Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Purnakata




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Wahai para elegi, berat rasanya aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.


Para elegi:
Wahai orang tua berambut putih, janganlah engkau merasa ragu untuk menyampaikan sesuatu kepadaku. Berbicara lugaslah kepadaku, jangan sembunyikan identitasmu, dan jangan sembunyikan pula maksudmu.

Orang tua berambut putih:
Sudah saatnya aku menyampaikan bahwa saatnya kita berpisah itu juga sudah dekat. Mengapa? Jika aku terlalu lama dalam elegi maka bukankah engkau itu akan segera menjadi mitos-mitosku. Maka aku juga enggan untuk menyebut sebagai orang tua berambut putih. Aku juga ingin menanggalkan julukanku sebagai orang tua berambut putih. Bukankah jika engkau terlalu lama menyebutku sebagai orang tua berambut putih maka engkau juga akan segera termakan oleh mitos-mitosku. Ketahuilah bahwa orang tua berambut putih itu adalah pikiranku. Sedagkan pikiranku adalah diriku. Sedangkan diriku adalah Marsigit. Setujukah?

Para elegi:
Bagaimana kalau aku katakana bahwa Marsigit adalah pikirannya. Sedangkan pikirannya adalah ilmunya. Sedangkan ilmunya itu adalah orang tua berambut putih.

Marsigit:
Maafkan aku para elegi, bolehkah aku minta tolong kepadamu. Aku mempunyai banyak murid-murid. Apalagi mereka, sedangkan engkau pula akan segera aku tinggalkan. Maka murid-muridku juga akan segera aku tinggalkan. Mengapa aku akan segera meninggalkanmu dan meninggalkan murid-muridku? Itulah suratan takdir. Jika para muridku mengikuti jejakku maka dia melakukan perjalanan maju. Sedangkan jika aku tidak segera meninggalkan muridku maka aku aku akan menghalangi perjalanannya. Aku harus member jalan kepada murid-muridku untuk melenggangkan langkahnya menatap masa depannya.

Mahasiswa:
Maaf pak Marsigit. Saya masih ingin bertanya. Bagaimanakah menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari?

Marsigit:
Filsafat itu meliputi semuanya yang ada dan yang mungkin ada. Padahal dirimu itu termasuk yang ada. Maka dirimu itu adalah filsafat. Seangkan kehidupan sehari-hari itu juga meliputi yang ada dan yang mungkin ada, maka kehidupan sehari-hari itu adalah filsafat. Sedangkan pertanyaanmu itu disampiang telah terbukti ada, maka pertanyaan itu adalah awal dari ilmumu. Maka untuk menerapkan filsafat dalam kehidupan sehari-hari gunakanlah metode menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, apakah sebenarnya filsafat pendidikan matematika itu? Dan apa bedanya dengan filsafat matematika? Dan apa pula bedanya dengan matematika?

Marsigit:
Pengertian matematika itu ada banyak sekali, sebanyak orang yang memikirkannya. Secara implicit, menurut Socrates matematika adalah pertanyaan, menurut Plato matematika adalah ide, menurut Arstoteles, matematika adalah pengalaman, menurut Descartes matematika adalah rasional, menurut Kant matematika adalah sintetik a priori, menurut Hegel matematika itu mensejarah, menurut Russell matematika adalah logika, menurut Wittgenstain matematika adalah bahasa, menurut Lakatos matematika adalah kesalahan, dan menurut Ernest matematika adalah pergaulan.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, tetapi aku tidak pernah menemukan semua ungkapanmu itu dalam buku-buku referensi primer?

Marsigit:
Ungkapan-ungkapanku itu adalah kualitas kedua atau ketiga. Kualitas kedua atau ketiga itu merupakan hasil refleksi. Filsafat adalah refleksi. Jadi hanya dapat diketahui melalui kajian metafisik.

Mahasiswa:
Apa pula yang dimaksud metafisik?

