Oct 21, 2012

Elegi Refleksi Elegi




Mahasiswa:
Maaf Pak, masih banyak hal yang perlu kami tanyakan.


Marsigit:
Silahkan

Mahasiswa:
Lha, apakah yang disebut Filsafat Ilmu? Apa bedanya Filsafat Ilmu dengan Filsafat?

Marsigit:
Filsafat Ilmu mempelajari sumber-sumber ilmu, macam-macam ilmu dan pembenaran ilmu.
Filsafat Ilmu tidak lain tidak bukan adalah Epistemologi itu sendiri.

Mahasiswa:
Apa hubungan antara Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi?

Marsigit:
Ontologi mempelajari hakekat atau makna segala sesuatu. Epistemologi adalah metodenya. Sedangkan Aksiologi adalah normanya. Tiadalah metode berpikir tanpa obyek berpikir. Metode berpikir adalah epistemology, obyek berpikir adalah ontology, maka tiadalah dapat dipisahkan antara epistemology dan ontology.

Mahasiswa:
Apa hubungan antara Filsafat dengan Filsuf?

Marsigit:
Filsafat adalah pikiran para Filsuf. Maka mempelajari Filsafat adalah mempelajari Pikiran Para Filsuf. Adalah omong kosong jika engkau ingin mempelajari Filsafat tetapi tidak mempelajari Pikiran para Filsuf.

Mahasiswa:
Kalau begitu bagaimana aku bisa mempelajari pikiran para Filsuf dalam perkuliahan Bapak?

Marsigit:
Baca dan bacalah referensinya. Sumber Primer adalah Buku-buku karya Filsuf yang berisi pikiran mereka. Sumber Sekunder adalah buku-buku yang berisi Pikiran para Filsuf yang dituturkan oleh orang lain. Demikian ada sumber Tersier, Kuarter dst.

Mahasiswa:
Apa relevansi pikiran Pak Marsigit dalam perkuliahan Filsafat.

Marsigit:
Dalam perkuliahan Filsafat maka mahasiswa perlu mempelajari pikiran para Filsuf. Seorang Dosen Filsafat seperti saya berkewajiban menghadirkan pikiran para Filsuf dengan berbagai cara.

Mahasiswa:
Maksud saya, apakah pikiran Pak Marsigit mencerminkan Filsafat?

Marsigit:
Tidaklah mudah menerima amanah menjadi dosen Filsafat itu. Maka ujilah pikiran-pikiranku itu melalui tulisan-tulisanku dalam Elegi-elegi. Anda sendiri yang kemudian menentukan seberapa jauh pikirankumencerminkan Filsafat.

Mahasiswa:
Kenapa P Marsigit tidak menjelaskan Filsafat secara singkat, padat, gambling sehingga mudah dipelajari? Kemudian, apakah dan bagaimanakah metode mengajar Filsafat yang diterapkan?

Marsigit:
Aku berusaha membelajarkan Filsafat dengan metode filsafat. Aku membiarkan murid-muridku membangun sendiri Filsafatnya. Aku hanya berusaha sekeras mungkin melayani kebutuhan muridku dalam membangun Filsafat. Maka tidaklah aku memberikan Filsafat itu kepada murid-muridku, kecuali anda semua mencari dan membangunnya sendiri.

Mahasiswa:
Mengapa Bapak membuat Blog dan Elegi-elegi?

Marsigit:
Blog adalah teknologi, sedangkan Elegi adalah pikiranku. Jikalau engkau ingin belajar Filsafat kepadaku maka pelajarilah Pikiranku. Pikiranku sudah aku sebarkan di dalam Elegi-elegi.

Mahasiswa:
Paradigma apa yang melatarbelakangi cara Bapak mendidik kami?

Marsigit:
Berdasarkan pengalaman saya, maka dengan ini aku proklamirkan bahwa aku telah menemukan dan mengembangkan Paradigma Belajar sebagai berikut: “Belajar adalah sintesis dari tesis-tesis dan anti-tesis anti tesis dari segala yang ada dan yang mungkin ada dari diriku maupun dari luar diriku yang merentang dalam ruang dan waktu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan, baik secara intensif maupun ekstensif”

Mahasiswa:
Wah saya agak bingung, karena kalimatnya telalu panjang. Singkatnya bagaimana Pak?

