanglah energi yang besar sehingga melemparku ke hadapanmu.

Hamba menggapai batas dan orang tua berambut putih terhentak oleh kesadarannya sendiri, dan bersama-sama melantunkan kata-kata:
Jikalau engkau adalah ilmuku, maka aku ternyata adalah juga ilmumu. Maka aku telah menemukan bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa aku dan engkau tidak dalam keadaan diam. Aku menjumpai bahwa aku dan engkau saling datang dan pergi. Aku dan engkau saling bertanya dan menjawab. Aku dan engkau saling memerlukan dan berjuang. Aku dan engkau belum berhenti. Aku dan engkau belum memperoleh kepastian. Aku dan engkau masih diliputi keraguan. Maka belumlah selesai perjuangan hidupku ini. Maka belumlah ada sebenar-benar kemenangan itu. Tetapi mengapa kita terburu-buru merayakannya?

Hamba yang lain datang menghapiri:
Wahai hamba menggapai batas. Bolehlah engkau menyebut diriku sebagai hamba ataupun sebagai orang tua berambut putih. Itu sama saja buatku. Tetapi aku juga terpaksa datang oleh karena pertanyaanmu yang terakhir. Aku ingin menyampaikan bahwa sebenar-benar menggapai ilmu tiadalah ada akhir batasnya. Maka “keadaan jelas” bagimu adalah sebenar-benar ancaman bagimu. Barang siapa telah merasa jelas akan sesuatu maka seketika “ruang gelap” telah menantimu. Mengapa? Karena bisa saja jelasmu itu adalah jelasnya sekedar ruanganmu, bukankah engkau juga menginginkan jelas pula untuk ruangan di sebelahmu. Bagaimana mungkin engkau memperoleh jelas akan ruang di sebelahmu jikalau engkau terperosok dalam-dalam pada suatu ruang saja. Bukankah “diam” mu itu menunjukkan bahwa engkau sedang menikmati “keterperosokkanmu” di dalam “ruang gelapmu”. Itulah sebenar-benar bahaya di muka bumi ini, yaitu jika seseorang telah merasa jelas akan sesuatu, sehingga yang demikian telah menghilangkan ikhtiarnya untuk memperoleh pengetahuan selanjutnya. Bukankah itu adalah kesombongan luar biasa bagi seseorang yang telah merasa bisa sehingga merasa toidak perlu lagi mencari pengetahuan yang lainnya. Maka sebenar-benar bahaya adalah ruang-ruang gelap yang setiap saat siap menerkammu sehingga engkau puas dalam kedamaian kepastianmu. Ketahuilah bahwa tiadalah sesuatu yang pasti di dunia ini. Kepastian itu hanyalah milik Allah SWT. Maka jikalau seseorang telah menolak ilmu-ilmunya, maka sulitlah bahwa dia masih dapat dikatakan sebagai sebenar-benar hidup di dunia ini. Ingatlah bahwa sebenar-benar hidup adalah ilmu. Bahkan ketika matipun kita masih memerlukan ilmu. Bukankah kita memerlukan ilmu bagaimana kita bisa meninggalkan dunia ini dengan khusnul khotimah. Amien Ya robbal alamin.

11 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Ikhlas hati dan ikhlas pikiran adalah suatu kemenangan diatas segalanya. Saya ingat dengan pepatah mengatakan “Padi semakin berisi semakin merunduk” maka siapa saja yang berbuat kesombongan karena merasa memiliki ilmu maka tunggulah malapetaka kehancuran akan datang menghampiri. Untuk menggapai kedamaian, maka kuncinya adalah ikhlas dalam menjalankan roda kehidupan dalam hal segalanya dalam ruang dan waktunya. Untuk mencapai titik spiritualitas yang tinggi dibutuhkan hati yang ikhlas dan pikiran yang ikhlas. Itulah sebenar-benarnya menggapai kedamaian.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Kedamaian itu begitu indah. Setiap orang pasti menginginkan suatu kedamaian, entah dalam hati ataupun pikiran. Dalam hidup, seseorang juga pasti mengininkan hidup yang damai, rukun, tentram, nyaman dan lain sebagainya. Melalui belajar kita dapat memperoleh ilmu yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita. Menggapai ilmu tiada batas akhirannya. Menuntut ilmu dimulai sejak kita lahir hingga mati. Selain itu menuntut ilmu juga tidak terbatas oleh ruang dan waktu, kapanpun dan dimanapun. Jadi jangan lah cepat puas dengan ilmu yang kita miliki. Akan tetapi kita tidak boleh sombong dengan ilmu yang kita miliki karena kesombongan akan membakar apa yang telah kita dapat dan akan menghalangi ilmu baru yang akan kita terima.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Kedamaian merupakan perasaan dalam diri seseorang yang semuanya bersumber dari ketenangan hati. Namun Setiap orang di dunia ini mempunyai standar atau indikator-indikator tersendiri dalam mencapai yang namanya kedamaian. Kemudian kedamaian itu kita harus mencarinya dan tentunya dengan pengetahuan. Yah, dengan menuntut ilmu. Karena dengan ilmu seseorang akan merasakan kedamaian. Sebab ilmu adalah konsumsi hati, dan orang yang paling berilmu adalah mereka yang dekat dengan Allah dan selalu ingat akan kematian (zikir).

    ReplyDelete
  4. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. setiap orang tentu mendambakan kedamaian, dengan kedamaian hati merasa tentram dan bahagia. Dari hasil membaca elegi yang Prof. Marsigit tulisakan, saya merfleksi bahwa terkadang manusia terlalu berlebihan dalam merasa senang dan damai. Manusia lupa untuk terus belajar dan bertanya karena merasa sudah cukup bahagia. Padahal dalam hidup hendaknya selalu bertanya dan belajar.

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum.

    Pada zaman ini, kata kedamaian mengalami anomali arti. Sehingga, beda orang beda arti. Kedamaian bagi powernow adalah ketika dirinya dapat mengatur dan menundukkan seluruh dunia. Lihatlah powernow saat ini, dia masuk ikut campur ke negeri-negeri lain. Katanya adalah untuk mendamaikan, memerdekakan. Tapi yang tampak di negeri yang dimasuki oleh armada powernow hanyalah pembunuhan anak-anak, wanita, dan orang-orang renta. Sedangkan bagi negara yang dimasuki powernow, kedamaian adalah ketika powernow belum ada. Bagi negara-negara penonton, kedamaian adalah ketika mereka tidak ikut campur.

    Ahmad Bahauddin
    16709251058
    Pendidikan Pascasarjana UNY S2 Angkatan 2016 Kelas C

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Kedamaian bukan berarti kita harus berada di tempat tanpa keributan, kesulitan atau pekerjaan yang keras dan sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meski kita berada ditengah-tengah keributan luar biasa. Tidak ada yang bisa membantu kita mencapai kedamaian hati kecuali kita mengubahnya sendiri, karena kedamaian hati adalah kedamaian sejati.

    ReplyDelete
  7. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Jika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, kita tidak boleh menyombongkannya kepada orang lain. Jika kita merasa sudah di langit, masih ada langit yan lebih tinggi lagi dari yang kita raih. Itu merupakan sesuatu yang bisa mengingatkan kita untuk selalu rendah hati, jika masih ada yang lebih dari apa yang telah diraih oleh kita. namun jangan lupa bersyukur, karena masih banyak pula yang tidak seberuntung kita. Belajar memang tak terbatas oleh waktu, ilmu yang kita dapat selalu bertambah seiring berjalannya waku, dan kita harus selalu berusaha dan berkembang dalam meraih ilmu.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Kedamaian identik dengan ketenangan, kesejukan, kebahagiaan, ketentraman. Sungguh nikmat jika kita telah mencapai kedamaian. Kita dapat mencapai kedamaian dengan ilmu yang bermanfaat. Namun jangan cepat puas dengan ilmu yag kita dapat, kita harus terus mencari ilmu untuk terus merasakan kedamaian tersebut.

    ReplyDelete
  9. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai meski Anda berada di tengah-tengah keributan luar biasa. Ketrentraman jiwa itu akan membawa kepada kenikmatan pada segala karunia-Nya baik berupa nikmat maupun sebagainnya semuanya itu datang dari dalam diri anda sendiri.

    ReplyDelete
  10. Setiap orang menginginkan kedamaian. Kedamaian dalam hati, dalam pikiran, dalam kehidupan. Tetapi manusia harus menyadari bahwa keadaan damai itu hanya mengikuti persepsi dari individu itu sendiri. Kedamaian terjadi dalam saat-saat tertentu setelah itu harus kembali menghadapi hidup untuk mmeperoleh kedamaian berikutnya. Seperti kemenangan dari suatu pertandingan hanya terjadi beberapa saat setelah itu harus kembali kepada usaha untuk mendapat kemenangan yang lain. Seperti memperoleh kejelasan maka tidak langsung puas dengan kejelasan tersebut tetapi mencari kejelasan untuk ruang dan waktu yang lain. Keadaan diam untuk kedamaian, kemenangan, dan kejelasan merupakan kesombongan karena tidak bergerak untuk mencari kedamaian, kemenangan, dan kejelasan yang berikutnya.

    ReplyDelete
  11. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Hidup damai adalah harapan semua orang. Untuk menggapai damai, adalah dengan memilik iman dan ilmu. Jangan sampai kita cepat puas dengan iman ilmu yang kita miliki. Karena iman dan ilmu itu tidak terbatas adanya. Menuntut ilmu itu tidaklah cukup sebatas tamat smp, sma, s1, s2, s3, namun menuntut ilmu itu diwajibkan kepada semua orang sampai detik nafas terakhir. Berusaha dan berusaha yang harus dilakukan dalam menggapai ilmu. Dan sebenar-benarnya kedamaian adalah bagaimana kita menuntut ilmu sampai meninggalkan dunia yang fana ini dan ilmu yang sebenar benarnya harus kita pelajari sampai akhir hayat adalah Alquran.

    ReplyDelete