Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 26: Perlombaan Menjunjung Langit




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai Cantraka, sudah lamakah engkau duduk disitu. Engkau menunggu siapa?

Cantraka:
Baginda Bagawat yang bijaksana pembawa cerah. Ampunilah diriku karena mungkin aku telah mengusik ketenanganmu. Aku sengaja menunggu di sini agar bisa berkonsultasi dengan engkau.

Bagawat:
Wahai Cantraka, bukankah aku masih ingat bahwa engkau adalah salah satu dari sekian banyak murid-muridku. Tetapi kenapa? Sementara murid-muridku yang lain semuanya sudah pergi meninggalkan Kutarunggu, tetapi engkau masih saja di sini? Konon mereka semua pergi karena mereka ingin menguji ilmu yang diperoleh di Kutarunggu ini. Aku juga mendengar bahwa mereka akan mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Cantraka:
Maafkan diriku sang Bagawat. Maafkan pula jika diriku adalah muridmu yang paling bodhoh dari semua murid-muridmu. Sebetulnya saya juga telah pergi meninggalkanmu, pergi meninggalkan Kutarunggu ini, tetapi di tengah perjalanan saya mempunyai persoalan-persoalan sehingga saya terpaksa kembali ke sini dan ingin berkonsultasi kembali kepadamu. Maka jika engkau masih berkenan aku masih ingin bertanya banyak hal kepadamu. Tetapi disamping aku ingin bertanya, perkenankanlah aku ingin menyampaikan pengalaman perjalananku mengikuti perlombaan menjunjung langit.

Bagawat:
Oh baik, bukankah engkau tahu bahwa selama ini aku selalu menyediakan waktuku selama 30 jam perhari untuk bisa melayani pertanyaan-pertanyaan para murid-muridku. Lantas, engkau masih ingin bertanya tentang apa saja. Tentu aku akan sangat senang mendengar ceritamu bagaimana pengalamanmu mengikuti perlombaan menjunjung langit. Coba ceritakan bagaimana asal muasal sampai ada acara perlombaan menjunjung langit, siapa yang mengadakan perlombaan, bagaimana cara mengikutinya dan apa hadiahnya serta siapa saja peserta perlombaannya?

Cantraka:
Itulah justru yang ingin aku tanyakan kepada guru. Dari cerita para peserta lomba, konon yang mengadakan lomba menjunjung langit adalah Orang Tua Berambut Putih, tetapi menurut beritanya Orang Tua Berambut Putih itu sudah meninggal dunia, tetapi tidak diketahui di mana dia meninggal dan di mana dia dimakamkan. Tetapi tentang perlombaan, tata cara perlombaan, kriteria pesertanya serta hadiahnya selalu dapat didengarkan jika dalam keadaan sepi dan tenang, yaitu pada saat setelah tengah malam dan menjelang subuh. Suara itu terdengar begitu jelasnya seakan turun dari langit tetapi tidak diketahui dari mana asalnya. Konon hanya orang-orang yang berhati bersih dan dan berpikiran kritislah yang bisa mendengar suara itu. Aku pernah berusaha membersihkan hati dan berusaha berpikir kritis, dan ternyata aku juga bisa mendengar suara itu. Konon perlombaan itu akan diselenggarakan di suatu tempat yang dikenal sebagai tanpa batas. Oleh karena itu, wahai guruku, sebelum aku mengikuti perlombaan itu, aku merasa masih ingin berkonsultasi kepadamu perihal kejadian-kejadian aneh yang aku alami, sekalian aku masih memohon doa restumu.

Bagawat:
Wahai Cantraka, ketahuilah bahwa langitpun bisa menangis jikalau terlalu lama tidak menemukan buminya. Ketika engkau datang kepadaku dan bercerita banyak tentang perlombaan menjunjung langit, aku pun telah menangis dalam hatiku. Ketahuilah bahwa sebetulnya tangisanku itu bukanlah karena langit tidak menemukan buminya, tetapi sebaliknya karena bumi berusaha menggapai langitnya. Wahai Cantraka, coba ceritakan kepadaku siapa sajakah yang engkau lihat dalam perjalanan mengikuti perlombaan itu? Ciri-cirinya serta jalan-jalan yang dilalui serta kejadian-kejadiannya?

