Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

63 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Jargon pertengkaran antara guru dan siswa, merupakan suatu kasus yang terjadi antara guru dan siswa. Guru sebagai penyalur ilmu dan siswa penerima. Semuanya adalah sama-sama penting. Guru membutuhkan murid, dan murid membutuhkan guru. Guru harus bisa memposisikan dirinya sebagai guru. Guru memerlukan jargon untuk melindungi dirinya, yaitu dengan bertanggung jawab dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki. Guru harus bisa mengelola kelas, mengetahui bagaimana karakter siswa, dan harus benar-benar menguasai materi. Agar ia bisa terlindung dari yang menjadi tanggungjawabnya. Sedangkan untuk siswa, siswa berhak menerima ilmu yang dimilki oleh gurunya. Siswa harus bisa mengamalkan yang telah mereka dapat dari belajarnya. Siswa harus memiliki jargon untuk melindungi dirinya, sehingga siswa harus bertanggungjawab sebagai seorang siswa. Maka solusi yang baik adalah guru dan siswa harus bisa menerjemahkan dan diterjemahkan. Guru jangan sombong terhadap muridnya, dan siswa juga jangan melawan seorang guru.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pelajaran dan rencana yang saya dapatkan detelah membaca elegi ini:
    1. Guru dan siswa ada untuk saling melengkapi. Guru tidak lengkap tanpa siswa, dan siswa pun tidak akan menjadi siswa tanpa seorang guru.
    2. Semua siswa juga memiliki hak (jargon yang digambarkan dari elegi di atas), dan sebagai guru kita patut menghargainya dengan cara apapun tergantung ruang dan waktu.
    3. Saya mau belajar menggunakan jargon saya sebaik mungkin ketika saya menjadi guru (lagi)
    4. Ketika menjadi guru, saya ingin memberikan elegy ini kepada siswa-siswi saya agar mereka dapat membacanya, sehingga mereka pun mempunyai satu pemahaman (filosofi) bahwa sebagai murid mereka pun harus tahu bahwa mereka juga memiliki hak (jargon) , mereka harus belajar menggunakan jargon itu sebaik mungkin sperti halnya saya pun belajar menggunakannya, dan terakhir mereka belajar menghargai jargon para guru mereka (dalam artian mereka belajar untuk menghargai para guru)

    ReplyDelete
  3. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Guru menggunakan kekuasaannya untuk menunjukan kekuatan dirinya kepada siswa dan siswa berusaha melindungi diri dari kesewenang-wenangan gurunya. Keadaan ini tentunya kurang bagus, baik untuk guru maupun siswanya. Segala sesuatu yang dilakukan guru dan siswa seolah-olah hanya sekedar melaksanakan tuntutan hidup saja. Guru hendaknya menyadari bahwa apalah arti tugas dan kewajiban guru jika tidak ada siswa yang terlibat di dalamnya. Apalah juga arti siswa jika tak ada guru yang membantunya. Seperti yang diungkapkan dalam elegi ini, guru adalah siswa dan siswa adalah guru. Jadi, alangkah baiknya jika setiap guru dan siswa memiliki rasa simpati dan empati, tulus dan ukhlas dalam mengemban tugas dan kewajiban masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru tanpa siswa tiada berarti, begitu juga sebaliknya. Guru hendaknya tidak memaksakan kehendak kepada siswa. Seringkali kita temui guru menutupi kepribadiannya untuk terlihat sempurna di depan siswa-siswanya. Sebaiknya guru memberikan tauladan dan contoh yang baik kepada siswa-sisswanya, karena ketika dalam diri siswa telah tertanam karakter tersebut, maka siswa akan secara otomatis menghormati gurunya. Alangkah indahnya jika terjalin kerjasama yang bagus antara guru dan siswa demi mencapai tujuan pendidikan yang hakiki.

    ReplyDelete
  5. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Sebagai calon pendidik hendaknya mempersiapkan diri untuk menjadi pendidik yang berkualitas baik dari segi kognitif maupun kepribadian. Jangan jadikan guru sebagai profesi ‘ladang uang’, namun jadikan guru sebagai ‘ladang pengabdian’. Dari bacaan “Jargon Guru dan Siswa” di atas dapat memberi inspirasi tentang sosok guru sejati.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya berhubungan satu sama lain. Keduanya mempunyai jargon masing-masing untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru atau sebagai siswa. Perbedaan pendapat antar guru dan siswa wajar terjadi. Semua harus mampu memahami satu sama lain. Guru hendaknya jangan otoriter dalam pembelajaran. Guru harus memberikan kebebasan berpikir kepada siswa sehingga kreatifitas berfikir siswa dapat berkembang.

