Oct 17, 2012

Elegi Mengintip Pesta Raya Black-hole Diraja (Lanjutan dari Elegi Bendungan Komte)




Oleh Marsigit

Black Hole Diraja

Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau.


Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Haha ...hihi... huhu...hehe.... Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Haha ...hihi... huhu...hehe....aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Haha ...hihi... huhu...hehe....Wahai Black-hole Pragmatism, Utilitarianism, Materialism, dan Hedenism. Aku adalah Black-hole Diraja. Aku adalah rajamu.

Pragmatis:
Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Ha...ha...ha...ha...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Ha...ha...ha...ha...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku.
Ha...ha...ha...ha...itulah aku Black-hole Pragmatisme.

Utilitarian:
Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Hihi...hihi...hihi...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Hihi...hihi...hihi...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Hihi...hihi...hihi...itulah aku Black-hole Utilitarian

Materialisme:
Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. Hu...hu...hu...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. Hu...hu...hu...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. Ha...ha...ha...ha...itulah aku Black-hole Meterialisme.

Hedonisme:

He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Jika engkau belum menyadari, maka itulah pilihanmu. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar dirimu itu, bagiku sama saja. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau. Aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar sub-black-hole yang telah aku ciptakan bagi dirimu tanpa kecuali. Aku adalah aku...maka hidupku tidak memerlukan syaratmu. Engkau adalah engkau...maka hidupmu tergantung pada diriku. Aku adalah aku...maka semua kebenaran adalah diriku. Engkau adalah engkau...maka semua dirimu adalah kesalahanmu dan kesalahanku juga. Aku adalah aku...maka kesadaranku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kesadaranmu melampaui kesadaranku. Aku adalah aku...maka kuasaku meliputi semua dirimu. Engkau adalah engkau...maka tiadalah kuasa engkau itu di depan diriku. He...he...he...he...Jikalaulah engkau ingin mengaku-aku di depanku, maka hitung-hitunglah dulu dirimu dan juga diriku. Tetapi apalah artinya engkau menghitung dirimu sendiri, karena yang demikian tidaklah sebanding jika engkau menghitung diriku sedikit saja. He...he...he...he...aku adalah aku, engkau adalah engkau...itulah sebenar-benar black-holeku. Siapa yang selaras dengan diriku maka dia masuklah ke dalam unsur-unsurku. Siapa yang berusaha tidak selaras dengan diriku, maka dia terpaksa dan dipaksa harus menyelaraskan dengan diriku. He...he...he...he...itulah aku Black-hole Hedonisme.

Black-hole Diraja:
Whuss...wahai Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme! Lancang benar engkau dihadapanku! Beraninya engkau bicara black-hole di depanku. Berani pula engkau melantunkan tembang-tembangku di hadapanku. Apakah engkau sudah bosan hidup?

Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme:
Wahai sang Black-hole Diraja, janganlah salah paham. Tiadalah diriku semua itu jikalau tidak ada dirimu. Jika aku belum menyadari, maka itulah pilihanku. Sadar atau tidak sadar atau belum sadar diriku itu, bagimu sama saja. Itulah sebenar-benar black-hole yang telah engkau ciptakan bagi diriku tanpa kecuali. Maka hidupmu tidak memerlukan syaratku. Hidupku tergantung pada dirimu. Maka semua kebenaran adalah dirimu. Maka semua diriku adalah kesalahanku dan tiadalah kesalahan bagimu. Kesadaranmu meliputi semua diriku. Maka tiadalah kesadaranku melampaui kesadaranmu. Maka kuasamu meliputi semua kuasaku. Tiadalah kuasa diriku itu di depan dirimu. Jikalaulah aku ingin mengaku-aku di depanmu, maka tiadalah hitung-menghitung yang dapat aku lakukan. Tiadalah artinya aku menghitung diriku di depan dirimu, karena yang demikian tidaklah sebanding jika aku menghitung dirimu sedikit saja. Itulah sebenar-benar black-holeku, yaitu hanyalah unsur-unsur dari diri black-holemu. Diriku yang selaras dengan dirimu maka diriku akan masuklah ke dalam unsur-unsurmu. Diriku yang berusaha tidak selaras dengan dirimu, maka diriku terpaksa dan aku paksa harus menyelaraskan dengan dirimu.

Black-hole Diraja:
Haha ...hihi... huhu...hehe....nah begitu. Puas diriku mendengar semua tremimilmu. Begitulah seharusnya perilaku dan adabnya unsur-unsur. Sehingga, hal yang demikian telah menambah dan membuat Black-hole Diraja menjadi semakin besar, padat dan kuat. Haha ...hihi... huhu...hehe....wahai siapakah yang berani menampakkan diri di depanku, maka sebelum engkau mempunyai niatmu, maka sudah aku sedot dirimu ke dalam black-hole ku, untuk aku jadikan bahan bakarku. Haha ...hihi... huhu...hehe.... wahai Pragmatisme, Utilitarian, Meteriisme dan Hedenisme, silahkan laporkan kemajuan pencapaian program-programmu. Laporkan yang baik dan terbaik, sukses dan tersukses, ..aku hanya ingin mendengarkan yang itu saja. Yang tidak baik, yang gagal, yang bermasalah, ...campakkan saja ke kotak sampah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Wahai Sang Blac-hole Diraja...engkaulah sebenar-benar blakc-hole ku. Perkenankanlah aku menyampaikan perkembangan atau progress report program-programku. Visiku adalah hidup yang praktis. Ukuranku adalah asas manfaat, tindakan dan rasa ingin tahu dan pemanfaatan sumber alam. Bagiku yang benar adalah yang tampak dan yang nyata. yang benar adalah yang bermanfaat. Maka jikalau tiada manfaat maka tiada nilai benar disitu. Aku akan mengerahan secara besar-besaran segenap daya dan upayaku berupa laskar-laskar untuk mengusasai dunia. Akan aku arahkan dunia ke suatu tujuan tertentu, dan telah saya tunjuk pengendali laskar dan sangat patuh (patuh buta) terhadap komandoku. Tujuanku hanyalah tunggal yaitu menggenggam dunia. Oleh karena itu laskar-laskarku akan melakukan pergerakan masive secara linear ke depan, serta akan saya fokuskan kepada hal-hal yang di depan. Yang telah lalu biarlah berlalu. Aku akan mengeksploitasi segenap sumber daya, dengan kompetisi ketat. Siapa yang kalah berkompetisi denganku maka mereka harus menyingkir dan tertinggal. Mereka harus puas menjadi pecundang, sedangkan aku tentu harus memenangkan kompetisi. Maka aku yang menang itulah aku yang berjaya. Barang siapa yang menghalangi laju para laskarku maka akan aku lindas dan libas. Engkau para laskarku tidak perlu melihat persimpangan jalan dan tidak perlu melakukan refleksi. Ingatlah keberhasilanmu adalah untuk keseluruhan, dan keseluruhan bisa diwakili simbol. Tidak perlu tanya jawab ketika engkau sudah berangkat, engkau harus mengedepankan sifat kompetitif dari pada kooperatif. Tidak perlu kompromi terhadap laskar yang lain, dan laskar lain anggaplah kompetitormu. Lebih baik gunakan saja cara-cara yang telah aku berikan kepadamu dari pada ingin mengerti tetapi tidak pernah bisa. Tinggalkan saja residu-residumu. Tetapi ingatlah bahwa engkau memerlukan keseragaman gerak dan langkah, mempunyai pembagian tugas yang ketat, perlu mempunyai kontrol yang kuat. Jangan memikirkan skema untuk kembali. Ukuran keberhasilanmu bersifat kuantitatif dan formal dan engkau haruslah bersifat eksklusif. Ingat paradigmaku: kontrolah dan kuasailah dunia. Hidupmu bersifat real dan kongkret, mekanistis, terstruktur kuat, dan didominasi oleh komunikasi kekuasaanku.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan saya teruskan. Carilah filsafat yang selaras denganmu. Engkau itu selaras dengan filsafat diterminism, filsafat vitalism, sejalan dengan paradigma salah benar, anti fallibism. Maknamu itu berada di luar pikiranmu. Engkau juga selaras dengan paradigma behaviorism, selaras dengan psikologi stimulus response. Jangan pikirkan thethek mbgengek psikologi hologram itu. Engkau itu bercirikan external evaluation (UN), bersifat monoculture, rigid, dan absolut. Engkau perlu menyelaraskan diri dengan filsafat realism. Engkau perlu mencari dukungan empiricism. Engkau merupakan tulang punggung utilitarian dan pragmatism. Engkau perlu menyelarasan dengan jargon investasi. Ketahuilah bahwa engkau harus menghasilkan hedonism dan bersifat materialism (dunia). Kebenaranmu saya ukur dari manfaatmu. Kebenaranmu saya ukur dengan kekuasaanku. Engkau harus mencari dukungan metode trial and error dan metode logico empirical hypotetiko. Janganlah tonjolkan jati diri atau identitas diri . Tetapi jati dirimu adalah tertutup oleh jati kelompok. Perangilah relativism. Jika perlu engkau boleh bersikap arogan terhadap alam karena memang engkau aku beri mandat untuk memanipulasikannya.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan saya teruskan. Engkau harus menjadi pondamen laskar utilitarian, laskar pragmatism, dan laskar hedonism. Oleh karena itu engkau harus mencari dukungan laskar teknologi, dan laskar naturalis. Jangan memikirkan anak cucu. Masa depan adalah warisan orang tua dan bukanlah warisan cucu. Engkau harus membangun neo empiricism, neo pragmatism, dan pekerjakanlah para juragan dan pemodal. Engkau harus selaras dengan filsafat dan psichology reductionism dan penyederhanaan dan selaras dengan jargon karakter bangsa atau nation building. Jiwamu itu bersifat eksternal. Wadahmu aku pikirkan lebih dulu baru kemudian isimu. Social capital dan economy harus menjadi ukuran yang paling tinggi. Lakukan kontrol ekonomi dari atas. Sedangkan dari bawah anggaplah dia sebagai fakta saja. Engkau harus menyelaraskan diri dengan filsafat strukturalism dan perlu membangun masyarakat struktur kekuasaan- struktur ekonomi–struktur eksploitasi. Dan juga engkau perlu membangun struktur masyarakat kedudukan-kepemilikan-kekuasaan-pemilik modal-pekerja dan buruh. Hukummu adalah hukum sebab-akibat.

