Nov 22, 2012

Phenomenology Husserl_Oleh Marsigit


0

56 comments:

  1. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Fenomenologi dalam filsafat adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri (Bertens, 1981). Fenomenologi sebagai metode dipopulerkan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Epistemologi fenomenologi sebagai sebuah metode telah menghasilkan nilai kebenaran yang intersubjektif. Usaha untuk menemukan makna noumenon di balik fenomenon dan makna yang dicari mempunyai kesepakatan bersama. Intersubjektif mendekati sesuatu untuk dinilai dan memberikan interpretasi, maka hasil dari nilai dan interpretasi tersebut selamanya akan berbeda-beda, sampai ada kesepakatan yang dihasilkan bersama-sama. Adapun, keunikan penemuan pengetahuan dalam fenomenologi Husserl ialah menyingkirkan (mengurung) sementara segala teori, pendapat dan pandangan yang telah diketahui sebelumnya oleh setiap orang, agar nantinya dapat menangkap hakikat yang murni (Hardiansyah A., 2013).

    ReplyDelete
  2. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Objek pengetahuan bagi Husserl adalah realitas yang menampakkan diri sendiri, melalui kesadaran yang intensional. Fenomenon tidak mesti melawati indera, karena fenomenon juga bisa ditangkap oleh rohani (Hardiansyah A., 2013). Husserl (dalam Hardiansyah A., 2013). menyatakan bahwa untuk menemukan hakikat, terjadi reduksi (penyaringan) yang merupakan langkah metodisnya terbagi menjadi tiga macam reduksi:
    1. Reduksi fenomenologis (epoche)
    Epoche yaitu menyaring segala keputusan di antara tanda kurung yang muncul terhadap objek realitas yang diamati. Penyaringan segala ke-putusan seperti teori maupun hipotesis-hipotesis yang pernah ada, yang pada akhirnya menyisihkan segala macam tradisi yang berusaha mem-bahas dan memberikan keputusan tentang objek tersebut.
    2. Reduksi eidetik (eidetic vision)
    Eidetic vision atau membuat ide (ideation) yaitu reduksi yang ingin menemukan intisari atau sampai kepada esensi. Usaha yang paling pokok adalah menangkap hakikat fenomena-fenomena. Reduksi kedua bisa menyisihkan hal-hal yang tidak hakiki, dan agar hakikat dapat mengungkapkan diri sendiri, yang demikian bukan abstraksi, tetapi intuisi mengenai hakikat (wesenserchuung).
    3. Reduksi transendental
    Reduksi yang ketiga tidak lagi mengenai objek atau fenomin, bukan pula mengenai hal-hal sejauh menampakkan diri kepada kesadaran, tetapi reduksi trasendental khusus merupakan: wende zum subject (pengetahuan ke subjek) dan mengenai terjadinya penampakkan sendiri, dan mengenai akar-akar kesadaran Supaya mendapatkan kepastian akan kebenaran pengertian kata, menurut Husserl, harus dicarinya dalam Erlebnisse, yaitu pengalaman yang dengan sadar. Dalam pengalaman tersebut mengalami diri sendiri. Segala pengalaman empiris yang ada pada dunia benda untuk sementara waktu diletakkan pada tanda kurung, kemudian melakukan penyaringan, setelah itu tampaklah yang tertinggal adalah ”kesadaran murni” atau transendental, tidak empiris lagi.

    ReplyDelete
  3. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam fenomena Husserl diatas, terlihat bahwa fenomena matematika dapat berupa sesuatu yang idealis dan abstrak juga terkandung epoche didalamnya. Membahas mengenai epoche, epoche dapat berarti penangguhan keputusan yang digunakan untuk menunda segala asumsi agar mampu mengungkap segala aspek pengetahuan. Konsep epoche adalah membedakan wilayah data/subjek dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat di mana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang suatu fenomena.

