Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas




Oleh Marsigit

Cantraka Sakti:

Waha sini saudaraku, Cantraka Awam, bagaimana khabarnya? Engkau dari mana kok bisa sampai kesini untuk mengikuti Ritual Ikhlas? BerZikir ya berZikir, tetapi ngobrol itu ya penting.

Cantraka Awam:
Aku dari jauh. Aku kesini memang ingin meningkatkan keikhlasanku dalam beribadat. Oleh karena itu Ritual Ikhlas ini saya anggap peristiwa yang sangat tepat dan sangat baik bagi diriku untuk belajar ikhlas, dengan cara menerima saran perbaikan dari Santri yang sudah pengalaman. Lha kalau kamu dari mana? Kenapa engkau juga datang kesini? Apa Alasanmu?

Cantraka Sakti:
Wha..aku sebetulnya tidak sengaja mengikuti kegiatan ini. Aku sebetulnya sedang menunggu job atau pesanan karya ilmiah saya. Seraya menunggu sembari mengisi waktu saya ingin melihat apa yang terjadi dalam Ritual Ikhlas.

Cantraka Awam:
Bicaramu kelihatan sangat ilmiah apakah engkau seorang Doktor atau Profesor?

Cantraka Sakti:
Oh bukan, cuma aku memang lulusan Cambridge University baru beberapa bulan. Ngomong bahasa Indonesia atau bahasa Jawa saja masih harus belajar. Wah kegiatan ini menurutku sangat menyiksa. Terlalu banyak peraturan, thethek mbgengek. Di luar negeri aku tidak pernah menemui kegiatan semacam ini. Ah buang-buang waktu saja.

Santri Petugas:
Maaf saudaraku, ini saatnya para peserta sedang berZikir. Mohon toleransinya agar bicaranya diperlemah. Atau kalau bisa saya sarankan, daripada banyak berbicara lebih baik memperbanyak amalan-amalannya dengan cara berZikir yang sebanyak-banyaknya.

Cantraka Sakti:
Waha...asem tenan...seorang Master lulusan Cambridge University baru beberapa bulan..ditegur sama lulusan SMP. Ya...ya...ya...saya diam. Hei Cantraka awam...aku membawa segala macam minuman. Ini pilihlah. Engkau akan minum apa? Kesenanganku adalah minum kopi hangat. Wah kopi hangat kaya gini suegernya bukan main...Dhuot..drut..drut. Apalagi habis minum bisa buang angin, wah rasanya sangat lega. Lalu minum lagi..wah badan terasa seger. Apalagi kalau bisa buang angin lagi...demikian itu seterusnya. Itu kebiasaanku selama di Luar Negeri selama bertahun-tahun. Tidak puas kalau minum tidak sambil buang angin.

Santri Petugas:
Maaf Cantraka Sakti...sesuai dengan kebiasaan dan tata cara melaksanakan Ritual Ikhlas, maka minum sambil buang angin itu tidak sopan. Karena setelah anda membuang angin, itu berarti anda tidak suci lagi. Seyogyanya, setelah anda membuang angin, anda harus bergegas mengambil air wudhlu. Jika tidak berwudu maka itu berarti anda minum dalam keadaan kotor. Artinya, Syaitan itu akan masuk bersama minum kopi anda itu.

Cantraka Sakti:
Wuhaeh...baru kali ini saya mendengar peraturan seperti itu. Ketika aku di Luar Negeri, tidak ada masalah itu minum sambil buang angin, sambil tertawa, sambil menari, sambil bernyanyi, bahkan sambil mabuk sekalipun. Masalah kayak gitu kok diurusi, kayak kurang kerjaan saja, mas...mas...Nanti kalau engkau butuh kerjaan lapor saja sama saya.

Santri Kepala:
Bapak ibu semua, setelah beberapa hari kita melakukan Ritual Ikhlas ini, maka sampailah kita pada penghujung acara yaitu acara penutupan. Pada acara penutupan nanti akan ada ceramah mengenai hakekat Ikhlas dan cara memperolehnya. Namun sebelumnya perkenankanlah kami ingin mengumumkan perihal penilaian transenden spiritual kami tentang siapa saja yang akan saya panggil untuk dapat melakukan atau melanjutkan Ritual Ikhlas selanjutnya. Nama-nama berikut yang yang saya panggil mohon agar dapat menuju ke mimbar tengah untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Sedangkan yang belum dipanggil, mohon agar tetap berada ditempat sampai acara selesai. Nama-nama yang dipanggil adalah: Mahammad Nurikhlas, Siti Nurikhlas, Cantraka Ikhlas, dan Cantraka Awam.

Cantraka Sakti:
Lho...lho...aku kok tidak dipangil? Lho..kanapa? Wah malu saya ...seorang Master Lulusan Cambridge University hanya kayak gini saja kok tidak lulus. Mohon..tolong...wah...panitia? Aku protes..kenapa aku tidak dipanggil? Lho ..jadi aku masih belum dianggap Ikhlas? Bagi seorang Master Lulusan Luar Negeri, rasio itu nomor satu. Aku hanya akan ikhlas kalau sesuai dengan pikiranku. Lha buang angin itu kan sehat, masa' nggak boleh. Itu tidak logis. Bagaimana aku akan ikhlas. Aneh pula alasannya. Apa buktinya Syaitan masuk melalui minuman kopiku. Aku tak merasakan apa-apa itu?

Santri Kepala:
Maaf hanya belum dipanggil saja. Mungkin untuk Ritual Ikhlas selanjutnya nanti Bapak akan dipanggil. Untuk sementara tunggulah di sini dengan sabar dan tawakal.

102 comments:

  1. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016

    ritual ikhlas diperbolehkan diikuti oleh siapa saja dari berbagai kalangan. namun karena syaratnya adalah niat dan keikhlasan hati dalam mengikutinya, panitia penyelenggara tidak dapat mengeceknya sebab hal-hal tersebut tidak konkrit. ada peserta yang hanya bertujuan untuk mengisi waktu luang sambil menunggu. dia bilang ikhlas melakukannya, tapi dengan syarat sesuai dengan logikanya. maka dari itu, untuk sementara dia tidak diperkenankan melanjutkan ritual ikhlas.

    ReplyDelete
  2. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Yang dapat saya sadari melalui dimensi ruang dan waktuku mengenai Elegi ritual ikhlas 4 adalah keikhlasan diawali dari niat. Niat yang benar dan ikhlas untuk memperoleh keikhlasan adalah dasar dalam memperoleh keikhlasan. Jika keikhlasan belum kita raih, maka perbaikilah niat, nikmati prosesnya dengan ikhlas, jalani prosedurnya dengan ikhlas, dan terimalah apapun hasilnya dengan ikhlas pula. Jika belum memperoleh keikhlasan, maka bersabarlah dan bertawakkallah. Sesungguhnya Allah SWT bersama dengan orang-orang yang sabar. Semoga kita semua termasuk dalam golongan hamba-hamba-Nya yang sabar dan ikhlas. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seseorang itu tidak diliat dari tingginya pendidikan atau kekayaannya, tetapi diliat dari bagaimana dia berperilaku. Seperti pada kisah cantraka sakti seorang Master lulusan Cambridge University yang melakukan perbuatan tidak sopan yaitu meminum kopi lalu buang angin sehingga dirinya tidak menjadi peserta yang belum dipanggil, belum menjadi peserta yang ikhlas. Kita tidak bisa membanggakan apa yang dimliki karena pasti aka nada yang lebih baik dari kita. Kita harus memiliki sifat rendah hati walaupun sepintar apapun dan sekaya apapun kita agar bisa menjadi orang yang ikhlas. Karena melakukan itu semua semata-mata berniat untuk manjadi orang yang mendapat ridho-NYA.

    ReplyDelete
  4. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    ternyata cantraka sakti pada bagian ini sudah dipanggil dan dikeluarkan karena ridak mematuhi peraturan dari panitia, karena belum bisa ikhlas sepenuhnya dan masih merasa tinggi hati. walaupun ia lulusan cambridge tetapi tidak mempengaruhi terhadap tingkatan keihlasannya karena itu bukanlah tolak ukur dari keikhlasan

    ReplyDelete
  5. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 4. elegi ini menyampaikan bahwa dalam rangka menggapai ikhlas, kita tidak boleh bersikap seperti cantraka sakti. Sikap sombongnya membuat ia menyepelekan ritual ikhlas yang ada. Kesombongannya membuat ia gagal dalam ritual ikhlas saat itu. Sebagai manusia kita hanya memiliki ilmu yang sangat sedikit, tidak sepantasnya kita mengagungkan. diri kita dan meremehkan orang lain dengan pendidikan yang lebih rendah, karena dalam ritual ikhlas, tak memandang status/gelar. semua hanya tergantung niat dan kesungguhan. Mari introspeksi diri, semoga kita tidak tergolong dalam orang yang gagal meraih ikhlas di dalam hidup dan terhindar dari sikap sombong, yang tak pantas dimiliki manusia

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ikhlas itu dari hati, sikap spiritual setiap orang, bukan diukur dari akal pikiran. Yang dianggap logis tapi tidak dilakukan dengan memenuhi setiap aturan yang berlaku sama saja dengan tidak ikhlas. Setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki hanya akan sia-sia apabila tanpa disertai dengan sikap hati yang baik. Karena tanpa kerendahan hati, keikhlasan hati, menyadari keberadaan kita di mata TUHAN, kita hanya akan menghancurkan diri kita dengan kesombongan kita.

