Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

33 comments:

  1. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keikhlasan akan membuat kita merasa ringan dengan beban yang kita terima. Maka sebesar-besarnya beban adalah mengikhlaskan. Keikhlasan adalah sesuatu yang sederhana tetapi sangat sulit untuk melaksanakan.

    ReplyDelete
  2. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjunjung langit adalah ibarat amanah dan beban yang kita terima, maka langit akan terasa ringan jika kita ikhlas dengan amanah yang kita terima dan kita emban. Tetap merasa rendah hati agar tidak sombong dengan amanah kita.

    ReplyDelete
  3. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Elegi ini menceritakan tentang kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, tanpa ada kesombongan didalamnya. Jika kita bersifat sombong kepada dunia, maka dunia akan sombong pula kepada kita, begitu pula sebaliknya. Maka hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepadaNya.

    ReplyDelete
  4. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menuntut ilmu akan terasa ringan dan mudah jika kita berniat karena Allah. Kita perlu menjauhkan sifat sombong pada diri. Orang yang memiliki rasa sombong pada akhirnya akan jatuh karena kesombongannya. Karena itu untuk beribadah dan menuntut ilmu perlu ikhlas karena Allah SWT

    ReplyDelete
  5. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pendidikan Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.
    Tetapi sesungguhnya tiada orang yang memperoleh ilmu karena ilmu itu sangatlah luas, kita hanya mencoba menggapai ilmu karena ilmu hanya milik Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia hanya bagian yang sangat kecil dari keseluruhan ilmu yang ada. Manusia memang tidak akan mampu memiliki semua ilmu, tetapi kita diwajibkan untuk selalu menuntut dan menggapai ilmu selama hidup, baik ilmu dunia maupu akhirat. Orang yang menggapai ilmu adalah orang yang sedang belajar. Maka marilah kita selalu belajar bahkan dalam kondisi sakit dan usia yang tua sekalipun. Ilmu itu penting bagi manusia, jangan sampai kita merasa sombong dan merasa tidak perlu belajar atau menuntut ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  6. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Dalam menuntut ilmu sangatlah diperlukan keihklasan. Jangan cepat merasa puas akan ilmu yang telah diperoleh, karena hal itu dapat membawa kita kepada kesombongan, bahwa kita telah tahu semuanya. Padahal ilmu yang kita miliki hanyalah secuil bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu hendaknya kita tetap rendah diri agar terhindar dari kesombongan. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya namun janganlah merasa sombong atas ilmu yang telah kita peroleh

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini menunjukkan bagaimana kehidupan sekarang ini. Dimana sejatinya orang hidup ini yang utama yautu menuntut ilmu. Seperti para pepatah berkata menuntut ilmu itu mulai dari buaian hingga liang lahat. Sampai kapanpun kita tidak akan mempunyai ilmu sempurna, yang bisa kita usahakan yaitu menggapainya. Karena seberar dan sesempurna ilmu itu milik Allah SWT.
    Adapun dalam menuntut ilmu ini yang terpenting atau bekalnya adalah keikhlasan hati dan berpikir kritis. Ikhlas dalam menuntut ilmu hanya semata mata karena ingin menggapai RidhoNya. Berpikir kritis yaitu selalu memahami dan mencoba mencari tahu apa apa yang ada di sekitar kita, membaca yang ada di alam ini.
    Begitu pentingnya ilmu itu tidak hanya untuk di dunia tapi juga di akhirat. Tidak hanya ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat.

    ReplyDelete
  8. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Berdasarkan elegi ini, menuntut dan menggapai ilmu dengan permisalan menjunjung langit dirasa sangat pas. Ilmu yang tinggi dan luas bagaikan langit yang tinggi dan sulit dijangkau. Untuk menggapainya maka diperlukan usaha yaitu belajar, belajar lagi dan belajar terus dengan ikhlas dan tidak sombong. Seperti peribahasa semakin berisi semakin merunduk. Dengan semakin rajin dan giat menuntut ilmu maka jadilah pribadi yang semakin rendah hati dengan meninggalkan keegoan. Namun setinggi-tinggi ilmu yang dapat dicapai manusia, ilmu Allah adalah ilmu Yang Maha Tinggi.

