Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas




Oleh Marsigit

Cantraka Sakti:

Waha sini saudaraku, Cantraka Awam, bagaimana khabarnya? Engkau dari mana kok bisa sampai kesini untuk mengikuti Ritual Ikhlas? BerZikir ya berZikir, tetapi ngobrol itu ya penting.

Cantraka Awam:
Aku dari jauh. Aku kesini memang ingin meningkatkan keikhlasanku dalam beribadat. Oleh karena itu Ritual Ikhlas ini saya anggap peristiwa yang sangat tepat dan sangat baik bagi diriku untuk belajar ikhlas, dengan cara menerima saran perbaikan dari Santri yang sudah pengalaman. Lha kalau kamu dari mana? Kenapa engkau juga datang kesini? Apa Alasanmu?

Cantraka Sakti:
Wha..aku sebetulnya tidak sengaja mengikuti kegiatan ini. Aku sebetulnya sedang menunggu job atau pesanan karya ilmiah saya. Seraya menunggu sembari mengisi waktu saya ingin melihat apa yang terjadi dalam Ritual Ikhlas.

Cantraka Awam:
Bicaramu kelihatan sangat ilmiah apakah engkau seorang Doktor atau Profesor?

Cantraka Sakti:
Oh bukan, cuma aku memang lulusan Cambridge University baru beberapa bulan. Ngomong bahasa Indonesia atau bahasa Jawa saja masih harus belajar. Wah kegiatan ini menurutku sangat menyiksa. Terlalu banyak peraturan, thethek mbgengek. Di luar negeri aku tidak pernah menemui kegiatan semacam ini. Ah buang-buang waktu saja.

Santri Petugas:
Maaf saudaraku, ini saatnya para peserta sedang berZikir. Mohon toleransinya agar bicaranya diperlemah. Atau kalau bisa saya sarankan, daripada banyak berbicara lebih baik memperbanyak amalan-amalannya dengan cara berZikir yang sebanyak-banyaknya.

Cantraka Sakti:
Waha...asem tenan...seorang Master lulusan Cambridge University baru beberapa bulan..ditegur sama lulusan SMP. Ya...ya...ya...saya diam. Hei Cantraka awam...aku membawa segala macam minuman. Ini pilihlah. Engkau akan minum apa? Kesenanganku adalah minum kopi hangat. Wah kopi hangat kaya gini suegernya bukan main...Dhuot..drut..drut. Apalagi habis minum bisa buang angin, wah rasanya sangat lega. Lalu minum lagi..wah badan terasa seger. Apalagi kalau bisa buang angin lagi...demikian itu seterusnya. Itu kebiasaanku selama di Luar Negeri selama bertahun-tahun. Tidak puas kalau minum tidak sambil buang angin.

Santri Petugas:
Maaf Cantraka Sakti...sesuai dengan kebiasaan dan tata cara melaksanakan Ritual Ikhlas, maka minum sambil buang angin itu tidak sopan. Karena setelah anda membuang angin, itu berarti anda tidak suci lagi. Seyogyanya, setelah anda membuang angin, anda harus bergegas mengambil air wudhlu. Jika tidak berwudu maka itu berarti anda minum dalam keadaan kotor. Artinya, Syaitan itu akan masuk bersama minum kopi anda itu.

Cantraka Sakti:
Wuhaeh...baru kali ini saya mendengar peraturan seperti itu. Ketika aku di Luar Negeri, tidak ada masalah itu minum sambil buang angin, sambil tertawa, sambil menari, sambil bernyanyi, bahkan sambil mabuk sekalipun. Masalah kayak gitu kok diurusi, kayak kurang kerjaan saja, mas...mas...Nanti kalau engkau butuh kerjaan lapor saja sama saya.

