Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Menyatukan Lima Gunung (Pertama)




Oleh Marsigit

Rakata:
Wahai Ramasita, dalam perjalanan kita ini aku melihat ada 5 (lima) gunung, dua diantaranya cukup tinggi dan besar, yang satu sedang dan yang satu kecil, tetapi yang satu kelihatannya besar tetapi masih tertutup kabut. Coba sebutkan nama-nama gunung itu.



Ramasita:
Wahai sang Rakata, gunung yang paling tinggi itu namanya Gunung Ndakiti, sedang yang lebih rendah sedikit namanya Gunung Ndadismen, sedangkan gunung yang tertutup kabut itu tingginya nomor tiga, namanya adalah Gunung Nayahu. Sedang gunung yang tingginya nomor empat itu namanya Gunung Kanwala. Dan gunung yang paling rendah itu namanya Gunung Kasala.

Rakata:
Tentang empat gunung itu aku bisa jelas melihatnya. Tetapi gunung yang nomor tiga itu aku tidak bisa melihatnya. Bagaimana menurut penglihatanmu? Apakah dia masih tertutup kabut?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, ini adalah suratan takdir. Sebetulnya gunung nomor tiga itu menurut penglihatanku bisa dilihat begitu jelasnya. Tiadalah sedikitpun kabut yang menutupinya. Tetapi takdir tetaplah takdir, bahwasanya untuk gunung nomor tiga itu engkau akan mengalami kesulitan melihatnya.

Rakata:
Sebentar Ramasita, aku tidak habis mengerti. Mengapa sekedar melihat gunung saja harus berbeda-beda antara orang satu dengan yang lainnya. Kenapalah aku ditakdirkan sulit melihat sebuah gunung tertentu, sedangka untuk gunung yang lain aku tampak jelas melihatnya.

Ramasita:
Wahai Rakata, ada syarat-syaratnya engkau bisa melihat gunung nomor tiga.

Rakata:
Apa syaratnya. Karena ini telah menjadi tantanganku, maka seberat apapun syaratnya aku ingin bisa melihat gunung nomor tiga itu.

Ramasita:
Syaranya adalah engkau harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Jika hal ini engkau paksakan maka engkau akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam di samping gunung itu. Apakah engkau sanggup melakukannya.

Rakata:
Kalau rasa sombong aku berusaha mengatasinya dengan cara mohon ampun, tetapi rasa memiliki itu agak sulit. Karena hingga saat ini aku merasa memiliki banyak hal. Aku memiliki kegiatan, aku memiliki warga, aku memiliki fasilitas, aku memiliki kuasa dst. Bagaimana aku bisa menjalankan tugas-tugasku jika aku tidak boleh mempunyai rasa memiliki.

Ramasita:
Demikianlah ketetapannya. Tinggal engkau sanggup atau tidak.

Rakata:
Aku sanggup, tetapi bagaimana kalau sebentar saja syarat-syarat itu aku jalani.

Ramasita:
Walaupun engkau hanya melihat sekejap perihal gunung itu, tetapi dampaknya luar biasa, dan akan mempengaruhi jalan hidupmu. Maka sifat tidak memiliki dan tidak sombong itu harus menjadi tujuan dan jiwa hidupmu.

Rakata:
Baik saya sanggup

Ramasita:
Maafkan sang Rakata, perkenankanlah aku membuka kacamatamu. Sekarang bagaimana keadaannya?

Rakata:
Ya Tuhan mohon ampunlah diriku. Setelah Ramasita melepas kacamataku, maka aku melihat gunung nomor tiga itu berdiri begitu tegaknya. Terlihat olehku gunung itu menghampar begitu luasnya, tetapi semuanya tampak lebih rendah dariku. Kalihatannya diriku berada di puncak gunung ini. Kamanapun aku melangkah maka semua ngarai dan satwa di dalamnya selalu mengikutiku. Bahkan gunung-gunung yang lain pun menyesuaikan dengan gerak langkahku. Ada yang memberi jalan, ada yang berjalan beriringan, dst. Wah saya menjadi agak bimbang.

Rakata:
Wahai Ramasita apakah makna dari semua ini?

