Nov 22, 2012

Traditional - Innovative Teaching _ Oleh Marsigit



10 comments:

  1. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Memang, paradigma kebanyakan guru senior di Indonesia masih merupakan pandangan tradisional, yaitu guru mentransfer pengetahuannya kepada siswa semua siswa secara menyeluruh. Siswa hanya mendengarkan dan memperhatikan seperti gelas kosong yang siap diisi. Padahal belum tentu semua siswa dapat diperlakukan seperti itu. Sehingga diperlukan usaha yang kuat untuk mengubah paradigma tersebut.

    ReplyDelete
  2. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Masalah yang terjadi dalam pengajaran matematika di Indonesia adalah pengajarannya yang masih tradisional dimana guru hanya mentransfer ilmu yang dia punya ke siswa tanpa melihat kemampuan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Untuk mengubah cara mengajar tradisional ke inovatif tidaklah mudah, guru haruslah mulai dari hal-hal sederhana dulu sebelum mencapai bagian formal matematikanya, sehingga siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri agar pembelajaran lebih bermakna.

    ReplyDelete
  3. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pengajaran tradisional siswa hanya menerima pengetahuan semata-mata dari guru, siswa pasif, dan interaksi yang terjadi hanya sekedar transfer ilmu dari guru ke murid. Sedangkan dalam pengajaran inovatif, guru sebagai fasilitator yang memfasilitasi siswa agar dapat mengonstruk pengetahuan lewat kegiatan-kegiatan belajar yang disusun oleh guru.

    ReplyDelete
  4. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan gambar yang Pak Prof. tampilkan, terlihat dua situasi yang saling bertolak belakang. Yang pertama adalah cara belajar mengajar matematika secara tradisional dan yang kedua adalah cara belajar mengajar matematika inovatif.
    Dari gambar tersebut terselip sebuah gambaran bagaimana wajah pendidikan di Indonesia. Seperti yang memang kita dapati dalam proses pembelajaran di kelas, pada umumnya guru cenderung menggunakan metode tradisional dalam mengajarkan materi matematika. Guru terbiasa memberikan sesuatu yang “instan” kepada siswanya, sehingga tidak heran jika siswa juga hanya terpaku terhadap rumus-rumus baku yang diberikan gurunya.
    Misalnya, dalam mengenal bangun datar persegi, siswa hanya terpaku pada rumus luas dan keliling. Dimana rumus luas persegi adalah sisi dikali sisi, dan rumus keliling adalah empat dikali sisi. Memang jika pertanyaan yang diberikan guru hanya seputar menanyakan berapa luas dan keliling dari persegi, itu bukanlah suatu masalah bagi siswa. Akan tetapi jika pertanyaannya lebih kompleks lagi, maka siswa akan bingung dan menganggap soal tersebut sulit.
    Untuk mengatasi permasalahan ini, sebaiknya pendidikan di Indonesia mulai beranjak dari sistem pembelajaran tradisional menuju pembelajaran yang inovatif. Salah satu pembelajaran inovatif adalah cara belajar konstruktif.
    Cara belajar konstruktif merupakan cara belajar yang berdasarkan pada proses dan kebebasan dalam menggali informasi bagi siswa. Dalam hal ini berarti siswa diberikan “ruang gerak” tersendiri untuk menemukan gagasan dan ide mereka sendiri berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dilakukannya. Dengan demikian, siswa menjadi lebih kreatif dan imajinatif sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif.