Marsigit:
Singkatnya, “Belajar itu kapanpun dan dimanapun secara kontinu”. Itulah relevansi penggunaan Blog, karena Blog akan menjamin dan menfasilitasi anda dapat belajar kapanpun dan di manapun.

Mahasiswa:
Kenapa Pak Marsigit pernah mengatakan bahwa pada akhir perkuliahan malah nantinya mahasiswa tidak bisa mendefinisikan Filsafat?

Marsigit:
Pada akhir kuliah anda akan tahu bahwa ada berbagai macam kebenaran. Jika kebenaran itu satu maka itu Monisme. Jika kebenaran itu mutlak maka itu Absolutisme. Jika kebanaran itu satu maka cukup mudah mendefinisikan Filsafat, yaitu cukup diambil dari sumbernya saja. Jika kebenaran itu banyak itu Pluralisme. Dalam Pluralisme, maka yang ada dan yang mungkin ada berhak mendefinisikan Filsafat. Jika demikian maka engkau tidak bisa hanya mengambil satu atau beberapa dari semuanya itu. Maka anda tak pernah mampu mendefinisikan Filsafat.

Mahasiswa:
Siapakah yang paling berhak mempelajari Filsafat? Apakah orang beragama? Apakah orang kafir boleh mempelajari Filsafat?

Marsigit:
Setiap orang bisa mempelajari Filsafat. Jika orang Islam berfilsafat maka semoga semakin baik ke Islamannya. Jika orang Majusi belajar filsafat maka semakin baik Majusinya. Jika orang Kafir berfilsafat maka mungin semakin Kafirlah dia.

Mahasiswa:
Kapan dan darimana kita mulai dan berhenti belajar Filsafat

Marsigit:
Anda dapat mempelajari Filsafat kapanpun dan dari manapun. Berhenti kapanpun dan di manapun.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling bodhoh itu?

Marsigit:
Orang yang paling bodhoh adalah orang yang sudah merasa jelas.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling pandai itu?

Marsigit:
Orang yang paling pandai bukanlah diriku.

Mahasiswa:
Siapakah orang yang paling seksi?

Marsigit:
Orang yang paling seksi adalah Barack Obama

Mahasiswa:
Siapa orang yang paling berbahaya?

Marsigit:
Orang yang paling berbahaya adalah diriku.

Mahasiswa:
Saya harus bagaimana Pak, karena kemarin tidak ikut ujian?

Marsigit:
Dunia adalah dirimu. Aku hanya menyaksikannya. Hidup ini berkomponen liner ke depan. Maka sabar, tawakal dan berdoalah secara ikhlas untuk menatap masa esokmu.

Mahasiswa:
Nilaiku Test Jawab singkat jelek Pak. Sedangkan Ujian tertulisnya sangat sulit. Terus bagaimana Pak, apakah saya terancam tidak lulus?

Marsigit:
Semua tes dan ujian bermanfaat untuk melihat diri dan introspeksi. Tes yang telah aku laksanakan menunjukkan lemahnya pikiran kita untuk mengetahui segala yang ada danyang mungkin ada di luar pikiranku. Jika demikian maka satu-satunya harapan adalah dengan cara membaca Elegi-elegi secara ikhlas.

Mahasiswa:
Apa yang dimaksud membaca Elegi secara Ikhlas?

Marsigit:
Pahamilah isinya. Bacalah komen-komennya. Sintesiskan pikiran yang lain dan hasilkanlah anti-tesis anti-tesisnya.

Mahasiswa:
Terimakasih Pak.

Marsigit:
Terimakasih kembali. Selamat berjuang. Semoga sukses. Amin.

13 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sama halnya dengan belajar filsafat bahwa dalam suatu pembelajaran dapat dilakukan dengan berbagai metode. Terdapat beberapa metode untuk memahami filsafat, salah satunya dengan membaca berbagai elegi-elegi seperti yang ada pada blog ini. Dalam blog ini, terdapat berbagai elegi-elegi dan buah pemikiran para filusuf. Dengan membaca dan memahaminya diharapkan seorang mahasiswa sedikit banyak telah memiliki pengetahuan filsafat. Kitan ketahui bahwa filsafat itu berpikir dalam sedalam-dalamnya dan luas seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Refleksi adalah sebuah kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar berupa penilaian tertulis maupun lisan (umumnya tulisan) oleh anak didik kepada guru/dosen, berisi ungkapan kesan, pesan, harapan serta kritik membangun atas pembelajaran yang diterimanya. Bahasa yang paling sederhana dan mudah dipahami adalah refleksi ini sangat mirip dengan curhatan anak didik terhadap guru/dosennya tentang hal-hal yang dialami dalam kelas sejak dimulai hingga berakhirnya pembelajaran. Komen di blog pak Marsigit merupakan salah satu bentuk refleksi filsafat pak Marsigit.

