Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

38 comments:

  1. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Dari elegi perlombaan menjunjung langit bisa kita lihat bahwa kesombonganlah yang akan menyebabkan kematian atau kehancuran seseorang. Saat ia merasa bahwa ilmu nya sudah banyak kemudian dia merasa sombong dengan ilmu yang dimilikinya maka ia akan berada dalam kematian karena kesombongannya. Kematian yang dimaksudkan pada elegi ini bisa berarti gagal, salah, tidak tahu, salah ruang, salah waktu dan yang lainnya. Dan sebenar-benarnya ilmu itu hanyalah milik Allah SWT. semata. Maka dari itu siapapun yang ingin menggapai dunia dan akhirat maka terlebih dahulu harus menggapai Ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.
    Allah berfirman dalam Qur’an Surat Al Isra’ ayat 37 yang artinya : “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” Ingatlah, janganlah kita bersikap sombong di dunia ini, Kesombongan yang haqiqi hanyalah milik Allah semata. Jangan merasa kita lebih dari yang lainnya, bagaimanapun juga kita juga sama dengan makhluk lainnya, hanya amal saja yang membedakan kita dengan lainnya di hadapan Allah. Apa yang mau disombongkan, kepintaran? Keberanian? Kekuasaan? Jabatan? Kita ini ibarat debu di dunia ini, tidak ada apa-apanya. Sesungguhnya kita ini milik Allah dan hanya kepadaNyalah kita akan kembali. Sesungguhnya kita ini tidaklah dapat menjunjung langit, namun kita hanya dapat menggapainya. Bekalnya ialah keikhlasan dan berpikir kritis. Tuntutlah ilmu dengan keikhlasan dan berpikir kritis. Teruslah berjuang dan tetap semangat.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

    ReplyDelete
  3. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Elegi menjunjung langit ini mengibaratkan orang yang sedang berjuang untuk menggapai ilmu atau cita-citanya. Keinginan setiap orang adalah menggapai cita-citanya setinggi langit. Sehingga segala daya upaya akan dilakukan demi tercapainya cita-cita yang diharapkan. Namun, terkadang ketika berhasil ada yang bersikap sombong karena ketercapainnya dalam menggapai ilmu. Ini tentu berbeda dengan tujuan ilmu adalah untuk menjadikan kita berguna dalam artian rendah hati untuk berbagi ilmu dan tidak sombong.

    ReplyDelete
  4. Nani Maryani
    18709251008
    S2 Pendidikan Matematika (A) 2018
    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    Satu hal yang amat sangat berbahaya dalam diri manusia adalah ketika kita merasa bahwa semua yang kita miliki dan kita lakukan adalah yang paling baik dan tinggi entah itu ilmu ataupun material sehingga kita menjadi lupa bahwa di atas langit masih ada langit dan kita juga lupa bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  5. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Elegi tersebut memberikan informasi bahwa kita harus selalu menuntut ilmu kapanpun dan dimanapun kita berada. Ilmu dapat kita peroleh dengan hati yang bersih dan selalu berpikir kritis. Hati yang bersih bisa kita wujudkan jika kita ikhlas, ikhlas dalam hati, pikiran, maupun tindakan. Kemudian kita juga harus menghilangkan sifat sombong yang ada dalam diri kita, karena sifat tersebut bisa menutup jalan kita dalam memperoleh suatu ilmu. Oleh karena itu, marilah kita selalu meningkatkan keilmuan yang kita miliki dengan tujuan untuk menggapai ridho dari Allah SWT didunia dan diakhirat.

    ReplyDelete
  6. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Jika sayembara menjunjung langit adalah sayembera menggapai ilmu, maka salah satu hal yang justru mematikan kita dalam menuntut ilmu adalah kesombongan. Kesombongan manusia banyak macamnya, ada yang sombong dalam bentuk unjuk diri, sombong dalam bentuk meninggikan ego, sombong dalam bentuk mandheg yaitu tidak mau melakukan langkah perubahan, pendalaman dan perluasan atas ilmu yang dimilikinya, sombong dengan berucap tanpa penerapan, sombong karena bertindak tanpa perhitungan, sombong karena hanya mengandalkan ilmu yang dimilikinya, sombong karena selalu "merasa"(merasa paling benar, merasa paling hebat, merasa serba bisa,dst), dan masih banyak bentuk kesombongan lainnya. Kesombongan ini ada karena berhasilnya setan bergerombol didalam hati. Bergerombolnya setan didalam hati menunjukkan hati kita sedang kotor. Ilmu yang tinggi tidak akan pernah digapai oleh sipemilik hati yang kotor.

