Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 16: Menggapai Hamba Bersahaja




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Tiadalah semua urusan dapat aku selesaikan sepenuhnya. Padahal apa yang aku sampaikan kepada logos belumlah seberapa. Walau demikian, tak terasa aku sendiri telah merasa berkurang tingkat kebasahanku. Artinya ada bagian-bagian tertentu dari diriku sudah mulai mengering. Mengapa? Mungkin karena selama ini aku terlalu sibuk bermain-main dengan jargon-jargonku. Diantara jargon-jargon besar para muridku, maka diriku itulah jargon paling besar. Sebetulnya aku enggan mengatakannya, tetapi setidaknya aku ingin tinggalkan jargon-jargon. Aku sudah merasa haus, aku juga ingin memperdalam elegi-elegi seraya menggapai keikhlasan. Aku ingin bermujahadah.

Hati bersih:
Wahai seseorang siapakah engkau itu. Mengapa engkau mendatangiku? Apa yang dapat aku bantu?

Orang tua berambut putih:
Banyak orang menyebutku sebagai orang tua berambut putih. Tetapi sebetulnya aku adalah pengetahuan-pengetahuan mereka. Jadi aku adalah pikiran mereka. Aku ingin bertemu dengan engkau, yaitu sebenar-benar hati. Bolehkah aku bermujahadah?

Hati bersih:
Ketahuilah bermujahadah itu adalah melawan hawa nafsu yang tidak baik. Sedangkan engkau itu sebenarnya mempunyai hawa nafsu baik yang tidak baik maupun yang baik. Padahal aku melihat bahwa hawa nafsumu itu sungguhlah besar-besar. Elegi dan jargon itu adalah contoh dari hawa nafsumu yang besar-besar. Walaupun engkau mungkin sulit membedakan mana nafsumu yang baik dan mana nafsumu yang tidak baik dari elegi dan jargonmu. Sebenar-benar engkau dapat membedakan adalah jika engkau bermujahadah. Tetapi tidaklah mudah bagi dirimu agar engkau dapat memerangi hawa nafsumu yang tidak baik. Diperlukan banyak syarat-syarat antara lain lepaskanlah segala simbol-simbol kebesaran yang melekat pada dirimu. Lepaskanlah segala tanda-tanda kepangkatanmu. Mengapa? Karena simbol-simbol kebesaran dan kepangkatanmu itu menjadi penghalang bagi usahamu untuk bermujahadah. Disamping itu engkau juga harus sungguh-sungguh dalam melaksanakan niatmu bermujahah.

Orang tua berambut putih:
Bagaimana caranya aku bisa melepaskan segala simbol kebesaran dan kepangkatanku? Kapan dan di mana aku bisa melepaskannya?

Hati bersih:
Namamu sebagai orang tua berambut putih itu adalah lambang kebesaran dan pangkatmu. Maka jika engkau ingin bermujahadah betul-betul maka lepaskanlah namamu itu. Maka cukup engkau sebut dirimu sebagai hamba saja. Sedangkan kapan dan di mana engkau melepaskan simbol-simbol kebesaran dan kepangkatanmu itu, tanyakan saja kepada ruang dan waktu.

Hamba:
Wahai hati sejati. Perkenankanlah pada waktu inilah dan pada tempat inilah aku melepaskan nama kebesaranku itu. Perkenankanlah engkau sebut aku sebagai hamba seperti nasehatmu. Dan aku akan bersungguh-sungguh dihadapanmu.

Hati bersih:
Wahai hamba yang bersahaja. Jangan salah paham. Bukanlah mujahadahmu itu ditujukan kepadaku, tetapi bertaqarrublah kepada Allah SWT. Wahai hamba yang sedang bermujahadah. Sekali lagi aku ulangi bahwa bermujahadah itu adalah melawan hawa nafsu yang tidak baik. Banyak sifat-sifatnya nafsu tidak baik itu. Nafsu tidak baik itu adalah nafsu yang hanya menuruti hawa nafsunya, suka yang enak-enak saja, suka bersenang-senang saja. Nafsu yang tidak baik itu juga identik dengan sifat sombong, iri, dengki, marah, bakhil, riya, khianat, munafik dan pendusta. Maka orang-orang yang demikian itu belum mampu membedakan yang baik dan yang buruk, dan belum memperoleh tuntunan dari Allah SWT. Semua yang bertentangan dengan nafsunya dianggap musuh, dan semua yang sejalan dengan nafsunya adalah kawan-kawannya.

