Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menggelar Sidang Rakyat (pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai tamu undangan semua, tibalah saatnya kita menggelar sidang rakyat. Peserta sidang ini kelihatannya lengkap: ada para gunung Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, ada sang Bagawat, ada Ramasita, ada Ahilu, ada Pampilu, ada Awama, ada Pratika, ada Cantraka. Saya juga melihat ada para stigma. Saya memohon sudilah sang Bagawat menjadi moderator pada persidangan ini.



Bagawat:
Terimakasih kepada Rakata yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi moderator. Tetapi saya mempunyai permintaan, saya minta wewenang saya ditambah. Disamping sebagai moderator, saya juga ingin memposisikan diri saya sebagai fasilitator, dinamisator dan pembahas. Apakah permintaan saya diperbolehkan?

Rakata:
Silahkan

Bagawat:
Terimakasih. Saya ingin membagi sidang ini menjadi sidang pleno dan sidang rakyat. Pada sidang pleno saya akan bertanya dan memberi kesempatan kepada para gunung Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala. Pada sidang rakyat saya ingin memberi kesempatan kepada peserta, siapa saja, yang ingin mengajukan pertanyaan atau tanggapan atau usul dst.

Bagawat:
Wahai Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, sebagai sebuah gunung, apakah yang engkau pahami tentang makna sebuah gunung itu. Silahkan jawab dari gunung yang paling rendah, yaitu Kasala.

Kasala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung itu kekuasaan. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh dan menggunakan kekuasaan.

Kanwala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu, kemudian aku gunakan ilmuku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndadismen:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, kemudian aku gunakan ilmuku dan hatiku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndakiti:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Rakata:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, potensi, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku, potensiku, ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku demi kemaslahatan orang banyak.

Bagawat:
Apa yang selama ini aku khawatirkan ternyata terjadi. Aku mengkhawatirkan bahwa engkau semua kurang dalam dan kurang luas dan kurang komprehensif dalam memaknai kedudukanmu sebagai gunung. Walaupun jawaban Rakata adalah yang paling lengkap tetapi masih kurang mendalam kurang luas dan kurang komprehensif.

Bagawat:
Coba aku ingin bertanya kepada bukan gunung. Wahai Ramasita, apakah hakekat gunung itu menurut dirimu?

Ramasita:
Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Tetapi keteranganku itu belumlah cukup, karena pada hakekatnya hal yang demikian itu menjadi hak semua manusia untuk menggapai. Diakui atau tidak maka gunung adalah hak semua orang. Maka gunung adalah setiap orang dan setiap orang adalah gunung. Sedangkan tinggi rendahnya gunung itu relatif. Jika engkau datang kepadaku maka engkau harus mengakui gunungku. Setidaknya gunung pengetahuanku terhadap rumahku itu lebih tinggi dari pada pengetahuan tamuku. Itulah aku berhak mengklaim bahwa gunungku lebih tinggi dari tamuku.

Bagawat:
Kenapa bisa ada gunung tinggi dan gunung tertinggi?

Ramasita:
Itulah pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektifku. Jika aku melihat ada sebuah gunung mempunyai pengikut gunung-gunung yang lain maka aku katakan gunung yang pertama sebagai gunung yang tinggi, demikian seterusnya sampai aku bisa menemukan gunung tertinggi. Sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah gunung tertinggi itu bagi manusia. Gunung tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

46 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Ilmu itu seperti gunung. Manusia berhak untuk menggapai gunung-gunung tersebut mulai dari yang rendah sampai pada yang lebih tinggi. Berbagai macam cara yang kita lakukan untuk menggapai gunung-gunung tersebut, tetapi perlu kita sadari bahwa setinggi-tingginya gunung yang akan kita capai, masih tinggi gunung lagi gunung yang dimiliki Allah Swt yang maha kuasa dari segala-galanya.