Santri Kepala:
Bapak ibu semua, setelah beberapa hari kita melakukan Ritual Ikhlas ini, maka sampailah kita pada penghujung acara yaitu acara penutupan. Pada acara penutupan nanti akan ada ceramah mengenai hakekat Ikhlas dan cara memperolehnya. Namun sebelumnya perkenankanlah kami ingin mengumumkan perihal penilaian transenden spiritual kami tentang siapa saja yang akan saya panggil untuk dapat melakukan atau melanjutkan Ritual Ikhlas selanjutnya. Nama-nama berikut yang yang saya panggil mohon agar dapat menuju ke mimbar tengah untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Sedangkan yang belum dipanggil, mohon agar tetap berada ditempat sampai acara selesai. Nama-nama yang dipanggil adalah: Mahammad Nurikhlas, Siti Nurikhlas, Cantraka Ikhlas, dan Cantraka Awam.

Cantraka Sakti:
Lho...lho...aku kok tidak dipangil? Lho..kanapa? Wah malu saya ...seorang Master Lulusan Cambridge University hanya kayak gini saja kok tidak lulus. Mohon..tolong...wah...panitia? Aku protes..kenapa aku tidak dipanggil? Lho ..jadi aku masih belum dianggap Ikhlas? Bagi seorang Master Lulusan Luar Negeri, rasio itu nomor satu. Aku hanya akan ikhlas kalau sesuai dengan pikiranku. Lha buang angin itu kan sehat, masa' nggak boleh. Itu tidak logis. Bagaimana aku akan ikhlas. Aneh pula alasannya. Apa buktinya Syaitan masuk melalui minuman kopiku. Aku tak merasakan apa-apa itu?

Santri Kepala:
Maaf hanya belum dipanggil saja. Mungkin untuk Ritual Ikhlas selanjutnya nanti Bapak akan dipanggil. Untuk sementara tunggulah di sini dengan sabar dan tawakal.

34 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Ikhlas itu bagi saya relatif. Sulit untuk menilai apakah orang itu ikhlas? Karena sejatinya ikhlas itu di dalam diri tanpa seorang yang lain tahu. Ikhlas itu jelas tidak sombong. Belajar ikhlas bukan hanya untuk kita yang masih rendah dimensinya. Karena semakin tinggi dimensi kita, maka untuk menggapai ikhlas akanlah sulit. Sombongnya itu mungkin tidak kita sadari, tapi jelas orang lain sadar akan hal itu. Ya kembali lagi baca baca dan baca untuk memahi setiap goresan elegi ritual ikhlas.

    ReplyDelete
  2. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pikiran dan hati, jangan campur adukkan antara keduanya. Ikhlas dan beribadah itu perkara hati, jadi jangan termakan oleh rasio kita sehingga membuat kita tidak ikhlas dan meninggalkan ibadah.Orang yang berpendidikan tinggi itu belum berderajat tinggi, jika dia belum mampu ikhlas dalam menjalankan kehidupan. Bahkan orang berpendidikan tinggi dapat memiliki derajat yang rendah ketika dia terbuai dengan ketinggiannya sehingga menjadikan dia sombong dan merendahkan orang lain. Terimakasih

    ReplyDelete
  3. Nur dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Dalam upaya menggapai ikhlas yang kita butuhkan hanyalah niat untuk menggapai ridho Allah SWT. Karena itulah kita harus melepaskan segala atribut duniawi termasuk jabatan, gelar, kedudukan. Kita harus menyadari bahwa jabatan, gelar, dan kedudukan hanyalah bersifat duniawi. Kita harus sadar bahwa yang membedakan antar manusia hanyalah keikhlasannya dalam beribadah. Karena semua jabatan, gelar, dan kedudukan itu tidak bernilai di hadapan Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Dalam beribadah, semaksimal mungkin lakukanlah dengan ikhlas. Jangan melakukan ibadah hanya sebagai sampingan saja. Lakukanlah ibadah sebagai sesuatu yang utama. Khusyuklah hanya memikirkan ibadah. Jangan menganggap bahwa dengan kedudukan yang tinggi di dunia, maka kita dapat berlaku sombong, karena dihadapan Allah, tidak ada gunanya, yang dinilai adalah niatan dalam hati.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  5. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Dari elegi ritual ikhlas di atas, pelajaran yang dapat saya ambil adalah tiadalah guna berpangkat, bergelar, atau berpendidikan tinggi kalau tidak tahu dan tidak mengerti etika beribadah yang baik dan benar. Karena ibadah merupakan urusan spiritual kita kepada Tuhan Yang Maha Esa, maka segala penghargaan dunia tidak menjadi berharga ketika kita menghadap kepada Tuhan. Oleh karena itu, marilah kita instropeksi diri kita masing-masing, apakah dengan kita sekolah setinggi-tinggi mampu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah atau tidak, atau malah menjerumuskan kita terhadap rasa tinggi hati yang menjadikan kita sombong padahal kita tahu apakah amalan kita sudah benar dan diterima olehNya atau tidak. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    “Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas" menyadarkan kita bahwa ikhlas itu munculnya dari hati, tidak memandang apakah ia berpangkat tinggi, gelar tinggi, harta banyak, derajat, atau apapun. Seperti kisah Cantraka Sakti diatas, dia salah seorang lulusan Cambridge University akan tetapi ia sangat sombong dan terlena dengan apa yang ia miliki. Perlu diingat bahwa selama manusia itu masih dalam kesombongan maka rasa ikhlas itu akan sulit dirasakan dalam hati. Mungkin lisannya bisa mengatakan bahwa ia ikhlas, tetapi hati itu tidak bisa dibohongi dan rasa ikhlas yang sesungguhnya itu berasal dari hati. Memang tidak mudah untuk ikhlas.