Marsigit:
Metafisik adalah setelah yang fisik. Maksudnya adalah penjelasanmu tentang segala sesuatu. Jadi jika engkau sudah berusaha menjelaskan sesuatu walaupun sangat sederhana, maka engkau telah melakukan metafisik. Maka dirimu itulah metafisik.

Mahasiswa:
Lalu apa bedanya matematika dengan filsafat matematika?

Marsigit:
Untuk matematika 3+5 = 8 itu sangat jelas dan final, dan tidak perlu dipersoalkan lagi. Mengapa karena matematika itu adalah meneliti. Jadi 3+5=8 itu dapat dipandang sebagai hasil penelitian matematika yang sangat sederhana dan terlalu sia-sia untuk mempersoalkan. Tetapi bagi filsafat kita berhak bertanya mengapa 3+5=8. Mengapa? Karena filsafat itu refleksi. Ketahuilah 3+5=8 itu, bagi filsafat, hanya betul jika kita mengabaikan ruang dan waktu. Tetapai selama kita masih memperhatika ruang dan waktu maka kita bias mempunyai 3 buku, 3 topi, 3 hari, dst…5 pensil, 5 pikiran, 5pertanyaan, dst…Maka kita tidak bisa mengatakan 3pensil +5 topi = 8 topi, misalnya.

Mahasiswa:
Lalu apa relevansinya mempelajari filsafat dengan pendidikan matematika?

Marsigit:
Pendidikan itu dapat diibaratkan sebagai gerbong kereta api. Demikian juga pendidikan matematika. Filsafat itu dapat diibaratkan sebagai helicopter pengawal gerbong KA. Para pendidik, atau guru atau praktisi kependidikan jika tidak pernah mempelajari filsafat pendidikan atau filsafat pendidikan matematika, mereka itu ibarat penunmpang KA tersebut. Maka bagaimana mungkin penumpang KA bisa mengetahui semua aspek sudut-sudut gerbong KA dalam perjalanannya. Maka filsafat pendidikan matematika itu ibarat seorang penumpang KA itu keluar dari gerbong KA an kemudian naik helicopter untuk mengikuti dan memonitor laju perjalanan KA itu. Maka orang yang telah mempelajari filsafat pendidikan matematika jauh lebih kritis dan lebih dapat melihat dan mampu mengetahui segala aspek pendidikan matematika.

Mahasiswa:
Aku bingung dengan penjelasanmu itu. Bisakah engkau memberikan gambaran yang lebih jelas?

Marsigit:
Filsafat itu adalah refleksi. Maka filsafat pendidikan matematika adalah refleksi terhadap pendidikan matematika, meliputi refleksi terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Padahal pendidikan matematika itu meliputi guru, matematika, murid, ruang, kegiatan, alat dst..banyak sekali. Padahal guru itu mempunyai sifat yang banyak sekali. Jadi ada banyak sekali yang perlu direfleksikan. Maka dalam filsafat pendidikan matematika, tantanganmu adalah bagaimana engkau bisa memperbincangkan semua obyek-obyeknya. Maksud meperbincangkan adalah menjelaskan semua dari apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika. Jelaskanlah apa arti bilangan phi? Jelaskanlah apa hakekat siswa diskusi? Jelaskan apa hakekat LKS? Jelaskan apa hakekat media pembelajaran matematika? Itu semua merupakan pekerjaan filsafat pendidikan matematika? Maka bacalah elegi-elegi itu semua, maka niscaya engkau akan bertambah sensitive terhadap pendidikan matematika. Sensitivitasmu terhadap pendidikan matematika itu merupakan modal dasar bagi dirimu agar mampu merefleksikannya.

Mahasiswa:
Apakah filsafat itu meliputi agama?

Marsigit:
Filsafat itu olah pikir. Sedangkan agama itu tidak hanya olah pikir tetapi meliputi juga olah hati. Pikiranku tidak dapat memikirkan semua hatika. Artinya filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinanku.

Mahasiswa:
Apa yang engkau maksud dengan jebakan filsafat?

Marsigit:
Jebakan filsafat itu artinya tidak ikhlas, tidak sungguh-sungguh, palsu, menipu, pura-pura, dsb. Maka jika engkau mempelajari filsafat hanya untuk mengejar nilai, itu adalah jebakan filsafat. Jika para guru peserta pelatihan, kemudian enggan melaksanakan hasil-hasil pelatihan setelah selesai pelatihan, itu adalah jebakan filsafat. Jika engkau pura-pura disipli maka itu jebakan filsafat. Maka bacalah lagi elegi jebakan filsafat.

Mahasiswa:
Apa pantangan belajar filsafat?

Marsigit:
Belajar filsafat itu tidak boleh sepotong-sepotong. Kalimat-kalimat filsafat juga tidak bisa diambil sepenggal-penggal. Karena jika demikian maka tentu akan diperoleh gambaran yang tidak lengkap. Pantangan yang lain adalah jangan gunakan filsafat itu tidak sesuai ruang dan waktunya. Jika engkau bicara dengan anak kecil perihal hakekat sesuatu maka engkau itu telah menggunakan filsafat tidak sesuai dengan ruang dan waktunya.

Mahasiswa:
Apa tujuan utama mempelajari filsafat?

Marsigit:
Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk bisa menjadi saksi. Mempelajari filsafat pendidikan matematika untuk menjadi saksi tentang pendidikan matematika. Tidaklah mudah menjadi saksi itu. Jika ada seminar tentang pendidikan matematika, tetapi engkau tidak ikut padahal mestinya engkau bisa ikut, maka engkau telah gagal menjadi saksinya pendidikan matematika. Itu hanyalah satu contoh saja. Jika ada perubahan kurikulum tentang pendidikan matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu padahal engkau mestinya bisa, maka engkau telah kehilangan kesempatanmu menjadi saksi. Jika ada praktek-praktek pembelajaran matematika yang tidak sesuai dengan hakekat matematika dan engkau tidak menyumbangkan pemikiranmu maka engkau telah gagal menjadi saksi. Dst.

Mahasiswa:
Wahai Pak Marsigit, kenapa engkau melakukan ujian-ujian untuk kuliah filsafat pendidikan matematika? Padahal aku sangat ketakutan dengan ujian-ujian.

Marsigit:
Ujian itu ada dan jika keberadaannnya tersebar sampai kemana-mana untuk berbagai kurun waktu maka mungkin ujian itu termasuk sunatullah. Maka aku mengadakan ujian itu juga dalam rangka menjalani suratan takdir. Padahal bagiku tidaklah mudah untuk mengujimu, karena akan sangat berat mempertangungjawabkannya.

Mahasiswa:
Kenapa bapak kelihatan berkemas-kemas mau meninggalkanku?

Marsigit:
Aku tidak bisa selamanya bersamamu. Paling tidak itu fisikku, tenagaku, energiku, ruangku dan waktuku. Tetapi ada hal yang tidak dapat dipisahkan antara aku dan engkau, yaitu ilmuku dan ilmumu. Diantara ilmuku dan ilmuku ada yang tetap, ada yang sama, ada yang. Tetapi komunikasi kita tidak hanya tentang hal yang sama. Kita bisa berkomunikasi tentang kontradiksi kita masing-masing dan kebenaran kita masing-masing.

Mahasiwa:
Apa bekalku untuk berjalan sendiri tanpa kehadiranmu?

Marsigit:
Ketahuilah bahwa akhir dari pertemuan kita dalam ruang dan waktu yang ini, adalah awal dari perjuangan kita masing-masing. Engkau semua akan memasukki hutan rimbanya kehidupan yang sebenarnya di masyarakat, khususnya masyarakat pendidikan matematika. Ketahuilah salah satu hasil yang engkau peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang engkau miliki. Selalu berusaha tingkatkanlah dimensi pikiran dan hatimu, dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan.

Mahasiswa:
Bagaimana tentang elegi-elegimu itu?

Marsigit:
Bacalah elegi-elegi itu. Itu adalah karya-karyaku yang semata-mata aku berikan kepadamu. Tetapi bacalah elegi-elegi dengan daya kritismu, karena engkau telah paham bahwa setiap kata itu adalah puncaknya gunung es. Maka sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu tentang kata-kata itu.

Mahasiswa:
Bagaimana dengan elegiku?

Marsigit:
Buatlah dan gunakan elegi itu sebagai latihan untuk memperbincangkan yang ada dan yang mungkin ada. Tetapi gunakan dia itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Sebenar-benar tantanganmu itu bukanlah elegi, tetapi adalah kemampuanmu menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada dari pendidikan matematika. Sedangkan tugasmu adalah bagaimana murid-muridmu juga mampu mengetahui dan menjelaskan yang ada dan yang mungkin ada dari matematika sekolah yang mereka pelajari. Jika engkau ingin mengetahui dunia, maka tengoklah pikiranmu. Maka dunia matematika itu adalah pikiran siswa. Jadi matematika itu adalah siswa itu sendiri. Motivasi adalah siswa itu sendiri. Apersepsi adalah siswa itu sendiri. Maka berhati-hatilah dan bijaksanalah dalam mengelola tugas-tugasmu. Tugas-tugasmu adalah kekuasaanmu. Maka godaan yang paling besar bagi orang yang berkuasa adalah menggunakan kekuasaanmu. Padahal sifat dari kekuasaanmu itu selalu menimpa dan tertuju kepada obyek kekuasaanmu. Siapakah obyek kekuasaanmu itu. Tidak lain tidak bukan adalah murid-muridmu. Tiadalah daya dan upaya bagi murid-muridmu itu dalam genggaman kekuasaanmu kecuali hanya bersaksi kepada rumput yang bergoyang. Tetapi ingatlah bahwa suara rumput itu suara Tuhan. Maka barang siapa menyalahgunakan kekuasaan, dia itulah tergolong orang-orang yang berbuat dholim. Maka renungkanlah.

Mahasiswa:
Terimakasih pak Marsigit.

Marsigit:
Maafkan jika selama ini terdapat kesalahan dan kekurangan. Pakailah yang baik dariku, dan campakkan yang buruk dariku. Semoga kecerdasan pikir dan kecerdasan hati senantiasa menyertaimu. Semoga kita semua selalu mendapat rakhmat dan hidayah dari Allah SWT. Amien. …Selamat berjuang.

28 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Elegi ini seperti perpisahan kita dengan mata pelajaran filsafat. Pesan yang sangat luar biasa dari prof marsigit. Elegi ini tidak hanya berhenti disini saja, karena bagi saya yang sudah membaca beberapa postingan tidak lebih akan mendapatkan hikmah dari apa yang sudah prof tuliskan. Sebelumnya saya mengucapkan terimakasih karena sudah berbagi ilmu yang sangat luar biasa. Dengan tidak sadar, membaca elegi dan postingan di blog ini yang penuh dengan bahasa analog, akan mengubah pola pikir saya jauh lebih kritis dari sebelumnya. Semoga, kesomobongan tidak menutupi hai dan pikiran saya.

    ReplyDelete
  2. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Awal pasti ada akhir. Pertemuan pasti ada perpisahan, tetapi perpisahan dalam filsafat hanyalah pisah secara fisik, tenaga, energe, ruang dan juga waktu. Sedangkan ilmu yang telah diperoleh antara Pak Marsigit dan mahasiswa-mahasiswanya tidak akan bisa terpisahkan. Terimakasih banyak Pak sudah mengajarkan banyak ilmu yang sangat berharga dan tidak ada duanya di dunia ini. Dari yang Bapak sampaikan juga bahwa tujuan dari mempelajari filsafat sangatlah banyak sekali dari mulai kemerdekaan dalam berpikir, kemandirian, keterampilan dan daya kritis, serta keteguhan hati. Itulah bekal yang Bapak berikan kepada seluruh mahsiswa-mahasiswanya untuk menghadapi kehidupannya, baik kehidupan menjadi seorang pendidik maupun kehidupan sehari-harinya, karena tantangan dalam segala kehidupan di dunia ini adalah bagaimana kita sebagai mahasiswa yang memehami filsafat untuk bisa menjelaskan dan menterjemahkan sekaligus diterjemahkan semua yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Filsafat itu adalah olah pikir. Maka sebenarnya kita harus berhati-hati menggunakan filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Yang harus kita gunakan dalam filsafat bukan kulit luar dari filsafat, tetapi bagaimana filsafat dapat tercermin dari pola pikir dan tingkah laku kita. Sebagaimana dalam peran kita sebagai guru nantinya, filsafat yang kita gunakan bukan semata-mata elegi-elegi, tetapi apa yang kita pelajari dalam elegi. Seperti bagaimana sebagai seorang guru agar kita tidak menggunakan kekuasaan kita sebagai subjek kepada siswa-siswa kita sebagai objek.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dengan belajar filsafat, kita sebagai mahasiswa pendidikan matematika akan lebih memahami apa sebenarnya yang terkandung dalam matematika itu, mengapa matematika itu bisa membentuk pola pikir kita, bagaimana kita mengajarkan matematika itu kepada siswa, serta siapa yang telah menemukan formula dalam matematika itu.

    ReplyDelete
  5. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi ini menggambarkan perpisahan atas filsafat secara formal namun terus berlanjut di dalam pemikiran. Dalam kacamat filsafat, perpisahan bukanlah akhir namun perpisahan merupakan wujud dari refleksi sebuah pemikiran. Berpisah dalam filsafat berarti memulai untuk berpikir dan merenung. Filsafat akan terus ada selama kita tetap berpikir. Mengutip ungkapan popular seorang filsuf René Descartes, Cogito ergo sum. Bahwa eksistensi berfilsafat bukanlah diukur secara formal saja, melainkan dari pemikiran.

    ReplyDelete
  6. Latifah Fitria
    17709251055
    PMC S2

    Filsafat adalah pikiran kita. Filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinan kita, sehingga filsafat itu tidak termasuk agama karena tidak hanya mencakup pikiran kita, tetapi juga hati kita. Filosofinya adalah refleksi. Purnakata, purna adalah usai atau sudah atau berpisah. Perpisahan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Bila sudah waktunya, maka perpisahan itu akan terjadi. Dengan adanya perpisahan, bukan berarti upaya kita untuk belajar berhenti tetapi harus semangat demi menggapai tujuan dan impian.

    ReplyDelete
  7. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Benar sekali seperti yang telah diungkapkan diatas. Bahwa belajar filsafat berarti belajar olah pikir, terjemah dan menterjemahkan sesuai dengan ruang dan waktunya, dan juga belajar untuk berfikir kritis. Setelah selama ini belajar filsafat, maka akan tiba waktunya untuk berpisah. Namun berpisah disini dimaksudkan agar ilmu yang telah dipelajari dapat terus diamalkan, selain itu para mahasiswa dapat berupaya mengembangkan elegi-elegi mereka agar semakin meningkat daya berfilsafatnya, dan dapat mengacu pada elegi-elegi yang telah bapak buat sebelumnya. Terimakasih untuk arahan dan bimbingan selama ini pak.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas ada beberapa hal yang bisa diambil. Yang pertama berkaitan dengan akhir dan perpisahan itu adalah suatu yang pasti dan sunatullahnya begitu. Kemudian berkaitan dengan jika melulu tentang elegi, maka lama kelamaan juga akan menjadi mitos artinya kita sebagai manusia haruslah senantiasa berkembang maju dan berkesinambungan layaknya hermeunitika hidup yang selalu berkembang layaknya spiral. Kemudiana yang selanjutnya terkait dengan pemikiran para filsuf, seperti kita ketahui bersama ketika kita belajar filsafat maka kita belajar tentang pemikiran filsuf tersebut, artiya kita sendiri harus membangun filsafat kita senidiri.