    ReplyDelete
  2. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap orang memiliki pandangan atau persepsi yang berbeda. Elegi di atas menceritakan tentang pemaknaan gunung. Ternyata pandangan Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala, dan Kasala hampir serupa. Mereka mengartikan gunung hanyalah kekuasaan, kepandaian, potensi, keterampilan dan menganggap semua yang dimiliki adalah paling baik/tertinggi. Berbeda dengan Ramasita yang menganggap bahwa gunung yang tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Hal tersebut menjadi pembelajaran bahwasannya kelebihan tidak jarang membuat diri gelap mata. Segala yang ada di muka bumi hanyalah amanah dan tidak ada yang abadi. Sehingga sudah sepatutnya manusia menjaga amanah dengan baik dan tidak sombong. Ibarat pepatah “Semakin padi berisi semakin merunduk”.

    ReplyDelete
  3. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Puncak gunung di sini ternyata bermakna konotasi yaitu pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Alangkah bahagianya jika kita mampu mencapai puncaknya hati kita, puncaknya potensi kita, puncaknya keterampilan kita, dan puncaknya pengalaman kita. Perlu pengorbanan dan perjuangan untuk mencapai hal tersebut. Perjuangan yang dilakukan harus didasari dengan ilmu.

    ReplyDelete
  4. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi diatas saya dapat mengambil pelajaran bahwa untuk mencapai suatu kesuksesan itu ada bermacam-macam cara yang dilakukan manusia. Ada yang mengatakan bahwa kesuksesan itu adalah apabila dia sudah berkuasa, ada yang mengatakan dengan ilmu yang tinggi, ada yang mengatakan dengan keterampilan dan pengalaman, dan banyak lagi yang lainnya. Namun yang penting diatas kesemuanya itu jangan sampai lupa harus dibarengi dengan iman dan taqwa kepada Allah, sehingga bermanfaat bagi diri kita, orang banyak baik didunia ini maupun untuk dikehidupan dimasa yang akan datang.

    ReplyDelete
  5. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam dunia ini terdapat kedudukan yang tinggi. Namun tinggi kedudukan seseorang bersifat relative. Tidak semua bidang seseorang berada pada tingkatan yang tinggi, pasti diantara banyak bidang terdapat suatu kelemahan yang tertutupi. Maka dari itu manusia merupakan makhluk sempurna yang memiliki akal, kelebihan dan kekurangan sekaligus. Oleh karena itu walaupun manusia berada di gunung tinggi, masih ada satu gunung yang tertinggi, yaitu Tuhan Yang Kuasa pemilik alam semesta yang tidak tertandingi.

    ReplyDelete
  6. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    ilmu pengetahuan dipermisalkan sebagai sebuah gunung, maka terdapat usaha yang besar untuk mencapai puncaknya. Dalam usaha, tentu ada hal lain yang turut menyertainya. Dalam usaha terdapat rasa keikhlasan dalam mencari ilmu, memahaminya dan mengamalkannya. Keikhlasan hati ini membuat pikiran turut menjadi positif dalam berpikir sehingga apapun yang dikerjakan/dipelajari akan mudah dan lancar terlaksana.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    bagaimanapun cara meraih kesuksesan itu, kesuksesan haruslah diiringi dengan ilmu yang bermanfaat dan tingkah laku yang baik. dan tidak ada suatu puncak kesuksesan duniawi karena dalam hidup sebuah kesuksesan duniawi akan berputar seperti roda, yang harus kita lakukan saat mendapatkannya dengan banyak bersyukur kepada Allah SWT yang telah memberikan semuanya.

    ReplyDelete
  8. Ajeng Puspitasari / 14301241005
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari paparan tulisan di atas, saya mendapatkan beberapa ilmu baru.
    Pengandaian sebuah gunung, bagi kebanyakan orang ialah kekuasaan, ilmu, potensi, keterampilan, dan pengalaman yang menjadi tujuan setinggi-tingginya dalam hidup guna mengelola kekuasaan dan kemaslahatan orang banyak. Namun, setinggi apapun tujuannya, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mendakinya. Dan di sisi lain, setiap orang memiliki ketinggian gunung yang berbeda, yakni perbedaan dalam derajat ilmu, potensi, keterampilan, dsb. Dengan begitu, seseorang pasti memiliki minimal sebuah gunung yang lebih tinggi dari orang lain. Oleh karenanya, setiap orang tak patut merasa lebih tinggi. Nyatanya pun, dari semua gunung-gunung tinggi, ialah milik Tuhan yang tertinggi, karena Tuhan merupakan pemilik dari semua gunung, baik ilmu, kekuasaan, dsb.

