Oct 20, 2012

Jargon Pertengkaran Guru dan Siswa




Oleh Marsigit

Orang tua berambut putih:
Hemm indah betul dunia itu. Semakin diungkap semakin banyak pula yang tidak aku tahu. Kenapa aku tidak bisa istirahat? Ancamannya adalah mitos. Tetapi diperbatasan sana aku telah menemukan bahwa mitos itu logos, dan logos itu mitos, tidak itu iya dan iya itu tidak, awal itu akhir dan akhir itu awal, berubah itu tetap dan tetap itu berubah, guru itu siswa dan siswa itu guru,...dst.


Tetapi aku sekarang sedang melihat para jargon telah menguasai dunia. Maka aku sedang menyaksikan bahwa dunia itu jargon dan jargon itu dunia.

Samar-samar aku melihat di kejauhan ada pertengkaran antara jargon guru dan jargon siswa. Wahai jargon guru dan jargon siswa dengarlah diriku sebentar. Mengapa engkau kelihatannya sedang berselisih. Jargon guru kelihatan sangat ganas dan kejam, sedangkan jargon siswa kelihatan sedang bersedih dan rendah diri. Tetapi aku melihat pertengkaran yang sangat tidak adil. Guru terlihat menempati kedudukan istimewa, lengkap dengan segala peralatannya untuk menghadapi siswa. Sedangkan siswa kelihatannya tak berbekal apapun. Bolehkah aku mengetahui pokok persoalannya?

Jargon guru:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon guru. Sebenar-benar jargon itu adalah milikku. Maka tiadalah selain diriku dapat mengaku-aku memiliki jargon. barang siapa selain diriku mengaku-aku memiliki jargon, maka akan aku binasakan mereka itu. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, dengan lantang dan dengan penuh hikmat dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya aku proklamasikan bahwa jargon itu tidak lain tidak bukan adalah diriku. Jargon itu adalah kuasaku, jargon itu adalah jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada siswa agar jangan sekali-kali mengklaim memiliki jargon. Jika para siswa tetap teguh pendirian maka dengan bengisnya aku akan hadapi mereka semua.

Jargon siswa:
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah aku adalah jargon siswa. Saya menyadari bahwa jargon para guru itu begitu kuat dan mengerikan bagiku. Tetapi ketahuilah bahwa sebenarnya diriku juga berhak mempunyai jargon. Maka perkenankanlah bahwa diriku juga memiliki jargon. Maka saksikanlah wahai orang tua berambut putih, serendah-rendah dan sekecil-kecil diriku, maka aku itu sebetulnya adalah jargon juga. Jargon itu pelindungku. Jargon itu jiwaku. Jika tidak ada jargon pada diriku maka tiadalah diriku itu. Maka beritahukanlah kepada guru agar menyadari bahwa diluar dirinya itu sebetulnya terdapat jargon diriku. Itulah sebenar-benar dan sebesar-besar ancaman bagi diriku, yaitu jargon para guru. Ketahuilah tiadalah guru itu jika tidak ada siswa. Maka tolonglah wahai orang tua berambut putih akan aku bisa melarikan diri dari cengkeraman jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon guru. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon guru:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon guru. Jikalau emosiku sudah terkendali maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah sedikit berbohong kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui bahwa jargon itu bukan hanya milikku, tetapi siswa pun mempunyai jargon. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada siswa. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada siswa maka kedudukanku sebagai guru akan terancam. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah menjadi guru yang kuat, yaitu sebear-benar guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai guru sejati maka aku harus mengelola semua siswa sedemikian rupa sehingga semua siswaku itu terkendali dan dapat sepenuhnya aku kuasai. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar siswa selalu dapat aku kuasai. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para siswa. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para siswa. Dari pada jargon siswa menimbulkan masalah bagi diriku, maka lebih baik aku binasakan saja sebelum mereka lahir ke bumi.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon guru, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon guru senior :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon guru senior. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku, entah kenapa, bisa terpilih sebagai senior. Ketika aku menjadi senior maka aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai tertindas. Maka setelah aku menjadi senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai senior, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai tertindas itu harus jujur, sebagai tertindas itu harus peduli, sebagai tertindas harus patuh, sebagai tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan para tertindasku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera menggunakan kekuasaanku sebagai senior. kekuasaanku sebagai senior itu mengalir melalui jargon-jargonku: sebagai senior itu harus jujur, sebagai senior itu harus peduli, sebagai senior itu harus patuh, sebagai senior itu harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa diriku tidak sesuai dengan jargon-jargon, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: senior harus terhormat, senior harus wibawa, jangan tampakkan kelemahanmu, tutupilah kesalahanmu..dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai senior adalah: berbohong demi kebaikan, tidak adil demi keadilan, menghukum demi membebaskan..dst. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: manusia itu tidak pernah terlepas dari kesalahan, maka demi menjaga statusku sebagai senior terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para siswa. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kewibawaanku sebagai senior. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon guru senior. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon guru senior, agar diketahui oleh para siswa-siswaku. Seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...semuanya aku manfaatkan untuk memproduksi jargon-jargonku.

