Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai Ramasita, dalam perjalanan kita ini aku melihat ada 5 (lima) gunung, dua diantaranya cukup tinggi dan besar, yang satu sedang dan yang satu kecil, tetapi yang satu kelihatannya besar tetapi masih tertutup kabut. Coba sebutkan nama-nama gunung itu.



Ramasita:
Wahai sang Rakata, gunung yang paling tinggi itu namanya Gunung Ndakiti, sedang yang lebih rendah sedikit namanya Gunung Ndadismen, sedangkan gunung yang tertutup kabut itu tingginya nomor tiga, namanya adalah Gunung Nayahu. Sedang gunung yang tingginya nomor empat itu namanya Gunung Kanwala. Dan gunung yang paling rendah itu namanya Gunung Kasala.

Rakata:
Tentang empat gunung itu aku bisa jelas melihatnya. Tetapi gunung yang nomor tiga itu aku tidak bisa melihatnya. Bagaimana menurut penglihatanmu? Apakah dia masih tertutup kabut?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, ini adalah suratan takdir. Sebetulnya gunung nomor tiga itu menurut penglihatanku bisa dilihat begitu jelasnya. Tiadalah sedikitpun kabut yang menutupinya. Tetapi takdir tetaplah takdir, bahwasanya untuk gunung nomor tiga itu engkau akan mengalami kesulitan melihatnya.

Rakata:
Sebentar Ramasita, aku tidak habis mengerti. Mengapa sekedar melihat gunung saja harus berbeda-beda antara orang satu dengan yang lainnya. Kenapalah aku ditakdirkan sulit melihat sebuah gunung tertentu, sedangka untuk gunung yang lain aku tampak jelas melihatnya.

Ramasita:
Wahai Rakata, ada syarat-syaratnya engkau bisa melihat gunung nomor tiga.

Rakata:
Apa syaratnya. Karena ini telah menjadi tantanganku, maka seberat apapun syaratnya aku ingin bisa melihat gunung nomor tiga itu.

Ramasita:
Syaranya adalah engkau harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal ini engkau paksakan maka engkau akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam di samping gunung itu. Apakah engkau sanggup melakukannya.

Rakata:
Kalau rasa sombong aku berusaha mengatasinya dengan cara mohon ampun, tetapi rasa memiliki itu agak sulit. Karena hingga saat ini aku merasa memiliki banyak hal. Aku memiliki kegiatan, aku memiliki warga, aku memiliki fasilitas, aku memiliki kuasa dst. Bagaimana aku bisa menjalankan tugas-tugasku jika aku tidak boleh mempunyai rasa memiliki.

Ramasita:
Demikianlah ketetapannya. Tinggal engkau sanggup atau tidak.

Rakata:
Aku sanggup, tetapi bagaimana kalau sebentar saja syarat-syarat itu aku jalani.

Ramasita:
Walaupun engkau hanya melihat sekejap perihal gunung itu, tetapi dampaknya luar biasa, dan akan mempengaruhi jalan hidupmu. Maka sifat tidak memiliki dan tidak sombong itu harus menjadi tujuan dan jiwa hidupmu.

Rakata:
Baik saya sanggup

Ramasita:
Maafkan sang Rakata, perkenankanlah aku membuka kacamatamu. Sekarang bagaimana keadaannya?

Rakata:
Ya Tuhan mohon ampunlah diriku. Setelah Ramasita melepas kacamataku, maka aku melihat gunung nomor tiga itu berdiri begitu tegaknya. Terlihat olehku gunung itu menghampar begitu luasnya, tetapi semuanya tampak lebih rendah dariku. Kalihatannya diriku berada di puncak gunung ini. Kamanapun aku melangkah maka semua ngarai dan satwa di dalamnya selalu mengikutiku. Bahkan gunung-gunung yang lain pun menyesuaikan dengan gerak langkahku. Ada yang memberi jalan, ada yang berjalan beriringan, dst. Wah saya menjadi agak bimbang.

