Oct 21, 2012

Elegi Mengenal Jargon




Oleh Marsigit

Saya ucapkan selamat datang kepada jargon. Setelah saya mengucapkan selamat jalan untuk elegi, maka seakan persoalan-persoalan akan selesai, tetapi nyatanya tidak. Aku ternyata menemukan jargon. Ternyata jargon itu cukup besar, luas dan ada di mana-mana. Hal yang demikian telah membangkitkan kembali hasratku untuk menulis sekaligus untuk menjaga silaturakhim kepada handaitolan. Sekali lagi selamat datang wahai jargon.

Jargon:
Aku adalah jargon. Jargon itu bahasa kacau. Kacau itu tidak beraturan. Tidak beraturan itu bisa teratur. Diriku itu terdiri dari banyak macam: jargon politik, jargon pendidikan, jargon perdagangan, jargon pikiran, jargon program, jargon persaudaraan, jargon lembaga, jargon keluarga, jargon sekolah, jargon sifat-sifat, jargon subyek, jargon obyek, jargon berdoa, jargon belajar, jargon komitmen, jargon kewajiban, jargo hak, jargon cinta, jargon pendapat, jargon pertandingan, jargon tujuan, jargon sosial, jargon subyek, jargon obyek, jargon nyanyian, ..jargon kehidupan.

Subyek:
Wahai jargon, apakah manfaat memikirkanmu dan mengapa engkau mengenalkan diri kepadaku?

Jargon:
Wahai subyek. Jargon itu bisa kurang bermanfaat, bisa bermanfaat, bisa sangat bermanfaat. Jika engkau pikirkan jargon sebagi kacau, maka kacau itu tidaklah tidak kacau. Kacau itu tidak sesuai aturan. Kacau itu tidak sesuai prinsip. Kacau itu prinsip yang sempit untuk yang besar. Kacau itu prinsip subyektif untuk obyektif. Kacau itu prinsip sendiri untuk bersama. Kacau itu pendapat pribadi untuk umum. Kacau itu prinsip koheren untuk korespondensi. Kacau itu prinsip khusus untuk umum. Kacau itu tidak sesuai janji. Kacau itu tidak sesuai jadual. Kacau itu tidak sesuai ruang. Kacau itu tidak sesuai waktu. Kacau itu tidak seperti biasanya. Kacau itu tidak lazim. Kacau itu tidak sesuai rencana. Kacau itu tidak jelas. Kacau itu samar-samar. Kacau itu negative.

Subyek:
Wahai jargon, jika engkau itu negative, mengapa mesti aku perlu membicarakanmu?

Jargon:
Wahai subyek. Ini adalah permulaan pembicaraanku. Ketahuilah bahwa pembicaraanku itu masih panjang dan lebar. Bukankah engkau pernah membaca elegi perbincangan para banyak. Maka bacalah sekali lagi elegi itu dan elegi-elegi yang lainnya, agar engkau mampu memahami bagaimana orang-orang itu bisa memanfaatkan, memanipulasi, hidup dan subur, bahagia dengan jargon-jargon. Semakin hari semakin banyak orang, baik sadar maupun tidak sadar, memanfaatkan keadaan yang tidak sesuai aturan, keadaan yang tidak sesuai prinsip, keadaan dimana prinsip yang sempit untuk yang besar, keadaan dimana prinsip subyektif untuk obyektif, keadaan dimana prinsip sendiri untuk bersama, keadaan di mana pendapat pribadi untuk umum, keadaan di mana prinsip koheren untuk korespondensi, keadaan di mana prinsip khusus untuk umum, keadaan di mana tidak sesuai janji, keadaan di mana tidak sesuai jadual, keadaan di mana tidak sesuai ruang, keadaan di mana tidak sesuai waktu, keadaan di mana tidak seperti biasanya, keadaan dimana tidak lazim, keadaan di mana tidak sesuai rencana, keadaan di mana tidak jelas, keadaan di mana samar-samar, keadaan yang negative.