Hamba:
Wahai hati sejati. Padahal aku terkadang melakukan hal-hal demikian, walaupaun cuma sedikit. Maka mohon ampunlah aku ya Allah robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa nafsu tidak baik itu tidaklah hanya yang telah aku sebut di atas. Nafsu yang tidak baik itu juga meliputi nafsu yang tidak stabil. Pada suatu saat dia merasa telah bertaqwa dan memperoleh pencerahan hati, tetapi pada saat yang lain dia itu tergoda untuk kembali melakukan maksiat, walaupun kemudian sadar dan bertaubat. Dia itu telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya, tetapi belum mampu mengekang nafsunya.

Hamba bersahaja:
Wahai hati sejati. Padahal aku terkadang melakukan hal-hal demikian, walaupaun cuma sedikit. Maka mohon ampunlah aku ya Allah robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Jiwa dan hatimu telah bersih dari sifat-sifat tercela dan engkau mulai mampu memproduksi sifat-sifat yang baik dan terpuji. Jiwamu akan terasa tenang, mampu mengendalikan diri, ingin melakukan kebaikan-kebaikan serta menghindari diri dari perbuatan dosa. Dirimu yang tenang kemudian menimbulkan kemampuan untuk selalu mengingat Allah SWT sehingga engkau selalu ingin beramal saleh. Semakin bertambah ruang dan waktu maka dirimu akan semakin mantap dan tidak mudah tergoda oleh nafsu-nafsu tidak baik.

Hamba bersahaja:
Alhamdulillah. Amien

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Engkau akan diberi kemudahan untuk memperoleh ilmu-ilmu yang bermanfaat. Engkau akan bersifat tawadu’, pemurah, mudah bersyukur. Maka insyaallah, hidupmu akan memperoleh hiasan akhlak yang terpuji, menjadi orang yang sabar, tabah dan ulet, karena engkau selalu mendapat bimbingan dari Allah SWT.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Maka engkau akan mempunyai kemampuan mengamban amanah untuk mensejahterakan keluargamu, masyarakatmu dan bangsamu. Engkau akan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Tuhan YME. Maka dalam keadaan apapun engkau akan selalu ridlo dalam melaksanakan perintah Allah SWT dan ikhlas menjauhi larangan Nya, serta merasakan selalu berkecukupan terhadap apa yang diberikan oleh Allah SWT.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Jika Allah SWT telah ridla terhadap dirimu maka tanda-tanda keridlaan Nya akan tampak pada dirimu. Doa-doamu adalah dzikir-dzikirmu. Maka seluruh tubuhmu itulah dzikirmu. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliuan baik di dunia maupun di akhirat. Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu.

Hamba bersahaja:
Amien..amien..ya robbul alamin.

Hati bersih:
Wahai hamba bersahaja. Jangan salah paham. Ketahuilah bahwa jikalau engkau betul-betul bermujahadah sembari beristigfar dan telah melampaui dan mengatasi keadaan di atas maka engkau akan segera memperoleh kebaikan pada nafsumu itu. Insyaallah, atas doa-doamu dan perkenan Nya, Allah SWT akan selalu meridlai mu dengan segala ketetapan Nya. Jika Allah SWT telah ridla terhadap dirimu maka tanda-tanda keridlaan Nya akan tampak pada dirimu. Doa-doamu adalah dzikir-dzikirmu. Maka seluruh tubuhmu itulah dzikirmu. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliuan baik di dunia maupun di akhirat. Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu. Segala macam ilmumu yang engkau peroleh adalah anugerah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkenan menghampirimu, maka jiwa dan hatimu begitu dekat dengan Nya. Kemanapun engkau palingkan wajahmu maka yang tampak adalah rakhmat dan hidayah Nya. Untuk itu maka jagalah dirimu itu dengan sepenuh hati dengan cara selalu bermujahadah, yaitu mengendalikan hawa nafsu yang tercela, mengarahkan ke hawa nafsu yang baik-baik, meningkatkan ketaqwaan terhadapAllah SWT, dan selalu memohon ampun dan pertolongan Nya.

