Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menggelar Sidang Rakyat (pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai tamu undangan semua, tibalah saatnya kita menggelar sidang rakyat. Peserta sidang ini kelihatannya lengkap: ada para gunung Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, ada sang Bagawat, ada Ramasita, ada Ahilu, ada Pampilu, ada Awama, ada Pratika, ada Cantraka. Saya juga melihat ada para stigma. Saya memohon sudilah sang Bagawat menjadi moderator pada persidangan ini.



Bagawat:
Terimakasih kepada Rakata yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi moderator. Tetapi saya mempunyai permintaan, saya minta wewenang saya ditambah. Disamping sebagai moderator, saya juga ingin memposisikan diri saya sebagai fasilitator, dinamisator dan pembahas. Apakah permintaan saya diperbolehkan?

Rakata:
Silahkan

Bagawat:
Terimakasih. Saya ingin membagi sidang ini menjadi sidang pleno dan sidang rakyat. Pada sidang pleno saya akan bertanya dan memberi kesempatan kepada para gunung Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala. Pada sidang rakyat saya ingin memberi kesempatan kepada peserta, siapa saja, yang ingin mengajukan pertanyaan atau tanggapan atau usul dst.

Bagawat:
Wahai Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, sebagai sebuah gunung, apakah yang engkau pahami tentang makna sebuah gunung itu. Silahkan jawab dari gunung yang paling rendah, yaitu Kasala.

Kasala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung itu kekuasaan. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh dan menggunakan kekuasaan.

Kanwala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu, kemudian aku gunakan ilmuku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndadismen:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, kemudian aku gunakan ilmuku dan hatiku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndakiti:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Rakata:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, potensi, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku, potensiku, ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku demi kemaslahatan orang banyak.

Bagawat:
Apa yang selama ini aku khawatirkan ternyata terjadi. Aku mengkhawatirkan bahwa engkau semua kurang dalam dan kurang luas dan kurang komprehensif dalam memaknai kedudukanmu sebagai gunung. Walaupun jawaban Rakata adalah yang paling lengkap tetapi masih kurang mendalam kurang luas dan kurang komprehensif.

Bagawat:
Coba aku ingin bertanya kepada bukan gunung. Wahai Ramasita, apakah hakekat gunung itu menurut dirimu?

Ramasita:
Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Tetapi keteranganku itu belumlah cukup, karena pada hakekatnya hal yang demikian itu menjadi hak semua manusia untuk menggapai. Diakui atau tidak maka gunung adalah hak semua orang. Maka gunung adalah setiap orang dan setiap orang adalah gunung. Sedangkan tinggi rendahnya gunung itu relatif. Jika engkau datang kepadaku maka engkau harus mengakui gunungku. Setidaknya gunung pengetahuanku terhadap rumahku itu lebih tinggi dari pada pengetahuan tamuku. Itulah aku berhak mengklaim bahwa gunungku lebih tinggi dari tamuku.

Bagawat:
Kenapa bisa ada gunung tinggi dan gunung tertinggi?

Ramasita:
Itulah pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektifku. Jika aku melihat ada sebuah gunung mempunyai pengikut gunung-gunung yang lain maka aku katakan gunung yang pertama sebagai gunung yang tinggi, demikian seterusnya sampai aku bisa menemukan gunung tertinggi. Sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah gunung tertinggi itu bagi manusia. Gunung tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

73 comments:

  1. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ilmu pengetahuan ibarat gunung. Setinggi-tingginya gunung yang manusia gapai masih ada gunung tertinggi diantara semua gunung yang tinggi yang ada di dunia ini dimana manusia tidak akan mampu menggapainya. Tiada ilmu pengetahuan tertinggi yang bisa dimiliki manusia, karena penguasa ilmu pengetahuan tertinggi hanyalah absolut milik Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  2. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari dialog artikel ini saya memperoleh pemahaman bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada diri kita. Karena pada kekuasaan merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Selain itu perlu diperhatikan juga bahwa agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

    ReplyDelete
  3. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Gunung bisa diibaratkan apa saja. Bisa kekuasaan, bisa pikiran, bisa hati, bisa potensi, bisa keterampilan, bisa pengalaman, dan masih banyak yang lainnya tergantung bagaimana orang itu memandang. Karna setinggi-tingginya tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan semua potensi yang kita punya lalu menerapkannya ke dalam kehidupan bermasyarakat agar bisa bermanfaat bagi orang banyak.

    ReplyDelete
  4. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam elegi ini mengajarkan kepada kita sebagai manusia, bahwasanya dalam memandang suatu kekuasaan bukanlah untuk kekuasaan itu sendiri, melainkan bagaimana kekuasaan itu diperoleh, dan digunakan untuk apakah kekuasaan tersebut. Manusia yang gila akan kekuasaan hanya akan mementingkan dan mengutamakan posisi kekuasaanya, bagaimanapun caranya dia harus dapat mencapai puncak kekuasaan serta rela mengesampingkan dan mengorbankan hal-hal lainnya. Padahal setinggi-tingginya kekuasaan yang dimiliki manusia tidak akan menjadi kekuasaan tertinggi, karena kekuasaan tertinggi hanyalah milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Gunung dalam arti ini menggambarkan bahwa segala hal yang bersifat positif dan memiliki tingkatan seperti halnya kecerdasan, kekuasaan, kekayaan, kebaikan, dan sebagainya.
    Diharapkan spiritual menjadi landasan manusia dalam menggapai segala aspek. Namun terkadang dan bahkan tidak semua manusia melewati dan tidak menyadari spiritualnya.
    Maka jika dalam sudut pandang yang netral, manusia tumbuh menuju tujuannya tetap berlandasakan pada sisi positif.

