Nov 22, 2012

Phenomenology Husserl_Oleh Marsigit


0

30 comments:

  1. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Berdasarkan gambar yang Bapak berikan, dapat saya artikan sebagai berikut:
    Fenomenologi menurut Husserl terdiri atas dua komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari obyek pengamatannya. Setiap obyek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun terdapat sifat yang diabaikan dan dimasukkan ke dalam rumah epoche. Sedangkan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. (Marsigit, 2015)

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan gambar diatas terlihat bahwa ciri khas pemikiran Husserl tentang bagaimana semestinya menemukan kebenaran dalam filsafat adalah dengan kembali kepada benda-benda itu sendiri. Dengan pernyataan ini Husserl menghantar kita untuk memahami realitas itu apa adanya serta mendeskripsikan seperti apa dan bagaimana realitas itu menampakkan diri kepada kita. Namun sesungguhnya usaha kembali pada benda-benda itu sendiri, bagi Husserl adalah kembali kepada realitas itu sebagaimana dia tampil dalam kesadaran kita. Apa yang tampil kepada kita itulah yang disebut fenomena..

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Fenomenologi adalah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak. Fenomenologi menurut Husserl terdiri atas abstraksi dan idealisasi. Menurut Marsigit (2015) abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari obyek pengamatannya. Setiap obyek pengamatan mempunyai beribu-ribu juta sifat namun terdapat sifat yang diabaikan dan dimasukkan ke dalam rumah epoche. Contoh sederhananya, ketika siswa mengamati jumlah bunga pada gambar di atas. Maka mereka hanya memperhatikan kuantitas bunga tersebut, sedangkan warna, bau, dan ukuran tidak diperhatikan dan semuanya dimasukkan ke dalam rumah epoche. Rumah epoche ini sangat penting dan berguna dalam proses pembelajaran, hal ini dikarenakan keterbatasan pikiran manusia untuk memperhatikan segala hal. Sedangkan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Menurut Edmund Husserl (1859 - 1938), fenomenologi menunjukkan segala sesuatu yang terlihat oleh kita dalam kesadaran kita tanpa memikirkan beberapa pemikiran atau prasuposisi kita (rumahmakalah.wordpress.com). Jadi, fenomenologi itu alami dan esensial. Husserl menggunakan 2 langkah untuk mendapatkan fenomenologi penting, yaitu metode epoche dan visi eidetich. Epoche adalah bahasa Yunani yang berarti "menunda" kesepakatan atau "diri kosong dari keyakinan tertentu". Epoche juga berarti "bracketing" untuk informasi apapun tanpa memikirkan keadilannya.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Epoche berisi tentang hal-hal lain yang tidak terlalu penting atau tidak terpikirkan untuk memikirkan sesuatu. Misalnya, ketika kita belajar tentang rumus volume kubus dan konsepnya, kita hanya memikirkan masalah dan pemecahannya. Kita hanya perlu menganalisis bagaimana mendapatkan formula volume dan memahami konsep-konsepnya. Tidak terlalu penting bagi kita untuk mengetahui cara membuat kubus, dari bahan kubus apa yang dibuat, biayanya, warnanya, dan lain-lain. Secara otomatis, kami tahu tentang mereka dan mereka sama sekali tidak memengaruhi formula volume. Tentu saja. Jadi, kita dapat mengatakan bahwa dalam kasus ini, kita baru saja mengelompokkan salah satu fenomena psikologi. Kita bisa memisahkan mana yang lebih baik bagi kita, mana yang lebih penting dan berguna untuk dipikirkan, yang harus kita hemat di 'Epoch Home', dll.
    Ada dua metode berpikir, yaitu Top down dan bottom up. Metode top down adalah salah satu metode berpikir yang menggunakan pola dari atas, dari hal umum, beberapa teori atau referensi, dan kemudian kita harus mengklasifikasikan atau menganalisanya menjadi lebih sederhana dan khusus / konkret. Kita bisa mendapatkan hal-hal umum dari buku, jurnal, laporan, penelitian atau lain-lain.
    Metode kedua adalah Bottom up. Ini adalah kebalikan dari metode pertama. Kami menggunakan pendekatan induktif. Kami biasanya mengirimkan beberapa fakta atau sampel yang valid dan kemudian kami dapat menyimpulkan masalahnya.