    ReplyDelete
  4. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Fenomenologi secara luas dapat diartikan sebagai ilmu tentang fenomena-fenomena atau apa saja yang tampak.
    Segala fenomena yang terjadi dan dapat dilihat secara inderawi maka dinamakan fenomenologi.
    Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia.
    Sehingga fenomena yang manusia secara sadar dapat memahaminya.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Husser di sini membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Di sini berarti bahwa pembelajaran merupakan sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Kita tahu bahwa secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Seperti pada gambar di atas, Ketika kita bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  6. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari gambar, saya merefelksi bahwa fenomenolohi melihat dan mengamati hal-hal yang ada di lingkungan kemudian disimpan dalam pikiran. Digambar diperlihatkan seseorang yang mengamati bunga, orang tersebut mengamati bunga dari depan, belakang, atas dan bawah, ia juga bisa saja mengamati ciri-ciri bunga tersebut. Kemudian dari pengamatan mengenai ciri-ciri bunga dapat diaplikasikannya dalam membangun bangunan misalnya pagoda.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran. Pertanyaannya, bagaimana esensi-esensi tersebut, tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme? Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, kita akan terjebak pada dikotomi. (subyek-obyek yang menyesatkan/bertentangan satu sama lain). Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita kepada dunia, yakni sikap yang menghayati, bukan memikirkan benda-benda. Contohnya, saat mengambil gelas, saya tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita, kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Bretano. Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan); sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Dalam hal ini kaitannya dengan dunia matematika adalah ketika peserta didik mencoba mengabstraksi atau menyederhanakan fenomena-fenomena nyata ke dalam bentuk matematika.

    ReplyDelete
  8. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Menurut Husserl, komonen fenomenologi terdiri dari abstracted, idealized, intention dan epoche. Fenomenologi merupakan ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi kesadaran, Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Contoh fenomenologi dalam kehidupan manusia yaitu mencium aroma bunga, kemudian dalam otak manusia tersebut terjadi proses abstraksi dan idealisasi yang berkontraksi pada indra manusia. Semua bersinergi dan bekerja sama sehingga manusia tersebut mampu untuk mengenali jenis dan aroma dari bunga tersebut.

    ReplyDelete
  9. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam gambar tentang phenomenologi Husserl tersebut dapat saya pelajari bahwa ada dua hal yang penting yaitu idealisasi dan abstraksi. Kedua hal tersebut membawa kepada fenomena matematika. Intention yang ada dalam otak pun membawa kepada fenomena dalam matematika karena fenomena dalam matematika mengajarkan untuk berpikir secara matematis. Hal – hal matematis yang sudah didapatkan tersebut kemudian disimpan ke dalam struktur yang dinamakan epoche. Jika dapat memperoleh idealisasi dan abstraksi dengan benar maka dapat pula memahami matematika dengan baik.

    ReplyDelete
  10. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Husserl berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Dan untuk menemukan kebenaran ini, seseorang harus kembali kepada realitas diri. Dalam bentuk slogan, Husserl menyatakan "Zuruck zu den sachen Selbst" kembali kepada benda - benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala - gejala yang kita terima. Kalau kita mengambil jarak dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan - pandangan lain, dan gejala - gejala itu kita cermati, maka obyek itu berbicara sendiri mengenai hakekatnya dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. Namun demikian yang perlu dipahami adalah bahwa benda realitas ataupun obyek tidaklah secara langsung memperlihatkan hakekatnya sendiri.

    ReplyDelete
  11. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D
    Fenomenologi adalah studi tentang struktur kesadaran yang dialami dari sudut pandang orang pertama. Struktur sentral sebuah pengalaman adalah intensionalitasnya, yang diarahkan pada sesuatu, karena ini adalah pengalaman atau tentang beberapa objek. Suatu pengalaman diarahkan ke objek berdasarkan isi atau maknanya (yang mewakili objek) bersama dengan kondisi pemungkin yang sesuai.

    Fenomenologi sebagai disiplin berbeda dari tapi terkait dengan disiplin ilmu kunci lainnya dalam filsafat, seperti ontologi, epistemologi, logika, dan etika. Fenomenologi telah dipraktekkan dalam berbagai samaran selama berabad-abad, namun terjadi pada awal abad ke 20 dalam karya Husserl, Heidegger, Sartre, Merleau-Ponty dan lainnya. Isu fenomenologis kesengajaan, kesadaran, qualia, dan perspektif orang (sumber: https://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/)

    ReplyDelete
  12. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut fenomologi dari Husserl, unsur dasar fenomologi ada dua yaitu idealisasi dan abstraksi. Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Sedangkan abstraksi hanya memandang sesuatu sebagian saja. Dalam fenomologi ada intensi, perhatian, fokus. Maka yang tidak kita pikirkan atau tidak dipakai, akan kita simpan di rumah epoke. Agar kita terampil menembus ruang dan waktu maka kita harus terampil menggunakan rumah epoke.

