Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 38 : Menggapai Pikiran Ikhlas




Oleh Marsigit

Berikut saya nukilkan pertanyaan dari Sdr Nurfita Handayani:

Ass.. dalam artikel bpk menuliskan setinggi-tingginya dunia dan akhirat adalah ikhlas adanya. untuk menujukan adanya keikhlasan dalam hati kita masing-masing, maka bagaimanakah kita menunjukan rasa ikhlas dalam ilmu filsafat?



Jawaban saya (Marsigit):

Ass..Purwanti RYA ..ikhlas dalam pikir dan ikhlas dalah hati, begitulah.
Uraian saya berikut saya fokuskan pada ikhlas dalam pikir. Sedangkan untuk ikhlas dalam hati mungkin diuraikan secara terpisah.

Jika yang engkau maksud ikkhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir, maka sebenar-benar ikhlasnya pikiran adalah "pure reason".

Pure reason itu tidak lain tidak bukan adalah terbebas dari "prejudice".

Prejudice adalah pengetahuanmu juga. Jika aku katakan pengetahuanmu adalah hidupmu, maka "prejudice" adalah hidupmu juga.

Maka "menuju prejudice" adalah pegetahuanmu atau logosmu.

Sedangkan "menjadi prejudice" adalah mitosmu.

Maka "bukan prejudice" itu adalah anti-tesis dari prejudice, dan sebaliknya.

Jadi ikklas dalam pikiranmu adalah kesediaan dan kesiapanmu membuat anti-tesis dari pengetahuanmu.

Tidak hanya itu saja, ikhlas dalam pikiranmu juga kesediaanmu dan kesiapanmu membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis.

Yang telah aku sebut itulah sebenar-benar ilmumu dan juga filsafatmu.

Maka aku telah membuktikan bahwa iklhas dalam pikir tidak lain tidak bukan ternyata adalah filsafat itu sendiri.

Jika engkau pikir filsafat adalah "bijak" mu maka ikhlas dalam pikir itu ternyata adalah juga "bijak" mu.

Itulah yang selama ini kita pelajari, kita diskusikan, aku buatkan elegi dan juga telah berusaha digapai oleh para filsuf besar dari jaman Yunani Kuno sampai jaman komtemporer sekarang.

Untuk kesekian kali aku telah membuktikan bahwa ilmu itu dimulai dengan pertanyaan.

Penjelasanku tentang pertanyaanmu ini itulah sebenar-benar ilmuku.

Maka jangan ragu-ragu untuk selalu memproduksi pertanyaan, karena mereka itulah landasan dari filsafatmu.

Sedangkan engkau tahu bahwa sebenar-benar filsafat adalah hidupmu.

Maka pertanyaan-pertanyaanmu itu adalah hidupmu.

Hidupmu itulah keberadaanmu.

Maka aku juga telah membuktikan cogito ergosumnya Rene Descartes, bahwa engkau ada "hidup" adalah dikarenakan engkau masih bisa bertanya.

Tetapi engkau mampu bertanya adalah karena ikhlas pikirmu.

Maka barang siapa tidak ikhlas dalam pikirnya maka dia terancam tidak bisa bertanya.

Maka barang siapa tidak bertanya atau tidak mau bertanya, maka dia akan terancam hidupnya.

Sebenar-benar hidupmua adalah pertanyaanmu.

Ilmu bermodal ilmu, ikhlas bermodal ikhlas, hidayah bermodal hidayah, bertanya bermodal bertanya.

Maka tiadalah kemampuanmu bertanya itu datang seketika dari langit, tiada pulalah hidupmu itu sekonyong datang dari langit, kecuali hal yang demikian juga adalah ikhtiarmu.

Maka aku juga telah menemukan bahwa ikhtiarmu itulah hidupmu.

Dari ikhlas pikir sampai ikhtiar dan hidup.

Itulah aku juga telah membuktikan bahwa setiap kata-katamu adalah puncak gunung es duniamu.

Maka ilmumu adalah penjelasanmu dari setiap puncak gunung es mu.

Penjelasanmu adalah ilmumu adalah filsafatmu dan ternyata adalah ikhlas pikirmu.

Maka ikhlas dalam filsafat adalah ikhlas dalam pikir adalah ternyata filsafat itu sendiri.

Itulah yang sebenar-benar sedang engkau hadapi.

Belajar filsafat adalah usahamu menggapai ikhlas dalam pikirmu.

Maka baca dan renungkanlah.

Amiin

27 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar filsafat merupakan cara untuk menggapai ikhlas, adalah sebuah kalimat yang begitu dalam maknanya. Filsafat hidup dan filsafat kehidupan setelah tiada dunia.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Memang begitu dalam karena berfilafat berarti mencari akar dari sebuah hal yang nantinya akan berujung pada keikhlasan dalam menerima setiap hal yang ada.

    ReplyDelete
  3. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Pikiran yang ikhlas dapat dicapai oleh manusia apabila manusia itu telah terbebas dari segala macam prejudice. Berpikir ikhlas tentang segala hal artinya manusia itu telah mencurahkan segala hal yang dia bisa untuk memikirkan hal tersebut dengan tidak mengukurnya dengan apa yang telah dipahaminya atau sesuai dengan pengetahuannya. Manusia yang memiliki ikhlas pikir, harus dapat membuat antitesis dari segala tesis-tesisnya. serrta menjembatani atau mensintesis dari tesis dan antitesisnya. Orang yang telah memiliki ikhlas pikir ini akan memandang segala sesuatu sesuai dengan apa adanya sesuatu itu, tidak memihak atau memahami sesuatu secara setengah-setengah yang tentu akan sangat berpengaruh terhadap segala keputusan-keputusan yang diambil oleh manusia,

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia yang tidak memiliki ikhlas pikir ini adalah manusia yang akan selalu diliputi rasa kesombongan dan memaksakan kehendaknya atau pemikirannya terhadap orang lain. Orang yang tidak memiliki ikhlas pikir ini berrrarti dia tidak siap untuk menerima bahwa dalam dunia ini pasti ada berbagai macam sisi, dia hanya melihat dari satu sisi saja dan tidak mau atau menutup dari sisi lainnya., Baginya apa yang dia pahami adalah yang paling benar, sehingga pemikirannya hanya akan menimbulkan benturan-benturan dalam kehidupan. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu ikhlas dalam berpikir, terbebas dari segala macam belenggu yang dapat menutupi dan menjauhkan kita dari kebenaran yang sejati,

    ReplyDelete
  5. Nama Febrian Luthfi F
    13301241062
    Pendidikan Matematika 2013

    Menggapai pikiran ikhlas adalah ikhlas dalam berfikir melalui merasa membutuhkan akan hal itu dan berusaha untu mendapat ilmu. Ikhlas pikir maka juga harus ikhlas batin/hati untuk benar-benar mendapat hal-hal yang kita inginkan.

