Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi




Oleh Marsigit

Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu.


Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?

Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.

Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?

Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.

Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.

Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.

Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"

Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.

Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.

Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.

Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

28 comments:

  1. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Elegi ini, mengajarkan kepada kita bahwa agar ikhlas dalam berdoa. Doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada Allah SWT haruslah benar-benar doa yang tulus dan ikhlas yang datang dari hati sanubari paling dalam, tidak mengharapkan balasan ataupun menuntut Allah dengan berbagai macam permintaaan-permintaan untuk dirinya sendiri. Berdoa kepada Allah harus terbebas dari belenggu kesombongan atau kemunafikan diri sendiri yang ingin selalu mendapatkan balasan dari doa-doanya tersebut. Tidak menyebut-nyebut dirinya sebagai hamba yang sedang berdoa ataupun mengakui sebagai hamba yang selalu taat menjalankan perintahNYA. Mengagung-agungkan diri sendiri dihadapan Allah SWT, padahal seharusnya ketika berdoa lupakanlah siapa dirikita dan merendahlah dihadapan Allah SWT untuk dapat berserah diri kepadaNYA.

    ReplyDelete
  2. Nama Febrian Luthfi F
    13301241062
    Pendidikan Matematika 2013

    Untuk menggapai sepi kita harus menghilangkan kesombongan kita, karena dengan sombong kita tidak bisa apa-apa, kita hanyalah makhluk Tuhan yang lemah maka hilangkanlah sombong dari hati ini. Maka berdoa untuk meminta ampun. Kesombongan akan menghalangi kita untuk berdoa dengan ikhlas. Maka janganlah sombong untuk menggapai sepi

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Elegi ini berhubungan dengan elegi Ritual Ikhlas Menggapai Ramai yang sebelumnya membahas tentang bagaimana kita merasa ‘ramai’ di dalam kesepian. Sesungguhnya ramai yang kita rasakan adalah peng-aku-an diri yang membuat hati ini tidak mampu merasakan sepi. Ternyata elegi ini merubah sudut pandang saya terhadap elegi ‘Menggapai Ramai’ sebelumnya. Sebelumnya saya pikir ramai itu muncul ketika kita sedang berdoa dan terus menyebut nama Allah SWT. Ternyata jika masih merasa ramai berarti kita masih menggunakan ‘aku’ sebagai pusat dari segalanya dan menandakan bahwa doa tersebut kurang khusyuk. Ternyata menggapai sepi adalah sebenar benar doa karena telah melepaskan ke-aku-an yang ada.
    Elegi ini sangat menarik terutama saat saya merasakan perbedaan kalimat-kalimat si ‘Ramai’ ketika sebelum dan sesudah diilangkan semua kata ‘aku’ nya. Ketika masih banyak mengandung kata ‘aku’ terasa ramai sekali kalimat-kalimat tersebut, bahkan ketika saya membacanya tanpa mengeluarkan suara tetap saja terasa ramai di dalam pikiran ini. Tetapi ketika saya membaca kalimat-kalimat yang telah dihilangkan kata ‘aku’ nya terasa sangat berbeda. Rasanya ada yang hilang tetapimenjadikannya nyaman. Ada perasaan tenang yang muncul sekalipun saya mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara. Terasa sepi di dalam hati ini. Sungguh suatu perasaan yang menarik yang saya alami.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Refleksi pada postingan ini menurut saya, kata sepi maksudnya doa yang khusyuk, kata ramai maksudnya sebagai suasana hati dan pikiran kita. Dalam berdoa sebaiknya suasana hati dan pikiran hanya kepada Alllah SWT. Doa adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik, penghilang keburukan, mencapai semua hasrat dan angan kita. Sebaiknya kita harus banyak berdoa sebelum semuanya terlambat. Kelak menjadikan diri kita sebagai pembawa rahmat dan berkah. Dan kita juga harus menjaga mulut dan tangan dan berbuat baik bagi diri kita dan orang lain