Orang tua berambut putih:
Wahai jargon siswa. Supaya aku lebih mengerti tentang dirimu, maka ceriterakanlah tentang dirimu itu kepadaku. Siapakah dirimu, bagaimana dirimu, macam-macam dirimu, tujuan dirimu, dst.

Jargon siswa:
Terimakasih orang tua berambut putih. Aku adalah jargon siswa. Jikalau aku terbebas dari segala tekanan maka aku dapat bercerita banyak tentang diriku kepadamu. Sebetul-betul yang terjadi tadi adalah aku telah menyampaikan apa adanya kepadamu. Aku sebetulnya mengetahui tidak merdeka dan merasa takut oleh aktivitas para guru. Tetapi ini off the record, jangan sampaikan kepada guru. Mengapa? Karena jika engkau katakan hal ini kepada guru maka jiwaku bisa terancam. Padahal segenap jiwa ragaku itu tergantung sepenuhnya oleh guru-guruku. Ketahuilah bahwa setinggi-tinggi tujuanku adalah terbebas dari segala ancaman dan tekanan para guru. Dalam rangka untuk mencapai tujuanku sebagai siswa sejati maka aku harus memproduksi jargon-jargonku. Maka aku melakukan segala daya dan upaya termasuk menggunakan jargonku agar dapat terhindar dari perbuatan sewenang-wenang para guru. Sebenar-benar ancaman bagi diriku di dunia ini adalah jargon-jargon para guru. Maka aku sangat sensitif terhadap jargon para guru. Tetapi apalah dayaku sebagai siswa. Maka sebenar-benar diriku adalah tetap menjadi siswanya para jargon guru.

Orang tua berambut putih:
Maaf jargon siswa, saya belum begitu jelas dengan uaraian-uraianmu itu. Dapatkah engkau memberikan contoh konkritnya. Jika perlu silahkan para tertindasmu menyampaikan kepadaku.

