Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

84 comments:

  1. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Jargon yang membuat pertentangan antara guru dengan siswa. Pada jaman dulu guru bertindak otoriter terhadap siswanya, guru memiliki kewajiban untuk memberikan semua informasi kepada para siswanya. Namun guru dan siswa saat ini sudah bertransformasi, saat ini guru berperan sebagaim fasilitator dan tidak bersikap otoriter lagi. Sedangkan siswanya berhak untuk menyusun pengetahuannya sendiri-sendiri. Namun hal yang memprihatinkan saat ini adalah sikap para siswa yang tidak menghormati gurunya dan bersikap semena-mena terhadap gurunya.

    ReplyDelete
  2. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Agar pembelajaran berjalan dengan baik, guru dan siswa harus mempunyai komunikasi dua arah. Ilmu tidak hanya ditransfer dari guru ke siswa saja, tetapi siswa juga berhak untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Sebagai guru, tidak seharusnya sombong dan sok kuasa terhadap siswa. Tidak ada yang namanya guru sejati karena sebenar-benar guru adalah hanya Tuhan YME dan sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Menurut saya orang tua berambut putih disini sebagai penengah antara guru dan siswa. Orang tua berambut putih mendengarkan keluh kesah siswa. Pada saat pembelajaran sebaiknya guru jangan terlalu mendominasi agar siswa tidak merasa tertekan.

    ReplyDelete
  4. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    dalam sebuah pembelajaran, guru adalah sebagai fasilitator. sebaiknya guru jangan otoriter dengan sering memaksa siswanya paham akan suatu materi yang diterangkan oleh guru. Jika guru bersifat otoriter siswa akan merasa tertekan dan memaksa untuk mejawab "paham" padahal dia belum paham dengan apa yang diterangkan oleh guru. hal ini sebaiknya dihindari oleh guru sehingga siswa merasa nyaman dengan situasi pembelajaran.

    ReplyDelete
  5. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Doktrinisasi memang kerapkali terjadi dalam pembelajaran. Guru menutup ruang berpikir siswa dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, siswa tidak diberi kebebasan untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya mengenai berbagai materi pelajaran. Guru menutupi sifat-sifat siswanya dengan dominasinya dalam pembelajaran, padahal siswalah yang harusnya berperan aktif dalam pembelajaran, karena tuntutan untuk menuntut ilmu lebih dibebankan kepada mereka. Indikator keberhasilan pembelajaran juga menyasar output maupun outcome yang diperoleh siswa dalam pembelajarannya.

    ReplyDelete
  6. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Guru tidak perlu menjadi orang yang sok berkuasa atas murid. Benar bahwa guru harus menjaga image terhadap muridnya. Tetapi itu dengan alasan bahwa tugas guru adalah tauladan bagi seorang murid. Dengan sikap guru yang terlalu keras dan tegas membuat siswa takut dan tidak mau memberikan pendapatnya ketika belajar. Hal ini bukanlah tujuan yang diharapkan. Untuk siswa, benar bahwa siswa harus patuh pada gurunya tetapi bukan takut. Guru adalah tempat bertanya jika tidak tahu. Bukan orang yang ditakuti.

    ReplyDelete
  7. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Guru dan Siswa saling melengkapi satu sama lain, siswa membutuhkan guru sebagai fasilitator pembelajaran dan guru membutuhkan siswa untuk mentransfer ilmunya. agar pembelajaran terlaksana dengan baik, perlu adanya komunikasi dua arah antara guru dan siswa, tidak terpaku pada guru yang harus menjelaskan, namun lebih ke siswa yang mengkonstruk pengetahuan didampingi guru sebagai fasilitatornya.

    ReplyDelete
  8. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai calon pendidik, kita harus memperisapkan diri sebaik mungkin dari segi ilmu, kepribadian, perilaku, dan keikhlasan. karena bahwasanya menghadapi siswa dengan berbagai macam perilakunya itu sungguh tidak mudah, namun semuanya dapat dipersiapkan. dari paparan diatas saya lebih memahami lagi bagaiamana seharusnya guru sejati itu bersikap.

    ReplyDelete
  9. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru merupakan salah satu profesi yang memiliki tanggung jawab besar. Akan tetapi, janganlah gunakan profesi tersebut sebagai sarana menguasai seluruh siswanya. Dan sebagai siswa juga tidak diperkenankan bertindak sesuai kehendaknya. Oleh karena itu, komunikasi menjadi salah satu kunci kesukesan pembelajaran. Guru dan siswa harus bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Seperti yang telah diungkapkan di atas bahwa solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan. Guru tidak diperkenankan berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu. Sebab, sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  10. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Guru dan siswa adakalanya memang tidak selalu sejalan. Hal yang dilakukan oleh guru terkadang disalah artikan oleh siswa, begitu juga sebaliknya. Mungkin saja guru salah dalam menyampaikan maksudnya, begitupun dengan siswa. Mungkin siswa juga merasa tertekan dengan pembelajaran yang diberikan oleh guru. Maka baik jika guru mampu menyusun pembelajaran yang menyenangkan dan bervariasi agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pelajaran sehingga dalam pembelajaran dapat berjalan dengan lancar dan siswa dapat memperoleh pengetahuan dari pembelajaran yang disusun oleh guru.

    ReplyDelete
  11. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Guru diharapkan mampu memahami pemikiran dan sikap yang muncul pada diri siswa. Sikap yang setiap siswa memiliki keunikan masing-masing.
    Guru harus mampu memfasilitasi. Sehingga murid dengan sengala keunikannya dapat mengembangkan prestasinya secara maksimal.
    Selain hal itu dalam mengajar di kelas meskipun guru memiliki rasa tau tetapi guru pasti memiliki keterbatasan dan ketika melakukan kesalahan harus mengakui kesalahannya.

    ReplyDelete
  12. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam lingkungan sekolah ada yang berkedudukan sebagai guru dan ada sebagai siswa. Setiap kedudukan tersebut tentunya mempunyai tugas dan peran tersendiri. Guru mempunyai peran sebagai fasilitator bagi siswa untuk mendukung pembelajaran siswa, sebaliknya siswa harus bertindak sebagaimana mestinya seorang siswa yang menghormati gurunya. Di samping itu guru sebagai pentransfer ilmu guru tidak boleh sombong atas ilmunya dan harus senantiasa mengembangkan ilmunya.
    Dan dari keduanya harus tahu memposisikan diri masing-masing. Serta harus saling berkolaborasi untuk mewujudkan pembelajaran yang diinginkan.

