Oct 17, 2012

Elegi Cupumanik Astanala




Oleh Marsigit

Bagawat:
Whe la da lah. Semakin merajalela perbuatan si Ahilu. Kalau dibiarkan maka perbuatannya bisa merusak tatanan. Adalah kehendak para metafisik untuk menguji kemampuan ketiga perwira itu. Itu bukanlah porsi seorang Ahilu. Jika aku diamkan saja ini akan menjadi preseden buruk. Maka teraksa aku harus turun tangan.


Bagawat:
Aku melihat pertempuran antara ketiganya semakin seru dan hebat. Baik Ahilu, Stigmapangla maupun Pampilu tidak ada tanda-tanda siapa yang akan menang dan kalah. Jika aku biarakan maka juga hal ini bisa merusak lingkungan hidup. Wahai Ahilu, Stigmapangla dan Pampilu...berhentilah...berentilah...dengarkanlah suaraku...dengarkanlah himbauanku.

Ahilu, Stigmapangla dan Pampilu:
Wahai sang Bagawat, jangan engkau hentikan pertempuran ini, biar mereka mengetahui siapa diantar kita yang betul-betul jawara.

Bagawat:
Sebentar-sebentar, ...coba peratikanlah apakah yang aku pagang ini?

Ahilu, Stigmapangla dan Pampilu:
Wa..ha..sungguh indah dan manarik, berkilau dan berwibawa, benda apakah yang engkau pegang itu sang Bagawat?

Bagawat:
Ketahuilah, sebenar-benar teka-teki adalah teka-tekiku. Sedang teka-teki yang dibuat oleh Ahilu itu bersifat semu. Maka sebenar-benar jawara diantara engkau bertiga adalah siapa yang berhasil membuka tutup benda ini. Benda ini disebut Cupu Manik Astanala. Jika engkau bisa membuka tutupnya maka engkau akan disebut sebagai seorang jawara sejati. Tetapi untuk itu sangat berat ketentuannya.

Ahilu, Stigmapangla dan Pampilu:
Wahai sang Bagawat, segeralah sebutkan apa ketentuannya. Aku sudah tidak sabar lagi untuk memperoleh gelar sang jawara.

Bagawat:
Ketentuannya adalah engkau dihadapkan kepada 2 (dua) pilihan, jika engkau bisa membuka tutup cupu ini maka dengan serta merta engkau peroleh gelar itu yaitu sebagai seorang jawara tiada tandingnya di dunia ini. Tetapi jika engkau tidak bisa membukanya, maka seketika itu juga wujudmu akan berubah menjadi buruk rupa. Padahal buruk rupa yang menimpa dirimu itu bukan sekedar yang tampak pada wajahumu tetapi semua keburukan akan menimpa dirimu. Bagaimana apakah engkau berani mencobanya?

18 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Elegi ini menggambarkan manusia yang dalam hidupnya tidak pernah puas akan segala sesuatu yang diperoleh, dia ingin lebih dan terlihat lebih di antara yang lainnya. Sebagai manusia, memang sangat wajar memiliki rasa tidak puas. Itulah fitrah manusia, makhluk yang terus menerus merasa tidak puas sehingga menjadikannya serakah. Namun, sebagai orang yang beriman, kita sebenarnya dapat menghindarkan diri dari perasaan tidak puas tersebut. caranya adalah dengan selalu bersyukur kepada Allah SWT atas limpahan rahmat-Nya. Serta kita juga dapat melihat orang-orang yang kehidupannya berada jauh dari kita, sehingga kita merasa bahwa kehidupan kita yang saat ini sudah sangat jauh dari kata beruntung dibandingkan mereka.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Banyak yang berpendapat bahwa tidak ada dunia metafisik di luar materi yang dapat kita rasa, dan bahwa segala sesuatu diatur oleh sebab dan akibat fisik (beberapa percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui apakah ada sesuatu di luar dunia kita, tetapi itu mungkin Sesuatu yang metafisik ada). Saya bertanya-tanya apakah kebebasan (memilih dalam kehidupan) memiliki tempat dalam pandangan fisik murni semacam itu? Jika semuanya adalah sebab dan akibat, apakah itu berarti bahwa kita secara efektif tidak dapat mempengaruhi apa yang terjadi di sekitar kita dan di kepala kita? Bahwa semua tindakan kita adalah hasil gelombang elektromagnetik di otak kita? Singkatnya, bisa bebas memilih hanya akan ada di dunia dengan metafisika di luar alam yang nyata? Jadi apakah hidup ini pilihan?

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Hati dan pikiran diibaratkan sebagai Cupumanik. Jika hati dan pikiran kita terbuka maka kita akan menjalani hidup yang harmoni dan sistemik. Hati dan pikiran merupakan lentera dalam kehidupan kita. Dengan menggunakan hati dan pikiran kita sebaik-baiknya maka kita akan menjadi jawara. Namun sebaliknya, jika kita tidak membuka hati dan pikiran kita maka yang akan terjadi adalah keburukan-keburukan

    ReplyDelete
  4. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Entah kenapa, membaca elegi ini membawa saya pada refleksi dan perenungan, bahwasannya kita sebagai manusia tiada boleh berlaku sombong dan tinggi hati. Saya melihat dalam elegi ini tersirat bahwa sebagai manusia, untuk mejadi manusia yang sadar dan benar-benar berpikir, harus senantiasa mengejar ilmu. Dan saya meyakini bahwa ilmu terus berproses, tiada kata final. Oleh karena itu, sesungguhnya tiadalah jawara di dunia ini. Apa yang dijuarai? sedangkan perlombaan pun tak akan pernah usai.

    ReplyDelete
  5. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi ini menceritakan bahwa hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi pemenang atau menjadi yang kalah, menjadi yang terbaik atau yang terburuk. Untuk menjadi pemenang syaratnya adalah mampu membuka tutup cupu manik astanala. Membuka tutup Cupu Manik Astanala ini maksudnya adalah membuka diri. Kita harus mampu mrngakui kekurangan dan kesalahan diri kita sendiri, atau dengan kata lain untuk menjadi pemenang kita harus dapat mengalahkan diri kita sendiri sebelum mengalahkan orang lain barulah kita dapat dikatakan sebagai pemenang.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Membaca cerita tersebut teringat pada kehidupan. Dalam hidup dan kehidupan ini, manusia sering dihadapkan pada pilihan. Seringkali pilihan yang dipilih akan menimbulkan resiko. Tetapi semua itu harus tetap dipilih agar kehidupan terus berjalan. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memilih dengan tepat. Perlu bekal untuk memilih dengan tepat. Kemampuan untuk selalu berpikir krits harus terus menerus diasah dengan cara belajar, melatih olah pikir, memperbanyak pengalaman. Selain itu juga perlu memiliki keikhlasan. Keikhlasan harus digapai dengan selalu bertawakal kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Elegi ini merupakan gambaran kehidupan di dunia, bagawat adalah sang ilahi, ahilu adalah ilmu, stigmapamla adalah stigma atau judgmen seseorang dan pampilu adalah pilihan. Kita sebagai insan selalu merasakan 3 hal tersebut dalam menyelesaikan suatu permasalahan kita akan selalu dihadapkan 3 sosok tersebut, ahilu, stigmapamla, dan pampilu. Ketiga hal ini adalah kunci yang berbeda-beda namun ketika kita kombinasikan dengan benar maka akan menghasilkan kunci yang kuat atau kokoh. Kelemahan kita adalah kurangnya kemampuan kita dalam mengkombinasikan ketiga hal itu, kita selalu condong ada salah satu sosok. Sesuai nasihat begawat untuk menjadi mulia adalah dengan membuka cupu manik astanala. Cupu manik astanala adalah diri kita sendiri, jadi maksudnya adalah membuka diri kita ketika menghadapi problem, dan tidak serta merta langsung menggunakan satu kemampuan saja.

    ReplyDelete
  8. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Hidup adalah memilih dan dipilih. Dalam ruang dan waktu tertentu kita harus memilih, tetapi dalam ruang dan waktu yang lain kita menjadi sebagai yang dipilih. Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada keadaan dimana kita harus memilih diantara dua pilihan yang sangat sulit yang dimana setiap pilihan tersebut pasti mempunyai konsekuensinya masing-masing. Di situasi lain, kita dihadapka pada dua pilihan dimana ketika kita ingin memlih salah satu dari pilihan tersebut malah tidak bisa karena kita tidak mampu untuk mencapainya sehingga kita harus memilih pilihan yang lain yang sebenarnya bukan keinginan kita. Tetapi jika situasinya seperti ini, maka sebenar-benarnya kita tidaklah diberi kesempatan untuk memilih, melainkan kita harus ikhlas menerima.

    ReplyDelete
  9. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebenar-benarnya masa depan adalah pilihan. Apa yang akan terjadi akan di masa depan adalah imbas dari pilihan di masa ini. Berani membuka tutup cupumanik adalah tantangan yang amat besar. Tiap pilihan menimbulkan konsekuensi dan ketika konsekuensi itu terjadi kita diharap dapat menerimanya dengan ikhlas. Apalah untung menjadi juara jika kemudian menjadi sombong dan tak berbudi. Apalah rugi menjadi buruk rupa jika kemudian terus menghargai dan mensyukuri hidup serta menjalaninya dengan sungguh baik. Pilihan menentukan masa depan. Dalam hidup kita tak kan berhenti berjumpa dengan pilihan. Memilih denngan bijak dan menerima konsekuensi pilihan dengan ikhlas merupakan tanda manusia bijak.

    ReplyDelete
  10. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Memang hidup itu penuh dengan pilihan. Dan untuk memilih itu dibutuhkan suatu proses untuk memutuskan mana yang akan dipilih. Ketika kita hendak memutuskan jalan mana yang akan kita pilih, hendaknya disertai dengan hati dan pikiran yang jernih. Jangan gegabah dalam memilih, karena dapat berakibat salah pilih yang akan berujung pada penyesalan.

    ReplyDelete
  11. Selain itu kita juga perlu meminta pendapat atau penilaian orang lain terkait dengan apa yang akan kita pilih. Sehingga apa yang kita pilih nantinya merupakan suatu keputusan bersama yang baik untuk kepentingan bersama. Hal ini didasarkan pada dasar negara kita UUD 1945 dimana negara kita meletakkan musyawarah adalah cara untuk mengambil keputusan bersama untuk kepentingan bersama. Dan yang terpenting lagi adalah selalu mohon petunjuk Nya agar kita tidak salah memilih atau salah mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  12. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Setiap tahap dalam hidupnya, manusia selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Mulai dari bangun tidur, manusia dihadapkan pada pilihan-pilihan. Apakah ia akan bangun pagi atau bangun siang. Setelah bangun, manusia dihadapkan dengan pilihan lagi: Sholat Shubuh atau tidak sholat Shubuh. Ketika akan menjalankan ibadah Sholat Shubuh, manusia dihadapkan pada pilihan lagi: Sholat berjamaah di Masjid atau sholat dirumah. Pilihan manusia itulah yang menjadi takdir kehidupan manusia. Apakah ia memilih menjadi rajin atau malas, apakah ia memilih dermawan atau pelit, apakah ia memilih tersenyum atau cemberut, apakah ia memilih menyapa atau cuek, semua adalah pilihan yang hak dan kuasanya ada di tangan manusia. Oleh karena itu, masa depan manusia bergantung pada pilihan-pilihan hidupnya. Pilihan yang tepat dan bertanggung jawab akan mempercepat manusia untuk menggapai cita-citanya.

    ReplyDelete
  13. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dalam kehidupan kita selalu dihadapkan dengan pilihan-pilihan. Yang membedakan satu dan yang lainnya adalah terletak pada keputusannya. Keputusan yang dibuat hendaklah berlandaskan pada kedududukan kita (manusia) sebagai pemimpin di muka bumi. Manusia di larang untuk berbuat kerusakan. Maka sebenar-benar manusia bijaksana adalah dia yang menjaga dan melestarikan lingkungan serta membawa kedamaian bagi penghuni yang ada dan mungkin ada di lingkungan tersebut.

    ReplyDelete
  14. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Hidup adalah pilihan, segala sesuatu dalam kehidupan ini menutut diri seseorang untuk membuat pilihan. Pilihan merupakan sesuatu yang menghasilkan perubahan, perubahan yang bagaimana itupun merupakan suatu pilihan. Memilih untuk menjadi sesuatu yang positif (baik) atau memilih untuk menjadi sesuatu yang negatif (tidak baik) ataupun tidak memilih apapun adalah pilihan, setiap manusia memiliki hak untuk itu dan untuk setiap pilihan yang diambil akan selalu ada resiko serta akibat yang menyertainya. Pada akhirnya, bagaimana seseorang menanggapi pilihan berserta segala resikonya pun juga merupakan suatu pilihan.

    ReplyDelete
  15. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Setelah membaca elegi ini saya jadi teringat kembali mengenai elegi sebelumnya.Dimana seorang penglima mengganggap remeh ketika disuruh membuka cupu tersebut hingga ia tidak dapat membukanya disebabkan karena kesombongannya.
    Kata jawara hanya dapat disandang bagi orang yang mau berpikir kritis dengan tidak mengedepankan ego.Menjadi jawara tidak meski harus bertarung fisik tapi menyadari dan melebarkan sayap-sayap ikhlas di dalam hati ketika hendak menghadapi tantangan sesunguhnya itu merupakan jawara.Itulah yang saya dapat tangkap dalam elegi ini.

    ReplyDelete
  16. PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb

    Elegi diatas mengigatkan kami bahwa hidup ini adalah pilihan anta pilihan yang mungkin membawa pada hal yang baik atau buruk. Perbuatan ahilu merupakan sebuah keputusan dari dia yang dapat merusak tatanan. Oleh karena itu, Marilah kita ikuti alur kehidupan dan bertransformasi sesuai jalur yang di tentukan agar tidak merusak system yang lain. Terima Kasih

    ReplyDelete
  17. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Elegi cupumanik astanala ini menggambarkan secara tersirat mengenai piliham kita dalam membuka hati untuk yang Kuasa yang memiliki segalanya dalam hidup ini. Manusia hakekatnya selalu diberikan dua pilihan dalam hidupnya. Dan dalam elegi ini manusia diberikan pilihan dalam membuka hati dan pikirannya untuk menuju yang Maha Esa. Tentu saja setiap pilihan yang diambil itu memiliki resikonya masing-masing. Manusia yang mampu membuka hati dan pikirannya tentang Tuhan akan bertambah keyakinannya terhadapat Allah SWT, insyaAllah tingkah laku dan perbuatannya akan menuju dalam kebaikan, menerima keritikan untuk perubahan yang lebih baik. Namun, jika manusia tidak mampu membuka hati dan pikirannya maka tidak menutup kemungkinan dia akan terperangkap dalam pradigma-paradigmanya sendiri tanpa mengetahui kebenaran yang sebenarnya.

    ReplyDelete
  18. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Dari elegi ini, yang kami pahami adalah “cupumanik astanala” merupakan gambaran dari sifat keegoisan dari manusia. Manusia adalah makhluk yang memiliki akal-budi dan nafsu. Terkadang nafsu ini lepas kendali sehingga muncul rasa mementingkan diri sendiri, demi kesenangannya sendiri, dan demi menuruti keinginannya sendiri hal ini lah yang disebut dengan egois. Tentu saja sifat egois ini bisa menimbukan efek tidak baik terhadap orang-orang disekitarnya.

    ReplyDelete