Oct 17, 2012

Elegi Kail Bermata Durja

Oleh Marsigit

Cantraka:
Wahai sang Bagawat kelihatannya engkau ingin menyampaikan sesuatu kepadaku?



Bagawat:
Begini Cantraka...yang namanya krisis multidimensi itu ...tidak habis-habisnya untuk dibahas.

Cantraka:
Wah saya sudah mulai jenuh...nih...apa tidak ada topik lain?

Bagawat:
Tunggu dulu...apa kamu tahu apa itu yang namanya Kail Bermata Durja?

Cantraka:
Oh...baru kali ini aku mendengarnya. Kalau yang namanya Kail, aku sudah biasa. Tetapi apa anehnya sebuah Kail mesti engkau persoalkan?

Bagawat:
Bukan Kailnya yang menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah orang yang menggunakan Kail atau Pengail. Dan Ikan tangkapannya.

Cantraka:
Apa pula masalahnya dengan mereka?

Bagawat:
Saya ingin bertanya kepadamu. Adakah kesalahan seorang Pengail itu?

Cantraka:
Menurutku tidak ada kesalahan.

Bagawat:
Itulah gunanya filsafat, yaitu mencoba memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun. Kesalahan Pengail adalah karena dia telah menipu Ikan. Dia pura-pura memberi umpan, padahal di dalam umpannya itu terdapat senjata untuk membunuh ikan itu.

Cantraka:
Hahaha...haha...haha....wahai sang Bagawat....kali ini ijinkan aku untuk tertawa lebar-lebar. Apalah gunanya engkau persoalankan hal sepele seperti itu? Apakah berpikir filsafat kemudian akan menjadi orang aneh?

Bagawat:
Sebenar-benar tangisan dan tawa seseorang itu menunjuk kepada dimensinya.

Cantraka:
Oh...maaf Bagawat. Kalau begitu...lantas...dimensiku itu seperti apa?

Bagawat:
Dimensimu adalah seorang Cantraka yang belum mengetahui apa itu Kail Bermata Durja.

Cantraka:
Oh..maafkan diriku sang Bagawat. Mohon ampunlah...diriku itu. Bolehkah aku mengetahui apa yang dimaksud Kail Bermata Durja?. Kenapa diberinama Bermata Durja?. Apa itu Durja?

Bagawat:
Jika Durja aku konotasikan dengan sesuatu yang tidak baik, padahal Durja itu menjadi mata pancing; maka Kail Bermata Durja adalah segala alat yang digunakan untuk memperoleh manfaat secara tidak jujur dengan cara mengelabuhi obyek yang dipancing. Segala alat yang kemudian dikonotasikan sebagai Pancing itu bisa bersifat fisik, kongkrit, abstrak, maya, individu, kelompok, sistemik, lembaga, institusi, masyarakat, bangsa, negara, bangsa-bangsa...dst. Sedangkan obyek yang dipancing dapat pula berupa fisik, kongkrit, abstrak, maya, individu, kelompok, sistemik, lembaga, institusi, masyarakat, bangsa, negara, bangsa-bangsa...dst.

Cantraka:
Lantas...seperti apa contohnya Kail Bermata Durja itu?

Bagawat:
Kail Bermata Durja itu adalah Kail Keburukan, Kail Kedholiman, Kail Maksiat, Kail Korupsi, Kail Nepotisme, Kail Kolusi, Kail Penjajahan, Kail Eksploitasi, Kail Kooptasi, Kail Explorasi, Kail Persekongkolan, Kail Powernow, Kail Neokapitalis, Kail Neopragmatis, Kail Posmo, Kail Utilitarian, Kail Hedonisme, Kail Mencari Untung Tanpa Peduli Kepentingan yang Lebih Besar, Kail Ego Diri atau Kelompok yang Ingin Menang Sendiri, Kail Yang Penting Proyek Tanpa Peduli Dampaknya, Kail Feodalisme, Kail Politiking, Kail Markus, Kail Manipulasi, Kail Paternalistik, Kail Syaitoniah...dst.

Cantraka:
Wuoh....wuoh...wuoh....baru sadar aku. Ternyata di dunia ini terdapat banyak sekali ragam Kail itu? Tetapi saya belum begitu paham bagaimana mereka mampu menggunakan Kail Bermata Durja itu?

Bagawat:
Kita dapat menyaksikan perilaku mereka. Bagi seorang Pemancing Ikan maka sebuah Kail telah digunakan untuk menipu Ikan kemudian membunuhnya. Bagai seorang Murid tidak jujur, maka Kail Bermata Durja digunakan untuk mengambil kesempatan agar bisa mencontek. Bagi seorang Guru tidak jujur, maka Kail Bermata Durja dapat digunakan untuk memalsu PAK. Bagi seorang Calo Penumpang, maka Kail Bermata Durja dapat digunakan untuk menipu penumpang dan memperoleh keuntungan. Bagi Para bankir nakal maka Kail Bermata Durja digunakan untuk menipu nasabah. Bagi Petugas Pajak, maka Kail Bermata Durja digunakan untuk manipulasi pembayaran pajak. Bagi negara super power maka Kail Bermata Durja digunakan untuk ekspansi kekuasaannya.

Cantraka:
Wahai sang Bagawat...bilamana dan bagaimana kita terbebas dari Kail Bermata Durja?

Bagawat:
Bagi Syaitan...maka Kail Bermata Durja digunakan untuk menggelincirkan manusia agar ingkar kepada Tuhan. Maka Kail Bermata Durja ini juga salah satu sebab mengapa kita masih dilanda krisis multidimensi.

21 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Kail bermata durja menggambarkan berbagai keburukan-keburukan yang terjadi saat ini seperti maksiat, korupsi, kolusi, nepotisme, penjajahan, eksploitasi kooptasi, neopragmatis, neokapitalis, posmo, utilitarian, hedonism, dst yang bisa dilakukan oleh seseorang, sekelompok orang, lembaga, institusi, masyarakat, bangsa, negara, dsb. Kail ini berusaha memancing ikan kecil yakni manusia. Hal ini merupakan iklim dunia yang terjadi di era power now. Seperti pada elegi-elegi sebelumnya, maka yang perlu kita lakukan adalah membentengi diri dengan keimanan yang lebih dipertebal lagi. Dan selalu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat. Biasanya perbuatan yang tidak bermanfaat akan menjerumuskan kita ke dalam hal-hal yang didambakan oleh power now.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Elegi ini membahas tentang kejujuran. Imam Ibnu al-Qayyim rahimahullah menempatkan sifat jujur dengan perkataannya sebagai berikut, “Jujur adalah predikat bangsa besar. Berangkat dari sifat jujur inilah terbangun semua kedudukan agung dan jalan lurus bagi para pelakunya. Barangsiapa yang tidak menempuh jalan ini, niscaya ia akan gagal dan binasa. Dengan sifat jujur inilah, akan terbedakan antara orang-orang munafik dengan orang-orang beriman dan akan terbedakan antara penghuni surga dengan penghuni neraka.”

    ReplyDelete
  3. Elli Susilawati
    16709251073
    Pmat D pps16

    Syaitan menggunakan Kail Bermata Durja untuk menggelincirkan manusia agar ingkar kepada Allah. Maka mintalah pertolongan kepada Allah agar terhindar dari godaan syaitan yang terkutuk. Tingkatkan Iman dan takwa kita kepada Allah, agar kita tidak menjadi Kail Bermata Durja. Jika kita beriman kepada Allah, maka kita akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Sehingga dengan demikian tidak ada lagi murid yang tidak jujur, guru yang tidak jujur, calo penumpang, para bankir nakal, para petugas pajak yang korupsi.

    ReplyDelete
  4. Manusia harus mewaspadai adanya jebakan yang dibuat. Jebakan yang menjerat manusia pada penderitaan dan kesengsaraan. Hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan kadang merupakan umpan untuk mencelakakan manusia. Jebakan harta, wanita, kedudukan, jabatan. Kita harus belajar dari cerita nabi Adam yang dibujuk oleh iblis untuk memakan sesuatu yang dilarang. Iblis membujuk bahwa yang dilarang itu adalah kenikmatan dan keabadian. Begitupun manusia sekarang, jika ingin harta maka carilah dengan usaha yang benar dan halal. Buka dengan menggunakan bantuan setan atau menggunakan cara-cara yang buruk. Yang akan menjerumuskan manusia.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sebelum masuk pada komentar elegi kail bermata durja, saya akan sedikit bercerita. Diawali dengan pernyataan "Itulah gunanya filsafat, yaitu mencoba memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun" dalam postingan ini. Sungguh saat ini saya merasa sedang membangun rumah, saya sedang membangun rumah saya sendiri. Artinya, saya saat ini masih dalam tahapan berusaha, meraba-raba, sedikit demi sedikit belajar filsafat (sungguh, baru sedikit). Dan pada blog ini, membaca beberapa postingan blog ini menjadi salah satu cara saya dalam membangun rumah yang saya impikan. Terimakasih

    Okay, masuk pada kail bermata durja. Sungguh ini adalah keadaan yang sudah sangat kita sadari. Sedikit tidak mungkin jika kita tidak sadar dengan ironi ini. Perbuatan dosa yang dilakukan secara sengaja dan enteng saja. Padahal kita mengetahuinya, tapi kenapa banyak di antara kita belagak bingung dengan konflik multidimensi yang dihasilkan? Padahal kita sendirilah yang menciptakan.