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi saya bisa memahami filsafat bapak prof. Marsigit. Dari elegi pula banyak pelajaran yang di dapat mengenai hidup ini dan keadaan dunia saat ini. Dan banyak lagi manfat-manfaat yang terkandung dalam elegi-elegi tesebut. Namun ada pula pertanyaan yang muncul di kepala saya setelah membaca beberapa elegi. Contohnya pada elegi di atas. Ketika mahasiswa bertanya “Siapakah orang yang paling seksi?”. Mengapa Bapak menjawab, “Orang yang paling seksi adalah Barack Obama?”

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPS Pendidikan Matematika C

    Ilmu itu ibarat langit yang begitu luas tanpa kita sebagai manusia tahu batasnya. Maka sebenar-benar orang bodoh adalah orang yang sudah merasa jelas. Karena itulah sebagai manusia kita harus menyadari bahwa ilmu yang kita miliki tidaklah seberapa. Kita tidak boleh sombong akan ilmu yang sudah kita miliki karena sebenar-benar manusia yang bodoh adalah manusia yang sudah merasa jelas dan cukup ilmunya. Maka sebenar-benar orang yang sombong inilah orang yang bodoh karena orang yang demikian ini telah tertutup ilmunya dengan kesombongan.

    ReplyDelete
  5. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Semakin tertampar. "Membaca elegi dengan ikhlas, Pahamilah isinya. Bacalah komen-komennya. Sintesiskan pikiran yang lain dan hasilkanlah anti-tesis anti-tesisnya.". Satu lagi, "orang yang bodoh adalah mereka yang merasa jelas."

    Dua hari kemarin, saya membaca elegi sebatas membaca saja, jauh dari kata ikhlas (bisa disimpulkan, saya belum memahami isinya. Apalagi mensintesiskan pikiran yang lain. Dan tentu saja belum mampu menghasilkanlah anti-tesis anti-tesisnya. Lantas apa yang saya lakukan dua hari kemarin? Formalitas?. Ya Tuhan, ampuni saya, saya akan mencoba, saya akan berusaha.

    Pernah juga, baru membaca sedikit bacaan, atau bahkan baru membaca 10 postingan bapak, saya seringkali sudah mencoba menyimpulkan, mungkin saja merasa jelas. Ya Tuhan, ampuni saya.

    ReplyDelete
  6. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY
    1. Terimakasih Pak Marsigit, karena membaca postingan di atas saya jadi mengerti beberapa istilah seperti:
    Ontologi --> Mempelajari hakikatnya (objeknya)
    Epistemologi --> Metode berpikirnya
    Aksiologi --> Normanya
    Monisme --> Kebenaran yang hanya satu
    Absolutisme --> Kebenaran mutlak
    2. Selain itu, postingan di atas memberikan pesan bagi saya sendiri bahwa mempelajari filsafat itu harus mempelajari pikiran para filsuf (sumber primer). Jika kita tidak dapat bertatap muka langsung dengan para filsuf, maka kita dapat membaca beberapa buku, artikel, dan lain-lain sebagai sumber sekunder, tertier, dan seterusnya.

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Filsafat itu didalamnya ada beberapa aspek yaitu ontologi yang berarti hakikat, epistemologi itu metodenya, aksiologi adalah normanya. Itu semua tidak dapat dipisahkan. Hal ini menunjukkan bahwa filsafat itu ada setiap saat kita berpikir. Semua hal di dunia itu saling terhubung. Karena pola pikir, maka dalam belajar filsafat harus memperkuat hati kita. Karena jika tidak pikiran kita/ideologi kita akan terpengaruh oleh yang kita pelajari. Sehingga berdoa sebelum belajar itu penting. Selain itu, orang yang menganggap sudah jelas maka itu mitos/berhenti. Karena sesungguhnya orang yang berilmu itu tidak pernah merasa sudah jelas, karena akan banyak pertanyaan yang akan muncul dalam hidup.