    ReplyDelete
  7. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Fenomenologi dalam filsafat adalah suatu aliran yang membicarakan fenomena atau segala sesuatu yang tampak atau yang menampakkan diri (Bertens, 1981). Fenomenologi sebagai metode dipopulerkan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Epistemologi fenomenologi sebagai sebuah metode telah menghasilkan nilai kebenaran yang intersubjektif. Usaha untuk menemukan makna noumenon di balik fenomenon dan makna yang dicari mempunyai kesepakatan bersama. Intersubjektif mendekati sesuatu untuk dinilai dan memberikan interpretasi, maka hasil dari nilai dan interpretasi tersebut selamanya akan berbeda-beda, sampai ada kesepakatan yang dihasilkan bersama-sama. Adapun, keunikan penemuan pengetahuan dalam fenomenologi Husserl ialah menyingkirkan (mengurung) sementara segala teori, pendapat dan pandangan yang telah diketahui sebelumnya oleh setiap orang, agar nantinya dapat menangkap hakikat yang murni (Hardiansyah A., 2013).

    ReplyDelete
  8. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Objek pengetahuan bagi Husserl adalah realitas yang menampakkan diri sendiri, melalui kesadaran yang intensional. Fenomenon tidak mesti melawati indera, karena fenomenon juga bisa ditangkap oleh rohani (Hardiansyah A., 2013). Husserl (dalam Hardiansyah A., 2013). menyatakan bahwa untuk menemukan hakikat, terjadi reduksi (penyaringan) yang merupakan langkah metodisnya terbagi menjadi tiga macam reduksi:
    1. Reduksi fenomenologis (epoche)
    Epoche yaitu menyaring segala keputusan di antara tanda kurung yang muncul terhadap objek realitas yang diamati. Penyaringan segala ke-putusan seperti teori maupun hipotesis-hipotesis yang pernah ada, yang pada akhirnya menyisihkan segala macam tradisi yang berusaha mem-bahas dan memberikan keputusan tentang objek tersebut.
    2. Reduksi eidetik (eidetic vision)
    Eidetic vision atau membuat ide (ideation) yaitu reduksi yang ingin menemukan intisari atau sampai kepada esensi. Usaha yang paling pokok adalah menangkap hakikat fenomena-fenomena. Reduksi kedua bisa menyisihkan hal-hal yang tidak hakiki, dan agar hakikat dapat mengungkapkan diri sendiri, yang demikian bukan abstraksi, tetapi intuisi mengenai hakikat (wesenserchuung).
    3. Reduksi transendental
    Reduksi yang ketiga tidak lagi mengenai objek atau fenomin, bukan pula mengenai hal-hal sejauh menampakkan diri kepada kesadaran, tetapi reduksi trasendental khusus merupakan: wende zum subject (pengetahuan ke subjek) dan mengenai terjadinya penampakkan sendiri, dan mengenai akar-akar kesadaran Supaya mendapatkan kepastian akan kebenaran pengertian kata, menurut Husserl, harus dicarinya dalam Erlebnisse, yaitu pengalaman yang dengan sadar. Dalam pengalaman tersebut mengalami diri sendiri. Segala pengalaman empiris yang ada pada dunia benda untuk sementara waktu diletakkan pada tanda kurung, kemudian melakukan penyaringan, setelah itu tampaklah yang tertinggal adalah ”kesadaran murni” atau transendental, tidak empiris lagi.

    ReplyDelete
  9. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dalam fenomena Husserl diatas, terlihat bahwa fenomena matematika dapat berupa sesuatu yang idealis dan abstrak juga terkandung epoche didalamnya. Membahas mengenai epoche, epoche dapat berarti penangguhan keputusan yang digunakan untuk menunda segala asumsi agar mampu mengungkap segala aspek pengetahuan. Konsep epoche adalah membedakan wilayah data/subjek dengan interpretasi peneliti. Konsep epoche menjadi pusat di mana peneliti menyusun dan mengelompokkan dugaan awal tentang suatu fenomena.

