Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 17: Menemukan bahwa Filsafat adalah Diriku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskanlah tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata Filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah Diriku Sendiri.

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskanlah sisntesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikianlah, selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

16 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Belajar filsafat berarti bahwa kita mempelajari diri sendiri, karena semua kajian filsafat tersebut merupakan segala yang ada dan yang mungkin ada yang berada di sekitar kita. filsafat sangat dekat dengan kita. namun terkadang hanya kitalah yang tidak menyadarinya. Dan ketika kita memahami tentang filsafat, maka kita akan memahami tentang diri kita sendiri. sehingga kita akan menemukan sebuah kesimpulan yang mengejutkan bahwa fisafat adalah diriku.

    ReplyDelete
  2. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Berikut beberapa tesis dari filsafat menurut pemikiran-pemikiran para filsuf:
    Filsafat itu adalah keihlasan, ikhlas dalam segala hal. Filsafat itu adalah olah pikir, letaknya ada di dalam pikiran kita. filsafat itu adalah pengalaman, yaitu kejadian yang pernah kita alami sebelumnya. Filsafat itu adalah hasil pemikiran para filsuf yang merentang dari waktu ke waktu. Filsafat itu adalah sintesis dari tesis dan anti-tesisnya. Filsafat itu adalah kontradiksi.
    Berikut anti-tesis dari tesis di atas:
    Menurut pak ustad keihlasan datangnya dari diriku, itu berarti keikhlasan adalah dirikusendiri. Menurut ilmuan olah pikir atau pikiran terjadi di dalam otak kita, otak kita ada di dalam diri kita. Menurut kakek saya penfalaman akan membentuk siapa diriku, berarti pengalaman itu adalah diriku sendiri. Hasil pemikiran para filsuf ada di dalam pikiranku, pikiranku ada di dalam kepalaku, berarti hasil pemikiran para filsuf adalah diriku sendiri. Di dalam diriku terdapat tesis dan juga anti-tesis yang telah menjadi sintetis, berarti tesis dan anti-tesis itu adalah diriku sendiri. Diriku penuh dengan kontradiksi, bakan hampir tak ada satupun yang sama persis alias identitas, berarti kontradiksi itu adalah diriku sendiri. Maka aku dapat menyimpulkan bahwa filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  3. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Ya, saya sepakat bahwa diriku adalah filsafat itu sendiri. Diriku adalah kemisteriusan yang harus aku ungkap sendiri. Diriku adalah fragmen-fragmen enigma yang harus aku pecahkan. Ada banyak tesis yang telah kugunakan untuk mencari hakikat diriku. Tesis yang dinegasikan oleh tesis yang lain (antesis). Negasi atas negasi. Semua proses menguras emosi. Perihal eksistensi diri memang sangat membingungkan. Itulah mengapa kita adalah filsafat itu sendiri. Kita adalah ujian yang harus kita selesaikan. Entah kapan sintesa itu akan terwujud, namun kita percaya itu akan terjadi, setelah melewati dialektika-dialektika kehidupan yang kadang meresahkan, kadang membingungkan, kadang membahagiakan, kadang pula tak terasa apa-apa. Semuanya bergerak begitu saja tanpa pengampunan, tanpa dispensasi, tanpa toleransi. Dan air mata, pada bagian yang paling dramatis, adalah endapan-endapan emosi yang mengalir membasahi kenyataan-kenyataan yang kering.

    ReplyDelete
  4. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Berikut ini pendapat saya mengenai tesis dan anti-tesis untuk menemukan bahwa ternyata filsafat itu tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri.
    Tesis : Filsafat ialah olah pikir. Objeknya adalah hal-hal di sekitar yang ada dan mungkin ada. Tidak terikat oleh ruang dan waktu. Satu tingkat dibawah dimensi spiritual.
    Anti tesis : Filsafat ialah tentang bagaimana diriku memikirkan sesuatu. Bagaimana diriku membandang objek yang ada dan mungkin ada sesuai dengan persepsi diri. Bagaimana diriku mampu untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dan itu dapat dibenarkan. Maka benarlah, bahwa ternyata filsafat itu tidak lain dan tidak bukan adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Obyek filsafat dapat berasal dari luar maupun dari dalam pikiran manusia. Filsafat juga dapat dibangun berdasarkan rasio (rasionalisme) maupun pengalaman (empirisme). Filsafat berasal dari pemikiran-pemikiran para filsuf. Adanya filsafat adalah buah dari pemikiran para filsuf. Kemudian, kita sebagai manusia yang mempelajari filsafat, maka secara tidak langsung, kita mempelajari pemikiran para filsuf. Setelah mempelajarinya, kemudian kita dapat mendefinisikan apa itu filsafat menurut pandangan diri kita sendiri. Kemudian kita mampu memberikan persepsi terhadap suatu obyek tertentu sesuai pemikiran kita. Dengan begitu, secera tidak langsung apa yang telah kita lakukan adalah berfilsafat. Sehingga filsafat adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  6. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat itu adalah diriku. Setiap langkah hidupku, sebenarnya aku telah berfilsafat. Bahkan masa depanku yang aku belum tahu juga terlingkup dalam filsafat hidupku. Seperti yang telah diajarkan Bapak Marsigit, bahwa objek filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Aku, pilihanku, pikiranku, keputusanku, perasaanku, imajinasiku, mimpiku, semua adalah aktivitas berfilsafat. Filsafat tidak hanya sebatas pikiran para filsuf seperti Kant, Descartes, dan sebagainya. Kitapun bisa menjadi next Descartes, next Kant, next para filsuf. Bukankah mereka juga manusia yang memiliki hati dan pikiran layaknya aku dan kita semua. Hanya saja mereka telah membuat pemikiran perdana di masa lampau yang menggebrak dunia sehingga menginspirasi kita untuk mempelajari filsafat.

    ReplyDelete
  7. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Melalui perkuliahan yang ada, saya menerima bahwa filsafat adalah refleksi diri. Pemahaman kita terhadap filsafat dibangun dari hasil refleksi diri yabg terjadi selama belajar filsafat itu sendiri. Berfilsafat tak akan pernah ada habisnya, sama seperti proses refleksi diri yang tak kan pernah berhenti karena diriku yang sekarang sedang menulis komentar ini sudah berbeda dengan diriku yang selesai mempostingnya.

    ReplyDelete
  8. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    sama seperti yang telah saya sebutkan dalam komen saya sebelumnya bahwa karena filsafat itu adalah olah pikir atau cara kita berfikir, jika kita tesis, maka orang lain adalah antitesis, sehingga filsafat itu adalah masing-masing dari diri kita sendiri. kita tidak dapat menyalahkan orang lain dikarenakan cara dia berfilsafat, karena saat kita menunjuk mereka, maka empat jari kita menunjuk ke diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Salah satu agar kita memahami filsafat adalah dengan berfilsafat. Berfilsafat artinya kita berpikir menggunakan pikiran kita yang didukung dengan pikiran-pikiran para filsuf. Namun sejatinya filsafat adalah pikiran kita karena dengan berfilsafat kita akan mampu memikirkan hal-hal yang ada dan yang mungkin ada, dengan berfilsafat kita bisa menembus ruang dan waktu bahkan memanipulasi ruang dan waktu. Maka sebenar-benarnya filsafat adalah pikiran kita, sehingga sebenar-benarnya berfilsafat adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Filsafat adalah diriku sendiri". "Sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri", adalah satu materi perkuliahan yang hingga saat ini masih bergaul akrab dengan memori saya. Maka, "filsafat memanglah benar diriku sendiri", karena dalam berfilsafat ku gunakan pikiranku sendiri, bukankah sudah disampaikan bahwa sebenar-benar filsafat adalah diriku sendiri. Filsafat adalah diriku sendiri, karena ku gunakan olah bahasaku sendiri dalam berfilsafat. Filsafat adalah diriku sendiri, karena ku bangun duniaku sendiri lewat filsafat ini. Maka memanglah benar jika filsafat adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  11. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Tesis : Filsafat adalah tentang bagaimana berfikir
    Anti Tesis : Berfikir adalah diriku
    Sintesis : Maka filsafat tidak lain tidak bukan adalah diriku sendiri

    Berfilsafat tentang bagaimana kita mengolah pikiran. Menemukan haikat akan segala objek dan subjek yang dipelajari. Berpikir adalah tanda seseorang hidup, berpikir mengembara mencari pengetahuan. Maka sebenar-benar orang mati dalam filsafat adalah orang yang tidak berpikir. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  12. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Filsafat adalah olah pikir yang mencakup segala sesuatu baik ada maupun yang mungkin ada. Kegiatan olah pikir ini dilakukan sesuai dengan persepsi masing-masing individu. Sebagai manusia, diriku adalah obyek pikir filsafat dan juga sebagai subjek yang berpikir. Duniaku adalah apa yang kupikirkan. Selama aku hidup, aku akan terus berpikir dan selama aku berpikir, maka selama itu pulalah aku berfilsafat. Jadi, filsafat itu tidak lain adalah diriku.

    ReplyDelete
  13. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb

    Dari hasil refleksi perkuliahan yang dapat saya pahami adalah sesungguhnya filsafat itu sangatlah dekat dengan diri kita, maka jika kita ingin mempelajari filsafat, hal pertama yang kita lakukan adalah dekat dengan diri kita sendiri. Maka Filsafatmu adalah Dirimu sendiri. Sangatlah tidak mungkin ketika kita berfilsafat jika kita tidak mengenal diri kita sendiri, sebagai mana tujuan dari filsafat adalah belajar menghargai dan sopan santun terhadap dimensi ruang dan waktu yaitu dimensi ruang yang ada pada diri kita sendiri. maka sebenar-benarnya filsafat adalah diriku sendiri.

    ReplyDelete
  14. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Filsafat adalah olah fikir. Dimana setiap orang mampu untuk berfilsafat tergantung dengan olah fikir orang masing masing yang terikat dengan ruang dan waktu. Tidak ada yang berhak menyalahkan olah fikir orang lain. Karena setiap orang bebas berpendapat sesuai dengan alasan yang logis. Oleh sebab itu, filsafat adalah pemikiran setiap individu/ diriku sendiri, dan berarti filsafat sesungguhnya adalah diriku sndiri.

    ReplyDelete
  15. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sejauh ini dalam kami belajar filsafat yang sangat mengena dan berkesan dalam pikiran adalah skeptisisme Rene Descartes, dima dia meragukan segala hal dan hanya satu yang dia yakini bahwa adanya dia (Descartes) yang memikirkan dan meragukan segala hal yang dikenal sebagai cogito ergosum. Lalu pandangan dari George Berkeley bahwa sesuatu ada bagi seseorang itu apabila seseuatu itu dapat dipersepsikan, dengan kata lain benda itu ada maka benda itu dapat dipersepsikan (esse est percipi). Lalu pandangan dari John Locke, bahwa manusia itu mendepatkan pengetahuan dan kedewasaan ketika dia belajar dari pengalaman. Lalu pandangan Immanuel Kant yang dikenal mengenai kritisisme, dimana dia meragukan adanya ilmu pengetahuan yang bersifat aprirori saja, menurutnya ilmu pengetahuan itu harus bersifat analitik sekaligus bersifat sintetik, yang didapatkan melalui sintetik aprirori (sintesis antara apriori dan aposteriori). Maka dengan ini semua kami berpikir bahwa apabila kami menghadapi sesuatu maka yang harus dilakukan adalah meragukan hal tersebut, dan berpikir secara kritis, mempersepsikannya sebisa mungkin lalu melihat sperti apa fenomena yang tampak dan yang bisa dirasakan sehingga kami bisa memiliki pengalaman mengenai hal tersebut, kemudian kami analisis dengan segala pengetahuan yang telah kami miliki untuk menarik suatu kesimpulan mengenai hal tersebut. Demikian lah filsafat yang sejauh ini kami dapatkan dan pahami.

    ReplyDelete