    ReplyDelete
  7. Hening Carrysa
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    14301241012

    Jargon pertengkaran guru dan siswa ini menceritakan tentang perilaku guru dan siswa dalam kehidupannya nyata. Dimana masih saja terdapat guru yang ingin otoriter/berkuasa atas siswa-siswanya. Sebagai siswa hanya bisa tunduk dan patuh atas apa yang diinginkan guru. Dalam dunia pendidikan saat ini, sikap guru yang otoriter sudah tidak layak diterapkan lagi. Sikap seperti itu hanya akan membuat siswa takut dan membenci mata pelajaran yang di ajarakan gurunya. Jalin hubungan antar guru dan siswa menjadi dekat tetapi masih ada jarak, buat pembelajaran yang menyenangkan dan berarti bagi siswa. Janganlah berlaku sombong wahai guru dengan kekuasaan yang dimiliki atas siswa-siswanya. Ingatlah bahwa Sebesar-besar kekuasaan guru, guru hanyalah manusia dan dunia beserta kekuasaan guru tersebut hanya milik ALLAH SWT..

    ReplyDelete
  8. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari kisah elegi ini, saya memeperoleh pemahaman bahwa kita sebagai pendidik kita seharusnya memerdekakan pikiran siswa. Dimana siswa memberikan kebebasan untuk berfikir tidak hanya sama terus sama gurunya. Misalnya dalam membuat segi lima, guru tak hanya mencantumkan satu gambar saja. melainkan mengajak siswa untuk mengeksplorasi mebuat segilima dengan gambar-gambar yang berbeda dari contoh yang diberikan.

    ReplyDelete
  9. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Guru dan siswa tidaklah selalu dalam satu kesepakatan pada mulanya. Dapat dipastikan muncul perbedaan pendapat diantara keduanya. Namun guru tidak serta merta secara menyalahkan pendapat siswa tersebut dan selalu memebenarkan pendaatnya sendiri. Alahkah baiknya semua pemikiran siswa ditampung, kemudian guru memberikan arahan, sehingga membuat siswa berpikir ulang apakah dan mengambil kesepakatan bersama antara guru dan siswa. Dan tidak semua pendapat siswa dapat dilennyapkan begitu saja. Informasi sudah dapat ditemukan dimana saja dan kapan pun oleh siswa. Tidak menutup kemungkinan banyak informasi yang ditemukan oleh siswa yang terlewatkan oleh guru. Maka dari itu, pengajar dan pendidik tidaklah boleh sombong terhadap seseorang yang diajar dan dididik olehnya. Hal di atas mewakili pernyataan Pak Marsigit bahwa ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru.

    ReplyDelete
  10. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Tiadalah guru jika tanpa siswa, dan tiadalah siswa jika tanpa guru. Oleh karena itu, dalam pembelajaran penting adanya hermeneutika yaitu menerjemahkan dan diterjemahkan. Seorang guru bukanlah penguasa otoriter dalam suatu kelas dan pembelajaran. Guru adalah seseorang yang mengelola pembelajaran. Oleh karena itu, guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide, mengemukakan pendapat, berpikir kreatif, bertanya, menemukan, melakukan kesalahan dan kemudian gurulah yang menuntun siswa kepada solusi atau pemahaman yang benar, dsb. Sebagai seorang guru, kita harus memahami bahwa belajar bukanlah transfer of knowledge, tapi dalam belajar, siswa harus membangun sendiri pengetahuannya dengan fasilitasi dari guru.

    ReplyDelete
  11. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Guru adalah teladan bagi siswanya, sehingga begitu pentingnya peran guru tersebut maka untuk menjadi guru yang profesional itu harus mempunyai kompetensi pedagogik, profesional, sosial dan sikap. Sehingga dengan kompetensi itu seorang guru akan bisa memahami bagaimana psikologi siswa itu dan apa yang dibutuhkannya. Karena peran guru adalah sebagai fasilitator maka guru yang profesional itu harus memfasilitasi siswa aga bisa belajar dengan baik. ketika ada ketidakcocokan antara siswa dengan guru maka guru seharusnya koreksi diri karena guru itu yang lebih dewasa jangan terlalu cepat memfonis siswa dengan hal yang macam-macam, tapi berikanlah kepada siswa alur pikir yang sesuai dengan perkembangannya sehingga siswa tersebut paham.

