Nov 22, 2012

Traditional - Innovative Teaching _ Oleh Marsigit



6 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Sulit sekali mengubah paradigma para siswa dan guru agar mengubah proses pembelajaran di kelas dengan metode ceramah atau ekspositori menuju ke pembelajaran yang lebih inovatif seperti PBL, inkuiri, discovery, dan lain-lain. Guru seperti tidak percaya dengan kemampuan siswa dan ketakutan jika waktu yang tersedia tidak akan cukup untuk menyampaikan semua materi kepada siswa. Sedangkan siswa seperti tidak percaya dengan kemampuan dirinya sendiri dan menggantungkan semua informasi kepada guru. Hal ini yang menjadi kesalahan besar dalam proses pembelajaran. Dari ilustrasi gambar di atas, dapat kita lihat dan simpulkan bahwa pembelajaran tradisional seperti menuang air hujan pada wadahnya, wadahnya hanay akan diam saja dituangi oleh air bahkan sampai tumpah-tumpaj pun mereka akan tetap diam saja. Sedangkan pembelajaran yang inovatif itu diibaratkan sebagai siswa ini adalah bibit tanaman yang jika dipupuk, disirami, dan dirawat dengan baik maka ia akan tumbuh dan membuahkan hasil.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Melanjutkan dari komentar Anwar Rifa'i.
    Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pandangan filosofi dan epistemilogi tentang pengetahuan matematika memiliki dampak yang sangat besar terhadap bagiamana matematika itu dipelajari (Toumasis, 1997; Tuge, 2008 dan Pepin, 1997). Dua dikotomi utama dari filosofi Matematika adalah Pandangan Absolutlist dan Pandangan Fallibilist tentang Matematika. Para penganut pandangan absolutlist menyatakan bahwa kebenaran matematika adalah mutlak, bahwa matematika adalah salah satu ilmu pengetahuan yang tidak diragukan lagi dan obyektif, sedangkan pandangan fallibilist menyatakan bahwa kebenaran matematika adalah tidak mutlak, dan tidak pernah bisa dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu adanya revisi dan koreksi. Lebih sederhananya pandangan absolutist menyatakan bahwa matematika merupakan penegtahuan priori (tanpa pengamatan), sedangkan fallibilist menyatakan bahawa Matematika adalah kuasi-empiris (Lakatos, 1978 dalam ernest 2004) . Akibatnya dalam proses mempelajari matematika para penganut pandangan absolulist tidak menekankan pada pengalaman atau pengetahuan berdasarkan pengamatan. Pengetahuan matematika diturunkan secara langsung tanpa melihat aplikasi dari pengetahuan itu Sedangkan pandangan fallibilist lebih menekankan bahwa dalam mempelejari matematika diperlukan pengamatan dan aktifitas manusia sebagai fokus utama dalam pembelajaran (Toumasis, 1997). Perbedaan kedua pandangan ini memiiliki dampak terhadap Proses pembelajaran dan proses pengajaran Matematika (Lerman, 1983; Ernest 1991 dalam Toumasis, 1997) .
    Hal inilah yang menurut saya menjadi penyebab utama mengapa Sulit sekali mengubah paradigma guru agar mengubah proses pembelajaran di kelas dengan metode ceramah atau ekspositori menuju ke pembelajaran yang lebih inovatif seperti PBL, inkuiri, discovery, dan lain-lain.


    .References:
    Ernest, P. (2004). The Philosophy of Mathematics Education. London : Taylor & Francis group
    Toumasis, C. (1997). The NCTM Standards and the Philosophy of Mathematics. Netherlands : Kluwer Academic Publishers
    Tuge, C. (2008 ). REVIEW ARTICLE Mathematics Curriculum, the Philosophy of Mathematics and its Implications on Ethiopian Schools Mathematics Curriculum. Faculty of Education Department of mathematics, Ethiopia, Jimma, Vol. 4 No. 1 September