    ReplyDelete
  6. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Elegi ini bercerita mengenai hakikat gunung. Gunung yang dimaksudkan adalah gunung pengetahuan. Memberikan pesan bahwa dalam meraih kekuasaan atau keinginan haruslah melalui ikhtiar, ikhtiar dalam mencapai keinginan yaitu dengan mencari ilmu pengetahuan. Bagaimana cara memperoleh ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan dapat diperoleh menggunakan pikiran dan hati, pengalaman, keterampilan, dan juga potensi. Jika calon pendidik telah mendapat ilmu pengetahuan menggunakan kelima unsur tersebut, insyaAllah akan mendapatkan kekuasaan saat tiba waktunya untuk mengajar di kelas dan mengelola kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran.

    ReplyDelete
  7. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Setingigi – tingginya kedudukan absolut adalah kedudukan yang dimiliki Allah, yaitu Tuhan Semesta Alam. Maka janganlah bersikap angkuh dan merasa berada di kedudukan paling tinggi. Karena kedudukan bagi manusia di bumi ini adalah relative. Mengapa demikian? Karena manusia dibekali kelemahan dan kelebihan, oleh karena itu jadilah padi yang semakin berisi semakin merunduk.

    ReplyDelete
  8. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saya ingin menceritakan secara singkat apa yang telah disampaikan oleh beberapa peserta sidang tersebut. Kasala menyatakan bahwa setinggi-tinggi tujuan hidupnya adalah demi kekuasaan. Berbeda dengan Kanwala, ia menyatakan bahwa tujuannya adalah tidak hanya kekuasaan namun juga pikiran. Selanjutnya berbeda dengan Ndadismen yang menyatakan bahwa tujuan hidupnya adalah kekuasaan, pikiran dan hati. Lain lagi Ndakiti, ia berkata bahwa tujuannya adalah kekuasaan, pikiran, hati, keterampilan dan pengalaman. Sedangkan Rakata menyatakan bahwa kekuasaan, pikiran, hati, potensi, keterampilan dan pengalaman. Inilah pandangan mereka yang berbeda dan yang paling lengkap adalah Rakata.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Suatu pandangan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Seperti yang dilakukan oleh para peserta sidang ini. Dimana setiap manusia memiliki pengalaman dan yang menyebabkan pemahaman yang berbeda-beda pula. Namun, menurut saya seharunya semakin berilmu kita maka semakin baik pemikirannya, semakin baik tingkahnya, dan semakin baik pula hubungan dengan Ilahi. Karena semakin memahami kekurangan dirinya. Semoga kita bisa menjadi orang yang demikian. Aamiiiin...

    ReplyDelete
  10. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari elegi tersebut saya dapat mengambil kesimpulan bahwa setinggi – tingginya tujuan hidup adalah memperoleh ilmu kemudian mengelola ilmu dan memanfaatkannya untuk kehidupan. Ilmu digunakan agar keterampilan dan pengalaman juga bertambah. Di dalam mengelola ilmu jangan sampai tidak menggunakan hati. Hati harus tetap digunakan agar dapat mengontrol kekuasaan, sehingga kekuasaan yang dimiliki tidak merugikan orang lain tetapi justru dapat membantu orang lain memperoleh ilmu, keterampilan, dan juga pengalaman.

    ReplyDelete
  11. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dari elegi di atas dapat kita ketahui bahwa ada beberapa pendapat mengenai hakekat gunung. Dari beberapa pendapat, pendapat Ramasita lah yang paling menunjukkan hakekat gunung itu seperti apa. Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Jadi dalam menjalani kehidupan pikiran, hati, potensi, dan keterampilan kita harus senantiasa dikembangkan dan dimanfaatkan agar berguna bagi sesama manusia.

    ReplyDelete
  12. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Gunung disini dianalogikan dengan adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Gunung ini adalah hak semua orang untuk memiliki pikiran, hati, potensi, keterampilan,pengalaman. Setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Jika kita sedang berada di gunung yang tinggi maka kita akan merasakan anginnya yang lebih kencang. Angin disini kita analogikan dengan cobaan-cobaan yang datang ketika kita berada di puncak kesuksesan. Ingat untuk tetap andalkan Tuhan dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup.

    ReplyDelete
  13. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Kita tahu mendapatkan suatu ilmu itu tidaklah semudah membalikan telapak tanga. Berdasarkan artikle tersebut, bahwa mendapat suatau ilmu itu harrus ada usaha dari kita sendiri.dan memanag benar mendapat ilmu itu seperti mendaki gunung es. Kita kalau mau mendakai gunung pasti untuk mencapai puncaknya akan sulit butuh perjuangan, tenaga dan pikiran harus dikeluarkan. Seperti itulah kita dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  14. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dalam elegi tersebut menceritakan tentang arti sebuah gunung bagi masing-masing gunung. Gunung disini dapat dapat diartikan sebagai ilmu. Maka setinggi-tingginya ilmu yang kita miliki, sesungguhnya masih ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Semakin tinggi ilmu kita, seharusnya semakin menjadikan diri kita rendah hati dan senantiasa berpikir kritis, bukan justru menyombongkan diri dan berpikir tidak kritis. Karena semakin tinggi ilmu yang kia peroleh, kita akan merasa bahwa kita tidak mengetahui apa-apa, kita tidak ada apa-apa-Nya daripada Sang Pemilik Ilmu, lalu bagaimana bisa kita dengan segala keterbarasan menyombongkan diri? Ilmu yang kita peroleh hendaknya kita amalkan demi memberikan manfaat bagi orang lain. Maka taka da artinya sedikitpun dari potensi yang kita miliki jika hati kita masih mengandung kesombongan walau hanya sedikitpun.

    ReplyDelete
  15. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Setiap manusia meliki kebebasan dalam memaknai gunungnya sendiri dan memiliki gunung tertinggi bagi dirinya sendiri.
    Hal ini disebabkan gunung yang dimaksudkan bersifat relatif.
    Setiap gunung yang kita pandang tinggi pasti akan ada gunung yang lebih tinggi lagi.
    Akan tetapi kita harus ingat lagi bahwa manusa memiliki keterbatasan berfikir, ruang dan waktu, maka pasti manusia akan berhenti pada satu ttitik, titik dimana dia merasa cukup dan lemah.