    ReplyDelete
  12. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Guru itu salah satu tempatnya siswa dalam belajar. maka dalam memberikan sesuatu, guru haruslah memberikan teladan yang baik bagi siswanya untuk di contoh nantinya. Dan siswa menghormati menghargai gurunya. jika adanya perbedaan antara guru dan siswa, maka alangkah baiknya perbedaan itu menjdikan keduanya mencari atau memberikan solusi yang baik tanpa merugikan salah satu pihak. guru memberikan ilmu kepada siswanya, maka siswa sebaiknya membangun pengetahuannya yang sudah diberikan oleh guru.

    ReplyDelete
  13. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Jargon adalah bahasa yang kacau dari subyeknya. Masing-masing subyek berhak memiliki jargonnya. Seperti elegi yang pernah saya baca, yaitu elegi para jargon, disebutkan bahwa jargon bisa jadi kurang bermanfaat, bermanfaat, atau bahkan sangat bermanfaat. Dari elegi di atas tergambarkan bagaimana kedudukan-kedudukan elegi itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika jargon dikendalikan oleh keegoisan subyeknya maka dia akan sangat merugikan, namun jika jargon diiringin dengan hati bersih para subyeknya maka ia dapat saling melindungi.

    ReplyDelete
  14. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Guru dan siswa masing-masing harus memahami kedudukannya sesuai ruang dan waktu dalam rangka menciptakan hubungan harmonis antara guru dan siswa. Sebagai contoh, menjalin sikap saling menghormati antara guru dan siswa, guru sebagai suri tauladan yang baik bagi siswanya, menunjukkan sikap kasih sayang antara guru dan siswa.

    ReplyDelete
  15. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika

    Sependapat dengan Cendekia Ad Dien, guru dan siswa harus saling memahami kedudukan satu sama lain sesuai ruang dan waktunya, guru tidak perlu menjadi galak ketika tujuannya untuk membuat siswa takut namun guru perlu tegas agar siswa patuh dan menjalankan pembelajaran sebagaimana mestinya. Siswa pun perlu menghargai dan mematuhi guru agar hubungan menjadi harmonis dan tujuan pembelajaran tercapai.

    ReplyDelete
  16. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika

    Guru perlu menghargai siswa dengan menunjukkan sikap-sikap yang memunculkan hubungan yang harmonis dengan siswa. Sikap-sikap tersebut antara lain adil,percaya dan suka terhadap murid-muridnya, sabar dan rela berkorban, memiliki perbawa (gezag) terhadap anak-anak, penggembira, dan tentu saja harus benar-benar menguasai mata pelajarannya, suka pada mata pelajaran yang diberikannya serta berpengetahuan luas. Sehingga antara guru dan siswa dapat saling memahami satu sama lain sesuai ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  17. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Guru bukanlah pendominasi saat pelaksanaan pembelajaran, guru bukanlah pusat saat pembelajaran, namun guru adalah perencana pembelajaran agar peserta didik dapat melaksanakan pembelajaran yang bermakna, sedangkan dirinya sendiri (guru) hanya sebagai fasilitator. Guru membutuhkan informasi mengenai kebutuhan peserta didik, sehingga dia dapat menentukan pembelajaran yang seperti apa yang sesuai. Terlihat hubungan guru dan peserta didik sebenarnya adalah saling membutuhkan. Terbentuk hermeneutika lingkaran karena hubungan guru dan peserta didik saling membutuhkan dan bersifat timbal balik, berulang. Manusia baik guru maupun peserta didik haruslah menggunakan pikiran dan hatinya untuk memahami hermeneutikanya, sehingga dia tidak akan berbuat semena-mena yang berlawananan dengan hasil tejemahannya.

    ReplyDelete
  18. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Guru dan siswa memiliki perannya masing-masing. Guru dan siswa perlu bekerja sama agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Guru perlu menghayati, memahami dan melakukan perannya dengan baik, siswapun juga begitu perlu memahmi dan melakukan perannya dengan baik. Guru tidak boleh otoriter, menjadi tukang suruh, dan sombong akan ilmunya. Guru itu hanya menyelesaikan pendidikannya lebih dulu dari siswa, belum tentu guru lebih pandai dari siswa. Tugas guru untuk memfasilitasi siswa mengembangkan pengetahuan dan ketrampilannya.

    ReplyDelete
  19. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Jargon yang membuat pertentangan antara guru dengan siswa. Pada jaman dulu guru bertindak otoriter terhadap siswanya, guru memiliki kewajiban untuk memberikan semua informasi kepada para siswanya. Namun guru dan siswa saat ini sudah bertransformasi, saat ini guru berperan sebagaim fasilitator dan tidak bersikap otoriter lagi. Sedangkan siswanya berhak untuk menyusun pengetahuannya sendiri-sendiri. Namun hal yang memprihatinkan saat ini adalah sikap para siswa yang tidak menghormati gurunya dan bersikap semena-mena terhadap gurunya.

