Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 39: Menggapai Sepi




Oleh Marsigit

Ramai:
Aku adalah suaraku. Aku diucapkan dengan sepenuh dayaku oleh subyekku. Tiadalah orang di luar diriku mendengar suaraku, karena aku menutup bibirku. Aku juga menutup mulutku. Aku juga menutup leherku. Aku tidak menggunakan hanya hatiku yang satu.


Aku tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Aku tidak hanya menggunakan seluruh tubuhku sebagai hatiku. Tetapi aku juga menggunakan seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku sebagai hatiku. Anehnya aku mulai mendengar suaraku di dalam telingaku. Aku juga juga mulai mendengar suaraku di dalam mulutku. Aku juga mulai mendengar suaraku di leherku. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang satu. Aku juga mulai mendengar suaraku di hatiku yang tiga. Aku tidak hanya mendengar suaraku di seluruh tubuhku. Tetapi aku mendengar suaraku di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Jika aku sebut seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku adalah hatiku maka aku mendengar suaraku di semua hatiku. Aku mendengar suaraku di hatiku yang tersebar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku.
Padahal aku tahu suara apakah yang aku ucapkan itu. Maka ketika aku suaraku itu dengan segenap daya, upaya, jiwa dan ragaku, aku mendengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuhku tetapi suara itu juga aku dengar di seluruh lingkunganku sampai batas pikiranku. Maka aku merasa menemukan dunia dan di luar duniaku penuh dengan suaraku itu. Di dalam kesepian aku telah menemukan ramai luar biasa.
Wahai sepi, aku ingin bertanya benarkan semua pengakuan-pengakuan itu?
Apakah ramaiku itu sepi?
Apakah perbedaan ramai dan sepi?
Bagaimanakah menggapai sepi itu?

Sepi:
Wahai suara, menurut kesaksianku, tiadalah engkau mampu menggapai sepi jikalau engkau masih mengaku-aku dirimu itu. Sekali saja engkau membuat pengakuanmu, maka setidaknya sekali itu pula dirimu telah membuat tidak sepi. Itu artinya engkau tidak akan pernah bisa menggapai sebenar-benar sepi.

Ramai:
Contoh konkritnya bagaimana?

Sepi:
Ulangi saja ucapanmu tadi, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba.
Adalah suara. Diucapkan dengan sepenuh daya. Tiadalah orang di luar diri mendengar suara, karena bibir ditutup. Mulut juga ditutup. Leher juga ditutup. Tidak menggunakan hanya hati yang satu. Tidak hanya menggunakan hatiku yang tiga. Tidak hanya menggunakan seluruh tubuh sebagai hati. Tetapi juga menggunakan seluruh lingkungan sampai batas pikiran sebagai hati. Anehnya mulai terdengar suara di dalam telinga. Juga mulai terdengar suara di dalam mulut. Juga mulai terdengar suara di leher. Juga mulai terdengar suara di hati yang satu. Juga mulai terdengar suara di hati yang tiga. Suara tidak hanya terdengar di seluruh tubuh. Tetapi terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Jika disebut seluruh lingkungan sampai batas pikiran adalah hati maka suara terdengar di semua hati. Suara terdengar di hati yang tersebar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran.
Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubu tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Aku agak merasakan bedanya. Setidaknya aku merasa telah kehilangan keakuanku.

Sepi:
Ulangi lagi saja ucapanmu bagian akhir, tetapi tanpa menyebut-nyebut dirimu.

Ramai:
Baiklah akan aku coba:
"Padahal tahu suara apakah ucapkan itu. Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa"

Sepi:
Bagaimanakah ramai. Apakah engkau mulai bisa merasakan bedanya bersuara tanpa partisipasi dirimu?

Ramai:
Wahai sepi. Ampunilah diriku. Aku telah merasakan bedanya yang luar biasa. Aku telah merasakan diriku itu tiada daya dan upaya. Maka aku tidak tahu dari manakah suara itu. Aku terasa sangat lemah. Aku tidak mampu berpikir bahkan aku hampir lupa siapa diriku itu. Tak terasa air mataku mulai mengalir membasahi pipiku. Tubuhku mulai terasa bergemetar.

Sepi:
Wahai ramai, mengapa masih saja engkau ucapkan dirimu itu? Maka jika engkau masih saja ucapkan dirimu itu, maka sepi itu tidaklah akan datang menghampiri dirimu. Maka ulangilah ucapanmu yang terakhir, tetapi janganlah ucapkan dirimu itu.

Ramai:
"Ampunilah. Telah terasa bedanya yang luar biasa. Telah dirasakan diri itu tiada daya dan upaya. Maka tidaklah diketahui dari manakah suara itu. Terasa sangat lemah. Tidak mampu berpikir bahkan hampir lupa siapa diri itu. Tak terasa air mata mulai mengalir membasahi pipi. Tubuh mulai bergemetar"

Sepi:
Wahai ramai. Sia-sialah dirimu itu. Mengapa tidak engkau gunakan kata-katamu itu untuk sebenar-benar berdoa? Sebenar-benar sepi ialah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku.

Ramai:
Wahai sepi, ampunilah diriku. Oh maaf ampunilah diri. Aku ingin menangis. Oh maaf ingin menangis.

Sepi:
Wahai ramai, sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Sebenar-benar sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku. Tangisanmu itulah kecerdasan hatimu. Maka marilah kita berdoa kepada Tuhan.

Sepi dan Ramai bersama-sama berdoa:
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada Mu keselamatan pada agama, kesehatan badan, tambahan ilmu pengetahuan, keberkahan rizqi, taubat sebelum mati, rahmat ketika mati dan ampunan setelah mati. Ya Allah, ringankanlah sekarat-maut (kami), selamat dari neraka dan ampunan pada hari diperhitungkan amal. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau berikan petunjuk, dan karuniakanlah kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta hindarkanlah kami dari siksa neraka. Maha Suci Tuhanku, Tuhan Pemilik kemuliaan, dari apa yang mereka (orang-orang kafir) katakan. Semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada para Utusan. Segala puji bagi Allah, Tuhan Pemelihara alam semesta. Amien

93 comments:

  1. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Sepi disini maksudnya keadaan dimana kita bisa mendekatkan diri dengan tuhan, maka disebutkan bahwa kita tidak akan bisa menggapai sepi jika ramai masih mengaku-ngakukan dirinya. berarti jika kita ingin mendekatkan dengan tuhan, kita harus berdoa berhenti merasakan kehebatan diri kita.

    ReplyDelete
  2. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dalam setiap kegiatan yang kita lakukan, hati, pikiran, tulisan, ucapan, dan perbuatan selalu berjalan dinamis. Tidak bisa kita menghilangkan keberadaannya. Kita selalu di dalam pengawasan-Nya . Jadi kita harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu hal.. Untuk menghilangkan suatu Sepi kita harus berdoa dan berdzikir . Di dalam doa yang ikhlas, maka di situlah aku kehilangan keberadaanku

    ReplyDelete
  3. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Sebenar-benar sepi adalah doa tanpa keakuan. Dalam berdoa senantiasa kita untuk merendahkan diri di hadapan Allah, tiadalah doa jika dengan kesombongan. Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Setiap kita mengucapkan sesuatu tentang keakuan itu bisa memunculkan kesombongan dalam diri. Oleh karena itu sepi adalah doa-doa tanpa keakuan.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menceritakan tentang suasana ramai dan sepi. Keduanya merupakan hal yang saling berlawanan. Pada dasarnya, elegi tersebut menjelaskan mengenai keadaan sepi dan ramai yang sesungguhnya. Pernyataan yang menarik dari elegi di atas, yaitu “Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu jugaterdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa.”