    ReplyDelete
  7. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Ikhlas tak butuh lulusan universitas ternama, semua orang bisa belajar ikhlas asalkan hati kita ikhlas dalam mencari ridha-Nya. Sesuatu yang sulit dalam ikhlas ialah meluruskan niat kita, karena ia sering berubah-ubah. Hal ini dikarenakan hati manusia yang sering berubah-ubah. Terkadang ikhlas, dilain waktu tidak. Oleh karena itu, mantapkan hati kita untuk senantiasa mengharap ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Beda negara beda adat dan beda budayanya. Jika kelak kita merantau sejauh negri manapun sebaiknya tidak melupakan adat negri sendiri. Beribadahlah untuk mencari ridhoNya dengan ikhlas hati dan pikrian, keikhlasan dalam beribadah tidak dinilai dari pangkat seseorang. Keikhlasn dinilai dari niat yang tulus. Berdzikirlah sebanyak-banyaknya dan seikhlas-ikhlasnya agar kelak mendapat ridho Allah yang tak terhingga.

    ReplyDelete
  9. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sombong, atau merasa diri besar adalah masalah yang sangat serius. Kita harus berhati-hati dengan persoalan ini. Sebab kesombongan inilah yang menyebabkan setan terusir dari surga dan kemudian dikutuk oleh Allah selamanya. Marilah kita berhati-hati dari bahaya kesombongan ini. Jika penyakit ini datang pada kita, kita akan sengsara. Langkah kehati-hatian ini bisa dimulai dengan mengenali ciri-ciri kesombongan. Kesombongan terbagi kepada batin dan lahir (zhahir). Kesombongan batin adalah perangai dalam jiwa, sedangkan kesombongan lahir (zhahir) adalah amal amal perbuatan yang lahir dari anggota badan. Istilah kesombongan lebih tepat dengan sebutan perangai batin. Karena amal perbuatan merupakan hasil dari perangai tersebut. Perangai sombong menuntut perbuatan.

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Secara umum, segala nikmat yang bisa diyakini sebagai kesempurnaan menimbulkan kesombongan. Demikian pula orang yang fasik, terkadang ia membanggakan dirinya dengan dengan hal hal buruk, seperti minum khamer dan berbuat mesum dengan para wanita. Menyombongkan diri dengan perbuatan perbuatan keji ini karena ia mengira bahwa hal tersebut merupakan kesempurnaan, sekalipun salah. Itulah hal hal yang secara umum di pakai para hamba untuk menyombongkan diri atas orang orang yang tidak memilikinya atau atas orang orang yang memiliki tapi menurut anggapannya masih di bawah tingkatannya.

    ReplyDelete
  11. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Di dalam kegiatan pembelajaran, baik di kelas atau dimanapun itu, hendaknya kita menjadi gelas yang kosong. Maksudnya ialah, kita tidak menjadi sombong dan merasa benar atas ilmu yang telah kita peroleh, serta tidak mau menerima ilmu yang akan didapatkan. Dengan menjadi gelas kosong, maka niscaya ilmu baru tersebut mampu lebih meresap di dalam benak dan hati. Kesombongan akan mengakibatkan ilmu yang seharusnya dapat kita peroleh, menjadi sia-sia dan tak didapatkan esensinya.

    ReplyDelete
  12. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Ilmu adalah mutiara kehidupan. Orang berilmu diibaratkan sebagai padi. semakin ia berisi maka akan semakin merunduk. begitu juga dengan manusia. sebagai manusia yang dianugerahi akal dan pikiran hendaknya mampu meniru sifat padi. meskipun berilmu tinggi tetapi tetap rendah hati dan tidak sombong. namun, tak jarang manusia terlena dan melupakan hal-hal yang dapat merusak amalnya. riya', adalah salah satu dari sekian penyakit yang menggerogoti amal. dalam beramal, kita juga harus senantiasa dilandasi rasa ikhlas. Ikhlas tidaklah membutuhkan persiapan yang lama dan sekolah yang tinggi, iklas hanya membutuhkan spritual yang matang. Artinya bahwa keikhlasan tidak bisa diukur dengan tingkat ilmu yang dimiliki tetapi bisa lihat dari tingkat keyakinan, kesadaran dan keparcayaan akan fananya dunia ini. Ketika menyadari bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini, maka kita kan menuju keikhlasan itu, meskipun ikhlas itu sulit.

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Cerita di atas mengingatkan kita untuk menanamkan rasa ikhlas. Cerita ini sungguh menarik, di mana ada seseorang yang mengaku dirinya itu telah ikhlas, padahal ia tidak menyadari bahwa dirinya itu masuk ke dalam ruang lingkup kesombongan. Secara lisan Cantraka Sakti memang ‘iya’ dia ikhlas, tapi rasa ikhlasnya itu hanya sebatas ucapan belaka. Cantra Sakti ini terlalu terlena dengan tingkat pendidikan dan gelar yang ia peroleh. Ia tenggelam dalam kesombongannya, hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seseorang bernama Cantraka Awam.

    ReplyDelete
  14. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada percakapan keduanya, Cantraka Sakti terus mengaku bahwa dirinya telah ikhlas dan akan mengikuti ritual ikhlas tersebut. Ia telah yakin bahwa dirinya yang bergelar Master lulusan Cambridge University ini pasti diterima untuk mengikuti ritual tersebut. Tetapi sungguh malang, keyakinannya tidak membuahkan hasil. Karena kesombongannya tersebut, ia tidak dapat melakukan atau melanjutkan ritual ikhlas selanjutnya. Dalam surah Al-Mulk ayat 2 Allah berfirman,”.... agar Ia menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalnya.” Allah menekankan pada pertanyaan ‘amal yang terbaik’, bukan ‘amal yang terbanyak’. Jadi, dari cerita di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa jika setiap muslim mendasari segala perbuatan dengan aspek keikhlasan, insya Allah bangsa ini akan maju. Nilai-nilai Islam mendasari setiap gerak langkahnya.

    ReplyDelete
  15. Taufan Adi Pradana
    13301241059
    Pendidikan Matematika A 2013

    dalam menghadap Alloh SWT maka tidak bisa kita menggunakan pangkat, gelar, materi ataupun yang lainnya, yang bisa kita bawa adalah kerendah dirian dan hati yang ikhlas dan selalu bermunajat kepada Illahi Robbi. bila masih membawa gelar atau yang lain maka kita tidak akan sampai menghadap Illahi Robbi

    ReplyDelete
  16. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah membaca “Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas”, saya belajar bahwa ikhlas bukanlah hal yang mudah. Ketika menghadapi dan menerima kenyataan yang tidak diharapkan, terkadang kita tidak ikhlas dan masih saja mengeluh. Oleh karena itu, kita harus memperbanyak doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Semoga Allah selalu mengingatkan kita supaya kita selalu berjalan di jalan yang benar.

    ReplyDelete
  17. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pelajaran lain yang dapat saya ambil dari “Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas” adalah kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu yang telah diberikan kepada kita. Kita harus menggunakan waktu yang kita punya dengan sebaik mungkin untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  18. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sedikit pun ada niat kesombongan dalam diri seseorang, itu telah mengindikasikan bahwa orang terseut belumlah ikhlas dalam melakukan ibadahnya. Tak peduli seberapa tinggi jabatan atau pendidikannya, bahkan luulusan universitas ternama dengan pengetahuan yang luas sekalipun. Akan tetapi dia belum bisa menerapkan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah dan dia belum lolos untuk dapat megikuti ritual ikhlas. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui Segala Isi hati manusia, karena itu teruslah memperbaiki dan meluruskan niat agar segala hal yang kita lakukan dapat bernilai ibadah, ikhlas karena Allah.

    ReplyDelete
  19. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mendapatkan rahmat dan ridho dari Allah SWT, kita harus melakukan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas. Allah tidak akan memandang siapa diri kita, berasal dari mana kita, dari golongan apa, dan lain sebagainya. Karena Allah tidak melihat fisik kita, melainkan melihat hati kita.

