Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas




Oleh Marsigit

Cantraka Sakti:

Waha sini saudaraku, Cantraka Awam, bagaimana khabarnya? Engkau dari mana kok bisa sampai kesini untuk mengikuti Ritual Ikhlas? BerZikir ya berZikir, tetapi ngobrol itu ya penting.

Cantraka Awam:
Aku dari jauh. Aku kesini memang ingin meningkatkan keikhlasanku dalam beribadat. Oleh karena itu Ritual Ikhlas ini saya anggap peristiwa yang sangat tepat dan sangat baik bagi diriku untuk belajar ikhlas, dengan cara menerima saran perbaikan dari Santri yang sudah pengalaman. Lha kalau kamu dari mana? Kenapa engkau juga datang kesini? Apa Alasanmu?

Cantraka Sakti:
Wha..aku sebetulnya tidak sengaja mengikuti kegiatan ini. Aku sebetulnya sedang menunggu job atau pesanan karya ilmiah saya. Seraya menunggu sembari mengisi waktu saya ingin melihat apa yang terjadi dalam Ritual Ikhlas.

Cantraka Awam:
Bicaramu kelihatan sangat ilmiah apakah engkau seorang Doktor atau Profesor?

Cantraka Sakti:
Oh bukan, cuma aku memang lulusan Cambridge University baru beberapa bulan. Ngomong bahasa Indonesia atau bahasa Jawa saja masih harus belajar. Wah kegiatan ini menurutku sangat menyiksa. Terlalu banyak peraturan, thethek mbgengek. Di luar negeri aku tidak pernah menemui kegiatan semacam ini. Ah buang-buang waktu saja.

Santri Petugas:
Maaf saudaraku, ini saatnya para peserta sedang berZikir. Mohon toleransinya agar bicaranya diperlemah. Atau kalau bisa saya sarankan, daripada banyak berbicara lebih baik memperbanyak amalan-amalannya dengan cara berZikir yang sebanyak-banyaknya.

Cantraka Sakti:
Waha...asem tenan...seorang Master lulusan Cambridge University baru beberapa bulan..ditegur sama lulusan SMP. Ya...ya...ya...saya diam. Hei Cantraka awam...aku membawa segala macam minuman. Ini pilihlah. Engkau akan minum apa? Kesenanganku adalah minum kopi hangat. Wah kopi hangat kaya gini suegernya bukan main...Dhuot..drut..drut. Apalagi habis minum bisa buang angin, wah rasanya sangat lega. Lalu minum lagi..wah badan terasa seger. Apalagi kalau bisa buang angin lagi...demikian itu seterusnya. Itu kebiasaanku selama di Luar Negeri selama bertahun-tahun. Tidak puas kalau minum tidak sambil buang angin.

Santri Petugas:
Maaf Cantraka Sakti...sesuai dengan kebiasaan dan tata cara melaksanakan Ritual Ikhlas, maka minum sambil buang angin itu tidak sopan. Karena setelah anda membuang angin, itu berarti anda tidak suci lagi. Seyogyanya, setelah anda membuang angin, anda harus bergegas mengambil air wudhlu. Jika tidak berwudu maka itu berarti anda minum dalam keadaan kotor. Artinya, Syaitan itu akan masuk bersama minum kopi anda itu.

Cantraka Sakti:
Wuhaeh...baru kali ini saya mendengar peraturan seperti itu. Ketika aku di Luar Negeri, tidak ada masalah itu minum sambil buang angin, sambil tertawa, sambil menari, sambil bernyanyi, bahkan sambil mabuk sekalipun. Masalah kayak gitu kok diurusi, kayak kurang kerjaan saja, mas...mas...Nanti kalau engkau butuh kerjaan lapor saja sama saya.