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kita hendaknya melakukan segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, segenap jiwa, upaya, dan disertai doa yang khusuk. Dalam memanjatkan doa tersebut, hendaknya dengan sepenuh hati dan biasanya dilakukan pada saat sepi. Di saat sepi itulah, kita dapat mencurahkan isi hati kita dengan memohon ampunan, pertolongan, perlindungan dan lain sebagainya kepada Allah swt. Sebab, doa merupakan salah satu wahana berkomunikasi dengan Allah swt. Allah swt telah berfirman dalam QS. Al A’raf: 205 “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaan-Nya), tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”

    ReplyDelete
  6. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sebenar-benar sepi adalah do’a-do’a kita tanpa kesombongan kita. Tangisan kita bukan penyesalan atas semuanya tetapi tangisan kia adalah kesadaran apa yang telah kita lakukan selama ini. Sepi sangat mendukung kekhusukan hati dan pikiran kita dalam berserah diri kepada Allah SWT. Semoga kita semua termasuk umat yang mengarapkan syafa’atnya sampai di akhir jaman. Aamiin.

    ReplyDelete
  7. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Elegi menggapai sepi yang saya tangkap adalah elegi dimana sepi digambarkan sebagai apa yang ada didalam hati dan ramai adalah yang disurakan. Ramai tak akan berarti tanpa adanya sepi. Ucapan kita tidak akan ada artinya tanpa ungkapan dari dalam hati kita. Hal yang paling jujur adalah apa yang terungkap dari hati bukan dari mulut. Karena hati tidak bisa berbohong akan rasa.

    ReplyDelete
  8. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sepi dapat dialami saat kita berdoa, tanpa menonjolkan keakuan kita. Dengan kata lain, saat kita berdoa tapi pikiran kita masih memikirkan semua hal yang kita hadapi sebelumnya, kita belum bisa menggapai sepi. Apa yang terjadi? Saat itu kita tidak dapat mendengar suara TUhan yang ingin berbicara kepada kita. Berpasrah diri pada Tuhan dan rendah hati berdoa dan meninggalkan beban kita memampukan kita mengerti dan mendengar suara Tuhan sehingga kita mampu melihat seperti apa kita dalam kesepian tanpa adanya hiruk pikuk yang menghampiri. Berdoa dalam sepi berpasrah sepenuhnya kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  9. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Sepi dan kesepian adalah dua hal yang berbeda. Sepi merupakan keadaan yang diperlukan agar kita dapat berfokus dan mendengarkan suara Tuhan sedangkan kesepian merupakan perasaan sendiri, tak diinginkan, tertolak dan sebagainya. Jika pikiran kita positif, maka kesendirian bukanlah hal yang mengganggu namun hal ini akan berbahaya jika rasa kesepian tersebut menggerogoti kita dan menciptakan pikiran negative dalam diri. Tidak ada manusia yang diciptakan untuk hidup sendiri, untuk mengatasi rasa kesepian, penting untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan maupun dengan sesama kita.

    ReplyDelete
  10. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Mengapa rasa kesepian itu begitu menyakitkan? Hal yang utama adalah kegelisahan tentang eksistensi diri kita. Dalam kesepian, semua pengetahuan, identitas, personality, karakter, EGO menjadi tidak terungkap. Semakin anda menyendiri, semakin anda melihat ada sesuatau yang salah dalam diri anda.Semua yang anda ketahui seumur hidup anda, semua bisa jadi tampak salah. Ini menjadi hal yang menakutkan.Saya percaya bahwa semua orang pernah mengalami rasa kesepian karena perasaan ini bisa menyergap siapa saja. Ketika kita untuk pertama kali menghirup udara dunia, kita merasa sendirian dan kesepian. Kemudian kita dipeluk dan ditenangkan. Barulah kita sadar bahwa kita tidak kesepian.Sebenarnya tidak perlu seorang diri untuk merasa kesepian. Kita dapat merasa kesepian di tengah kerumunan orang. Kita dapat merasa sepi walau orang-orang yang ada di sekeliling kita sedang tertawa bergembira. Kita kesepian karena kita merasa tidak terhubung dengan orang-orang itu.

    ReplyDelete
  11. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Memang ada waktunya seseorang merasa butuh waktu untuk sendirian di tempat yang sunyi, entah itu untuk menyalurkan hobi seperti membaca buku, atau supaya bisa berpikir dengan jernih. Tetapi menghabiskan terlalu banyak waktu sendiri dapat menimbulkan rasa kesepian. Dan rasa kesepian bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik kita. Kabar baiknya, kita bisa menghindarinya dengan cara mengatasi kesepian ini. Semua orang bisa kesepian, dan itu wajar. Tetapi yang jadi masalah adalah ketika Kita terus-menerus merasa kesepian. Mungkin itu kita ada yang perlu disesuaikan dari cara pandang Kita terhadap kehidupan. Masalah bisa muncul dari cara Kita bersikap saat bersama orang lain. Ada yang seolah menaruh pagar kawat berduri di sekitarnya sehingga orang lain tidak mau berteman.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Cara mengatasi kesepian lain yang praktis ialah dengan keluar dari rumah dan lakukan sesuatu yang berguna. Misalnya dengan berjalan-jalan ke taman atau ke luar kota, jika mungkin. Dan ketika tiba saatnya sendirian di rumah, jangan ratapi kesendirian Kita. Sebaliknya lakukanlah pekerjaan yang kreatif, misalnya menjahit, menggambar, memperbaiki sesuatu, atau membaca. Dengan mengasah kreatifitas dan membuat diri sibuk, Kita bisa menghilangkan rasa kesepian yang sering datang di kala sendirian.

    ReplyDelete
  13. Viani Kurniawati
    14391241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 39 tentang menggapai sepi. Elegi yang bagi saya pribadi menarik dari segi judul. Kenapa kita sering mwmbutuhkan sepi disaat ramai dan membutuhkan ramai disaat sepi. intinya adakalanya kita butuh sepi. kalimat yang sebenarnya sarat akan makna namun sedikit sulit untuk saya cerna maknanya dalam elegi ini menurut saya yaitu Maka ketika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu terdengar tidak hanya di seluruh sel-sel tubuh tetapi suara itu juga terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran. Maka terasa ditemukan dunia dan di luar dunia penuh dengan suara itu. Di dalam kesepian telah ditemukan ramai luar biasa. Saya masih memikirkan pesan apa yang ingin disampaikan dari kalimat tersebut.

    ReplyDelete
  14. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi ini disampaikan bahwa sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuan. Artinya ketika kita bermunajat kepada Allah dengan segala kerendahan, mengabaikan keakuan kita (menanggalkab kesombongan) sejatinya itulah sepi, hanya ada Tuhan dan HambaNya tanpa suatu apa dalam kekhusyukan dan kesyahduan doa.

    ReplyDelete
  15. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada hakikatnya yang dimaksud dengan sepi adalah doa yang tanpa mengaku-akukan. Karena mengaku-akukan akan menimbulkan kesombongan. Padahal manusia dilarang untuk sombong. Dengan tidak mengaku-akukan doa maka kita akan lebih ikhlas dalam berdoa. Dan apabila dalam berdoa kita sampai menangis maka itulah kecerdasan hati kita.

    ReplyDelete
  16. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran yang saya dapat dari elegi di atas adalah bahwa setiap orang mendefinisikan sepi dan ramai dengan cara dan taraf perbandingan yang berbeda-beda. Jika seseorang dapat mengatakan sepi berarti seseorang tersebut sudah memahami apa itu ramai maupun sebaliknya. Sebenar-benar sepi itu ketika kita sedang berdoa kepada Allah SWT. Oleh karena itu, kita harus berdoa dengan merendahkan hati, ikhlas dan khusyuk.