    ReplyDelete
  13. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Hermeneutika kehidupan berkaitan erat dengan kegiatan menerjemahkan/diterjemakan untuk memperoleh makna yang terkandung di baliknya. Oleh karena itu, guru dan siswa harus mampu untuk saling menerjemahkan/diterjemahkan agar mampu memperoleh hikmah dari apa yang terjadi diantara guru dan siswa. Seorang guru hendaknya tidak berlaku sombong dan menguasai siswa hingga tidak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan pengetahuannya. Idealnya seorang guru dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakuakan sesuatu sesuai dengan caranya dalam rangka mengembangkan ilmunya. Guru pun adalah siswa, karena guru yang sesungguhnya adalah Allah SWT Sang Maha Guru yang memberikan ilmu pada hamba-Nya melalui utusan-utusan-Nya.

    ReplyDelete
  14. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berbicara maslaah jargon pertengkaran guru dan siswa. maka kita pasti tahu bahwa seirng-sering ini banyak kasus-kasung yang menyangkut guru dan siswa. mungkin guru menyiksa murid atau sebalaiknya. Sering di media sosial video yang sering saya liat. Kalau melihat video seperti itu, miris hati ini melihat. Apakah guru atau siswa yang salah sebenarnya. Kalau dilihat pada zaman nya sekarang guru banyak yang tidak di hormati lagi. Kewibawaan seorang guru hilang di mata siswa. maka kiat sebagai generasi pembawa perubahan alangkah baiknya utnutk merubah paradigma hal itu. Semanagt mejadi guru yang disenangi banyak siswa bukan di benci.

    ReplyDelete
  15. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Paradigma yang mungkin sekarang masih ada guru baru atau yang dapat dikatakan junior mengacu pada karakter yang telah dibangun bagi seorang guru senior.
    Yakni berwibawa dan dihormati jadi mengabaikan naluri ingin mengakui keterbatasan yang dimiliki dihadapan siswanya karena ingin menjaga karkater yang telah lekat sebagai guru senior.
    Hal ini tidak boleh dilakukan sebagai seorang guru dengan menutupi segala kesalahan agar tidak tampak,sebab meskipun guru dikenal sebagai sumber kebenaran dari segala hal namun ketika melakukan kesalahan harus mengakuinya tanpa takut untuk kehilangan nama baik.

    ReplyDelete
  16. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa, guru memiliki tugas mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, namun untuk hal itu guru harus ikhlas dan tidak menggunakan ego pribadi dalam melaksanakan rroses pembelajaran, guru harus jujur dengan apapun yang terjadi, dan dengan konsisten melakukan perubahan untuk mencapai tujuan pendidikan.

    ReplyDelete
  17. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    guru dan siswa harus saling kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. dengan menyampingkan ego masing masing untuk sama sama melaksanakan proses pembelajaran, guru lebih baik tidak bersikap menggurui namun lebih kepada merangkul siswa agar siswa merasa nyaman untuk aktif bertanya dan mengeluarkan pendapatnya. guru menjadi fasilitator untuk siswa dalam mengkonstruksi pengetahuanya sendiri, pembelajaran akan terasa nyaman ketika guru dan siswa samasama menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete
  18. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru dan Siswa ada untuk saling melengkapi. Keberadaan guru bagi siswa, seharusnya dapat membawa aura yang membahagiakan. Akan tetapi tidak setiap siswa menyadari akan kebutuhannya sendiri dan mengetahui untuk apa ia harus beajar suatu materi tertentu. Di sinilah peran guru yang sebenarnya, bukan dengan menggurui siswa dan menyampaikan materi begitu saja, tanpa memahami karakter siswa, melainkan guru haruslah mampu memenuhi kebutuhan siswa dan membuka pandangan siswa mengenai pentingnya ilmu tersebut bagi kehidupannya kelak. Sehingga siswa akan lebih termotivasi untuk mempelajari materi dengan mengetahui kebermaknaannya.

    ReplyDelete
  19. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Selalu ada kelebihan dan kelemahan di dunia ini, tetapi kita harus menyadari bahwa kelebihan sebenarnya dapat menjadi kelemahan apabila kita tidak menyadarinya dan tidak mampu mempergunakan dengan semestinya, dan kelemahan juga dapat menjadi kekuatan apabila kita dapat memandang kelemahan yang kita miliki sebagai kelebihan sehingga dapat dimanfaatkan dalam melakukan sesuatu. Begitu juga dalam dunia pendidikaan, guru dan murid pada dasarnya adalah sama. Namun, pada prosesnya, dalam pembelajaran konvensional, selalu ada kesenjangan diantara guru dan murid. Disini guru bertindak layaknya dewa dan siswa dianggap sebagai daksa. Namun seiring perkembangan zaman, hal seperti itu sudah tidak lagi digunakan. Guru sebagai fasilitator dan pendukung siswa dalam belajar, sehingga guru lebih memiliki kedekatan kepada siswa sehingga tidak terjadi kesenjangan. Melalui proses ini semua komponen pembelajaran saling berkolaborasi menciptakan suasana belajar yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.

    ReplyDelete
  20. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Guru ideal adalah sosok guru yang mampu untuk menjadi panutan dan selalu memberikan keteladanan, guru yang mengusai ilmunya dengan baik, mampu menjelaskan dengan baik apa yang diajarkannya, disukai oleh peserta didiknya karena cara mengajarnya yang enak didengar dan mudah dipahami dan guru yang kreatif dan inovatif. Selain itu sikap dan sifat guru juga menjadi hal yang penting yang harus dimiliki seorang guru yaitu harus bijaksana (bertindak sesuai dengan pikiran, akal sehat sehingga menghasilkan perilaku yang tepat, sesuai dan pas), Sabar dan menahan amarah dan Adil

    ReplyDelete
  21. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada hakekatnya, guru dan siswa itu saling membutuhkan. Tidak akan ada guru jika tidak ada siswa. Siswa membutuhkan guru sebagai fasilitator untuk memeroleh ilmu. Hubungan yang baik antara siswa dan guru akan memuclkan pembelajaran yang bermakna di antara keduanya.

    ReplyDelete
  22. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Guru yang baik itu tidak memanfaatkan kekuasaan yang dimiliki. Sesuai dengan yang disebutkan dalam bacaan di atas “...guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst”. Jadi tugas guru adalah memfasilitasi apa yang dibutuhkan siswa, bukan menyalurkan ambisi yang dia punyai.