    ReplyDelete
  16. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Terdapat macam gunung dengan pandangan yang berbeda menggambarkan banyak karakter manusia dengan pandangan yang berbeda pula. Namun disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Kedudukan yang dimiliki oleh gunung digambarkan dengan sampai sejauh mana cara berpikir gunung terhadap pengetahuan yang bersifat relatif dan bersifat obyektif. Meskipun begitu, kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  17. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setiap manusia memiliki keunikannya sendiri, memiliki dimensinya sendiri. Maka haruslah setiap manusia saling menghargai dan menghargai orang lain. Karena manusia tidak sempurna dan lengkap, sehingga perlu manusia lain untuk melengkapinya dan menyempurnakannya. Sehingga perlulah mampir ke dimensi yang lebih tinggi untuk meninggikan dimensinya sendiri dan menyadi bahwa diri itu sangat kecil disbanding alam semesta. Dan mampirlah ke dimensi yang lebih rendah untuk mengethui kelebihannmu dan memahami bahwa dirimu itu dapat dianngap besar oleh dimensi di bawah.

    ReplyDelete
  18. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Saya setuju dengan Ramasita bahwasanya kekuasaan seseorang tidak hanya dapat diukur berdasarkan pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman tetapi kekuasaan akan suatu ilmu yang hakiki ialah yang berlandaskan pada keimanan dan ketaqwaan, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalamannya menggunakan ilmu yang ia punyai untuk mengelola kekuasaan demi tujuan bersama. Seorang pemimpin tidak hanya mementingkan dirinya sendiri tetapi lebih mengutamakan kepentingan bersama. Dan kekuasaan yang paling tinggi dan absolut hanyalah Allah SWT yang Maha Kuasa atas segalanya.

    ReplyDelete
  19. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari bacaan tersebut, saya belajar bahwa setiap orang hendaknya memiliki tujuan hidup dan setinggi-tingginya tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmu, hati, potensi, ketrampilan dan pengalamannya untuk hidup dengan setiap takdir yang telah diberikan demi kesejahteraan dan kebahagian sesama.

    ReplyDelete
  20. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Jabatan, kekuasaan hanya sementara…tak pantaslah itu kita jadikan sebagai alasan menjadi sombong dan berkuasa kepada bawahan, kepada teman, pembantu, atau orang lain, apalagi kita baru mengenalnya. Mengapa manusia tidak boleh sombong? Sebab manusia adalah makhluk yang lemah, maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya, sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya sempurna segala-galanya.

    ReplyDelete
  21. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Untuk menggapai yang kita inginkan tidaklah mudah, butuh proses, perjuangan, serta pengorbanan. Untuk menuju puncak harus kita gali potensi, keterampilan, dan juga hati karena segala sesuatunya bersumber dari hati. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita gapai hendaklah didasari dengan iman dan taqwa agar berkah dan barokah.

    ReplyDelete
  22. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pada elegi ini untuk menggapai kesuksesan terdapat dua cara, cara yang baik dan cara yang buru. Untuk mencapai kesuksesan yang abadi dan bermanfaat gunakanlah cara yang baik. Jika menggunakan cara yang buruk maka kesuksesan itu akan mudah hilang dan tidak bermanfaat bagi sekitar. Dalam mencapai kesuksesan tetaplah mengikut jalan Allah SWT.

    ReplyDelete
  23. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Tujuan hidup tertinggi manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan keyakinan, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalaman yang bisa digunakan untuk menolong sesama umat manusia. Seperti kata pepatah, bagai ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Orang yang semakin berisi haruslah semakin merendahkan diri, karena setelah dia tahu banyak hal maka sebtulnya diluar sana masih banyak yang lebih luas lagi yang akan diketahuinya.

    ReplyDelete
  24. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Puncak gunung merupakan pencapaian tertinggi seseorang setelah melalui berbagai rintangan untuk mencapai puncak tersebut. Dalam hal ini uncapk gunung bermakna konotasi yaitu pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Seseorang yang telah menggapai pengetahuan, pengalaman dan keterampilan, akan lebih sempurna dan merupakan puncak yang tertinggi jika kita bisa menggapai
    puncaknya hati kita. Artinya bahwa setiap yang kita lakukan sesuai dengan hati nurani kita.

    ReplyDelete
  25. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ilmu menduduki posisi puncak dalam kebudayaan umat manusia diibaratkan sebagai gunung. Kita sebagai manusia bersama-sama selalu mencari ilmu pengetahuan karena diharapkan mampu memberikan kemajuan bagi kebudayaan manusia, juga merupakan bagian yang integral dengan pristise suatu bangsa. Dikatakan pula adanya istilah kekuasaan dapat diartikan sebagai daya atau kemampuan untuk melakukan pengaruh terhadap orang lain. Jika kekuasaan itu dialami atau diterima oleh masyarakat, maka kekuasaan itu berubah menjadi kewibawaaan. Jadi kewibawaan adalah kekuasaan yang diakui.

    ReplyDelete
  26. Jeanete Nenabu
    PPS PMAT D (15709251004)

    Dalam Elegi ini, gunung diibaratkan dengan pengetahuan. Pengetahuan itu sangat luas yang terdiri dari pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektif. Setiap orang memiliki tingkatan pengetahuan yang berbeda. Dan ilmu pengetahuan yang dimiliki hendaknya digunakan untuk hal-hal yang berguna dan bermanfaat bagi diri sendiri dan juga orang lain. Janganlah kita gunakan untuk menguasai orang lain untuk mengikuti kehendak kita. Janganlah kita sombong atas ilmu yang kita miliki, karena setinggi dan sebanyak ilmu apapun yang kita miliki, sejatinya masih ada yang lebih tinggi yaitu apa yang dimiliki oleh Tuhan. Tiadalah gunung tertinggi bagi manusia, gunung tertinggi absolut hanyalah milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  27. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karena kehilangannya. Maka, episode apapun yang sedang engkau lalui pada detik ini, tenangkanlah hatimu. Cerita tidak selalu sama. Episode terus berubah. Berganti dari satu situasi kepada situasi yang lain. Berbolak-balik. Bertukar-tukar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang maju, kadang mundur. Itulah kehidupan. Namun, satu hal yang seharusnya tidak pernah berubah pada kita; yaitu, hati yang selalu tenang dan tetap teguh dalam kebenaran.