    ReplyDelete
  10. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Fenomenologi secara luas dapat diartikan sebagai ilmu tentang fenomena-fenomena atau apa saja yang tampak.
    Segala fenomena yang terjadi dan dapat dilihat secara inderawi maka dinamakan fenomenologi.
    Dalam hal ini fenomenologi merupakan sebuah pendekatan filsafat yang berpusat pada analisis terhadap gejala yang membanjiri kesadaran manusia.
    Sehingga fenomena yang manusia secara sadar dapat memahaminya.

    ReplyDelete
  11. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Husser di sini membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Di sini berarti bahwa pembelajaran merupakan sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Kita tahu bahwa secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Seperti pada gambar di atas, Ketika kita bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  12. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari gambar, saya merefelksi bahwa fenomenolohi melihat dan mengamati hal-hal yang ada di lingkungan kemudian disimpan dalam pikiran. Digambar diperlihatkan seseorang yang mengamati bunga, orang tersebut mengamati bunga dari depan, belakang, atas dan bawah, ia juga bisa saja mengamati ciri-ciri bunga tersebut. Kemudian dari pengamatan mengenai ciri-ciri bunga dapat diaplikasikannya dalam membangun bangunan misalnya pagoda.

    ReplyDelete
  13. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Fenomenologi adalah ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelat kesadaran. Pertanyaannya, bagaimana esensi-esensi tersebut, tanpa terkontaminasi kecenderungan psikologisme dan naturalisme? Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Tanpa penundaan asumsi naturalisme dan psikolgisme, kita akan terjebak pada dikotomi. (subyek-obyek yang menyesatkan/bertentangan satu sama lain). Tujuan epoche adalah mengembalikan sikap kita kepada dunia, yakni sikap yang menghayati, bukan memikirkan benda-benda. Contohnya, saat mengambil gelas, saya tidak memikirkan secara teoritis (tinggi, berat dan lebar) melainkan menghayatinya sebagai wadah penampung air untuk diminum. Ini yang hilang dari pengalaman kita, kalau kita menganut asumsi naturalisme. Dan ini yang kembali dimunculkan oleh Husserl. Akar filosofis fenomenologi Husserl ialah dari pemikiran gurunya, Franz Bretano. Dari Brentano-lah Husserl mengambil konsep filsafat sebagai ilmu yang rigoris (sikap pikiran di mana dalam pertentangan pendapat mengenai boleh tidaknya suatu tindakan); sebagaimana juga bahwa filsafat terdiri atas deskripsi dan bukan penjelasan kausal. Dalam hal ini kaitannya dengan dunia matematika adalah ketika peserta didik mencoba mengabstraksi atau menyederhanakan fenomena-fenomena nyata ke dalam bentuk matematika.

    ReplyDelete
  14. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Menurut Husserl, komonen fenomenologi terdiri dari abstracted, idealized, intention dan epoche. Fenomenologi merupakan ilmu tentang esensi-esensi kesadaran dan esensi ideal dari obyek-obyek sebagai korelasi kesadaran, Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi). Contoh fenomenologi dalam kehidupan manusia yaitu mencium aroma bunga, kemudian dalam otak manusia tersebut terjadi proses abstraksi dan idealisasi yang berkontraksi pada indra manusia. Semua bersinergi dan bekerja sama sehingga manusia tersebut mampu untuk mengenali jenis dan aroma dari bunga tersebut.

    ReplyDelete
  15. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam gambar tentang phenomenologi Husserl tersebut dapat saya pelajari bahwa ada dua hal yang penting yaitu idealisasi dan abstraksi. Kedua hal tersebut membawa kepada fenomena matematika. Intention yang ada dalam otak pun membawa kepada fenomena dalam matematika karena fenomena dalam matematika mengajarkan untuk berpikir secara matematis. Hal – hal matematis yang sudah didapatkan tersebut kemudian disimpan ke dalam struktur yang dinamakan epoche. Jika dapat memperoleh idealisasi dan abstraksi dengan benar maka dapat pula memahami matematika dengan baik.

    ReplyDelete
  16. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Husserl berpendapat bahwa ada kebenaran untuk semua orang dan manusia dapat mencapainya. Dan untuk menemukan kebenaran ini, seseorang harus kembali kepada realitas diri. Dalam bentuk slogan, Husserl menyatakan "Zuruck zu den sachen Selbst" kembali kepada benda - benda itu sendiri, merupakan inti dari pendekatan yang dipakai untuk mendeskripsikan realitas menurut apa adanya. Setiap obyek memiliki hakekat dan hakekat itu berbicara kepada kita jika kita membuka diri kepada gejala - gejala yang kita terima. Kalau kita mengambil jarak dari obyek itu, melepaskan obyek itu dari pengaruh pandangan - pandangan lain, dan gejala - gejala itu kita cermati, maka obyek itu berbicara sendiri mengenai hakekatnya dan kita memahaminya berkat intuisi dalam diri kita. Namun demikian yang perlu dipahami adalah bahwa benda realitas ataupun obyek tidaklah secara langsung memperlihatkan hakekatnya sendiri.

    ReplyDelete
  17. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D
    Fenomenologi adalah studi tentang struktur kesadaran yang dialami dari sudut pandang orang pertama. Struktur sentral sebuah pengalaman adalah intensionalitasnya, yang diarahkan pada sesuatu, karena ini adalah pengalaman atau tentang beberapa objek. Suatu pengalaman diarahkan ke objek berdasarkan isi atau maknanya (yang mewakili objek) bersama dengan kondisi pemungkin yang sesuai.

    Fenomenologi sebagai disiplin berbeda dari tapi terkait dengan disiplin ilmu kunci lainnya dalam filsafat, seperti ontologi, epistemologi, logika, dan etika. Fenomenologi telah dipraktekkan dalam berbagai samaran selama berabad-abad, namun terjadi pada awal abad ke 20 dalam karya Husserl, Heidegger, Sartre, Merleau-Ponty dan lainnya. Isu fenomenologis kesengajaan, kesadaran, qualia, dan perspektif orang (sumber: https://plato.stanford.edu/entries/phenomenology/)

    ReplyDelete
  18. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Menurut fenomologi dari Husserl, unsur dasar fenomologi ada dua yaitu idealisasi dan abstraksi. Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada. Sedangkan abstraksi hanya memandang sesuatu sebagian saja. Dalam fenomologi ada intensi, perhatian, fokus. Maka yang tidak kita pikirkan atau tidak dipakai, akan kita simpan di rumah epoke. Agar kita terampil menembus ruang dan waktu maka kita harus terampil menggunakan rumah epoke.

    ReplyDelete
  19. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Fenomenologi berasal dari bahasa Yunani: Phainestai yang artinya “menunjukkan” dan “menampakkan diri sendiri”. Secara umum pandangan fenomenologi ini bisa dilihat pada dua posisi, yang pertama ia merupakan reaksi terhadap dominasi positivisme, dan yang kedua, sebenarnya sebagai kritik terhadap pemikiran kritisisme Immanuel Kant, terutama konsepnya tentang fenomenon-fenomenon. Edmund Husserl (1859-1938), meski sebenarnya istilah tersebut telah digunakan oleh beberapa filsuf sebelumnya. Dalam hal ini fenomena matematika menurut Husserl terdiri atas Opoche, Intention, Idealized, Abstracted. Intention adalah fase langsung yang ada diluar pikiran manusia. Sedangkan proses idealized serta abstract ada pada pikiran manusia. Proses epoche diberikan pada awal setelah intention supaya tidak mudah memberikan penilaian tyerhadpa sestau hal.

    ReplyDelete
  20. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam artis sempit fenomenologi merupakan ilmu tentang gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
    Dari apa yang tampak digambar maka sebelum menemukan suatui dari fenomena tentang matematika, seseorang melihat fenomena dengan intention (kesengajaan) kemudian menyederhanakan fenomena tersebut dan sebelum mendapat esensi dari fenomena tersebut terlebih dahulu melalui tahap epoche.
    Kata epoche berasal dari bahasa Yunani, yang berarti: “menunda keputusan” atau “mengosongkan diri dari keyakinan tertentu”.
    Sehingga tidak langsung mengambil keputusan akan tetapi menundanya terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  21. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Tugas utama fenomenologi menurut Husserl menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl realitas bukan sesuatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri atau menurut ungkapan Martin Heideger juga seorang fenomenolog: “sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Noumena membutuhkan tempat tinggal ruang untuk berada, ruang itu adalah manusia. Di dalam pemikiran Husserl, fenomenologi menjadi suatu displin yang memiliki status otonom.

    ReplyDelete
  22. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Pembentukan fenomena menurut Husserl berdasarkan pada idealisasi dan abstraksi tentang bagaimana kita megalami segala sesuatu di sekeliling kita. Idealisasi dan abstraksi berada pada rumah epoche atau rumah dalam filsafat. Apa yang dirasakan, apa yang dilakukan dan apa yang dipikirkan oleh seseorang. Abstraksi dalam pembelajaran digunakan untuk menjelaskan hal-hal yang sukar dijelaskan melalui dunia nyata. Fenomenologi merupakan apa yang dapat dirasakan oleh semua indra manusia.

    ReplyDelete
  23. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Dalam fenomenologi Husserl, ada beberapa istilah penting yang perlu dipahami seperti: epoche, reduksi, intensionalitas, dan Lebenswelt. Epoche merupakan salah satu konsep penting dalam fenomenologi Husserl. Epoche (penundaan) ialah tanpa memberi keterangan benar-salah terlebih dahulu kepada fenomena yang muncul atau tampak. Kemudian epoche mengisyaratkan reduksi yang dapat digunakan, meliputi: reduksi fenomenologis, reduksi eidetis, dan reduksi transendental. Sedangkan intensionalitas terkait dengan apa yang kita ketahui sebagai dunia luar itu tidak lain dari pikiran kita sendiri. Kemudian Lebenswelt adalah dunia sebagaimana kita atau saya hayati. Selain itu, dua kontribusi Husserl yang paling penting bagi fenomenologi perwujudan: Pertama, yang diambil secara transenden, perwujudan bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan sekali dan untuk selamanya, tapi "tindakan terus-menerus" setiap saat. Kedua, bahwa dapat dipahami sebagai "kesatuan psikofisik" bukan hanya sesuatu yang harus diterima secara naif, tetapi sesuatu yang harus diklarifikasi sebagai pencapaian historis di mana pengalaman yang diwujudkan dilokalisasi dalam objek biasa, "tubuh," sebagai satu item di antaranya di dunia material dan realita alam.
    Referensi: Akhyar. (2015). Filsafat Ilmu Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: Raja Grafindo Persada

    ReplyDelete
  24. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    fenomenologi yang dipromosikan Husserl ini dapat disebut sebagai ilmu tanpa presuposisi. Bagi Husserl, Fenomenologi ialah ilmu pengetahuan (logos) tentang apa yang tampak (phenomena). Fenomenologi dengan demikian, merupakan ilmu yang mempelajari, atau apa yang menampakkan diri fenomenon. Karena itu, setiap penelitian atau setiap karya yang membahas cara penampakkan dari apa saja, sudah merupakan fenomenologi. Husserl mengajukan satu prosedur yang dinamakan epoche (penundaan semua asumsi tentang kenyataan demi memunculkan esensi).

    ReplyDelete
  25. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Cita-cita Husserl adalah membuat fenomenologi menjadi bagian dari ilmu, yakni ilmu tentang kesadaran (science of consciousness). Akan tetapi pendekatan fenomenologi berusaha dengan keras membedakan diri dari epistemologi tradisional, psikologi, dan bahkan dari filsafat itu sendiri.
    Menurut Smith fenomenologi Husserl adalah sebuah upaya untuk memahami kesadaran sebagaimana dialami dari sudut pandang orang pertama. Secara literal fenomenologi adalah studi tentang fenomena, atau tentang segala sesuatu yang tampak bagi kita di dalam pengalaman subyektif, atau tentang bagaimana kita mengalami segala sesuatu di sekitar kita. Setiap orang pada dasarnya pernah melakukan praktek fenomenologi. Ketika anda bertanya “Apakah yang aku rasakan sekarang?”, “Apa yang sedang kupikirkan?”, “Apa yang akan kulakukan?”, maka sebenarnya anda melakukan fenomenologi, yakni mencoba memahami apa yang anda rasakan, pikirkan, dan apa yang akan anda lakukan dari sudut pandang orang pertama.
    Dengan demikian fenomenologi adalah upaya untuk memahami kesadaran dari sudut pandang subyektif orang terkait. Deskripsi fenomenologis lebih melihat pengalaman manusia sebagaimana ia mengalaminya, yakni dari sudut pandang orang pertama.

