Oct 21, 2012

Elegi Mendengarkan Tangisan dan Nyanyian Para Filsuf




Oleh Marsigit

Marsigit:
Wahai sang Filsuf, mengapa engkau sekarang betul-betul menangis dan juga sekaligus bernyanyi?


Para Filsuf:
Karena memikirkan ulah Dirimu dan Murid-muridmu.

Marsigit:
Lho kenapa? Memang apa yang salah pada Diriku dan Murid-muridku?

Para Filsuf:
Engkau terancam Gagal dan Murid-murid terancam Terperangkap di Ruang dan Waktu gelap

Marsigit:
Saya tidak begitu jelas?

Para Filsuf:
Saya memaklumi bahwa Belajar Filsafat tidak mudah, karena sifat Intensif dan Ekstensif. Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Jika tidak mau membaca Pikiran Para Filsuf maka Tidak Akan Memperoleh Apapun kecuali Dirimu dan Murid-muridmu akan menjelma menjadi seorang Reduksionis terbesar di dunia. Padahal sebenar-benar orang paling berbahaya di dunia adalah seorang Reduksionis yang Determinis. Wahai Marsigit, apakah kemudian yang engkau lakukan terhadap murid-muridmu?

Marsigit:
Oh maaf Para Filsuf. Aku telah menciptakan Elegi-elegi dan Forum Tanya Jawab dengan harapan agar Murid-muridku memulai membaca Filsafat. Aku berusaha membelajarkan Filsafat dengan Metode Filsafat. Aku berusaha memfasilitasi agar Murid-muridku MAMPU MEMBANGUN FILSAFATNYA MASING-MASING dengan Ikhtiarnya masing-masing. Oleh karena itu maka Perkuliahan juga saya Dukung dengan On Line menggunakan Web Blog.

Para Filsuf:
Bagaimana hasilnya?

Marsigit:
Saya menyaksikan banyak diantara Muridku mengalami kemajuan pesat; mereka mengalami perkembangan yang sungguh mengagumkan karena telah mampu mengembangkan metode berpikir Filsafat. Walaupun saya juga menyaksikan beberapa diantara mereka Terjebak masih membuat komen-komen yang kelihatannya kelihatannya belum Ikhlas. Saya menemukan juga bahwa ada sebagian kecil Murid-muridku Terjebak di Ruang dan Waktu Gelap.Seiring dengan semakin Singkatnya Waktu dan Sempitnya Ruang, saya menemukan beberapa murid-muridku Belum Sempat membaca Pikiranmu sehingga menjelmalah dia menjadi Reduksionis besar. Lalu kenapa Engkau menangis?

Para Filsuf:
Itulah, saya menangis karena saya menemukan semakin banyak Murid-muridmu menjadi Reduksionis dan determinis. Dan engkau juga terancam sebagai reduksionisme. Ketahuilah bahwa BERFILSAFAT TANPA MEREFER ATAU MENGACU KEPADA PIKIRAN PARA FILSUF, SUNGGUH TIADA NILAI KEBANARAN DI SITU. MAKA HASILNYA SANGAT KONTRAPRODUKTIF DAN JUSTRU MALAH BERBAHAYA KARENA AKAN TERCIPTA SEBAGAI SEORANG DITERMINIS.

Marsigit:
Saya sudah mengatakan kepada Murid-muridku bahwa Elegi-elegi itu hanyalah Pendahuluan. Sedangkan Filsafat adalah Pikiran Para Filsuf. Sumber terbaik membaca Pikiran Para Filsuf adalah Buku-buku Karya-karyamu. Sedangkan saya sebetulnya sudah menulis banyak Pikiran-pikiranmu secara Implisit di dalam Elegi-elegi.Namun ingin saya sampaikan bahwa tiada seorangpun terbebas dari Reductionisme dan determinisme. Apakah yang demikian berlaku juga bagimu guru?

Para Filsuf:
Oh iya cerdas pula wahai engkau Marsigit. Lalu kenapa semakin banyak Muridmu terancam menjadi Reduksionist dan Determinis besar? Inilah sebenar-benar pertanyaanku yang akan menggoda dirimu?