    ReplyDelete
  9. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Setelah membaca elegi ini, yang dapat saya ambil adalah bahwa setiap manusia berhak menjadi gunung dan mencapai uncak yang diinginkan. Untuk mencapai puncak setinggin-tingginya pun kita harus melalui dengan proses yang tidak singkat. Telah dijabarkan di atas bagaimana cara menggapai puncak-puncak tersebut. Jika kita masih gunung terendah maka bersabarlah menutut ilmu dari gunung yang lebih tinggi. Jika kita adalah gunung yang sedang, maka berbagilah ilmu kepada gunung yang lebih rendah namun juga tetap menuntut ilmu dari gunung yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Tetapi pada penjelasan terakhir pada penjelasan tentang gunung yang tertinggi, aya masih agak sulit untuk memahaminya. Yang dapat saya tangkap adalah bahwa setiap orang mampu mencapai setiap puncak tertingginya, oleh karena itu banyak pula uncak-puncak tinggi yang saling berdampingan. Namun setiap puncak memiliki bidang sendiri-sendiri sehingga terkadang terdaat perbedaan yang dapat dijadikan bahan diskusi antar sesama. Bahasa yang digunakan adalah bahasa analog. Jika terdapat kebuntuan dari sebuah diskusi, maka mereka masih perl bertanya kepada orang tua berambut putih, yaitu ilmu pengetahuan baru lagi, karena hakekatnya belajar adalah seumur hidup.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. ilmu itu hakekatnya dari Allah SWT, manusia diberi kesempatan utuk menemukan dan mempelajari ilmu sedikit demi sedikit. Saya setuju bahwa mempelajari imu harus berlandaskan iman dan takwa. Ilmu itu bercabang dan diajarkan dari guru ke murid dan setiap guru pasti punya guru juga.

    ReplyDelete
  12. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Ilmu itu seperti gunung. Tinggi dan sangat luas ruang lingkupnya. Manusia hanya bisa berusaha menggapainya, ia tak akan pernah purna ilmunya. Diperlukan hati yang bersih, berpikir kritis dan keikhlasan hanya untuk menggapai ridho Allah SWT untuk menggapai ilmu. Dalam menggapai ilmu juga harus disertai dengan meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Hal ini karena jika ilmu tanpa didasari iman, maka ia dapat menjadi buta. Buta disini dalam arti seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya, buta karena sombong, buta karena tidak bisa membedakan yang benar dan salah, buta karena siksa api neraka, buta karena dosa, dsb.

    ReplyDelete
  13. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ilmu pengetahuan ibarat gunung. Setinggi-tingginya gunung yang manusia gapai masih ada gunung tertinggi diantara semua gunung yang tinggi yang ada di dunia ini dimana manusia tidak akan mampu menggapainya. Tiada ilmu pengetahuan tertinggi yang bisa dimiliki manusia, karena penguasa ilmu pengetahuan tertinggi hanyalah absolut milik Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  14. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari dialog artikel ini saya memperoleh pemahaman bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada diri kita. Karena pada kekuasaan merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Selain itu perlu diperhatikan juga bahwa agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

    ReplyDelete
  15. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Gunung bisa diibaratkan apa saja. Bisa kekuasaan, bisa pikiran, bisa hati, bisa potensi, bisa keterampilan, bisa pengalaman, dan masih banyak yang lainnya tergantung bagaimana orang itu memandang. Karna setinggi-tingginya tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan semua potensi yang kita punya lalu menerapkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat agar bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  16. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam elegi ini mengajarkan kepada kita sebagai manusia, bahwasanya dalam memandang suatu kekuasaan bukanlah untuk kekuasaan itu sendiri, melainkan bagaimana kekuasaan itu diperoleh, dan digunakan untuk apakah kekuasaan tersebut. Manusia yang gila akan kekuasaan hanya akan mementingkan dan mengutamakan posisi kekuasaanya, bagaimanapun caranya dia harus dapat mencapai puncak kekuasaan serta rela mengesampingkan dan mengorbankan hal-hal lainnya. Padahal setinggi-tingginya kekuasaan yang dimiliki manusia tidak akan menjadi kekuasaan tertinggi, karena kekuasaan tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  17. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Gunung dalam arti ini menggambarkan bahwa segala hal yang bersifat positif dan memiliki tingkatan seperti halnya kecerdasan, kekuasaan, kekayaan, kebaikan, dan sebagainya.
    Diharapkan spiritual menjadi landasan manusia dalam menggapai segala aspek. Namun terkadang dan bahkan tidak semua manusia melewati dan tidak menyadari spiritualnya.
    Maka jika dalam sudut pandang yang netral, manusia tumbuh menuju tujuannya tetap berlandasakan pada sisi positif.

    ReplyDelete
  18. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi ini bercerita mengenai hakikat gunung. Gunung yang dimaksudkan adalah gunung pengetahuan. Memberikan pesan bahwa dalam meraih kekuasaan atau keinginan haruslah melalui ikhtiar, ikhtiar dalam mencapai keinginan yaitu dengan mencari ilmu pengetahuan. Bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan dapat diperoleh menggunakan pikiran dan hati, pengalaman, keterampilan, dan juga potensi. Jika calon pendidik telah mendapat ilmu pengetahuan menggunakan kelima unsur tersebut, insyaAllah akan mendapatkan kekuasaan saat tiba waktunya untuk mengajar di kelas dan mengelola kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  19. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Setingigi – tingginya kedudukan absolut adalah kedudukan yang dimiliki Allah, yaitu Tuhan Semesta Alam. Maka janganlah bersikap angkuh dan merasa berada di kedudukan paling tinggi. Karena kedudukan bagi manusia di bumi ini adalah relative. Mengapa demikian? Karena manusia dibekali kelemahan dan kelebihan, oleh karena itu jadilah padi yang semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  20. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saya ingin menceritakan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh beberapa peserta sidang tersebut. Kasala menyatakan bahwa setinggi-tinggi tujuan hidupnya adalah demi kekuasaan. Berbeda dengan Kanwala, ia menyatakan bahwa tujuannya adalah tidak hanya kekuasaan namun juga pikiran. Selanjutnya berbeda dengan Ndadismen yang menyatakan bahwa tujuan hidupnya adalah kekuasaan, pikiran dan hati. Lain lagi Ndakiti, ia berkata bahwa tujuannya adalah kekuasaan, pikiran, hati, keterampilan dan pengalaman. Sedangkan Rakata menyatakan bahwa kekuasaan, pikiran, hati, potensi, keterampilan dan pengalaman. Inilah pandangan mereka yang berbeda dan yang paling lengkap adalah Rakata.

    ReplyDelete
  21. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Suatu pandangan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Seperti yang dilakukan oleh para peserta sidang ini. Dimana setiap manusia memiliki pengalaman dan yang menyebabkan pemahaman yang berbeda-beda pula. Namun, menurut saya seharunya semakin berilmu kita maka semakin baik pemikirannya, semakin baik tingkahnya, dan semakin baik pula hubungan dengan Ilahi. Karena semakin memahami kekurangan dirinya. Semoga kita bisa menjadi orang yang demikian. Aamiiiin...

    ReplyDelete
  22. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa setinggi – tingginya tujuan hidup adalah memperoleh ilmu kemudian mengelola ilmu dan memanfaatkannya untuk kehidupan. Ilmu digunakan agar keterampilan dan pengalaman juga bertambah. Di dalam mengelola ilmu jangan sampai tidak menggunakan hati. Hati harus tetap digunakan agar dapat mengontrol kekuasaan, sehingga kekuasaan yang dimiliki tidak merugikan orang lain tetapi justru dapat membantu orang lain memperoleh ilmu, keterampilan, dan juga pengalaman.

