Oct 28, 2012

Kutarunggu Persidangan Agung Sang Bagawat




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai para cantralma, kesinilah aku ingin menyampaikan beberapa pertanyaanku kepadamu. Apakah engkau mengetahui apa hubungan antara percabaan Kutarunggu dengan Kerajaan Hanuya?



Para cantralma:
Wahai guruku, aku belum sepenuhnya paham.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya adalah dimana sebetulnya percabaan ini, yaitu percabaan Kutarunggu berada?

Para cantralma:
Ya di sini.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya, siapakah yang mempunyai pangkat tertinggi pada percabaan Kutarunggu?

Para cantralma:
Menurutku yang mempunyai pangkat tertinggi adalah guruku yaitu sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooh..pada cantralma. Ternyata ilmumu belum seperti apa yang aku harapkan. Engkau semua harus masih banyak belajar. Maka dengarkanlah caramahku dalam persidangan agung ini.

Bagawat:
Ketahuilah bahwa semua pejabat di kerajaan Hanuya adalah alumnus Kutarunggu. Maka hubungan antara Kutarunggu dengan Hanuya ibarat wadah dan isi. Kutarunggu itu bisa berupa wadahnya, sedang isinya adalah Hanuya.

Bagawat:
Sedangkan keberadaan Kutarunggu yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang engkau lihat. Kutarunggu yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Maka tidak perlu engkau mencari-cari dimana keberadaan Kutarunggu. Cukup dengan berpikir kritis, maka engkau akan segera menemukan Kutarunggu. Sebetul-betul Kutarunggu itu adalah pikiran dan hatimu.

Bagawat:
Sedangkan pangkat tertinggi di Kutarunggu ini bukanlah diriku atau Cantralma tetapi daya kritismu dan keiklhasanmu dalam berkata, berbuat dan bekerja.

Bagawat:
Satu lagi pertanyaanku, engkau itu sedang biara dengan siapa?

Para cantralma:
Kami sedang bicara dengan sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooo...ternyata engkau belum juga sempurna dalam memahami ilmu-ilmuku. Sebetulnya dirimu sedang bicara dengan ilmumu. Itulah engkau itu sedang menuntut ilmu. Maka jika engkau telah tetapkan niatmu, maka segenap kata, perbuatan, dan perilaku dan pengalamanmu itulah ilmumu. Jadi sebenar-benar sang Bagawat tidak lain tidak bukan adalah pikiranmu.

Para cantralma:
Wahai sang Bagawat, tetapi kenapa engkau seperti tampak menyimpan kesedihanmu?

Bagawat:
Wa...ha..haa..syukurlah. Sekarang aku mulai melihat kecerdasanmu. Ketahuilah bahwa kesedihanku itu dikarenakan aku melihat perjalanan para cantralma kedepan akan mengalami godaan yang tidak kecil. Bahkan aku melihat dan mengetahui ada satu atau beberapa cantralma mulai terkena stigma. Ketahuilah bagai sanga Stigmaraja, maka stigma itu tentu selalu bertentangan dengan keadaan kita. Maka waspadalah terhadap stigma-stigma. Padahal engkau tahu bahwa Kutarunggu ini sebetulnya juga berhak memproduksi stigma. Yaitu stigma-stigma yang baik-baik, tetap hal yang demikian terkalahkan oleh besarnya kekuasaan sang Stigmaraja. Maka waspadalah.

Para cantralma:
Lalu bagaimanakah guruku cara menghindari stigma-stigma buruk, atau di sebut sebagai stigma saja itu?

Bagawat:
Sebenar-benar stigma itu terdiri dari 2(dua) komponen dasar, yaitu pikiran dan hati. stigma itu aalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghalau para stigma yaitu dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas.

Bagawat:
Saya ingin menutup persidangan agung ini dengan perintah kepada para cantralma agar engkau semua dapat mengawal dan mengamankan baik Kutarunggu maupun Hanuya, dari ancaman para stigma. Terimakasih

7 comments:

  1. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala wajib meyakini bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28). Mengingat Allah adalah bentuk kombinasi dari pikiran dan hati yang baik. Hanya dengan hati yang baiklah, pikiran dapat diarahkan untuk kearah yang baik.

    ReplyDelete
  2. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Segenap kata, perbuatan, perilaku, dan pengalaman kita menunjukkan ilmu kita yang sebenarnya. Ilmu kita adalah pikiran kita. Ilmu kita tidak akan bermanfaat jikalau kita tidak ikhlas. Begitu pula sebaliknya, ikhlas kita tifak akan memberikan manfaat tanpa adanya ilmu atau tanpa adanya pikiran kritis. Berpikir kritis dan ikhlas haruslah saling melengkapi. Oleh karena itu, kita harus selalu berpikir kritis dan ikhlas dalam melakukan sesuatu.

    ReplyDelete
  3. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Sebenar-benar begawat adalah ilmumu". Berarti, usaha kita dalam berilmu (mencapai logos) adalah dengan beregang teguh pada kekuatan "hati" dan "pikir". Daya berpikir kritis dan keihlasan, harus begitu diseimbangkan. Karena jika tidak, sangat mungkin kita terjebak stigmayang mengerikan. Gimana nggak mengerikan, lah wong pikiran yang harusnya kritis jadi tidak kritis, hati yang sangat harus jernih jadi benar-benar tidak jernih.

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya manusia adalah tentang bagaimana ilmu pengetahuannya. Diri kita merupakan cerminan daripada Ilmu kita. Cara berkata, perbuatan dan perilaku kita merupakan hasil dari ilmu yang kita peroleh. Karena sebenar-benarnya ilmu kita adalah pikiran kita sendiri. Apabila kita mampu berpikir kritis, berhati bersih dan juga disertai dengan keikhlasan maka kita dapat menfhalau stigma, terutama stigma negatif.

    ReplyDelete
  5. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sebenar-benarnya kutarunggu adalah pikiran dan hatimu. Setiap manusia pasti mempunyai pikiran dan hati. Maka sebaik-baik pemikiran dan hati adalah pemikiran yang kritis dan hati yang ikhlas, baik itu dalam berkata, bertindak maupun bekerja. Oleh karena itu, milikilah pemikiran yang kritis karena pemikiran yang kritis akan membawa kepada sikap yang tidak hanya menerima tetapi mampu menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk. Miliki juga hati yang ikhlas karena hati yang ikhlas akan membawa kepada ketenangan dan tanpa pamrih dalam bekerja.

    ReplyDelete
  6. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Sesuatu yang harus selalu diusahakan untuk dicapai adalah berpikir kritis dan memiliki hati yang ikhlas. Meskipun seorang manusia tidak akan pernah sampai pada puncak dari berpikir kritis dan mencapai hati yang ikhlas, namun, semua itu harus dijadikan semangat untuk terus dan terus dalam berusaha menggapai pemikiran yang kritis dan keikhlasan di dalam hati.

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Berdasarkan ulasan percakapan yang Bapak tulis, dapat saya ambil pelajaran bahwa seorang manusia memiliki hati dan pikiran yang mempengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupannya. Meskipun hati dan pikiran merupakan dua hal berbeda, hati dan pikiran merupakan dua hal yang saling terkait. Kita dapat merasakan apa yang kita pikirkan melalui hati kita. Jika pikiran dan hati kita dipenuhi dengan kebaikan maka berakibat baik pula terhadap apa yang kita lakukan, begitu pula sebaiknya. Oleh karena itu, sebagai manusia yang berakal, berpikir kritis dan bersih hati atau ikhlas akan membuat kita terhindar dari “stigma-stigma” yang negatif.

    ReplyDelete