    ReplyDelete
  3. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dalam gambar diatas saya dapat mengambil suatu pelajaran bagaimana perbedaan antara mengajar secara tradisional dan mengajar secara inovatif. Terlihat jelas didalam gambar tersebut bahwa pembelajaran secara tradisional siswa hanya pasif, apa yang didapatkan siswa tergantung dari apa yang disampaikan guru. Jelas sekali kelihatan teacher center. Sementara dalam pembelajaran inovatif terlihat bagaimana peran seorang gugu itu memfasilitasi siswa, sehingga siswa tersebut bisa mengkonstruk pikirannya dan mengalami pertumbuhan dan akhirnya siswa tersebut bisa merasakan manfaatnya dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Memang tidak mudah untuk mengubah pandangan guru yang terbiasa menggunakan metode pembelajaran tradisional menjadi pembelajaran yang inovatif. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan tradisional menggunakan paradigma transfer of knowledge. Siswa di anggap sebagai bejana kosong dan guru diposisikan sebagai pusat dalam pembelajaran, sehingga guru memiliki kuasa penuh di dalam kelas. Guru adalah satu-satunya sumber ilmu. Sedangkan pada pembelajaran inovatif menggunakan pemahaman bahwa siswa merupakan suatu benih yang kualitas outputnya tergantung pada bagaimana perawatan, pemupukan dan penyiraman selama masa pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini sama halnya dengan pembelajaran matematika di dalam kelas, bagaimana guru menggunakan metode pembelajaran, media, sumber dan interaksi yang bervariasi, mengembangkan LKS, selalu belajar dan selalu berusaha meningkatkan kualitas dan kemampuannya dengan melakukan penelitian tindakan kelas, mengikuti seminar, pelatihan, workshop, melakukan lesson study, dsb. Hal ini semua dilakukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan kualitas guru dalam mengelola pembelajaran serta meningkatkan kualitas dan kemampuan guru dalam memfasilitasi siswa membangun pengetahuannya.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari gambar ini, kita dapat tahu sangat jauh perbedaan antara pembelajaran tradisional dan pembelajaran inovativ. Pembelajaran tradisional merupakan kegiatan pembelajaran yang hanya men-transfer pengetahuan dari guru ke murid saja. Hal ini sangat tidak baik. Seharusnya siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan-pengetahuan yang baru mereka dapat agar lebih mandiri. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru agar siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka adalah dengan mengubah metode pembelajarannya yang semula tradisional diubah ke metode inovatif. Seharusnya pembelajaran tradisional ini sudah menjadi fosil-fosil, namun kenyataannya masih banyak pengajar-pengajar khususnya di Indonesia yang masih menggunakan pembelajaran tradisional ini. Pembelajaran tradisional seakan telah membudaya dan pasti akan sangat sulit untuk mengubahnya.

    ReplyDelete
  6. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Posisi guru dan siswa di kelas berbeda. Tapi dalam hal ini, saya ingin Anda tahu bahwa guru bukanlah Tuhan. Anda mungkin tidak mengagumi mereka. Karena guru tidak bisa membuat Anda sukses, kecuali keinginan Anda. Posisi siswa harus mencari pengetahuan sendiri. Tapi masalah di semua sekolah hampir sama. Pelajaran matematis di kelas benar-benar membuat siswa bosan. Karena itu, marilah kita membuat pelajaran matematik menjadi unik. Jika kita memberi pelajaran matematika menjadi penasaran, mereka akan mencari jawabannya. Dalam hal ini, guru harus menjadi orang yang kreatif. Mereka harus melakukan lebih kreatif untuk membuat perubahan dalam pelajaran matematika. Saya pikir pendidikan Indonesia tidak langsung ke pendidikan modern atau metode modern. Namun pendidikan di Indonesia masih menggunakan metode tradisional. Jadi, kita bisa melihat pendidikan di Indonesia tidak pernah bergerak. Peran guru dominan dalam hal ini. Sebenarnya guru hanya menjadi fasilitator. Miliki guru yang bingung saat mereka mengajar bukanlah masalah sederhana. Mereka mengajar matematis dengan baik, tapi lebih baik membuat disiplin belajar kepada siswa untuk belajar mandiri. Karena pengetahuan yang kita cari oleh diri kita adalah yang paling kita ingat dari pada transfer pengetahuan. Transfer pengetahuan bisa membuat siswa menjadi malas, tidak konsentrasi, para guru selalu berbicara sehingga para siswa tidak dapat berpikir dan mencari informasinya. Itu membuat ingatan siswa rendah. Ini adalah efek dari metode tradisional.

    ReplyDelete