Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Kedua)




Oleh Marsigit

Nahayu:
Wahai Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, terimaksih engkau telah memenuhi undanganku. Aku juga tidak hanya mengundang dirimu semua, tetapi aku juga mengundang banyak kerabat yang lain.



Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Aku mendengar ada panggilan kepadaku tetapi aku tidak melihat bentuk dan rupanya. Siapakah engkau itu?

Ramasita:
Ohh...rupanya engkau semua belum melihat bisa melihat Nahayu. Bolehkah aku bantu agar engkau bisa melihat Nahayu. Tetapi ada syarat-syaratnya engkau bisa melihat Nahayu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Apa syaratnya. Karena ini telah menjadi tantanganku, maka seberat apapun syaratnya aku ingin bisa melihat Nahayu.

Ramasita:
Syaratnya adalah engkau harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal ini engkau paksakan maka engkau akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam di samping gunung itu. Apakah engkau sanggup melakukannya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Kalau rasa sombong aku berusaha mengatasinya dengan cara mohon ampun, tetapi rasa memiliki itu agak sulit. Karena hingga saat ini aku merasa memiliki banyak hal. Aku memiliki kegiatan, aku memiliki warga, aku memiliki fasilitas, aku memiliki kuasa dst. Bagaimana aku bisa menjalankan tugas-tugasku jika aku tidak boleh mempunyai rasa memiliki.

Ramasita:
Demikianlah ketetapannya. Tinggal engkau sanggup atau tidak.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Aku sanggup, tetapi bagaimana kalau sebentar saja syarat-syarat itu aku jalani.

Ramasita:
Walaupun engkau hanya melihat sekejap perihal gunung itu, tetapi dampaknya luar biasa, dan akan mempengaruhi jalan hidupmu. Maka sifat tidak memiliki dan tidak sombong itu harus menjadi tujuan dan jiwa hidupmu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Baik kami sanggup

Ramasita:
Maafkan Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, perkenankanlah aku membuka kacamatamu satu persatu. Sekarang bagaimana keadaannya?

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Ya Tuhan mohon ampunlah diri kami. Setelah Ramasita melepas kacamata kami, maka kami melihat Nahayu sebagai sebuah gunung. Terlihat olehku gunung itu menghampar begitu luasnya, tetapi semuanya tampak kami rendah darinya. Kalihatannya dirinya berada di puncak gunung . Kamanapun dia melangkah maka semua ngarai dan satwa di dalamnya selalu mengikutinya. Bahkan kamipun yang lain pun menyesuaikan dengan gerak langkahnya. Kami juga perlu memberi jalan, ada yang berjalan beriringan, dst. Wah kami menjadi agak bimbang. Padahal di daerah kami, maka kami merupakan gunung-gunung yang paling tinggi tiada bandingannya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Wahai Ramasita apakah makna dari semua ini?

Nahayu:
Itulah suratan takdir wahai Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala. Katahuilah, bahwa sebenar-benar dirimu adalah gunung paling tinggi di daerahmu masing-masing. Maka tidaklah mudah engkau melihat Nahayu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha mengakui kedudukannya. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu menghargai dirinya.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Ya Tuhan ampunilah diriku yang bebal ini. Dikarenakan pertolongan Ramasitalah aku engkau buka hijabku sehingga aku engkau perkenankan bisa melihat diriku sendiri dan melihat Nahayu. Wahai Ramasita, ada peristiwa aneh yang aku alami setelah aku mampu melihat bahwa di sini aku tidak lebih tinggi dari Nahayu. Sedang peristiwa aneh itu adalah aku melihat seakan Nahayu selalu mengajakku bicara dengan kami. Kemudian dia memberi undangan kepada kami. Apa maknanya ini?

Ramasita:
Wahai sang Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, Tuhan telah bermurah hati kepada dirimu semua maupun kepada Nahayu. Itu terbukti bahwa sudah dekat saatnya engkau diijinkan bersatu. Ini adalah peristiwa besar yang akan membawa dampak besar bagi kehidupan di sekitar gunung-gunung itu.

Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala:
Maaf Nahayu, kami agak risau dengan tema acaramu yang tertera dalam undanganmu itu. kami risau itu dikarenakan niatmu untuk menyatukan lima gunung, padahal ketahuilah bahwa diantara kita secara hakiki itu tidak dapat disatukan.

Nahayu:
Maaf sebelumnya jikalau engkau semua merasa tersinggung dengan tema tersebut. Kami tidaklah mempunyai niat sama sekali untuk menhyatukan lima gunung dengan pengertian yang engkau definisikan itu. Kami hanya ingin menjalin silaturakhim dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Setidaknya kami mempunyai sifat yang sama yaitu sama-sama gunung. Nah, dari persamaan sifat itulah saya menginginkan komunikasi untuk mencari kesamaan-kesamaan yang lainnya untuk memecahkan persoalan-persoalan kita bersama. Singkat kata menyamakan persepsi begitulah.

19 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Saat mencari ilmu seseorang tidak boleh sombong. Manusia diberikan kelebihan masing-masing oleh Sang Pencipta. Hal ini membuat manusia merupakan gunung di tempatnya masing-masing. Namun, untuk dapat menemukan Nahayu, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala harus membuka kacamata mereka. Mereka harus menjadi rendah hati dan menghilangkan rasa memiliki. Kebenarannya adalah semua kelebihan dan semua hal yang dimiliki manusia hanyalah titipan dari Sang Pencipta. Semua hal yang dipercayakan pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh yang mempercayakan. Jika manusia punya rasa memiliki, dia tidak akan menemukan potensi lebih lagi karena merasa puas dan mungkin akhirnya tidak memelihara apa yang telah dipercayakan tapi malah merusakkannya.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Bacaaan ini mengingatkan saya mengenai keanekaragaman di Indonesia. Indonesia menganut idealism pancasila. Memiliki 5 aturan dasar dalam hidup. Selain itu, Indonesia pun memiliki 5 agama besar, Muslim, Hindu, Budha, Kristen (Protestan dan Katolik) juga Kongfuchu.tidak hanya itu saja, Indonesia yang merupakan Negara kepualauan ini memilki banyak suku dan bahasa daerah masing-masing. Beberapa bulan ini Indonesia diterpa isu-isu mengenai sara yang mengancam persatuan dan kesatuan Negara ini. Saya teringat kembali apa yang dikatakan bapak di awal perkuliahan, “baca elegy yang ada, hal itu dapat membantu membangun toleransi yang ada antar umat beragama”. Itulah yang saya temukan. Menyatukan lima gunung memang tidak gampang, diperlukan adanya kesadaran dari diri masing-masing orang untuk dapat membuka kacamatanya dan melihat dengan jelas, dengan mata telanjang, karena mungkin kacamata yang kita pakai tertutup kabut. Keberagaman itu indah, dalam keberagaman selalu ada kesamaan, dan itulah yang membuat manusia dapat berkomunikasi satu dengan yang lain. Sesuai dengan apa yang dikatakan Nahayu “kami hanya ingin menjalin silaturakhim dan berkomunikasi satu dengan yang lain. Setidaknya kami mempunyai sifat yang sama yaitu sama-sama gunung. Nah, dari persamaan itulah saya menginginkan komunikasi untuk mencari kesamaan-kesamaan yang lainnya untuk memecahkan persoalan-persoalan kita bersama. Singkat kata menyatukan persepsi”. Bahkan dalam satu keluarga kita memilki banyak perbedaan, namun bisa tetap akur. Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Semoga semua warga Indonesia dapat menikmati perbedaan dan tetap bersatu. Terima kasih bapak untuk bahan refleksinya.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allâh Azza wa Jalla memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang Muslim, maka Allâh akan menutup (aib)nya di dunia dan akhirat. Allâh senantiasa menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya. Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allâh akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allâh (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allâh menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa yang diperlambat oleh amalnya (dalam meraih derajat yang tinggi-red), maka garis keturunannya tidak bisa mempercepatnya.”

    ReplyDelete
  4. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Setelah Ramasitamembantu mambuka hijab Rakata sehingga Rakatadiperkenankan bisa melihat dirinya sendiri dan melihat Nahayu. Kini giliran Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala yang dibantu Ramasita untuk melihat dirinya masing-masing dan melihat Nahayu. Jika orang-orang telah hilang daripadanya sifat sombong dan rasa memiliki maka mudah untuknya bersatu dengan orang lain yang serupa dengannya (hilang rasa sifat sombong dan rasa memiliki). Dengan begitu orang-orang tersebut bisa saling berkomunikasi untuk mencari kesamaan-kesamaan yang lainnya untuk memecahkan persoalan-persoalan mereka bersama.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Satu lagi. Satu lagi tulisan bapak Marsigit yang membawa saya pada perenungan, bahwasannya kesombongan akan menghalangi saya dalam menggapai ilmu, kesombongan akan menghalangi siapapun dalam menjalanin setiap proses kehidupannya. Sangat indah

