Oct 28, 2012

Kutarunggu Kekacauan Melanda Kerajaan Hanuya




Oleh Marsigit

Awama:
Ha ha..he ..he ha ha..he..he..aku punya, tapi ini rahasia lho. “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.



Pratika:
Wahai Awama aku diberi dhong. Kelihatannya engkau merasa nikmat walaupun tanpa makan, minum dan bukan karena uang. Apakah yang membuatmu semangat? Apakah yang membuatmu semangat adalah kata-katamu yang engkau ucapkan tadi? “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Cantraka:
Wahai Awama dan Pratika, engkau sudah tahu ta? Engkautahu dari mana bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Candraka:
Lhoo Cantraka, Awama dan Pratika, engkau sudah tahu ta bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Pampilu:
Kelihatannya bukan cuma engkau yang mengetahui perihal demikian. Aku dan Rakata juga sudah mengetahui bahwa “Itu tu si Ahilu dan Pampilu katanya sudah tidak diakui sebagai murid oleh sanga Bagawat, bahkan sekarang dia telah diusir dari percabaan Kutarunggu. Kenapa dia diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan. Dia memang pengecut karena takut resiko seperti yang dialami oleh Stigmapangla”.

Bagawat:
Wahai para punggawa kerajaan Hanuya, bukankah aku telah mengatakan kepadamu agar wasapada terhadap perilaku Stigmaraja. Apa yang melanda kerajaan Hanuya itu sebetulnya ulah dan perilaku si Stigmaraja. Maka aku ingin mengingatkanmu semua, agar engkau tidak berlarut-larut termakan stigma yang ditebarkan oleh Stigmaraja, maka perhatikan ajaranku ini. Ajaranku itu berbunyi “Uraikanlah stigma itu kedalam komponen dasarnya, yaitu pikiran dan hati. Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu. Dengan demikian maka engkau pun akan menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma. Cendekia mandiri dan bernurani itulah senjata pamungkas yang dapat engkau gunakan. Lapalkan dan hayatilah sesanti cendekia mandiri dan bernurani, niscaya engkau terbebas dari segala stigma”

39 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Dalam mengahadapi berbagai stigma yang ada kita hendaknya mampu berpikir secara jernih dan menggunakan hati untuk untuk menghadapi berbagai persoalan yang ada dan mungkin ada. Dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih disertai dengan keikhlasan kita mampu untuk mengahdapai berbagai persoalan yang ada.
    Hendaknya kita selalu berhati-hati dengan stigma yang negatif, sebab dengan mudah mereka mempengaruhi kita. Terkadang kita tidak menyadari bahwa pikiran dan hati kita telah termakan oleh stigma yang negatif. Oleh karena itu, kita harus selalu memiliki hati yang bersih dan pikiran yang jernih untuk menghindarinya serta selalu berdoa kepada Allah Swt agar terhindar dari stigma-stigma yang jahat. Amiinn

    ReplyDelete
  2. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas kembali memaparkan cerita yang berkaitan dengan stigma. Stigma memiliki dua komponen dasar ,yaitu pikiran dan hati. Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan pikiran kritis dan menggunakan hati bersih yaitu keikhlasan. Kita harus selalu berusaha dan bekerja dengan menggunakan kecerdasan pikiran dan menggunakan hati nurani. Dengan demikian, diharpakan mampu menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma. Elegi tersebut memberikan pembelajaran bahwa setiap insan hendaknya berusaha menjadi cendekia yang mandiri dan bernurani. Karena hal tersebut diyakini mampu menjadi senjata pamungkas untuk terbebas dari segala stigma.

    ReplyDelete
  3. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Kita harus membentengi diri dari stigma. Untuk membentengi diri dari stigma diperlukan ilmu yang tinggi. Oleh karena itu carilah ilmu sebanyak-banyaknya, di mana saja, kapan saja. Mendekatkan diri kepada Allah adalah yang utama untuk membentengi diri kita dari stigma.

    ReplyDelete
  4. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Di dalam diri setiap manusia telah ditanamkan berbagai bakat, yakni ada bakat baik dan ada bakat yang buruk. Jadi, semua manusia mempunyai bakat untuk jadi orang baik dan juga dalam diri manusia itu ada bakat untuk jadi orang yang jahat. Maka tergantung kepada manusia itu, apakah dia kan mendominankan yang baik atau yang buruk, itu tergantung pada pilihan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, selalulah berbuat baik dan bertemanlah dengan orang baik, sehingga kehidupan yang kita jalani ini kita tidak dicap sebagai orang yang bermuka dua atau munafik.

    ReplyDelete
  5. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ahilu dan Pampilu diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan.
    Hal tersebut terjadi karena mereka termakan oleh stigmaraja. Mereka tidak menggunakan akal pikiran dan hati sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Mereka lebih memilih dianggap munafik daripada harus terjebak di dalam stigmaraja tersebut. Padahal stigmaraja belum terjamin kebaikannya.

    ReplyDelete
  6. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Manusia teridiri dari dua macam yaitu manusia baik dan manusia jahat. Manusia baik dipengaruhi oleh stigma yang baik dan berlaku sebaliknya. Pada elegi ini Ahilu dan Pampilu terlah melanggar janji yang dibuatnya sehingga dia diusir oleh gurunya, mereka berani mengingkari janjinya karena termakan oleh stigma.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D
    Perlu untuk kita pahami dan ingat dari tulisan di atas, Uraikanlah stigma itu kedalam komponen dasarnya, yaitu pikiran dan hati. Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu. Dengan demikian maka engkau pun akan menjadi insan yang mandiri dalam menghadapi stigma. Cendekia mandiri dan bernurani itulah senjata pamungkas yang dapat engkau gunakan. Lapalkan dan hayatilah sesanti cendekia mandiri dan bernurani, niscaya engkau terbebas dari segala stigma.

    ReplyDelete
  8. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Stigma adalah kabar burung yang dibuat diterima dan disebarkan oleh hati yang kotor. Maka sesungguhnya hati yang bersih itu adalah kunci dari kedamaian tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kehidupan sekitar kita. Hati yang kotor mudah terkena stigma, yang sesungguhnya dari stigma itulah muncul perselisihan antar sesame

    ReplyDelete
  9. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari cerita diatas saya mengambil refleksi bahwa jangan terlalu percaya dengan stigma yang telah melekat pada seseorang. Cek dulu kebenarannya. Gunakan pikiran yang terbuka dan hati yang ikhlas dalam mengeceknya.

    ReplyDelete
  10. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Stigma memiliki pengaruh yang besar dan berdampak buruk terhadap tingkah laku individu. Upaya yang bisa dilakukan agar bebas dari pengaruh stigma yang bermunculan adalah dengan menggunakan pikiran yang kritis dan hati yang bersih. Pada intinya jangan biarkan hati dan pikiran dirajai oleh si Stigmaraja.

    ReplyDelete
  11. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Elegi ini bercerita tentang manusia yang berilmu yang ketika sudah mendapat ilmunya lalu dia sombong, merasa dia sudah mengetahui segalanya. Inilah manusia yang terjebak dalam stigma. Stigma adalah pikiran yang tidak kritis dan hati yang tidak bersih. Untuk menghindarinya harus menggunakan pikiran yang kritis dan hati yang bersih dan ikhlas. Oleh karenanya, kita harus selalu berusaha dan bekerja menggunakan pikitan yang kritis dan hati nurani agar kita menjadi manusia yang mandiri dalam menghadapi stigma.

    ReplyDelete
  12. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia juga semakin marak dengan adanya permasalahan yang semakin rumit dan kompleks. Tak jarang banyak pandangan maupun gagasan-gagasan yang merupakan stigma-stigma yang dapat dengan mudah tersebar dan berkembang dalam berbagai aspek kehidupan kita. Stigma-stigma tersebut janganlah serta merta kita hanya menyerap begitu saja tanpa menganalisis lebih jauh mengenai akar persoalannya. Stigma yang berkembang tersebut akan menyebabkan kekacauan serta perpecahan bagi kaum-kaum yang menumbuh suburkan segala macam stigma yang masuk tanpa mempertimbangkan pikiran kritis serta hati nuraninya.

    ReplyDelete
  13. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kekacaun dalam pikiran manusia (stigma) ibarat halnya pergulatan awan positif dan awan negatif.
    Setelah beberapa saat kemudian apapun yang terjadi mereka akan meledak menjadi sebuah petir.
    Sedangkan pada diri manusia, terjadinya kekacauan pikiran yang kemudian akan memunculkan sebuah keputusan berupa sikap (ibarat pertir) apakah sikap tersebut akan menyambar sesuatu yang positif atau negatif.
    Petir yang muncul diibaratkan sebagai keputusan yang diperoleh dari pergulatan yang ada.

    ReplyDelete
  14. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Tulisan ini menceritakan tentang kekacauan yang ditimbulkan karena berita yang menyebar bagaikan gosip padahal belum tentu diketahui kebenarannya. Sebenarnya untuk menghindari kekacauan sejenis ini, manusia harus berusaha untuk tidak mudah percaya dengan gosip. Apapun berita yang diperoleh, seperti halnya ilmu, jika belum dikonfirmasi kebenarannya maka janganlah langsung memberikan 'klaim' adalah benar. Haruslah mencari kepastian nilai kebenaran dari sesuatu, apabila sudah pasti benar barulah boleh mempercayainya. Sehingga pikiran yang kritis serta hati yang bersih harus menyertai diri manusia, untuk menghindari kekacauan pikiran kita.

    ReplyDelete
  15. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Stigma adalah pikiran yang kalut dan pikiran yang kotor. Sang Bagawat menyuruh kita untuk menghindari dan menjauhkan diri dari perilaku seperti ini. Karena stigma sendirilah yang dapat menyebabkan kekacauan. Bagaimana tidak. Raga orang yang berpikiran kalut dan berhati kotor akan terasa kacau karena kita ketahui bahwa hati dan perasaan mempengaruhi anggota tubuh yang lain. Tidak hanya demikian, orang lain juga akan dirugikan oleh orang yang berhati kotor. Karena bisa saja orang itu memiliki rencana tidak baik pada orang lain yang dapat mencelakakannya.

    ReplyDelete
  16. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam mengambil suatu kebijakan yang akan memiliki dampak besar seharusnya dipikirkan dengan matang. Jangan terpengaruh oleh stigma – stigma yang menyesatkan. Hal tersebut terlihat pada elegi Ahilu dan Pampilu diusir oleh gurunya, karena dia dianggap munafik telah mengingkari janji tidak mau membuka tutup cupu seperti yang telah diucapkan.

    ReplyDelete
  17. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Yang dapat saya ambil dari elegi tersebut bahwa ingkar janji adalah perbuatan yang tidak disukai karena dapat menyakiti hati orang lain. Orang yang mengingkari janji dapat dianggap sebagai orang yang munafik dan pengecut karena takut resiko. Maka diperlukan sikap berpikir kritis dan menggunakan hati nurani agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

    ReplyDelete
  18. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada zaman perkembangan teknologi saat sekarang ini, menyebarkan isu atau berita-berita yang sifatnya hoax adalah sangat mudah. Salah satu tujuan dari penyebaran berita seperti ini adalah adanya pihak-pihak yang mempunyai maksud mengadu domba sehingga terjadi perpecahan diantara masyarakat. Apalagi Indonesia dengan kemajemukan masyarakatnya sangat memungkinkan untuk dipecah belah dengan berita-berita yang demikian. Selain itu, terkadang media yang menyebarkan informasi tersebut sifatnya tidak objektif atau biasa tidak sesuai dengan kronologis peristiwa yang sebenarnya. Oleh karena itu kita harus senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar selalu dalam lindungan-Nya dan berpegang teguh pada semboyang negara kita Bhineka Tunggal Ika.

    ReplyDelete
  19. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Setidaknya filsafat dapat kita terapkan dalam memandang kehidupan. Misalnya Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selelsai, karena setiap akibat akan melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuannya sendiri, yang harus ia capai dalam setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.

    ReplyDelete
  20. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Untuk mendapatkan atau mengahdapin suatau stigma itu kita harus membersikan hati dan pikiran. Yanag mana kedua ini hati dan pikiran bagian dari stigma itu sendiri. Dengan bersihnya hai dan pikiran maka kita tidak akan mudah goyah dengan hal-hal yang berbau mitos. Hati akan membantu menjaab dari semua pikiran itu. Maka dari itu hati dan pikiran harus saling bergantungan.

    ReplyDelete
  21. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi tersebut menceritakan tentang kerajaan Hanuya yang tengah dilanda kekacauan. Kekacauan tersebu disebabkan oleh Ahilu dan Papilu yang tak dianggap murid lagi oleh sang Bagawat. Kita dapat mengambil pembelajaran dari elegi tersebut dimana agar kita selalu waspada terhadap tingkah laku kita sendiri. Apa yang kia lakukan jangan sampai terpengaruhi oleh stigma-stigma. Oleh karena itu hendaknya kita harus selalu berpikiran kritis dan menjaga hati agar senantiasa jernih dan ikhlas. Dengan hati ikhlas dan pikiran kritis maka kita akan dapat menghadapi berbagai macam stigma yang menghalangi langkah kita. Selain itu kita pun dapat berusaha untuk menjadi individu yang memiliki kepribadian baik, cendekia, mandiri dan bernurani. Dengan demikian, hendaknya kita berusaha dan berdoa agar kita diberikan hati yang ikhlas dan pikiran yang kritis agar terhindar pengaruh stigma-stigma.

    ReplyDelete
  22. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Keputusan yang diambil manusia sebagai hasil dari pergulatan stigma yang ada memberikan dampak yang baik bagi sekitar atau menjadikan sekitarnya bahkan dirinya sendiri menjadi hancur.
    Untuk melawan stigma yang menghampiri kita, kita harus menggunakan pikiran dan hati. Keduanya harus seimbang, tidak baik pikiran berjalan sendiri ataupun sebaliknya.
    Sebab stigma sangat mudah berkembang dikalangan lingkungan kita, sehingga untuk dapat menghindarinya ketika “bertemu” dengan stigma hendaknya stigma-stigma yang ada mampu dilihat dengan pikiran yang kritis dan hati yang bersih agar stigma tersebut tidak sampai pada kita.

    ReplyDelete
  23. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitulah dalam mencari ilmu. Tak bolehlah berprasangka dan predutice atau berstigma terhadap sesuatu. Karena akan membuat keburukan bagimu jika itu buruk. Maka berpikir jernihlah dalam menanggapai sesuatu, baik buruk bukanlah halangan.

    ReplyDelete
  24. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Dari percakapan di atas sepertinya terdapat kesalahpahaman antara beberapa punggawa kerajaan Hanuya terhadap begawat. Kesalah pahaman dapat diminimalisir ketika adanya komunikasi yang jelas dan tidak membuat pernyataan yang tidak di dasarkan pada fakta. Perbanyaklah berdo’a, berusaha dan belajar yang sungguh-sungguh dengan berpikir kritis dan hati yang ikhlas serta mengharapkan ridho Allah SWT agar terbebas dari stigma-stigma yang ada di sekitar kita.

    ReplyDelete
  25. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari ‘Kutarunggu Kekacauan Melanda Kerajaan Hanuya’ saya belajar bahwa kita harus bisa mengendalikan diri kita sendiri agar tidak terpengaruh dengan pikiran yang kalut dan pikiran yang kotor yang dapat menjerumuskan kita ke jalan yang menyimpang. Oleh karena itu, diperlukan keikhlasan, pemikiran yang kritis, dan hati yang bersih untuk menghindari hak tersebut.

    ReplyDelete
  26. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Stigma adalah kabar burung yang dibuat diterima dan disebarkan oleh hati yang kotor. Maka sesungguhnya hati yang bersih itu adalah kunci dari kedamaian tidak hanya untuk diri sendiri namun juga untuk kehidupan sekitar kita. Hati yang kotor mudah terkena stigma, yang sesungguhnya dari stigma itulah muncul perselisihan antar sesama. Hendaklah kita bisa membedakan mana yang buruk dan mana yang baik dalam menerima informasi apapun dengan keikhlasan pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  27. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Stigma memang sangat berbahaya seperti halnya lidah lebih tajam daripada pisau. Oleh karena itu kita harus berhati-hati. Oleh karena itu, mohon ampun dan mohon perlindungan kepada Alloh dari stigma-stigma yang akan merasuk dalam diri kita. Selain itu, mendekatkan diri kepada Alloh secara kaffah.

    ReplyDelete
  28. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Secara umum stigma mencirikan hal yang bersifat negatif. Namun bisa juga stigma bersifat positif, tergantung cara pandang kita. saat kita berada pada stigma negatif maka kita akan menjadi negatif, namun kita harus mengubah cara pandang kita mengenai stigma negatif, sehingga stigma negatif itu berubah menjadi positif. Karena hal itu akan mencitrakan kita ataupun orang lain menjadi bernilai negatif pula.

    ReplyDelete
  29. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam elegi ini, stigma bermakna konotasi. Stigma digamabarkan sebagai pikiran yang tidak kritis dan hati yang tidak bersih. Artinya bahwa pikiran yang belum tentu logis, tidak dapat dipastikan kebenarannya. Maka dari itu, kita sebagai manusia yang memberikan dan menerima informasi sudah seharusnya menyaring dan mengkonfirmasi setiap informasi yang kita peroleh. Termasuk pengetahuan, ketika kita memperoleh pengetahuan baru, maka periksalah dahulu kebenarannya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak terjebak dalam stigma yang seperti digambarkan dalam elegi ini.

    ReplyDelete
  30. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Sikap negatif merupakan sikap yang harus dihindari bila ingin mencapai kesuksesan dalam hidup di dunia maupun di akhirat. Seseorang yang memiliki sikap negatif cenderung mengalami masalah dalam kehidupan pribadi maupun dengan masyarakat lainnya. Sikap negatif dapat dikatakan sebagai sikap yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang berlaku dalam masyarakat atau bahkan bertentangan. Untuk itu sebagai maunusia kita hendaknya meminimalisir sikap negatif dari diri kita yaitu salah satunya dengan selalu mengingat Allah SWT dan merasa takut kepada Allah, khawatir tertimpa hukuman-Nya.

    ReplyDelete
  31. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia yang terjebak stigma maka ia akan senantiasa berpikir negatif. Penyakit hati adalah pemicu utama seseorang terbelenggu akan stigma. Penyakit hati tersebut seperti kemunafikan, kesombongan, keserakahan, iri, dengki, dsb. Kesombongan menjadikan manusia buta akan apa yang dimilikinya dan memandang rendah orang lain. Keserakahan terkadang menjadikan manusia menghalalkan segala cara untuk memenuhi keinginannya. Sungguh stigma sangat berbahaya karena dapat menjadikan manusia berpikir negatif dan bertindak negatif. Agar terhindar dari stigma yang tidak hanya merugikan diri sendiri tapi juga orang lain, maka kita harus memiliki hati yang bersih, ikhlas melakukan segala sesuatu hanya untuk menggapai ridho Allah SWT, bersyukur, menggunakan hati sebagai komandan, berpikir kritis, dan selalu meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Nya.

    ReplyDelete
  32. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Penghuni Kerajaan Hanuya pun tidak terlepas dari serangan stigma. Meskipun tidak seperti ahilu dan pampilu. Stigma bisa dilawan dengan pikiran yang kritis dan hati yang bersih. Maka jagalah hati dan pikiran kita agar tetap bersih dan kritis dengan cara terus belajar dan berdoa kepada Allah.

    ReplyDelete
  33. Sekarang ini dengan menggunakan media sosial disebarkan isu atau berita-berita yang sifatnya hoax dengan sangat mudah. Hoax tersebut dimaksudkan mengadu domba sehingga terjadi perpecahan diantara masyarakat. Terkadang media yang menyebarkan informasi tersebut sifatnya tidak objektif atau biasa tidak sesuai dengan kronologis peristiwa yang sebenarnya. Oleh karena itu kita harus menyaring informasi yang diterima dan tidak mudah untuk melanjutkan info tersebut agar bisa diteliti terlebih dahulu kebenarannya. Agar terjaga dari fitnah lebih baik senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar selalu dalam lindungan-Nya.

    ReplyDelete
  34. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Kekacauan yang terjadi akibat dari adanya sebuah stigma, yakni pikiran yang kalut dan hari yang kotor. Di dalam menjalani kehidupan, pasti seseorang akan merasakan berbagai permasalahan yang dapat menguji hati dan menguras pikiran. Agar dapat menyelesaikan masalah dengan baik, tentunya dimulai dengan membersihkan hati dari kotoran-kotoran. Caranya adalah dengan meluruskan niat, mengembalikan semuanya kepada Sang Pencipta. Jika hati bersih, maka pikiran kita juga otomatis akan menyesuaikannya, menjadi jernih dan lebih tertata. Hal ini yang dimaksud dengan menguraikan stigma tersebut. jika sudah demikian, maka kita akan mampu menyelesaikan masalah dengan baik.

    ReplyDelete
  35. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kunci dari kedamaian adalah hati yang bersih. Tidak hanya untuk kedamaian diri sendiri tetapi juga untuk kedamaian bersama. Hati yang kotor mudah terkena stigma, stigma itu sendiri adalah kabar burung yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Tujuan dari stigma itu sendiri untuk memunculkan perselisihan.

    ReplyDelete
  36. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (1570251004)

    Syarat utama untuk mendapatkan sebuah ilmu adalah dengan menghindari sifat sombong dan sifat memiliki. Bahwa apa yang sudah kita miliki di dunia ini sebenarnya bukan milik kita karena semua yang kita miliki adalah titipan dari Allah dan kapan saja bisa diambil oleh Allah. Dan berhati-hatilah terhadap sifat sombong karena dengan ilmu yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa jika kita sombong.

    ReplyDelete
  37. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (1570251004)

    “Stigma adalah pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Maka untuk menghindarinya gunakan pikiran kritismu dan gunakan hati bersihmu yaitu keikhlasanmu. Maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu.” Setiap kali perkuliahan hal itulah yang selalu ditekankan. Bagaimana mungkin seseorang dapat merefleksikan diri jika pikirannya kalut? Tidak ada seorangpun yang mau menerima kelemahan diri jika tidak memiki hati yang ikhlas, dan hal itu hanya membuat seseorang menggosipkan orang lain, membicarakan orang lain padahal dirinya sendiri juga tidak luput dari yang namanya keburukan. “maka selalu berusaha dan bekerjalah dengan menggunakan kecerdasan pikiranmu dan menggunakan hati nuranimu.”

    ReplyDelete
  38. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia mengingkari, jika dipercaya ia berkhianat.” [HR al-Bukhari]. Dengan demikian kita mengetahui, bahwa mengingkari janji merupakan bagian dari karakter kaum munafiqin. Sebaliknya, menepati janji termasuk sifat kaum mukminin. Begitu pula pribadi yang melekat pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau ialah seorang yang benar dengan janjinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berjanji, melainkan pasti menepatinya.

    ReplyDelete
  39. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Stigma merupakan pikiran yang kalut dan hati yang kotor. Stigma yang dibuat jika itu buruk bisa menyesatkan diri sendiri maupun orang lain. Stigma bisa terlihat dalam bentuk prasangka. Stigma tentang diri sendiri atau tentang orang lain sebenarnya hal yang tidak sepatutnya diumbarkan di muka umum. Kita harus menggunakan kecerdasan pikiran kita dan hati yang bersih agar terhindar dari stigma.

    ReplyDelete