Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi




Oleh Marsigit

Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu.


Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?

Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.

Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?

Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.

Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.

Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.

Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"

Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.

Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.

Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.

Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

43 comments:

  1. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi ini mengajarkan kita didalam tatacara berdoa. Jika kita berdoa maka kita harus meninggalakan segala yang menempel ditubuh kita. Maksudnya dari segala yang menempel bukan pakaian tapi segala kekuasaan, jabatan, kekuatan, dll yang berupa sifat manusia. Sebab berdoa memerlukan pemikiran yang kosong yang siap untuk diisi kemuliaan Tuhan. Jika kita belum bisa meninggalkan itu semua maka kita akan berdoa dengan penuh keramaian yang berarti kesombongam menyelimuti diri kita. Alangkah baiknya jika kita berdoa dengan sepi agar kita lebih bisa berkomunikasi dengan baik kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  2. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Sepi dan ramai adalah dua hal yang berbeda. Dalam elegi kali ini kami mencoba pahami bahwa sepi merupakan subyek dimana dia melepas segala predikat yang disandangnya dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ritual keikhlasan. Disisi lain ramai, merupakan subyek yang masih saja bersikap sombong dengan mengagung agungkan namanya, menggemborkan suaranya dan berusaha menunjukkan siapa dirinya. Meskipun sepi dan ramai berbeda konsep, namun sepi dengan ikhlas menuntun ramai untuk menuju jalan kepada Allah SWT. Semoga kita terlepas dari segala penyakit hati. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  3. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sepi bisa jadi ramai. Dan ramai bisa jadi sepi. Ruang dan waktu sesuai dengan subyeknya. Bisa saja kita berkata sepi, tetapi di dalam hati, kita sedang berdo’a, sedang berkomunikasi dengan Allah. Ramainya hati karena kita risau dan takut untuk berkomunikasi dengan Allah. sesuatu hal yang berbeda tetapi bisa sama. Alangkah baiknya kita senantiasa mengingat Allah dalam keadaan sepi dan ramainya hati dan pikiran. Janganlah berdo’a ketika hanya sepi hati, tetapi juga ramainya hati. Karena semua itu hanyalah sementara di mata Allah.

    ReplyDelete
  4. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sepi bisa jadi ramai. Dan ramai bisa jadi sepi. Ruang dan waktu sesuai dengan subyeknya. Bisa saja kita berkata sepi, tetapi di dalam hati, kita sedang berdo’a, sedang berkomunikasi dengan Allah. Ramainya hati karena kita risau dan takut untuk berkomunikasi dengan Allah. sesuatu hal yang berbeda tetapi bisa sama. Alangkah baiknya kita senantiasa mengingat Allah dalam keadaan sepi dan ramainya hati dan pikiran. Janganlah berdo’a ketika hanya sepi hati, tetapi juga ramainya hati. Karena semua itu hanyalah sementara di mata Allah.

    ReplyDelete
  5. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Saat manusia dalam keadaan sendiri, mereka akan merasa tidak mempunyai teman, sepi, tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi akan melakukan perbuatan pada batas kewajarannya. Nekat berbuat apa saja untuk melampiaskan kesepiannya. Tetapi berbeda konteks dalam elegi ini. Ramai dan sepi yang dimaksud adalah saat dimana manusia bermuhasabah dan bermunajat memohon ampunan kepada Allah swt. Saat manusia dalam keadaan senang maupun susah senantiasa bersyukur kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  6. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Saat manusia dalam keadaan sendiri, mereka akan merasa tidak mempunyai teman, sepi, tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi akan melakukan perbuatan pada batas kewajarannya. Nekat berbuat apa saja untuk melampiaskan kesepiannya. Tetapi berbeda konteks dalam elegi ini. Ramai dan sepi yang dimaksud adalah saat dimana manusia bermuhasabah dan bermunajat memohon ampunan kepada Allah swt. Saat manusia dalam keadaan senang maupun susah senantiasa bersyukur kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  7. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Lanjutan.
    Dalam kesendirian dan kesepian yang melanda, hanya Allah yang senantiasa diingat. Meninggalkan kehidupan duniawi yang fana, kesombongan yang hadir dalam diri untuk semata-mata memohon ampunan kepada Allah swt. “Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku”, berarti bahwa menanggalkan kesombongan diri hanya untuk bermuhasabah dan berdoa memohon ampunan kepada Allah swt. Dengan doa-doa yang tulus ikhlas akan dapat meramaikan jiwa yang haus akan kerinduan pada sang Pemilik-Nya. Dalam keadaan sepi jikalau manusia itu dapat memahami hakikat penciptaan dirinya, maka akan dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. karena sebenarnya Allah lebih dekat dengan urat nadi kita.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ramai dan sepi secara kasat mata adalah dua kondisi yang berkontradiksi, ketika sepi ada maka tiadalah ramai begitupun sebaliknya ketika ramai ada maka tiadalah sepi. Namun Metafisik antara ramai dan sepi bisa hadir secara bersamaan, misalnya dalam kondisi ramai kita bisa saja merasa kesepian karena ditengah keramean tersebut tidak ada yang kita kenal dan kita tidak mengerti apa yang orang lain bicarakan, maka kita akan merasa kesepian. Begitupun sebaliknya dalam sepi bisa merasa ramai, karena kita bisa berkomunikasi dengan orang yang tidak berada disekitar kita, misalnya berbicara lewat telepon.