    ReplyDelete
  7. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Kendala-kendala yang dialami Cantraka Sakti dalam ritual ikhlas adalah bersumber dari niat yang belum lurus. Niat yang tidak ikhlas akan membuat semua pekerjaan yang kita lakukan terasa berat. Cantraka Sakti seharusnya memahami bahwa saat ia memutuskan untuk mengikuti ritual ikhlas maka mau tidak mau dia harus bersedia mematuhi segala peraturan yang ada serta meninggalkan segala urusan dunianya sehingga dapat fokus dalam beribadah kepada-Nya.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dari elegi ini, saya memandang bahwa Cantraka Sakti belum mampu melepas atribut-atributnya sehingga membuatnya sombong. Ia merasa lebih tinggi dan lebih berilmu dari yang lain, dan itulah yang membuatnya tidak lulus dalam keikhlasan. Sebagaimana disampaikan bahwa niat yang benar dan ikhlas untuk memperoleh keikhlasan adalah dasar dalam memperoleh keikhlasan. Jika keikhlasan belum kita raih, maka perbaikilah niat,mohon ampun kepada Allah dan mohon petunjuk, nikmati prosesnya sesuai dengan aturan Allah dengan ikhlas, jalani prosedurnya dengan ikhlas, dan berserahlah, terimalah apapun hasilnya dengan ikhlas pula.

    ReplyDelete
  9. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. Refleksi yang saya dapatkan dari elegi ini ialah jangan sombong akan tingginya pendidikan yang kita terima. Pendidikan tinggi tanpa sopan santun itu omong kosong. Cantraka sakti merupakan seorang lulusan perguruan tinggi bonafid yang mungkin tak perlu diragukan tingkat intelektualnya, tapi sepertinya ia lupa akan budaya timur dan tata krama dalam beribadah. Ia juga memandang rendah santri petugas, yang menunjukkan kalau Cantraka sakti belum ikhlas sehingga ia belum boleh mengikuti kegiatan ritual ikhlas selanjtnya. Wassalamualaikum.

    ReplyDelete
  10. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Dari elegi di atas dapat saya pelajari bahwa ikhlas itu tidak bisa diukur dengan berdasarkan pada tinggi rendahnya martabat orang atau tinggi rendahnya pendidikan seseorang. Belum tentu orang dengan martabat tinggi ataupun pendidikan tinggi memiliki derajat ikhlas yang tinggi pula. Tiap orang memiliki kesempatan untuk menggapia derajat ikhlas setinggi-tingginya. Janganlah menyombongkantingginya pendidikan atau ilmu yang kita miliki, tanpa adanya rasa keikhlasan, segala sesuatu itu akan tidak bermakna.

    ReplyDelete

  11. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Dalam beribadah kepada-Nya, unsur keikhlasan sangat menjadi penentu utama, terutama ikhlas dalam mengikut peraturan beribadat yang sebenar-benarnya. Banyak kita temui dalam kehidupan bahwa terkadang rasio berpikir menjadi penghalang kekhusyukan kita dalam beribadah, padahal jika sudah berbicara ranah spiritual, seyogyanya pikiran kita terhenti dan biarkan hati yang mengolahnya.

    ReplyDelete
  12. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Segala sesuatu di dunia ini memiliki ahlinya masing-masing. Jika kita ingin belajar sesuatu maka kita harus belajar dengan ahli yang sesuai. Sebagai contoh, tidaklah pas jika seseorang belajar agama dari ahli menjahit. Oleh karena itu, lulusan Cambridge di atas tidaklah perlu untuk memberitahukan kepada dunia bahwa dirinya adalah lulusan Cambridge ketika dia benar-benar ingin belajar spiritual. Cantraka sakti yang merupakan lulusan Cambridge telah termakan mitosnya yang mana terlalu mengangung-agungkan dirinya yang merupakan lulsan Cambride. Padahal tingkat ibadah seseorang bukan dilihat dari hal tersebut melainkan dari keikhlasannya

    ReplyDelete
  13. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendididkan Matematika

    Kesombongan adalah hal buruk yang dapat merusak ibadah kita. Setinggi apapun ilmu, pendiikan, jabatan atau harta seseorang akan sia-sia jika orang tersebut bersikap sombong. Ritual Ikhlas adalah kegiatan membetulkan dan meluruskan ibadah. Tentu saja harus dijalankan dengan rasa ikhlas bukan sombong. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  14. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Orang yang tidak menghargai orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang meremehkan orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang merasa lebih baik dari orang lain, maka belum ikhlas. Orang yang merasa lebih ikhlas dari orang lain, maka belum ikhlas. Begitulah, ikhlas sekali lagi tidak memandang pangkat duniawi, ilmu duniawi, atau kedudukan duniawi. Ikhlas memandang orang yang melakukan ritual dngan penuh tangungjawab.

    ReplyDelete
  15. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Bisa dikatakan centraka sakti mengikuti ritual ikhlas hanya untuk gaya-gayaan saja, biar dikatakan orang lain sebagai orang alim, atau panggilan sejenisnya. Atau bahkan hanya pengin mencari ketenaran di mata manusia dengan mengikuti ritual ikhlas tersebt. Maka centraka sakti menjadi pelajaran bagi kita semua, sebagai mahasiswa, jangan merasa paling berilmu, jangan merasa tinggi jika berbicara dengan orang awam. Nabi telah meneladankan kepada kita untuk selalu merendah ketika bergaul dengan orang awam, dengan begitu keihklasan akan terjaga, dan ridha Allah akan tergapai.

    ReplyDelete
  16. Latifah Fitriasari
    PM C

    Pelajaran yang bisa dijadikan pelajaran, membantu sesama dengan ikhlas. Dalam arti yang paling sederhana, manusia pasti punya masalah. Kadar masalah itu berbeda-beda dan juga orang menghadapinya dengan beragam juga. Manusia pada umumnya memiliki sikap ego. Kadar ego ini berbeda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ego inilah yang menyebabkan belajar ikhlas sulit. Saat kamu ingin memiliki sikap ikhlas, ego tersebut harus dikecilkan agar kamu bisa lebih legowo dalam menjalani kehidupan ini.

    ReplyDelete
  17. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Keikhlasan tidak memandang gelar seseorang, dimana ia memperoleh pendidikan melainkan keikhlasan akan bersarang di hati orang-orang yang tulusa dan bersabar serta kuat tekad dan niat untuk menyembah dan beribadah kepad Allah hanya mengahrap keridhoanNya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  18. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dari elegi di atas,Cantraka sakti menjadi seseorang yang sombong, menyombongkan gelar duniawi yang diperolehnya padahal itu semua tidak ada apa-apanya dihadapan Allah SWT, sedngkan Cantraka awam lebih dahulu lolos ritual keikhlasan karena tekad kuat dan beribadah dengan sungguh-sungguh hanya mengharapkan Ridho Allah SWT. Cantraka Sakti menyalahgunakan bekal yang dimiliki, ia membanggakan apa yang biasa ia lakukan yang sesungguhnya bertentangan dengan aturan yang diberlakukan dan pada akhirnya sifat egoisnya mengantarkannya pada kegagalan ritual ikhlas yang dilakukannya. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Disebutkan bahwa unutk mengapi ikhlas maka harus melalui ibadah yang ikhlas. Hanya mengharap ridah Allah, ibadah yang maksud ini meliputi ibadh langsung dan tak lansung. Iabdah langsung meliputi ibadah yang telah ada tuntunannya, seperti solah. Jikalau sebelum solat kita sudah membuang angin, maka kira perlu terbih dahulu unuk bersuci sebelum melakukan solat lagi.

