Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

97 comments:

  1. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Langit selalu berada diatas bumi, sehingga setiap orang senantiasa berharap dapat menggapai langit, namun semakin kita menuju langit kita tidak pernah mengagapai ujungnya. Seperti itulah keinginan manusia, tidak pernah ada ujungnya, setelah menggapai tujuan yang satu kita mengharapkan menggapai tujuan berikutnya yang lebih bagus dan tinggi.

    ReplyDelete
  2. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Cantraka:
    Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

    Bagawat:
    Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.
    Dialog ini menegaskan bahwa kita tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang kita punya, rasa cukup tersebut akan membawa kita kepada apa yang disebutkan dalam elegi ini sebagai "Mati" yang sebenarnya bisa diganti dengan apa saja yang tidak baik bagi kita.

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Kesombongan tidak akan pernah mengantarkan kita pada langit kejayaan. Perjalanan untuk mencapai langit memang berat, namun ada beberapa orang yang merasa mampu mencapai namun dengan segala kekurangannya tergelincir kembali ke tanah. Untuk mampu mencapai langit maka dekatlah dengan sang pemilik langit yaitu Allah SWT. Agar walaupun mampu menjunjungnya, kita kembali merasa bahwa hanyalah Dia Si Pemilik Alam.

    ReplyDelete
  4. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam elegi ini menggambarkan orang yang berjuang menggapai ilmu. Segala daya dan upaya dilakukan demi tercapainya cita-cita. Berhati-hati dan berwaspada ika saat berhasil bersikap sombong karena ketercapaian dalam menggapai ilmu. Kita hendaknya tetap rendah hati, jika kita telah memperoleh ilmu. Bersikap ikhlas untuk mengamalkan ilmu yang kita miliki dan senantiasa mensyukurinya.

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap orang pasti memiliki cita-cita dan berupaya untuk mencapainya. Yang paling penting adalah kita harus dapat mengalahkan penghambat dalam mencapai cita-cita kita dengan cara memiliki ikhtiar untuk selalu bersaing dengan sehat,mengutamakan kejujuran,belajar agar kita menjadi lebih baik,introspeksi diri,mampu menerima kekalahan dengan lapang dada dan selalu berpikir positif dalam menilai sesuatu.

    ReplyDelete
  6. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    Perlombaan menjunjung langit berarti bumi sedang berusaha untuk menggapai langitnya. Berdasarkan pemahaman saya dari elegi di atas, menjunjung langit sama halnya seperti manusia berusaha untuk sampai pada tempat yang mulia dan baik, yg dianalogikan seperti langit. Dalam elegi disebutkan bahwa banyak yang mencoba untuk menjunung langit tapi terjatuh dan akhirnya mati. Dan setelah diselidiki, kegagalan tersebut karena kesombongan dirinya sendiri. Seseorang hendak mencapai tempat tinggi, namun dia sudah merasa tinggi, maka jatuhlah ia. Jadi, janganlah menjadi orang sombong, karena kesombongan itulah yang akan menghancurkan semuanya

    ReplyDelete
  7. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Salah satu sifat yang harus dijauhi ketika seseorang akan menjunjung langit adalah ego. Ego yang besar juga akan menyebabkan timbulnya sifat sombong. Syarat lain dalam menjunjung langit ialah kuatnya ilmu dunia dan ilmu hati. Dalam menjunjung langit, fisik seseorang, jabatan seseorang, gelar seseorang tidaklah menjadi hal yang penting. Yang terpenting ialah bagaimana kita ikhlas dalam berusaha dan dalam memohon ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  8. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam belajar kita harus menyertakan ikhlas didalamnya. seperti halnya belajar di bangku kuliah ini, saya harus menyertakan ikhlas agar dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat kelak. dengan adanya ikhlas kelak saya dapat memperoleh ilmu dengan lancar, mau menerima ilmu dari siapapun, dan mau untuk mencari ilmu yang belum saya dapatkan.

    ReplyDelete
  9. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Menggapai ilmu yang tinggi bukanlah untuk bermegah diri dan menggunakannya untuk merugikan orang lain, melainkan agar ilmu tersebut dapat bermanfaat bagi kita maupun orang lain. Dengan kata lain, pengetahuan yang telah kita peroleh harus digunakan secara bijak dan jauh dari kesombongan karena ilmu dan pengetahuan yang kita miliki itu tidak akan bermanfaat jika kita tidak membagikannya kepada orang lain.

    ReplyDelete
  10. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas menganalogikan larangan sifat sombong ke dalam sebuah cerita lomba menjunjung langit. Berbagai peserta pengikut lomba ternyata gagal akibat kesombongannya, bahkan mereka semua mati. Ada seseorang yang akan mengikuti lomba. Karena ia merasa ilmunya belum cukup, maka ia mengurungkan niatnya dan kembali berguru kepada begawat. Ia bercerita kepada guru tersebut bahwa ia belum pantas, kurang ilmunya, dan lain sebagainya. Tak disangka, ia pun menjadi seorang juara, karena keikhlasan, kejujuran, rendah hati, kerja keras, doa-doa, serta kemauannya untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-guru. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung," (Al-Isra': 37). Allah berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri," (Luqman: 18). Ayat tersebut mengingatkan kita untuk tidak sombong, selalu ikhlas, dan semangat menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  11. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Tentu saja sombong tidak semata bermakna arogan, congkak, atau pongah, terutama dalam bersikap dan berkata-kata. Sombong bisa pula berarti menghargai diri secara berlebihan. Kesombongan demikian membuat seseorang secara tidak patut merasa dirinya paling penting dan paling unggul, barangkali karena kecantikan, ras, status sosial, bakat, atau kekayaan. da banyak jenis penyakit yang hinggap di tubuh kita. Baik penyakit yang terlihat secara fisik ataupun yang tersembunyi di balik relung hati makhluk Allah yang bernama manusia. Di antaranya adalah sifat sombong. Banyak fenomena kesombongan yang terjadi di sekitar kita bahkan mungkin kitalah salah satu pelakunya. Sombong adalah penyakit yang sulit untuk disembuhkan karena obatnya ada pada diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Sombong karena memiliki harta yang berlimpah. Yang membuat kita lupa daratan dan berbangga dengan apa yang kita punya. Sehingga menimbulkan sikap kurang berkenan kepada orang yang kurang mampu padahal Allah telah berfirman bahwa dunia dan kemewahannya hanyalah amanah dan hanya perhiasan belaka pada pandangan orang-orang kafir sehingga mereka berlagak sombong dan memandang rendah orang yang beriman. Padahal orang yang bertakwa (dengan imannya) lebih tinggi (martabatnya) daripada mereka kelak. Dan ingatlah Allah memberi rezeki kepada siapapun yang Dia kehendaki dengan tidak terkira.