    ReplyDelete
  23. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Ketika kita berhenti berpikir maka mitos akan menghampiri kita. Jargon dapat memantapkan kedudukan guru sebagai guru di sekolah dan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirinya dari bengisnya ketidakinovasian guru menggunakan metode pembelajaran di dalam kelas. Sehingga dibutuhkan keterbukaan dan kerjasama antara guru dan siswa di dalam kelas agar pembelajaran yang terjadi di dalam kelas nyaman, menyenangkan dan aktif. Keterbukaan dapat membuat semua yang ada menjadi lebih baik, dimana guru memberikan tujuan pembelajaran sebelum dimulainya pembelajaran dan adanya evaluasi bersama dengan murid untuk menyimpulkan aktivitas apa yang telah ia jalani di dalam kelas.

    ReplyDelete
  24. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seyogyanya guru tidak menjadikan kelas sebagai otoriternya atau daerah kekuasaannya. Sehingga memaksakan satu metode saja untuk siswa. Namun guru harus memfasilitasi kebutuhan siswa agar terpenuhi. Karena setiap siswa mempunyai keunikan tersendiri. Memang susah untuk menyediakan semua fasiltasnya terpenuhi. Namun seyogyanya guru menyiapkan berbagai variasi untuk memfasilitasi kebutuhan siswa tersebut.

    ReplyDelete
  25. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Guru dan siswa memiliki hubungan yang kuat. Keduanya saling membutuhkan. Segala sesuatu yang berbeda diantara guru dan siswa mengenai pendapat sering terjadi namun hal yang wajar karena sebenar-benar ilmu yang demikian itu. Akantetapi guru tidak lantas bersikap diktator maupun otoriter, karena bisa jadi dengan menerima pendapat siswa merupakan salah satu solusi untuk memperbaiki pembelajaran agar lebih baik. Dengan demikian harus sama-sama saling memahami satu sama lain.

    ReplyDelete
  26. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak boleh berlaku otoriter kepada siswa. Guru juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siswa. Guru harus mampu mengembangkan kegiatan pembelajaran yang demokratis. Siswa harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun dan mengembangkan sendiri ide /gagasan mereka. Dalam belajar, siswa harus diberikan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan intuisinya sendiri.

    ReplyDelete
  27. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Guru memiiki jargon, siswa juga memiliki jargon. Seorang guru jangan berperilaku sombong dan sok berkuasa atas siswa. Karena sebaik-baiknya guru adalah Tuhan YME.

    ReplyDelete
  28. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi tersebut, yang dapat saya pelajari adalah seorang guru tidak boleh otoriter. Guru juga tidak boleh sombong dan menganggap bahwa dirinya paling benar dan berkuasa sehingga menindas siswa. Karena pembelajaran di kelas sebenarnya adalah kegiatan siswa. guru harus memberi kesempatan kepada siswa untuk dapat menemukan pengetahuannya sendiri sehingga anak dapat menjadi mandiri dan kreatif.

    ReplyDelete
  29. Adelina Diah Rahmawati
    14301241029
    Pendidikan Matematika A 2014
    Guru dan siswa merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama agar dapat mencapai tujuan pembelajaran. Dalam proses pembelajaran guru tidak boleh bersikap otoriter, guru tidak boleh sombong dan menganggap dirinya paling benar. Sebagai seorang guru seharusnya dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk berperan aktif dalam pembelajaran dan menjadikan siswa sebagai subjek pembelajaran. Disisi lain siswa juga harus menghormati guru dan mengikuti dengan baik proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  30. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pertengkaran guru dan siswa yang dimaksud adalah pertengkaran batin antara guru dan sisw. guru yang menginginkan siswa untuk dapat memahami akan materi yang disampaikan tetapi mungkin cara guru tersebut salah sehingga siswa merasa diperlakukan secara otoriter oleh guru, siswa diminta mengerjakan ini itu dan hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang diharapkan siswa. oleh kaenanya penting bagi guru untuk memahami pembelajaran yang baik dan memahami karakter siswa.

    ReplyDelete
  31. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari yang telah saya baca, saya melihat hubungan antara guru dan siswa. Disini guru bertindak lebih terhadap siwa. Guru merasa yang berkuasa dan bisa meberikan instruksi apa saja dan harus dipatuhi serta dilaksanakan oleh siswa. Hal ini menjadikan siswa menjadi tertekan, akibatnya siswa tidak bisa mengeluarkan kreatifitas ide-idenya dan ini tentunya akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.

    ReplyDelete
  32. Nita Lathifah Islamiyah
    14301244011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Sebagai seorang guru maupun calon guru, tentunya kita memberikan contoh yang teladan kepada siswa. Seharusnya guru tidak bersikap otoriter karena akan berpengaruh terhadap kepribadian siswa. Pembelajaran seperti ini sudah tidak layak diterapkan pada masa sekarang. Guru sebaikknya memberikan kesempatan lebih kepada siswa untuk aktif mengembangkan kreatifitasnya dan guru sebagai fasilitator saja.

    ReplyDelete
  33. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Budaya tradisional antara guru dengan siswa terlihat sangat kentara yaitu karena adanya jarak yang sangat jauh antara guru dengan siswa. hal ini juga dikarenakan kata guru sendiri bermakna sebagai orang yang dijunjung tinggi. Namun, jarak tersebut justru menimbulkan iklim pembelajaran yang kurang baik. Karena siswa merasa takut kepada guru dan menjadikan siswa tidak aktif. Oleh karenanya, pembelajaran tradisonal cenderung teacher center. Akan tetapi, saat ini, sudah terjadi pergeseran paradigma, dimana jarak antara guru dengan siswa sudah semakin kecil. karenanya, iklim pembelajaran juga mulai berubah menjadi student center dimana siswa yang dituntut untuk katif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  34. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

    ReplyDelete
  35. Pertengkaran terjadi karena ada rasa membanggakan diri sendiri. bahwa salah satu pihaklah yang benar terhadap suatu masalah. Guru berpendapat siswa harus dapat mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Siswa berpendapat bahwa apa yang disampaikan guru belum jelas sehingga sulit untuk belajar lebih lanjut. Satu guru menghadapi minimal 20 siswa dalam kelas dengan karakternya masing-masing, menurut hemat saya harus ada kompromi. Siswa menyadari tugas dan kewajibannya begitupun dengan guru. Guru juga belajar dari karaker-karakter siswa dan mencoba untuk memberi pendekatan pembelajaran yang sesuai seiring dengan bertambahnya pengalaman.

    ReplyDelete
  36. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    Prodi/Kelas: PEP S2/B
    Angkatan: 2017

    Tidak kalah indah dengan tulisan "Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif." Satu hal yang sangat membekas dalam ingatan saya melalui dua tulisan atas nama "jargon" ini. Bahwasannya semua memiliki jargon. Pada tulisan di atas tertulis bahwa, "Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru." Saya setuju. Seimbang bukan? Melalui tulisan di atas saya sebagai pribadi semakin menghargai keberadaan saya dan keberadaan orang lain.