Cantraka:
Ampunilah guruku, aku sungguh tidak mengetahui kata-kata guruku. Aku juga bingung apa maksud guru menangis, aku juga bingung apa yang dimaksud guru dengan langit ketemu bumi. Tetapi baiklah guruku, aku akan ceritakan semua pengalamanku ketika aku bersama mereka. Orang-orang yang berangkat mengikuti perlombaan itu beraneka ragam, semua jenis manusia ada di sana, laki-laki, perempuan, tua, muda, mahasiswa, pedagang, politisi, pejabat, mahasiswa, dosen, presiden, gubernur, rektor, orang sakit, guru, murid, orang sombong, orang alim, pandai cendekia, bahkan ada bayi, bahkan ada orang yang sedang sekaratul maut, anehnya ada orang seperti Orang Tua Berambut putih juga tampak di sana, aku juga melihat ada orang mirip wajahmu. Semua orang yang pernah aku lihat di dunia ini ada di sama ditambah semua orang yang belum pernah aku lihat. Tetapi semuanya adalah manusia. Aku tidak menemukan seekor binatangpun di sana. Anehnya aku juga melihat ada orang yang persis diriku juga ada di sana.

Bagawat:
Hemmm...luar biasa keadaannya. Coba ceritakan bagaimana kejadian-kejadiannya.

Cantraka:
Wahai guruku, ternyata aku menyaksikan bahwa di sana ada berbagai macam kejadian. Kejadian itu ada yang baik, ada yang buruk, ada yang indah, ada yang mengerikan, ada yang sopan, ada yang kejam, ada yang terpencil, ada yang ramai, ada yang sepi, ada yang besar, ada yang kecil, ada yang logis, ada yang tidak logis, ada yang tetap, ada cepat berubah. Singkat kata aku telah menyaksiakan semua kejadian yang pernah aku saksikan, aku dengarkan di dunia ini, bahkan yang hanya aku pikirkan, semuanya ada di sana. Bahkan lebih dari itu, ada pula kejadian-kejadian yang semula hanya aku pikirkan ternyata di sana tampak jelas terjadi di sana.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Coba ceritakan apa yang paling mengesankan dari orang-orang itu dan kejadiannya, dan apa perbedaannya antara dirimu dengan mereka?

Cantraka:
Wahai guruku, ini bukanlah suatu tentang yang mengesankan bagiku, tetapi sesuatu yang aku merasa aneh. Anehnya, suatu ketika aku mengalami kejadian di mana aku tidak tahu mengapa dan bagaimana kejadian itu terjadi. Kejadian itu adalah bahwa aku bisa bertanya kepada semua orang yang ada di sana. Pertanyaanku cuma satu saja, yaitu dimanakah Orang Tua Berambut Putih. Ternyata sebagian besar dari mereka menjawab bahwa Orang Tua Berambut putih telah meninggal dunia. Yang lebih aneh lagi adalah orang yang persis Orang Tua Berambut putih juga mengatakan bahwa Orang Tua Berambut putih itu telah meningal dunia. Hanya dirikulah yang meragukan apa betul Orang Tua Berambut Putih telah meninggal dunia. Oleh karena itu aku datang kepadamu untuk menyampaikan keraguanku dan memperoleh kepastiannya.

Bagawat:
Hemmm..luar biasa kejadiannya. Untuk yang kedua kalinya aku ingin meneteskan air mataku.

Cantraka:
Kenapa guru meneteskan air mata?

Bagawat:
Rasa bangga terkadang bisa meneteskan air mata. Itulah kebanggaan seorang guru melihat kecerdasan murid-muridnya? Teruskan ceritamu.

Cantraka:
Ada seorang merasa telah menguasai ilmu dunia secara sempurna, tetapi kemudian mati ditengah-tengah perlombaan ketika berusaha menjunjung langit. Dia ternyata tidak kuat menjunjung langit, terjatuh kemudian mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya orang yang sombong. Seorang berilmu tidaklah seharusnya merasa dirinya telah purna menguasai ilmu. Ilmu dunia saja belum mencukupi untuk bekal di hari penantian nanti. Maka orang harus juga mempelajari dan mengamalkan ilmu akhirat. Maka kematiannya itu disebabkan karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seseorang merasa mempunyai keberanian luar biasa, kemudian menjoca menjunjung langit, tidak kuat kemudian juga mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sebetulnya sombong. Seseorang pemberani mestinya harus melengkapi ilmunya. Berani tanpa perhitungan adalah buta. Maka kematiannya disebabkan karena kurang berilmu yang menyebabkan kebutaan.

Cantraka:
Ada seseorang yang merasa telah mempunyai ilmu dunia. Dia mengaku walaupun ilmunya baru sedikit, tetapi sudah cukup untuk menghidupinya. Kemudian dia berusaha mengangkat langit, dia terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga termasuk sombong karena tidak berusaha menambah ilmunya. Orang yang telah merasa cukup berilmu akan terancam mitos dalam hidupnya. Maka kematiannya adalah karena mitosnya.