Rakata:
Wahai Ramasita apakah makna dari semua ini?

Ramasita:
Itulah suratan takdir wahai sang Rakata. Katahuilah, bahwa sebenar-benar gunung nomor tiga itu adalah dirimu sendiri. Maka tidaklah mudah engkau melihat gunung itu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha meliat dirimu sendiri. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu melihat dirimu sendiri. Itulah maka sebetul-betulnya dirimu adalah gunung Nahayu dan gunung Nahayu itu adalah dirimu.

Rakata:
Ya Tuhan ampunilah diriku yang bebal ini. Dikarenakan pertolongan Ramasitalah aku engkau buka hijabku sehingga aku engkau perkenankan bisa melihat diriku sendiri. Wahai Ramasita, ada peristiwa aneh yang aku alami setelah aku mampu melihat diriku sendiri. Sedang peristiwa aneh itu adalah aku melihat empat gunung yang lain selalu mengajakku bicara. Apa maknanya ini?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, Tuhan telah bermurah hati kepada dirimu maupun kepada diriku. Itu terbukti bahwa sudah dekat saatnya engkau diijinkan menyatukan lima gunung. Ini adalah peristiwa besar yang akan membawa dampak besar bagi kehidupan di sekitar gunung-gunung itu.

Rakata:
Buatlah undangan kepada gunung-gunung itu, kepada semua penghuninya, kepada semua wargaku. Adapun isi undangan adalah mengikuti acara penyatuan lima gunung di Kerajaan Hanuya sini.

45 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Istilah gunung-gunung dalam kutarunggu ini pada hakekatnya adalah suatu keadaan yang ada dan mungkin ada pada diri kita. Gunung adalah istilah buat diri kita sendiri. Ada suatu keadaan dimana kita tidak bisa mencapainya. Ada tingkatan-tingkatan keadaan dan level dari diri manusia. Jika salah seorang sudah mencapai level A maka belum tentu yang lainnya juga sudah mencapainya juga. Oleh karena itu, jangan lah sombong, ikhlaskanlah hati dan pikiran dalam keadaan apapun.

    ReplyDelete
  2. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sangat tertarik dengan elegi 5 gunung ini. Sungguh menginspirasi dan memberi renungan pada diri saya. Elegi yang menceritakan tentang gunung Rakata yang ingin mengetahui sesuatu hal yang luar biasa yang tidak bisa ia lihat selama ini. Sesuatu hal yang luar biasa itulah yang sebenarnya adalah dirinya. Hal tersebut menjadi bahan intropeksi pada diri saya. Memang tidak mudah untuk menilai diri sendiri. Kita membutuhkan kaca mata (sudut pandang) orang lain. Elegi tersebut juga memberikan pembelajaran bahwa manusia hendaknya terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal tersebut dipaksakan, maka akan tergelincir dan terperosok dalam kesombongannya. Karena pada hakikatNya semua apa yang ada hanyalah milik Tuhan Yang Maha Kuasa.

    ReplyDelete
  3. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Menilai diri sendiri merupakan hal yang harus kita lakukan untuk perbaikan-perbaikan kualitas diri kita. Namun bukanlah hal yang mudah untuk menilai diri sendiri. Seringkali masih terbesit subyektifitas kita dalam menilai diri sendiri. Semoga kita mampu menilai diri secara obyektif, untuk perbaikan kualitas diri kita ke depannya.