    ReplyDelete
  9. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Jika refleksi saya di atas berkaitan dengan pandangan umum tentang filsafat. Maka dalam refleksi ini saya akan membahas salah satu bagiannya yaitu tentang matekmatika dan kehidupan. Seperti yang telah kita ketahui bahwa filsafat itu meliputi yang ad dan yang mungkin ada obyeknya ada semua dalam kehidupan kita yang terlihat atau tidak, sehingga hal ini lah yang menimbulkan matematika bisa terfilsafati. Artinya matematika juga memiliki dunianya sendiri yang bisa didefinisikan banyak oleh siapa saja karena matematika juga meliputi yang ada dan mungkin ada. Dan seperti yang saya lakukan filsafat yang terpenting yaitu merefleksikan segala peristiwa sehari-hari, artinya mengambil pelajaran atas suatu fenomena ataupun noumena. Dan yang terakhir yaitu berkaitan dengan pentingnya agama dalam mendasari belajar filsafat. Agama adalah dasar dan landasan yang tidak bisa diganggu atau dikritisi. Maka selayaknya kita bisa menempatkan hal ini dengan benar, tidak menyalahkan filsafat, tetapi lebih memaknai aspek spiritual adalah yang utama.

    ReplyDelete
  10. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Filsafat mempelajari apa yang ada dan mungkin ada, dengan filsafat kita dapat mengembangkan kemampuan olah pikir kita terhadap matematika dimana kita sebagai seorang guru haruslah mengetahui dan paham akan bagaimana matematika, bagaimana berpikir matematika yang membuat siswa mengembangkan pengetahuan matematikanya. Dengan filsafat pula kita mempelajari metafisik, dimana kita juga dalam pembelajaran harusnya juga memperhatikan hal-hal yang tidak selalu tampak, misalkan kemampuan metakognisi.

    ReplyDelete
  11. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Entah mengapa, sebuah kebetulan bahwa Saya membaca elegi ini saat sedang di stasiun Gombong, menunggu kereta yang hendak menuju Yogyakarta. Dan ini sudah Hari Hari terakhir di semester gasal.
    Elegi ini menjadi sungguh seperti pesan bagi saya, untuk perjalanan Saya selanjutnya. Filsafat yang sudah mulai Saya sadari dalam pikiran Dan hati, yang mesti terus Saya refleksikan, Saya bangun dalam keseharian, dalam hidup pribadi, di sekolah, di rumah, di masyarakat.
    Belajar untuk tidak mengejar nilai adalah salah satu hal penting yang Saya pelajari di sini. Aku membaca karena aku ikhlas membaca, mengerjakan tugas karena aku ingin menyelesaikan sebab it adalah latihan bagi diriku, aku belajar karena aku memerlukannya untuk meningkatkan diriku, yang kemudian aku tahu di sini sebagai etik dan estetika.
    Trimakasih atas banyak Hal yang bisa dipelajari di sini, dalam Dinamika jatuh bangun kehidupan.

    ReplyDelete
  12. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Filsafat dipelajari untuk memahami secara mendalam tentang suatu hal. Dengan memahami filsafat dapat dipahami pula hakekat dari suatu hal dan kenapa hal itu ada dan apa yang mungkin ada di masa depan. Filsafat penting untuk mempelajari suatu ilmu. Belajar itu bisa kapan saja dan dimana saja, terbebas dari ruang dan waktu. Mungkin ini meruapakan elegi perpisahan, tapi proses untuk memahami elegi yang lalu akan terus terjadi.

    ReplyDelete
  13. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Membaca elegi-elegi dalam blog ini semakin memahami apa sebenarnya makna berfilsafat. Berfilsafat membutuhkan pola berpikir yang terbuka dan memiliki sudut pandang yang luas terhadap suatu hal. Bagaimanapun juga setiap manusia pada dasarnya berfilsafat. Setiap benda dan setiap situasi juga terdapat sisi filsafatnya yang bisa kita maknai.