    ReplyDelete
  6. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Pikiran ikhlas dalam filsafat ternyata adalah filsafat itu sendiri. Mempelajari fisafat adalah sebuah keikhlasan. Belajar filsafat berarti munculnya pertanyaan pertanyaan tentang filsafat itu sendiri. Sedangkan tidak mungkin seseorang memproduksi pertanyaan jika dia tidak ikhlas. Maka pertanyaaan dari “Apakah sesungguhnya ikhlas pikir itu?” juga merupakan suatu ikhlas pikir. Selama kita hidup kita akan selalu bertanya tentang banyak hal, sedangkan bertanya itu adalah awal dari ilmu. Jadi agar kita dapat memperoleh ilmu terlebih dahulu kita harus ikhlas pikir. Jika ada yang membaca komen ini dan bertanya dalam hati apa maksudnya, maka itulah calon ilmu yang sedang dalam bentuk pertanyaan, dan itulah ikhlas pikir.
    Jangan ragu-ragu untuk memproduksi pertanyaan karena pertanyaan adalah landasan dari filsafat. Salah satutanda bahwa kita sedang belajar filsafat adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan di dalam pikiran kita. Jika kita ikhlas memikirkannya maka pertanyaan tersebt akan berubah menjadi ilmu. Maka sebenar-benar seseorang yang sedang belajar filsafat maka ia akan meraskan kebingungan dan kekacauan di dalam pikirannya karena banyaknya pertanyaan-pertanyaan mengenai fisafat itu. Maka sekacau-kacaunya pikiran kita maka kita harus ikhlas memikirkannya agar kacaunya pikir tidak menjalar ke kacau hati. Karena kacau pkir akan menjadi ilmu sedangkan kacau hati akan menjadi penyakit hati.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Rasa ikhlas tidak bisa direncanakan ataupun dijadwalkan. Rasa ikhlas akan muncul dengan sendirinya, yang pasti atas kehendak Allah SWT. Kehidupan ini pada hakikatnya adalah sebuah pilihan bagi manusia, Allah memberikan hal yang baik dan yang buruk agar manusia mampu memilih diantara keduanya. Sedangkan kegiatan manusia di dunia ini merupakan ikhtiar yang bertujuan untuk mendapatkan ridho-Nya serta keberkahan-Nya dalam hidup manusia itu, namun diberkahi atau tidaknya amal perbuatan kita itu bukanlah urusan manusia, tetapi wewenang dari Allah SWT. Kita hanya mampu berikhtiar dan berdoa, kita hanya mampu berusaha dan memohon kepada-Nya, segala keputusan tentang kita adalah hak Allah semata. Oleh karena itu, setiap hal yang kita lakukan seharusnya dikerjakan dengan rasa ikhlas.

    ReplyDelete
  8. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Kita harus selalu belajar untuk ikhlas di dalam melakukan sesuatu, agar sesuatu yang kita lakukan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Menuntut ilmu adalah merupakan suatu kewajiban. Untuk memahami ikhlas dalam hal belajar, maka kita juga harus tahu terlebih dahulu bahwa menuntut ilmu itu wajib hukumnya, sehingga ketika kita menjalankannya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT. Siapa sih yang tidak mau pahalanya bertambah, maka dalam hal ini patutlah kita bersikap ikhlas di dalam menuntut ilmu, karena di balik itu semua ada pahala besar yang telah menanti kita

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pelajaran yang kami dapat adalah keikhlasan dalam mempelajari filsafat adalah keikhlasan dalam berpikir. Yaitu keikhlasan untuk mencarai sesuatu yang baru dan keikhlasan untuk menerima sesuatu yang baru dalam artian kesiapan pikiran untuk mencarai sesuatu yang baru dan kesiapan pikiran untuk menerima sesuatu yang baru. Pikiran yang siap membuat atau mencari anti tesis dari sesuatu yang diterima, kesiapan pikiran yang siap mensintesis tesis dan anti tesis yang didapatkan sehingga didapan suatu kesimpulan yang merupakan tesis juga. Semoga kami dalam mempelajari filsafat mampu menggapai keikhlasan dalam berpikir. Amin.

    ReplyDelete
  10. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurut pemahaman saya, ikhlas dalam pikir adalah ikhlas dalam menerima dan mempelajari hal yang baru, yang terkadang saat kita merasakan sulitnya pembelajaran yang kita alami menurunkan keinginan kita untuk belajar, namun dalam hal ini keikhlasan kita untuk tetap berikhtiar diperlukan. Ikhlas dalam pikir juga memudahkan ilmu untuk kita pahami karena saat pikiran kita tidak ikhlas kita pun sulit menerima ilmu.

    ReplyDelete
  11. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sejatinya manusia itu sedang dan dalam rangka menggapai keikhlasan. Dan belajar filsafat merupakan salah satu wahana kita untuk mengembangkan pikiran kita dalam menggapai keikhlasan tersebut. belajar filsafat bukan hanya kita menghafal tokoh-tokoh beserta pendapatnya, tetapi lebih dalam dari itu. Kita akan bisa memahami makna yang tersirat di dalamnya sehingga mampu menerapkan dalam kehidupan kita sehari-hari, karena filsafatmu adalah kehidupanmu.