    ReplyDelete
  9. Manusia adalah makhluk yang lemah sekaligus kuat. Manusia lemah terhadap godaan syeitan yang kehadiran tanpa kita sadari merasuk ke dalam pikir dan hati kita, yang mungkin kita pikir sebagai suatu kesalahan yang kecil dan bukan masalah besar. Manusia adalah juga makhluk yang kuat jika dapat memenangkan atas godaan syaitan dan menyadari hal kesalahan yang dilakukan sekecil apapun itu. Semoga Allah selalu memberikan ampunan kepada kita.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  10. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Aamiin allahumma aamiin.
    Dari elegi ini hal yang dapat saya ambil adalah bahwasanya hakikat sepi itu adalah ketika kita mampu memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan khusyu, melepaskan semua jabatan/kedudukan yang kita miliki di dunia ini, sehingga kita hanya memposisikan diri sebagai hamba Allah yang tiada daya dan upaya kecuali atas limpahan rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  11. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Saya pernah mendengar pernyataan bahwa “ Diam itu emas, namun bicara itu berlian” maksudnya saat seseorang memang tidak ada kapasitas untuk berbicara karena dia tidak memiliki ilmunya, maka dia sebaiknya tidak usah berbicara, namun apabila dia memiliki ilmu yang mendukung dan memiliki solusinya maka dia seharusnya menyampaikan pendapatnya. Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan adalah kita dapat menjadi seorang yang sepi saat dia khusyuk dalam berdoa, dengan memohon perlindungan kepada Allah, selain itu ramai ketika berdzikir bersama-sama untuk memohon perlindungan juga.

    ReplyDelete
  12. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas elegi di atas. Namun agaknya saya kurang menangkap pelajaran apa yang dapat kita ambil. Menurut saya, sepi dan ramai adalah dua sifat yang dititipkan Allah kepada kita. Keduanya memiliki makna dan kemanfaatan sesuai ruang dan waktunya masing-masing. Ketika sepi digunakan sebagai momen berdoa dan khusu’ beribadah kepada Allah, maka kedekatan kita dengan Allah akan semakin terasa. Namun ketika sepi berada pada forum tanya jawab yang butuh keaktifan dari kita, maka sepi itu menjadi rugi. Sama halnya ketika ramai, ramai yang positif lebih tepatnya ramai yang dirasakan dalam hati, seraya berdoa memohon segala sesuatunya kepada Allah, maka Allah senang ketika hambaNya bermanja-manja dengannya. Namun ramai yang merugikan semisal kita berada di suatu tempat yang mengharuskan kita sepi, dan kita ramai, maka kita telah melanggar hak ketenangan oranglain. Semoga apa yang saya paparkan tidak melenceng dari maksud bapak. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  13. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ketika saya mengaji dengan salah satu kyai di desa, bliau selalu mengingatkan kita semua untuk menjauh dari sifat ke-Aku-an. Karena pada dasarnya sifat ke-Aku-an hanyalah milik Alloh. Kita sebagai manusia hanyalah meminjam apayang diciptakan oleh yang memiliki yaitu Alloh SWT. Jika sifat ke-Aki-an merasuki diri kita, maka kita tak akan pernah merasakan kenyamanan yang hakiki karena banyak ketidakpuasan dari dalam diri kita untuk memperoleh sesuatu dan dinamakan atas diri kita sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  14. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Menggapai sepi bukan berarti tidak ramai, bisa saja keadaan ramai, tapi hati dalam keadaan sepi. Dan bisa juga merasa sepi dalam suasana ramai dan sepi ditengah-tengah keramaian. Sepi hanya bisa didapatkan ketika mampu meninggalkan diri dengan segala kekuatannya menjadi ketidakmampuan dalam berdoa, karena ketika berdoa menyertai peng’AKU’an diri, maka saat itulah ramai selalu mengikuti.