    ReplyDelete
  14. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Perpisahan adalah hal yang tidak bisa dihindari. Bila sudah waktunya, maka perpisahan itu akan terjadi. Dengan adanya perpisahan, bukan berarti upaya kita untuk belajar berhenti di situ. Harapannya, perpisahan akan membuat kita untuk selalu berusaha tanpa ada ketergantungan pada siapa pun.

    ReplyDelete
  15. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  16. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai purnakata menjelaskan bahwa kita telah selesai mengikuti perkuliahan Pak Prof, itulah awal dari perjalanan kita masing-masing, salah satu hasil yang bisa kita peroleh dari belajar filsafat adalah kemerdekaan berpikir, kemandirian, keterampilan, dan daya kritis. Itulah bekal yang kita miliki setelah belajar filsafat, sehingga kita senantiasa selalu berusaha meningkatkan dimensi pikiran dan hati dengan cara menterjemahkan dan diterjemahkan

    ReplyDelete
  17. Junianto
    PM C
    17709251065

    Elegi ini menjelaskan tentang selesainya suatu tugas dan harus saling berpisah karena sudah menjadi suratan takdir. Begitu pula dalam kehidupan, bahwa ada saatnya bertemu dan aada saatnya berpisah. Dan hal ini sudah menjadi sunatullah yang ada dalam kehidupan. Kemudian yang perlu digarisbawahi adalah bahwa perpisahan itu sebaiknya hanyalah perpisahan secara fisik saja tetapi secara batin tetapi bersama. Hal ini mengandung arti bahwa nilai-nilai kebaikan yang sudah diajarkan ketika bersama harulah tetap dilaksanakan sebagai wujud kebersamaan secara emosi. Sehingga pertemuan itu memberikan dampat positif bagi pelakunya.

    ReplyDelete
  18. Elegi ini menceritakan tentang sebuah perpisahan yang akan dialami seorang guru dengan muridnya. Perpisahan disini saya katakan sebagai perpisahan semu karena sejatinya batin guru dan siswa senantiasa terikat oleh ilmu. Ilmu yang telah mereka sama-sama pelajari dan ajarkan. Ilmu inilah yang akan mengikat keduanya dan tidak akan memisahkan keduanya. Maka dari itu, sebagai murid haruslah mengamalkan ilmu dari gurunya sebagai wujud penghormatan dan sebagai pembeda bahwa selama belajar dengan guru banyak hal yang meningkat dalam diri seorang murid.

    ReplyDelete
  19. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Filsafat adalah refleksi manusia. Maka setiap orang mempunyai filsafatnya masing-masing. meskipun begitu, filsafat masing-masing tersebut tidaklah bisa dilepaskan dari filsafat powernow yang sedang menguasai dunia. Bila filsafat adalah hasil refleksi, maka dalam membuat refleksi tersebut tentulah dipengaruhi dengan kondisi sekitar reflector. Padahal kondisi sekitar, yang ada dan yang mungkin ada merupakan objek dari filsafat. Sehingga bagaimanapun, filsafat kita tidaklah bisa independen, sedikit banyak ia dipengaruhi oleh filsafat yang lain

    ReplyDelete
  20. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Filsafat adalah olah pikir, untuk mendalaminya maka kita harus membaca dan memahami pikiran para filsuf. Berpisah di dalam elegi ini berarti masa di mana kita harus merefleksikan ilmu yang telah kita raih di dalam pikiran kita, ke dalam kehidupan sehari-hari. Filsafat berfungsi sebagai refleksi terhadap didi kita sendiri sehingga ketika bagaimana kita memandang filsafat sebenarnya begitulah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  21. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Lewat postingan ini, beberapa pertanyaan yang mungkin ditanyakan sehubungan dengan filsafat dan matematika telah terjawab. Salah satunya adalah pertanyaan mengenai filsafat dan agama. Dari penjelasan di atas, filsafat merupakan olah pikir sedangkan agama lebih dari itu, juga melibatkan hati dan keyakinan sehingga filsafat tidak mampu menjelaskan agama.