    Bekal dalam menuntut ilmu adalah ikhtiar baik dalam hati maupun dalam pikiran. Ikhtiar hati disini bukan sekedar ikhlas dalam menuntut ilmu tapi juga mengikhtiarkan hati untuk selalu bersih dari hawa nafsu kesombongan. Ikhtiar dalam berpikir tidak hanya dalam bentuk berpikir kritis tapi juga menjernihkan pikiran dari segala pikiran buruk yang menyesatkan.

    Hal lain yang harus diperhatikan dalam elegi ini adalah setinggi-tingginya ilmu yang dimiliki jangan pernah merendahkan orang lain apalagi sampai merendahkan dan melupakan guru sendiri. Sebenar-benar orang berilmu adalah orang yang semakin tinggi ilmunya, semakin membuatnya rendah hati. Ibarat padi, semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  7. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Perlombaan menjunjung langit, merupakan perlombaan mencari ilmu sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya. Diamanapun kita berada dan kapanpun pasti ada saja ilmu yang dapat kita peroleh. Diatas langit ada langit lagi, Ketika kita mengatakan bahwa sesuatu itu dalam, maka pastilah ada yang lebih dalam, begitupu juga dengan luas, ketika kita mengatakan sesuatu itu luas maka pastilah ada yang lebih luas. Jadi, ilmu kita sungguhlah kecil, ilmu dan pengetahuan hendaklah selalu kita tambah dan selalu kita cari sehingga sesuatu yang dalam bisa kita perdalam dan sesuatu yangluas bisa kita buat lebih luas, maka janganlah merasa puas dengan kebaikan yang pernah kita lakukan dan dengan ilmu yang kita miliki. semoga kita dapat menjadi orang yang jujur, ikhlas dan kritis dalam menuntut ilmu, dan senantiasa berdo’a kepada Allah SWT agar selalu ditunjukkan ke jalan yang benar.

    ReplyDelete
  8. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Orang yang sombong sesungguhnya orang yang kurang berilmu. Orang yang mengaku-aku berilmu sama halnya dengan ia sudah berbuat sombong. Dalam perlombaan menjunjung langit dibutuhkan orang-orang yang senantiasa ikhlas dan jauh dari kata sombong. Tidak memandang apa pangkatnya, tidak memandang apa statusnya, tidak memandang apa keahliannya, dan lain-lain. Seorang gurupun yang sudah dianggap ahli dan berilmu dalam bidangnya gagal dalam menjunjung langit. Hal ini dikarenakan ia sombong dengan apa yang dimiliki sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Tentu ilmu saja tidak akan cukup. Kita harus berusaha untuk rendah hati, ikhlas, selalu ingin tahu, tidak buru-buru dalam mengambil keputusan, senantiasa menambah pengetahuan, melakukan perubahan yang lebih baik, dan tidak terlalu egois agar dapat berhasil dalam menjunjung langit.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  9. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Lomba-lomba biasanya pada perayaan Kemerdekaan, bila ini menyangkut langit yang dilombakan bagaimana caranya. Hal ini menjadi topik besar yang akan menyangkut pautkan kekuasaan seseorang untuk memperlihatkan siapa yang paling kuat, berkuasa, berhasil dalam menjunjung langit. Bukannya menyelesaikan masalah malah menjadi masalah tambahan karena saling berebut untuk menjunjung langit. Hingga salah satunya bershasil, dan menyombongkan diri ke hadapan publik, hal itu malah akan semakin menjatuhkan dia secara psikis. Karena semua orang yang ikut perlombaan akan menyimpan amarah karena menerima kekalahan. Bila dikaitkan dengan pembelajaran di kelas, bila guru hanya memberikan ilmu kepada muridnya, tanpa mau tahu permasalahan yang dihadapi siswa maka termasuk sombong karena hanya melaksanakan kewajiban yang dengan sengaja tidak menerima kritikan maupun masalah lain.