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Hidup di dunia, dan akhirat semua ada ilmunya. Seringkali manusia merasa terlalu puas dengan ilmu dunianya. Merasa sombong atas segala pencapaian, harta tahtanya. Padahal apa yang di dunia hanyalah sesaat, tidak kekal. Dalam menggapai akhirat, perlu kerendah hatian, keinginan untuk belajar, serta memohon pertolongan-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

    ReplyDelete
  10. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pesan yang kami dapatkan adalah untuk menggunakan segala daya upaya baik pikiran maupun perasaan dalam belajar. Belajar kepada orang dan sumber yang tepat. Memikirkan apa yang dilihat dan dirasakah, mencoba melaksanakan apa yang telah dipikirkan, memikirkan pengalaman apa yang didapatkan dalam melaksanakan apa yang dipikirkan, begitu seterusnya. Semoga kami dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat yang baik. Amin.

    ReplyDelete
  11. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual ikhlas 26: perlombaan menjunjung langi menjelaskan tentang akibat dari kesombongan. Seseorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Kesombongan hanya akan membawa kesesatan, dengan kesombongan terhadap ilmu maka kita akan terancam mitos dalam hidupnya. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum cukup untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sungguh sangat Luar biasa. Kita harus senantiasa menuntut ilmu dan menggunakannya untuk menebar kebaikan di bumi ini. jangan kita merasa sombong kepada ilmu yang telah kita dapatkan, karena kesombongan itu akan membuat kita terjatuh dan tersungkur. Kesombongan adalah awal dari malapetaka yang datang. ikhlaslah dan rendah hatilah meskipun kita memiliki banyak ilmu karena sejatinya itu semua hanyalah titipan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  13. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Elegi ini memberikan pesan bahwa sebanyak-banyaknya ilmu yang kita miliki, kita tidak boleh sombong dan merasa jika hanya kita lah yang memiliki ilmu paling tinggi. Orang-orang yang berpikir demikian, pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Dalam elegi ini digambarkan jika seseorang merasa paling pintar, kemudian dia merasa bisa menjunjung langit, maka dia akan terjatuh dan meninggal. Hal ini dikarenakan orang tersebut merasa sombong dan berpikir dia lah yang paling kuat yang dapat memenangkan perlombaan menjunjung langit, sehingga dia mendapat balasan atas kesombongannya tersebut. Itulah kenapa selalu dikatakan bahwa di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  14. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diciptakan dengan berbagai macam sifat dan karakter. Memaknai hidup dan tujuan duniawi yang berbeda-beda. Memiliki konssentrasi ilmu dan profesi yang berbeda pula. Setiap manusia berlomba untuk menjadi yang terbaik dibidangnya masing-masing dengan berbekal pada karakter, sifat, maupun keilmuannya. Keilmuan yang dimiliki manusia tidak terbatas ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun manusia dapat mencari ilmu. Ilmu pengetahuan dunia maupun akhirat. Ilmu sangatlah luas dan tak terbatas. Manusia mendapatkan ilmu dari arah mana saja, tidak memandang ruang dan waktu. Seperti kata pepatah “Menuntu ilmu setinggi langit”.

    ReplyDelete
  15. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ulasan yang diberikan. Lewat elegi saya melihat bahwa ilmu adalah proses, tidak akan pernah mencapai final. Maka barang siapa yang sudah menyombongkan ilmunya, mengaku aku sebagai sang jawara berilmu, maka salah lah dia. Karena apa? Bagaimana bisa salah satu di antara kita menjadi sang jawara sedangkan perlombaannya sendiri dibuat tanpa garis finish.


    Pada elegi ini saya dibuat berpikir dalam-dalam setelah menjumpai bagian di mana banyak pihak yang mengatakan bahwa “orang tua berambut putih” telah meninggal. Sungguh itu membuat saya terkejut, “orang tua berambut putih” itu bukankan ilmu kita? Bagaimana bisa kita menganggapnya meninggal? Mematikannya? Sungguh yang inilah adalah kesombongan

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menjunjung langit yang dimaksud dalam elegi ini ialah menuntut ilmu. Jadi, hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Ilmu itu seperti air, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ilmu itu tinggi kedudukannya, sehingga ia akan mengalir ke dalam hati-hati yang tidak ada rasa sombong di dalamnya (rendah hati). Sebagai umat yang baik, dimanapun dan kapanpun hendaknya kita senantiasa menuntut ilmu, ilmu yang baik akan meninggikan kedudukan pemiliknya beberapa derajat. Oleh karena itu, milikilah hati yang bersih dan tidak sombong (rendah hati) agar ilmu yang ada mudah masuk dan dipahami oleh diri.

    ReplyDelete
  17. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Menuntut ilmu membutuhkan keikhlasan kita sebagai penuntut ilmu. Jika rasa ikhlas itu tidak ada maka akan berakibat kita akan merasa cepat puas dengan ilmu yang kita punya dan membuat kita tinggi hati serta merendahkan keilmuan orang lain. Berbeda jika kita ikhlas dalam menuntut ilmu, kita akan terus merasa bahwa ilmu kita kurang dan berusaha terus untuk belajar.

    ReplyDelete
  18. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Apa yang dapat saya pahami dari elegi ini adalah perlombaan menjunjung langit yang dimaksudkan adalah perlombaan untuk memperoleh ilmu dan derajat hidup setinggi - tingginya. Elegi ini mengajarkan kepada saya bahwa orang yang dapat menjunjung langit hanyalah orang - orang yang memiliki keikhlasan, hati yang jernih, kemauan yang kuat, memiliki niat yang bulat untuk menuntut ilmu, selalu mengisi setiap langkahnya dengan doa dan dzikir, serta orang yang selalu menyambung tali silaturahim. Satu hal lain yang juga sangat penting dalam menuntut ilmu adalah sebisa mungkin kita harus menjauhkan diri dari sifat sombong. Pasalnya kesombongan hanya akan membuat apa yang kita lakukan menjadi hampa dan tidak berarti.

    ReplyDelete
  19. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Perlombaan menjunjung langit merupakan usaha dalam mendapatkan ilmu. Bagi orang-orang yang berlaku sombong dan merasa sudah mendapatkan cukup ilmu di dalam menuntut ilmu maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena seperti yang ditulis dalam elegi ini bahwa sebenar-benar yang terjadi ialah tiadalah orang-orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Maka tiadalah orang berhenti dalam menuntut ilmu. Selain itu, maka dalam mencari ilmu harus dengan meluruhkan kesombongan, rendah hati, ikhlas, dan juga berpikir kritis.

    ReplyDelete
  20. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pengalaman yang sangat mengesankan. Bukankah pengalaman juga ilmu? Bahkan bisa dikatakan ilmu yang sangat berharga bukan? Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, kecil ataupun besar, si kaya ataupun si miskin, guru ataupun siswa, dosen ataupun mahasiswa, dst. Tidak hanya sebatas mencari ilmu, tapi bagaimana ilmu itu bisa diterapkan, bagimana ilmu itu bisa diamalkan, bagaimana ilmu itu bermanfaat bagi dirinya maupun orang banyak, bagaimana ilmu itu merendahkan hatinya, bagaimana ilmu itu tidak membuat merasa puas. Dan bagimana selalu menjalin silaturahmi dengan seorang guru yang telah mengajarkan kita banyak ilmu. Kenapa silaturahmi dengan guru penting? Selain kita membutuhkan ilmu dari seorang guru, kita juga membutuhkan doa restu beliau, supaya ilmu kita manfaat.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Sampai-sampai saya terdiam dan dibuat kagum oleh alur ceritanya.Jika menelusuri alur ceritanya sebagaimana yang diperankan oleh Cantraka dan Begawat maknanya adalah “Untuk menggapai langit, kuncinya adalah tidak menyombongkan diri atau menunjukkan sifat keakuan diri apapun kedudukan kita baik raja, guru, ulama, dan orang yang berilmu.Maka,sebaik-baik bekal untuk menggapai langit dengan berpikir,ikhlas jujur, dan rendah hati.Hanya dengan hal tersebut yang membuat kita dapat menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini mengajarkan bahwa dalam menuntut ilmu harus dilandasi dengan hati yang ikhlas dan tanpa ada kesombongan. Selain itu kita juga harus selalu meningkatkan keimanan kita. Kita seharusnya sadar betapa lemahnya kita, betapa tidak tahunya kita, betapa terbatasnya kita. Apakah masih pantas kita bersikap sombong? Jika kita sombong sama berarti kita itu sudah menolak ilmu. Karena kesombongan adalah merasa dirinya lebih dalam segala hal, lebih tahu padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita harus ikhlas dan dilandasi dengan iman yang kuat. Karena mencari ilmu itu berarti kita berolah pikir, mempelajari pemikiran yang baru. Maka jika iman kita tidak kuat, akan mengganggu pemikiran dasar kita, dan dapat mengubah pandangan kita.

