Oct 28, 2012

Kutarunggu Kekacauan Melanda Kerajaan Hanuya




Oleh Marsigit

Awama:
Ha ha..he ..he ha ha..he..he..aku punya, tapi ini rahasia lho. “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.



Pratika:
Wahai Awama aku diberi dhong. Kelihatannya engkau merasa nikmat walaupun tanpa makan, minum dan bukan karena uang. Apakah yang membuatmu semangat? Apakah yang membuatmu semangat adalah kata-katamu yang engkau ucapkan tadi? “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Cantraka:
Wahai Awama dan Pratika, engkau sudah tahu ta? Engkautahu dari mana bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Candraka:
Lhoo Cantraka, Awama dan Pratika, engkau sudah tahu ta bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Pampilu:
Kelihatannya bukan cuma engkau yang mengetahui perihal demikian. Aku dan Rakata juga sudah mengetahui bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Bagawat:
Wahai para punggawa kerajaan Hanuya, bukankah aku telah mengatakan kepadamu agar wasapada terhadap perilaku Stigmaraja. Apa yang melanda kerajaan Hanuya itu sebetulnya ulah dan perilaku si Stigmaraja. Maka aku ingin mengingatkanmu semua, agar engkau tidak berlarut-larut termakan stigma yang ditebarkan oleh Stigmaraja, maka perhatikan ajaranku ini. Ajaranku itu berbunyi “Uraikanlah stigma itu kedalam komponen dasarnya, yaitu pikiran dan hati. Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu. Dengan demikian maka engkau pun akan menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma. Cendekia mandiri dan bernurani itulah senjata pamungkas yang dapat engkau gunakan. Lapalkan dan hayatilah sesanti cendekia mandiri dan bernurani, niscaya engkau terbebas dari segala stigma”

15 comments:

  1. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (1570251004)

    Syarat utama untuk mendapatkan sebuah ilmu adalah dengan menghindari sifat sombong dan sifat memiliki. Bahwa apa yang sudah kita miliki di dunia ini sebenarnya bukan milik kita karena semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah dan kapan saja bisa diambil oleh Allah. Dan berhati-hatilah terhadap sifat sombong karena dengan ilmu yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa jika kita sombong.

    ReplyDelete
  2. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (1570251004)

    “Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu.” Setiap kali perkuliahan hal itulah yang selalu ditekankan. Bagaimana mungkin seseorang dapat merefleksikan diri jika pikirannya kalut? Tidak ada seorangpun yang mau menerima kelemahan diri jika tidak memiki hati yang ikhlas, dan hal itu hanya membuat seseorang menggosipkan orang lain, membicarakan orang lain padahal dirinya sendiri juga tidak luput dari yang namanya keburukan. “maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu.”

    ReplyDelete
  3. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat.” [HR al-Bukhari]. Dengan demikian kita mengetahui, bahwa mengingkari janji merupakan bagian dari karakter kaum munafiqin. Sebaliknya, menepati janji termasuk sifat kaum mukminin. Begitu pula pribadi yang melekat pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ialah seorang yang benar dengan janjinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berjanji, melainkan pasti menepatinya.

    ReplyDelete
  4. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Stigma merupakan pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Stigma yang dibuat jika itu buruk bisa menyesatkan diri sendiri maupun orang lain. Stigma bisa terlihat dalam bentuk prasangka. Stigma tentang diri sendiri atau tentang orang lain sebenarnya hal yang tidak sepatutnya diumbarkan di muka umum. Kita harus menggunakan kecerdasan pikiran kita dan hati yang bersih agar terhindar dari stigma.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Paripurna sudah. Em maksutku selesai sudah. Tidak tidak, maksutku habis sudah. Habis sudah kata-kataku. Tak akan mungkin sanggup ku berkomentar, sedangkan ku sedang dicurahi nasihat segini hebatnya,

    "......maka perhatikan ajaranku ini. Ajaranku itu berbunyi “Uraikanlah stigma itu kedalam komponen dasarnya, yaitu pikiran dan hati. Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu. Dengan demikian maka engkau pun akan menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma. Cendekia mandiri dan bernurani itulah senjata pamungkas yang dapat engkau gunakan. Lapalkan dan hayatilah sesanti cendekia mandiri dan bernurani, niscaya engkau terbebas dari segala stigma”

    ReplyDelete
  6. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    stigma memiliki makna yang menggambarkan ciri negatif yang melekat pada seseorang, biasanya karena faktor lingkungan atau perbuatan yang pernah dilakukannya sehingga dicap jelek oleh orang banyak. stigma merupakan pikiran yang kalut dan hati yang kotor maka agar terhindar dari stigma hendaknya kita selalu berpikir kritis dan juga menggunakan hati nurani dalam menghadapi segala permasalahan hidup dengan penuh keikhlasan.

    ReplyDelete
  7. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Dalam ruang dan waktu tertentu, stigma dapat mengubah suatu kondisi menjadi lebih buruk. Stigma akan memberikan pengaruh yang tidak baik dalam suatu diskusi ataupun komunitas sehingga kebahagiaan sepertinya tidak lagi tersisa, hanya kegelisahan, kegaduhan, dan ketakutan yang akan muncul. Oleh karena itu, sebaiknyalah kita menggunakan pikiran yang tenang dan hati yang bersih dalam bertindak agar keberadaan kita dinanti dan kepergian kita disesali.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Berdasarkan bacaan, stigma merupakan pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Ketika stigma menguasai diri seseorang maka akan terjadi kekacauan. Ketika stigma menguasai diri banyak orang maka akan semakin kacau. Sehingga kita hendaknya berusaha menghindari stigma. Meskipun terkadang seseorang tidak menyadari bahwa dirinya telah terkena stigma. Untuk mengetahui hati yang telah kotor adalah dengan melakukan refleksi dan dilanjutkan dengan berdoa dan memohon ampunan atas segala kesalahan diri yang membiarkan hati menjadi kotor. Kemudian juga selalu untuk berusaha menjadi cendekia yang bernurani.

    ReplyDelete
  9. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 PM A

    Tulisan di atas masih mengulas tentang hati dan pikiran. Hati berpotensi untuk menjadi kotor yng dibaregi dengan pikiran yang kalut. Hal itu merupakan suatu stigma. Apa yang bisa lakukan yaitu menjaga pikiran agar tetap kritis terhadap suatu hal, dan menggunakan hati yang bersih yang berupa keikhlasan hati. Seperti apa yang Bapak tuliskan di atas, agar menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma maka diperlukan adanya kecerdasan pikiran dan selalu menggunakan hati nurani.

    ReplyDelete
  10. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Stigma lahir akibat hati dan pikiran termakan oleh mitos. Salah satu stigma yang mudah berkembangkan dalam hati dan pikiran kita adalah berprasangka buruk, baik terhadap takdir Tuhan maupun terhadap individu lainnya. Maka sebenar-benar langkah agar terbebas dari stigma adalah keikhlasan serta selalu memohon petunjuk-nya. Dan hendaklah segala sesuatu yang kita lakukan berlandaskan pikiran yang kritis dan hati nan jernih.

    ReplyDelete
  11. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Proses dalam pengambilan keputusan setiap orang berbeda-beda. Berdasarkan pemikirannya masing-masing. Pada tulisan diatas, kita sebagai manusia yang berilmu diharapkan untuk selalu menggunakan akal pikiran yang jernih dalam mengambil sikap ataupun keputusan. karena dalam setiap proses pengammbilan keputusan kita menggunakan keandirian, dan dalam upaya sebagai manusia untuk berusaha sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  12. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Pikiran dan hati seseorang mempengaruhi setiap kegiatan yang dilakukan. Memelihara pikiran yang jernih dan hati yang ikhlas tanpa adanya stigma yang macam-macam terhadap suatu hal memerlukan usaha yang tidak mudah. Namun, kita harus terus memupuk diri dan melatih diri untuk memiliki pikiran yang jernih dan hati yang ikhlas karena dengan begitu hidup akan tenang sehingga menjalani hidup ini akan menjadi ringan. Namun, jika hati dan pikiran sudah termakan stigma maka kita harus cepat-cepat berserah diri dan mohon ampun kepada sang pemiliki semesta ini, agar kembali diberikan pemikiran dan hati yang tidak terkontaminasi oleh stigma. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dilindungiNya dari stigma. Aamiin.

    ReplyDelete
  13. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Untuk menghancurkan sebuah kerajaan maka tidak perlu melakukan kontak fisik atau berperang di medan perang.Hanya dengan menebarkan fitnah maka kerajaan itu hancur.Keadaan inilah yang digambarkan pada tulisan di atas.Oleh karena itu hanya orang-orang yang berpikir kritis dan yang bersih serta ikhlas hatinya yang mampu meluluh lantakkan stigma buruk tersebut.Melapangkan hati dan mebuka pikiran adalah cara terbaik untuk menguraikan setiap peristiwa yang terjadi.

    ReplyDelete
  14. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kekacauan karena stigma telah terjadi. Manusia tidak akan lepas dengan adanya stigma. Entah karena provokasi orang lain di sekitar maupun karena pikirannya sendiri. Oleh karennya disetiap pertemuan filsafat Prof. Dr Marsigit selalu mengingtakan kami untuk sellau berdoa agar pikiran kita dijauhkan oleh hal-hal yang kotor. Semoga kita sellau terjaga oleh kebaikan dan senantiasa dapat melawan stigma-stigma negative ini. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  15. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, stigma merupakan suatu istilah yang digunakan secara umum mencirikan hal yang bersifat negatif. Akan tetapi menurut kami bisa juga stigma bersifat positif, tergantung cara pandang kita. Ketika kita menganggap suatu stigma merupakan hal negatif maka kita akan ikut untuk menjadi negatif. Untuk itu kita perlu mengubah cara pandang kita terhadap stigma sehingga stigma negatif itu menjadi memiliki positif. Sehingga dengannya kita mampu memacu dan memotivasi diri untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

    ReplyDelete