    ReplyDelete
  17. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Elegi ini, mengajarkan kepada kita bahwa agar ikhlas dalam berdoa. Doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada Allah SWT haruslah benar-benar doa yang tulus dan ikhlas yang datang dari hati sanubari paling dalam, tidak mengharapkan balasan ataupun menuntut Allah dengan berbagai macam permintaaan-permintaan untuk dirinya sendiri. Berdoa kepada Allah harus terbebas dari belenggu kesombongan atau kemunafikan diri sendiri yang ingin selalu mendapatkan balasan dari doa-doanya tersebut. Tidak menyebut-nyebut dirinya sebagai hamba yang sedang berdoa ataupun mengakui sebagai hamba yang selalu taat menjalankan perintahNYA. Mengagung-agungkan diri sendiri dihadapan Allah SWT, padahal seharusnya ketika berdoa lupakanlah siapa dirikita dan merendahlah dihadapan Allah SWT untuk dapat berserah diri kepadaNYA.

    ReplyDelete
  18. Nama Febrian Luthfi F
    13301241062
    Pendidikan Matematika 2013

    Untuk menggapai sepi kita harus menghilangkan kesombongan kita, karena dengan sombong kita tidak bisa apa-apa, kita hanyalah makhluk Tuhan yang lemah maka hilangkanlah sombong dari hati ini. Maka berdoa untuk meminta ampun. Kesombongan akan menghalangi kita untuk berdoa dengan ikhlas. Maka janganlah sombong untuk menggapai sepi

    ReplyDelete
  19. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Elegi ini berhubungan dengan elegi Ritual Ikhlas Menggapai Ramai yang sebelumnya membahas tentang bagaimana kita merasa ‘ramai’ di dalam kesepian. Sesungguhnya ramai yang kita rasakan adalah peng-aku-an diri yang membuat hati ini tidak mampu merasakan sepi. Ternyata elegi ini merubah sudut pandang saya terhadap elegi ‘Menggapai Ramai’ sebelumnya. Sebelumnya saya pikir ramai itu muncul ketika kita sedang berdoa dan terus menyebut nama Allah SWT. Ternyata jika masih merasa ramai berarti kita masih menggunakan ‘aku’ sebagai pusat dari segalanya dan menandakan bahwa doa tersebut kurang khusyuk. Ternyata menggapai sepi adalah sebenar benar doa karena telah melepaskan ke-aku-an yang ada.
    Elegi ini sangat menarik terutama saat saya merasakan perbedaan kalimat-kalimat si ‘Ramai’ ketika sebelum dan sesudah diilangkan semua kata ‘aku’ nya. Ketika masih banyak mengandung kata ‘aku’ terasa ramai sekali kalimat-kalimat tersebut, bahkan ketika saya membacanya tanpa mengeluarkan suara tetap saja terasa ramai di dalam pikiran ini. Tetapi ketika saya membaca kalimat-kalimat yang telah dihilangkan kata ‘aku’ nya terasa sangat berbeda. Rasanya ada yang hilang tetapimenjadikannya nyaman. Ada perasaan tenang yang muncul sekalipun saya mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara. Terasa sepi di dalam hati ini. Sungguh suatu perasaan yang menarik yang saya alami.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Refleksi pada postingan ini menurut saya, kata sepi maksudnya doa yang khusyuk, kata ramai maksudnya sebagai suasana hati dan pikiran kita. Dalam berdoa sebaiknya suasana hati dan pikiran hanya kepada Alllah SWT. Doa adalah untuk menjadikan diri kita lebih baik, penghilang keburukan, mencapai semua hasrat dan angan kita. Sebaiknya kita harus banyak berdoa sebelum semuanya terlambat. Kelak menjadikan diri kita sebagai pembawa rahmat dan berkah. Dan kita juga harus menjaga mulut dan tangan dan berbuat baik bagi diri kita dan orang lain

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Di dalam suatu riwayat dalam suatu hadist, menyatakan bahwa, Putri Rasulullah, Fatimah r.a di dalam setiap berdoa tidak pernah menyebutkan dirinya untuk di doakan kepada Allah SWT. Tetapi yang disebutkannya doanya adalah para kerabat, para tetangga, para orang-orang terdahulu, dan para generasi mendatang. Kurang lebih begitulah kurang lebih garis besarnya. Ketika ditanya mengapa hal itu fatimah lakukan, maka fatimah menjawab bahwa, sesungguhnya apa yang kita doaakan kepada orang lain, maka itu juga berlakunya juga pada diri kita. Kalau kita mendoakan orang lain sukses dalam usahanya maka niscaya kesuksesan yang kita doakan pada orang lain itu juga akan berlaku pada diri kita.

    ReplyDelete
  22. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, menurur pemahaman saya sepi adalah kedamaian, ketenangan tidak mengagung-agungkan kemampuan diri hingga menjadikan diri memiliki kerendahan hati. Sepi menjadikan kita sosok yang mampu berdoa dengan khusyuk, dan dalam doa tiadalah perku kita menunjukkan kemampuan, jabatan kita karena sesungguhnya Allah tidaklah menyukai hamba yang memiliki setitik kesombongan.

    ReplyDelete
  23. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Yang kami pahami dari tulisan ini adalah kesepian adalah ketika seorang manusia kehilangan dirinya sendiri di dalam hidup ini, dalam situasi dan kondisi apapun dan bagaimanapun. Dalam kesunyian dan kesepian itu adalah waktu yang tepat untuk kita memanjatkan doa, dzikir dan beristighfar kehadirat Allah SWT dengan penuh keikhlasan, kerendahan hati dan memohon ampunan atas segala tindakan yang pernah dilakukan oleh kita.

    ReplyDelete
  24. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Elegi menggapai Sepi..
    Kadang-kadang kita merasa sepi ditengah keramaian. Dan juga kita merasa ramai di tengah kesepian. Apakah bisa dikatakan bahwa sepi itu adalah pikiranku yang menggelayuti dan mempengaruhi perasaan hatiku? Apakah Sepi itu relatif tergantng bagaimana hatiku memposisikan diriku?

    ReplyDelete
  25. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Elegi ini mengajarkan kita bagaimana menggapai sepi dalam doa. Doa yang selalu kita panjatkan kepada Allah yang masih ada keakuan di dalamnya menunjukkan bahwa keramaian itu masih ada dalam diri. Sebenar-benar berdoa adalah menghilangkan keakuan tersebut di dalamnya. Berdoa dengan ikhlas dan semata-mata mengharap ridha dari-Nya. Karena apalah arti kita di dunia jika tidak ada rasa rendah hati dan berserah diri hanya kepada-Nya. Saling mendoakan dalam hal kebaikan serta saling memaafkan kepada saudara seiman.

    ReplyDelete
  26. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari elegi di atas, dapat disimpulkan bahwa jika suara itu diucapkan dengan segenap daya, upaya, jiwa dan raga, terdengar suara yang ramai membahana luar biasa. Suara itu juga dapat terdengar di seluruh lingkungan sampai batas pikiran, tidah hanya sampai pada sel-sel di dalam tubuh. Sehingga, di dunia yang sepi itulah ditemukan suara yang dapat menjadi ramai. Namun ramai itu hanyalah sia-sia ketika tidak digunakan untuk berdoa. Oleh karena itu, marilah kita perbanyak lantunan doa-doa kita kepada Allah.

    ReplyDelete
  27. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang bermanfaat ini.

    Tidak cukup sekali, benar-benar harus berkali-kali membaca tiap-tiap elegi. Ya, karena memang seluruh elegi adalah ilmu kehidupan, maka benar-benar harus berhati-hati diri ini membacanya dan mencoba sedikit demi sedikit memahaminya. Untuk apa? Untuk hidup, bagi saya elegi-elegi adalah ilmu kehidupan. Mohon ijin berpendapat, membaca elegi ini saya merasa kita sedang membicarakan komunikasi kita dengan Sang Pencipta. Doa. Doa yang sesungguhnya adalah komunikasi yang sesungguhnya pula. Doa yang baik adalah jika disampaikan oleh seorang hamba yang benar-benar menghamba, maka jauhkanlah segala kesombongan (sungguh, ini nasihat bagi diri saya sendiri). Elegi menggapai sepi, menyadarkan saya, bahwa “sepi” yang sesungguhnya adalah doa-doa seorang hamba tanpa keakuan si hamba.