Hati bersih dan hamba bersahaja:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

37 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Secara sederhana, mujahadah bisa kita artikan sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan menjauhi larangannya dan mengikuti perintahnya. Dalam hal ini, mengendalikan hawa nafsu merupakan salah satu wujud mujahadah, dimana kegiatan secara perlahan akan mempermudah kita untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

    ReplyDelete
  2. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Dalam diri manusia terdapat kecenderungan. Adakalanya kecenderungan memilih yang baik, adalakanya memilih yang buruk. Namun seutama-utama usaha adalah usaha memerangi hawa nafsu yang mempunyaoi kecenderungan buruk. Dan karena nafsu inilah musuh terbesar ketaatan. Dalam ranah godaan, setan menunggangi nafsu yang pada default manusia telah memilikinya sejak lahir. Sehingga yang menjadi kewaspadaan seorang adalah nafsu yang ditunggangi setan. Agar terhindar dari kehancuran hidupnya baik di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  3. Apa yang akan dibawa oleh manusia ketika kembali dan menghadap Allah SWT? bukanlah harta benda, pangkat, kekuasaan, jabatan tetapi dengan harta itu apakah digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan infak, sedekah. Apakah ia amanah dengan harta yang dimilikinya, jabatannya dan kekuasaannya. Jabatan dan kekuasaan digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan membimbing yang ada pada kuasanya untuk senantiasa beribadah pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Banyak orang di dunia ini sadar bahwa perbuatannya itu salah, namun ia masih tetap melanjutkan perbuatan tersebut. Mengapa demikian, karena banyak orang di dunia ini blum bisa mengekang hawa nafsunya. Sedangkan hawa nafsu itu mengandung dosa ketika kita melakukannya. Dimana dosa itu merupakan penghambat rezeki, penghambat sampainya ilmu kepada diri kita, penghapus amalan-amalan terdahulu, dsb. Oleh karena itu marilah kita selalu meminta perlindungan kepad Allah SWT agar dapat selalu mampu mengendalikan hawa nafsu kita. Amin

    ReplyDelete
  5. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Hawa nafsu adalah hal yang niscaya pada diri manusia. Dimana nafsu itu ada yang baik ada pula yang tidak baik. Maka yang perlu kita lakukan yaitu melawan nafsu tidak baik itu. ada 2 cara yaitu dengan bermmujahadah dan beristigfar. Bermujahadah yaitu melawan hawa nafsu yang tidak baik. Syarat untuk bermujahadah yaitu melepaskan segala simbol-simbol kebesaran yang melekat pada diri dan pangkat. Karena simbol-simbol kebesaran dan pangkat itu menjadi penghalang bagi usaha untuk bermujahadah. Disamping itu juga harus niat sungguh-sungguh dalam melaksanakan mujahadah.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Manusia merupakan makhluk yang memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu ada pada diri manusia. Manusia hendaknya berusaha untuk dapat membedakan antara hawa nafsu baik dan hawa nafsu buruk kemudian berusaha mengendalikannya dengan mengharap pertolongan Allah SWT.
    Selalu melakukan refleksi terhadap diri kita dan memohon ampunan serta perlindungan Allah SWT. Memohon perlindungan Allah dari hawa nafsu yang menjadikan diri manusia melupakan kodratnya sebagai makhluk ciptaan Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Untuk menggapai hamba yang bersahaja yaitu dengan cara bermujahadah. Mujahadah berasal dari kata jihad yang artinya berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Allah. Dalam elegi ini mujahadah yang dimaksudkan adalah memerangi hawa nafsu yang mengatasi segala kelemahan diri untuk mencapai dengan sempurna keridhaan Allah SWT. "Apabila hawa nafsu sudah dominan, maka hati akan gelap. Apabila hati gelap, maka dada kan menyempit. Apabila dada menyempit, maka akhlak jadi buruk. Apabila akhlak buruk, maka makhluk akan membencinya" (Abu Bakar al-Hakim al-Warraaq).

