Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 14: Perjuangan Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas




Oleh Marsigit

Mohammad Nurikhlas:

Ass..ayahku Bagawat Rama dan ibuku Dewi Umaya yang selalu aku taati, yang selalu aku mohon restu, dan selalu aku doakan, terimalah silaturakhim dan dharma bhaktiku sebagai anakmu. Dimanapun aku berada maka aku selalu merasa bahagia jika mendengar dan menyaksikan Bapak dan Ibuku selalu dalam keadaan sehat wal ‘afiat tak kurang satu apapun. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan Rakhmat dan Hidayah-Nya kepada bapak dan ibu sekalian.

Dewi Umaya:
Wss. Wr.Wb… wahai anakku..Mohammad Nurikhlas ..sungguh kebahagiaan orang tua itu selalu tertanam di hati sanubari seraya bertawakal dan bersyukur kepada Allah SWT tatkala melihat perjuangan anaknya itu tidak hanya diperuntukan untuk dirinya sendiri, tetapi juga diperuntukan demi keluarga, masyarakat, agama dan negaranya. Rasa haruku tiada terbendung tatkala engkau sempat pulang menengok kedua orang tuamu ini untuk menunjukkan dharma bhaktimu. Kesinilah wahai anakku..akan aku usap keningmu dari keringat perjuanganmu yang begitu hebat. Walaupun terkadang aku dan bapakmu terhalang oleh jarak beratus kilometer dengan dirimu, tetapi hati, perasaan dan jiwaku tidak bisa dipisahkan oleh apapun dengan denganmu. Doa-doaku selalu menyertaimu. Jiwaku juga selalu bersamamu. Sejak engkau di dalam kandunganku, bahkan ketika engkau belum aku kandung dalam perutku, maka aku selalu melantunkan doa-doaku agar engkau mampu menjadi orang yang saleh, taat beragama dan mampu memperjuangkan dunia, akhirat, amal, ilmu dan doa. Aku sangat bangga kepadamu karena engkau sekarang sangat rajin mengaji bahkan rajin mengikuti Ritual Ikhlas. Aku sebetulnya ingin sekali mengikuti Ritual Ikhlas itu, demikian juga aku sebetulnya ingin juga mengajak bapakmu.

Muhammad Nurikhlas:
Mengapa bapak hanya terdiam saja bu?

Dewi Umaya:
Bapakmu sedang marah kepadaku.

Muhammad Nurikhlas:
Kenapa bapak marah kepada ibu?

Dewi Umaya:
Karena saya selalu mengajaknya untuk mengikuti Ritual Ikhlas. Sudah enampuluh tahun aku mendampingi bapakmu tetapi bapakmu belum ikhlas juga. Bapakmu masih sangat sibuk memikirkan urusan dunia, padahal usianya sudah mendekati delapan puluh tahun. Tiadalah orang dikampung ini yang meragukan pencapaian dunia bapakmu itu. Bapakmu telah menjadi orang terkaya di wilayah ini. Bahkan sebagian orang menjulukinya sebagai raja dunia dikarenakan kekayaannya itu. Namun sebagai isterinya sekaligus ibumu, saya hanya selalu bisa berdoa dan menunggu kapan bapakmu ikhlas untuk tidak hanya memikirkan dunia saja, tetapi juga memikirkan akhirat. Aku yang sudah berumur tujuh puluh lima, seakan merasa hampir putus asa memikirkan bapakmu itu. Kalau diberi saran tentang kebaikan aklhirat maka selalu saja marah-marah dan tidak ikhlas. Semua saran petinggi spiritual juga ditolaknya. Setiap hari pekerjaannya hanya menghitung-hitung hartanya saja. Demikianlah anakku, keadaan bapakmu itu.

Muhammad Nurikhlas:
Wahai ayahnda..ada berapakah harta benda ayah sehingga membuat ayah sangat mencintainya melebihi yang lainnya?

Bagawat Rama:
Hemm aku mempunyai lebih dari limapuluh bidang tanah tersebar diseluruh negeri. Semua orang memujiku sebagai si raja tanah. Itulah kebanggaanku. Tiadalah orang-orang mampu menandingiku perihal kekayaanku itu. Kekayaanku itulah jiwa, semangat dan ruhku. Jika tanpa kekayaanku itu maka aku sudah tidak berdaya dan tidak bisa bertahan sampai umur delapan puluh tahun seperti ini.

Muhammad Nurikhlas:
Wahai ayah…tepatnya tanah ayah itu ada berapa petak? Dan lokasinya ada di mana saja?

Bagawat Rama:
Wah..kalau tepatnya saya lupa, yang jelas lebih dari limapuluh petak. Sedangkan lokasinya aku juga lupa. Wah aku sekarang sudah mulai melupakan beberapa hal, dan aku hanya bisa mengingat beberapa hal pula. Tetapi tolong, penyakit lupaku itu adalah aibku dan jangan diberitahukan siapa-siapa. Aku sangat risau dan malu merasakan diriku yang sudah tua itu. Kenapa engkau tanya-tanya tanahku? Apakah engkau segera ingin meminta warisan? Oh tidak...catatlah dan ingatlah ini. Aku tidak akan membagi-bagikan warisanku itu sampai tujuh turunan. Itulah wasiatku kepada anak-anakku, agar tetapenjaga harta-hartaku sebagai monumen agar orang-orang selalu mengingat kejayaanku, yaitu kejayaan seorang Bagawat Rama. Jika aku mati besuk, entah berapa ratus tahun lagi, tolong tulis namaku dibatu nisanku itu dengan tinta emas dengan kalimat Si Raja Kaya Sang Bagawat Rama. Begitulah pesanku.