    ReplyDelete
  12. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dari elegi di atas, ikhlas dalam menggapai pikiran sama halnya ikhlas dalam berfilsafat. Karena berfilsafat merupakan berpikir. Maka untuk menggapai keihklasan dalam berpikir maka kita harus ikhlas dalam berfilsafat. Karena tiada sesuatu hal dapat diambil manfaatnya jika tidak ada rasa ikhlas dalam melakukannya. Untuk itu mulai dengan mencari sintesis, anti-tesis, dan mensintesis segala yang ada dan mungkin ada agar membiasakan kita untuk berpikir. Karena ilmu pengetahuan sangat luas keberadaannya. Tak lupa dalam mengimplementasikannya dengan disertai rasa ikhlas.

    ReplyDelete
  13. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam elegi di atas, dijelaskan tentang bagaimana menggapai pikiran yang ikhlas. Pikiran yang ikhlas adalah pure reason, yang terbebass dari pengetahuan. Yang dimaksud dengan pikiran yang ikhlas adalah kesediaan dan kesiapan kita membuat anti-tesis dari pengetahuan kita. Pikiran memiliki kekuatan yang menentukan arah hidup, sehingga pikiran yang ikhlas sangatlah penting untuk berada dalam diri manusia. Keikhlasan pikiran kita akan membantu untuk memahami ilmu atau pengetahuan.

    ReplyDelete
  14. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas uraian yang penuh manfaat dan di luar dugaan saya. Tenyata ikhlas adalah ikhlas pikir dan ikhlas hati. Saya sangat tertarik dengan elegi ini. Sama seperti elegi-elegi sebelumnya, menyeret saya berkaca diri, memaksa saya menilai diri saya sendiri sejauh mana saya berada. Dan terkadang, jawabannya adalah jauh sekali dari yang seharusnya. Mohon ijin berpendapat, lewat elegi ini saya melihat bahwa ikhlas pikir ialah keadaan di mana kita senantiasa berupaya menggapai logos, memposisikan diri seperti gelas kosong yang benar-benar haus ilmu, terus berjalan berlari mengejar. Maka di dalamnya kita harus senantiasa berfikir kritis, tidak puas dengan suatu jawaban saya. Ya, ketika kita puas pada satu jawaban, menghentikan kita mengajukan pertanyaan-pertanyaan, bisa jadi di situlah kita terjebak dalam ruang gelap-mitos. Maka untuk membuat kita menjadi seseorang yang aktif berpikir kritis, mengajukan pertanyaan-pertanyaan adalah dengan kesediaan dan kesiapan kita membuat anti-tesis dari pengetahuan yang kita miliki. Hal ini akan membuat kita senantiasa bertanya, berpikir, dan mengejar suatu jawaban. Tidak berhenti di situ saja, maka untuk menghindari mitos selanjutnya, marilah kita sintesiskan anti-tesis anti-tesis pengetahuan kita tersebut. Jangan berhenti, tolong ingatkan saya untuk tidak berhenti. Mari kita, jangan berhenti. Bismillah, dengan menyebut nama Allah, mari kita berusaha. Semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya.

    ReplyDelete
  15. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Ikhlas pikiran merupakan kesediaan dan kesiapanmu membuat anti-tesis dari pengetahuan. Kemudian ikhlas dalam pikiran juga kesediaan dan kesiapan membuat sintetis antara tesis dan anti-tesis. Karena sebenar benar ilmu maka ia juga filsafat. Ikhlas dalam pikir itu merupakan filsafat itu sendiri. Ilmu itu dimulai dengan pertanyaan atau rasa ingin tahu. Yang kemudian menuntut jawaban jawaban. Sehingga kunci pentingnya yaitu bagaimana ketika kita belajar ikhlas pikir dalam filsafat.

    ReplyDelete
  16. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Dalam hidup ini hendaknya selalu berusaha untuk mencari ilmu. Belajar dan mencari ilmu selalu menggunakan olah pikir. Ketika belajar dan mencari ilmu tentulah muncul pertanyaan-pertanyaan. Termasuk dalam belajar filsafat. Belajar filsafat adalah belajar tentang segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Belajar filsafat menjadikan seseorang berpikir luas, kemudian memunculkan banyak pertanyaan. Misalnya memikirkan tentang suatu hal akan memunculkan pertanyaan, dari pertanyaan tersebut muncul lagi pertanyaan begitu seterusnya. Sehingga akan merasa bahwa diri ini merasa selalu kurang akan pengetahuan yang dimiliki dan akan terus mencari untuk menggapai pikiran ikhlas.