    ReplyDelete
  23. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sungguh luar biasa Prof. Setiap manusia memiliki nafsu di dalam diri mereka masing-masing. Nafsu tersebutlah yang kemudian menjadikan manusia ingin menguasai segala yang ada di dalam semesta. Nafsu ingin menguasai segalanya akan diikuti oleh kesombongan-kesombongan yang akan mematikan hatinya. Sesungguhnya kesombongan adalah awal dari runtuhnya keimanan seseorang, kesombongan juga merupakan awal dari matinya rasa toleran, dan yang paling berbahaya adalah kesombongan mampu menghancurkan nasib manusia, hewan, tumbuhan dan semesta.

    ReplyDelete
  24. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Sebagai manusia, kita di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete
  25. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 26 ini, saya memahami bahwa perlombaan menjunjung langit berarti sebuah usaha dalam mencari ilmu. Dalam menuntut ilmu, yang dibutuhkan hanyalah hati yang ikhlas. Maka, hanya orang-orang yang berhati ikhlaslah yang akan memperoleh ilmu. Karena, ilmu itu sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT. Jadi jika dalam usaha mencari ilmu telah terbesit ikhlas di dalam hati, maka Allah SWT juga akan meridhoinya.
    Namun, jika sedikit saja terbesit dalam hati rasa sombong, maka sehebat apapun dia, secerdas apapun dia, sekuat apapun dia, maka bukan kelancaran dalam menuntut ilmu yang akan didapat, tapi kegagalanlah yang akan dirasakan.

    ReplyDelete
  26. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih prof untuk tulisannya. Tulisan ini benar-benar menjadi pengingat bagi kami agar menjauhi sifat dan perilaku sombong. Terkadang status seseorang seperti jabatan atau mungkin hanya status mahasiswa pascasarjana bias menjadi celah masuknya rasa sombong. Padahal Allah sudah memberi tahu pada manusia bahwa iblis dikeluarkan dari surge salah satunya Karena sifat sombong yang dimilikinya. Ia yang terbuat dari api merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan dari Tanah. Sehingga berprofesi sebagai apapun, kita harus menjauhi dan menutup pintu masuknya rasa sombong. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan menjauhkan kita dari rasa sombong. Aamiin

    ReplyDelete
  27. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu;alikum WR. Wb.

    Lagi-lagi kesombongan adalah hal yang paling utama yang meyebabkan suatu kegagalan. Tidak ada ruang sedikitpun bagi Allah untuk membrikan ke suksesan akhirat kepada orang-orang yang sombong. Apapun profesi orang tersebut bahkan ahli agama pun tidak Allah berikan kesempatan, karena si ahli agama masih menggunakan kesombongan dalam ilmunya. Pencarian ilmu yang kita lakukan dan profesi yang sudah kita dapatkan bukanlah untuk suatu kesombongan, tapi dengn ilmu dan profesi tesebut harus dijadikan sebagai suatu ibadah kita kepada Allah. Dengan selalu mengucapakan rasa syukur kepada Allah sehingga tidsak terselip sifat sombong. Dan selau berpikir kritis terhadap apa yang kita dapatkan sehingga kita tidak terjebak dalam mitos yang ada.

    ReplyDelete
  28. Kartika Kirana
    17701251039
    PEP S2 B

    Ikhlas dan pikiran kritis.
    Semakin jelas untuk saya, mengapa ada tes jawab singkat yang hampir selalu tak dapat nilai nol. Ada saat ketika saya mampu menggapai pikir menemukan jawaban, dapat benar 1 atau 2 atau 3. Itupun juga sangat jarang. Ilmu sedemikian luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Saya belajar untuk semakin mengalami, seperti apa itu ikhlas, namun pada saat yang sama juga berpikir kritis. Ketika saya ikut kuliah filsafat, dan saya dengan ikhlas hati mengikutinya, saya akan memahami satu dua hal di situ. Dan ketika saya bertanya, berpikir, mencari dan menunggu mendapat jawaban dari pertanyaan saya, di situ saya dapat memahami satu dua hal lain. Usaha yang keras dan besar sekalipun, tetaplah takkan dapat menggapai ilmu yang sempurna.
    Saya diingatkan untuk tidak latah mengikuti apa kata orang. Harus kritis mempertanyakan segala sesuatunya, namun sekaligus berupaya secara ikhlas untuk memahaminya.

    ReplyDelete
  29. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak pesan yang didapatkan dalam elegi ini. Di saat terdengar sayembara menjunjung langit, semua orang dengan kelebihannya masing-masing berusaha memenangkan perlombaan. Kecantikan, kekuatan fisik, jabatan, posisi, dan hal fana lainnya adalah alat unjuk kesombongan belaka. Banyak orang yang telah salah menafsirkan makna sukses. Ketika hidup di dunia, banyak orang yang mengumpulkan uang,perhiasan, dan lainnya hanya untuk diakui oleh manusia. Namun tidak menyeimbangkan dengan bekal akhirat, sehingga ketika kembali kepada Allah, tidak ada bekal yang dapat dibawa. Ilmu dan amal adalah paket menuju akhirat yang juga harus kita kejar, bukan hanya kesuksesan duniawi.

    ReplyDelete
  30. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan di atas saya tidak mampu membendung air mata, mengalir dan terus mengalir. Teringat akan sosok pahlawan terbaik yang berjasa dalam proses pembelajaran yaitu ayah dan ibu serta para pendidik yang telah berkontribusi dalam perjalanan kehidupan sampai saat ini. Mohon doa restu dari Bapak agar saya dapat menggapai langit tersebut. Proses menggapai yang dimulai dari titik nol bagi saya adalah permulaan yang sangat berarti. Karena saya menyadari titik nol tersebut membuat saya berani untuk bertanya akan suatu hal yang saya tidak tahu.

    ReplyDelete
  31. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Mencari ilmu harus dilakukan dengan keadaan diri seikhlas-ikhlasnya. karena dengan berserah diri dalam bersifat ikhlas ilmu tersebut akan terus mengalir dan mudah dipahami. dalamkehidupan bersifat ikhlas sangat diperlukan dalam berbagai hal. jangan pernah bersifat sombong karena kesombongan-kesombongan itu membuat sang ilmu tidak datang.

    ReplyDelete
  32. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa pengalaman bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi. Banyaknya orang yang gagal dalam sebuah kompetisi mencari sumber ilmu, bisa menjadi hikmah bagi kita semua agar tidak melakukan kesombongan. Karena kesombongan adalah pangkal dari kegagalan.

    ReplyDelete
  33. Junianto
    17709251065
    PM C

    Seberapapun tinggi ilmu seseorang, jika ia dipenuhi dengan kesombongan maka akan menjerumuskan dirinya sendiri. Kesombongan juga bisa menghabiskan amal kebaikan. Maka dari itu, sebenar-benar manusia yang terpuji adalah mereka yang selalu menyimpan kelebihannya dalam diam dan kerendahan hati. Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal kebajikan semata-mata hanya karena mengharap ridho-Nya. Dan inilah sebenar-benar ikhlas yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

    ReplyDelete