    ReplyDelete
  20. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Agar pembelajaran berjalan dengan baik, guru dan siswa harus mempunyai komunikasi dua arah. Ilmu tidak hanya ditransfer dari guru ke siswa saja, tetapi siswa juga berhak untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Sebagai guru, tidak seharusnya sombong dan sok kuasa terhadap siswa. Tidak ada yang namanya guru sejati karena sebenar-benar guru adalah hanya Tuhan YME dan sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  21. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Menurut saya orang tua berambut putih disini sebagai penengah antara guru dan siswa. Orang tua berambut putih mendengarkan keluh kesah siswa. Pada saat pembelajaran sebaiknya guru jangan terlalu mendominasi agar siswa tidak merasa tertekan.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    dalam sebuah pembelajaran, guru adalah sebagai fasilitator. sebaiknya guru jangan otoriter dengan sering memaksa siswanya paham akan suatu materi yang diterangkan oleh guru. Jika guru bersifat otoriter siswa akan merasa tertekan dan memaksa untuk mejawab "paham" padahal dia belum paham dengan apa yang diterangkan oleh guru. hal ini sebaiknya dihindari oleh guru sehingga siswa merasa nyaman dengan situasi pembelajaran.

    ReplyDelete
  23. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Doktrinisasi memang kerapkali terjadi dalam pembelajaran. Guru menutup ruang berpikir siswa dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, siswa tidak diberi kebebasan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya mengenai berbagai materi pelajaran. Guru menutupi sifat-sifat siswanya dengan dominasinya dalam pembelajaran, padahal siswalah yang harusnya berperan aktif dalam pembelajaran, karena tuntutan untuk menuntut ilmu lebih dibebankan kepada mereka. Indikator keberhasilan pembelajaran juga menyasar output maupun outcome yang diperoleh siswa dalam pembelajarannya.

    ReplyDelete
  24. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Guru tidak perlu menjadi orang yang sok berkuasa atas murid. Benar bahwa guru harus menjaga image terhadap muridnya. Tetapi itu dengan alasan bahwa tugas guru adalah tauladan bagi seorang murid. Dengan sikap guru yang terlalu keras dan tegas membuat siswa takut dan tidak mau memberikan pendapatnya ketika belajar. Hal ini bukanlah tujuan yang diharapkan. Untuk siswa, benar bahwa siswa harus patuh pada gurunya tetapi bukan takut. Guru adalah tempat bertanya jika tidak tahu. Bukan orang yang ditakuti.

    ReplyDelete
  25. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Guru dan Siswa saling melengkapi satu sama lain, siswa membutuhkan guru sebagai fasilitator pembelajaran dan guru membutuhkan siswa untuk mentransfer ilmunya. agar pembelajaran terlaksana dengan baik, perlu adanya komunikasi dua arah antara guru dan siswa, tidak terpaku pada guru yang harus menjelaskan, namun lebih ke siswa yang mengkonstruk pengetahuan didampingi guru sebagai fasilitatornya.

    ReplyDelete
  26. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai calon pendidik, kita harus memperisapkan diri sebaik mungkin dari segi ilmu, kepribadian, perilaku, dan keikhlasan. karena bahwasanya menghadapi siswa dengan berbagai macam perilakunya itu sungguh tidak mudah, namun semuanya dapat dipersiapkan. dari paparan diatas saya lebih memahami lagi bagaiamana seharusnya guru sejati itu bersikap.

    ReplyDelete
  27. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru merupakan salah satu profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Akan tetapi, janganlah gunakan profesi tersebut sebagai sarana menguasai seluruh siswanya. Dan sebagai siswa juga tidak diperkenankan bertindak sesuai kehendaknya. Oleh karena itu, komunikasi menjadi salah satu kunci kesukesan pembelajaran. Guru dan siswa harus bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Guru tidak diperkenankan berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu. Sebab, sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  28. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Guru dan siswa adakalanya memang tidak selalu sejalan. Hal yang dilakukan oleh guru terkadang disalah artikan oleh siswa, begitu juga sebaliknya. Mungkin saja guru salah dalam menyampaikan maksudnya, begitupun dengan siswa. Mungkin siswa juga merasa tertekan dengan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Maka baik jika guru mampu menyusun pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran sehingga dalam pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pembelajaran yang disusun oleh guru.