    ReplyDelete
  17. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Berdasarkan elegi ini, pikiran ikhlas merupakan keihklasan di dalam pikiran untuk bersedia dan siap membuat anti tesis dari setiap pengetahuan yang dimiliki (tesis), dan juga mensintesiskan keduanya. Maka di dalam membangun pengetahuan, kita tidak cukup pada tesis saja atau berhenti pada suatu pemahaman saja, tetapi juga perlu membuat antitesis dari pengetahuan tersebut serta mensintesiskan keduanya. Dengan demikian, pikiran ikhlas tidak akan pernah berhenti pada suatu pemahaman bahkan justru terus menerus mengembangkannya. Namun, kita tetap harus menyadari bahwa pikiran kita terbatas sehingga membangun ilmu ialah dalam rangka menggapai ridho Allah di dunia maupun di akhirat.

    ReplyDelete
  18. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Berdasarkan elegi di atas, belajar filsafat ternyata juga merupakan usaha untuk menggapai ikhlas dalam pikiran. Karena menurut elegi di atas, pikiran yang ikhlas ialah ketika kita bersedia untuk membuat anti tesis dari pengetahuan yang kita miliki atau menyusun sintesis dari tesis dan anti tesis yang ada. Menurut saya, tidak hanya belajar filsafat yang merupakan usaha untuk menggapai ikhlas dalam fikiran, belajar hal yang lain pun merupakan usaha untuk menggapai ikhlas dalam fikiran, karena dalam belajar apapun dibutuhkan kesediaan dari kita untuk mengkonstruk pengetahuan dengan bertanya, membuat tesis dan anti tesis, ataupun mensintesiskan tesis dan anti tesis. Jika tidak ada rasa bersedia untuk seperti itu, maka kita tidaklah dapat menggapai pikiran yang ikhlas, dan ilmu pun akan susah untuk masuk dan dipahami.

    ReplyDelete
  19. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ikhlas ternyata ada dua, ikhlas pikir dan ikhlas hati. Tentu saja saya baru mengetahui, ternyata karena sekarang saya baru belajar filsafat. Sedangkan ikhlas pikir adalah filsafat itu sendiri. Mampu berartanya karena ikhlas pikiran, apakah belum mampu bertanya bisa dikatakan belum ikhlas pikiran Pak?. Dan pada elegi ini juga dikatakan “barang siapa tidak bertanya atau tidak mau bertanya, maka dia akan terancam hidupnya”, bagaimana jika bukan tidak maun bertanya melainkan sulit atau bingung apa yang harus ditanyakan, apakah itu juga indikasi teancam hidupnya?. Tetapi dengan tidak sadarnya sekarang saya sedang bertanya, apakah saya sedang menggapai logos atau termakan mitos ku sendiri? Tapi ini lah bentuk ikhtiar dari menggapai logos.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Setelah membaca elegi-elegi yang ada ,saya harus menemukan beberapa kata sambil memainkan jari-jemari di atas leptop untuk mengomentarinya.Membutuhkan pikiran yang ikhlas dan memenangkan untuk mencari kata yang tepat.Itulah yang saya rasakan ketika saya membaca elegi di atas.Berpikir adalah banyak bertanya dan banyak membaca.Dari keseringan bertanya dan membaca itulah kita dapat mengembangkan pikiran.Karena berfilsafat adalah berfikir.Dan saya berterimaksih kepada Bapak, di mana setiap kali ada pertemuan belajar dalam kelas nasehat itu selalu dingatkan.Satu lagi yang tak dapat dilupakan untuk menyertakan kata ikhlas dalam hal apapun termasuk berpikir.