    ReplyDelete
  28. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dengan membaca elegi di atas saya mengambil makna bahwa menggapai sepi adalah salah satu perwujudan tata cara dalam berdoa kepada sang Maha Kuasa. Artinya kita dituntut untuk selalu khusyu’ dalam bermunajat kepada sang Kholiq. Karena dengan kita dapat menggapai sepi maka kita akan merasa lebih tenang dan lebih dekat kepada sang pencipta sehingga ketika kita menyampaikan do’a bisa diiringi tetesan air mata. Karena sebaik-baiknya dalam berdo’a yaitu jika disertai dengan tangisan kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  29. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Sebenar - benar sepi adalah ketika kita berdoa kepada Allah SWT dengan kerendahan hati yang penuh harap, ikhlas, tanpa adanya rasa kesombongan dalam hati, tanpa membawa-bawa atribut siapa kita, apa posisi kita, karena kita sadar bahwa Allah adalah yang maha kuasa, yang memiliki segalanya. Maka tak ada yang pantas kita sombongkan dihadapan-Nya. Sepi tak hanya ketika kita berdoa. Namun juga dalam setiap aktivitas. Sikap rendah hati dan tidak sombong harus selalu melakat dan membersamai setiap aktivitas. Semoga kita senantiasa menjadi manusia yang dijauhkan dari kesombongan, menjadi manusia yang senantiasa mampu menyepi dengan do’a-do’a yang penuh harap dan kerendahan hati. Aamiin.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ketika berdoa memohon kepada Allah SWT hendaknya manusia melepaskan segala identitas dirinya (harta yang dimiliki,pangkat, jabatan, kedudukan) untuk dengan sepenuh hati merendahkan diri dihadapan Allah SWT. Memohon ampun atas segala kesalahan dan berdoa dengan penuh keikhlasan. Manusia juga menyadari akan posisinya sebagai mahluk Allah SWT. Menjauhkan diri dari segala bentuk kesombongan. Jadi ketika menghadap Allah SWT hendaknya menggapai sepi agar lebih khusuk. Karena dihadapan Allah manusia itu sama, yang membedakan adalah keimanan dan ketaqwaannya.

    ReplyDelete
  31. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Sesuai dengan adab berdoa, berdoa dilakukan dengan cara mengakui kerendahan diri dihadapan Allah SWT, berdoa dengan menghilangkan keakuanku, dan berdoa dengan menyadari bahwa sebagai hamba-Nya kita tidaklah memiliki daya apapun selain dengan ridho-Nya. Segala Daya dan Kesempurnaan hanya lah milik Allah SWT. Maka manusia harus banyak-banyak berdoa dan memohon pertolongan-Nya.

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sebenar-benarnya sepi ditentukan oleh ruang dan waktunya. Sepi bisa dikatakan ketika di suatu tempat dan di waktu tertentu tidak ada suara sedikitpun yang terdengar, ataupun ada suara yang terdengar tetapi hanya kecil sekali. Di ruang dan waktu yang lain, seseorang merasakan sepi walaupun sedang dalam keramaian. Ia merasa sepi dan sendiri. Jadi benarlah bahwa sepi itu bergantung pada ruang dan waktu tertentu. Tetapi, tidak akan seseorang merasa sepi atau sendiri jika ia merasa bahwa dia selalu bersama Allah SWT. Meskipun tidak dipungkiri, dalam kondisi tertentu kita butuh waktu sendiri dan menginginkan suasana sepi untuk merenung, belajar, atau bahkan mencari dan menemukan ide. Sekali lagi, semuanya bergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  33. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebenar-benar sepi adalah berinteraksi dengan Allah SWT (berdoa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh tanpa menyebut diri sendiri (keakuanku)). Doa yang benar-benar tulus, ikhlas, dan cerdas itulah doa yang benar-benar seperti berinterkasi langsung dengan Allah, karena pada saat itulah kita benar-benar menyerahkan diri dan urusan kita kepada Allah. Tetapi jika kita belum memasrahkan seluruhnya (termasuk diri sendiri) kepada Allah, hati kita tidak bisa merasakan ketenangan yang amat sangat luar biasa tenangnya.

    ReplyDelete
  34. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.
    Terimakasih banyak Pak prof
    Setelah membaca elegi di atas, ternyata sepi akan hadir ketika tidak adanya rasa keakuan dalam diri kita.Sepi itu hadir dalam tiap-tiap doa.Karena di dalam doa kita menemukan adanya ketenangan dan kedamaian.Ketenangan dan kedamaian akan hadir bilamana rasa ikhlas terpancar di dalam hati kita.

    ReplyDelete
  35. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas sharingnya, Prof. Sebenar-benar sepi yang dimaksudkan dalam artikel ini adalah keadaan damai ketika kita sedang memanjatkan doa dan harapan pada Sang Penguasa langit, bumi dan apa-apa yang ada diantaranya. Dalam memanjatkan doa, kita harus menghambakan serta merendahkan diri, dan menjauhkan diri dari sifat keakuan. Barang siapa yang tidak pernah mau berdoa pada Allah SWT termasuk orang-orang yang sombong.

    ReplyDelete
  36. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Judul elegi ini membuat saya penasaran untuk membacanya. Sangat menarik juga bagi saya. Menilik pada diri saya sendiri, saya sampai bertanya dalam hati apakah selama ini saya berdoa masih dalam sikap keakuan? Jika masih, saya akan mencoba mengubah tata cara saya dalam berdoa. Saya sampai membayangkan suasana yang sepi itu akan menghampiri saat berdoa. Sungguh betapa nikmatnya terhanyut dalam setiap lantunan doa-doa. Terima kasih Prof untuk ilmu yang telah diberikan.

    ReplyDelete
  37. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sepi merupakan interupsi jiwa terhadap keramaian. Terkadang banyak manusia yang mencari hiburan di dalam keramaian, konon untuk menghilangkan penat. Padahal sejatinya segala keramaian dapat dilihat secara jernih dalam sepi. Saya membayangkan ketika manusia berlomba-lomba untuk menjadi ramai, pasti kepenatan akan muncul. Sebaliknya, saya membayangkan kesunyian bertemu kesepian, maka kita dengan mudah memahami diri dan semesta.

    ReplyDelete
  38. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Sebelum membaca elegi ini, saya berpikir bahwa orang bisa merasakan sepi di keramaian dan bisa merasakan "ramai" pada saat sepi. Beberapa orang cenderung merasa sepi dalam keramaian dan lebih memilih sendiri, waktu dimana orang-orang tersebut bisa berpikir dan berbincang dengan diri mereka sendiri lebih dalam. Perbincangan dengan diri sendiri ini yang yang menurut saya adalah keadaannya yang ramai sekali.

    Setelah membaca elegi ini, menurut saya ramai adalah kondisi saat kita terlalu berfokus pada diri sendiri. Terlalu asyik berpikir sendiri. Terkadang memang benar bahwa kita cenderung lebih suka berbicara tentang diri sendiri dan dengan diri sendiri (walaupun itu hanya dalam pikiran saja). Lalu, bagaimana menggapai sepi pada diri? Adalah dengan menghilangkan komponen "aku". Dimana aku? Saat "aku" tidak ada betapa takutnya hati ini, bergetar hati ini. PAda sat seperti ini, sadarkah kita betapa kecilnya diri ini? Kita hanya bisa memohon segala sesuatu kepada Tuhan, meminta ampun kepadaNya, Dzat penguasa segala sesuatu.