    "Bagai seorang Murid tidak jujur, maka Kail Bermata Durja digunakan untuk mengambil kesempatan agar bisa mencontek. Bagi seorang Guru tidak jujur, maka Kail Bermata Durja dapat digunakan untuk memalsu PAK. Bagi seorang Calo Penumpang, maka Kail Bermata Durja dapat digunakan untuk menipu penumpang dan memperoleh keuntungan. Bagi Para bankir nakal maka Kail Bermata Durja digunakan untuk menipu nasabah. Bagi Petugas Pajak, maka Kail Bermata Durja digunakan untuk manipulasi pembayaran pajak. Bagi negara super power maka Kail Bermata Durja digunakan untuk ekspansi kekuasaannya"

    Maka, hanya dengan mendekatkan diri pada Allah SWT, kita akan tertolong.

    ReplyDelete
  6. Metia Novianti
    17709251021
    PPs Pend. Matematika A 2017
    Dari Elegi Kail Bermata Durja di atas dapat diketahui bahwa kail bermata durja merupakan segala alat yang digunakan oleh orang yang suka memanfaatkan dan memperdaya orang lain untuk memperoleh manfaat secara tidak jujur dengan cara menipu atau mengelabui obyek yang dituju. Apabila orang-orang seperti ini diberikan amanah, akan sangat buruk dampaknya bagi orang lain. Oleh karena itu sebagai seorang pendidik, perlu diajarkan sikap jujur sejak dini agar mereka terbiasa untuk berlaku jujur dan memiliki mental yang baik.

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Manusia itu kadang berbuat baik, kadang berbuat jahat. Ada orang yang menginginkan sesuatu maka akan melakukan hal-hal yang baik agar mendapatkannya. Pada dasarnya manusia itu sifat, sifat itu senantiasa berubah. Dan terkadang ketika manusia itu sudah mendapatkan apa yang dia inginkan, kemudian lupa untuk bersyukur, malah menginginkan hal yang lebih dari itu, begitupun seterusnya. Hal ini berkaitan dengan karakter dasar dari seseorang, yang dikonstruk daam waktu yang sangat lama, tidak instan. Maka karakter itu tidak dapat instan diubah dalam waktu singkat. Sehingga untuk dapat menciptakan karakter yang baik, maka harus dipupuk sejak kecil, harus dibangun dari awal.

    ReplyDelete
  8. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi kail bermata durja menceritakan tentang arti pentingnya kejujuran. Jujur adalah sikap atau sifat seseorang yang menyatakan sesuatu dengan sesungguhnya dan apa adanya,tidak ditambahi ataupun dikurangi. Sifat jujur ini harus di miliki oleh setiap manusia karena sikap dan sifat ini merupakan prinsip dasar dari cerminan akhlak seseorang. Siswa yang mencontek, guru yang memalsu PAK, calo yang menipu penumpang, Bankir yang menipu nasabah, petugas pajak yang memanipulasi pajak, merupakan contoh-contoh ketidak jujuran. Apabila seseorang diketahui tidak jujur, maka kepercayaan orang lain terhadap dirinya akan hilang.

    ReplyDelete
  9. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi ini saya memahami bahwa filsafat itu benar didapat dari refleksi dan pemikiran yang mendalam. Misal dari benda yaitu kail maka dapat diambil filsafatnya dan direfleksikan dalam hidup. Bahwa memang banyak sekali kail yang ada di kehidupan mulai dari yang kecil hingga yang besar yang tujuannya untuk mengelabuhi orang. Contoh sederhananya jika kita seorang siswa maka kita menggunakan kesempatan untuk mencontek, dan contoh besarnya yaitu pemerintah yang menggunkan kekuasaannya untuk korupsi. Dan masih banyak contoh yang lain, yang sangat miris ketika menyadarinya. Semoga kita tak pernah menggunakan kail ini dalam kehidupan sehari-hari, dan semoga kita terhindar dari jeratan kail-kail kehidupan ini, memohon pada Sang Pencipta untuk selalu dilindungi. Aminn

    ReplyDelete
  10. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B

    "Itulah gunanya filsafat, yaitu mencoba memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun. Kesalahan Pengail adalah karena dia telah menipu Ikan. Dia pura-pura memberi umpan, padahal di dalam umpannya itu terdapat senjata untuk membunuh ikan itu."
    kutipan pembicaraan ini membuat saya berpikir, apakah saya masih belum memahami atau mempelajari ilmu filsafat?, jawabannya tentu saja ya. Karena tidak terpikirkan bahwasannya si Pengail melakukan penipuan terhadap si ikan, walaupun mungkin pengail melakukan itu karena sudah pekerjaannya, hobinya, ataupun keterpaksaaan.
    Ada satu kalimat lain yang sangat membuat saya tertarik dan menyukai kalimat tersebut, yaitu "Kail Bermata Durja adalah segala alat yang digunakan untuk memperoleh manfaat secara tidak jujur dengan cara mengelabuhi obyek yang dipancing". Sehingga pada saat ini banyak sekali macam mata kail yang bermata durja ini, jika kita bawa ke lingkungan sekitar kita, akan terlalu banyak orang-orang yang menjadi pengail ini, bahkan tanpa kita sadari mungkin kita pernah menjadi pengail itu sendiri.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Menurut saya, inilah sebenar-benarnya yang dimaksud dengan filsafat, seperti yang dituliskan di atas bahwa filsafat adalah "memikirkan hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun". Termasuk memfilosofikan kail bermata durja. Zaman sekarang banyak sekali orang-orang yang menggunakan kail bermata durja hanya untuk kepentingan pribadinya. Sungguh ironis. Alangkah baiknya kita sebagai hamba Tuhan YME yang paling sempurna untuk menghindari hal ini karena sesuatu yang diperoleh dengan berlandaskan seperti kail bermata durja akan dipertanyakan keridhoannya di mata Tuhan YME. Jangan sampai apa yang kita peroleh bernilai haram dan kemudian akan menjadi daging di dalam tubuh kita.

    ReplyDelete
  12. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Kail Bermata Durja merupakan istilah yang mengandung banyak makna. Makna tersebut sesuai dengan konteks pembicaraannya. Yang jelas, di dunia ini banyak orang menggunakan kail bermata durja, kail itu dapat mempermudah untuk mencari keuntungan. Tapi, sebenar-benar seseorang yang menggunakan kail bermata durja adalah seseorang yang belum memantapkan hatinya sebagai komandan dalam ia bertindak. Perbuatan semacam itu harus dihindari untuk menggapai ridho Illahi. Selalu berusaha untuk berpikir kritis dan senantiasa berdoa memohon perlindungan Allah SWT dari godaan syetan yang dapat menyesatkan diri kita.

    ReplyDelete
  13. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kail bermata durja merupakan sebuah analogi terhadap kesempatan yang diberikan Allah SWT yaitu berupa ujian hati untuk kita sebagai makhlukNya. Saya anggap demikian karena, kesempatan tersebut memang dimanfaatkan manusia namun tidak dalam konteks ruang dan waktu yang tepat. Hal ini sudah dicontohkan pada elegi di atas. Mirisnya perilaku jujur yang saat ini semakin menurun seharusnya membuat kita sadar, betapa setan telah mengelabuhi kita dengan mudahnya. Naudzubillah.. semoga kita senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin..

    ReplyDelete
  14. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Elegi ini menunjukkan bahwa manusia tidak selamanya mampu bertahan di jalan yang lurus. Godaan syaitan selalu ada di setiap aktivitas manusia. Itulah kalau manusia hanya terus mengutamakan olah pikir tanpa olah hati (spiritualitas). Contoh kecilnya adalah seorang pejabat yang seharusnya mengayomi rakyat kecil, justru tega melakukan korupsi yang merampas uang rakyat.

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Banyak manusia yang berlomba-lomba memperkaya diri dan melambungkan kekuasaan. Tak jarang mereka menggunakan kail bermata durja sebagai jalan-jalan pintas untuk melancarkan aksinya. Di samping menimbulkan kerugian bagi orang lain, juga sesungguhnya malah menurunkan kualitas dirinya. Mereka mengusahakan sesuatu dengan berbagai tipuan. Hal seperti ini mencerminkan tipu daya syeitan dalam menggoda manusia. Dan sebenar-benar tipu daya yang mereka buat adalah tipu daya untuk dirinya sendiri. Dengan hal ini akan merendahkan kedudukannya di mata sang pencipta. Semoga kita terjaga dari kail bermata durja.

    ReplyDelete
  16. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Setelah membaca elegi di atas akhirnya saya baru menyadari di balik kail mata pancing ternyata memiliki pelajaran yang sangat berharga.Betapa ikan tergiur dengan umpan padahal di dalamnya ada mata pancing yang siap membunuhnya.Ya ,sang pemancing yang menjadi dalang dari terbunuhnya ikan.Maknanya bahwa seseorang terkadang akan melakukan apapun dengan taktik yang tidak benar demi memenuhi hasratnya dalam meraih sesuatu.Sebagaiamana yang dicontohkan dalam elegi tersebut.Dan cara-cara yang ditempuhnya tidak sesuai dengan kadar ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  17. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..

    Kita diibaratkan ikan-ikan yang setiap saat bisa terpancing oleh kail-kail bermata durja. Kita ibarat ikan-ikan yang dapat setiap saat ditipu kail bermata durja. Oleh karena itu kita harus senantiasa berhati-hati supaya tidak menjadi ikan yang ditipu oleh kail-kail tersebut. Sebaiknya kita perkuat iman kita, sehingga tidak terpedaya godaan syetan. Sebaiknya kita senantiasa berlindung kepada Tuhan, supaya tidak terperanngkap jebakan pihak-pihak yang memiliki maksud buruk terhadap kita. Semoga Tuhan senantiasa melindungi kita dari apapun yang mungkin 'membunuh' kita, dan semoga Tuhan memberi petunjuk kepada mereka yang masih saja terpancing dan menjadi pengail kail bermata durja.

    ReplyDelete
  18. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kail bermata durja merupakan ungkapan yang sederhana namun diselami secara mendalam dan meluas melalui filsafat akan diperoleh berbagai makna yang awalnya tidak pernah kami duga. Kail bermata durja yang telah dijelaskan diatas bahwa mata durja bisa berupa segala hal yang buruk adalah analogi bahwa dalam hidup di dunia ini kita tidak lepas akan kail kail yang mampu membawa kita pada hal beburukan, syaitan, hedonis, individual, matrealisme dll. Kain ini bisa setiap saat mengail manusia ketika secara spiritual manusia jauh dari Tuhannya. Oleh karenanya manusia harus senantiasa bedzikir agar selalu beristiqomah dalam kebaikan dan senantiasa dalam ketaqwaan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  19. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Ketika kail dilemparkan, kita harus memastikan bahwa kail tersebut tepat sasaran agar tak terkait dengan benda lain atau ruwet dengan tali pancing lainnya. Tali pancing yang terkait satu sama lain dan ruwet adalah gambaran secara gamblang mengenai krisis multi dimensi. "Nyangkut" itu adalah hal yang kecil kan, tapi ketika semua aspek itu "nyangkut" maka akan timbul keruwetan yang sulit diurai. Krisis di satu bidang mempengaruhi krisis yang lain. Adalah kesabaran yang diperlukan dan dilakukan secara bersama-sama agar satu persatu krisis dapat terurai

    ReplyDelete
  20. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Setelah membaca elegi kail bermata durja ini, seketika pikiranku mulai menerawang keberbagai hal yang pernah terjadi dalam kehidupan saya. Kail bermata durja ini terdapat dalam diri manusia karena mereka tidak memiliki rasa syukur, tidak memiliki rasa percaya diri terhadap dirinya sendiri, serta keinginan untuk dianggap dirinya itu ada di tengah-tengah lingkungannya. Karena semuanya itu maka orang-orang yang tidak memiliki pegangan yang teguh terhadap yang Maha Kuasa maka dia akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan apa yang dia inginkan meskipun menyakiti dan menzolimi orang lain. Semoga kita bukan golongan ornag-orang yang menghalalkan kail bermata durja. Aamiin

    ReplyDelete
  21. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Manusia pada dasarnya memiliki dua aspek dalam dirinya yaitu di satu sisi manusia memiliki akal-budi yang menginginkan manusia untuk menjadi malaikat dan dewa-dewa, akan tetapi di sisi lain manusia memiliki nafsu-nafsu yang menginginkan manusia untuk mnjadi hewan. Dali elegi ini, istilah “kail bermata durja” adalah suatu sarana atau alat atau cara-cara yang tidak baik yang biasa digunakan oleh manusia-manusia yang telah mengalahkan akal-budi dan lebih mengutamakan nafsu-nafsunya demi mendapatkan tujuan dan keinginannya. Semoga kami dijauhkan dari sifat-sifat tersebut. Amin.

    ReplyDelete