    ReplyDelete
  13. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani: Phainestai yang artinya “menunjukkan” dan “menampakkan diri sendiri”. Secara umum pandangan fenomenologi ini bisa dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan yang kedua, sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon-fenomenon. Edmund Husserl (1859-1938), meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya. Dalam hal ini fenomena matematika menurut Husserl terdiri atas Opoche, Intention, Idealized, Abstracted. Intention adalah fase langsung yang ada diluar pikiran manusia. Sedangkan proses idealized serta abstract ada pada pikiran manusia. Proses epoche diberikan pada awal setelah intention supaya tidak mudah memberikan penilaian tyerhadpa sestau hal.

    ReplyDelete
  14. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam artis sempit fenomenologi merupakan ilmu tentang gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
    Dari apa yang tampak digambar maka sebelum menemukan suatui dari fenomena tentang matematika, seseorang melihat fenomena dengan intention (kesengajaan) kemudian menyederhanakan fenomena tersebut dan sebelum mendapat esensi dari fenomena tersebut terlebih dahulu melalui tahap epoche.
    Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”.
    Sehingga tidak langsung mengambil keputusan akan tetapi menundanya terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  15. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Tugas utama fenomenologi menurut Husserl menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau menurut ungkapan Martin Heideger juga seorang fenomenolog: “sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Noumena membutuhkan tempat tinggal ruang untuk berada, ruang itu adalah manusia. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi menjadi suatu displin yang memiliki status otonom.

    ReplyDelete
  16. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pembentukan fenomena menurut Husserl berdasarkan pada idealisasi dan abstraksi tentang bagaimana kita megalami segala sesuatu di sekeliling kita. Idealisasi dan abstraksi berada pada rumah epoche atau rumah dalam filsafat. Apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan oleh seseorang. Abstraksi dalam pembelajaran digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sukar dijelaskan melalui dunia nyata. Fenomenologi merupakan apa yang dapat dirasakan oleh semua indra manusia.

    ReplyDelete
  17. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam fenomenologi Husserl, ada beberapa istilah penting yang perlu dipahami seperti: epoche, reduksi, intensionalitas, dan Lebenswelt. Epoche merupakan salah satu konsep penting dalam fenomenologi Husserl. Epoche (penundaan) ialah tanpa memberi keterangan benar-salah terlebih dahulu kepada fenomena yang muncul atau tampak. Kemudian epoche mengisyaratkan reduksi yang dapat digunakan, meliputi: reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental. Sedangkan intensionalitas terkait dengan apa yang kita ketahui sebagai dunia luar itu tidak lain dari pikiran kita sendiri. Kemudian Lebenswelt adalah dunia sebagaimana kita atau saya hayati. Selain itu, dua kontribusi Husserl yang paling penting bagi fenomenologi perwujudan: Pertama, yang diambil secara transenden, perwujudan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sekali dan untuk selamanya, tapi "tindakan terus-menerus" setiap saat. Kedua, bahwa dapat dipahami sebagai "kesatuan psikofisik" bukan hanya sesuatu yang harus diterima secara naif, tetapi sesuatu yang harus diklarifikasi sebagai pencapaian historis di mana pengalaman yang diwujudkan dilokalisasi dalam objek biasa, "tubuh," sebagai satu item di antaranya di dunia material dan realita alam.
    Referensi: Akhyar. (2015). Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada

    ReplyDelete
  18. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    fenomenologi yang dipromosikan Husserl ini dapat disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi. Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi. Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi).

    ReplyDelete
  19. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Akan tetapi pendekatan fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri.
    Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Ketika anda bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.
    Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait. Deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  20. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut ungkapan Martin Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.