    ReplyDelete
  39. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Ramai yang mencari sepi. Tiada menggapai sepi ketika ramai masih menggunakan ke 'aku' annya untuk menggapi sepi. Sesungguhnya kata aku yang terbesit disetiap ucapannya merupakan terselip makna sombong dalam dirinya. Didalam berdo'a saja kita harus menghindari kata aku yang terucap sehingga tidak terbesit rasa sombong yang ada didalam do'a-do'a yang dipanjatkan. Tidak lah dpat menggapi sesuatu ketika rasa sombong masih tertanam dalam diri seseorang.

    ReplyDelete
  40. Kartika Kirana
    17701261039
    S2 PEP B

    Hmm... elegi ini tidak mudah saya pahami. Apakah saya belum pernah menyadari pengalaman menggapai sepi ya... Sepi itu bagi saya baru rasa hati ketika merasa sendiri sekalipun berada dalam keramaian. Tidak kenal siapapun, tak ada yang dapat diajak berkomunikasi... Demikianlah yang saya rasakan sepi. Apa sih sebenarnya sepi itu? Maafkan saya belum mampu memahaminya.

    ReplyDelete
  41. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 39 ini, saya memahami bahwa sebagai manusia sudah sepantasnya kita menggapai sepi dalam doa. Dalam artian ketika berdoa hendaklah kita melepaskan keakuan kita dihadapan Allah SWT. Menanggalkan segala sifat keduniaan yang melekat dengan cara berserah diri kepada Allah SWT. Berdoa dengan ikhlas semata-mata hanya mengharapkan keridhaan dan ampunan dari-Nya. Karena sebenar-benar doa adalah doa yang dipanjatkan dengan cara berserah diri dan tanpa ada rasa sombong.

    ReplyDelete
  42. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    sepi satu kata yang tidak pernah timbul di benak saya. memahami elegi ini sangat tidak mudah. karena saya pribadi tidak menyukai kesunyian. terdapat kata-kata yang benar-benar membuat saya percaya bahwa sepi juga temasuk kedalam kejadian yang ada dimuka bumi.

    ReplyDelete
  43. Junianto
    17709251065
    PM C

    Sebenar-benar sepi adalah doa-doa yang dilantunkan dengan penuh keikhlasan dan pengharapan. Doa-doa yang dipanjatkan merupakan sarana untuk bertemu dan memohon kepada Tuhan. Doa yang disertai dengan tangis penuh sesal akan dosa yang pernah kita lakukan. Kemudian kita serahkan semua yang kita miliki dan apa yang ada dalam diri kita kepada Allah.

    ReplyDelete
  44. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Dalam berdoa yang kusyuk berarti kita dalam keadaan sepi. Sepi disini bisa bermaksud kusyuk dalam berdoa kepadaNya. Dalam berdoa, kita harus lepas dari sifat keakuan atau kesombongan yang ada pada diri kita. Berdoa berarti kita berserah diri kepadanya setelah berikhtiar dan berharap yang terbaik dariNya. Manusia hanya berusaha, Allah lah yang menetukan hasil akhirnya dan kita harus berhuznudon terhadap semua ketetapanNya.

    ReplyDelete
  45. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca elegi tersebut membuat saya teringat pada suatu hadist. Hadist tersebut adalah “Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”
    Saya sangat setuju dengan pernyataan sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu.

    ReplyDelete
  46. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca elegi kali ini membuat saya teringat dengan sebuah hadist. Hadist itu adalah "“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.”

    Sebenar-benar sepi adalah doa-doamu tanpa keakuanmu. Diantara doa yang mustajab, salah satunya adalah doa seorang muslim kepada saudaranya.

    ReplyDelete
  47. Luthfi NUr Azizah
    1770925100
    PPS P.Mat A

    Ramai ada ketika keakuanku disimbolkan diri kita sendiri. Allah SWT sebagai Dzat yang Maha Kuasa lah yang boleh mengakui keakuanya. Kita hanya patut untuk selalu berdoa kepada yang Maha Kuasa dengan tidak menunjukan keakuankita. Kita senantiasa menunjukan kerendahan jika kita adalah yang diciptakan dan sudah kewajiban kita untuk mengakui keakuanya yang maha esa. Oleh karena itu, ketika kita berusaha mengapai ridho Allah SWT tak lupa juga kita awali dengan selalu berusaha menggapai sepi terlebih dahulu. Yang membedakan dimata Allah SWT bukanlah keakuan kita, namun iman dan taqwa kita.

    ReplyDelete
  48. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Elegi ini mengajarkan kita didalam tatacara berdoa. Jika kita berdoa maka kita harus meninggalakan segala yang menempel ditubuh kita. Maksudnya dari segala yang menempel bukan pakaian tapi segala kekuasaan, jabatan, kekuatan, dll yang berupa sifat manusia. Sebab berdoa memerlukan pemikiran yang kosong yang siap untuk diisi kemuliaan Tuhan. Jika kita belum bisa meninggalkan itu semua maka kita akan berdoa dengan penuh keramaian yang berarti kesombongam menyelimuti diri kita. Alangkah baiknya jika kita berdoa dengan sepi agar kita lebih bisa berkomunikasi dengan baik kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  49. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Sepi dan ramai adalah dua hal yang berbeda. Dalam elegi kali ini kami mencoba pahami bahwa sepi merupakan subyek dimana dia melepas segala predikat yang disandangnya dan mencoba mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ritual keikhlasan. Disisi lain ramai, merupakan subyek yang masih saja bersikap sombong dengan mengagung agungkan namanya, menggemborkan suaranya dan berusaha menunjukkan siapa dirinya. Meskipun sepi dan ramai berbeda konsep, namun sepi dengan ikhlas menuntun ramai untuk menuju jalan kepada Allah SWT. Semoga kita terlepas dari segala penyakit hati. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  50. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sepi bisa jadi ramai. Dan ramai bisa jadi sepi. Ruang dan waktu sesuai dengan subyeknya. Bisa saja kita berkata sepi, tetapi di dalam hati, kita sedang berdo’a, sedang berkomunikasi dengan Allah. Ramainya hati karena kita risau dan takut untuk berkomunikasi dengan Allah. sesuatu hal yang berbeda tetapi bisa sama. Alangkah baiknya kita senantiasa mengingat Allah dalam keadaan sepi dan ramainya hati dan pikiran. Janganlah berdo’a ketika hanya sepi hati, tetapi juga ramainya hati. Karena semua itu hanyalah sementara di mata Allah.

    ReplyDelete
  51. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sepi bisa jadi ramai. Dan ramai bisa jadi sepi. Ruang dan waktu sesuai dengan subyeknya. Bisa saja kita berkata sepi, tetapi di dalam hati, kita sedang berdo’a, sedang berkomunikasi dengan Allah. Ramainya hati karena kita risau dan takut untuk berkomunikasi dengan Allah. sesuatu hal yang berbeda tetapi bisa sama. Alangkah baiknya kita senantiasa mengingat Allah dalam keadaan sepi dan ramainya hati dan pikiran. Janganlah berdo’a ketika hanya sepi hati, tetapi juga ramainya hati. Karena semua itu hanyalah sementara di mata Allah.

    ReplyDelete
  52. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Saat manusia dalam keadaan sendiri, mereka akan merasa tidak mempunyai teman, sepi, tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi akan melakukan perbuatan pada batas kewajarannya. Nekat berbuat apa saja untuk melampiaskan kesepiannya. Tetapi berbeda konteks dalam elegi ini. Ramai dan sepi yang dimaksud adalah saat dimana manusia bermuhasabah dan bermunajat memohon ampunan kepada Allah swt. Saat manusia dalam keadaan senang maupun susah senantiasa bersyukur kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  53. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Saat manusia dalam keadaan sendiri, mereka akan merasa tidak mempunyai teman, sepi, tidak bisa berbuat apa-apa. Bisa jadi akan melakukan perbuatan pada batas kewajarannya. Nekat berbuat apa saja untuk melampiaskan kesepiannya. Tetapi berbeda konteks dalam elegi ini. Ramai dan sepi yang dimaksud adalah saat dimana manusia bermuhasabah dan bermunajat memohon ampunan kepada Allah swt. Saat manusia dalam keadaan senang maupun susah senantiasa bersyukur kepada Allah swt.