    ReplyDelete
  13. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ritual ikhlas 26. Elegi ini menyampaikan kepada kita tentang kesungguhan dalam menuntut ilmu. menuntut ilmu itu tak terbatas ruang dan waktu, tak terbatas juga pada usia. Dalam prosesnya kita harus menghindari sikap sombong dan sikap merasa telah mengetahui banyak hal, sedang pada kenyataannya ilmu yang kita tau hanyalah setetes air diluasnya lautan. ketika kita sombong atau merasa sudah memiliki ilnu berleebih justru hal tersebut akan membatasi kita untuk belajar dan tau lebih banyak. dalam elegi ini digambarkan dengan gagalnya menjunjung langit. Namun cantraka yang merasa bodoh justru diberikan titah oleh sang begawat nenjadi pemenang lomba menjunjung langit.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Sepandai - pandainya manusia adalah dia yang memiliki ilmu. Ilmu yang dapat bermanfaat bagi orang lain. Bukan hindarilah perbuatan kesombongan. Setinggi-tingginya ilmu seseorang ia tidak akan pernah sombong. Mengapa? Karena ia mengetahui bahwa ilmu itu luas, tanpa batasan, dan saling berkaitan antar ilmu lain. Karena keterbatasan ruang dan waktu maka ia tidak bisa mempelajari semua ilmu tersebut. Jadi semakin orang tinggi ilmunya, maka ia akan merasa masih sedikit ilmu yang dipunyainya.

    ReplyDelete
  15. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menuntut ilmu haruslah dilakukan dengan hati yangbersih dan pikiran yang kritis. Selain itu kita juga harus ikhlas dalam menuntut ilmu. sebagai seorang muslim kita dalam melakukan apapun semata mata adalah untuk mencari ridha Allah. Karena kalau kita mencari dunia dan akhirat tanpa berharap ridha Allah maka kita akan terancam mata dalam arti luas. Dari elegi ini saya belajar bahwa Kita tidak boleh sombong. Karena somong qkqn menyebabkan kita akan sulit memperoleh ilmu dan membakar apa yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  16. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Perlombaan menjunjung langit diibaratkan sebagai sebuah sayembara yaitu berlomba-lomba dalam mencari ilmu. Dalam mencari ilmu, dibutuhkan seseorang yang mempunyai hati yang ikhlas dan mampu berpikir kritis. Jika mencari ilmu dilakukan dengan terpaksa, merasa terbebani dan tidak ikhlas maka usaha kita dalam mencari ilmu merupakan hal yang sia-sia karena kita tidak akan memperoleh ilmu. Oleh karena itu, keikhlasan hati diperlukan agar Allah SWT memudahkankan segala urusan kita seperti dalam mencari ilmu demi menggapai ridho-Nya.

    ReplyDelete
  17. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Keikhlasan akan membuat kita merasa ringan dengan beban yang kita terima. Maka sebesar-besarnya beban adalah mengikhlaskan. Keikhlasan adalah sesuatu yang sederhana tetapi sangat sulit untuk melaksanakan.

    ReplyDelete
  18. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjunjung langit adalah ibarat amanah dan beban yang kita terima, maka langit akan terasa ringan jika kita ikhlas dengan amanah yang kita terima dan kita emban. Tetap merasa rendah hati agar tidak sombong dengan amanah kita.

    ReplyDelete
  19. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Elegi ini menceritakan tentang kesungguhan kita dalam menuntut ilmu, tanpa ada kesombongan didalamnya. Jika kita bersifat sombong kepada dunia, maka dunia akan sombong pula kepada kita, begitu pula sebaliknya. Maka hendaknya kita selalu mendekatkan diri kepadaNya.

    ReplyDelete
  20. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menuntut ilmu akan terasa ringan dan mudah jika kita berniat karena Allah. Kita perlu menjauhkan sifat sombong pada diri. Orang yang memiliki rasa sombong pada akhirnya akan jatuh karena kesombongannya. Karena itu untuk beribadah dan menuntut ilmu perlu ikhlas karena Allah SWT

    ReplyDelete
  21. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pendidikan Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.
    Tetapi sesungguhnya tiada orang yang memperoleh ilmu karena ilmu itu sangatlah luas, kita hanya mencoba menggapai ilmu karena ilmu hanya milik Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia hanya bagian yang sangat kecil dari keseluruhan ilmu yang ada. Manusia memang tidak akan mampu memiliki semua ilmu, tetapi kita diwajibkan untuk selalu menuntut dan menggapai ilmu selama hidup, baik ilmu dunia maupu akhirat. Orang yang menggapai ilmu adalah orang yang sedang belajar. Maka marilah kita selalu belajar bahkan dalam kondisi sakit dan usia yang tua sekalipun. Ilmu itu penting bagi manusia, jangan sampai kita merasa sombong dan merasa tidak perlu belajar atau menuntut ilmu.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  22. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh.
    Dalam menuntut ilmu sangatlah diperlukan keihklasan. Jangan cepat merasa puas akan ilmu yang telah diperoleh, karena hal itu dapat membawa kita kepada kesombongan, bahwa kita telah tahu semuanya. Padahal ilmu yang kita miliki hanyalah secuil bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan ilmu yang dimiliki oleh Allah SWT. Oleh karena itu hendaknya kita tetap rendah diri agar terhindar dari kesombongan. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya namun janganlah merasa sombong atas ilmu yang telah kita peroleh

    ReplyDelete
  23. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam elegi ini menunjukkan bagaimana kehidupan sekarang ini. Dimana sejatinya orang hidup ini yang utama yautu menuntut ilmu. Seperti para pepatah berkata menuntut ilmu itu mulai dari buaian hingga liang lahat. Sampai kapanpun kita tidak akan mempunyai ilmu sempurna, yang bisa kita usahakan yaitu menggapainya. Karena seberar dan sesempurna ilmu itu milik Allah SWT.
    Adapun dalam menuntut ilmu ini yang terpenting atau bekalnya adalah keikhlasan hati dan berpikir kritis. Ikhlas dalam menuntut ilmu hanya semata mata karena ingin menggapai RidhoNya. Berpikir kritis yaitu selalu memahami dan mencoba mencari tahu apa apa yang ada di sekitar kita, membaca yang ada di alam ini.
    Begitu pentingnya ilmu itu tidak hanya untuk di dunia tapi juga di akhirat. Tidak hanya ilmu dunia tapi juga ilmu akhirat.

    ReplyDelete
  24. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    Berdasarkan elegi ini, menuntut dan menggapai ilmu dengan permisalan menjunjung langit dirasa sangat pas. Ilmu yang tinggi dan luas bagaikan langit yang tinggi dan sulit dijangkau. Untuk menggapainya maka diperlukan usaha yaitu belajar, belajar lagi dan belajar terus dengan ikhlas dan tidak sombong. Seperti peribahasa semakin berisi semakin merunduk. Dengan semakin rajin dan giat menuntut ilmu maka jadilah pribadi yang semakin rendah hati dengan meninggalkan keegoan. Namun setinggi-tinggi ilmu yang dapat dicapai manusia, ilmu Allah adalah ilmu Yang Maha Tinggi.

    ReplyDelete
  25. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Hidup di dunia, dan akhirat semua ada ilmunya. Seringkali manusia merasa terlalu puas dengan ilmu dunianya. Merasa sombong atas segala pencapaian, harta tahtanya. Padahal apa yang di dunia hanyalah sesaat, tidak kekal. Dalam menggapai akhirat, perlu kerendah hatian, keinginan untuk belajar, serta memohon pertolongan-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

    ReplyDelete
  26. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, pesan yang kami dapatkan adalah untuk menggunakan segala daya upaya baik pikiran maupun perasaan dalam belajar. Belajar kepada orang dan sumber yang tepat. Memikirkan apa yang dilihat dan dirasakah, mencoba melaksanakan apa yang telah dipikirkan, memikirkan pengalaman apa yang didapatkan dalam melaksanakan apa yang dipikirkan, begitu seterusnya. Semoga kami dapat menjadi pembelajar sepanjang hayat yang baik. Amin.

