Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 4: Cantraka Sakti belum Ikhlas




Oleh Marsigit

Cantraka Sakti:

Waha sini saudaraku, Cantraka Awam, bagaimana khabarnya? Engkau dari mana kok bisa sampai kesini untuk mengikuti Ritual Ikhlas? BerZikir ya berZikir, tetapi ngobrol itu ya penting.

Cantraka Awam:
Aku dari jauh. Aku kesini memang ingin meningkatkan keikhlasanku dalam beribadat. Oleh karena itu Ritual Ikhlas ini saya anggap peristiwa yang sangat tepat dan sangat baik bagi diriku untuk belajar ikhlas, dengan cara menerima saran perbaikan dari Santri yang sudah pengalaman. Lha kalau kamu dari mana? Kenapa engkau juga datang kesini? Apa Alasanmu?

Cantraka Sakti:
Wha..aku sebetulnya tidak sengaja mengikuti kegiatan ini. Aku sebetulnya sedang menunggu job atau pesanan karya ilmiah saya. Seraya menunggu sembari mengisi waktu saya ingin melihat apa yang terjadi dalam Ritual Ikhlas.

Cantraka Awam:
Bicaramu kelihatan sangat ilmiah apakah engkau seorang Doktor atau Profesor?

Cantraka Sakti:
Oh bukan, cuma aku memang lulusan Cambridge University baru beberapa bulan. Ngomong bahasa Indonesia atau bahasa Jawa saja masih harus belajar. Wah kegiatan ini menurutku sangat menyiksa. Terlalu banyak peraturan, thethek mbgengek. Di luar negeri aku tidak pernah menemui kegiatan semacam ini. Ah buang-buang waktu saja.

Santri Petugas:
Maaf saudaraku, ini saatnya para peserta sedang berZikir. Mohon toleransinya agar bicaranya diperlemah. Atau kalau bisa saya sarankan, daripada banyak berbicara lebih baik memperbanyak amalan-amalannya dengan cara berZikir yang sebanyak-banyaknya.

Cantraka Sakti:
Waha...asem tenan...seorang Master lulusan Cambridge University baru beberapa bulan..ditegur sama lulusan SMP. Ya...ya...ya...saya diam. Hei Cantraka awam...aku membawa segala macam minuman. Ini pilihlah. Engkau akan minum apa? Kesenanganku adalah minum kopi hangat. Wah kopi hangat kaya gini suegernya bukan main...Dhuot..drut..drut. Apalagi habis minum bisa buang angin, wah rasanya sangat lega. Lalu minum lagi..wah badan terasa seger. Apalagi kalau bisa buang angin lagi...demikian itu seterusnya. Itu kebiasaanku selama di Luar Negeri selama bertahun-tahun. Tidak puas kalau minum tidak sambil buang angin.

Santri Petugas:
Maaf Cantraka Sakti...sesuai dengan kebiasaan dan tata cara melaksanakan Ritual Ikhlas, maka minum sambil buang angin itu tidak sopan. Karena setelah anda membuang angin, itu berarti anda tidak suci lagi. Seyogyanya, setelah anda membuang angin, anda harus bergegas mengambil air wudhlu. Jika tidak berwudu maka itu berarti anda minum dalam keadaan kotor. Artinya, Syaitan itu akan masuk bersama minum kopi anda itu.

Cantraka Sakti:
Wuhaeh...baru kali ini saya mendengar peraturan seperti itu. Ketika aku di Luar Negeri, tidak ada masalah itu minum sambil buang angin, sambil tertawa, sambil menari, sambil bernyanyi, bahkan sambil mabuk sekalipun. Masalah kayak gitu kok diurusi, kayak kurang kerjaan saja, mas...mas...Nanti kalau engkau butuh kerjaan lapor saja sama saya.