Dewi Umaya:
Muhammad Nurikhlas...itulah keadaan ayahmu. Dia selalu saja tidak bisa menerima keadaan yang semakin tua dan sudah tua. Maunya muda terus. Setiap seminggu sekali aku harus menyemir rambutnya, jika terlambat sedikit saja ayahmu sudah marah-marah. Dia juga sangat malu jika orang-orang mengetahui bahwa pendengaran dang penglihatannya semakin kabur. Jika tak ada orang dia itu minta saya agar menuntun jalannya, tetapi begitu bertemu dengan orang maka tanganku dilepas dan seakan ingin menunjukkan bahwa masih mampu berjalan dengan tegapnya. Itulah anakku mengapa aku sangat prihatin memikirkan ayahmu itu. Ya Allah ya robbi tolonglah aku dan keluargaku. Ingatkanlah suamiku agar segera kembali kejalan yang engkau ridhai, ya Allah. Berikan kami jalan terang yang engkau ridhai, mohonlah kami rakhmat dan hidayah-Mu ya Allah. Ampunilah segala dosa-dosa kami. Aku sangat mencintai dan menyayangi suamiku dan juga anak-anakku semata-mata demi ridha-Mu ya Allah. Dengarkanlah dan kabulkanlah doa-doaku ini ya Allah. Amin

Muhammad Nurikhlas:
Wahai ayahku, apakah ayah bersedia aku ajak mengikuti Ritual Ikhlas?

Bagawat Rama:
Ritual Iklhas lagi…Ritual Ikhlas lagi. Apakah tidak bisa ngomong yang lain. Banyak orang selalu menasehati aku agar mengikuti Ritual Ikhlas..tetapi begitu aku menunjukkan kemarahanku maka mereka pergi terbirit-birit. Ketahuilah bahwa jika aku mendengar Ikhlas atau Ritual Ikhlas atau sebangsanya maka diriku seakan hilang segala kekuatanku, tidak berdaya, tidak bergairah, dan rasanya ingin mati saja. Sebaiknya untuk sakarang dan yang akan datang janganlah engkau menasehati diriku dengan segala macam hal yang berbau spiritual. Sebaliknya jika engkau bertanya atau mengajak diskusi perihal mencari untung, jual beli, dan strategi ekonomi, walaupun usia saya sudah delapan puluh tahun, sampai larut malampun saya layani. Sebaliknya saya ingin tanya, kenapa engkau pulang menengok orang tuamu tidak memakai baju kebesaran lengkap dengan pangkatmu, pengawalmu, mobil dinasmu, mobil mewahmu, sirine dan perlengkapan komunikasimu? Jika engkau bawa semuanya itu, tentu tetangga kita akan semakin mengagumiku, karena engkau itu adalah asetku. Jadi bagaimanapun juga yang hebat tentulah aku orang tuamu. Jika engkau pulang dalam keadaan seperti itu, hanya naik becak kaya gitu, bukankah itu sangat memalukanku dihadapan para tetanggaku? Untung engkau datangnya malam hari, jadi kedatanganmu tidak banyak diketahui oleh para tetangga.

Muhammad Nurikhlas:
Maafkan diriku ayah, aku pulang menengok ayah dan ibu hanyalah berbekal doa dan ikhtiarku. Aku tidak membawa semua yang ayah sebutkan tadi karena aku memang baru saja menyelesaikan mengikuti Ritual IKhlas.

Dewi Umaya:
Wahai anakku Muhammad Nurikhlas, apakah yang engkau dapat dari Ritual Ikhlas itu?

Muhammad Nurikhlas:
Yang aku cintai ayah dan ibuku..Ritual Ikhlas itu hanyalah suatu kegiatan biasa yang dimaksudkan untuk menertibkan dan membetulkan tata cara beribadah seraya memperoleh tambahan pengetahuan melalui kegiatan ceramah dan diskusi, semata-mata untuk berikhtiar memperoleh ridha dari Allah SWT. Amin.

Dewi Umaya:
Wahai anakku..kerinduanku kepadamu itu ternyata meliputi semua yang ada dan yang mungkin ada padamu. Semoga ini adalah rakhmat dan karunia dari Allah SWT yang telah membimbingmu sehingga engkau menjadi anak saleh dan mampu memberi perantaraan agar orang tuamu ini berdua masih selalu bisa meningkatkan kebajikan baik tentang urusan dunia, akhirat, amal, ilmu dan doa. Oh anakku siang malam aku berdoa semoga engkau selalu diberi kekuatan lahir dan bathin dalam menempuh perjuanganmu di jalan Allah SWT. Anakku, ajaklah aku dan ayahmu itu untuk mengikuti Ritual Ikhlas. Setelah mendengarkan cerita-ceritamu maka aku ingin sekali juga mengikuti Ritual Ikhlas itu. Kapan lagi ada Ritual Ikhlas dan bagaimana tata-cara mengikutinya? Aku tidak tahu apakah ayahmu itu bersedia ikut atau tidak?

Muhammad Nurikhlas:
Wahai ayahnda yang sangat aku sayangi...mohon maafkanlah diriku itu. Aku bersilaturakhim menghadap ayah dan ibu itu semata-mata untuk memohon doa restu agar aku diberi kekuatan lahir bathin dalam mengarungi kehidupan ini. Terimalah dharma bhakti dari anakmu ini. Aku selalu berdoa agar ayah dan ibuku diampuni segala dosa-dosa, diberikan keikhlasan dalam hidupnya, dilimpahkan rakhmat dan karunia serta memperoleh khusnul khotimah pada akhirnya.