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kita tahu betapa kecilnya kita di dunia ini. Kita hanyalah makhluk kecil yang tiada artinya di dunia ini. Kesombongan dan rasa memiliki sesuatu akan menghalangi kita untuk dapat bersilaturrahmi dan merefleksi diri. Semua rasa memiliki dan kesombongan akan menghalangi langkah kita dalam melakukan segala hal,termasuk dalam menggapai ilmu dan beribadah. Yang seharusnya kita tahu adalah, derajat manusia di mata Allah SWT adalah sama, yang membedakan hanyalah amal perbuatannya.

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, elegi ini memberikan pesan yang sangat medalam. "Bukalah kaca mata sombong dan rasa memilikimu agar dapat melihat bahwa orang lain ternyata lebih darimu", itulah pesan terirat yang saya tangkap dari elegi di atas. Pesan tersebut sangat benar, kita tidak dapat menghargai dan menghormati orang lain jika di dalam hati kita ada rasa sombong dan rasa memiliki yang berlebihan. Rasa sombong akan mengantarkan pada perasaan yang merasa diri lebih baik dari orang lain dan rasa memiliki yang berlebihan akan mengantarkan pada perasaan tidak butuh orang lain. Oleh karena itu, hindarilah sifat sombong dan rasa memiliki yang berlebihan dalam hidup ini. Karena sesungguhnya yang patut sombong itu hanyalah Allah SWT dan Dialah sebenar-benarnya pemilik segala yang ada di muka bumi.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah milik Tuhan. Terkadang seseorang sering merasa memiliki akan sesuatu dan menyombongkan diri sampai merasa bahwa dirinyalah yang paling hebat dan memiliki segalanya. Selanjutnya merasa bangga diri dan tidak mau mengakui atau menerima saran orang lain. Semoga kita semua dijauhkan dari sifat yang demikian. Agar manusia tidak lalai akan semua itu, maka hendaknya selalu menghindar dan menjauhkan diri dari kesombongan dan rasa memiliki. Dengan demikian manusia dapat hidup berdampingan dan saling tukar menukar pikiran demi kepentingan bersama.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 PM A

    Satu kesatuan yang utuh berawal dari beberapa potongan-potongan sudah maupun belum memiliki arti. Apa yang ada dan mungkin ada memang dapat disatukan, namun tidak semua meliki arti yang berarti. Manusia memilik hati dar perasaan memiliki terhadap sesuatu hal. Rasa memiliki terkadang bisa memotivasi untuk berperilaku lebih baik. Namun, ketika rasa ingin memiliki lebih besar daripada rasa syukur maka hal tersebut akan menjadi bomerang diri seseorang. Oleh karena itu, selalu bersyukur, rendah hati, dan tidak sombong adalah sebenar-benar rasa yang harus disatukan agar menjadi insan yang lebih baik di muka bumi ini.

    ReplyDelete
  10. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Manusia diberikan dengan kenikmatan akal pikiran. Terkadang beberapa manusia memiliki hal hal tertentu yang berlebih sehingga merasa seolah olah manusia paling. Dalam memperoleh imlu pengetahuan, filsaat menjadi salah satu ilmu untuk meredam hal tersebut, sehingga kita tidak sombong, angkuh terhadap ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  11. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B
    Kedua elegi kutarunggu sang rakata menyatukan llima gunung mengingatkan kita untuk tidak sombong. Kesombongan malah akan menjadikan seseorang sebagai pribadi yang merasa memiliki banyak hal dan enggan mengakui kelebihan orang lain. Maka salah satu langkah untuk melunturkan rasa sombong adalah hidup menyatu dengan lingkungan. Jalinan silaturrahmi dengan orang lain di lingkungan akan memperlancar komunikasi sehingga suatu persoalan individu akan menjadi persoalan bersama maka penyelesaian diperoleh lebih mudah melalui pemikiran bersama. Dengan demikian menyatu dengan lingkungan akan memperlancar proses memterjemahkan dan diterjemahkan sehingga lahirnya keharmonisan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  12. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dalam dunia pendidikan, seorang guru perlu menyamakan persepsi dengan peserta didik di kelas. Sehingga dalam proses pembelajaran terjadi komunikasi. Komunikasi dalam pembelajaran itu penting, sehingga persoalan-persoalan atau masalah-masalah matematika bisa terpecahkan secara bersama-sama.
    Wassalamu'alaikum
    Trimakasih.

    ReplyDelete
  13. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi "Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima (kedua)" ini sama dengan postingan sebelumnya yang memberikan pesan kepada pembaca bahwa tidaklah benar memiliki sifat sombong dan rasa memiliki dengan suatu hal. Karena tidak ada yang perlu disombongkan di dunia ini. Orang sombong itu sama dengan pepatah yang mengatakan "bagai katak dalam tempurung" artinya menganggap dirinya sendiri yang paling hebat, namun dia tidak tahu betapa banyaknya orang-orang hebat seperti dia, bahkan lebih hebat lagi. Teringat ucapan orang bijak "merantaulah, maka kamu akan tahu betapa rendahnya pengetahuanmu", artinya kita harus terbuka dengan dunia luar, mau belajar tanpa berpikir ilmu kita lebih dari orang lain. Semoga kita terhindar dari sifat sombong, Aamiin.

    ReplyDelete
  14. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof
    Dengan menatap pada tulisan sebelumnya bahwa kesombongan adalah sifat yang dapat menjembatani hasrat dan keinginan dalam menggapai ilmu.Tiadalah orang yang berilmu melainkan orang yang merendahkan hatinya.
    Kata memiliki sifatnya hanya semntera.Karena semua yang ada merupakan titipan Tuhan yang kapan saja suatu saat Allah dapat mengambilnya kembali dari kita.Menyadari bahwasannya memiliki bagaikan sebuah balon sabun yang terbang di udara yang hinggap lalu pecah.Takkan bertahan lama karena yang kita miliki sifatnya semu dan sesaat.Semua yang ada pada diri kita adalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  15. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Akihir tiba hari dimana lima gunung dan segala penghuninya memenuhi undangan raja dan tetap saja raja belum bisa melihat gunung nomor 3. Rupanya dihati raja masih ada kesombongan. Kesombongan memang sulit di hapuskan karen aia datang dari hati dan pikiran buruk. Somobong meruntuhkan segala kebaikan, sombong dapat menjauhkan manusia dari apa yang sangat penting di hidupnya. Semoga kita senantiasa di jauhkan dari sifat sombong. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  16. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, manusia adalah makhluk yang dianugerahi oleh akal budi dan juga nafsu-nafsu. Manusia juga memiliki keinginan dan sifat masing-masing. Sehingga setiap orang pada dasarnya memiliki pemikiran dan sifat-sifat yang berbeda-beda, bisa dikatakan tidak mungkin untuk mengenearlisasi manusia dengan menggunakan sifat yang sama. Dengan kenyataan keberagaman tersebut maka kita sebagai sesama manusia haruslah menghargai perbedaan yang ada selama ini. Bahkan dalam memberikan penghargaan kepada sesama pun banyak sekali macamnya, dan setiap orang bisa saja memiliki cara-cara berbeda dalam melakukannya. Merupakan suatu tindakan yang tidak bijaksana apabila seseorang menggunakan kekurangan orang lain sebagai bahan olok-olok (ejekan)

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Setiap masalah memang membutuhkan komunikasi. Ketika semua dikomunikasikan, maka dapat dicari jalan keluarnya bersama-sama. Mencari jalan keluar tentu harus dengan persepsi yang sama. Memang tak mudah karena semua orang memiliki persepsinya masing-masing, tetapi ketika kita juga bisa melihat suatu masalah dari sudut pandang orang lain maka, kita lebih dapat menghargai perbedaam pandangan tersebut dan lebih bijak dalam menanggapi apapun jalan keluar yang akan diambil dan diakui bersama.

    ReplyDelete
  18. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing dan juga memiliki keahlian di bidangnya masing-masing sehingga bisa diibaratkan seperti gunung. Adanya kesombongan dan rasa memiliki yang bercokol di dalam hati akan menyebabkan setiap orang tidak mampu untuk melihat kelebihan orang lain dan kelemahannya dibandingkan dengan orang lain. Hanya dengan meluluhkan kesombongan dan perasaan memilikilah kita dapat saling melihat kelebihan yang dimiliki orang lain. Menyatukan lima gunung berarti menjalin silatuhmi, mengakui kehebatan masing-masing dan berdikusi bersama. Kemudian saling menuangkan keahlian dan pengetahuannya masing-masing untuk menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama.

    ReplyDelete