Santri Kepala:
Bapak ibu semua, setelah beberapa hari kita melakukan Ritual Ikhlas ini, maka sampailah kita pada penghujung acara yaitu acara penutupan. Pada acara penutupan nanti akan ada ceramah mengenai hakekat Ikhlas dan cara memperolehnya. Namun sebelumnya perkenankanlah kami ingin mengumumkan perihal penilaian transenden spiritual kami tentang siapa saja yang akan saya panggil untuk dapat melakukan atau melanjutkan Ritual Ikhlas selanjutnya. Nama-nama berikut yang yang saya panggil mohon agar dapat menuju ke mimbar tengah untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Sedangkan yang belum dipanggil, mohon agar tetap berada ditempat sampai acara selesai. Nama-nama yang dipanggil adalah: Mahammad Nurikhlas, Siti Nurikhlas, Cantraka Ikhlas, dan Cantraka Awam.

Cantraka Sakti:
Lho...lho...aku kok tidak dipangil? Lho..kanapa? Wah malu saya ...seorang Master Lulusan Cambridge University hanya kayak gini saja kok tidak lulus. Mohon..tolong...wah...panitia? Aku protes..kenapa aku tidak dipanggil? Lho ..jadi aku masih belum dianggap Ikhlas? Bagi seorang Master Lulusan Luar Negeri, rasio itu nomor satu. Aku hanya akan ikhlas kalau sesuai dengan pikiranku. Lha buang angin itu kan sehat, masa' nggak boleh. Itu tidak logis. Bagaimana aku akan ikhlas. Aneh pula alasannya. Apa buktinya Syaitan masuk melalui minuman kopiku. Aku tak merasakan apa-apa itu?

Santri Kepala:
Maaf hanya belum dipanggil saja. Mungkin untuk Ritual Ikhlas selanjutnya nanti Bapak akan dipanggil. Untuk sementara tunggulah di sini dengan sabar dan tawakal.

39 comments:

  1. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mendapatkan rahmat dan ridho dari Allah SWT, kita harus melakukan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas. Allah tidak akan memandang siapa diri kita, berasal dari mana kita, dari golongan apa, dan lain sebagainya. Karena Allah tidak melihat fisik kita, melainkan melihat hati kita.

    ReplyDelete
  2. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seorang master lulusan luar negeri, merasa dirinya paling pinter, menerapkan kebiasaan yang dia lakukan di luar negeri dengan bertingkah semaunya sendiri. Rasio yang di nomor satukan sehingga keikhlasannya hanya kalau sesuai dengan pikirannya. Karena sikapnya maka tidak lulus untuk mengikuti rtual ikhlas berikutnya. Semoga kita tidak termasuk orang yang seperti itu dan dapat mencapai keikhlasan yang sesungguhnya. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. Anis Kurnia Ramadhani
    14301241020
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kunci dari suatu kegiatan atau ibadah menjadi lebih meresap ada diri pelakunya adalah ikhlas. Tidak ada kesombongan di dalam diri pelakunya. Dengan begitu, berbagai jenis ilmu akan lebih mudah masuk ke dalam benaknya.

    Cantraka Sakti diceritakan pada postingan ini selalu membandingkan kegiatan yang ada di ritual ini dengan apa yang dia lakukan di luar negeri. Ia juga menunjukkan kesombongannya dengan tidak mau ditegur oleh orang yang lebih muda darinya. Ini menunjukkan bahwa kepandaiannya telah membuatnya sombong, dan tidak mau menerima kritikan dari orang lain.

    ReplyDelete
  4. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Manusia memang tidak lepas dari sifat kesombongan. Kesombongan akan derajat tinggi di dunia tidaklah akan berarti di sisi Allah. Dalam elegi di atas digambarkan seseorang yang membanggakan dan menyombongkan diri sebab derajat pendidikannya tinggi dan ditempuh di luar negeri. Tetapi sesungguhnya itu tak berarti apa-apa di sisi Allah, sebab itu hanyalah kebutuhan duniawi saja. Hal tersebut akan berati jika menuntut ilmu diniatkan ibadah kepada Allah guna mencari ilmu yang bermanfaat dan dapat diajarkan kepada yang lainnya, bukan untuk dipamerkan dan disombongkan.