    ReplyDelete
  27. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ritual ikhlas 26: perlombaan menjunjung langi menjelaskan tentang akibat dari kesombongan. Seseorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Kesombongan hanya akan membawa kesesatan, dengan kesombongan terhadap ilmu maka kita akan terancam mitos dalam hidupnya. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum cukup untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

    ReplyDelete
  28. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Sungguh sangat Luar biasa. Kita harus senantiasa menuntut ilmu dan menggunakannya untuk menebar kebaikan di bumi ini. jangan kita merasa sombong kepada ilmu yang telah kita dapatkan, karena kesombongan itu akan membuat kita terjatuh dan tersungkur. Kesombongan adalah awal dari malapetaka yang datang. ikhlaslah dan rendah hatilah meskipun kita memiliki banyak ilmu karena sejatinya itu semua hanyalah titipan dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Elegi ini memberikan pesan bahwa sebanyak-banyaknya ilmu yang kita miliki, kita tidak boleh sombong dan merasa jika hanya kita lah yang memiliki ilmu paling tinggi. Orang-orang yang berpikir demikian, pasti akan mendapat balasan yang setimpal. Dalam elegi ini digambarkan jika seseorang merasa paling pintar, kemudian dia merasa bisa menjunjung langit, maka dia akan terjatuh dan meninggal. Hal ini dikarenakan orang tersebut merasa sombong dan berpikir dia lah yang paling kuat yang dapat memenangkan perlombaan menjunjung langit, sehingga dia mendapat balasan atas kesombongannya tersebut. Itulah kenapa selalu dikatakan bahwa di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  30. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Manusia diciptakan dengan berbagai macam sifat dan karakter. Memaknai hidup dan tujuan duniawi yang berbeda-beda. Memiliki konssentrasi ilmu dan profesi yang berbeda pula. Setiap manusia berlomba untuk menjadi yang terbaik dibidangnya masing-masing dengan berbekal pada karakter, sifat, maupun keilmuannya. Keilmuan yang dimiliki manusia tidak terbatas ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun manusia dapat mencari ilmu. Ilmu pengetahuan dunia maupun akhirat. Ilmu sangatlah luas dan tak terbatas. Manusia mendapatkan ilmu dari arah mana saja, tidak memandang ruang dan waktu. Seperti kata pepatah “Menuntu ilmu setinggi langit”.

    ReplyDelete
  31. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas ulasan yang diberikan. Lewat elegi saya melihat bahwa ilmu adalah proses, tidak akan pernah mencapai final. Maka barang siapa yang sudah menyombongkan ilmunya, mengaku aku sebagai sang jawara berilmu, maka salah lah dia. Karena apa? Bagaimana bisa salah satu di antara kita menjadi sang jawara sedangkan perlombaannya sendiri dibuat tanpa garis finish.


    Pada elegi ini saya dibuat berpikir dalam-dalam setelah menjumpai bagian di mana banyak pihak yang mengatakan bahwa “orang tua berambut putih” telah meninggal. Sungguh itu membuat saya terkejut, “orang tua berambut putih” itu bukankan ilmu kita? Bagaimana bisa kita menganggapnya meninggal? Mematikannya? Sungguh yang inilah adalah kesombongan

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menjunjung langit yang dimaksud dalam elegi ini ialah menuntut ilmu. Jadi, hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Ilmu itu seperti air, mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Ilmu itu tinggi kedudukannya, sehingga ia akan mengalir ke dalam hati-hati yang tidak ada rasa sombong di dalamnya (rendah hati). Sebagai umat yang baik, dimanapun dan kapanpun hendaknya kita senantiasa menuntut ilmu, ilmu yang baik akan meninggikan kedudukan pemiliknya beberapa derajat. Oleh karena itu, milikilah hati yang bersih dan tidak sombong (rendah hati) agar ilmu yang ada mudah masuk dan dipahami oleh diri.

    ReplyDelete
  33. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Menuntut ilmu membutuhkan keikhlasan kita sebagai penuntut ilmu. Jika rasa ikhlas itu tidak ada maka akan berakibat kita akan merasa cepat puas dengan ilmu yang kita punya dan membuat kita tinggi hati serta merendahkan keilmuan orang lain. Berbeda jika kita ikhlas dalam menuntut ilmu, kita akan terus merasa bahwa ilmu kita kurang dan berusaha terus untuk belajar.

    ReplyDelete
  34. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Apa yang dapat saya pahami dari elegi ini adalah perlombaan menjunjung langit yang dimaksudkan adalah perlombaan untuk memperoleh ilmu dan derajat hidup setinggi - tingginya. Elegi ini mengajarkan kepada saya bahwa orang yang dapat menjunjung langit hanyalah orang - orang yang memiliki keikhlasan, hati yang jernih, kemauan yang kuat, memiliki niat yang bulat untuk menuntut ilmu, selalu mengisi setiap langkahnya dengan doa dan dzikir, serta orang yang selalu menyambung tali silaturahim. Satu hal lain yang juga sangat penting dalam menuntut ilmu adalah sebisa mungkin kita harus menjauhkan diri dari sifat sombong. Pasalnya kesombongan hanya akan membuat apa yang kita lakukan menjadi hampa dan tidak berarti.

    ReplyDelete
  35. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Perlombaan menjunjung langit merupakan usaha dalam mendapatkan ilmu. Bagi orang-orang yang berlaku sombong dan merasa sudah mendapatkan cukup ilmu di dalam menuntut ilmu maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena seperti yang ditulis dalam elegi ini bahwa sebenar-benar yang terjadi ialah tiadalah orang-orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Maka tiadalah orang berhenti dalam menuntut ilmu. Selain itu, maka dalam mencari ilmu harus dengan meluruhkan kesombongan, rendah hati, ikhlas, dan juga berpikir kritis.

    ReplyDelete
  36. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Pengalaman yang sangat mengesankan. Bukankah pengalaman juga ilmu? Bahkan bisa dikatakan ilmu yang sangat berharga bukan? Mencari ilmu merupakan kewajiban setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda, kecil ataupun besar, si kaya ataupun si miskin, guru ataupun siswa, dosen ataupun mahasiswa, dst. Tidak hanya sebatas mencari ilmu, tapi bagaimana ilmu itu bisa diterapkan, bagimana ilmu itu bisa diamalkan, bagaimana ilmu itu bermanfaat bagi dirinya maupun orang banyak, bagaimana ilmu itu merendahkan hatinya, bagaimana ilmu itu tidak membuat merasa puas. Dan bagimana selalu menjalin silaturahmi dengan seorang guru yang telah mengajarkan kita banyak ilmu. Kenapa silaturahmi dengan guru penting? Selain kita membutuhkan ilmu dari seorang guru, kita juga membutuhkan doa restu beliau, supaya ilmu kita manfaat.

    ReplyDelete
  37. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Sampai-sampai saya terdiam dan dibuat kagum oleh alur ceritanya.Jika menelusuri alur ceritanya sebagaimana yang diperankan oleh Cantraka dan Begawat maknanya adalah “Untuk menggapai langit, kuncinya adalah tidak menyombongkan diri atau menunjukkan sifat keakuan diri apapun kedudukan kita baik raja, guru, ulama, dan orang yang berilmu.Maka,sebaik-baik bekal untuk menggapai langit dengan berpikir,ikhlas jujur, dan rendah hati.Hanya dengan hal tersebut yang membuat kita dapat menggapai ridho Allah SWT.