Santri Kepala:
Bapak ibu semua, setelah beberapa hari kita melakukan Ritual Ikhlas ini, maka sampailah kita pada penghujung acara yaitu acara penutupan. Pada acara penutupan nanti akan ada ceramah mengenai hakekat Ikhlas dan cara memperolehnya. Namun sebelumnya perkenankanlah kami ingin mengumumkan perihal penilaian transenden spiritual kami tentang siapa saja yang akan saya panggil untuk dapat melakukan atau melanjutkan Ritual Ikhlas selanjutnya. Nama-nama berikut yang yang saya panggil mohon agar dapat menuju ke mimbar tengah untuk memperoleh penjelasan lebih lanjut. Sedangkan yang belum dipanggil, mohon agar tetap berada ditempat sampai acara selesai. Nama-nama yang dipanggil adalah: Mahammad Nurikhlas, Siti Nurikhlas, Cantraka Ikhlas, dan Cantraka Awam.

Cantraka Sakti:
Lho...lho...aku kok tidak dipangil? Lho..kanapa? Wah malu saya ...seorang Master Lulusan Cambridge University hanya kayak gini saja kok tidak lulus. Mohon..tolong...wah...panitia? Aku protes..kenapa aku tidak dipanggil? Lho ..jadi aku masih belum dianggap Ikhlas? Bagi seorang Master Lulusan Luar Negeri, rasio itu nomor satu. Aku hanya akan ikhlas kalau sesuai dengan pikiranku. Lha buang angin itu kan sehat, masa' nggak boleh. Itu tidak logis. Bagaimana aku akan ikhlas. Aneh pula alasannya. Apa buktinya Syaitan masuk melalui minuman kopiku. Aku tak merasakan apa-apa itu?

Santri Kepala:
Maaf hanya belum dipanggil saja. Mungkin untuk Ritual Ikhlas selanjutnya nanti Bapak akan dipanggil. Untuk sementara tunggulah di sini dengan sabar dan tawakal.

18 comments:

  1. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 Pend. Mat A 2018

    Dalam postingan elegi tersebut tampak bahwa tokoh cantraka sakti masih membawa hal-hal yang sifatnya duniawi, seperti pangkatnya, kedudukannya, perbekalannya. Cantraka Sakti dikatakan belum ikhlas karena yang pertama belum menjalankan aturan, adab yang diselenggarakan dalam ritual menggapai ikhlas tersebut. Nampak bahwa Cantraka Sakti tidak dapat menempat diri, tidak mempunyai sopan santun karena minum sambil buang angin. Yang kedua dia sombong karena tidak mau belajar, mengumpat dan tidak membaur dengan peserta yang lai. Yang ketiga Cantraka Sakti memaksakan kehendak dan merasa bahwa ia pantas untuk dipanggil. Sebetulnya, menurut saya Cantraka Sakti belum ikhlas karena dia merasa memiliki kekuasaan dan derajatnya tinggi. Ego sebagai seorang Cantraka Sakti.

    ReplyDelete
  2. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dari postingan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa keihklasan tersebut pertama-tama dapat kita lihat dari niatan awal kita, mengikuti segala sesuatunya karena sunguh-sungguh dan semata-mata karena ingin mencapai keridhaan Allah bukan karena ada faktor/ kepentingan lainnya, seringkali rasa sombong atas apa yang telah dimiliki, harta, kekayaan, ilmu, kedudukan , derajat dan pangkat yang membutakan kita sehingga kita sering mengungkit-ungkitnya sebagai kebanggan atas kemampuan kita sendiri, padahal setiap yang kita miliki merupakan sebuat titipan dan ujian bagi kita.