    ReplyDelete
  5. Banyak hal di dunia ini yang kadang tidak kita mengerti dan ketahui. Seorang guru matematika tentu akan mudah untuk mengajar materi matematika tetapi belum tentu mengerti dan memperbaiki sepeda motor yang rusak begitupun sebaliknya montir belum tentu bisa mengajar. Apa yang dialami oleh cantraka sakti karena dia tidak menyadari bahwa duni yang selama ini dia kuasai atau geluti tentang pengetahuan ilmiah berbeda dengan apa yang dia ikuti sekarang ini yaitu dunia spiritual melalui ritual ikhlas. Dalam metode ilmiah orang boleh berdebat dan menunjukkan penguasaannya terhadap akal atau rasio yang dimilikinya. Tetapi dalam spiritual yang dipentingkan adalah kerelaannya, kesabarannya, kelapangdadaannya, keistiqomahannya mengikuti dan melaksanakan kegiatan ritual ikhlas. Itulah perbedaan kebijaksanaan dalam dunia timur dengan kebijaksanaan dalam dunia barat.

    ReplyDelete
  6. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pendidikan Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,


    Kesombongan adalah hal buruk yang dapat merusak ibadah kita. Setinggi apapun ilmu, pendiikan, jabatan atau harta seseorang akan sia-sia jika orang tersebut bersikap sombong. Ritual Ikhlas adalah kegiatan membetulkan dan meluruskan ibadah. Tentu saja harus dijalankan dengan rasa ikhlas bukan sombong.

    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  7. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Menjadi seseorang membanggakan dari segi pendidikan yang telah ditempuh bukan berarti menjadikan diri menjadi sosok pribadi yang tinggi hati dan sombong sehingga bisa dengan semena-mena berlaku kurang ajar terhadap seseorang yang dianggap bukan apa-apa jika dibandingkan dengan dirinya. Sungguh tiada artinya kepandaian, status sosial, dan kekayaan yang dimiliki seseorang bila ia tidak memiliki akhlak yang mulia sebagai makhluk Allah SWT juga sebagai sesama makhluk ciptaan Allah SWT. Terutama dalam hal berperilaku maupun dalam berbicara.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Membaca postingan tersebut, saya belajar tentang ikhlas. Ikhlas untuk menerima saran yang diberikan orang lain tanpa memandang jabatan dan status. Karena prinsip keadilan dalam ikhlas tidak memandang perbedaan duniawi.
    Selain itu, dalam menggapai keikhlasan diperlukan pula kesabaran.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Menurut saya, cantraka sakti merupakan gambaran dari seseorang yang berilmu tinggi yang menyombongkan diri selain itu ia ingin dipandang hebat oleh orang di sekelilingnya, tindakan yang dilakukannya itu justru membuatnya semakin tidak bermartabat. Karena ilmu bukanlah hal yang pantas untuk disombongkan, masih ada langit di atas langit, maka diluar sana masih ada orang yang lebih hebat lagi. Menyombongkan diri seperti yang dilakukan oleh cantraka sakti merupakan contoh dari perilaku yang menunjukan bahwa orang tersebut belum ikhlas ketika ia mencari ilmu maupun ketika mendapatkan ilmunya. Yang ia inginkan hanyalah sebatas pujian dari sesamanya atas apa yang ia raih, namun hal inilah yang justru akan membuatnya semakin dipandang rendah dan Allah SWT pun tidak menyukainya. Sebaiknya seperti peribahasa “Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk” semakin tinggi ilmunya semakin rendah hatinya, kalau sudah pandai jangan sombong, harus selalu rendah hati

    ReplyDelete
  10. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Ikhlas itu adanya dalam hati, bukan hanya dalam ucapan saja. Ikhlas itu yang mengetahui hanya seseorang itu sendiri dan Allah. Seseorang yang memiliki ilmu, kedudukan, bahkan pangkat tinggi jika tidak memiliki sikap ikhlas maka bahaya bagi dirinya. Karena akan menjerumuskan kepada sikap riya' dan sombong.
    Banyak orang yang berkata ikhlas itu penting, namun nyatanya mereka tidak bisa melakukannya. Tidak pandang kekuasaan, kekayaan, pangkat. Semua orang perlu untuk ikhlas hati dan pikiran dalam berbuat kebaikan, khusunya beribadah. Karena dapat menghantarkan kita menuju ridlo Allah semata.
    Selain itu, jika hati dan pikiran kita ikhlas maka semua ibadah yang kita lakukan hanya untuk, keada, dan karena Allah. Hati dan pikiran kita akan terasa damai dan tentram tanpa dihantui oleh rasa pamer atau sombong kepada selain Allah. Oelh karena itu, hendaknya kita semua introspeksi diri masing-masing apakah hati dan pikiran kita sudah ikhlas?

