Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan dari Sdr Nurfita Handayani:

Ass.. dalam artikel bpk menuliskan setinggi-tingginya dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya. untuk menujukan adanya keikhlasan dalam hati kita masing-masing, maka bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?



Jawaban saya (Marsigit):

Ass..Purwanti RYA ..ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah.
Uraian saya berikut saya fokuskan pada ikhlas dalam pikir. Sedangkan untuk ikhlas dalam hati mungkin diuraikan secara terpisah.

Jika yang engkau maksud ikkhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason".

Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice".

Prejudice adalah pengetahuanmu juga. Jika aku katakan pengetahuanmu adalah hidupmu, maka "prejudice" adalah hidupmu juga.

Maka "menuju prejudice" adalah pegetahuanmu atau logosmu.

Sedangkan "menjadi prejudice" adalah mitosmu.

Maka "bukan prejudice" itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya.

Jadi ikklas dalam pikiranmu adalah kesediaan dan kesiapanmu membuat anti-tesis dari pengetahuanmu.

Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranmu juga kesediaanmu dan kesiapanmu membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis.

Yang telah aku sebut itulah sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatmu.

Maka aku telah membuktikan bahwa iklhas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri.

Jika engkau pikir filsafat adalah "bijak" mu maka ikhlas dalam pikir itu ternyata adalah juga "bijak" mu.

Itulah yang selama ini kita pelajari, kita diskusikan, aku buatkan elegi dan juga telah berusaha digapai oleh para filsuf besar dari jaman Yunani Kuno sampai jaman komtemporer sekarang.

Untuk kesekian kali aku telah membuktikan bahwa ilmu itu dimulai dengan pertanyaan.

Penjelasanku tentang pertanyaanmu ini itulah sebenar-benar ilmuku.

Maka jangan ragu-ragu untuk selalu memproduksi pertanyaan, karena mereka itulah landasan dari filsafatmu.

Sedangkan engkau tahu bahwa sebenar-benar filsafat adalah hidupmu.

Maka pertanyaan-pertanyaanmu itu adalah hidupmu.

Hidupmu itulah keberadaanmu.

Maka aku juga telah membuktikan cogito ergosumnya Rene Descartes, bahwa engkau ada "hidup" adalah dikarenakan engkau masih bisa bertanya.

Tetapi engkau mampu bertanya adalah karena ikhlas pikirmu.

Maka barang siapa tidak ikhlas dalam pikirnya maka dia terancam tidak bisa bertanya.

Maka barang siapa tidak bertanya atau tidak mau bertanya, maka dia akan terancam hidupnya.

Sebenar-benar hidupmua adalah pertanyaanmu.

Ilmu bermodal ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal bertanya.

Maka tiadalah kemampuanmu bertanya itu datang seketika dari langit, tiada pulalah hidupmu itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian juga adalah ikhtiarmu.

Maka aku juga telah menemukan bahwa ikhtiarmu itulah hidupmu.

Dari ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup.

Itulah aku juga telah membuktikan bahwa setiap kata-katamu adalah puncak gunung es duniamu.

Maka ilmumu adalah penjelasanmu dari setiap puncak gunung es mu.

Penjelasanmu adalah ilmumu adalah filsafatmu dan ternyata adalah ikhlas pikirmu.

Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri.

Itulah yang sebenar-benar sedang engkau hadapi.

Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.

Maka baca dan renungkanlah.

Amiin

1 comment:

  1. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Rasa ikhlas tidak bisa direncanakan ataupun dijadwalkan. Rasa ikhlas akan muncul dengan sendirinya, yang pasti atas kehendak Allah SWT. Kehidupan ini pada hakikatnya adalah sebuah pilihan bagi manusia, Allah memberikan hal yang baik dan yang buruk agar manusia mampu memilih diantara keduanya. Sedangkan kegiatan manusia di dunia ini merupakan ikhtiar yang bertujuan untuk mendapatkan ridho-Nya serta keberkahan-Nya dalam hidup manusia itu, namun diberkahi atau tidaknya amal perbuatan kita itu bukanlah urusan manusia, tetapi wewenang dari Allah SWT. Kita hanya mampu berikhtiar dan berdoa, kita hanya mampu berusaha dan memohon kepada-Nya, segala keputusan tentang kita adalah hak Allah semata. Oleh karena itu, setiap hal yang kita lakukan seharusnya dikerjakan dengan rasa ikhlas.

    ReplyDelete