Marsigit:
Jika engkau saja bisa terkena Determinisme dan Reduksionis apalagi murid-muridku. Apalagi sebagian besar dari Murid-muridku juga belum sempat membaca Elegi-elegi. 

Para Filsuf:
Reduksionis Besar adalah jika SERTA MERTA DENGAN ENAKNYA TANPA MEMIKIRKANNYA DAN MENGGUNAKAN BACAAN YANG RELEVAN, TELAH MEMBUAT PERNYATAAN ATAU MELAKUKAN KLAIM. Dan itulah yang aku saksikan yang sedang dan akan menimpa pada Murid-muridmu.

Marsigit:
Oh maaf para Filsuf. Itu semua dikarenakan Dosa-dosaku. Aku menemukan bahwa tidak hanya murid-muridku, sedangkan diriku juga terjebak dalam DETERMINISME dan REDUKSIONISME, dengan memerintah agak memaksa murid-muridku untuk membaca Elegi-elegi. Aku telah sangat berdosa kepada Murid-muridku karena telah melakukan beberapa Test Jawab Singkat. Dengan Test Jawab singkat itulah aku telah melakukan Reduksi-reduksi Filsafat. Bahkan aku sempat Tayangkan hasilnya di dalam Blog ini. Namun sebenarnya sudah aku sampaikan kepada Murid-muridku bahwa Sangatlah Berbahaya Menjawab Singkat Filsafat itu, karena bisa terancam menjelma menjadi Reduksionis Salah Ruang dan Waktu. Agar Murid-muridku betul-betul mempunyai kesempatan Membaca Buku Filsafat yang bersisi Pikiran-pikiranmu, saya sudah Memberi Tugas Membuat Makalah sebagai Tugas Akhir. Lalu, kenapa engkau masih menangis?

Para Filsuf:
Engkau hanya melihat Air Mataku saja yang mengalir di pipiku. Sebetulnya setelah menangis aku juga tersenyum. Tidak hanya itu, dan itulah salah satu kemampuanku bahwa aku bisa menangis dan sekaligus tersenyum. Aku menangis jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung. Sedangkan Aku tersenyum jika menemukan Murid-muridmu menjelma menjadi Reduksionis dan Determinis ulung.

Marsigit:
Lho kok saya jadi bingung. Engkau menangis dantersenyum dikarenakan hal yang sama yaitu menemukan Reduksinist dan Diterminis ulung. Bagaimana ini?

Para Filsuf:
Yang aku tangisi adalah Reduksionis dan Determinis dengan RUANG DAN WAKTU SALAH/BURUK.
Yang aku banggakan adalah Reduksionis dan determinis dengan RANG DAN WAKTU BENAR/BAIK.
Aku menyaksikan bahwa Elegi-elegimu sungguh bisa menjadi sarana bagi murid-muridmu agar terbebas dari Determinisme buruk. Amin

24 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Filsafat merupakan suatu tindakan, suatu aktivitas. Filsafat adalah aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar dalam hidup manusia. Pertanyaan tersebut antara lain dapat berupa apa tujuan hidup, apakah Tuhan ada, bagaimana menata organisasi dan masyarakat, serta bagaimana hidup yang baik.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Kemudian kita akan mencoba menjawabnya secara rasional, kritis, dan sistematis. Ketika belajar filsafat, kita akan berjumpa dengan pemikiran para filsuf besar sepanjang sejarah manusia. Dengan belajar filsafat, seseorang akan dilatih menjadi manusia yang utuh yang mampu berpikir mendalam, rasional, komunikatif.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Mendengarkan tangisan dan nyanyian filsuf itu sebetulnya filsafat estetika. Estetika berbicara tentang rasa yang mencakup penyerapan perhatian dalam pengalaman persepsi. Sejauhmana seseorang mampu menimbulkan daya pendengarannya, daya pandangnya, daya sentunya terhadap sesuatu, maka sejauh itulah rasa seni, cipta, rasa, dan karsa yang dimilikinya.