    ReplyDelete
  15. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setiap manusia menggunakan suaranya dengan berbeda-beda, sehingga tercipta keramaian yang berbeda. Sebaik-baik suara adalah suara doa, yang dipanjatkan dengan khusyu'. Khusyu’nya dio diperoleh dalam keaaan lingkungan dan hati yang sepi. Sesungguhnya sepi adalah keramaian yang membuat ketenangan. Tiada ketenangan tanpa adanya hati yang nyaman. Kenyamanan akan membuat segala sesuatu tindakan yang diperbuat akan menjadi lebih maksimal. Doa yang khusyu mungkin tidak akan mewujudkan apa yang kita harapkan karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, tetapi dengan begitu kita akan memaknai sebuah ikhtiar

    ReplyDelete
  16. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Sepi yang dimaksud dalam elegi disini adalah sepi dalam beribadah. Kita harus berada di tempat yang tenang sehingga kita kusyuk dalam doa.
    Mencapai sepi Diharapkan setelah melakukan perbuatan baik atau ibadah, maka hati, pikiran, dan tidak akan secara lisan mengungkapkannya. Jika hati, pikiran, lisan atau masih mengatakan, maka itu berarti belum berhasil mencapai sepi. Sepi ketika berdoa kita bisa membuat diri kita merasa rendah hati di hadapan Allah. Jadi, doa kita akan dijawab dengan cepat.

    ReplyDelete
  17. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Terkadang seseorang merasa sepi di tengah keramaian. Sepi itu hati dan pikirannya. Bisa jadi ia merasa sepi di tengah keramaian di sekitarnya. Jika hati merasa sepi, berdzikirlah karena dzikir itu dapat menenangkan hati. Namun, dalam melakukan doa sebaiknya dilakukan di tempat yang sepi dan tidak bising agar biusa khusyuk.

    ReplyDelete
  18. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Shalat adalah doa. Agar shalat kita khusyuk maka hati kita harus bersih. Cara membersihkan dan menenangkan hati adalah melalui berdzikir kepada Allah SWT, diantaranya tagfirulah al adzim . Al Fatehah. Al Ikhlas. Salawat Nabi. Audzhubilah Himi-nassyaeton nirojim Bismillah Hiro-khman Nirokahim. Alhamdulillah hirabbil alamin. Wasalatu Wasa-lamu Ala Asrofil Ambyai Warmu-salin Syayidina muhammadin wa-ala alihi wasyohbihi ajma’in. Dengan begitu, hati kita akan terisi dengan kalimat-kalimat yang baik sehingga tidak mudah dihasut syaitan.

    ReplyDelete
  19. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini saya belajar bahwa dalam berdoa kita harus melepaskan ke-aku-an diri kita. Agar doa kita diterima dan diridhoi Allah swt, maka kita harus berdoa dengan ikhlas dan terbebas dari kesombongan. Saat ke-aku-an masih melekat pada diri kita, itu artinya kesombongan masih melekat pada hati kita. Sehingga saat berdoa sudah seharusnya kita meletakkan sejenak status kita, kedudukan kita, harta kita karena sesungguhnya kita ini hanyalah mahluk yang sangat amat kecil dihadapan sang pencipta dan semua yang melekat pada diri kita adalah kepunyaan Allah swt. Terimkasih

    ReplyDelete
  20. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. setelah saya mencoba membaca elegi ini, saya mencoba merefleksikannya. Tak ada ramai tanpa sepi dan tak ada sepi tanpa ramai. Orang tak bisa mengatakan suasana ramai kalau ia tak pernah merasakan sepi dan orang tak akan bisa mngatakan sepi kalau tak pernah merasakan ramai. Ramai dan sepi saling membutuhkan agar mereka ada.