    ReplyDelete
  21. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat dengan saudara Desy Dwi Frimadani bahwa fenomenologi berkaitan erat dengan hubungan pengetahuan dengan realita. Realitas adalah sesuatu yang diamati. Berdasarkan gambaran di atas pula bahwa fenomenologi menurut Husserl terdiri atas dua komponen utama yaitu Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari obyek pengamatannya. Setiap obyek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun terdapat sifat yang diabaikan dan dimasukkan ke dalam rumah epoche. Sedangkan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada (Marsigit, 2015). Dalam hal ini epoche berarti pereduksian, artinya pengetahuan yang dibutuhkan saja yang masuk sedangkan yang lain diabaikan.

    ReplyDelete
  22. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Fenomenologi oleh Husserl bermaksud menciptakan sebuah ilmu yang rigorous yang dapat mendiskripsikan kenyataan apa adanya dengan semboyannya yang termasyhur “Zurück zu densachen selbst” (kembalilah kepada benda-benda itu sendiri) cocok dengan seluruh pencarian filosofisnya. Bila dikaitkan dengan matematika maka gagasan pengetahuan matematika diperoleh dari fenomena matematika yang ada lalu diabstraksi oleh pikiran namun bersifat netral.

    ReplyDelete
  23. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Fenomenologi adalah istilah yang digunakan dalam ilmu sosial untuk merujuk pada dasar-dasar filosofis dari berbagai pendekatan yang cenderung berkonsentrasi pada sifat dasar dunia sosial. Intinya, ada dua alur fenomenologi, fenomenologi transendental dan non-transendental. Fenomenologi transendental efektif menyangkal perbedaan subjektif-obyektif. Pandangan ini berpendapat bahwa pengetahuan positivistik berhubungan dengan penampilan di permukaan dan menyembunyikan sifat esensial dunia. Fenomenologi non-transendental tidak memerlukan teori ganda seperti fenomenologi transendental. Sedangkan esensi fenomenologi transendental adalah transenden. Fenomenologi non-transendental mencari klarifikasi dari apa yang tampak.

    ReplyDelete
  24. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Segala sesuatu di dunia ini mempunyai banyak sekali sifat. Manusia tidak bisa memikirkan semua sifat itu, pasti terjadi reduksi atau pengurangan sifat-sifat dari sesuatu tersebut. Itulah yang disebut abstraksi. Sedangkan idealisasi yaitu kita memandang sifat-sifat yang telah kita reduksi tersebut menjadi sempurna. Hal inilah yang disebut dengan fenomenologi Husserl yaitu sesuatu yang tampak yang diperoleh dari mereduksi beberapa sifat sesuatu yang dianggap sempurna untuk menemukan hakikat sesuatu tersebut.

    ReplyDelete
  25. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Gambar di atas menunjukkan fenomenologi Husserl yang menggambarkan bahwa ketika kita memberikan perhatian pada suatu fenomena, maka banyak hal yang kita kesampingkan atau kita sembunyikan dalam epoche. Epoche ini sangat penting karena dengan adanya epoche perhatian kita akan lebih terfokus untuk suatu objek. Ketika kita mengajar matematika di kelas, kita tentu membuang atau menyimpan sementara masalah kita, keluarga kita, masalah tagihan, masalah pribadi, dan lainnya dalam epoche. Sehingga kita dapat lebih fokus (reduksi) untuk memberikan perhatian pada siswa-siswa di dalam kelas.

    ReplyDelete
  26. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Ilustrasi di atas, memberikan gambaran secara umum bagi kita tentang bagaimana fenomenologi menurut Husserl sehingga dengan adanya ilustrasi yang bapak buat tersebut, memberi kemudahan bagi pengakses blog ini untuk lebih memahaminya. Husserl memperkenalkan pendekatan reduksi dalam fenomenologi yang dapat diartikan dengan penyaringan atau pengecilan, dari gambar di atas terlihat bahwa yang sedang dilakukan oleh orang pada gambar tersebut adalah reduksi, ia hanya fokus pada berapa jumlah dari objek yang diamatinya dan bukan pada apa objek tersebut ataupun yang lainya. Istilah lain yang digunakan Husserl adalah epoche (menempatkan sesuatu diantara tanda kurung/ melupakan sementara tentang hal yang bukan merupakan fokus perhatian).