    ReplyDelete
  23. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi di atas dapat kita ketahui bahwa ada beberapa pendapat mengenai hakekat gunung. Dari beberapa pendapat, pendapat Ramasita lah yang paling menunjukkan hakekat gunung itu seperti apa. Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Jadi dalam menjalani kehidupan pikiran, hati, potensi, dan keterampilan kita harus senantiasa dikembangkan dan dimanfaatkan agar berguna bagi sesama manusia.

    ReplyDelete
  24. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Gunung disini dianalogikan dengan adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Gunung ini adalah hak semua orang untuk memiliki pikiran, hati, potensi, keterampilan,pengalaman. Setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Jika kita sedang berada di gunung yang tinggi maka kita akan merasakan anginnya yang lebih kencang. Angin disini kita analogikan dengan cobaan-cobaan yang datang ketika kita berada di puncak kesuksesan. Ingat untuk tetap andalkan Tuhan dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup.

    ReplyDelete
  25. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu mendapatkan suatu ilmu itu tidaklah semudah membalikan telapak tanga. Berdasarkan artikle tersebut, bahwa mendapat suatau ilmu itu harrus ada usaha dari kita sendiri.dan memanag benar mendapat ilmu itu seperti mendaki gunung es. Kita kalau mau mendakai gunung pasti untuk mencapai puncaknya akan sulit butuh perjuangan, tenaga dan pikiran harus dikeluarkan. Seperti itulah kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  26. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dalam elegi tersebut menceritakan tentang arti sebuah gunung bagi masing-masing gunung. Gunung disini dapat dapat diartikan sebagai ilmu. Maka setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki, sesungguhnya masih ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Semakin tinggi ilmu kita, seharusnya semakin menjadikan diri kita rendah hati dan senantiasa berpikir kritis, bukan justru menyombongkan diri dan berpikir tidak kritis. Karena semakin tinggi ilmu yang kia peroleh, kita akan merasa bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, kita tidak ada apa-apa-Nya daripada Sang Pemilik Ilmu, lalu bagaimana bisa kita dengan segala keterbarasan menyombongkan diri? Ilmu yang kita peroleh hendaknya kita amalkan demi memberikan manfaat bagi orang lain. Maka taka da artinya sedikitpun dari potensi yang kita miliki jika hati kita masih mengandung kesombongan walau hanya sedikitpun.

    ReplyDelete
  27. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Setiap manusia meliki kebebasan dalam memaknai gunungnya sendiri dan memiliki gunung tertinggi bagi dirinya sendiri.
    Hal ini disebabkan gunung yang dimaksudkan bersifat relatif.
    Setiap gunung yang kita pandang tinggi pasti akan ada gunung yang lebih tinggi lagi.
    Akan tetapi kita harus ingat lagi bahwa manusa memiliki keterbatasan berfikir, ruang dan waktu, maka pasti manusia akan berhenti pada satu ttitik, titik dimana dia merasa cukup dan lemah.

    ReplyDelete
  28. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Terdapat macam gunung dengan pandangan yang berbeda menggambarkan banyak karakter manusia dengan pandangan yang berbeda pula. Namun disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Kedudukan yang dimiliki oleh gunung digambarkan dengan sampai sejauh mana cara berpikir gunung terhadap pengetahuan yang bersifat relatif dan bersifat obyektif. Meskipun begitu, kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  29. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri, memiliki dimensinya sendiri. Maka haruslah setiap manusia saling menghargai dan menghargai orang lain. Karena manusia tidak sempurna dan lengkap, sehingga perlu manusia lain untuk melengkapinya dan menyempurnakannya. Sehingga perlulah mampir ke dimensi yang lebih tinggi untuk meninggikan dimensinya sendiri dan menyadi bahwa diri itu sangat kecil disbanding alam semesta. Dan mampirlah ke dimensi yang lebih rendah untuk mengethui kelebihannmu dan memahami bahwa dirimu itu dapat dianngap besar oleh dimensi di bawah.