    ReplyDelete
  21. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Keramaian adalah keadaan yang tidak pernah diam. Maka keramaian tidak berarti selalu baik. Manusia selalu membutuhkan sepi. Dengan sepi, kendala-kendala dalam mencapai kefokusan dapat diminimalisir. Dalam sepi, seseorang dapat melakukan refleksi diri dengan lebih fokus. Dan dalam sepi, seseorang dapat meningkatkan kekhusyukannya dalam berkomunikasi dengan sang maha pencipta, menyampaikan keluh kesah, memanjatkan doa-doa, serta memohon petunjuk dari-Nya

    ReplyDelete
  22. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Terkadang kita juga membutuhkan sepi. Terutama sepi merujuk pada ruang dan waktu spiritualitas. Kita membutuhkan sepi hanya agar kita menjadi lebih fokus dan lebih bersungguh-sungguh. Sepi dalam artian menghilangkan segala sifat duniawi, menanggalkan setiap atribut kita selama berdoa. Hanya fokus mengharap ridha Allah dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati. Dengan suara yang lembut dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mengambil beberapa hikmah. Pertama, mengenai ramai dan sepi adalah dua hal yang berlainan namun bisa bersandingan. Ramai yang artinya ketika dalam keadaan diri yang ramai, berkata dengan rantai, sibuk dengan ini dan itu. kemudian, sepi yaitu yang bahkan yang berbicara hanya hati, karena dalam sepi juga dapat dipanjatkan do’a do’a memohon pada Allah Ta’ala. Maka dalam sepi kita pun boleh untuk menangis bahkan dalam do’a pun diperkenankan hingga tersedu. Dalam do’a yang sepi akan banyak makna didalamnya, dibanding do’a dalam ramai.

    ReplyDelete
  24. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sepi dalam ramai. Ramai dalam sepi. Ramai dan sepi, menjadi dua hal kontradiktif. Sepi tak akan datang kepada kita kalau masih ada keakuan, karena sebenar-benar sepi adalah doa tanpa keakuan. Jika ada sedikit keakuan hadir di sana berarti hadir pula keramaian, hadir pula kesombongan di sana. Ketika kita bisa melupakan sejenak keakuan, maka di sata itulah kita benar-benar butuh Tuhan, karena kita merasa kita bukan apa-apa tanpa kuasa-Nya. Oleh karena itu, hilangkan kesombongan diri dan ikhlas berdoa kepada-Nya.

    ReplyDelete

  25. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Artikel diatas membiacakan tentang ramai dan sepi. Ramai mengkhawatirkan tentang makna dari dirinya sendiri dan bagaimana menggapai sepinya. sebenar-benarnya ramai adalah keegoisan diri, karena keakuan yang merasa besar maka damai yang identik dengan sepi itu sulit untuk teraih. Sehingga setelah dilakukan refleksi diri, maka dengan menanggalkan keegoisan, sepi yang merupakan wujud dari kedamaian itu akan terwujud. Salah satu cara untuk meraihnya adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Berdoa kepada-Nya dengan menghilangkan keakuan kita.

    ReplyDelete
  26. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Elegi ini berhubungan dengan elegi Ritual Ikhlas Menggapai Ramai yang sebelumnya membahas tentang bagaimana kita merasa ‘ramai’ di dalam kesepian. Sesungguhnya ramai yang kita rasakan adalah peng-aku-an diri yang membuat hati ini tidak mampu merasakan sepi. Ternyata elegi ini merubah sudut pandang saya terhadap elegi ‘Menggapai Ramai’ sebelumnya. Sebelumnya saya pikir ramai itu muncul ketika kita sedang berdoa dan terus menyebut nama Allah SWT. Ternyata jika masih merasa ramai berarti kita masih menggunakan ‘aku’ sebagai pusat dari segalanya dan menandakan bahwa doa tersebut kurang khusyuk. Ternyata menggapai sepi adalah sebenar benar doa karena telah melepaskan ke-aku-an yang ada.

    ReplyDelete
  27. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menggapai kekusukan (sepi) maka kita harus terlebih dahulu menanggalkan ego diri. Ego ingin di akui, ego ingin memiliki, ego ingin dihargai. Dengan menghilangkan itu semua, maka kesunyian diri akan tergapai, kekhusukan akan didapat, dan hati akan menjadi ikhlas.