    ReplyDelete
  10. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Perlombaan dalam menjunjung langit layaknya perlombaan untuk mendapatkan kebaikan. Semakin baik dan sucinya seseorang, semakin dekatlah dia dengan langit dan semakin dekatlah dia dengan sang pencipta. Tetapi untuk melalui semua itu tentunya tidak mudah. Allah akan memberikan banyak cobaan kepada umatnya sebagai tanda cintanya dengan ciptaannya. Hamba Allah yang dapat melalui cobaan demi cobaan, dia akan semakin dekat dan dekat dengan Allah sehingga mendapatkan ridha dari Allah.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  11. Janu Arlinwibowo
    18701261012
    PEP 2018

    Dunia ini tidak memiliki batasan, hanya saja manusianya yang memiliki batasan untuk mengenal dunia. Dunia adalah ciptaan Alloh dengan sifat yang sama yaitu tanpa batas. Hanya Alloh yang tahu dunia secara utuh, sedangkan manusia hanya tahu setitik saja. Namun dalam hidupnya seringkali manusia sombong dengan pengetahuannya. Merasa sudah tahu banyak. Tipikal manusia seperti itulah yang mudah puas dan bertingkah bak ilmuan tanpa tanding. Manusia seperti itulah tipikal manusia yang sebenarya sangat menakuti kegagalan, sangat menakuti disaingi. Padahal jelas di atas langit pun masih ada langit, tanpa batas. Celakalah manusia tersebut jika membatasi dunia dengan kesombongannya.

    ReplyDelete
  12. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Segala hal di dunia ini merupakan milik Allah dan hanya kepada Allah pula lah semuanya akan kembali. Sama halnya dengan ilmu, sebenar benarnya ilmu adalah milik Allah semata. Maka, ketika kita berusaha menggapai ilmu, lakukanlah dengan hati yang ikhlas, jernih dan pikiran yang bersih. Sejatinya semua perbuatan di dunia ini merupakan upaya dalam menggapai ridho Allah semata. Tidak sepatutnya ada sifat sombong maupun angkuh. Semoga kita senantiasa menjadi hamba Allah yang membawa manfaat baik di dunia secara langsung maupun di akhirat kelak. Aaamiin

    ReplyDelete
  13. Jefri Mailool
    PPs S3 PEP 18701261002

    Untuk mempelajari ilmu diperlukan usaha yang keras dan tekun. berpikir kritis adalah salah satu cara mendapatkan ilmu yang benar. Namun perlu menjadi perenungan, bahwa untuk menemukan ilmu yang menjadi tujuan (akan dituju) maupun ilmu yang telah dimiliki mesti di landasi dasar oleh spiritualitas yang murni. Artinya, menempatkan spiritualitas pada posisi paling atas dari pada keilmuan.

    ReplyDelete
  14. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Manusia diciptakan dengan berbagai macam sifat dan karakter. Memaknai hidup dan tujuan duniawi yang berbeda-beda. Memiliki konssentrasi ilmu dan profesi yang berbeda pula. Setiap manusia berlomba untuk menjadi yang terbaik dibidangnya masing-masing dengan berbekal pada karakter, sifat, maupun keilmuannya. Keilmuan yang dimiliki manusia tidak terbatas ruang dan waktu. Kapanpun dan dimanapun manusia dapat mencari ilmu. Ilmu pengetahuan dunia maupun akhirat. Ilmu sangatlah luas dan tak terbatas. Manusia mendapatkan ilmu dari arah mana saja, tidak memandang ruang dan waktu. Seperti kata pepatah “Menuntu ilmu setinggi langit”.

