Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

44 comments:

  1. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Elegi yang sangat menarik, jika saya boleh menyimpulkan ide besar yang saya tangkap dari elegi diatas adalah pesan bagi para penuntut ilmu supaya ikhlas dalam menjalani proses dan bersungsuh-sunguh menjalaninya. Kemudian jangan pernah berlaku sombong dengan apa yang dimiliki, kekayaan, jabatan tinggi, kekuatan fisik, maupun kecantikan, karena semua itu tidak akan membuat kita mendapatkan ilmu yang sebenar-benar ilmu bahkan keponakan atau ilmu itu sendiri tidak membuat kita mampu "menjunjung langit" Jika kita berlaku sombong dan tidak ikhlas menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  2. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Di atas langit masih ada langit. Seperti halnya ilmu, diatas ilmu masih ada ilmu. Mka dalam mencari dan menuntut ilmu, janganlah bersifat sombong. Carilah ilmu sampai keliang lahat. Mencari ilmu tidak akan ada habisnya selama kita masih hidup. Dalam mencari ilmu, kuncinya adalah ikhlas. Karena kita sedang belajar dengan orang yang dimensinya lebih tinggi dari kita. Cukup bersifat kritis dan mengambil semua ilmu yang sudah diajarkan guru ke muridnya. Semoga dalam menuntut ilmu, kita tidaklah sombong. Rendah hati bukan rendah diri

    ReplyDelete
  3. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Dengan niat tulus ikhlas untuk mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat. Ikhtiar dan doa agar ilmu yang telah didapatkan dapat berguna bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ilmu itu nantinya juga dapat berguna di dunia maupun di akhirat. Tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri akan ilmu yang telah didapatkan. Merugilah bagi mereka yang telah berlaku sombong karena sejatinya ilmu itu tidak sepantasnya untuk disombongkan. Semain tinggi ilmu yang didapatkan maka sudah sepantasnya semakin tinggi pula manusia itu bersyukur atas ilmunya.

    ReplyDelete
  4. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Kunci untuk mencapai kemajuan dalam menuntut ilmu adalah dengan tidak pernah puas mencari tentang ilmu itu, pencarian bisa dilakukan jika kita mampu berpikir kritis. Kemudian dalam menuntut ilmu kita harus ikhlas hati sejalan dengan ikhlas pikir.

    ReplyDelete
  5. Manusia sepanjang hayatnya hendaklah selalu menuntut ilmu kepada manusai lain yang memiliki ilmu terlebih dahulu. Setiap manusia hendaklah selalu berusaha dalam menggapai ke-ikhlasan yang sebenar-benarnya. Kekuasaan, kekayaan, jabatan, kekuatan fisik, semua unsur yang ada dunia tidak ada yang abadi yang ada hanya amalan ke-ikhlasan yang telah kita lakukan yang abadi.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  6. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Perlombaan menjunjung langit adalah sebuah pengibaratan dimana semua orang yang ada dan yang mungkin ada bersungguh-sungguh, berlomba-lomba untuk mendapatkan tempat terbaik, jabatan dan pangkat terbaik, kesuksesan dan keberhasilan terbaik dari usahanya. Banyak dari mereka menggunakan cara yang benar dan haq, namun tak sedikit pula dari mereka yang menghalalkan segala cara. Banyak dari mereka yang telah sombong, dan merasa dirinya hebat terlebih dahulu padahal belum tentu dia mampu meraih kesuksesan dunia yang ia harapkan. Banyak sekali yang telah merasa pintar dan cerdas, banyak pengalaman dan teori, namun ia tidak mampu memperoleh keberhasilan dalam hidup karena penyakit hati nya masih terbendung didalam dirinya. Maka, marilah kita menjadi sebaik-baik makhluk Allah, yang apabila ingin mendapat keberhasilan dan kesuksesan, jauhkanlah diri dari segala kesombongan dan takabur atas ilmu dan pengalaman yang telah kita punya, berusaha ikhlas dan qonaah dengan apa yang kita dapatkan, agar semua yang kita inginkan akan terwujud atas keridhoan dan keberkahan dari Allah swt. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Terdapat suatu pernyataan bahwa saat seorang manusia tidak disertai rasa syukur maka dia akan menjadi pribadi yang sombong. Padahal segala apa yang dimilikinya tidak sebanding dengan apa yang selama ini dia peroleh dari Tuhan, dan mengingat bahwa masih ada yang lebih hebat dari diri kita. Bahkan kadang seorang yang lebih baik dan hebat dari kita saja tidak berperilaku sombong lalu mengapa diri ini yang belum seberapa ini memiliki keinginan sombong. Oleh karena itu sebagai manusia maka janganlah menjadi pribadi seorang yang sombong, karena segala apa yang dimiliki oleh dirinya bukanlah sepenuhnya dia yang mencapai sendiri