    ReplyDelete
  3. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Kita dapat mengetahui dari elegi di atas bahwa kesombongan dapat meruntuhkan keikhlasan. Keikhlasan dapat dicapai dengan hati yang bersih. Jika dalam hatinya masih ada kesombongan walaupun sekecil apapun bahkan hingga membuatnya tidak sadar bahwa dia telah sombong maka ikhlas tidak akan tertanam dalam hatinya. Hal tersebut mengingatkan kita untuk meniadakan rasa sombong akan apa yang telah kita miliki, baik berupa pangkat, title maupun kedudukan lainnya. Semoga kita senantiasa mengingat hakikat tujuan hidup kita yang sebenarnya, darimana kita berasal dan kemana kita kembali, agar dapat mensyukuri segala hal yang kita miliki dalam keadaan berdzikir (mengingat) Allah SWT

    ReplyDelete
  4. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Cantraka Sakti belum bisa berbuat ikhlas. Ia masih sering protes, mengeluh, bahkan membantah apa yang sudah diajarkan padanya. Ia masih sering membandingkan apa yang dia lakukan dalam acara ritual ikhlas tersebut dengan kebiasannya ketika berada di luar negeri. Apa yang dilakukannya masih belum didasari oleh rasa ikhlas. Cantraka sakti malah masih cenderung agak sombong dengan statusnya yaitu seorang Master lulusan Cambridge University. Hal ini akhirnya membuatnya untuk lebih lama mengikuti acara tersebut agar benar-benar dapat berbuat ikhlas. Diharapkan dengan ia masih mengikuti kegiatan ritual ikhlas tersebut dapat merubah kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan yang lebih baik dan bermanfaat. Oleh karena itu, untuk dapat lanjut pada tingkata keikhlasan yang lebih tinggi maka perlu adanya kerja keras dalam menggapai keikhlasan yang diinginkan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Untuk Ikhlas tidak perlu dari lulusan Cambridge University, tidak harus doktor maupun profesor. Tapi cukup dengan membunuh segala ego dan kesombongan lalu menundukkan dan merendahkan hati dihadapanNya serta meniatkan segalanya hanya semata-mata karena untukNya. Dalam ikhlas juga tidak membedakan antara Siawam dan sihebat. Kadar keihklasan tidaklah diukur dari semua itu, tinggi rendahnya keihklasan seseorang bukan diukur dari tinggi rendahnya pendidikan, jabatan, level, maupun kekuasaan. Tidak berarti bahwa orang lulusan Cambridge memiliki kadar keikhlasan yang lebih tinggi dari orang awam yang hanya lulusan SMP. Terkadang justru karena tingginya pendidikan, level, jabatanlah yang malah membakar habis niat ikhlas kita, dibakarnya dengan sifat sombong dan riya'.

    ReplyDelete
  7. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Keikhlasan masih sulit dilakukan oleh manusia, ada saja alasan yang menjadi penyebab ikhlas masih berat dilakukan salah satunya kebiasaan. Kebiasaan yang terdiri dari bermacam-macam isian dijadikan alasan untuk menunda keikhlasan. tidak mempedulikan kedudukan manusia, ikhlas tetap ikhlas, tidak ada ikhlas yang spesial diberikan kepada manusia yang kedudukannya tinggi. Semua sama rata, karena manusia sama-sama diciptakan dari tanah maka ikhlas sama saja untuk semuanya. Jangan memilih-milih meminta dihormati hanya karena jabatannya lebih tinggi, tetap memandang ke bawah bagaimana dampaknya dan bagaimana dampak positifnya terhadap orang-orang di sekitar.

    ReplyDelete
  8. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Cantraka sakti merupakan seseorang yang cerdas, memiliki intelektual tinggi, dan pandai, itu dibuktikan dengan predikatnya sebagai lulusan universitas terkemuka, Cambrige. Namun, segala kelebihannya tidak diimbangi dengan modal lain yaitu emosional dan spiritual. Cantraka sakti mudah marah, meluap-luap, dan memandang remeh orang lain, itulah tanda bekal emosinya dipertanyakan. Cantraka tidak ikhlas, tidak memahami etika dalam melakukan ritual dan dia tidak menghiraukan kesucian dalam ritual tanda bekal pemahaman agama dia memprihatinkan