Cantraka:
Ada orang yang berilmu. Dia mengaku telah purna ilmunya baik ilmu dunia maupun akhirat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia ternyata juga telah berlaku sombong karena pengakuannya merasa telah berilmu. Orang berilmu tidak perlu mengaku-aku. Jika betul-betul seseorang itu berilmu maka semua yang ada dan yang mungkin adapun akan memberi kesaksiannya. Maka kematiannya disebabkan oleh ke akuan nya.

Cantraka:
Ada orang penampilannya luar biasa, kelihatannya dia seorang Raja. Banyak pengikutnya. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia ternyata telah berlaku sombong. Untuk mengangkat langit itu harus ikhlas. Kedudukannya sebagai seorang Raja itulah yang menjadikan dia berlaku sombong karena merasa selalu bisa mengatur dunia. Maka kematiannya adalah juga karena kekuasaannya.


Cantraka:

Ada seorang ksatria. Dia juga seorang pertapa. Dia tidak mengaku-aku mempunyai ilmu, tetapi orang lain bisa melihatnya bahwa dia adalah orang berilmu. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa mengangkat langit. Berlaku sombong itu bisa sangat halus dan tidak kelihatan. Ke akuan nya telah melupakan dirinya bahwa segala sesuatu itu tidak bisa lepas dari kuasa Allah SWT. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang mengaku sebagai Orang Berambut Putih. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia juga telah berlaku sombong karena mengaku sebagai Orang Tua Berambut putih. Semua predikat akan bersifat lebih hakiki jika datangnya dari luar dan bukan dari dirinya sendiri. Jika predikat dibuat oleh diri sendiri maka dia terancam oleh kesombongan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang matematikawan hebat. Dia mengaku telah membuat teori-teori, perhitungan-perhitungan dan model-model yang sangat rumit dan canggih untuk mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia juga telah berlaku sombong karena merasa bisa membuat perhitungannya sendiri. Dia lupa bahwa manusia hanya bisa merencanakan, tetapi Tuhan lah yang menentukan. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.


Cantraka:

Ada seorang Guru Matematika. Dia mengaku telah menjadi guru matematika selama 25 tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongandisebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang guru Sain. Dia mengaku telah mengajar Sain di SMA selama lebih dari sepuluh tahun. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia sudah terlalu besar Egonya, sehingga menutupi kemampuannya untuk melakukan perubahan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang tak dikenal. Tetapi kalau bicara dia selalu mendahului dengan menyebut namanya sendiri. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:

Penyebutan nama sendiri yang diulang-ulang dan tidak diimbangi dengan karya nyata adalah bentuk dari Ego yang dibesar-besarkan. Itu juga suatu kesombongan. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongan disebabkan oleh karena Egonya.

Cantraka:
Ada seorang Ilmuwan Pejabat. Maksudku dia seorang Pejabat tetapi juga seorang ilmuwan. Dia kemudian juga berusaha menjunjung langit, kemudian terjatuh dan mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah sengaja mencampuradukkan antara kewenangan sebagai Pejabat dan sebagai Ilmuwan. Dia sengaja menggunakan keilmuwannya untuk menggunakan segala macam cara untuk melanggengkan kekuasaannya. Ini merupakan bentuk arogansi dan manipulasi. Maka kematiannya juga disebabkan oleh kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang yang bingung. Dia dipaksa oleh teman-temannya untuk mencoba mengangkat langit. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Orang yang bingung itu merugi dalam 2 (dua) hal. Pertama, dia merugi dalam pikirannya, tetapi juga merugi dalam hatinya. Maka kematiannya dikarenakan kurang ilmunya, baik ilmu dunia maupun ilmu hati.

Cantraka:
Ada seorang jenderal lengkap dengan prajuritnya. Dia mengerahkan segenap prajuritnya untuk mengangkat langit. Mereka kemuadian berusaha mengangkat langit, mereka juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Mengangkat langit itu tidak menggunakan kekuatan fisik belaka. Maka kematiannya adalah karena kesombongan dan salah perhitungan.


Cantraka:

Ada seorang wanita. Parasnya sangat cantik. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terbesit rasa sombong juga karena membiarakan orang lain telah mengagumi kecantikannya. Dia kurang bersyukur atas karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Maka kematiannya juga karena kesombongannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku sebagai Dosen Filsafat. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia terlalu banyak bicara tetapi kurang praktiknya. Maka dia telah terkena hukum kontradiksi dan terancam kesombongannya. Itulah pula penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang Profesor tua. Dia kemuadian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?

Bagawat:
Dia telah berkurang kemampuan mendengarnya sehingga lebih suka memberikan nasehat dengan pembicaraannya serta sulit menerima kritik. Diapun tergoda kesombongannya. Itu pulalah penyebab kematiannya.

Cantraka:
Ada seorang mengaku punya isteri empat. Dia kemudian berusaha mengangkat langit, dia juga terjatuh lalu mati. Apa maknanya guru?


Bagawat:

Dia memahami sunah rasul secara parsial. Menurut pengamatanku, ternyata dia telah tidak mampu berbuat adil terhadap isteri-isterinya. Bahkan untuk memperoleh empat isteri juga menggunakan cara-cara manipulatif antara lain tidak dengan persetujuan isteri terdahulu serta memanipulasikan KTP. Dia telah menelantarkan tiga isteri yang lainnya serta hanya mampu mengurusi isteri terbarunya. Maka kematiannya disebabkan karena ketidakadilannya dan dosa-dosannya.

Bagawat:
Bagaimana dengan dirimu Cantraka?

Cantraka:
Aku tidak mengetahui kenapa aku sampai juga di tempat itu. Tetapi aku bersyukur karena aku kemudian bisa melihat perlombaan itu. Pikiranku sangat risau karena ternyata semua orang yang ada di situ diharuskan mengikuti perlomaan. Maka sebelum aku bertindak aku memutuskan untuk terlebih dulu bertanya kepada guruku. Jangankan mengangkat langit, berusaha menggapainya aku masih merasa kesulitan. Demikian guruku maka berilah petunjukmu agar aku dapat menentukan sikapku?


Bagawat:

Wahai muridku yang cerdas. Diantara sekian banyak muridku maka yang paling cerdas adalah engkau. Engkau telah mengetahui dan menyadari dimana ada ruang dan waktu tertentu di situ. Maka ketahuilah Cantraka. Sebenar-benar orang yang membuat perlombaan mengangkat langit adalah Diriku, yaitu Orang Tua Berambut Putih. Ketahuilah bahwa sebetul-betulnya Orang Tua Berambut putih itu adalah Diriku. Maka Bagawat itu adalah Orang Tua Berambut Putih. Dan Orang Tua Berambut Putih itu adalah Bagawat. Maka ketahuilah bahwa bukanlah di tempat lain perlombaan itu diadakan, melainkan di sini lah perlombaan itu dilangsungkan. Ketahuilah bahwa engkau bersama murid-muridku yang lain itu sebenar-benarnya sedang mengikuti perlombaan menjunjung langit itu di sini dan sekarang juga. Perihal berita tentang kematian Orang Tua Berambut putih, itu sengaja aku tebarkan untuk menguji kecerdasan murid-muridku. Ternyata dirimulah termasuk orang-orang yang kritis memikirkannya. Ketahuilah bahwa tiadalah kematian bagi Orang Tua Berambut Putih, karena mereka itu adalah sebenar-benar ilmu. Maka sebenar-benar langit yang aku sayembarakan itu tidak lain tidak bukan adalah ilmu itu sendiri. Jadi Bagawat, Orang Tua Berambut Putih itu adalah langit itu sendiri. Dia adalah juga ilmumu. Maka ilmumu itu pula adalah diriku yaitu Bagawat. Sedangkan bumi itu adalah bicaraku dan juga bicaramu. Maka kemanapun engkau pergi, bumi dan langit menyertaimu. Maka sayembara mengangkat langit itu sebetulnya sayembara mencari ilmu. Hanyalah mereka yang berhati bersih dan berpikiran kritislah yang berhasil menjunjung langit. Maka hanya mereka yang berhati ikhlas dan berpikir kritislah yang akan memperoleh ilmu.Itulah sebenar-benar sayembara dari diriku terhadap para murid-muridku semua. Diantara para muridku semua, maka pada dirimulah aku menemukan keikhlasan dan daya kritis pikiran. Maka jika engkau teruskan mencari keilklassanmu dan pikiran kritismu, niscaya engkau akan mampu menjunjung langit itu. Ketahuilah bahwa sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah orang sebenar-benar memperoleh ilmu, yang benar adalah mereka hanya berusaha menggapainya. Karena sebenar-benar ilmu itu hanyalah milik Alloh SWT semata. Barang siapa berusaha menggapai dunia dan akhirat tanpa menggapai Ridhlo Nya maka dia akan terancam kematian. Hendaklah jangan salah paham. Kematian yang aku maksud di sini adalah dalam arti yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Mati bisa berarti gagal, mati bisa berarti salah, mati bisa berarti tidak tahu, mati bisa berarti tidak sadar, mati bisa berarti tidak tepat, mati bisa berarti salah ruang, mati bisa berarti salah waktu, mati bisa berarti dosa, mati bisa berarti panasnya api neraka.