    ReplyDelete
  38. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini mengajarkan bahwa dalam menuntut ilmu harus dilandasi dengan hati yang ikhlas dan tanpa ada kesombongan. Selain itu kita juga harus selalu meningkatkan keimanan kita. Kita seharusnya sadar betapa lemahnya kita, betapa tidak tahunya kita, betapa terbatasnya kita. Apakah masih pantas kita bersikap sombong? Jika kita sombong sama berarti kita itu sudah menolak ilmu. Karena kesombongan adalah merasa dirinya lebih dalam segala hal, lebih tahu padahal sebenarnya tidak tahu apa-apa. Oleh karena itu dalam mencari ilmu kita harus ikhlas dan dilandasi dengan iman yang kuat. Karena mencari ilmu itu berarti kita berolah pikir, mempelajari pemikiran yang baru. Maka jika iman kita tidak kuat, akan mengganggu pemikiran dasar kita, dan dapat mengubah pandangan kita.

    ReplyDelete
  39. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi yang sungguh luar biasa Prof. Setiap manusia memiliki nafsu di dalam diri mereka masing-masing. Nafsu tersebutlah yang kemudian menjadikan manusia ingin menguasai segala yang ada di dalam semesta. Nafsu ingin menguasai segalanya akan diikuti oleh kesombongan-kesombongan yang akan mematikan hatinya. Sesungguhnya kesombongan adalah awal dari runtuhnya keimanan seseorang, kesombongan juga merupakan awal dari matinya rasa toleran, dan yang paling berbahaya adalah kesombongan mampu menghancurkan nasib manusia, hewan, tumbuhan dan semesta.

    ReplyDelete
  40. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Sebagai manusia, kita di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete
  41. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegi ritual ikhlas 26 ini, saya memahami bahwa perlombaan menjunjung langit berarti sebuah usaha dalam mencari ilmu. Dalam menuntut ilmu, yang dibutuhkan hanyalah hati yang ikhlas. Maka, hanya orang-orang yang berhati ikhlaslah yang akan memperoleh ilmu. Karena, ilmu itu sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT. Jadi jika dalam usaha mencari ilmu telah terbesit ikhlas di dalam hati, maka Allah SWT juga akan meridhoinya.
    Namun, jika sedikit saja terbesit dalam hati rasa sombong, maka sehebat apapun dia, secerdas apapun dia, sekuat apapun dia, maka bukan kelancaran dalam menuntut ilmu yang akan didapat, tapi kegagalanlah yang akan dirasakan.

    ReplyDelete
  42. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih prof untuk tulisannya. Tulisan ini benar-benar menjadi pengingat bagi kami agar menjauhi sifat dan perilaku sombong. Terkadang status seseorang seperti jabatan atau mungkin hanya status mahasiswa pascasarjana bias menjadi celah masuknya rasa sombong. Padahal Allah sudah memberi tahu pada manusia bahwa iblis dikeluarkan dari surge salah satunya Karena sifat sombong yang dimilikinya. Ia yang terbuat dari api merasa lebih baik dari Adam yang diciptakan dari Tanah. Sehingga berprofesi sebagai apapun, kita harus menjauhi dan menutup pintu masuknya rasa sombong. Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan menjauhkan kita dari rasa sombong. Aamiin

    ReplyDelete
  43. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu;alikum WR. Wb.

    Lagi-lagi kesombongan adalah hal yang paling utama yang meyebabkan suatu kegagalan. Tidak ada ruang sedikitpun bagi Allah untuk membrikan ke suksesan akhirat kepada orang-orang yang sombong. Apapun profesi orang tersebut bahkan ahli agama pun tidak Allah berikan kesempatan, karena si ahli agama masih menggunakan kesombongan dalam ilmunya. Pencarian ilmu yang kita lakukan dan profesi yang sudah kita dapatkan bukanlah untuk suatu kesombongan, tapi dengn ilmu dan profesi tesebut harus dijadikan sebagai suatu ibadah kita kepada Allah. Dengan selalu mengucapakan rasa syukur kepada Allah sehingga tidsak terselip sifat sombong. Dan selau berpikir kritis terhadap apa yang kita dapatkan sehingga kita tidak terjebak dalam mitos yang ada.

    ReplyDelete
  44. Kartika Kirana
    17701251039
    PEP S2 B

    Ikhlas dan pikiran kritis.
    Semakin jelas untuk saya, mengapa ada tes jawab singkat yang hampir selalu tak dapat nilai nol. Ada saat ketika saya mampu menggapai pikir menemukan jawaban, dapat benar 1 atau 2 atau 3. Itupun juga sangat jarang. Ilmu sedemikian luas, meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada. Saya belajar untuk semakin mengalami, seperti apa itu ikhlas, namun pada saat yang sama juga berpikir kritis. Ketika saya ikut kuliah filsafat, dan saya dengan ikhlas hati mengikutinya, saya akan memahami satu dua hal di situ. Dan ketika saya bertanya, berpikir, mencari dan menunggu mendapat jawaban dari pertanyaan saya, di situ saya dapat memahami satu dua hal lain. Usaha yang keras dan besar sekalipun, tetaplah takkan dapat menggapai ilmu yang sempurna.
    Saya diingatkan untuk tidak latah mengikuti apa kata orang. Harus kritis mempertanyakan segala sesuatunya, namun sekaligus berupaya secara ikhlas untuk memahaminya.

    ReplyDelete
  45. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Banyak pesan yang didapatkan dalam elegi ini. Di saat terdengar sayembara menjunjung langit, semua orang dengan kelebihannya masing-masing berusaha memenangkan perlombaan. Kecantikan, kekuatan fisik, jabatan, posisi, dan hal fana lainnya adalah alat unjuk kesombongan belaka. Banyak orang yang telah salah menafsirkan makna sukses. Ketika hidup di dunia, banyak orang yang mengumpulkan uang,perhiasan, dan lainnya hanya untuk diakui oleh manusia. Namun tidak menyeimbangkan dengan bekal akhirat, sehingga ketika kembali kepada Allah, tidak ada bekal yang dapat dibawa. Ilmu dan amal adalah paket menuju akhirat yang juga harus kita kejar, bukan hanya kesuksesan duniawi.

    ReplyDelete
  46. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan di atas saya tidak mampu membendung air mata, mengalir dan terus mengalir. Teringat akan sosok pahlawan terbaik yang berjasa dalam proses pembelajaran yaitu ayah dan ibu serta para pendidik yang telah berkontribusi dalam perjalanan kehidupan sampai saat ini. Mohon doa restu dari Bapak agar saya dapat menggapai langit tersebut. Proses menggapai yang dimulai dari titik nol bagi saya adalah permulaan yang sangat berarti. Karena saya menyadari titik nol tersebut membuat saya berani untuk bertanya akan suatu hal yang saya tidak tahu.

    ReplyDelete
  47. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Mencari ilmu harus dilakukan dengan keadaan diri seikhlas-ikhlasnya. karena dengan berserah diri dalam bersifat ikhlas ilmu tersebut akan terus mengalir dan mudah dipahami. dalamkehidupan bersifat ikhlas sangat diperlukan dalam berbagai hal. jangan pernah bersifat sombong karena kesombongan-kesombongan itu membuat sang ilmu tidak datang.

    ReplyDelete
  48. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi ini saya mengambil pelajaran bahwa pengalaman bisa menjadi sumber ilmu dan inspirasi. Banyaknya orang yang gagal dalam sebuah kompetisi mencari sumber ilmu, bisa menjadi hikmah bagi kita semua agar tidak melakukan kesombongan. Karena kesombongan adalah pangkal dari kegagalan.

