Nov 30, 2012

CONTEMPORARY PHILOSOPHERS_Collected by Marsigit




Ass Wr Wb

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Filsafat Kontemporer, pembaca bisa mencoba mendalami Tokoh-tokoh Filsafat Contemporer, sbb:



Theodor Adorno Louis Althusser Roland Barthes
Michael Bakhtin Jean Baudrillard Walter Benjamin
Maurice Blanchot Kenneth Burke Albert Borgmann
Jacques Derrida Gilles Deleuze Terry Eagleton
Stanley Fish Michel Foucault Frankfurt School
Hans-George Gadamer Anthony Giddens Antonio Gramsci
Felix Guattari Jurgen Habermas Donna Haraway
Martin Heidegger Agnes Heller Max Horkheimer
Edmund Husserl Ivan Illich Fredric Jameson
Julia Kristeva Jacques Lacan Bruno Latour
Jean Francois Lyotard Georg Lukács Paul de Man
Herbert Marcuse Karl Marx Maurice Merleau-Ponty
Richard Rorty Jean-Paul Sartre Edward Said
Charles Taylor Paul Virilio Ludwig Wittgenstein


Selamat mencoba.

Wss Wr Wb

Marsigit













































6 comments:

  1. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Disini saya sedikit memaparkan tentang filsafat kontemporer Edwar W. Said, dimana dia mendefinisikan intelektual sebagai individu yang dikaruniai bakat untuk merepresentasikan dan mengartikulasikan pesan, pandangan, sikap atau filsafat kepada publik. Edward W. Said lebih menyukai batasan intelektual yang diberikan oleh Antonio Gramsci salah seorang idolanya di bidang intelektual. Di dalam buku Gramsci yang berjudul Selections From Prison Notebooks (1978), Gramsci mengatakan ‘semua orang adalah intelektual, tapi tidak semua orang memiliki fungsi intelektual’. Gramsci mengelompokkan dua jenis intelektual. Pertama, intelektual tradisional semacam guru, ulama, dan para administrator. Kelompok pertama ini menurut Gramsci dari generasi ke generasi selalu melakukan hal yang sama. Kedua, intelektual organik, yaitu kalangan profesional. Batasan yang diberikan Gramsci ini lebih disukai Said karena lebih dekat dengan realitas daripada konsepsi yang Benda tawarkan. Adapun tujuan intelektual menurut Said adalah, meningkatkan kebebasan dan pengetahuan manusia. Seorang intelektual yang pakar di bidang matematika haruslah berbicara sesuai dengan bidangnya sehingga pakar tersebut tidak memiliki otoritas untuk membicarakan permasalahan politik ataupun kebijakan luar negeri yang di keluarkan pemerintah. Hal inilah yang dikritik oleh Said sebagai upaya pengekangan terhadap hak-hak seorang intelektual.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Di sini saya tertarik untuk mendalami Tokoh Filsafat Contemporer yakni L. Wittgenstein.
    Sejarah filosofi secara parsial dapat ditandai dari seperti yang telah dikatakan Hilary Putnam pada masa lalu: Sebuah kisaran diantara dua posisi yang kuat, dimana tiap golongan tidak dapat mempertahankan posisinya masing-masing yang akibatnya kedua posisi ini tidak dapat dipertahankan. Arus mundur tersebut terlintas dalam filosofi analitik dan kontinental. Di satu sisi yaitu mereka yang menyangkal objektifitas dalam segala hal. Pada sisi lain yaitu mereka yang mencoba untuk menjamin keobjektifitasan, tetapi juga digunakan pada nilai pakai dalam misteri metafisika. Sisi pertama dapat dibenarkan secara ilusi di dalam metafisika, dan kemudian yang bersifat anarki, dan kemudian kembali untuk membangun tekad di dalam metafisika. Wittgenstein membantah kedua pemahaman tersebut. Prestasi terbesarnya dalam filosofi matematika mempunyai kedudukan yang kuat sebagai penengah anatara dua fraksi yang sedang berperang. Akan dijelaskan secara lengkap posisi Wittgenstein dengan menekankan posisinya pada masing-masing sisi. Selain itu juga Wittgenstein menekankan kesatuan foilosofi matematika dengan Philosophical Investigations.

    ReplyDelete
  3. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam bukunya Tractacus Logico-Philosophicus, Wittgenstein berusaha memaparkan apa yang ada dipikirannya (khayalan) dan kesalahpahaman yang melatarbelakangi kedua pemahaman tentang metafisika. William James, seorang ahli filsafat yang sependapat dengan Wittgenstein dengan menulis “the trail of the human serpent is….over everything” Wittgenstein berusaha mencari tempat yang tepat untuk mengeksplorasi post-tractatus dengan bahasa matematika maupun dengan bahasa non matematika. Banyak perselisihan diantara komentator, namun tidak menjadi perhatian yang sangat penting seperti bagaimana cara memperolehnya, tapi itu merupakan lokasi yang tepat.
    Wittgenstein merasa lawannya dalam matematika sama-sama menyangkal orang yang berbelit-belit. Lawannya menggambarkan matematika seperti : sebuah dalil matematika memiliki kebenaran dan tidak memperhatikan aturan manusia dan penggunannya. Ada yang menyalahi kenyataan matemaika yang berdiri sendiri dari praktik matematika dan latihan yang memutuskan kebenaran.

    ReplyDelete
  4. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Theodor W. Adorno adalah seorang sosiolog Jerman,filsuf dan musikolog yang dikenal untuk teori kritis masyarakat. Ia dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka abad 20 pada estetika dan filosofi, serta salah satu essayists yang unggul. Di tengah mode yang dinikmati oleh eksistensialisme dan positivisme di awal abad ke-20 Eropa, Adorno melanjutkan konsepsi dialektis sejarah alam yang dikritik godaan kembarontolog dan empirisme melalui studi Kierkegaard dan Husserl. Sebagai seorang penulis polemik dalam tradisi Nietzsche dan Karl Kraus, Adorno menyampaikan kritik tajam dari kebudayaan Barat kontemporer. Adorno yang diterbitkan secara anumerta teoriestetika, berencana untuk mendedikasikan untuk Samuel Beckett, adalah puncak dari komitmen seumur hidup untuk seni modern yang mencoba untuk mencabut "pemisahan fatal" perasaan dan pemahaman lama dituntut oleh sejarahfilsafat dan meledak persetujuan estetika hak istimewa ke konten atas bentuk danperenungan atas pencelupan.

    ReplyDelete
  5. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Bruno Latour, lahir 22 Juni 1947, adalah seorang ilmuwan sosiologi dan antropologi Perancis, teorinya ini berpengaruh besar ke bidang Studi Sains dan Teknologi (STS/ Saince & Technology Study) Setelah mengajar di. École des Mines de Paris (Centre de sociologie de l'Inovasi) 1982-2006, dia sekarang Profesor Ilmu Po di Paris (2006), di mana ia adalah direktur ilmiah dari Ilmu Po Medialab. Ia terkenal karena bukunya We Have Never Been Modern (1991; English translation, 1993), Laboratory Life (dengan Steve Woolgar, 1979) dan Science in Action (1987).Bruno Latour menyebutkan perlunya memahami asal-muasal sebuah realita. Latour Bruno menjelaskan adanya actor atau subyek yang memulai untuk membuat sebuah realita. Kemudian, karena aktor ini memiliki hubungan sosial dalam kehidupan sosial, maka pemahaman si aktor terhadap realita sosial menjadi pemahaman bersama di dalam kehidupan sosial. Aktor atau subyek berfungsi dalam jaringan terdistribusi lebih besar dari interaksi timbal balik dan umpan balik. Pemahaman si actor terhadap realita sosial menjadi sumber referensi bagi individu lain dalam suatu kehidupan sosial. Pemahaman itu kemudian menyebar melalui proses interaksi sosial antara actor dengan individu lain. Hubungan harus berulang kali “dilakukan” atau jaringan akan larut. Hubungan sosial diproses dan harus dilakukan terus menerus

    ReplyDelete
  6. Wahyu Lestari
    16709251024
    PPs P.Matematika Kelas D

    Richard Rorty, Sejak pertengahan dekade 1980-an, Rorty banyak memfokuskan refleksinya di dalam ranah filsafat politik dan filsafat sosial. Yang cukup menarik disoroti adalah, apakah filsafat politik Rorty ini merupakan konsekuensi dari epistemologinya yang bersifat anti-fondasionalistik? Memang, pada bagian akhir Philosophy and The Mirror of Nature, ia menegaskan bahwa epistemologinya memiliki komitmen moral yang tegas. “Filsafat tradisional”, demikian tulisnya, “mencari pengetahuan yang bersifat final, dan bila berhasil didapatkan, semua itu akan menghasilkan kebudayaan yang dibekukan dan dehumanisasi manusia.” Seluruh filsafat sebelumnya, menurut Rorty, adalah pencarian kebenaran metafisis yang bersifat mutlak untuk menyangkal kodrat kontingensi manusia. Dan berlawanan dengan itu, Rorty secara gamblang mengajukan argumen bahwa justru manusia harus meningkatkan kepekaan terhadap kontingensi dirinya sendiri, sehingga ia terhindar dari dehumanisasi dan pembekuan atau stagnasi budaya. Inilah yang disebut sebagai cara berpikir antifondasionalisme. Intensi moral dari cara berpikir ini adalah untuk mengembangkan semua kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia dengan mengafirmasi kebebasannya, sekaligus mengembangkan potensi-potensi yang mungkin saja tidak terpikirkan sebelumnya.

    ReplyDelete