Bagawat Rama:
Hemm...biasanya kalau anak sudah banyak berdoa seperti itu, akan minta sesuatu kepada orang tua. Itulah sebabnya mengapa aku sangat gigih dalam mengumpulkan harta bendaku, agar di hari tuaku aku tetap disegani dan dihormati oleh anak-anakku. Bayangkan apa yang terjadi jika aku sebagai orang tuamu tidak mempunyai apa-apa, tidak mempunyai harta sesenpun, maka aku meragukan apakah engkau masih sudi menengok orang tuamu ini. Banyak cerita bagaimana menderitanya dan sengsaranya orang tua diabaikan dan tidak diakui oleh anak-anaknya gara-gara orang tua jatuh miskin dan tidak mempunyai harta yang bisa diwariskan. Hemm semakin lama semakin terbukti pula teoriku, bahwa sebagai orang tua itu harus kuat, harus kaya supaya jangan disepelekan oleh anak-anaknya. Jika terpaksa anak-anakku itu pada akhirnya menyepelekan orang tua, maka hartaku itu akan aku berikan kepada siapapun yang anggup merawatku di hari tuaku ini. Hai..Muhammad Nurikhlas...apakah yang engkau mau dan minta dari ayahmu itu. Katakanlah, jika permintaanmu tidak terlalu banyak maka akan aku beri.

Muhammad Nurikhlas:
Mohon maafkan diriku ayah. Alhamdulillah untuk sementara gajianku masih cukup aku gunakan untuk keperluan sehari-hari. Justru sebaliknya aku ingin bertanya kepada ayah, sekiranya apakah ayah mempunyai keninginan-keinginan dari ananda. Jikalau ananda bisa mengusahakan, maka demi cintaku kepada ayah dan ibu maka aku berusaha untuk melakukannya.

Bagawat Rama:
Ohhoh..tentu banyak persoalanku itu. Tetapi aku meragukan apakah engkau mampu memberikan solusinya. Sehebat-hebat dirimu itu masih kalah hebat dengan diriku. Setinggi-tinggi jabatanmu maka aku pernah menjabat yang lebih tinggi lagi. Sebesar-besar gajimu, maka penghasilanku itu selalu lebih besar darimu. Maka aku meragukankemampuanmu untuk menolong diriku itu. Dan kiranya aku juga tidak terlalu perlu memerlukan bantuanmu. Aku bisa mengatasi persoalanku sendiri. Ohh...oh..uhah..uhah..hoh...hoh...sessss...sessss.

Muhammad Nurikhlas:
Ayah..ayah...kenapa ayah...?

Dewi Umaya:
Itulah Muhammad Nurikhlas..keadaan ayahmu itu. Dia kalau berbicara terlalu lama, fisiknya tidak kuat dan nafasnya tersengal-sengal. Tetapi tidak pernah mengakui bahwa dia sudah tua. Maunya ingin tetap muda seperti orang berumur empatpuluh tahun.

Bagawat Rama:
Wahai Muhammad Nurikhlas..sampailah saatnya kepada tantanganku kepadamu. Janganlah hanya berteori, sekarang buktikan. Memang aku punya banyak masalah. Aku tidak tahu mengapa pendengaranku sudah mulai berkurang, mengapa penglihatanku semakin kabur, mengapa gigiku banyak yang lepas, mengapa rambutku hampir semuanya putih, mengapa kulitku berkeriputan. Padahal setiap hari dan setiap saat aku selalu berikhtiar untuk mencegah itu semua. Aku selalu suruh ibumu untuk menyemir rambutku agar selalu tampak hitam. Aku juga memakai gigi palsu yang mahal agar penampilanku tetap prima. Aku sudah menggunakan alat bantu pendengaran yang harganya belasan juta rupiah. Aku sudah biasakan mandi susu agar kulitku selalu terjaga. Tetapi mengapa semuanya itu belum mampu menyelesaikan persoalanku itu. Maka jika engkau mampu bagaimana solusinya? Sebesar berapapun akan aku bayar jika bisa mengembalikan stamina dan kondisi tubuhku seperti keadaan tiga puluh tahun yang lalu. Ayo buktikan bagaimana solusinya? Saatnyalah engkau berbhakti kepada ayahmu. Tidak percuma aku membiayai dan menyekolahkanmu hingga engkau sekarang sudah memperoleh jabatan tinggi. Gunakan kecerdasan dan ilmumu, jika engkau memang bisa. Ayolah.

Muhammad Nurikhlas:
Ayahku yang saya cintai...satu-satunya solusi adalah memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Bagawat Rama:
Oh jangan nyombong engkau itu. Kalau soal berdoa belum tentu aku kalah denganmu. Kurang apa doaku itu, tetapi kenapa seakan Tuhan itu tidak mau mendengar doaku itu?

Muhammad Nurikhlas:
Astaghfirullah al adzim, astagfirullah al adzim, astagfirullah al adzim... Bismilahir rahmaanir rahiim, Alhamdu Lillaahi Rabbil Alamiin. Arrahmaaniraahim. Maaliki Yaumiddiin. Iyyaaka Na’budu wa Iyyaaka Nasta’iin. Ihdinash Shiraathal Mustaqiim. Shiraathal Ladziina An’amta ‘Alaihim Ghairil Maghdluubi ‘Alaihim Walazhzhaaalliin. Allhohumma inna nas aluka sala-matan fidinnina. wa’afiatan filja-zatina, waziadatan fil ilmina, wa-barokatan fi rizkina, wa taubatan qoblal mautina, warakhmatan indal mautina, wamaghfirotan ba’dal mautina. Allohuma hawin alaina fi sakarotil maut, wanajata minanar, wal afa indal hisabi. Robbana latusikulubana, ba’dait hadaitana, wahablana miladunka rohmah. Innaka antal wahab. Robbana atina widunya khasa-nah, wafil akhirati khasanah wa-qina adzabanar. Robighfirli wali-wali daya warhamhuma khama robayana sohiroh. Robbana hablana min azwazina, waduriatina, qurota a’yun wajalna lil mutaqina imama. Robbana dholamna anfusana,wailam taghfirlana, watar-hamna, lana qunana minal ghosi-rin. Subhana robika robil izati ama yasifun, wasa-lamun alal mursalinwalham-dulillah hirobbil ‘alamin.