    ReplyDelete
  49. Junianto
    17709251065
    PM C

    Seberapapun tinggi ilmu seseorang, jika ia dipenuhi dengan kesombongan maka akan menjerumuskan dirinya sendiri. Kesombongan juga bisa menghabiskan amal kebaikan. Maka dari itu, sebenar-benar manusia yang terpuji adalah mereka yang selalu menyimpan kelebihannya dalam diam dan kerendahan hati. Mereka adalah orang-orang yang melakukan amal kebajikan semata-mata hanya karena mengharap ridho-Nya. Dan inilah sebenar-benar ikhlas yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

    ReplyDelete
  50. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam upaya menjunjung langit tidak dapat ditempuh jika dengan hati yang kotor, sikap yang buruk dan bahasa yang tidak sopan, semuanya harus pada keadaan yang baik. Karena menjunjung langit tidaklah ditentukan oleh tingginya jabatan, banyaknya kekayaan, serta hal duniawi lainnya. Semuanya harus dengan keikhlasan serta semata-mata hanya mengharapkan ridha ilahi. Maka marilah meluruskan niat kita dalam upaya menjunjung langit. Karena bukanlah langit yang harus menggapai bumi, tapi bumilah yang seharusnya menggapai langit.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  51. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Menuntut ilmu harus dilakukan dengan hati ikhlas bukan dengan hati yang sombong. Jika hati tidak ikhlas dalam menuntut ilmu maka hilanglah keberkahannya. Jika kesombongan ada dalam hati maka ia akan mengalangi datangnya ilmu. Belajar dan menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap manusia. Dengan menuntut ilmu pula, Allah menaikkan derajat seseorang.

    ReplyDelete
  52. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Terima Kasih prof tulisan diatas benar-benar menyadarkan kami bahwa menjujung langit merupakan proses manusia untuk selalu berusaha mencari ilmu. Ilmu adalah amanah oleh karenanya bagi mereka yang memiliki ilmu haruslah mengajarkannya kepada orang lain, membagikannya kepada mereka yang membutuhkan. Sekali lagi seperti dalam elegi-elegi ikhlas yang lain bahwa kita harus meruntuhkan segala ego dan belenggu dunia serta penyakit hati agar dalam proses menuntut ilmu dapat kita pahami. Dan yang tak kalah penting ada doa dan permohonan kita kepasa Allah SWT.Terima Kasih.

    ReplyDelete
  53. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi yang sangat menarik, jika saya boleh menyimpulkan ide besar yang saya tangkap dari elegi diatas adalah pesan bagi para penuntut ilmu supaya ikhlas dalam menjalani proses dan bersungsuh-sunguh menjalaninya. Kemudian jangan pernah berlaku sombong dengan apa yang dimiliki, kekayaan, jabatan tinggi, kekuatan fisik, maupun kecantikan, karena semua itu tidak akan membuat kita mendapatkan ilmu yang sebenar-benar ilmu bahkan keponakan atau ilmu itu sendiri tidak membuat kita mampu "menjunjung langit" Jika kita berlaku sombong dan tidak ikhlas menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  54. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Di atas langit masih ada langit. Seperti halnya ilmu, diatas ilmu masih ada ilmu. Mka dalam mencari dan menuntut ilmu, janganlah bersifat sombong. Carilah ilmu sampai keliang lahat. Mencari ilmu tidak akan ada habisnya selama kita masih hidup. Dalam mencari ilmu, kuncinya adalah ikhlas. Karena kita sedang belajar dengan orang yang dimensinya lebih tinggi dari kita. Cukup bersifat kritis dan mengambil semua ilmu yang sudah diajarkan guru ke muridnya. Semoga dalam menuntut ilmu, kita tidaklah sombong. Rendah hati bukan rendah diri

    ReplyDelete
  55. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dengan niat tulus ikhlas untuk mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat. Ikhtiar dan doa agar ilmu yang telah didapatkan dapat berguna bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ilmu itu nantinya juga dapat berguna di dunia maupun di akhirat. Tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri akan ilmu yang telah didapatkan. Merugilah bagi mereka yang telah berlaku sombong karena sejatinya ilmu itu tidak sepantasnya untuk disombongkan. Semain tinggi ilmu yang didapatkan maka sudah sepantasnya semakin tinggi pula manusia itu bersyukur atas ilmunya.

    ReplyDelete
  56. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Kunci untuk mencapai kemajuan dalam menuntut ilmu adalah dengan tidak pernah puas mencari tentang ilmu itu, pencarian bisa dilakukan jika kita mampu berpikir kritis. Kemudian dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas hati sejalan dengan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  57. Manusia sepanjang hayatnya hendaklah selalu menuntut ilmu kepada manusai lain yang memiliki ilmu terlebih dahulu. Setiap manusia hendaklah selalu berusaha dalam menggapai ke-ikhlasan yang sebenar-benarnya. Kekuasaan, kekayaan, jabatan, kekuatan fisik, semua unsur yang ada dunia tidak ada yang abadi yang ada hanya amalan ke-ikhlasan yang telah kita lakukan yang abadi.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  58. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Perlombaan menjunjung langit adalah sebuah pengibaratan dimana semua orang yang ada dan yang mungkin ada bersungguh-sungguh, berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat terbaik, jabatan dan pangkat terbaik, kesuksesan dan keberhasilan terbaik dari usahanya. Banyak dari mereka menggunakan cara yang benar dan haq, namun tak sedikit pula dari mereka yang menghalalkan segala cara. Banyak dari mereka yang telah sombong, dan merasa dirinya hebat terlebih dahulu padahal belum tentu dia mampu meraih kesuksesan dunia yang ia harapkan. Banyak sekali yang telah merasa pintar dan cerdas, banyak pengalaman dan teori, namun ia tidak mampu memperoleh keberhasilan dalam hidup karena penyakit hati nya masih terbendung didalam dirinya. Maka, marilah kita menjadi sebaik-baik makhluk Allah, yang apabila ingin mendapat keberhasilan dan kesuksesan, jauhkanlah diri dari segala kesombongan dan takabur atas ilmu dan pengalaman yang telah kita punya, berusaha ikhlas dan qonaah dengan apa yang kita dapatkan, agar semua yang kita inginkan akan terwujud atas keridhoan dan keberkahan dari Allah swt. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  59. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  60. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Terdapat suatu pernyataan bahwa saat seorang manusia tidak disertai rasa syukur maka dia akan menjadi pribadi yang sombong. Padahal segala apa yang dimilikinya tidak sebanding dengan apa yang selama ini dia peroleh dari Tuhan, dan mengingat bahwa masih ada yang lebih hebat dari diri kita. Bahkan kadang seorang yang lebih baik dan hebat dari kita saja tidak berperilaku sombong lalu mengapa diri ini yang belum seberapa ini memiliki keinginan sombong. Oleh karena itu sebagai manusia maka janganlah menjadi pribadi seorang yang sombong, karena segala apa yang dimiliki oleh dirinya bukanlah sepenuhnya dia yang mencapai sendiri

    ReplyDelete
  61. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima Prof. atas elegi nya. Rasanya saya tidak tau ingin berkomentar apa. Dari sekian banyak elegi prof termasuk elegi ritual ikhlas 26: perlombaan menjunjung langit, sangat bermanfaat bagi saya khususnya. Elegi ini menggambarkan jika manusia di dunia bukan lah suatu apa-apa, manusia hanya hamba yang hakekat nya menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Kemudian dari ibadah akan muncul ilmu pengetahuan, seperti pengetahuan agama, alam, sosial, dan sebagainya. Sifat dasar manusiawi yaitu memiliki hawa nafsu, kesombongan, dan ego yang akan muncul ketika manusia berhasil memperoleh suatu hal, baik itu jabatan, gelar, penghasilan, penghargaan, pangkat, serta hal lain yang berkaitan dengan nilai manusia dimata manusia lainnya. Sifat ini lah yang harus manusia taklukan dimana sesungguhnya di balik ilmu yang manusia miliki saat ini bukan lah apa-apa dibandingkan ilmu dunia dan ilmu hati.