    ReplyDelete
  4. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Membaca postingan ini, sudah saya lakukan. Ketakutan...ya ketakutan, kecemasan...ya kecemasan. Saya rasakan dua rasa itu. "Membaca buku filsafat dari filsuf yang sebenar-benarnya?". Saya bertanya pada pikiiran saya sendiri;"yang seperti apa?"; "Membaca? baru sedikit, itupun lewat kutipan pada postingan orang lain.". Ya Tuhan, saya benar-benar takut, apakah saya berpotensi ataukah saya sudah menjadi seoarng DETERMINISME dan REDUKSIONISME? dan lagi, jangan-jangan saya masuk kepada bagian Reduksionis dan Determinis dengan RUANG DAN WAKTU salah/buruk.

    Karena kegamanganku ini benar-benar membuatku bingung, mungkin ini saya baru belajar bagaimana keberadaan "hati" dalam belajarku ini.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita bisa jadi menjadi reduksionis besar jika kita serta merta dengan enaknya tanpa memikirkannya, dan menggunakan bacaan yang relevan, telah membuat pernyataan atau melakukan klaim. Membaca elegi ini mengingatkan saya untuk berhati-hati dalam menulis maupun berbicara. Saya takut menjadi reduksionis besar yang serta merta membuat pernyataan dalam setiap komentar- komentar saya di blog tanpa memikirkan dan menggunakan bacaan yang benar. Saya takut apabila dalam ucapan sehari-hari saya telah menjadi seorang reduksionis. Maka semoga ketakutan saya menjadi cambuk untuk terus belajar, terus membaca agar memiliki pemahaman yang lebih luas dan tidak sembarangan berkata maupun menulis. Maka semoga tidaklah saya termasuk reduksionis dalam ruang dan waktu salah/ buruk.

    ReplyDelete
  6. Uswatun Hasanah
    1771251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini dapat menjadi rambu-rambu pengingat agar setiap perkataan dan pernyataan didapat melalui sumber-sumber yang shohih. Kemudian, mengingatkan diri ini untuk dapat berhati-hati dalam berkata baik itu secara lisan ataupun tertulis. Untuk menjadi seorang reduksionis dan determinis dengan ruang dan waktu benar/baik tentunya tidak mudah. Membaca dan mencari acuan yang shohih merupakan salah satu kunci utamanya. Semoga kita dapat saling ingat mengingatkan satu sama lain saat berada pada reduksionis dan determinis yang salah/buruk.

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Sebagai seseorang yang sedang dalam proses mencari ilmu dan mempelajari ilmu tersebut, tidak seharusnya kita telan mentah-mentah ilmu tersebut. Alangkah lebh baiknya kita cari tahu kebenarannya. Selain itu dapat pula kita melihat tidak hanya dari satu sudut pandang saja. Jika kita langsung mempercayainya, kemudian kita menyampaikan argumen dengan dasar pengetahuan tadi tanpa diketahui kebenarannya, maka kita termasuk reduksionis besar. Seperti apa yang telah Prof. ulas dalam elegi di atas. Hikmah yang dapat saya ambil yaitu sepandai-pandainya kita memiliki ilmu, jika kita masih melakukan klaim terhadap sesuatu tanpa dasar, maka termasuk dalam reduksionis besar. Hal ini membuat saya sadar untuk tidak membuat judgement terhadap sesuatu tanpa dasar apapun yang relevan.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Setelah saya membaca, saya menyadari bahwa dalam belajar filsafat masih banyak sekali yang harus saya pelajari. Pada tahap pendahuluan saja saya sering merasa bingung. Selain itu, saya juga terkadang merasa takut ketika ingin menuliskan komentar, takut tidak sesuai dengan dasarnya ketika hanya murni dari pikiran dan pendapat saya. Saya hanya berusaha untuk belajar dan membaca karena saya sadar bacaan saya belum cukup mampu untuk membuat pernyataan dan pertanyaan sesuai dengan sumber yang relevan.