    ReplyDelete
  5. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Di dalam suatu riwayat dalam suatu hadist, menyatakan bahwa, Putri Rasulullah, Fatimah r.a di dalam setiap berdoa tidak pernah menyebutkan dirinya untuk di doakan kepada Allah SWT. Tetapi yang disebutkannya doanya adalah para kerabat, para tetangga, para orang-orang terdahulu, dan para generasi mendatang. Kurang lebih begitulah kurang lebih garis besarnya. Ketika ditanya mengapa hal itu fatimah lakukan, maka fatimah menjawab bahwa, sesungguhnya apa yang kita doaakan kepada orang lain, maka itu juga berlakunya juga pada diri kita. Kalau kita mendoakan orang lain sukses dalam usahanya maka niscaya kesuksesan yang kita doakan pada orang lain itu juga akan berlaku pada diri kita.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurur pemahaman saya sepi adalah kedamaian, ketenangan tidak mengagung-agungkan kemampuan diri hingga menjadikan diri memiliki kerendahan hati. Sepi menjadikan kita sosok yang mampu berdoa dengan khusyuk, dan dalam doa tiadalah perku kita menunjukkan kemampuan, jabatan kita karena sesungguhnya Allah tidaklah menyukai hamba yang memiliki setitik kesombongan.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Yang kami pahami dari tulisan ini adalah kesepian adalah ketika seorang manusia kehilangan dirinya sendiri di dalam hidup ini, dalam situasi dan kondisi apapun dan bagaimanapun. Dalam kesunyian dan kesepian itu adalah waktu yang tepat untuk kita memanjatkan doa, dzikir dan beristighfar kehadirat Allah SWT dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati dan memohon ampunan atas segala tindakan yang pernah dilakukan oleh kita.

    ReplyDelete
  8. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi menggapai Sepi..
    Kadang-kadang kita merasa sepi ditengah keramaian. Dan juga kita merasa ramai di tengah kesepian. Apakah bisa dikatakan bahwa sepi itu adalah pikiranku yang menggelayuti dan mempengaruhi perasaan hatiku? Apakah Sepi itu relatif tergantng bagaimana hatiku memposisikan diriku?

    ReplyDelete
  9. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Elegi ini mengajarkan kita bagaimana menggapai sepi dalam doa. Doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah yang masih ada keakuan di dalamnya menunjukkan bahwa keramaian itu masih ada dalam diri. Sebenar-benar berdoa adalah menghilangkan keakuan tersebut di dalamnya. Berdoa dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridha dari-Nya. Karena apalah arti kita di dunia jika tidak ada rasa rendah hati dan berserah diri hanya kepada-Nya. Saling mendoakan dalam hal kebaikan serta saling memaafkan kepada saudara seiman.

    ReplyDelete
  10. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari elegi di atas, dapat disimpulkan bahwa jika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu juga dapat terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran, tidah hanya sampai pada sel-sel di dalam tubuh. Sehingga, di dunia yang sepi itulah ditemukan suara yang dapat menjadi ramai. Namun ramai itu hanyalah sia-sia ketika tidak digunakan untuk berdoa. Oleh karena itu, marilah kita perbanyak lantunan doa-doa kita kepada Allah.

    ReplyDelete
  11. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini.

    Tidak cukup sekali, benar-benar harus berkali-kali membaca tiap-tiap elegi. Ya, karena memang seluruh elegi adalah ilmu kehidupan, maka benar-benar harus berhati-hati diri ini membacanya dan mencoba sedikit demi sedikit memahaminya. Untuk apa? Untuk hidup, bagi saya elegi-elegi adalah ilmu kehidupan. Mohon ijin berpendapat, membaca elegi ini saya merasa kita sedang membicarakan komunikasi kita dengan Sang Pencipta. Doa. Doa yang sesungguhnya adalah komunikasi yang sesungguhnya pula. Doa yang baik adalah jika disampaikan oleh seorang hamba yang benar-benar menghamba, maka jauhkanlah segala kesombongan (sungguh, ini nasihat bagi diri saya sendiri). Elegi menggapai sepi, menyadarkan saya, bahwa “sepi” yang sesungguhnya adalah doa-doa seorang hamba tanpa keakuan si hamba.

    ReplyDelete
  12. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dengan membaca elegi di atas saya mengambil makna bahwa menggapai sepi adalah salah satu perwujudan tata cara dalam berdoa kepada sang Maha Kuasa. Artinya kita dituntut untuk selalu khusyu’ dalam bermunajat kepada sang Kholiq. Karena dengan kita dapat menggapai sepi maka kita akan merasa lebih tenang dan lebih dekat kepada sang pencipta sehingga ketika kita menyampaikan do’a bisa diiringi tetesan air mata. Karena sebaik-baiknya dalam berdo’a yaitu jika disertai dengan tangisan kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Sebenar - benar sepi adalah ketika kita berdoa kepada Allah SWT dengan kerendahan hati yang penuh harap, ikhlas, tanpa adanya rasa kesombongan dalam hati, tanpa membawa-bawa atribut siapa kita, apa posisi kita, karena kita sadar bahwa Allah adalah yang maha kuasa, yang memiliki segalanya. Maka tak ada yang pantas kita sombongkan dihadapan-Nya. Sepi tak hanya ketika kita berdoa. Namun juga dalam setiap aktivitas. Sikap rendah hati dan tidak sombong harus selalu melakat dan membersamai setiap aktivitas. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang dijauhkan dari kesombongan, menjadi manusia yang senantiasa mampu menyepi dengan do’a-do’a yang penuh harap dan kerendahan hati. Aamiin.