    ReplyDelete
  4. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Saya teringat dengan percakapan antara Rasulullah dengan sahabatnya ketika mereka pulang dari perang badar, dimana perang ini perang yang paling besar dalam sejarah Islam yang diikuti oleh Nabi. Rasul berkata kepada sahabat, wahai para sahabatku kita baru saja pulang dari perang yang kecil, mendengar itu para sahabat heran, karena menurut mereka perang itulah yang paling besar tapi Nabi menyebutnya dengan perang yang kecil. Maka sahabat bertanya, wahai Nabi apakah ada perang yang lebih besar dari perang badar ini, padahal perang ini sudah sangat besar, maka Nabi menjabat, masih ada perang yang lebih besar, maka sahabat bertanya, perang apa wahai Rasulullah, Rasul menjawab, perang melawan hawa nafsu. Melihat percakapan Nabi dan sahabat tersebut, kita bisa mengambil hikmah bahwa musuh yang paling besar adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  5. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    Dari artikel Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung ini saya mendapatkan apa yang pernah saya rasakan. Sering kali saya lebih mudah melihat kesalahan dan kelemahan orang lain daripada kesalahan dan kelemahan diri saya sendiri. Apalagi untuk mengkritik dan mengoreksi orang lain dapat lebih mudah dilakukan walaupun saya sadar bahwa saya belum tentu benar. Oleh karena itu, dari aritikel ini saya diberi peringatan bahwa harus mampu melakukan introspeksi terhadap diri sendiri sebelum memberikan penilaian kepada orang lain. Tak hanya itu, seharusnya juga sebagai manusia kodratnya adalah tidak boleh sombong karena selalu mempunyai kekurangan sehingga dari sini diharapkan dapat mengintropeksi apa yang kurang dari diri kita.

    ReplyDelete
  6. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Untuk dapat menilai sedang berada dimana diri kita sekarang ini adalah dengan bersikap rendah hati dan merasa bahwa semua yang kita miliki sekarang ini hanyalah titipan yang sewaktu – waktu bisa hilang dengan atau tanpa keinginan kita. Karena yang memiliki seluruh alam semesta beserta isinya hanyalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Untuk merekatkan tali silaturahim sang penguasa ingin mengakrabkan dengan kerabat – kerabatnya.

    ReplyDelete
  7. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Orang-orang saat ini pandai dalam menilai orang lain dengan cara mencari kelemahan dan kekurangan orang lain daripada menilai dirinya sendiri. Tanpa disadari orang-orang inilah yang masuk dalam kategori orang yang sombong. Untuk menjauhi sikap yang seperti ini alangkah baiknya kita perbanyak bersyukur dan introspeksi diri sebelum kita menilai orang lain.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    Sifat sombong sangatlah dibenci oleh Allah SWT. Kita sebagai manusia ciptaan Allah senatiasa menjaga diri dan hati kita agar terhindar dari kesombongan. Karena kesombongan itu akan membuat mata dan hati kita tertutup, apa yang kita lakukan adalah yang paling benar dan orang lain yang salah, tidak mau mengakui kebaikan seseorang, dan lain sebagainya. Sungguh yang demikian itu Allah tidak menyukainya.

    ReplyDelete
  9. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Seperti pepatah yang selalu mengatakan bahwa kuman disebrang lautan tampak tetapi gajah dipelupuk mata tak tampak. Hampir seperti itulah makan yang saya pahami setelah membaca elegi di atas. Namun, dalam ruang dan waktu elegi di atas, yang saya pahami adalah yang tidak tampak bukan cuma sekedar keburukan kita saja, namun juga tentang kebaikan kita. Mengenali diri sendiri sangatlah tida mudah. Syaratnya yaitu kita harus menghilangkan sifat memiliki dan rasa sombong dari diri kita.

