Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 33: Doakulah yang tersisa




Oleh Marsigit

Kebiasaanku:
Bekerja, istirahat, beribadah, makan, minum, tidur, nonton tv, kuliah, naik motor, belanja, arisan, piknik, merapikan kamar tidur, mandi, ... itu kebiasanku. Tetapi aku ingin masih mencari kebiasaanku yang lain. Membaca buku, membaca koran, ngobrol dengan teman, membaca kitab, nginternet, ... itu juga kebiasaanku. Kayaknya masih ada. Membantu orang tua, kerjabakti, tidur..eh sudah, kuliah..eh sudah. Apa lagi ya kebiasaanku? Oh iya sekarang aku punya kebiasaan yaitu berfilsafat.

Pikiranku berfilsafat:
Karena aku sedang berfilsafat maka aku sekarang akan melakukan eksperimen yaitu akan aku borgol orang tua berambut putih agar tidak bisa lagi mendekatiku. Mengapa supaya aku bisa leluasa bertanya tanpa harus diganggu oleh kehadiran dia. Aku mulai bertanya. Untuk apa aku bekerja, untuk apa aku istirahat, untuk apa aku beribadah, untuk apa aku makan, untuk apa aku minum, untuk apa aku tidur, untuk apa aku nonton tv, untuk apa aku kuliah, untuk apa aku naik motor, untuk apa aku belanja, untuk apa aku arisan, untuk apa aku piknik, untuk apa aku merapikan kamar tidur, mandi, ... untuk apa aku itu kebiasanku. Untuk apa aku membaca buku, untuk apa aku piknik, untuk apa aku membaca koran, untuk apa aku ngobrol dengan teman, untuk apa aku membaca kitab, untuk apa aku nginternet..dst.

Pikiranku didatangi rasa khawatir?:
Ketika aku berfilsafat tiba-tiba muncul rasa khawatir. Yah itulah datang rasa khawatir. Setiap aku mulai berfilsafat datanglah rasa khawatir. Aneh, padahal orang tua berambut putih sudah bisa aku lumpuhkan. Tetapi mengapa sekarang muncul rasa khawatir. Wahai khawatir siapakah dirimu itu, dari manakah engkau, di mana tempat tinggalmu. Mengapa tiba-tiba engkau datang menghampiriku?

Khawatir:
Aku adalah rasa khawatirmu. Tempat tinggalku diantara batas hati dan pikiranmu. Maka aku bisa hadir baik dalam pikiran maupun hatimu.

Pikiranku:
Mengapa engkau tiba-tiba menghampiriku?

Khawatir:
Aku selalu hadir pada setiap keragu-raguanmu.

Pikiranku:
Apakah engkau mengetahui apakah sebenarnya keraguanku sekarang ini?

Khawatir:
Engkau betul-betul ragu-ragu karena engkau mulai memikirkan kebiasanmu. Sementara engkau masih teringat apa yang dikatakan orang tua berambut putih bahwa kebiasaan tanpa memikirkannya adalah mitosmu. Maka semakin banyak engkau mengingat-ingat kebiasaanmu maka semakin banyak pula mitos-mitosmu. Itulah sebenar-benari khawatirmu, yaitu bahwa engkau merasa khawatir dimangsa oleh mitos-mitosmu.

Pikiranku:
Benar juga apa yang engkau katakan. Lalu bagaimana solusinya menurutmu?

Khawatir:
Sesungguh-sungguh solusinya tergantung akan dirimu. Tetapi bagiku adalah di sini saja tempat yang paling nyaman. Aku tidak mau engkau bawa ke dalam pikiranmu, juga aku tidak mau engkau bawa ke dalam hatiku. Sesungguh-sungguh hakekat khawatir itu adalah diriku, yaitu batas antara pikiran dan hatimu.

Pikiranku:
Wahai khawatir. Betapa bodohnya engkau itu. Jawabanmu itulah sebenar-benar solusiku. Maka janganlah menolak perintahku. Maka engkau akan aku bawa jauh ke dalam pikiranku.

Khawatir:
Terserah engkau jualah. Tetapi jika engka ingin memaksaku, maka aku mempunyai permintaan kepadamu.

Pikiranku:
Apakah permintaanmu itu?

Khawatir:
Kemanapun aku engkau ajak pergi dalam pikiranmu, maka aku akan selalu muncul jikalau engkau tidak dapat menggunakan pikiranmu. Demikian juga, kemanapun engkau aku ajak pergi ke dalam hatimu, maka aku akan muncul ketika engkau tidak dapat membersihkan hatimu.

Pikiranku:
Baik syaratmu aku terima, maka marilah engkau masuk dalam-dalam ke dalam pikiranku.

Hatiku:
Wahai pikiran. Mengapa selama ini engkau abaikan diriku? Bukankah engkau telah berjanji bahwa diriku akan engkau selalu jadikan komandan kemanapun engkau pergi?

Pikiranku:
Wahai hatiku, bukankah engkau tahu dan menyaksikan sendiri betapa sibuknya aku sekarang ini. Pekerjaanku sangat banyak. Ditambah lagisekarang aku mempunyai penghuni baru dalam pikiranku. Dengan pikiranku ini aku harus menjaga dan selalu berpikir agar tidak muncul khawatir dalam pikiranku.

Hatiku:
Wahai pikiran, bukankah engkau tahu bahwa jika engkau biarkan terlalu lama hatiku tidak engkau hampiri maka sedikit-demi sedikit hatiku terkena debu dan menjadi kotor. Padahal aku baru saja mendengarkan permintaan khawatir, bahwa dia juga akan hadir dalam hatimu manakala hatimu kotor. Ketahuilah bahwa sesungguh-sungguhnya hatimu telah mulai kotor sekarang ini. Maka ketahuilah bahwa khawatir itu sebenarnya telah hadir dalam hatimu.

Pikiranku:
Lalu bagaimana. Kalau begitu aku ingin bertanya kepada orang tua berambut putih. Wahai orang tua berambut putih. Marilah engkau aku lepaskan borgolmu itu. Maafkanlah atas kesombonganku ini. Ketahuilah bahwa aku sekarang sedang mempunyai masalah besar. Khawatir telah muncul di mana-mana. Khawatir telah muncul baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku. Bagaimanakah wahai orang tua berambut putih solusinya?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar hakekat manusia. Tiadalah manusia dapat mencampuradukkan pikiran dan hatinya secara sembarangan. Sebenar-benar hati dan pikiran adalah berbeda. Itulah mengapa ada batas antara pikiranmu dan hatimu. Di dalam batas itulah khawatirmu berdomisili. Tetapi tiadalah manusia dapat mengetahui batas pikiran dan hatimu jika engkau menggunakan pikiranmu. Maka sebenar-benar batas antara pikiran dan hatimu itulah maka hatimu yang akan menunjukkanmu. Maka bertanyalah kepada hatimu untuk mengetahui batas pikiran dan hatimu.

Pikiranku:
Wahai hatiku. Dimanakah batas antara pikiranku dan hatiku?

Hatiku:
Aku bersedia menjawab jika aku telah engkau bersihkan dari segala kotoran yang ada dalam diriku.

Pikiranku:
Bagaimana aku bisa membersihkan engkau wahai hatiku?

Hatiku:
Tanyakanlah kepada orang tua berambut putih.

Pikiranku:
Wahai orang tua berambut putih. Bagaimanakah aku dapat membersihkan hatiku.

Orang tua berambut putih:
Tiadalah kuasa manusia itu untuk membersihkan hatinya sendiri. Berdoa dan berserah dirilah kepada Tuha YME agar berkenan membersihkan hatimu.

Pikiranku:
Wahai Tuhanku, ampunilah segala dosaku, ampunilah segala dosa-dosa leluhurku, ampunilah segala dosa-dosa pemimpinku, ampunilah segala dosa-dosa orang tuaku. Belas kasihanilah aku. Tolonglah aku. Bebaskanlah aku dari rasa khawatir baik dalam pikiranku maupun dalam hatiku.

Pikiranku:
Wahai orang tua berabut putih. Kenapa doaku belum juga terkabul?

Orang tua berambut putih:
Doamu belum terkabul itu disebabkan oleh karena kesombonganmu.

Pikiranku:
Mengapa aku yang telah melantunkan doa-doaku ini masih engkau anggap sombong?

Orang tua berambut putih:
Itulah sebenar-benar dirimu, yang tidak tahu diri. Bukanlah semestinya engkau melantunkan doa-doa. Doa-doa itu bukan bidang pekerjaanmu. Itulah sebenar-benar pekerjaan hatimu.

Pikiranku:
Oh ampunilah Tuhanku maka aku harus bagaimana?

Orang tua berambut putih:
Sekarang gantian. Giliran engkau yang akan aku borgol. Engkau akan aku borgol agar engkau tidak mengganggu aktivitas hatimu dalam melantunkan doa-doa.

Pikiranku:
Terus bagaimana nasib dan keadaanku nanti setelah engkau borgol diriku?

Orang tua berambut putih:
Jikalau engkau telah aku borgol, maka engkau akan terbebas dari khawatir. Ketahuilah bahwa terbebas dari khawatir ada dua cara dalam pikiranmu. Pertama, gunakan pikiranmu sebaik mungkin atau tidak engkau gunakan sama sekali.

Hatiku:
Terimakasih wahai orang tua berambut putih. Aku sekarang merasa ringan dan lega. Semoga aku akan bisa melantunkan doa-doaku dengan khusyuk dan tawadu’. Maka pergilah engkau dan tinggalkan aku sendiri di sini. Biarkan aku sendiri di sini tanpa siapapun, kecuali doa-doaku.

11 comments:

  1. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jangan pernah mengagung-agungkan pikiran kita dan merasa tidak memerlukan hari nurani dalam bertindak. Jika kita terlalu banyak mengguanakan pikiran tanpa menggunakan hati maka akan menjerumuskan kita dalam kekhawatiran. Tetapi jika kita mencampuradukkan pikiran dan hati secara semena-mena kekhawatiran juga akan muncul pada diri kita. Jangan merasa mampu mengatasi suatu masalah hanya dengan pikiran yang dangkal karena akan membuat kita terjerumus ke dalam masalah yang lebih berat. Jika memang ingin menggunakan pikiran maka gunakan pikiran dengan sebaik mungkin. Jika tidak sama sekali maka gunakan hatimu untuk menyelesaikan masalahmu.

    ReplyDelete
  2. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Jangan sampai mencampuradukkan tugas dan fungsi pikiran dengan tugas dan fungsi hati. Pikiran digunakan dalam menghadapi masalah yang logis dan mampu dijelaskan secara ilmiah. Sedangkan hati digunakan untuk menyelesaikan masalah yang tidak mampu diselesaikan oleh pikiran yang berkaitan dengan hal yang tidak dapat dijangkau oleh logika. Jangan memaksakan menggunakan pkiran pada setiap kegiatan yang kita lakukan atau pada saat ingin mencari solusi dari suatu masalah

    ReplyDelete
  3. Naja Nusaibah
    13301241042
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Ingatlah bahwa hati kita memiliki bagiannya dalam hal ini. Karena masalah atau kekhawatiran itu letaknya di batas pikiran dan hati maka janganlah hanya menggunakan pikiran saja untuk mencari solusinya. Jangan memperparah keadaan dengan mengotori hati. Sebaliknya, gunakanlah pikiran dan hati secara baik agar tidak muncul kekhawatiran di keduanya.

    ReplyDelete
  4. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Rasa khawatir ada dibatas hati dan pikiran yang hadir pada setiap manusia itu merasa ragu. Ketika kita tidak dapat berpikir dengan baik, pun ketika hati kita sedang tidak baik dan kotor maka disitulah waktu yang tepat keragu-raguan datang menghampiri pikiran atau hati. Maka janganlah kita mencampuradukkan hati dan pikiran dengan sembarangan, karena hati dan pikiran itu berbeda dan memiliki batasnya.

    ReplyDelete
  5. Rizqi Nefi Marlufi
    13301241035
    Pendidikan Matematika Internasional 2013

    Bagaimana untuk menghilangkan rasa keragu-raguan dan kekhawatiran dalam diri kita? Caranya adalah dengan melantunkan doa-doa secara khusyuk dan tawadu’. Dan janganlah bersikap sombong karena sombong menandakan bahwa hati kita belum ikhlas dalam mengucapkan doa-doa kita. Semoga kita dihindarkan dari sikap sombong aamiin.

    ReplyDelete
  6. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Berfilsafat adalah mengenal pikiran diri sendiri, maka meski ‘orang tua berambut putih’ telah ditahan untuk mendekati pikiranku akan tetapi bayangan dari pikiranku yang lampau tetap ada di dalam pikiranku.

    ReplyDelete
  7. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Berfilsafat tanpa memikirkannya atau berdasarkan kebiasaan saja adalah merupakan mitos.

    ReplyDelete
  8. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Yang diutarakan oleh “khawatir” dalam elegi di atas, berarti bahwa khawatir akan selalu muncul saat kita tidak menggunakan pikiran dan kita tidak dapat membersihkan hati kita.

    ReplyDelete
  9. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Jika pikiran dan hati kita sejalan maka kekhawatiran berbagai hal dalam kehidupan ini akan dapat diminimalisir. Karena khawatir akan muncul saat hati dan pikiran tidak dalam 1 tujuan.

    ReplyDelete
  10. Martalia Ardiyaningrum
    16701269002
    PEP Kelas A PPs UNY

    Tiadalah kuasa manusia itu untuk membersihkan hatinya sendiri. Berdoa dan berserah dirilah kepada Tuha YME agar berkenan membersihkan hatimu.

    ReplyDelete
  11. Semoga kita senantiasa mampu membersihkan hati kita, untuk dapat berserah diri kepada Tuhan YME, agar kekhawatiran-kekhawatiran itu tidak lagi datang menghampiri hati kita.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.