    ReplyDelete
  62. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam keadaan yang bimbang seringkali orang juga celaka karena pada dasarnya mereka tidak memiliki ilmu yang cukup untuk meyakinkan dirinya dalam melakukan sesuatu yang baik. Kenapa saya mengatakan melakukan sesuatu yang baik, karena pada dasarnya melakukan sesuatu yang buruk merupakan keyakinan yang dibisikkan oleh syaitan dikarenakan memiliki ilmu yang sedikit. Jadi, jika kita tidak memiliki pondasi yang kuat guna memutuskan sesuatu yang haq maupun bathil, maka tunggulah saatnya kita terperosok ke dalam hal yang bathil. Karena mereka yang memiliki ilmu sedikitlah yang sesungguhnya akan jatuh pada hal yang bathil. Namun, hal tersebut lantas akan membuat orang yang memiliki ilmu dan pondasi yang kuat merasa diri mereka juga aman dalam melakukan sesuatu pasti mengaah pada yang haq. Untuk mereka yang memiliki ilmu dan pondasi yang kuat juga akan terperosok ke dalam hal yang bathil jika tidak mampu mengontrol nafsunya untuk tidak bersifat takabbur atas nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi Nikmat. Karena pada dasarnya kita seharusnya selalu menyertakan Alloh dalam diri kita. Syaitan tidak hanya mengganggu mereka yang memiliki ilmu dan pondasi lemah, namun mereka juga mengganggu para pemilik ilmu yang tinggi dengan pondasi yang kuat pula. Maka dari itu selalu beristighfar, karenahal tersebut yang selalu mengingatkan kita bahwa ada Alloh yang memberikan sekgala ilmu dan memberikan maaf atas dosa yang tidak kita sadari di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  63. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Menuntut ilmu itu dialakukan sepanjang hidup, orang yang sudah puas akan ilmunya itu berarti dia termakan oleh kesombongan. Menuntut ilmu, bukan hanya ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Karena yang akan menolong kita di hari setelah kematian nanti adalah amal perbuatan kita selama hidup di dunia ini. Marilah berlomba-lomba dalam menuntut ilmu dunia dan akhirat agar kita mendapat kebagian dunia dan akhirat, jangan sampai kita termakan kesombongan yang dapat menjadikan terjerumus dalam kematian. Terimakasih

    ReplyDelete
  64. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tidak ada manusia paling kuat menandingi Allah. Tidak ada manusia paling hebat menandingi hebatnya Allah. Maka tidak sepantasnya manusia berperilaku sombong. Kesombongan tidak akan membuahkan hasil apa-apa, dan dapat mencelakakan diri sendiri. Tidak akan ada manfaatnya manusia saling menyombongkan diri. Lebih baik saling membantu jika satu sama lain memiliki masalah bersama yang harus dipecahkan, bukan adu kekuatan siapa yang paling hebat. Lebih baik manusia saling berdzikir kepada Allah SWT dan memohon petunjukNya agar selalu dibimbing dalam jalan kebenaran, agar tidak tersesat dan menjadi manusia yang rugi.

    ReplyDelete
  65. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Dengan arogansi kita tidak akan dapat pengetahuan. Tanpa pengetahuan kita tidak bisa berkembang. Sifat manusia selalu ingin lebih baik harus dibarengi dengan pengetahuan. Kita harus menjadi orang yang selalu rajin yang selalu ingin tahu lebih banyak tentang pengetahuan.
    Jadi, kita harus selalu mengingat Allah dalam hidup kita. Dengan kita selalu mengingat Allah dalam hidup kita, maka kehidupan akan lebih damai dan khawatir akan hilang dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  66. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    DAlam elegi ini, saya dapat mengetahui bahwa di atas langit masih ada langit. Seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswanya, bisa jadi kalah pintar dengan siswanya. Namun seoarang guru memang akan lebih bangga jika siswanya lebih sukses dari dirinya. Hal itu berarti guru telah berhasil mendidik siswanya sampai sukses.
    Manusia tidak pantas untuk memiliki sikap sombong. begitu juga seorang guru, tidak boleh bersika sombong terhadap siswanya. Bisa jadi siswanya lebih pintar dari gurunya. Siswa pun begitu, tidak boleh bersikap sombong dari gurunya, merasa bahwa dia telah belajar lebih dalam dari gururnya.
    Untuk meyikapi sikap sombong dalam konteks belajar, hendaknya kita selalu mengingat bahwa seharusnya kita tidak mudah puas dengan ilmu yang kita peroleh. Karena jika kita merasa puas, maka kita merasa sudah menguasai banyak hal dan berujung kita semakin malas untuk lebih belajar.

    ReplyDelete
  67. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Orang yang berilmu adalah orang yang selalu merasa kurang akan dirinya. Dengan pemikiran kritis yang dibaluti keikhlasan dia senantiasa terus mencari dan menggapai ilmu. Dia juga terus belajar memaknai sesuatu pada ruang dan waktu yang tepat. Semakin dia berilmu semakin dia merasa kecil dan rendah hati. Dan sebenar-benar orang yang dapat menjunjung langit adalah mereka yang senantiasa berpikir kritis dan ikhlas memperdalam ilmu serta menyebarkan manfaat ilmunya kepada lingkungannya.

    ReplyDelete
  68. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah, sebab ilmu merupakan pembuka untuk amalan yang lain. Dengan ilmu manusia mengetahui adab beribadah kepada Tuhannya, amalan apa yang harus dilakukan, dan apa-apa saja yang dilarang agamanya. Keikhlasan dalam menuntut ilmu perlu dijaga, agar hakikat dari ilmu itu tidak sia-sia. Jangan sombong dalam menuntut ilmu, karena apa yang diketahui sekarang merupakan sebagian kecil dari apa yang diketahui di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  69. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Janganlah merasa cepat puas dalam menuntut ilmu, karena apabila kita telah merasa puas maka ilmu dan hidayah akan sulit masuk kedalam pikiran kita. Rasa cepat puas bisa juga ditimbulkan oleh sifat sombong dimana ia merasa lebih hebat dari orang lain, menyebabkan ia berhenti untuk menuntut ilmu karena merasa dirinya lebih hebat. Mari kita bersama-sama berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari yang namanya sifat sombong. Amin ya robbal alamin ya Allah.

    ReplyDelete
  70. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Menuntut ilmu wajib bagi siapa saja. Kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai kapanpun dan dimanapun kita berada, seperti kata pepatah “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Ilmu sangat penting untuk kehidupan kita di dunia dan juga sangat penting untuk kehidupan kita di akhirat kelak. Oleh karena itu kita hendaknya terus mencari ilmu dan tidak boleh cepat merasa puas akan imu yang kita peroleh

    ReplyDelete
  71. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Satu hal yang harus kita ingat, diatas langit masih ada langit. Setinggi-tinggi apapun ilmu dan kemampuan yang kita miliki selalu tidak akan sanggup menyamai keagungan Allah. Maka dari itu, dalam kehidupan kita tidak boleh bersikap sombong atas apa yang kita miliki, termasuk ilmu. Hanyalah orang-orang yang ikhlas dan rendah hati dalam berilmu yang akan mendapat kebaikan dari pada apa yang dimiliki. Merekalah yang akan diangkat drajadnya di hadapan Allah. Bukan orang-orang yang setelah diberikan ilmu kemudian ia sombong. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari kesombongan dalam menuntut ilmu, dan semoga kita senantiasa dibimbing untuk dapat belajar dengan niat yang tulus ikhlas untuk mencari ridha Allah. Aamiin.

    ReplyDelete
  72. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete

  73. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Setelah membaca artikel tersebut, kemudian saya berusaha memahaminya, cukup butuh fokus yang tinggi memang. Seseorang yang mempunyai keikhlasan hati, pikiran yang kritis dan pengendalian diri akan menjadi seorang pemenang. Pemenang di dunia dan di akhirat. Setelah mendapat ilmu, kita tidak boleh menjadi manusia yang sombong, karena sebuah kesombongan akan menggiring kita pada kegagalan.

    ReplyDelete
  74. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Setiap diri selalau berusaha untuk memperbaiki diri dalam rangka mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Seorang penuntut ilmu juga begitu, harus selalu dan konsisten dalam belajar. Ilmu hanya dapat diperoleh dengan tulus keihklasan, berlatih olah piker, dan selalu berdoa. Janganlah sombong ketika mempunyai segala fasilitas untuk mencari ilmu, maka dengan seenaknya dia berbuat, maka ilmu pun sudi mendatanginya.

    ReplyDelete
  75. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Seorang penunut ilmu akan merasa ada yang kurang jika dia berhenti mencari ilmu, seperti rindu tak tertahan, tak bertepi, hanya ingin bertemu dan berdiskusi. Maka orang tsb telah cinta kepada ilmu, cinta pada pengetahun. Tidak heran jika seluruh pikirannya focus kesana, mencoba mempertemukan bumi dengan langit, tanpa kesombongan dan keangkuhan, tetapi dengan doa dan ikhtiar serta cinta tulus dan ikhlas terhadap ilmu

    ReplyDelete
  76. Latifah Fitriasari
    PM C

    Sesungguhnya kehidupan ini adalah kompetisi atau perlombaan. Perlombaan yang dimaksud adalah berlomba-lomba dalam hal kebaikan seperti berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Mereka yang dapat menjunjung langit hanyalah orang-orang yang berhati bersih dan mampu berpikir kritis. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ini juga berarti mampu menarik kesimpulan dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan dan pertentangan.

    ReplyDelete
  77. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Terkadang kita lupa bahwa diatas langit masih ada langit. Ketika memiliki sedikit ilmu, kita merasa sombong, kita merasa kitalah yang paling berilmu. Padahal dengan kesombongan kita, kita justru membakar habis ilmu kita hingga yang tersisa hanyalah bara api yang panas. Maka kita harus menyadari bahwa sebenar-benar manusia harus terus belajar karena yang dapat dilakukan manusia hanyalah berusaha menggapai ilmu. Karena sebenar-benar ilmu hanyalah milik Allah SWT. Maka tiada gunalah kesombongan yang kita miliki. Maka yang harus kita siapkan untuk menggapai ilmu ialah pikiran yang jernih dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  78. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Elegi di atas menceritakan mengenai perlombaan menjunjung langit. Digambarkan bahwa orang yang memiliki kesombongan tidak akan menjadi seorang pemenang atau bahkan akan mati. Seorang pemenang haruslah memiliki ilmu dunia dan ilmu akhirat, keihlasan, kejujuran, niat yang tulus dan baik, serta didasari oleh perilaku yang terpuji. Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong tidak akan menjadi seorang pemenang, karena ilmu dunia saja tidak akan cukup sebagai bekal di akhirat nanti.

    ReplyDelete
  79. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam dunia ini tidak dapat terlepas dari kontradiksi. Kontradiksi tersebut selalu ada dalam kehidupan sehari hari kita. Misalkan ketika terdapat suatu kejadian yang menyenangkan namun ada juga kejadian yang menyedihkan. Ada yang berlaku jujur namun ada juga yang berlaku bohong. Ada yang berpikir logis ada yang tidak berpikir logis. Maka kiranya kita perlu berhati hati dalam benrtindak sehingga kita termsuk orang yang diberi petunjuk kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  80. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kita seharusnya memahami dan mengingat bahwa di atas langit masih ada langit, hal ini mengimplikasikan bahwa sehebat apapun diri kita, masih ada orang yang lebih hebat dari kita. Perlombaan menjunjung langit tidak akan berhenti karena perlombaan semacam itu akan melatih kesombongan yang sebenarnya tidak memerlukan pelatihan untuk membuatnya keluar dan mendominasi diri kita. Sombong dapat menjangkit siapapun bahkan seseorang yang berilmu sekalipun terlebih jika ia termakan pujian yang dilontarkan atas namanya, adapun agar kita terhindar dari yang demikian maka kita harus senantiasa mengingat semua yang kita miliki hanyalah titipan. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  81. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dikenal suatu sifat tawadhu' dan qanaah, tawadhu' dan qanaah merupakan kombinasi yang tepat menghindari kesombongan, riya dan tinggi hati. Dengan tawadhu kita akan merasa bahwa kita bukan apa-apa dibandingkan yang lainnya. Sifat ini mengajrkan kita untuk tidak memiliki gengsi apapun, bahkan kita jika diharuskan belajar dari anak kecil sekalipun. Prinsipnya ialah kita harus menghormati orang yang mebil tua dan yang lebih muda sekalipun. Alasan yang mendasarinya ialah seorang yang lebih tua tentu memiliki dan telah beribadah lebih lama dari kita,sedangkan anak kecil memilii waktu yang lebih sempit untuk berbuat maksiat. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  82. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kesombongan adalah salah satu penyebab bagi manusia sehingga dia tidak mampu untuk menjunjung langit. Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan. Jadi, perbanyaklah mencari ilmu, namun jangnlah kita sombong dengan ilmu yang kita dapatkan. Karena Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka dari itu kita sebagai makhluk Allah hendaknya harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Dan hanya orang-orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridho Nya maka dia akan terancam kematian. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berdo’a dan memohon kepada Allah dalam melakukan segala hal dan selalu bertaqwa beribadah berserah diri padaNYA agar kita mendapatkan keridhoan-Nya.

    ReplyDelete
  83. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Banyak cara untuk menuntut ilmu. Setelah kita menuntut ilmu, hendaknya kita semakin ikhlas dan rasa rendah hati, apalagi merasa bahwa dirinya yang paling hebat. Hal itu dapat menghambat ebermanfaatan ilmu kita. Sangat disayangkan ketika ilmu yang kita miliki hanya sia-sia karena ttidak bermanfaat dalam kebaikan tetapi hanya untuk disombongkan. Jadilah orang yang berilmu dan peruh dengan kebaikan.