Ramasita:
Itulah suratan takdir wahai sang Rakata. Katahuilah, bahwa sebenar-benar gunung nomor tiga itu adalah dirimu sendiri. Maka tidaklah mudah engkau melihat gunung itu, karena hal yang demikian sama artinya engkau berusaha meliat dirimu sendiri. Maka hanya dengan jalan tidak merasa memiliki dan tidak sombong serta berpikir kritis itulah engkau mampu melihat dirimu sendiri. Itulah maka sebetul-betulnya dirimu adalah gunung Nahayu dan gunung Nahayu itu adalah dirimu.

Rakata:
Ya Tuhan ampunilah diriku yang bebal ini. Dikarenakan pertolongan Ramasitalah aku engkau buka hijabku sehingga aku engkau perkenankan bisa melihat diriku sendiri. Wahai Ramasita, ada peristiwa aneh yang aku alami setelah aku mampu melihat diriku sendiri. Sedang peristiwa aneh itu adalah aku melihat empat gunung yang lain selalu mengajakku bicara. Apa maknanya ini?

Ramasita:
Wahai sang Rakata, Tuhan telah bermurah hati kepada dirimu maupun kepada diriku. Itu terbukti bahwa sudah dekat saatnya engkau diijinkan menyatukan lima gunung. Ini adalah peristiwa besar yang akan membawa dampak besar bagi kehidupan di sekitar gunung-gunung itu.

Rakata:
Buatlah undangan kepada gunung-gunung itu, kepada semua penghuninya, kepada semua wargaku. Adapun isi undangan adalah mengikuti acara penyatuan lima gunung di Kerajaan Hanuya sini.

23 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Beberapa elegi ini selalu mengajarkan kita akan sifat manusiawi yang mudah sekali muncul. “Sombong” satu kata yang sering muncul tanpa kita sadari. Hal sepele tetapi bisa menjadi celaka bagi kehidupan kita. Rasa iri pun juga terkadang menutupi mata kita selama kita menuntut ilmu. Maka benar syarat yang diajukan untuk melihat gunung ketiga adalah melepas kacamata somobong, karena jelas akan mempengaruhi hidup kita. Melihat gunung yang tinggi itu sama saja melihat kedudukan seseorang dengan ilmu yang lebih tinggi. Seharusnya bukan harus iri maupun merasa kedudukan kita rendah, tetapi menghargai untuk bisa berjalan berdampingan maupun dapat menjadi motivasi bagi diri kita sendiri untuk menjadi sepertinya.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Kita seringkali mudah melihat kesalahan orang lain, begitu mudahnya membicarakan aib orang lain. Tetapi kita seringkali tidak menyadari kesalahannya sendiri. Hal ini karena rasa sombong dan rasa memiliki yang ada pada diri kita. Kita seringkali merasa sombong, merasa lebih dari orang lain hingga kita tidak dapat melihat bahwa terkadang diri kita tidak lebih baik dari orang lain. Kita tidak menyadari bahwa tidak tampaknya aib pada diri kita adalah karena Allah SWT yang menyembunyikan aib kita. Karena itulah kita harus menyadari bahwa tidak ada yang perlu kita sombongkan karena segala sesuatu yang merasa kita miliki di dunia hanyalah titipan.

    ReplyDelete
  3. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Elegi ini menyadarkan kita bahwa dalam memandang sesuatu kita lebih mudah untuk menilai orang lain, tapi kesulitan untuk melihat dan menilai diri sendiri. Maka dari itu instrospeksi diri sangatlah dibutuhkan agar mampu melihat dan menilai diri sendiri sebelum menilai orang lain. Menilai diri sendiri bukan melalui kesombongan, melainkan kerendahan hati, maka akan semakin jernih kita mampu menilai diri sendiri.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Menilai diri sendiri merupakan hal yang harus kita lakukan untuk perbaikan-perbaikan kualitas diri kita. Namun bukanlah hal yang mudah untuk menilai diri sendiri. Seringkali masih terbesit subyektifitas kita dalam menilai diri sendiri. Semoga kita mampu menilai diri secara obyektif, untuk perbaikan kualitas diri kita ke depannya.