    ReplyDelete
  5. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari gambar diatas, saya akan mencoba menguraikan apa yang saya pahami:
    Pertama, gambar 1. Gambar ini mencerminkan metode belajar mengajar matematika dengan ceramah, pengajaran tradisional, tujuannya adalah hanya transfer pengetahuan. Dalam metode ini, ada karakteristik perilaku siswa dan guru. Karakteristik perilaku siswa adalah:
    1. Siswa cenderung pasif, karena guru hanya menjelaskan materi sehingga siswa mendengarkan.
    2. Siswa akan malas, karena guru hanya menjelaskan materi.
    3. Dan dari siswa mudah mengantuk.
    Dan karakteristik perilaku guru adalah:
    1. Guru cenderung sombong
    2. Guru hanya menjelaskan pelajaran.
    3. Guru hanya menunjukkan keahlian mereka.
    4. Guru tidak percaya padanya muridnya.
    5. Guru hanya mentransfer knowladge.
    Kedua, gambar 2. Gambar tersebut menganalogikan metode innovative berarti guru memfasilitasi siswa. Dalam metode ini aktor adalah siswa, perbedaan dengan gambar pertama adalah dari fokus untuk guru, sekarang fokus kepada siswa. Dalam metode ini siswa harus aktif di pelajaran. Guru memfasilitasi menggunakan berbagai metode, sumber daya, media atau alat peraga. Sumber daya yang dapat digunakan sebagai yaitu blog web, tujuan agar mengembangkan pemahaman siswa sendiri, di mana-mana saja kita dapat membuka blog ini dan bisa belajar dari ini. siswa juga dapat membangun, menciptakan kehidupan sendiri. filsafat dari metode ini adalah konstruktivisme. Didalam Metode, siswa yang dianggap sebagai bibit, sehingga guru akan memfasilitasi tumbuh kemampuan siswa sampai mereka berguna, layaknya pohon yang berbuah.
    Sehingga, harapannya pendidikan matematika yang tadinya bersifat tradisional maka berproses menuju ke pembelajaran yang inovatif.

    ReplyDelete
  6. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, gambar di atas menceritakan bagaimana masalah pengajaran matematika di Indonesia dan bagaimana semestinya proses pembelajaran matematika di Indonesia. Gambar pertama menceritakan proses pembelajaran yang tradisional. Pada pembelajaran ini, guru hanya mentransfer pengetahuan kepada siswa. Siswa hanya menerima saja dan bersifat pasif. Pembelajaran tradisional ini berpusat kepada guru. Menurut teori belajar, proses pembelajaran seperti ini tidak membekad bagi siswa. Gambar pertama inilah yang menggambarkan masalah pengajaran matematika di Indonesia. Solusinya ada pada gambar kedua. Berdasarkan gambar kedua, proses pembelajaran yang baik ialah proses pembelajaran yang membangun pengetahuan siswa. Siswa yang seharusnya mengkonstruk pengetahuannya sendiri dengan bimbingan guru. Menurut teori belajar, proses pembelajaran yang seperti ini akan membekas lama pada siswa. Ketika pengetahuan tersebut membekas lama, ia akan bermanfaat untuk siswa dan siswapun dapat memberikan manfaat tersebut kepada orang lain juga. Oleh karena itu, semoga proses pembelajaran di Indonesia semuanya akan berubah menjadi proses pembelajaran inovatif seperti gambar kedua.

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 PM A

    Postingan ini sudah tulis sejak tahun 2012 dimana saya telah lulus SMA pada waktu itu. Tentu di bangku sebelumnya saya merasakan bagaimana pembelajaran secara tradisional itu dilakukan. Memang betul, pada waktu itu inovasi pembelajaran masih minim dilakukan oleh guru, bahkan hingga saat ini inovasi pembelajaran belum dilakukan secara maksimal. Seperti ilustrasi pada gambar di atas, pada pembelajaran tradisional tampak mencolok bahwa guru mendominasi pembelajaran. Siswa hanya di jejali ilmu pengetahuan saja tanpa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Selain pembelajaran hanya berlangsung komunikasi satu arah (guru ke siswa), pada pembelajaran ini siswa akan cenderung pasif dalam kegiatan pembelajaran. Dalam hal pengetahuan, bisa jadi siswa hanya sekedar tahu tanpa memaknai pengetahuan tersebut. Sehingga bagaimana sikap siswa tidak dibentuk melalui kegiatan pembelajaran tersebut. Lain halnya dengan pembelajaran inovatif yang saat ini sedang berproses memperbaiki diri dalam sistem pendidikan. Pembelajaran inovatif akan memperlihatkan bahwa guru hanyalah sebagai fasilitator bagi siswanya. Siswa akan lebih banyak mengeksplore dirinya dalam membangun pengetahuannya sendiri. Hal ini diharapkan dapat membuat pembelajaran lebih bermakan sehingga siswa mampu menerapkan atau mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  8. 17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami pembelajaran di Indoensia saat ini masih banyak yang melakukan pembelajaran tradisional (ekspository). Walau demikian sejak berlakuknya kurikulum KBK tahun 2004, kurikulum KTSP tahun 2006 dan saat ini telah berlaku kurikulum 2013, sehingga mulai tahun 2004 sudah dimulai ada perubahan paradigma dalam proses belajar mengajar, dari yang berorientasi materi menjadi berorientasi pada kompetensi, dari pembelajaran berpusat pada guru menjadi pembelajaran berpusat pada siswa. Pada kurikulum yang berlaku saat ini, pembelajaran hendaknya berpusat pada siswa. Dalam proses pembelajaran guru berperan sebaga fasilitator yang bertanggung jawab untuk melayasi siswanya dengan memberika fasilitas-fasilitas yang diperlukan agar siswa mambu beraktifitas secara optimal dan efektif untuk mendapatkan informasi dan pengalaman dimana dengan informasi dan pengalaman yang siswa dapatkan, siswa mampu membangun sendiri pengetahuannya.

    ReplyDelete
  9. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Penilaian pendidikan di Indonesia selalu saja menurun dari tahun ke tahun. Berbagai cara pun
    dilakukan oleh pemerintah dan pendidik, yang selalu berusaha menaikkan mutu pendidikan di Indonesia, baik dari segi materi dan cara belajar di kelas. Metode yang sangat terlihat berbeda adalah metode tradisional dan inovatif. Metode tradisional itu sendiri adalah metode ceramah yang murni segala sesuatu berasal dari guru dan siswa hanya menerima dan mendengar apa yang diberikan dan disampaikan guru di dalam kelas. Sedangkan Inovatif, guru dan siswa secara bersamaan membuta kelas menjadi aktif, guru membimbing bukan memberi dalam penemuan atau membangun konsep(skema) di pikiran siswa. Tidak semua pembelajaran tradisional(ceramah) itu tidak baik, kadang ada kalanya guru bisa menggunakan metode ceramah itu, tapi metode ceramah itu haruslah berinovatif, jangan murni metode ceramah saja. Dengan siswa membangun konsep secara mandiri (constructive), maka konsep tersebut akan bertahan lama di benak siswa.

    ReplyDelete
  10. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Gambar di atas menjelaskan mengenai komparasi antara guru tradisional dan guru inovatif. Guru tradisional lebih menerapkan metode ceramah klasikal dalam proses pembelajaran. Ia cenderung tidak menggunakan model-model pembelajaran kooperatif. Metode ini tidak memberikan kesempatan bagi para siswa untuk terlibat aktif menyampaikan ide, gagasan, presentasi, diskusi, dan sebagainya. Siswa seperti “dicekoki” dengan materi yang hampir semuanya diterangkan oleh guru. Hal ini menyebabkan siswa kurang berpikir kritis, pasif, dan tidak kreatif. Berbeda dengan gambar disebelahnya, yaitu ilustrasi tentang guru inovatif. Guru inovatif mampu menggunakan beraneka ragam model pembelajaran kooperatif. Ia banyak melibatkan diskusi atau tanya jawab lebih dari sekadar menjelaskan materi. Guru inovatif juga memberikan kesempatan siswa untuk mengkonstruk sendiri pengetahuannya. Guru inovatif lebih menempatkan dirinya sebagai fasilitator dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete