Oct 20, 2012

Referensi Hakekat Berpikir


6 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Dalam elegi ini, proses berpikir menurut Kant bahwa kondisi tertentu dalam pikiran manusia ikut menentukan konsepsi. Apa yang kita lihat dianggap sebagai fenomena dalam ruang dan waktu yang disebut bentuk intuisi, mendahului setiap pengalaman. Menurut Kant objek mengarahkan diri ke subjek. Pengetahuan manusia muncul dari dua sumber utama dalam benak yaitu kemampuan penerimaan kesan-kesan inderawi (sensibility) dan kemampuan pemahaman (understanding) yaitu membuat keputusan-keputusan tentang kesan-kesan inderawi yang diperoleh melalui kemampuan pertama. Kedua kemampuan tersebut saling membutuhkan dalam mencapai suatu pengetahuan. Kemampuan penerimaan bertugas menerima kesan-kesan yang masuk dan menatanya dengan pengetahuan apriori intuisi ruang dan waktu. Kemampuan pemahaman bertugas mengolah yaitu menyatukan dan mensintesis pengalaman-pengalaman yang yang telah diterima dan ditata oleh kemampuan penerima selanjutnya diputuskan.
    Sementara itu, dalam pengalaman ada intuisi, di berpikir ada intuisi. Jadi tidak bisa berpikir tanpa intuisi. Yang mendahului berpikir itu adalah intuisi, jadi dalam mengajar kita tidak boleh merampas intuisi siswa. Intuisi ada kaitanya dengan kesadaran. Maka letakkanlah kesadaran anda di depan hakekat kalau anda ingin memahami suatu hakekat. Dalam mengajar di kelas terdapat apersepsi. Apersepsi dalam pembelajaran maksudnya kesiapan siswa. Kesatuan apersepsi itu disebut sebagai kesatuan transendental dari kesadaran diri. Kesadaran diri ini penting untuk bisa berpikir a priori. Supaya bisa berpikir maka harus sadar dulu. Apersepsi yang membentuk kesadaran tadi adalah prinsip yang tertinggi dari kesadaran brpikir. Ruang dan waktu adalah intuisi. Ruang dan waktu jika diisi dengan manipul kesatuan content, maka dia merupakan representasi tunggal tadi. Understanding adalah kemampuan kognisi. Tujuan dari apersepsi yaitu untuk melakukan kegiatan berpikir, sehingga kita bisa memaksimalkan olah pikir kita.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)

    Diagram di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :
    Menurut Kant, matematika sebagai ilmu adalah mungkin jika konsep matematika dikontruksi berdasarkan intuisi keruangan dan waktu. Kontruksi konsep matematika berdasar intuisi ruang dan waktu akan menghasilkan matematika sebagai ilmu yang bersifat “sintetik a priori”. Oleh Kant, metode intetik dilawankan dengan metode analitik dan konsep “a priori” dilawankan dengan “a posteriori”. Jika matematika dikembangkan hanya dengan metode “analitik” maka tidak akan dihasilkan (dikontruksi) konsep baru, dan yang demikian akan menyebabkan matematika hanya bersifat sebagai ilmu fiksi.
    Menurut Kant, matematika tidak dikembangkan hanya dengan konsep “a posteriori” sebab jika demikian matematika akan bersifat empiris. Namun datadata empiris yang diperoleh dari pengalaman penginderaan diperlukan untuk menggali konsep-konsep matematika yang bersifat “a priori”.
    Menurut Kant, intuisi menjadi inti dan kunci bagi pemahaman dan konstruksi matematika.
    Untuk noeumena sendiri, dalam Critique of Pure Reason terjadi inkonsistensi dalam penggunaan istilah ‘noumena’. Tetapi, umumnya ‘das Ding an sich’ merujuk pada objek dalam ‘noumena’. Sementara ‘noumena’ menunjukkan gagasan dalam ‘das Ding an sich’. Dengan demikian, noumena merupakan tembok intelektual yang menjadi batas pengetahuan kita yang tetap dalam dunia fenomena.

    References:
    “Peran Intuisi Dalam Matematika Menurut Immanuel Kant” Oleh Marsigit

    Herho, Sandy. H.S. (2016). Critique Of Pure Reason: Sebuah Pengantar. Bandung : Perkumpulan Studi Ilmu Kemasyarakatan ITB

    ReplyDelete
  3. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dari gambar tersebut dapat saya tuliskan bahwa terdapat dua dimensi yang hanya dapat digambarkan salah satunya. Dimensi tersebut terdiri dari dimensi yang real dan tak real. Dimana di dalam ruang lingkup real kita dapat menggunakan alat indra yang kita miliki untuk mendapatkan pengetahuan baru dalam artian kita dapat menggambarkannya langsung. Didalam ruang lingkup real ini terdapat aliran – aliran filsafat seperti empiris, sintetik, aposteriori. Sedangkan untuk dimensi tak real kita tidak bisa melihat namun dapat dirasakan dan dipikirkan. Seperti suatu persepsi yang hanya ada dibenak, percaya akan adanya Tuhan Yang Maha Esa, waktu yang tidak dapat dilihat bentuk nyatanya seperti apa, apriori dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  4. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Segala objek pikir yang telah diucapkan atau ditulis, objek persepsi dan material dalam hidup ini terikat dalam ruang dan waktu. Berdasarkan gambar diatas, Immanuel kant membagi segala sesuatu dalam hidup ini menjadi dua bagian yaitu noumena dan phenoumena. Segala sesuatu yang bisa terlihat oleh panca indra disebut dengan phenoumena dan segala sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh panca indra serta keberadaannya hanya bisa dirasakan oleh fikiran disebut dengan noumena. Noumena merupakan entitas-entitas (jamak) yang menyebabkan adanya phenoumena- phenoumena. Contoh noumena yaitu Allah SWT, arwah, ruh, malaikat, dsb. Arwah itu ada tapi kita tidak bisa melihatnya, Allah SWT itu ada tetapi tidak bisa dilihat oleh manusia. Noumena berkaitan dengan segala objek pikir yang masih dipikiran manusia, objek hati dan spiritual, sedangkan phenoumena berkaitan dengan Segala objek pikir yang telah diucapkan atau ditulis, objek persepsi dan material.
    Menurut Kant, matematika adalah ilmu yang bersifat sintetik a priori. Matematika tidak dikembangkan hanya dengan konsep “a posteriori” sebab jika demikian matematika akan bersifat empiris. Namun data-data empiris yang diperoleh dari pengalaman penginderaan diperlukan untuk menggali konsep-konsep matematika yang bersifat “a priori”.

    ReplyDelete
  5. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Pada hakikatnya manusia dianugerahi dikaruniai berbagai potensi terutama kemampuan berpikir. Dalam hal berpikir, maka manusia juga memiliki potensi untuk berpikir kritis. Dalam rangka upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan khususnya pendidikan matematika, maka pengembangan kemampuan berpikir kritis sangat berperan. Oleh karena itu berpikir kritis perlu diajarkan baik secara khusus dan independen maupun secara terintegrasi dalam setiap disiplin ilmu atau lintas kurikulum demi meningkatkan efektivitas belajar khususnya matematika yang berorientasi pada peningkatan keterampilan metakognitif. Mengajar berpikir kritis di sekolah merupakan suatu upaya dalam rangka menjembatani kesenjangan antara masalah-masalah yang diajarkan di sekolah dengan masalah-masalah di lapangan (dunia nyata). Sehingga perlu mengambil pengalaman kelas dari mengajar berpikir kritis yang relevan dengan kehidupan siswa. Implikasinya adalah bahwa guru harus merancang dan melaksanakan suatu koneksi antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang diharapkan siswa/mahasiswa di luar kelas.

    ReplyDelete
  6. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    bersumber referensi mengamati kejaidan di sekitar berupa fenomena-fenomena kecilpada dasarnya manusia akan berpikir. Olah pikir diawali dengn munculya gambaran dari suatu permasalahan. Apa bentuk permasalahan itu lalu muncul persepsi atau dugaan-dugaan seperti mempertanyakan asal muasal permasalahan. Dengan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya, manusia dapat menggunaknnya untuk membangun konsep. Selain nalar, intuisi juga diperlukan dalam berpikir. Intuisi ini secara halus akan menuntut banyak ide atau gagasan dalam pemecahan masalah.

    ReplyDelete