Subyek:
Apa saja contoh kongkritnya?

Jargon:
Wahai subyek, ketahuilah bahwa banyaknya jargon itu adalah sebanyak tidak jargon. Maka tidaklah adil jika dunia jargon pun tidak boleh tampil dalam panggung kehidupan ini. Maka berkenanlah, bahwa untuk periode-periode berikutnya, aku berniat akan selalu mengawali karya-karyaku dengan jargon. Sedangkan contoh kongkritnya adalah kekacauan memahami obyek yang bicara, kekacauan memahami subyek yang menjadi obyek, kekacauan memahami obyek yang menjadi subyek, kekacauan memahami kuasa yang dikuasai, kekacauan memahami yang ada dan yang mungkin ada, kekacauan memahami tetap yang berubah, kekacauan memahami berubah yang tetap, kekacauan memahami benar yang salah, kekacauan memahami salah yang benar, kekacauan memahami baik yang buruk, kekacauan memahami buruk yang baik, kekacauan memahami awal yang tidak berawal, kekacauan memahami akhir yang tidak berakhir, kekacauan memahami pertanyaan yang bukan pertanyaan, kekacauan memahami reduksi menuju kelengkapan, kekacauan memahami kelengkapan yang tereduksi, kekacauan memahami hidup yang mati, kekacauan memahami mati yang hidup, kekacauan memahami dunia di syurga, kekacauan memahami syurga di dunia, kekacauan memahami dunia di neraka, mengalami kekacauan memahami neraka di dunia, kekacauan memahami logosnya mitos, kekacauan memahami mitosnya logos, kekacauan memahami pikiran di hati, kekacauan memahami hati di pikiran, kekacauan memahami guru sebagai siswa, kekacauan memahami siswa sebagai guru, kekacauan memahami hakekat dibalik penampakan, kekacauan memahami elegi-elegi, kekacauan memahami merterjemahkan dan diterjemahkan, kekacauan memahami memperbincangkan segala yang ada dan yang mungkin ada, kekacauan memahami fatamorgana, kekacauan mengenali para mitos, dan kekacauan mengenali musuh-musuh hati. Kekacauan-kekacauan itu akan menghasilkan bahasa yang kacau. Itulah jargon.

24 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Jargon dapat menjadi baik atau buruk, karena kita ketahui bahwa jargon indentik dengan sesuatu yang buruk atau kacau. Jargon akan menjadi buruk apabila terdapat kekacauan dalam memahaminya yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  2. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Jargon dapat dikatakan baik saat sesuai dengan ruang dan waktunya, berguna dan bermanfaat. Oleh karena itu agar kita tidak termakan jargon kita harus tetap menjaga jargon dalam diri kita agar tetap bermanfaat. Dengan kita mempertahankan jargon baik kita, pasti hal tersebut akan selalu menjadi hal baik untuk diri kita.

    ReplyDelete
  3. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Menuntut ilmu merupakan kewajiban atas setiap muslim. [HR. Ibnu Majah]. Syeikh Abdul Aziz bin Abdulloh bin Baaz rohimahulloh berkata: “Berbicara tentang Allah tanpa ilmu termasuk perkara terbesar yang diharamkan oleh Allah, bahkan hal itu disebutkan lebih tinggi daripada kedudukan syirik. Karena di dalam ayat tersebut Alloh mengurutkan perkara-perkara yang diharamkan mulai yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Sebetulnya tidak hanya dalam hal ilmu agama. Dalam segala aspek kehidupan juga seperti itu. Jika kita berbicara tanpa ilmu tentu berpeluang menciptakan kekacauan.

    ReplyDelete
  4. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    S1 Pendidikan Matematika

    Jargon itu tak dapat dimaknai tidak bermakna, jargon kacau namun dapat tidak di kacaukan bagi ruang dan waktunya. Memanfaatkan jargon adalah mengumpulkan ide gagasan yang tercecer menjadi satu rangkaian yang justru sebenarnya memecah persatuan tersebut. Namun memanfaatkan jargon untuk kepentingan global hanya akan sekedar merusak fokus pandang dan hanya sebagai penyejuk dan penggetar jiwa semata bahwa ide kita masih eksis.

    ReplyDelete
  5. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Segala sesuatu akan terlihat berbeda apabila kita memandangnya dari sudut pandang yang berbeda. Banyak hal yang tidak dapat kita katakan mutlak benar dan tidak benar, mutlak bermanfaat dan tidak bermanfaat karena segala sesuatu tergantung ruang dan waktu. Sebagaimana jargon itu bisa kurang bermanfaat, bisa bermanfaat, bisa sangat bermanfaat. Jargon sebagai kacau. Jargon itu keadaan yang tidak sesuai aturan. Maka sebenar benar jargon bisa bermanfaat jika kita mampu memanfaatkan kekacauan yang ada.

    ReplyDelete
  6. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    "....orang-orang itu bisa memanfaatkan, memanipulasi, hidup dan subur, bahagia dengan jargon-jargon". Dikatakan seperti itu. Kemudian disambung dengan "Jargon itu bisa kurang bermanfaat, bisa bermanfaat, bisa sangat bermanfaat". Bila boleh sedikt bertanya apakah jargon itu filsafat? terikat ruuang dan waktu? sehingga bisa bermanfaat, kurang bermanfaat bahkan tidak bermanfaat. Mungkin di sinilah jatah manusia berpikir dan mengolah keadaan, mengatur sudut pandang dalam memandang suatu objek. Sesuatu akan bermanfaat apabila kita menjadikannya bermanfat. Sesuatu akan menjadi kurang bermanfat jikakita membikinnya menjadi kurang bermanfaat. Begitu jugadengan segala hal yang idak bermanfaat, karena kita pula yang menjadikannya tidak bermanfaat.

    ReplyDelete
  7. Assalamualaikum Wr.Wb

    Arina Husna Zaini
    17701251024
    PEP B (S2)

    Percakapan antara jargon dan subyek menggambarkan keragaman pandangan tentang sesuatu. setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang sesuatu obyek sama. Kadang obyek tersebut dapat bermanfaat bagi orang A dan kadang pula obyek tersebut dapat menghasilkan damapak negatif bagi orang B. Tetapi pada dasarnya semua objek itu dapat bermanfaat, dengan memanfaatkan situasi yg terkadang dipandang tidak menguntungkan.

    ReplyDelete
  8. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Mengawali tanggapan yang tertulis di atas, ini hanya terkait dengan persepsi. Hal ini dikarenakan dengan persepsi seseorang dapat mengenali, merasakan dan menginterpretasikan sesuatu dari berbagai sudut pandang. Layaknya jargon, ia merupakan salah satu bukti dari kekayaan bahasa. Hanya saja setiap ilmu memiliki jargonnya masing-masing. Adanya jargon dapat memudahkan seseorang memahami apa yang sedang dipelajari sesuai dengan keilmuwannya. Meskipun memiliki jargon yang sama namun pada ilmu tertentu memiliki cara penafsiran yang berbeda-beda dan disesuaikan dengan konteksnya. Kekacauan yang timbul dari adanya jargon yang berbeda-beda cenderung dapat disebabkan perbedaan pengalaman dari setiap individu.

    ReplyDelete
  9. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Dalam postingan ini, jargon mengandung arti yang luas terutama tentang visi dan tujuan. Jargon dibuat tidak hanya spontan, tetapi harus sesuai dengan visi dan tujuannya. Maka ketika membuat jargon, kita harus memahami betul apa maksud dari jargon itu sehingga semua kegiatan kita memiliki tujuan untuk mewujudkan visi tersebut. Karena ketika kita tidak memahami jargon secara detail, maka jargon itu malah menjadi tidak berguna. Seperti dalam kegiatan sehari-hari kita. Semua kegiatan harus dipahami betul apa visi dan tujuannya agar semua kegiatan-kegiatan yang kita laukan dapat berjalan dengan baik dan menjadi bermanfaat.