    ReplyDelete
  30. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Saya setuju dengan Ramasita bahwasanya kekuasaan seseorang tidak hanya dapat diukur berdasarkan pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman tetapi kekuasaan akan suatu ilmu yang hakiki ialah yang berlandaskan pada keimanan dan ketaqwaan, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalamannya menggunakan ilmu yang ia punyai untuk mengelola kekuasaan demi tujuan bersama. Seorang pemimpin tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi lebih mengutamakan kepentingan bersama. Dan kekuasaan yang paling tinggi dan absolut hanyalah Allah SWT yang Maha Kuasa atas segalanya.

    ReplyDelete
  31. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari bacaan tersebut, saya belajar bahwa setiap orang hendaknya memiliki tujuan hidup dan setinggi-tingginya tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmu, hati, potensi, ketrampilan dan pengalamannya untuk hidup dengan setiap takdir yang telah diberikan demi kesejahteraan dan kebahagian sesama.

    ReplyDelete
  32. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Jabatan, kekuasaan hanya sementara…tak pantaslah itu kita jadikan sebagai alasan menjadi sombong dan berkuasa kepada bawahan, kepada teman, pembantu, atau orang lain, apalagi kita baru mengenalnya. Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    ReplyDelete
  33. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Untuk menggapai yang kita inginkan tidaklah mudah, butuh proses, perjuangan, serta pengorbanan. Untuk menuju puncak harus kita gali potensi, keterampilan, dan juga hati karena segala sesuatunya bersumber dari hati. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita gapai hendaklah didasari dengan iman dan taqwa agar berkah dan barokah.

    ReplyDelete
  34. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada elegi ini untuk menggapai kesuksesan terdapat dua cara, cara yang baik dan cara yang buru. Untuk mencapai kesuksesan yang abadi dan bermanfaat gunakanlah cara yang baik. Jika menggunakan cara yang buruk maka kesuksesan itu akan mudah hilang dan tidak bermanfaat bagi sekitar. Dalam mencapai kesuksesan tetaplah mengikut jalan Allah SWT.

    ReplyDelete
  35. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Tujuan hidup tertinggi manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan keyakinan, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalaman yang bisa digunakan untuk menolong sesama umat manusia. Seperti kata pepatah, bagai ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Orang yang semakin berisi haruslah semakin merendahkan diri, karena setelah dia tahu banyak hal maka sebtulnya diluar sana masih banyak yang lebih luas lagi yang akan diketahuinya.

    ReplyDelete
  36. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Puncak gunung merupakan pencapaian tertinggi seseorang setelah melalui berbagai rintangan untuk mencapai puncak tersebut. Dalam hal ini uncapk gunung bermakna konotasi yaitu pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Seseorang yang telah menggapai pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, akan lebih sempurna dan merupakan puncak yang tertinggi jika kita bisa menggapai
    puncaknya hati kita. Artinya bahwa setiap yang kita lakukan sesuai dengan hati nurani kita.

    ReplyDelete
  37. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ilmu menduduki posisi puncak dalam kebudayaan umat manusia diibaratkan sebagai gunung. Kita sebagai manusia bersama-sama selalu mencari ilmu pengetahuan karena diharapkan mampu memberikan kemajuan bagi kebudayaan manusia, juga merupakan bagian yang integral dengan pristise suatu bangsa. Dikatakan pula adanya istilah kekuasaan dapat diartikan sebagai daya atau kemampuan untuk melakukan pengaruh terhadap orang lain. Jika kekuasaan itu dialami atau diterima oleh masyarakat, maka kekuasaan itu berubah menjadi kewibawaaan. Jadi kewibawaan adalah kekuasaan yang diakui.

    ReplyDelete
  38. Setiap orang dapat mengartikan gunungnya sendiri. Ada gunung yang bersifat materi, forma, norma, dan spiritual. Bahwa gunung menurut materi adalah harta yaang dimiliki, menurut forma adalah jabatan, kedudukan, kekuasaan., menurut norma adalah kehormatan dan menurut spirit adalah pikiran atau juga ibadahnya. Gunung tertinggi menurut setiap orang pasti berbeda-beda berdasarkan sudut pandaangnya. Tetapi tetap yang MahaKuasa menurut saya adalah Sang Pencipta.