    ReplyDelete
  14. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ketika berdoa memohon kepada Allah SWT hendaknya manusia melepaskan segala identitas dirinya (harta yang dimiliki,pangkat, jabatan, kedudukan) untuk dengan sepenuh hati merendahkan diri dihadapan Allah SWT. Memohon ampun atas segala kesalahan dan berdoa dengan penuh keikhlasan. Manusia juga menyadari akan posisinya sebagai mahluk Allah SWT. Menjauhkan diri dari segala bentuk kesombongan. Jadi ketika menghadap Allah SWT hendaknya menggapai sepi agar lebih khusuk. Karena dihadapan Allah manusia itu sama, yang membedakan adalah keimanan dan ketaqwaannya.

    ReplyDelete
  15. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Sesuai dengan adab berdoa, berdoa dilakukan dengan cara mengakui kerendahan diri dihadapan Allah SWT, berdoa dengan menghilangkan keakuanku, dan berdoa dengan menyadari bahwa sebagai hamba-Nya kita tidaklah memiliki daya apapun selain dengan ridho-Nya. Segala Daya dan Kesempurnaan hanya lah milik Allah SWT. Maka manusia harus banyak-banyak berdoa dan memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sebenar-benarnya sepi ditentukan oleh ruang dan waktunya. Sepi bisa dikatakan ketika di suatu tempat dan di waktu tertentu tidak ada suara sedikitpun yang terdengar, ataupun ada suara yang terdengar tetapi hanya kecil sekali. Di ruang dan waktu yang lain, seseorang merasakan sepi walaupun sedang dalam keramaian. Ia merasa sepi dan sendiri. Jadi benarlah bahwa sepi itu bergantung pada ruang dan waktu tertentu. Tetapi, tidak akan seseorang merasa sepi atau sendiri jika ia merasa bahwa dia selalu bersama Allah SWT. Meskipun tidak dipungkiri, dalam kondisi tertentu kita butuh waktu sendiri dan menginginkan suasana sepi untuk merenung, belajar, atau bahkan mencari dan menemukan ide. Sekali lagi, semuanya bergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  17. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benar sepi adalah berinteraksi dengan Allah SWT (berdoa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh tanpa menyebut diri sendiri (keakuanku)). Doa yang benar-benar tulus, ikhlas, dan cerdas itulah doa yang benar-benar seperti berinterkasi langsung dengan Allah, karena pada saat itulah kita benar-benar menyerahkan diri dan urusan kita kepada Allah. Tetapi jika kita belum memasrahkan seluruhnya (termasuk diri sendiri) kepada Allah, hati kita tidak bisa merasakan ketenangan yang amat sangat luar biasa tenangnya.

    ReplyDelete
  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.
    Terimakasih banyak Pak prof
    Setelah membaca elegi di atas, ternyata sepi akan hadir ketika tidak adanya rasa keakuan dalam diri kita.Sepi itu hadir dalam tiap-tiap doa.Karena di dalam doa kita menemukan adanya ketenangan dan kedamaian.Ketenangan dan kedamaian akan hadir bilamana rasa ikhlas terpancar di dalam hati kita.

    ReplyDelete
  19. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Prof. Sebenar-benar sepi yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah keadaan damai ketika kita sedang memanjatkan doa dan harapan pada Sang Penguasa langit, bumi dan apa-apa yang ada diantaranya. Dalam memanjatkan doa, kita harus menghambakan serta merendahkan diri, dan menjauhkan diri dari sifat keakuan. Barang siapa yang tidak pernah mau berdoa pada Allah SWT termasuk orang-orang yang sombong.

    ReplyDelete
  20. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Judul elegi ini membuat saya penasaran untuk membacanya. Sangat menarik juga bagi saya. Menilik pada diri saya sendiri, saya sampai bertanya dalam hati apakah selama ini saya berdoa masih dalam sikap keakuan? Jika masih, saya akan mencoba mengubah tata cara saya dalam berdoa. Saya sampai membayangkan suasana yang sepi itu akan menghampiri saat berdoa. Sungguh betapa nikmatnya terhanyut dalam setiap lantunan doa-doa. Terima kasih Prof untuk ilmu yang telah diberikan.