    ReplyDelete
  11. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Dari elegi 4 di atas, Cantraka Sakti yang diibaratkan sebagai golongan orang-orang yang masih memandang segala hal dengan materi duniawi. Ilmu tinggi yang ia dapatkan menjadikan ia sombong. Karena keikhlasan mencakup arti yang luas, misalkan ketika ditegur untuk saling toleransi kepada sesama kita harus ikhlas, ketika kita ditegur agar melakukan ibadah dalam keadaan bersuci maka kita harus ikhlas. Namun apabila sudah ada perasaan menolak untuk itu, bahkan disertai amarah, maka hal demikian menjadikan kita termasuk ke dalam golongan orang yang belum ikhlas.

    ReplyDelete
  12. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasar elegi ini saya mengambil sebuah nilai tentang keikhlasan harus disertai dengan kerendahan diri. Bagaimana kita meninggalkan segala macam kedudukan dan gelar, untuk mengejar ridho Allah SWT. Seperti dicontohkan dalam elegi tersebut, betapa kesombongan dapat mematikan seseorang, menjadikan seseorang tersebut gagal dalam mendalami apa itu ikhlas. Jadilah manusia yang semakin berilmu semakin sadar akan ketidak tahuannya, betapa banyak hal yang tidak dia ketahui sebelumnya, betapa ia mensyukuri pengetahuan yang ia dapat sekarang, betapa ia merasa masih belum cukup atas ilmunya dan sadar pasti banyak hal lain yang belum ia ketahui sekarang.

    ReplyDelete
  13. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Ikhlas adalah sesuatu yang sulit dilakukan bagi sebagian manusia yang belum memahami benar apa itu ikhlas. Niat dari hati yang tulus adalah kuci munculnya keikhlasan dalam diri. “Cantraka Sakti”, adalah salah satu contoh seseorang yang yang memiliki ilmu yang tinggi dibandingkan yang lain. Seseorang yang merasa bahwa menomor satukan ilmu yang berdasar pada rasio, yaitu sesuatu yang dapat diterima dengan akal. Perbuatan yang dilakukan “Cantraka Sakti” tersebut mengindikasikan bahwa sifat sombong telah menyerang hatinya.. Senantiasa membanggakan dirinya lebih dari yang lain. Berbicara dengan orang lain tanpa menghargai ataupun menghormati. Merasa mempunyai ilmu yang lebih tinggi sehingga dapat melakukan sesuatu sesuai keinginannya. Apabila hati sampai sakit atau terkotori maka perlulah diobati.

    ReplyDelete
  14. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Perilaku Cantraka yang mengagung-agungkan latar belakang pendidikannya dan melakukan sesuatu semau hatinya tanpa memperhatikan syariat-syariat dalam melakukan ritual ikhlas ini. Yang akhirnya menyebabkan cantraka sakti belum lulus pada sesi ini. Menyiratkan makna yang sangat dalam terkait salah satu penyakit hati yang disebut sombong. Kita kembali diingatkan betapa berbahayanya salah satu penyakit hati ini yang secara sadar ataupun tidak akan melahap segala amal perbuatan kita, sehingga akhirnya akan habis tak bersisa.

