Nov 1, 2012

Kesimpulanku Berfilsafat




Ass, forum ini sengaja saya berikan kepada semua Pembaca yang Budiman, untuk memberikan KESIMPULAN dari Kegiatan Berfilsafatnya sesuai dengan Latar belakangnya masing-masing.


Sedangkan untuk semua Mahasiswa saya yang menempuh Kuliah Filsafat Ilmu S2 Pendidikan Matematika, S2 Pendidikan Sain, maupun yang menempuh Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika program S1, Forum ini BERSIFAT WAJIB dibuat. 

Mohon diusahakan agar Kesimpulan menggambarkan pemahaman 3 (tiga) Pilar Filsafat, Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis secara Keseluruhan baik secara Intensif maupun Ekstensif.

Boleh ditambahkan Pesan atau saran-saran kepada orang lain.

Perlu di catat bahwa tidaklah forum ini untuk menekankan pada pembenaran (betul/salah) tetapi lebih kepada penjelasan masing-masing individu.

Variasi/perbedaan-perbedaan/ciri khas/pengalaman/konteks yang ada dianggap sebagai kekayaan khasanah mempelajari Filsafat.

Agar tampak originalitasnya, malah sebaiknya tidak perlu menggunakan Referensi. Spontan saja sampaikan konsep atau ide sehingga enak dibaca.

Demikian selamat mencoba, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Amin

36 comments:

  1. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    ontologi matematika berusaha memahami keseluruhan dari kenyataan matematika, yaitu segala matematika yang mengada. Didalam ontology matematika terdapat dua aspek yaitu aspek ekstensi dan aspek komprehensi. Dalam kaitannya dengan matematika maka titik pangkal pendekatan ontologis adalah mencari pengertian menurut akar dan dasar terdalam dari kenyataan matematika. Pendekatan ontologis merupakan refleksi untuk menangkap kenyataan matematika sebagaimana kenyataan tersebut telah ditemukan. Kenyataan matematika dapat dipahami seada-adanya dengan seluruh isi, kepadatan, otonomi dan potensi komunikasi baik secara material, formal, normatif dan transenden. Kenyataan matematika secara implisit telah termuat bersamaan dengan mengadanya pelaku matematika. Dengan demikian pendekatan ontologis berusaha memikirkan kembali pemahaman paling dalam tentang kenyataan matematika yang telah termuat di dalam kenyataan diri dan pengalaman konkretnya.

    Pendekatan epistemologis perlu dikembangkan agar kita dapat mengetahui kedudukan matematika di dalam konteks keilmuan. Salah satu caranya dengan menggunakan pendekatan analog. Dengan pendekatan ini maka kita mempunyai pemikiran bahwa “adanya” matematika bersifat “analog” dengan “ada”nya obyek-obyek lain di dalam kajian filsafat. Jika pengetahuan yang lain kita sebut sebagai “ide” dan berada di pikiran kita, maka matematika juga dipandang sebagai “ide” yang berada di dalam pikiran kita. Kedudukan matematika bersifat “isomorphis” dengan pengetahuan-pengetahuan yang lain di dalam kajian filsafat. Menurut Immanuel Kant menjelaskan bahwa pengetahuan matematika merupakan pertemuan antara pengetahuan yang bersifat “superserve” dan pengetahuan yang bersifat “subserve”. Pengetahuan matematika yang bersifat subserve berasal dari eviden sedangkan pengetahuan yang bersifat superserve berasal dari imanensi di dalam pikiran manusia. Contoh: Metode Matematika, Sumber-Sumber Pengetahuan Matematika.


    Sedangkan aksiologis mempelajari secara filosofis hakekat nilai atau value dari matematika. Manurut Hartman, nilai adalah fenomena atau konsep, nilai sesuatu ditentukan oleh sejauh mana fenomena atau konsep itu sampai kepada makna atau arti. Nilai matematika paling sedikit memuat empat dimensi: matematika memiliki nilai karena maknanya, matematika memiliki nilai karena keunikannya, matematika memiliki nilai karena tujuannya, dan matematika memiliki nilai karena fungsinya. Tiap-tiap dimensi nilai matematika tersebut selalu terkait dengan sifat nilai yang bersifat intrinsik, ekstrinsik atau sistemik. Menurut Moore di dalam Hartman, nilai matematika dapat digunakan untuk mengembangkan pertimbangan mengenai kapasitas matematika. Pertimbangan demikian akhirnya mengarah kepada refleksi pemikiran tentang dasar-dasar dan filsafat matematika..