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Terima Prof. atas elegi nya. Rasanya saya tidak tau ingin berkomentar apa. Dari sekian banyak elegi prof termasuk elegi ritual ikhlas 26: perlombaan menjunjung langit, sangat bermanfaat bagi saya khususnya. Elegi ini menggambarkan jika manusia di dunia bukan lah suatu apa-apa, manusia hanya hamba yang hakekat nya menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Kemudian dari ibadah akan muncul ilmu pengetahuan, seperti pengetahuan agama, alam, sosial, dan sebagainya. Sifat dasar manusiawi yaitu memiliki hawa nafsu, kesombongan, dan ego yang akan muncul ketika manusia berhasil memperoleh suatu hal, baik itu jabatan, gelar, penghasilan, penghargaan, pangkat, serta hal lain yang berkaitan dengan nilai manusia dimata manusia lainnya. Sifat ini lah yang harus manusia taklukan dimana sesungguhnya di balik ilmu yang manusia miliki saat ini bukan lah apa-apa dibandingkan ilmu dunia dan ilmu hati.

    ReplyDelete
  10. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam keadaan yang bimbang seringkali orang juga celaka karena pada dasarnya mereka tidak memiliki ilmu yang cukup untuk meyakinkan dirinya dalam melakukan sesuatu yang baik. Kenapa saya mengatakan melakukan sesuatu yang baik, karena pada dasarnya melakukan sesuatu yang buruk merupakan keyakinan yang dibisikkan oleh syaitan dikarenakan memiliki ilmu yang sedikit. Jadi, jika kita tidak memiliki pondasi yang kuat guna memutuskan sesuatu yang haq maupun bathil, maka tunggulah saatnya kita terperosok ke dalam hal yang bathil. Karena mereka yang memiliki ilmu sedikitlah yang sesungguhnya akan jatuh pada hal yang bathil. Namun, hal tersebut lantas akan membuat orang yang memiliki ilmu dan pondasi yang kuat merasa diri mereka juga aman dalam melakukan sesuatu pasti mengaah pada yang haq. Untuk mereka yang memiliki ilmu dan pondasi yang kuat juga akan terperosok ke dalam hal yang bathil jika tidak mampu mengontrol nafsunya untuk tidak bersifat takabbur atas nikmat yang diberikan oleh Sang Maha Pemberi Nikmat. Karena pada dasarnya kita seharusnya selalu menyertakan Alloh dalam diri kita. Syaitan tidak hanya mengganggu mereka yang memiliki ilmu dan pondasi lemah, namun mereka juga mengganggu para pemilik ilmu yang tinggi dengan pondasi yang kuat pula. Maka dari itu selalu beristighfar, karenahal tersebut yang selalu mengingatkan kita bahwa ada Alloh yang memberikan sekgala ilmu dan memberikan maaf atas dosa yang tidak kita sadari di dunia ini.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  11. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Menuntut ilmu itu dialakukan sepanjang hidup, orang yang sudah puas akan ilmunya itu berarti dia termakan oleh kesombongan. Menuntut ilmu, bukan hanya ilmu dunia namun juga ilmu akhirat. Karena yang akan menolong kita di hari setelah kematian nanti adalah amal perbuatan kita selama hidup di dunia ini. Marilah berlomba-lomba dalam menuntut ilmu dunia dan akhirat agar kita mendapat kebagian dunia dan akhirat, jangan sampai kita termakan kesombongan yang dapat menjadikan terjerumus dalam kematian. Terimakasih