Jargon siswa tertindas :
Wahai orang tua berambut putih. Kenalkanlah saya adalah jargon siswa tertindas. Mulanya biasa saja bagi diriku, ketika aku sebagai tertindas. Tetapi kemudian tidak biasa bagi diriku ketika aku mempunyai guru senior . Ketika aku mempunyai guru senior aku merasakan seluruh tubuhku bergetar dan bergemuruh mengalami perubahan jargon. Tadinya aku sangat menyayangi jargon-jargon ku sebagai siswa tertindas. Maka setelah aku mempunyai guru senior aku mulai kehilangan jargon tertindas, dan kemudian mulailah aku di dominasi oleh jargon guru senior. Ketahuilah bahwa dalam rangka untuk mempertahankan diriku sebagai siswa tertindas yang hakiki, maka aku telah mengambangkan banyak tak berhingga jargon-jargon. Contoh sederhana dari jargonku itu adalah: sebagai siswa tertindas itu harus jujur, sebagai siswa tertindas itu harus peduli, sebagai siswa tertindas harus patuh, sebagai siswa tertindas harus bijak. Begitu aku menemukan diriku tidak sesuai dengan jargonku maka aku segera mohon ampun kepada Tuhan ku. Sementara kekuasaan guru seniorku itu mengalir melalui jargon-jargon senior: sebagai guru senior itu memang harus jujur, sebagai guru senior itu memang harus peduli, sebagai guru senior itu memang harus patuh, sebagai guru senior itu memang harus bijak. Tetapi begitu aku menemukan bahwa guru seniorku tidak sesuai dengan jargon-jargonnya, ternyata muncul jargon-jargonku yang lain: guru senior harus melindungi tertindas, guru senior harus menolong tertindas, dst. Maka jargon yang paling populer bagi diriku sebagai siswa tertindas adalah: yang penting selamat, hidup itu tidak neko-neko, manusia itu hanya mampir ngombhe, apalah gunanya status itu, gur senior itu tidak penting yang penting amal perbuatannya. Ternyata muncul jargon populer berikutnya: semua manusia itu pada hakekatnya sama saja, maka demi menjaga statusku sebagai tertindas sejati terpaksa aku harus menggunakan jargon topeng, yaitu topeng kepribadian. Sebenar-benar jargon topeng adalah menutupi segala kelemahanku dan dosa-dosaku di hadapan para guru. Agar aku selamat dari penindasan para jargon guru. Kalau bisa apakah jargon topengku itu dapat menyembunyikan diriku dari Tuhan? Oh orang tua berambut putih, janganlah engkau teruskan pertanyaanmu itu, dan janganlah rongrong kedudukanku sebagai siswa tertindas. Itulah diriku, yaitu sebenar-benar jargon siswa tertindas. Maka aku sangat menyukai semua kesempatan di mana aku bisa memproduksi semua jargon-jargon siswa tertindas, agar aku bisa berlindung dari ancaman para guru. Tetapi aku ternyata tidak bisa menggunakan seminar, konferensi, workshop, pengajian, diskusi, kampanye, koran, radio, TV, debat ...untuk memproduksi jargon-jargonku. Jangankan memproduksi jargon, untuk menghindar dari jargon guru saja saya kerepotan ketika saya berada di forum-forum itu.

Orang tua berambut putih:
Sudah jelas duduk perkaranya. Ternyata semuanya memerlukan jargon. Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya. Ketahuilah bahwa Tuhan itu maha bijaksana. Tuhan telah menciptakan segalanya termasuk suasana di mana guru dan siswa dapat hidup bersama-sama dalam jargon-jargonnya. Maka solusi yang terbaik adalah menterjemahkan dan diterjemahkan wahai engkau para guru dan siswa agar engkau saling memahami jargonmu masing-masing. Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru. Maka semua jargonmu itu akan lenyap diperbatasan pikiranmu masing-masing. Saya ingin memperingatkan guru, janganlah engkau berlaku sombong dan sok kuasa terhadap murid-muridmu itu. Tiadalah sebenar-benar guru sejati. Sebenar-benar guru absolut adalah hanya Tuhan YME. Sebenar-benar bukan jargon adalah kuasa dan milik Tuhan YME.

22 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Budaya tradisional antara guru dengan siswa terlihat sangat kentara yaitu karena adanya jarak yang sangat jauh antara guru dengan siswa. hal ini juga dikarenakan kata guru sendiri bermakna sebagai orang yang dijunjung tinggi. Namun, jarak tersebut justru menimbulkan iklim pembelajaran yang kurang baik. Karena siswa merasa takut kepada guru dan menjadikan siswa tidak aktif. Oleh karenanya, pembelajaran tradisonal cenderung teacher center. Akan tetapi, saat ini, sudah terjadi pergeseran paradigma, dimana jarak antara guru dengan siswa sudah semakin kecil. karenanya, iklim pembelajaran juga mulai berubah menjadi student center dimana siswa yang dituntut untuk katif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Jika seorang murid berakhlak buruk kepada gurunya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, hilangnya berkah dari ilmu yang didapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya, atau tidak dapat menyebarkan ilmunya. Berbicara dengan seseorang yang telah mengajarkan kebaikan haruslah lebih baik dibandingkan jika berbicara kepada orang lain. Imam Abu Hanifah pun jika berada depan Imam Malik ia layaknya seorang anak di hadapan ayahnya.

    ReplyDelete
  3. Pertengkaran terjadi karena ada rasa membanggakan diri sendiri. bahwa salah satu pihaklah yang benar terhadap suatu masalah. Guru berpendapat siswa harus dapat mengikuti semua pembelajaran dengan baik. Siswa berpendapat bahwa apa yang disampaikan guru belum jelas sehingga sulit untuk belajar lebih lanjut. Satu guru menghadapi minimal 20 siswa dalam kelas dengan karakternya masing-masing, menurut hemat saya harus ada kompromi. Siswa menyadari tugas dan kewajibannya begitupun dengan guru. Guru juga belajar dari karaker-karakter siswa dan mencoba untuk memberi pendekatan pembelajaran yang sesuai seiring dengan bertambahnya pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    Prodi/Kelas: PEP S2/B
    Angkatan: 2017

    Tidak kalah indah dengan tulisan "Jargon Pertengkaran Tradisional dan Inovatif." Satu hal yang sangat membekas dalam ingatan saya melalui dua tulisan atas nama "jargon" ini. Bahwasannya semua memiliki jargon. Pada tulisan di atas tertulis bahwa, "Ketahuilah bahwa di batas sana, guru itu adalah siswa, dan siswa itu adalah guru." Saya setuju. Seimbang bukan? Melalui tulisan di atas saya sebagai pribadi semakin menghargai keberadaan saya dan keberadaan orang lain.

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Menurut saya, postingan di atas mengingatkan kita para guru untuk tidak bersikap arogan. Karena para guru merasa lebih menguasai materi pelajaran, kita para guru kerap menganggap siswa seperti tong kosong yang tidak tahu apa-apa. Para gurupun kerap menuntut siswanya untuk memahami pelajaran. Jika siswa tidak mampu menguasai materi atau salah dalam menjawab, maka guru akan marah-marah. Belum lagi kalau nilai siswa di bawah KKM, tidak hanya guru yang jengkel, orang tua di rumah pun marah-marah. Terlebih lagi, guru dengan idealisnya memberikan PR yang begitu banyak, tanpa mempertimbangan tugas pelajaran-pelajaran yang lain. Maka beban siswa sesungguhnya begitu berat, terlebih lagi tuntutan kurikulum 2013 yang semakin kompleks.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Guru dan siswa merupakan dua komponen penting dalam kegiatan pembeajaran. Pembelajaran yang seperti apa dapat didefinisikan secara berbeda-beda. Seperti pada ulasan yang Bapak tulis di atas, bahwa “Guru memerlukan jargon untuk memantapkan kedudukannya sebagai guru, sedangkan siswa memerlukan jargon untuk melindungi dirimya.” Menurut pendapat saya, guru tidak sepantasnya bersikap paling benar dan paling mengerti tentang suatu ilmu pengetahuan. Hendaklah ia menyadari bahwa ia hanya lebih dulu tahu dan mengerti tentang suatu ilmu. Begitu pula dengan siswa, hendaknya mereka bersikap menghargai gurunya. Karena sejatinya Allah SWT telah menciptakan guru dan siswa untuk dapat saling melengkapi satu sama lain.

    ReplyDelete
  7. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari jargon ini dapat diambil maknanya yaitu guru dan siswa sama-sama memiliki sifatnya masing-masing yang menunjukkan derajadnya. Sehingga yang perlu dikoreksi dari sikap guru yang yaitu untuk memperbaiki sikapnya agar menjadi guru yang memfassilitasi siswa dan inovatif. Sebaik-baik guru yaitu yang mampu menghidupkan murid-muridnya. Memfasilitasi muridnya, memberi kesempatan pasa siswanya. Sehingga ini yang dapat kita ambil pelajaran kita sebagai calon pendidik.
    Pun ketika siswa sudah diberi kesempatan dan fasilitas tentunya harus memanfaatkannya dengan baik. Aktif dalam pembelajaran, menggunakan media yang disuguhkan dan menghormati guru yang telah mendidiknya.
    Dari jargon ini dapat diketahui juga sebenarnya seorang guru dia sejatinya juga sebagai siswa, beritupula sebaliknya.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Guru dan siswa merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Ada guru ketika ada siswa dan ada siswa ketika ada guru. Guru dan siswa saling terlibat dalam pembelajaran untuk mencapai tujuan bersama yaitu tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, guru dan siswa harus saling berdampingan saling memahami dan saling mengerti.
    Guru hendaknya bersikap menghargai siswa dan memberi teladan bagi siswa untuk selalu jujur, sopan, menghargai sesama, dan berusaha membantu siswa dalam mengembangkan potensinya.

    ReplyDelete
  9. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon pertengkaran guru dan siswa menjelaskan tentang bagaimana kedudukan guru dan siswa. Dalam bahasa jawa guru itu digugu lan ditiru, maka seberat-beratnya tugas guru itu adalah menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Siswa akan mencontoh gurunya, karena guru merupakan panutan bagi siswa-siswanya. Guru akan sebaik mungkin menjaga wibawanya, meskipun itu hanya topeng belaka. Namun kita adalah manusia, maka kita pastilah pernah berbuat salah, maka ketika posisi kita sebagai guru pernah melakukan kesalahan janganlah kita membebankan kesalahan itu, sebaiknya akuilah kesalahanmu sedini mungkin agar tidak memberikan akibat yang lebih buruk lagi.

    ReplyDelete
  10. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Seorang guru adalah panutan bagi anak muridnya. Sebaik-baiknya guru adalah guru yang ingin memajukan anak didiknya, bangga dengan kesuksesan anak didiknya, bahagia dengan kebahagiaan anak didiknya, bukan sebaliknya malah menutupi anak didiknya untuk maju dan berkembang. Oleh karena itu, kita sebagai seorang guru hendaknya tidak menjadi momok yang menakutkan bagi anak murid sehingga murid enggan mendekati kita. Jadilah seorang guru yang mengayomi dan menjadi sahabat bagi anak murid. Jangan merendahkan anak murid karena dalam ruang dan waktu tertentu bisa saja kita sebagai guru yang malah belajar dari mereka.

    ReplyDelete
  11. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  12. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Ulasan ini memberikan pandangan bahwa kedudukan apapun yang kita sandang memiliki proporsi kelebihannya masing-masing. Layaknya seorang guru yang telah belajar lebih dahulu dari pada murid, namun satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh guru yaitu sifat dan potensi yang ada di dalam diri murid itu sendiri. Jika antara murid dan guru memiliki hubungan yang saling memahami satu sama lain maka suasana belajar akan terjalin dengan baik. Guru tidak harus merasa tahu akan segala hal. Sama halnya dengan murid, bukan berarti ia tidak tahu sama sekali terhadap sesuatu. Guru dan murid sama-sama memiliki potensi yang dapat terus diasah dan dikembangkan. Saya juga sependapat bahwa guru yang absolut adalah Tuhan Yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  13. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Pertengkaran jargon guru dan murid ini sering saya rasakan. Sebagai guru, rasa ingin dihormati, ingin terlihat tahu segalanya, ingin tampak selalu benar, sangatlah besar. Terutama jika telah berada dalam posisi guru senior. Malu kalau salah, gengsi kalau ketahuan sebenarnya tidak paham atau berbuat salah. Penyakit berat para guru memang begini. Ada sejenis kesombongan yang sulit dikikis kecuali kalau sudah sampai kesadaran metakognisi bahwa guru juga sebenarnya punya sisi sebagai siswa juga. Guru bukan sosok yang paling berkuasa, paling benar, maha tahu. Tidak.
    Siswa sering berada pada posisi harus menurut, terpaksa melakukan apa yang dikehendaki guru, di tingkat manapun itu. Dari PG sampai pasca sarjana. Selalu ada bagian bagian yang memunculkan pertengkaran jargon guru dan murid ini.
    Bagaimana pun, hendaknya sekolah itu menjadi sarana perjumpaan, siswa yang juga adalah guru, dan guru yang juga adalah siswa. Semua perlu berada pada kesadaran posisinya sesuai ruang dan waktu. Setiap siswa sudah punya mahaguru dalam dirinya, yang akan menuntunnya pada pengetahuan.

    ReplyDelete
  14. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Saya merefleksikan mendalam mengenai jargon guru dan jargon siswa ini. Bagaimana seorang guru yang membuat pagar pembatas yang jelas untuk membedakan dirinya dengan siswa. Guru ingin dihargai, ya, tak salah karena semua orang tentu ingin dihargai, tetapi, ketika itu menghalangi siswa untuk dapat belajar dengan baik maka guru telah melalaikan tanggungjawabnya. Guru sudah semestinya merangkul siswa dan menjadi fasilitator yang menjawab kebutuhan belajar siswa, bukan menutup diri dari siswa dan membuat siswa segan untuk belajar. Guru adalah motivator, fasilitator, bukan diktaktor yang menjadi atasan siswa.

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Guru dan siswa adalah dua hal yang saling bergantungan. Tiadalah arti guru tanpa siswa dan tiadalah daya siswa tanpa guru. Maka guru dan siswa haruslah saling menterjemahkan dan diterjemahkan sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Jangan biarkan kedudukan guru diterjemahkan sebagai individu yang selalu benar karena tak lain dan tak bukan, ini adalah hasil sintesis yang tidak tepat. Sebenar-benar kedudukan guru tidak dilihat dari sejauh apa kebenaran dan kewibawaannya namun dilihat dari sejauh apa ia mampu menyatu dengan siswa-siswanya serta mampu mengembangkan kreativitas dan daya pikir siswanya.

    ReplyDelete
  16. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Persis seperti para subjek dan para standar. Ternyata jargon guru juga merasa berkuasa atas ketetapan yang ia buat. Jargon-jargonnya menjadikan siswa-siswanya harus mengikuti dan menjadi bayang-bayangnya. Segala yang menjadi aturan dan keputusannya, merupakan hal yang paten, harus dipatuhi, harus, diingat, harus diikuti, harus ditiru, harus dihormati dan dituruti. Padahal, selemah-lemah jargon siswa, mereka tetaplah memiliki hak yang wajib dihargai dan dihormati pula. Namun apa daya, para jargon guru merasa lebih berkuasa atas siswa. Siswa harus menjadi pengikut dan tidak berkutik apapun terhadap informasi dan ilmu yang diberikan melalui para guru. Mungkin jargon para guru terus menggebu dan bersemangat hanya dengan niatan agar para siswa mampu meneladani dan mencontoh serta mematuhi aturan dan perintah, namun disisi lain jargon para siswa juga ingin lebih didengar dan dihargai dan juga diperhatikan. Maka, janganlah jargon guru sok lebih berkuasa terhadap para jargon siswa karena sebenar kekuasaan yang hakiki hanyalah miliki Allah Maha Pencipta Segala Sesuatu. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  17. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.matematika B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    memang benar bahwa kadang-kadang hal-hal tertentu memerlukan jargon masing-masing untuk dapat mempertegas posisi, kedudukan, dan statusnya masing-masing. hal tersebut diperlukan agar tidak terjadi penyimpangan, maupun disorientasi, semisal disorientasi siswa, yang pernah saya dengar bahwa ada siswa yang sampai menampar guru. hal tersebut sungguh miris. tapi para guru juga tidak boleh menggunakan jargonnya semena-mena hingga menjadi guru yang otoriter dan menjadikan siswa merasa ketakutan dan vemas. hal tersebut bisa berdampak ke psikologis siswa dan bisa mempengaruhi prestasi siswa.

    ReplyDelete

  18. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb
    Dalam elegi tersebut dapat ditangkap maknanya bahwa guru dan siswa merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain.Guru ada karena adanya siswa dan siswa ada karena adanya guru.Mungkin dapat dikatakan antara guru dan siswa bagaikan sebuah wadah dan isi.Wadah akan terasa lengkap jika ada isinya begitupun sebaliknya.Jika jargon guru dan jargon siswa dapat bersua maka akan terjalin harmoni yang indah di dalam hidup.

    ReplyDelete
  19. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dala proses pembelajaran guru dan siswa adalah dua hal yang sangat berpengaruh terhadap proses pembelajaran tersbeut. Terkadang guru selalu menjadi sentral dalam proses pembelajaran, itulah paradigma yang ingin diubah oleh kurikulum saat ini. Guru yang selau menjadi pusat perhatian, semua siswa terpaku dengan apa yang diberikan oleh guru, padahal siswa harus memiliki pengalaman dalma proses pembelajran. Jadi dalam jargon diatas sebaiknya guru dan siswa secara bersama-sama mereduksi pemikiran mereka untuk membuat proses pembelajaran yang lebih baik.

    ReplyDelete
  20. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Pertengkaran guru dan siswa melalui jargon merupakan salah satu indikasi bahwa gurudan siswa sednag berdialog untuk menemukan solusi atas segala keadaan, proses pembelajaran selama ini. Jargon diibaratkan sebagai kalimat, semboya, pendapat yang dapat mewakili dari masing-masing subyeknya. Oleh karenanya maisng-maisng subyek bebas dan berhak memiliki jargon. Jargon antara guru dan sisa membawa alur dialog tentang apa yang dialamai guru selama ini tenatng pahit dan manisnya kehidupan guru. Pula jorgon murid melakili aspirasi dan kondisi yang dirasakan mereka selama menjalani proses pendidikan. Dengan adanya pertengkaran jargon ini diharapkan guru dan siswa mampu menemukan solusi paling tepat agar keduanya mendapatkan manfaat dari proses pembelajaran sehingga mampu menjadi manusia yang berakhlak karimah. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Guru dan siswa memiliki hubungan yang sangat erat pada kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar di kelas interaksi antar guru dan siswa tidak bisa dihindari. Sehingga tidak jarang terdapat permasalahan-permasalahan antar guru dan siswa yang berhubungan dengan interaksi antar guru dan siswa. Pada elegi jargon pertengkaran guru dan siswa ini menguraikan salah satu permasalahan yang terjadi pada kegiatan belajar mengajar. Secara tersirat elegi ini mengatakan bahwa permasalahan yang terjadi yaitu masih berkembangnya metode mengajar "teacher center". Sehingga, terjadilah penyampaian materi menggunakan istilah-istilah yang sering belum dipahami siswa, selain itu siswa juga diwajibkan untuk memahami apa yang disampaikan oleh guru. Guru tidak melihat aspek yang ada pada siswa. Lama kelamaan siswa hanya menerima tanpa mampu mengembangkan kemampuan yang ada pada dirinya. Semoga dengan selalu diingatkan seperti ini, saya sebagai calon guru dapat lebih luas dalam melihat permasalahan dalam kegiatan belajar mengajar/

    ReplyDelete
  22. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepengetahuan kami istilah “jargon” sangat berhubungan dengan “kekacauan”. Sehingga jargon pun mampu membuat timbulnya pertentangan antara guru dan siswa. Saat ini guru dan siswa sudah mulai berubah (bertransformasi) apabila dibandingkan dengan guru dan siswa pada masa lampau. Pada masa lampu guru biasanya bersifat otoriter terhadap siswa-siswanya, guru lebih cenderung hanya memberikan informasi kepada siswa-siswanya. Akan tetapi saat ini guru bertugas untuk menyediakan fasilitas (berperan sebagai fasilitator), bagi siswanya agar siswa memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan aktifitas dan kegiatan dalam proses pembelajaran dimana dengan kegiatan tersebut siswa mendapatkan informasi dan pengalaman dan dengan informasi dan pengalaman yang siswa dapatkan tersebut siswa mampu membangun sendiri pemahaman dan pengetahuannya. Akan tetapi dalam perkembangannya, saat ini tidak sedikit siswa yang kurang memiliki rasa hormat terhadap guru, tentu saja hal ini sangat tidak baik dan perlu dihindari. Seharusnya dalam proses pembelajaran antara guru dan siswa harus bisa saling menghargai dan menghormati.

    ReplyDelete