    ReplyDelete
  2. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ontologi adalah hakikat dari segala sesuatu, sehingga ontologi matematika adalah sebuah filsafat yang mengkaji tentang hakikat dari matematika iotu. Eksistensi dari entitas-entitas matematika juga menjadi bahan pemikiran filsafat. Adapun metode-metode yang digunakan antara lain adalah: abstraksi fisik yang dimana berpusat pada suatu obyek, Abstrksi bentuk adalah sekumpulan obyek yang sejenis, Abstraksi metafisik adalah sifat obyek yang general. Jadi, matematika ditinjau dari aspek ontologi, dimana aspek ontologi telah berpandangan untuk mengkaji bagaimana mencari inti yang yang cermat dari setiap kenyataan yang ditemukan, membahas apa yang kita ingin ketahui, seberapa jauh kita ingin tahu, menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental.

    Epistemologi adalah sebuah cara atau metode untuk memperoleh sesuatu, jadi, matematika jika ditinjau dari aspek epistemologi matematika merupakan sebuah cara atau metode untuk memperoleh dan mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan konsep-konsep yang kongkrit, kontektual, dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat. Perkembangan struktur mental seseorang bergantung pada pengetahuan yang diperoleh orang tersebut melalui proses asimilasi dan akomodasi.

    Aksiologi yaitu nilai-nilai, ukuran-ukuran mana yang akan dipergunakan dalam seseorang mengembangkan ilmu. Aksiologi : Filsafat nilai, menguak baik buruk, benar-salah dalam perspektif nilai Aksiologi matematika sendiri terdiri dari etika yang membahas aspek kebenaran, tanggungjawab dan peran matematika dalam kehidupan, dan estetika yang membahas mengenai keindahan matematika dan implikasinya pada kehidupan yang bisa mempengaruhi aspek-aspek lain terutama seni dan budaya dalam kehidupan. Jadi, jika ditinjau dari aspek aksiologi, matematika seperti ilmu-ilmu yang lain, yang sangat banyak memberikan kontribusi perubahan bagi kehidupan umat manusia di jagat raya nan fana ini. Segala sesuatu ilmu di dunia ini tidak bisa lepas dari pengaruh matematika. Dimulai dengan pertanyaan dasar untuk apa penggunaan pengetahuan ilmiah? Apakah manusia makin cerdas dan makin pandai dalam mencapai kebenaran ilmiah,maka makin baik pula perbuatanya?

    ReplyDelete
  3. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ontologi adalah hakikat dari segala sesuatu. Berbicara mengenai pendidikan matematika secara ontologis, maka tidak akan bisa lepas dari obyek-obyek matematika yaitu guru, siswa, pembelajaran matematika, kurikulum, dan penilaian. Ontologi dalam Pendidikan matematika juga merupakan suatu hal yang membahas bagaimana memfasilitasi siswa untuk membangun pengetahuannya. Yang dimaksudkan dengan ontologi pendidikan matematika ialah mengenai hakikat atau karakteristik matematika sekolah. Ebbut and Straker (1995) menyatakan bahwa hakikat matematika sekolah ialah matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan, kegiatan problem solving, kegiatan investigasi, serta kegiatan untuk mengkomunikasikan informasi atau ide.

    Aksiologi pendidikan matematika adalah ilmu yang mempelajari secara filosofis hakekat nilai atau value dari pendidikan matematika. Segala sesuatu ada nilai dan manfaatnya, begitu juga pendidikan matematika. Matematika mempunyai nilai karena maknanya, keunikannya, tujuannya, dan fungsinya. Setelah mempelajari matematika, nilai atau manfaat apa yang dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Nilai matematika tidak terlepas dari sifat intrinsik, ekstrinsik, dan sistemik. Matematika bernilai intrinsik jika seseorang menguasai matematika hanya untuk dirinya sendiri. Matematika bernilai ekstrinsik jika ia bisa menerapkan matematika dalam kehidupan. Dan jika seseorang mampu menggunakan pengetahuan matematika untuk bergaul dengan masyarakan matematika, maka ia menerapkan nilai sistemik.

    Epistemologi pendidikan matematika ialah logika pikiran manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana siswa memperoleh pengetahuan matematikanya. Sehingga epistemologi pendidikan matematika dikaitkan dengan bagaimana metode mengajarkan matematika sehingga matematika itu menjadi mudah dipahami oleh siswa. Bagaimana guru memfasilitasi siswa dalam membangun pengetahuannya misalkan dengan menggunakan metode pembelajaran, sumber, media dan interaksi yang bervariasi.

    ReplyDelete
  4. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Ontologi membahas tentang apa yang ingin diketahui atau dengan kata lain merupakan suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Dasar ontologis dari ilmu berhubungan dengan materi yang menjadi objek penelaahan ilmu. Berdasarkan objek yang telah ditelaahnya, ilmu dapat disebut sebagai pengetahuan empiris, karena objeknya adalah sesuatu yang berada dalam jangkauan pengalaman manuskia yang mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Berlainan dengan agama atau bentuk-bentuk pengetahuan yang lain, ilmu membatasi diri hanya kepada kejadian-kejadian yang empiris, selalu berorientasi terhadap dunia empiris.

    Epistimologi membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, epistimologi adalah suatu teori pengetahuan. Ilmu merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui proses tertentu yang dinamakan metode keilmuan. Kegiatan dalam mencari pengetahuan tentang apapun selama hal itu terbatas pada objek empiris dan pengetahuan tersebut diperoleh dengan menggunakan metode keilmuan, sah disebut keilmuan. Kata-kata sifat keilmuan lebih mencerminkan hakikat ilmu daripada istilah ilmu sebagai kata benda. Hakikat keilmuan ditentukan oleh cara berfikir yang dilakukan menurut syarat keilmuan yaitu bersifat terbuka dan menjunjung kebenaran diatas segala-segalanya

    aksiologis ilmu membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang didapatkannya. Tidak dapat dipungkiri bahawa ilmu telah memberikan kemudahan-kemudahan bagi manusia dalam menegndalikan kekuatan-kekuatan alam. Dengan mempelajari atom kita dapat memanfaatkannya untuk sumber energi bagi keselamatan manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia, tetapi hal ini juga dapat menimbulkan malapetaka bagi manusia. Penciptaan bom akan meningkatkan kualitas persenjataan dalam perang, sehingga jika senjata itu dipergunakan akan mengancam keselamatan umat manusia.

    ReplyDelete
  5. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Bagaimana ksimpulan saya setelah belajar filsafat, ya tentunya saya sangat mensyukuri pengalaman saya ini. Dengan belajar flsafat saya menjadi mampu untuk merefleksikan setiap langkah saya. Saya menjadi mampu belajar bagaimana menyesuaikan denga ruang dan waktu. Saya belajar bagaiman berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain. Saya belajar untuk selalu berpikir kritis dan masih banyak lagi. Yang saya sadari bahwa filsafat itu harus terus saya pelajari tidak hanya sampai akhir perkuliahan ini saja.

    ReplyDelete
  6. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ontologi filsafat membahas mengenai hakikat filsafat itu sendiri. Hakikat tersebut dalam artian seperti apa sebenarnya pengetahuan filsafat atau definisi dari filsafat itu sendiri. Definisi dari filsafat tidaklah tunggal, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda-beda dalam mengartikan filsafat. Dengan demikian, definisi filsafat tergantung ruang dan waktu. Epistemologi filsafat membahas mengenai bagaimana cara memperoleh pengetahuan filsafat yang berhubungan dengan asal mula/sumber, metode, serta validitas/kebenaran dari pengetahuan filsafat. Aksiologi filsafat membahas mengenai kegunaan pengetahuan filsafat dalam memecahkan permasalahan kehidupan manusia yang berhubungan dengan cara pandangan hidup, metode pemecahan masalah, pengaruhnya dalam perkembangan terhadap disiplin ilmu lain.

    ReplyDelete
  7. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Menurut saya selama pembelajaran filsafat, hal yang dapat saya pahami adalah filsafat adalah dirimu sendiri dan filsafat adalah proses olah pikirmu. Karena sebenar-benar hidup adalah berpikir baik mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Yang ada dan yang mungkin ada sendiri berstruktur dan berhirarki. Berfilsafat bukan tentang benar atau salah, karena konteks benar dan salah dalam filsafat berbeda antara satu orang dan lainnya. Dalam berfilsafat ada yang disebut etik dan estetika. Dimana etik mengandung baik buruk dan estetika mengandung indah dan tidak indah. Pada akhirnya, dalam berfilsafat hendaknya selalu menyertakan Tuhan agar apapun yang menjadi keraguan manusia tetap teguh pada nilai-nilai yang terkandung dalam agama.

    ReplyDelete
  8. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Berfilsafat dapat diartikan sebagai bagaimana cara memandang sesuatu dengan pemikiran yang lebih terbuka.
    Sudut pandang tidak bisa terhenti pada satu titik saja. Semua yang ada dikehidupan ini berstruktur dan berhirarki, maka dalam berfikir perlu ditekankan bahwa apa yang dipikirkan terkait akan ruang dan waktu.
    Sehingga apa yang ada dan mungkin ada pasti saling berhubungan atau saling berkaitan satu sama lain yang di dasarkan pada ruang dan waktu yang sesuai.

    ReplyDelete
  9. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dikarenakan dalam berfilsafat memikirkan atau menguak pengetahuan dari hal yang mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain. Berikut penjelasan dari tiga pilar utama berfilsafat, yaitu sebagai berikut.
    • Ontologis adalah cara berpikir dengan menelaah mengenai objek dari pengetahuan. Dalam suatu pengetahuan, tentulah memiliki objek yang dikaji sehingga menjadi suatu ilmu. Objek pengetahuan meliputi segala yang ada dan yang mungkin ada, meskipun dari hal kecil sebagai objek, dikaji sehingga objek tersebut menjadi sebuah pengetahuan menurut filsafat. Menelaah obyek berdasarkan realita yang ada.
    • Epistemologi adalah rasa keingintahuan subyek dari suatu pengetahuan. Rasa keingintahuan dari suatu pengetahuan tersebut muncul karena suatu pikiran kritis akan suatu pengetahuan. Tanpa adanya pikiran kritis, tidak akan ada keingintahuan mengenai suatu pengetahuan. Keingintahuan tidak hanya karena belum mempelajari, namun karena setelah mempelajari suatu pengetahuan, timbul pertanyaan-pertanyaan dari pengetahuan tersebut. Pertanyaan pengetahuan tidak hanya mengenai kelanjutan dari ilmu, namun dapat juga pertanyaan yang mengkritisi (yang bertentangan) dari pengetahuan tersebut.
    Aksiologi adalah aksi untuk mengungkap nilai-nilai dari suatu pengetahuan. Ketika mendengar kata 'nilai' dari pengetahuan, satu hal terpikir adalah nilai moral. Namun nilai dari pengetahuan tidak hanya mengenai nilai moral yang terkandung, namun juga nilai keindahan yang terkandung, dan juga nilai sosial-politik yang terkandung dalam pengetahuan.

    ReplyDelete
  10. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2


    Filsafat membawa kita kepada pemahaman dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang telah layak, filsafat perlu pemahaman bagi seseorang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan karena ia menentukan pikiran dan pengarahan tindakan seseorang untuk mencapai tujuan. Filsafat membahas segala sesuatu yang ada bahkan yang mungkin ada baik bersifat abstrak ataupun riil meliputi Tuhan, manusia dan alam semesta. Sehingga untuk faham betul semua masalah filsafat sangatlah sulit tanpa adanya pemetaan-pemetaan dan mungkin kita hanya bisa menguasai sebagian dari luasnya ruang lingkup filsafat.Sistematika filsafat secara garis besar ada tiga pembahasan pokok atau bagian yaitu; ontologi atau teori hakikat yang membahas tentang hakikat segala sesuatu yang melahirkan pengetahuan, epistemologi atau teori pengetahuan yang membahas bagaimana kita memperoleh pengetahuan, dan aksiologi atau teori nilai yang membahas tentang guna pengetahuan. Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat. Istilah Epistemologi di dalam bahasa inggris di kenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari asal kata “episteme” dan ”logos”. Epistime berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci di sebutkan bahwa epistemologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalan dan radikal tentang asal mula pengetahuan, structure, metode, dan validitas pengetahuan. Aksiologi terdiri dari dua hal utama, yaitu: Etika : bagian filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku orang. Semua perilaku mempunyai nilai dan tidak bebas dari penilaian. Jadi, tidak benar suatu perilaku dikatakan tidak etis dan etis. Lebih tepat, perilaku adalah beretika baik atau beretika tidak baik. Estetika : bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya manusia dari sudut indah dan jelek.

    ReplyDelete
  11. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Filsafat itu mengolah pikiran kita. Kita dilatih untuk melihat semua yang ada dan yang mungkin ada tidak hanya dari satu sisi, melainkan dari berbagai aspek. Sehingga kita bisa memiliki pandangan yang lebih menyeluruh. Hal ini melatih kita agar dapet bersifat lebih bijak dalam menghadapi permasalahan dalam hidup ini. Filsafat juga menekankan bahwa segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini selalu bersifat relatif, yang bersifat absout hanyalah Allah SWT. Maka kita harus selalu mendekatkan diri pada-Nya agar hidup kita semakin seimbang.

    ReplyDelete
  12. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam memahami filsafat khususnya matematika, memerlukan banyak aspek yang harus dipelajari. Ada banyak bagian dari filsafat, diantaranya yaitu aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi. Filsafat matematika adalah cabang dari filsafat yang mengkaji anggapan-anggapan filsafat, dasar-dasar, dan dampak-dampak matematika. Tujuan dari filsafat matematika adalah untuk memberikan rekaman sifat dan metodologi matematika dan untuk memahami kedudukan matematika di dalam kehidupan manusia. Sifat logis dan terstruktur dari matematika itu sendiri membuat pengkajian ini meluas dan unik di antara mitra-mitra bahasan filsafat lainnya. Sedangkan filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan, dan pemikiran manusia secara kritis, dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak di dalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi, dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir, dan logika bahasa. Selain itu, dalam matematika mempelajari tentang logika. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran, dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal. Filsafat, terutama filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan, dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka, dan tidak menggantungkan diri kepada agama untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani, dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar adalah Sokrates, Plato, dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain termasuk beberapa karya Plato. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat.

    ReplyDelete
  13. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum.Dalam filsafat terdapat tiga pilar utama yang menjadi unsur dasar kajiannya dalam kehidupan, yaitu ontologi (hakekat), epistimologi (metode), dan aksiologi (untuk apa). Dalam filsafat pendidikan matematika, aspek ontolgisnya membahas mengenai hakikat dunia, hakekat manusia, dan hakekat siswa. Aspek epistimologisnya membahas mengenai bagaimana mengajarkan ilmu matematika sehingga mudah dipahami siswa. Aspek aksiologisnya membahas tetang fakta bahwa pada proses belajar mengajar di sekolah tujuannya tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh siswa melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan.

    ReplyDelete
  14. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Objek telaah ontologi adalah ‘yang ada’ dalam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas ‘yang ada’ yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan. Objek formal ontologi dalam pendidikan matematika adalah hakikat nilai keberadaan dari pendidikan matematika, dikaitkan dengan esensi atau dasar-dasar atau prinsip bahasan utama dalam pendidikan matematika. Sehingga munculah beberapa pertanyaan kenapa penting harus mempelajari matematika ? Bagaimana filosofi matematika sehingga dapat menjadi sebuah ilmu yang dapat diajarkan ? Prinsip apa saja dalam pendidikan matematika ? Apa peran pendidikan matematika bagi manusia dan dunia ?

    ReplyDelete
  15. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Epistemologi pendidikan matematika menyangkut bagaimana cara memperoleh pendidikan matematika itu sendiri. Epistemologi jugamembicarakan metode, metode yang sering dipakai para filsuf adalah adalah metode empiris yang berrati fakta yang kita amati(john locke), rasionalisme adalah fakta yang diolah, fenomenalisme adalah sesuatu yang berkaitan dengan fenomena-fenomena (kant), dan intuisionisme. Jadi, Matematika jika ditinjau dari aspek epistemologi, yaitu matematika yang mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuantitatif. Dengan konsep-konsep yang konkrit, kontekstual dan terukur matematika dapat memberikan jawaban secara akurat. Perkembangan struktur mental seseorang bergantung pada pengetahuan yang diperoleh siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi. Penalaran matematika adalah penalaran induktif dan deduktif.

    ReplyDelete
  16. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Aksiologi adalah yang menyangkut nilai-nilai dan pertanyaan untuk apa, apakah itu baik. Aksiologi juga membahas tentang nilai etik dan estetika dari suatu pengetahuan. Apabila dikaitkan dengan pendidikan matematika maka aksiologi pendidikan matematika adalah penyelidikan tentang nilai-nilai yang terkandung dalam kebenaran pendidikan matematika. Sejalan dengan ini, Menurut Gagne dalam belajar matematika ada dua objek yang dapat diperoleh langsung oleh siswa yaitu objek langsung dan objek tak langsung. Objek tak langsung adalah kemampuan yang secara tak langsung akan dipelajari siswa ketika mereka mempelajari objek langsung matematika seperti kemampuan: berpikir logis, kemampuan memecahkan masalah, sikap positif terhadap matematika, ketekunan, ketelitian, dan lain-lain. Objek tak langsung ini berupa nilai nilai dalam pendidikan matematika dapat meliputi: nilai kerjasama, nlai kebebasan, nilai disiplin, nilai kecermatan/ketekunan, nilai menerima pendapat, nilai sikap hormat dan nilai kesepahaman. Menurut Sheah dan Bhisop (2000) sebagaimana dikutip oleh Susanto (2006), nilai dalam pendidikan matematika meliputi: accuracy, clarity, conjectu-reing, consistency, creativity, effective organiza-tion, efficient working, enjoyment, flexibility, open mindedness, persistence, dan sistematic working . Sedangkan obek langsungnya berupa Fakta, Konsep, Prinsip, dan Skill (FKPS) serta Hirarki Belajar.

    ReplyDelete
  17. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Setelah memebaca berbagai artikel dan elellgi-elegi pak prof dapat saya ambil kesimpulan bahwa kita hidup ini adlaah untukmemnajdi pribadi yang baik yanag mana dalam menjalani suatau kehidupan tak terlepas dengan namanya filsafat. Dengan adanya filsafat maka kita bisa tahu tujuan hidup kita yang hakiki itu seperti apa. Bahwa tujuan hidupa yang hakiki itu adlaah menggapai cintanya Allah SWT. Sehingga apabila sudah menanggapai cintanya Sang Kuasa maka semua yanag ada dbumi dan di dalam semestaa akan membanatu kita. Dalam menjalani hidup dengan berfilsafat juga taklepasa dnegan perannya ontologi, epistimologi dan aksiologi suatau ilmu pengethauna yang mana kita semua tahu bahwa ketiga nya iotu unsur membangun suatau ilmu pengetahauan. Dengan adanya 3 unsur itu sebeut saja demikian. Maka kita tahu bagaimana menggunakan ilmu pengetahuana itu dengan sbeaik-baiknya.

    ReplyDelete
  18. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ketika kita belajar filsafat, maka kita akan mempelajari hukum sebab akibat yang telah diturunkan pada muka bumi ini dan telah direduksi. Ruang lingkup dalam mempelajari filsafat begitu luas, yaitu alam semesta ini. Bahkan itu saja belum cukup, karena masih bisa menjangkau alam akhirat. Karena begitu luasnya ruang lingkup filsafat, maka dari situ dapat mempelajari banyak hal terkait segala aturan-aturan atau hukum-hukum. Dari alam semesta ini kita dapat membaca fenomena alam dan memahami hukum-hukum yang ada untuk menjadi pedoman selama kita hidup di alam semesta ini. Sementara itu, objek yang kita dipelajari dari filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada. Dengan demikian ketika kita mempelajari filsafat maka kita akan mempelajari hakekat dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, kita mempelajari metodelogi dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, dan kita mempelajari kepantasan dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.

    ReplyDelete
  19. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Berfilsafat memandang utuh dan benar suatu kebenaran adalah mitos bagi objek tersebut.
    Hal ini karena pikiran manusia terbatas sedang kebenaran tidak terbatas masih perlu adanya pembuktian yang lebih jauh dan tinggi lagi.
    Manusia hanya dapat berusaha bagaiamana mengubah mitos tersebut menjadu logos bagi dirinya.
    Sehingga pikiran manusia selalu berusaha untuk menggapai kebenaran yang ada, akan tetapi tidak akan pernah sampai kecuali berkat anugrahNya.
    Karena manusia hanya makhluk dengan segala keterbatasan.

    ReplyDelete
  20. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Filsafat bukan sesuatu yang rumit meski kesan mekanis tidak dapat dihapus darinya, pemikiran spekulatif filsafat juga terkadang mengesankan arogansi bagi semua yang menempelkan stigma alergi padanya. Filsafat menggugat, mempertanyakan, dan mengubah dirinya sendiri, ini semua sesuai dengan semangat pendidikan yang sejati. Filsafat mengajarkan kita untuk melakukan analisis, dan mengemukakan ide dengan jelas serta rasional, filsafat mengajarkan kita untuk mengembangkan serta mempertahankan pendapat secara sehat bukan dengan kekuatan otot atau kekuatan otoritas politik semata.

    ReplyDelete
  21. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dengan mempelajari filsafat maka kita akan mempelajari hakekat dari segala sesuatu yang ada dan mungkin ada, maka segala objek pikir tersebut dapat dikaitkan dengan filsafat. Filsafat adalah hasil olah pikir manusia, maka sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri. Dalam filsafat diperlukan beberapa bekal saja yakni berpikir kritis atau berlogika, pengalaman dan spiritual kita. Dimana ketiganya saling berkaitan. Berpikir kritis / berlogika digunakan untuk mengolah pikiran dengan cara mengintensif dan mengekstensifkan pikiran sehingga menemukan suatu hal yang lebih bermkana. Pengalaman juga diperlukan dalam berfilsafat, semakin banyak pengalaman hidup yang diperoleh maka semakin mudah orang tersebut mencapai titik tertinggi dalam berfilsafat. Dan sebagai kebenaran yang absolut dan hakiki kita harus mempunyai keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan.

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pembelajaran matematika berdasarkan pada filsafat yang terdiri atas ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Ontologi menegnai apa yang ada dan tidak terikat oleh suatu sifat, epistemologi mengenai pengetahuan dari segala kemungkinan yang ada berdasarkan pengalaman dan aksiologi mengenai suatu nilai. Objek dalam filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada dalam batasan ruang dan waktu serta berfilsafat itu merupakan diriku sendiri.

    ReplyDelete
  24. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Filsafat terdiri atas tiga cabang besar yaitu: ontologi, epistimologi, dan aksiologi.
    1. Ontologi filsafat membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan filsafat itu sebenarnya. Struktur filsafat dibahas juga disini. Yang dimaksud struktur filsafat disini ialah cabang-cabang filsafat serta isi (yaitu teori) dalam setiap cabang itu. Yang dibicarakan disini hanyalah cabang-cabang saja, itupun hanya sebagian. Teori dalam setiap cabang tentu sangat banyak dan itu tidak dibicarakan disini. Struktur dalam arti cabang-cabang filsafat sering juga disebut sistematika filsafat.
    2. Epistimologi membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu. Epistimologi filsafat membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yaitu yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan filsafat dan ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat.
    3. Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu. Dalam aksiologi diuraikan dua hal, yang pertama tentang kegunaan pengetahuan filsafat dan yang kedua tentang cara filsafat menyelesaikan masalah. Ilmu merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia, karena dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah.

    ReplyDelete
  25. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Tiga pilar dalam berfilsfata yaitu yang pertama otology atau hakekat berfilsafat itu sendiri yaitu dengan berfilsafat seharusnya membuat kita mengetahui sesuatu sebagaimana adanya dan beradaptasi sebagaimana seharusnya, secara bertahap menjadi baik dan lebih baik lagi secara terus menerus. Kedua yaitu epistemology atau bagaimana berfilsafat, dalam berfilsafat berarti kita mempelajari pikiran para filsuf dan kemudian kita mengkonstruksi dengan pengetahuan yng kita miliki dan harus diriringi dengan spiritualitas yang kuat. Ketiga yaitu aksiologi atau manfaat berfilsafat diantaranya yaitu melatih pola pikir dan akan melatih kemampuan pemecahan masalah, menemukan akar persoalan yang terdalam, dan menemukan sebab terakhir satu penampakkan

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Berfilsafat adalah memahami pikiran sendiri dan mencoba memahami pikiran orang lain. Kesipulan saya dalam berfilsafat adalah menghargai filsafat orang lain tanpa mengutamakan filsafat sendiri. Karena setiap orang berhak berfilsafat. Terdapat 3 pilar dalam berfilsafat ontologi, epistemolgi dan aksiologi 3 pilar tersebut adalah hal yang tidak bisa kita lepas saat kita berfilsafat.

    ReplyDelete
  27. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam berfilsafat kita memikirkan apa yang ada dan yang mungkin ada, dalam berfilsafat pun memiliki tiga pilar utama, yaitu:
    - Ontologis, pilar ini membicarakan hakikat filsafat, yaitu apa pengetahuan sebenarnya dari filsafat itu sendiri. Selain itu, struktur dari filsafat pun juga dibahas disini, yang dimaksud struktur adalah cabang-cabang filsafat beserta isi dalam setiap cabang itu.
    - Epistemologis, pilar ini membicarakan tiga hal, yaitu objek filsafat (yang dipikirkan), cara memperoleh pengetahuan itu sendiri, serta ukuran kebenaran (pengetahuan) filsafat itu sendiri.
    - Aksiologi, pilar ini membicarakan guna dari pengetahuan itu sendiri. Dalam aksiologi diuraikan dua hal, yang pertama menganai kegunaan pengathuan filsafat danyang kedua adalah cara menyelesaikan masalah.

    ReplyDelete
  28. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Filsafat bersifat reflektif dimana yang dipelajari dalam filsafat merupakan belajar tat acara. Beberapa hal mengenai tat acara yang ada dalam hidup perlu dipelajari hingga ke akar – akarnya. Tata cara tersebut terdapat berbagai macam jenis dan rupa. Kita belajar untuk memahami tat acara tersebut. Tujuannya adalah agar kita dapat menjaga sikap untuk menyesuaikan diri dengan tata cara yang berlaku ketika kita berada di satu tempat.

    ReplyDelete
  29. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Assalamu’alaikum Pak Prof Marsigit
    Saya berkesempatan untuk membaca artikel-artikel bermasalahkan fiasafat disamping membaca hal pokok tentang pembelajaran matematika. Yang saya dapat simpulkan dari berfilsafat adalah sangat luas bahasanya. Karena filsafat tak bias dipandang dengan satu dimensi saja. Namun dalam berfilsafat harus memaknai sedalam-dalamnya. Mungkin setiap orang dapat berfilasafat namun itu beda dimensi antar setiap orang. Maka berfilsafat iru merefleksikan pikiran diri. Sehingga dengan mngerti pikiran sendiri maka itu mengetahui b\seberapa kritis pikiran itu. Begitulah berfilasat yang dapat saya simpulkan.

    ReplyDelete
  30. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Jangan sampai kita mengambil sebuah keputusan hanya berasal dari 'kata hati' tanpa rasionalitas. Dalam berfilsafat, termasuk dalam filsafat pendidikan matematika, ada tiga pilar utama yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. filsafat menjadi landasan yang sangat kuat dalam pendidikan matematika, mulai dari ontologi pendidikan matematika yang membicarakan objek kajian dan apa yang dipelajari dalam pendidikan matematika. Filsafat juga berperan dalam epistemologi pendidikan matematika tentang cara pemerolehan pengetahuan matematika. Dan juga tentang aksiologi pendidikan matematika tentang manfaat dari pendidikan matematika. Secara lebih rinci filsafat terangkum dalam list pertanyaan di atas. Filsafat juga menuntun guru dalam menerapkan metode mengajar, emndidik, membentuk RPP dan perangkat pembelajaran.

    ReplyDelete
  31. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Adapun beberapa kesimpulan berfilsafat yang akan saya uraikan disini yaitu:
    1) Filsafat adalah olah pikir. Selama manusia hidup, selama itu pula ia berpikir. Dalam filsafat, kita mengenal tiga pilar filsafat yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Tiadalah metode berpikir tanpa obyek berpikir. Metode berpikir adalah epistemologi, obyek berpikir adalah ontologi, maka tiadalah dapat dipisahkan antara epistemologi dan ontologi. Sedangkan aksiologi adalah normanya.
    2) Sangat banyak manfaat mempelajari filsafat, yaitu ada paling tidak 3 kekuatan/manfaat filsafat yang dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan dimensi hidup manusia, yaitu: a) kesadaran akan ruang dan waktu; b) berpikir intensif dan ekstensif; serta c) menggapai logos.
    3) Adapun tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Begitu juga dengan mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Salah satunya adalah engkau bisa dan mampu menyumbangkan pemikiranmu terhadap perkembangan dan pembaharuan pendidikan matematika. Jika engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi.

    ReplyDelete
  32. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Berfilsafat, secara ontologis berarti kita mengupas tentang hakikat dari sesuatu. Segala sesuatu kita definisikan sifat-sifatnya baik secara intensif maupun ekstensif, sehingga kita akan mendapati bahwa suatu subjek akan memiliki banyak definisi, karena memiliki banyak sifat. Kemudian secara epistemologis, yaitu kebenaran tentang sesuatu. Di dalam berfilsafat yang ada hanyalah benar dan tidak salah. Sehingga kebenaran sebuah kata-kata akan tergantung kepada darimana sudut pandangnya. Sudut pandang antara satu orang dengan lainnya akan berbeda-beda, hal ini juga dikarenakan sifat-sifat sebuah objek juga banyak tak hingga, sehingga kita jangan menjudge sesuatu itu salah sebelum kita melihat dari sudut pandang perkataan tersebut. sedangkan aksiologi yaitu dari sisi esetetika atau keindahan atau nilai. Keindahan tidak hanya dipandang secara dangkal, namun harus dimaknai secara mendalam termasuk sifat-sifatnya, hal inilah yang akan memunculkan sebuah nilai atau kegunaan.
    Filsafat merupakan sebuah bidang ilmu yang akan menunjukkan dunia kepada kita dari segala sisi. Dengan melihat dunia dari segala aspek kehidupan dan segala sudut pandang, maka kita akan dapat memaknainya dengan baik. Hal ini akan menjadikan kita sebagai orang yang bijaksana, menempatkan segala sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu. Tanpa filsafat, maka pikiran kita hanya terbatas dan tertutup. Sehingga akan menjadikan kita orang yang tidak bijaksana.

    ReplyDelete
  33. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Secara Ontologis, filsafat adalah pikiranku. Piiranku berbeda dengan pikiran orang lain. Maka filsafatku berbeda dengan filsafat orang lain. Setiap orang memiliki filsafatnya masing-masing. Namun filsafat ada yang mendekati benar ada yang mendekati salah, tergantung dari dimensi pikiran dan hati dari subjek tersebut. Secara Epistemologis, saya harus meningkatkan dimensi saya dalam memahami filsafat, karena baru kali ini saya merasa belajar berfilsafat, melalui pertemuan tanya jawab dan membaca elegi-elegi bapak sangat membantu saya dalam memahami filsafat. Secara Aksiologis, dengan belajarnya filsafat saya lebih membuka pikiran saya seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya tentang objek tertentu. Tidak secara sembrono memutuskan suatu perkara yang di hadapi. Dan dari filsafat ini pikiran saya seperti terbuka, sehingga melihat suatu objek yang sederhana menjadi lebih banyak yang dipikirkan jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

    ReplyDelete
  34. Dwi Kawuryani
    S1 Pend.Mat I 2014
    14301241049
    Filsafat adalah pola pikir seseorang. Cara seseorang berfilsafat akan menunjukan bagaimana cara seseorang berfikir. Ontologi filsafat adalah benda-benda yang ada dan yang mungkin ada. Objek filsafat dapat disampaikan dengan hal-hal yang berbeda. Saran dan pesan saya untuk pembaca yang lain adalah ketika memulai berfilsafat hendaknya tidak mengarah kepihak tertentu sehingga pikiran menjadi neutral dan tidak berpihak.

    ReplyDelete
  35. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah saya membaca artikel-artikel pak Marsigit, saya menyimpulkan bahwa filsafat adalah orientasi yang mencerahkan kehidupan sesuai dengan tuntutan akal. Filsuf bukanlah seseorang yang hidup mengasingkan diri dari kehidupan masyarakat. Filsuf adalah pribadi yang hidup menyatu dengan masyarakat dan berbagai persoalannya. Dialog pemikiran dan diskusi filosofisnya merupakan sebuah proses berhadapan dengan realitas yang memiliki ciri positivistik. Jika diperhatikan dengan seksama, ternyata kehidupan keseharian kita masing-masing adalah filsafat, dan kita tidak hanya sebagai objek filsafat, tetapi juga subjek yang berfilsafat.

    ReplyDelete
  36. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Tidaklah mudah untuk berfilsafat. Kita harus mengerahkan hati dan pikiran untuk memahami apa itu filsafat. Mengetahui berbagai pendapat para filsuf untuk membuka hati dan pikiran kita tentang filsafat. Filsafat menurut saya adalah cerminan diri kita sendiri, filsafat bergantung ruang dan waktu, bergantung setiap individu dalam memandang sesuatu.

    ReplyDelete