Apr 5, 2013

Elegi Menggapai "Kant's Discovery of all Pure Concepts of the Understanding"




By Marsigit

In the Critique of Pure Reason, Kant, claims that pure understanding is the source of all principles, rules in respect of that which happens, and principles according to everything that can be presented to us as an object must conform to rules. Accordingly, Mathematics is made up of pure a priori principles that we may not ascribe to the pure understanding which is the faculty of concepts. Kant1 claims that not every kind of knowledge a priori should be called transcendental ; only that by which we know that certain representations can be employed or are possible a priori; and space is the knowledge that the representations are not empirical. Kant2 notes that the distinction between transcendental and empirical belongs only to the critique of knowledge, not to the relation of that knowledge to its objects.

Kant3 perceives truth as agreement of knowledge with its object and the general criterion must be valid in each instance regardless of how objects vary. Since truth concerns the content, a sufficient and general criterion cannot be given. Wallis4 explores the progressive stages of Kant's analysis of the faculties of the mind which reveals the transcendental structuring of experience. First, in the analysis of sensibility, Kant argues for the necessarily spatiotemporal character of sensation; and then Kant analyzes the understanding, the faculty that applies concepts to sensory experience. Kant5 concludes that the ?categories? provide a necessary, foundational template for our concepts to map onto our experience. In addition to providing these transcendental concepts, the understanding is also the source of ordinary empirical concepts that make judgments about objects possible. The understanding provides concepts as the rules for identifying the properties in our representations.
According to Kant6, all combination of an act of the understanding is called synthesis because we cannot apply a concept until we have formed it; and therefore, 'I think' must accompany all my representations. Intuition7 in which representation can be given prior to all thought, has a necessary relation to 'I think? and is an act of spontaneity that cannot belong to sensibility. The identity8 of the apperception of a manifold which is given in intuition contains a synthesis of representations, and is possible only through the consciousness of this synthesis. The analytic unity of apperception9 is possible only under the presupposition of a certain synthetic unity of the manifold of intuition. Kant10 claims that through the 'I' as simple representation, no manifold is given; for a manifold is given in intuition which is distinct from the 'I' and only through combination in one consciousness it can be thought.
Kant11 insists that the supreme principle of the possibility of all intuition in relation to sensibility is that all the manifold of intuition should be subject to the formal conditions of time and space; while, the supreme principle of the same possibility in its relation to the understanding is that the manifold of intuition should be subject to the conditions of the original synthetic unity of apperception. Ross, K.L. (2001) exposes that Kant proposes that space and time do not really exist outside of us but are "forms of intuition," i.e. conditions of perception, imposed by our own minds. While Gottfried, P (1987) notes from Kant that although the forms of time and space are subjective conditions of sensation and depend on their appearance of perceptual activity, they are nonetheless characterized as being a priori. They are antecedent to the specific sensations for which they provide a conceptual frame.
Kant12 states that time existed is not for itself or as an objective quality in things; to conceive of time as something objective would require its presence in things which were not objects of perception. However, since time and space are only knowable as the a priori forms of intuition, any other assumption about them, apart from this context, could not be substantiated. According to Kant13, time is also the form of our inner sense, of our intuition of ourselves and of our own inner situation; belonging neither to any pattern nor place, it determines the relationship of perceptions within our inner situation; because this inner intuition as such assumed no shaper, it had to be imagined by positing succession through a line extending ad-infinitum in which sensory impressions form a uni-dimensional sequence and by generalizing from the attributes of this line to those of time itself.

References:
1 Kant, I., 1787, ?The Critique of Pure Reason: Preface To The Second Edition?, Translated By J. M. D. Meiklejohn, Retrieved 2003
2 Ibid.
3 Ibid.
4 Wallis, S.F, 2004, ?Immanuel Kant (1724-1804)?, New York: Media & Communication, The European Graduate School. Retreived 2004
5 Ibid.
6 Kant, I., 1787, ?The Critique of Pure Reason: Preface To The Second Edition?, Translated By J. M. D. Meiklejohn, Retrieved 2003
7 Ibid.
8 Ibid.
9 Ibid.
10 Ibid.
11 Ibid.
12 Kant, I., 1787, ?The Critique of Pure Reason: Preface To The Second Edition?, Translated By J. M. D. Meiklejohn, Retrieved 2003
13 Ibid.