    ReplyDelete
  84. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dari semua sifat yang ada dan mungkin ada, mannusia hanya akan bisa menyebutkan sebagianya sifatnya saja. Karena itu sesuai dengan kapasitasnya yang terbatas. Setinggi-tingginya ilmu yang kita ketahui pasti ada suatu hal yang kita ketahuia. Misalnya sebanyak apapun bahasa yang kita kuasai pasti ada saja bahasa yang tidak kita ketahui misalnya bahasa tumbuhan. Keterbatasan ini haruslah dirasdari oleh manusia sehingga ia tidak akan tersesat di dalam kesombongan
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  85. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dalam menuntut ilmu juga diperlukan keikhlasan. Banyak sekali manusia yang dalam mempelajari suatu ilmu tidak dala keadaan ikhlas. Memang kita tidak dapat menilai keikhlasan, namun banyak yang menuntut ilmu hanya karena ingin mengisi waktu luang, mengejar nilai, dan ingin dipandang orang sebagai orang yang berilmu serta alasan lainnya yang bukan semata-mata ingin mendapat ridho-Nya. Mari selalu perbaiki niat, karena niat dapat berubah sewaktu-waktu.

    ReplyDelete
  86. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    dari membaca elegi di atas, saya menangkap pesan bahwa dalam menuntut ilmu, kita tidak boleh berhenti dan terjebak mitos, yaitu merasa bahwa ilmu kita sudah cukup dan tidak perlu lagi melanjutkan belajar. padahal belajar itu suatu keharusan sampai kita wafat. dan ilmu pengetahuan yang kita rasa sudah cukup itu hanyalah seperti pasir di pantai atau setetes air di lautan.

    ReplyDelete
  87. Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih atas tulisan yang bermanfaat ini, pak. Saya dapat memaknai bahwa, perlombaan dalam arti saling berlomba dalam kebaikan hanya dapat dilalui dengan proses yang diridhoi. Perlombaan tidak berarti saling menjatuhkan, namun sebaliknya, yaitu saling mengingatkan dala kebaikan. Berbeda dalam bentuk perlombaan yang sifatnya individualis, pelrombaan dalam kebaikan adalah jalan kolektif untuk menggapai kebaikan bersama-sama. Dalam hal ini, taka da yang bias menggapai langit, sebab di atas langit masih ada langit dan itu akan membawa pada kesombongan. Makna dari perlombaan adalah usaha bersama-sama dalam menunjung langit agar tetap kokoh.

    ReplyDelete
  88. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi perlombaan menjunjung langit, langit diibaratkan sebagai ilmu. Berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Namun semakin tinggi ilmu yang diperoleh seseorang hendaklah ia menjaga dirinya terutama menjaga hatinya untuk tetap rendah hari dan tidak sombong akan ilmu yang ia miliki. Semakin banyak ilmu maka semakin tinggi seharusnya rasa ingin berbaginya dan tidak merasa dirugikan karena itu, sebab berbagi ilmu tidak akan mengurangi ilmu malah semakin bertambah ilmu dan malah mungkin membantunya memperbaharui ilmu yang ia miliki.

    ReplyDelete
  89. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    seperti pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit masih ada langit, sama halnya dengan ilmu, diatas ilmu masih ada ilmu. manusia diperintahkan untuk mencari ilmu dari lahir hingga ajal menjemput. ilmu tidak selamanya didapatkan dari pendidikan formal, pada setiap kesempatan kita dapat belajar, dapat belajar dari pengalaman, dari suatu kejadian, dari kegagalan.

    ReplyDelete
  90. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam menggapai ilmu dibutuhkan pikiran yang kritis dan hati yang bersih. Orang yang berilmu tidak akan pernah mengatakan bahwa dirinya berilu. Kesombonganlah yang akan menggerogoti setiap ilmu yang dimiliki. Ilmu sebanyak apapun, jabatan setinggi apapun, sebagus apapun paras yang dimiliki seseorang tidak akan ada artinya apabila dirinya dikuasai oleh kesombongan. Lakukanlah sesuatunya hanya untuk mendapatkan keridhoan dari Allah semata.

    ReplyDelete
  91. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Elegi diatas mengajarkan nilai pantang menyerah. Sebagai manusia haruslah pantang menyerah, karena dengan tidak menyerah masih ada harapan untuk keberhasilan. Namun, jikalau sudah menyerah maka selesai sudah, apa yang kita inginkan tak akan tercapai. Dalam meraih mimpi dan cita-cita juga diperlukan ilmu. Semua manusia diwajibkan untuk belajar atau berusaha menggapai ilmu atau menggapai langit. Hanya kematianlah yang membuat manusia berhenti belajar.

    ReplyDelete
  92. Setelah manusia benar benar belajar, maka ia mendapatkan ilmu. Kesombongan biasanya datang pada orang orang uang memiliki banyak ilmu. Janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu kita. Karena ilmu kita itu ibaratkan satu tetes air sedangkan ilmu Allah lebih daripada air yang ada di bumi ini. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan, teruslah bertawakal dan teruslah mencari ilmu.

    17709251033

    ReplyDelete
  93. Setelah manusia benar benar belajar, maka ia mendapatkan ilmu. Kesombongan biasanya datang pada orang orang uang memiliki banyak ilmu. Janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu kita. Karena ilmu kita itu ibaratkan satu tetes air sedangkan ilmu Allah lebih daripada air yang ada di bumi ini. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan, teruslah bertawakal dan teruslah mencari ilmu.

    Belajarlah dengan ikhlas, jangalah berbuat sombong. Sesungguhnya apa yang kita miliki ini hanyalah bersifat sementara dan semuanya akan kembali pada Allah SWT.

    17709251033
    Pratama Wahyu Purnama

    ReplyDelete
  94. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Seringkali manusia merasa terlalu puas dengan ilmu dunianya. Merasa sombong atas segala pencapaiannya . Padahal apa yang di dunia hanyalah sesaat, tidak kekal. Dalam menggapai akhirat, perlu kerendahan hati, keinginan untuk belajar, serta memohon pertolongan-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya

    ReplyDelete
  95. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete
  96. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Tetapi sesungguhnya tiada orang yang memperoleh ilmu karena ilmu itu sangatlah luas, kita hanya mencoba menggapai ilmu karena ilmu hanya milik Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia hanya bagian yang sangat kecildari keseluruhan ilmu yang ada. Manusia memang tidak akan mampu memiliki semua ilmu, tetapi kita diwajibkan untuk selalu menuntut dan menggapai ilmu selama hidup, baik ilmu dunia maupu akhirat. Orang yang menggapai ilmu adalah orang yang sedang belajar. Maka marilah kita selalu belajar bahkan dalam kondisi sakit dan usia yang tua sekalipun. Ilmu itu penting bagi manusia, jangan sampai kita merasa sombong dan merasa tidak perlu belajar atau menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  97. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah kita tidak boleh sombong terhadap ilmu ataupun pengalaman yang kita miliki. Meskipun kita telah memiliki pengalaman pada suatu bidang, contohnya matematika, belum ilmu dan pengalaman kita yang paling benar.Kita harus tetap terbuka terhadap kritik, saran, maupun ilmu-ilmu lain. Kita juga tidak boleh merasa "cukup" saat mencari ilmu karena semakin banyak orang belajar, semakin banyak ia merasa dirinya tidak tahu apa-apa, maka semakin giat pula ia dalam belajar. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus selalu mengupgrade diri, selalu berbenah diri, dan berpikir terbuka. Kita harus terus mencari ilmu sampai akhir hayat kita nanti.

    ReplyDelete