    Mujahadah itu maksudnya luas, bukannya kita hanya perlu bermujahadah pada masa-masa atau keadaan-keadaan tertentu saja (misalnya hanya bila dalam kesulitan atau akan mengahadapi ujian saja). Padahal bermujahadah itu senantiasa perlu kita lakukan karena berjihad melawan nafsu yang buruk (ajakan syaitan) merupakan mujahadah terbesar dalam diri seseorang hamba yang beriman kepada Allah SWT. Dan dalam bermujahadah selalu beristighfar seraya memohon doa agar selalu diberi kekuatan dan perlindungan dalam perjuangan bermujahadah.

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Untuk menggapai hamba yang bersahaja yaitu dengan cara bermujahadah. Mujahadah berasal dari kata jihad yang artinya berjuang dengan sungguh-sungguh di jalan Allah. Dalam elegi ini mujahadah yang dimaksudkan adalah memerangi hawa nafsu yang mengatasi segala kelemahan diri untuk mencapai dengan sempurna keridhaan Allah SWT. "Apabila hawa nafsu sudah dominan, maka hati akan gelap. Apabila hati gelap, maka dada kan menyempit. Apabila dada menyempit, maka akhlak jadi buruk. Apabila akhlak buruk, maka makhluk akan membencinya" (Abu Bakar al-Hakim al-Warraaq).

    Mujahadah itu maksudnya luas, bukannya kita hanya perlu bermujahadah pada masa-masa atau keadaan-keadaan tertentu saja (misalnya hanya bila dalam kesulitan atau akan mengahadapi ujian saja). Padahal bermujahadah itu senantiasa perlu kita lakukan karena berjihad melawan nafsu yang buruk (ajakan syaitan) merupakan mujahadah terbesar dalam diri seseorang hamba yang beriman kepada Allah SWT. Dan dalam bermujahadah selalu beristighfar seraya memohon doa agar selalu diberi kekuatan dan perlindungan dalam perjuangan bermujahadah.

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, sebagai seorang manusia, tentulah kita memiliki hawa nafsu, nafsu baik maupun nafsu yang tidak baik. Mengalahkan nafsu yang tidak baik salah satu caranya adalah dengan bermujahadah. Ketika kita mencoba untuk bermujahadah, kita diharuskan untuk melepaskan kebesaran, pangkat dsb, dan menyadari bahwa kita hanyalah hamba Allah dimana kita sangat kecil posisinya dihadapan Allah. Senantiasa berdoa, dan memohon perlindungan serta petunjuknya lah kita mampu menjadi hamba yang bersahaja.

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, kami menyadari bahwa sejatinya setiap saat didalam hati dan pikiran terjadi pertempuran antara keinginan baik dan keinginan buruk. Senada dengan pemikiran Blaise Pascal bahwa sejatinya manusia sebagai makhluk yang nista sekaligus luhur. Karenannya manusia adalah makhluk yang membutuhkan Allah. Dalam diri manusia senantiasa terjadi perang batiniah antara akal budi melawan nafsu-nafsu. Yang satu ingin melenyapkan nafsu-nafsu sehingga menjadi dewa, yang lain ingin melenyapkan akal-budi sehingga menjadi binatang, akan tetapi itu tak akan pernah terjadi. Nafsu-nafsu selalu ada pada manusia, dan akal budi juga selalu ada pada manusia. Sehingga kita perlu mendekatkan diri kepada Allah dengan iman dan ketakwaan kita, agar kita memenangkan akal-budi, dan hati nurani dalam pertempuran tersebut.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Manusia di dunia ini seberapa tinggipun pangkatnya, seberapa besar penghasilan dan kekayaan yang dimilikinya itu semua akan kembali kepada Allah Sang Pencipta. Oleh karena itu kita tidak boleh sombong dan harus rendah hati senantiasa mengingat Allah. Salah satunya dengan bermujahadah, dengan bermujahadah kita bisa senantiasa mengingat Allah dan mengendalikan nafsu negatif kita sehingga kita bisa semakin dekat dengan Allah. Bermujahadah berarti juga kita mengosongkan pikiran dan hati kita hanya untuk ALLah semata.

    ReplyDelete
  12. Junianto
    PM C
    17709251065

    Hamba yang bersahaja senantiasa ikhtiar dan tawakal kepada Allah. Meyerahkan segala urusannya kepada Tuhan setelah melakukan usaha yang maksimal. Hamba tersebut juga selalu bermunajat kepada Allah untuk meminta petunjuk dan kekuatan. Hanya Allah lah sebaik-baik tempat mengadu dan berkeluh kesah. Hanya Allah juga yang bisa mendengar semua keluh kesah hambanya.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Pada elegi 16 ini mengulas tentang mujahadah. Melawan nafsu yang buruk, mengendalikan diri dari nafsu. Seseorang yang ingin bermujahadah maka perlu meninggalkan keduniawiannya, harta, jabatan, dan sesuatu yang membuatnya merasa lebih baik dari orang lain. Karena hal-hal yang berhubungan dengan keduniawian hanya akan menjadi penghalang untuk bermujahadah. Selain itu niat yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu untuk mencapai ridho Allah swt.
    Terdapat empat rukun mujahadah menurut Al Marhum Said Hawwa dalam kitabnya Tarbiyatuna al Ruhiyyah. Pertama adalah menyendiri (al uzlah). Dalam kehidupan memang diperlukan untuk bermasyarakat. Tetapi ada kalanya untuk menyendiri. Menyendiri dari segala kekufuran, kemunafikan dan membuat kejahatan.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Mujahadah, melawan nafsu yang buruk. Pada elegi ini saya melihat bahwa dalam melawan nafsu buruk kita harus memiliki bekal yang kuat, yaitu niat dan ikhlas. Mengharap ridhonya, menyerahkan segalanya pada Sang Pencipta. Berarti kita harus waspada dengan si sombong bukan? Wah jangan sampai dia tiba terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  15. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Untuk menebus semua dosa-dosa, kita perlu bertaubat kepada Allah. Selain itu kita juga perlu bermujahadah, introspeksi diri dengan semua perbuatan yang telah kita lakukan. Perbuatan yang baik harus kita lanjutkan dan tingkatkan, sedangkan perbuatan yang buruk harus segera kita tinggalkan dan melakukan taubat.

    ReplyDelete
  16. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Semoga kita semua dapat menjadi hamba yang bersahaja, selalu terlindung dari perbuatan buruk dan hawa nafsu yang buruk pula. Doa-doa kita adalah dzikir-dzikir. Maka seluruh tubuh kita itulah dzikir kita. Insyaallah, jika Allah SWT mengijinkannya, maka orang-orang seperti itu akan memperoleh kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Kunfayakun, jika Allah SWT menghendakinya maka tiadalah orang mampu menghalanginya untuk segala kebaikanmu maupun keburukanmu. Untuk itu maka jagalah diri dengan sepenuh hati dengan cara selalu bermujahadah, yaitu mengendalikan hawa nafsu yang tercela, mengarahkan ke hawa nafsu yang baik-baik, meningkatkan ketaqwaan terhadapAllah SWT, dan selalu memohon ampun dan pertolongan Nya.

    ReplyDelete
  17. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Hawa Nafsu merupakan semua keinginan-keinginan kita yang muncul, nafsu yang buruk dapat menjerumuskan kita ke dalam neraka. Seperti dalam Q.S. Yusuf ayat 53, “Dan Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), Karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha penyanyang.” Terlihat jelas bahwa kita harus pandai-pandai dalam mengendalikan nafsu kita.
    Seperti yang diriwayatkan melalui Imam Shâdiq bahwa Rasulullah saw bersabda: “Waspadalah terhadap hawa nafsu kalian sebagaimana kamu sekalian waspada terhadap musuh. Tiada yang lebih pantang bagi manusia daripada mengikuti hawa, nafsu dan ketergelinciran lidah yang tak bertulang.” Oleh karena itu, kita harus bisa mengendalikan hawa nafsu kita.
    Keberhasilan kita melawan hawa nafsu akan dijanjikan sebuah surga seperti dalam firman Allah SWT dalam Q.S. An-Nazia’at ayat 40- 41: “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).
    Trimakasih.
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  18. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  19. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya, hawa nafsu itu sendiri adalah suatu dorongan yang dapat menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu. Perlu digarisbawahi, dorongan tersebut ada yang bersifat baik dan buruk. Menurut saya kedua kutup tersebut harus saling dikendalikan sesuai dengan ruang dan waktunya. Manusia sebagai makhluk yang dapat berpikir dan memiliki kuasa pula atas hawa nafsunya sendiri meskipun tidak sepenuhnya. Sangat disayangkan saat manusia terbelenggu dengan hawa nafsunya sendiri. Apapun yang dilakukan sebaiknya disertai dengan niat (doa), keihklasan dan sadar semua itu kehendak Tuhan.

