Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

16 comments:

  1. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Filsafat digunakan untuk menyebut berbagai pertanyaan yang muncul dalam pikiran manusia tentang berbagai kesulitan yang dihadapinya, serta berusaha untuk menemukan solusi yang tepat. Plato mendefinisikan filsuf sebagai orang yang mampu melihat alam kosmik secara menyeluruh sekaligus menguasai zaman secara menyeluruh pula.

    ReplyDelete
  2. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Dari elegi di atas, kita dapat mengetahui pentingnya belajar filsafat. Orang yang telah belajar filsafat dapat memikirkan sacara sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya mengenai yang ada dan yang mungkin ada. Salah satu hasil yang kita peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hati, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan. Sehingga orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  3. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    "Elegi Menanggapi Purnakata". Ya begitulah judul postingan ini. Terimakasih sekali saya ucapkan, karena selepas membaca postingan ini saya merasa semakin jauh dengan "purnakata". Oleh krena itu ijinkanlah saya melanjutkan membaca tulisan-tulisan bapak yang lainnya. Terimakasih sekali lagi

    ReplyDelete
  4. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Kita memikirkan apa yang kita bisa kita pikirkan, aku dapat mengatakan tentang sesuatu hal karena dipikiranku ada sesuatu hal tersebut. Maka filsafat itu adalah refleksi dari semua kehidupan kita. Karena filsafat itu adalah olah pikir dan kita tidak bisa memikirkan apa yang diluar pikiran kita. Sehingga tanpa sadar setiap saat itu kita sedang berfilsafat, karena kita berpikir. Kemudian diterjemahkan dan berakibat pada perbuatan kita. Yang terpenting dalam berfikir sebaiknya disesuaikan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai purnakata kurang lebih menjelaskan bahwa nantinya meskipun kita telah selesai mengikuti perkuliahan Bapak Marsigit, namun ilmu ilmu yang diberikan tidak akan pernah hilang. Meskipun kita tidak lagi belajar di dalam kelas, namun kita masih bisa mengikuti/membaca postingan Bapak di Blog ini. Salah satu perolehan dari belajar filsafat ini adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan, dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang akan kita miliki setelah belajar filsafat nantinya. Sehingga kita akan senantiasa selalu berusaha meningkatkan dimensi pikiran dan hati dengan cara menerjemahkan dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak atas fasilitas yang diberikan untuk belajar. Saya sangat bersyukur kepada Allah SWT telah diberikan kesempatan untuk belajar salah satunya belajar filsafat. Saya menyadari bahwa banyak sekali ketidaktahuan saya dan kurangnya ilmu yang belum saya pelajari. Dari penjelasan Bapak, bahwa filsafat adalah pikiranku, filsafat adalah ilmuku, filsafat adalah terjemah menterjemahkan. Belajar filsafat adalah melakukan refleksi agar dapat menyadari ketidaktahuan dan masih perlunya terus belajar dan mencari ilmu. Manusia telah diberikan keistimewaan berupa akal dan hati oleh Allah SWT, untuk mensyukuri pemberian dari Allah SWT maka hendaknya menggunakan akal untuk berpikir dan terus berpikir. Berpikir tentang segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Juga menggunakan hati untuk mengontrolnya. Sehingga dalam berpikir, tetap harus berpegang teguh pada agama dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  7. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi ini memberi pesan bahwa filsafat itu ada dalam keseharian manusia. Kemampuan berfilsafat manusia akan berkembang seiring tumbuh kembang manusia, seiring kemajuan teknologi, seiring majunya peradaban. Sehingga filsafat tidak hanya sebatas perkuliahan satu kali seminggu digedung pasca, bukan juga sebatas memberi comment pada artikel-ertikel di blog ini. Filsafat sejatinya mengalir bersama dengan aliran kehidupan ini.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi menggapai purnakata ini menurut saya menggambarkan bagaimana Prof. Marsigit dapat menjelaskan apa itu filsafat, apa hubungan filsafat dengan pendidikan matematika, dan bagaimana filsafat dalam kehidupan sehari-hari dengan kalimat atau kata-kata yang sungguh mendalam. Filsafat memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun. Itulah yang telah dilakukan oleh Prof. Marsigit di dalam elegi ini. Memikirkan sesuatu sedalam mungkin dan menjelaskan bagaimana sesuatu itu dengan menggunakan kalimat-kalimat atau kata yang mungkin tidak terfikirkan oleh orang lain. Saya rasanya belum mampu untuk menjelaskan sesuatu dengan menggunakan filsafat, sungguh ilmu yang dimiliki belum ada seperbagiannya. Oleh karena itu saya harus lebih banyak belajar dan membaca lagi agar suatu saat dapat berfilsafat dengan baik.