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Tidak ada manusia paling kuat menandingi Allah. Tidak ada manusia paling hebat menandingi hebatnya Allah. Maka tidak sepantasnya manusia berperilaku sombong. Kesombongan tidak akan membuahkan hasil apa-apa, dan dapat mencelakakan diri sendiri. Tidak akan ada manfaatnya manusia saling menyombongkan diri. Lebih baik saling membantu jika satu sama lain memiliki masalah bersama yang harus dipecahkan, bukan adu kekuatan siapa yang paling hebat. Lebih baik manusia saling berdzikir kepada Allah SWT dan memohon petunjukNya agar selalu dibimbing dalam jalan kebenaran, agar tidak tersesat dan menjadi manusia yang rugi.

    ReplyDelete
  13. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Dengan arogansi kita tidak akan dapat pengetahuan. Tanpa pengetahuan kita tidak bisa berkembang. Sifat manusia selalu ingin lebih baik harus dibarengi dengan pengetahuan. Kita harus menjadi orang yang selalu rajin yang selalu ingin tahu lebih banyak tentang pengetahuan.
    Jadi, kita harus selalu mengingat Allah dalam hidup kita. Dengan kita selalu mengingat Allah dalam hidup kita, maka kehidupan akan lebih damai dan khawatir akan hilang dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    P. Mat A S2 UNY

    DAlam elegi ini, saya dapat mengetahui bahwa di atas langit masih ada langit. Seorang guru yang mengajarkan ilmu pengetahuan kepada siswanya, bisa jadi kalah pintar dengan siswanya. Namun seoarang guru memang akan lebih bangga jika siswanya lebih sukses dari dirinya. Hal itu berarti guru telah berhasil mendidik siswanya sampai sukses.
    Manusia tidak pantas untuk memiliki sikap sombong. begitu juga seorang guru, tidak boleh bersika sombong terhadap siswanya. Bisa jadi siswanya lebih pintar dari gurunya. Siswa pun begitu, tidak boleh bersikap sombong dari gurunya, merasa bahwa dia telah belajar lebih dalam dari gururnya.
    Untuk meyikapi sikap sombong dalam konteks belajar, hendaknya kita selalu mengingat bahwa seharusnya kita tidak mudah puas dengan ilmu yang kita peroleh. Karena jika kita merasa puas, maka kita merasa sudah menguasai banyak hal dan berujung kita semakin malas untuk lebih belajar.

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Orang yang berilmu adalah orang yang selalu merasa kurang akan dirinya. Dengan pemikiran kritis yang dibaluti keikhlasan dia senantiasa terus mencari dan menggapai ilmu. Dia juga terus belajar memaknai sesuatu pada ruang dan waktu yang tepat. Semakin dia berilmu semakin dia merasa kecil dan rendah hati. Dan sebenar-benar orang yang dapat menjunjung langit adalah mereka yang senantiasa berpikir kritis dan ikhlas memperdalam ilmu serta menyebarkan manfaat ilmunya kepada lingkungannya.

    ReplyDelete
  16. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum. menuntut ilmu merupakan salah satu ibadah, sebab ilmu merupakan pembuka untuk amalan yang lain. Dengan ilmu manusia mengetahui adab beribadah kepada Tuhannya, amalan apa yang harus dilakukan, dan apa-apa saja yang dilarang agamanya. Keikhlasan dalam menuntut ilmu perlu dijaga, agar hakikat dari ilmu itu tidak sia-sia. Jangan sombong dalam menuntut ilmu, karena apa yang diketahui sekarang merupakan sebagian kecil dari apa yang diketahui di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  17. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Janganlah merasa cepat puas dalam menuntut ilmu, karena apabila kita telah merasa puas maka ilmu dan hidayah akan sulit masuk kedalam pikiran kita. Rasa cepat puas bisa juga ditimbulkan oleh sifat sombong dimana ia merasa lebih hebat dari orang lain, menyebabkan ia berhenti untuk menuntut ilmu karena merasa dirinya lebih hebat. Mari kita bersama-sama berdoa kepada Allah SWT agar dihindarkan dari yang namanya sifat sombong. Amin ya robbal alamin ya Allah.