    ReplyDelete
  5. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Jika mengetahui bahwa kita masih memiliki banyak kekurangan, sebaiknya kita tidak cenderung mudah menilai kelemahan dan kesalahan orang lain. Seolah-olah hidup ini harus terfokus untuk melihat orang lain, dan untuk menilai mereka, lalu membahas secara tuntas tentang sikap, sifat, perilaku orang lain. Tetapi perilaku yang terlalu terbiasa untuk menilai kekurangan dan kelemahan orang lain, hanya akan menghasilkan ketidakbahagiaan ke dalam diri sendiri.

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Menjadi sosok yang mawas diri, selalu berinstropeksi sangatlah penting, bagaimana kita mampu untuk memahami diri sendiri, meningkatkan kemampuan metakognisi, serta mau untuk mendapatkan penilaian yang obyektif atas apa-apa yang adal dalam diri. menjauhkan diri dari sifat yang sombong meski memiliki banyak kelebihan sangat diperlukan karena sesungguhnya kesombongan mematikan hati dan dalam kehidupan sifat sombong tidaklah manusia berhak memilikinya. Berusahalah melihat bagaimana diri sendiri secara jelas serta memperbaikinya.

    ReplyDelete
  7. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk selalu berbaur dengan sesama (karena sejatinya manusia tidak dapat hidup sendiri terpisah dari orang lain). Bagi sebagian orang berbaur mungkin hal yang sangat mudah, namun tidak bagi sebagian yang lainnya. Dalam berbaur juga ada tata caranya, dalam berbaur seharusnya antar manusia tidak menonjolkan ego yang berlebih-lebihan, dalam berbaur harus haling menghormati, dalam berbaur juga harus banyak bersabar,dll. Kesabaran diperlukan karena sejatinya berbaur adalah menyatukan pandangan/gagasan/bahkan ilmu dari setiap manusia. Menyatukan hal-hal tersebut dengan baik tentunya harus menghilangkan kesombongan. Dan semuanya akan semakin baik jika ditambah dengan keikhlasan.

    ReplyDelete
  8. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. dari cerita diatas saya merfleksi bahwa refleksi diri itu penting. Kadang seseorang menilai orang lain seenaknya sendiri, melakukan judgement dengan sebelah mata dan tidak adil. Tapi ia tidak dapat melihat ke dalam dirinya sendiri.

    ReplyDelete
  9. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Seperti pepatah yang selalu mengatakan bahwa kuman di seberang lautan tampak tetapi gajah di pelupuk mata tak tampak. Hampir seperti itulah makan yang saya pahami setelah membaca elegi di atas. Namun, dalam ruang dan waktu elegi di atas, yang saya pahami adalah yang tidak tampak bukan cuma sekedar keburukan kita saja, namun juga tentang kebaikan kita. Mengenali diri sendiri sangatlah tidak mudah. Syaratnya yaitu kita harus menghilangkan sifat memiliki dan rasa sombong dari diri kita.

    ReplyDelete
  10. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggarisbawahi adanya kesombongan yang disampaikan dalam cerita ini. Sebagaimana kita ketahui bahwa manusia seringkali sombong dengan segala yang dimilikinya baik materi, kemampuan, bakat, dsb. Maka dalam elegi ini disampaikan bahwa barangsiapa yang sombong maka akan tergelincir dan terperosok masuk kedalam jurang yang dalam. Hal ini dimaksudkan bahwa kesombongan sebenarnya hanya akan merugikan diri kita sendiri. Tidak ada untungnya menyombongkan apa yang kita miliki karena sewaktu-waktu itu semua bisa diambil oelh Tuhan.

