Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

46 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dalam mencari pengetahuan, hanya orang-orang yang memiliki hati yang bersih dan pemikiran kritis yang berhasil akan mendapatkan pengetahuan. Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa mendapatkan pengetahuan yang benar jika mereka hanya mencoba untuk mencapai itu, karena ilmu itu sebenarnya hanya milik Allah SWT. Siapa pun yang mencoba untuk mencapai dunia dan akhirat tanpa meraih ridha Allah maka dia akan terancam kematian. Dan kematian dalam artikel ini adalah kematian dalam arti yang luas dan mendalam. Kematian bisa berarti gagal, kematian bisa berarti kesalahan, kematian bisa berarti tidak tahu, kematian bisa berarti sadar, kematian bisa berarti tidak tepat, kematian bisa berarti kesalahan ruang, kematian bisa berarti kesalahan waktu, kematian bisa berarti dosa, kematian bisa berarti panas dari api neraka. Diperlukan beberapa hal yang penting untuk mendapatkan pengetahuan dan tidak semua orang dapat melihatnya dengan langsung. Mereka yang dengan sungguh-sungguh ingin mendapatkan ilmu, akan menjaga ketulusan, kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, dan doa yang selalu dipanjatkan kepada-Nya. Selain itu, kita juga harus memiliki kemauan untuk menjaga hubungan baik dengan guru kita. Semua itu akan menjadi bekal kita dalam memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs Pendidikan Matematika 2016 PM C
    Assalamualaikum wr wb.

    Guru bagi seorang murid adalah ilmu itu sendiri. Maka ambillah ilmu dengan cara yang baik, yaitu dengan ikhlas, jujur, rendah hati, kerja keras, dan berdoa. Agar ilmu tersebut tetap terjaga, maka jagalah silaturahmi dengan guru.

    Tinggalkan kesombongan, karena kesombongan dapat menghalangi ilmu. Berdasarkan tulisan ini sombong itu merasa telah menguasai ilmu, merasa luar biasa, apa lalgi mengaku telah purna ilmunya, merasa memiliki ilmu karena punya pangkat dan jabatan, memandang rendah orang lain, memandang rendah ilmu, bingung tapi tidak mau bertanya.

    ReplyDelete
  3. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika Kelas D

    Dalam menuntut ilmu harus senantiasa dengan niatan ikhlas dan berfikir kritis, menuntut ilmu itu semata-mata hanya untuk mengharap ridha Allah SWT. Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong maka dia tidak akan menjadi seorang pemenang atau bahkan akan mati. karena kesombongan akan menyebabkan sulit untuk memperoleh ilmu ataupun membakar ilmu yang telah diperoleh. Seorang manusia harus mempunyai ilmu dunia maupun ilmu akhirat. Karena ilmu dunia saja belumlah cukup untuk mengantarkan kebahagiaan di akhirat. Oleh karena itu, seseorang hedaknya harus berpikir kritis dan berusaha mencari ilmu agar mendapatkan ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  4. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu'alaikum. menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah, sebab ilmu merupakan pembuka untuk amalan yang lain. Dengan ilmu manusia mengetahui adab beribadah kepada Tuhannya, amalan apa yang harus dilakukan, dan apa-apa saja yang dilarang agamanya. Keikhlasan dalam menuntut ilmu perlu dijaga, agar hakikat dari ilmu itu tidak sia-sia. Jangan sombong dalam menuntut ilmu, karena apa yang diketahui sekarang merupakan sebagian kecil dari apa yang diketahui di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  5. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Elegi “Perlombaan Menjunjung Langit” di atas mengingatkan kita bahwa tidak seorang pun di dunia ini yang mampu mendapatkan yang terbaik dari ilmu pengetahuan, kita hanya bisa mencoba untuk mencapai itu karena ilmu hanya milik Allah. Seseorang yang sombong, akan mengalami kesulitan dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Hanya orang yang memiliki hati yang bersih, menjaga ketulusan dan pemikiran kritis yang berhasil memperoleh pengetahuan. Kita akan dengan mudah mencapai ilmu jika didasarkan dengan sikap keikhlasan, ketulusan, kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, dan doa kita.