Bagawat Rama:
Hai Muhammad Nurikhlas ...sekarang kok engkau pandai berdoa. Doa apakah itu? Apa pula artinya?

Muhammad Nurikhlas:
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Wa shallalltu ‘alaa sayyidina Maulanaa Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa sallam. Allahumma ma’amiltu fii hazihis sanati Mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu. Wa la tardhadu wa lam tansahu wa halimta ‘Alayya ba’da qudratika ‘alaa uquubati Wa dautanii ilaa taubati minhu bad;da Jara atii ‘alaa ma’shiyatika fa innii Astagfiruka fagfir lii.wa maa ‘amiltu Fiiha mimmaa tardhaahu wa waadtani ‘alaihi Tsawaaba fa as-aluka Allahuma ya Karimu Yaa zal jalaali wal ikraam an tataqabbalahu Minni laa taqtha’rojaa-ii minka Yaa Kariim wa shallallahu ‘alaa sayyidina.

Bagawat Rama:
Hai Muhammad Nurikhlas..ditanya orang tua kok komat-kamit. Doa apa itu apa pula artinya?

Muhammad Nurikhlas:
Astaghfirullaahal’azhiimi. Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wain lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriina. Rabbana aghfirlanaa dzunuubanaa wa kaffir’annaa sayyiaatinaa wa tawaffanaa ma,al abraari. Laa ilaaha illa anta subhaanaka inni kuntu minadhdhaalimiina. Allahummaghfirlii dzanbii kullahu diqqahu wa jillahu wa awwalahu wa aakhirahu wa’alaa niyatahu wa sirrahu. Allahumma inni zhallamtu nafsii zhulman katsiiran kabiiran.Walaa yaghfirudz dzunuuba illa anta, faghfirlii maghfiratan min ‘indika warhamnii innaka antal ghafuurur rahiimu.

Bagawat Rama:
hai Muhammad Nurikhlas..doamu yang terakhir itu apa artinya?

Muhammad Nurikhlas:
Ya Allah ya robbi, aku memohon ampun atas segala dosaku kepada Allah Yang Maha Agung. Ya Tuhan Kami, kami terlanjur berbuat aniaya terhadap diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihi kami, pastillah kami ini tergolong orang yang rugi. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, serta wafatkanlah kami bersama orang-orang yang baik. Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang yang zhalim. Ya Allah, ampunilah dosaku semuannya, baik yang halus maupun yang kasar, yang terdahulu dan yang kemudian, yang nyata dan yang tersembunyi. Ya Allah, aku telah menganiaya diriku sendiri dengan aniaya yang banyak lagi besar, padahal tak ada yang dapat mengampuni dosaku selain Engkau, karena itu ampunilah segala dosaku dengan ampunan dari hadirat-Mu dan kasihanilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Amin

Bagawat Rama:
Oh Dewi Umaya...setelah aku mendengarkan doa anakmu yang terakhir itu...tubuhku terasa gemetar. Oh kenapa ini? Kenapa? Kenapa aku sekarang melihat pemandangan yang aneh? Oh tidak...tidak...pemandangan itu ternyata adalah semua dosa-dosaku sejak aku kecil hingga tua bangka ini. Isteriku Dewi Umaya...oh..selama ini aku telah berbuat aniaya terhadapmu. Oh anakku...apakah Tuhan mau memaafkan dosa-dosaku semua. Umurku sudah delapan puluh, bagaimana aku memohon ampun kepada Tuhan? Apakah aku bisa menggunakan semua hartaku untuk menebus dosa-dosaku. Oh manusia macam apakah diriku itu. Umaya...Umaya...Umaya...tolonglah aku...tolonglah aku...

Dewi Umaya:
Suamiku yang tersayang...kita sudah sama-sama tua. Umurku juga sudah tujuh puluh lima. Kita tinggal menanti kapan, pagi atau sore dicabut nyawa kita. Kemudian apakah maumu itu?

Bagawat Rama:
Aku ingin mengikuti Ritual Ikhlas. Aku ingin menertibkan Salatku. Aku ingin memperbanyak amalan-amalanku. Aku ingin bertobat. Tanyakan kepada Muhammad Nurikhlas apakah aku masih bisa mengikuti Ritual Ikhlas itu?

Muhammad Nurikhlas:
Wahai ayah dan ibuku yang tercinta...tiadalah kata terlambat untuk berdoa dan bertobat itu. Insyaallah saya akan mengusahakan agar pada kesempatan berikutnya...ayah dan ibu juga bisa mengikuti Ritual Ikhlas. Sebentar lagi akan ada kegiatan Ritual Ikhlas III.

Bagawat Rama:
Isteriku Dewi Umaya...berapapun biayanya maka usahakanlah. Kalau perlu juallah tanah-tanahku itu untuk biaya mengikuti Ritual Ikhlas III. Kapankah Ritual Ikhlas III dilaksanakan? Kapan? Saya ingin segera mengikutinya.

30 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi ini saya semakin yakin bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga. Keluarga selalu ada disaat kita membutuhkan bantuan. Sebagai seorang anak, jangan pernah sekali-kali kita melupakan, mengabaikan, dan menelantarkan keluarga, terutama orang tua. Karena berkat merekalah kita bisa berada di dunia ini sampai saat ini.