    ReplyDelete
  20. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Pak. Banyak manusia di dunia ini yang melakukan kejahatan karena mengikuti nafsunya. Logikanya sudah tidak mampu bernalar serta nuraninya sudah tidaak mampu merasakan bahwa yang dilakukan itu salah dan dilarang Allah SWT karena pikiran dan hatinya sudah terlanjur tertutupi oleh hawa nafsunya.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Allah SWT melihat seorang hamba dari hatinya, bukan dari parasnya. Maka, milikilah hati yang bersahaja. Hati yang bersahaja adalah hati yang bersih dari sombong, iri, dengki, marah, bakhil, riya, khianat, munafik dan pendusta. Hati yang bersih akan menghantarkan pada kekhusyukan dalam beribadah, tenang dalam menjalani hidup, dan selalu bersyukur bagaimanapun keadaan yang ada. Oleh karena itu, berdoa dan memintalah kepada Allah hati yang bersih, amal yang diterima, dan niat yang ikhlas agar kita selamat dan sukses di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  23. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Hamba yang bersahaja ialah hamba yang senantiasa bermujahabah. Mujahadah berarti berjuang dengan sungguh-sungguh menurut syari’at islam dan giat melakukan ibadah. Manusia dikaruniai dua macam hawa nafsu, yaitu hawa nafsu yang baik dan hawa nafsu yang buruk. Elegi ini memberikan pelajaran untuk bermunajah melawan hawa nafsu yang buruk. Munajah yang sungguh-sungguh akan dapat menentang hawa nafsu yang buruk dan juga mendatangkan banyak manfaat karena merupakan wujud ketaatan pada Allah SWT. Munajah tersebut dapat dilakukan dengan cara memohon ampun, memperbanyak istighfar, doa, dan ibadah lainnya yang sesuai dengan tuntunan agama.

    ReplyDelete
  24. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini, maksud dari bersahaja itu ketika melakukan sesuatu sesuai ruang dan waktu. Apa yang kita lakukan itu tepat, selain apa yang kita lakukan, juga apa yang dirasakan. Bagaimana hati kita, kebijaksanaan kita. Jika hati kita dipenuhi dengan hawa nafsu, maka pikiran kita juga tidak dapat berpikir jernih, apalagi perbuatan kita. Jika kita dapat mengontrol itu, maka keputusan yang diambil akan cenderung tepat. Pada intinya adalah untuk menjadi bersahaja, yang paling utama adalah bagaimana hati kita dulu. Apakah dalam melakukan sesuatu itu sudah tulus ikhlas belum.

    ReplyDelete
  25. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Manusia adalah mahluk yang kompleks yang umumnya sering dikuasai oleh keinginan-keinginan dalam meraih segala sesuatu hal yang menurut dia sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya. Maka dari itu manusia harus membentengi diri dengan sebenar-benarnya iman dan taqwa kepada Allah swt. Dan manusia juga dituntut untuk selalu menanamkan sikaf mujahadah di dalam diri mereka agar selalu berada pada jalan yang di ridhoi oleh sang maha pencipta. Sebagian Ulama mengatakan Mujahadah adalah tidak menuruti kehendak nafsu, dan ada lagi yang mengatakan Mujahadah adalah menahan nafsu dari kesenangannya, Mujahadah adalah sarana dari hidayah rohani kepada Allah dan ridho-Nya. Jadi dalam mujahadah terkandung unsur melawan hawa nafsu secara terus menerus. Maka dari itu, manusia harus selalu siaga untuk berperang terutama dalam melawan hawa nafsu yang ada pada diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  26. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Bersahaja berarti sederhana. Hamba yang bersahaja kemungkinan besar tidak mudah menuruti hawa nafsu buruknya, dia lebih mudah untuk bermujahadah sembari beristigfar. Inilah pentingnya bermujahadah mendapatkan kemuliaan baik di dunia maupun di akhirat. Dengan bermujahadah sungguh-sungguh, insya allah perilaku dan pikiran kita selalu positif dan selalu ingat kepada Allah SWT. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Hakim Al-Warraq bahwa “apabila hawa nafsu sudah dominan , mak hati akan gelap. Apabila hati gelap, maka dada akan menyempit. Apabila dada menyempit, maka akhlak jadi buruk. Apabila kahlak buruk, maka makhluk lain akan membencinya”.