    ReplyDelete
  9. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Berdasarkan elegi ritual ikhlas 4, menurut saya Cantraka Sakti belum paham bahwa ritual ikhlas tidak memandang derajat seorang yang lulusan luar negeri. Selain itu, Centraka Sakti yang belum tahu adab dalam menggapai ritual ikhlas yaitu suci dan menghormati sesama dalam emnggapai keridhoan Allah SWT. Dari hal tersebut, semoga kita selalu dalam jalan yang benar dalam menggapai ritual ikhlas pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari elegi tersebut juga, saya dapat belajar bahwa seorang yang mempunyai ilmu tinggi tidak boleh sombong. Karena sesungguhnya orang yang berilmu tetapi sombong sama dengan seseorang tanpa ilmu. Mereka hanya akan membanggakan dirinyatanpa melihat bagaimana sekitarnya. Sombong dalam hati termasuk godaan yang harus dihindari yaitu dengan perbanyak berdoa dengan ikhlas agar terhindari dari sifat sombong seperti Centraka Sakti.

    ReplyDelete
  11. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Saya tersenyum simpul melihat adanya interaksi antara para cantraka dimana ada cantraka yang sudah merasa ikhlas dan ada pula yang belum. Sebagai seorang manusia yang pernah merasa gagal seperti contohnya saya pernah gagal memasuki S1 Pendidikan Matematika di UNY. Tidak mudah bagi saya untuk bisa merasa ikhlas tapi saya berusaha untuk tetap ikhlas hingga sampai saat ini saya bisa berkuliah di UNY tapi dengan jalan yang lain yaitu dengan menempuh pendidikan S2 Pendidikan Matematika di UNY. Bagi saya ikhlas itu adalah yang paling utama sehingga bisa mendapatkan ridha dari Allah SWT.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  12. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Seringkali seseorang mengatakan, “susah untuk ikhlas”. Itu bisa jadi karena dalam berbuatnya belum menjadi kebiasaan. Di saat kita memberi kepada orang lain dan terbersit ada penyesalan atau berpikir-pikir lagi atas apa yang telah dilakukannya, berarti kita belum ikhlas dan kita belum terbiasa dalam memberi. Keikhlasan atau ketulusan bukan hanya dalam memberi tetapi juga dalam menyikapi permasalahan. Permasalahan selalu ada menyertai kita dalam keseharian. Seseorang yang sudah terbiasa menghadapi masalah dengan kepala dingin, maka dapat dengan mudah menghadapinya. Tidak perlu konsep ribet, karena kita sudah terbiasa dan kita sudah ikhlas dengan apa yang diperbuat.

    ReplyDelete
  13. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Dalam percakapan diatas, cantraka sakti masih berpegang pada egonya. Ia tetap membanggakan dirinya meskipun apa yang ia lakukan bukan hal yang benar, cantraka sakti belum mampu mengikuti ritual ikhlas yang diadakan pada kegiatan untuk bermuhasabah diri tersebut. cantraka sakti belum benar-benar mampu memahami bagaimana seharusnya melakukan ritual ikhlas itu. ia belum bisa membedakan kepentingan duniawi dan akhirat, sehingga egonya masih mendominasi untuk berpusat pada kepentingan duniawi. Cantra sakti merupakan seorang lulusan universitas ternama di dunia, namun disini ia belum bisa mengikuti ritual ikhlas yang sebenarnya. Hal ini membuktikan bahwa antara dunia dan akhirat adalah hal yang berbeda. Ikhlas tidak memandang siapa ia, bagaimana derajatnya, apa golongannya, serta apa jenis kelaminnya. Ritual ikhlas dapat dilakukan oleh semua orang yang benar-benar ingin menyerahkan dirinya kepada Rabbnya.