    ReplyDelete
  21. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sepi merupakan interupsi jiwa terhadap keramaian. Terkadang banyak manusia yang mencari hiburan di dalam keramaian, konon untuk menghilangkan penat. Padahal sejatinya segala keramaian dapat dilihat secara jernih dalam sepi. Saya membayangkan ketika manusia berlomba-lomba untuk menjadi ramai, pasti kepenatan akan muncul. Sebaliknya, saya membayangkan kesunyian bertemu kesepian, maka kita dengan mudah memahami diri dan semesta.

    ReplyDelete
  22. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Sebelum membaca elegi ini, saya berpikir bahwa orang bisa merasakan sepi di keramaian dan bisa merasakan "ramai" pada saat sepi. Beberapa orang cenderung merasa sepi dalam keramaian dan lebih memilih sendiri, waktu dimana orang-orang tersebut bisa berpikir dan berbincang dengan diri mereka sendiri lebih dalam. Perbincangan dengan diri sendiri ini yang yang menurut saya adalah keadaannya yang ramai sekali.

    Setelah membaca elegi ini, menurut saya ramai adalah kondisi saat kita terlalu berfokus pada diri sendiri. Terlalu asyik berpikir sendiri. Terkadang memang benar bahwa kita cenderung lebih suka berbicara tentang diri sendiri dan dengan diri sendiri (walaupun itu hanya dalam pikiran saja). Lalu, bagaimana menggapai sepi pada diri? Adalah dengan menghilangkan komponen "aku". Dimana aku? Saat "aku" tidak ada betapa takutnya hati ini, bergetar hati ini. PAda sat seperti ini, sadarkah kita betapa kecilnya diri ini? Kita hanya bisa memohon segala sesuatu kepada Tuhan, meminta ampun kepadaNya, Dzat penguasa segala sesuatu.

    ReplyDelete
  23. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Ramai yang mencari sepi. Tiada menggapai sepi ketika ramai masih menggunakan ke 'aku' annya untuk menggapi sepi. Sesungguhnya kata aku yang terbesit disetiap ucapannya merupakan terselip makna sombong dalam dirinya. Didalam berdo'a saja kita harus menghindari kata aku yang terucap sehingga tidak terbesit rasa sombong yang ada didalam do'a-do'a yang dipanjatkan. Tidak lah dpat menggapi sesuatu ketika rasa sombong masih tertanam dalam diri seseorang.

    ReplyDelete
  24. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Hmm... elegi ini tidak mudah saya pahami. Apakah saya belum pernah menyadari pengalaman menggapai sepi ya... Sepi itu bagi saya baru rasa hati ketika merasa sendiri sekalipun berada dalam keramaian. Tidak kenal siapapun, tak ada yang dapat diajak berkomunikasi... Demikianlah yang saya rasakan sepi. Apa sih sebenarnya sepi itu? Maafkan saya belum mampu memahaminya.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 39 ini, saya memahami bahwa sebagai manusia sudah sepantasnya kita menggapai sepi dalam doa. Dalam artian ketika berdoa hendaklah kita melepaskan keakuan kita dihadapan Allah SWT. Menanggalkan segala sifat keduniaan yang melekat dengan cara berserah diri kepada Allah SWT. Berdoa dengan ikhlas semata-mata hanya mengharapkan keridhaan dan ampunan dari-Nya. Karena sebenar-benar doa adalah doa yang dipanjatkan dengan cara berserah diri dan tanpa ada rasa sombong.

    ReplyDelete
  26. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    sepi satu kata yang tidak pernah timbul di benak saya. memahami elegi ini sangat tidak mudah. karena saya pribadi tidak menyukai kesunyian. terdapat kata-kata yang benar-benar membuat saya percaya bahwa sepi juga temasuk kedalam kejadian yang ada dimuka bumi.

    ReplyDelete
  27. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sebenar-benar sepi adalah doa-doa yang dilantunkan dengan penuh keikhlasan dan pengharapan. Doa-doa yang dipanjatkan merupakan sarana untuk bertemu dan memohon kepada Tuhan. Doa yang disertai dengan tangis penuh sesal akan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian kita serahkan semua yang kita miliki dan apa yang ada dalam diri kita kepada Allah.

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berdoa yang kusyuk berarti kita dalam keadaan sepi. Sepi disini bisa bermaksud kusyuk dalam berdoa kepadaNya. Dalam berdoa, kita harus lepas dari sifat keakuan atau kesombongan yang ada pada diri kita. Berdoa berarti kita berserah diri kepadanya setelah berikhtiar dan berharap yang terbaik dariNya. Manusia hanya berusaha, Allah lah yang menetukan hasil akhirnya dan kita harus berhuznudon terhadap semua ketetapanNya.

    ReplyDelete