    ReplyDelete
  29. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Guru diharapkan mampu memahami pemikiran dan sikap yang muncul pada diri siswa. Sikap yang setiap siswa memiliki keunikan masing-masing.
    Guru harus mampu memfasilitasi. Sehingga murid dengan sengala keunikannya dapat mengembangkan prestasinya secara maksimal.
    Selain hal itu dalam mengajar di kelas meskipun guru memiliki rasa tau tetapi guru pasti memiliki keterbatasan dan ketika melakukan kesalahan harus mengakui kesalahannya.

    ReplyDelete
  30. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam lingkungan sekolah ada yang berkedudukan sebagai guru dan ada sebagai siswa. Setiap kedudukan tersebut tentunya mempunyai tugas dan peran tersendiri. Guru mempunyai peran sebagai fasilitator bagi siswa untuk mendukung pembelajaran siswa, sebaliknya siswa harus bertindak sebagaimana mestinya seorang siswa yang menghormati gurunya. Di samping itu guru sebagai pentransfer ilmu guru tidak boleh sombong atas ilmunya dan harus senantiasa mengembangkan ilmunya.
    Dan dari keduanya harus tahu memposisikan diri masing-masing. Serta harus saling berkolaborasi untuk mewujudkan pembelajaran yang diinginkan.

    ReplyDelete
  31. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Hermeneutika kehidupan berkaitan erat dengan kegiatan menerjemahkan/diterjemakan untuk memperoleh makna yang terkandung di baliknya. Oleh karena itu, guru dan siswa harus mampu untuk saling menerjemahkan/diterjemahkan agar mampu memperoleh hikmah dari apa yang terjadi diantara guru dan siswa. Seorang guru hendaknya tidak berlaku sombong dan menguasai siswa hingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuannya. Idealnya seorang guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakuakan sesuatu sesuai dengan caranya dalam rangka mengembangkan ilmunya. Guru pun adalah siswa, karena guru yang sesungguhnya adalah Allah SWT Sang Maha Guru yang memberikan ilmu pada hamba-Nya melalui utusan-utusan-Nya.

    ReplyDelete
  32. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berbicara maslaah jargon pertengkaran guru dan siswa. maka kita pasti tahu bahwa seirng-sering ini banyak kasus-kasung yang menyangkut guru dan siswa. mungkin guru menyiksa murid atau sebalaiknya. Sering di media sosial video yang sering saya liat. Kalau melihat video seperti itu, miris hati ini melihat. Apakah guru atau siswa yang salah sebenarnya. Kalau dilihat pada zaman nya sekarang guru banyak yang tidak di hormati lagi. Kewibawaan seorang guru hilang di mata siswa. maka kiat sebagai generasi pembawa perubahan alangkah baiknya utnutk merubah paradigma hal itu. Semanagt mejadi guru yang disenangi banyak siswa bukan di benci.

    ReplyDelete
  33. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Paradigma yang mungkin sekarang masih ada guru baru atau yang dapat dikatakan junior mengacu pada karakter yang telah dibangun bagi seorang guru senior.
    Yakni berwibawa dan dihormati jadi mengabaikan naluri ingin mengakui keterbatasan yang dimiliki dihadapan siswanya karena ingin menjaga karkater yang telah lekat sebagai guru senior.
    Hal ini tidak boleh dilakukan sebagai seorang guru dengan menutupi segala kesalahan agar tidak tampak,sebab meskipun guru dikenal sebagai sumber kebenaran dari segala hal namun ketika melakukan kesalahan harus mengakuinya tanpa takut untuk kehilangan nama baik.

    ReplyDelete
  34. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, guru memiliki tugas mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, namun untuk hal itu guru harus ikhlas dan tidak menggunakan ego pribadi dalam melaksanakan rroses pembelajaran, guru harus jujur dengan apapun yang terjadi, dan dengan konsisten melakukan perubahan untuk mencapai tujuan pendidikan.

    ReplyDelete
  35. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    guru dan siswa harus saling kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. dengan menyampingkan ego masing masing untuk sama sama melaksanakan proses pembelajaran, guru lebih baik tidak bersikap menggurui namun lebih kepada merangkul siswa agar siswa merasa nyaman untuk aktif bertanya dan mengeluarkan pendapatnya. guru menjadi fasilitator untuk siswa dalam mengkonstruksi pengetahuanya sendiri, pembelajaran akan terasa nyaman ketika guru dan siswa samasama menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete
  36. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru dan Siswa ada untuk saling melengkapi. Keberadaan guru bagi siswa, seharusnya dapat membawa aura yang membahagiakan. Akan tetapi tidak setiap siswa menyadari akan kebutuhannya sendiri dan mengetahui untuk apa ia harus beajar suatu materi tertentu. Di sinilah peran guru yang sebenarnya, bukan dengan menggurui siswa dan menyampaikan materi begitu saja, tanpa memahami karakter siswa, melainkan guru haruslah mampu memenuhi kebutuhan siswa dan membuka pandangan siswa mengenai pentingnya ilmu tersebut bagi kehidupannya kelak. Sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari materi dengan mengetahui kebermaknaannya.

    ReplyDelete
  37. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Selalu ada kelebihan dan kelemahan di dunia ini, tetapi kita harus menyadari bahwa kelebihan sebenarnya dapat menjadi kelemahan apabila kita tidak menyadarinya dan tidak mampu mempergunakan dengan semestinya, dan kelemahan juga dapat menjadi kekuatan apabila kita dapat memandang kelemahan yang kita miliki sebagai kelebihan sehingga dapat dimanfaatkan dalam melakukan sesuatu. Begitu juga dalam dunia pendidikaan, guru dan murid pada dasarnya adalah sama. Namun, pada prosesnya, dalam pembelajaran konvensional, selalu ada kesenjangan diantara guru dan murid. Disini guru bertindak layaknya dewa dan siswa dianggap sebagai daksa. Namun seiring perkembangan zaman, hal seperti itu sudah tidak lagi digunakan. Guru sebagai fasilitator dan pendukung siswa dalam belajar, sehingga guru lebih memiliki kedekatan kepada siswa sehingga tidak terjadi kesenjangan. Melalui proses ini semua komponen pembelajaran saling berkolaborasi menciptakan suasana belajar yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  38. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan, guru yang mengusai ilmunya dengan baik, mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya, disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami dan guru yang kreatif dan inovatif. Selain itu sikap dan sifat guru juga menjadi hal yang penting yang harus dimiliki seorang guru yaitu harus bijaksana (bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas), Sabar dan menahan amarah dan Adil

    ReplyDelete
  39. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada hakekatnya, guru dan siswa itu saling membutuhkan. Tidak akan ada guru jika tidak ada siswa. Siswa membutuhkan guru sebagai fasilitator untuk memeroleh ilmu. Hubungan yang baik antara siswa dan guru akan memuclkan pembelajaran yang bermakna di antara keduanya.

    ReplyDelete
  40. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru yang baik itu tidak memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki. Sesuai dengan yang disebutkan dalam bacaan di atas “...guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst”. Jadi tugas guru adalah memfasilitasi apa yang dibutuhkan siswa, bukan menyalurkan ambisi yang dia punyai.

    ReplyDelete
  41. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Ketika kita berhenti berpikir maka mitos akan menghampiri kita. Jargon dapat memantapkan kedudukan guru sebagai guru di sekolah dan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirinya dari bengisnya ketidakinovasian guru menggunakan metode pembelajaran di dalam kelas. Sehingga dibutuhkan keterbukaan dan kerjasama antara guru dan siswa di dalam kelas agar pembelajaran yang terjadi di dalam kelas nyaman, menyenangkan dan aktif. Keterbukaan dapat membuat semua yang ada menjadi lebih baik, dimana guru memberikan tujuan pembelajaran sebelum dimulainya pembelajaran dan adanya evaluasi bersama dengan murid untuk menyimpulkan aktivitas apa yang telah ia jalani di dalam kelas.

    ReplyDelete
  42. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seyogyanya guru tidak menjadikan kelas sebagai otoriternya atau daerah kekuasaannya. Sehingga memaksakan satu metode saja untuk siswa. Namun guru harus memfasilitasi kebutuhan siswa agar terpenuhi. Karena setiap siswa mempunyai keunikan tersendiri. Memang susah untuk menyediakan semua fasiltasnya terpenuhi. Namun seyogyanya guru menyiapkan berbagai variasi untuk memfasilitasi kebutuhan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  43. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Guru dan siswa memiliki hubungan yang kuat. Keduanya saling membutuhkan. Segala sesuatu yang berbeda diantara guru dan siswa mengenai pendapat sering terjadi namun hal yang wajar karena sebenar-benar ilmu yang demikian itu. Akantetapi guru tidak lantas bersikap diktator maupun otoriter, karena bisa jadi dengan menerima pendapat siswa merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki pembelajaran agar lebih baik. Dengan demikian harus sama-sama saling memahami satu sama lain.

    ReplyDelete
  44. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswa. Guru juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru harus mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang demokratis. Siswa harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan sendiri ide /gagasan mereka. Dalam belajar, siswa harus diberikan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan intuisinya sendiri.

    ReplyDelete
  45. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru memiiki jargon, siswa juga memiliki jargon. Seorang guru jangan berperilaku sombong dan sok berkuasa atas siswa. Karena sebaik-baiknya guru adalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  46. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi tersebut, yang dapat saya pelajari adalah seorang guru tidak boleh otoriter. Guru juga tidak boleh sombong dan menganggap bahwa dirinya paling benar dan berkuasa sehingga menindas siswa. Karena pembelajaran di kelas sebenarnya adalah kegiatan siswa. guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri sehingga anak dapat menjadi mandiri dan kreatif.

    ReplyDelete
  47. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    Pendidikan Matematika A 2014
    Guru dan siswa merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru tidak boleh bersikap otoriter, guru tidak boleh sombong dan menganggap dirinya paling benar. Sebagai seorang guru seharusnya dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan menjadikan siswa sebagai subjek pembelajaran. Disisi lain siswa juga harus menghormati guru dan mengikuti dengan baik proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  48. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pertengkaran guru dan siswa yang dimaksud adalah pertengkaran batin antara guru dan sisw. guru yang menginginkan siswa untuk dapat memahami akan materi yang disampaikan tetapi mungkin cara guru tersebut salah sehingga siswa merasa diperlakukan secara otoriter oleh guru, siswa diminta mengerjakan ini itu dan hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan siswa. oleh kaenanya penting bagi guru untuk memahami pembelajaran yang baik dan memahami karakter siswa.

    ReplyDelete
  49. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari yang telah saya baca, saya melihat hubungan antara guru dan siswa. Disini guru bertindak lebih terhadap siwa. Guru merasa yang berkuasa dan bisa meberikan instruksi apa saja dan harus dipatuhi serta dilaksanakan oleh siswa. Hal ini menjadikan siswa menjadi tertekan, akibatnya siswa tidak bisa mengeluarkan kreatifitas ide-idenya dan ini tentunya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

    ReplyDelete
  50. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai seorang guru maupun calon guru, tentunya kita memberikan contoh yang teladan kepada siswa. Seharusnya guru tidak bersikap otoriter karena akan berpengaruh terhadap kepribadian siswa. Pembelajaran seperti ini sudah tidak layak diterapkan pada masa sekarang. Guru sebaikknya memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk aktif mengembangkan kreatifitasnya dan guru sebagai fasilitator saja.

    ReplyDelete
  51. Jeanete Nenabu
    PPS Pmat D (15709251004)

    Dalam pembelajaran di kelas, guru tidak boleh bersikap otoriter. Guru tidak boleh memaksa kehendaknya kepada siswa. Guru harus bisa mengembangkan kegiatan belajar mengajar yang demokratis. Guru hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan ide mereka sendiri, sehingga siswa lebih kreatif. Sebisa mungkin guru dapat menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan, sehingga pembelajaran tersebut akan bermakna.

    ReplyDelete
  52. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Guru dan siswa memiliki jargonnnya masing-masing. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Sekarang ini banyak sekali guru yang memanfaatkan kekuasannya untuk menguasai siswa. Padahal yang perlu dilakukan adalah guru dan siswa saling menerjemahkan dan diterjemahkan jargonnya. Guru yang absolut adalah hanya Tuhan YME dan Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  53. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk itulah diperlukan hermenetika matematika, pada khususnya. Guru matematika perlu menerjemahkan siswa. Pada hal ini, guru perlu melihat kemampuan siswa dan bagaimana menyusun metode yang sesuai untuk keseluruhan siswanya di kelas. Sedangkan, siswa juga perlu menerjemahkan guru nya. Siswa hendaknya belajar dengan baik, dengan mengikuti kegiatan pembelajaran yang difasilitasi oleh guru. Sehingga tercapai pembelajaran yang berhasil dan inovatif

    ReplyDelete
  54. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran, diperlukan kerjasama yang baik antara siswa dan guru. Dalam hal ini, guru tidak boleh memaksakan kehendaknya dalam pembelajaran. Pembelajaran harus berjalan sesuai kondisi siswa karena sebenar-benarnya pembelajaran merupakan aktivitas siswa. Guru tidak boleh menganggap dirinya yang paling benar karena hal ini akan menghambat siswa dalam berpikir kreatif, kritis, dan inovatif.

    ReplyDelete
  55. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Menahan hasrat untuk selalu menerangkan kepada siswa memang tidaklah mudah. bagi guru yang baik menurut saya adalah memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat mengungkapkan apa yang mereka pikirkan, apa ide mereka mengenai pembelajaran waktu itu. guru memberikan fasilitas terbaik agar siswa di negeri ini dapat menjadi pribadi yang mandiri dan aktif serta bermanfaat.

    ReplyDelete
  56. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca elegi ini, saya memaknai jargon sebagai pengalaman. Jelas pengalaman yang dimiliki seorang guru sangat mendominasi jika dibandingkan dengan pengalaman yang dipunyai murid-muridnya. Pengalaman yang akan mengkondisikan kegiatan belajar mengajar. Pengalaman yang akan menentukan keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Pengalaman yang akan menemani siswa untuk membangun pengalamannya masing.

    ReplyDelete
  57. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Selain itu, saya pribadi memandang bahwa jargon disini dapat diartikan sebagai sebuah tantangan. Seorang guru memiliki tantangan yang sangat besar untuk memunculkan tantangan-tantangan kecil dari para siswa siswinya. Tantangan guru yang sebenarnya dapat diprogram oleh guru yang bersangkutan, akan dibuat sekompleks mungkin atau bahkan dibuat seminimal mungkin, guru lah yang memegang kendali disana. Sedangkan tantangan yang diterima oleh diri siswa, tidak sebebas tantangan yang dimiliki oleh seorang guru.

    ReplyDelete
  58. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Selain itu, dapat pula dipandang bahwa jargon adalah sebagai sebuah kebebasan. Ketika saya masih duduk di bangku SMP, kebebasan seorang guru lah yang sebenar-benarnya bebas. Berkebalikan dengan kebebasan yang diberikan kepada muridnya. Guru sangat berperan aktif dalam pembelajaran, sedangkan murid hanya pasif sebagai penerima informasi, sehingga sebenar-benarnya kebebasan murid adalah sebagian kecil dari kebebasan seorang guru.

    ReplyDelete
  59. Isna Nur Hasanah Hariningrum
    14301244009
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dan pada akhirnya, jargon dalam kasus ini dapat diartikan pula sebagai suatu keikhlasan. Keihklasan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, serta keikhlasan murid menempatkan diri sebagai murid. Alangkah mulianya jika dalam mengajar, guru memiliki keikhlasan yang tak terbatas sehingga tiadalah pekerjaan yang terasa berat baginya. Dilain sisi, cukup dengan sedikit kesadaran untuk berlaku ikhlas pada diri siswa ketika belajar, pastilah hasil yang dicapainya lebih maksimal.

    ReplyDelete
  60. Eka Novi Setiawan
    14301241044
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    kesimpulan jargon pertengkaran guru dan murid hampir sama dengan jargon tradisional dan inovatif bahwa guru dan siswa sama-sama harus bijaksana dan ikhlas melaksanakan tugas masing-masing tanpa mengusik satu sama lain untuk saling mempengaruhi.

    ReplyDelete
  61. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Budaya tradisional antara guru dengan siswa terlihat sangat kentara yaitu karena adanya jarak yang sangat jauh antara guru dengan siswa. hal ini juga dikarenakan kata guru sendiri bermakna sebagai orang yang dijunjung tinggi. Namun, jarak tersebut justru menimbulkan iklim pembelajaran yang kurang baik. Karena siswa merasa takut kepada guru dan menjadikan siswa tidak aktif. Oleh karenanya, pembelajaran tradisonal cenderung teacher center. Akan tetapi, saat ini, sudah terjadi pergeseran paradigma, dimana jarak antara guru dengan siswa sudah semakin kecil. karenanya, iklim pembelajaran juga mulai berubah menjadi student center dimana siswa yang dituntut untuk katif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  62. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

    ReplyDelete
  63. Pertengkaran terjadi karena ada rasa membanggakan diri sendiri. bahwa salah satu pihaklah yang benar terhadap suatu masalah. Guru berpendapat siswa harus dapat mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Siswa berpendapat bahwa apa yang disampaikan guru belum jelas sehingga sulit untuk belajar lebih lanjut. Satu guru menghadapi minimal 20 siswa dalam kelas dengan karakternya masing-masing, menurut hemat saya harus ada kompromi. Siswa menyadari tugas dan kewajibannya begitupun dengan guru. Guru juga belajar dari karaker-karakter siswa dan mencoba untuk memberi pendekatan pembelajaran yang sesuai seiring dengan bertambahnya pengalaman.

    ReplyDelete