Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

24 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saling menghargai dan saling menghormati dengan sesama manusia. Entah itu orang yang memiliki kedudukan tinggi atau pun tidak. Seperti halnya guru dan siswa yang sama-sama memiliki jargon masing-masing. Tetapi, yang digamabrkan oleh elegi tersebut adalah, bagaimana sifat guru yang terlalu keras untuk berupaya mencerdaskan peserta didiknya sedangkan si siswanya merasa tertekan. Padahal perlu diingat lagi, guru itu berupaya bagaimana siswa itu lebih paham dengan apa yang kita ajarkan, maka sesuaikanlah dengan kebutuhan dan harapan siswa di dalam proses belajar mengajar. Karena ini akan lebih mudah mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki jargonnya masing-masing. Begitupun dengan guru dan siswa, masing-masing memiliki jargon. Tetapi ada waktunya guru dan siswa dalam satu jargon. Artinya meskipun guru dan siswa memiliki peran dan tujuan yang berbeda-beda, tetapi keduanya terkadang harus dalam satu tujuan untuk membangun keterkaitan antara guru ddan siswa yang saling melengkapi. Adanya guru karena ada siswa, dan seorang siswa pastilah memerlukan peran seorang guru. Untuk itu, baik guru maupun siswa tidak bisa saling mengunggulkan perannya masing-masing, guru memang lebih berkuasa daripada siswa, tetapi jangan sekali-kali menyalahgunakan kekuasaan tersebut untuk hal yang tidak semestinya. Oleh sebab itu, salah satu cara yang harus digunakan adalah terjemah dan diterjemahkan supaya saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  3. Jargon setiap orang berbeda-berbeda. Termasuk jargon guru dan siswa. Setiap orang punya tujuan yang berbeda-beda, begitu pula tujuan guru dan siswa.Akan tetapi guru dan siswa dalam suatu kesempatan harus bersinergi bersama untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan guru ingin membelajarkan siswa agar menjadi lebih pandai, sementara siswa ingin belajar agar pandai. Tujuan guru dan siswa sama-sama ingin meningkatkan dimensi siswa agar bertambah tinggi.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  4. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Guru adalah seseorang yang memiliki kuasa terhadap siswa-siswanya. Maka guru harus berhati-hati agar tidak berlaku sombong dan menindas siswa-siswanya. Sebagai seorang guru kita harus bertindak bijaksana. Guru harus berupaya untuk memahami kelebihan dan kekurangan siswa dan bukannya malah menindas siswa-siswa yang memiliki kekurangan karena bisa jadi kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah akibat dari kesalahan yang dilakukan guru. Maka guru harus bisa berkaca apakah metode pembelajaran, media pembelajaran, dan metode penilaia yang dilakukan guru sudah dapat memfasilitasi berbagai karakteristik siswa.

    ReplyDelete
  5. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    para guru hanya bisa mendorong para siswa agar aktif dalam pembelajaran untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Perbedaan karakter masing-masing siswa harus dapat dikuasai oleh seorang guru dengan cara memberikan bimbingan yang tepat sesuai bakat dan minat serta kemampuan siswa itu sendiri. Tetapi dari pihak siswa juga diharapkan kerjasamanya agar selalu berusaha belajar dengan baik dan memperhatikan guru yang sedang mengajar. Memanfaatkan semaksimal mungkin peran guru agar dapat memberikan pengetahuan yang berguna.

    ReplyDelete
  6. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam elegi di atas disebutkan bahwa antara guru dan siswa sama-sama memerlukan jargon. Sedikit saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam pembelajaran, antara guru dan siswa haruslah ikhlas untuk saling menterjemahkan; yaitu diterjemahkan dan menterjemahkan. Hal ini dilakukan agar keduanya dapat saling mengambil keputusan bijak terkait apa yang akan dilakukan. Guru dan siswa juga haruslah saling menghormati, tentunya saling menghormati dengan porsi masing-masing yaitu pada dimensi ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  7. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Setiap orang memiliki jargonnya tersendiri. Termasuk juga guru dan siswa. Keduanya berusaha untuk melindungi dan mempertahankan diri masing-masing. Oleh karena itu keduanya tidak boleh berlaku sombong terhadap yang baik. Bahkan guru tidak boleh melakukan penindasan kepada muridnya. Karena guru itu dapat menjadi seorang murid, dan murid dapat pula berada diposisi guru tergantung ruang dan waktunya. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk saling terjemah menterjemahkan. Agar tidak terjadi pertengkaran.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya berhubungan satu sama lain. Keduanya mempunyai jargon masing-masing untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru atau sebagai siswa. Perbedaan pendapat antar guru dan siswa wajar terjadi. Semua harus mampu memahami satu sama lain. Guru hendaknya jangan otoriter dalam pembelajaran. Guru harus memberikan kebebasan berpikir kepada siswa sehingga kreatifitas berfikir siswa dapat berkembang.

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa sama-sama memiliki peran didalamnya, oleh karena itu akan terjalinnya komunikasi yang intens antar keduanya. Siswa dengan jargon siswa, sesuai dengan karakteristik dan pemikiran siswa itu sendiri. Guru dengan jargon guru, sesuai dengan karakteristik dan pemikiran dari guru tersebut. Tentu saja perbedaan antara keduanya sangat mungkin terjadi, mengingat banyak sekali aspek yang mendukungnya, tingkat pemahaman atau dimensi dari guru dan murid yang berbeda, ruang dan waktu yang berbeda, serta kemampuan yang berbeda seringkali menjadi kan "kuasa" guru melebihi siswa-siswanya, hal inilah yang terkadang menjadi disharmoni ketika guru bertindak hanya berdasarkan pemikirannya saja tanpa memperhatikan siswa, oleh karena itu sebaiknya siswa dan guru saling memahami dan mendukung satu sama lain.

    ReplyDelete
  10. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Baik, guru ataupun siswa masing-masing memiliki jargon. Guru memiliki jargon kuasa, sedangkan siswa memiliki jargon pelindungan atas dirinya. Fenomena tersebut tidak jarang muncul dalam pendidikan di mana guru menggunakan kekuasaannya untuk mengurung pemikiran siswa. Maka dari itu, untuk dapat melemahkan ego dan mencapai titik kebijaksanaan perlu dilakukan upaya terjemah menerjemahkan.

    ReplyDelete
  11. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Guru haruslah mampu memahami pemikiran dan sikap siswa. Sikap yang setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Guru harus mampu memfasilitasi. Sehingga murid dengan sengala keunikannya dapat mengembangkan prestasinya secara maksimal. Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk sukses asalkan ada keinginan.

    ReplyDelete
  12. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ada beberapa hal yang perlu dihindari atau sebaiknya tidak dilakukan pada saat pembelajaran. Contohnya seorang guru dengan menutupi segala kesalahan agar tidak tampak, sebab meskipun guru dikenal sebagai sumber kebenaran dari segala hal namun ketika melakukan kesalahan harus mengakuinya tanpa takut untuk kehilangan nama baik.

    ReplyDelete
  13. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Guru dan siswa sama-sama memerlukan satu sama lain di dalam maupun di luar kelas. Kerja sama antara guru dan siswa menjadi kunci utama dalam pembelajaran. Sudah tidak zamannya, seorang guru menyalahgunakan kekuasaannya dalam memaksakan kehendaknya. Saat ini sedang digencarkan tugas guru sebagai fasilitator bagi siswa. Siswa pun tidak boleh semena-mena, mereka harus menghormati adanya guru sebagai seseorang yang memberi mereka semangat dan meluruskan apa yang keliru. Jadi hubungan ini bisa disebut menerjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  14. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Semua yang ada di muka bumi ini sesungguhnya membawa kewajiban dan haknya masing-masing. Bukanlah untuk menjadi dihormati dan tampak berkuasa dengan menampakkan kekuasaan dan keangkuhan di depan orang yang dikuasai. Dan bukan pulalah untuk menjadi orang yang bebas dari kekuasaan adalah dengan memberontak tanpa kenal bahwa ada nilai positif yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, baik guru ataupun siswa masing-masing pahami kewajiban dan hak masing-masing dengan ikhlas dan gunakan hati dalam menjalankannya karena guru dan siswa adalah dua hal berkaitan yang tidak dapat dilepaskan. Jadi solusinya, berikan ketulusan hatimu wahai para guru kepada para siswamu maka mereka akan memberikan hormat dan penghargaannya padamu, dan berikan hatimu wahai para siswa maka gurumu akan mengalirkan kasih sayangnya padamu.

    ReplyDelete
  15. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari elegi ini bisa saya pahami bahwa setiap orang memiliki jargon dan cenderung mempertahankan jargonnya masing-masing. Jargon disini bisa diartikan sebagai ego masing-masing individu. Jika masing-masing orang memiliki jargon dan tidak mau menghargai jargon orang lain maka kehidupan ini tidak akan damai karena semua orang kekeh dengan jargon atau egonya masing-masing. Maka, perlu adanya rasa toleransi dan saling menghargai. Salah satu cara menghargai dan toleransi adalah dengan saling menterjemahkan.

    ReplyDelete
  16. Guru dan siswa sebaiknya memang bisa saling menghargai dan menghormati peran masing-masing. Sebagai guru juga jangan mengedepankan jargon/ egonya untuk mengusai diri siswa, dan sebagai siswa juga harus menyadari besarnya peran guru dalam membantu mereka membangun pengetahuan. Metode silaturahim sebagai salah satu solusi dalam menyelesaikan ego masing-masing yaitu saling menterjemahkan/ menghargai peran masing-masing.

    ReplyDelete
  17. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Baik guru maupun siswa, keduanya memiliki dan membutuhkan jargon. Kebutuhan jargon ini juga dalam rangka mereka mampu memenuhi peran, tugas dan fungsinya sebagai guru ataupun sebagai siswa. Sehingga antara guru dan siswa, harus sama-sama saling memahami. Bahwa masing-masing diantara mereka membutuhkan jargonnya masing-masing dan tak perlulah mereka saling meniadakan jargon lawan masing-masing

    ReplyDelete
  18. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi guru bukanlah sesuatu yang menyebabkan kesombongan di dalam diri sesorang. Bukan berarti ia bisa sembarang menggurui orang di jalan karena menganggap dirinya bisa mengajarkan apapun. Begitu pula dengan siswa, menjadi siswa tidak serta-merta menjadikannya tidak menyadari kewajibannya sebagai siswa. Baik guru maupun siswa saling melengkapi karena keduanya mencermnkan kesuksesan antara satu dengan lainnya.

    ReplyDelete
  19. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Guru tidak boleh memaksakan siswanya untuk melakukan sesuatu, guru tidak boleh otoriter. Guru seharusnya memfasilitasi siswa dalam mengembangkan dan memperoleh pengatahuannya.
    Guru yang baik adalah guru yang dapat memfasilitasi siswanya dengan baik pula. karena itu, guru membutuhkan cara yang dapat mengatasi perbedaan siswa dalam memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  20. Assalamualaikum Wr. Wb. Pada dasarnya, hal substansial yang membedakan antara pendidikan dan indoktrinasi adalah tujuannya. Indoktrinasi menciptakan watak yang ketergantungan, sedangkan pendidikan (sejatinya) menciptakan toleransi. Jika terjadi pertengkaran antara guru dan murid bias jadi itu adalah suatu gejala indoktrinasi, sebab pendidikan tidak akan menciptakan perpecahan. Dalam pendidikan sejati, guru dan murid adalah subjek yang sama-sama membangun pengetahuan melalui proses dialektika yang emansipatoris. Melalui dialog yang dilandasi dengan cinta, kerendahan hati, dan tanggungjawab.

    ReplyDelete
  21. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Guru dan siswa memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik dalam hal ini kelebihan dan kekurangannya. Di depan pengetahuan tidak ada batas guru dan siswa karena guru juga merupakan siswa yang masih perlu terus belajar. Oleh karena itu guru harus membuang sifat sombong dan merasa lebih banyak tahu daripada siswa.

    ReplyDelete

  22. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Jargon adalah bahasa yang kacau dari subyeknya. Masing-masing subyek berhak memiliki jargonnya. Seperti elegi yang pernah saya baca, yaitu elegi para jargon, disebutkan bahwa jargon bisa jadi kurang bermanfaat, bermanfaat, atau bahkan sangat bermanfaat. Dari elegi di atas tergambarkan bagaimana kedudukan-kedudukan elegi itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika jargon dikendalikan oleh keegoisan subyeknya maka dia akan sangat merugikan, namun jika jargon diiringin dengan hati bersih para subyeknya maka ia dapat saling melindungi.

    ReplyDelete
  23. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Semua membutuhkan jargonnya masing-masing. Cara yang paling tepat untuk menghindari setiap pertengkaran dan perdebatan yang terjadi adalah dengan adanya rasa saling menghargai. Guru jangan pernah merasa sombong dengan ilmunya, posisinya, yang dia anggap lebih tinggi dari siswa. Karena di satu sisi, mungkin dia bisa berperan sebagai guru, namun di lain kesempatan dia bisa berubah kedudukan menjadi siswa, karena masih banyak orang-orang yang lebih berilmu lainnya. Sebagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan, sudah semestinya guru dan siswa tidak saling menjatuhkan. Tidak akan ada guru jika tidak ada siswa, dan begitu pula sebaiknya. Guru dan siswa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

    ReplyDelete
  24. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas nampaknya berkaitan seputar pembelajaran konvensional dimana masih teacher centered. Guru mengajar dengan memberi materi, memberi contoh soal kemudian siswa latihan. Siswa sebagai penerima dan guru sebagai pemberi. Berbeda dengan tren pembelajaran saat ini yang student centered dimana guru sebagai fasilitator dan siswa datang tidak dalam keadaan nol ilmu.

    ReplyDelete