    ReplyDelete
  18. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Menuntut ilmu wajib bagi siapa saja. Kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai kapanpun dan dimanapun kita berada, seperti kata pepatah “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.” Ilmu sangat penting untuk kehidupan kita di dunia dan juga sangat penting untuk kehidupan kita di akhirat kelak. Oleh karena itu kita hendaknya terus mencari ilmu dan tidak boleh cepat merasa puas akan imu yang kita peroleh

    ReplyDelete
  19. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Satu hal yang harus kita ingat, diatas langit masih ada langit. Setinggi-tinggi apapun ilmu dan kemampuan yang kita miliki selalu tidak akan sanggup menyamai keagungan Allah. Maka dari itu, dalam kehidupan kita tidak boleh bersikap sombong atas apa yang kita miliki, termasuk ilmu. Hanyalah orang-orang yang ikhlas dan rendah hati dalam berilmu yang akan mendapat kebaikan dari pada apa yang dimiliki. Merekalah yang akan diangkat drajadnya di hadapan Allah. Bukan orang-orang yang setelah diberikan ilmu kemudian ia sombong. Semoga kita senantiasa dijauhkan dari kesombongan dalam menuntut ilmu, dan semoga kita senantiasa dibimbing untuk dapat belajar dengan niat yang tulus ikhlas untuk mencari ridha Allah. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete

  21. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Setelah membaca artikel tersebut, kemudian saya berusaha memahaminya, cukup butuh fokus yang tinggi memang. Seseorang yang mempunyai keikhlasan hati, pikiran yang kritis dan pengendalian diri akan menjadi seorang pemenang. Pemenang di dunia dan di akhirat. Setelah mendapat ilmu, kita tidak boleh menjadi manusia yang sombong, karena sebuah kesombongan akan menggiring kita pada kegagalan.

    ReplyDelete
  22. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Setiap diri selalau berusaha untuk memperbaiki diri dalam rangka mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Seorang penuntut ilmu juga begitu, harus selalu dan konsisten dalam belajar. Ilmu hanya dapat diperoleh dengan tulus keihklasan, berlatih olah piker, dan selalu berdoa. Janganlah sombong ketika mempunyai segala fasilitas untuk mencari ilmu, maka dengan seenaknya dia berbuat, maka ilmu pun sudi mendatanginya.

    ReplyDelete
  23. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Seorang penunut ilmu akan merasa ada yang kurang jika dia berhenti mencari ilmu, seperti rindu tak tertahan, tak bertepi, hanya ingin bertemu dan berdiskusi. Maka orang tsb telah cinta kepada ilmu, cinta pada pengetahun. Tidak heran jika seluruh pikirannya focus kesana, mencoba mempertemukan bumi dengan langit, tanpa kesombongan dan keangkuhan, tetapi dengan doa dan ikhtiar serta cinta tulus dan ikhlas terhadap ilmu

    ReplyDelete
  24. Latifah Fitriasari
    PM C

    Sesungguhnya kehidupan ini adalah kompetisi atau perlombaan. Perlombaan yang dimaksud adalah berlomba-lomba dalam hal kebaikan seperti berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Mereka yang dapat menjunjung langit hanyalah orang-orang yang berhati bersih dan mampu berpikir kritis. Berpikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Ini juga berarti mampu menarik kesimpulan dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidakkonsistenan dan pertentangan.

    ReplyDelete
  25. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PMC

    Terkadang kita lupa bahwa diatas langit masih ada langit. Ketika memiliki sedikit ilmu, kita merasa sombong, kita merasa kitalah yang paling berilmu. Padahal dengan kesombongan kita, kita justru membakar habis ilmu kita hingga yang tersisa hanyalah bara api yang panas. Maka kita harus menyadari bahwa sebenar-benar manusia harus terus belajar karena yang dapat dilakukan manusia hanyalah berusaha menggapai ilmu. Karena sebenar-benar ilmu hanyalah milik Allah SWT. Maka tiada gunalah kesombongan yang kita miliki. Maka yang harus kita siapkan untuk menggapai ilmu ialah pikiran yang jernih dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  26. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Elegi di atas menceritakan mengenai perlombaan menjunjung langit. Digambarkan bahwa orang yang memiliki kesombongan tidak akan menjadi seorang pemenang atau bahkan akan mati. Seorang pemenang haruslah memiliki ilmu dunia dan ilmu akhirat, keihlasan, kejujuran, niat yang tulus dan baik, serta didasari oleh perilaku yang terpuji. Seseorang yang berilmu dan menunjukkan ilmunya dengan sombong tidak akan menjadi seorang pemenang, karena ilmu dunia saja tidak akan cukup sebagai bekal di akhirat nanti.

    ReplyDelete
  27. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dalam dunia ini tidak dapat terlepas dari kontradiksi. Kontradiksi tersebut selalu ada dalam kehidupan sehari hari kita. Misalkan ketika terdapat suatu kejadian yang menyenangkan namun ada juga kejadian yang menyedihkan. Ada yang berlaku jujur namun ada juga yang berlaku bohong. Ada yang berpikir logis ada yang tidak berpikir logis. Maka kiranya kita perlu berhati hati dalam benrtindak sehingga kita termsuk orang yang diberi petunjuk kepada Tuhan YME.

    ReplyDelete
  28. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Kita seharusnya memahami dan mengingat bahwa di atas langit masih ada langit, hal ini mengimplikasikan bahwa sehebat apapun diri kita, masih ada orang yang lebih hebat dari kita. Perlombaan menjunjung langit tidak akan berhenti karena perlombaan semacam itu akan melatih kesombongan yang sebenarnya tidak memerlukan pelatihan untuk membuatnya keluar dan mendominasi diri kita. Sombong dapat menjangkit siapapun bahkan seseorang yang berilmu sekalipun terlebih jika ia termakan pujian yang dilontarkan atas namanya, adapun agar kita terhindar dari yang demikian maka kita harus senantiasa mengingat semua yang kita miliki hanyalah titipan. wallahu a'lam

    ReplyDelete
  29. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Dikenal suatu sifat tawadhu' dan qanaah, tawadhu' dan qanaah merupakan kombinasi yang tepat menghindari kesombongan, riya dan tinggi hati. Dengan tawadhu kita akan merasa bahwa kita bukan apa-apa dibandingkan yang lainnya. Sifat ini mengajrkan kita untuk tidak memiliki gengsi apapun, bahkan kita jika diharuskan belajar dari anak kecil sekalipun. Prinsipnya ialah kita harus menghormati orang yang mebil tua dan yang lebih muda sekalipun. Alasan yang mendasarinya ialah seorang yang lebih tua tentu memiliki dan telah beribadah lebih lama dari kita,sedangkan anak kecil memilii waktu yang lebih sempit untuk berbuat maksiat. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  30. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    PPs PMat C

    Kesombongan adalah salah satu penyebab bagi manusia sehingga dia tidak mampu untuk menjunjung langit. Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan. Jadi, perbanyaklah mencari ilmu, namun jangnlah kita sombong dengan ilmu yang kita dapatkan. Karena Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka dari itu kita sebagai makhluk Allah hendaknya harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Dan hanya orang-orang yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridho Nya maka dia akan terancam kematian. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa berdo’a dan memohon kepada Allah dalam melakukan segala hal dan selalu bertaqwa beribadah berserah diri padaNYA agar kita mendapatkan keridhoan-Nya.

    ReplyDelete
  31. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Banyak cara untuk menuntut ilmu. Setelah kita menuntut ilmu, hendaknya kita semakin ikhlas dan rasa rendah hati, apalagi merasa bahwa dirinya yang paling hebat. Hal itu dapat menghambat ebermanfaatan ilmu kita. Sangat disayangkan ketika ilmu yang kita miliki hanya sia-sia karena ttidak bermanfaat dalam kebaikan tetapi hanya untuk disombongkan. Jadilah orang yang berilmu dan peruh dengan kebaikan.

    ReplyDelete
  32. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dari semua sifat yang ada dan mungkin ada, mannusia hanya akan bisa menyebutkan sebagianya sifatnya saja. Karena itu sesuai dengan kapasitasnya yang terbatas. Setinggi-tingginya ilmu yang kita ketahui pasti ada suatu hal yang kita ketahuia. Misalnya sebanyak apapun bahasa yang kita kuasai pasti ada saja bahasa yang tidak kita ketahui misalnya bahasa tumbuhan. Keterbatasan ini haruslah dirasdari oleh manusia sehingga ia tidak akan tersesat di dalam kesombongan
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  33. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Dalam menuntut ilmu juga diperlukan keikhlasan. Banyak sekali manusia yang dalam mempelajari suatu ilmu tidak dala keadaan ikhlas. Memang kita tidak dapat menilai keikhlasan, namun banyak yang menuntut ilmu hanya karena ingin mengisi waktu luang, mengejar nilai, dan ingin dipandang orang sebagai orang yang berilmu serta alasan lainnya yang bukan semata-mata ingin mendapat ridho-Nya. Mari selalu perbaiki niat, karena niat dapat berubah sewaktu-waktu.

    ReplyDelete
  34. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    dari membaca elegi di atas, saya menangkap pesan bahwa dalam menuntut ilmu, kita tidak boleh berhenti dan terjebak mitos, yaitu merasa bahwa ilmu kita sudah cukup dan tidak perlu lagi melanjutkan belajar. padahal belajar itu suatu keharusan sampai kita wafat. dan ilmu pengetahuan yang kita rasa sudah cukup itu hanyalah seperti pasir di pantai atau setetes air di lautan.

    ReplyDelete
  35. Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih atas tulisan yang bermanfaat ini, pak. Saya dapat memaknai bahwa, perlombaan dalam arti saling berlomba dalam kebaikan hanya dapat dilalui dengan proses yang diridhoi. Perlombaan tidak berarti saling menjatuhkan, namun sebaliknya, yaitu saling mengingatkan dala kebaikan. Berbeda dalam bentuk perlombaan yang sifatnya individualis, pelrombaan dalam kebaikan adalah jalan kolektif untuk menggapai kebaikan bersama-sama. Dalam hal ini, taka da yang bias menggapai langit, sebab di atas langit masih ada langit dan itu akan membawa pada kesombongan. Makna dari perlombaan adalah usaha bersama-sama dalam menunjung langit agar tetap kokoh.

    ReplyDelete
  36. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi perlombaan menjunjung langit, langit diibaratkan sebagai ilmu. Berlomba-lomba dalam menuntut ilmu. Namun semakin tinggi ilmu yang diperoleh seseorang hendaklah ia menjaga dirinya terutama menjaga hatinya untuk tetap rendah hari dan tidak sombong akan ilmu yang ia miliki. Semakin banyak ilmu maka semakin tinggi seharusnya rasa ingin berbaginya dan tidak merasa dirugikan karena itu, sebab berbagi ilmu tidak akan mengurangi ilmu malah semakin bertambah ilmu dan malah mungkin membantunya memperbaharui ilmu yang ia miliki.

    ReplyDelete
  37. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    seperti pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit masih ada langit, sama halnya dengan ilmu, diatas ilmu masih ada ilmu. manusia diperintahkan untuk mencari ilmu dari lahir hingga ajal menjemput. ilmu tidak selamanya didapatkan dari pendidikan formal, pada setiap kesempatan kita dapat belajar, dapat belajar dari pengalaman, dari suatu kejadian, dari kegagalan.

    ReplyDelete
  38. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam menggapai ilmu dibutuhkan pikiran yang kritis dan hati yang bersih. Orang yang berilmu tidak akan pernah mengatakan bahwa dirinya berilu. Kesombonganlah yang akan menggerogoti setiap ilmu yang dimiliki. Ilmu sebanyak apapun, jabatan setinggi apapun, sebagus apapun paras yang dimiliki seseorang tidak akan ada artinya apabila dirinya dikuasai oleh kesombongan. Lakukanlah sesuatunya hanya untuk mendapatkan keridhoan dari Allah semata.

    ReplyDelete
  39. Pratama Wahyu Purnama
    17709251033

    Elegi diatas mengajarkan nilai pantang menyerah. Sebagai manusia haruslah pantang menyerah, karena dengan tidak menyerah masih ada harapan untuk keberhasilan. Namun, jikalau sudah menyerah maka selesai sudah, apa yang kita inginkan tak akan tercapai. Dalam meraih mimpi dan cita-cita juga diperlukan ilmu. Semua manusia diwajibkan untuk belajar atau berusaha menggapai ilmu atau menggapai langit. Hanya kematianlah yang membuat manusia berhenti belajar.

    ReplyDelete
  40. Setelah manusia benar benar belajar, maka ia mendapatkan ilmu. Kesombongan biasanya datang pada orang orang uang memiliki banyak ilmu. Janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu kita. Karena ilmu kita itu ibaratkan satu tetes air sedangkan ilmu Allah lebih daripada air yang ada di bumi ini. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan, teruslah bertawakal dan teruslah mencari ilmu.

    17709251033

    ReplyDelete
  41. Setelah manusia benar benar belajar, maka ia mendapatkan ilmu. Kesombongan biasanya datang pada orang orang uang memiliki banyak ilmu. Janganlah kita menyombongkan diri dengan ilmu kita. Karena ilmu kita itu ibaratkan satu tetes air sedangkan ilmu Allah lebih daripada air yang ada di bumi ini. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan, teruslah bertawakal dan teruslah mencari ilmu.

    Belajarlah dengan ikhlas, jangalah berbuat sombong. Sesungguhnya apa yang kita miliki ini hanyalah bersifat sementara dan semuanya akan kembali pada Allah SWT.

    17709251033
    Pratama Wahyu Purnama

    ReplyDelete
  42. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Seringkali manusia merasa terlalu puas dengan ilmu dunianya. Merasa sombong atas segala pencapaiannya . Padahal apa yang di dunia hanyalah sesaat, tidak kekal. Dalam menggapai akhirat, perlu kerendahan hati, keinginan untuk belajar, serta memohon pertolongan-Nya. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya

    ReplyDelete
  43. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    Manusia di bumi ini sesungguhnya kurang ilmu, tetapi merasa dirinyalah yang paling banyak memiliki ilmu sehingga munculah sifat sombong. Kesombongan tersebut ditandai dengan mengagungkan diri sendiri, arogan, ceroboh, ego yang tinggi, kurang bersyukur, tidak bisa menerima kritik, dan berlaku tidak adil. Perlombaan menjunjung langit di sini sebenarnya adalah menggapai langit yang tidak lain adalah menggapai ilmu. Dikatakan bahwa manusia berpikir ilmu itu telah mati atau tidak perlu menggapai ilmu ketika sifat sombong telah datang pada dirinya. Sedangkan sesungguhnya ilmu itu amatlah luas tak terhingga ruang dan waktu. Hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperolah ilmu.

    ReplyDelete
  44. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Tetapi sesungguhnya tiada orang yang memperoleh ilmu karena ilmu itu sangatlah luas, kita hanya mencoba menggapai ilmu karena ilmu hanya milik Allah SWT. Ilmu yang dimiliki manusia hanya bagian yang sangat kecildari keseluruhan ilmu yang ada. Manusia memang tidak akan mampu memiliki semua ilmu, tetapi kita diwajibkan untuk selalu menuntut dan menggapai ilmu selama hidup, baik ilmu dunia maupu akhirat. Orang yang menggapai ilmu adalah orang yang sedang belajar. Maka marilah kita selalu belajar bahkan dalam kondisi sakit dan usia yang tua sekalipun. Ilmu itu penting bagi manusia, jangan sampai kita merasa sombong dan merasa tidak perlu belajar atau menuntut ilmu.

    ReplyDelete