    ReplyDelete
  15. Sintha Sih Dewanti
    18701261013
    PPs S3 PEP UNY

    Kesombongan merupakan salah satu kelemahan utama seorang manusia. Banyak bentuk kesombongan yang bisa kita temui dalam kehidupan manusia sehari-hari. Allah SWT melarang hamba-Nya bersikap sombong karena sikap sombong bisa menghancurkan diri sendiri. Jika kita mau berpikir sesungguhnya tidak ada yang patut disombongkan di dunia ini. Kekayaan, jabatan, keluarga, kecerdasan, serta kecantikan hanyalah bersifat sementara. Semakin tinggi pencapaian seseorang maka secara naluriah semakin tinggi pula keinginannya untuk dikagumi, dihargai dan dihormati. Dan bila rambu-rambu kerendahan hati mulai diabaikan maka sesungguhnya kita sedang menuruni anak tangga untuk turun ke bawah. Sebelum terlambat, alangkah lebih baik jika kita dapat menata sikap dan hati kita tetap dalam kerendahan hati karena kerendahan hati adalah anak tangga untuk menuju ke atas. Untuk menata kehidupan menuju pintu kesuksesan yang sejati maka kerendahan hati menjadi sikap yang mutlak untuk kita miliki. Dalam kerendahan hati tersimpan kekuatan besar untuk mengangkat seseorang pada tingkat yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  16. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Elegi diatas mengajarkan kita bahwa memupuk keburukan akan menyebabkan kehancuran bagi diri seseorang. Misalnya saja sifat sombong, sifat sombong merupakan sifat yang tidak terpuji selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Selain itu sifat sombong ini akan menyebabkan kehancuran bagi seseorang baik dari segi karir, kehidupan sosial, rumah tangga, keluarga dsb. Sifat yang terlalu membanggakan diri sendiri biasanya sering merendahkan kehidupan bahkan pemikiran orang lain sehingga orang lain tersebut akan merasa rendah diri dan tidak percaya diri untuk menjalani kehidupannya. Orang yang suka membanggakan dirinya sendiri biasanya tidak mau memerdulikan orang lain, ia merasa tidak membutuhkan orang lain karena ia merasa dapat melakukannya sendiri. Sungguh sifat sombong ini sangat membahayakan, oleh sebab itu kita harus menghindari sifat congkak ini. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Isra : 37 “Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung”. Allah SWT melarang hamba-Nya untuk bersikap sombong, karena sungguh kesombongan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Elegi di atas menyiratkan tentang keikhlasan dan pikiran kritis. Seorang guru, dapat mengajar murid dengan keikhlasan dan pikiran kritis. Setinggi-tinggi ilmu adalah ilmu tentang keikhlasan dan pikiran kritis. Begitu juga dengan seorang murid, hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis maka akan mampu memahami apa yang diajarkan oleh guru.

    ReplyDelete
  18. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Langit, setiap orang berusaha menjunjung langit.
    Menjunjung langit dapat diartikan sebagai menjunjung tinggi apa yang ia miliki dan apa yang telah ia capai. Namun, kebanyakan orang justru malah mati tertimpa langit tersebut. Bukan perkara langitnya yang berat hingga tak ada yang mampu mengangkatnya tetapi justru ego dan kesombongannya lah yang menyebabkan dirinya tak pantas menjujung langit.
    Bukan hanya sang pemilik ilmu, kekuasaan, atau apapun itu saja yang mati tertimpa langit, yang tidak memiliki apapun juga akan mati tertimpa langit.
    Lantas, siapakah yang mampu menjunjung langit?
    Yang mampu menjunjung langit adalah ia yang bijaksana. Bijaksana dalam ilmunya, bijaksana atas apa yang ia miliki, bijaksana dalam keikhlasannya, bijaksana dalam pikirannya yang kritis.

    ReplyDelete
  19. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat siang Prof.
    Setiap proses yang dilalui tentunya memperoleh hasil. Hasil ini dapat berbentuk sesuatu yang memuaskan dan juga mungkin tidak memuaskan. Ketika hasil yang diperoleh sesuai dengan harapan tentunya kita bersyukur atas pencapaian ini. Dalam konteks ini, rasa syukur yang berlimpah dan melampaui batas mungkin saja dapat berujung kesombongan. Artinya kita belum mampu mengontrol diri dan ikhlas dalam menerima kenyataan yang kita peroleh. Terima kasih.

    ReplyDelete
  20. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Siapa yang menanam, itulah yang akan menuai, artinya bahwa yang manusia lakukan dan perbuat akan membawa konsekwensi..Sifat sombong, menganggap diri lebih baik dibanding orang lain merupakan sifat-sifat yang dapat menghancurkan dirinya..sebaliknya yang menjadi pemenang dalam keidupan dunia ini adalah seseorang yang menempatkan semua tujuan kehidupannya semata-mata untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT. Pemenang tersebut adalah orang yang senantiasa menjaga kejujuran, kebenaran, keikhlasan, rendah hatimu, bersosial serta selalu berdoa kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari elegi tersebut, saya belajar bahwa apa yang ada di dunia ini adalah hanya titipan dari Allah SWT atau dengan kata lain hanya milik Allah SWT dan akan kembali pada Allah SWT. Kita sebagai makhlik ciptaanNya di dunia untuk mencari ilmu serta memanfaatkannya untuk diri sendiri maupun orang lain. Jika sudah berilmu maka kita tidak boleh sombong, karena apa yang kita miliki akan kembali pada Allah SWT. orang yang berilmu tapi sombong berarti orang tersebut belum benar-benar berilmu. Orang tersebut akan terancam kematian karena kesombongan yang dimiliki tersebut.

    ReplyDelete
  22. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Kesombongan memang penyakit hati paling berbahaya dari manusia. Segala kebaikan apa pun tidak akan bernilai jika di dalam diri kita masih terdapat kesombongan. Merasa diri sudah mampu, sudah dapat mengerjakan segala sesuatunya sendiri, dengan tidak disertai kesadaran untuk terus belajar dan memperbaiki diri termasuk dalam sikap sombong. Memohon petunjuk kepada Allah dan terus berusaha ikhlas dalam menjalani kehidupan adalah salah satu cara terhindar dari sifat sombong.

    ReplyDelete
  23. Herlingga Putuwita Nanmumpuni
    18709251033
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Di atas langit masih ada langit. Janganlah pernah menyombongkon ilmu yang kita miliki. Dengan menyombongkan ilmu yang kita miliki sama artinya dengan berhenti berpikir kritis yang bermakna menjauhi logos dan justru menggapai mitos. Semakin kita banyak tau maka sesungguhnya kita semakin merasa tidak tau apa-apa. Semakin kita tau maka kita akan berusaha untuk mencari tau lagi, inilah yang namanya berpikir kritis.

    ReplyDelete
  24. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B
    Assalamualaikum wr wb
    Manusia adalah orang yang telah mempelajari banyak ilmu dan diberikan kesempatan untuk mengemban ilmu tersebut. Maksud menjunjung langit di atas adalah bagaimana para manusia berlomba-lomba menjadi yang terbaik, yang paling banyak ilmunya. Adalah hal baik jika kita bersifat seperti itu namun jika hal tersebut berlebihan akan sangat merugikan bagi kehidupan pribadi itu sendiri.

    ReplyDelete
  25. Fabri Hidayatullah
    18709251028
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Perlombaan menjunjung langit merupakan usaha dalam mendapatkan ilmu. Bagi orang-orang yang berlaku sombong dan merasa sudah mendapatkan cukup ilmu di dalam menuntut ilmu maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa. Karena seperti yang ditulis dalam elegi ini bahwa sebenar-benar yang terjadi ialah tiadalah orang-orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Maka tiadalah orang berhenti dalam menuntut ilmu. Selain itu, maka dalam mencari ilmu harus dengan meluruhkan kesombongan, rendah hati, ikhlas, dan juga berpikir kritis.

    ReplyDelete
  26. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Sebagaimana firman Allah SWT: “dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung (QS. AL Isra:37)” ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia tidak akan mampu menembus bumi dengan apapun. Karena yang maha pemilik hanyalah Allah SWT. tiada satupun yang dimiliki manusia kecuali atas izinNya semua hanyalah titipan.

    ReplyDelete
  27. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb
    Sayembara mengangkat langit merupakan sayembara mencari ilmu. Mereka yang dapat menjunjung langit hanyalah orang-orang yang berhati bersih dan mampu berpikir kritis. Ilu dapat diperoleh jika kita g berhati ikhlas dan berpikir kritislah. Apabila ada keikhlasan dalam hati kita, maka Allah akan memberikan ridlho kepada kita sehingga kita akan mendapatkan kemudahan dalam mencari ilmu - ilmu tersebut. Marilah kita berlomba-lomba dalam menuntut ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  28. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Berstatus apapun kita, dimanapun kita, mau apa kita, dan sebagainya, semuanya butuh bekal ilmu. Kita wajib belajar setiap hari agar ilmu kita makin bertambah, kemampuan kita beetampah, dan pemahaman kita bertambah. Bekal ilmu ini juga mendorong kita untuk berpikir kritis dan disertai hati yang ikhlas. Dengan adanya ilmu kita dapat menggapai cita-cita hal yang kita gantungkan di langit tentu dengan ridha Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Dari elegi di atas mengingatkan saya bahwa sombong adalah penyakit hati yang harus dihindari sejauh mungkin. Berpikir kritis dan kerja keras terus membaca dan membaca agar kita tidak terjebak dengan mitos. Itu adalah bukti bahwa kita seorang akademisi., dan kita harus menyadari pada hakekatnya kita hanyalah titipan Sang Maha Kuasa untuk kembali kepada-Nya. Pada hakekatnya perlombaan menjunjung langit yang sebenarnya adalah berlomba-lomba dalam kebaikan dan selalu ingat Allah SWT dalam hidup ini.

    ReplyDelete
  30. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Niat tulus ikhlas selalu manusia pegang untuk mendapatkan ilmu yang berkah dan bermanfaat. Ikhtiar dan doa agar ilmu yang telah didapatkan dapat berguna bagi diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Ilmu itu nantinya juga dapat berguna di dunia maupun di akhirat. Tidak sepantasnya manusia menyombongkan diri akan ilmu yang telah didapatkan. Merugilah bagi mereka yang telah berlaku sombong karena sejatinya ilmu itu tidak sepantasnya untuk disombongkan. Semain tinggi ilmu yang didapatkan maka sudah sepantasnya semakin tinggi pula manusia itu bersyukur atas ilmunya.

    ReplyDelete
  31. M. Ikhsan Ghozali
    19701261
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Kesombongan atau keangkuhan dapat "membunuh" manusia. Ilmu, pangkat, gelar, status sosial, kekayaan, kekuasaan, dan segala kelebihan yang dimiliki hanyalah titipan dari Allah, yang kapan pun bisa diambil oleh Allah. Semua kelebihan tersebut mesti dijaga dan digunakan dengan sebaik-baiknya agar bermanfaat bagi kemashlahatan. Ilmu bisa dijaga dan dimanfaatkan dengan cara terus ditambah dan dikembangkan serta tidak pelit berbagi dengan yang lain. Kekuasaan dijaga dengan cara digunakan untuk menyejahterakan, melindungi. Harta kekayaan dijaga dengan cara digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sewajarnya dan tidak pelit berbagi kepada orang yang membutuhkan (zakat, infak, shadaqah) atau untuk kegiatan umum (pembangunan tempat ibadah, kegiatan keagamaan, fasilitas sosial, dll.) Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat dan memberikan manfaat. Semoga kita terhindar dari sikap sombong dan selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin,
    Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  32. Hidayatul wafiroh
    19701251010
    S2 PEP A 2019

    Dari elegi di atas, orang yang berilmu tidak akan sombong. Karena sombong akan membawa manusia pada sikap merasa telah menguasai ilmu dengan sempurna, paling berani dalam segala hal tanpa terkecuali, merasa ilmunya sudah cukup dan tidak mau mencari ilmu lain, merasa ilmunya sudah banyak baik ilmu dunia dan akhirat, menggunakan kekuasaannya untuk hal yang tidak baik, menjadi orang yang angkuh, mengaku dirinya adalah orang yang berilmu, orang yang mampu merencanakan tetapi lupa ada ketetapan Allah, orang yang egois, orang yang arogansi dan manipulasi, orang yang merugi, dan masih banyak hal yang disebabkan oleh rasa sombong. Manusia selalu belajar untuk menuntut dan menggapai ilmu karena ilmu itu luas dan tidak akan ada ujungnya. Ilmu tertinggi adalah ilmu Allah. Sebagai manusia kita bersyukur atas nikmat apapun, salah satunya adalah nikmat akal pikir dan hati. Akal pikir dan hati menuntun kita untuk ikhlas ( mencari rida Allah) dalam menuntut ilmu sehingga kita dapat terhindar dari sikap sombong. Sombong akan menutup diri kita dan kita tak dapat melihat diri kita sebenar-benarnya

    ReplyDelete
  33. Mira Amalia Yudhanti
    19701251014
    S2 PEP A

    Pengetahuan, kekuatan, kinerja, semua yang kita miliki tidak akan bisa digunakan untuk menjunjung tinggi langit jika kesombongan dan ego masih menyelimuti hati kita. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya sifat arogan yang luar biasa halus dan tidak terlihat. Kesombongan dapat membuat kita lupa bahwa semuanya tidak dapat dipisahkan dari segala kuasa Allah SWT. Kita harus berusaha untuk tidak berlaku sombong, terutama sombong di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu kita perlu merendahkan diri, meminta pengampunan-Nya dan pertolongan-Nya untuk bersikap rendah hati.

    ReplyDelete
  34. Khintoko Intan Permatasari
    19701251020
    S2 PEP A 2019

    Ilmu pengetahuan sangat luas dan tidak terbatas. Kapanpun dan dimanapun manusia dapat menuntut ilmu yang diingkan. Ilmu pengetahuan manusia juga menyesuaikan ruang dan waktu yang ia miliki. Manusia yang berilmu baiknya senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong agar dapat menjadi manusia yang selalu bersyukur atas apa yang telah didapatkan. Berdoa, ikhtiar, dan tawakal dengan tulus ikhlas hanya kepada Allah SWT. Semoga niat ikhlas untuk mencari ilmu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar dapat diberkahi Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Rochyati
    19709251074
    S2 P. Mat D 2019

    Dalam hal urusan dunia dan akhirat, kita butuh ilmu. Semakin berilmu, seharusnya semakin mendekatkan kita pada Tuhan dalam rangka mendapat ridhonya. Bukan malah menjadi sombong. Karena yang seperti bapak paparkan, begitu besar efek dari sombong. Semoga kita selalu dituntun dijalan yang di ridhoiNya amin

    ReplyDelete
  36. Ardhya Handayani
    19701251015
    S2 PEP 2019 A

    Hal yang saya pahami dalam elegi ini adalah kesombongan yang ada dalam diri seseorang dapat menyebabkan ‘kematian’ dari seseorang. kesombongan ini muncul akibat ego dalam diri manusia, merasa sudah baik. Seluruh manusia bisa terperangkap dan disisipi rasa sombong, padahal seharusnya kita dapat menggunkaan ruang dan waktu secara tepat. Sebagai seseorang yang sedang menuntut ilmu, hal ini menjadi pengingat kembali untuk mencari ilmu secara ikhlas, dan dapat berfikir kritis, serta mengingat kembali bahwa ilmu itu sangat luas, sehingga dapat terhidarkan dan dilindungi dari sifat sombong.

    ReplyDelete
  37. Vera Yuli Erviana
    NIM 19706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Elegi menjunjung langit menggambarkan seseorang yang berjuang untuk menggapai ilmu dan cita-citanya yang setinggi langit. Salah satu penyebab ketidakberhasilan dalam menggapai ilmu maupun cita-cita tersebut adalah kesombongan yang ada dalam diri manusia. Kesombongan merupakan sesuatu yang tidak seharusnya kita banggakan dalam hidup kita. Kesombongan hanya akan menyengsarakan hidup. Semua yang ada di dunia ini hanya milik Allah SWT. Sementara itu, yang menjadi pembeda manusia dari manusia lain hanyalah akhlaknya. Sehingga, hendaknya kita merendahkan diri di depan Allah SWT, berperilaku baik dan adil kepada setiap orang, dan senantiasa meminta perlindungan Allah dari segala sifat sombong dan sifat-sifat buruk lainnya.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete