Nov 1, 2012

Kesimpulanku Berfilsafat




Ass, forum ini sengaja saya berikan kepada semua Pembaca yang Budiman, untuk memberikan KESIMPULAN dari Kegiatan Berfilsafatnya sesuai dengan Latar belakangnya masing-masing.


Sedangkan untuk semua Mahasiswa saya yang menempuh Kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika, S2 Pendidikan Sain, maupun yang menempuh Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika program S1, Forum ini BERSIFAT WAJIB dibuat. 

Mohon diusahakan agar Kesimpulan menggambarkan pemahaman 3 (tiga) Pilar Filsafat, Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis secara Keseluruhan baik secara Intensif maupun Ekstensif.

Boleh ditambahkan Pesan atau saran-saran kepada orang lain.

Perlu di catat bahwa tidaklah forum ini untuk menekankan pada pembenaran (betul/salah) tetapi lebih kepada penjelasan masing-masing individu.

Variasi/perbedaan-perbedaan/ciri khas/pengalaman/konteks yang ada dianggap sebagai kekayaan khasanah mempelajari Filsafat.

Agar tampak originalitasnya, malah sebaiknya tidak perlu menggunakan Referensi. Spontan saja sampaikan konsep atau ide sehingga enak dibaca.

Demikian selamat mencoba, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Amin

4 comments:

  1. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dari kenyataan matematika, yaitu segala matematika yang mengada. Didalam ontology matematika terdapat dua aspek yaitu aspek ekstensi dan aspek komprehensi. Dalam kaitannya dengan matematika maka titik pangkal pendekatan ontologis adalah mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika. Pendekatan ontologis merupakan refleksi untuk menangkap kenyataan matematika sebagaimana kenyataan tersebut telah ditemukan. Kenyataan matematika dapat dipahami seada-adanya dengan seluruh isi, kepadatan, otonomi dan potensi komunikasi baik secara material, formal, normatif dan transenden. Kenyataan matematika secara implisit telah termuat bersamaan dengan mengadanya pelaku matematika. Dengan demikian pendekatan ontologis berusaha memikirkan kembali pemahaman paling dalam tentang kenyataan matematika yang telah termuat di dalam kenyataan diri dan pengalaman konkretnya.

    Pendekatan epistemologis perlu dikembangkan agar kita dapat mengetahui kedudukan matematika di dalam konteks keilmuan. Salah satu caranya dengan menggunakan pendekatan analog. Dengan pendekatan ini maka kita mempunyai pemikiran bahwa “adanya” matematika bersifat “analog” dengan “ada”nya obyek-obyek lain di dalam kajian filsafat. Jika pengetahuan yang lain kita sebut sebagai “ide” dan berada di pikiran kita, maka matematika juga dipandang sebagai “ide” yang berada di dalam pikiran kita. Kedudukan matematika bersifat “isomorphis” dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain di dalam kajian filsafat. Menurut Immanuel Kant menjelaskan bahwa pengetahuan matematika merupakan pertemuan antara pengetahuan yang bersifat “superserve” dan pengetahuan yang bersifat “subserve”. Pengetahuan matematika yang bersifat subserve berasal dari eviden sedangkan pengetahuan yang bersifat superserve berasal dari imanensi di dalam pikiran manusia. Contoh: Metode Matematika, Sumber-Sumber Pengetahuan Matematika.


    Sedangkan aksiologis mempelajari secara filosofis hakekat nilai atau value dari matematika. Manurut Hartman, nilai adalah fenomena atau konsep, nilai sesuatu ditentukan oleh sejauh mana fenomena atau konsep itu sampai kepada makna atau arti. Nilai matematika paling sedikit memuat empat dimensi: matematika memiliki nilai karena maknanya, matematika memiliki nilai karena keunikannya, matematika memiliki nilai karena tujuannya, dan matematika memiliki nilai karena fungsinya. Tiap-tiap dimensi nilai matematika tersebut selalu terkait dengan sifat nilai yang bersifat intrinsik, ekstrinsik atau sistemik. Menurut Moore di dalam Hartman, nilai matematika dapat digunakan untuk mengembangkan pertimbangan mengenai kapasitas matematika. Pertimbangan demikian akhirnya mengarah kepada refleksi pemikiran tentang dasar-dasar dan filsafat matematika..

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ontologi adalah hakikat dari segala sesuatu, sehingga ontologi matematika adalah sebuah filsafat yang mengkaji tentang hakikat dari matematika iotu. Eksistensi dari entitas-entitas matematika juga menjadi bahan pemikiran filsafat. Adapun metode-metode yang digunakan antara lain adalah: abstraksi fisik yang dimana berpusat pada suatu obyek, Abstrksi bentuk adalah sekumpulan obyek yang sejenis, Abstraksi metafisik adalah sifat obyek yang general. Jadi, matematika ditinjau dari aspek ontologi, dimana aspek ontologi telah berpandangan untuk mengkaji bagaimana mencari inti yang yang cermat dari setiap kenyataan yang ditemukan, membahas apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental.

    Epistemologi adalah sebuah cara atau metode untuk memperoleh sesuatu, jadi, matematika jika ditinjau dari aspek epistemologi matematika merupakan sebuah cara atau metode untuk memperoleh dan mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontektual, dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat. Perkembangan struktur mental seseorang bergantung pada pengetahuan yang diperoleh orang tersebut melalui proses asimilasi dan akomodasi.

    Aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Aksiologi : Filsafat nilai, menguak baik buruk, benar-salah dalam perspektif nilai Aksiologi matematika sendiri terdiri dari etika yang membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan, dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya dalam kehidupan. Jadi, jika ditinjau dari aspek aksiologi, matematika seperti ilmu-ilmu yang lain, yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan umat manusia di jagat raya nan fana ini. Segala sesuatu ilmu di dunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika. Dimulai dengan pertanyaan dasar untuk apa penggunaan pengetahuan ilmiah? Apakah manusia makin cerdas dan makin pandai dalam mencapai kebenaran ilmiah,maka makin baik pula perbuatanya?

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ontologi adalah hakikat dari segala sesuatu. Berbicara mengenai pendidikan matematika secara ontologis, maka tidak akan bisa lepas dari obyek-obyek matematika yaitu guru, siswa, pembelajaran matematika, kurikulum, dan penilaian. Ontologi dalam Pendidikan matematika juga merupakan suatu hal yang membahas bagaimana memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuannya. Yang dimaksudkan dengan ontologi pendidikan matematika ialah mengenai hakikat atau karakteristik matematika sekolah. Ebbut and Straker (1995) menyatakan bahwa hakikat matematika sekolah ialah matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi, serta kegiatan untuk mengkomunikasikan informasi atau ide.

    Aksiologi pendidikan matematika adalah ilmu yang mempelajari secara filosofis hakekat nilai atau value dari pendidikan matematika. Segala sesuatu ada nilai dan manfaatnya, begitu juga pendidikan matematika. Matematika mempunyai nilai karena maknanya, keunikannya, tujuannya, dan fungsinya. Setelah mempelajari matematika, nilai atau manfaat apa yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Nilai matematika tidak terlepas dari sifat intrinsik, ekstrinsik, dan sistemik. Matematika bernilai intrinsik jika seseorang menguasai matematika hanya untuk dirinya sendiri. Matematika bernilai ekstrinsik jika ia bisa menerapkan matematika dalam kehidupan. Dan jika seseorang mampu menggunakan pengetahuan matematika untuk bergaul dengan masyarakan matematika, maka ia menerapkan nilai sistemik.

    Epistemologi pendidikan matematika ialah logika pikiran manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana siswa memperoleh pengetahuan matematikanya. Sehingga epistemologi pendidikan matematika dikaitkan dengan bagaimana metode mengajarkan matematika sehingga matematika itu menjadi mudah dipahami oleh siswa. Bagaimana guru memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuannya misalkan dengan menggunakan metode pembelajaran, sumber, media dan interaksi yang bervariasi.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena objeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manuskia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris.

    Epistimologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistimologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas segala-segalanya

    aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri bahawa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam menegndalikan kekuatan-kekuatan alam. Dengan mempelajari atom kita dapat memanfaatkannya untuk sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.

    ReplyDelete