    ReplyDelete
  11. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Merasa memiliki merupakan pemicu tegaknya sifat sombong. Sifat somobong ini membuat manusia merasa lebih, kemudian meremehkan orang lain serta menolak kebenaran. Kebenaran bila tidak seusai dengan keinginan manusia sombong, tidak akan ia terima. Manusia sombong hanya menerima apa yang ia suka, apa yang ia ingin terima. Sehingga hidupnya tenggelam dalam kepalsuan. Berbeda dengan orang yang ikhlas, orang yang hidupnya memang apa adanya. Ia hidup dalam dunia nyata, dan terbebas dari unsur kepalsuan

    ReplyDelete
  12. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Seringkali kita tidak menyadari dan merasa apa yang terjadi adalah tersebab dari kekuatan diri. Terkadang pujian yang datang justru menambah kencang hembusan angin kesombongan. Muhasabah diri adalah satu cara yang dapat dilakukan untuk menghindarkan diri dari sifat sombong tersebut. Kita perlu menyadari bahwa setiap manusia itu memiliki potensi yang sama untuk berhasil, untuk berkembang, dan untuk mencapai sebuah tujuan. Hanya saja usaha yang dilakukan dan ujian yang diberikan berbeda satu sama lain. Cara mengahadapi ujian dan nikmat yang datang pun berbeda antar satu orang dan orang yang lain. Sebaiknya tiadalah perlu kita merasa bisa, merasa lebih bisa, merasa paling bisa. Karena memang kenyataannya setiap manusia diujia sesuai dengan kemampuannya.

    ReplyDelete
  13. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi di atas saya mencoba memahami apa makna dari 5 gunung tersebut. Sehingga saya mencoba menganalogikannya menjadi tingkatan suatu aspek kehidupan atau aspek-aspek kehidupan itu sendiri. jika melihat kejadian dalam elegi tersebut yang mana mengupayakan bersatunya ke 5 gunung ini. maka saya menganalogikakannya dengan suatu pemahaman yang haruslah komprehensif. Karena sejatinya kehidupan itu adalah interaksi seimbang antar semua aspek dalam kehidupan tidak bisa dibeda-bedakan. Maka berupayalah Ralata itu untuk menyatukan. Demikian yang bisa saya pahami terkait elegi di atas, terima kasih dan mohon maaf atas segala kekurangannya.

    ReplyDelete
  14. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Gunung ketiga disini dapat diartikan sebagai diri kita sendiri, kita sering membicarakan berbagai kekurangan orang lain, namun kita jarang melihat kekurangan diri sendiri. Kita sebagai manusia diciptakan Allah SWT sebagai makhluk yang paling sempurna diantara ciptaanNya yang lainnya, namun kita juga diciptakan dengan segala kekurangan dan kelebihan. Sehingga sangat tidak pantas kita menyombongkan diri kita, karena semua yang kita miliki di dunia ini hanyalah titipan semata.

    ReplyDelete
  15. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Kita memang seringkali lebih mudah menilai kesalahan dan kekurangan orang lain sehingga sangat mudah bagi kita untuk menduga seseorang yang sebenarnya belum kita kenal dengan baik. Sifat determinis yang ada pada diri manusia harus dihilangkan karena sebaik-baiknya manusia adalah tidak merugikan manusia lainnya denga sifat determinis. Sebagai makhluk ciptaan Allah kita telah dianugerahkan kelebihan masing-masing, namun tidak berarti kita bersifat semena-mena dan mengabaikan kekurangan kita. Lihatlah ke dalam diri kita sendiri sebelum menasehati orang lain.

    ReplyDelete
  16. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Telah diuraikan bahwa gunung diibaratkan seperti diri seorang manusia berserta kekurangannya. Orang yang sombong tidak mampu melihat dirinya yang sebenarnya, justru hanya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain. Oleh karena itu, jika kita ingin mengenal diri sendiri, kita harus melepas rasa sombong dan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  17. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Seperti pepatah yang selalu mengatakan bahwa kuman disebrang lautan tampak tetapi gajah dipelupuk mata tak tampak. Hampir seperti itulah makan yang saya pahami setelah membaca elegi di atas. Namun, dalam ruang dan waktu elegi di atas, yang saya pahami adalah yang tidak tampak bukan cuma sekedar keburukan kita saja, namun juga tentang kebaikan kita. Mengenali diri sendiri sangatlah tida mudah. Syaratnya yaitu kita harus menghilangkan sifat memiliki dan rasa sombong dari diri kita. Bahasa lain yang sering kita gunakan adalah merefleksikan diri. Ketika merefleksikan diri kita harus benar-benar berserah diri kepada Allah dan meninggalkan sifat keduniaan kita sehingga kita dalam menyelami diri dalam keadaan murni dan bersih. Seseorag yang mampu mengnali diri sendiri memilki potensi untuk mencapai puncak tertingginya dan terampil dalam menyesuaikan diri dengna ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Kadang kita lebih sering menggunakan kaca pembesar untuk melihat kesalahan orang lain daripada menggunakan cermin untuk melihat apa yang telah dilakukan oleh diri sendiri. Untuk menjadi seseorang yang sukses (dalam arti baik) harus mampu melihat dan mengendalikan diri sendiri. Sesungguhnya semua usaha untuk mencapai tujuan ada di tangan kita sendiri.

    ReplyDelete
  19. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Sangat sulit terkadang untuk mengetahui dan mengenali diri kita sendiri. Ada kalanya kita lebih mampu melihat dan menilai orang lain daripada diri sendiri. Rasa sombong dan rasa memiliki menjadi penyebab susahnya mengenali diri sendiri. Untuk mengingatkan, terkadang harus dengan bantuan, nasehat dan petunjuk dari orang-orang untuk mengetahui siapa sebenarnya diri kita, apa yang kita milki. Ketika kita sudah menyadari apa yang dimiliki dan siapa sebenarnya diri kita, maka akan banyak jalan yang terbuka untuk mengetahui kemana arah tujuan yang akan kita gapai.

    ReplyDelete
  20. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Semut di seberang lautan tampak namun gajah di pelupuk mata tidak terlihat. Banyak manusia yang sombong sehingga tidak menyadari kekurangan pada dirinya sendiri. Agar mampu melihat siapa diri kita sebenarnya, bagaimana sebenarnya diri kita, dan mengetahui kekurangan apa saja yang kita miliki, maka kita harus terbebas dari rasa memiliki dan rasa sombong. Sebenar-benarnya manusia adalah sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah iman dan takwanya. Oleh karena itu, manusia tidak mempunyai hak untuk sombong. Bahkan di atas langit pun masih ada langit lagi, bagaimana mungkin manusia mau bertingkah sombong

    ReplyDelete
  21. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Elegi ini memberi arti bahwa penilaian terhadap semua yang ada dan yang mungkin ada adalah relatif. Bagus menurut seseorang belum tentu bagus menurut yang lain. Begitu pula dalam memandang kekurangan dan kelebihan. Pada umumnya begitu mudah melihat kekurangan orang lain namun susah dalam mengakui kelebihan orang lain. Hal yang tak jauh berbeda, kita lebih cenderung mudah mengingat kejelekan orang lain namun lupa akan kebaikan orang tersebut.

    ReplyDelete
  22. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Kadang dalam hidup ini kita sering mengomentari orang lain, bisa komentar yang baik maupun komentar yang buruk. Tapi kita kadang jarang mengomentari diri sendiri atau jarang introspeksi diri. Padahal untuk menjadi pribadi yang baik, maka kita harus mengevaluasi diri kita, jika ada hal buruk maka jangan sampai kita mengulanginya lagi. Jika kita melakukan perbuatan baik maka bisa kita pertahankan, syukur-syukur ditingkatkan.

    ReplyDelete
  23. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    Pend. Matematika S2 Kelas C

    Kutarunggu sang rakata menyatukan lima gunung (pertama) menurut pendapat saya adalah kita sebagai manusia dan setiap individu yang diciptakan Tuhan selalu tidak ada yang sempurna, setiap manusia selalu memiliki kekurangan. Ada yang mampu menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang positif, disyukuri, bahkan dapat berkat, ada pula yang menerima kekurangan itu menjadi suatu hal yang negatif dan tidak bisa menerima kekurangan itu. Manusia diajak untuk tidak berlaku sombong dan merasa serba tahu segalanya. Kesombongan membuat mata dan hati kita tertutup terhadap kebaikan, keunggulan, prestasi, dan kelebihan orang lain. Kita harus dapat mengendalikan ego agar kita tetap mampu dapat mengembangkan potensi – potensi, kelebihan, dan hal – hal positif yang dianugerahkan Tuhan kepada kita

    ReplyDelete