    ReplyDelete
  28. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Inti dari menggapai sepi adalah merendahkan dari keramaian yang ada, merendahkan diri dihadapan Allah Swt sebagai bentuk pengabdian seorang hmba. Menggapai sepi adalah ikhtiar menghilangkan kesombongan diri, kesombongan hanya akan menyebabkan keramaian yang tidak bermanfaat dan malah akan memunculkan kesombongan-kesombongan lainnya.

    ReplyDelete
  29. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  30. Latifah Fitriasari
    PM C

    Orang-orang yang tidak mau berdoa kepada Allah hanyalah orang yang sombong, seakan ia tidak butuh pertolongan Allah, atau merasa gengsi kalau harus berdoa. Selama kita masih bisa berdoa,Tuhan pasti akan selalu menyertai kita. Ketika kita hidup hanya mengandalkan pemikiran dan materi maka hidup itu tidak akan berarti dan tidak ada gunanya. Sepi yang dimaksudkan adalah kedamaian dan ketentraman diri. Hidup juga harus mengandalkan lutut untuk bersimpuh minta petunjuk kepada-Nya. Dalam hal ini maksudnya adalah kita harus selalu berdoa kepada Tuhan tanpa ada kesombongan yang menyertai kita.

    ReplyDelete
  31. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Untuk menggapai sepi adalah dengan doa-doa tanpa keakuan. Tanpa keakuan disini ialah dengan menaggalkan segala hal duniawai yang menempel dalam diri seseorang. Harta, jabatan, tingkat pendidikan harus dilepaskan ketika memohon dan berdoa kepada Allah SWT karena hal tersebut dapat menjadikan sebuah kesombongan. Cukuplah memohon dan meminta kepada Allah SWT sebagai seorang hamba yang lemah dan butuh pertolongan Nya. Karena sebenar-benar hal dunia tiada artinya dihadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  32. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Memberikan ‘aku’ dalam sebuah kalimat tentang sepi saja membuatnya menjadi ramai. Apalagi menambahkan ‘aku’ dalam doa-doa pada Allah. Munculnya ‘aku’ dalam doa-doa yang dilantunkan menunjukkan masih adanya unsur kesombongan yang masih kita miliki dalam diri kita. padahal siapalah diri kita ini, apa yang bisa kita sombongkan jika segala kepunyaan hanyalah titipan dari Allah

    ReplyDelete
  33. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sepi dan ramai adalah dua hal yang saling berkontradiksi. Sepi dan ramai dalam kehidupan manusia itu tidak terhindarkan. Sepi yang baik adalah ketika seseorang berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam suatu kondisi. Niat ikhlas dalam berdoa dan berserah diri kepada Allah dapat menciptakan suasana sepi yang menuju pada keridhoan Allah SWT.

    ReplyDelete
  34. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa ramai dan sepi merupakan hal yang kontradiktif. Seperti halnya ketika didalam kesepian aku menemukan keramaian. Maka perlu ada yamg menerjemahkan dan diterjemahkan, sehingga keduanya bisa saling memahami. Diakhiri dengan berdoa merupakan bentuk ikhlas yang luar biasa, karena dengan saling mendoakan secara ikhlas kita semua akan lebih tenang.