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ada sebagian orang yang menyangka kehidupan di dunia hanya sekedar menghabiskan waktu hidup saja. Dimulai dari lahir, kecil, dewasa, tua, dan akhirnya mati. Waktu dihabiskan dengan makan, minum, tidur, dan bersenang – senang. Anggapan mereka adalah tidak ada tujuan dari penciptaan manusia di dunia ini. Hal ini merupakan kesalahan cara pandang berpikir. Tidak ada di dunia ini apa yang dilakukan adalah sia-sia karena hal tersebut telah dijamin oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an. Keadaan yang demikian dapat menimbulkan kekacauan dalam diri manusia itu. Kekacauan tersebut jika tidak dikondisikan dengan pikiran serta hati, maka bisa menumbulkan kekacauan-kekacauan yang selanjutnya. Berdasarkan Elegi mengenal Jargon yang bapak tulis di atas, kekacauan yang terjadi tersebut dinamakan jargon. Mau seperti apa jargon kita, hanya kita sendirilah yang bisa merencanakan.

    ReplyDelete
  11. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017

    Jargon merupakan kalimat yang dibuat sebagai simbol, penyemangat atau motivasi. Istilah-istilah yang digunakan dalam jargon ini bermacam-macam dan bebas struktur bahasanya, sehingga jargon juga merupakan bahasa yang kacau. Jargon bisa menjadi sesuatu yang berfaedah atau tidak berfaedah. Jargon akan menjadi tidak berfaedah apabila digunakan dalam hal negatif, misalnya untuk menutupi hal sebenarnya atau membuat kacau yang membaca atau mendengarnya. Namun jargon akan berfaedah apabila digunakan dalam hal-hal positif, seperti membuat yang membaca atau mendengar semakin termotivasi. Itu semua kembali lagi kepada masing-masing individu, hendaknya yang membuat memikirkan sebenar-benarnya jargon apa yang akan dibuatnya dan sebagai pembaca atau pendengar sebaiknya menghayati dengan akal dan pikirannya.

    ReplyDelete
  12. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jargon adalah bahasa yang kacau, dan bahasa yang kacau itu disebabkan oleh berbagai kekacauan yang timbul dalam kehidupan kita sehari-hari. Kedudukan kacau pikir dalam filsafat dapat bernilai positif sebagai ilmu atau calon ilmu. Namun kacau itu juga berarti tidak jelas. Jika jargon diartikan sebagai tidak jelas maka kita akan teringat bahwa kita pernah terselamatkan kepada hal yang tidak jelas itu. Bahkan mungkin kita akan merindukan keadaan yang tidak jelas itu demi memperoleh tujuan-tujuan kita. Dan hendaknya kita berhati-hati dengan hal itu, karena jika kita menjadi pemimpin atau penguasa maka kuasa kita akan sangat mempengaruhi nasib banyak orang. Maka dalam menentuka atau membuat sesuatu hendaknya dipikirkan terlebih dahulu tentang manfaat dan akibat yang akan terjadi.

    ReplyDelete
  13. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya belajar tentang jargon, jargon adalah bahasa yang kacau. Kacau tidak selalu tidak memiliki manfaat maka kacau pun ada yang bermanfaat. Agar kacau dapat bermanfaat kita harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Terkadang dalam belajar perlu juga menggunakan bahasa yang kacau agar kita mampu berpikir keras untuk memahaminya sehingga dapat melatih olah pikir. Misalnya jargon untuk memahami subyek yang menjadi obyek, memahami guru yang menjadi siswa, memahami akhir yang tidak berakhir, memahami buruk yang baik dll. Menggunakan jargon kita dapat belajar tentang sesuatu dipandang dari hal lain yang bertentangan.

    ReplyDelete
  14. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Jargon ada dimana-mana cukup besar dan luas. Jargon adalah bahasa kacau. Sedangkan dalam diri kita ada banyak jargon seperti jargon politik dll sebanyak jargon yang bisa kita sebutkan dan yang ada dan yang mungkin ada. Jargon adalah kekacauan. Sedangkan kacau adalah sesuatu yang negatif. Namun mengapa perlu dipelajari? Karena kita dapat mengambil hikmah dari segala hal baik itu positif dan itu negatif. Kita dapat menggunakan jargon sebagai hikmah dalam kehidupan. Agar hidup kita itu tidak terjebak oleh mitos-mitos dan jargon itu sendiri.

    ReplyDelete
  15. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut elegi di atas, jargon adalah bahasa kacau. Kacau itu tidak beraturan. Akan tetapi, walaupun jargon ialah sebuah kekacauan, jargon itu bisa sangat bermanfaat, bermanfaat dan juga kurang bermanfaat. Setiap orang mempunyai pandangannya masing-masing terhadap sesuatu. Kekecauan yang ada di depan mata bagi orang-orang tertentu akan membawa dampak yang baik bagi dirinya karena ia mampu memanfaatkan kekacauan tersebut. Sedangkan bagi orang-orang yang lainnya, jargon atau kekacauan malah akan berdampak buruk bagi dirinya dan menganggu kehidupannya, hal ini tentu karena ia tak mampu memanfaatkan situasi kekacauan yang ada. Jadi, dalam menjalani hidup ini kita tidak bisa ingin dalam keadaan baik-baik saja, saat-saat tertentu kita butuh sebuah kekacauan untuk mengasah diri bagaimana caranya survive dalam kondisi apapun.

    ReplyDelete
  16. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ketika bicara tentang jargon yang dimaknai sebagai bahasa yang kacau, kacau itu belum tentu berarti buruk. Semua tergantung sudut pandangnya. Sama seperti jargon yang dikemukakan di atas yang bisa menjadi tidak bermanfaat, bermanfaat atau bahkan sangat bermanfaat, itulah juga bagaimana cara pandang kita terhadap kekacauan. Sebagaimana kacau pikir adalah mula dari rekonstruksi pengetahuan, maka tak semua kacau itu buruk. Yang perlu diperhatikan adalah sekacau-kacau pikiran, jangan sampai kacau di dalam hati.

    ReplyDelete
  17. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dengan membaca percakapan di atas saya menggap bahwa jargon itu merupakan sebuah hasil pemikiran yang terkadang bisa bersifat fositif atau sebaliknya bersifat negative. Dari pikiran maka munculah beragam tulisan yang mengadung ilmu untuk memecahkan beragam mitos di dalam kehidupan. Maka dari itu perlu pendidikan agama yang mengandung pendidikan karakter agar selalu meghasilkan karya dari pemikiran-pemikiran yang bersifat logis, realistis, dan positif sehingga bermanfaat bagi orang lain dan lingkungan.

    ReplyDelete
  18. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Semua yan ada dan yang mungkin ada selalu terdiri dari tesis dan anti tesis dan keduanya merupakan hal yang penting. Seperti halnya, salah itu penting dalam upaya menuju kebenaran maka kacaupun penting dalam upaya menuju keteraturan. Namun jangan biarkan kekacauan pikiran juga mengacaukan hati kita. Untuk itu kita harus senantiasa selalu meminta petunjuk dari –Nya agar diberikan kejernihan dalam berpikir dan bertindak serta dijauhkan dari kesombongan.

    ReplyDelete
  19. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, terimakasih prof. Marsigit atas elegi di atas. Hikmah dan makna yang tersirat dari dialog di atas adalah berjargon lah wahai setiap manusia pada ruang dan waktu yang tepat. Sehingga ada jargon yang negatif dan positif. Jargon yang berada pada ruang dan waktu yang tidak sesuai, akan berbuah kacau, berbuah kerusakan, berbuah keanehan, berbuah keburukan, berbuah kekuasaan, berbuah kesia-siaan, berbuah penderitaan, berbuah ketidak laziman, dan berbuah negatif lainnya. Sebaik-baik manusia berusahalah untuk mengendalikan dan berjargon lah yang baik dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri namun bagi orang lain. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  20. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Setelah membaca elegi ini saya dapat menyimpulkan dari satu kata saja kita bisa memperluas makna dari kata tersebut, akan tetapi harus tetap disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Dari kata jargon yang dapat di simpulkan adalah sebuah kekacauan, tetapi tidak semua kekacuan itu negatif dan tidak pula semua postif. Kekacauan ada yang bersifat positif dan ada yang bersifat negatif, tergantung kita bagaimana untuk menjadikan sebuah kekacaun negatif akan menjadi sebuah kekacaun yang postif atau kecauan yang ada manfaatnya.

    ReplyDelete
  21. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb
    Yang dapat saya tangkap dari membaca elegi ini bahwa segala sesuatu hadir berpasang-pasangan dan itu merupakan suatu yang indah.Hadirnya jargon memberikan warna di dalam hidup. Maaf jika tidak salah ingat dari elegi sebelumnya bahwa jargon itu dapat dipilah menjadi dua jargon kebaikan jargon keburukan.Segala sesuatu memiliki jargonnya masing-masing. Perihal dapat berpotensi menjadi baik atau atau buruknya jargon tergantung bagaimana kita mempersepsikannya dan menempatkannya sesuai dengan koridornya.Maksudnya sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  22. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap manusia pasti mempunyai masalah, karena dengan adanya permasalahan terbut kita membuat suatu pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Jargon yang dibahas diatas belum tentu bersifat buruk atau pun baik, tergantung ruang dan waktu yang diunakan saat pemakaian jargon tersebuta. Yang saya abil dari eegi di atas untuk membuat suatu pernyataan kita harus menyeseuaikan dengan ruang dan waktu atau bisa disebut tau menempatkan diri dan mengeluarkan pernyataan yang sesuai dengan keadaan.

    ReplyDelete
  23. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi mengenai jargon ini menguraikan apa kekurangan jargon, yang digambarkan bahwa jargon itu merupakan sesuatu yang membawa kekacauan, namun juga belum tentu membawa kekacauan. Jargon bisa menjadi sesuatu yang membawa kekacauan jika tidak sesuai dengan ruang dan waktunya, tidak sesuai pemanfaatannya. Ada suatu tulisan yang menyatakan bahwa "hindari jargon!". Karena memang jargon itu hanya terbatas pada suatu hal saja. Misalnya jargon ekonomi, belum tentu orang-orang yang latar belakangnya tidak pernah mempelajari ekonomi akan mengerti apa yang dimaksudkan dalam jargon ekonomi tersebut. Sehingga, sebagai guru sebaiknya kita bijak dalam menggunakan jargon dalam kegiatan belajar mengajar. Karena tujuan kita mengajar itu agar siswa memahami apa yang ingin kita sampaikan bukan malah membuat siswa semakin tidak memahami. Namun, lain halnya jika guru dan siswa sudah saling memiliki kesepakatan dalam menggunakan jargon dan semuanya dapat mengikuti alur yang akan disampaikan melalui jargon. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya dan yang selalu pak Marsigit sampaikan yaitu harus menjadi bijak dalam memandang suatu hal sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  24. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami istilah “jargon” tidak lepas dari kata “kacau”, padahal istilah kacau, kekacauan biasanya bernilai negatif. Akan tetapi sebenarya jargon bisa bernilai positif atau bisa juga bernilai negatif, hal ini tergantung bagaimana ruang dan waktunya saat jargon ini muncul, dan tergantung bagaimana pola pikir subjek dalam memandang jargon tersebut.

    ReplyDelete