    ReplyDelete
  20. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Keikhlasan memang mempunyai kadar yang berbeda-beda pada setiap orang. Dari perbincangan orang-orang tersebut menunjukan bahwa keikhlasan tidak bisa diukur dengan berdasarkan pada tinggi rendahnya martabat orang, tinggi rendahnya pendidikan. Oleh karena itu, janganlah menyombongkan apa yang tingginya pendidikan atau ilmu yang kita miliki, tanpa adanya rasa keikhlasan yang segala sesuatu itu tidak ada maknanya.

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Melalui kisah yang ada di dalm elegi ini, kita diingatkan bahwa orang berilmu sekali pun belum tentu keilmuannya masuk hingga ke spiritual, atau orang yang berilmu belum tentu ibadahnya setinggi dengan ilmunya, karena ilmu yang dia miliki hanyalah yang dunia, yang terbatas, padahal masih banyak yang tidak diketahui. Ibadah tidak bisa diperoleh dalam ilmu setinggi pun, karena ibadah muncul dari dalam hati manusia. Sehingga kita jangan hanya mengejar ilmu setinggi-tingginya namun kita juga perlu mengejar ibadah. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Ilania Eka Andari
    17709251050
    pps pmat c 2017

    setelah membaca elegi diatas, yang dapat saya simpulkan adalah semakin tinggi ilmu seseorang maka akan sangat berpengaruh pada cara berfikirnya. Seseorang dengan ilmu yang tinggi seharusnya semakin bijak, sabar,dan rendah hati. Dalam melakukan segala hal harus meluruskan niat bahwa segalanya semata-mata demimendapatkan ridho Allah.
    Dalam kehidupan ini kita akan menemui banyak masalah,dimana kita harus selalu ingat bahwa untuk menghadpi masalah-masalah tersebut harus dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  23. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kesombongan adalah suatu penyakit hati yang tidak terdeteksi. Tidak dapat terdeteksi oleh diri sendiri atau dengan kata lain kita tidak dapat menyadarinya. Satu hal yang harus ada dalam ingatan kita bahwa kita tidak boleh sombong di bumi ciptaan Tuhan ini. Predikat kesombongan hanya milik Tuhan semata.
    Maka, jika Sang Pencipta yang memiliki hak sombong memilih untuk tidak menggunakannya, mengapa kita makhluk yang diciptakan malah sombong di bumi hasil ciptaanya?

    ReplyDelete
  24. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    dari hasil membaca elegi ritual ikhlas yang ke empat ini saya mendapatkan pelajaran bahwa setinggi apapun derajat kita secara duniawi, kita tidak boleh sombong dan meremehkan orang-orang yang kita anggap lebih rendah daripada kita, karena yang dinilai oleh Allah bukan status sosial kita, tapi apakah kita ikhlas daalam beramal dan beribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  25. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasar elegi ini saya mengambil sebuah nilai tentang keikhlasan harus disertai dengan kerendahan diri. Bagaimana kita meninggalkan segala macam kedudukan dan gelar, untuk mengejar ridho Allah SWT. Seperti dicontohkan dalam elegi tersebut, betapa kesombongan dapat mematikan seseorang, menjadikan seseorang tersebut gagal dalam mendalami apa itu ikhlas.