30 comments:

  1. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Menurut Imanuel Kant, pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori yaitu lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika. Sedangkan sintetik a posteriori yaitu pengalaman yang kita dapatkan untuk menjadi pembelajaran yang penting bagi kita. Belajar tentang konsep murni pemahaman untuk memahami sesuatu dari seluruh materi pelajaran di sekitar kita. Setiap jenis pengetahuan harus disajikan tidak hanya empiris saja. Objek dan kriteria pengetahuan harus sesuai dengan berbagai jenis benda yang dihadapi.

    ReplyDelete
  2. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Immanuel Kant seorang filsuf termasyhur dari Jerman memiliki tiga pokok pemikiran yang harus diketahui terlebih dahulu, dikarenakan pemikirannya begitu original dan terlihat berbeda dari pemikiran para filsuf sebelumnya terutama berangkat dari filsuf Inggris bernama David Hume. Berikut ini pokok pemikirnnya:
    1. Panca indera, akal budi dan rasio. Kita sudah tahu tentang arti empirisme yang mementingkan pengalaman inderawi dalam memperoleh pengetahuan dan rasionalisme yang mengedepankan penggunaan rasio dalam memperoleh pengetahuan, tetapi rasio yang kita ketahui adalah sama dengan akal dan logis, namun Kant memberi definisi berbeda. Pada Kant istilah rasio memiliki arti yang baru, bukan lagi sebagai langsung kepada pemikiran, tetapi sebagai sesuatu yang ada “di belakang” akal budidan pengalaman inderawi. Dari sini dapat dipilah bahwa ada tiga unsur yaitu akal budi (Verstand), rasio (Vernunft) dan pengalaman inderawi.
    2. Dalam filsafatnya Kant mencoba untuk mensinergikan antara rasionalisme dan empirisme. Ia bertujuan untuk membuktikan bahwa sumber pengetahuan itu diperoleh tidak hanya dari satu unsur saja melainkan dari dua unsur yaitu pengalaman inderawi dan akal budi. Pengetahuan a-priori merupakan jenis pengetahuan yang datang lebih dulu sebelum dialami, seperti misalnya pengetahuan akan bahaya, sedankan a-posteriori sebaliknya yaitu dialami dulu baru mengerti misalnya dalam menyelesaikan Rubix Cube. Kalau salah satunya saja yang dipakai misalnya hanya empirisme saja atau rasionalisme saja maka pengetahuan yang diperoleh tidaklah sempurna bahkan bisa berlawanan. Filsafat Kant menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan gabungan (sintesis) antara keduanya.
    3. Dari sini timbullah bahwa Kant adalah seorang Kopernikan dalam bidang filsafat. Sebelum Kant, filsafat hampir selalu memandang bahwa orang (subjek) yang mengamati objek, tertuju pada objek, penelitian objek dan sebagainya. Kant memberikan arah yang sama sekali baru, merupakan kebalikan dari filsafat sebelumnya yaitu bahwa objeklah yang harus mengarahkan diri kepada subjek. Kant dapat dikatakan sebagai seorang revolusioner karena dalam ranah Filsafat Immanuel Kant pengetahuan ia tidak memulai pengetahuan dari objek yang ada tetapi dari yang lebih dekat terlebih dahulu yaitu si pengamat objek (subjek). Dengan ini tambah lagi salah satu fungsi filsafat yaitu membongkar pemikiran yang sudah dianggap mapan dan merekonstruksikannya kembali menjadi satu yang fresh, logis, dan berpengaruh

    Sumber: http://nartocalonlegislator.blogspot.co.id/2014/12/mengenal-immanuel-kant-dan-pokok.html

    ReplyDelete
  3. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pengetahuan mutlak atau utama (a priori) adalah penegetahuan yang tidak didasarkan pengalaman, seperti kucing adalah hitam, yang secara mutlak benar menurut definisininya. Ini merupakan statemen analitik (atau secara umum dikatakan demikian, sebuah tautologi) penolakan terhadap kebenarannya dapat muncul dari kontradiksi.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Menurut Imanuel Kant, pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori yaitu lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika. Sedangkan sintetik a posteriori maksudnya pengalaman yang kita dapatkan dapat menjadi pembelajaran yang penting dalam pembelajaran matematika. Namun demikian, pembelajaran matematika tidak bisa hanya menggunakan salah satunya saja, harus ada logika yang disertai dengan pengalaman. Hal ini bertujuan agar dapat membantu peserta didik membangun pengetahuannya sendiri. Tidak hanya itu, dengan banyak pengalaman belajar matematika maka akan dapat mengembangkan intuisi matematika.

    ReplyDelete
  5. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Menurut Kant, pemahaman bersumber dari prinsip, aturan. Pemahaman adalah syarat dasar pengetahuan. Beberapa yang dapat saya pahami:
    1. Pengetahuan apriori tidak selalu transcendental
    2. Perbedaaan antara transcendental dan empiris hanya ada di pengetahuan, bukan terkait objek tertentu.
    3. Pengetahuan mengandung kebenaran.
    4. Memperoleh pengetahuan dari pengalaman.
    5. Membuat kesimpulan berdasarkan konsep-konsep yang sudah diperoleh.
    6. Eksekusi (tindakan) berdasarkan pemahaman dari pengetahuan yang diperoleh.
    7. Intuisi gabungan pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  6. Untuk dapat memahami pengetahuan maka harus ada kesesuaian antara pemikiran rasio dan empirisnya. Jika hanya mementingkan salah satunya saja maka pengetahuan yang diperoleh mempunyai kebenaran yang meragukan. Pada dasarnya pengetahuan harus mempunyai kebenaran baik dari sisi rasio dan sisi empiris. Seperti siswa yang telah berkata paham terhadap suatu materi maka ketika dites tentang materi tersebut siswa dapat menegrjakannya dengan benar.

    ReplyDelete
  7. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dari elegy ini bahwasannya matematika merupakan sintetik a priori di mana eksistensi matematika tergantung kepada dunia pengalaman manusia dalam mempelajari atau mencari suatu kebenaran.

    ReplyDelete
  8. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Analitik yang berkaitan dengan logika dan penalaran berkaitan dengan pengetahuan. Kant mengemukakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman inderawi dan akal budi. Oleh karena itu jika ingin mempunyai pengetahuan yang banyak maka harus memperbanyak pengalaman inderawi dan melatih akal budi agar menerima pengetahuan dengan baik. Banyak hal yang diperoleh dari pengalaman inderawi, dan pengalaman inderawi tersebut yang memudahkan kita untuk mendapatkan pengetahuan. Akal budi berperan dalam menerima pengetahuan, mengolahnya dan kemudian selanjutnya mengaplikasikan pengetahuan yang dimiliki itu.

    ReplyDelete
  9. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi ini menerangkan bahwa matematika terdiri dari prinsip-prinsip a priori murni yang mungkin tidak kita anggap sebagai pemahaman murni yang merupakan konsep-konsep. Hal ini juga didukung oleh beberapa pendapat Kant bahwa berpikir analitis itu diperlukan dalam menemukan konsep. Pengetahuan dan konsep yag kita bangun berasal dari ahsil berlogika dan bernalar.