    ReplyDelete
  39. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Tujuan manusia di ciptakan atau hidup di dunia adalah untuk beribadah. Namun, ibadah yang baik adalah yang sesuai dengan tuntunan. Sehingga seseorang harus memiliki ilmu agar tahu mana yang di tuntunkan dan mana yang tidak. Ilmu tersebut sangat penting, sehingga Allah menjamin seseorang yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat. Dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang digunakan untuk kepentingan umat manusia. Karena Allah menciptakan manusia di bumi sebagai khalifah, maka sudah semestinya manusia harus memimpin bumi dengan cara mengelolanya dengan baik. Hanya orang-orang yang berilmu yang dapat melakukan hal yang demikian itu.

    ReplyDelete
  40. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049 (S1 Pendidikan Matematika I 2014)
    Dalam elegi tersebut membahas soal definisi gunung, definisi gunung yang dijabarkan oleh pihak-pihak tersebut mewakili tujuan hidup dari berbagai macam orang. Ada orang yang menjadikan kekuasaaan sebagai tujuan hidup dan adapula yang menjadikan tujuan hidup sebagai hati dan pikiran. Masing-masing tujuan hidup yang dianut oleh seseorang akan menjadikan kedudukannya dimata orang lain. Orang dengan tujuan yang besar akan memiliki orang lain yang sama pendapatnya atau sebagai pengikutnya. Itu lah makna dari gunung tinggi sedangkan gunung tertinggi atau gunung absolut hanya dimiliki oleh Tuhan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  41. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya tingkatan gunung yang ada dalam elegi di atas adalah tujuan hidup yang dimiliki oleh manusia. Tujuan yang paling rendah adalah ketika manusia hanya mementingkan kepentingan sendiri untuk mengelola kekuasaanya. Tingkatan kedua adalah ketika manusia memiliki tujuan untuk memeroleh ilmu dan menggunakan ilmu yang diperoleh untuk mengelola kekuasaanya. Begitu seterusnya samapai tujuan tertinggi adalah memeroleh ilmu yang berlandaaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya untuk mengelola kuasanya demi kesejahteraan bersama.

    ReplyDelete
  42. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kekuasaan merupakan suatu hal yang mulia apabila dijalankan dengn sepenh hati dan mendapatkannya dengan cara yang baik serta dipergunakan dengan baik. Agama tidak boleh dijadikan alat untuk mencapai kekuasaan. Karena menurut imam Ghazali, perbuatan tersebut termasuk perbuatan criminal atau pelecehan terhadap agama.

    ReplyDelete
  43. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam Elegi ini, gunung diibaratkan dengan pengetahuan. Pengetahuan itu sangat luas yang terdiri dari pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektif. Setiap orang memiliki tingkatan pengetahuan yang berbeda. Dan ilmu pengetahuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Janganlah kita gunakan untuk menguasai orang lain untuk mengikuti kehendak kita. Janganlah kita sombong atas ilmu yang kita miliki, karena setinggi dan sebanyak ilmu apapun yang kita miliki, sejatinya masih ada yang lebih tinggi yaitu apa yang dimiliki oleh Tuhan. Tiadalah gunung tertinggi bagi manusia, gunung tertinggi absolut hanyalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  44. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu. Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  45. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Gunung pada elegi di atas diibaratkan sebagai dimensi seseorang. Setiap orang memiliki dimensi yang berbeda-beda sesuai dengan ruang dan waktu. Namun tidak ada manusia yang memiliki gunung tertinggi atau dimensi tertinggi. Jika manusia memiliki gunung tertinggi maka dapat diartikan bahwa manusia tersebut tahu segalanya. Dan itu merupakan hal yang mustahil bagi manusia. Gunung yang tertinggi hanya dimiiki oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

    ReplyDelete
  46. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam elegi ini manusia diibaratkan sebagai gunung dengan segala kekuatan dan kekuasaannya serta bagaimana manusia sendiri menggunakan potensi, keterampilan, pengetahuan, hati, pikiran dan pengalamannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan agama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selayaknya manusia menggunakan yang dia punya untuk kepentingan bersama dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete