Oct 21, 2012

Elegi Mendengarkan Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf




Oleh Marsigit

Marsigit:
Wahai sang Filsuf, mengapa engkau sekarang betul-betul menangis dan juga sekaligus bernyanyi?


Para Filsuf:
Karena memikirkan ulah Dirimu dan Murid-muridmu.

Marsigit:
Lho kenapa? Memang apa yang salah pada Diriku dan Murid-muridku?

Para Filsuf:
Engkau terancam Gagal dan Murid-murid terancam Terperangkap di Ruang dan Waktu gelap

Marsigit:
Saya tidak begitu jelas?

Para Filsuf:
Saya memaklumi bahwa Belajar Filsafat tidak mudah, karena sifat Intensif dan Ekstensif. Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Jika tidak mau membaca Pikiran Para Filsuf maka Tidak Akan Memperoleh Apapun kecuali Dirimu dan Murid-muridmu akan menjelma menjadi seorang Reduksionis terbesar di dunia. Padahal sebenar-benar orang paling berbahaya di dunia adalah seorang Reduksionis yang Determinis. Wahai Marsigit, apakah kemudian yang engkau lakukan terhadap murid-muridmu?

Marsigit:
Oh maaf Para Filsuf. Aku telah menciptakan Elegi-elegi dan Forum Tanya Jawab dengan harapan agar Murid-muridku memulai membaca Filsafat. Aku berusaha membelajarkan Filsafat dengan Metode Filsafat. Aku berusaha memfasilitasi agar Murid-muridku MAMPU MEMBANGUN FILSAFATNYA MASING-MASING dengan Ikhtiarnya masing-masing. Oleh karena itu maka Perkuliahan juga saya Dukung dengan On Line menggunakan Web Blog.

Para Filsuf:
Bagaimana hasilnya?

Marsigit:
Saya menyaksikan banyak diantara Muridku mengalami kemajuan pesat; mereka mengalami perkembangan yang sungguh mengagumkan karena telah mampu mengembangkan metode berpikir Filsafat. Walaupun saya juga menyaksikan beberapa diantara mereka Terjebak masih membuat komen-komen yang kelihatannya kelihatannya belum Ikhlas. Saya menemukan juga bahwa ada sebagian kecil Murid-muridku Terjebak di Ruang dan Waktu Gelap.Seiring dengan semakin Singkatnya Waktu dan Sempitnya Ruang, saya menemukan beberapa murid-muridku Belum Sempat membaca Pikiranmu sehingga menjelmalah dia menjadi Reduksionis besar. Lalu kenapa Engkau menangis?

Para Filsuf:
Itulah, saya menangis karena saya menemukan semakin banyak Murid-muridmu menjadi Reduksionis dan determinis. Dan engkau juga terancam sebagai reduksionisme. Ketahuilah bahwa BERFILSAFAT TANPA MEREFER ATAU MENGACU KEPADA PIKIRAN PARA FILSUF, SUNGGUH TIADA NILAI KEBANARAN DI SITU. MAKA HASILNYA SANGAT KONTRAPRODUKTIF DAN JUSTRU MALAH BERBAHAYA KARENA AKAN TERCIPTA SEBAGAI SEORANG DITERMINIS.

Marsigit:
Saya sudah mengatakan kepada Murid-muridku bahwa Elegi-elegi itu hanyalah Pendahuluan. Sedangkan Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Sumber terbaik membaca Pikiran Para Filsuf adalah Buku-buku Karya-karyamu. Sedangkan saya sebetulnya sudah menulis banyak Pikiran-pikiranmu secara Implisit di dalam Elegi-elegi.Namun ingin saya sampaikan bahwa tiada seorangpun terbebas dari Reductionisme dan determinisme. Apakah yang demikian berlaku juga bagimu guru?

Para Filsuf:
Oh iya cerdas pula wahai engkau Marsigit. Lalu kenapa semakin banyak Muridmu terancam menjadi Reduksionist dan Determinis besar? Inilah sebenar-benar pertanyaanku yang akan menggoda dirimu?

Marsigit:
Jika engkau saja bisa terkena Determinisme dan Reduksionis apalagi murid-muridku. Apalagi sebagian besar dari Murid-muridku juga belum sempat membaca Elegi-elegi. 

Para Filsuf:
Reduksionis Besar adalah jika SERTA MERTA DENGAN ENAKNYA TANPA MEMIKIRKANNYA DAN MENGGUNAKAN BACAAN YANG RELEVAN, TELAH MEMBUAT PERNYATAAN ATAU MELAKUKAN KLAIM. Dan itulah yang aku saksikan yang sedang dan akan menimpa pada Murid-muridmu.

Marsigit:
Oh maaf para Filsuf. Itu semua dikarenakan Dosa-dosaku. Aku menemukan bahwa tidak hanya murid-muridku, sedangkan diriku juga terjebak dalam DETERMINISME dan REDUKSIONISME, dengan memerintah agak memaksa murid-muridku untuk membaca Elegi-elegi. Aku telah sangat berdosa kepada Murid-muridku karena telah melakukan beberapa Test Jawab Singkat. Dengan Test Jawab singkat itulah aku telah melakukan Reduksi-reduksi Filsafat. Bahkan aku sempat Tayangkan hasilnya di dalam Blog ini. Namun sebenarnya sudah aku sampaikan kepada Murid-muridku bahwa Sangatlah Berbahaya Menjawab Singkat Filsafat itu, karena bisa terancam menjelma menjadi Reduksionis Salah Ruang dan Waktu. Agar Murid-muridku betul-betul mempunyai kesempatan Membaca Buku Filsafat yang bersisi Pikiran-pikiranmu, saya sudah Memberi Tugas Membuat Makalah sebagai Tugas Akhir. Lalu, kenapa engkau masih menangis?

Para Filsuf:
Engkau hanya melihat Air Mataku saja yang mengalir di pipiku. Sebetulnya setelah menangis aku juga tersenyum. Tidak hanya itu, dan itulah salah satu kemampuanku bahwa aku bisa menangis dan sekaligus tersenyum. Aku menangis jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung. Sedangkan Aku tersenyum jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung.

Marsigit:
Lho kok saya jadi bingung. Engkau menangis dantersenyum dikarenakan hal yang sama yaitu menemukan Reduksinist dan Diterminis ulung. Bagaimana ini?

Para Filsuf:
Yang aku tangisi adalah Reduksionis dan Determinis dengan RUANG DAN WAKTU SALAH/BURUK.
Yang aku banggakan adalah Reduksionis dan determinis dengan RANG DAN WAKTU BENAR/BAIK.
Aku menyaksikan bahwa Elegi-elegimu sungguh bisa menjadi sarana bagi murid-muridmu agar terbebas dari Determinisme buruk. Amin

76 comments:

  1. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dengan berkomentar dalam blog ini merupakan cara bagaimana saya untuk mempelajari filsafat. Namun itu saja tidak cukup, kita harus berusaha untuk mengembangkan diri agar mendapat ilmu yang baik. Namun ketika kita tidak mengembangkan olah pikir kita maka kita bisa saja bersifat “reduksionis dan determinis”. Hal itu harus kita hindari karena itu tidak baik.