    ReplyDelete
  37. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya, postingan di atas mengingatkan kita para guru untuk tidak bersikap arogan. Karena para guru merasa lebih menguasai materi pelajaran, kita para guru kerap menganggap siswa seperti tong kosong yang tidak tahu apa-apa. Para gurupun kerap menuntut siswanya untuk memahami pelajaran. Jika siswa tidak mampu menguasai materi atau salah dalam menjawab, maka guru akan marah-marah. Belum lagi kalau nilai siswa di bawah KKM, tidak hanya guru yang jengkel, orang tua di rumah pun marah-marah. Terlebih lagi, guru dengan idealisnya memberikan PR yang begitu banyak, tanpa mempertimbangan tugas pelajaran-pelajaran yang lain. Maka beban siswa sesungguhnya begitu berat, terlebih lagi tuntutan kurikulum 2013 yang semakin kompleks.

    ReplyDelete
  38. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Guru dan siswa merupakan dua komponen penting dalam kegiatan pembeajaran. Pembelajaran yang seperti apa dapat didefinisikan secara berbeda-beda. Seperti pada ulasan yang Bapak tulis di atas, bahwa “Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya.” Menurut pendapat saya, guru tidak sepantasnya bersikap paling benar dan paling mengerti tentang suatu ilmu pengetahuan. Hendaklah ia menyadari bahwa ia hanya lebih dulu tahu dan mengerti tentang suatu ilmu. Begitu pula dengan siswa, hendaknya mereka bersikap menghargai gurunya. Karena sejatinya Allah SWT telah menciptakan guru dan siswa untuk dapat saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  39. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari jargon ini dapat diambil maknanya yaitu guru dan siswa sama-sama memiliki sifatnya masing-masing yang menunjukkan derajadnya. Sehingga yang perlu dikoreksi dari sikap guru yang yaitu untuk memperbaiki sikapnya agar menjadi guru yang memfassilitasi siswa dan inovatif. Sebaik-baik guru yaitu yang mampu menghidupkan murid-muridnya. Memfasilitasi muridnya, memberi kesempatan pasa siswanya. Sehingga ini yang dapat kita ambil pelajaran kita sebagai calon pendidik.
    Pun ketika siswa sudah diberi kesempatan dan fasilitas tentunya harus memanfaatkannya dengan baik. Aktif dalam pembelajaran, menggunakan media yang disuguhkan dan menghormati guru yang telah mendidiknya.
    Dari jargon ini dapat diketahui juga sebenarnya seorang guru dia sejatinya juga sebagai siswa, beritupula sebaliknya.

    ReplyDelete
  40. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Guru dan siswa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada guru ketika ada siswa dan ada siswa ketika ada guru. Guru dan siswa saling terlibat dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru dan siswa harus saling berdampingan saling memahami dan saling mengerti.
    Guru hendaknya bersikap menghargai siswa dan memberi teladan bagi siswa untuk selalu jujur, sopan, menghargai sesama, dan berusaha membantu siswa dalam mengembangkan potensinya.

    ReplyDelete
  41. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon pertengkaran guru dan siswa menjelaskan tentang bagaimana kedudukan guru dan siswa. Dalam bahasa jawa guru itu digugu lan ditiru, maka seberat-beratnya tugas guru itu adalah menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Siswa akan mencontoh gurunya, karena guru merupakan panutan bagi siswa-siswanya. Guru akan sebaik mungkin menjaga wibawanya, meskipun itu hanya topeng belaka. Namun kita adalah manusia, maka kita pastilah pernah berbuat salah, maka ketika posisi kita sebagai guru pernah melakukan kesalahan janganlah kita membebankan kesalahan itu, sebaiknya akuilah kesalahanmu sedini mungkin agar tidak memberikan akibat yang lebih buruk lagi.

    ReplyDelete
  42. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seorang guru adalah panutan bagi anak muridnya. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang ingin memajukan anak didiknya, bangga dengan kesuksesan anak didiknya, bahagia dengan kebahagiaan anak didiknya, bukan sebaliknya malah menutupi anak didiknya untuk maju dan berkembang. Oleh karena itu, kita sebagai seorang guru hendaknya tidak menjadi momok yang menakutkan bagi anak murid sehingga murid enggan mendekati kita. Jadilah seorang guru yang mengayomi dan menjadi sahabat bagi anak murid. Jangan merendahkan anak murid karena dalam ruang dan waktu tertentu bisa saja kita sebagai guru yang malah belajar dari mereka.

    ReplyDelete
  43. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini memberikan pandangan bahwa kedudukan apapun yang kita sandang memiliki proporsi kelebihannya masing-masing. Layaknya seorang guru yang telah belajar lebih dahulu dari pada murid, namun satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh guru yaitu sifat dan potensi yang ada di dalam diri murid itu sendiri. Jika antara murid dan guru memiliki hubungan yang saling memahami satu sama lain maka suasana belajar akan terjalin dengan baik. Guru tidak harus merasa tahu akan segala hal. Sama halnya dengan murid, bukan berarti ia tidak tahu sama sekali terhadap sesuatu. Guru dan murid sama-sama memiliki potensi yang dapat terus diasah dan dikembangkan. Saya juga sependapat bahwa guru yang absolut adalah Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  44. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Pertengkaran jargon guru dan murid ini sering saya rasakan. Sebagai guru, rasa ingin dihormati, ingin terlihat tahu segalanya, ingin tampak selalu benar, sangatlah besar. Terutama jika telah berada dalam posisi guru senior. Malu kalau salah, gengsi kalau ketahuan sebenarnya tidak paham atau berbuat salah. Penyakit berat para guru memang begini. Ada sejenis kesombongan yang sulit dikikis kecuali kalau sudah sampai kesadaran metakognisi bahwa guru juga sebenarnya punya sisi sebagai siswa juga. Guru bukan sosok yang paling berkuasa, paling benar, maha tahu. Tidak.
    Siswa sering berada pada posisi harus menurut, terpaksa melakukan apa yang dikehendaki guru, di tingkat manapun itu. Dari PG sampai pasca sarjana. Selalu ada bagian bagian yang memunculkan pertengkaran jargon guru dan murid ini.
    Bagaimana pun, hendaknya sekolah itu menjadi sarana perjumpaan, siswa yang juga adalah guru, dan guru yang juga adalah siswa. Semua perlu berada pada kesadaran posisinya sesuai ruang dan waktu. Setiap siswa sudah punya mahaguru dalam dirinya, yang akan menuntunnya pada pengetahuan.

    ReplyDelete
  45. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya merefleksikan mendalam mengenai jargon guru dan jargon siswa ini. Bagaimana seorang guru yang membuat pagar pembatas yang jelas untuk membedakan dirinya dengan siswa. Guru ingin dihargai, ya, tak salah karena semua orang tentu ingin dihargai, tetapi, ketika itu menghalangi siswa untuk dapat belajar dengan baik maka guru telah melalaikan tanggungjawabnya. Guru sudah semestinya merangkul siswa dan menjadi fasilitator yang menjawab kebutuhan belajar siswa, bukan menutup diri dari siswa dan membuat siswa segan untuk belajar. Guru adalah motivator, fasilitator, bukan diktaktor yang menjadi atasan siswa.

    ReplyDelete
  46. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling bergantungan. Tiadalah arti guru tanpa siswa dan tiadalah daya siswa tanpa guru. Maka guru dan siswa haruslah saling menterjemahkan dan diterjemahkan sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Jangan biarkan kedudukan guru diterjemahkan sebagai individu yang selalu benar karena tak lain dan tak bukan, ini adalah hasil sintesis yang tidak tepat. Sebenar-benar kedudukan guru tidak dilihat dari sejauh apa kebenaran dan kewibawaannya namun dilihat dari sejauh apa ia mampu menyatu dengan siswa-siswanya serta mampu mengembangkan kreativitas dan daya pikir siswanya.

    ReplyDelete
  47. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Persis seperti para subjek dan para standar. Ternyata jargon guru juga merasa berkuasa atas ketetapan yang ia buat. Jargon-jargonnya menjadikan siswa-siswanya harus mengikuti dan menjadi bayang-bayangnya. Segala yang menjadi aturan dan keputusannya, merupakan hal yang paten, harus dipatuhi, harus, diingat, harus diikuti, harus ditiru, harus dihormati dan dituruti. Padahal, selemah-lemah jargon siswa, mereka tetaplah memiliki hak yang wajib dihargai dan dihormati pula. Namun apa daya, para jargon guru merasa lebih berkuasa atas siswa. Siswa harus menjadi pengikut dan tidak berkutik apapun terhadap informasi dan ilmu yang diberikan melalui para guru. Mungkin jargon para guru terus menggebu dan bersemangat hanya dengan niatan agar para siswa mampu meneladani dan mencontoh serta mematuhi aturan dan perintah, namun disisi lain jargon para siswa juga ingin lebih didengar dan dihargai dan juga diperhatikan. Maka, janganlah jargon guru sok lebih berkuasa terhadap para jargon siswa karena sebenar kekuasaan yang hakiki hanyalah miliki Allah Maha Pencipta Segala Sesuatu. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  48. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    memang benar bahwa kadang-kadang hal-hal tertentu memerlukan jargon masing-masing untuk dapat mempertegas posisi, kedudukan, dan statusnya masing-masing. hal tersebut diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan, maupun disorientasi, semisal disorientasi siswa, yang pernah saya dengar bahwa ada siswa yang sampai menampar guru. hal tersebut sungguh miris. tapi para guru juga tidak boleh menggunakan jargonnya semena-mena hingga menjadi guru yang otoriter dan menjadikan siswa merasa ketakutan dan vemas. hal tersebut bisa berdampak ke psikologis siswa dan bisa mempengaruhi prestasi siswa.

    ReplyDelete

  49. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb
    Dalam elegi tersebut dapat ditangkap maknanya bahwa guru dan siswa merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain.Guru ada karena adanya siswa dan siswa ada karena adanya guru.Mungkin dapat dikatakan antara guru dan siswa bagaikan sebuah wadah dan isi.Wadah akan terasa lengkap jika ada isinya begitupun sebaliknya.Jika jargon guru dan jargon siswa dapat bersua maka akan terjalin harmoni yang indah di dalam hidup.

    ReplyDelete
  50. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dala proses pembelajaran guru dan siswa adalah dua hal yang sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran tersbeut. Terkadang guru selalu menjadi sentral dalam proses pembelajaran, itulah paradigma yang ingin diubah oleh kurikulum saat ini. Guru yang selau menjadi pusat perhatian, semua siswa terpaku dengan apa yang diberikan oleh guru, padahal siswa harus memiliki pengalaman dalma proses pembelajran. Jadi dalam jargon diatas sebaiknya guru dan siswa secara bersama-sama mereduksi pemikiran mereka untuk membuat proses pembelajaran yang lebih baik.

    ReplyDelete
  51. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pertengkaran guru dan siswa melalui jargon merupakan salah satu indikasi bahwa gurudan siswa sednag berdialog untuk menemukan solusi atas segala keadaan, proses pembelajaran selama ini. Jargon diibaratkan sebagai kalimat, semboya, pendapat yang dapat mewakili dari masing-masing subyeknya. Oleh karenanya maisng-maisng subyek bebas dan berhak memiliki jargon. Jargon antara guru dan sisa membawa alur dialog tentang apa yang dialamai guru selama ini tenatng pahit dan manisnya kehidupan guru. Pula jorgon murid melakili aspirasi dan kondisi yang dirasakan mereka selama menjalani proses pendidikan. Dengan adanya pertengkaran jargon ini diharapkan guru dan siswa mampu menemukan solusi paling tepat agar keduanya mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran sehingga mampu menjadi manusia yang berakhlak karimah. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  52. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Guru dan siswa memiliki hubungan yang sangat erat pada kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas interaksi antar guru dan siswa tidak bisa dihindari. Sehingga tidak jarang terdapat permasalahan-permasalahan antar guru dan siswa yang berhubungan dengan interaksi antar guru dan siswa. Pada elegi jargon pertengkaran guru dan siswa ini menguraikan salah satu permasalahan yang terjadi pada kegiatan belajar mengajar. Secara tersirat elegi ini mengatakan bahwa permasalahan yang terjadi yaitu masih berkembangnya metode mengajar "teacher center". Sehingga, terjadilah penyampaian materi menggunakan istilah-istilah yang sering belum dipahami siswa, selain itu siswa juga diwajibkan untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru. Guru tidak melihat aspek yang ada pada siswa. Lama kelamaan siswa hanya menerima tanpa mampu mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Semoga dengan selalu diingatkan seperti ini, saya sebagai calon guru dapat lebih luas dalam melihat permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar/

    ReplyDelete
  53. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepengetahuan kami istilah “jargon” sangat berhubungan dengan “kekacauan”. Sehingga jargon pun mampu membuat timbulnya pertentangan antara guru dan siswa. Saat ini guru dan siswa sudah mulai berubah (bertransformasi) apabila dibandingkan dengan guru dan siswa pada masa lampau. Pada masa lampu guru biasanya bersifat otoriter terhadap siswa-siswanya, guru lebih cenderung hanya memberikan informasi kepada siswa-siswanya. Akan tetapi saat ini guru bertugas untuk menyediakan fasilitas (berperan sebagai fasilitator), bagi siswanya agar siswa memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan aktifitas dan kegiatan dalam proses pembelajaran dimana dengan kegiatan tersebut siswa mendapatkan informasi dan pengalaman dan dengan informasi dan pengalaman yang siswa dapatkan tersebut siswa mampu membangun sendiri pemahaman dan pengetahuannya. Akan tetapi dalam perkembangannya, saat ini tidak sedikit siswa yang kurang memiliki rasa hormat terhadap guru, tentu saja hal ini sangat tidak baik dan perlu dihindari. Seharusnya dalam proses pembelajaran antara guru dan siswa harus bisa saling menghargai dan menghormati.

    ReplyDelete
  54. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof, Keberhasilan pembelajaran tidak dapat terlepas dari kesesuaian proporsi antara peran guru dan peran siswa. Guru perlu membangun kerjasama dengan siswa. Penyalahgunaan kekuasaan oleh guru pada siswa dapat menimbulkan tekanan pada siswa bahkan bisa sampai membunuh potensi siswa. Sesungguhnya siswa memiliki potensi yang besar untuk dapat membangun pengetahuannya sendiri. Guru yang baik ialah guru yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya secara aktif sesuai dengan intuisinya. Guru juga perlu memberikan pengalaman yang seluas-luasnya pada siswa agar mereka dapat mengembangkan intuisinya. Maka diterjemahkan dan menterjemahkan solusinya. Guru memahami siswa dan siswa juga memahami kedudukan guru.

    ReplyDelete
  55. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Dari artikel diatas yang dapat saya ambil yaitu mengenai menterjemah dan diterjemahkan. Dimana antara seorang guru dan siswa harus ammpu menterjemah dan diterjemahkan, dalam artian guru dan siswa haru saling mengerti, guru mengerti apa yang dibutuhkan siswa dalam proses pembelajaran, dan siswa mengerti apa yang diharapkan guru dalam proses pembelajaran. Seorang guru dan siswa merupakan faktor utama dalam proses belajar dan mengajar. Oleh sebab itu keduanya sama sama penting. Dan keduanya harus seiring sejalan. Oleh sebab itu antara guru dan siswa harus mampu menterjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  56. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saling menghargai dan saling menghormati dengan sesama manusia. Entah itu orang yang memiliki kedudukan tinggi atau pun tidak. Seperti halnya guru dan siswa yang sama-sama memiliki jargon masing-masing. Tetapi, yang digamabrkan oleh elegi tersebut adalah, bagaimana sifat guru yang terlalu keras untuk berupaya mencerdaskan peserta didiknya sedangkan si siswanya merasa tertekan. Padahal perlu diingat lagi, guru itu berupaya bagaimana siswa itu lebih paham dengan apa yang kita ajarkan, maka sesuaikanlah dengan kebutuhan dan harapan siswa di dalam proses belajar mengajar. Karena ini akan lebih mudah mewujudkan tujuan pendidikan itu sendiri.

    ReplyDelete
  57. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki jargonnya masing-masing. Begitupun dengan guru dan siswa, masing-masing memiliki jargon. Tetapi ada waktunya guru dan siswa dalam satu jargon. Artinya meskipun guru dan siswa memiliki peran dan tujuan yang berbeda-beda, tetapi keduanya terkadang harus dalam satu tujuan untuk membangun keterkaitan antara guru ddan siswa yang saling melengkapi. Adanya guru karena ada siswa, dan seorang siswa pastilah memerlukan peran seorang guru. Untuk itu, baik guru maupun siswa tidak bisa saling mengunggulkan perannya masing-masing, guru memang lebih berkuasa daripada siswa, tetapi jangan sekali-kali menyalahgunakan kekuasaan tersebut untuk hal yang tidak semestinya. Oleh sebab itu, salah satu cara yang harus digunakan adalah terjemah dan diterjemahkan supaya saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  58. Jargon setiap orang berbeda-berbeda. Termasuk jargon guru dan siswa. Setiap orang punya tujuan yang berbeda-beda, begitu pula tujuan guru dan siswa.Akan tetapi guru dan siswa dalam suatu kesempatan harus bersinergi bersama untuk mencapai tujuan yang sama. Tujuan guru ingin membelajarkan siswa agar menjadi lebih pandai, sementara siswa ingin belajar agar pandai. Tujuan guru dan siswa sama-sama ingin meningkatkan dimensi siswa agar bertambah tinggi.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  59. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Guru adalah seseorang yang memiliki kuasa terhadap siswa-siswanya. Maka guru harus berhati-hati agar tidak berlaku sombong dan menindas siswa-siswanya. Sebagai seorang guru kita harus bertindak bijaksana. Guru harus berupaya untuk memahami kelebihan dan kekurangan siswa dan bukannya malah menindas siswa-siswa yang memiliki kekurangan karena bisa jadi kesalahan yang dilakukan oleh siswa adalah akibat dari kesalahan yang dilakukan guru. Maka guru harus bisa berkaca apakah metode pembelajaran, media pembelajaran, dan metode penilaia yang dilakukan guru sudah dapat memfasilitasi berbagai karakteristik siswa.

    ReplyDelete
  60. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    para guru hanya bisa mendorong para siswa agar aktif dalam pembelajaran untuk membentuk pengetahuannya sendiri. Perbedaan karakter masing-masing siswa harus dapat dikuasai oleh seorang guru dengan cara memberikan bimbingan yang tepat sesuai bakat dan minat serta kemampuan siswa itu sendiri. Tetapi dari pihak siswa juga diharapkan kerjasamanya agar selalu berusaha belajar dengan baik dan memperhatikan guru yang sedang mengajar. Memanfaatkan semaksimal mungkin peran guru agar dapat memberikan pengetahuan yang berguna.

    ReplyDelete
  61. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Dalam elegi di atas disebutkan bahwa antara guru dan siswa sama-sama memerlukan jargon. Sedikit saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam pembelajaran, antara guru dan siswa haruslah ikhlas untuk saling menterjemahkan; yaitu diterjemahkan dan menterjemahkan. Hal ini dilakukan agar keduanya dapat saling mengambil keputusan bijak terkait apa yang akan dilakukan. Guru dan siswa juga haruslah saling menghormati, tentunya saling menghormati dengan porsi masing-masing yaitu pada dimensi ruang dan waktu yang tepat.

    ReplyDelete
  62. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Setiap orang memiliki jargonnya tersendiri. Termasuk juga guru dan siswa. Keduanya berusaha untuk melindungi dan mempertahankan diri masing-masing. Oleh karena itu keduanya tidak boleh berlaku sombong terhadap yang baik. Bahkan guru tidak boleh melakukan penindasan kepada muridnya. Karena guru itu dapat menjadi seorang murid, dan murid dapat pula berada diposisi guru tergantung ruang dan waktunya. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk saling terjemah menterjemahkan. Agar tidak terjadi pertengkaran.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  63. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling berkaitan. Keduanya berhubungan satu sama lain. Keduanya mempunyai jargon masing-masing untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru atau sebagai siswa. Perbedaan pendapat antar guru dan siswa wajar terjadi. Semua harus mampu memahami satu sama lain. Guru hendaknya jangan otoriter dalam pembelajaran. Guru harus memberikan kebebasan berpikir kepada siswa sehingga kreatifitas berfikir siswa dapat berkembang.

    ReplyDelete
  64. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dalam proses pembelajaran, guru dan siswa sama-sama memiliki peran didalamnya, oleh karena itu akan terjalinnya komunikasi yang intens antar keduanya. Siswa dengan jargon siswa, sesuai dengan karakteristik dan pemikiran siswa itu sendiri. Guru dengan jargon guru, sesuai dengan karakteristik dan pemikiran dari guru tersebut. Tentu saja perbedaan antara keduanya sangat mungkin terjadi, mengingat banyak sekali aspek yang mendukungnya, tingkat pemahaman atau dimensi dari guru dan murid yang berbeda, ruang dan waktu yang berbeda, serta kemampuan yang berbeda seringkali menjadi kan "kuasa" guru melebihi siswa-siswanya, hal inilah yang terkadang menjadi disharmoni ketika guru bertindak hanya berdasarkan pemikirannya saja tanpa memperhatikan siswa, oleh karena itu sebaiknya siswa dan guru saling memahami dan mendukung satu sama lain.

    ReplyDelete
  65. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Baik, guru ataupun siswa masing-masing memiliki jargon. Guru memiliki jargon kuasa, sedangkan siswa memiliki jargon pelindungan atas dirinya. Fenomena tersebut tidak jarang muncul dalam pendidikan di mana guru menggunakan kekuasaannya untuk mengurung pemikiran siswa. Maka dari itu, untuk dapat melemahkan ego dan mencapai titik kebijaksanaan perlu dilakukan upaya terjemah menerjemahkan.

    ReplyDelete
  66. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Guru haruslah mampu memahami pemikiran dan sikap siswa. Sikap yang setiap siswa memiliki keunikan masing-masing. Guru harus mampu memfasilitasi. Sehingga murid dengan sengala keunikannya dapat mengembangkan prestasinya secara maksimal. Setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk sukses asalkan ada keinginan.

    ReplyDelete
  67. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Ada beberapa hal yang perlu dihindari atau sebaiknya tidak dilakukan pada saat pembelajaran. Contohnya seorang guru dengan menutupi segala kesalahan agar tidak tampak, sebab meskipun guru dikenal sebagai sumber kebenaran dari segala hal namun ketika melakukan kesalahan harus mengakuinya tanpa takut untuk kehilangan nama baik.

    ReplyDelete
  68. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Guru dan siswa sama-sama memerlukan satu sama lain di dalam maupun di luar kelas. Kerja sama antara guru dan siswa menjadi kunci utama dalam pembelajaran. Sudah tidak zamannya, seorang guru menyalahgunakan kekuasaannya dalam memaksakan kehendaknya. Saat ini sedang digencarkan tugas guru sebagai fasilitator bagi siswa. Siswa pun tidak boleh semena-mena, mereka harus menghormati adanya guru sebagai seseorang yang memberi mereka semangat dan meluruskan apa yang keliru. Jadi hubungan ini bisa disebut menerjemah dan diterjemahkan.

    ReplyDelete
  69. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Semua yang ada di muka bumi ini sesungguhnya membawa kewajiban dan haknya masing-masing. Bukanlah untuk menjadi dihormati dan tampak berkuasa dengan menampakkan kekuasaan dan keangkuhan di depan orang yang dikuasai. Dan bukan pulalah untuk menjadi orang yang bebas dari kekuasaan adalah dengan memberontak tanpa kenal bahwa ada nilai positif yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, baik guru ataupun siswa masing-masing pahami kewajiban dan hak masing-masing dengan ikhlas dan gunakan hati dalam menjalankannya karena guru dan siswa adalah dua hal berkaitan yang tidak dapat dilepaskan. Jadi solusinya, berikan ketulusan hatimu wahai para guru kepada para siswamu maka mereka akan memberikan hormat dan penghargaannya padamu, dan berikan hatimu wahai para siswa maka gurumu akan mengalirkan kasih sayangnya padamu.

    ReplyDelete
  70. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari elegi ini bisa saya pahami bahwa setiap orang memiliki jargon dan cenderung mempertahankan jargonnya masing-masing. Jargon disini bisa diartikan sebagai ego masing-masing individu. Jika masing-masing orang memiliki jargon dan tidak mau menghargai jargon orang lain maka kehidupan ini tidak akan damai karena semua orang kekeh dengan jargon atau egonya masing-masing. Maka, perlu adanya rasa toleransi dan saling menghargai. Salah satu cara menghargai dan toleransi adalah dengan saling menterjemahkan.

    ReplyDelete
  71. Guru dan siswa sebaiknya memang bisa saling menghargai dan menghormati peran masing-masing. Sebagai guru juga jangan mengedepankan jargon/ egonya untuk mengusai diri siswa, dan sebagai siswa juga harus menyadari besarnya peran guru dalam membantu mereka membangun pengetahuan. Metode silaturahim sebagai salah satu solusi dalam menyelesaikan ego masing-masing yaitu saling menterjemahkan/ menghargai peran masing-masing.

    ReplyDelete
  72. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Baik guru maupun siswa, keduanya memiliki dan membutuhkan jargon. Kebutuhan jargon ini juga dalam rangka mereka mampu memenuhi peran, tugas dan fungsinya sebagai guru ataupun sebagai siswa. Sehingga antara guru dan siswa, harus sama-sama saling memahami. Bahwa masing-masing diantara mereka membutuhkan jargonnya masing-masing dan tak perlulah mereka saling meniadakan jargon lawan masing-masing

    ReplyDelete
  73. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Menjadi guru bukanlah sesuatu yang menyebabkan kesombongan di dalam diri sesorang. Bukan berarti ia bisa sembarang menggurui orang di jalan karena menganggap dirinya bisa mengajarkan apapun. Begitu pula dengan siswa, menjadi siswa tidak serta-merta menjadikannya tidak menyadari kewajibannya sebagai siswa. Baik guru maupun siswa saling melengkapi karena keduanya mencermnkan kesuksesan antara satu dengan lainnya.

    ReplyDelete
  74. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Guru tidak boleh memaksakan siswanya untuk melakukan sesuatu, guru tidak boleh otoriter. Guru seharusnya memfasilitasi siswa dalam mengembangkan dan memperoleh pengatahuannya.
    Guru yang baik adalah guru yang dapat memfasilitasi siswanya dengan baik pula. karena itu, guru membutuhkan cara yang dapat mengatasi perbedaan siswa dalam memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  75. Assalamualaikum Wr. Wb. Pada dasarnya, hal substansial yang membedakan antara pendidikan dan indoktrinasi adalah tujuannya. Indoktrinasi menciptakan watak yang ketergantungan, sedangkan pendidikan (sejatinya) menciptakan toleransi. Jika terjadi pertengkaran antara guru dan murid bias jadi itu adalah suatu gejala indoktrinasi, sebab pendidikan tidak akan menciptakan perpecahan. Dalam pendidikan sejati, guru dan murid adalah subjek yang sama-sama membangun pengetahuan melalui proses dialektika yang emansipatoris. Melalui dialog yang dilandasi dengan cinta, kerendahan hati, dan tanggungjawab.

    ReplyDelete
  76. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Guru dan siswa memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik dalam hal ini kelebihan dan kekurangannya. Di depan pengetahuan tidak ada batas guru dan siswa karena guru juga merupakan siswa yang masih perlu terus belajar. Oleh karena itu guru harus membuang sifat sombong dan merasa lebih banyak tahu daripada siswa.

    ReplyDelete

  77. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Jargon adalah bahasa yang kacau dari subyeknya. Masing-masing subyek berhak memiliki jargonnya. Seperti elegi yang pernah saya baca, yaitu elegi para jargon, disebutkan bahwa jargon bisa jadi kurang bermanfaat, bermanfaat, atau bahkan sangat bermanfaat. Dari elegi di atas tergambarkan bagaimana kedudukan-kedudukan elegi itu sesuai dengan ruang dan waktunya. Jika jargon dikendalikan oleh keegoisan subyeknya maka dia akan sangat merugikan, namun jika jargon diiringin dengan hati bersih para subyeknya maka ia dapat saling melindungi.

    ReplyDelete
  78. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Semua membutuhkan jargonnya masing-masing. Cara yang paling tepat untuk menghindari setiap pertengkaran dan perdebatan yang terjadi adalah dengan adanya rasa saling menghargai. Guru jangan pernah merasa sombong dengan ilmunya, posisinya, yang dia anggap lebih tinggi dari siswa. Karena di satu sisi, mungkin dia bisa berperan sebagai guru, namun di lain kesempatan dia bisa berubah kedudukan menjadi siswa, karena masih banyak orang-orang yang lebih berilmu lainnya. Sebagai dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling membutuhkan, sudah semestinya guru dan siswa tidak saling menjatuhkan. Tidak akan ada guru jika tidak ada siswa, dan begitu pula sebaiknya. Guru dan siswa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan.

    ReplyDelete
  79. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada elegi diatas nampaknya berkaitan seputar pembelajaran konvensional dimana masih teacher centered. Guru mengajar dengan memberi materi, memberi contoh soal kemudian siswa latihan. Siswa sebagai penerima dan guru sebagai pemberi. Berbeda dengan tren pembelajaran saat ini yang student centered dimana guru sebagai fasilitator dan siswa datang tidak dalam keadaan nol ilmu.

    ReplyDelete
  80. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sikap menghargai diperlukan agar tidak terjadi pertengkaran atau perpecahan. Dalam hal pembelajaran guru hendaknya jangan pernah merasa sombong atas ilmu yang dimiikinya, guru tidak boleh otoriter, sebaliknya guru seharusnya memfasilitasi siswa dalam mengembangkan dan memperoleh pengetahuannya. Guru dan siswa saling membutuhkan jargon. Kebutuhan jargon ini dalam rangka memnuhi peran serta tugasnya sebagai guru maupun siswa.

    ReplyDelete
  81. Rosmiyati Putri UtamiMay 13, 2018 at 9:47 PM

    Rosmiyati Putri Utami
    15301241031
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari tulisan di atas saya mendapat pelajaran bahwa "guru dapat menjadi siswa dana siswa dapat menjadi guru" yang artinya seorang guru bisa belajar sesuatu ataupun banyak hal dari siswanya, jadi sebagai calon guru, saat waktunya tiba kelak menjadi seorang guru, guru harus terbuka pada siswa nya tidak melulu hanya perkataan guru yang benar, sehingga siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya dan bukan hal yang tidak mungkin guru mendapatkan inspirasi dari siswa-siswanya.

    ReplyDelete
  82. Rina Anggraeni
    15301241043
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Dari bacaan di atas saya dapat mengetahui ternyata semuanya memerlukan jargon. Seperti contoh yang diberikan di atas Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirinya. Jadi, menurut saya sebenarnya jargon diperlukan untuk kepentingan diri manusia masing-masing. Tuhan itu memang Maha Bijaksana karena "Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya.". Dari kalimat : "Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing.", Saya sadar bahwa dalam membanggakan jargon masing-masing janganlah sombong dan sok kuasa terhadap sesuatu karena masih ada yang lebih berkuasa dari manusia yaitu Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  83. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini menceritakan guru yang diktator, yaitu guru yang menguasai muridnya dan ingin menakut-nakuti murdinya agar segala kehendaknya dipenuhi. Secara tidak langsung, bagi saya ini adalah contoh ekstrim bagi pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan teacher-centered. Pada pendekatan ini, yang melakukan aktivitas utama di dalam kelas adalah guru, dengan memberikan ceramah. Murid hanya menerima informasi kemudian mengerjakan latihan soal yang diberikan oleh guru. Murid hanya berperan sebagai penerima, penerima, dan penerima. Tidak lain dan tidak bukan, hak murid untuk membangun pengetahuannya telah direbut oleh guru tersebut. Maka dari itu, elegi ini menjadi refleksi dan pengingat bagi kita betapa pentingnya pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan student-centered. Melalui pendekatan ini, aktivitas utama untuk membangun ilmu dilakukan oleh siswa sendiri. Guru dapat berperan sebagai fasilitator tanpa melanggar hak-hak siswa untuk belajar.

    ReplyDelete