    ReplyDelete
  22. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Filsafat selalu memuat merupakan dua sisi mata uang yang saling berlawanan. Di dalam filsafat terdapat hukup identitas maupun kontradiksi. Kontradiksi merupakan kebalikan dari hukum identitas. Filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Filsafat itu seperti kromosom pada genetika, yaitu mempunyai struktur, yang mana struktur tersebut sama dimanapun. Berfilsafat itu berpikir yang reflektif yang mencakup olah pikir kita dan pengalaman kita. Obyek dari filsafat adalah segala yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah supaya kita mampu menempatkan diri sesuai ruang dan waktu. Sedangkan manfaat belajar filsafat adalah mampu santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Elegi ini seperti mengisayaratkan elegi penutup dari elegi-elegi sebelumnya. Seperti namanya purnakata, purna berarti usai atau berpisah. Kami juga meminta maaf Prof apabila banyak melakukan kesalahan di mata kuliah filsafat ilmu dan terima kasih banyak atas ilmu yang telah Prof berikan kepada kami. Semoga ke depannya juga bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete

  24. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Membaca refleksi ini membuat saya mengingat kembali perjalanan saya selama mengikuti perkuliahan filsafat ilmu ini. Pada awal perkuliahan saya sangat dibuat bingung dengan filsafat, bagaimana tidak, banyak kata baru, elegi dengan bahasa analog, tes jawab singkat dan komen yang harus memenuhi target. Namun, selama proses ini dan saya terus membaca elegi, memang diawal terasa susah, tetapi ternyata benar apa yang dikatakan Pak Marsigit, diawal kita mempelajari filsafatnya, maka kata ilmu di belakang dengna sendiri akan mengikuti karena sesungguhnya filsafat itu dapat diletakkan di depan kata apa saja. Saya belajar untuk berpikir kritis dan menata hati. Maka sebenar-benarnya ilmu ini saya peroleh, tidak hanya untuk merefleksikan yang ada dan yang mungkin ada dari ilmu pengetahuan, namun juga untuk merefleksikan setiap langkah saya. Terimakasih Pak Marsigit.

    ReplyDelete
  25. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Belajar filsafat adalah belajar bagaimana memandang sesuatu secara menyeluruh. Belajar tentang menempatkan sesuatu sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Belajar bahwa segala sesuatu saling memberikan manfaat. Belajar bahwa di balik kesempurnaan dunia ini ada yang Maha Sempurna dan Maha Memiliki yaitu Allah SWT. Belajar bahwa manusia hanya sebatas berusaha, namun pemilik kebenaran yang mutlak hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Melalui artikel di atas, saya tahu bahwa filsafat adalah pikiran kita. Filsafat tidak mampu menjelaskan semua keyakinan kita, sehingga filsafat itu tidak termasuk agama karena tidak hanya mencakup pikiran kita, tetapi juga hati kita. Filosofinya adalah refleksi.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Filsafat pendidikan matematika adalah refleksi pada pendidikan matematika, meliputi refleksi dari semua yang ada dan mungkin ada dalam pendidikan matematika, termasuk matematika, guru, siswa, kelas, dll. Sebagai calon guru matematika untuk membuat kita sebagai tantangan untuk menjelaskan semua apa yang dimaksud dengan semua yang ada dan yang mungkin ada dalam pendidikan matematika.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benarnya filsafat itu refleksi diri. Jika ada orang yang menganggap belajar filsafat sesat, berarti dia telah menganggap dirinya sesat. karena belajar filsafat itu tergantung orangnya. jika yang belajar filsafat itu orang beriman maka akan semakin bertambah imannya, namun jika yang belajar filsafat itu orang sesat maka tambah sesat dia. Jadi easy going saja, yang penting dalam belajar filsafat adalah membaca dan membaca, refleksi dan refleksi. Hal tersebut akan melatih kita untuk berpikir kritis.

    ReplyDelete