Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menggelar Sidang Rakyat (pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai tamu undangan semua, tibalah saatnya kita menggelar sidang rakyat. Peserta sidang ini kelihatannya lengkap: ada para gunung Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, ada sang Bagawat, ada Ramasita, ada Ahilu, ada Pampilu, ada Awama, ada Pratika, ada Cantraka. Saya juga melihat ada para stigma. Saya memohon sudilah sang Bagawat menjadi moderator pada persidangan ini.



Bagawat:
Terimakasih kepada Rakata yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi moderator. Tetapi saya mempunyai permintaan, saya minta wewenang saya ditambah. Disamping sebagai moderator, saya juga ingin memposisikan diri saya sebagai fasilitator, dinamisator dan pembahas. Apakah permintaan saya diperbolehkan?

Rakata:
Silahkan

Bagawat:
Terimakasih. Saya ingin membagi sidang ini menjadi sidang pleno dan sidang rakyat. Pada sidang pleno saya akan bertanya dan memberi kesempatan kepada para gunung Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala. Pada sidang rakyat saya ingin memberi kesempatan kepada peserta, siapa saja, yang ingin mengajukan pertanyaan atau tanggapan atau usul dst.

Bagawat:
Wahai Rakata, Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala, sebagai sebuah gunung, apakah yang engkau pahami tentang makna sebuah gunung itu. Silahkan jawab dari gunung yang paling rendah, yaitu Kasala.

Kasala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung itu kekuasaan. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh dan menggunakan kekuasaan.

Kanwala:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu, kemudian aku gunakan ilmuku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndadismen:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, kemudian aku gunakan ilmuku dan hatiku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Ndakiti:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku.

Rakata:
Wahai sang Bagawat, bagiku gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hatiku, potensi, ketrampilan dan pengalamanku. Maka setinggi-tinggi tujuan hidupku adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian aku gunakan ilmuku, hatiku, potensiku, ketrampilanku dan pengalamanku itu untuk mengelola kekuasaanku demi kemaslahatan orang banyak.

Bagawat:
Apa yang selama ini aku khawatirkan ternyata terjadi. Aku mengkhawatirkan bahwa engkau semua kurang dalam dan kurang luas dan kurang komprehensif dalam memaknai kedudukanmu sebagai gunung. Walaupun jawaban Rakata adalah yang paling lengkap tetapi masih kurang mendalam kurang luas dan kurang komprehensif.

Bagawat:
Coba aku ingin bertanya kepada bukan gunung. Wahai Ramasita, apakah hakekat gunung itu menurut dirimu?

Ramasita:
Gunung tidak hanya kekuasaan, tetapi gunung adalah pikiran dan hati, potensi, ketrampilan dan pengalaman. Maka setinggi-tinggi tujuan hidup manusia adalah memperoleh ilmu yang berlandaskan iman dan taqwa, mengembangkan potensi, mencari ketrampilan dan pengalaman dan kemudian menggunakan ilmunya, hatinya, potensinya, ketrampilannya dan pengalamannya itu untuk mengelola kuasanya demi kemaslahatan sesama. Tetapi keteranganku itu belumlah cukup, karena pada hakekatnya hal yang demikian itu menjadi hak semua manusia untuk menggapai. Diakui atau tidak maka gunung adalah hak semua orang. Maka gunung adalah setiap orang dan setiap orang adalah gunung. Sedangkan tinggi rendahnya gunung itu relatif. Jika engkau datang kepadaku maka engkau harus mengakui gunungku. Setidaknya gunung pengetahuanku terhadap rumahku itu lebih tinggi dari pada pengetahuan tamuku. Itulah aku berhak mengklaim bahwa gunungku lebih tinggi dari tamuku.

Bagawat:
Kenapa bisa ada gunung tinggi dan gunung tertinggi?

Ramasita:
Itulah pengetahuan relatif dan pengetahuan obyektifku. Jika aku melihat ada sebuah gunung mempunyai pengikut gunung-gunung yang lain maka aku katakan gunung yang pertama sebagai gunung yang tinggi, demikian seterusnya sampai aku bisa menemukan gunung tertinggi. Sebenar-benar yang terjadi adalah tiadalah gunung tertinggi itu bagi manusia. Gunung tertinggi absolut hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa.

27 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Sungguh saya telah salah membaca elegi ini setelah saya selesai membaca sidang ke 2. Setiap manusia memiliki hakekat gunung sendiri-sendiri, karena manusia memiliki hak dan bebas dalam berpendapat. Manusia jelas memiliki ambisi yang ingin dicapai selama di dunia, hal ini juga bisa dikatakan sebagagi bagian dari gunung tinggi. Tidak ada habisnya menurut saya apabila seseorang itu hanya mengejar ambisi dengan melihat kekuasaan yang terjadi hanya sesaat. Bagi saya, sudah jelas. Ada gunung tinggi pasti ada gunung tertinggi. Itu lah sebenar-benarnya hidup yaitu untuk mencapai gunung tertinggi yang berlandaskan pada spiritual. Kita berasal dari Allah, maka kita akan kembali kepada Nya.

    ReplyDelete
  2. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari elegi diatas pelajaran yang bisa kita petik adalah kekuasaantidak selalu dipersepsikan negatif namun kekuasaan juga merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan.

    ReplyDelete
  3. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Sebagai seorang manusia, tidak semestinya kita menjadikan kekuasaan sebagai tujuan hidup kita, sebagai sesuatu yang kita impi-impikan. Kita harus menyadari bahwa seberapapun tinggi kekusaan yang kita miliki maka pastilah ada kekuasaan yang lebih tinggi. Karena itulah yang seharusnya menjadi tujuan hidup kita adalah bagaiaman kita mengembangkan potensi kita dengan mencari ilmu, mencari pengalaman, sehingga potensi, ilmu, dan pengalaman yang kita miliki dapat bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.

    ReplyDelete
  4. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Manusia di bumi ini memiliki tingkatan yang berbeda-beda. Di atas manusia yang satu masih ada manusia yang lain yang lebih tinggi tingkatannya, baik itu ilmunya, derajatnya, hartanya, atau keturunannya. Namun dibalik itu semua yang menduduki tingkatan paling tinggi ialah sang pencipta manusia yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Esensi dari gunung adalah ketercapaian individu. Gunung digambarkan sebagai ketercapaian subyektif karena tiap orang memiliki definisi yang berbeda terhadap gunung. Mulai dari gunung sebagai kekuasaan, gunung sebagai ilmu, gunung sebagai pikiran, gunung sebagai pengalaman dan lain sebagainya. Namun sesungguhnya pandangan universal gunung adalah hati kita sendiri, sejauh mana kita mampu mencapai kedamaian hati yang tertinggi akan membawa kita pada ketercapaian universal.

    ReplyDelete
  6. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Gunung yang dimaksud diatas adalah diri sendiri. Hal ini berkaitan dengan ilmu, potensi, kekuasan serta segala hal yang berkaitan dengan diri setiap individu, dan kesemuanya itu digunakan untuk membantu dan berbagi dengan yang lain. Sehingga kemampuan sesorang untuk mecapai gunung yang tinggi dan gunung yang rendah sangatlah berbeda. Berkaitan dengan tinggi rendahnya gunung, tergantung dengan pada apa yang dimiliki seseorang, dan bagaimana ia memanfaatkannya. Namun terlebih dari itu semua, setiap orang harus mampu menghormati setiap perbedaan yang ada.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  7. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Puncak gunung di sini ternyata bermakna konotasi yaitu pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Alangkah bahagianya jika kita mampu mencapai puncaknya hati kita, puncaknya potensi kita, puncaknya keterampilan kita, dan puncaknya pengalaman kita. Perlu pengorbanan dan perjuangan untuk mencapai hal tersebut. Perjuangan yang dilakukan harus didasari dengan ilmu.

    ReplyDelete
  8. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut. Pada elegi di atas gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama, maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Puncak kenikmatan dunia dipengaruhi oleh dua faktor: kekayaan dan kekuasaan. Sehingga setiap manusia diuji sejauh mana ia dapat mengatur dirinya terhadap puncak kenikmatan dunia itu.

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Manusia memiliki kemampuan yang berbeda-beda, potensi, ilmu pengetahuan,serta bagaimana pemikiran yang dimilikinya. Memiliki pengetahuan yang tinggi merupakan hal yang dapat dicapai oleh semua orang, namun hak ini bersifat relatif antar satu orang dengan orang yang lain. Batasn ilmui yang dapat dicapai oleh seseorang tergantung dengan keammpuan dan usahanya dalam mencapai pengetahuannya, dengan batasan yang berbeda-beda menjadikan kemampuan setiap orang berbeda-beda pula, hal inilah yang mempengaruhi kedudukan manusia terhadap dunia, manusia terhadap manusia lain, namun disertai dengan peamhaman bahwa kedudukan manusia tidak akan lebih tinggi dari kedudukan Tuhan yang Maha tinggi.

    ReplyDelete
  10. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Pengetahuan. Ilmu. Merupakan hal-hal yang bisa diperoleh dengan berpikir (terus perpikir). Setiap orang mempunyai pengetahuannya masing-masing. Pengetahuan yang telah dimiliki akan terus-menerus berkembang jika senantiasa diamalkan/dibagikan, tentunya dalam jalan yang baik dan benar, misalnya: digunakan untuk perkembangan pengetahuan itu sendiri, digunakan untuk kemaslahatan umat, digunakan untuk membantu orang lain, dan yang pasti jangan digunakan untuk hal-hal yang buruk atau dapat merugilan orang lain. Ketika seseorang menggunakan pengetahuannya untuk sesuatu hal yang baik maka bukan tidak mungkin kebaikan tersebut akan terus mengalirkan pahala-pahala. Lebih lanjut, jika seseorang tidak secara terus-menerus mengembangkan pengetahuannya (terus-menerus belajar/terus-menerus berpikir) maka seseorang tersebut hanya akan berhenti pada satu titik/ tidak berkembang/terjebak dalam mitos.

    ReplyDelete
  11. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. ilmu itu hakekatnya dari Allah SWT, manusia diberi kesempatan utuk menemukan dan mempelajari ilmu sedikit demi sedikit. Saya setuju bahwa mempelajari imu harus berlandaskan iman dan takwa. Ilmu itu bercabang dan diajarkan dari guru ke murid dan setiap guru pasti punya guru juga.

    ReplyDelete
  12. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Puncak kenikmatan dunia dipengaruhi oleh dua faktor: kekayaan dan kekuasaan. Keduanya, kekayaan dan kekuasaan, menurut Imam Ghazali, merupakan puncak kenikmatan dan kemewahan dunia. Dengan memiliki keduanya, seseorang dapat dengan mudah mencapai tujuan dan segala hal yang diinginkannya. Tidak mengherankan bila keduanya memiliki daya tarik tinggi dan selalu diperebutkan.

    ReplyDelete
  13. Meskipun begitu, kekuasaan bukanlah sesuatu yang buruk pada dirinya sendiri. Seperti halnya kekayaan, kekuasaan merupakan sesuatu yang baik asal diperoleh dengan cara yang baik dan dipergunakan secara baik pula. Ini berarti kekuasaan tidak boleh dicari dengan jalan kebohongan, kecurangan, atau melanggar aturan main. Agama tidak boleh pula dijadikan sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Perbuatan yang disebut terakhir ini dinilai imam Ghazali sebagai tindakan kriminal atau pelecehan terhadap agama itu sendiri.

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C

    Saya sepakat yang disampaikan Prof bahwa setinggi tujuan hidup adalah memperoleh ilmu berlandaskaniman dan taqwa. Dengan landasan ini, maka ilmu yang didapatkan akan dipergunakan dalam kebaikan dan demin manfaat umat manusia. Maka dari itu, ketika menuntut ilmu maka harus dilandasi dengan keikhlasan. Ikhlas yang sering disampaikan Prof ada dua yaitu ikhlas hati dna ikhlas pikir. Ikhlas pikir artinya dalam berpikir haruslah dilandasai rasa ikhlas karena filsafat itu semua isinya adalah berpikir. Kemudian, ikhlas hati mengandung maksud bahwa dalam menuntut ilmu harus menghadirkan hati kita juga agar ilmu bisa terserap dengan baik.

    ReplyDelete
  15. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Melalui elegi ini, saya melihat bahwa gunung bisa diartikan secara seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Saya pribadi mengartikan gunung sebagai pencapaian yang telah diraih oleh manusia dengan segala potensi yang ia miliki. Gunung atau pencapaian manusia itu meskipun bisa ditentukan berapa tingginya, tetap bisa dikatakan relative. Yaitu relative jika dibandingkan dengan gunung yang lain. Jika gunung tersebut disandiingkan dengan gunung yang lebih tinggi, maka gunung tadi terkesan rendah. Namun bila disandingkan dengan gunung yang lebih rendah, gunung tadi terkesan tinggi. Begitupula dengan pencapaian manusia. Misalnya menjadi mahasiswa s2 adalah pencapaian yang tinggi bila dibandingkan dengan pencapaian menjadi mahasiswa s1. Namun pencapaian mahasiswa s2 bisa berarti rendah bila dibandingkan dengan pencapaian menjadi mahasiswa s3

    ReplyDelete
  16. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasarkan elegi di atas puncak gunung diibaratkan sebagai tujuan hidup dan mendaki gunung adalah proses mencapai tujuan hidup tersebut. Dalam hal ini tujuan hidup dimaknai dengan ilmu dan mmencapai tujuan hidup merupakan proses belajar untuk mendapatkan ilmu. Perlu dipahami bahwa pencapaian ilmu setiap orang berbeda-beda atau relatif. Ada satu orang yang sudah mencapai level A dia sudah merasa cukup ilmu dibandingkan dengan orang yang sama sekali belum belajar. Lain lagi ada orang yang sudah level B tetapi masih merasa kurang ilmu jika ia membangdingkan diri dnegan orang yang sudah mencapai level C. Apabila diimplikasikan pada pembelajaran matematika di kelas maka perbedaan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika adalah hal yang wajar. Sebagai guru kita harus seobjektif mungin dalam memberikan penilaian.

    ReplyDelete

  17. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi di atas, yang dapat saya pahami adalah gunung adalah sebuah perumpamaan karakter sesorang memandang kekuasaan terhadap proses kehidupannya. Terdapat bermacam-macam gunung dengan pandangan yang berbeda, menggambarkan banyak karakter manusia dengan pandangan yang berbeda pula. Sedangkan jika gunung ilmu berperan sebagai pemimpin, maka para pengikutnya pun harus mengikuti cara pandangnya.Namun, disisi lain jika gunung dianggap kekuasaan atas sesama, maka setiap gunung memiliki kedudukan masing-masing. Kedudukan yang dimiliki oleh gunung digambarkan dengna sampai sejauh mana cara berpikir gunung terhadap pengetahuan yang bersifat relatif dan bersifat obyektif. Semakin intensik dan ektensif gunung memahami ilmu pengetahuan dan hakekat hidup, semakin tinggi pula kedudukan gunung tersebut tetapi tidak ada yang mampu melampaui kekuasaan Tuhan.

    ReplyDelete
  18. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017
    Terima kasih atas postingannya, Prof. Keberhasilan tidak seharusnya dipandang dan diartikan sebagai kekuasaan dan kekayaan. Namun orang yang menuntut ilmu di jalan Allah SWT dengan ikhlas dan mengamalkannya serta memaksimalkan kontribusinya bagi orang lain itulah definisi orang berhasil.

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Manusia dianugerahi akal pikiran dan nafsu yang terkadang membuat kita ingin menguasai segala sesuatu yang kita inginkan. Namun seringkali apabila kita telah diberi kesempatan oleh Allah untuk memegang suatu kekuasaan, kita lupa pada tujuan awal dan menyalahgunakan kekuasaan tersebut. Gunung yang tinggi tak pernah lupa akan keberadaan alam sekitarnya yang ia beri kehidupan. Gunung yang tinggi juga tidak pernah merasa sombong karena sewaktu-waktu ia dapat meletus atau bergejolak sehingga semua orang meninggalkannya. Menjadi manusia dengan ambisi untuk meraih kekuasaan memang tidak salah, namun pengaruh kekuasaan tersebut lah yang berbahaya dan membuka celah bagi kita untuk berbuat dosa. Semoga kita selalu dijauhkan dari segala macam godaan yang menjauhkan kita dari Allah. Aamiin.

    ReplyDelete
  20. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Yang dapat saya pahami dari artikel di atas adalah bahwa setiap orang berhak memiliki tujuan atau standarkesuksesan masing-masing. Standar tersebut tentulah berbeda dari setiap orangnya. Namun tetap, posisi tertinggi posisi yang paling Agung adalah absolut milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas membahas maka dari sebuah gunung. Jika boleh menganalogikan menurut saya itu juga berkaitan dengan tujuan hidup. Banyak sekali manusia didunia ini dan tentunya memiliki tujuan yang banyak juga. Dengan definisi tujuan hidup yang hanya materialisme, kekuasaan, pikiran saja dll. Sehingga menurut saya menjadi manusia harus mempunyai tujuan yang lurus dan seimbang, menyeimbangkan antara tujuan pikiran dan hati. Dan pada hakekatnya hidup kita itu hanya untuk menggapai saja, karena yang pemilik Sejati adalah yang Maha kuasa. Nilai selanjutnya yaitu tentang derajat orang, derajat orang itu hanya obyektifitas manusia. Yang tahu derajat kita sesungguhnya adalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam pembicaraan ini, gunung diumpamakan sebagai puncak dari keinginan atau ambisi seseorang. Berbagai macam keinginan, tergantung dari manusia itu sendiri. Ada yang menganggap bahwa puncak dari keinginannya hanyalah kekuasaan, ada yang menganggap bahwa puncaknya adalah bukan hanya sekedar kekuasaan, tetapi ilmu, pikiran, keterampilan, pengalaman yang bisa digunakannya untuk kemaslahatan orang banyak. Maka hak setiap orang untuk menentukan apa puncak ambisinya dan apa tujuan hidupnya. Namun semuanya akan kembali kepada Allah, karena Allah lah yang Maha Tinggi dan Pemilik Kekuasaan Tertinggi.

    ReplyDelete
  23. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Jika diri ibaratkan sebagai gunung, maka tinggi rendahnya gunung adalah diri sendiri yang menuntukan. Maka definisi puncak gunung dapat diterjemahkan sebagai tujuan hidup seseorang. Kita sendiri yang menentukan apakah puncak gunung yang ingin digapai itu adalah kuasa, ilmu, hati, iman atau potensi.

    ReplyDelete
  24. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dalam elegi ini manusia diibaratkan sebagai gunung dengan segala kekuatan dan kekuasaannya serta bagaimana manusia sendiri menggunakan potensi, keterampilan, pengetahuan, hati, pikiran dan pengalamannya untuk memberikan manfaat bagi kehidupan agama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selayaknya manusia menggunakan yang dia punya untuk kepentingan bersama dan bermanfaat bagi orang lain

    ReplyDelete
  25. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini memberi makna bahwa arti kehidupan bagi seserang berbeda. Setiap orang memiliki tujuan dan defenisi kesuksesan masing-masing. Sukses bagi satu orang belum tentu sukses bagi yang lainnya. Tidak sedikit orang menilai sukses dari segi kesenangan dunia, yaitu harta dan tahta. Padahal sebenar-benar tujuan hidup manusia adalah untuk beribadah kepda-Nya. Maka sebenar-benar tujuan yang sesuai dengan tuntunan adalah hakikat gunung yang diuraikan Ramasita.

    ReplyDelete
  26. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Jika tingginya gunung diibaratkan ilmu, maka sebenar-benarnya manusia hanya berusaha menggapai gunung yang tertinggi. Karena gunung tertinggi hanya dimiliki Allah saja. Manusia dalam menggapai gunung tertinggi perlu asaha keras dan pantang menyerah. Dibutuhkan pengorbanan untuk mencari ilmu dan waktu yang tidak sedikit. Penting bahwa dalam mencari ilmu harus punya tujuan yang mulia berlandaskan iman dan taqwa. Tujuan yang baik adalah mencari ilmu untuk kebermanfaatan diri sendiri dan orang lain.

    ReplyDelete
  27. Kutarunggu sang rakata menggelar sidang rakyat (pertama) menurut pendapat saya adalah setiap orang memiliki kekuasaan dan setiap orang memiliki hak untuk berkuasa. Namun, kekuasaan yang kita miliki hendaknya dapat dipergunakan dengan baik sehingga bukan kekuasaan yang merugikan orang lain dan hanya menguntungkan diri sendiri. Kekuasaan yang memiliki tujuan baik adalah apabila kekuasaan yang kita miliki mampu memberikan inspirasi dan perkembangan/ inovasi pada objek dan subjek yang kita kuasai. Kekuasaan yang merugikan adalah kekuasaan yang digunakan untuk menguntungkan diri sendiri dan membuat objek atau subjek yang kita kuasai menjadi tertindas. Selain objek dan subjek yang kita kuasai, efek dari penggunaan kekuasaan yang merugikan adalah kecenderungan untuk menjatuhkan lawan atau rival kita. Oleh karena itu, pergunakanlah kemampuan yang kita miliki untuk dapat ilmu pengetahuan dan bukan kita yang dikuasai oleh ilmu, kemudian pergunakanlah ilmu yang kita miliki agar berguna bagi diri sendiri dan sesama

    ReplyDelete