    ReplyDelete
  2. Sungguh hanya Allah SWT yang mampu membolakbalik hati. Siapa yang diberi hidayah maka dikembalikan pada jalan yang lurus, dimasukkan dalam cahaya islam. Hati manusia pada dasarnya suci dan mengakui Allah sebagai pencipta dan harus kita ibadahi. Pengalaman dan pemikiran dunia yang telah memalingkan hati. Hati yang terpaut pada dunia perlahan-lahan akan mengotori hati tersebut dan menghalangi jalan untuk kembali pada Allah SWT. Tidak ada kata terlambat selama ruh masih dalam badan, pintu ampunan dan pintu taubat selalu terbuka bagi orang yang mau mengetuknya. Orang yang telah lama jauh dari jalan dan cahaya islam maka diperlukan bimbingan dan tuntunan untuk mengembalikannya. Harta yang selama ini dibangga-banggakan hanya akan tinggal di dunia kemudian bekal apa yang di bawa ketika mati? Sadarkanlah tentang hal ini. Manusia tidak bisa menghalangi datangnya masa tua walapun pemikirannya merasa muda tetapi badannya tetap menunjukkan masa tua dan tidak ada yang bisa mempertahankan badan yang muda. Sadarkanlah tentang hal ini. Pun disertai doa dari keluarganya maka dengan izin Allah SWT maka manusia akan kembali pada jalan yang lurus, kembali pada cahaya islam, kembali pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    “Kesombongan membutakan mata hati seseorang” pribadi Bagawat Rama yang mengagungkan kepentingan duniawi dan mengesampingkan urusan akhirat, peran Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas selaku istri dan anak berusaha menyadarkan dan mengajak sang ayah agar kembali kejalan yang lurus “ Bertaubat”. Pentingnya peran keluarga dalam kasus seperti ini, mengingatkan kita untuk saling mengingatkan dan membawa keluarga kita ke jalan yang diridhoi Allah SWT.
    Terima kasih atas postingan bapak, sembari membaca wacana di atas membuat saya mengingat dan merindukan kedua orang tua saya.

    ReplyDelete
  4. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Peran orang-orang terdekat seperti teman, tetangga dan keluarga kita sangat diperlukan untuk saling mengingatkan kita jika sifat atau sikap kita sudah melampaui batas dan tidak disukai oleh Allah SWT. Janganlah sampai seperti Bagawat Rama yang sombong atas apa yang ia miliki di dunia. Semua yang ada di dunia semata-mata hanya milik Allah SWT. sungguh kita hanya meminjam segala yang ada dan mungkin ada di dunia, karena di akhirat kelak lah kita akan hidup kekal dan tidak bisa membawa harta duniawi. Apa yang kita tanam maka itulah yang akan kita tuai. Apabila baik yang kita lakukan sekarang maka insyaallah akan dibalas oleh Allah kelak dan apabila burukpun maka akan dibalas oleh Allah. maka sebelum keburukan atau kesombongan itu menyelimuti diri maka cepat-cepatlah bertaubat yang sebenar-benar taubat (taubat nasuha), karena sungguh Allah menyukai orang-orang yang memohon ampun dengan sungguh-sungguh.

    ReplyDelete
  5. Mengejar duniawi tidak akan ada habisnya. Sifat dasar manusia salah satunya adalah tidak cepat puas. Maksudnya adalah tidak cepat puas, inginnya menambah dan menambah, apalagi untuk urusan duniawi. Ketika seseorang sudah mendapatkan harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan segala macam urusan duniawi, tetap saja masih ada keinginan untuk menambah. Pada akhirnya sifat sombong menguasainya. Merasa memiliki segalanya sehingga jauh dari Allah swt. Padahal sejatinya harta, jabatan, dan kedudukan hanyalah titipan Allah swt sementara. Keluarga adalah orang terdekat yang dimiliki. Baik atau buruk perangai orang-orang di dalamnya, tetap keluargalah tempat kembali. Kembali dari segala aktivitas, kembali dari masalah, dan kembali saat mendapatkan kesenangan. Saling mengingatkan dalam kebaikan, itulah keluarga

    ReplyDelete
  6. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB
    Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB
    Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB
    Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB
    Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB
    Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian anaknya. Merawat dari lahir sampai besar. Mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang kesuksesan. Setelah seorang anak mendapatkan kesuksesannya, tidak lantas lupa dengan jasa-jasa orang tuanya. Berbakti dan mengabdi sampai akhir hayat kepada kedua orang tua menjadi kewajibannya. Apabila ada salah satu pihak yang yang melakukan kesalahan hendaklah saling mengingatkan. Begitu juga ketika orang tua melakukan kesalahan, jauh menyimpang dari ajaran Islam. Sudah menjadi kewajiban anak untuk mengingatkan dan mengajaknya ke jalan kebenaran. Menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Mengobati hati yang sedang sakit karena sifat sombong. Mengajak dengan penuh kesabaran, karena pastilah orang tua masih merasa paling benar daripada anaknya. Sabar dan sabar. Taubat tidak mengenal umur dan waktu. Meskipun sudah tua, usia sudah lebih dari 70 tahun, masih dibuka pintu maaf dan taubat. Karena Allah Maha Pemaaf. Tidak ada yang tau kapan ajal akan menjemput. Memulai kembali ibadah yang mungkin ditinggalkan atau sekedarnya dalam pelaksanaannya. Mendekatkan diri dengan shalat tepat watu, membaca Al Quran, berdzikir, dan ikhlas dalam menghadapi cobaan hidup. Tak lupa sebagai anak senantiasa mendoakan orang tuanya, untuk kebaikan dunia dan akhirat

    ReplyDelete
  7. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Sesungguhnya harta, kekayaan, anak hanyalah titipan Allah SWT. Allah SWT dapat mengambilnya kapan saja dari kita, sehingga janganlah kita selalu mengagung-agungkan harta kita. Karena dia dapat meninggalkan kita kapan saja, karena hanya merupakan barang titipan. Muhammad nur ikhlas merupakan anak yang berbakti kepada orang tuanya, selalu berusaha mengingatkan orang tuanya bahwa, harta bukanlah segalanya, namun amalan kita lah yang akan menjadi bekal kita di kemudian hari nanti. Oleh karena itu mari kita mulai dari sekarang menertibkan ibadah-ibadah kita kepada Allah. Sehingga kita bisa kembali kepada Allah nantinya dalam keadaan khusnul khotimah.. Amin ya robbal alamin.