    ReplyDelete
  54. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Lanjutan.
    Dalam kesendirian dan kesepian yang melanda, hanya Allah yang senantiasa diingat. Meninggalkan kehidupan duniawi yang fana, kesombongan yang hadir dalam diri untuk semata-mata memohon ampunan kepada Allah swt. “Sepi adalah doa-doaku tanpa keakuanku”, berarti bahwa menanggalkan kesombongan diri hanya untuk bermuhasabah dan berdoa memohon ampunan kepada Allah swt. Dengan doa-doa yang tulus ikhlas akan dapat meramaikan jiwa yang haus akan kerinduan pada sang Pemilik-Nya. Dalam keadaan sepi jikalau manusia itu dapat memahami hakikat penciptaan dirinya, maka akan dapat memanfaatkan waktu tersebut untuk senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah swt. karena sebenarnya Allah lebih dekat dengan urat nadi kita.

    ReplyDelete
  55. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Ramai dan sepi secara kasat mata adalah dua kondisi yang berkontradiksi, ketika sepi ada maka tiadalah ramai begitupun sebaliknya ketika ramai ada maka tiadalah sepi. Namun Metafisik antara ramai dan sepi bisa hadir secara bersamaan, misalnya dalam kondisi ramai kita bisa saja merasa kesepian karena ditengah keramean tersebut tidak ada yang kita kenal dan kita tidak mengerti apa yang orang lain bicarakan, maka kita akan merasa kesepian. Begitupun sebaliknya dalam sepi bisa merasa ramai, karena kita bisa berkomunikasi dengan orang yang tidak berada disekitar kita, misalnya berbicara lewat telepon.

    ReplyDelete
  56. Manusia adalah makhluk yang lemah sekaligus kuat. Manusia lemah terhadap godaan syeitan yang kehadiran tanpa kita sadari merasuk ke dalam pikir dan hati kita, yang mungkin kita pikir sebagai suatu kesalahan yang kecil dan bukan masalah besar. Manusia adalah juga makhluk yang kuat jika dapat memenangkan atas godaan syaitan dan menyadari hal kesalahan yang dilakukan sekecil apapun itu. Semoga Allah selalu memberikan ampunan kepada kita.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  57. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Aamiin allahumma aamiin.
    Dari elegi ini hal yang dapat saya ambil adalah bahwasanya hakikat sepi itu adalah ketika kita mampu memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan khusyu, melepaskan semua jabatan/kedudukan yang kita miliki di dunia ini, sehingga kita hanya memposisikan diri sebagai hamba Allah yang tiada daya dan upaya kecuali atas limpahan rahmat-Nya.

    ReplyDelete
  58. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Saya pernah mendengar pernyataan bahwa “ Diam itu emas, namun bicara itu berlian” maksudnya saat seseorang memang tidak ada kapasitas untuk berbicara karena dia tidak memiliki ilmunya, maka dia sebaiknya tidak usah berbicara, namun apabila dia memiliki ilmu yang mendukung dan memiliki solusinya maka dia seharusnya menyampaikan pendapatnya. Dari elegi ini hal yang dapat saya simpulkan adalah kita dapat menjadi seorang yang sepi saat dia khusyuk dalam berdoa, dengan memohon perlindungan kepada Allah, selain itu ramai ketika berdzikir bersama-sama untuk memohon perlindungan juga.

    ReplyDelete
  59. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas elegi di atas. Namun agaknya saya kurang menangkap pelajaran apa yang dapat kita ambil. Menurut saya, sepi dan ramai adalah dua sifat yang dititipkan Allah kepada kita. Keduanya memiliki makna dan kemanfaatan sesuai ruang dan waktunya masing-masing. Ketika sepi digunakan sebagai momen berdoa dan khusu’ beribadah kepada Allah, maka kedekatan kita dengan Allah akan semakin terasa. Namun ketika sepi berada pada forum tanya jawab yang butuh keaktifan dari kita, maka sepi itu menjadi rugi. Sama halnya ketika ramai, ramai yang positif lebih tepatnya ramai yang dirasakan dalam hati, seraya berdoa memohon segala sesuatunya kepada Allah, maka Allah senang ketika hambaNya bermanja-manja dengannya. Namun ramai yang merugikan semisal kita berada di suatu tempat yang mengharuskan kita sepi, dan kita ramai, maka kita telah melanggar hak ketenangan oranglain. Semoga apa yang saya paparkan tidak melenceng dari maksud bapak. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  60. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Ketika saya mengaji dengan salah satu kyai di desa, bliau selalu mengingatkan kita semua untuk menjauh dari sifat ke-Aku-an. Karena pada dasarnya sifat ke-Aku-an hanyalah milik Alloh. Kita sebagai manusia hanyalah meminjam apayang diciptakan oleh yang memiliki yaitu Alloh SWT. Jika sifat ke-Aki-an merasuki diri kita, maka kita tak akan pernah merasakan kenyamanan yang hakiki karena banyak ketidakpuasan dari dalam diri kita untuk memperoleh sesuatu dan dinamakan atas diri kita sendiri.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Menggapai sepi bukan berarti tidak ramai, bisa saja keadaan ramai, tapi hati dalam keadaan sepi. Dan bisa juga merasa sepi dalam suasana ramai dan sepi ditengah-tengah keramaian. Sepi hanya bisa didapatkan ketika mampu meninggalkan diri dengan segala kekuatannya menjadi ketidakmampuan dalam berdoa, karena ketika berdoa menyertai peng’AKU’an diri, maka saat itulah ramai selalu mengikuti.

    ReplyDelete
  62. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setiap manusia menggunakan suaranya dengan berbeda-beda, sehingga tercipta keramaian yang berbeda. Sebaik-baik suara adalah suara doa, yang dipanjatkan dengan khusyu'. Khusyu’nya dio diperoleh dalam keaaan lingkungan dan hati yang sepi. Sesungguhnya sepi adalah keramaian yang membuat ketenangan. Tiada ketenangan tanpa adanya hati yang nyaman. Kenyamanan akan membuat segala sesuatu tindakan yang diperbuat akan menjadi lebih maksimal. Doa yang khusyu mungkin tidak akan mewujudkan apa yang kita harapkan karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, tetapi dengan begitu kita akan memaknai sebuah ikhtiar

    ReplyDelete
  63. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Sepi yang dimaksud dalam elegi disini adalah sepi dalam beribadah. Kita harus berada di tempat yang tenang sehingga kita kusyuk dalam doa.
    Mencapai sepi Diharapkan setelah melakukan perbuatan baik atau ibadah, maka hati, pikiran, dan tidak akan secara lisan mengungkapkannya. Jika hati, pikiran, lisan atau masih mengatakan, maka itu berarti belum berhasil mencapai sepi. Sepi ketika berdoa kita bisa membuat diri kita merasa rendah hati di hadapan Allah. Jadi, doa kita akan dijawab dengan cepat.

    ReplyDelete
  64. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Terkadang seseorang merasa sepi di tengah keramaian. Sepi itu hati dan pikirannya. Bisa jadi ia merasa sepi di tengah keramaian di sekitarnya. Jika hati merasa sepi, berdzikirlah karena dzikir itu dapat menenangkan hati. Namun, dalam melakukan doa sebaiknya dilakukan di tempat yang sepi dan tidak bising agar biusa khusyuk.

    ReplyDelete
  65. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    Shalat adalah doa. Agar shalat kita khusyuk maka hati kita harus bersih. Cara membersihkan dan menenangkan hati adalah melalui berdzikir kepada Allah SWT, diantaranya tagfirulah al adzim . Al Fatehah. Al Ikhlas. Salawat Nabi. Audzhubilah Himi-nassyaeton nirojim Bismillah Hiro-khman Nirokahim. Alhamdulillah hirabbil alamin. Wasalatu Wasa-lamu Ala Asrofil Ambyai Warmu-salin Syayidina muhammadin wa-ala alihi wasyohbihi ajma’in. Dengan begitu, hati kita akan terisi dengan kalimat-kalimat yang baik sehingga tidak mudah dihasut syaitan.

    ReplyDelete
  66. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca elegi ini saya belajar bahwa dalam berdoa kita harus melepaskan ke-aku-an diri kita. Agar doa kita diterima dan diridhoi Allah swt, maka kita harus berdoa dengan ikhlas dan terbebas dari kesombongan. Saat ke-aku-an masih melekat pada diri kita, itu artinya kesombongan masih melekat pada hati kita. Sehingga saat berdoa sudah seharusnya kita meletakkan sejenak status kita, kedudukan kita, harta kita karena sesungguhnya kita ini hanyalah mahluk yang sangat amat kecil dihadapan sang pencipta dan semua yang melekat pada diri kita adalah kepunyaan Allah swt. Terimkasih

    ReplyDelete
  67. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. setelah saya mencoba membaca elegi ini, saya mencoba merefleksikannya. Tak ada ramai tanpa sepi dan tak ada sepi tanpa ramai. Orang tak bisa mengatakan suasana ramai kalau ia tak pernah merasakan sepi dan orang tak akan bisa mngatakan sepi kalau tak pernah merasakan ramai. Ramai dan sepi saling membutuhkan agar mereka ada.

    ReplyDelete
  68. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Keramaian adalah keadaan yang tidak pernah diam. Maka keramaian tidak berarti selalu baik. Manusia selalu membutuhkan sepi. Dengan sepi, kendala-kendala dalam mencapai kefokusan dapat diminimalisir. Dalam sepi, seseorang dapat melakukan refleksi diri dengan lebih fokus. Dan dalam sepi, seseorang dapat meningkatkan kekhusyukannya dalam berkomunikasi dengan sang maha pencipta, menyampaikan keluh kesah, memanjatkan doa-doa, serta memohon petunjuk dari-Nya

    ReplyDelete
  69. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Terkadang kita juga membutuhkan sepi. Terutama sepi merujuk pada ruang dan waktu spiritualitas. Kita membutuhkan sepi hanya agar kita menjadi lebih fokus dan lebih bersungguh-sungguh. Sepi dalam artian menghilangkan segala sifat duniawi, menanggalkan setiap atribut kita selama berdoa. Hanya fokus mengharap ridha Allah dengan penuh keyakinan dan kerendahan hati. Dengan suara yang lembut dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  70. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mengambil beberapa hikmah. Pertama, mengenai ramai dan sepi adalah dua hal yang berlainan namun bisa bersandingan. Ramai yang artinya ketika dalam keadaan diri yang ramai, berkata dengan rantai, sibuk dengan ini dan itu. kemudian, sepi yaitu yang bahkan yang berbicara hanya hati, karena dalam sepi juga dapat dipanjatkan do’a do’a memohon pada Allah Ta’ala. Maka dalam sepi kita pun boleh untuk menangis bahkan dalam do’a pun diperkenankan hingga tersedu. Dalam do’a yang sepi akan banyak makna didalamnya, dibanding do’a dalam ramai.

    ReplyDelete
  71. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Sepi dalam ramai. Ramai dalam sepi. Ramai dan sepi, menjadi dua hal kontradiktif. Sepi tak akan datang kepada kita kalau masih ada keakuan, karena sebenar-benar sepi adalah doa tanpa keakuan. Jika ada sedikit keakuan hadir di sana berarti hadir pula keramaian, hadir pula kesombongan di sana. Ketika kita bisa melupakan sejenak keakuan, maka di sata itulah kita benar-benar butuh Tuhan, karena kita merasa kita bukan apa-apa tanpa kuasa-Nya. Oleh karena itu, hilangkan kesombongan diri dan ikhlas berdoa kepada-Nya.

    ReplyDelete

  72. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Artikel diatas membiacakan tentang ramai dan sepi. Ramai mengkhawatirkan tentang makna dari dirinya sendiri dan bagaimana menggapai sepinya. sebenar-benarnya ramai adalah keegoisan diri, karena keakuan yang merasa besar maka damai yang identik dengan sepi itu sulit untuk teraih. Sehingga setelah dilakukan refleksi diri, maka dengan menanggalkan keegoisan, sepi yang merupakan wujud dari kedamaian itu akan terwujud. Salah satu cara untuk meraihnya adalah dengan selalu mendekatkan diri kepada Allah. Berdoa kepada-Nya dengan menghilangkan keakuan kita.

    ReplyDelete
  73. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Elegi ini berhubungan dengan elegi Ritual Ikhlas Menggapai Ramai yang sebelumnya membahas tentang bagaimana kita merasa ‘ramai’ di dalam kesepian. Sesungguhnya ramai yang kita rasakan adalah peng-aku-an diri yang membuat hati ini tidak mampu merasakan sepi. Ternyata elegi ini merubah sudut pandang saya terhadap elegi ‘Menggapai Ramai’ sebelumnya. Sebelumnya saya pikir ramai itu muncul ketika kita sedang berdoa dan terus menyebut nama Allah SWT. Ternyata jika masih merasa ramai berarti kita masih menggunakan ‘aku’ sebagai pusat dari segalanya dan menandakan bahwa doa tersebut kurang khusyuk. Ternyata menggapai sepi adalah sebenar benar doa karena telah melepaskan ke-aku-an yang ada.

    ReplyDelete
  74. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa untuk menggapai kekusukan (sepi) maka kita harus terlebih dahulu menanggalkan ego diri. Ego ingin di akui, ego ingin memiliki, ego ingin dihargai. Dengan menghilangkan itu semua, maka kesunyian diri akan tergapai, kekhusukan akan didapat, dan hati akan menjadi ikhlas.

    ReplyDelete
  75. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Inti dari menggapai sepi adalah merendahkan dari keramaian yang ada, merendahkan diri dihadapan Allah Swt sebagai bentuk pengabdian seorang hmba. Menggapai sepi adalah ikhtiar menghilangkan kesombongan diri, kesombongan hanya akan menyebabkan keramaian yang tidak bermanfaat dan malah akan memunculkan kesombongan-kesombongan lainnya.

    ReplyDelete
  76. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  77. Latifah Fitriasari
    PM C

    Orang-orang yang tidak mau berdoa kepada Allah hanyalah orang yang sombong, seakan ia tidak butuh pertolongan Allah, atau merasa gengsi kalau harus berdoa. Selama kita masih bisa berdoa,Tuhan pasti akan selalu menyertai kita. Ketika kita hidup hanya mengandalkan pemikiran dan materi maka hidup itu tidak akan berarti dan tidak ada gunanya. Sepi yang dimaksudkan adalah kedamaian dan ketentraman diri. Hidup juga harus mengandalkan lutut untuk bersimpuh minta petunjuk kepada-Nya. Dalam hal ini maksudnya adalah kita harus selalu berdoa kepada Tuhan tanpa ada kesombongan yang menyertai kita.

    ReplyDelete
  78. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Untuk menggapai sepi adalah dengan doa-doa tanpa keakuan. Tanpa keakuan disini ialah dengan menaggalkan segala hal duniawai yang menempel dalam diri seseorang. Harta, jabatan, tingkat pendidikan harus dilepaskan ketika memohon dan berdoa kepada Allah SWT karena hal tersebut dapat menjadikan sebuah kesombongan. Cukuplah memohon dan meminta kepada Allah SWT sebagai seorang hamba yang lemah dan butuh pertolongan Nya. Karena sebenar-benar hal dunia tiada artinya dihadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  79. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Memberikan ‘aku’ dalam sebuah kalimat tentang sepi saja membuatnya menjadi ramai. Apalagi menambahkan ‘aku’ dalam doa-doa pada Allah. Munculnya ‘aku’ dalam doa-doa yang dilantunkan menunjukkan masih adanya unsur kesombongan yang masih kita miliki dalam diri kita. padahal siapalah diri kita ini, apa yang bisa kita sombongkan jika segala kepunyaan hanyalah titipan dari Allah

    ReplyDelete
  80. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Sepi dan ramai adalah dua hal yang saling berkontradiksi. Sepi dan ramai dalam kehidupan manusia itu tidak terhindarkan. Sepi yang baik adalah ketika seseorang berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam suatu kondisi. Niat ikhlas dalam berdoa dan berserah diri kepada Allah dapat menciptakan suasana sepi yang menuju pada keridhoan Allah SWT.

    ReplyDelete
  81. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam elegi ini diceritakan bahwa ramai dan sepi merupakan hal yang kontradiktif. Seperti halnya ketika didalam kesepian aku menemukan keramaian. Maka perlu ada yamg menerjemahkan dan diterjemahkan, sehingga keduanya bisa saling memahami. Diakhiri dengan berdoa merupakan bentuk ikhlas yang luar biasa, karena dengan saling mendoakan secara ikhlas kita semua akan lebih tenang.

    ReplyDelete
  82. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Layaknya baik dan buruk, bodoh dan jenius, maka sepi dan ramai pun memiliki beda yang amat tipis. Tanpa adanya keramaian kita takkan mampu menyatakan sepi, begitu pula sebaliknya tanpa adanya sepi kita takkan mengetahui hakikat dari keramaian. Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka merasa kesepian di tengah keramaian, perlu diingat bahwa sepi dan ramai itu memerlukan partisipasi dari diri kita sendiri seperti yang telah disebutkan di atas. Jika kita mengucapkan suatu hal dengan lantang namun dengan mulut tertutup maka di luar hanya ada sepi namun jiwa kita ramai. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  83. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Sepi identik dengan diam, disebutkan dalam suatu riwayat bahwa diam ialah hikmah dan sedikit sekali yang melaksanakannya. Dengan diam, kita sama saja telah melindungi diri kita. jika diam dilakukan oleh orang yang berilmu maka ia menyembunyikan identitasnya dan berlaku bijak sedangkan jika diam dilakukan oleh orang yang bodoh maka ia menyembunyikan kebodohannya. Sedalam apapun hikmah dibalik diam, masih banyak orang yang berkoar koar tanpa rasa takut dan tanpa kebenaran atas apa yang dibicarakannya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  84. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Elegi ini, mengajarkan kepada kita bahwa agar ikhlas dalam berdoa. Doa yang dipanjatkan oleh manusia kepada Allah SWT haruslah benar-benar doa yang tulus dan ikhlas yang datang dari hati sanubari paling dalam, tidak mengharapkan balasan ataupun menuntut Allah dengan berbagai macam permintaaan-permintaan untuk dirinya sendiri. Berdoa kepada Allah harus terbebas dari belenggu kesombongan atau kemunafikan diri sendiri yang ingin selalu mendapatkan balasan dari doa-doanya tersebut. Tidak menyebut-nyebut dirinya sebagai hamba yang sedang berdoa ataupun mengakui sebagai hamba yang selalu taat menjalankan perintahNYA. Mengagung-agungkan diri sendiri dihadapan Allah SWT, padahal seharusnya ketika berdoa lupakanlah siapa dirikita dan merendahlah dihadapan Allah SWT untuk dapat berserah diri kepadaNYA.

    ReplyDelete
  85. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Hal ini menjelaskan bahwa kita tak pantas mengakui sesuatu yang ada di dunia ini. Segala sesuatu di dunia ini adalah milik Allah SWT.Sungguh kesombongan jika kita masih memikirkan ego kita dalam meng-aku-i sesuatu. Untuk itu, marilah kita renungkan apa yang selama ini kita perbuat, sudahkan kita berdoa dengan ikhlas tanpa keakuan? Semoga hati kita menjadi tentram dan suci jika ita selalu berserah diri kepada Allah.

    ReplyDelete
  86. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Elegi ini mengajarkan kepada kita dalam beribadah, dalam berdoa kita harus melepaskan semua embel-embel predikat dunia yang menempel pada diri kita. Tidak ada yang memiliki kedudukan yang berbeda di hadapan Tuhan. Maka dalam beribadah kita perlu dengan rendah hati.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  87. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Saat berdoa, kita harus merendahkan diri dihadapan-Nya. Menurut sepemahaman saya, berdoa diiringi dengan keikhlasan, kekusyukan, kerendahan diri, kesadaran bahwa diri adalah makhluk yang sangat terbatas, dan keyakinan bahwa Allah akan menepati semua janji-Nya adalah sebenar-benar sepi.

    ReplyDelete
  88. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Ramai dan sepi, dua hal yang berlawanan, bisa saja saling bertukar posisi, tergantung dari konteks yang sedandg dibahas. jika dalam situasi biasa, yang dipahami orang awam, ramai artinya banyak orang, banyak suara, banyak aktivitas, dan sepi adalah sebaliknya. Namun ramai juga bisa menjadi sepi secara sekaligus. misalnya di suatu mesjid, banyak orang yang datang, karena ada suatu kegiatan misalnya didepan mesjid tersebut. orang biasa akan menyebutnya ramai, tetapi sesungguhnya mesjid itu sepi karena orang-orang yang sedang berada didepan mesjid tersebut tidak memakmurkannya, tidak melakukan aktifitas ibadah disana.

    ReplyDelete
  89. Asslamualaikum Wr. Wb. Tidak selamanya sepi mengandung kesedihan sebagaimana tidak selamanya ramai mengandung kebahagiaan. Sepi di satu sisi adalah ruang yang dubutuhkan untuk bermunajat kepada Allah SWT. Terkadang kita harus menjauh dari keramaian hanya untuk sekedar menenangkan hati dan pikiran dari penatnya dunia. Sepi adalah ketengan menuju kehangatan dalam doa. Sepi adalah jalan komunikasi antara manusia dengan Tuhannya. Dengan kata lain, menggapai sepi adalah suatu kebutuhan spiritual manusia. Wallaua’lam bi shawab.

    ReplyDelete
  90. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Tidak akan mampu menggapai ilmu jika masih mengaku-ngaku berilmu, tidak akan mampu menggapai sepi jika sepi mengaku-aku tentang dirinya. Di hadapan Allah derajat kita sama, ketika ada dalam doa semua tidak ada bedanya. Yang menentukan hanyalah keikhlasan yang ada di dalam diri dan keyakinan terhadap Allah semata. Semua embel-embel dunia tidak akan berarti di hadapannya tanpa adanya keimanan.

    ReplyDelete
  91. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Ramai dan sepi saling kontadiksi. Seringkali kita merasakan kesepian ditengah keramaianataupun sebaliknya. Kadang hati kita merasa kosong atau sepi ditengah keramaian, hal itu karena kurang dekatnya kita dengan Sang Pencipta. Berdasarkan elegi tersebut sepi itu ketika kita mampu memnjatkan doa dengan khusyu’ kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  92. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Sepenangkap saya, sepi dalam elegi di atas adalah khusyuknya kita dalam berdoa, kekhusyukan kita dalam menjalin komunikasi dengan-Nya. Oleh karena itu sebenar-benar sepi adalah saat kita berdoa tanpa rasa angkuh sedikit pun, merasa tidak memiliki apapun. Rasa ini tentu saja bukan rasa yang dibuat-buat, tapi tulus dalam hati.

    ReplyDelete