    ReplyDelete
  35. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Layaknya baik dan buruk, bodoh dan jenius, maka sepi dan ramai pun memiliki beda yang amat tipis. Tanpa adanya keramaian kita takkan mampu menyatakan sepi, begitu pula sebaliknya tanpa adanya sepi kita takkan mengetahui hakikat dari keramaian. Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian di tengah keramaian, perlu diingat bahwa sepi dan ramai itu memerlukan partisipasi dari diri kita sendiri seperti yang telah disebutkan di atas. Jika kita mengucapkan suatu hal dengan lantang namun dengan mulut tertutup maka di luar hanya ada sepi namun jiwa kita ramai. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  36. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Sepi identik dengan diam, disebutkan dalam suatu riwayat bahwa diam ialah hikmah dan sedikit sekali yang melaksanakannya. Dengan diam, kita sama saja telah melindungi diri kita. jika diam dilakukan oleh orang yang berilmu maka ia menyembunyikan identitasnya dan berlaku bijak sedangkan jika diam dilakukan oleh orang yang bodoh maka ia menyembunyikan kebodohannya. Sedalam apapun hikmah dibalik diam, masih banyak orang yang berkoar koar tanpa rasa takut dan tanpa kebenaran atas apa yang dibicarakannya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  37. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Elegi ini, mengajarkan kepada kita bahwa agar ikhlas dalam berdoa. Doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada Allah SWT haruslah benar-benar doa yang tulus dan ikhlas yang datang dari hati sanubari paling dalam, tidak mengharapkan balasan ataupun menuntut Allah dengan berbagai macam permintaaan-permintaan untuk dirinya sendiri. Berdoa kepada Allah harus terbebas dari belenggu kesombongan atau kemunafikan diri sendiri yang ingin selalu mendapatkan balasan dari doa-doanya tersebut. Tidak menyebut-nyebut dirinya sebagai hamba yang sedang berdoa ataupun mengakui sebagai hamba yang selalu taat menjalankan perintahNYA. Mengagung-agungkan diri sendiri dihadapan Allah SWT, padahal seharusnya ketika berdoa lupakanlah siapa dirikita dan merendahlah dihadapan Allah SWT untuk dapat berserah diri kepadaNYA.

    ReplyDelete
  38. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Hal ini menjelaskan bahwa kita tak pantas mengakui sesuatu yang ada di dunia ini. Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah SWT.Sungguh kesombongan jika kita masih memikirkan ego kita dalam meng-aku-i sesuatu. Untuk itu, marilah kita renungkan apa yang selama ini kita perbuat, sudahkan kita berdoa dengan ikhlas tanpa keakuan? Semoga hati kita menjadi tentram dan suci jika ita selalu berserah diri kepada Allah.

    ReplyDelete
  39. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini mengajarkan kepada kita dalam beribadah, dalam berdoa kita harus melepaskan semua embel-embel predikat dunia yang menempel pada diri kita. Tidak ada yang memiliki kedudukan yang berbeda di hadapan Tuhan. Maka dalam beribadah kita perlu dengan rendah hati.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  40. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Saat berdoa, kita harus merendahkan diri dihadapan-Nya. Menurut sepemahaman saya, berdoa diiringi dengan keikhlasan, kekusyukan, kerendahan diri, kesadaran bahwa diri adalah makhluk yang sangat terbatas, dan keyakinan bahwa Allah akan menepati semua janji-Nya adalah sebenar-benar sepi.

    ReplyDelete
  41. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Ramai dan sepi, dua hal yang berlawanan, bisa saja saling bertukar posisi, tergantung dari konteks yang sedandg dibahas. jika dalam situasi biasa, yang dipahami orang awam, ramai artinya banyak orang, banyak suara, banyak aktivitas, dan sepi adalah sebaliknya. Namun ramai juga bisa menjadi sepi secara sekaligus. misalnya di suatu mesjid, banyak orang yang datang, karena ada suatu kegiatan misalnya didepan mesjid tersebut. orang biasa akan menyebutnya ramai, tetapi sesungguhnya mesjid itu sepi karena orang-orang yang sedang berada didepan mesjid tersebut tidak memakmurkannya, tidak melakukan aktifitas ibadah disana.

    ReplyDelete
  42. Asslamualaikum Wr. Wb. Tidak selamanya sepi mengandung kesedihan sebagaimana tidak selamanya ramai mengandung kebahagiaan. Sepi di satu sisi adalah ruang yang dubutuhkan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Terkadang kita harus menjauh dari keramaian hanya untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran dari penatnya dunia. Sepi adalah ketengan menuju kehangatan dalam doa. Sepi adalah jalan komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Dengan kata lain, menggapai sepi adalah suatu kebutuhan spiritual manusia. Wallaua’lam bi shawab.

    ReplyDelete
  43. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak akan mampu menggapai ilmu jika masih mengaku-ngaku berilmu, tidak akan mampu menggapai sepi jika sepi mengaku-aku tentang dirinya. Di hadapan Allah derajat kita sama, ketika ada dalam doa semua tidak ada bedanya. Yang menentukan hanyalah keikhlasan yang ada di dalam diri dan keyakinan terhadap Allah semata. Semua embel-embel dunia tidak akan berarti di hadapannya tanpa adanya keimanan.

    ReplyDelete