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Harta yang melimpah, anak yang banyak tidak akan mampu menghapus dosa seseorang. Karena Harta, anak, suami, istri, jabatan sesungguhnya titipan Allah dan sebagai ujian bagi kita. Sedangkan, Yang dapat menghapuskan dosa yaitu dengan jalan bertaubat kepada Allah dengan taubat sebenar-benarnya.
    Dari elegi ini pula kita belajar bahwa hidayah itu datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Maka memohon hidayahlah setiap saat setiap waktu. Serta dalam elegi ini juga menunjukkan bahwa usaha yang benar-benar tulus akan membuahkan hasil yang indah.

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Kesombongam atas apa yang kita miliki, menjadikan kita lupa, bahwa semua ini merupakan karunia Allah, merupakan harta yang Allah titipkan pada manusia. Sesungguhnya hidup di dunia hanya sesaat, dan kehidupan di aknirat kelak yang kekal abadi. Marilah senantiasa berbuat baik, disertai ketulusan agar mendapat balasan yang sebaik-baiknya dari Allah SWT. amiin

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Yang kami pahami dari tulisan ini adalah kilauan kenikmatan dunia terkadang bisa menutupi pintu hati terhadap ketakwaan terhadap Allah SWT, sehingga setiap saat sebagai seorang hamba manusia harus senantiasa mengingat Allah, mengingat Tuhan, dan mengingat segala perintah dan larangan-Nya, dan sebagai manusia yang tak bisa luput dari kesalahan seorang hamba harus menyadari bahwa dia harus senantiasa memohon ampunan dan petunjuk kepada Allah dalam menjalani kehidupan.

    ReplyDelete
  11. Junianto
    PM C
    17709251065

    Anak yang diharapkan oleh setiap orang tua adalah anak yang berbakti dan mau mengabdi kepadanya. Anak juga harus patuh kepada nasihat orang tua ketika nasihatnya berupa kebaikan. Namun, anak juga harus bisa mengajak orang tua untuk berbuat baik. Termasuk dalam elegi ini yang dikisahkan bahwa ayah belum mau mengikuti ritual ikhlas. Anak juga berkewajiban untuk mengingatkan orang tua jika berbuat kesalahan. Pada dasarnya orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Tetapi yang terbaik adalah antara orang tua dan anak harus saling mengingatkan dan menasehati dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Tiadalah yang bisa dibanggakan manusia terhadap apa yang telah didapatkannya di dunia ini. semua yang ada di dunia ini hanyalah sesuatu yang semu belaka, sedangkan di akhirat nanti kita akan mendapatkan kekekalan dan akan memeprtanggung jawabkan apa yang telah kita lakaukan di dunia ini. marilah kita senantiasa mempersiapkan akhirat dan tidak hanya mementingkan urusan dunia saja. semoga kita bisa mendapatkan Ridho Allah SWT, amiin

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmunya. Membaca dengan runtut dan pelan tentunya. Karena memang untu memahaminya, saya butuh pelan-pelan. Hingga akhirnya, akhirnya sampai hapir di penghujungnya. Subhanallah, awalnya saya hanya membaca, ternyata yang saya baca adalah doa. Subhanallah.

    Pada elegi ini, saya melihat bahwa kehidupan dunia sering kali membuat kita terlupa dengan akhirat. Kesombongan, salah satunya. Yaa, beberapa kali atau bahkan sering kali kita berada di titik tertinggi. Tapi sadarilah, itu bukan yang senyatanya. Senyatanya adalah kita tidak pernah berada di titik tertinggi, karena Tuhan lah Yang Maha Segalanya. Melalui elegi ini saya juga memperoleh pembelajaran, bahwa kedewasaaan, kematangan pikir dan spiritualitas tidak bergantung pada seberapa banyak umur kita.

    ReplyDelete
  14. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Pak. Kekuasaan Allah SWT meliputi bumi, langit dan apa yang ada diantara keduanya. Tidak ada pergantian malam dan siang, tidak ada sehelai daun yang jatuh atau tidak ada sehelai rambut manusia yang gugur tanpa izin Allah SWT. Semua yang terjadi, baik itu anugerah maupun musibah adalaah atas kehendak Allah SWT. Sehingga tidak ada hak manusia untuk merasa paling hebat atau bersikap sombong.

    ReplyDelete
  15. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Kata Allah, "jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka". Itulah yang dilakukan oleh Muhammad Nurikhlas dan ibunya Dewi Umaya, mengajak kepala keluarga mereka yakni Bagawat Rama untuk kembali kepada Allah dan meninggalkan sifat sombong serta cinta yang berlebihan kepada dunia dan harta. Harta dan tahta tidak akan dibawa mati dan tidak dapat menolong kita untuk memberatkan amalan ketika hari perhitungan nanti, kecuali harta itu kita sedekahkan dan digunakan untuk menolong Agama Alah. Semua hamba di mata Allah itu sama, entah dia kaya atau miskin, cantik atau ganteng, pejabat atau bukan, cerdas atau tidak, yang membedakannya hanya keikhlasan dan ketaqwaannya saja. Oleh karena itu, raihlah hati yang ikhlas dan ketaqwaan setinggi-tingginya.