    ReplyDelete
  21. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Terimakasih sekali untuk penjelasan yang begitu terperinci ini Prof. Saya sampai terkesima saat membacanya. Saat ini yang saya bisa lakukan adalah berusaha untuk tidak malu dalam bertanya. Saya menyadari ilmu datang dari sebuah pertanyaan. Namun, terkadang saya sendiri berpikir bahwa pertanyaan yang ingin saya tanyakan apakah layak untuk ditanyakan atau tidak. Saya juga menyadari bahwa tidak ada pertanyaan yang salah. Bagaimana menyikapi hal yang seperti ini Prof? Kemudian, bagaimana memberanikan diri untuk bertanya?

    ReplyDelete
  22. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Seperti yang Bapak sebutkan di atas bahwa salah satu ciri sikap ikhlas dalam pikiran ialah berusaha membuat sintesis antara tesis dan antitesis. Hal ini tentu tidak bisa kita lakukan jika kita membatasi hal yang kita pelajari. Berarti ciri ikhlas dalam pikiran ia terus belajar tentang apa yang belum ia ketahui dan memperdalam apa yang telah ia ketahui.

    ReplyDelete
  23. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Banyak dari kita memahami filsafat sekedar teori tentang hidup, tentang buku bacaan yang menampilkan keindahan kata-kata, hingga kunci dari teka-teki hidup. Bagi saya filsafat adalah tentang cara manusia untuk berpikir. Dengan memahami filsafat sebagai cara berpikir manusia maka manusia tidak akan terikat oleh teori-teori yang rumit dan susah untuk dipelajari. Filsafat sejatinya adalah menikhlaskan pikiran, bukan tentang bagaimana memikirkan keikhlasan.

    ReplyDelete
  24. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Orang-orang berpikir adalah orang-orang yang bertanya, dan orang-oarang bertanya itu adalah orang yang berpikir kritis. Dimana orang-orang yang berpikir kritis adalah orang-orang yang intensif dan ekstensif dalam menentut ilmu. Sehingga orang-orang tersebut tidak terjebak dalam suatu mitos. Dan orang-orang tersebut ialah orang-orang yang ikhlas dalam pikirnya.

    ReplyDelete
  25. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Trimakasih, saya senang belajr filsafat. Sedikit demi sedikit saya menemukan bahwa memang hidup ini adalah filsafat. Bertemu orang, melihat peristiwa, semua ternyata tak lepas dari filsafat. Dan lebih senang lagi menemukan, diteguhkan dalam elegi ini, bahwa belajar filsafat pun adalah usaha menggapai ikhlas. Filsafat yang dulu terasa menyeramkan, saat ini pun masih demikian. Bukan karena dia menakutkan, namun karena dia, si filsafat itu, tak pernah habis dijelaskan. Dulu seakan yang namanya filsafat itu adalah diskusi tak habis habisnya, kini mulai sedikit sedikit merambah pada kenyataan... hidup ini adalah perkara menerjemahkan dan diterjemahkan, tak pernah habis... tesis-antitesis, dan segala lainnya, adalah nyata dalam keseharian.

    ReplyDelete
  26. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 38 ini, saya memahami bahwa menggapai pikiran ikhlas sama halnya dengan menggapai ikhlas dalam berfilsafat. Karena belajar filsafat merupakan usaha dalam menggapai ikhlas dalam pikiran. Keikhlasan dalam mempelajari dan menerima suatu hal yang baru, serta keikhlasan dalam menuju pikiran ikhlas itu sendiri. Maka semuanya dapat dimulai dengan mencari tesis dan anti-tesis dan kemudian mensintesisnya dari segala yang ada dan yang mungkin ada. Membuat pertanyaan dan kemudian mencari jawaban atas pertanyaan tersebut dengan cara berpikir kritis. Semoga kita semua mampu menggapai pikiran ikhlas dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  27. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pend. Matematika 2017 Kelas C

    Membaca elegi ini membuat saya berpikir apakah kesulitan saya memahami filsafat karena saya tidak memumbuhkan keikhlasan dalam berpikir? Jika saya berasumsi bahwa filsafat adalah suatu hal yang sulit maka hati dan pikiran saya akan tertutup dan memandang filsafat sbg suatu dinding hambatan yang tak pernah bisa saya runtuhkan. Semoga kedepannya saya dan kita semua dapat menggapai keikhlasan.

    ReplyDelete