    ReplyDelete
  27. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Terimakasih banyak Pak Prof.
    Ketika ingin menjadi hamba yang bersahaja, untuk kesekian kalinya elegi tersebut mengingatkan kita supaya menjauhkan diri dari kesombongan.Sebab sifat sombong adalah akar dari segala tindak keburukan.Kesombongan dapat menghalangi niat mendekatkan diri kepada Allah.Munculkan keikhlasan dan meretas penyakit hati yang ada pada diri kita.Agar saat bercumbu dengan Allah ada ketenangan, kedamaian dalam menggapai ridhonya

    ReplyDelete
  28. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Maksud dari mujahadah adalah memerangi hawa nafsu dan mengatasi segala kelemahan diri untuk mencapai dengan sempurna keridoan Allah SWT. Hawa nafsu adalah musuh yang sanfat keji dan mencelakakan serta sukar untuk dihindari. Latihan menundukkan hawa nafsu ini perlu dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqomah. Selain itu hendaknya bermujahadah dalam beramal. Dalam beramal sudah tentu ada halangan-halangannya, ada ujian ujiannya banyak. Jika tidak kuat, mujahadah atau melawan hawa nafsu, maka kita akan merasa jenuh.

    ReplyDelete
  29. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 16 ini saya memahami bahwa setiap manusia di bumi ini pasti mempunyai hawa nafsu. Sebaik-baik dan seterhormatnya seseorang, ia pasti mempunyai hawa nafsu. Hawa nafsu sebenarnya terbagi atas dua, yaitu hawa hafsu baik dan hawa nafsu tidak baik. Maka yang perlu dikendalikan adalah hawa nafsu yang tidak baik. Dan cara yang dapat ditempuh untuk melawan hawa nafsu yang tidak baik adalah dengan cara bermujahadah. Syarat-syarat dalam bermujahadah adalah dengan melepaskan segala simbol-simbol kebesaran yang ada pada diri, melepaskan simbol-simbol kehormatan dan kepangkatan, karena hal itulah yang akan menghalangi proses bermujahadahnya seseorang. Dan syarat selanjutnya adalah dengan niat yang ikhlas dan tekad yang kuat untuk melaksanakan mujahadah.

    ReplyDelete
  30. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Menjadi hamba yang bersahaja adalah hamba yang penuh kesederhanaan. Kesederhanaan tersebut menjauhkan manusia dari sifat-sifat sombong, iri hati, dengki, riya’ dan lain sebagainya. Dengan berdoa dan mengingat nama Tuhan Yang Maha Esa maka sekaligus melunturkan sifat-sifat sombong, iri hati, dengki, dan riya’. Bersahaja adalah kesederhanaan yang mencerahkan dan menyejukkan hati manusia yang di dalamnya bersemayam kebersahajaan.

    ReplyDelete
  31. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Sesungguhnya tiada bekal yang akan kita bawa menuju kehidupan akhirat selain dari amal perbuatan. Rasa serakah terhadap harta-harta duniawi adalah bentuk kesombongan yang lahir dari rasa ketidakpuasan. Hal tersebut adalah suatu pengingkaran akan nilai-nilai ilahi yang terjadi karena jauhnya kita dengan ilmu agama. Menjadi insan bersahaja memang begitu sulit, namun belajar untuk selalu ikhlas dan bersyukur adalah jalan menuju kesahajaan. Mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya adalah suatu kewajiban yang hakiki.

