Oct 28, 2012

Kutarunggu Sang Rakata Transendenta




Oleh Marsigit

Rakata:
Saya tidak pernah memikirkan hal yang buruk-buruk, apalagi melakukannya. Tetapi kenapa kejadian buruk selalu menimpa kerajaanku. Kejadiannya selalu datang silih berganti dan bergelombang. Jelas hal yang demikian itu diluar kemampuanku sebagai seorang manusia. Tetapi apa salahnya? Saya sebagai seorang pemimpin itu bukan semata-mata kehendakku. Aku merasa diberi amanah untuk itu. Namun sebagai seorang pemimpin aku harus selalu berikhtiar. Tetapi apapun yang terjadi aku lebih baik bertawakal dan aku serahkan saja kepada kekuasaan Tuhan.



Bagawat:
Wahai Rakata, selama engkau berada dalam kebajikan, memikirkan kebajikan dan melakukan kebajikan, maka aku tetap bersamamu. Hal-hal buruk yang menimpamu dan kerajaanmu itu tidak semata sebagai suatu yang negatif, tetapi jikalau engkau ikhlas maka hal yang demikian itu merupakan kelengkapan hidupmu. Namaun jika ujianmu ternyata cenderung melampaui batas dan engkau merasakan al yang demikian maka serahkan saja ketentuan-ketentuan itu kepada sang pembuat ketentuan. Jangankan nasib manusia, ketahuilah bahwa Tuha itu maha mengetahui dan maha merawat semua ciptaannya.

Dewi Hermein:
Wahai sang Rakata, bukankah engkau tahu bahwa dunia itu meliputi banyak hal, tetapi apakah engkau telah mengetahui batas-batasnya? Jika aku bermain-main dengan batas dunia, maka akupun dapat menyebut bahwa dunia itu bisa batas pikiranmu, dunia itu bisa batas kerajaanmu, dunia itu bisa semua yang bisa engkau pikirkan, dunia bisa dirimu pribadi saja. Keahuilah bahwa peristiwa penyerbuan prajurit Kerajaan Stigma terhadap Kerajaan Hanuya itu bisa terjadi hanya pada wilayah pikiranmu saja. Aku bisa dan kuasa mengatakan hal yang demikian itu dikarenakan engkau telah meninggalkan sifat-sifat dunia dan menuju sifat-sifat transendent. Maka tiadalah banyak orang dapat mengetahui keadaanmu sekarang kecuali hanya sedikit orang saja. Itulah kelebihanmu dibanding dengan semua orang yang engkau pimpinnya. Maka jika engkau berkenan, engkau sekarang aku sebut sebagai sang Rakata Transendenta. Ketahuilah bahwa sifat transendenmu itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi dia itu berasal dari keikhlasan semua orang yang engkau pimpinnya. Itulah amanah. Maka jika aku lengkapkan, namamu bisa aku perpanjang menjadi sang Rakata Transendenta si Pengemban Amanah. Itu tidak berasal dari mana-mana, tetapi itu semata-mata kuasa Tuhan sang pencipta alam. Maka jika engkau ikhlas, percaya dan meyakininya, maka sebetul betul yang terjadi adalah bahwa engkau selalu terjaga atas kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Janganlah ragu-ragu untuk itu. Maka jika segalanya telah merasa berkecukupan, maka segera kembalilah engkau ketempatmu bekerja dan uruslah segala macam persoalan pengelolaan kekuasanmu di kerajaanmu. Pegang teguhlah sesanti dalam hati dan pikiranmu kedalam keadaan cendekia, mandiri dan bernurani. Selanjutnya sebarkan dan amalkan hal yang demikian kepada semua wargamu, niscaya hal yang demikian akan menjadi benteng bagi dirimu dan kerajaanmu dalam menghadapi segala cobaan, termasuk dari sang Stigmaraja.

6 comments:

  1. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Keikhlasan kita untuk menerima dan menjalani semua hal yang baik ataupun yang buruk menjadikan kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt atas apa yang telah kita peroleh dariNya. Maka dari itu, ikhlaslah untuk menerima dan menjalani berbagai tantangan dan cobaan yang ada dalam kehidupan ini. Karena ikhlas hati dan ikhlas pikiran adalah kunci dari segalanya dalam menyelesaikan permasalahan apapun dan bagaimanapun bentuknya.

    ReplyDelete
  2. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Point penting yang dapat saya ambil dari elegi di atas mengenai betapa pentingnya keikhlasan hati. Mudah diucapkan, namun pada kenyataan memang membutuhkan metamorfosis hati. Saya juga sangat termotivasi dengan kalimat “Maka jika engkau ikhlas, percaya dan meyakininya, maka sebetul betul yang terjadi adalah bahwa engkau selalu terjaga atas kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.” Di sini, saya terketuk untuk senantiasa membiasakan ikhlas di setiap langkah dan fase kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan hambaNya. Ikhlas menjadi kunci untuk melewati segala rintangan yang ada. Pegang teguhlah senantiasa dalam hati dan pikiranmu ke dalam keadaan cendekia, mandiri dan bernurani. Dari elegi ini saya belajar bahwa pemikiran ibarat bangunan. Jika seseorang yakin mampu mendirikan bangunan akan kokoh maka bangunan pun akan kokoh. Namun jika seseorang berpikir sebaliknya, maka akan terjadi pula apa yang dipikirkannya. Berhati-hati lah dalam berpikir. Jangan sampai pikiran akan membuatmu gagal pada langkah terakhir, yang sebenarnya keberhasilan tinggal selangkah lagi.

    ReplyDelete
  4. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika 2016

    Tugas manusia didunia ini adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh dan berdoa. Setelah ikhtiar dan doa dilakukan maka apapun yang terjadi serahkan kepada Allah. Kalau hal tersebut baik menurut kita maka terima dan syukurilah namun ketika hal tersebut buruk menurut kita maka sabarlah karena dibalik itu semuanya ada hikmah yang besar didalamnya. Allah berfirman yang artinya “Boleh jadi baik menurut kamu belum tentu baik menurut Allah dan boleh jadi buruk menurut kamu belum tentu buruk menurut Allah. Maka terimalah dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  5. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Setiap manusia di dunia ini memiliki amanah masing-masing. Ada yang mendapat amanah mengurus orang sakit, menjadi guru, menjadi tukang parkir, dan sebagainya. Apapun amanahnya, sebaiknya kita selalu menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya dengan segala tanggung jawab. Dalam menjalankan amanah tersebut, kadang terdapat hambatan rintangan. Sesungguhnya hambatan dan rintangan itu adalah cobaan dari Allah untuk menguji seberapa jauh iman kita. Namun, Allah tidak akan memberi cobaan melampaui batas yang kita miliki. Oleh karena itu, apapun rintangannya, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk menghadapinya dan yakin bisa mengahadapinya. Jikalau kita gagal, mungkin itu sudah merupakan takdir. Yang terpenting adalah untuk selalu berikhtiar dan berdoa.

    ReplyDelete
  6. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi ini yang perlu digaris bawahi adalah pentingnya keikhlasan hari daam menjalankan hidup. Allah memberikan segala bentuk cobaan tidak akan melebihi batas kemampuan umatNya. jika kita diberi cobaan oleh Allah, berpikirlah dengan ketulusan hati bahwa kita sanggup melewatinya dan akan ada HikmahNya. Selayaknya seorang guru, yang diberi amanah dalam mendidik siswanya, sangat dianjurkan untuk ikhlas dalam mendidik, walau nanti akan menemui berbagai sikap peserta didik.

    ReplyDelete