    ReplyDelete
  15. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Terima kasih atas ilmu yang disampaikan dari elegi yang mengandung banyak makna ini. Salah satu hikmah yang dapat saya terima yaitu janganlah mejadi orang yang sombong ketika ingin mendapatkan ilmu, tidak hanya ketika menuntut ilmu, ketika beribadah, ketika berbicara kepada orang janganlah kita sombong. Karena sombong adalah sifat syetan yang mengakibatkan ia dikeluarkan dari surga. Ya dalam elegi kita melihat bahwa masih saja orang yang sombong akan jabatannya, kedudukannya, sekolahnya, pangkatnya. Padahal yang utama, yang dilihat oleh Allah itu adalah keikhlasan seseorang melakukan sesuatu ibadah. Semoga dengan ini kita senantiasa disadarkan agar tidak sombong dan senantiasa ikhlas dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  16. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini yang kami pahami adalah dalam beribadah hendaknya kita melepaskan predikat keduniawian. Cantraka Sakti menggambarkan orang yang sangat bangga dengan prestasinya sebagai seorang lulusan universitas ternama di luar negeri, sehingga dia tidak menghiarukan arahan dari petugas yang dia pandang pendidikannya lebih rendah dari dirinya. Dia juga membawa kebiasaannya selama di luar negeri tanpa memperhatikan aturan, dan adab dalam beribadah. Sehingga Cantraka Sakti tidak mencapai keikhlasan yang diharapkan.

    ReplyDelete
  17. Junianto
    PM C
    17709251065

    Begitu sulitnya bersikap ikhlas, bahkan dalam belajar ritual ikhlas pun harus ikhlas. Apalagi menerapkan ikhlas dalam kehidupan. Kalau belajar ritual ikhlas saja belum bisa ikhlas, tentu untuk menerapakan dalam kehidupan juga akan mengalami kesulitan. Maka dari itu, ikhlas itu dalam segala hal bukan di satu aspek saja. Dalam belajar pun harus ikhlas baik ikhlas hati, ikhlas pikiran dan ikhlas perasaan. Apalagi manusia hanyalah seorang hamba yang lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya kekuatan dari Tuhan. Jadi, sudah sepantasnya kalau manusia selalu melaksanakan kebaikan hanyak untuk mengharap ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  18. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Meskipun kita memiliki pangkat di dunia, derajat yang tinggi di dunia, tetapi ketika kita tidak berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan bertaqwa yaitu menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka kita bagaikan angka 0 yang akan ditata terus menerus, 000000000000000000000, maka hasilnya akan 0. Tetapi ketika kita menghadirkan Allah di setiap langkah perbuatan kebaikan kita artinya kita menambahkan angka 1 sehingga aktivitas kita bisa lebih bermakna.

    ReplyDelete
  19. Hal lain seperti, ketika kita suka melakukan suatu kebaikan dan membicarakannya kepada orang lain. misalnya "aku ikhlas kok menolong dia. ya semoga saja nanti dia .......",, ikhlas ini terkadang menjadi salah arti, karena ikhlas dekat dengan pamrih. Ikhlas itu meniatkan apa yang kita lakukan hanya karena Allah semata, bukan ikhlas yang diikhlas-ikhlaskan, atau terpaksa ikhlas.

    ReplyDelete
  20. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Kesombongan adalah hal yang sangat tercela. Sudah banyak kejadian yang mengingatkan kita tentang buruknya perangai sombong itu. Iblis pun didepak dari surga Allah karena kesombongannya dan menganggap derajatnya lebih tinggi darpada Adam as sehingga ia tidak sudi menuruti perintah Allah SWT untuk sujud padanya. Contoh di sekitaar kita pun tidak sedikit. Betapa banyak orang yang membangga-banggakan kekayaannya kemudian jatuh miskin seketika. Mereka tidak sadar bahwa kekayaan yang ia miliki hanya titipan Allah yang sewaktu-waktu dapat dicabut kenikmatan itu darinya.

    ReplyDelete
  21. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ilmu yang telah dibagikan. Menyenangkan sekali membaca elegi ini. Senang, karena dengan ini saya belajar. Berawal dengan pemutaran ulang peristiwa-peristiwa di masa lalu saya, di mana ikhlas memang betul-betul sulit untuk direalisasikan, meski sudah berupaya seikhlas-ikhlasnya.
    Pada elegi ini, saya melihat ada kesombongan. Ya, ternyata kesombongan dan keangkuhan yang menghalangi kita menggapai iklhas. Dalilnya tidak sesuai rasio. Menurut saya, tidak semua hal harus dirasiokan. Maksudnya, bukan kah kita harus berfikir yang ada dan yang mungkin ada? Tapi sejujurnya, saya pernah berada di fase itu, atau jangan-jangan saat ini masih seperti itu? Sombong, mengerikan sekali, bukan? Datangnya tiba-tiba, bertindak semenan-mena, merusak segalanya? Astaghfirulloh