    ReplyDelete
  28. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Gunung pada elegi di atas diibaratkan sebagai dimensi seseorang. Setiap orang memiliki dimensi yang berbeda-beda sesuai dengan ruang dan waktu. Namun tidak ada manusia yang memiliki gunung tertinggi atau dimensi tertinggi. Jika manusia memiliki gunung tertinggi maka dapat diartikan bahwa manusia tersebut tahu segalanya. Dan itu merupakan hal yang mustahil bagi manusia. Gunung yang tertinggi hanya dimiiki oleh Allah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu.

    ReplyDelete
  29. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Dalam elegi ini manusia diibaratkan sebagai gunung dengan segala kekuatan dan kekuasaannya serta bagaimana manusia sendiri menggunakan potensi, keterampilan, pengetahuan, hati, pikiran dan pengalamannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan agama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selayaknya manusia menggunakan yang dia punya untuk kepentingan bersama dan bermanfaat bagi orang lain.

    ReplyDelete
  30. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Itulah pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektifku. Jika aku melihat ada sebuah gunung mempunyai pengikut gunung-gunung yang lain maka aku katakan gunung yang pertama sebagai gunung yang tinggi, demikian seterusnya sampai aku bisa menemukan gunung tertinggi. Sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah gunung tertinggi itu bagi manusia. Gunung tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa"

    MEnarik. Saya setuju bahwa semua yang ada di dunia dan berhubungan dengan manusia bersifat relatif. Sangat setuju bahwa yang memiliki kebenaran absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Saya melihat bahwa setiap manusia berkuasa atas dirinya masing-masing. Jadi semua akan benar, prinsip dan tujuan hidup itu benar, prinsip dan tujuan hidup si A selalu benar bagi si A. Hanya saja, di dunia yang fana ini kita harus mempertimbangkan norma-norma yang ada. Dan sekali lagi, apapun yang ingin kita usahakan, maka kendalikan usaha kita dengan "hati".

    ReplyDelete
  31. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Kutarungu sang rakata menggelar sidang (pertama) menjelaskan tenatng hakikat tujuan hidup. Dalam artikel diatas menjelaskan bahwa awalnya seseorang ingin posisi sebagai pemimpin yaitu posisi yang memiliki kekuasaan, namun dengan dia memiliki ilmu, maka dia akan menggunakan ilmunya untuk mengelola kekuasaannya. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup kita adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari keterampilan dan pengalaman yang kemudian ilmu, hati, potensi, keterampilan dan pengalaman itu untuk mengelola kekuasaan demi kemaslahatan orang banyak.

    ReplyDelete
  32. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi di atas menyebutkan bahwa manusia itu ibarat gunung-gunung. Ada yang tinggi dan ada yang rendah. Maka tinggi dan rendahnya gunung-gunung tersebut (tinggi dan rendahnya kedudukan seseorang) bergantung pada ilmu yang ia punya dan sejauhmana ilmu itu bermanfaat bagi orang sekitar. Oleh karena itu, hendaknya kita selalu menggali potensi yang kita miliki, menuntut ilmu, dan menyebar manfaat melalui ilmu-ilmu yang kita miliki. Dengan begitu, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan gunung-gunung yang tinggi (orang berilmu dan bermanfaat). Tetapi sebaik-baiknya gunung tertinggi adalah Allah SWT. Dialah yang Maha Sempurna.

    ReplyDelete
  33. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Menurut pemahaman saya dari bacaan, gunung menggambarkan tentang manusia dan tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia berbeda-beda, hal tersebut digambarkan dengan ketinggian gunung yang berbeda. Menurut jawaban dari para gunung tentang tujuannya maka manusia hanya bisa berusaha untuk mencapai tujuan hidup yang semakin tinggi tetapi tidak akan pernah mampu mencapai yang tertinggi, namun usahanya harus terus menerus dilakukan.

    ReplyDelete
  34. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 PM A

    Seorang manusia diibaratkan seperti gunung. gunung yang berupa kekuasaan, pikiran, hati, keterampilan, pengalaman, dsb. Begitu banyak makna analogi sebuah gunung dalam diri manusia. Manusia hidup karena ia berpikir. Sehingga apa yang menjadi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya, untuk dapat digunakan sebagai bekal memberikan manfaat bagi sesama manusia. Manusia satu dengan yang lainnya tentu memiliki kelebihan masing-masing. Hal itu tentu harus kita akui tanpa menganggapnya sebagai hal yang ingin kita miliki pula. Seperti halnya ketika dalam proses mencari ilmu, kepada siapa seseorang belajar, maka ia harus mengakui bahwa ia masih berada pada level di bawahnya. Sebaliknya, sebagai manusia yang sudah tahu sebelumnya tentang suatu ilmu janganlah tinggi hati. Karena segala yang ada di muka bumi ini adalah semata-mata milik Allah SWT, dan akan kembali pada Nya.

    ReplyDelete
  35. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap manusia diberi kenikmatan dalam hal akal pikiran. Dengan akal pikiran tersbeut manusia mampu menggunakan olahpikir dala segala aktivitasnya. Dalam tulisan diatas menunjukkan betapa beragamnya umat manusia, sehingga kita mempunyai pemikiran masing-masing.