    ReplyDelete
  16. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Asalamualaikum Prof,
    Dalam elegi ini diceritakan seorang anak yang soleh dan berbakti pada orang tuanya. Meskipun ia telah sukses dan memiliki banyak kesibukan, tetapi ia tetap mengingat orang tuanya, mendoakan orang taunya, dan mengutamakan silaturahmi dengan orang tuanya. Kesuksesan membuatnya lebih bersyukur pada Allah dan selalu ikhlas serta mengharap ridho Allah. Atas baktinya itu, ia bersama ibunya dapat mengajak ayahnya pada jalan yang di ridhoi oleh Allah. Apa yang dilakukan oleh anak Muhammad Nurikhlas tersebut dapat menjadi tauladan bagi kita semua. Niscaya doa seorang anak soleh yang berbakti pada orang tua dan agamanya akan dikabulkan oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kebahagian itu bukan karena seseorang itu bergelimang harta, bukan karena mempunyai istri cantik, bukan karena bisa liburan ke luar negeri, atau dapat makan enak. Yang perlu diingat adalah manusia itu sifat, sifat itu berubah-ubah, harta itu tidak akan cukup untuk membuat bahagia. Jika hanya mengejar harta , dengan melihat terus ke atas. Maka akan selalu merasa kekurangan dan tidak pernah merasa puas. Tetapi jika engkau memiliki hati yang ikhlas, selalu bersyukur engan apa yang kita memiliki, akan selalu merasa cukup, dan pasti ada saja yang bisa disyukuri. Jadi kuncinya disini adalah bagaimana keikhlasan hatinya. Selain itu harta yang paling berharga bukanlah uang, mobil, rumah, tetapi orang-orang di sekitar kita yang selalu peduli dengan kita. Jadi menurut saya, bukan besryukur karena bahagia tetapi bersyukurlah maka akan bahagia.

    ReplyDelete
  18. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Perjuangan yang sangat panjang dan penuh dengan kesabaran. Cinta yang ada pada hati Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas kepada Begawat Rama benar-benar cinta karena Allah. Karena begitu panjangnya perjalanan hidup mereka dalam berjuang untuk menyadarkan hati sang Begawat Rama. Seperti firman Allah bahwa “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum jika mereka sendiri tidak merubahnya”. Jika kita tidak ada keinginan untuk berubah, Allah juga tidak akan menurunkan hidayah atau tidak mengetuk hatinya untuk berubah, tetapi jika ada kemauan dan keinginan berubah, dalam waktu singkat pun Allah memberikan perantara untuk mengetuk dan menyadarkan hatinya. Sungguh besar karuniaNya.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb
    Terimakasih banyak Pak prof
    Mungkin ayat Al-Quran yang senada dengan elegi di atas yaitu Al-quran Surat At-takasur ayat 1 dan 2 yang artinya” Bermegah-megahan telah melalaikan kamu , sampai kamu masuk ke dalam kubur”.
    Untaian nasehat yang dapat diambil hikmah dari elegi di atas mungkin kalau tidak salah, boleh mengejar dunia tapi jangan lupa dengan akhirat.Tokoh yang diperankan oleh Begawat Rawa dalam elegi tersebut, menggambarkan bahwa terdapat sifat sombong hanya dikarenakan memiliki harta banyak hingga membuat dia lupa kepada Allah.Padahal harta tersebut adalah pemberian Allah.Harta itu adalah sebuah titipan Allah kepada kita, yang kapan saja Allah dapat mengambilnya kembali.Dan yang kita bawa kepada-Nya ketika kita kembali bukan harta melainkan amal kebaikan kita.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terucap syukur atas segala rahmat yang Allah berikan kepada saya dan keluarga. Saya sampai terharu pada saat mengikuti percakapan pada awal-awal ulasan ini. Terima kasih Prof saya ucapkan. Saya yang berada jauh dari orang tua namun sejatinya keduanya selalu ada dalam lantunan doa-doa. Memeluk mereka dalam bait-bait doa membuat diri saya semakin sadar bahwa merekalah orang yang selama ini saya sayangi. Bahkan terkadang saat saya dalam keadaan sakit di sini dan tidak memberitahukan kepada keduanya dikarenakan saya tidak ingin membuat mereka khawatir. Namun, mereka terkadang langsung secara bathin merasakan kalau anaknya dalam keadaan sakit. Sungguh, membaca ulasan ini membuat saya merasa ayah ibu saya adalah orang yang sangat berharga dalam hidup saya. Mereka jugalah yang selalu mengingatkan saya agar tetap mengingat Tuhan di manapun saya berada. Alhamdulillah, kata syukur yang tidak henti-hentinya saya ucapkan kepada Allah.

    ReplyDelete
  21. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 14 ini saya mempelajari bahwa janganlah menjadi sombong atas apa yang telah kita dapatkan di atas dunia ini, karena hal tersebut tidak bersifat kekal. Yang kekal hanyalah ibadah dan amal perbuatan yang dilakukan. Seperti yang dikisahkan dalam elegi ini, Bagawat Rama yang hanya mementingkan urusan duniawinya, mengangungkan kehormatan, dan sombong atas harta yang berlimpah, sehingga membuat dia lupa dengan urusan akhiratnya. Maka disinilah peran keluarga untuk saling mengingatkan jika terdapat anggota keluarga lainnya yang terjerumus kepada kesenangan duniawi. Seperti Dewi Umaya dan Muhammad Nurikhlas yang selalu mengingatkan Bagawat Rama untuk beribadah yang baik dan ikhlas dengan mengesampingkan urusan dunia.

    ReplyDelete
  22. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Tugas setiap manusia adalah saling mengingatkan. Namun, terkadang keduniawian kerap kali membuat manusia saling melupakan. Bahkan banyak orang yang saling menjatuhkan satu sama lain demi mengejar materi duniawi. Sejatinya, kekekalan adalah sifat saling mengingatkan untuk kembali pada-Nya. Harta dan segala materi di dunia tidaklah kita bawa pulang sebagai wujud pertanggungjawaban kepada-Nya. Tuhan melihat dimensi manusia sebagai manusia dengan segala perbuatannya, bukan dengan hartanya. Terima kasih pak, melalui elegi ini telah mengingatkan kami untuk selalu mengingat-Nya.

    ReplyDelete
  23. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Dari elegi ritual ikhlas 14 ini kita belajar banyak hal. Salah satunya adalah bagaimana bakti seorang anak kepada orang tuanya. Di tengah kesibukannya dan kesuksesannya, seorang anak tidak boleh lupa pada orang tuanya. Karena atas restu, doa dan perjuangan orang tuanya lah seorang anak bisa sukses. Kita juga belajar bahwa menuntut keluarga adalah juga menjadi tanggung jawab kita. kita ingat Rasulullah pernah mencontohkan bahwa keluarganya terlebih dahulu lah yang mendapatkan dakwah dan ajakan Rasulullah agar menerima ajaran islam. Semoga Allah senantiasa menjaga kita an keluarga kita serta mempertemukan kita dan keluarga kita, orang tua kita di surga-Nya nanti. Aamiin

    ReplyDelete
  24. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  25. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih prof.. dari elegi ini saya semakin sadar bahwasannya keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya yang diberikan Allah kepada saya. keluarga lah yang membuat saya menjadi seperti sekarang. berkat didikannya semangatnya dan ajaran-ajarannya saya bisa tumbuh hingga seperti ini.

    ReplyDelete
  26. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang dalam balutan kasih sayang Allah. Harta yang halal adalah harta yang diperoleh untuk beribadah kepada Allah bukan untuk suatu kesombongan. Anak yang sholeh adalah anak yang selalu berbakti kepada orang tua, bagaimana pun keadaan orang tua tersebut, kaya atau miskin, beriman atau tidak kita harus tetap berbakti kepadanya. Jika orang tua dalam keadaan tidak beriman kepada Allah, jadi lah anak yang sabar untuk menghadapinya dan selalu meminta pertolongan kepada Allah lewat do'a do'a yang dipanjatkan. Itulah pelajaran yang saya dapat dalam elegi ini.

    ReplyDelete
  27. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Tiada yang mustahil bagi Allah. Segala perjuangan yang nampak sia sis pun, jika itu berkenan make akan berbuah pula. Dewi Umaya yang telah terus berusaha agar suaminya bertobat, dengan doa yang terus, Allah mendengarkan. Allah hadir dalam diri anaknya,Muhamad Nurikhlas itu, menjadi sarana pengkabulan doa sang Dewi. Maka bertobatlah sang Kaya Raya tersebut.
    Terimakasih, telah mengingatkan untuk doa yang tak kunjung putus, Dan disertai upaya untuk menggapai kebaikan.

    ReplyDelete
  28. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Pada elegi ini menceritakan seseorang yang menyombongkan diri akan harta yang dimiliki dan fisiknya. Kemudian perjuangan istri dan anaknya untuk menyadarkannya. Pesan yang dapat saya ambil adalah bahwa dalam hidup ini harta, tahta, kecantikan/ketampanan semua itu sifatnya hanyalah sementara. Allah SWT memberikan semua itu sifatnya hanyalah titipan semata dan manusia tidak akan pernah tahu kapan Allah SWT akan mengambilnya. Hal yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan titipan yang Allah SWT titipkan untuk hal-hal yang bermanfaat, bermanfaat bagi banyak hal. Selain itu juga manusia harus selalu bersyukur atas berkah yang diberikan Allah dengan cara memperbaiki tata cara beribadah demi menggapai keihlasan dalam beribadah.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini mengingatkan saya pada beberapa peristiwa dimana saya cenderung membenci dan menghindari orang-orang yang suka menasehati perihal agama. Dalam hati saya berkata, urus saja dirimu sendiri.. memangnya kamu pikir ibadahmu telah sempurna? Berkali-kali kejadian itu terjadi, namun satu hal yang sama adalah saya menyadari bahwa apa yang dikatakannya benar. Hanya saja saya selalu menyangkal dan merasa tidak butuh diberi saran seperti itu. Astaghfirullah.. Sebuah nasehat dari orang terdekat sebenarnya adalah bentuk kasih sayang, ia ingin bersama mencapai surga. Tentu untuk mengajak berbuat baik dan menasehati kita, seseorang telah berpikir beribu kali apakah ia telah pantas berkata demikian, apakah tidak akan menyinggung. Marilah kita saling mengingatkan untuk kembali ke jalan Allah SWT. Lagi-lagi terima kasih atas elegi ini, Pak Prof.

    ReplyDelete
  30. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Apapun perangai orang tua kita, maka kita tetap harus menghormati dan menyayanginya. Karena ridha Allah tergantung ridha orang tua. Birrul walidain sangat dianjurkan bagi seorang anak terhadap kedua orang tuanya. Salah satu bentuk bakti kita pada orang tua bisa kita lakukan saat orang tua kita masih ada ataupun ketika sudah tiada. Karena salah satu amalan yang tidak akan putus ketika seseorang meninggal adalah doa anak yang sholeh.

    ReplyDelete