    ReplyDelete
  20. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang master lulusan luar negeri, merasa dirinya paling pinter, menerapkan kebiasaan yang dia lakukan di luar negeri dengan bertingkah semaunya sendiri. Rasio yang di nomor satukan sehingga keikhlasannya hanya kalau sesuai dengan pikirannya. Karena sikapnya maka tidak lulus untuk mengikuti rtual ikhlas berikutnya. Semoga kita tidak termasuk orang yang seperti itu dan dapat mencapai keikhlasan yang sesungguhnya. Aamiin.

    ReplyDelete
  21. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kunci dari suatu kegiatan atau ibadah menjadi lebih meresap ada diri pelakunya adalah ikhlas. Tidak ada kesombongan di dalam diri pelakunya. Dengan begitu, berbagai jenis ilmu akan lebih mudah masuk ke dalam benaknya.

    Cantraka Sakti diceritakan pada postingan ini selalu membandingkan kegiatan yang ada di ritual ini dengan apa yang dia lakukan di luar negeri. Ia juga menunjukkan kesombongannya dengan tidak mau ditegur oleh orang yang lebih muda darinya. Ini menunjukkan bahwa kepandaiannya telah membuatnya sombong, dan tidak mau menerima kritikan dari orang lain.

    ReplyDelete
  22. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia memang tidak lepas dari sifat kesombongan. Kesombongan akan derajat tinggi di dunia tidaklah akan berarti di sisi Allah. Dalam elegi di atas digambarkan seseorang yang membanggakan dan menyombongkan diri sebab derajat pendidikannya tinggi dan ditempuh di luar negeri. Tetapi sesungguhnya itu tak berarti apa-apa di sisi Allah, sebab itu hanyalah kebutuhan duniawi saja. Hal tersebut akan berati jika menuntut ilmu diniatkan ibadah kepada Allah guna mencari ilmu yang bermanfaat dan dapat diajarkan kepada yang lainnya, bukan untuk dipamerkan dan disombongkan.

    ReplyDelete
  23. Banyak hal di dunia ini yang kadang tidak kita mengerti dan ketahui. Seorang guru matematika tentu akan mudah untuk mengajar materi matematika tetapi belum tentu mengerti dan memperbaiki sepeda motor yang rusak begitupun sebaliknya montir belum tentu bisa mengajar. Apa yang dialami oleh cantraka sakti karena dia tidak menyadari bahwa duni yang selama ini dia kuasai atau geluti tentang pengetahuan ilmiah berbeda dengan apa yang dia ikuti sekarang ini yaitu dunia spiritual melalui ritual ikhlas. Dalam metode ilmiah orang boleh berdebat dan menunjukkan penguasaannya terhadap akal atau rasio yang dimilikinya. Tetapi dalam spiritual yang dipentingkan adalah kerelaannya, kesabarannya, kelapangdadaannya, keistiqomahannya mengikuti dan melaksanakan kegiatan ritual ikhlas. Itulah perbedaan kebijaksanaan dalam dunia timur dengan kebijaksanaan dalam dunia barat.

    ReplyDelete
  24. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pendidikan Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,


    Kesombongan adalah hal buruk yang dapat merusak ibadah kita. Setinggi apapun ilmu, pendiikan, jabatan atau harta seseorang akan sia-sia jika orang tersebut bersikap sombong. Ritual Ikhlas adalah kegiatan membetulkan dan meluruskan ibadah. Tentu saja harus dijalankan dengan rasa ikhlas bukan sombong.

    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  25. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Menjadi seseorang membanggakan dari segi pendidikan yang telah ditempuh bukan berarti menjadikan diri menjadi sosok pribadi yang tinggi hati dan sombong sehingga bisa dengan semena-mena berlaku kurang ajar terhadap seseorang yang dianggap bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dirinya. Sungguh tiada artinya kepandaian, status sosial, dan kekayaan yang dimiliki seseorang bila ia tidak memiliki akhlak yang mulia sebagai makhluk Allah SWT juga sebagai sesama makhluk ciptaan Allah SWT. Terutama dalam hal berperilaku maupun dalam berbicara.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Membaca postingan tersebut, saya belajar tentang ikhlas. Ikhlas untuk menerima saran yang diberikan orang lain tanpa memandang jabatan dan status. Karena prinsip keadilan dalam ikhlas tidak memandang perbedaan duniawi.
    Selain itu, dalam menggapai keikhlasan diperlukan pula kesabaran.

    ReplyDelete
  27. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut saya, cantraka sakti merupakan gambaran dari seseorang yang berilmu tinggi yang menyombongkan diri selain itu ia ingin dipandang hebat oleh orang di sekelilingnya, tindakan yang dilakukannya itu justru membuatnya semakin tidak bermartabat. Karena ilmu bukanlah hal yang pantas untuk disombongkan, masih ada langit di atas langit, maka diluar sana masih ada orang yang lebih hebat lagi. Menyombongkan diri seperti yang dilakukan oleh cantraka sakti merupakan contoh dari perilaku yang menunjukan bahwa orang tersebut belum ikhlas ketika ia mencari ilmu maupun ketika mendapatkan ilmunya. Yang ia inginkan hanyalah sebatas pujian dari sesamanya atas apa yang ia raih, namun hal inilah yang justru akan membuatnya semakin dipandang rendah dan Allah SWT pun tidak menyukainya. Sebaiknya seperti peribahasa “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk” semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya, kalau sudah pandai jangan sombong, harus selalu rendah hati

    ReplyDelete
  28. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Ikhlas itu adanya dalam hati, bukan hanya dalam ucapan saja. Ikhlas itu yang mengetahui hanya seseorang itu sendiri dan Allah. Seseorang yang memiliki ilmu, kedudukan, bahkan pangkat tinggi jika tidak memiliki sikap ikhlas maka bahaya bagi dirinya. Karena akan menjerumuskan kepada sikap riya' dan sombong.
    Banyak orang yang berkata ikhlas itu penting, namun nyatanya mereka tidak bisa melakukannya. Tidak pandang kekuasaan, kekayaan, pangkat. Semua orang perlu untuk ikhlas hati dan pikiran dalam berbuat kebaikan, khusunya beribadah. Karena dapat menghantarkan kita menuju ridlo Allah semata.
    Selain itu, jika hati dan pikiran kita ikhlas maka semua ibadah yang kita lakukan hanya untuk, keada, dan karena Allah. Hati dan pikiran kita akan terasa damai dan tentram tanpa dihantui oleh rasa pamer atau sombong kepada selain Allah. Oelh karena itu, hendaknya kita semua introspeksi diri masing-masing apakah hati dan pikiran kita sudah ikhlas?

    ReplyDelete
  29. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi 4 di atas, Cantraka Sakti yang diibaratkan sebagai golongan orang-orang yang masih memandang segala hal dengan materi duniawi. Ilmu tinggi yang ia dapatkan menjadikan ia sombong. Karena keikhlasan mencakup arti yang luas, misalkan ketika ditegur untuk saling toleransi kepada sesama kita harus ikhlas, ketika kita ditegur agar melakukan ibadah dalam keadaan bersuci maka kita harus ikhlas. Namun apabila sudah ada perasaan menolak untuk itu, bahkan disertai amarah, maka hal demikian menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang yang belum ikhlas.

    ReplyDelete
  30. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasar elegi ini saya mengambil sebuah nilai tentang keikhlasan harus disertai dengan kerendahan diri. Bagaimana kita meninggalkan segala macam kedudukan dan gelar, untuk mengejar ridho Allah SWT. Seperti dicontohkan dalam elegi tersebut, betapa kesombongan dapat mematikan seseorang, menjadikan seseorang tersebut gagal dalam mendalami apa itu ikhlas. Jadilah manusia yang semakin berilmu semakin sadar akan ketidak tahuannya, betapa banyak hal yang tidak dia ketahui sebelumnya, betapa ia mensyukuri pengetahuan yang ia dapat sekarang, betapa ia merasa masih belum cukup atas ilmunya dan sadar pasti banyak hal lain yang belum ia ketahui sekarang.

    ReplyDelete
  31. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Ikhlas adalah sesuatu yang sulit dilakukan bagi sebagian manusia yang belum memahami benar apa itu ikhlas. Niat dari hati yang tulus adalah kuci munculnya keikhlasan dalam diri. “Cantraka Sakti”, adalah salah satu contoh seseorang yang yang memiliki ilmu yang tinggi dibandingkan yang lain. Seseorang yang merasa bahwa menomor satukan ilmu yang berdasar pada rasio, yaitu sesuatu yang dapat diterima dengan akal. Perbuatan yang dilakukan “Cantraka Sakti” tersebut mengindikasikan bahwa sifat sombong telah menyerang hatinya.. Senantiasa membanggakan dirinya lebih dari yang lain. Berbicara dengan orang lain tanpa menghargai ataupun menghormati. Merasa mempunyai ilmu yang lebih tinggi sehingga dapat melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Apabila hati sampai sakit atau terkotori maka perlulah diobati.