    ReplyDelete
  27. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Apa yang menurut husserl disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang tampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas. Fenomenologi husserl bertujuan mencari esensi, dengan metode yang digunakan adalah membiarkan fenomena berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka. Konsep teknis yang diajukan oleh husserl adalah epoche. Metode epoche merupakan langkah pertama untuk mencapai esensi fenomena dengan menunda putusan lebih dulu. Langkah kedua, husserl menyebutnya dengan eidetic vision atau membuat ide. Eidetic visio ini juga disebut "reduksi" yakni menyaring fenomena sampai ke intisarinya

    ReplyDelete
  28. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami Husserl, Edmund Gustav Albert (1859-1938) adalah ahli matematika Jerman dan pencetus utama dari fenomenologi. Dengan belajar di Leipzig dan Berlin, Husserl menemukan filsafat dengan menghadiri kuliah Brentano di Wina. Dari Brentano dia mendapatkan pandangan bahwa masalah utama dalam memahami pemikiran adalah bahwa dengan menjelaskan bagaimana arah, atau konten yang disengaja, dapat menjadi bagian dari fenomena mental yang dapat menunjukkan hal tersebut. Fenomena mental ditemukan dalam data sensorik, namun pada pandangan Brentano tidak ada perbedaan tajam antara 'intuisi' (Anschauungen) dan konsep (Begriffe), Husserl mengembalikan pembagian filosofis Kantian. Husserl menggunakan psikologi Brentano untuk mengetahui pengetahuan aritmatika kita, mencoba menemukan daftar empiris yang dapat diterima dari proses abstraksi dimana kita memahami sifat numerik agregat. Husserl akhirnya meninggalkan usahanya untuk tetap bersikap subjektif dan pendekatan naturalistik terhadap pengetahuan secara bersama-sama, meninggalkan naturalisme yang mendukung semacam idealisme transendental.

    ReplyDelete
  29. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mencermati gambar dalam elegi ini sebagai sebuah penerapan dalam epoche. Epoche yang dimaksud berada dalam aspek kognitif atau pola berpikir individu. Proses pembentukan informasi yang seiring menetap dikarenakan adanya perhatian dan kepekaan pada indera penglihatan dan pendengaran yang diabstarksi dalam syaraf-syaraf pada otak manusia. Inilah yang dapat memicu dan mendorong seseorang dapat memaknai keadaan dan situasi di mana ia berada. Tentunya tingkat kepekaan seseorang juga berbeda-beda. Bisa saja objek yang sama namun multi-tafsir bagi beberapa individu. Keterikatan dalam dimensi ruang dan waktu juga berperan dalam proses pemaknaannya.

    ReplyDelete
  30. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Fenomenologi merupakan ilmu tentang fenomena yang tampak, yaitu bagaimana seseorang memahami pengalamannya sesuai dengan kesadarannya. Pemahaman tersebut bersifat subyektif, tergantung pada sudut pandangnya masing-masing. Husserl mengatakan bahwa pendekatan yang mungkin untuk mengetahui berbagai fenomena adalah dengan cara mengeksplorasi kesadaran manusia berdasarkan pengalamannya sendiri. Husserl mengembangkan fenomenologi ini, ia membuat rumah yang disebut sebagai epoche sebagai penjaranya para mitos. Sementara itu, Ia menemukan bahwa jernihnya pikiran terdiri dari serangkaian abstraksi dan idealisasi. Dua hal tersebut yang kemudian digunakan oleh matematikawan untuk memikirkan konsep-konsep matematika. Jadi, fenomenologi matematika ialah bagaimana obyek matematika dieksplorasi secara sistematik dengan penuh kesadaran manusia.

    ReplyDelete
  31. Kartika Pramudita
    17701251021
    PEP S2 B

    Pada gambar tersebut menggambarkan tentang fenomenologi. Semua yang ada dan yang mungkin ada bisa melakukan fenomenologi. Seekor kambing yang diberi makan rumput asli dengan rumput plastik maka akan mampu membedakan mana yang akan dimakan. Hal tersebut menjadi bukti bahwa kambing tersebut telah melakukan fenomenologi. Batu pun juga bisa melakukan fenomenologi. Selain itu dalam hidup ini manusia juga memiliki epoche. Epoche diperlukan karena manusia itu terbatas. Untuk melakukan abstraksi maka manusia perlu untuk fokus. Fokus dalam melakukan sesuatu dan membicarakan sesuatu. Agar dapat fokus, maka manusia sejenak menangguhkan segala pengetahuan dan pengalamannya yang tidak berkaitan dengan topik tertentu yang difokuskan dan menyimpannya di dalam epoche.

    ReplyDelete
  32. Berdasarkan sumber yang saya baca (http://www.iep.utm.edu/husspemb/) Edmund Husserl (1859–1938) bersalah dari Jerman adalah penemu fenomenologi. Fenomenologi adalah ilmu tentang bagaimana kita memaknai suatu pengalaman sesuatu dengan kesadarannya. Sifat-sifat manusia banyak sekali. Kita tidak bisa memikirkan semuanya. Tentunya daa reduksi atau pengurangan-pengurangan sifat yang disebut dengan abstraksi. Sementara idealisasi adalah kita memandang sifat-sifat yang telah kita reduksi tadi dengan sempurna. Hal ini yang disebut dengan fenomenologi Husserl.


    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  33. Winsiarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Gambar di atas merupakan gambaran bagaimana teori fenomenologi menurut Edmund Husserl. Husserl menggunakan metode Epoche dalam mengabstraksikan suatu objek. Dari gambar terlihat bahwa ada seseorang yang sedang melihat banyak hal yang ada di depannya dan diapun juga mengatahui banyak hal yang ada di belakangnya. Namun menurut Husserl orang tersebut akan terfokus atau memberi perhatian pada satu tujuan saja tanpa dipengaruhi dengan hal-hal yang ada di belakangnya atau bahkan apa yang ada di dalam pikirannya. Pada gambar di atas yang menjadi perhatian orang tersebut adalah fenomena matematika, maka dia akan mengabstraksi fenomena matematika tersebut tanpa dipengaruhi oleh apa yang ada dalam pikiran dan benda-benda atau hal lainnya yang berada disekitarnya.

    ReplyDelete
  34. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    fenomenologi merupakan unsur pengalaman general dalam kehidupan manusia. Berdasarkan gambaran di atas, fenomenologi menurut Husserl terdiri atas dua komponen utama yaitu Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti memandang sebagian saja sifat yang ada dari obyek pengamatannya. Setiap obyek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun terdapat sifat yang diabaikan dan dimasukkan ke dalam gudang epoche. Sedangkan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Dalam hal ini epoche berarti pereduksian, artinya pengetahuan yang dibutuhkan saja yang masuk sedangkan yang lain diabaikan

    ReplyDelete
  35. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Fenomenologi oleh Husserl bermaksud menciptakan sebuah ilmu yang rigorous yang dapat mendiskripsikan kenyataan apa adanya dengan semboyannya yang termasyhur “Zurück zu densachen selbst” (kembalilah kepada benda- benda itu sendiri) cocok dengan seluruh pencarian filosofisnya. Bila dikaitkan dengan matematika maka gagasan pengetahuan matematika diperoleh dari fenomena matematika yang ada lalu diabstraksi oleh pikiran namun bersifat netral.

    ReplyDelete
  36. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam mengajar matematika dapat menggunakan sesuatu hal yang konkrit. Seperti dari gambar diatas, siswa memusatkan perhatiannya kepada susunan bunga-bunga, yang kemudian ia mengabstraksikannya dengan mengitung berapa jumlah bunga yang ada, selanjutnya idenya akan muncul, untuk memecahkan masalah bagaimanakah menghitung jumlah bunga tanpa harus menghitung satu persatu, selanjutnya ketika ia telah menemukan caranya ia akan menyimpannya dalam epoche, sebagai suatu informasi baru yang telah ia ketahui. Dan nantinya jika dibutuhkan kembali akan diambil dari epoche.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  37. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dari gambar diatas, terlihat bahwa yag dimaksud fenomenologi menurut Husserl adalah misalkan memperhatiakn gambar bola warna warni dengan baris sebanyak 6 dan terdapat 5 kolom maka akan diabstraksikan dan diidelakan dalam pikiran menjadi perkalian 5 x 6 sehingga banyak bola warna-warni tersebut terdapat 30. Dalam hal ini siswa mengabaikan rumah, orang tuanya, atau teman temannya pada saat memikirkan banyaknya bol-bola tersebut.

    ReplyDelete
  38. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Berdasarkan pemahaman saya terhadap gambar diatas, fenomenologi adalah bagaimana seseorang melihat suatu fenomena, kemudian berdasarkan idealisasinya dia mengabstrakkan suatu informasi nyata menjadi informasi yang abstrak dalam pemikirannya, misalkan, suatu bunga berjumlah 5 baris, setiap baris terdapat 6 bunga, maka informasi itu akan menjadi perkalian angka didalam otak, sehingga diketahui terdapat 30 bunga. Ketika proses memperhatikan atau memproses suatu informasi, kita akan mengesampingkan pemikiran kita mengenai rumah, dan informasi lain yang tidak berkaitan dengan informasi yang sedang kita perhatikan didalam epoche.

    ReplyDelete
  39. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Dapat dikatakan bahwa cita-cita Husserl yakni membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran. Namun pendekatan fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri.
    Menurut Smith fenomenologi Husserl merupakan sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi ialah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita.

    ReplyDelete
  40. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Sedangkan abstraksi hanya memandang sesuatu sebagian saja. Dalam fenomologi ada intensi, perhatian, fokus. Maka yang tidak kita pikirkan atau tidak dipakai, akan kita simpan di rumah epoke.

    ReplyDelete
  41. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Fenomenologi memandang hal yang ada di depannya sebagai suatu objek yang perlu dimaknai. Hal-hal yang tidak penting dimasukkan ke dalam epoche artinya tidak untuk diingat dan hanya untuk dilupakan. Sebelum diputuskan apakah masuk ke epoche atau tidak, fenomena tersebut diproses di dalam pikiran. Matematika adalah sebuah fenomenologi maka matematika perlu dimaknai.

    ReplyDelete
  42. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Akan tetapi pendekatan fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri.
    Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Ketika anda bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  43. Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait. Pendekatan ini tentu saja berbeda dengan pendekatan ilmu pengetahuan saraf (neuroscience), yang berusaha memahami cara kerja kesadaran manusia di dalam otak dan saraf, yakni dengan menggunakan sudut pandang pengamat. Neurosains lebih melihat fenomena kesadaran sebagai fenomena biologis. Sementara deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  44. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Apa yang menurut Husserl disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas. Fenomenologi husserl bertujuan mencari essensial atau esensi, metode yang digunakan untuk mencari yang essensial adalah dengan membiarkan fenomena itu berbicara sendiri tanpa dibarengi dengan prasangka. Konsep teknis yang diajukan husserl adalah epoche. Metode epoche merupakan langkah pertama untuk mencapai essensi fenomena dengan menunda putusan lebih dulu. Langkah kedua, Husserl menyebutnya dengan eidetic vision atau membuat ide (ideation). Eidetic visio ini juga disebut reduksi, yakni menyaring fenomena sampai ke eidosnya atau intisarinya.

    ReplyDelete
  45. Junianto
    PM C
    17709251065

    Berdasarkan gambar ini bisa saya pahami tentang konsep abstraksi dan idealisasi dalam belajar matematika. 2 konsep ini adalah metode memandang objek matematika. Idealisasi mamndang objek menjadi satu kesatuan utuh dan tidak terpisah. Sedangkan abstraksi merupakan pereduksian informasi. Dalam abstraksi, objek kemudian direduksi menjadi 2 yaitu yang diperlukan dan tidak diperlukan. Informasi yang diperlukan kemudian dimasukkan ke dalam pikiran untuk dioalah sementara yang tidak diperlukan diletakkan ke dalam epoche.

    ReplyDelete
  46. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari gambar, saya merefelksi bahwa fenomenolohi melihat dan mengamati hal-hal yang ada di lingkungan kemudian disimpan dalam pikiran. Digambar diperlihatkan seseorang yang mengamati bunga, orang tersebut mengamati bunga dari depan, belakang, atas dan bawah, ia juga bisa saja mengamati ciri-ciri bunga tersebut. Kemudian dari pengamatan mengenai ciri-ciri bunga dapat diaplikasikannya dalam membangun bangunan misalnya pagoda

    ReplyDelete
  47. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya, Prof. Konsep fenomenologi yang dikemukakan oleh Husserl menyatakan bahwa jika kita ingin mempelajari struktur alam sadar, seseorang harus membedakan antara tindakan sadar dan fenomena yang dikenakannya. Hal ini hanya dapat terjadi jika orang tersebut membuat batasan (bracketing) semua asumsi mengenai dunia luar selain fenomena yang dimaksud. Proses ini dinamakan epoche