    ReplyDelete
  9. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Belajar filsafat itu berarti belajar pikiran para filsuf. Dan untuk mempelajarinya tidaklah mudah. Bapak Prof. Dr Marsigit, M. A telah berupaya membuat elegi dengan maksud agar filsafat itu mudah dipahami oleh mahasiswa pemula dan agar tidak terjebak untuk menjadi determinis dan reduksionis yang salah atau tidak mengerti ruang dan waktu. Maka dalam belajar filsafat ini perlulah membaca elegi dan merefleksikannya ini berarti berdasarkan pada sumber. Semoga kita bisa menjadi determinis dan reduksionis yang mengerti akan ruang dan waktu. Dan yang terpenting untuk belajar filsafat haruslah terus membaca, membaca bacaan dan kehidupan itu sendiri, dan jangn lupa niat ikhlasnya.

    ReplyDelete
  10. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Nyanyian para filsuf adalah segala sesuatu atau pemikiran para filsuf yang menghasilkan karya karya filsafat, sedangkan tangisannya adalah kekecewaan kepada manusia yang dalam mempelajari filsafat secara instan tidak ikhlas. Padahal sebagaimana kita ketahui bahwa dalam mempelajari pikiran para filsuf itu membutuhkan suatuproses yang cukup lama dengan membaca dan membaca, kemudian membuat sintesis dan antitesis, dan setelah itu juga membuat refleksi, sehingga untuk dapat mempelajari filsafat dibutuhkan niat dan juga hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  11. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah,
    terimakasih Prof. Marsigit atas postingan di atas. Saya baru mengerti ketika para filsuf berkata "Reduksionis Besar adalah jika SERTA MERTA DENGAN ENAKNYA TANPA MEMIKIRKANNYA DAN MENGGUNAKAN BACAAN YANG RELEVAN, TELAH MEMBUAT PERNYATAAN ATAU MELAKUKAN KLAIM." Jadi, untuk mempelajari filsafat, diperlukan waktu yang tidak sebentar dan bacaan yang tidak sedikit untuk memahaminya. Meski filsafat dibangun oleh diri sendiri dan pasti setiap orang akan membuat pernyataan atau klaim nya sendiri atas ilmu yang ia langsung terima begitu saja, tetap sangat dianjurkan untuk memiliki pedoman berfikir seperti halnya para filsuf. Sungguh saya benar-benar pemula dalam mempelajari ilmu filsafat ini hingga akhirnya saya akan membuat refleksi dari mempelajarinya. Semoga saya dan kawan-kawan seperjuangan dapat berusaha meminimalisir dan bahkan mencegah diri dari sifat reduksionis dan determinisme dengan arahan dengan berpedoman dari elegi-elegi yang bapak buat. Amin.

    ReplyDelete
  12. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Pak marsigit yang telah memfasilitasi web blog ini untuk membiasakan diri terus membaca dan membangun ilmu pengetahuannya masing-masing sesuai dengan tingkat ikhtiarnya masing-masing.
    Ditengah-tengah membaca postingan elegi ini saya sudah mulai berfikir-fikir, “apakah saya terancam terperangkap ruang dan waktu gelap hingga sampai menjelma menjadi reduksionis besar?”. Karena kekhawatiran yang ada disetiap saya komen di blog elegi-elegi Pak Marsigit yaitu bahasa yang saya gunakan mengandung unsur-unsur yang kurang baik, tetapi saya sudah begitu hati-hati dalam menyusun kalimat demi kalimat yang saya lontarkan. Saya pun tidak tahu seberapa ikhlasnya saya membuat komen ini dan komen-komen yang sudah saya publish. Sekecil inilah bentuk ikhtiar saya.
    Jika saya pernah terkena reduksionis besar, semoga sekarang dan yang akan datang tidak tertimpa hal itu kembali. Dan semakin banyak membaca elegi-elegi Pak Marsigit bisa terbebas dari determinasi buruk, amin.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Terimakasih banyak atas fasilitas yang Bp sediakan sebagai medium untuk kami mempelajari filsafat. Memang tidak saya pungkiri bahwa terkadang dalam berkomentar saya "serta merta dengan enaknya tanpa memikirkannya dan menggunakan bacaan yang relevan, telah membuat pernyataan atau klaim". Ini disebabkan kurangnya referensi/bacaan yang saya miliki, namun saya tidak mau menyerah dengan kekurangan itu, sehingga saya mencoba mengolah pikiran saya untuk memahami dan memberikan komentar semampu saya dari elegi-elegi yang Bp sediakan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini saya minta ma'af jika terdapat komentar saya yg tidak relevan, dan terdapat kesalahan didalamnya. Kesalahan itu semua datang dari diri saya pribadi sedangkan kebenaran datangnya dari sang penciptaan pikiran dan yang maha benar.