    ReplyDelete
  2. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Dalam berfilsafat kita juga harus mengetahui cara pandang para filsuf dalam memahami filsafat karena apabila kita tidak mengetahuinya kita akan terjebak dalam reduksionisme. Kita akan mengganggap bahwa filsafat kitalah yang benar padahal tidak ada benar dan salah dalam filsafat. Filsafat bernilai benar jika ditempatkan dalam ruang dan waktu yang benar juga. Pandangan filsuf akan membantu kita untuk menemukan definisi filsafat menurut kita sendiri karena filsafat adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  3. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat adalah pemikiran para filsuf. Itulah mengapa filsafat tidak mudah dipahami. Ketika pertama kali membaca blog ini saya bingung harus berbuat apa untuk dapat memahami elegi-elegi. Namun setelah beberapa kali membaca dan berkomentar di blog ini, perlahan-lahan saya mulai sedikit paham. Elegi-elegi tersebut dapat dipahami dengan membaca dan berpikir secara mendalam yang juga disertai dengan keikhlasan hati. Dalam proses belajar seringkali kita melakukan kesalahan atau menemui ketidakberhasilan. Begitu juga ketika belajar filsafat. Kita bisa dihadapkan dengan ketidakmengertian dan ketidakpahaman. Semoga dalam proses belajar membangun pemahaman filsafat, kita tidak terjebak dalam ruang dan waktu yang gelap dan salah.

    ReplyDelete
  4. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Filsafat memang tidak mudah dipahami, banyak orang yang harus membaca teks yang mengandung filsafat dengan mengulang ulangnya untuk bisa paham.Dibutuhkan keikhlasan untuk memahami dan mempelajarinya. Tanpa keikhlasan dan kesabaran untuk memahaminya tentunya akan susah untuk paham dan malah menjadi emosi sesaat.

    ReplyDelete
  5. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan Prof. Marsigit bahwa beliau menggunakan web sebagai pembelajaran. Menurut saya itu akan sangat membantu para mahasiswa dalam memahami lebih dalam mengenai filsafat. Karena memang sejatinya seorag guru adalah sebagai fasilitator. Menurut saya isi dari web Prof. Marsigit sangat bagus sekali, jika mahasiswa ingin membacanya dengan ikhlas maka mahasiswa tersebut akan mendapat ilmu yang sangat banyak dan kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Filsafat adalah berpikir secara intensif dan ekstensif. Untuk melakukan hal demikian memang sangat sulit. Karena filsafat adalah pikiran para filsuf sehingga kita dalam berfilsafat haruslah membaca dan berlandaskan pikiran para filsafat. Jika tidak maka sesungguhnya kita telah menjadi reduksionis dan determinis. Sedangkan keduanya adalah hal yang paling berbahaya. Dari itu para filsuf menjadi menangis. Namun, dengan belajar dan membaca elegi-elegi ini membantu kita untuk membaca pikiran filsuf. Dari itu filsuf menjadi menyanyi.

    ReplyDelete
  7. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Elegi di atas menjelaskan secara implisit tentang hakikat belajar filsafat. Dimaan berfilsafat adalah olah pikir, namun dalam mengolah pikir harus mengacu atau merujuk pada pandangan para filsuf karena filsafat adalah pikiran para filsuf. Oleh karena itu dalam perkuliahan filsafat dengan berbagai fasilitas yang disediakan, refrensi yang bermutu dan berkualitas, maka sebaik-sebaiknya mahasiswa adalah mahasiswa yang mampu mengolah pikiran dan hatinya dengan baik. Hal ini akan tercermin salah satunya adalah dengan membuat komen yang bermutu dan harus dilandasi dengan rasa ikhlas, karena dengan keihklasan akan tercipta pemikiran yang jernih.

    ReplyDelete
  8. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Terimakasih elegi yang diberikan Bapak. Selama saya mengikuti perkuliahan dan membaca artikel di blog ini saya mendapatkan banyak tambahan ilmu pengetahuan. Ada banyak istilah dan persoalan baik dalam kehidupan ataupun dalam pendidikan yang membutuhkan solusi dan ada banyak istilah yang awalnya saya belum tahu kemudian menjadi tahu karena membaca dari blog ini. elegi – elegi yang diberikan dan artikel – artikel yang ada membantu untuk memahami hal – hal yang belum dimengerti. Namun tidak jarang juga saya masih merasa bingung dalam memahami elegi – elegi yang diberikan. Semoga kedepannya hal – hal yang disajikan dalam blog ini juga membawa banyak manfaat juga bagi teman – teman semuanya.

    ReplyDelete
  9. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Belajar filsafat belajar mereduksi atau menghilangkan hal-hal yang tidak baik dalam hidup. Seperti ketika kita ingin berpikir jernih maka kita perlu mereduksi pikiran-pikiran yang mengotori pikiran kita, agar kita mampu mereduksi ya kita Berdoa memohon pertolonganNya. Belajar mereduksi agar dapat menemukan suatu nilai filsafat yang untuh dengan mendeterminkan hati yang ikhlas dan pkiran yang jernih.

    ReplyDelete
  10. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi ini menyatakan bahwa segala hal memiliki sisi yang baik dan yang buruk keran itulah diakhir elegi dinyatakan bahwa filsuf menangis dan tersenyum disebebkan oleh satu hal yang sama. Ia menangis karena sisi buruknya, da tersenyum karena sisi baiknya. Dan dengan membaca elegi diharapkan kita lebih banyak mendapat sisi baik dan terhindar dari sisi buruk.

    ReplyDelete
  11. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Bebricara masalah elegi tangisan dan nyanyin maka kita harus tahuu bahwa manusia pasti memiliki titik yang mana pada titik itu kita sudah merasa skat mat. Maju sudah tidak bisa, mundur pun tidak bisa, sehingga yang ada hanay tangis dan nyanyian yang mana keduanya itu adalah gambaran kita sendiri. Dengan adnaay nyayina dan tangisan maka kita akan merasa bahwa dunia itu sunyi.

    ReplyDelete
  12. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Berkomentar merupakan bagian dari belajar ekstensif dan intensif. Hal ini dalam dikatakan seperti meskipun belum sampai pada benar berpikir yang dimaksud karena dalam berkomentar terkadang sebagai persepsi diri sendiri.
    Padahal jika berfilsafat harus didasari pada pemikiran para filsuf. Pemikiran yang didasarkan pada pemikiran para filsuf yang kemudian diambil kesimpulan.

    ReplyDelete
  13. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Tiadanya para filsuf maka tida pernah mengenal filsafat. Mengapa? Karena filsafat adalah hasil pemikiran dari para filsuf. Bagaimana cara kita agar dapat belajar filsafat? Caranya adalah dengan memahami pemikiran para filsuf. Bagaimana cara memahami pemikiran para filsuf? Caranya adalah membaca, pahami, dan resapi karya – karya yang telah dilahirkan oleh para filsuf melalui pikirannya.

    ReplyDelete
  14. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Belajar filsafat memang tidaklah mudah. Filsafat dimulai atau berdasarkan pada pemikiran para filsuf. Dalam belajar berfilsafat dibutuhkan hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis karena filsafat bersifat intensif dan ekstensif. Seperti dalam membaca elegi-elegi dalam blog Bapak maka dibutuhkan hati yang ikhlas. Semua yang kita lakukan dengan keikhlasan akan mendapatkan manfaatnya untuk hari kemudian tetapi jika tidak ikhlas semuanya hanya berlalu tanpa ada yang dapat digunakan.

    ReplyDelete
  15. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar filsafat bias dikatakan mudah mudah susah. Mudah jika dapat mememerdekaan pikiran dari hati. Namun jangan lupa minta ampun karena kekhilafan yang akan diperbuat. Sulit karena tidak smeua manusia dapat memahami filsafat karena filsafat itu bersifat mandiri karena dariberada pada pemikiran diri sendiri. Sehingga dalam berfilsafat minta ampunlah kepada Tuhan pemberi ampun.

    ReplyDelete
  16. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dalam elegi ini diibaratkan para filsuf menangis karena harapannya kepada orang-orang untuk belajar filsafat dengan ikhlas, tetapi kenyatannya masih banyak yang mempelajarinya tidak dengan ikhlas yaitu hanya setengah-setengah saja dan tidak lengkap. Belajar filsafat memang tidak mudah dan tidak bisa instant perlu proses belajar dan berfikir untuk dapat memahaminya. Diperlukan proses dan waktu yang relative lama. Semoga saya dapat belajar filsafat yang benar dan terhindar dari sifat sombong.

    ReplyDelete
  17. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Para filsuf memiliki rasa dimana pada situasi dan kondisi tertentu dapat dicurahkan. Filsafat memiliki bahasa analaog yang sulit untuk dipahami. Oleh karenanya belajar filsafat harus secara kaffah dan ikhlas. Selain itu filsafat makna baik intrinsik maupun ekstrinsik. Untuk memaknainya perlu kajian yang lebih mendalam dan tidak didapatkan secara instan.

    ReplyDelete
  18. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Belajar filsafat memang tidak mudah dan tidak bisa instant artinya perlu proses belajar dan berfikir untuk dapat memahaminya. Dengan elegi elegi pak marsigit saya dapat belajar filsat dengan cara yang lebih mudah. Terima kasih banyak Bapak.

    ReplyDelete
  19. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Filsafat merupakan suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia. Pertanyaan tersebut antara lain dapat berupa apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik.

    ReplyDelete
  20. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Kemudian kita akan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis. Ketika belajar filsafat, kita akan berjumpa dengan pemikiran para filsuf besar sepanjang sejarah manusia. Dengan belajar filsafat, seseorang akan dilatih menjadi manusia yang utuh yang mampu berpikir mendalam, rasional, komunikatif.

    ReplyDelete
  21. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Mendengarkan tangisan dan nyanyian filsuf itu sebetulnya filsafat estetika. Estetika berbicara tentang rasa yang mencakup penyerapan perhatian dalam pengalaman persepsi. Sejauhmana seseorang mampu menimbulkan daya pendengarannya, daya pandangnya, daya sentunya terhadap sesuatu, maka sejauh itulah rasa seni, cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  22. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Membaca postingan ini, sudah saya lakukan. Ketakutan...ya ketakutan, kecemasan...ya kecemasan. Saya rasakan dua rasa itu. "Membaca buku filsafat dari filsuf yang sebenar-benarnya?". Saya bertanya pada pikiiran saya sendiri;"yang seperti apa?"; "Membaca? baru sedikit, itupun lewat kutipan pada postingan orang lain.". Ya Tuhan, saya benar-benar takut, apakah saya berpotensi ataukah saya sudah menjadi seoarng DETERMINISME dan REDUKSIONISME? dan lagi, jangan-jangan saya masuk kepada bagian Reduksionis dan Determinis dengan RUANG DAN WAKTU salah/buruk.

    Karena kegamanganku ini benar-benar membuatku bingung, mungkin ini saya baru belajar bagaimana keberadaan "hati" dalam belajarku ini.

    ReplyDelete
  23. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita bisa jadi menjadi reduksionis besar jika kita serta merta dengan enaknya tanpa memikirkannya, dan menggunakan bacaan yang relevan, telah membuat pernyataan atau melakukan klaim. Membaca elegi ini mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam menulis maupun berbicara. Saya takut menjadi reduksionis besar yang serta merta membuat pernyataan dalam setiap komentar- komentar saya di blog tanpa memikirkan dan menggunakan bacaan yang benar. Saya takut apabila dalam ucapan sehari-hari saya telah menjadi seorang reduksionis. Maka semoga ketakutan saya menjadi cambuk untuk terus belajar, terus membaca agar memiliki pemahaman yang lebih luas dan tidak sembarangan berkata maupun menulis. Maka semoga tidaklah saya termasuk reduksionis dalam ruang dan waktu salah/ buruk.

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    1771251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini dapat menjadi rambu-rambu pengingat agar setiap perkataan dan pernyataan didapat melalui sumber-sumber yang shohih. Kemudian, mengingatkan diri ini untuk dapat berhati-hati dalam berkata baik itu secara lisan ataupun tertulis. Untuk menjadi seorang reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu benar/baik tentunya tidak mudah. Membaca dan mencari acuan yang shohih merupakan salah satu kunci utamanya. Semoga kita dapat saling ingat mengingatkan satu sama lain saat berada pada reduksionis dan determinis yang salah/buruk.

    ReplyDelete
  25. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Sebagai seseorang yang sedang dalam proses mencari ilmu dan mempelajari ilmu tersebut, tidak seharusnya kita telan mentah-mentah ilmu tersebut. Alangkah lebh baiknya kita cari tahu kebenarannya. Selain itu dapat pula kita melihat tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Jika kita langsung mempercayainya, kemudian kita menyampaikan argumen dengan dasar pengetahuan tadi tanpa diketahui kebenarannya, maka kita termasuk reduksionis besar. Seperti apa yang telah Prof. ulas dalam elegi di atas. Hikmah yang dapat saya ambil yaitu sepandai-pandainya kita memiliki ilmu, jika kita masih melakukan klaim terhadap sesuatu tanpa dasar, maka termasuk dalam reduksionis besar. Hal ini membuat saya sadar untuk tidak membuat judgement terhadap sesuatu tanpa dasar apapun yang relevan.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, saya menyadari bahwa dalam belajar filsafat masih banyak sekali yang harus saya pelajari. Pada tahap pendahuluan saja saya sering merasa bingung. Selain itu, saya juga terkadang merasa takut ketika ingin menuliskan komentar, takut tidak sesuai dengan dasarnya ketika hanya murni dari pikiran dan pendapat saya. Saya hanya berusaha untuk belajar dan membaca karena saya sadar bacaan saya belum cukup mampu untuk membuat pernyataan dan pertanyaan sesuai dengan sumber yang relevan.