    ReplyDelete
  32. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Perilaku Cantraka yang mengagung-agungkan latar belakang pendidikannya dan melakukan sesuatu semau hatinya tanpa memperhatikan syariat-syariat dalam melakukan ritual ikhlas ini. Yang akhirnya menyebabkan cantraka sakti belum lulus pada sesi ini. Menyiratkan makna yang sangat dalam terkait salah satu penyakit hati yang disebut sombong. Kita kembali diingatkan betapa berbahayanya salah satu penyakit hati ini yang secara sadar ataupun tidak akan melahap segala amal perbuatan kita, sehingga akhirnya akan habis tak bersisa.

    ReplyDelete
  33. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang disampaikan dari elegi yang mengandung banyak makna ini. Salah satu hikmah yang dapat saya terima yaitu janganlah mejadi orang yang sombong ketika ingin mendapatkan ilmu, tidak hanya ketika menuntut ilmu, ketika beribadah, ketika berbicara kepada orang janganlah kita sombong. Karena sombong adalah sifat syetan yang mengakibatkan ia dikeluarkan dari surga. Ya dalam elegi kita melihat bahwa masih saja orang yang sombong akan jabatannya, kedudukannya, sekolahnya, pangkatnya. Padahal yang utama, yang dilihat oleh Allah itu adalah keikhlasan seseorang melakukan sesuatu ibadah. Semoga dengan ini kita senantiasa disadarkan agar tidak sombong dan senantiasa ikhlas dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  34. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini yang kami pahami adalah dalam beribadah hendaknya kita melepaskan predikat keduniawian. Cantraka Sakti menggambarkan orang yang sangat bangga dengan prestasinya sebagai seorang lulusan universitas ternama di luar negeri, sehingga dia tidak menghiarukan arahan dari petugas yang dia pandang pendidikannya lebih rendah dari dirinya. Dia juga membawa kebiasaannya selama di luar negeri tanpa memperhatikan aturan, dan adab dalam beribadah. Sehingga Cantraka Sakti tidak mencapai keikhlasan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  35. Junianto
    PM C
    17709251065

    Begitu sulitnya bersikap ikhlas, bahkan dalam belajar ritual ikhlas pun harus ikhlas. Apalagi menerapkan ikhlas dalam kehidupan. Kalau belajar ritual ikhlas saja belum bisa ikhlas, tentu untuk menerapakan dalam kehidupan juga akan mengalami kesulitan. Maka dari itu, ikhlas itu dalam segala hal bukan di satu aspek saja. Dalam belajar pun harus ikhlas baik ikhlas hati, ikhlas pikiran dan ikhlas perasaan. Apalagi manusia hanyalah seorang hamba yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya kekuatan dari Tuhan. Jadi, sudah sepantasnya kalau manusia selalu melaksanakan kebaikan hanyak untuk mengharap ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  36. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Meskipun kita memiliki pangkat di dunia, derajat yang tinggi di dunia, tetapi ketika kita tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan bertaqwa yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka kita bagaikan angka 0 yang akan ditata terus menerus, 000000000000000000000, maka hasilnya akan 0. Tetapi ketika kita menghadirkan Allah di setiap langkah perbuatan kebaikan kita artinya kita menambahkan angka 1 sehingga aktivitas kita bisa lebih bermakna.

    ReplyDelete
  37. Hal lain seperti, ketika kita suka melakukan suatu kebaikan dan membicarakannya kepada orang lain. misalnya "aku ikhlas kok menolong dia. ya semoga saja nanti dia .......",, ikhlas ini terkadang menjadi salah arti, karena ikhlas dekat dengan pamrih. Ikhlas itu meniatkan apa yang kita lakukan hanya karena Allah semata, bukan ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, atau terpaksa ikhlas.

    ReplyDelete
  38. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Kesombongan adalah hal yang sangat tercela. Sudah banyak kejadian yang mengingatkan kita tentang buruknya perangai sombong itu. Iblis pun didepak dari surga Allah karena kesombongannya dan menganggap derajatnya lebih tinggi darpada Adam as sehingga ia tidak sudi menuruti perintah Allah SWT untuk sujud padanya. Contoh di sekitaar kita pun tidak sedikit. Betapa banyak orang yang membangga-banggakan kekayaannya kemudian jatuh miskin seketika. Mereka tidak sadar bahwa kekayaan yang ia miliki hanya titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut kenikmatan itu darinya.

    ReplyDelete
  39. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang telah dibagikan. Menyenangkan sekali membaca elegi ini. Senang, karena dengan ini saya belajar. Berawal dengan pemutaran ulang peristiwa-peristiwa di masa lalu saya, di mana ikhlas memang betul-betul sulit untuk direalisasikan, meski sudah berupaya seikhlas-ikhlasnya.
    Pada elegi ini, saya melihat ada kesombongan. Ya, ternyata kesombongan dan keangkuhan yang menghalangi kita menggapai iklhas. Dalilnya tidak sesuai rasio. Menurut saya, tidak semua hal harus dirasiokan. Maksudnya, bukan kah kita harus berfikir yang ada dan yang mungkin ada? Tapi sejujurnya, saya pernah berada di fase itu, atau jangan-jangan saat ini masih seperti itu? Sombong, mengerikan sekali, bukan? Datangnya tiba-tiba, bertindak semenan-mena, merusak segalanya? Astaghfirulloh

    ReplyDelete
  40. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Ikhlas itu menerima, berserah diri, dan diawali dengan niat yang baik, niat memang ingin ikhla. Ikhlas itu di dalam hati bukan di mulut. Maka sebenar-benar ikhlas adalah lihat di hati kita masing-masing. Jadi, jika kita belum ikhlas dalam suatu hal, tengoklah pada hatimu. Jika kita belum ikhlas, tengok kembali niatmu. Dan jika masih belum ikhlas, maka bersabarlah, karena ikhlas itu mengiringi orang-orang yang sabar. Kemudian gunakan kesabaranmu untuk merefleksikan diri kenapa masih juga hati kita belum ikhlas, maka perkuat iman dan taqwamu, niscaya Allah akan memberi jalan menuju keikhlasan.

    ReplyDelete
  41. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini menarik sekali. Secara tidak langsung elegi ini mengingatkan bahwa ikhlas ikhlas tidak diukur dari kecerdasan atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi ikhlas itu berasal dari hati. Dalam elegy ini dikisahkan seorang cantraka sakti yang belajar ikhlas hanya karena mengisi waktu luang, tanpa niat lillahita’ala. Selama belajar ikhlas, ia tak mau mengikuti seperti apa yang dituntunkan, ia selalu membangga-banggakan ilmunya dan menganggap bahwa dengan ilmu yang dimilikinya itu ia bisa mendapatkan segalanya, ia mengedepankan gengsinya dan merasionalkan segalanya, ini semua menandakan bahwa ia masih belum ikhlas.

    ReplyDelete
  42. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi ini memperlihatkan bahwa kecerdasan, pangkat yang tinggi dan harta yang banyak tidak menjamin seseorang memiliki hati yang ikhlas. Cantraka Sakti merupakan contohnya. Kecerdasan dan jabatannya tidak membuat ia bisa mengikuti aturan yang ada. Ia meremehkan aturan yang dibuat oleh orang-orang yang melaksanakan ritual ikhlas. Selain itu niatnya tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti ritual ikhlas ini karena menurutnya ia datang karena tidak sengaja saja dan ada niat lain yakni mencari job atau pesanan karya ilmiah. Hati yang tidak ikhlas akan memandang semuanya terasa sulit dan ribet untuk dikerjakan, seperti Cantraka Sakti yang memandang rangkaian ritual ikhlas ini terlalu banyak aturan dan tetek bengek. Dengan demikian, ikhlas tidak memandang harta dan jabatan, semuanya bisa memiliki hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  43. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualakum wr wb.
    Setelah saya membaca elegi ini, masih ada terselip sifat kesombangan sebagaimana yang diperankan oleh cantraka sakti.Dia mengganggap dirinya lebih hebat dan tinggi hingga tidak menerima nasehat dari Santri Petugas ang lebih kecil darinya.Faktor kesombongan inilah yang menjadi penghalang seorang hamba untuk menggapai ridho Allah SWT di dalam melaksanakan ritual ikhlas.Di sisi lain maaf jika saya salah memahami,Saya juga menangkapa bhwa tidak selamanya rasio harus dikedepankan.Mungkin adakalanya rasio memiliki masa.Tapi ketika rasio dihadapkan pada aturan Tuhan.Semestinya rasio bisa ditundukkan.

    ReplyDelete
  44. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Itulah sebenar-benar orang yang belum mendapatkan hiyah Allah. Itulah sebenar-sebenar hati yang gelap. Selalu membangga-banggakan urusan duniawi yang dimata Allah itu tidak ada apa-apanya. Urusan dengan Allah dan spiritual tidak ada kaitannya sama sekali dengan seluk beluk pendidikan, jabatan, harta. Membuang angin memang sehat, tetapi haus sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika tidak sesuai dengan ruang dan waktunya tidak bisa ditolerir itu sebagai alasan kesehatan. Dasar Cantraka Sakti Cantraka Sakti, semoga Allah cepat memberikan hidayah padamu.

    ReplyDelete
  45. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Judul elegi ini membuat saya tertarik untuk membacanya. Ini merupakan kelanjutan dari bacaan saya sebelumnya. Saya sendiri juga masih dalam keadaan belum ikhlas. Saran dipenghujung ulasan ini begitu membuka jalan keluar bagi saya untuk mengobati hati yang kotor saat ini. Semoga Allah dapat terus membimbing saya kepada sikap sabar dan tawakal. Aamiin.

    ReplyDelete
  46. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi ritual ikhlas 4 ini, saya memahami bahwa ikhlas itu bukan hanya dari yang terucap saja melainkan ikhlas itu bersumber dari dalam hati. Jika seseorang telah mengklaim bahwa dirinya ikhlas, maka itu belum tentu bisa disebut ikhlas. Karena mungkin saja ia hanya memberi pencitraan terhadap orang lain bahwa dirinya ikhlas. Banyak hal sebenarnya yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam ketidakikhlasan, salah satunya adalah sifat sombong.
    Seperti yang dikisahkan di dalam elegi ini bahwa Cantraka sakti, seorang lulusan luar negeri yang memandang segala hal itu bersifat duniawi. Ilmu yang telah ia dapatkan menjadikannya sombong, sehingga membuat ia lalai terhadap ibadahnya. Untuk itu, pasanglah niat ikhlas ketika memulai segala sesuatu agar mendapat ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  47. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Setiap manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada orang yang ahli dalam berpikir, namun hati tidak sampai pada spiritualitas. Menjadi manusia hendaknya kita masih memiliki waktu untuk terus memperbaiki diri. Setiap kekurangan yang ada pada diri manusia hanya bisa untuk diminimalisir dengan menyeimbangkan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  48. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  49. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Sombong akan ilmu yang sudah digapai bagaikan penghapus ilmu itu sendiri. Allah sangat benci akan org org yang sombong. Kesombongan hanya akan merusak apa apa yang sudah kita lakukan. Baik itu amal perbuatan dan amal ibadah. Apa yang harus disombong jika nanti meninggal hanya amal yg kita bawa bukan ijazah atau harta yang kita cari selama didunia. Maka dari itu Allah menyuruh hambanya untuk bersikap adil. Seimbang antara akhirat dan dunia. Dan apapun yg kita lakukan didunia semata mata hanya untuk mengharap keridoan Allah SWT. Baik itu dalam mencari ilmu maupun perbuatan lainnya. Dan Puncak dari segala ilmu ialah kesopanan. Ketika kita berilmu tapi tak tau adab dan aturan maka itulah seburuk buruknya si sombong. Karna dia tidak bisa mengakyualisasikan ilmu nya kedalam kehidupan sehari-harinya.
    Semoga kita semua dijauhkan oleh hal hal yg berbau kesombongan tsb.

    ReplyDelete
  50. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih prof atas tulisan yang dibuat. Dari tulisan ini saya mengambil sebuah pelajaran bahwa dalam melaksanakan sebuah ibadah, seperti misalnya ritual ikhlas ini, kita harus menjauhkan diri kita dari sifat sombong, karena bila dalam diri kita masih menyisakan sifat sombong, maka kita tidak akan pernah mampu beribadah dengan baik. Kita tidak akan pernah bisa mencapai keikhlasan.

    ReplyDelete
  51. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Untuk menggapai keikhlasan tentunya dibutuhkan niat yang tulus. Keikhlasan itu memang sulit, maka dari itu kita harus belajar, dan ketika belajar kita harus menetapkan niat kita. Selain itu untuk belajar ikhlas kita harus dapat menyingkirkan penyakit hati yang ada didalam hati kita. Cantraka sakti dinyatakan belum lulus elegi ritual ikhlas disebabkan karena penyakit hati yang ada yaitu sombong dan riya. Penyebab penyakit hati adalah tiada beriman kepada Tuhan dan banyak berbuat kesesatan. Orang yang hatinya sakit akan mudah digoda setan yang menjerumuskannya kepada perbuatan dosa dan kedzaliman. Sebaliknya orang yang senantiasa membersihkan hatinya akan tampil sebagai seseorang yang mukhlis, yaitu orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah dan semua aktivitas kehidupan

    ReplyDelete
  52. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Di hadapan Allah, segala makhluk memiliki derajat yang sama. Allah tahu seluk beluk hati kita semua termasuk saya. Tidak peduli pangkat, gelar, profesi, posisi sosial. Apatah semua itu di hadapan Allah? Allah melihat hati, bukan segala perolehan dunia. Allah melihat isi hati, bukan wadah penampilan kita dan segala perhiasan fana yang kita kenakan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  53. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Terus belajar dari elegi-elegi yang saya baca. Hampir disetiap elegi selalu ada unsur kesombongan untuk kita ambil sebuah pelajaran. Dimana kesombongan adalah akar dari sikap negatif yang tumbuh didalam hati. Penyakit hati lebih tepatnya bisa dikatakan, dimana penyakit tersebut sudah dikuasi oleh syaitan, sungguh hanya Allah lah yang dapat menolong orang-orang yang terkena penyakit hati tersebut. Semoga kita semua dapat terhindar dari penyakit hati dan termasuk orang-orang yang bertaubat.

    ReplyDelete
  54. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Beribadah bukan coba-coba. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Beribadah adalah bukti seseorang mendambakan kasih sayang Allah SWT, menyerahkan waktu dan hatinya untuk mendekatkan diri. Dalam elegi ini, Cantraka Sakti sudah salah menempatkan niatnya ketika mengikuti ritual ikhlas. Ia malah menambah buruk dengan menyombongkan dirinya. Hendaknya ketika menjalani ibadah, kita menyadari sejauh apapun kita belajar, kita tetaplah hamba di mata Allah sehingga kita hrs selalu rendah diri dan tidak sombong.

    ReplyDelete
  55. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kesombongan pada diri seseorang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri, kita jadi merasa bangga dan puas dengan diri sendiri, sehingga kita lupa bahwa diatas langit masih ada langit, seperti juga kisah nabi musa dengan nabi kidzir. Orang sombong biasanya menyombongkan kesuksesannya baik ilmu, harta, jabatan, dll. Namun ada juga orang yang tidak sukses-sukses amat namun sangat menyombongkan dirinya. Kesombongan yang terus dipupuk dalam diri bisa menjadi watak bagi seseorang. Hati-hati, maka dari itu kita harus memegang konsep ilmu padi, semakin sukses maka semakin rendah hati, ditambah dermawan kepada sesama.

    ReplyDelete
  56. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Kesombongan dapat menghalangi ilmu dan kebaikan. Belajar ikhlas bukanlah seperti belajar magister di perguruan tinggi. Ikhlas itu terletak di dalam hati, sedangkan akal terletak di dalam pikiran. Ujian ikhlas bukanlah seperti ujian akal. Akal yang pandai pun belum tentu memiliki hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  57. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berzikir dengan suara diperlemah akan lebih meresap ke dalam jiwa jika dibandingkan dengan suara diperbesar. Dengan memperlemah suara zikir itu pula semakin membuat kita terasa ikhlas dalam melakukannya. Belajar ilmu ikhlas meskipun sudah belajar sampai ke negara lain merupakan hal yang sulit ketika ikhlas itu sendiri belum tertanam di dalam hati. Kesombongan adalah hal yang dihilangkan jika ingin menggapai keikhlasan yang sebenarnya. Semakin berilmu seharusnya manusia semakin rendah hati dan bersikap baik terhadap sesama.