Cantraka:
Oh ..ampun guruku. Tidak menyangka demikianlah misteri yang engkau buat bagi para murid-muridmu. Begitu halus dan lembut metodemu dalam mencerdaskan siswa-siswamu. Oh..Tuhan terimalah rasa syukurku kepada Mu ya Allah SWT. Tiadalah aku mampu melantunkan apapun dan berbuat apapun jika tidak engkau ridhloi ya Allah SWT. Maafkan aku wahai guruku, jika aku telah engkau anggap lancang menghadap dirimu. Tiadalah terbesit bagi diriku untuk mampu mengikuti perlombaan menjunjung langit itu. Tidaklah seberapa pengetahuanku itu dibanding dengan luas dan besarnya langit itu. Sekali lagi mohon ampunlah diriku kepadamu.Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kesejahteraan dirimu, wahai guruku. Amiin.

Bagawat:
Sambil meneteskan air mataku, aku ingin menyampaikan kepadamu bahwa untuk sementara, diantara sekian banyak orang yang berusaha mengikuti lomba ini, maka kepada dirimulah aku menentukan pemenangnya.

Cantraka:
Oh ampun guruku...seperti halilintar di siang hari bolong aku mendengar titah guruku. Apakah aku tidak salah dengar? Pantaskah orang seperti diriku ini memperoleh gelar juara perlombaan menjunjung langit. Lalu apa alasan dan keadaan diriku yang seperti apa sehingga engkau menyebutku sebagai pemenang, guru?

Bagawat:
Bukankah engkau sedang memikirkan, sedang melihat, sedang mendengar, sedang mengalami, sedang melaksanakan, dan sedang berbicara dengan diriku. Jika aku itu adalah Ilmu, maka keadaanmu berinteraksi dengan diriku sekarang ini adalah bukti bahwa engkau sedang belajar menuntut dan menggapai Ilmu. Padahal aku Sang Bagawat itu adalah benar-benar Ilmu itu. Jika engkau metaporakan Ilmu sebagai langit, maka diriku Sang Bagawat itulah langitnya. Jadi langit itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri. Alasan lain mengapa aku menentukan dirimu sementara sebagai pemenangnya adalah karena keikhlasanmu, kejujuranmu, rendah hatimu, kerja kerasmu, doa-doamu, serta kemauanmu untuk tetap menjaga silaturakhim dengan guru-gurumu. Adapun penilaianku itu bersifat sementara itu semata untuk menjaga agar logos dirimu tidak termakan oleh mitos-mitosmu. Wahai cantraka aku tahu engkau terdiam karena engkau sedang berusaha mengerti apa yang aku katakan. Maka aku telah mengetahui semua apa yang engkau rasakan, pikirkan dan kerjakan. Tidak hanya kepada dirimu saja, tetapi kepada semua murid-muridku, junjunglah langit itu setinggi-tinginya. Bekalmu adalah keikhlasan dan pikiran kritismu. Tetesan air mataku itu merupakan kesaksianku atas dirimu semua yang telah dan sedang berpikir kritis dan menggapai keikhlasan hati. Maka aku sedang menyaksikan bahwa yang sebenar-benar terjadi adalah bahwa engkau semua akan mampu menjunjung langit itu. Maka teruskanlah perjuanganmu. Tidaklah perlu engkau ragu-ragu, dan berangkatlah menuntut ilmu dan gunakanlah sebaik-baiknya.Amiin

Semua Cantraka:
Oh guru...tiadalah aku mampu membendung air mataku ini. Derasnya air mataku ini sebagai bukti bahwa aku selalu berusaha ikhlas, seraya memohon Ridhlo Allah SWT dalam membaca ilmu-ilmumu. Sedangkan kata-kataku yang masih bisa saya ucapkan sebagai bukti bahwa saya selalu berusaha berpikir kritis. Oh guru...tiadalah mengira setinggi itu ilmumu dan sebesar itu keikhlasanmu itu terhadap murid-muridmu. Dan ternyata hanya dengan keikhlasan dan pikiran kritis pula murid-muridmu mampu memahamimu. Ammin..amiin..amiin. Terimakasih wahai guruku. Mohon doa restumu.

No comments:

Post a Comment