    ReplyDelete
  10. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Bahasa lain yang sering kita gunakan adalah merefleksikan diri. Ketika merefleksikan diri kita harus benar-benar berserah diri kepada Allah dan meninggalkan sifat keduniaan kita sehingga kita dalam menyelami diri dalam keadaan murni dan bersih. Seseorag yang mampu mengnali diri sendiri memilki potensi untuk mencapai puncak tertingginya dan terampil dalam menyesuaikan diri dengna ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. dari cerita diatas saya merfleksi bahwa refleksi diri itu penting. Kadang seseorang menilai orang lain seenaknya sendiri, melakukan judgement dengan sebelah mata dan tidak adil. Tapi ia tidak dapat melihat ke dalam dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  12. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Orang sombong ibarat orang yang berdiri di puncak gunung dan melihat orang lain kecil tetapi dirinya sendiri tak menyadari bahwa orang lain melihat dirinya kecil juga. Ini akibat adanya rasa sombong yang menggerogoti diri. Rasa sombong ada karena merasa memiliki banyak kelebihan. Oleh karena itu, jangan biarkan kelebihan yang ada dalam diri lantas menjadikan diri kita sombong dan angkuh karena di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete
  13. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Gunung-gunung ini diibaratkan ilmu. Semakin tinggi gunung maka dia akan semakin mudah ditutup kabut. Sama seperti ilmu, semakin tinggi ilmu, semakin banyak hal-hal buruk yang menutupi dirimu, untuk membuatmu goyah, sombong, dan merasa paling pintar. Semakin sombong maka semakin jauh kita dari diri kita sendiri, bahkan kita tidak akan mengenali diri kita sendiri. Agar kita tidak terjebak dalam kesombongan, dalam melakukan segala sesuatu kita harus ikhlas dalam melakukannya, tujuannya hanya untuk mengharap ridho-Nya.

    ReplyDelete
  14. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia sangat sulit untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri, akan lebih mudah bagi manusia untuk mengenal dan memahami hal-hal lain yang ada di luar dari dirinya. Manusia juga akan lebih mudah menilai orang lain dari pada menilai diri sendiri. Manusia yang memiliki sifat sombong, ego serta rasa memiliki yang tinggi akan sangat sulit untuk dapat menilai dan memahami dirinya sendiri, dalam elegi ini diibaratkan seperti halnya melihat gunung yang tertutup oleh kabut, yangmana gunung tersebut adalah dirinya sendiri. Ketika manusia masih memiliki sifat sombong dan ego yang tinggi maka manusia tidak akan dapat menerima keadaan dirinya yang sebenarnya, barulah ketika manusia melepaskan sifat sombong dan egonya serta dapat berpikir terbuka maupun kritis, maka manusia akan dapat memahami dirinya sendiri. Tidak hanya itu, dengan memahami dirinya sendiri, manusia juga akan memperoleh pengetahuan lebih jauh serta lebih dalam mengenai keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya, sehingga akan memudahkan manusia dalam berinteraksi dan bersatu dengan berbagai macam keadaan yang dihadapinya.

    ReplyDelete
  15. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kesombongan sebagai sebuah sifat yang memiliki konotasi negatif tidak dapat dielak mungkin terjadi atau menyelimuti hati manusia.
    Manusia yang bersifat sombong tidak selamanya menjadi sisi negatif. Dipandang negatif bagi dirinya, mungkin memberikan sisi positif bagi yang lainnya.
    Kesombongan sudah menjadi bagian sifat manusia, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana manusia itu mengelola hatinya yang dapat berakibat pada mengelola kesombngannya sehingga tidak membias dengan buruk di dalam diri, kehidupan bahkan lingkungan sekitarnya.

    ReplyDelete
  16. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Bukanlah hal yang mudah untuk melihat diri sendiri. Dalam melihat diri sendiri haruslah menghilangkan rasa sombong, keikhlasan, hati bersih serta pikiran yang kritis. Seperti dalam hermeneutika hidup, untuk mampu menerjemahkan dan 'diterjemahkan' mengenai hidup kita haruslah menggunakan hati yang bersih dan pikiran yang kritis. Terkadang ketika kita merasa memahami orang lain itu berarti kita hanyalah meng'klaim', karena memahami diri sendiri saja sulit apalagi memahami orang lain

    ReplyDelete
  17. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dengan kerendahan hati kita dapat menilai di titik mana diri kita sekarang ini. Karena dengan rendah hati kita dapat menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman, yang mana pinjaman tersebut akan kita kembalikan ke pemiliknya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, suatu hari nanti.

    ReplyDelete
  18. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas mengilustrasikan kesombongan seseorang yang bernama Rakata. Ia sangat lihai melihat kekurangan orang lain. Akan tetapi, ketika melihat dirinya sendiri, ia mengalami kesulitan. Kesombongannya tersebut justru membutakan dirinya sendiri, sehingga ia merasa sempurna dengan segala kelebihan yang ia miliki, seperti kekuasaan, fasilitas, kegiatan, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan pepatah ‘kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berintropeksi dan selalu membuka diri untuk menerima masukan atau kritikan yang dapat bermanfaat guna kemajuan bersama.

    ReplyDelete
  19. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, elegi tersebut berpesan tentang menghindari rasa sombong agar bisa berbaik hati. Gunung nomor tiga yang dimaksud adalah diri sendiri, maka hendaknya mampu menakhlukkan diri sendiri dari sifat sombong. Jika mampu menakhlukkan sifat sombong maka akan mampu mencapai kebaikan – kebaikan lain dalam hidup. Begitu banyak keindahan hidup yang perlu disyukuri jadi hendaknya menghilangkan rasa sombong agar dapat hidup dengan baik dan rukun dengan orang lain.

    ReplyDelete
  20. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada elegi ini menjelaskan terkait sifat dan karakter manusia yaitu dari dua sisi baik dan buruk. Dimana terkadang ada orang yang senang melihat keburukan orang lain tanpa melihat keburukan atas apa yang telah dilakukan. Intropeksi diri adalah salah satu supaya untuk memperbaiki diri sendiri dengan melihat atau merenungkan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan berikhtiar untuk memperbaikinya dan tidak akan mengulanginya lagi.Salah sifat yang sering kali hinggap di hati seseorang adalah rasa kesombongan. Pada hakekatnya, manusia tidak sepatutnya sombong karena sebenarnya apa yang ada pada diri kita sesungguhnya kesemua itu adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  21. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berusaha mengenal diri sendiri jauh lebih sulit jika jika dibandingan dengan berusaha untuk mengenal orang orang lain. Melihat kekurangan diri sendiri akan lebih sulit jika dibandingkan dengan melihat kesalahan orang lain. Namun hal yang perlu kita lakukan secara terus-menerus adalah berusaha dan berusaha.

    ReplyDelete
  22. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan artiekel tersebut. Maka dalam hal menyatakun lima gunung yang telah disebutkan diatas bahwa gunung itu adlaah pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Yanag kelima gunung itu besar dan tinggi pasti berbeda. Ada yang mudah ada yang sulit. tergantung mnausia itu sendiri saat ruang dan wkatu itu. Tapi kita tahu pasti dalam mencapai suatu gunung pikiran dan hati itu akan memiliki kesulitan unik tersendiri. Ayang mana untuk mencapai hati kita harus melewati keempat yang lainnya.

    ReplyDelete
  23. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Untuk dapat melihat kelebihan orang lain, kita harus menghilangkan rasa memiliki dan rasa sombong dalam diri kita. Dalam elegi tersebut diceritakan bahwa Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala tidak dapat melihat kebesaran Nahayu. Namun ketika mereka menghilangkan rasa memiliki dan rasa sombong, mereka dapat melihat bahwa Nahayu adalah gunung paling tinggi di sana. Oleh karena kita, sungguh tak ada manfaat dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sesungguhnya apa yang kita memiliki hanyalah milik-Nya sehingga tak pantas jika kita menyombongkan diri di hadapan orang lain, lebih-lebih di hadapan Tuhan. Maka berhati-hati lah menjaga hati agar terhindar dari rasa memiliki yang berlebihan hingga membutakan semua, pun harus senantiasa menjaga hati dari sifat sombong.

    ReplyDelete
  24. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia yang pikirannya terkendali oleh keadaan, maka hati dan logika tidak akan berjalan dengan baik.
    Manusia akan merasa kesulitan untuk mengelola sisi buruk dalam diri manusia tersebut. Sesungguhnya sifat sombong adalah sifat yang sangat rawan menimpa manusia ketika merasa memiliki suatu kelebihan.
    Sifat sombong ini akan menutup manusia untuk melihat hal-hal baik yang ada disekitar sebab sangat yakin dengan kemampuan diri sendiri, dengan kesombongan terkadang akan menyulitkan manusia dalam membuka mata untuk melihat ke dalam dirinya sendiri dan mengingatkan bahwa siapa sejatinya manusia.
    Olehnya karenanya sudah menjadi ewajiban jangan berlaku sombong atas apa yang telah dimiliki sebab harus selalu mengingat darimana manusia berasal dan akan kembali kemana.

    ReplyDelete
  25. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Manusia diciptakan di dunia ini tidaklah sempurna, sebaik apapun manusia di dunia ini tentunya mempunyai kekurangan, ada sifat manusia yang baik ada pula yang buruk. Manusia adalah makhluk yang lemah maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya lebih sempurna.

    ReplyDelete
  26. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitulah hakekat seseorang memegang ilmu. Tak perlulah sombong dengan ilmu yang dipunya. Karena itu semua hanyalah titipan dari Tuhan. Dan tak perlulah sombong atas semua yang engkau miliki karena itu hanya titipan. Maka syukuri apa yang engkau miliki. Dan manfaatkan sebaik-baiknya serta tetap berpegang teguh kepada Tuhan sang pemilik segalanya.

    ReplyDelete
  27. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Seorang pemimpin akan sulit melihat keadaan rakyatnya jika ia masih mempunyai sifat sombong, karena orang yang mempunyai sifat sombong tidak akan pernah mau peduli atau melihat orang lain karena yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya yang paling sempurna dan paling diperhatikan. Sifat sombong harus kita jauhkan dari kehidupan kita, sombong merupakan penyakit hati yang dapat merusak akhlak dan interaksi dengan sesama individu.

    ReplyDelete
  28. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Elegi di atas mengilustrasikan kesombongan seseorang. Kita dapat menilai orang lain karena kita dapat melihat orang lain. Tetapi kita akan kesulitan untuk melihat diri kita sendiri. Terkadang kita merasa lebih baik daripada orang lain padahal itu belum tentu. Rasa seperti ini timbul karena kita belum mampu untuk melihat diri kita sendiri. Kesombongan bisa membutakan diri sendiri, sehingga ia merasa sempurna dengan segala kelebihan yang ia miliki. Hal ini sesuai dengan pepatah ‘kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berintropeksi dan selalu membuka diri untuk menerima masukan atau kritikan yang dapat bermanfaat guna kemajuan bersama dan marilah kita banyak-banyak mohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongan-kesombongan yang sering kita perbuat.

    ReplyDelete
  29. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Menilai diri serta intospeksi diri harus dilakukan oleh setiap manusia agar terhindar dari sikap sombong serta meremehkan orang lain. Meskipun tidaklah mudah untuk menilai diri kita sendiri bahkan lebih mudah untuk menilai orang lain, oleh karena itu periksalah amalmu dan juga hatinya secara kaffah. Semoga Alloh melindungi kita dari sifat yang dilaknati tersebut.

    ReplyDelete
  30. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang manusia biasa pastilah diri kita jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong. Sering kali kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan kesombongan meskipun itu terhadap diri kita sendiri. Misalnya saja saya merasa tidak enak badan, namun saya tidak mau minum obat apalagi pergi ke dokter. Perbuatan saya tersebut merupakan salah contoh kesombongan saya terhadap diri saya sendiri, terutama terhadap badan saya.

    ReplyDelete
  31. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang manusia biasa, sering kali kita juga lebih mudah melihat kesalahan dan kelemahan orang lain daripada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Kita lebih mudah mengkritik dan mengoreksi orang lain, padahal belum tentu kita yang benar. Oleh karena itu, kita harus mampu melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri sebelum kita memberikan penilaian kepada orang lain. Kita juga harus mampu menghilangkan kesombongan dalam diri kita agar kita dapat melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  32. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam melihat kesalahan dari orang lain memang sebuah perkara yang sangat mudah. Namun saat melihat kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri bukan merupakan perkara yang mudah. Ini adalah fenomena yang akhir-akhir ini sangat sering terjadi. Hal ini tidak akan membuat kita menjadi maju akan tetapi membuat kita semakin mundur. Sehingga sebaiknya kita harus sering intropeksi diri agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, lebih baik lagi dalam mengurangi kesalahan kita.

    ReplyDelete
  33. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas diceritakan bahwa rakata tidak dapat melihat gunung ke-3 karena tertutup kabut. Untuk melihat gunung ketiga dia harus menghilangkan sikap sombong dan rasa memiliki. Setelah menghilangkan rasa sombong dan rasa memiliki dia dapat melihat gunung ke-3 dan ternyata gunung ke-3 adalah rakata sendiri.

    ReplyDelete
  34. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dari elegi diatas adalah untuk dapat melihat diri sendiri kita harus menghilangkan sifat sombong dan rasa memiliki. Banyak dari manusia yang memiliki kesombongan dan merasa memiliki segalanya sehingga ia tidak dapat mengenal dirinya. Dia juga sulit mengintropeksi diri. Dia tidak dapat melihat kesalahan dirinya sendiri dan selalu meyalahkan orang lain. Ibrat pribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak kuman di sebrang lautan tampak. Semoga kita tidak menjadi orang yang seperti itu.

    ReplyDelete
  35. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia diciptakan dengan ribuan sifat dan watak yang berbeda, hal ini yang membedakan antara orang satu dengan yang lainnya. Kesadaran akan adanya keragaman dan perbedaan ini yang mutlak diperlukan untuk kelangsungan setiap hubungan baik personal maupun interaksi sosial. Sebagai manusia biasa pasti kita memiliki kekurangan, terkadang kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kelebihan orang lain dan kelebihan pada diri kita bisa menjadi kekurangan orang lain. Kekurangan orang lain kerap kali menyulut konflik ketika kita tidak siap dan tidak mau menerimanya. Kelebihan orang lain pun tak jarang membuat kita merasa iri, benci memusuhi dan akhirnya jadi dengki. Kekurangan adalah sisi ketidaksempurnaan yang patut kita lengkapi dengan pengertian, serta keikhlasan untuk membantu memperbaikinya. Sedangkan kelebihan orang merupakan anugerah dari yang maha kuasa yang sangat pantas kita syukuri.

    ReplyDelete
  36. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas saya belajar bahwa untuk menilai diri sendiri atau merefleksi diri sendiri itu tidak mudah. Kita harus melepaskan rasa memiliki dan rasa sombong yang ada. Sehingga dengan melepas itu semua kita bisa berpikir jernih untuk merefleksi diri sendiri.

    ReplyDelete
  37. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya, maksud dari melepaskan rasa memiliki adalah jangan merasa bahwa apa yang ada dalam diri itu milik sendiri, tetapi harus meyakini bahwa itu semua milik Tuhan YME. Ilmu, harta, dan apapun itu hanyalah titipan dari Tuhan YME. Sehingga janganlah kita lupa untuk memohon ampun kepada Tuhan YME

    ReplyDelete
  38. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Manusia memang tempatnya luput dan salah, karena manusia bukanlah makhluk yang sempurna. Untuk itu, manusia perlu melakukan introspeksi diri. Instrospeksi diri sangatlah penting, tidak hanya instrospeksi kesalahan orang lain. Biasanya manusia sangat mudah mencari kesalahan orang lain, tetapi tidak nampak dengan kesalahan sendiri. Untuk itu, instrospeksi diri sangat dibutuhkan untuk memperbaiki diri dan selalu meningkatkan kualitas diri.

    ReplyDelete
  39. Sifat sombong memang menutup manusia untuk melihat kebaikan yang ada disekitar atau kebaikan yang dilakukan oleh orang lain. Dengan kesombongan hanya sisi negatif dari orang lain yang dipikirkannya. Misal ketika orang lain membantu akan dikatakan pasti ada maunya atau merendahkan nilai bantuan yang diberikan. Kesombongan menutup mata hati dan pikiran. Bersyukur atas apa yang dikaruniakan kepada kita itu lebih baik dan sering memohon ampun kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  40. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Amanah yang diberikan oleh Allah kepada itu merupakan sebuah cobaan. Ketika kita menyadari hal tersebut, maka kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh menjaga amanah tersebut. layaknya sebuah bencana. Ketika datang melanda, maka sebenarnya hidup kita akan “porak poranda”. Lalu kita membenahinya sedikit demi sedikit hingga selesailah masa krisis tersebut dan hidup kita kan kembali seperti semula. Akan tetapi bagi orang yang tidak menyadarinya. Mereka justru akan bangga dan sombong karenanya. Padahal kelak akan dimintai pertanggung jawaban ketika di akhirat. Dan apa sebenarnya yang kita sombongkan? Padahal amanah tersebut hanyalah sebuah pemberian. Ketika kita tidak dapat menjaganya dengan baik, mungkin Allah akan mengambilnya kembali pada waktu yang tidak kita duga.

    ReplyDelete
  41. Anisa wahyu nur khasanah
    14301241010
    S1 pendidikan matematika

    Mengenal diri sendiri memang bukanah hal yang mudh. Sering kali kita mudah melihat kekurangan atau kesalahan orang lain, tapi untuk melihat kakurangan atau kesalahan diri sendiri begitu sulitnya. Bukan hal yang sulit untuk mengkritik seseorang, tapi kita sendiri belum tentu benar. Sering kali kita bersifat sombng pada diri sendiri tanpa kita sadari.

    ReplyDelete
  42. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap manusia memiliki pengetahuan yang berbeda-beda dan dengan pengetahuan yang berbeda-beda itu pula antar setiap manusia saling menghormati, tidak saling sombong antara satu dengan lainnya. Dan setiap manusia seyogyanya merefleksikan dirinya sendiri. Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah karena untuk dapat melihat diri kita sendiri diperlukan pemikiran yang kritis, tidak merasa memiliki, dan tidak sombong karena dengan kesombongan ilmu yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa.

    ReplyDelete
  43. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Seorang Muslim yang baik, dituntut untuk bisa bergaul dengan apik di tengah masyarakat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda: “Seorang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar terhadap gangguan dari mereka, itu lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. Bukhari]. Sedangkan bergaul di tengah masyarakat, modal utamanya adalah akhlak mulia. Dan sesungguhnya akhlak yang mulia itu sendiri adalah cerminan kesempurnaan iman seorang muslim. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda: “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq-nya” (HR. Tirmidzi)

    ReplyDelete
  44. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Sifat sombong dan rasa memiliki merupakan sifat negatif. Sifat tersebut dapat membuat seseorang yang memilikinya menjadi tidak mengenal siapa dirinya sendiri. Sifat sombong mejadikan pemilik dari sifat tersebut hanya memandang rendah orang lain disekitarnya namun tidak bisa introspeksi diri. Dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis maka kita dapat melihat diri kita sendiri. Kita dapat becermin dan mengintrospeksi diri ini sehingga dengan begitu maka kita tidak menjadi “merasa bisa” namun menjadi “bisa merasa”.

    ReplyDelete
  45. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Banyak manusia yang sombong sehingga tidak menyadari kekurangan pada dirinya sendiri. Agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sebenarnya diri kita, dan mengetahui kekurangan apa saja yang kita miliki, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia mau bertingkah sombong.

    ReplyDelete