    ReplyDelete
  8. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca postingan ini dapat memberikan gambaran pada diri saya sudah sejauhmana kualitas yang ada dalam diri saya. Menurut saya metode belajar filsafat bersifat flexible. Hal ini dikarenakan segala sesuatunya dapat dilihat berdasarkan sudut pandang ilmu filsafat. Ini juga mencerminkan bahwa adanya tembusan pada ruang dan waktu dalam filsafat. Kita dapat belajar dimanapun dan kapanpun. Sungguh sangat disayangkan jika seseorang menyia-nyiakannya. Akses untuk mendapatkan ilmu saat ini begitu mudah.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Menurut pendapat saya, mempelajari filsafat ilmu tidak bisa dilakukan secara instan. Karena filsafat berasal dari pemikiran para filsuf yang tidak sedikit jumlahnya. Seperti ulasan Bapak pada elegi di atas, bahwa sesugguhnya mempelajari filsafat adalah mempelajari pikiran-pikiran para filsuf. Metode filsafat yang Bapak terapkan saat ini semakin membuka pemikiran saya bahwa belajar tidak terbatas pada ruang dan waktu serta dilakukan secara kontinu. Media blog ini merupakan sarana dari pikiran Bapak yang tertuang dalam Elegi-Elegi. Hati yang ikhlas dalam membaca kemudian memberi komentar juga diperlukan agar dalam proses mempelajari filsafat ilmu tidak sia-sia.

    ReplyDelete
  10. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak atas fasilitas untuk kami belajar dengan metode dan teknologi yang dapat memudahkan kami untuk belajar dimanapun dan kapanpun. Saya belajar bahwa belajar harus dilakukan terus menerus. Belajar harus dengan keikhlasan dan ketulusan hati untuk mencari ilmu. Jangan pernah berpuas diri untuk mencari ilmu dan berhenti karena merasa cukup. Belajar dapat menggunakan berbagai sumber baik primer, sekunder, tersier dan yang lainnya.

    ReplyDelete
  11. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Terimakasih sebelumnya pak, saya sekarang menjadi lebih giat dalam membaca, karena saya mengetahui arti penting dari membaca. Dengan membaca banyak kita bisa menulis. Dunia pendidikan adalah dunia yang tidak jauh dari menulis, membaca dan berbicara. Kegiatan refleksi elegi membuat saya sebisa mungkin mengatur waktu agar segala tugas-tugas dapat terselesaikan tepat waktu tanpa menjadi beban yang memberatkan. Elegi-elegi bapak membukakan pikiran saya lebih dalam, untuk mengetahui apa yang tidak dan belum diketahui.

    ReplyDelete
  12. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah,
    Terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Menjadi pembelajar filsafat bukanlah suatu paksaan, karena ini takdir. Kesempatan yang langka bagi saya bisa belajar filsafat dengan dosen yang luar biasa tinggi ilmunya seperti bapak. Meski saya belum mengerti apakah filsafat pada diri saya telah saya bangun atau saya hanya membaca dan lalu melupakan. Yang jelas, ketika saya membaca elegi-elegi bapak saya merasa jadi tahu akan hal-hal yang belum saya ketahui. Metode dan teknologi pembelajaran filsafat juga sangat relevan. Meski sampai saat ini saya harus selalu melawan nafsu agar menggapai kata ikhlas dan tulus dalam mempelajari filsafat, namun saya yakin saya harus banyak belajar dan terus belajar agar apa yang serap dari membaca elegi-elegi bapak tidak sia-sia.

    ReplyDelete
  13. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Saya merasa tersindir lagi oleh elegi ini. Kemarin, hanya baru membaca beberapa elegi saja saya sudah merasa jelas mengenai objek-objek tertentu, padahal sebenar-benar orang yang merasa jelas adalah orang yang bodoh. Saya merasa malu sekali. Ketika kita sudah merasa jelas terhadap sesuatu, sebenarnya itu menghalangi kita untuk menggali lebih dalam sebuah pengetahuan, padahal apa yang sudah kita ketahui itu mungkin hanya permukaannya saja, atau bahkan belum sampai ke permukaannya. Maka itulah sebenar-benarnya mitos yang harus kita hindari.

    ReplyDelete