Oct 20, 2012

Referensi Hakekat Berpikir


22 comments:

  1. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pend. Matematika C

    Menurut Immanuel Kant, pengetahuan atau ilmu itu bersifat sintetik a priori. Maka ilmu tidak dapat dibangun hanya menggunakan rasio dan logika (analiti a priori). Tetapi ilmu juga tidak dapat dibangun hanya dengan menggunakan pengalaman (sintetik a posterioei). Ilmu menurut Immanuel Kant adalah gabungan dari rasio dan juga pengalaman. Maka manurut Immanuel Kant sebenar-benar ilmu adalah pikiran yang bisa diterapkam dan pengalaman yang bisa dipikirkan. Maka hakekat berpikir adalah bagaimana mengerjakan atau melakukan apa yang kita pikirkan dan memikirkan apa yang kita kerjakan.

    ReplyDelete
  2. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Berpikir secara definisi merupakan suatu aktivitas kerja otak tentang sesuatu hal tertentu. Misalnya saja berpikir sebagai aktivitas mental, dimana berpikir tidak hanya melibatkan kerja otak, melainkan juga melibatkan seluruh tubuh dan perasaan mausia. Contohnya: berpikir ketika kita akan membuat sebuah puisi, berpikir ketika kita membaca novel, ataupun berpikir ketika kita memecahkan suatu masalah tertentu.

    ReplyDelete
  3. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Gambar di atas menggambarkan bahwa Kant memiliki pandangan tentang hakekat berpikir. Menurut Kant, proses berpikir dimulai dari noumena yang menggambarkan representasi sehingga memunculkan persepsi. Melalui persepsi akan muncul pengetahuan dan sensasi. Sehingga pengetahuan hadir sebagai konsep dan intuisi, dimana konsep terbagi menjadi konsep murni dan empiris.

    ReplyDelete
  4. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum.pada elegi ini dijelaskan hakekat berpikir menurut Immanuel Kant. Menurut Immanuel Kant, akal tidak pernah mampu mencapai pengetahuan langsung tentang sesuatu perkara. Akal hanya mampu berpikir perkara yang dilihat terus (fenomena) tetapi hati mampu menafsir suatu perkara dengan tidak terhalang oleh perkara apapun tanpa ada jarak antara subjek dan objek.

    ReplyDelete
  5. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Manusia itu ada kalau ia berpikir. Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang melibatkan kerja otak. Selain itu, berpikir juga melibatkan seluruh pribadi, perasaan, dan kehendak manusia. Berpikir juga berarti berjerih payah secara mental memahami sesuatu yang dialami atau mencari jalan keluar dari persoalan yang sedang dihadapi. Dalam berpikir juga termuat kegiatan meragukan dan memastikan, merancang, menghitung, mengevaluasi, membandingkan, menggolongkan, memilah-milah atau membedakan, menghubungkan, menafsirkan, melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada, menimbang dan memutuskan.

    ReplyDelete
  6. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Menurut pendapat dari Immanuel Kant logika atau penalaran bersifat analitik a priori, sedangkan pengamatan fenomena matematika menghasilkan konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori dan pertemuan keduanya menghasilkan pemahaman dan bangunan matematika yang bersifat sintetik apriori. Matematika bisa menjadi ilmu maka dia haruslah bersifat sintetik a piori yaitu gabungan antara logika atau penalaran dengan pengamatan oleh siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  7. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Gambar ini memberikan gambaran pada saya bahwa berpikir itu memiliki tingkatan. Berpikir diawali dengan representasi-imajinasi dan persepsi-pengetahuan-konsep-sintetik-pemahaman ide. Pengetahuan dari teori Kant’s ini menjadi jalan tengah antara a posteriori dan a priori, antara analitik dan sintetik sehingga diambil jalan tengah menjadi sintetik apriori.

    ReplyDelete
  8. Junianto
    PM C
    17709251065

    Pada abad lalu pernah terjadi pertengkaran hebat antara penganut a pirori, a posteriori, sintetik dan analitik. Masing-masing mempertahankan pandangannya karena menganggap dirinya yang paling benar. Pengetahuan dibangun berdasarkan aspek rasio dan logika, sementara pendapat lain mengatakan bahwa pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman. Kemudian muncullah Immanuel Kant yang menggabungkan keduanya. Kant mengatakan bahwa pengetahuan dibangun dengan memperhatikan dua aspek yaitu rasio dan pengalaman.

    ReplyDelete
  9. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Berdasarkan teori imanuel kant. Disebut ilmu ketika ia a priori sekaligus a posteriori. A priori terjadi di dalam dunia langit, langit dalam arti seluas-luasnya. Bisa disebut juga dalam dunia pikiran atau identitas. Sementara a posteriori terjadi di dunia, dunia dalam arti yang seluas-luasnya pula. Bisa disebut juga dengan realitas. Aposteriori berisi dengan kontradiksi-kontradiksi

    ReplyDelete
  10. Anisa Safitri
    17701251038
    PEP B

    Kant menjelaskan bahwa berpikir adalah sebuah kegiatan yang didalamnya terdapat banyak sekali proses. Imanuel Kant berpendapat bahwa penalaran atau logika bersifat analitik a priori yakni berada di dalam pikiran, sedangkan pengamatan fenomena matematika akan menghasilkan konsep-konsep matematika yang bersifat sintetik a posteriori. dimana ilmu itu dapat dijelaskan dan diterakpan kepada orang lain.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Teori pengetahuan menurut Immanuel Kant diantaranya ialah a priori dan a posteriori. Pengetahuan a priori adalah pengetahuan yang bersumber tidak dari pengalaman langsung sedangkan a posteriori adalah pengetahuan yang bersumber dari pengalaman langsung. Pengetahuan menurut Immanuel Kant juga dapat berupa sintetik dan analitik. Obyek pengetahuan menurut Kant ada dua yaitu nomena dan fenomena. Nomena adalah keberadaan sesuatu yang dinalar akal tetapi tidak dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indera, sedangkan fenomen adalah objek yang dapat dilihat dan dirasakan dengan panca indera. Jadi, Kant menyatukan antara dua paham yang sangat bertolak belakang seperti a priori dan a posteriori, sintetik dan analitik, serta nomena dan fenomena. Bahwa pengetahuan itu bukan hanya yang ada di di dalam fikiran, tetapi pengetahuan itu juga berasal dari pengalaman.

    ReplyDelete
  12. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Hakikat berpikir yang berdasarkan Kant teori membagi dunia menjadi dua yaitu dunia atas dan bawah. Dunia atas berkaitan dengan pikiran yang bersifat ontologis dan bersifat satu di dalam pikiran. Di bagian dunia atas ini maka terdapat pula spiritualisme atau kuasa tuhan. Sifat dari pikiran itu juga banyak sekali, bahkan bermilyar-milyar sifatnya. Salah satunya berlaku a =a , atau Identitas maka ini berlakunya hanya di pikiran. Terdapat pula sifat zonden atau nir artinya tidak terikat oleh ruang dan waktu. Sifat yang lain yaitu tetap, maka ada sifat absolut maka munculah filsafat absolutism oleh tokoh Plato disebut juga filsafat Platonism.
    Kebenarannya dalam pikiran yang penting adalah konsisten. Jadi di sini kita bisa membuat pengetahuan apapun dengan membuat definisi ttg sesuatu itu, membuat aksioma, dan membuat postulat dan terakhir membuat teorema membuatnya komplit jelas tanpa melihat pengalaman dibawah tidak apa-apa yang penting konsisten. Bahasa filsafat dari konsisten adalah koheren, maka muncullah filsafat koherentisme. Kenapa bisa bersifat konsisten dan koheren karena berlaku I sama dengan I, atau Identittas maka ini berlakunya hanya dipikiran. Karena yang didalam pikiran ini tidak terikat oleh ruang dan waktu. Jika ini dinaikkan terus maka akan tumbuh transendental yang filsafatnya adalah transedentalisme. Kebenarannya satu atau tunggal atau monoisme. Kebenarannya spiritualnya itu kuasa tuhan. Koheren, konsisten dalam pikiran itu menggunakan logika, maka muncul filsafat logisism tokohnya Sir B. Ruschel. Logika bersifat analitik.

    ReplyDelete
  13. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dunia yang kedua adalah dunia bawah. Dalam dunia bawah ini berlaku sifat a tidak sama dengan a yang artinya tidak ada manusia yang bisa sama persis dengan yang ia tunjuk, karena ia terikat oleh ruang dan waktu. Dalam hal ini maka munculah sifat kontradiksi dalam dunia bawah ini. duia dawah adalah dunia nyata. Siswa di tingkat dasar belajar dengan pengalaman nyata. Sehigga sifat dalam mencari ilmunya yaitu aposteriori yaitu pengetahuan dibangun dengan kegiatan penemuan baru dibuat ilmu. Maka kebenaran di dunia bawah bersifat pula plural. Dari sifat yang berubah maka muncul sifat yang lain yaitu real yang berangkat dari dunia real, maka muncul filsafat realisme oleh tokoh Aristoteles atau filsafat Aristotelianism. Kebenarannya bersifat plural dan relatif, maka muncul filsafat pluralisme dan relatifisme.
    Dunia yang ada dibawah saling berkemistri. Dunia dibawah adalah dunia pengalaman. Berdasarkan rasio yang kemudian lahir rasionism tokohnya Renesdecartes. Maka mengerucutlah menjadi dunia rasio yang tokohnya Heum dan Renesdecartes untuk logis. Karena adanya 2 kubu yang saling bertentangan, munculah Immanuel Kant ia mulai menganalisis The Critick of Purealism bahwa pikiran adalah pikiran, konsisten adalah konsisten tapi, pikiran itu bersifat analitik. Analitik itu yang penting dari ide satu yang lain memiliki sifat konsisten. Disamping bersifat analitik pikiran juga bersifat a priori. A priori itu paham sebelum mengetahui kejadian. Contohnya dokter yang mengetahui obat dari mentelepon pasien, bisa mengambil kesimpulan dari konsistensi. Sedangkan yang dunia di bawah itu a posteriori. Sintetik itu bersifat kejadian satu dengan yang lain. Sehingga menurut Immanuel Kant ia menyimpulkan dan menggabungkan keduanya bahwa ilmu adalah sintetik a priori. Sebenar-benar ilmu adalah sintetik apriori. Karena ilmu itu dipikirkan dan juga di coba.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C


    Immanuel Kant membagi teori pengambilan keputusan menjadi dua, yaitu analitik dan sintetik. Dalam analitik subjek sama dengan predikat sehingga bisa dikatakan bahwa analitik adalah identitas. Analitik adalah pengambilan keputusan berdasarkan konsistensi koherensi. Analitik merupakan intuisi murni. Sedangkan sintetik subjek tidak sama dengan predikat sehingga sintetik berarti kontradiksi. Sintetik adalah pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman atau intuisi empiris.

    ReplyDelete
  16. Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih atas bagan yang bapak sajikan di atas. Proses berpikir adalah proses mengetahui. Melakukan respon terhadap stimulus yang menjadi objek berpikir. Meskipun gambar yang bapak sajikan di atas memiliki resolusi yang lemah tetapi jika dilihat secara teliti, betapa hakekat berpikir merupakan suatu hal yang kompleks, apalgi bapak menggunakan paradigma Kantian yang rumit itu

    ReplyDelete
  17. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Kant, dalam proses berpikir, pikiran manusia dapat menentukan sebuah konsep. Respon terhadap fenomena tanpa didahului pengalaman (intuisi). Selanjutnya pengetahuan muncul dari penerimaan inderawi (sensibility), dan kemampuan pemahaman (understanding) lalu dibuat keputusan secara analitik dan sintetik. Analitik adalah pengambilan keputusan berdasarkan konsistensi koherensi sedangkan sintetik berdasarkan pengalaman atau intuisi empiris.

    ReplyDelete
  18. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Kant mengajukan kritik pada paham rasionalisme dan empirisme yang seolah memisahkan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikiran murni serta pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman. Padaham harusnya Pengetahuan diperoleh secara rasional dan empiris secara sigernis.

    ReplyDelete
  19. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  20. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benarnya filsafat adalah olah pikir. Dimana obyek pikir tiu terdiri dari dua sifat yaitu kuantitatif dan kualitatif. Menurut Immanuel kant, sebenar-benar dunia itu persis dengan apa yang engkau pikirkan. Jadi proses berpikir untuk membangun ilmu pengetahuan terjadi di dalam pikiran kita masing-masing.

    ReplyDelete
  21. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Berpikir bukanlah hal yang sederhana, melainkan komplek. Banyak proses-proses yang terjadi di dalam pikiran, mulai dari kegiatan manusia mempersepsikan fenomena-fenomena yang ada dihadapannya hingga akhirnya mencapai kegiatan mengambil keputusan. Begitu pula dalam mencari ilmu, kegiatan berpikirnya pun melalui proses-prosesnya sendiri, mulai dari fenomena yang ada di kenyataan hingga menjadi refleksi/bayang-bayang dari fenomena tersebut di pikiran.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Mausia itu berkembang, setiap saat itu berubah dan berkembang menuju ke pemikiran yang lebih kompleks karena terpengaruh oleh pengalaman dan ruang dan waktunya. Hakikat berpikir menurut Immanuel Kant paling tinggi adalah judgement, dapat menentukan apakah itu benar atau salah berdasarkan bukti-bukti tertentu. dapat sampai memutuskan apakah itu benar atau salah tentu melalui proses berpikir dengan mengaitkan dengan sesuatu hal yang merupakan bukti-bukti otentik yang berkaitan dengan masalah itu. Sehingga dasarnya kuat, maka keputusannya juga kuat. Sehingga pengaruh pengetahuan untuk memutuskan itu sangat erat kaitannya. Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, maka keputusannya semakin akurat

    ReplyDelete