    ReplyDelete
  14. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Tidak ada cara cepat mempelajari filsafat karena filsafat tidak dapat dipelajari secara instan. Satu-satunya cara adalah dengan terus membaca. Yang dibaca adalah sumber-sumber yang berupa pemikiran-pemikiran para filsuf yang merentang dari waktu ke waktu. Pemikiran-pemikiran inilah yang nantinya menjadikan seseorang mampu berfilsafat. Oleh karena itu jika kita ingin belajar filsafat, maka kita harus mempelajari pemikiran beberapa filsuf dan bukan hanya pemikiran satu filsuf. Adalah omong kosong jika kita ingin mempelajari filsafat tetapi tidak mempelajari pemikiranpara filsuf. Jika dalam psesi tanya jawab mahasiswa masih mendapatkan nilai rendah bahkan nol berarti tandanya mahasiswa tersebut masih kurang ilmunya. Dengan kata lain masih harus lebih banyak membaca dan membaca.
    Determiniasi adalah menentukan batas sedangkan reduksionism adalah penarikan kesimpulan yang singkat. Dengan kata lain determinis hampir sama dengan reduksionisme. Jika di dalam belajar filsafat seseorang menginginkan cara cepat atau instan ia enggan membeca sumber-sumber filsafat yang berupa pemikiran-pemikiran para filsuf. Sehingga cenderung menginginkan kesimpulan yang singkat dari bacaan-bacaan yang begitu panjang. Hal ini berarti orang tersebut telah melakakukan reduksionisme di dalam belajar filsafat. Dengan kata lain ia juga telah menderminiskan proses belajarnnya.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Ketika selesai membaca elegi tangisan dan nyanyian para filsuf ini, saya merasa elegi ini meminta saya untuk merefleksi diri, jangan-jangan saya termasuk ke dalam golongan reduksionis dan determinis. Tidak dipungkiri, saya merasa pernah menjadi seorang yang reduksionis dan determinis, mempelajari filsafat tanpa membaca karya-karya para filsuf. Tentu memerlukan proses yang panjang agar dapat berfilsafat dengan berlandaskan pada bacaan-bacaan yang relevan atau karya-karya para filsuf. Hal yang harus dilakukan ialah harus terus belajar dan membaca. Membaca elegi-elegi di dalam blog ini sebenarnya merupakan jalan pembuka untuk mempelajari filsafat, karena menurut Prof. Marsigit, ia telah menyisipkan secara implisit pemikiran-pemikiran para filsuf dalam eleg-eleginya. Oleh karena itu, hendaknya kita memahami betul setiap elegi yang ada di blog ini guna meningkatkan dimensi kita menjadi dimensi filsafat.

    ReplyDelete
  17. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Orang yang belajar filsafat harus siap terbebas dari zona nyaman berpikir karena filsafat adalah olah pikit tentang yang ada dan yang mungkin ada. Dengan mempelajari filsafat kita dituntut untuk mensintesis secara seimbang yaitu dengan mencari anti thesis disetiap thesis serta menyesuaikan dengan ruang dan waktu yang benar. Dengan demikian mempelajari filsafat adalah sarana kita untuk terlepas dari pemikiran orang awam. Maka sebenar-benar tips dalam mempelajari filsafat adalah membaca dan terus membaca bacaan terkait pikiran Para Filsuf.