    ReplyDelete
  10. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Kant menyatakan bahwa waktu ada bukan untuk dirinya sendiri sebagai kualitas dalam hal objektif, dan untuk memahami waktu sebagai sesuatu yang objektif maka dibutuhkan kehadiran hal-hal yang tidak menjadi objek persepsi. Waktu juga memiliki bentuk seperti rasa batin kita sendiri sehingga perlu hubungan antara persepsi dalam situasi batin kita. Sehingga hal itu akan berdampak terhadap penghargaan terhadap waktu yang kita punya hidup didunia ini.

    ReplyDelete
  11. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)


    Suatu konsep disebut sebagai pengetahuan murni, jika konsep tersebut diabstraksi dari pengalaman dan tidak terjadi secara langsung pada kenyataan. Pada tataran inilah pengetahuan transendental berada.
    Kant menuliskan, “Seluruh pengetahuan berawal dari pengalaman, akan tetapi hal ini tidak berarti, bahwa seluruh pengetahuan berasal secara langsung dari pengalaman”. Dalam hal ini, Kant secara tersirat menyinggung tentang pengetahuan transendental. Pengetahuan transendental bukanlah sesuatu yang dialami itu sendiri. Pengetahuan transendental tidak dapat dibuktikan kebenarannya tanpa pengalaman.
    Jadi, seperti dalam deduksi transendental yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, tanpa kebenaran pada premis 2, kita tidak dapat menarik kesimpulan tentang premis 3. Kant juga berpendapat, tanpa kemampuan akal budi untuk mengorganisasikan dan mengkonseptualisasikan pengalaman, kita tidak akan dapat merasakan pengalaman itu sendiri.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi tersebut menceritakan bagaimana ilmu pengetahuan dalam pandangan immanuel kant’s, kant’s mengatakan bahwa Menurutnya Kant juga, ada tiga tingkatan pengetahuan manusia, yaitu:( a.)Tingkat Pencerapan Indrawi (Sinneswahrnehmung), Unsur a priori, pada taraf ini, disebut Kant dengan ruang dan waktu. Dengan unsur a priori ini membuat benda-benda objek pencerapan ini menjadi ‘meruang’ dan ‘mewaktu’. Pengertian Kant mengenai ruang dan waktu ini berbeda dengan ruang dan waktu dalam pandangan Newton. Kalau Newton menempatkan ruang dan waktu ‘di luar’ manusia, kant mengatakan bahwa keduanya adalah apriori sensibilitas. Maksud Kant, keduanya sudah berakar di dalam struktur subjek. Ruang bukanlah ruang kosong, ke dalamnya suatu benda bisa ditempatkan; ruang bukan merupakan “ruang pada dirinya sendiri” (Raum an sich). Dan waktu bukanlah arus tetap, dimana pengindraan-pengindraan berlangsung, tetapi ia merupakan kondisi formal dari fenomena apapun, dan bersifat apriori yang bisa diamati dan diselidiki hanyalah fenomena-fenomena atau penampakan-penampakannya saja, yang tak lain merupakan sintesis antara unsur-unsur yang datang dari luar sebagai materi dengan bentuk-bentuk apriori ruang dan waktu di dalam struktur pemikiran manusia.(b.) Tingkat Akal Budi (Verstand), Bersamaan dengan pengamatan indrawi, bekerjalah akal budi secara spontan. Tugas akal budi adalah menyusun dan menghubungkan data-data indrawi, sehingga menghasilkan putusan-putusan. Dalam hal ini akal budi bekerja dengan bantuan fantasinya (Einbildungskraft). Pengetahuan akal budi baru diperoleh ketika terjadi sintesis antara pengalaman inderawi tadi dengan bentuk-bentuk apriori yang dinamai Kant dengan ‘kategori’, yakni ide-ide bawaan yang mempunyai fungsi epistemologis dalam diri manusia. (c). Tingkat intelek / Rasio (Versnunft), Idea ini sifatnya semacam ‘indikasi-indikasi kabur’, petunjuk-petunjuk untuk pemikiran (seperti juga kata ‘barat’ dan ‘timur’ merupakan petunjuk-petunjuk; ‘timur’ an sich tidak pernah bisa diamati). Tugas intelek adalah menarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan pada tingkat dibawahnya, yakni akal budi (Verstand) dan tingkat pencerapan inderawi (Senneswahnehmung). Dengan kata lain, intelek dengan idea-idea argumentative (sumber: Atang Abdul Hakim, dkk. Filsafat Umum. (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 280.)

    ReplyDelete
  13. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Pemahaman murni adalah sumber dari semua prinsip, aturan dalam hal itu yang terjadi, dan prinsip-prinsip sesuai dengan segala sesuatu yang dapat disajikan kepada kita sebagai objek yang harus sesuai dengan aturan. Matematika itu bersifat sintetik a priori. Menurut Imanuel Kant, pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori yaitu lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika. Sedangkan sintetik a posteriori yaitu pengalaman yang kita dapatkan untuk menjadi pembelajaran yang penting bagi kita. Dalam mempelajari matematika, logika dan pengalaman harus berjalan dengan selaras. Sehingga, dengan keduanya akan terbangun intuisi pada diri siswa.

    ReplyDelete
  14. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Menurut Imanuel Kant bahwa pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Matematika itu bersifat sintetik a priori. Menurut Imanuel Kant, pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori yaitu lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika. Sedangkan sintetik a posteriori yaitu pengalaman yang kita dapatkan untuk menjadi pembelajaran yang penting bagi kita. Namun demikian, menurut saya dalam mempelajari matematika tidak dapat hanya menggunakan salah satunya saja, Dalam mempelajari matematika, logika dan pengalaman harus berjalan dengan selaras. Sehingga, dengan keduanya akan terbangun intuisi pada diri siswa dan harus ada logika yang disertai dengan pengalaman.

    ReplyDelete
  15. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menurut Kant tidak setiap jenis pengetahuan a priori disebut dengan transcendental. Analitik a priori lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika. Sedangkan sintetik a posteriori berupa pengalaman dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Semakin banyak pengalaman, maka akan semakin banyak pula pengetahuan tentang matematika.

    ReplyDelete
  16. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Dalam filsafatnya Kant mencoba untuk mensinergikan antara rasionalisme dan empirisme. Ia bertujuan untuk membuktikan bahwa sumber pengetahuan itu diperoleh dari pengalaman inderawi dan akal budi. Pengetahuan apriori merupakan jenis pengetahuan yang datang lebih dulu sebelum dialami, sedangkan aposteriori yaitu dialami dulu baru mengerti. Kalau salah satunya saja yang dipakai misalnya hanya empirisme saja atau rasionalisme saja maka pengetahuan yang diperoleh tidaklah sempurna. Filsafat Kant menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan gabungan (sintesis) antara keduanya.

    ReplyDelete
  17. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Menurut Kant, pemahaman murni merupakan sumber dari semua prinsip. Matematika memuat prinsip-prinsip a priori murni. Kant 1 mengklaim bahwa tidak semua pengetahuan a priori disebut sebagai transendental, hanya yang memuat representasi tertentu saja, dan ruang merupakan pengetahuan yang memuat representasi terhadap sesuatu, bukan sesuatu yang bersifat empiris. Sementara Kant 2 mengemukakan perbedaan diantara transendental dan empiris melalui kritik pengetahuan, bukan melalui hubungan di antara pengetahuan dengan objek-objeknya.

    ReplyDelete
  18. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari artikel ini saya mendapatkan pemahaman bahwa dalam pemahaman murni berarti bahwa sumber semua prinsip peraturan yang berkaitan dengan apa yang terjadi dan prinsip-prinsip sesuai dengan segala sesuatu yang dapat disajikan atau dengan kata lain objek harus sesuai dengan peraturan. Selain itu kebenaran matematika dapat dipandang sebagai kesepakatan pengetahuan dengan objeknya dan kriteria umum sehingga harus berlaku dalam setiap contoh terlepas dari bagaimana objek bervariasi. Hal ini disebabkan karena kebenaran menyangkut isi, kriteria yang cukup dan umum tidak dapat diberikan.

    ReplyDelete
  19. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Kalim Immanuel kant dalam critique of pure reason ialah bahwa pemahaman murni merupakan sumber semua prinsip dan peraturan yang berkaitan dengan fenomena yang terjadi. Matematika terdiri dari prinsip-prinsip a priori murni. Perbedaan transendental dan empiris hanya berdasarkan pada kritik pengetahuan bukan pada hubungannya dengan objek matematika. Dengan demikian untuk dapat berpikir kritis dan analitis siswa harus dapat membangun konsep dan pengetahuan dari dasarnya atau dari logika berpikirnya.

    ReplyDelete
  20. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Kant1 mengklaim bahwa tidak semua jenis pengetahuan a priori disebut transendental; Hanya dengan itu kita tahu bahwa representasi tertentu dapat dipekerjakan atau mungkin bersifat apriori; Dan ruang adalah pengetahuan bahwa representasinya tidak empiris. Kant mengatakan bahwa perbedaan antara transendental dan empiris hanya berdasarkan kritik pada pengetahuan, bukan pada hubungan pengetahuan itu dengan objeknya.

    ReplyDelete
  21. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Kant, mengklaim bahwa pemahaman murni adalah sumber semua prinsip, peraturan yang berkaitan dengan apa yang terjadi, dan prinsip sesuai dengan segala hal yang dapat kita sajikan sebagai objek harus sesuai dengan peraturan. Kant menganggap kebenaran sebagai kesepakatan pengetahuan dengan objeknya dan kriteria umum harus berlaku dalam setiap contoh terlepas dari bagaimana objek bervariasi.

    ReplyDelete
  22. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Menurut Kant, matematika dibangun dari prinsip a priori murni dimana tidak semua pengetahuan a priori merupakan pengetahuan transendental. Dengan demikian, representasi tertentu dapat digunakan atau mungkin berupa a priori. Ruang adalah pengetahuan yang representasinya tidak empiris. Perbedaan antara transendental dan empiris terletak pada pengetahuannya, bukan pada hubungan pengetahuan dengan objeknya.

    ReplyDelete
  23. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Menurut Imanuel Kant bahwa pengetahuan merupakan gabungan dari dua unsur yaitu analitik a priori dan sintetik a posteriori. Analitik a priori yaitu lebih mengutamakan logika dan penalaran dalam mempelajari matematika dan tidak didasarkan pengalaman. Sedangkan sintetik a posteriori maksudnya pengalaman yang kita dapatkan dapat menjadi pembelajaran yang penting. Pengetahuan sepenuhnya tergantung pada persepsi akal, memiliki validitas yang mendasar, pengetahuan yang berasal dari  atau tergantung pada pengalaman.

    ReplyDelete
  24. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kemampuan pemahaman matematis adalah salah satu tujuan penting dalam pembelajaran, memberikan pengertian bahwa materi-materi yang diajarkan kepada siswa bukan hanya sebagai hafalan, namun lebih dari itu. Dengan pemahaman siswa dapat lebih mengerti akan konsep materi pelajaran itu sendiri. Pemahaman matematis juga merupakan salah satu tujuan dari setiap materi yang disampaikan oleh guru, sebab guru merupakan pembimbing siswa untuk mencapai konsep yang diharapkan. Tujuan mengajar adalah agar pengetahuan yang disampaikan dapat dipahami peserta didik. Pemahaman merupakan aspek yang fundamental dalam belajar dan setiap pembelajaran matematika seharusnya lebih memfokuskan untuk menanamkan konsep berdasarkan pemahaman.

    ReplyDelete
  25. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pemahaman memudahkan terjadinya transfer. Jika hanya memberikan keterampilan saja tanpa dipahami, akibatnya siswa akan mengalami kesulitan belajar materi selanjutnya, sehingga siswa akan menganggap matematika merupakan pelajaran yang sulit. Pemahaman dalam pembelajaran matematika sudah seharusnya ditanamkan kepada setiap siswa oleh guru sebagai pendidik. Karena tanpa pemahaman, siswa tidak bisa mengaplikasikan prosedur, konsep, ataupun proses. Matematika akan dimengerti dan dipahami bila siswa dalam belajarnya terjadi kaitan antara informasi yang diterima dengan jaringan representasinya. Siswa dikatakan memahami bila mereka bisa mengkonstruksi makna dari pesan-pesan pembelajaran, baik yang bersifat lisan, tulisan (verbal) ataupun grafis (non verbal), yang disampaikan melalui pengajaran, buku, atau layar komputer.

    ReplyDelete
  26. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dalam pandangan Kant, ada yang disebut dengan kategori-kategori persepsi, yaitu bingkai-bingkai, atau wadah-wadah atau bentuk rasional yang membantu kita dalam memahami dan mengetahui berbagai sensasi yang berbeda. Setelah akal mengklasifikasikan berbagai persepsi yang berbeda melalui dua bentuk ruang dan waktu, kemudian ia mentransformasikannya menjadi ide-ide universal dan ukuran-ukuran general. Dengan konsep-konsep umum dan makna-makna universal ini, Kant telah meneguhkan tegaknya ilmu-ilmu alam, setelah ia meneguhkan matematika melalui dua bentuk ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  27. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Kant, mengklaim bahwa pemahaman murni adalah sumber dari semua prinsip, aturan dalam hal itu yang terjadi, dan prinsip-prinsip sesuai dengan segala sesuatu yang dapat disajikan kepada kita sebagai objek harus sesuai dengan aturan. Begitu pula dengan matematika, menurut Kant matematika terdiri dari murni sebuah prinsip apriori bahwa kita mungkin tidak menganggap pemahaman murni yang merupakan kecakapan konsep.

    ReplyDelete
  28. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Kant berpendapat bahwa tidak setiap jenis pengetahuan a priori harus disebut transendental, hanya itu yang kita tahu bahwa representasi tertentu dapat digunakan atau yang mungkin apriori, dan ruang adalah pengetahuan bahwa representasi tidak empiris. Untuk membuktikan bahwa ruang dan waktu merupakan bentuk a priori, Kant memiliki dua kelompok argumen; yang pertama metafisis, yang kedua epistemologis atau transendental.

    ReplyDelete
  29. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Kant menganggap kebenaran sebagai kesepakatan pengetahuan dengan objeknya dan kriteria umum harus berlaku dalam setiap contoh terlepas dari bagaimana variasi objek tersebut. Karena kebenaran menyangkut isi, kriteria yang cukup dan berlaku secara umum. Kebenaran tidak memihak pads salah satu ketentuan saja dan diakui serta diterima oleh ketentuan yang lain. Oleh karena itu untuk Kant memperkenalkan adanya metode sintesis dalam mencari kebenaran tersebut, sehingga dapat terjadi titik temu diantara ketentuan-ketentua yang ada antara rasionalismen dan empirisme

    ReplyDelete
  30. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Imanuel Kant memandang rasionalisme dan empirisme senantiasa berat sebelahh dalam menilai akal dan pengalaman sebagai sumber pengetahuan. Ia mengatakan bahwa pengenalan manusia merupakan sintesis antara unsur-unsur apriori dan unsur-unsur aposteriori. Kant tidak menentang adanya akal murni, ia hanya menunjukkan bahwa akal murni itu terbatas. Akal murni menghasilkan pengetahuan tanpa dasar indrawi atau independen dari alat panca indra. Pengetahuan indrawi tidak dapat menjangkau hakikat objek, tidak sampai pada kebenaran umum. Adapun kebenaran umum harus bebas dari pengalaman, artinya harus jelas dan pasti dengan sendirinya.

    ReplyDelete