    ReplyDelete
  26. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Tugas utama fenomenologi menurut Husserl adalah menjalin keterkaitan manusia dengan realitas. Bagi Husserl, realitas bukan suatu yang berbeda pada dirinya lepas dari manusia yang mengamati. Realitas itu mewujudkan diri, atau menurut ungkapan Martin Heideger, yang juga seorang fenomenolog: “Sifat realitas itu membutuhkan keberadaan manusia”. Filsafat fenomenologi berusaha untuk mencapai pengertian yang sebenarnya dengan cara menerobos semua fenomena yang menampakkan diri menuju kepada bendanya yang sebenarnya. Usaha inilah yang dinamakan untuk mencapai “Hakikat segala sesuatu”.

    ReplyDelete
  27. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat dengan saudara Desy Dwi Frimadani bahwa fenomenologi berkaitan erat dengan hubungan pengetahuan dengan realita. Realitas adalah sesuatu yang diamati. Berdasarkan gambaran di atas pula bahwa fenomenologi menurut Husserl terdiri atas dua komponen utama yaitu Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari obyek pengamatannya. Setiap obyek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun terdapat sifat yang diabaikan dan dimasukkan ke dalam rumah epoche. Sedangkan idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada (Marsigit, 2015). Dalam hal ini epoche berarti pereduksian, artinya pengetahuan yang dibutuhkan saja yang masuk sedangkan yang lain diabaikan.

    ReplyDelete
  28. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Fenomenologi oleh Husserl bermaksud menciptakan sebuah ilmu yang rigorous yang dapat mendiskripsikan kenyataan apa adanya dengan semboyannya yang termasyhur “Zurück zu densachen selbst” (kembalilah kepada benda-benda itu sendiri) cocok dengan seluruh pencarian filosofisnya. Bila dikaitkan dengan matematika maka gagasan pengetahuan matematika diperoleh dari fenomena matematika yang ada lalu diabstraksi oleh pikiran namun bersifat netral.

    ReplyDelete
  29. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Fenomenologi adalah istilah yang digunakan dalam ilmu sosial untuk merujuk pada dasar-dasar filosofis dari berbagai pendekatan yang cenderung berkonsentrasi pada sifat dasar dunia sosial. Intinya, ada dua alur fenomenologi, fenomenologi transendental dan non-transendental. Fenomenologi transendental efektif menyangkal perbedaan subjektif-obyektif. Pandangan ini berpendapat bahwa pengetahuan positivistik berhubungan dengan penampilan di permukaan dan menyembunyikan sifat esensial dunia. Fenomenologi non-transendental tidak memerlukan teori ganda seperti fenomenologi transendental. Sedangkan esensi fenomenologi transendental adalah transenden. Fenomenologi non-transendental mencari klarifikasi dari apa yang tampak.

    ReplyDelete
  30. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Segala sesuatu di dunia ini mempunyai banyak sekali sifat. Manusia tidak bisa memikirkan semua sifat itu, pasti terjadi reduksi atau pengurangan sifat-sifat dari sesuatu tersebut. Itulah yang disebut abstraksi. Sedangkan idealisasi yaitu kita memandang sifat-sifat yang telah kita reduksi tersebut menjadi sempurna. Hal inilah yang disebut dengan fenomenologi Husserl yaitu sesuatu yang tampak yang diperoleh dari mereduksi beberapa sifat sesuatu yang dianggap sempurna untuk menemukan hakikat sesuatu tersebut.

    ReplyDelete