    ReplyDelete
  18. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Setelah membaca Elegi mendengakan Tangisan dan Nyanyian para filsuf ini, saya menjadi mengingat-ingat kembali terhadap apa yang sudah saya tulis pada olom komentar sebelumnya. Apakah yang saya utarakan termasuk Reduksionis dan Determinis?, Jika Iya, permohonan maaf yang bisa saya lakukan, dan terus belajar dengan membaca-membaca dan membaca.
    Dari beberapa elegi yang sudah saya baca memang menimbulkan kebingungaan dari apa yang saya pikirkan, tetapi dari kebingungan tersebut timbul sedikit demi sedikit pemahaman mengenai ilmu filsafat, dari seblumnya tidak tahu menjadi tahu. Elegi yang bapak berikan memang membingunkan bagi saya tetapi juga membantu saya sebagai seorang pemula dalam belajr filsafat.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof.Ketika saya membaca elegi ini, ada rasa bersalah yang mulai menggrogoti hati ini.Elegi ini,seolah-olah ingin mengatakan kepada saya untuk memulai belajar dengan hati yang ikhlas.Hati saya bergejolak tak menentu, apakah saya berada pada ruang dan waktu yang gelap atau malah sebaliknya.Duhai Allah,,, sekali lagi ampuni hamba..

    ReplyDelete
  20. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir, itu yang seringkali saya dengar dalam setiap pertemuan di kelas dengan bapak. Dalam proses berfilsafat kita mnegenal banyak ahli filsafat, hal ini yang bisa kita pelajari dari buku - buku yang ditulis oleh para filsuf tersebut. Namun perkembangan dunia yang begitu majunya sehingga kita diminta untuk selalu melakukan reduksi terhadap pola pikir. Dengan tulisan diata saya membaca banyak tentang filsafat dan bagaimana penggunaanya dala proses berpikir.

    ReplyDelete
  21. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Belajar merupakan hal tidak mudah karena sejatinya seorang pembelajar adalah sabilillah oleh karenanya seseorang yang sedang mencari ilmu merupakan seorang yang sedang jihat memerangi kebodohan diri. Para filusuf meruapak para guru besar yang telah merumuskan sistematika ilmu filsafat serata kita adalah para pembelajar yang mencoba mempelajari pemikiran-pemikiran beliau. Oleh karenanya agar dalam kita belajar filsafat dengan benar tentunya membutuhkan guru agar dalam belajar kita tidak salah arah dan mampu mengikuti alur. Belajar tanpa guru dan menyeleweng di jalan yang tidak tepat bisa membawa kepada kesesatan yakni redusionis dan determinis yang tidak benar. Agar kita belajar di jalan yang tepat maka setiap belajar mari kita mendoakan guru-guru kita dan pemikir-pemikir terdahulu agar kita di beri ridho dalam mempelajari ilmu.

    ReplyDelete
  22. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Setelah membaca elegi ini, saya merasa kena sentilan dari kata-kata yang dituangkan dari elegi mendengarkan tangisan dan nyanyian para filsuf. Tidak saya pungkiri bahwa sering kali mengutarakan pernyataan tidak bersumber dari yang relevan hanya sekedar opini saja. Dan, benar adanya perlakuan tersebut karena kurangnya membaca buku-buku dari filsuf-filsuf. Kita, termasuk saya tidak mau untuk termakan mitos. Dengan demikian sudah wajar saya untuk memulai dan membiasakan membaca buku-buku para filsuf.

    ReplyDelete
  23. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Belajar filsafat artinya adalah belajar untuk mengolah pikir secara mendalam dan luas. Salah satu usaha dan cara kami untuk belajar filsafat adalah berusaha untuk membaca dan memahami segala materi yang ada di blog ini. Akan tetapi hal ini saja masih belum cukup, karena kami seharusnya harus bisa mengembangkan pemikiran apa yang didapat dari mempelajari tulisan-tulisan yang ada di blog ini. Jika kami hanya menerima, apa yang ada tanpa ada usaha untu mengembangkan maka kami sebenarnya telah berlaku “reduksionis dan determinis”, dan hal ini harus dihindari karena dalam belajar filsafat kami harus mempelajarinya secara mendalam dan luas.

    ReplyDelete
  24. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya menyadari bahwa elegi merupakan awal dari pengenalan terhadap filsafat. Memahami elegi bukan berarti telah memahami filsafat. Memahami filsafat bukanlah hal yang mudah. Bahkan membaca elegi saja saya belum tentu paham. Saya masih dalam proses mengenal filsafat, oleh karena itu saya sangat terbantu lewat elegi-elegi yang disediakan di blog ini. Saya menemukannya sebagai sarana belajar filsafat yang asyik.

    ReplyDelete