Black-hole Diraja:
Haaha..haha..bagus-bagus. Aku sangat setuju dengan visi, misi dan program-programmu. Teruskanlah.
Apakah masih ada?

Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme:
Baik tuan, masih ada. Akan saya teruskan. Engkau itu harus bekerjasama dengan kaum feudalis, masyarakat burgois. Tidak usah pikirkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dirimu, karena kerusakan itu memang tidak bisa diperbaharui. Tak usah terlalu peduli dengan normatif, kalau perlu hadapilah para humaniora. Bagiku yang benar adalah yang nyata dan yang terukur. Lempar jauh-jauh apa itu hermeneutika hidup.Untuk spiritual, tempatkan saja pada tataran atau tahapan primitif. Sedangkan teknologi itu merupakan tahapanmu yang paling maju. Ingat bahwa temuan-temuan barumu adalah segala-galanya, dan tidak usah memikirkan akibat-akibatnya. Engkau aku bekali dengan pengetahuan ba posteriori, dengan ilmunya naturewissenschaften. Janganlah pikirkan geisteswissenschaften. Logikamu sangat sederhana yaitu sistem input-proses-output. Leluhurmu adalah Machiavelianism. Engkau bersumber pada filsafat positivism dari Auguste Comte dan St.-Simon. Engkau harus bersinergi dengan John Adam Smith. Bacalah buku Will to Power nya Nietze dan bangunlah enterpreneurship yang agung.Janganhiraukan sindiran Schopenhauer, tetapi perhatikanlah dan pelajarilah ajaran William James, Ranke, Croce, Max Weber, and Meinecke. Lawan saja Nihilismenya Paul Nietze dan Satre. Dan juga lawanlah spiritualism, idealism, dan socio-constructivist. Para tamumu adalah jargon atasan tetapi engkau mempunyai musuh yaitu jargon bawahan. Ingat selalu orientasimu adalah hasil dan standard. Aku tahu bahwa engkau akan ditentang oleh proses dan portfolio. Maka bekerjasamalah dengan penyeragaman dan jangan terlalu bernafsu akan keanekaragaman.

Black-hole Diraja:
Waha..haha. Bagus..bagus. aku sangat puas dengan kinerjamu semua. Itulah sebenar-benarnya diriku bahwa diriku dan dirimu merupakan laskar Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme. Aku telah berangatkan engkau semua sejak jaman modern untuk menguasai dunia. Sekarang kita sudah hampir sempurna menguasai dunia. Siaakah yang berani menentangku? Maka akan aku hancurkan dia sebelum dia sempat memikirkannya. Wahai para Pragmatisme, Utilitarian, Meterialisme dan Hedonisme yang sangat aku banggakan, marilah kita menyelenggarakan pesta kemenangan kita. Berdoalah untuk melanggengkan kekuasaan kita.

2 comments:

  1. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dunia di zaman modern ini telah dikuasai dengan pragmatisme, utilitarisme, materialisme, dan hedonisme. Paham-paham yangmenyebabkan perubahan perilaku masyarakat kita sehingga kehilangan jati diri bangsa, karakter bangsa, dan kehilangan nilai spiritual. Paham-paham ini menyebar dengan pesat melalui berbagai media. Media komunikasi dan hiburan berupa siaran Televisi, inernet, berita, infotaiment, hiburan, iklan, fashion, restoran-restoran cepat saji, tempat dugem dan sebagainya. Masyarakat secara perlahan-lahan mulai terpengaruh dengan paham-paham tersebut dan menciptakan neo-neo nya. Neopragmatsme, neoutilitarisme, neomaterialisme, dan nneohedonisme.
    Paham-paham tersebut telah mengubah sikap dan gaya hidup manusia, khususnya masyarakat Indonesia. Bahkan masyarakat tidak menyadari bahwa mereka sedang terjangkit virus black-hole ini. Saya menyebut virus karena persebarannya yang sangat cepat, halus, tetapi sangat fatal akibatnya. Merusak generasi bangsa, perekonomian negara, keamanan lingkungan, sopan santun, etika dan nrma, bahkan spiritualitas. Semuanya perlahan-lahan mulai rusak karena masyarakat sibuk berpesta dengan paham-paham tersebut.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  2. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Pragmatisme, utilitarisme, materialisme, dan hedonisme". Entah mereka adalah paham, entah mereka itu aliran, atau entah mereka itu sifat, bahkan apakah mereka itu perbuatan, saya rasa masyarakat Indonesia saat ini mulai menyadari kehadiran mereka. Akan tetapi hanya sampai tahap menyadari kehadirannya. Bukan menyadari untuk mengambil sikap atau malah melawannya. Sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan merusak moral dan merusak alam, sering kali kita sangkut pautkan dengan hadirnya paham-paham "pragmatisme, utilitarisme, materialisme, dan hedonisme" di masyarakat kita. Padahal menurut saya, untuk saat ini masyarakat kita sudah mandiri dalam menjalankan faham itu sendiri. Fatal bukan? Bagaimana kita mencari obat pada luka yang sengaja kita buat sendiri?
    Sifat tak peduli. Tidak memikirkan generasi penerus. Entah sampai kapan akan seperti ini?

    Pernah saya berbincang dengan seorang teman, jika kita ingin melawan (atau paling tidak seimbang, dalam artian tidak kalah) dengan faham "pragmatisme, utilitarisme, materialisme, dan hedonisme", apakah kita harus membuat faham tandingan. Lantas dengan terkekeh teman saya menjawab, "dasar orang sini banget (mungkin mau bilang Indonesia banget kali ya) kamu ki, apa apa kok yang dipikir cuma konsep dan penamaannya? kamu terus mau bikin nama-nama faham lainnya, gitu? bikin apalah terus diakhiri isme, gitu? Masalahnya ini tu bukan fahamnya, tapi bagaimana kita bersikap dan bertindak. Toh faham atau aliran juga lahir hanya dari penamaan tindakan dari suatu kelompok". Entah berdasar teori atau tidak, saya tersudutkan oleh jawaban teman saya.

    ReplyDelete