Oct 21, 2012

Elegi Wayang Golek




Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai Bagawat kenapa sudah lama engkau tidak menulis elegi?


Bagawat:
Aku belum bisa berpikir jernih.

Cantraka:
Lho kenapa Bagawat tidak bisa berpikir jernh? Bukankah sudah biasa menembarakan pikirannya?

Bagawat:
Saya sedang memikirkan Wayang Golek.

Cantaraka:
Lho apa hubungannya?

Bagawat:
Wayang Golek itu menari setelah Elegi yang terakhir.

Cantraka:
Saya tidak paham apa yang engkau maksud?

Bagawat:
Golek itu bahasa Jawa, artinya mencari. Jadi Wayang Golek itu sebagai simbol carilah hikmah dari elegi saya yang terakhir.

Cantraka:
Lho bukannya elegi yang terakhir itu belum selesai anda buat?

Bagawat:
Oh maaf maksud saya elegi-elegi begitu saja. Atau khususnya Elegi Ketika Pikiranku Tak Berdaya.

Cantaraka:
Tak usah bertele-tele, maksud Bagawat itu apa dengan Pikiran Tak Berdaya.

Bagawat:
Itulah yang sedang aku alami. Ketika aku masuk ranah spiritual itulah maka pikiranku merasa telah hampir mencapai batas hatiku.

Cantraka:
Maksudnya?

Bagawat:
Manusia itu adalah makhluk yang lemah dan tidak sempurna. Tidaklah bisa dia menjangkau semuanya. Ingatlah kembali Elegi Diriku Ketidak adilan. Maka boleh engkau mengatakan diriku tidak adil terhadap elegi karena aku sedang sibut mengurus spiritualku.


Cantraka:
Lho kalau begitu hidupmu bersifat parsial. Bukankah engkau sendiri yang mengajarkan bahwa hidup selalu bersifat komprehensif?

Bagawat:
Jangan salah paham, semuanya bersifat sementara dan relatif terhadap waktu. Maka sebenar-benar hibup adalah dinamis, menterjemahkan dan diterjemahkan.

Cantraka:
Aku masih penasaran apakah sebenarnya arti Wayang Golek.

Bagawat:
Wayang adalah bayangan. Golek adalah mencari. Maka carilah makna dibalik bayangan. Bayangan adalah metafisik, dan metafisik adalah hakekat disebalik penampakan. Maka mencari makna disebalik benda-benda atau disebalik yang ada dan yang mungkin ada adalah pekerjaan filsafat. Maka dapat aku katakan bahwa Wayang Golek ternyata tidak lain tidak bukan adalah filsafat itu sendiri.

Cantraka:
Tetapi aku sangat merindukan elegi-elegimu?

Bagawat:
Segala sesuatu itu terikat ruang dan waktunya. Sekaranglah aku insyaAllah sedang mengaktifkan doa-doaku, ubudiyahku, amal-amalku, permohonan maafku, permohonan perlindungan dari Nya, mendoakan saudara-saudaraku dan murid-muridku, agamaku, keluargaku, masyarakatku, negaraku, duniaku, dan akhiratku.

Cantraka:
Amiin. Aku ikut berdoa semoga ikhtiarmu bermanfaat juga bagi yang lainnya.

Bagawat:
Doa yang tulus dan ikhlas dari muridmu insyaAllah mampu menjaga guru-gurumu dan pemimpinmu. Amiin.

3 comments:

  1. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Semakin sering menemukan kata atau istilah terjemah dan menerjemahkan, terikat ruang dan waktu, dan elegi pastinya. Saya sejujurnya masih terus berusaha memahami elegi wayang golek ini. Pada mulanya, saya kira bagian " Bayangan adalah metafisik, dan metafisik adalah hakekat disebalik penampakan. Maka mencari makna disebalik benda-benda atau disebalik yang ada dan yang mungkin ada adalah pekerjaan filsafat. Maka dapat aku katakan bahwa Wayang Golek ternyata tidak lain tidak bukan adalah filsafat itu sendiri" merupakan inti dari elegi wayang golek. Akan tetapi ketika saya meyakinkan diri saya bahwa itu intinya, saya sadar saya masih kesulitan membaca gamblang apa yang saya maksut dengan inti. Apakah ini yang dimaksut saya harus mencari makna di balik bayangan?

    ReplyDelete
  2. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya tertarik dengan pernyataan “Ketika aku masuk ranah spiritual itulah maka pikiranku merasa telah hampir mencapai batas hatiku.” Sehingga tujuan dari filsafat itu bagaimana pikiran dan hati dapat bertemu dan berdampingan. Karena memang tujuan akhirnya adalah meningkatnya keyakinan di ranah spiritual. Dengan terus mencari dan memahami makna dibalik elegi-elegi, maka berfikir filsafat akan mendekatkan antara pikiran dan hati, sehingga tidak terjadi pertentangan diantara keduanya yang menyebabkan kesesatan.

    ReplyDelete
  3. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya menyadari bahwa dalam hidup, seseorang memiliki titik jeda. Dalam titik jeda tersebut bukan berarti berhenti dan tidak berkarya lagi, namun lebih mengintrospeksi apa yang sudah dijalani. Pada ulasan ini bentuk introspeksi dan refleksi lebih mengarah kepada menghidupkan nilai-nilai keagamaan. Saya memiliki pemahaman yang baru terkait dengan wayang golek. Selama ini saya mengenalnya hanya sebagai tokoh pewayangan saja. Ternyata makna dari wayang golek tersebut tidak lain adalah pencarian makna dibalik bayangan. Ini dapat diartikan sebagai pencarian makna pada sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Layaknya hidup sebagai sebuah misteri yang tidak dapat terlihat secara nyata. Akal pikiran dan hati manusia sangat membantu dalam mencari makna pada bayangan-bayangan semu dan nyata.

    ReplyDelete