    ReplyDelete
  6. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Sesungguhnya menuntut ilmu itu wajib bagi siapapun. Namun untuk mencapai itu semua kita haruslah menjauhkan diri dari sifat sombong karena sombong bisa menjaukan kita dari memperoleh ilmu yang barokah, karena sebaik manusia apapun pangkat dan jabatan kita hendaklah merendahkan diri . Dalam mencari ilmu kita hendaklah berpikir kritis dan selalu bertanya kepada orang yang lebih tahu dari kita, misalnya guru maupun teman yang sudah mengetahui hal yang belum kita ketahui. Ilmu itu bila tidak dicari maka kita tidak akan pernah mendapatkannya maka marilah kita berlomba-lomba dalam menuntut ilmu itu dengan hati yang bersih, penuh rasa ikhlas, pikiran yang kritis dan menjauhi sifat sombong.

    ReplyDelete
  7. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Manusia memang sudah seharusnya selalu belajar dalam hidup, pada lingkungan yang ada di dalam kehidupan sekitar kita. banyak sekali sumber yang dapat kita jadikan tempat belajar, namun kita tidak boleh merasa sombong atas semua ilmu yang telah kita raih. Sebaliknya jika kita sudah merasa banyak ilmu yang sudah kita dapatkan, kita lebih baik membaginya dengan orang lain. Karena sebaik-baiknya ilmu, lebih baik jika ilmu itu dibagikan kepada yang lainnya.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Menuntut ilmu wajib bagi siapa saja. Kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai kapanpun dan dimanapun kita berada, seperti kata pepatah “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Ilmu sangat penting untuk kehidupan kita di dunia dan juga sangat penting untuk kehidupan kita di akhirat kelak. Oleh karena itu kita hendaknya terus mencari ilmu dan tidak boleh cepat merasa puas akan imu yang kita peroleh

    ReplyDelete
  9. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Seseorang harus mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat menuntut ilmu haruslah dilakukan dengan hati yang bersih dan pikiran yang kritis. Selain itu kita juga harus ikhlas dalam menuntut ilmu. Kami akan dengan mudah mencapai ilmu jika didasarkan dengan sikap ketulusan, kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, dan doa yang kita ucapkan.

    ReplyDelete
  10. Ilmu dapat meningkatkan derajat dan kemuliaan seseorang. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya dan gunakan untuk diri sendiri dan bermanfaat bagi dunia pada umumnya. Ilmu dapat menjadi senjata yang mematikan dan merusak tetapi ilmu juga memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Kebaikan ilmu dan keburukannya terletak pada siapa yang menguasai ilmu tersebut. Orang yang berilmu jika dilandasi dengan kesombongan maka ilmu tersebut dapat menjadi merusak tatanan kehidupan. Ilmu dan kepintarannya digunakan untuk mengekploitasi dengan semena-mena sumber alam dan manusia. Dalam mencari ilmu harus dilandasi dengan ekihlasan dan ketaqwaan serta pikiran yang kritis. Dapat memilah dan memilih ilmu untuk kemaslahatan manusia bukan ilmu yang digunakan untuk merusak, membodohi, dan menghancurkan manusia.

    ReplyDelete
  11. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi ritual ikhlas dalam perlombaan menjunjung tinggi langit menceritakan tentang ilmu pengetahuan. Apa yang ada dan apa yang terjadi di dunia ini adalah ilmu, tergantung bagaimana seseorang mengambil atau menyikapinya. Perlombaan menjunjung tinggi langit sendiri memiliki arti bagaimana kita berlomba-lomba untuk menjadikan ilmu pengetahuan kita ini menjadi berguna dan bermanfaat. Jangan pernah sombong akan yang telah kita miliki, karena di atas langit masih ada langit, namun kita harus terus berusaha untuk bisa meraih apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  12. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Hanyalah mereka yang berhati bersih, ikhlas, berpikir jernih dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Janganlah menjadi orang sombong baik dalam proses memperoleh ilmu maupun mempunyai ilmu. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Allah SWT semata. Maka siapa yang berusaha memperoleh ilmu tanpa menggapai Ridho Nya maka dia akan terancam kematian. Kematian yang dimaksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka. Jadilah manusia yang selalu berusaha melengkapi ilmunya atau menambah ilmunya. Salah satunya dengan baca baca baca dengan hati dan pikiran yang ikhlas serta selalu berusaha menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Seseorang hendaknya mempunyai ilmu dunia maupun akhirat. Tetapi berhati hatilah karena ilmu yang tinggi akan membuat seseorang menjadi sombong hingga terjatuh. Pada elegi ini “perlombaan menjujung langit”, sesunguhnya tidak akan siapapun yang mampu menjunjung langit, karena ilmu yang sesungguhnya hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Berlomba-lomba lah dalam hal kebikan, karena Allah sangat suka dengan manusia berlomba dalam hal kebaikan. Kita tahu bahwa Elegi ritual ikhlas dalam perlombaan menjunjung tinggi langit menceritakan tentang ilmu pengetahuan. Apa yang ada dan apa yang terjadi di dunia ini adalah ilmu, tergantung bagaimana seseorang mengambil atau menyikapinya. Perlombaan menjunjung tinggi langit sendiri memiliki arti bagaimana kita berlomba-lomba untuk menjadikan ilmu pengetahuan kita ini menjadi berguna dan bermanfaat. Jangan pernah sombong akan yang telah kita miliki, karena di atas langit masih ada langit, namun kita harus terus berusaha untuk bisa meraih apa yang kita inginkan. Salah satunya adalah ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Setiap manusia wajib berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba menjunjung langit. Namun, harus dilandasi oleh rasa yang ikhlas dan berpikir kritis. Seseorang yang berilmu tidak seharusnya merasa sombong karena dirinya telah menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum cukup, orang juga harus mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Orang yang berilmu adalah orang yang selalu meningkatkan dimensi keilmuannya dan tentu saja harus dilandasi oleh hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Dan sebenar-benar ilmu hanya milik Allah.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016
    Sikap kita terlihat dari seberapa berilmunya kita. Padi semakin berisi semakin merunduk. Begitulah kira – kira pepatah yang seharusnya semakin tinggi ilmu seseorang ia akan mengetahui ternyata masih sedikit ilmu yang diperolehnya, oleh karena itu orang yang berilmu hendaknya semakin rendah hati. Ilmu dapat ditemukan dimana saja, baik itu melalui sang ahli maupun menemukannya sendiri.

    ReplyDelete
  17. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Cantraka yang mengibaratkan manusia yang berkeinginan menjunjung langit, merupakan kesombongan manusia untuk mengklaim bahwa ilmunya adalah yang paling benar. Mengapa ikhlas diperlukan dalam menggapai ilmu? Ketika kita tidak ikhlas, maka ibarat gelas yang penuh, maka diisi air seberapa banyak pun akan tumpah. Maka hendaknya ketika kita ingin belajar, maka ikhlaskan lah hati kita dengan gelas kosong yang siap untuk diisi pengetahuan. Ketika kita sudah menggapai ilmu pun kita harus ikhlas dengan tidak menyombongkan ilmu yang kita miliki. Karena sebenar-benarnya ilmu adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  18. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi diatas memberi pelajaran kepada saya bahwa kita tidak boleh sombong atas prestasi atau pencapaian – pencapaian yang sudah kita raih. Tidak boleh cepat puas dengan ilmu yang sudah didapat, namun terus belajar. Ilmu yang sudah diperoleh juga hendaknya jangan hanya disimpan untuk diri sendiri. Tetapi harus digunakan untuk orang lain juga. Sehingga apa yang sudah kita peroleh akan bermanfaat juga untuk orang lain. Maka dari itu kita harus selalu ingat bahwa ada Tuhan yang lebih berkuasa atas segalanya dari manusia, jadi manusia tidak boleh sombong atas pencapaian yang telah ia terima di dunia ini.

    ReplyDelete
  19. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Menurut saya, kalimat menjunjung langit ini bermakna sama dengan meningkatkan kualitas diri. Kualitas diri juga dicerminkan dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki. Semakin menguasai ilmu pengetahuan maka dapat dikatakan semakin mengingkatlah kualitas dirinya. Namun, tidak hanya sampai di situ. Di balik itu, terkadang manusia menyombongkan dirinya karena merasa telah menguasai ilmu apapun. Sangatlah disayangkan keadaan demikian. Kita susah memiliki keharusan untuk memikirkan urusan akhirat. Maka seseorang telah menjunjung langit ketika memiliki ilmu pengetahuan dan ilmu akhirat.

    ReplyDelete
  20. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Begawat adalah yang berilmu dimana “Kabeh laku kudu dingilmuni (K.H Zainal Abidin)” dan “kabeh ngilmu kudu dilakoni (K.H. Ali Maksum)”. Jika semua amal tanpa ilmu dan semua ilmu tanpa amal maka akan sia-sia. Betapa pentingnya ilmu sedemikian sehingga menuntut ilmu tiada batas, dari lahir hingga akhir hayat. Tiada pernah ilmu itu sudah cukup kita dapatkan tanpa menggalinya lebih dalam, jikalau demikian maka sebenar-benarnya kita telah berlaku sombong karena merasa puas dengan ilmu yang kita dapatkan padahal masih belum seberapa. Yang berhak sombong adalah Tuhan Yang Maha Pemberi Ilmu.

    ReplyDelete
  21. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Langit selalu berada diatas bumi, sehingga setiap orang senantiasa berharap dapat menggapai langit, namun semakin kita menuju langit kita tidak pernah mengagapai ujungnya. Seperti itulah keinginan manusia, tidak pernah ada ujungnya, setelah menggapai tujuan yang satu kita mengharapkan menggapai tujuan berikutnya yang lebih bagus dan tinggi.

    ReplyDelete
  22. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Cantraka:
    Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

    Bagawat:
    Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.
    Dialog ini menegaskan bahwa kita tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang kita punya, rasa cukup tersebut akan membawa kita kepada apa yang disebutkan dalam elegi ini sebagai "Mati" yang sebenarnya bisa diganti dengan apa saja yang tidak baik bagi kita.

    ReplyDelete
  23. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Kesombongan tidak akan pernah mengantarkan kita pada langit kejayaan. Perjalanan untuk mencapai langit memang berat, namun ada beberapa orang yang merasa mampu mencapai namun dengan segala kekurangannya tergelincir kembali ke tanah. Untuk mampu mencapai langit maka dekatlah dengan sang pemilik langit yaitu Allah SWT. Agar walaupun mampu menjunjungnya, kita kembali merasa bahwa hanyalah Dia Si Pemilik Alam.

    ReplyDelete
  24. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam elegi ini menggambarkan orang yang berjuang menggapai ilmu. Segala daya dan upaya dilakukan demi tercapainya cita-cita. Berhati-hati dan berwaspada ika saat berhasil bersikap sombong karena ketercapaian dalam menggapai ilmu. Kita hendaknya tetap rendah hati, jika kita telah memperoleh ilmu. Bersikap ikhlas untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki dan senantiasa mensyukurinya.

    ReplyDelete
  25. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap orang pasti memiliki cita-cita dan berupaya untuk mencapainya. Yang paling penting adalah kita harus dapat mengalahkan penghambat dalam mencapai cita-cita kita dengan cara memiliki ikhtiar untuk selalu bersaing dengan sehat,mengutamakan kejujuran,belajar agar kita menjadi lebih baik,introspeksi diri,mampu menerima kekalahan dengan lapang dada dan selalu berpikir positif dalam menilai sesuatu.

    ReplyDelete
  26. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Perlombaan menjunjung langit berarti bumi sedang berusaha untuk menggapai langitnya. Berdasarkan pemahaman saya dari elegi di atas, menjunjung langit sama halnya seperti manusia berusaha untuk sampai pada tempat yang mulia dan baik, yg dianalogikan seperti langit. Dalam elegi disebutkan bahwa banyak yang mencoba untuk menjunung langit tapi terjatuh dan akhirnya mati. Dan setelah diselidiki, kegagalan tersebut karena kesombongan dirinya sendiri. Seseorang hendak mencapai tempat tinggi, namun dia sudah merasa tinggi, maka jatuhlah ia. Jadi, janganlah menjadi orang sombong, karena kesombongan itulah yang akan menghancurkan semuanya

    ReplyDelete
  27. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Salah satu sifat yang harus dijauhi ketika seseorang akan menjunjung langit adalah ego. Ego yang besar juga akan menyebabkan timbulnya sifat sombong. Syarat lain dalam menjunjung langit ialah kuatnya ilmu dunia dan ilmu hati. Dalam menjunjung langit, fisik seseorang, jabatan seseorang, gelar seseorang tidaklah menjadi hal yang penting. Yang terpenting ialah bagaimana kita ikhlas dalam berusaha dan dalam memohon ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam belajar kita harus menyertakan ikhlas didalamnya. seperti halnya belajar di bangku kuliah ini, saya harus menyertakan ikhlas agar dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat kelak. dengan adanya ikhlas kelak saya dapat memperoleh ilmu dengan lancar, mau menerima ilmu dari siapapun, dan mau untuk mencari ilmu yang belum saya dapatkan.

    ReplyDelete
  29. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menggapai ilmu yang tinggi bukanlah untuk bermegah diri dan menggunakannya untuk merugikan orang lain, melainkan agar ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi kita maupun orang lain. Dengan kata lain, pengetahuan yang telah kita peroleh harus digunakan secara bijak dan jauh dari kesombongan karena ilmu dan pengetahuan yang kita miliki itu tidak akan bermanfaat jika kita tidak membagikannya kepada orang lain.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menganalogikan larangan sifat sombong ke dalam sebuah cerita lomba menjunjung langit. Berbagai peserta pengikut lomba ternyata gagal akibat kesombongannya, bahkan mereka semua mati. Ada seseorang yang akan mengikuti lomba. Karena ia merasa ilmunya belum cukup, maka ia mengurungkan niatnya dan kembali berguru kepada begawat. Ia bercerita kepada guru tersebut bahwa ia belum pantas, kurang ilmunya, dan lain sebagainya. Tak disangka, ia pun menjadi seorang juara, karena keikhlasan, kejujuran, rendah hati, kerja keras, doa-doa, serta kemauannya untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-guru. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung," (Al-Isra': 37). Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri," (Luqman: 18). Ayat tersebut mengingatkan kita untuk tidak sombong, selalu ikhlas, dan semangat menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  31. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Tentu saja sombong tidak semata bermakna arogan, congkak, atau pongah, terutama dalam bersikap dan berkata-kata. Sombong bisa pula berarti menghargai diri secara berlebihan. Kesombongan demikian membuat seseorang secara tidak patut merasa dirinya paling penting dan paling unggul, barangkali karena kecantikan, ras, status sosial, bakat, atau kekayaan. da banyak jenis penyakit yang hinggap di tubuh kita. Baik penyakit yang terlihat secara fisik ataupun yang tersembunyi di balik relung hati makhluk Allah yang bernama manusia. Di antaranya adalah sifat sombong. Banyak fenomena kesombongan yang terjadi di sekitar kita bahkan mungkin kitalah salah satu pelakunya. Sombong adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan karena obatnya ada pada diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  32. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sombong karena memiliki harta yang berlimpah. Yang membuat kita lupa daratan dan berbangga dengan apa yang kita punya. Sehingga menimbulkan sikap kurang berkenan kepada orang yang kurang mampu padahal Allah telah berfirman bahwa dunia dan kemewahannya hanyalah amanah dan hanya perhiasan belaka pada pandangan orang-orang kafir sehingga mereka berlagak sombong dan memandang rendah orang yang beriman. Padahal orang yang bertakwa (dengan imannya) lebih tinggi (martabatnya) daripada mereka kelak. Dan ingatlah Allah memberi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki dengan tidak terkira.

    ReplyDelete
  33. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 26. Elegi ini menyampaikan kepada kita tentang kesungguhan dalam menuntut ilmu. menuntut ilmu itu tak terbatas ruang dan waktu, tak terbatas juga pada usia. Dalam prosesnya kita harus menghindari sikap sombong dan sikap merasa telah mengetahui banyak hal, sedang pada kenyataannya ilmu yang kita tau hanyalah setetes air diluasnya lautan. ketika kita sombong atau merasa sudah memiliki ilnu berleebih justru hal tersebut akan membatasi kita untuk belajar dan tau lebih banyak. dalam elegi ini digambarkan dengan gagalnya menjunjung langit. Namun cantraka yang merasa bodoh justru diberikan titah oleh sang begawat nenjadi pemenang lomba menjunjung langit.

    ReplyDelete
  34. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sepandai - pandainya manusia adalah dia yang memiliki ilmu. Ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Bukan hindarilah perbuatan kesombongan. Setinggi-tingginya ilmu seseorang ia tidak akan pernah sombong. Mengapa? Karena ia mengetahui bahwa ilmu itu luas, tanpa batasan, dan saling berkaitan antar ilmu lain. Karena keterbatasan ruang dan waktu maka ia tidak bisa mempelajari semua ilmu tersebut. Jadi semakin orang tinggi ilmunya, maka ia akan merasa masih sedikit ilmu yang dipunyainya.

    ReplyDelete
  35. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menuntut ilmu haruslah dilakukan dengan hati yangbersih dan pikiran yang kritis. Selain itu kita juga harus ikhlas dalam menuntut ilmu. sebagai seorang muslim kita dalam melakukan apapun semata mata adalah untuk mencari ridha Allah. Karena kalau kita mencari dunia dan akhirat tanpa berharap ridha Allah maka kita akan terancam mata dalam arti luas. Dari elegi ini saya belajar bahwa Kita tidak boleh sombong. Karena somong qkqn menyebabkan kita akan sulit memperoleh ilmu dan membakar apa yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  36. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perlombaan menjunjung langit diibaratkan sebagai sebuah sayembara yaitu berlomba-lomba dalam mencari ilmu. Dalam mencari ilmu, dibutuhkan seseorang yang mempunyai hati yang ikhlas dan mampu berpikir kritis. Jika mencari ilmu dilakukan dengan terpaksa, merasa terbebani dan tidak ikhlas maka usaha kita dalam mencari ilmu merupakan hal yang sia-sia karena kita tidak akan memperoleh ilmu. Oleh karena itu, keikhlasan hati diperlukan agar Allah SWT memudahkankan segala urusan kita seperti dalam mencari ilmu demi menggapai ridho-Nya.

    ReplyDelete
  37. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh. Itulah ibarat orang sombong yang tidak menambah ilmu. Maka dalam kehidupan harus terus belajar tentang ilmu dunia dan akherat sehingga tidak aka nada yang terlewatkan. Haruslah seimbang karena kedua hal tersebut saling menguatkan. Dan janganlah membanggakan dunia dan gunakan ilmu dunia untuk mencapai kebahagiaan akherat. Dengan cara mengutkan hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  38. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kesombongan dan ego akan menggagalkan kita dalam mencari ilmu. Dalam mencari ilmu, diperlukan keikhlasan hati dan pikiran yang kritis. Apabila ada keikhlasan dalam hati kita, maka Allah akan memberikan ridho kepada kita sehingga kita akan mendapatkan kemudahan dalam mencari ilmu ilmu tersebut. oleh karena itu, agar kita dapat memperoleh ilmu yang sesungguhnya maka kita harus menumbuhkan keikhlasan dalam hati kita dan juga pikiran yang kritis.

    ReplyDelete
  39. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Berdoalah selalu kepada Allah SWT, karena dalam doa sesungguhnya kita dapat mencurahkan segala kegundahan yang ada di dalam hati kita kepadaNYA. Kita dapat mendengarkan suara hati suci kita apabila dalam berdoa dan beribadah kita senantiasa hanya fokus kepada Allah SWT, dan waktu-waktu setelah tengah malam dan menjelang subuhlah merupakan waktu yang sangat baik bagi kita untuk mencapai kekhusyuan dalam beribadah. Setiap manusia tentulah menginginkan kebaikan-kebaikan selalu menyertainya, tetapi dalam rangka menggapai kebaikan-kebaikan tersebut terkadang manusia lupa dan menganggap bahwa dirinya sudah mencapai kebaikan tertinggi, padahal anggapan seperti itulah yang sangat dekat terhadap kesombongan, dan kesombongan menyebabkan dirinya tidak dapat mencapai kebaikan dan kebenaran yang sejati yang berasal dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  40. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dunia ada di pikiran kita. Seluas dunia maka seluas pikiran kita juga. Dunia juga akan mengikuti persepsi kita juga. Mencari ilmu perlu ilmu lain yang mendukung, begitu juga hidayah. Dengan ikhlas maka hal tersebut akan mudah dicapai

    ReplyDelete
  41. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Bekal dalam menuntut ilmu adalah ikhlas dan berusaha mengembangkan kemampuan berpikir kritis, dan meniatkan bahwa belajar dilakukan untuk mengharap ridho Allah SWT semata. Yang penting dari mencari ilmu adalah, carilah ilmu secara seimbang, ilmu dunia dan ilmu akhirat. Karena keduanya akan mendukung kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak

    ReplyDelete
  42. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam mencari ilmu atau pengetahuan, hendaknya manusia itu berada pada hati yang bersih. Sehingga ia merasa ikhlas dan legowo dalam menerima pengetahuan baru itu. Selain itu juga memiliki pikiran yang jernis, maksudnya mampu berpikir kritis. Dan jangan merasa sombong karena ilmu itu luas tidak terbatas. Jika kita sudah mendapatkan ilmu baru maka masih ada ilmu lain yang belum kita pelajari.

    ReplyDelete
  43. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keikhlasan akan membuat kita merasa ringan dengan beban yang kita terima. Maka sebesar-besarnya beban adalah mengikhlaskan. Keikhlasan adalah sesuatu yang sederhana tetapi sangat sulit untuk melaksanakan.

    ReplyDelete
  44. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjunjung langit adalah ibarat amanah dan beban yang kita terima, maka langit akan terasa ringan jika kita ikhlas dengan amanah yang kita terima dan kita emban. Tetap merasa rendah hati agar tidak sombong dengan amanah kita.

    ReplyDelete
  45. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Elegi ini menceritakan tentang kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, tanpa ada kesombongan didalamnya. Jika kita bersifat sombong kepada dunia, maka dunia akan sombong pula kepada kita, begitu pula sebaliknya. Maka hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepadaNya.

    ReplyDelete
  46. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menuntut ilmu akan terasa ringan dan mudah jika kita berniat karena Allah. Kita perlu menjauhkan sifat sombong pada diri. Orang yang memiliki rasa sombong pada akhirnya akan jatuh karena kesombongannya. Karena itu untuk beribadah dan menuntut ilmu perlu ikhlas karena Allah SWT

    ReplyDelete