    ReplyDelete
  32. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih banyak prof. Marsigit atas artikel di atas. Saya pernah membaca bahwa mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya dalam amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia. Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abdun (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma’bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah). Mujahadah menjadi sarana untuk menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Di antara perintah Allah SWT kepada manusia adalah untuk selalu berdedikasi dan berkarya secara optimal. Bukanlah perkara mudah menjadi hamba yang bermujahadah, sedangkan nafsu terus menggeluti hati dan pikiran manusia di setiap waktu perjalanan hidup. Namun alangkah senangnya Allah ketika hamba-hamba nya berusaha untuk menggapai predikat menjadi hamba yang bersahaja dengan bermujahadah, melawan segala nafsu dan sepenuh hati melaksanakan ibadah dan amal kebaikan karena Allah swt. Semoga kita termasuk golongan hamba yang selalu bersyukur sehingga kita sadar akan pentingnya mendahulukan Allah dari pada urusan dunia. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  33. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Pangkat, gelar, kebanggaan, identitas, ke-aku-an, adalah hal-hal yang secara sadar atau tidak bisa membuat jarak antara diri kita dengan Allah. Apa yang patut kita banggakan jika semua yang kita miliki sekarang adalah amanah dari Allah yang bisa Allah ambil kapan saja. Apa yang patut kita banggakan jika gelar, pangkat bisa jadi adalah ujian yang Allah berikan pada kita, tanpa kita tau apakah kita akan mulia atau hina dengan pangkat tersebut. maka sebaik-baik sikap dan perilaku adalah dengan mengingat bahwa semua itu adalah titipan, adalah amanah, yang suatu saat nanti kita akan dimintai pertanggung jawabannya.

    ReplyDelete
  34. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    Elegi mengenai mujahadah yaitu melawan nafsu yang buruk. Dimana mujahadah ini dapat menimbulkan sebuah sifat sombong pada manusia. Hawa nafsu yang buruk memang harus kita lawan sekuat-kuatnya, sesungguhnya itu berasal dari godaan syaitan yang pastinya akan terarah ke hal-hal yang tidak ada manfaat nya jika dituruti. Seperti halnya yang dikatakan oleh Hati Bersih bahwa kita juga mempunyai hawa nafsu yang baik, dimana itu terletak kepada hal-hal yang selalu membawa manfaat kepada diri sendiri, orang lain dan bermanfaat untuk urusan kita kepada Allah SWT. Sungguh memang lah berat bagi saya untuk sepenuhnya meninggalkan nafsu buruk dan sepenuhnya untuk mengikuti nafsu baik,karena masih banyak urusan dunia yang selalu di prioritaskan. Hanya dengan berusaha menjadi lebih baik dan berdo'a selalu meminta pertolongan dari Allah yang dapat dilakukan. Semoga Allah selalu memberi perlindungan dan pertolongan. Aamiin.

    ReplyDelete
  35. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Bersahaja, sederhana, menjadi seperti anak kecil... menjadi salah satu ritual untuk menggapai ikhlas. Ternyata memang ilmu yang penuh perjuangan lah ikhlas itu. Godaan untuk menceritakan, memamerkan apa yang dimiliki, apa yang hebat yang pernah dialami, itu sering muncul.
    Trimakasih telah diingatkan. Semoga Allah merestui usaha menggapai hamba bersahaja ini.

    ReplyDelete
  36. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Elegi ini menunjukkan bahwa sekecil apapun kesombongan di dalam diri kita adalah wujud dari hawa nafsu yang bersifat negatif. Apalagi jika kita terlalu sering menyombongkan diri baik di dalam hati maupun di hadapan orang lain. Bermujahadah atau mensucikan hati adalah kondisi yang sangat sulit diraih, terlebih lagi jika kita tidak pernah mencobanya sama sekali. Ternyata menggapai keikhlasan itu tidak mudah, bahkan amat sangat sulit sekali. Hingga elegi ke 16 saya masih menyadari bahwa keikhlasan di dalam diri saya masih sangat jauh, karena saya belum bisa melawan hawa nafsu negatif yang menggoda.

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Melawan nafsu yang tidak baik tidaklah mudah, butuh usaha dan tekad yang kuat. Melawan hawa nafsu yang tidak baik bisa disebut bermujahadah. Bermujahadah harus selalu diniatkan untuk memperoleh ridho dari Nya, jika tidak maka akan berdosa dan menjadi orang yang merugi. Salah satu ciri orang yang merugi adalah hari ini sama dengan hari kemarin.

    ReplyDelete