    ReplyDelete
  36. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Gunung dalam elegi ini adalah tujuan hidup. Tujuan hidup yang satu dan yang lainnya berbeda-beda. Begitupula tinggi rendahnya gunung tidak dapat dinilai karena bersifat relatif, masing-masing orang memiliki indikator sendiri untuk menentukan seberapa tinggi gunungnya. Namun dalam mendefenisikan dan membangun indikator tingginya gunung hendaklah untuk keselamatan dunia dan akhirat karena sebenar-benar tujuan perjalanan manusia di muka bumi adalah untuk beribadah kepada Tuhan yang maha esa.

    ReplyDelete
  37. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi Kutarunggu Sang Rakata Menggelar Sidang ini menganalogikan kemampuan orang-orang dengan gunung-gunung. Artinya seseorang itu ada yang memiliki kemampuan yang lebih, ada yang sedang, ada yang kurang. Dan, bisa juga diartikan dengan orang-orang yang sedang menggapai kesempurnaan dalam hidup. Akan tetapi kita harus menyadari bahwa, setinggi-tingginya pengetahuan atau kemampuan kita, hanya Allah SWT yang memiliki sebenar-benar pengetahuan atau kemampuan yang paling tinggi. Maka sudah seharusnya kita merasa kurang dan perlu belajar karena memang kita merupakan makhluk yang tidak sempurna dan penuh kekurangan.

    ReplyDelete
  38. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.
    Terimakasih banyak Pak prof
    Membuat saya terpikat dengan petikan kalimat berikut ini yang terdapat pada tulisan di atas “Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama”
    Jika saya memahami bahwa tujuan dari akhir kalimat di atas merujuk pada kehidupan sosial. Tentang bagaimana memberikan nuansa positif buat orang lain.Sebab,sebaik-baiknya hidup merupakan hidup yang bermanfaat bagi orang lain.Segala sesuatu yang ada pada diri kita akan terlihat lebih baik jika berguna buat orang lain.

    ReplyDelete
  39. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Pada elegi ini gunung yang dimaksudkan bagi setiap orang adalah berbeda-beda, yaitu harapan akan sesuatu yang ada dalam diri manusia dan sesuatu itu adalah apa yang dianggap tinggi kedudukannya (kekuasaan,ilmu). Mencari gunung tertinggi tidak akan pernah berhasil ditemukan, bila ternyata dibalik gunung yang dianggap tinggi masih ada gunung lain yang lebih tinggi. Gunung dianggap sebagai diri manusia itu sendiri, tinggi rendahnya pun relatif tergantung potensi yang ada pada diri manusia tersebut, hanya Allah SWT gunung yang tertinggi dan sifatnya absolut.

    ReplyDelete
  40. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Runtuhnya kesombongan bisa jadi menaikkan spiritual seseorang, kami sanagt setuju sekali bahwa setinggi-tingginya kekuasaan adalah milik Tuhan Yang Maha Esa. Sang raja menggelar sidang rakyat merupakan niat yang bagus untuk mendiskusikan kemaslahatan kehidupan bernegera, mengevaluasi kondisi yang ada sebagai acuan untuk meningkatkan kehidupan yang baik. Maka gunung merupakan ibarat kekuasaan dimana setiap kebijakan dari kekuasaan tidak lepas dari kekurangan. Oleh karena itu perlu siding untuk membincangkan semuanya. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  41. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, manusia adalah makhluk yang memiliki hasrat dan tujuan dalam hidupnya. Setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, senantiasa meningkatkan potensi dan kualitas diri, senantiasa mencari dan mengembangkan ketrampilan dan pengalaman, kemudian senantiasa berusaha menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola hal yang ada pada dirinya agar bisa bermanfaat bagi sesamanya

    ReplyDelete
  42. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Manusia pada hakekatnya memang tak kan pernah puas. Ingin menggapai semua yang dapat tergapai. Mencapai ilmu tertinggi, menguasai keluasan dan kedalaman bumi. Setinggi-tinggi ilmu dan kekuasaan manusia, tetaplah bukan apa-apa dibanding Tuhannya. Tuhanlah yang memberikan ilmu dan kekuasaan itu kepada manusia lewat anugerah dan karunia-Nya yang mengizinkan manusia memiliki ilmu dan kekuasaan itu dalam ruang dan waktu yang telah ditentukan-Nya.

    ReplyDelete
  43. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Setiap orang memiliki kekuasaan pengetahuan, keterampilan, hati, pikiran, pengalaman, dan lain sebagainya. Setiap orang juga memiliki potensi untuk dapat mencapai setinggi-tingginya hal-hal tersebut melalui ikhtiarnya masing-masing. Tinggi dan rendahnya sesuatu yang dapat dicapai tergantung pada seberapa besar usahanya dan doanya, tentu juga ditentukan oleh takdir-Nya. Selain itu, dari elegi ini dapat dipetik bahwa di dalam hidup ini, setiap orang hendaknya mengakui dan menyadari kelebihan yang dimiliki orang lain, tidak perlu saling mengolok bahkan bertengkar. Dengan adanya kelebihan yang berbeda tersebut juga akan menumbuhkan kesadaran bahawa sejatinya dalam hidup kita akan saling membutuhkan. Saling menghargai dan menghormati setiap kelebihan sehingga akan terwujud kehidupan yang harmonis.

    ReplyDelete
  44. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Setelah membaca elegi ini, hal yang dapat saya pahami adalah gunung yang dibaratkan sebagai tujuan akhir manusia itu sifatnya relatif tergantung setiap individu. Menurut saya, kita janganlah mengejar tujuan hidup itu hanya sebatas kekuasaan saja. Namun melupakan ilmu, hati, pikiran dan ketrampilan. Hal itu karena, saat kita hanya mengejar kekuasaan dalam kehidupan ini tanpa dibarengi dengan ilmu dan hati maka kekuasaan yang kita miliki akan menyengsarakan individu yang lain. Hal itu karena, kekuasaan yang kita miliki tidak dikontrol oleh ilmu dan hati. Namun saat kita mengunakan ilmu, hati, ketrampilan dan potensi untuk mengelola kekuasaan yang kita miliki, maka kekuasaan itu akan bermanfaat bagi individu lain.Terimakasih

    ReplyDelete
  45. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Persidangan rakyat yang digelar Kutarunggu Sang Rakata diatas mengambarkan bahwa terkadang banyak orang yang belum memahami kedudukannya sehingga mereka tidak berprilaku sebagaimana mestinya dia berprilaku berdasarakn kedudukannya. banak orang yang merasa tinggi dan berkuasa sehingga dia sombong dalam berprilaku dia tidak menyadari bahwa "Sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah gunung tertinggi itu bagi manusia. Gunung tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa."

    ReplyDelete
  46. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sungguh saya telah salah membaca elegi ini setelah saya selesai membaca sidang ke 2. Setiap manusia memiliki hakekat gunung sendiri-sendiri, karena manusia memiliki hak dan bebas dalam berpendapat. Manusia jelas memiliki ambisi yang ingin dicapai selama di dunia, hal ini juga bisa dikatakan sebagagi bagian dari gunung tinggi. Tidak ada habisnya menurut saya apabila seseorang itu hanya mengejar ambisi dengan melihat kekuasaan yang terjadi hanya sesaat. Bagi saya, sudah jelas. Ada gunung tinggi pasti ada gunung tertinggi. Itu lah sebenar-benarnya hidup yaitu untuk mencapai gunung tertinggi yang berlandaskan pada spiritual. Kita berasal dari Allah, maka kita akan kembali kepada Nya.

    ReplyDelete
  47. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas pelajaran yang bisa kita petik adalah kekuasaantidak selalu dipersepsikan negatif namun kekuasaan juga merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

    ReplyDelete
  48. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang manusia, tidak semestinya kita menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidup kita, sebagai sesuatu yang kita impi-impikan. Kita harus menyadari bahwa seberapapun tinggi kekusaan yang kita miliki maka pastilah ada kekuasaan yang lebih tinggi. Karena itulah yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita adalah bagaiaman kita mengembangkan potensi kita dengan mencari ilmu, mencari pengalaman, sehingga potensi, ilmu, dan pengalaman yang kita miliki dapat bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

    ReplyDelete
  49. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia di bumi ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Di atas manusia yang satu masih ada manusia yang lain yang lebih tinggi tingkatannya, baik itu ilmunya, derajatnya, hartanya, atau keturunannya. Namun dibalik itu semua yang menduduki tingkatan paling tinggi ialah sang pencipta manusia yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  50. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Esensi dari gunung adalah ketercapaian individu. Gunung digambarkan sebagai ketercapaian subyektif karena tiap orang memiliki definisi yang berbeda terhadap gunung. Mulai dari gunung sebagai kekuasaan, gunung sebagai ilmu, gunung sebagai pikiran, gunung sebagai pengalaman dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya pandangan universal gunung adalah hati kita sendiri, sejauh mana kita mampu mencapai kedamaian hati yang tertinggi akan membawa kita pada ketercapaian universal.

    ReplyDelete
  51. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Gunung yang dimaksud diatas adalah diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan ilmu, potensi, kekuasan serta segala hal yang berkaitan dengan diri setiap individu, dan kesemuanya itu digunakan untuk membantu dan berbagi dengan yang lain. Sehingga kemampuan sesorang untuk mecapai gunung yang tinggi dan gunung yang rendah sangatlah berbeda. Berkaitan dengan tinggi rendahnya gunung, tergantung dengan pada apa yang dimiliki seseorang, dan bagaimana ia memanfaatkannya. Namun terlebih dari itu semua, setiap orang harus mampu menghormati setiap perbedaan yang ada.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  52. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Puncak gunung di sini ternyata bermakna konotasi yaitu pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Alangkah bahagianya jika kita mampu mencapai puncaknya hati kita, puncaknya potensi kita, puncaknya keterampilan kita, dan puncaknya pengalaman kita. Perlu pengorbanan dan perjuangan untuk mencapai hal tersebut. Perjuangan yang dilakukan harus didasari dengan ilmu.

    ReplyDelete
  53. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut. Pada elegi di atas gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama, maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Puncak kenikmatan dunia dipengaruhi oleh dua faktor: kekayaan dan kekuasaan. Sehingga setiap manusia diuji sejauh mana ia dapat mengatur dirinya terhadap puncak kenikmatan dunia itu.

    ReplyDelete
  54. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda, potensi, ilmu pengetahuan,serta bagaimana pemikiran yang dimilikinya. Memiliki pengetahuan yang tinggi merupakan hal yang dapat dicapai oleh semua orang, namun hak ini bersifat relatif antar satu orang dengan orang yang lain. Batasn ilmui yang dapat dicapai oleh seseorang tergantung dengan keammpuan dan usahanya dalam mencapai pengetahuannya, dengan batasan yang berbeda-beda menjadikan kemampuan setiap orang berbeda-beda pula, hal inilah yang mempengaruhi kedudukan manusia terhadap dunia, manusia terhadap manusia lain, namun disertai dengan peamhaman bahwa kedudukan manusia tidak akan lebih tinggi dari kedudukan Tuhan yang Maha tinggi.

    ReplyDelete
  55. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pengetahuan. Ilmu. Merupakan hal-hal yang bisa diperoleh dengan berpikir (terus perpikir). Setiap orang mempunyai pengetahuannya masing-masing. Pengetahuan yang telah dimiliki akan terus-menerus berkembang jika senantiasa diamalkan/dibagikan, tentunya dalam jalan yang baik dan benar, misalnya: digunakan untuk perkembangan pengetahuan itu sendiri, digunakan untuk kemaslahatan umat, digunakan untuk membantu orang lain, dan yang pasti jangan digunakan untuk hal-hal yang buruk atau dapat merugilan orang lain. Ketika seseorang menggunakan pengetahuannya untuk sesuatu hal yang baik maka bukan tidak mungkin kebaikan tersebut akan terus mengalirkan pahala-pahala. Lebih lanjut, jika seseorang tidak secara terus-menerus mengembangkan pengetahuannya (terus-menerus belajar/terus-menerus berpikir) maka seseorang tersebut hanya akan berhenti pada satu titik/ tidak berkembang/terjebak dalam mitos.