    ReplyDelete
  22. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Ikhlas itu menerima, berserah diri, dan diawali dengan niat yang baik, niat memang ingin ikhla. Ikhlas itu di dalam hati bukan di mulut. Maka sebenar-benar ikhlas adalah lihat di hati kita masing-masing. Jadi, jika kita belum ikhlas dalam suatu hal, tengoklah pada hatimu. Jika kita belum ikhlas, tengok kembali niatmu. Dan jika masih belum ikhlas, maka bersabarlah, karena ikhlas itu mengiringi orang-orang yang sabar. Kemudian gunakan kesabaranmu untuk merefleksikan diri kenapa masih juga hati kita belum ikhlas, maka perkuat iman dan taqwamu, niscaya Allah akan memberi jalan menuju keikhlasan.

    ReplyDelete
  23. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum Prof,
    Elegi ini menarik sekali. Secara tidak langsung elegi ini mengingatkan bahwa ikhlas ikhlas tidak diukur dari kecerdasan atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi ikhlas itu berasal dari hati. Dalam elegy ini dikisahkan seorang cantraka sakti yang belajar ikhlas hanya karena mengisi waktu luang, tanpa niat lillahita’ala. Selama belajar ikhlas, ia tak mau mengikuti seperti apa yang dituntunkan, ia selalu membangga-banggakan ilmunya dan menganggap bahwa dengan ilmu yang dimilikinya itu ia bisa mendapatkan segalanya, ia mengedepankan gengsinya dan merasionalkan segalanya, ini semua menandakan bahwa ia masih belum ikhlas.

    ReplyDelete
  24. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi ini memperlihatkan bahwa kecerdasan, pangkat yang tinggi dan harta yang banyak tidak menjamin seseorang memiliki hati yang ikhlas. Cantraka Sakti merupakan contohnya. Kecerdasan dan jabatannya tidak membuat ia bisa mengikuti aturan yang ada. Ia meremehkan aturan yang dibuat oleh orang-orang yang melaksanakan ritual ikhlas. Selain itu niatnya tidak sungguh-sungguh dalam mengikuti ritual ikhlas ini karena menurutnya ia datang karena tidak sengaja saja dan ada niat lain yakni mencari job atau pesanan karya ilmiah. Hati yang tidak ikhlas akan memandang semuanya terasa sulit dan ribet untuk dikerjakan, seperti Cantraka Sakti yang memandang rangkaian ritual ikhlas ini terlalu banyak aturan dan tetek bengek. Dengan demikian, ikhlas tidak memandang harta dan jabatan, semuanya bisa memiliki hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  25. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualakum wr wb.
    Setelah saya membaca elegi ini, masih ada terselip sifat kesombangan sebagaimana yang diperankan oleh cantraka sakti.Dia mengganggap dirinya lebih hebat dan tinggi hingga tidak menerima nasehat dari Santri Petugas ang lebih kecil darinya.Faktor kesombongan inilah yang menjadi penghalang seorang hamba untuk menggapai ridho Allah SWT di dalam melaksanakan ritual ikhlas.Di sisi lain maaf jika saya salah memahami,Saya juga menangkapa bhwa tidak selamanya rasio harus dikedepankan.Mungkin adakalanya rasio memiliki masa.Tapi ketika rasio dihadapkan pada aturan Tuhan.Semestinya rasio bisa ditundukkan.

    ReplyDelete
  26. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Itulah sebenar-benar orang yang belum mendapatkan hiyah Allah. Itulah sebenar-sebenar hati yang gelap. Selalu membangga-banggakan urusan duniawi yang dimata Allah itu tidak ada apa-apanya. Urusan dengan Allah dan spiritual tidak ada kaitannya sama sekali dengan seluk beluk pendidikan, jabatan, harta. Membuang angin memang sehat, tetapi haus sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika tidak sesuai dengan ruang dan waktunya tidak bisa ditolerir itu sebagai alasan kesehatan. Dasar Cantraka Sakti Cantraka Sakti, semoga Allah cepat memberikan hidayah padamu.

    ReplyDelete
  27. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Judul elegi ini membuat saya tertarik untuk membacanya. Ini merupakan kelanjutan dari bacaan saya sebelumnya. Saya sendiri juga masih dalam keadaan belum ikhlas. Saran dipenghujung ulasan ini begitu membuka jalan keluar bagi saya untuk mengobati hati yang kotor saat ini. Semoga Allah dapat terus membimbing saya kepada sikap sabar dan tawakal. Aamiin.

    ReplyDelete
  28. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan elegi ritual ikhlas 4 ini, saya memahami bahwa ikhlas itu bukan hanya dari yang terucap saja melainkan ikhlas itu bersumber dari dalam hati. Jika seseorang telah mengklaim bahwa dirinya ikhlas, maka itu belum tentu bisa disebut ikhlas. Karena mungkin saja ia hanya memberi pencitraan terhadap orang lain bahwa dirinya ikhlas. Banyak hal sebenarnya yang menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam ketidakikhlasan, salah satunya adalah sifat sombong.
    Seperti yang dikisahkan di dalam elegi ini bahwa Cantraka sakti, seorang lulusan luar negeri yang memandang segala hal itu bersifat duniawi. Ilmu yang telah ia dapatkan menjadikannya sombong, sehingga membuat ia lalai terhadap ibadahnya. Untuk itu, pasanglah niat ikhlas ketika memulai segala sesuatu agar mendapat ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Setiap manusia lahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada orang yang ahli dalam berpikir, namun hati tidak sampai pada spiritualitas. Menjadi manusia hendaknya kita masih memiliki waktu untuk terus memperbaiki diri. Setiap kekurangan yang ada pada diri manusia hanya bisa untuk diminimalisir dengan menyeimbangkan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  30. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Dalam setiap kegiatan yang dilakukan pasti terdapat cobaan. Entah dari faktor luar maupun dalam diri kita. Cobaan atau halangan dari faktor luar mudah untuk diatasi, tetapi jika hambatan itu datang dari diri sendiri maka tak ada satu orang pun yang dapat membantu mengatasi kecuali orang itu sendiri. Rasa malas, kikir, sombong, dan semena-mena adalah hambatan dari diri sendiri dalam kegiatan Ritual Ikhlas. Jika tidak diselesaikan, maka Ritual Ikhlas yang dijalankan akan gagal.

    ReplyDelete
  31. Indah Purnama Sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Sombong akan ilmu yang sudah digapai bagaikan penghapus ilmu itu sendiri. Allah sangat benci akan org org yang sombong. Kesombongan hanya akan merusak apa apa yang sudah kita lakukan. Baik itu amal perbuatan dan amal ibadah. Apa yang harus disombong jika nanti meninggal hanya amal yg kita bawa bukan ijazah atau harta yang kita cari selama didunia. Maka dari itu Allah menyuruh hambanya untuk bersikap adil. Seimbang antara akhirat dan dunia. Dan apapun yg kita lakukan didunia semata mata hanya untuk mengharap keridoan Allah SWT. Baik itu dalam mencari ilmu maupun perbuatan lainnya. Dan Puncak dari segala ilmu ialah kesopanan. Ketika kita berilmu tapi tak tau adab dan aturan maka itulah seburuk buruknya si sombong. Karna dia tidak bisa mengakyualisasikan ilmu nya kedalam kehidupan sehari-harinya.
    Semoga kita semua dijauhkan oleh hal hal yg berbau kesombongan tsb.

    ReplyDelete
  32. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Terima kasih prof atas tulisan yang dibuat. Dari tulisan ini saya mengambil sebuah pelajaran bahwa dalam melaksanakan sebuah ibadah, seperti misalnya ritual ikhlas ini, kita harus menjauhkan diri kita dari sifat sombong, karena bila dalam diri kita masih menyisakan sifat sombong, maka kita tidak akan pernah mampu beribadah dengan baik. Kita tidak akan pernah bisa mencapai keikhlasan.

    ReplyDelete
  33. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Untuk menggapai keikhlasan tentunya dibutuhkan niat yang tulus. Keikhlasan itu memang sulit, maka dari itu kita harus belajar, dan ketika belajar kita harus menetapkan niat kita. Selain itu untuk belajar ikhlas kita harus dapat menyingkirkan penyakit hati yang ada didalam hati kita. Cantraka sakti dinyatakan belum lulus elegi ritual ikhlas disebabkan karena penyakit hati yang ada yaitu sombong dan riya. Penyebab penyakit hati adalah tiada beriman kepada Tuhan dan banyak berbuat kesesatan. Orang yang hatinya sakit akan mudah digoda setan yang menjerumuskannya kepada perbuatan dosa dan kedzaliman. Sebaliknya orang yang senantiasa membersihkan hatinya akan tampil sebagai seseorang yang mukhlis, yaitu orang yang ikhlas dalam menjalankan ibadah dan semua aktivitas kehidupan

    ReplyDelete
  34. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Di hadapan Allah, segala makhluk memiliki derajat yang sama. Allah tahu seluk beluk hati kita semua termasuk saya. Tidak peduli pangkat, gelar, profesi, posisi sosial. Apatah semua itu di hadapan Allah? Allah melihat hati, bukan segala perolehan dunia. Allah melihat isi hati, bukan wadah penampilan kita dan segala perhiasan fana yang kita kenakan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  35. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Terus belajar dari elegi-elegi yang saya baca. Hampir disetiap elegi selalu ada unsur kesombongan untuk kita ambil sebuah pelajaran. Dimana kesombongan adalah akar dari sikap negatif yang tumbuh didalam hati. Penyakit hati lebih tepatnya bisa dikatakan, dimana penyakit tersebut sudah dikuasi oleh syaitan, sungguh hanya Allah lah yang dapat menolong orang-orang yang terkena penyakit hati tersebut. Semoga kita semua dapat terhindar dari penyakit hati dan termasuk orang-orang yang bertaubat.

    ReplyDelete
  36. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Beribadah bukan coba-coba. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan. Beribadah adalah bukti seseorang mendambakan kasih sayang Allah SWT, menyerahkan waktu dan hatinya untuk mendekatkan diri. Dalam elegi ini, Cantraka Sakti sudah salah menempatkan niatnya ketika mengikuti ritual ikhlas. Ia malah menambah buruk dengan menyombongkan dirinya. Hendaknya ketika menjalani ibadah, kita menyadari sejauh apapun kita belajar, kita tetaplah hamba di mata Allah sehingga kita hrs selalu rendah diri dan tidak sombong.

    ReplyDelete
  37. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kesombongan pada diri seseorang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Bagi diri sendiri, kita jadi merasa bangga dan puas dengan diri sendiri, sehingga kita lupa bahwa diatas langit masih ada langit, seperti juga kisah nabi musa dengan nabi kidzir. Orang sombong biasanya menyombongkan kesuksesannya baik ilmu, harta, jabatan, dll. Namun ada juga orang yang tidak sukses-sukses amat namun sangat menyombongkan dirinya. Kesombongan yang terus dipupuk dalam diri bisa menjadi watak bagi seseorang. Hati-hati, maka dari itu kita harus memegang konsep ilmu padi, semakin sukses maka semakin rendah hati, ditambah dermawan kepada sesama.

    ReplyDelete
  38. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Kesombongan dapat menghalangi ilmu dan kebaikan. Belajar ikhlas bukanlah seperti belajar magister di perguruan tinggi. Ikhlas itu terletak di dalam hati, sedangkan akal terletak di dalam pikiran. Ujian ikhlas bukanlah seperti ujian akal. Akal yang pandai pun belum tentu memiliki hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berzikir dengan suara diperlemah akan lebih meresap ke dalam jiwa jika dibandingkan dengan suara diperbesar. Dengan memperlemah suara zikir itu pula semakin membuat kita terasa ikhlas dalam melakukannya. Belajar ilmu ikhlas meskipun sudah belajar sampai ke negara lain merupakan hal yang sulit ketika ikhlas itu sendiri belum tertanam di dalam hati. Kesombongan adalah hal yang dihilangkan jika ingin menggapai keikhlasan yang sebenarnya. Semakin berilmu seharusnya manusia semakin rendah hati dan bersikap baik terhadap sesama.

    ReplyDelete