Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

11 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jargon pertengkaran antara guru dan siswa, merupakan suatu kasus yang terjadi antara guru dan siswa. Guru sebagai penyalur ilmu dan siswa penerima. Semuanya adalah sama-sama penting. Guru membutuhkan murid, dan murid membutuhkan guru. Guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai guru. Guru memerlukan jargon untuk melindungi dirinya, yaitu dengan bertanggung jawab dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki. Guru harus bisa mengelola kelas, mengetahui bagaimana karakter siswa, dan harus benar-benar menguasai materi. Agar ia bisa terlindung dari yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan untuk siswa, siswa berhak menerima ilmu yang dimilki oleh gurunya. Siswa harus bisa mengamalkan yang telah mereka dapat dari belajarnya. Siswa harus memiliki jargon untuk melindungi dirinya, sehingga siswa harus bertanggungjawab sebagai seorang siswa. Maka solusi yang baik adalah guru dan siswa harus bisa menerjemahkan dan diterjemahkan. Guru jangan sombong terhadap muridnya, dan siswa juga jangan melawan seorang guru.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pelajaran dan rencana yang saya dapatkan detelah membaca elegi ini:
    1. Guru dan siswa ada untuk saling melengkapi. Guru tidak lengkap tanpa siswa, dan siswa pun tidak akan menjadi siswa tanpa seorang guru.
    2. Semua siswa juga memiliki hak (jargon yang digambarkan dari elegi di atas), dan sebagai guru kita patut menghargainya dengan cara apapun tergantung ruang dan waktu.
    3. Saya mau belajar menggunakan jargon saya sebaik mungkin ketika saya menjadi guru (lagi)
    4. Ketika menjadi guru, saya ingin memberikan elegy ini kepada siswa-siswi saya agar mereka dapat membacanya, sehingga mereka pun mempunyai satu pemahaman (filosofi) bahwa sebagai murid mereka pun harus tahu bahwa mereka juga memiliki hak (jargon) , mereka harus belajar menggunakan jargon itu sebaik mungkin sperti halnya saya pun belajar menggunakannya, dan terakhir mereka belajar menghargai jargon para guru mereka (dalam artian mereka belajar untuk menghargai para guru)

    ReplyDelete
  3. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Guru menggunakan kekuasaannya untuk menunjukan kekuatan dirinya kepada siswa dan siswa berusaha melindungi diri dari kesewenang-wenangan gurunya. Keadaan ini tentunya kurang bagus, baik untuk guru maupun siswanya. Segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa seolah-olah hanya sekedar melaksanakan tuntutan hidup saja. Guru hendaknya menyadari bahwa apalah arti tugas dan kewajiban guru jika tidak ada siswa yang terlibat di dalamnya. Apalah juga arti siswa jika tak ada guru yang membantunya. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, guru adalah siswa dan siswa adalah guru. Jadi, alangkah baiknya jika setiap guru dan siswa memiliki rasa simpati dan empati, tulus dan ukhlas dalam mengemban tugas dan kewajiban masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru tanpa siswa tiada berarti, begitu juga sebaliknya. Guru hendaknya tidak memaksakan kehendak kepada siswa. Seringkali kita temui guru menutupi kepribadiannya untuk terlihat sempurna di depan siswa-siswanya. Sebaiknya guru memberikan tauladan dan contoh yang baik kepada siswa-sisswanya, karena ketika dalam diri siswa telah tertanam karakter tersebut, maka siswa akan secara otomatis menghormati gurunya. Alangkah indahnya jika terjalin kerjasama yang bagus antara guru dan siswa demi mencapai tujuan pendidikan yang hakiki.

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Sebagai calon pendidik hendaknya mempersiapkan diri untuk menjadi pendidik yang berkualitas baik dari segi kognitif maupun kepribadian. Jangan jadikan guru sebagai profesi ‘ladang uang’, namun jadikan guru sebagai ‘ladang pengabdian’. Dari bacaan “Jargon Guru dan Siswa” di atas dapat memberi inspirasi tentang sosok guru sejati.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya berhubungan satu sama lain. Keduanya mempunyai jargon masing-masing untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru atau sebagai siswa. Perbedaan pendapat antar guru dan siswa wajar terjadi. Semua harus mampu memahami satu sama lain. Guru hendaknya jangan otoriter dalam pembelajaran. Guru harus memberikan kebebasan berpikir kepada siswa sehingga kreatifitas berfikir siswa dapat berkembang.

    ReplyDelete
  7. Hening Carrysa
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    14301241012

    Jargon pertengkaran guru dan siswa ini menceritakan tentang perilaku guru dan siswa dalam kehidupannya nyata. Dimana masih saja terdapat guru yang ingin otoriter/berkuasa atas siswa-siswanya. Sebagai siswa hanya bisa tunduk dan patuh atas apa yang diinginkan guru. Dalam dunia pendidikan saat ini, sikap guru yang otoriter sudah tidak layak diterapkan lagi. Sikap seperti itu hanya akan membuat siswa takut dan membenci mata pelajaran yang di ajarakan gurunya. Jalin hubungan antar guru dan siswa menjadi dekat tetapi masih ada jarak, buat pembelajaran yang menyenangkan dan berarti bagi siswa. Janganlah berlaku sombong wahai guru dengan kekuasaan yang dimiliki atas siswa-siswanya. Ingatlah bahwa Sebesar-besar kekuasaan guru, guru hanyalah manusia dan dunia beserta kekuasaan guru tersebut hanya milik ALLAH SWT..

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya memeperoleh pemahaman bahwa kita sebagai pendidik kita seharusnya memerdekakan pikiran siswa. Dimana siswa memberikan kebebasan untuk berfikir tidak hanya sama terus sama gurunya. Misalnya dalam membuat segi lima, guru tak hanya mencantumkan satu gambar saja. melainkan mengajak siswa untuk mengeksplorasi mebuat segilima dengan gambar-gambar yang berbeda dari contoh yang diberikan.

    ReplyDelete
  9. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Guru dan siswa tidaklah selalu dalam satu kesepakatan pada mulanya. Dapat dipastikan muncul perbedaan pendapat diantara keduanya. Namun guru tidak serta merta secara menyalahkan pendapat siswa tersebut dan selalu memebenarkan pendaatnya sendiri. Alahkah baiknya semua pemikiran siswa ditampung, kemudian guru memberikan arahan, sehingga membuat siswa berpikir ulang apakah dan mengambil kesepakatan bersama antara guru dan siswa. Dan tidak semua pendapat siswa dapat dilennyapkan begitu saja. Informasi sudah dapat ditemukan dimana saja dan kapan pun oleh siswa. Tidak menutup kemungkinan banyak informasi yang ditemukan oleh siswa yang terlewatkan oleh guru. Maka dari itu, pengajar dan pendidik tidaklah boleh sombong terhadap seseorang yang diajar dan dididik olehnya. Hal di atas mewakili pernyataan Pak Marsigit bahwa ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru.

    ReplyDelete
  10. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Tiadalah guru jika tanpa siswa, dan tiadalah siswa jika tanpa guru. Oleh karena itu, dalam pembelajaran penting adanya hermeneutika yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Seorang guru bukanlah penguasa otoriter dalam suatu kelas dan pembelajaran. Guru adalah seseorang yang mengelola pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide, mengemukakan pendapat, berpikir kreatif, bertanya, menemukan, melakukan kesalahan dan kemudian gurulah yang menuntun siswa kepada solusi atau pemahaman yang benar, dsb. Sebagai seorang guru, kita harus memahami bahwa belajar bukanlah transfer of knowledge, tapi dalam belajar, siswa harus membangun sendiri pengetahuannya dengan fasilitasi dari guru.

    ReplyDelete
  11. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Guru adalah teladan bagi siswanya, sehingga begitu pentingnya peran guru tersebut maka untuk menjadi guru yang profesional itu harus mempunyai kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan sikap. Sehingga dengan kompetensi itu seorang guru akan bisa memahami bagaimana psikologi siswa itu dan apa yang dibutuhkannya. Karena peran guru adalah sebagai fasilitator maka guru yang profesional itu harus memfasilitasi siswa aga bisa belajar dengan baik. ketika ada ketidakcocokan antara siswa dengan guru maka guru seharusnya koreksi diri karena guru itu yang lebih dewasa jangan terlalu cepat memfonis siswa dengan hal yang macam-macam, tapi berikanlah kepada siswa alur pikir yang sesuai dengan perkembangannya sehingga siswa tersebut paham.

    ReplyDelete