    ReplyDelete
  58. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam melaksanakan ibadah, didepan Tuhan semua makhluk itu sama, apapun latar belakang dan kedudukannya. Maka dalam beribadah tidaklah ditentukan oleh semua atribut duniawi tersebut. Begitu juga dalam mencapai keikhlasan, tidak juga berdasarkan kedudukan dan latar belakang. Karena keikhlasan datang murni dari hati bukan karena ingin dipandang oleh manusia lainnya. Terkadang manusia ingin dipandang baik, dan hebat hanya karna latar belakang dan kedudukan, namun semua itu hanyalah lebih memperburuk kedudukan manusia itu dihadapan manusia dan tuhan. Karena segala kesomobongan menjerumuskan kepada kesenjangan kehidupan didunia ini. Meskipun seseorang memiliki kedudukan yang hebat disuatu tempat, belum tentu kedudukannya itu berlaku ditempat lainnya, maka seperti kata pepatah “letakkanlah sesuatu sesuai dengan tempatnya”.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  59. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Ketika kita beribadah, haruslah kita meninggalkan segala urusan duniawi. Di mata Tuhan tidak memandang gelar maupun jabatan. Tuhan hanya melihat orang yang benar-benar ikhlas dalam beribadah. Ikhlas yang di maksud dengan ikhlas hati dan ikhlas pikir. Jangan pernah kamu membangga-banggakan apa yang kmu peroleh atau dapatkan, karena itu hanya akan menjauhkan kita pada Tuhan pencipta langit dan bumi.

    ReplyDelete
  60. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Ikhlas adalah sesuatu yang sulit dilakukan bagi sebagian manusia yang belum memahami benar apa itu ikhlas. Niat dari hati yang tulus adalah kuci munculnya keikhlasan dalam diri. “Cantraka Sakti”, adalah salah satu contoh seseorang yang yang memiliki ilmu yang tinggi dibandingkan yang lain. Seseorang yang merasa bahwa menomor satukan ilmu yang berdasar pada rasio, yaitu sesuatu yang dapat diterima dengan akal. Perbuatan yang dilakukan “Cantraka Sakti” tersebut mengindikasikan bahwa sifat sombong telah menyerang hatinya.. Senantiasa membanggakan dirinya lebih dari yang lain. Berbicara dengan orang lain tanpa menghargai ataupun menghormati. Merasa mempunyai ilmu yang lebih tinggi sehingga dapat melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Apabila hati sampai sakit atau terkotori maka perlulah diobati.

    ReplyDelete
  61. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ikhlas bukanlah hal yang mudah untuk dikerjakan, oleh karena itu sangat banyak kegiatan yang dialakukan terkadang bukan karena keikhlasan namun hanya karena keterpaksaan semata. Namun dalam beribadah kepada Allah, tidaklah bisa demikian. Karena hakekat manusia adalah hamba yang haruslah melaksanakan kewajibannya. Maka sepatutnyalah kita melaksanakan ibadah kepada Allah bukan karena keterpaksaan tetapi karena kebutuhan dan kerinduan kita bertemu dengan Allah SWT.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  62. Muhammad Kamaluddin
    17709251027
    PMB PPs UNY 2017

    Elegi ini memberikan pemahaman kepada pembaca bahwa kesombongan dapat merusak segalanya. Setinggi apapun ilmu, kedudukan, jabatan seseorang tidak akan ada artinya dihadapan Tuhan, jika hati dan pikiran masih diliputi perasaan sombong atas apa yang dimiliki tersebut. Segala sesuatu yang kita miliki hanya akan bermanfaat dan mampu meningkatkan level kita manakala kita mampu menjaga diri tetap dalam kondisi ikhlas dan rendah hati. Untuk dapat menjaga diri agar selalu dalm kondisi ikhlas dan rendah hati, salah satu cara terbaik adalah dengan tetap menjaga diri dekat dengan Tuhan. Menyadari bahwa apa yang kita miliki adalah dari Tuhan, dan sebenar-benar pemilik dari apa yang ada pada kita adalah Tuhan.

    ReplyDelete
  63. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Seorang manusia ketika telah menguasai walaupun sangat sedikit ilmu dari lautan ilmu yang sangat luas tidak sedikit yang akan muncul sifat sombong dalam dirinya. Ia merasa lebih bisa, lebih tahu, bahkan meremehkan orang lain. Bahkan seorang tak berilmu yang memiliki pangkat atau jabatan pun dapat demikian. Yang mereka sombong kan itu adalah tak sepatutnya mereka lakukan. Ajaran agama Islam begitu Sempurna dan lengkap, bahkan sampai hal hal terkecil pun diajarkan seperti memotong kuku. Salah satu hal yang harus kita yakin ketika masuk Islam adalah percaya pada hal-hal yang bersifat ghoib, tak selalu yang sesuai sesuai akal dan pikiran kita adalah hal yang benar.

    ReplyDelete
  64. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ketulusan tidak perlu dengan kesombong, tetapi membutuhkan kesabaran. Setinggi-tingginya seseorang dapat melakukan sesuatu hal, maka masih ada yang lebih tinggi dari itu.
    Sombong adalah sifat syetan. Semakin tinggi pengetahuan individu juga harus diimbangi dengan iman yang lebih tinggi dan ketulusan dalam melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Kita harus menjadi rendah hati dan ikhlas ketika kita memiliki pengetahuan yang tinggi.
    Allah melihat seseorang, bukan dari status sosial seseorang.

    ReplyDelete
  65. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)



    Pada elegi ini, membahas mengenai salah satu contoh dari keikhlasan yaitu menghargai pendapat dan nasihat orang lain yang diberikan kepada kita. Menerima saran dari orang lain merupakan hal yang menurut saya juga mengalami kesulitan, apalagi saat kita menjadi orang yang egois dan tidak mau menerima nasihat orang lain karena kita menganggap bahwa pikiran dan pendapat kita saja yang paling benar. Namun, apabila memang pendapat orang lain lebih sesuai dan selayaknya bisa kita lakukan maka tidak ada salahnya untuk ikhlas dalam menerima nasihat tersebut dan menggunakan nasihat itu dalam kehidupan kita. Namun, apabila nasihat tersebut memang tidak lebih baik dari yang searusnya, lebih baik kita mengatakan secara perlahan agar tidak terjadi salah paham.

    ReplyDelete
  66. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Ikhlas itu bagi saya relatif. Sulit untuk menilai apakah orang itu ikhlas? Karena sejatinya ikhlas itu di dalam diri tanpa seorang yang lain tahu. Ikhlas itu jelas tidak sombong. Belajar ikhlas bukan hanya untuk kita yang masih rendah dimensinya. Karena semakin tinggi dimensi kita, maka untuk menggapai ikhlas akanlah sulit. Sombongnya itu mungkin tidak kita sadari, tapi jelas orang lain sadar akan hal itu. Ya kembali lagi baca baca dan baca untuk memahi setiap goresan elegi ritual ikhlas.

    ReplyDelete
  67. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pikiran dan hati, jangan campur adukkan antara keduanya. Ikhlas dan beribadah itu perkara hati, jadi jangan termakan oleh rasio kita sehingga membuat kita tidak ikhlas dan meninggalkan ibadah.Orang yang berpendidikan tinggi itu belum berderajat tinggi, jika dia belum mampu ikhlas dalam menjalankan kehidupan. Bahkan orang berpendidikan tinggi dapat memiliki derajat yang rendah ketika dia terbuai dengan ketinggiannya sehingga menjadikan dia sombong dan merendahkan orang lain. Terimakasih

    ReplyDelete
  68. Nur dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam upaya menggapai ikhlas yang kita butuhkan hanyalah niat untuk menggapai ridho Allah SWT. Karena itulah kita harus melepaskan segala atribut duniawi termasuk jabatan, gelar, kedudukan. Kita harus menyadari bahwa jabatan, gelar, dan kedudukan hanyalah bersifat duniawi. Kita harus sadar bahwa yang membedakan antar manusia hanyalah keikhlasannya dalam beribadah. Karena semua jabatan, gelar, dan kedudukan itu tidak bernilai di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  69. Dalam beribadah, semaksimal mungkin lakukanlah dengan ikhlas. Jangan melakukan ibadah hanya sebagai sampingan saja. Lakukanlah ibadah sebagai sesuatu yang utama. Khusyuklah hanya memikirkan ibadah. Jangan menganggap bahwa dengan kedudukan yang tinggi di dunia, maka kita dapat berlaku sombong, karena dihadapan Allah, tidak ada gunanya, yang dinilai adalah niatan dalam hati.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  70. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Dari elegi ritual ikhlas di atas, pelajaran yang dapat saya ambil adalah tiadalah guna berpangkat, bergelar, atau berpendidikan tinggi kalau tidak tahu dan tidak mengerti etika beribadah yang baik dan benar. Karena ibadah merupakan urusan spiritual kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka segala penghargaan dunia tidak menjadi berharga ketika kita menghadap kepada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita instropeksi diri kita masing-masing, apakah dengan kita sekolah setinggi-tinggi mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah atau tidak, atau malah menjerumuskan kita terhadap rasa tinggi hati yang menjadikan kita sombong padahal kita tahu apakah amalan kita sudah benar dan diterima olehNya atau tidak. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  71. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    “Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas" menyadarkan kita bahwa ikhlas itu munculnya dari hati, tidak memandang apakah ia berpangkat tinggi, gelar tinggi, harta banyak, derajat, atau apapun. Seperti kisah Cantraka Sakti diatas, dia salah seorang lulusan Cambridge University akan tetapi ia sangat sombong dan terlena dengan apa yang ia miliki. Perlu diingat bahwa selama manusia itu masih dalam kesombongan maka rasa ikhlas itu akan sulit dirasakan dalam hati. Mungkin lisannya bisa mengatakan bahwa ia ikhlas, tetapi hati itu tidak bisa dibohongi dan rasa ikhlas yang sesungguhnya itu berasal dari hati. Memang tidak mudah untuk ikhlas.

    ReplyDelete
  72. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kendala-kendala yang dialami Cantraka Sakti dalam ritual ikhlas adalah bersumber dari niat yang belum lurus. Niat yang tidak ikhlas akan membuat semua pekerjaan yang kita lakukan terasa berat. Cantraka Sakti seharusnya memahami bahwa saat ia memutuskan untuk mengikuti ritual ikhlas maka mau tidak mau dia harus bersedia mematuhi segala peraturan yang ada serta meninggalkan segala urusan dunianya sehingga dapat fokus dalam beribadah kepada-Nya.

    ReplyDelete
  73. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini, saya memandang bahwa Cantraka Sakti belum mampu melepas atribut-atributnya sehingga membuatnya sombong. Ia merasa lebih tinggi dan lebih berilmu dari yang lain, dan itulah yang membuatnya tidak lulus dalam keikhlasan. Sebagaimana disampaikan bahwa niat yang benar dan ikhlas untuk memperoleh keikhlasan adalah dasar dalam memperoleh keikhlasan. Jika keikhlasan belum kita raih, maka perbaikilah niat,mohon ampun kepada Allah dan mohon petunjuk, nikmati prosesnya sesuai dengan aturan Allah dengan ikhlas, jalani prosedurnya dengan ikhlas, dan berserahlah, terimalah apapun hasilnya dengan ikhlas pula.

    ReplyDelete
  74. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Refleksi yang saya dapatkan dari elegi ini ialah jangan sombong akan tingginya pendidikan yang kita terima. Pendidikan tinggi tanpa sopan santun itu omong kosong. Cantraka sakti merupakan seorang lulusan perguruan tinggi bonafid yang mungkin tak perlu diragukan tingkat intelektualnya, tapi sepertinya ia lupa akan budaya timur dan tata krama dalam beribadah. Ia juga memandang rendah santri petugas, yang menunjukkan kalau Cantraka sakti belum ikhlas sehingga ia belum boleh mengikuti kegiatan ritual ikhlas selanjtnya. Wassalamualaikum.

    ReplyDelete
  75. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari elegi di atas dapat saya pelajari bahwa ikhlas itu tidak bisa diukur dengan berdasarkan pada tinggi rendahnya martabat orang atau tinggi rendahnya pendidikan seseorang. Belum tentu orang dengan martabat tinggi ataupun pendidikan tinggi memiliki derajat ikhlas yang tinggi pula. Tiap orang memiliki kesempatan untuk menggapia derajat ikhlas setinggi-tingginya. Janganlah menyombongkantingginya pendidikan atau ilmu yang kita miliki, tanpa adanya rasa keikhlasan, segala sesuatu itu akan tidak bermakna.

    ReplyDelete

  76. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dalam beribadah kepada-Nya, unsur keikhlasan sangat menjadi penentu utama, terutama ikhlas dalam mengikut peraturan beribadat yang sebenar-benarnya. Banyak kita temui dalam kehidupan bahwa terkadang rasio berpikir menjadi penghalang kekhusyukan kita dalam beribadah, padahal jika sudah berbicara ranah spiritual, seyogyanya pikiran kita terhenti dan biarkan hati yang mengolahnya.

    ReplyDelete
  77. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Segala sesuatu di dunia ini memiliki ahlinya masing-masing. Jika kita ingin belajar sesuatu maka kita harus belajar dengan ahli yang sesuai. Sebagai contoh, tidaklah pas jika seseorang belajar agama dari ahli menjahit. Oleh karena itu, lulusan Cambridge di atas tidaklah perlu untuk memberitahukan kepada dunia bahwa dirinya adalah lulusan Cambridge ketika dia benar-benar ingin belajar spiritual. Cantraka sakti yang merupakan lulusan Cambridge telah termakan mitosnya yang mana terlalu mengangung-agungkan dirinya yang merupakan lulsan Cambride. Padahal tingkat ibadah seseorang bukan dilihat dari hal tersebut melainkan dari keikhlasannya

    ReplyDelete
  78. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendididkan Matematika

    Kesombongan adalah hal buruk yang dapat merusak ibadah kita. Setinggi apapun ilmu, pendiikan, jabatan atau harta seseorang akan sia-sia jika orang tersebut bersikap sombong. Ritual Ikhlas adalah kegiatan membetulkan dan meluruskan ibadah. Tentu saja harus dijalankan dengan rasa ikhlas bukan sombong. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  79. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Orang yang tidak menghargai orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang meremehkan orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang merasa lebih baik dari orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang merasa lebih ikhlas dari orang lain, maka belum ikhlas. Begitulah, ikhlas sekali lagi tidak memandang pangkat duniawi, ilmu duniawi, atau kedudukan duniawi. Ikhlas memandang orang yang melakukan ritual dngan penuh tangungjawab.

    ReplyDelete
  80. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bisa dikatakan centraka sakti mengikuti ritual ikhlas hanya untuk gaya-gayaan saja, biar dikatakan orang lain sebagai orang alim, atau panggilan sejenisnya. Atau bahkan hanya pengin mencari ketenaran di mata manusia dengan mengikuti ritual ikhlas tersebt. Maka centraka sakti menjadi pelajaran bagi kita semua, sebagai mahasiswa, jangan merasa paling berilmu, jangan merasa tinggi jika berbicara dengan orang awam. Nabi telah meneladankan kepada kita untuk selalu merendah ketika bergaul dengan orang awam, dengan begitu keihklasan akan terjaga, dan ridha Allah akan tergapai.

    ReplyDelete
  81. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pelajaran yang bisa dijadikan pelajaran, membantu sesama dengan ikhlas. Dalam arti yang paling sederhana, manusia pasti punya masalah. Kadar masalah itu berbeda-beda dan juga orang menghadapinya dengan beragam juga. Manusia pada umumnya memiliki sikap ego. Kadar ego ini berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ego inilah yang menyebabkan belajar ikhlas sulit. Saat kamu ingin memiliki sikap ikhlas, ego tersebut harus dikecilkan agar kamu bisa lebih legowo dalam menjalani kehidupan ini.

    ReplyDelete
  82. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Keikhlasan tidak memandang gelar seseorang, dimana ia memperoleh pendidikan melainkan keikhlasan akan bersarang di hati orang-orang yang tulusa dan bersabar serta kuat tekad dan niat untuk menyembah dan beribadah kepad Allah hanya mengahrap keridhoanNya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  83. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dari elegi di atas,Cantraka sakti menjadi seseorang yang sombong, menyombongkan gelar duniawi yang diperolehnya padahal itu semua tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedngkan Cantraka awam lebih dahulu lolos ritual keikhlasan karena tekad kuat dan beribadah dengan sungguh-sungguh hanya mengharapkan Ridho Allah SWT. Cantraka Sakti menyalahgunakan bekal yang dimiliki, ia membanggakan apa yang biasa ia lakukan yang sesungguhnya bertentangan dengan aturan yang diberlakukan dan pada akhirnya sifat egoisnya mengantarkannya pada kegagalan ritual ikhlas yang dilakukannya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  84. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Disebutkan bahwa unutk mengapi ikhlas maka harus melalui ibadah yang ikhlas. Hanya mengharap ridah Allah, ibadah yang maksud ini meliputi ibadh langsung dan tak lansung. Iabdah langsung meliputi ibadah yang telah ada tuntunannya, seperti solah. Jikalau sebelum solat kita sudah membuang angin, maka kira perlu terbih dahulu unuk bersuci sebelum melakukan solat lagi.

    ReplyDelete
  85. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Keikhlasan memang mempunyai kadar yang berbeda-beda pada setiap orang. Dari perbincangan orang-orang tersebut menunjukan bahwa keikhlasan tidak bisa diukur dengan berdasarkan pada tinggi rendahnya martabat orang, tinggi rendahnya pendidikan. Oleh karena itu, janganlah menyombongkan apa yang tingginya pendidikan atau ilmu yang kita miliki, tanpa adanya rasa keikhlasan yang segala sesuatu itu tidak ada maknanya.

    ReplyDelete
  86. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Melalui kisah yang ada di dalm elegi ini, kita diingatkan bahwa orang berilmu sekali pun belum tentu keilmuannya masuk hingga ke spiritual, atau orang yang berilmu belum tentu ibadahnya setinggi dengan ilmunya, karena ilmu yang dia miliki hanyalah yang dunia, yang terbatas, padahal masih banyak yang tidak diketahui. Ibadah tidak bisa diperoleh dalam ilmu setinggi pun, karena ibadah muncul dari dalam hati manusia. Sehingga kita jangan hanya mengejar ilmu setinggi-tingginya namun kita juga perlu mengejar ibadah. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  87. Ilania Eka Andari
    17709251050
    pps pmat c 2017

    setelah membaca elegi diatas, yang dapat saya simpulkan adalah semakin tinggi ilmu seseorang maka akan sangat berpengaruh pada cara berfikirnya. Seseorang dengan ilmu yang tinggi seharusnya semakin bijak, sabar,dan rendah hati. Dalam melakukan segala hal harus meluruskan niat bahwa segalanya semata-mata demimendapatkan ridho Allah.
    Dalam kehidupan ini kita akan menemui banyak masalah,dimana kita harus selalu ingat bahwa untuk menghadpi masalah-masalah tersebut harus dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  88. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kesombongan adalah suatu penyakit hati yang tidak terdeteksi. Tidak dapat terdeteksi oleh diri sendiri atau dengan kata lain kita tidak dapat menyadarinya. Satu hal yang harus ada dalam ingatan kita bahwa kita tidak boleh sombong di bumi ciptaan Tuhan ini. Predikat kesombongan hanya milik Tuhan semata.
    Maka, jika Sang Pencipta yang memiliki hak sombong memilih untuk tidak menggunakannya, mengapa kita makhluk yang diciptakan malah sombong di bumi hasil ciptaanya?

    ReplyDelete
  89. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    dari hasil membaca elegi ritual ikhlas yang ke empat ini saya mendapatkan pelajaran bahwa setinggi apapun derajat kita secara duniawi, kita tidak boleh sombong dan meremehkan orang-orang yang kita anggap lebih rendah daripada kita, karena yang dinilai oleh Allah bukan status sosial kita, tapi apakah kita ikhlas daalam beramal dan beribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  90. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasar elegi ini saya mengambil sebuah nilai tentang keikhlasan harus disertai dengan kerendahan diri. Bagaimana kita meninggalkan segala macam kedudukan dan gelar, untuk mengejar ridho Allah SWT. Seperti dicontohkan dalam elegi tersebut, betapa kesombongan dapat mematikan seseorang, menjadikan seseorang tersebut gagal dalam mendalami apa itu ikhlas.

    ReplyDelete
  91. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs Pmat C

    Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa ikhlas adalah melakukan sesuatu dengan diniatkan hanya untuk Allah SWT, tidak untuk dipamerkan dengan harap diberi pujian oleh orang lain. Dan jika diberikan kelebihan kita tidak boleh sombong dan meremehkan yang lain.

    ReplyDelete
  92. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ikhlas tidak dapat hanya dengan menunjukkan kematangan rasio. Justru orang yang selalu mengedepankan apalagi mendewakan rasio tidak akan mencapai hakekat keikhlasan, karena ia akan selalu berpikir “jika aku melakukan ini, logisnya aku akan mendapatkan itu”. Mempunyai pemikiran sekelumit itu sudah tidak dapat dikategorikan sebagai pemikiran yang ikhlas, apalagi perkataan dan perbuatannya. Maka dari itu, kembali lagi bahwa “ikhlas” adalah menyadari bahwa kita melakukan apapun hanya karena dan untuk Allah, tidak mengharapkan imbalan dan efek apapun sehingga kita akan mendapat keyakinan bahwa apa yang kita lakukan tidak ada yang bernilai sia-sia.

    ReplyDelete
  93. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya sungguh amat terkesan ketika membaca ini. Saya merasa beberapa kali saya masih sibuk memikirkan derajat saya, pendidikan saya, dan bahkan memandang orang lain lebih rendah dari saya. Ya Tuhan, maafkan hamba yang masih sering terkungkung hal duniawi ini. Ikhlas itu urusan orang masing-masing. Belum tentu yang cerdas itu mengerti ikhlas, belum tentu yang kecil itu tak ikhlas. Siapalah saya berani menilai orang lain. Sekali lagu maaf Ya Tuhan.. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  94. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari elegi diatas. salah satunya adalah ketika kita makan dan minum itu tidaklah sambil buang angin karena itu merupakan perilaku yang tidak sopan. Selain itu, setelah buang angin tubuh kita tidak suci lagi, dan ketika kita minum kopi dalam keaadaan tiadak suci maka syaitan akan masuk kedalam tubuh kita melalui kopi tersebut.

    ReplyDelete
  95. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Pelajaran yang saya dapat dari elegi diatas adalah dalam menggapai keihlasan itu yang dibutuhkan bukan pangkat kita didunia, bukan darimana kita lulus dalam sekolah. Yang dibutuhkan dalam menggapai ritual ikhlas adalah keikhlasan. Ketika diri kita sudah mulai dengan kesombongan, maka keihlasan sangat sulit untuk diraih.

    ReplyDelete
  96. Kegiatan Ritual Ikhlas disini hanyalah untuk mencari rida Allah semata. Bekal yang diperlukan adalah niat yang benar yaitu mencari rida Allah SWT dan ikhlas mengikuti semua ketentuan yang telah disepakati bersama semata-mata demi menjamin kelancaran kegiatan, membetulkan cara beribadah yang benar, dan beramal atau berZikir seikhlas-ikhlas dan sebanyak-banyaknya.

    ReplyDelete
  97. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  98. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini mengajarkan kita tentang pepatah "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Artinya meskipun si cantraka sakti lulusan luar negeri dengan nilai yang sangat memuaskan tidaklah ada artinya apabila tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dia tempati sekarang atau tidak bisa masuk ke budaya tempat tinggalnya sekarang. Pelajaran untuk kita, meskipun sehebat dan sebagus apapun kebudayaan yang dianut sebelumnya, namun apabila pindah ketempat yang baru maka ikutilah aturan atau kebudayaan yang berlaku di sana. Sikap sombong seperti cantraka sakti di atas akan membawa kerugian pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  99. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Ihklas sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi guru dan calon guru, karena mengajar yang dilandasi dengan perasaan ihklas maka seberat apapun yang dihadapi akan terasa menyenangkan dan lebih-lebih guru tersebut akan selalu nayaman dengan profesinya. Orang yang tidak ikhlas dalam bekerja maka apapun pekerjaan yang dijalani tidak akan pernah mengahsilkan rasa puas, kalau gurunya saja tidak ikhlas bagaimana ilmu yang ditransfer dapat diserap oleh siswa dengan baik.

    ReplyDelete
  100. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Ihklas sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi guru dan calon guru, karena mengajar yang dilandasi dengan perasaan ihklas maka seberat apapun yang dihadapi akan terasa menyenangkan dan lebih-lebih guru tersebut akan selalu nayaman dengan profesinya. Orang yang tidak ikhlas dalam bekerja maka apapun pekerjaan yang dijalani tidak akan pernah mengahsilkan rasa puas, kalau gurunya saja tidak ikhlas bagaimana ilmu yang ditransfer dapat diserap oleh siswa dengan baik.

    ReplyDelete
  101. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Keberhasilan suatu pekerjaan akan diperoleh dengan niat yang lurus, bekerja keras, menyediakan waktu, tenaga, pikiran, membuka hati, mematuhi dan melaksanakan aturan yang ada. Dalam elegi tersebut, Cantraka sakti digambarkan sebagai intelektual tinggi dalam urusan dunia, tetapi ia tidak memiliki intelektual tinggi untuk urusan akhiratnya. Ia tidak paham sunnah karena tidak pernah dipelajarinya, yang dilakukan adalah menyibukkan diri dengan kepentingan-kepentingan dunia tanpa memberi batasan, dan yang menjadi teladan adalah kebiasaan-kebiasaan orang disekitarnya. Seharusnya yang namanya ikhlas harus mampu ditanamkan dalam diri setiap manusia agar kesombongan dan kebodohan tidak tumbuh dan berkembang dalam diri. Kesombongan ada akibat tidak mengenal dirinya sendiri dan tidak mengenal Tuhan. Orang yang sombong tidak akan pernah bisa menerima kritik, apalagi untuk belajar menghargai dan menyayangi. Sedangkan kebodohan akibat tidak belajar akan mengakibatkan cepat puas dengan apa yang telah dimiliki, dan tidak membuka diri dengan yang lain. Dengan kata lainn, jika kita mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, maka ikhlas insya Allah akan diperoleh.

    ReplyDelete