    ReplyDelete
  56. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. ilmu itu hakekatnya dari Allah SWT, manusia diberi kesempatan utuk menemukan dan mempelajari ilmu sedikit demi sedikit. Saya setuju bahwa mempelajari imu harus berlandaskan iman dan takwa. Ilmu itu bercabang dan diajarkan dari guru ke murid dan setiap guru pasti punya guru juga.

    ReplyDelete
  57. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Puncak kenikmatan dunia dipengaruhi oleh dua faktor: kekayaan dan kekuasaan. Keduanya, kekayaan dan kekuasaan, menurut Imam Ghazali, merupakan puncak kenikmatan dan kemewahan dunia. Dengan memiliki keduanya, seseorang dapat dengan mudah mencapai tujuan dan segala hal yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila keduanya memiliki daya tarik tinggi dan selalu diperebutkan.

    ReplyDelete
  58. Meskipun begitu, kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Seperti halnya kekayaan, kekuasaan merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Perbuatan yang disebut terakhir ini dinilai imam Ghazali sebagai tindakan kriminal atau pelecehan terhadap agama itu sendiri.

    ReplyDelete
  59. Junianto
    PM C

    Saya sepakat yang disampaikan Prof bahwa setinggi tujuan hidup adalah memperoleh ilmu berlandaskaniman dan taqwa. Dengan landasan ini, maka ilmu yang didapatkan akan dipergunakan dalam kebaikan dan demin manfaat umat manusia. Maka dari itu, ketika menuntut ilmu maka harus dilandasi dengan keikhlasan. Ikhlas yang sering disampaikan Prof ada dua yaitu ikhlas hati dna ikhlas pikir. Ikhlas pikir artinya dalam berpikir haruslah dilandasai rasa ikhlas karena filsafat itu semua isinya adalah berpikir. Kemudian, ikhlas hati mengandung maksud bahwa dalam menuntut ilmu harus menghadirkan hati kita juga agar ilmu bisa terserap dengan baik.

    ReplyDelete
  60. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Melalui elegi ini, saya melihat bahwa gunung bisa diartikan secara seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Saya pribadi mengartikan gunung sebagai pencapaian yang telah diraih oleh manusia dengan segala potensi yang ia miliki. Gunung atau pencapaian manusia itu meskipun bisa ditentukan berapa tingginya, tetap bisa dikatakan relative. Yaitu relative jika dibandingkan dengan gunung yang lain. Jika gunung tersebut disandiingkan dengan gunung yang lebih tinggi, maka gunung tadi terkesan rendah. Namun bila disandingkan dengan gunung yang lebih rendah, gunung tadi terkesan tinggi. Begitupula dengan pencapaian manusia. Misalnya menjadi mahasiswa s2 adalah pencapaian yang tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian menjadi mahasiswa s1. Namun pencapaian mahasiswa s2 bisa berarti rendah bila dibandingkan dengan pencapaian menjadi mahasiswa s3

    ReplyDelete
  61. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan elegi di atas puncak gunung diibaratkan sebagai tujuan hidup dan mendaki gunung adalah proses mencapai tujuan hidup tersebut. Dalam hal ini tujuan hidup dimaknai dengan ilmu dan mmencapai tujuan hidup merupakan proses belajar untuk mendapatkan ilmu. Perlu dipahami bahwa pencapaian ilmu setiap orang berbeda-beda atau relatif. Ada satu orang yang sudah mencapai level A dia sudah merasa cukup ilmu dibandingkan dengan orang yang sama sekali belum belajar. Lain lagi ada orang yang sudah level B tetapi masih merasa kurang ilmu jika ia membangdingkan diri dnegan orang yang sudah mencapai level C. Apabila diimplikasikan pada pembelajaran matematika di kelas maka perbedaan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika adalah hal yang wajar. Sebagai guru kita harus seobjektif mungin dalam memberikan penilaian.

    ReplyDelete

  62. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi di atas, yang dapat saya pahami adalah gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Terdapat bermacam-macam gunung dengan pandangan yang berbeda, menggambarkan banyak karakter manusia dengan pandangan yang berbeda pula. Sedangkan jika gunung ilmu berperan sebagai pemimpin, maka para pengikutnya pun harus mengikuti cara pandangnya.Namun, disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama, maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Kedudukan yang dimiliki oleh gunung digambarkan dengna sampai sejauh mana cara berpikir gunung terhadap pengetahuan yang bersifat relatif dan bersifat obyektif. Semakin intensik dan ektensif gunung memahami ilmu pengetahuan dan hakekat hidup, semakin tinggi pula kedudukan gunung tersebut tetapi tidak ada yang mampu melampaui kekuasaan Tuhan.

    ReplyDelete
  63. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya, Prof. Keberhasilan tidak seharusnya dipandang dan diartikan sebagai kekuasaan dan kekayaan. Namun orang yang menuntut ilmu di jalan Allah SWT dengan ikhlas dan mengamalkannya serta memaksimalkan kontribusinya bagi orang lain itulah definisi orang berhasil.

    ReplyDelete
  64. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Manusia dianugerahi akal pikiran dan nafsu yang terkadang membuat kita ingin menguasai segala sesuatu yang kita inginkan. Namun seringkali apabila kita telah diberi kesempatan oleh Allah untuk memegang suatu kekuasaan, kita lupa pada tujuan awal dan menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Gunung yang tinggi tak pernah lupa akan keberadaan alam sekitarnya yang ia beri kehidupan. Gunung yang tinggi juga tidak pernah merasa sombong karena sewaktu-waktu ia dapat meletus atau bergejolak sehingga semua orang meninggalkannya. Menjadi manusia dengan ambisi untuk meraih kekuasaan memang tidak salah, namun pengaruh kekuasaan tersebut lah yang berbahaya dan membuka celah bagi kita untuk berbuat dosa. Semoga kita selalu dijauhkan dari segala macam godaan yang menjauhkan kita dari Allah. Aamiin.

    ReplyDelete
  65. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Yang dapat saya pahami dari artikel di atas adalah bahwa setiap orang berhak memiliki tujuan atau standarkesuksesan masing-masing. Standar tersebut tentulah berbeda dari setiap orangnya. Namun tetap, posisi tertinggi posisi yang paling Agung adalah absolut milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  66. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas membahas maka dari sebuah gunung. Jika boleh menganalogikan menurut saya itu juga berkaitan dengan tujuan hidup. Banyak sekali manusia didunia ini dan tentunya memiliki tujuan yang banyak juga. Dengan definisi tujuan hidup yang hanya materialisme, kekuasaan, pikiran saja dll. Sehingga menurut saya menjadi manusia harus mempunyai tujuan yang lurus dan seimbang, menyeimbangkan antara tujuan pikiran dan hati. Dan pada hakekatnya hidup kita itu hanya untuk menggapai saja, karena yang pemilik Sejati adalah yang Maha kuasa. Nilai selanjutnya yaitu tentang derajat orang, derajat orang itu hanya obyektifitas manusia. Yang tahu derajat kita sesungguhnya adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  67. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam pembicaraan ini, gunung diumpamakan sebagai puncak dari keinginan atau ambisi seseorang. Berbagai macam keinginan, tergantung dari manusia itu sendiri. Ada yang menganggap bahwa puncak dari keinginannya hanyalah kekuasaan, ada yang menganggap bahwa puncaknya adalah bukan hanya sekedar kekuasaan, tetapi ilmu, pikiran, keterampilan, pengalaman yang bisa digunakannya untuk kemaslahatan orang banyak. Maka hak setiap orang untuk menentukan apa puncak ambisinya dan apa tujuan hidupnya. Namun semuanya akan kembali kepada Allah, karena Allah lah yang Maha Tinggi dan Pemilik Kekuasaan Tertinggi.

    ReplyDelete
  68. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Jika diri ibaratkan sebagai gunung, maka tinggi rendahnya gunung adalah diri sendiri yang menuntukan. Maka definisi puncak gunung dapat diterjemahkan sebagai tujuan hidup seseorang. Kita sendiri yang menentukan apakah puncak gunung yang ingin digapai itu adalah kuasa, ilmu, hati, iman atau potensi.

    ReplyDelete
  69. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam elegi ini manusia diibaratkan sebagai gunung dengan segala kekuatan dan kekuasaannya serta bagaimana manusia sendiri menggunakan potensi, keterampilan, pengetahuan, hati, pikiran dan pengalamannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan agama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selayaknya manusia menggunakan yang dia punya untuk kepentingan bersama dan bermanfaat bagi orang lain

    ReplyDelete
  70. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini memberi makna bahwa arti kehidupan bagi seserang berbeda. Setiap orang memiliki tujuan dan defenisi kesuksesan masing-masing. Sukses bagi satu orang belum tentu sukses bagi yang lainnya. Tidak sedikit orang menilai sukses dari segi kesenangan dunia, yaitu harta dan tahta. Padahal sebenar-benar tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepda-Nya. Maka sebenar-benar tujuan yang sesuai dengan tuntunan adalah hakikat gunung yang diuraikan Ramasita.

    ReplyDelete
  71. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Jika tingginya gunung diibaratkan ilmu, maka sebenar-benarnya manusia hanya berusaha menggapai gunung yang tertinggi. Karena gunung tertinggi hanya dimiliki Allah saja. Manusia dalam menggapai gunung tertinggi perlu asaha keras dan pantang menyerah. Dibutuhkan pengorbanan untuk mencari ilmu dan waktu yang tidak sedikit. Penting bahwa dalam mencari ilmu harus punya tujuan yang mulia berlandaskan iman dan taqwa. Tujuan yang baik adalah mencari ilmu untuk kebermanfaatan diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  72. Kutarunggu sang rakata menggelar sidang rakyat (pertama) menurut pendapat saya adalah setiap orang memiliki kekuasaan dan setiap orang memiliki hak untuk berkuasa. Namun, kekuasaan yang kita miliki hendaknya dapat dipergunakan dengan baik sehingga bukan kekuasaan yang merugikan orang lain dan hanya menguntungkan diri sendiri. Kekuasaan yang memiliki tujuan baik adalah apabila kekuasaan yang kita miliki mampu memberikan inspirasi dan perkembangan/ inovasi pada objek dan subjek yang kita kuasai. Kekuasaan yang merugikan adalah kekuasaan yang digunakan untuk menguntungkan diri sendiri dan membuat objek atau subjek yang kita kuasai menjadi tertindas. Selain objek dan subjek yang kita kuasai, efek dari penggunaan kekuasaan yang merugikan adalah kecenderungan untuk menjatuhkan lawan atau rival kita. Oleh karena itu, pergunakanlah kemampuan yang kita miliki untuk dapat ilmu pengetahuan dan bukan kita yang dikuasai oleh ilmu, kemudian pergunakanlah ilmu yang kita miliki agar berguna bagi diri sendiri dan sesama

    ReplyDelete
  73. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Setiap manusia adalah suatu gunung. Tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari keterampilan, dan mencari pengalaman. Kemudian kita menggunakan apa yang telah kita dapat untuk bertahan hidup, untuk dibagi dengan orang lain. Sedangkan tinggi rendahnya gunung itu relatif menunjukkan bahwa tinggi rendahnya ilmu yang dimiliki manusia itu relatif, tergantung pembandingnya. Seorang Profesor yang baru saja pindah ke suatu desa merupakan gunung yang lebih rendah dari seorang petani yang sudah lama tinggal di desa tersebut karena petani lebih mengetahui seluk beluk desa. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong terhadap ilmu yang kita miliki. Masih banyak orang yang memiliki ilmu dan pengalaman yang lebih banyak dari kita.

    ReplyDelete