    ReplyDelete
  27. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Belajar filsafat itu berarti belajar pikiran para filsuf. Dan untuk mempelajarinya tidaklah mudah. Bapak Prof. Dr Marsigit, M. A telah berupaya membuat elegi dengan maksud agar filsafat itu mudah dipahami oleh mahasiswa pemula dan agar tidak terjebak untuk menjadi determinis dan reduksionis yang salah atau tidak mengerti ruang dan waktu. Maka dalam belajar filsafat ini perlulah membaca elegi dan merefleksikannya ini berarti berdasarkan pada sumber. Semoga kita bisa menjadi determinis dan reduksionis yang mengerti akan ruang dan waktu. Dan yang terpenting untuk belajar filsafat haruslah terus membaca, membaca bacaan dan kehidupan itu sendiri, dan jangn lupa niat ikhlasnya.

    ReplyDelete
  28. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Nyanyian para filsuf adalah segala sesuatu atau pemikiran para filsuf yang menghasilkan karya karya filsafat, sedangkan tangisannya adalah kekecewaan kepada manusia yang dalam mempelajari filsafat secara instan tidak ikhlas. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa dalam mempelajari pikiran para filsuf itu membutuhkan suatuproses yang cukup lama dengan membaca dan membaca, kemudian membuat sintesis dan antitesis, dan setelah itu juga membuat refleksi, sehingga untuk dapat mempelajari filsafat dibutuhkan niat dan juga hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  29. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah,
    terimakasih Prof. Marsigit atas postingan di atas. Saya baru mengerti ketika para filsuf berkata "Reduksionis Besar adalah jika SERTA MERTA DENGAN ENAKNYA TANPA MEMIKIRKANNYA DAN MENGGUNAKAN BACAAN YANG RELEVAN, TELAH MEMBUAT PERNYATAAN ATAU MELAKUKAN KLAIM." Jadi, untuk mempelajari filsafat, diperlukan waktu yang tidak sebentar dan bacaan yang tidak sedikit untuk memahaminya. Meski filsafat dibangun oleh diri sendiri dan pasti setiap orang akan membuat pernyataan atau klaim nya sendiri atas ilmu yang ia langsung terima begitu saja, tetap sangat dianjurkan untuk memiliki pedoman berfikir seperti halnya para filsuf. Sungguh saya benar-benar pemula dalam mempelajari ilmu filsafat ini hingga akhirnya saya akan membuat refleksi dari mempelajarinya. Semoga saya dan kawan-kawan seperjuangan dapat berusaha meminimalisir dan bahkan mencegah diri dari sifat reduksionis dan determinisme dengan arahan dengan berpedoman dari elegi-elegi yang bapak buat. Amin.

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Pak marsigit yang telah memfasilitasi web blog ini untuk membiasakan diri terus membaca dan membangun ilmu pengetahuannya masing-masing sesuai dengan tingkat ikhtiarnya masing-masing.
    Ditengah-tengah membaca postingan elegi ini saya sudah mulai berfikir-fikir, “apakah saya terancam terperangkap ruang dan waktu gelap hingga sampai menjelma menjadi reduksionis besar?”. Karena kekhawatiran yang ada disetiap saya komen di blog elegi-elegi Pak Marsigit yaitu bahasa yang saya gunakan mengandung unsur-unsur yang kurang baik, tetapi saya sudah begitu hati-hati dalam menyusun kalimat demi kalimat yang saya lontarkan. Saya pun tidak tahu seberapa ikhlasnya saya membuat komen ini dan komen-komen yang sudah saya publish. Sekecil inilah bentuk ikhtiar saya.
    Jika saya pernah terkena reduksionis besar, semoga sekarang dan yang akan datang tidak tertimpa hal itu kembali. Dan semakin banyak membaca elegi-elegi Pak Marsigit bisa terbebas dari determinasi buruk, amin.

    ReplyDelete
  31. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih banyak atas fasilitas yang Bp sediakan sebagai medium untuk kami mempelajari filsafat. Memang tidak saya pungkiri bahwa terkadang dalam berkomentar saya "serta merta dengan enaknya tanpa memikirkannya dan menggunakan bacaan yang relevan, telah membuat pernyataan atau klaim". Ini disebabkan kurangnya referensi/bacaan yang saya miliki, namun saya tidak mau menyerah dengan kekurangan itu, sehingga saya mencoba mengolah pikiran saya untuk memahami dan memberikan komentar semampu saya dari elegi-elegi yang Bp sediakan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya minta ma'af jika terdapat komentar saya yg tidak relevan, dan terdapat kesalahan didalamnya. Kesalahan itu semua datang dari diri saya pribadi sedangkan kebenaran datangnya dari sang penciptaan pikiran dan yang maha benar.

    ReplyDelete
  32. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Tidak ada cara cepat mempelajari filsafat karena filsafat tidak dapat dipelajari secara instan. Satu-satunya cara adalah dengan terus membaca. Yang dibaca adalah sumber-sumber yang berupa pemikiran-pemikiran para filsuf yang merentang dari waktu ke waktu. Pemikiran-pemikiran inilah yang nantinya menjadikan seseorang mampu berfilsafat. Oleh karena itu jika kita ingin belajar filsafat, maka kita harus mempelajari pemikiran beberapa filsuf dan bukan hanya pemikiran satu filsuf. Adalah omong kosong jika kita ingin mempelajari filsafat tetapi tidak mempelajari pemikiranpara filsuf. Jika dalam psesi tanya jawab mahasiswa masih mendapatkan nilai rendah bahkan nol berarti tandanya mahasiswa tersebut masih kurang ilmunya. Dengan kata lain masih harus lebih banyak membaca dan membaca.
    Determiniasi adalah menentukan batas sedangkan reduksionism adalah penarikan kesimpulan yang singkat. Dengan kata lain determinis hampir sama dengan reduksionisme. Jika di dalam belajar filsafat seseorang menginginkan cara cepat atau instan ia enggan membeca sumber-sumber filsafat yang berupa pemikiran-pemikiran para filsuf. Sehingga cenderung menginginkan kesimpulan yang singkat dari bacaan-bacaan yang begitu panjang. Hal ini berarti orang tersebut telah melakakukan reduksionisme di dalam belajar filsafat. Dengan kata lain ia juga telah menderminiskan proses belajarnnya.

    ReplyDelete
  33. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Ketika selesai membaca elegi tangisan dan nyanyian para filsuf ini, saya merasa elegi ini meminta saya untuk merefleksi diri, jangan-jangan saya termasuk ke dalam golongan reduksionis dan determinis. Tidak dipungkiri, saya merasa pernah menjadi seorang yang reduksionis dan determinis, mempelajari filsafat tanpa membaca karya-karya para filsuf. Tentu memerlukan proses yang panjang agar dapat berfilsafat dengan berlandaskan pada bacaan-bacaan yang relevan atau karya-karya para filsuf. Hal yang harus dilakukan ialah harus terus belajar dan membaca. Membaca elegi-elegi di dalam blog ini sebenarnya merupakan jalan pembuka untuk mempelajari filsafat, karena menurut Prof. Marsigit, ia telah menyisipkan secara implisit pemikiran-pemikiran para filsuf dalam eleg-eleginya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami betul setiap elegi yang ada di blog ini guna meningkatkan dimensi kita menjadi dimensi filsafat.

    ReplyDelete
  34. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Orang yang belajar filsafat harus siap terbebas dari zona nyaman berpikir karena filsafat adalah olah pikit tentang yang ada dan yang mungkin ada. Dengan mempelajari filsafat kita dituntut untuk mensintesis secara seimbang yaitu dengan mencari anti thesis disetiap thesis serta menyesuaikan dengan ruang dan waktu yang benar. Dengan demikian mempelajari filsafat adalah sarana kita untuk terlepas dari pemikiran orang awam. Maka sebenar-benar tips dalam mempelajari filsafat adalah membaca dan terus membaca bacaan terkait pikiran Para Filsuf.

    ReplyDelete
  35. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Setelah membaca Elegi mendengakan Tangisan dan Nyanyian para filsuf ini, saya menjadi mengingat-ingat kembali terhadap apa yang sudah saya tulis pada olom komentar sebelumnya. Apakah yang saya utarakan termasuk Reduksionis dan Determinis?, Jika Iya, permohonan maaf yang bisa saya lakukan, dan terus belajar dengan membaca-membaca dan membaca.
    Dari beberapa elegi yang sudah saya baca memang menimbulkan kebingungaan dari apa yang saya pikirkan, tetapi dari kebingungan tersebut timbul sedikit demi sedikit pemahaman mengenai ilmu filsafat, dari seblumnya tidak tahu menjadi tahu. Elegi yang bapak berikan memang membingunkan bagi saya tetapi juga membantu saya sebagai seorang pemula dalam belajr filsafat.

    ReplyDelete
  36. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.Ketika saya membaca elegi ini, ada rasa bersalah yang mulai menggrogoti hati ini.Elegi ini,seolah-olah ingin mengatakan kepada saya untuk memulai belajar dengan hati yang ikhlas.Hati saya bergejolak tak menentu, apakah saya berada pada ruang dan waktu yang gelap atau malah sebaliknya.Duhai Allah,,, sekali lagi ampuni hamba..

    ReplyDelete
  37. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir, itu yang seringkali saya dengar dalam setiap pertemuan di kelas dengan bapak. Dalam proses berfilsafat kita mnegenal banyak ahli filsafat, hal ini yang bisa kita pelajari dari buku - buku yang ditulis oleh para filsuf tersebut. Namun perkembangan dunia yang begitu majunya sehingga kita diminta untuk selalu melakukan reduksi terhadap pola pikir. Dengan tulisan diata saya membaca banyak tentang filsafat dan bagaimana penggunaanya dala proses berpikir.

    ReplyDelete
  38. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Belajar merupakan hal tidak mudah karena sejatinya seorang pembelajar adalah sabilillah oleh karenanya seseorang yang sedang mencari ilmu merupakan seorang yang sedang jihat memerangi kebodohan diri. Para filusuf meruapak para guru besar yang telah merumuskan sistematika ilmu filsafat serata kita adalah para pembelajar yang mencoba mempelajari pemikiran-pemikiran beliau. Oleh karenanya agar dalam kita belajar filsafat dengan benar tentunya membutuhkan guru agar dalam belajar kita tidak salah arah dan mampu mengikuti alur. Belajar tanpa guru dan menyeleweng di jalan yang tidak tepat bisa membawa kepada kesesatan yakni redusionis dan determinis yang tidak benar. Agar kita belajar di jalan yang tepat maka setiap belajar mari kita mendoakan guru-guru kita dan pemikir-pemikir terdahulu agar kita di beri ridho dalam mempelajari ilmu.

    ReplyDelete
  39. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Setelah membaca elegi ini, saya merasa kena sentilan dari kata-kata yang dituangkan dari elegi mendengarkan tangisan dan nyanyian para filsuf. Tidak saya pungkiri bahwa sering kali mengutarakan pernyataan tidak bersumber dari yang relevan hanya sekedar opini saja. Dan, benar adanya perlakuan tersebut karena kurangnya membaca buku-buku dari filsuf-filsuf. Kita, termasuk saya tidak mau untuk termakan mitos. Dengan demikian sudah wajar saya untuk memulai dan membiasakan membaca buku-buku para filsuf.

    ReplyDelete
  40. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Belajar filsafat artinya adalah belajar untuk mengolah pikir secara mendalam dan luas. Salah satu usaha dan cara kami untuk belajar filsafat adalah berusaha untuk membaca dan memahami segala materi yang ada di blog ini. Akan tetapi hal ini saja masih belum cukup, karena kami seharusnya harus bisa mengembangkan pemikiran apa yang didapat dari mempelajari tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Jika kami hanya menerima, apa yang ada tanpa ada usaha untu mengembangkan maka kami sebenarnya telah berlaku “reduksionis dan determinis”, dan hal ini harus dihindari karena dalam belajar filsafat kami harus mempelajarinya secara mendalam dan luas.

    ReplyDelete
  41. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya menyadari bahwa elegi merupakan awal dari pengenalan terhadap filsafat. Memahami elegi bukan berarti telah memahami filsafat. Memahami filsafat bukanlah hal yang mudah. Bahkan membaca elegi saja saya belum tentu paham. Saya masih dalam proses mengenal filsafat, oleh karena itu saya sangat terbantu lewat elegi-elegi yang disediakan di blog ini. Saya menemukannya sebagai sarana belajar filsafat yang asyik.

    ReplyDelete
  42. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Berfilsafat memang membutuhkan proses yang tidak mudah. Apalagi untuk dapat berproses dengan ikhlas. Sebenarnya banyak sekali yang bisa dipetik dari berfilsafat dan juga membaca elegi-elegi. Menurut saya, elegi-elegi yang ada memberikan berbagai pelajaran hidup, menempatkan segala sesuatu dalam ruang dan waktu yang sesuai, bahkan seringkali mengingatkan untuk meningkatkan kualitas beragama. Banyak sekali elegi yang menumbuhkan kesadaran kita sebagai makhluk yang terbatas sehingga harus senantiasa memohon pertolongan Allah serta meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Terimakasih Prof, telah memfasilitasi kami untuk belajar berfilsafat dan juga berbagai macam ilmu yang sangat bermanfaat dalam kehidupan kami. Tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar mahasiswa, termasuk saya masih memiliki berbagai keterbatasan dalam proses belajar, terlebih masih sering tidak merefer pikiran para filsuf dalam berfilsafat seperti yang diharapkan. Semoga kita semua dapat berfilsafat dengan ikhlas dan selalu menjadi lebih baik.

    ReplyDelete
  43. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elegi Mendengarkan Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf yaitu menceritakan apa yang membuat seorang filsuf akan menangis dan bahagia. Yang menjadi tangisan para filsuf yaitu ketika ia mereduksi dan mendeterminis sesuatu dengan ruang dan waktu yang salah/buruk. Sedangkan nyanyian para filsuf yaitu sebuah kebahagiaan yang ada. Yang menjadi kebahagiaan para filsuf yaitu ketika ia mereduksi dan mendeterminis sesuatu dengan ruang dan waktu yang baik/benar.

    ReplyDelete
  44. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sebelumnya, terimakasih sudah memberikan fasilitas dengan elegi-elegi yang terdapat dalam postingan ini. Elegi yang telah di posting mempermudah kita mengenal filsafat tanpa harus membaca buku yang berasal dari para filsuf ternama. Karena mungkin bagi saya itu lebih sulit untuk dipahami, meskipun di dalam elegi ini juga menggunakan bahasa analaog. Tetapi bagi saya, penyampaian menggunakan bahasa analog yang dikemas dengan tanya jawab (percakapan) lebih menarik daripada harus terdeskripsi panjang lebar. Selain itu, makna yang disampaikan pun merupakan pengalaman hidup yang benar-benar nyata tetapi tetap dalam penggunaan bahasa analog.

    ReplyDelete
  45. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Ketika kita ingin memahami filsafat maka kita harus mempelajari pikiran para filsuf karena filsafat adalah pikiran para filsuf. Jika kita tidak mau membaca pikiran para filsuf maka kita akan memperoleh apapun kecuali diri kita sendiri dan kita menjelma menjadi reduksionis besar. Karena itulah dalam mempelajari filsafat penting untuk membaca, membaca, dan membaca pikiran para filsuf, salah satunya melalui elegi-elegi yang ada pada blog ini.

    ReplyDelete
  46. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Ketika kita ingin memahami filsafat maka kita harus mempelajari pikiran para filsuf karena filsafat adalah pikiran para filsuf. Jika kita tidak mau membaca pikiran para filsuf maka kita akan memperoleh apapun kecuali diri kita sendiri dan kita menjelma menjadi reduksionis besar. Karena itulah dalam mempelajari filsafat penting untuk membaca, membaca, dan membaca pikiran para filsuf, salah satunya melalui elegi-elegi yang ada pada blog ini.

    ReplyDelete
  47. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Seorang filsuf itu juga seperti seorang guru. Ketika siswanya paham dengan ide-ide yang ia sampaikan, maka akan ada kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru. Begitu pula sebaliknya keika siswa salah dalam menangkap apa yang guru sampaikan ia akan merasa sangat sedih. Ide-ide para filsuf bagaikan pengetahuan baru yang tidak mudah untuk dipahami kecuali apabila kita mau membuka hati dan pikiran untuk menelaahnya.

    ReplyDelete
  48. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Sebelumnya mohon maaf, Pak. Mungkin di semua komen saya adalah komen yang bersifat determinis dan reduksionis karena bisa jadi secara sadar atau tidak sadar serta sengaja atau tidak sengaja saya telah membuat klaim tanpa referensi yang jelas. Namun disini saya hanya berusaha untuk menyatakan apa yang ada dalam pikiran. Terlepas dari nilai salah dan benar dalam proses belajar filsafat, semoga apa yang sudah dijalani menjadi perjalanan baik dan membeikan hasil yang positif. Mohon bimbingannya, Pak. Terimakasih

    ReplyDelete
  49. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    selama ini, elegi menawarkan bacaan yang menghidupkan pemikiran, bukan memasukkan gagasan kepada pembaca. Sehingga melalui elegi-elegi ini kami mampu belajar memulai untuk membangun filsafat kita masing-masing, walaupun masih jauh dari pemikiran filsuf. Elegi-elegi ini mengisyaratkan kita untuk terus belajar dan berpikir, sehingga kita bisa terhindar dari determinis ruang dan waktu yang buruk.

    ReplyDelete
  50. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Filsafat sendiri merupakan hasil berfikir tentang hakikat dengan sistematis, radikal, dan universal. Filsafat adalah ilmu pikir. Sedangkan cara berpikir orang itu berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran filsafat seharusnya berbeda dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran yang seharusnya bisa memfasilitasi mereka mengembangkan pengetahuan mereka.

    ReplyDelete
  51. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Memang tidak diherankan, bahwa untuk memahami filsafat haruslah memahami pikiran para filsuf. Dengan cara banyak-banyak membaca tentang bagaimana pikiran para filsuf. Selain itu untuk menjelaskan suatu hal yang berkaitan dengan filsafat, tidaklah mampu dijawab dengan uraian yang singkat, karena jika demikian akan menghasilkan pemahaman yang tidak selaras dengan maksud yang ingin disampaikan. Selain itu untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaan filsafat haruslah membaca secara keseluruhan dari jabaran yang ada agar tidak terjadi misconsepsi dari apa yang ingin disampaikan. Semoga kita semua dijauhkan dari kekeliruan yang demikian.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  52. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Belajar filsafat adalah mempelajari pikiran para filsuf, berbagai metode yang dilakukan adalah serta merta agar kami (para mahasiswa) tidak terkotak-kotakkan pemahaman dan pemikiran mengenai belajar berfilsafat itu sendiri. Belajar berfilsafat adalah dimana kita seharusnya melakukan dengan keikhlasan, ikhlas hati maupun ikhlas pikirnya, serta melakukannya sesuai dengan ruang dan waktu yang ada. Tentu saja kita tidak dapat menggunakan pemahaman misalkan istilah-istilah dalam berfilsafat serta merta secara bebas, namun harus memperhatikan ruang dan waktunya, karena kesalahan dalam berfilsafat adalah ketika kita tidak mampu bersikap sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  53. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Para filsuf begitu berjuang keras untuk memahamkan filsafat-filsafatnya. Akan tetapi, satu hal yang penting, yakni belajar filsafat tidak bisa secara instan. Diperlukan proses dan waktu yang relative lama. Tapi tidak hanya itu, menurut saya bagi kami para pemula, perlu adanya suatu pengemasan yang menarik agar filsafat mudah dipahami dan tidak membosankan. Sesungguhnya makna tersirat dan penggunaan bahasa yang tingkat tinggi itulah yang membuat kami para pemula merasa kesulitan memahami filsafat.

    ReplyDelete
  54. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Belajar filsafat berarti belajar mengembarakan pikiran dan berbicara tentang yang ada dan yang mungkin ada sehingga butuh proses yang tidak singkat untuk memahaminya. Belajar Filsafat harus mampu berpikir intensif dan ekstensif, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, mampu menterjemah dan diterjemahkan. Filsafat adalah pikiran para filsuf. Untuk bisa berfilsafat dengan lengkap dan baik harus mau baca, dan baca pikiran para filsuf. Orang yang sudah mampu berfilsafat dengan baik akan menjadi orang yang bijaksana dalam setiap permasalahan, akan terhindar dari sifat reduksionisme yang determinisme. Maafkan saya jika sebagai murid saya juga melakukan reduksi yang salah terhadap filsafat Pak. Semoga dengan membaca elegi-elegi ini saya bisa memahaminya dan tidak akan tersesat.

    ReplyDelete
  55. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Pak Marsigit yang baik,sejauh Saya membaca elegi, Saya selalu dalam keadaan sadar Dan refleksi, mengenai apa makna sesungguhnya dari elegi ini terutama bagi Saya. Saya Juga menyadari bahwa metode reduksi dalam elegi ini perlu Saya lengkapi dengan pendapat filsuf. Terkadang Saya membaca elegi Dan mencari sumber dari tulisan filsuf Juga.
    Jadi bagi Saya, tuntunan Anda dengn metode filsafat ini bukan tuntutan mutlak. Ada ruang bebas yang Saya rasakan untuk bertumbuh dan berkembang dalam ruang Dan waktu yang tepat bagi Saya.
    Mungkin perenungan ini masih dangkal,tapi Saya bersyukur boleh belajar bersama Anda.

    ReplyDelete
  56. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Ilmu itu didapatkan dengan melakukan penelitian, pemikiran mendalam dan didiskusikan kebenarannya. Proses panjang itu menjamin bahwa ilmu yang ada telah diakui kebenarannya. Maka jangan sekali-kali berpendapat tanpa merujuk pada ahli yang mengembangkan ilmu itu.

    ReplyDelete
  57. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Seorang filsuf adalah mereka yang berpikir dengan teliti dan menurut aturan yang pasti dalam artian tidak boleh melanggar aturan berpikir yang telah dibuatnya sendiri (aturan berpikir dapat juga dikatakan sebagai prinsip). Seorang filsuf berpikir secara rasional, komperhensif, radikal, dan universal. Filsuf harus melihat sesuatu dari berbagai sudut sebelum mengemukakan sesuatu dan argumennya tidak boleh saling bertentangan.

    ReplyDelete
  58. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Obyek pemikiran seorang filsuf adalah tentang hakekat hidup, hakekat antar sesama manusia, nasehat-nasehat dan motivasi dan hal semacam itu yang lainnya yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah. Sedangkan ilmuwan berpikir tentang sesuatu berdasarkan teori untuk menemukan fakta-fakta baru dari hasil penelitian dan memajukan kehidupan dunia dengan penemuan-penemuan baru.

    ReplyDelete
  59. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Filsafat adalah ilmu pikir. Sedangkan cara berpikir orang itu berbeda-beda. Oleh karena itu pembelajaran filsafat seharusnya berbeda dengan pembelajaran yang lain. Pembelajaran yang seharusnya bisa memfasilitasi mereka mengembangkan pikiran mereka masing-masing dengan cara berpikir mereka sendiri. Namun guru/dosen yang mengajarkan filsafat juga harus menempatkan ilmu filsafat yang diperolehnya sesuai ruang dan waktu

    ReplyDelete
  60. Belajar Filsafat tidak mudah, karena kita harus mampu berpikir Intensif dan Ekstensif. Mampu berpikir kritis artinya berpikir seluas – luasnya dan sedalam – dalamnya, mampu menterjemah, dan diterjemahkan. Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Untuk bisa berfilsafat dengan lengkap dan baik harus mau baca, dan baca Pikiran Para Filsuf. Orang yang sudah mampu berfilsafat dengan baik maka akan menjadi orang yang bijaksana dalam setiap permasalahan, akan terhindar dari sifat reduksionisme yang determinisme yaitu orang paling berbahaya di dunia adalah seorang Reduksionis yang Determinis.

    ReplyDelete
  61. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Reduksionisme merupakan penyederhanaan hal-hal kompleks untuk memahami sifat-sifat dasar sesuatu. Sedangkan determinisme merupakan keyakinan filosofis bahwa semua peristiwa terjadi sebagai akibat dari adanya beberapa keharusan dan karenanya tak terelakkan. Perkuliahan yang diberikan oleh bapak melalui blog ini jika ditanggapi dengan benar oleh mahasiswa maka akan menghasilkan reduksionisme yang positif karena melalui elegi-elegi yang disampaikan, maka mahasiswa dapat memahami hal-hal dasar dengan lebih mudah karena telah disajikan secara ringan namun berbobot. Begitu pula dengan determinisme, jika mahasiswa ikhlas menjalani comment maka hal tersebut bukanlah menjadi beban karena tidak dianggap sebagai keharusan atau kewajiban melainkan sebagai kebutuhan untuk memperluas wawasan atau ilmu khususnya tenatng filsafat dan berlatih untuk berfilsafat.

    ReplyDelete
  62. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Belajar filsafat itu sama saja mempelajari pikiran para filsuf.sumber-sumber yang terpercaya adalah membaca pikiran filsuf dari buku-buku mereka, akan tetapi melalui blog ini saya juga dapat belajar tentang pikiran para filsuf dengan membaca dan merefleksikan hasil bacaan setiap postingan kedalam komentar. Hal ini sangat membantu para mahasiswa yang ingin berlajar filsafat tanpa harus membeli buku asli dari para filsuf, blog ini sangat membantu mempelajari pikiran para filsuf karena telah merujuk ke sumber-sumber yang dapat dipercaya.

    ReplyDelete
  63. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya sependapat dengan Prof bahwa tujuan dari kuliah filsafat ini adalah agar para mahasiswa membangun sendiri pengetahuan filsafat masing-masing. Hal ini sesuai dengan teori konstruktivisme yang menekankan pada pengetahuan yang dibangun sendiri oleh subjek belajar. begitu juga dengan pembelajaran di sekolah. Seharusnya memang siswa sendirilah yang membangun sendiri pengetahuan mereka. Blog dari Prof ini juga sebagai sarana mahasiswa untuk membangun sendiri pengetahuan filsafat mereka.

    ReplyDelete
  64. Junianto
    PM C
    17709251065

    Teori kontruktivisme saya kira menjadi landasan dalam pembelajaran. Bukan saatnya lagi guru memberikan dan mentransfer ilmu kepada siswa. siswa juga bukan lagi empty vessel yang bisa diisi dengan apapun oleh guru. Tetapi siswa adalah subjek belajar, sehingga mereka sendirilah yang memangun pengetahuan dan guru tidak lebih hanyalah sebagai pendamping siswa saja. Begitu pula dengan metode perkuliahan yan Prof gunakan untuk memacu mahasiswa mengkonstruk sendiri pemahaman filsafat mereka.

    ReplyDelete
  65. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Sebagai saalah satu murid dari Prof Marsigit, sungguh saya tidak tau apakah komen-komen, pertanyaan, refleksi yang saya lakukan adalah sebuah refleksi filsafat yang benar atau justru hanyalah reduksi dan determinan. Sungguh saya tidak mengetahui dimana posisi saya, dan hanya dengan beristighfar dan memohon ampun kepada Tuhan lah semoga diampuni dosa-dosa, kesalahan dan kebodohan yang saya lakukan. Diri ini masih butuh banyak bimbingan, banyak bantuan, banyak nasehat dalam mempelajari filsafat dengan benar. Tidak terjebak pada perintah, pada ketidak ikhlasan, dan hal-hal negative yang lain

    ReplyDelete
  66. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Seperti yang pernah disebutkan sebelumnya bahwa dalam mempelajari filsafat kita harus memahami pikiran-pikiran para filsuf. Keterbatasan jam perkuliahan di kelas akan menghambat proses belajar dan pengenalan mahasiswa terhadap tokoh-tokoh filsafat dan pemikirannya. Ketersediaan sumber belajar online sangat membantu siswa dalam memahami paham dan istilah yang sering Bapak sebutkan di dalam kelas. Tes jawab singkat telah membuat mahasiswa mnyadari akan kekurangan pengetahuan yang dimiliki sehingga muncul keingindan untuk memperdalam ilmu filsafat melalui elegi-elegi di blog ini.

    ReplyDelete
  67. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Sebenar-benar filsafat adalah pemikiran para filsuf yang dituangkan melalui buku-buku para filsuf tersebut. Elegi-elegi yang terdapat di blog ini merupakan pengantar bagi kami untuk lebih mengetahui tentang filsafat. Dalam blog ini telah dijelaskan, tanpa bermaksud reduksionisme dan determinisme, beberapa istilah dalam filsafat agar para mahasiswa dapat lebih memahaminya.

    ReplyDelete
  68. Assalamuaalaikum Wr. Wb. Saya berani menduga bahwa, elegi ini merupakan refleksi imajinasi prof Marsigit yang menggambarkan seorang filsuf yang menangis sembari tertawa. Tangisan dan nyanyian seorang filsuf yang digambarkan dalam elegi ini adalah suatu refleksi filosofis atas kondisi-kondisi yang terjadi selama proses belajar-mengajar dalam kelas filsafat ilmu. Tangisan filsuf menandakan kerumitan-kerumitan yang dialami peserta didik sedangkan nyanyian dan senyuman mengambarkan semangat dan daya dalam mempelajari filsafat selama ini.

    ReplyDelete
  69. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas dapat dipahami bahwa dalam mempelajari filsafat kita boleh sembarangan dalam mereduksi atau menyerdahanakan sesuatu karena sebanar-benar filsafat adlaah tidak sesederhana itu. Kita harus lebih banyak membaca dan mempelajari fikiran-fikaran para filsuf. Prof marsigit telah menjelaskan bahwa elegi-elegi ini hanyalah sebuah pendahuluan, maka proses mencari ilmu masih terus berjalan.

    ReplyDelete

  70. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi ini, saya melihat kekhawatiran terhadap kami mahasiswa bapak. Karena sesungguhnya elegi ini adalah pikiran bapak yang ditulis dengan hati yang ikhlas. Memang jujur, banyak tanggapan saya pada artikelartikel diblog ini adalah hasil dari pemikiran spontan saya. Padahal seharusnya berargumen tentang filsafat harus menggunakan referensi yang relevan, yaitu tulisan-tulisan para filsuf. Mungkin sejauh ini belum maksimal usaha saya, tapi InsyaAllah kami akan terus belajar.

    ReplyDelete
  71. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam menggapai suatu tujuan, proses yang ditemui tidaklah mudah. Banyak kendala dan rintangan yang dihadapi. Namun semua rintangan akan terasa ringan apabila dijalani dengan penuh keikhlasan. Setiap hal yang kita miliki, ilmu, pengetahuan, harta, harus mampu kita tempatkan dalam ruang dan waktu yang tepat supaya bisa memberikan manfaat, karena setinggi-tingginya ilmu adalah ilmu yang bermanfaat. Begitu pula ketika belajar filsafat, kita harus belajar dengan membangun pengetahuan sendiri melalui komen-komen. Hanya orang yang ikhlas lah yang akan benar-benar mendapatkan ilmu dari apa yang telah dibaca dan dipelajarinya, dan menjadikan ilmuny tersebut bermanfaat.

    ReplyDelete
  72. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Alhamdulillah dengan membaca elegi-elegi prof, saya jadi senang membaca dan membaca. Dalam beberapa kesempatan diskusi di kelas saya jadi lumayan pede dan kritis dibanding sebelum belajar filafat. Belajar filsafat benar-benar mengolah pikir kita, kita juga diminta merefleksikan perkuliahan dengan kalimat sendiri. Merefleksikan perkuliahan sama halnya merefleksikan diri sendiri. Dengan melakukan refleksi diri maka kita akan mengetahui kelebihan maupun kekurangan diri untuk perbaikan kedepannya.

    ReplyDelete
  73. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Belajar filsafat harus mampu bersifat intensif dan ekstensif, mampu berpikir kritis seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, mampu menerjemah dan diterjemahkan. Filsafat merupakan pikiran para filsuf. Agar mampu berfilsafat dengan baik, harus mau membaca. Orang yang telah berfilsafat dengan baik, maka dia menjadi orang yang bijak dalam setiap permasalahan, terhindar dari reduksionisme yang determinisme yaitu orang yang paling berbahaya di dunia yaitu orang yang reduksionis yang determinis.

    ReplyDelete
  74. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  75. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015


    Mempelajari filsafat tidak sesederhana yang dipikirkan. Kita harus banyak mempelajari pikiran -pikiran para filsuf dengan memperbanyak membaca. Melalui elegi-elegi yang disampaikan Prof, kami bisa menjadi lebih mudah dalam memahami filsafat.

    ReplyDelete