Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai Ramasita, dalam perjalanan kita ini aku melihat ada 5 (lima) gunung, dua diantaranya cukup tinggi dan besar, yang satu sedang dan yang satu kecil, tetapi yang satu kelihatannya besar tetapi masih tertutup kabut. Coba sebutkan nama-nama gunung itu.



Ramasita:
Wahai sang Rakata, gunung yang paling tinggi itu namanya Gunung Ndakiti, sedang yang lebih rendah sedikit namanya Gunung Ndadismen, sedangkan gunung yang tertutup kabut itu tingginya nomor tiga, namanya adalah Gunung Nayahu. Sedang gunung yang tingginya nomor empat itu namanya Gunung Kanwala. Dan gunung yang paling rendah itu namanya Gunung Kasala.

Rakata:
Tentang empat gunung itu aku bisa jelas melihatnya. Tetapi gunung yang nomor tiga itu aku tidak bisa melihatnya. Bagaimana menurut penglihatanmu? Apakah dia masih tertutup kabut?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, ini adalah suratan takdir. Sebetulnya gunung nomor tiga itu menurut penglihatanku bisa dilihat begitu jelasnya. Tiadalah sedikitpun kabut yang menutupinya. Tetapi takdir tetaplah takdir, bahwasanya untuk gunung nomor tiga itu engkau akan mengalami kesulitan melihatnya.

Rakata:
Sebentar Ramasita, aku tidak habis mengerti. Mengapa sekedar melihat gunung saja harus berbeda-beda antara orang satu dengan yang lainnya. Kenapalah aku ditakdirkan sulit melihat sebuah gunung tertentu, sedangka untuk gunung yang lain aku tampak jelas melihatnya.

Ramasita:
Wahai Rakata, ada syarat-syaratnya engkau bisa melihat gunung nomor tiga.

Rakata:
Apa syaratnya. Karena ini telah menjadi tantanganku, maka seberat apapun syaratnya aku ingin bisa melihat gunung nomor tiga itu.

Ramasita:
Syaranya adalah engkau harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal ini engkau paksakan maka engkau akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam di samping gunung itu. Apakah engkau sanggup melakukannya.

Rakata:
Kalau rasa sombong aku berusaha mengatasinya dengan cara mohon ampun, tetapi rasa memiliki itu agak sulit. Karena hingga saat ini aku merasa memiliki banyak hal. Aku memiliki kegiatan, aku memiliki warga, aku memiliki fasilitas, aku memiliki kuasa dst. Bagaimana aku bisa menjalankan tugas-tugasku jika aku tidak boleh mempunyai rasa memiliki.

Ramasita:
Demikianlah ketetapannya. Tinggal engkau sanggup atau tidak.

Rakata:
Aku sanggup, tetapi bagaimana kalau sebentar saja syarat-syarat itu aku jalani.

Ramasita:
Walaupun engkau hanya melihat sekejap perihal gunung itu, tetapi dampaknya luar biasa, dan akan mempengaruhi jalan hidupmu. Maka sifat tidak memiliki dan tidak sombong itu harus menjadi tujuan dan jiwa hidupmu.

Rakata:
Baik saya sanggup

Ramasita:
Maafkan sang Rakata, perkenankanlah aku membuka kacamatamu. Sekarang bagaimana keadaannya?

Rakata:
Ya Tuhan mohon ampunlah diriku. Setelah Ramasita melepas kacamataku, maka aku melihat gunung nomor tiga itu berdiri begitu tegaknya. Terlihat olehku gunung itu menghampar begitu luasnya, tetapi semuanya tampak lebih rendah dariku. Kalihatannya diriku berada di puncak gunung ini. Kamanapun aku melangkah maka semua ngarai dan satwa di dalamnya selalu mengikutiku. Bahkan gunung-gunung yang lain pun menyesuaikan dengan gerak langkahku. Ada yang memberi jalan, ada yang berjalan beriringan, dst. Wah saya menjadi agak bimbang.

Rakata:
Wahai Ramasita apakah makna dari semua ini?

Ramasita:
Itulah suratan takdir wahai sang Rakata. Katahuilah, bahwa sebenar-benar gunung nomor tiga itu adalah dirimu sendiri. Maka tidaklah mudah engkau melihat gunung itu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha meliat dirimu sendiri. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu melihat dirimu sendiri. Itulah maka sebetul-betulnya dirimu adalah gunung Nahayu dan gunung Nahayu itu adalah dirimu.

Rakata:
Ya Tuhan ampunilah diriku yang bebal ini. Dikarenakan pertolongan Ramasitalah aku engkau buka hijabku sehingga aku engkau perkenankan bisa melihat diriku sendiri. Wahai Ramasita, ada peristiwa aneh yang aku alami setelah aku mampu melihat diriku sendiri. Sedang peristiwa aneh itu adalah aku melihat empat gunung yang lain selalu mengajakku bicara. Apa maknanya ini?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, Tuhan telah bermurah hati kepada dirimu maupun kepada diriku. Itu terbukti bahwa sudah dekat saatnya engkau diijinkan menyatukan lima gunung. Ini adalah peristiwa besar yang akan membawa dampak besar bagi kehidupan di sekitar gunung-gunung itu.

Rakata:
Buatlah undangan kepada gunung-gunung itu, kepada semua penghuninya, kepada semua wargaku. Adapun isi undangan adalah mengikuti acara penyatuan lima gunung di Kerajaan Hanuya sini.

66 comments:

  1. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Gunung-gunung ini diibaratkan ilmu. Semakin tinggi gunung maka dia akan semakin mudah ditutup kabut. Sama seperti ilmu, semakin tinggi ilmu, semakin banyak hal-hal buruk yang menutupi dirimu, untuk membuatmu goyah, sombong, dan merasa paling pintar. Semakin sombong maka semakin jauh kita dari diri kita sendiri, bahkan kita tidak akan mengenali diri kita sendiri. Agar kita tidak terjebak dalam kesombongan, dalam melakukan segala sesuatu kita harus ikhlas dalam melakukannya, tujuannya hanya untuk mengharap ridho-Nya.

    ReplyDelete
  2. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Manusia sangat sulit untuk mengenal dan memahami dirinya sendiri, akan lebih mudah bagi manusia untuk mengenal dan memahami hal-hal lain yang ada di luar dari dirinya. Manusia juga akan lebih mudah menilai orang lain dari pada menilai diri sendiri. Manusia yang memiliki sifat sombong, ego serta rasa memiliki yang tinggi akan sangat sulit untuk dapat menilai dan memahami dirinya sendiri, dalam elegi ini diibaratkan seperti halnya melihat gunung yang tertutup oleh kabut, yangmana gunung tersebut adalah dirinya sendiri. Ketika manusia masih memiliki sifat sombong dan ego yang tinggi maka manusia tidak akan dapat menerima keadaan dirinya yang sebenarnya, barulah ketika manusia melepaskan sifat sombong dan egonya serta dapat berpikir terbuka maupun kritis, maka manusia akan dapat memahami dirinya sendiri. Tidak hanya itu, dengan memahami dirinya sendiri, manusia juga akan memperoleh pengetahuan lebih jauh serta lebih dalam mengenai keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya, sehingga akan memudahkan manusia dalam berinteraksi dan bersatu dengan berbagai macam keadaan yang dihadapinya.

    ReplyDelete
  3. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Kesombongan sebagai sebuah sifat yang memiliki konotasi negatif tidak dapat dielak mungkin terjadi atau menyelimuti hati manusia.
    Manusia yang bersifat sombong tidak selamanya menjadi sisi negatif. Dipandang negatif bagi dirinya, mungkin memberikan sisi positif bagi yang lainnya.
    Kesombongan sudah menjadi bagian sifat manusia, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana manusia itu mengelola hatinya yang dapat berakibat pada mengelola kesombngannya sehingga tidak membias dengan buruk di dalam diri, kehidupan bahkan lingkungan sekitarnya.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Bukanlah hal yang mudah untuk melihat diri sendiri. Dalam melihat diri sendiri haruslah menghilangkan rasa sombong, keikhlasan, hati bersih serta pikiran yang kritis. Seperti dalam hermeneutika hidup, untuk mampu menerjemahkan dan 'diterjemahkan' mengenai hidup kita haruslah menggunakan hati yang bersih dan pikiran yang kritis. Terkadang ketika kita merasa memahami orang lain itu berarti kita hanyalah meng'klaim', karena memahami diri sendiri saja sulit apalagi memahami orang lain

    ReplyDelete
  5. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dengan kerendahan hati kita dapat menilai di titik mana diri kita sekarang ini. Karena dengan rendah hati kita dapat menyadari bahwa semua yang kita miliki hanyalah pinjaman, yang mana pinjaman tersebut akan kita kembalikan ke pemiliknya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa, suatu hari nanti.

    ReplyDelete
  6. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi di atas mengilustrasikan kesombongan seseorang yang bernama Rakata. Ia sangat lihai melihat kekurangan orang lain. Akan tetapi, ketika melihat dirinya sendiri, ia mengalami kesulitan. Kesombongannya tersebut justru membutakan dirinya sendiri, sehingga ia merasa sempurna dengan segala kelebihan yang ia miliki, seperti kekuasaan, fasilitas, kegiatan, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan pepatah ‘kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berintropeksi dan selalu membuka diri untuk menerima masukan atau kritikan yang dapat bermanfaat guna kemajuan bersama.

    ReplyDelete
  7. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Menurut saya, elegi tersebut berpesan tentang menghindari rasa sombong agar bisa berbaik hati. Gunung nomor tiga yang dimaksud adalah diri sendiri, maka hendaknya mampu menakhlukkan diri sendiri dari sifat sombong. Jika mampu menakhlukkan sifat sombong maka akan mampu mencapai kebaikan – kebaikan lain dalam hidup. Begitu banyak keindahan hidup yang perlu disyukuri jadi hendaknya menghilangkan rasa sombong agar dapat hidup dengan baik dan rukun dengan orang lain.

    ReplyDelete
  8. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Pada elegi ini menjelaskan terkait sifat dan karakter manusia yaitu dari dua sisi baik dan buruk. Dimana terkadang ada orang yang senang melihat keburukan orang lain tanpa melihat keburukan atas apa yang telah dilakukan. Intropeksi diri adalah salah satu supaya untuk memperbaiki diri sendiri dengan melihat atau merenungkan atas kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan dan berikhtiar untuk memperbaikinya dan tidak akan mengulanginya lagi.Salah sifat yang sering kali hinggap di hati seseorang adalah rasa kesombongan. Pada hakekatnya, manusia tidak sepatutnya sombong karena sebenarnya apa yang ada pada diri kita sesungguhnya kesemua itu adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh pemiliknya yaitu Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berusaha mengenal diri sendiri jauh lebih sulit jika jika dibandingan dengan berusaha untuk mengenal orang orang lain. Melihat kekurangan diri sendiri akan lebih sulit jika dibandingkan dengan melihat kesalahan orang lain. Namun hal yang perlu kita lakukan secara terus-menerus adalah berusaha dan berusaha.

    ReplyDelete
  10. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan artiekel tersebut. Maka dalam hal menyatakun lima gunung yang telah disebutkan diatas bahwa gunung itu adlaah pikiran, hati, potensi, keterampilan, dan pengalaman. Yanag kelima gunung itu besar dan tinggi pasti berbeda. Ada yang mudah ada yang sulit. tergantung mnausia itu sendiri saat ruang dan wkatu itu. Tapi kita tahu pasti dalam mencapai suatu gunung pikiran dan hati itu akan memiliki kesulitan unik tersendiri. Ayang mana untuk mencapai hati kita harus melewati keempat yang lainnya.

    ReplyDelete
  11. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Untuk dapat melihat kelebihan orang lain, kita harus menghilangkan rasa memiliki dan rasa sombong dalam diri kita. Dalam elegi tersebut diceritakan bahwa Ndakiti, Ndadismen, Kanwala dan Kasala tidak dapat melihat kebesaran Nahayu. Namun ketika mereka menghilangkan rasa memiliki dan rasa sombong, mereka dapat melihat bahwa Nahayu adalah gunung paling tinggi di sana. Oleh karena kita, sungguh tak ada manfaat dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sesungguhnya apa yang kita memiliki hanyalah milik-Nya sehingga tak pantas jika kita menyombongkan diri di hadapan orang lain, lebih-lebih di hadapan Tuhan. Maka berhati-hati lah menjaga hati agar terhindar dari rasa memiliki yang berlebihan hingga membutakan semua, pun harus senantiasa menjaga hati dari sifat sombong.

    ReplyDelete
  12. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Manusia yang pikirannya terkendali oleh keadaan, maka hati dan logika tidak akan berjalan dengan baik.
    Manusia akan merasa kesulitan untuk mengelola sisi buruk dalam diri manusia tersebut. Sesungguhnya sifat sombong adalah sifat yang sangat rawan menimpa manusia ketika merasa memiliki suatu kelebihan.
    Sifat sombong ini akan menutup manusia untuk melihat hal-hal baik yang ada disekitar sebab sangat yakin dengan kemampuan diri sendiri, dengan kesombongan terkadang akan menyulitkan manusia dalam membuka mata untuk melihat ke dalam dirinya sendiri dan mengingatkan bahwa siapa sejatinya manusia.
    Olehnya karenanya sudah menjadi ewajiban jangan berlaku sombong atas apa yang telah dimiliki sebab harus selalu mengingat darimana manusia berasal dan akan kembali kemana.

    ReplyDelete
  13. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Manusia diciptakan di dunia ini tidaklah sempurna, sebaik apapun manusia di dunia ini tentunya mempunyai kekurangan, ada sifat manusia yang baik ada pula yang buruk. Manusia adalah makhluk yang lemah maka pantaskah makhluk yang lemah itu bermega-megahan dan sombong di hadapan penguasa langit dan bumi? Namun fenomena dan realita yang ada masih banyak manusia itu yang lupa hakikat dan jati dirinya sehingga membuat dia sombong dan angkuh untuk menerima kebenaran, merendahkan orang lain, serta memandang dirinya lebih sempurna.

    ReplyDelete
  14. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Begitulah hakekat seseorang memegang ilmu. Tak perlulah sombong dengan ilmu yang dipunya. Karena itu semua hanyalah titipan dari Tuhan. Dan tak perlulah sombong atas semua yang engkau miliki karena itu hanya titipan. Maka syukuri apa yang engkau miliki. Dan manfaatkan sebaik-baiknya serta tetap berpegang teguh kepada Tuhan sang pemilik segalanya.

    ReplyDelete
  15. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Seorang pemimpin akan sulit melihat keadaan rakyatnya jika ia masih mempunyai sifat sombong, karena orang yang mempunyai sifat sombong tidak akan pernah mau peduli atau melihat orang lain karena yang ada dalam pikirannya hanyalah dirinya yang paling sempurna dan paling diperhatikan. Sifat sombong harus kita jauhkan dari kehidupan kita, sombong merupakan penyakit hati yang dapat merusak akhlak dan interaksi dengan sesama individu.

    ReplyDelete
  16. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Elegi di atas mengilustrasikan kesombongan seseorang. Kita dapat menilai orang lain karena kita dapat melihat orang lain. Tetapi kita akan kesulitan untuk melihat diri kita sendiri. Terkadang kita merasa lebih baik daripada orang lain padahal itu belum tentu. Rasa seperti ini timbul karena kita belum mampu untuk melihat diri kita sendiri. Kesombongan bisa membutakan diri sendiri, sehingga ia merasa sempurna dengan segala kelebihan yang ia miliki. Hal ini sesuai dengan pepatah ‘kuman di seberang laut tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak’. Oleh karena itu, kita hendaknya selalu berintropeksi dan selalu membuka diri untuk menerima masukan atau kritikan yang dapat bermanfaat guna kemajuan bersama dan marilah kita banyak-banyak mohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongan-kesombongan yang sering kita perbuat.

    ReplyDelete
  17. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Menilai diri serta intospeksi diri harus dilakukan oleh setiap manusia agar terhindar dari sikap sombong serta meremehkan orang lain. Meskipun tidaklah mudah untuk menilai diri kita sendiri bahkan lebih mudah untuk menilai orang lain, oleh karena itu periksalah amalmu dan juga hatinya secara kaffah. Semoga Alloh melindungi kita dari sifat yang dilaknati tersebut.

    ReplyDelete
  18. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang manusia biasa pastilah diri kita jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong. Sering kali kita tidak sadar bahwa kita telah melakukan kesombongan meskipun itu terhadap diri kita sendiri. Misalnya saja saya merasa tidak enak badan, namun saya tidak mau minum obat apalagi pergi ke dokter. Perbuatan saya tersebut merupakan salah contoh kesombongan saya terhadap diri saya sendiri, terutama terhadap badan saya.

    ReplyDelete
  19. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Sebagai seorang manusia biasa, sering kali kita juga lebih mudah melihat kesalahan dan kelemahan orang lain daripada kesalahan dan kelemahan diri kita sendiri. Kita lebih mudah mengkritik dan mengoreksi orang lain, padahal belum tentu kita yang benar. Oleh karena itu, kita harus mampu melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri sebelum kita memberikan penilaian kepada orang lain. Kita juga harus mampu menghilangkan kesombongan dalam diri kita agar kita dapat melakukan introspeksi terhadap diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  20. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam melihat kesalahan dari orang lain memang sebuah perkara yang sangat mudah. Namun saat melihat kesalahan yang dilakukan oleh diri sendiri bukan merupakan perkara yang mudah. Ini adalah fenomena yang akhir-akhir ini sangat sering terjadi. Hal ini tidak akan membuat kita menjadi maju akan tetapi membuat kita semakin mundur. Sehingga sebaiknya kita harus sering intropeksi diri agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, lebih baik lagi dalam mengurangi kesalahan kita.

    ReplyDelete
  21. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam elegi di atas diceritakan bahwa rakata tidak dapat melihat gunung ke-3 karena tertutup kabut. Untuk melihat gunung ketiga dia harus menghilangkan sikap sombong dan rasa memiliki. Setelah menghilangkan rasa sombong dan rasa memiliki dia dapat melihat gunung ke-3 dan ternyata gunung ke-3 adalah rakata sendiri.

    ReplyDelete
  22. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Yang dapat saya pahami dari elegi diatas adalah untuk dapat melihat diri sendiri kita harus menghilangkan sifat sombong dan rasa memiliki. Banyak dari manusia yang memiliki kesombongan dan merasa memiliki segalanya sehingga ia tidak dapat mengenal dirinya. Dia juga sulit mengintropeksi diri. Dia tidak dapat melihat kesalahan dirinya sendiri dan selalu meyalahkan orang lain. Ibrat pribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak kuman di sebrang lautan tampak. Semoga kita tidak menjadi orang yang seperti itu.

    ReplyDelete
  23. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Manusia diciptakan dengan ribuan sifat dan watak yang berbeda, hal ini yang membedakan antara orang satu dengan yang lainnya. Kesadaran akan adanya keragaman dan perbedaan ini yang mutlak diperlukan untuk kelangsungan setiap hubungan baik personal maupun interaksi sosial. Sebagai manusia biasa pasti kita memiliki kekurangan, terkadang kekurangan yang kita miliki bisa menjadi kelebihan orang lain dan kelebihan pada diri kita bisa menjadi kekurangan orang lain. Kekurangan orang lain kerap kali menyulut konflik ketika kita tidak siap dan tidak mau menerimanya. Kelebihan orang lain pun tak jarang membuat kita merasa iri, benci memusuhi dan akhirnya jadi dengki. Kekurangan adalah sisi ketidaksempurnaan yang patut kita lengkapi dengan pengertian, serta keikhlasan untuk membantu memperbaikinya. Sedangkan kelebihan orang merupakan anugerah dari yang maha kuasa yang sangat pantas kita syukuri.

    ReplyDelete
  24. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Setiap manusia memiliki pengetahuan yang berbeda-beda dan dengan pengetahuan yang berbeda-beda itu pula antar setiap manusia saling menghormati, tidak saling sombong antara satu dengan lainnya. Dan setiap manusia seyogyanya merefleksikan dirinya sendiri. Tentu hal ini bukanlah hal yang mudah karena untuk dapat melihat diri kita sendiri diperlukan pemikiran yang kritis, tidak merasa memiliki, dan tidak sombong karena dengan kesombongan ilmu yang kita miliki tidak akan berarti apa-apa.

    ReplyDelete
  25. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Seorang Muslim yang baik, dituntut untuk bisa bergaul dengan apik di tengah masyarakat. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda: “Seorang mukmin yang berbaur dengan masyarakat dan bersabar terhadap gangguan dari mereka, itu lebih besar pahalanya daripada mukmin yang tidak berbaur dengan masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka” (HR. Bukhari]. Sedangkan bergaul di tengah masyarakat, modal utamanya adalah akhlak mulia. Dan sesungguhnya akhlak yang mulia itu sendiri adalah cerminan kesempurnaan iman seorang muslim. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda: “Orang beriman yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaq-nya” (HR. Tirmidzi)

    ReplyDelete
  26. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Sifat sombong dan rasa memiliki merupakan sifat negatif. Sifat tersebut dapat membuat seseorang yang memilikinya menjadi tidak mengenal siapa dirinya sendiri. Sifat sombong mejadikan pemilik dari sifat tersebut hanya memandang rendah orang lain disekitarnya namun tidak bisa introspeksi diri. Dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis maka kita dapat melihat diri kita sendiri. Kita dapat becermin dan mengintrospeksi diri ini sehingga dengan begitu maka kita tidak menjadi “merasa bisa” namun menjadi “bisa merasa”.

    ReplyDelete
  27. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Banyak manusia yang sombong sehingga tidak menyadari kekurangan pada dirinya sendiri. Agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sebenarnya diri kita, dan mengetahui kekurangan apa saja yang kita miliki, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia mau bertingkah sombong.

    ReplyDelete
  28. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Refleksi, merenung, melihat diri sendiri ke dalam dan sedalam-dalamnya. Sulit bagiku, bagimana menurutmu? apakah sulit pula? Betapa tidak sulit, ketika ku lihat diri ini, kesombongan muncul, seakan menutup dan membalut borok borok dalam hidupku. Memang sulit. Mari kita berusaha dan jangan lupa iringi dengan doa.

    "Itulah suratan takdir wahai sang Rakata. Katahuilah, bahwa sebenar-benar gunung nomor tiga itu adalah dirimu sendiri. Maka tidaklah mudah engkau melihat gunung itu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha meliat dirimu sendiri. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu melihat dirimu sendiri. Itulah maka sebetul-betulnya dirimu adalah gunung Nahayu dan gunung Nahayu itu adalah dirimu"

    Benar-benar menyentuh

    ReplyDelete
  29. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Gunung ketiga disini diartikan sebagai diri kita sendiri. Kita sangat mudah menilai orang lain, menilai kelebihan dan kekurangan orang lain, namun kita sangat jarang dan hampir tidak bisa menilai diri sendiri. Ini merupakan gambaran agar kita merefleksikan diri. Sebagai manusia ciptaan Allah SWT kita memang diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna, namun kita tetap diciptakan dengan berbagai kekurangan dan kelebihan, sehingga tidaklah pantas bagi kita untuk menyombongkan diri, karena semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah sementara, hanya titipan Allah SWT.

    ReplyDelete
  30. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Terkadang ketika seseorang melihat keburukan orang lain sekecil apapun tetap terlihat, tetapi sebesar keburukan diri sendiri justru tak pernah bisa melihat. Maka pentingnya refleksi diri. Refleksi yang dilakukan harus terbebas dari kesombongan dan rasa memiliki. Semua itu ditujukan hanya untuk memohon ampunan Tuhan atas segala kesalahan yang dilakukan, atas segala kesombongan dan senantiasa memohon perlindungan Tuhan agar dijauhkan dari hal yang dimurkai-Nya.

    ReplyDelete
  31. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Elegi ini mempunyai pesan yang sangat menyentuh sekali. Rakata pada awalnya tidak bisa melihat gunung ketiga karena di dalam hatinya ada rasa sombong dan rasa memiliki, tetapi ketika ia menghilangkan rasa sombong dan rasa memilikinya, ia dapat melihat gunung ketiga yang mana gunung ketiga ini ternyata adalah dirinya sendiri. Begitu juga kehidupan kita, kita tidak akan dapat menilai diri kita sendiri jika di hati ada rasa sombong dan rasa memiliki. Kita akan merasa bahwa diri kitalah yang terbaik dibandingkan dengan yang lain. Sombong dan rasa memiliki ini juga akan menjauhkan diri kita dari orang lain dan Allah SWT. Oleh karena itu, jauhilah sifat sombong dan rasa memiliki yang sebenarnya itu adalah bukan hak milik kita agar kita terbebas dari sikap memandang rendah orang lain dan merasa diri lebih baik.

    ReplyDelete
  32. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 PM A

    Ketika seseorang telah berada di atas, ada ‘mereka’ yang akan semakin melihat ke atas pula. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki sifat ‘tidak puas’. Terkadang apa yang telah ia peroleh tidak membuat ia lebih bersyukur, namun malah semakin ingin mendapatkan yang lainnya. Hal itu tentu akan merusak ketaqwaan manusia kepada Allah SWT. Sebagai makhlukNya sudah kewajiban manusia untuk selalu bersyukur atas apa yang diberikan, dan selalu berdoa untuk mengharap ridhoNya.

    ReplyDelete
  33. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dengan membaca elegi ini saya teringat pepatah ‘gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut diseberang lautan terlihat’. Inilah sifat yang membuat kesombongan bersarang pada pemikiran manusia. Bahwa selalu merasa dirinya yang paling baik, begitu peka dengan kekurangan dan kesalahan orang lain namun begitu buta dengan kelemahan dan kesalahan diri sendiri. Maka di sini fungsi kesediaan diterjemahkan. Saat kita lalai dan sombong, kita membutuhkan pandangan, kritikan dan saran orang lain. Dengan diterjemahkan oleh orang lain akan memperlemah sifat kesembongan pada diri, memperluas penglihatan, dan mempertebal rasa syukur, serta membangun kesadaran untuk mohon ampun dan mohon petunjuk Tuhan yang maha kuasa.

    ReplyDelete
  34. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Tulisan ditas menunjukkan keapuan setiap indivu sebagai umat manusia sangatlah beragam. Ada yang diberi kelebihan dan kekurangan sesuai dengan keapuan asing-masing individu. Terkadang usaha yang sama hasilnya pun akan berbeda. itulah tugas kita sebagai manusia hanya berusaha sebaik-baiknya, berikhtiar sekuat tenaga, dan hasilnya biarlah kita serahkan kepada Nya. Karena apa yang kita iliki belum tentulah semua milik kita, apa yang menjadi milik kita hanya titipan, yang akan membawa kita kearahyang baik ataupun ke arah yang sebaliknya, tergantung kita sebagai umat manusia menggunakannya.

    ReplyDelete
  35. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi ini memberikan pesan kepada kita bahwa di dalam diri kita itu terdapat keunggulan masing-masing yang tanpa sadar ada dalam diri kita. Namun untuk dapat melihat kemampuan tersebut, yaitu dengan menyadari bahwasahnya kemampuan tersebut bukanlah miliki kita sepenuhnya, pengetahuan itu pemberian dari yang Maha Kuasa di muka bumi ini. Sehingga, tidak ada yang perlu disombongkan dengan apa yang ada di diri kita.

    ReplyDelete
  36. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B


    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Elegi di atas senantiasa berpesan untuk menghilangkan rasa memiliki dan kesombongan dalam diri.Sebab yang menjadi niat kita dalam menggapai sesuatu bisa saja tak jelas terlihat hanya dikarenakn masih ada sifat sombong dalam diri kita.
    Lemah dan tak berdaya diri ini.Tubuh ini bagaikan ditindik sebuah batu besar hingga tersungkur serendah-rendahya di bumi ini.Duhai Allah ampuni hamba untuk tiap-taip titik sifat sombong yang masih merajai tubuh ini.Semua ini milik-Mu.

    ReplyDelete
  37. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Manusia sering kali khilaf, lupa, terlena ketika di hadapkan oleh kesenangan. Gunung-gunung merupakan cerminan sifat dan siapa sejati diri manusia itu dan kesombongan sering kali menutupi diri untuk merefleksikan siapa diri manusia itu dan apa yang seharusnya diperbuatnya. Oleh karennya, kita harus meruntuhkan segala sifat individual, sombong untuk bermuhasabah diri, untuk mencari siapa diri kita sebenarnya dan apa yang harus kita perbuat untuk kemaslahatan diri dan lingkungan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  38. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, kami teringat dengan ungkapan Thomas Hobbes bahwa manusia itu adalah serigala bagi sesamanya. Sehingga manusia cenderung menyerang terhadap orang yang dia tidak dia sukai terutama apabila situasi dan kondisi mendukung, misalnya orang yang tidak dia sukai tersebut melakukan kesalahan. Melihat kesalahan orang lain merupakan sebuah perkara yang sangatlah mudah dibandingkan dengan intropeksi diri dan bercermin mencari apa yang salah dengan dirinya sendiri. Sehingga muncul peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak, tapi semutdi seberang lautan tampak. Sebenarnya dengan mengorek-orek dan mencari-cari kesalahan orang lain tanpa melihat apa yang ada pada diri kita dan yang kita lakukan merupakan hal yang sia-sia dan bahkan bisa menjerumuskan kita. Sebagai manusia yang hendak meningkatkan kualitas diri, hendaknya kita lebih cenderung untuk instropeksi dan berusaha untuk memperbaiki diri agar terjauh dari berbuat kesalahan.

    ReplyDelete
  39. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Kembali lagi masalah sombong. Sifat sombong memang sulit dijauhkan dari manusia. Sedikit saja merasa memiliki lebih, manusia akan tergoda untuk menyombongkan diri. Tak ada cara lain selain mendekatkan diri dengan Tuhan untuk menghindari kesombongan. Menyadari Tuhan yang memiliki seluruh hidup kita..

    ReplyDelete
  40. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Seperti yang diceritakan dalam elegi ini, kesombongan dan perasaan memiliki dapat menutupi segala sesuatu. Bahkan hal tersebut dapat membuat kita tidak mampu mengenali diri kita sendiri. Kesombongan membuat kita tidak tahu bahwa sebenarnya kita hanyalah makluk yang memiliki segala keterbatasan. Masih banyak di luar sana yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan kita. Maka, sebagai manusia yang terbatas kita harus menghilangkan segala kesombongan dan perasaan memiliki. Dan sesungguhnya sebenar-benar yang memiliki segalanya hanyalah Allah SWT.

    ReplyDelete
  41. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Membaca tulisan ini menyadarkan saya bahwa kesombongan dan rasa memiliki yang berlebihan itu dapat menutup mata kita untuk melihat sebera luasa dan beragmnya kehidupan ini. Kesombongan dan rasa memiliki yang berlebihan membuat kita tertutup oleh kritik dan saran dari orang lain sehingga tidak menyadari kelebahan yang kita miliki. Kita menganggap bahwa diri kitalah yang paling tinggi kedudukannya dan memandang rendah orang lain. Oleh karena itu, kita harus merendahkankan hati kita untuk mau menerimak kritik dan saran dari orang lain agar kita dapat melepaskan kesombongan yang melekat dalam diri kita. Dengan begitu, kita dapat memperluas pandangan kita bahwa kehidupan di dunia ini sangat beragam. Jangan merasa tinggi, karena masih banyak yang lebih tinggi dari kita. Terimakasih.

    ReplyDelete
  42. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Beberapa elegi ini selalu mengajarkan kita akan sifat manusiawi yang mudah sekali muncul. “Sombong” satu kata yang sering muncul tanpa kita sadari. Hal sepele tetapi bisa menjadi celaka bagi kehidupan kita. Rasa iri pun juga terkadang menutupi mata kita selama kita menuntut ilmu. Maka benar syarat yang diajukan untuk melihat gunung ketiga adalah melepas kacamata somobong, karena jelas akan mempengaruhi hidup kita. Melihat gunung yang tinggi itu sama saja melihat kedudukan seseorang dengan ilmu yang lebih tinggi. Seharusnya bukan harus iri maupun merasa kedudukan kita rendah, tetapi menghargai untuk bisa berjalan berdampingan maupun dapat menjadi motivasi bagi diri kita sendiri untuk menjadi sepertinya.

    ReplyDelete
  43. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita seringkali mudah melihat kesalahan orang lain, begitu mudahnya membicarakan aib orang lain. Tetapi kita seringkali tidak menyadari kesalahannya sendiri. Hal ini karena rasa sombong dan rasa memiliki yang ada pada diri kita. Kita seringkali merasa sombong, merasa lebih dari orang lain hingga kita tidak dapat melihat bahwa terkadang diri kita tidak lebih baik dari orang lain. Kita tidak menyadari bahwa tidak tampaknya aib pada diri kita adalah karena Allah SWT yang menyembunyikan aib kita. Karena itulah kita harus menyadari bahwa tidak ada yang perlu kita sombongkan karena segala sesuatu yang merasa kita miliki di dunia hanyalah titipan.

    ReplyDelete
  44. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi ini menyadarkan kita bahwa dalam memandang sesuatu kita lebih mudah untuk menilai orang lain, tapi kesulitan untuk melihat dan menilai diri sendiri. Maka dari itu instrospeksi diri sangatlah dibutuhkan agar mampu melihat dan menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Menilai diri sendiri bukan melalui kesombongan, melainkan kerendahan hati, maka akan semakin jernih kita mampu menilai diri sendiri.

    ReplyDelete
  45. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Menilai diri sendiri merupakan hal yang harus kita lakukan untuk perbaikan-perbaikan kualitas diri kita. Namun bukanlah hal yang mudah untuk menilai diri sendiri. Seringkali masih terbesit subyektifitas kita dalam menilai diri sendiri. Semoga kita mampu menilai diri secara obyektif, untuk perbaikan kualitas diri kita ke depannya.

    ReplyDelete
  46. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Jika mengetahui bahwa kita masih memiliki banyak kekurangan, sebaiknya kita tidak cenderung mudah menilai kelemahan dan kesalahan orang lain. Seolah-olah hidup ini harus terfokus untuk melihat orang lain, dan untuk menilai mereka, lalu membahas secara tuntas tentang sikap, sifat, perilaku orang lain. Tetapi perilaku yang terlalu terbiasa untuk menilai kekurangan dan kelemahan orang lain, hanya akan menghasilkan ketidakbahagiaan ke dalam diri sendiri.

    ReplyDelete
  47. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Menjadi sosok yang mawas diri, selalu berinstropeksi sangatlah penting, bagaimana kita mampu untuk memahami diri sendiri, meningkatkan kemampuan metakognisi, serta mau untuk mendapatkan penilaian yang obyektif atas apa-apa yang adal dalam diri. menjauhkan diri dari sifat yang sombong meski memiliki banyak kelebihan sangat diperlukan karena sesungguhnya kesombongan mematikan hati dan dalam kehidupan sifat sombong tidaklah manusia berhak memilikinya. Berusahalah melihat bagaimana diri sendiri secara jelas serta memperbaikinya.

    ReplyDelete
  48. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk selalu berbaur dengan sesama (karena sejatinya manusia tidak dapat hidup sendiri terpisah dari orang lain). Bagi sebagian orang berbaur mungkin hal yang sangat mudah, namun tidak bagi sebagian yang lainnya. Dalam berbaur juga ada tata caranya, dalam berbaur seharusnya antar manusia tidak menonjolkan ego yang berlebih-lebihan, dalam berbaur harus haling menghormati, dalam berbaur juga harus banyak bersabar,dll. Kesabaran diperlukan karena sejatinya berbaur adalah menyatukan pandangan/gagasan/bahkan ilmu dari setiap manusia. Menyatukan hal-hal tersebut dengan baik tentunya harus menghilangkan kesombongan. Dan semuanya akan semakin baik jika ditambah dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  49. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari cerita diatas saya merfleksi bahwa refleksi diri itu penting. Kadang seseorang menilai orang lain seenaknya sendiri, melakukan judgement dengan sebelah mata dan tidak adil. Tapi ia tidak dapat melihat ke dalam dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  50. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Seperti pepatah yang selalu mengatakan bahwa kuman di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Hampir seperti itulah makan yang saya pahami setelah membaca elegi di atas. Namun, dalam ruang dan waktu elegi di atas, yang saya pahami adalah yang tidak tampak bukan cuma sekedar keburukan kita saja, namun juga tentang kebaikan kita. Mengenali diri sendiri sangatlah tidak mudah. Syaratnya yaitu kita harus menghilangkan sifat memiliki dan rasa sombong dari diri kita.

    ReplyDelete
  51. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggarisbawahi adanya kesombongan yang disampaikan dalam cerita ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia seringkali sombong dengan segala yang dimilikinya baik materi, kemampuan, bakat, dsb. Maka dalam elegi ini disampaikan bahwa barangsiapa yang sombong maka akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam. Hal ini dimaksudkan bahwa kesombongan sebenarnya hanya akan merugikan diri kita sendiri. Tidak ada untungnya menyombongkan apa yang kita miliki karena sewaktu-waktu itu semua bisa diambil oelh Tuhan.

    ReplyDelete
  52. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Merasa memiliki merupakan pemicu tegaknya sifat sombong. Sifat somobong ini membuat manusia merasa lebih, kemudian meremehkan orang lain serta menolak kebenaran. Kebenaran bila tidak seusai dengan keinginan manusia sombong, tidak akan ia terima. Manusia sombong hanya menerima apa yang ia suka, apa yang ia ingin terima. Sehingga hidupnya tenggelam dalam kepalsuan. Berbeda dengan orang yang ikhlas, orang yang hidupnya memang apa adanya. Ia hidup dalam dunia nyata, dan terbebas dari unsur kepalsuan

    ReplyDelete
  53. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Seringkali kita tidak menyadari dan merasa apa yang terjadi adalah tersebab dari kekuatan diri. Terkadang pujian yang datang justru menambah kencang hembusan angin kesombongan. Muhasabah diri adalah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari sifat sombong tersebut. Kita perlu menyadari bahwa setiap manusia itu memiliki potensi yang sama untuk berhasil, untuk berkembang, dan untuk mencapai sebuah tujuan. Hanya saja usaha yang dilakukan dan ujian yang diberikan berbeda satu sama lain. Cara mengahadapi ujian dan nikmat yang datang pun berbeda antar satu orang dan orang yang lain. Sebaiknya tiadalah perlu kita merasa bisa, merasa lebih bisa, merasa paling bisa. Karena memang kenyataannya setiap manusia diujia sesuai dengan kemampuannya.

    ReplyDelete
  54. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mencoba memahami apa makna dari 5 gunung tersebut. Sehingga saya mencoba menganalogikannya menjadi tingkatan suatu aspek kehidupan atau aspek-aspek kehidupan itu sendiri. jika melihat kejadian dalam elegi tersebut yang mana mengupayakan bersatunya ke 5 gunung ini. maka saya menganalogikakannya dengan suatu pemahaman yang haruslah komprehensif. Karena sejatinya kehidupan itu adalah interaksi seimbang antar semua aspek dalam kehidupan tidak bisa dibeda-bedakan. Maka berupayalah Ralata itu untuk menyatukan. Demikian yang bisa saya pahami terkait elegi di atas, terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangannya.

    ReplyDelete
  55. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Gunung ketiga disini dapat diartikan sebagai diri kita sendiri, kita sering membicarakan berbagai kekurangan orang lain, namun kita jarang melihat kekurangan diri sendiri. Kita sebagai manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna diantara ciptaanNya yang lainnya, namun kita juga diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihan. Sehingga sangat tidak pantas kita menyombongkan diri kita, karena semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan semata.

    ReplyDelete
  56. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kita memang seringkali lebih mudah menilai kesalahan dan kekurangan orang lain sehingga sangat mudah bagi kita untuk menduga seseorang yang sebenarnya belum kita kenal dengan baik. Sifat determinis yang ada pada diri manusia harus dihilangkan karena sebaik-baiknya manusia adalah tidak merugikan manusia lainnya denga sifat determinis. Sebagai makhluk ciptaan Allah kita telah dianugerahkan kelebihan masing-masing, namun tidak berarti kita bersifat semena-mena dan mengabaikan kekurangan kita. Lihatlah ke dalam diri kita sendiri sebelum menasehati orang lain.

    ReplyDelete
  57. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Telah diuraikan bahwa gunung diibaratkan seperti diri seorang manusia berserta kekurangannya. Orang yang sombong tidak mampu melihat dirinya yang sebenarnya, justru hanya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain. Oleh karena itu, jika kita ingin mengenal diri sendiri, kita harus melepas rasa sombong dan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  58. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Seperti pepatah yang selalu mengatakan bahwa kuman disebrang lautan tampak tetapi gajah dipelupuk mata tak tampak. Hampir seperti itulah makan yang saya pahami setelah membaca elegi di atas. Namun, dalam ruang dan waktu elegi di atas, yang saya pahami adalah yang tidak tampak bukan cuma sekedar keburukan kita saja, namun juga tentang kebaikan kita. Mengenali diri sendiri sangatlah tida mudah. Syaratnya yaitu kita harus menghilangkan sifat memiliki dan rasa sombong dari diri kita. Bahasa lain yang sering kita gunakan adalah merefleksikan diri. Ketika merefleksikan diri kita harus benar-benar berserah diri kepada Allah dan meninggalkan sifat keduniaan kita sehingga kita dalam menyelami diri dalam keadaan murni dan bersih. Seseorag yang mampu mengnali diri sendiri memilki potensi untuk mencapai puncak tertingginya dan terampil dalam menyesuaikan diri dengna ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  59. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kadang kita lebih sering menggunakan kaca pembesar untuk melihat kesalahan orang lain daripada menggunakan cermin untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh diri sendiri. Untuk menjadi seseorang yang sukses (dalam arti baik) harus mampu melihat dan mengendalikan diri sendiri. Sesungguhnya semua usaha untuk mencapai tujuan ada di tangan kita sendiri.

    ReplyDelete
  60. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sangat sulit terkadang untuk mengetahui dan mengenali diri kita sendiri. Ada kalanya kita lebih mampu melihat dan menilai orang lain daripada diri sendiri. Rasa sombong dan rasa memiliki menjadi penyebab susahnya mengenali diri sendiri. Untuk mengingatkan, terkadang harus dengan bantuan, nasehat dan petunjuk dari orang-orang untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita, apa yang kita milki. Ketika kita sudah menyadari apa yang dimiliki dan siapa sebenarnya diri kita, maka akan banyak jalan yang terbuka untuk mengetahui kemana arah tujuan yang akan kita gapai.

    ReplyDelete
  61. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Banyak manusia yang sombong sehingga tidak menyadari kekurangan pada dirinya sendiri. Agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sebenarnya diri kita, dan mengetahui kekurangan apa saja yang kita miliki, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia mau bertingkah sombong

    ReplyDelete
  62. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini memberi arti bahwa penilaian terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada adalah relatif. Bagus menurut seseorang belum tentu bagus menurut yang lain. Begitu pula dalam memandang kekurangan dan kelebihan. Pada umumnya begitu mudah melihat kekurangan orang lain namun susah dalam mengakui kelebihan orang lain. Hal yang tak jauh berbeda, kita lebih cenderung mudah mengingat kejelekan orang lain namun lupa akan kebaikan orang tersebut.

    ReplyDelete
  63. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kadang dalam hidup ini kita sering mengomentari orang lain, bisa komentar yang baik maupun komentar yang buruk. Tapi kita kadang jarang mengomentari diri sendiri atau jarang introspeksi diri. Padahal untuk menjadi pribadi yang baik, maka kita harus mengevaluasi diri kita, jika ada hal buruk maka jangan sampai kita mengulanginya lagi. Jika kita melakukan perbuatan baik maka bisa kita pertahankan, syukur-syukur ditingkatkan.

    ReplyDelete
  64. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    Pend. Matematika S2 Kelas C

    Kutarunggu sang rakata menyatukan lima gunung (pertama) menurut pendapat saya adalah kita sebagai manusia dan setiap individu yang diciptakan Tuhan selalu tidak ada yang sempurna, setiap manusia selalu memiliki kekurangan. Ada yang mampu menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang positif, disyukuri, bahkan dapat berkat, ada pula yang menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang negatif dan tidak bisa menerima kekurangan itu. Manusia diajak untuk tidak berlaku sombong dan merasa serba tahu segalanya. Kesombongan membuat mata dan hati kita tertutup terhadap kebaikan, keunggulan, prestasi, dan kelebihan orang lain. Kita harus dapat mengendalikan ego agar kita tetap mampu dapat mengembangkan potensi – potensi, kelebihan, dan hal – hal positif yang dianugerahkan Tuhan kepada kita

    ReplyDelete
  65. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    Pend. Matematika S2 Kelas C

    Kutarunggu sang rakata menyatukan lima gunung (pertama) menurut pendapat saya adalah kita sebagai manusia dan setiap individu yang diciptakan Tuhan selalu tidak ada yang sempurna, setiap manusia selalu memiliki kekurangan. Ada yang mampu menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang positif, disyukuri, bahkan dapat berkat, ada pula yang menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang negatif dan tidak bisa menerima kekurangan itu. Manusia diajak untuk tidak berlaku sombong dan merasa serba tahu segalanya. Kesombongan membuat mata dan hati kita tertutup terhadap kebaikan, keunggulan, prestasi, dan kelebihan orang lain. Kita harus dapat mengendalikan ego agar kita tetap mampu dapat mengembangkan potensi – potensi, kelebihan, dan hal – hal positif yang dianugerahkan Tuhan kepada kita

    ReplyDelete
  66. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015


    Allah mencipatakan manusia dengan bakat, potensi, kondisi yang berbeda-beda. Setiap manusia itu unik. Seringkali kita tidak bisa melihat atau mengenali sebenar-benarnya diri kita.Hal itu dapat dikarenakan sifat-sifat buruk yang kita miliki. Sombong,angkuh, merasa memiliki segalanya dapat membuat kita tidak dapat mengenali diri kita sendiri. Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk menghilangkan sifat-sifat buruk tersebut meskipun sulit.

    ReplyDelete