    ReplyDelete
  48. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Fenomenologi dalam kamus besar bahasa Indonesia diartikan sebagai ilmu tentang perkembangan kesadaran dan pengenalan diri manusia sebagai ilmu yang mendahului ilmu filsafat atau bagian dari filsafat. Menurut referensi yang saya baca, Husserl menyatakan bahwa apa yang disebut fenomena adalah realitas itu sendiri yang nampak setelah kesadaran kita cair dengan realitas. Selain itu Husserl mengajukan metode epoche. Menurut Husserl epoche adalah thesis of natural standpoints atau diartikan sebagai tesis tentang pendirian yang natural, dalam arti bahwa fenomena yang tampil dalam kesadaran adalah benar-benar natural tanpa dicampuri oleh presupposisi pengamat.

    ReplyDelete
  49. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Fenomenologi adalah sebuah kajian filsafat yang mempelajari struktur pengalaman dan kesadaran. Menurut Edmund Husserl, fenomenologi adalah suatu analisis deskriptif serta introspektif mengenai kedalaman dari semua bentuk kesadaran dan pengalaman-pengalaman langsung; religius, moral, estetis, konseptual, serta indrawi. Fenomenologi lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama

    ReplyDelete
  50. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ketika melihat suatu fenomena di depan mata, secara tidak sadar sensory memory kita akan memproses informasi apa saja yang dapat diamati atau didapatkan dari fenomenat tersebut. Dalam matematika, terdapat kemampuan mengabstraksi dan idealisasi sehingga kita hanya menaruh fokus pada apa yang ingin kita gunakan saja. Informasi lain yang juga ada namun tidak perlu, disimpan ke dalam epoke. Sehingga kita tidak memerlukan banyak hal yang tidak penting.

    ReplyDelete
  51. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Fenomenologi sangatlah penting dalam kegiatan belajar siswa. Hal ini karena pengetahuan/ilmu yang siswa peroleh merupakan hasil reduksi/abstraksi dari segala yang terjadi di kenyataan. Jika tidak ada fenomenologi maka siswa tidak akan mampu berpikir/belajar.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  52. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

  53. Assalamualaikum, wr.wb.
    Fenomenologi terjadi dalam segala kegiatan belajar anak, termasuk dalam belajar matematika. Hal ini karena, matematika itu berada di pikiran sedangkan anak-anak belajar melalui yang konkret/kenyataan. Secara filsafat segala yang ada dan mungkin ada di muka bumi ini bersifat banyak, dan kontradiktif maka jika tidak ada fenomenologi siswa tidak akan sampai pada yang identitas dan abstrak.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  54. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Segala sesuatu di dunia ini mempunyai banyak sekali sifat. Manusia tidak bisa memikirkan semua sifat itu, pasti terjadi reduksi atau pengurangan sifat-sifat dari sesuatu tersebut dan ketika manusia memberikan perhatian pada suatu fenomena, fenomena matematika misalnya, maka banyak hal yang dikesampingkan atau disembunyikan dalam epoche. Fenomena matematika yang diperhatikan selanjutnya dilakukan abstraksi yakni menganggap apa yang ada di kenyataan dapat dianggap sesuai dengan pemikiran. Selanjutnya dilakukan idealisasi yaitu memandang sifat-sifat yang telah kita reduksi tersebut menjadi sempurna. Inilah fenomenologi Husserl yaitu sesuatu yang tampak yang diperoleh dari mereduksi beberapa sifat sesuatu yang dianggap sempurna untuk menemukan hakikat sesuatu tersebut.

    ReplyDelete
  55. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  56. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Untuk belajar matematika maka siswa harus fokus dengan cara mereduksi hal-hal yang tidak perlu, misalnya pengandaiaan-pengandaiian, hipotesis-hipotesis, dugaan-dugaan, dll. Hal-hal demikian harus dimasukkan dalam epoche. Semua hal tersebut sebenarnya penting, baik yang masuk epoche maupun tidak masuk epoche, namun untuk belajar fenomena dalam matematika maka perlu adanya reduksi yang kemudian dimasukkan epoche.

    ReplyDelete