    ReplyDelete
  26. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs Pmat C

    Seperti yang saya sebutkan sebelumnya bahwa ikhlas adalah melakukan sesuatu dengan diniatkan hanya untuk Allah SWT, tidak untuk dipamerkan dengan harap diberi pujian oleh orang lain. Dan jika diberikan kelebihan kita tidak boleh sombong dan meremehkan yang lain.

    ReplyDelete
  27. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ikhlas tidak dapat hanya dengan menunjukkan kematangan rasio. Justru orang yang selalu mengedepankan apalagi mendewakan rasio tidak akan mencapai hakekat keikhlasan, karena ia akan selalu berpikir “jika aku melakukan ini, logisnya aku akan mendapatkan itu”. Mempunyai pemikiran sekelumit itu sudah tidak dapat dikategorikan sebagai pemikiran yang ikhlas, apalagi perkataan dan perbuatannya. Maka dari itu, kembali lagi bahwa “ikhlas” adalah menyadari bahwa kita melakukan apapun hanya karena dan untuk Allah, tidak mengharapkan imbalan dan efek apapun sehingga kita akan mendapat keyakinan bahwa apa yang kita lakukan tidak ada yang bernilai sia-sia.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya sungguh amat terkesan ketika membaca ini. Saya merasa beberapa kali saya masih sibuk memikirkan derajat saya, pendidikan saya, dan bahkan memandang orang lain lebih rendah dari saya. Ya Tuhan, maafkan hamba yang masih sering terkungkung hal duniawi ini. Ikhlas itu urusan orang masing-masing. Belum tentu yang cerdas itu mengerti ikhlas, belum tentu yang kecil itu tak ikhlas. Siapalah saya berani menilai orang lain. Sekali lagu maaf Ya Tuhan.. Semoga saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  29. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari elegi diatas. salah satunya adalah ketika kita makan dan minum itu tidaklah sambil buang angin karena itu merupakan perilaku yang tidak sopan. Selain itu, setelah buang angin tubuh kita tidak suci lagi, dan ketika kita minum kopi dalam keaadaan tiadak suci maka syaitan akan masuk kedalam tubuh kita melalui kopi tersebut.

    ReplyDelete
  30. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Pelajaran yang saya dapat dari elegi diatas adalah dalam menggapai keihlasan itu yang dibutuhkan bukan pangkat kita didunia, bukan darimana kita lulus dalam sekolah. Yang dibutuhkan dalam menggapai ritual ikhlas adalah keikhlasan. Ketika diri kita sudah mulai dengan kesombongan, maka keihlasan sangat sulit untuk diraih.

    ReplyDelete
  31. Kegiatan Ritual Ikhlas disini hanyalah untuk mencari rida Allah semata. Bekal yang diperlukan adalah niat yang benar yaitu mencari rida Allah SWT dan ikhlas mengikuti semua ketentuan yang telah disepakati bersama semata-mata demi menjamin kelancaran kegiatan, membetulkan cara beribadah yang benar, dan beramal atau berZikir seikhlas-ikhlas dan sebanyak-banyaknya.

    ReplyDelete
  32. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  33. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini mengajarkan kita tentang pepatah "Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung". Artinya meskipun si cantraka sakti lulusan luar negeri dengan nilai yang sangat memuaskan tidaklah ada artinya apabila tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang dia tempati sekarang atau tidak bisa masuk ke budaya tempat tinggalnya sekarang. Pelajaran untuk kita, meskipun sehebat dan sebagus apapun kebudayaan yang dianut sebelumnya, namun apabila pindah ketempat yang baru maka ikutilah aturan atau kebudayaan yang berlaku di sana. Sikap sombong seperti cantraka sakti di atas akan membawa kerugian pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  34. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Ihklas sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya bagi guru dan calon guru, karena mengajar yang dilandasi dengan perasaan ihklas maka seberat apapun yang dihadapi akan terasa menyenangkan dan lebih-lebih guru tersebut akan selalu nayaman dengan profesinya. Orang yang tidak ikhlas dalam bekerja maka apapun pekerjaan yang dijalani tidak akan pernah mengahsilkan rasa puas, kalau gurunya saja tidak ikhlas bagaimana ilmu yang ditransfer dapat diserap oleh siswa dengan baik.

    ReplyDelete