    ReplyDelete
  9. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi in adalah salah satu elegi yang paling menarik bagi saya karena sacara tak langsung dalam elegi ini Bapak Marsigit menyampaikan amanat-amanat. Bapak mengarahkan kami dalam bertindak secara tepat baik sebagai seorang siswa maupun sebagai calon pendidik matematika. Elegi ini juga mengingatkan harapan pendidik yang tidak menginginkan siswanya terjebak di bawah telapak tangannya namun yang mereka harapkan adalah ilmu yang diajarkan mampu mengembangkan kreativitas siswa-siswanya dan menjadikan siswa sebagai pribadi yang berpikir kritis dan mampu menterjemahkan dan diterjemahkan semua yang ada dan yang mungkin ada sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Maka hal yang akan terus menjembatani antara guru dan siswa adalah ilmu. Dengan demikian saya semakin menyadari bahwa belajar filsafat adalah sarana bagi saya untuk menggali ilmu lebih dalam dan mencapai daya kritis sehingga meningkatkan sensitive dan kelak mampu memberikan penjelasan-penjelasan terkait pendidikan matematika.

    ReplyDelete
  10. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Elegi untuk kesekian kalinya saya banyak mendapatkan pelajaran dan pesan-pesan dari apa yang bapak sampaikan. Kali ini pesan yang diberikan lebih mengarah kepada seorang guru. Guru memang lah mempunyai tugas yang sanagat berat, karena setiap ilmu yang disalurkan kepada murid-muridnya itu adalah tanggung jawab yang harus dipegang. Dengan membaca elegi ini saya mendapatkan pesan mengenai seorang tenaga pengajar yang seharusnya itu seperti apa. Semoga apa yang saya dapatkan bisa saya terapakan kelak. Aamiin.

    ReplyDelete
  11. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimaksih banyak sebelumnya Pak prof.Kehadiran elegi ini membuat saya semakin sadar untuk lebih mecoba belajar memahami filsafat walau masih terlampau jauh. Petikan kata –kata ini yang selalu dinasehatkan Bapak di dalam kelas yang dapat menjadi bahan renungan buat saya pribadi
    “Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.”.
    Yang tidak kalah pentingnya di dalam memahami filsafat terdapat dua hal tentang olah pikir dan olah hati.Jika pikiran kita kacau maka ada hati yang menjadi rem untuk mengendalikannya.

    ReplyDelete
  12. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Elegi menggapai purnakata, seolah-olah menggambarkan akhir dari sebuah perjalanan elegi. Setiap elegi mempunyai keistiewaan masing-masing. Semoga dengan mempelajari berbagai macam elegi, kita bisa menerapkan ke dala keseharian kita, supaya kita lebih bijak dalam mencari ilmu dan menyelesaikan setiap permmaslahan.

    ReplyDelete
  13. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Istilah purnakata menggambarkan berakhirnya elegi-elegi yang telah di tulis. Pernakata elegi bukan berarti hangus atau hancurnya elegi tersebut namun purnakata elegi membawa ilmu baru , bacaan baru dan makna baru dalam belajar filsafat. Filsafat ada;ah ilmuku , filsafat adalah pikiranku dan filsafat adalah bagaimana kita mampu untuk mendefiniskan sesuai ruang dan waktu. Oleh karenanya kita harus senantiasa tetap membaca-membaca dan belajar secara kamil karena Prof pernah menyampaikan bahwa dalam belajar kita tidak boleh sepotong-potong, karena belajar yang seperti ini dapat menimbulkan sahah pemahaman. Terima Kasih

    ReplyDelete
  14. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, inti dari filsafat adalah berpikir dan olah pikir. Objek dari filsafat adalah segala hal yang ada dan yang mungkin ada. Ketika seseorang mempelajari filsafat harus mempelajari secara utuh dan tidak sepotong-sepotong. Karena dengan mempelajari filsafat secara sepotong-sepotong akan mengakibatkan kesesatan dalam pemahaman dan salah persepsi. Hal yang demikian adalah sangat berbahaya bagi pemikiran seseorang.

    ReplyDelete
  15. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi menggapai purnakata ini menyampaikan kepada pembaca mengenai filsafat yang merupakan olah pikir sang filsuf itu sendiri. Saya tertarik dengan pembahasan mengenai perbedaan matematika dengan filsafat matematika. Matematika merupakan suatu kepastian namun filsafat matematika merupakan pandangan sesorang mengenai yang pasti tersebut dengan pandangan yang kritis. Tidak hanya pada satu sisi saja namun dari sisi yang lain juga. Belajar filsafat menurut saya membukakan pikiran agar tidak berpikiran sempit dengan suatu hal. Belajar filsafat menambahkan wawasan yang sebelumnya tidak menyadari hal tersebut penting menjadi perhatian dan menjadikan sesuatu yang dianggap kurang penting menjadi sesuatu yang menarik dan dapat dipetik manfaat atau kebaikannya.

    ReplyDelete
  16. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Filsafat adalah refleksi diri. Saya selalu merasa mendapatkan sesuatu setelah selesai kuliah filsafat. Mungkin hal ini terjadi karena saya melakukan banyak refleksi diri. Terimakasih atas kesempatan melakukan refleksi diri, Pak.. baik lewat elegi maupun lewat perkuliahan di kelas.

    ReplyDelete