    ReplyDelete
  14. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi ini menarik sekali. Secara tidak langsung elegi ini mengingatkan bahwa ikhlas ikhlas tidak diukur dari kecerdasan atau seberapa banyak ilmu yang dimiliki, tetapi ikhlas itu berasal dari hati. Dalam elegy ini dikisahkan seorang cantraka sakti yang belajar ikhlas hanya karena mengisi waktu luang, tanpa niat lillahita’ala. Selama belajar ikhlas, ia tak mau mengikuti seperti apa yang dituntunkan, ia selalu membangga-banggakan ilmunya dan menganggap bahwa dengan ilmu yang dimilikinya itu ia bisa mendapatkan segalanya, ia mengedepankan gengsinya dan merasionalkan segalanya, ini semua menandakan bahwa ia masih belum ikhlas

    ReplyDelete
  15. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Artikel ini menunjukkan seberapa tinggi kedudukan, pendidikan dan yang lainnya, kedudukan kita akan tetap sama di mata Allah. Yang membedakan hanya amal dan ibadah. Lulusan terbaik sekalipun, seringnya sholat 5 waktu, jika masih ada kesombongan dalam diri sendiri, maka nilainya akan berkurang di mata Allah.

    ReplyDelete
  16. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Terungkap sudah apa yang terjadi dengan Cantraka Sakti.
    Ilmu dan agama harus berjalan beriringan
    Ilmu tanpa agama itu buta, sedangkan agama tanpa ilmu lumpuh
    Dalam elegi tersebut Cantraka Sakti digambarkan sebagai manusia berilmu namun tak beragama. Ia begitu sombong dengan apa yang ia punya, padahal sesungguhnya Allah jua lah yang memberikan semua itu kepadanya. Untuk menuju kepada Allah diperlukan keikhlasan hati yang sungguh-sungguh. Cantraka Sakti melakukan ritual ikhlas hanya karena ingin menyombongkan diri bahwa ia manusia tangguh yang telah melalui berbagai macam rintangan dan menganggap ritual ikhlas adalah sebuah hal yang sepele. Namun, apa yang terjadi, gelar master yang ia peroleh dari Cmbridge University nyatanya tak mampu membawanya mencapai ritual ikhlas. Hal tersebut membuktikan bahwa dimata Allah siapa dan apa yang kamu punya sungguh tak penting. Semua sama dihadapan Allah, hanya keikhlasannya saja yang membedakan mereka satu sama lain.

    ReplyDelete
  17. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Manusia memang seringkali bersikap sombong. Manusia cenderung ingin diakui keberadaanya, diakui kemampuaanya, diakui kehebatannya oleh orang lain. Ini lah salah satu hal yang menyebabkan manusia belum ikhlas dalam beribadah. Seharusnya, dalam beribadah, manusia sudah melepaskan segala hal yang berkaitan dengan duniawi, sudah tak ada lagi sikap ke”aku”an yang dibawa. Beribadah berarti melakukan hubungan vertical dengan Allah, Sang Maha Pencipta, Yang Maha Segalanya. Tiadalah kita tanpa Kuasa-Nya. Tiadalah kita mampu mencapai prestasi-prestasi tertentu tanpa campur tangan-Nya. Untuk itu, tak sepantasnya manusia berlaku sombong. Apalagi sombong di hadapan Tuhannya.

    ReplyDelete
  18. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Ikhlas adalah suatu perasaan dan kondisi dimana seseorang yang sedang melakukan sesuatu dengan penuh ketulusan tanpa mengharapkan balasan apapun. Dalam menjalani kehidupan, kadang kita disuguhi kebahagiaan namun juga terkadang kesedihan. Mungkin pada saat bahagia kita senantiasa dekat kepada Allah selalu bersyukur menyebut nama Allah, akan tetapi terkadang saat kita dalam kesedihan kita lupa akan Allah SWT dan selalu berkeluh kesah. Semoga kita dijauhkan dari sifat suka mengeluh dan senantiasa ingat bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kondisi apapun adalah ketetapan dari-Nya.

    ReplyDelete