Apr 19, 2013

Elegi Ritual Ikhlas 7: Tanya jawab pertama perihal Hati yang Ikhlas




Oleh Marsigit

Santri Kepala:

Ass...Bapak Ibu semua pada kegiatan Ritual Ikhlas II kita akan mengadakan Tanya Jawab seputar Implementasi Program Menghuni Syurga, meliputi Ikhlas, Hati, Taubat, Do’a, dst. Nara Sumber kita adalah Ustad Muhammad Alaika Salamulloh. Jika diantara peserta ada pertanyaan langsung saja disampaikan, supaya langsung juga dijawab:

Cantraka Ikhlas:
Ass..yang terhormat Ustad Muhammad Alaika, seperti yang sering dikatakan oleh Bapak Muhammad Nurikhlas bahwa dia mengagumi ikhtiar-ikhtiar berkaitan dengan dunia, akhirat, amal, ilmu, dan doa. Maka saya ingin bertanya bagaimana hubungan hati yang Ikhlas itu dengan Ibadah, dan Amal-amal kita?

M. Alaika Salamulloh:
Allah berfirman:”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56). Dikarenakan bahwa tujuan diciptakannya seluruh jin dan manusia uktuk beribadah kepada Allah, maka sudah barang tentu dilarang keras bagi kita semua untuk beribadahnkepada selain Allah. Kita harus mengikhlaskan ibadah kita hanya kepada Allah. Oleh karena itu salah satu kunci diterimanya amal ibadah kita sebagai hamba Allah adalah Keihlasan. Keikhlasan merupakan tolok ukur diterima atau ditolaknya ibadah kita.

Cantraka Putih:
Bagaimana cara menggapai Hati yang Ikhlas itu?

M. Alaika Salamulloh:
Niat yang benar akan menentukan kebenaran dalam beribadat. Apabila kita menjalankan ibadah dengan niat yang ikhlas, insya Allah ibadah kita akan diterima oleh Nya. Rasulullah SAW bersabda:”Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Dan setiap orang itu mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang diniatkannya” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Cantraka Sakti:
Seperti apakah wujud dari Ikhlas itu?

M. Alaika Salamulloh:
Al-Haris al-Muhasibi, salah seorang sufi besar, mengatakan:”Yang disebut dengan Ikhlas adalah apa yang engkau kehendaki dari amalmu tiada lain karena ketaatan kepada-Nya”. Jadi dalam beramal dan beribadah kita hanya meniatkan untuk taat kepada-Nya dan menjalankan kewajiban yang ditetapkan oleh-Nya kepada kita. Tidak ada yang lain yang kita tuju kecuali hanya Allah. Hanya Allah tujuan kita.

Cantraka Sakti:
Kemarin pada Ritual Ikhlas I, saya sudah merasa Ikhlas, tetapi mengapa oleh saya dinilai belum ikhlas?

M. Alaika Salamulloh:
Salah satu penghalang Ikhlas adalah Riya. Riya adalah apabila kita menunaikan sebuah amalan hanya untuk mendapatlkan pujian dari makhluk. Misalnya, mengikuti Ritual Ikhlas agar mendapat pujian menjadi dari teman atau kerabat, atau untuk memperoleh prestise di masyarakat. Rasulullah SAW memberi peringatan keras perihal Riya ini, dan bersabda:”Syirik kecil adalah suatu penyakit yang sangat berbahaya bagi kalian”. Para sahabat bertanya:”Apa itu Syirik kecil wahai Rasulullah?”. Beliau bersabda:”Itulah Riya. Pada Hari Kiamat nanti Allah menyuruh mereka yang berlaku Riya untuk mencari pahala amalnya kepada orang yang menjadi tujuan amal mereka. Allah berfirman, carilah orang yang ketika kamu beramal, kamu ingin mendapat sanjungan dari mereka. Mintalah pahala kepada mereka” (H.R. Ahmad dan Baihaqi).

Muhammad Nurikhlas:
Bagaimana keikhlasan seorang mukmin mampu mengusir setan dan iblis?

M. Alaika Salamulloh:
Sebagaimana kita tahu, Iblis telah menggoda Adam dan hawa untuk melanggar larangan Allah di surga. Dan Iblis memproklamirkan diri untuk menjadi penggoda manusia agar menyimpang dari jalan Allah hingga Hari Kiamat nanti. Iblis mengatakan bahwa semua hamba Allah bisa digoda dan diperdaya, kecuali orang-orang yang Ikhlas. Pernyataan Iblis terekam dalam surah Sgad:”Kecuali hamba-hamba-Mu yang selalu ikhlas” (Q.S. Shad:83). Ayat itu menunjukkan bahwa Iblis tidak berdaya menghadapi orang-orang Ikhlas, dikarenakan orang-orang yang Ikhlas senantiasa meniatkan segala perbuatan dan amalnya hanya untuk Allah, tidak ada yang lain. Maka tertutuplah sudah semua pintu bagi Iblis untuk dapat menggoda orang-orang yang Ikhlas.

Cantraka Ikhlas:
Apakah Al-Qur’an memberi tuntunan bagaimana kita bisa meraih Keikhlasan itu?

M. Alaika Salamulloh:
Bacalah ajaran tauhid yang termaktub pada surah al-Ikhlas berikut:”Katakan Muhammad,”Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Allah tidak beranak dantidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia” (Q.S. Al-Ikhlas: 1-4). Salah satu sebab surah tersebut dinamakan al-Ikhlas adalah karena surah tersebut mengajarkan ketauhidan seorang hamba. Artinya, ketika seorang hamba sudah mengikrarkan tauhid bahwa hanya Allah yang patut disembah, maka dia pun menauhidkan seluruh ibadahnya hanya kepada Allah. Dalam ibadah hanya ada satu tujuan yaitu Allah. Sekali lagi hanya satu tujuan, yaitu Allah Yang maha Esa. Tidak ada yang lain. Allah berfirman:”Barang siapa niat amalannya hanya menghendaki kesenangan dan keindahan dunia, pasti kami sempurnakan balasannya di dunia. sedikitpun tidak kami kurangi. Itulah orang-orang yang tiada balasannya di akhirat, kecuali neraka, lenyaplah semua amalnya dan sia-sialah pekerjaannya”. (Q.S. Hud:15-16)

Santri Kepala:
Terimakasih kami haturkan kepada Bapak Ustad Muhammad Alaika Salamulloh yang telah panjang lebar memberi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan peserta Ritual Ikhlas perihal Hati yang Ikhlas. Baiklah peserta Ritual Ikhlas semua marilah kita mempersiapkan diri untuk menjalankan Salat Maghrib secara berjamaah. Amin

5 comments:

  1. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Begitu besar arti keikhlasan itu, hati yang ikhlas senantiasa menghadirkan kebahagiaan bagi orang yang memilikinya. Banyak sekali pengetahuan tentang keikhlasan yang bisa kita petik dari wacana di atas. Segala sesuatu pertanyaan berkaitan dengan keikhlasan serta jawaban atas pertanyaan tersebut sangat bermanfaat bagi pembaca untuk diilhami dan diterapkan didalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  2. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Memang tidak mudah untuk mencapai titik keikhlasan yang tulus. Menurut saya, yang dinamakan ikhlas itu datangnya dari hati , ketika kita berorientasi hanya pada Allah SWT , tidak melakukan sesuatu demi kepentingan dunia, menolong orang bukan karena ingin dipuji, memberikan sedekah bukan karena ingin dianggap baik di mata manusia. Bahwasannya keikhlasan ini begitu mulia begitu murni adanya, sehingga jika kita melakukan sesuatu didasari dengan rasa ikhlas, maka akan menimbulkan ketenangan dan rasa penuh berkah. Meyakini bahwa setiap hal yang kita lakukan akan ada balasannya dan Allah lah yang membalas itu semua. Ada Allah yang akan memberikan ganjaran yang tidaklah sebanding dengan dunia dan seisinya. Oleh karena itu ketika kita melakukan hal yang baik, seharusnya tidak mengharapkan imbalan apapun.

    ReplyDelete
  3. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Ikhlas itu adanya di dalam hati. Bukan ada di ucapan maupun perbuatan yang dipemer-pamerkan. Jika seseorang beribadah tidak untuk Allah, maka ibadahnya sia-sia karena di dalam hatinya ada sifat riya'. Intinya kita harus selalu bersikap ikhlas dan tawakkal kepada Allah.
    Ikhlas itu merupakan hal yang penting untuk setiap perbuatan kita. Tanpa ikhlas, nilai dari kebaikan itu akan kosong, hampa. Ikhlas akan membuat kita selalu menuju ridlo Allah. Dengan memiliki sifat ikhlas, kita dapat menghindar dari rasa ingin diakui, ingin dilihat, ingin didengar saat kita berbuat kebaikan, terutama dalam beribadah.
    Selain itu, ikhlas juga akan membuat kita selalu mengingat Allah. Ikhlas diperlukan dalam setiap kebaikan. Bukan hanya ada d mulut saja, namun di hati dan pikiran kita. Semoga kita semua senantiasa menjaga keikhlasan hati dan pikiran kita dalam setiap perbuatan.

    ReplyDelete
  4. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A 2017

    “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” (Q.S Adz-Dzaariyaat ayat 56). Ibnu Abbas berkata: Semua penyebutan ibadah dalam Al-Quran maknanya adalah tauhid (Tafsir al-Qurthuby (18/193). Artinya, jika dalam Al-Quran terdapat perintah untuk beribadah kepada Allah, maksudnya adalah tauhidkan Allah atau sembahlah (beribadahlah) hanya kepada Allah. Oleh karena itu salah satu kunci utama agar ibadah kita diterima oleh Allah adalah keikhlasan. Agar kita dapat mencapai keikhlasan itu, maka yang perlu kita lakukan adalah meluruskan niat dalam menjalankan ibadah. Apabila kita menjalankan ibadah dengan niat yang ikhlas, insya Allah ibadah kita akan diterima oleh Nya. Dan janganlah sampai timbul sifat riya. Karena sungguh riya itulah yang akan melunturkan amalan ibadah yang telah dikerjakan.

    ReplyDelete
  5. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih prof, ikhlas mendasarikita untuk ringan hati dalam beribadah, dan berbuat kebaikan, karena ketika kita ikhlas kita tidak peduli dengan penilaian orang lain. Kita beribadah dan berbuat baik hanya karena ingin mendapatkan ridho Allah semata. Tidak menampakkan ibadah yang kita lakukan pada orang lain, karena jika kita berniat menampakkan ibadah yang kita lakukan, maka akan timbul sifat ingin diakui oleh makhluk, padahal hal ini membuat sifat pamer muncul didalam diri. Jauhkanlah sikap pamer dan ingin diakui oleh makhluk, beribadah dan berlaku baiklah dengan ikhlas dan hanya mengejar ridho Allah semata.

    ReplyDelete