Oct 28, 2012

Kutarunggu Persidangan Agung Sang Bagawat




Oleh Marsigit

Bagawat:
Wahai para cantralma, kesinilah aku ingin menyampaikan beberapa pertanyaanku kepadamu. Apakah engkau mengetahui apa hubungan antara percabaan Kutarunggu dengan Kerajaan Hanuya?



Para cantralma:
Wahai guruku, aku belum sepenuhnya paham.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya adalah dimana sebetulnya percabaan ini, yaitu percabaan Kutarunggu berada?

Para cantralma:
Ya di sini.

Bagawat:
Pertanyaanku berikutnya, siapakah yang mempunyai pangkat tertinggi pada percabaan Kutarunggu?

Para cantralma:
Menurutku yang mempunyai pangkat tertinggi adalah guruku yaitu sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooh..pada cantralma. Ternyata ilmumu belum seperti apa yang aku harapkan. Engkau semua harus masih banyak belajar. Maka dengarkanlah caramahku dalam persidangan agung ini.

Bagawat:
Ketahuilah bahwa semua pejabat di kerajaan Hanuya adalah alumnus Kutarunggu. Maka hubungan antara Kutarunggu dengan Hanuya ibarat wadah dan isi. Kutarunggu itu bisa berupa wadahnya, sedang isinya adalah Hanuya.

Bagawat:
Sedangkan keberadaan Kutarunggu yang sebenarnya bukanlah seperti apa yang engkau lihat. Kutarunggu yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Maka tidak perlu engkau mencari-cari dimana keberadaan Kutarunggu. Cukup dengan berpikir kritis, maka engkau akan segera menemukan Kutarunggu. Sebetul-betul Kutarunggu itu adalah pikiran dan hatimu.

Bagawat:
Sedangkan pangkat tertinggi di Kutarunggu ini bukanlah diriku atau Cantralma tetapi daya kritismu dan keiklhasanmu dalam berkata, berbuat dan bekerja.

Bagawat:
Satu lagi pertanyaanku, engkau itu sedang biara dengan siapa?

Para cantralma:
Kami sedang bicara dengan sang Bagawat.

Bagawat:
Oo..ooo...ternyata engkau belum juga sempurna dalam memahami ilmu-ilmuku. Sebetulnya dirimu sedang bicara dengan ilmumu. Itulah engkau itu sedang menuntut ilmu. Maka jika engkau telah tetapkan niatmu, maka segenap kata, perbuatan, dan perilaku dan pengalamanmu itulah ilmumu. Jadi sebenar-benar sang Bagawat tidak lain tidak bukan adalah pikiranmu.

Para cantralma:
Wahai sang Bagawat, tetapi kenapa engkau seperti tampak menyimpan kesedihanmu?

Bagawat:
Wa...ha..haa..syukurlah. Sekarang aku mulai melihat kecerdasanmu. Ketahuilah bahwa kesedihanku itu dikarenakan aku melihat perjalanan para cantralma kedepan akan mengalami godaan yang tidak kecil. Bahkan aku melihat dan mengetahui ada satu atau beberapa cantralma mulai terkena stigma. Ketahuilah bagai sanga Stigmaraja, maka stigma itu tentu selalu bertentangan dengan keadaan kita. Maka waspadalah terhadap stigma-stigma. Padahal engkau tahu bahwa Kutarunggu ini sebetulnya juga berhak memproduksi stigma. Yaitu stigma-stigma yang baik-baik, tetap hal yang demikian terkalahkan oleh besarnya kekuasaan sang Stigmaraja. Maka waspadalah.

Para cantralma:
Lalu bagaimanakah guruku cara menghindari stigma-stigma buruk, atau di sebut sebagai stigma saja itu?

Bagawat:
Sebenar-benar stigma itu terdiri dari 2(dua) komponen dasar, yaitu pikiran dan hati. stigma itu aalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghalau para stigma yaitu dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas.

Bagawat:
Saya ingin menutup persidangan agung ini dengan perintah kepada para cantralma agar engkau semua dapat mengawal dan mengamankan baik Kutarunggu maupun Hanuya, dari ancaman para stigma. Terimakasih

47 comments:

  1. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    Karena hidup ini adalah pilihan antara baik dan buruk maka tergantung bagaimana kita memilih dua jalan untuk menjalani hidup kita akankah mengikuti stigma atau melawan stigma, kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma. Berbicara mengenai wadah dan isi maka keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan, demikian juga jika kita membicarakan tentang guru dan ilmu. Guru hanyalah sebagai wadah ilmu untuk para siswa, namun intinya tetap terletak pada ilmu itu sendiri. Untuk memahami tentang wadah dan isi maka dibutuhkan pemikiran yang kritis, tanpa berpikir kritis maka kita hanya terjebak dalam stigma.

    ReplyDelete
  2. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Hati dan pikiran, ada saatnya keduanya saling mendukung. Ada pula kalanya keduanya saling bekerja mandiri. Hati yang jernih akan membuka pikiran seluas-luasnya untuk emnembus dimensi yang ada dan yang mungkin ada. Begitulah hakekat berpikir kritis adalah beprikir tentang pikiran itu sendiri, akan terjadi kontradiksi yang banyak berhingga adanya. Begitulah hakekat seorang mencari ilmu.

    ReplyDelete
  3. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Hubungan antara Kutarunggu dengan Hanuya diibaratkan sebagai wadah dan isi. Wadahnya yaitu Kutarunggu dan Hanuya sebagai isinya. Agar terbebas dari stigma kita harus selalu berpikiran yang kritis dan hati yang ikhlas dalam melakukan segala sesuatu dalam hidup kita. Hidup yang kita jalani banyak sekali godaan untuk melakukan hal-hal yang kurang terpuji maka dengan berpikiran kritis dan menggunakan hati yang ikhlas diiringi dengan usaha dan do’a yang sungguh-sungguh maka kita dapat terhindar dari stigma yang mungkin akan terjadi.

    ReplyDelete
  4. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Berbicara mengenai wadah dan isi maka keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan. Demikian juga jika kita membicarakan tentang guru dan ilmu. Guru hanyalah sebagai wadah ilmu untuk para siswa, namun intinya tetap terletak pada ilmu itu sendiri. Untuk memahami tentang wadah dan isi maka dibutuhkan pemikiran yang kritis. Tanpa berpikir kritis maka kita hanya terjebak dalam stigma.
    Stigma adalah berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, hal yang kita lakukan negatif sampai pemikiran kita negatif. Karena hidup ini adalah pilihan antara baik dan buruk maka tergantung bagaimana kita memilih dua jalan untuk menjalani hidup kita akankah mengikuti stigma atau melawan stigma. Hendaklah kita selalu berpikir positif agar menciptakan pikiran yang kritis serta diiringi dengan keikhlasan sehingga kita bisa terhindar dari stigma.

    ReplyDelete
  5. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ketenangan hati dan pikiran yang didasari keikhlasan akan melahirkan cara berpikir kritis dan kreatif. Dalam menghadapi hidup, lakukan dan berikan yang terbaik dan optimal. Yang terpenting adalah niatnya karena amalan itu tergantung dari niatnya. Selain itu, kita harus mempunyai komitmen, istiqomah, selalu berusaha dan berdoa, serta mendekatkan diri kepada Alloh agar diberikan yang terbaik untuk semuanya.

    ReplyDelete
  6. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Hidup adalah pilihan, pilihan antara baik dan buruk. Pilihan yang tergantung bagaimana kita menentukan pilihan untuk dijadikan jalan hidup kita yang akan mengikuti stigma atau melawan stigma. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata untuk kita guna melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita.

    ReplyDelete
  7. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Pikiran yang kosong akan menimbulkan kegundahan hati yang timbul pada seseorang. Terkadang manusia tidak menggunakan hati mereka tetapi mereka hanya menggunakan pikiran mereka dengan meniru orang lain. Padahal dihati mereka adalah terdapatnya keajaiban yang terlihat maya tetapi sebenarnya nyata dan kebenaran yang sebenarnya berada dalam pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas. Oleh karena itu untuk menggapai kebenaran hidup, seesorang hendaknya berfikir dengan akal sehat, kemudian masukkan pikiran kedalam hati yang bersih, dan berbuat yang baik.

    ReplyDelete
  8. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala wajib meyakini bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (QS ar-Ra’du:28). Mengingat Allah adalah bentuk kombinasi dari pikiran dan hati yang baik. Hanya dengan hati yang baiklah, pikiran dapat diarahkan untuk kearah yang baik.

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Segenap kata, perbuatan, perilaku, dan pengalaman kita menunjukkan ilmu kita yang sebenarnya. Ilmu kita adalah pikiran kita. Ilmu kita tidak akan bermanfaat jikalau kita tidak ikhlas. Begitu pula sebaliknya, ikhlas kita tifak akan memberikan manfaat tanpa adanya ilmu atau tanpa adanya pikiran kritis. Berpikir kritis dan ikhlas haruslah saling melengkapi. Oleh karena itu, kita harus selalu berpikir kritis dan ikhlas dalam melakukan sesuatu.

    ReplyDelete
  10. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Sebenar-benar begawat adalah ilmumu". Berarti, usaha kita dalam berilmu (mencapai logos) adalah dengan beregang teguh pada kekuatan "hati" dan "pikir". Daya berpikir kritis dan keihlasan, harus begitu diseimbangkan. Karena jika tidak, sangat mungkin kita terjebak stigmayang mengerikan. Gimana nggak mengerikan, lah wong pikiran yang harusnya kritis jadi tidak kritis, hati yang sangat harus jernih jadi benar-benar tidak jernih.

    ReplyDelete
  11. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya manusia adalah tentang bagaimana ilmu pengetahuannya. Diri kita merupakan cerminan daripada Ilmu kita. Cara berkata, perbuatan dan perilaku kita merupakan hasil dari ilmu yang kita peroleh. Karena sebenar-benarnya ilmu kita adalah pikiran kita sendiri. Apabila kita mampu berpikir kritis, berhati bersih dan juga disertai dengan keikhlasan maka kita dapat menfhalau stigma, terutama stigma negatif.

    ReplyDelete
  12. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Sebenar-benarnya kutarunggu adalah pikiran dan hatimu. Setiap manusia pasti mempunyai pikiran dan hati. Maka sebaik-baik pemikiran dan hati adalah pemikiran yang kritis dan hati yang ikhlas, baik itu dalam berkata, bertindak maupun bekerja. Oleh karena itu, milikilah pemikiran yang kritis karena pemikiran yang kritis akan membawa kepada sikap yang tidak hanya menerima tetapi mampu menilai apakah sesuatu itu baik atau buruk. Miliki juga hati yang ikhlas karena hati yang ikhlas akan membawa kepada ketenangan dan tanpa pamrih dalam bekerja.

    ReplyDelete
  13. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Sesuatu yang harus selalu diusahakan untuk dicapai adalah berpikir kritis dan memiliki hati yang ikhlas. Meskipun seorang manusia tidak akan pernah sampai pada puncak dari berpikir kritis dan mencapai hati yang ikhlas, namun, semua itu harus dijadikan semangat untuk terus dan terus dalam berusaha menggapai pemikiran yang kritis dan keikhlasan di dalam hati.

    ReplyDelete
  14. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs PM A

    Berdasarkan ulasan percakapan yang Bapak tulis, dapat saya ambil pelajaran bahwa seorang manusia memiliki hati dan pikiran yang mempengaruhi bagaimana ia menjalani kehidupannya. Meskipun hati dan pikiran merupakan dua hal berbeda, hati dan pikiran merupakan dua hal yang saling terkait. Kita dapat merasakan apa yang kita pikirkan melalui hati kita. Jika pikiran dan hati kita dipenuhi dengan kebaikan maka berakibat baik pula terhadap apa yang kita lakukan, begitu pula sebaiknya. Oleh karena itu, sebagai manusia yang berakal, berpikir kritis dan bersih hati atau ikhlas akan membuat kita terhindar dari “stigma-stigma” yang negatif.

    ReplyDelete
  15. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Sebenar-benar dirimu adalah ilmumu, dan sebenar-benar ilmumu adalah penjelasanmu. Untuk dapat memahami sesuatu kita tidak boleh pernah lelah belajar karena proses belajar sesungguhnya adalah berlangsung sepanjang hayat. Level tertinggi orang yang terus belajar adalah mempunyai daya kritis dan keikhlasan. Namun bukan berarti bagi orang yang menuntut ilmu tidak mengalami rintangan dan halangan. Tetapi dengan belajar orang yang berilmu tidak mudah hanyut dalam godaan stigma karena memilki daya kritis akan semakin terasah dan hati semakin tertatah.

    ReplyDelete
  16. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap manusia diberikan akal pikiran yang berbeda, sehingga tugas kita sebagai manusia untuk mengolahnya dan mencari ilmu yang baik agar akal pikiran bisa kita gunakan dengan sebaik-baiknya. Stigma yang selalu muncul akan mengganggu proses pencarian ilu, karena dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan pasti ada aral melintang. Akan banyak cobaan yang datang untuk mengasah peikiran kita. Seoga kita selalu menjadi manusia yang senantiasa menggunakan pemikiran yang jernih dalam setiap usaha.

    ReplyDelete
  17. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb.

    Terimakasih banyak Pak prof

    Dalam postingan di atas terdapat sikap kerendahan hati dari tokoh yang diperankan Begawat.Meski Berilmu namun Ia tidak ingin dikatakan sebagai orang yang berilmu.Walau kenyataannya ilmunya telah mumpuni, tetap ia merasa kurang dan masih mersa jauh dari kata orang yang berilmu.Dari niat, sikap, perbuatan, dan pengalaman dapat melukiskan bahwa diri kita berilmu meski tanpa dijelaskan.
    Dalam menggapai ilmu akan ada tantantang berupa stigma-stigma buruk.Maka kukuhkanlah niat dan keikhlasan untuk menepis hail itu itu semua seperti yang dinasehatkan dalam elegi di atas.

    ReplyDelete
  18. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Pikiran dan hati manusia itu menentukan kualitas manusia itu sendiri. Pikiran dan hati yang baik dan bersih itu merupakan awal dari suatu kebaikan pula, kebaikan dari semua sisi. Keduanya harus linear agar saling bersinergi dalam diri manusia. Maksudnya jika hatinya bersih maka pikirannya juga harus baik dan ikhlas. Dengan pikiran dan hati baik serta ikhlas maka setiap yang dilakukan juga akan ikhlas untuk menjalaninya dan akan menghasilkan sesuatu yang baik juga. Ketika kita belajar maka sebaiknya hati kita ikhlas dan pikiran kita terbuka untuk menerima pemelajaran dengan baik, dengan begitu maka kebaikan-kebaikan atau ilmu pengatahuan-pengetahuan yang kita lakukan akan mudah untuk dicerna dan dipahami setiap.

    ReplyDelete
  19. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Kutarunggu ibawat sebagai obyek yang memiliki wadah dan isinya. Dalam persiadangan agung snag begawat maka sebenar-benar begawat adalah ilmu dimana dalam memperoleh ilmu kita harus berpikir kritis, jernih ikhlas dan mampu mencerminkan dengan baik seperti apa yang disampaikan begawat. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  20. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami kehidupan manusia biasanya dijalani dengan senantiasa menentukan pilihan. Pilihan hidup biasanya antara pilihan baik dan pilihan buruk, dan pilihan ini menentukan kualitas apa hidup kita yang akan kita capai. Pilihan hidup terkadang kita harus memiliki apakah akan menerima dan mengikuti stigma atau melawan stigma tersebut. Akan lebih bijak jika kita menerima suatu stigma dengan alasan dan tujuan untuk memahami dan mengambil suatu tindakan atau sikap dimana akan menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan stigma itu sendiri. Sehingga orang lain akan dengan sendirinya menyadari kualitas diri dari seseorang tersebut sebenarnya jauh diatas stigma yang menempel tersebut.

    ReplyDelete
  21. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Salah satu cuplikan dari uraian di atas adalah “Sebenar-benar Kutarungu adalah pikiran dan hati”. Sebenar-benar pikiran adalah pikiran yang kritis dan sebenar-benar hati adalah hati yang ikhlas. Pikiran yang kritis dan hati yang ikhlas sangat dibutuhkan oleh seorang guru untuk menghindari stigma. Stigma adalah kebalikannya, yaitu pikiran yang tidak kritis dan hati yang tidak bersih atau tidak ikhlas. Untuk mencapai pikiran yang kritis, guru harus selalu belajar, seperti membaca buku, menerapkan bermacam-macam metode pembelajaran, mengikuti seminar-seminar, dan lain-lain. Untuk menggapai hati yang bersih/ikhlas, guru dapat memperbanyak ibadah (sholat), berdoa, mendengarkan pengajian, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  22. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "stigma itu adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Maka untuk menghalau para stigma yaitu dengan selalu berpikir kritis dan berhati bersih atau ikhlas."
    Berpikir kritis dan berhati ikhlas memang tak mudah. Hidup adalah proses, dalam perjalanannya menuju keikhlasan, terkadang kita terhambat oleh pikiran kita sendiri. Pikiran yang kritis membuat kita merasa sombong dan tak ikhlas. Berpikir kritis dan berikhlas hati adalah proses yang tak kan berhenti.

    ReplyDelete
  23. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    PPs PMA 2017
    17709251005

    Assalamualaikum prof,
    Stigma merupakan pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Stigma pun akan selalu mengancam kita dalam mencari ilmu pengetahuan. Ketika kita merasa bahwa kita telah memiliki pengetahuan atau menerima pengetahuan begitu saja tanpa berusaha membuat anti tesis dan mensintesisnya, berarti kita juga telah terjebak stigma. Sementara hati yang tidak bersih merupakan hati yang telah tergoda oleh setan. Maka kita tidak boleh dalam keadaan berhenti, kita harus senantiasa berikhtiar dengan menggunakan pikiran yang kritis dan hati yang bersih.

    ReplyDelete
  24. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Stigma itu mengancam manusia jika tidak memiliki hati dan pikiran yang bersih. Hati dan pikiran yang tidak bersih akan membuat kita mudah terkontaminasi oleh stigma-stigma. Hal itu membuat kita memiliki pandangan yang negatif. Untuk itu, selalu tingkatkan ilmu dan spiritual agar dapat terhindar dari ancaman stigma. Terimakasih

    ReplyDelete
  25. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Begawat itu ternyata pikiran kita masing-masing. Pikiran yang tidak akan berhenti selama ia masih terikat oleh ruang dan waktu. Begawat saja mengkhawatirkan setiap langkah kita, mengapa kita juga tidak demikian? Padahal semakin tinggi pohon, anginpun akan berhembus kencang. Stigma dan paramitos menurut saya memiliki kesamaan. Sama-sama mengusik kehidupan kita. Maka benar, hati dan pikiran yang bersih yang dapat memberikan jalan yang lancar. Semoga kita tersadar akan ucapan dari sang begawat ini.

    ReplyDelete
  26. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pend. Matematika C

    Ketika kita sudah berniat mencari ilmu, maka sesungguhnya segala sesuatu yang ada di sekitar kita adalah ilmu. Kita dapat belajar dari semut tentang silaturahim dan saling bekerjasama. Kita dapat belajar dari batu tentang penerimaan, tentang prinsip. Maka hal-hal itu akan dapat kita pelajari jika kita memiliki pikiran yang kritis. Dengan pikiran kritis serta hati yang ikhlas pulalah kita dapat menghalau para stigma yang ada di sekitar kita.

    ReplyDelete
  27. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ada dua hal yang menentuka kedudukan manusia di muka bumi ini yaitu pikiran dan hatinya. Ketika pikiran dan hati saling berjalan beriringan maka kita dapat melihat ketenagan yang terpancar pada jiwa ini. Namun ketika pikiran dan hati saling bertentangan akan terpancar kegelisahan yang menyelimuti jiwa kita.

    ReplyDelete
  28. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Dalam melihat potensi, kita cenderung memandang bahwa potensi bisa didapatkan di luar diri kita. Sifat tersebut menumbuhkan sikap ketidakpercayaan diri, dan cenderung mendewakan orang lain. Maka ketika mendapatkan permasalahan, manusia cenderung menyalahkan di luar dirinya. Hal itulah yang menyebabkan kita sulit untuk berpikir reflektif. Oleh karenanya kita perlu berdialog dengan diri kita sendiri, merenung atas segala permasalahan dan pencapaian.

    ReplyDelete
  29. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Jika kita membicarakan tentang guru dan ilmu. Guru hanyalah sebagai wadah ilmu untuk para siswa, namun intinya tetap terletak pada ilmu itu sendiri. Cantralma adalah sosok penuntut ilmu, sedangkan hanuya adalah ilmu yang sedang kita tuntut. Untuk dapat menggapai hanuya, maka kita perlu menyiapkan wadahnya yaitu kutarunggu yang berupa pikiran kritis dan hati yang bersih. Maksudnya kita harus menggunakan logika dan pikiran kita ketika sedang menyelesaikan suatu permasalahan.

    ReplyDelete
  30. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Untuk menghindari stigma-stigma maka seseorang harus mampu menjaga pikiran dan hatinya, selalu dalam keadaan bersih. Namun, untuk menjaga hati dan pikiran seseorang harus senantiasa menghilangkan sifat-sifat buruk dalam dirinya agar hati dan pikirannya tetap terjaga. Karena seperti dikatakan bahwa jika hati itu buruk, maka buruklah perbuatannya. Namun jika hati itu bersih maka baiklah perbuatannya. Maka marilah sama-sama menjaga hati.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  31. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hati dan pikiran adalah dua hal yang seharusnya kita selaraskan. Keduanya merupakan pusat diri kita, pusat karakter kita. Kita harus mampu melatih hati kita untuk dapat ikhlas menerima segala sesuatu. Tidak mudah memang, namun harus diupayakan. Selain itu pikiran ita harus kita latih agar dapat berpikir kritis, dengan berpikir kritis kita mampu memecahkan masalah kehidupan kita dengan mudah.

    ReplyDelete
  32. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Manusia berkedudukan sesuai dengan bagaimana hati dan pikirannya menghasilkan perilaku sosok manusia tersebut, menjauhkan diri dari stigma negatif adalah hal yang penting. Stigma negatif menjadikan manusia tidak mau lagi berkembang dan belajar. Sebagaimana kita harus mengolah semua informasi dengan pikiran dan hati sehingga dapat bertindak sesuai dengan pikiran dan hati kita tersebut.

    ReplyDelete
  33. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    PPS Pendidikan Matematika Kelas B

    Ikhlas. Ikhlas pikir. Ikhlas perbuatan. Itulah sebagian dari sekian banyak kunci menjalani hidup. Dengan ikhlas pikir maka manusia akan merasa bersyukur atas ilmu yang telah didapatkannya dan merasa kurang dengan ilmunya sekarang sehingga akan terus-menerus berpikir mencari ilmu (belajar). Dengan ikhlas perbuatan maka manusia akan selalu berserah pada ketentuan Allah atas segala hal yang telah ia usahakan. Gabunagn antara ikhlas pikir dan ikhlas perbuatan inilah yang kemudian akan memberikan jalan untuk melawan stigma-stigma menebus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  34. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Guru itu memang selalu dipandang lebih pintar dari murid, tapi sebenarnya murid itu sama saja dengan guru. Murid dan guru belajar bersama untuk memperoleh ilmu. Ketika murid memandang guru, ia harus branggapan bahwa guru itu merupakan ilmu. Stigma harus dihadapi dengan bijak dengan selalu berpikir kritis dan hati yang bijak.

    ReplyDelete
  35. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Berbicara mengenai wadah dan isi maka keduanya tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan. Demikian juga jika kita membicarakan tentang guru dan ilmu. Guru hanyalah sebagai wadah ilmu untuk para siswa, namun intinya tetap terletak pada ilmu itu sendiri. Untuk memahami tentang wadah dan isi maka dibutuhkan pemikiran yang kritis. Tanpa berpikir kritis maka kita hanya terjebak dalam stigma. Stigma adalah berbagai pandangan orang yang menilai diri kita negatif, hal yang kita lakukan negatif sampai pemikiran kita negatif. Karena hidup ini adalah pilihan antara baik dan buruk maka tergantung bagaimana kita memilih dua jalan untuk menjalani hidup kita akankah mengikuti stigma atau melawan stigma. Kita harus membiarkan semua stigma yang ada untuk diri kita dengan tujuan bahwa apa yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil dan dari hasil itu bisa menjadi senjata kita untuk melawan stigma sehingga orang yang memiliki stigma kepada kita tahu yang sebenarnya dan dengan sendirinya memuja diri kita. Sangat mudah bila kita menjalani hidup ini tanpa harus memikirkan stigma karena tentunya kita tidak harus berpikir kritis dan mendalam.

    ReplyDelete
  36. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari cerita ini bisa saya pahami bahwa kutarunggu tidak lain dan tidak bukan adalah berada dalam diri kita sendiri. Kutarunggu bisa kita raih jika kita mampu menggunakan pikiran kritis dan hati yang ikhlas. Kutarunggu adalah kebaikan dan kecerdasan yang ada dalam diri setiap orang. Tetapi ada musuh yang bisa merusak kutarunggu yaitu stigma. Stigma adalah keburukan yang merusaka pikiran kritis dan hati yang ikhlas. Stigma-stigma negatif akan menghancurkan kutarunggu dalam seseorang, maka stigma ini harus selalu ditepis dengan pikiran positif dan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  37. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Salah satu yang membedakan manusia dari makhluk yang lain adalah manusia diberikan modal berupa akal pikiran dan hati. Ini adalah modal berharga yang diberikan kepada manusia dalam menyelesaikan tugas-tugasnya dalam kehidupan ini. Maka dalam menjalani kehidupan ini, modal tersebut harus kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Karena modal inilah yang akan membantu kita dalam menyelesaikan tugas-tugas kita. berfikir kritis dan memiliki hati yang bersih. Dengan hal ini kita berharap kita mampu melewati ujian, godaan dalam perjalanan kita menyelesaikan misi kehidupan.

    ReplyDelete
  38. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Kelebihan manusia dibandingkan makhluk lainnya terletak pada akalnya. Manusia dibekali kemampuan untuk berpikir dan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Stigma hadir sebagai suatu kekuatan buruk atau tidak baik. Berdasarkan artikel di atas yang membahas mengenai komponen dasar stigma yang terdiri atas yaitu pikiran dan hati. Maka yang dimaksud stigma dalam pembahasan kali ini adalah pikiran tidak kritis dan hati tidak bersih. Oleh karena itu untuk menghindari stigma tersebut selalu berusaha mengolah pikir dan berdoa agar senantiasa dimampukan untuk ikhlas dalam hati maupun pikiran sehingga kita dapat berpikir secara kritis.

    ReplyDelete
  39. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Perilaku kita seringkali dipengaruhi oleh pikiran dan persaan kita sendiri. Terkadang apa yang sebenarnya terjadi tidak sama dengan apa yang kita pikirkan. Stigma dan mindset yang kita pelihara bisa menjadi senjata makan tuan bagi diri kita jika kita tidak senantiasan membersihkan hati kita dari segala macam prasangka yang mungkin hinggap di dalam hati dan pikiran kita. Hati dan pikrian adalah sesuatu yang dapat bekerjasama di suatu waktu namun dapat berkontradiksi di lain waktu sehingga untuk mendapatkan ketenangan kita harus membuat keduanya bekerja secara sinergis dan saling mendukung.

    ReplyDelete
  40. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus menghindari apa yang disebut stigma. Hal ini termasuk ketika kita menuntut ilmu. Agar ilmu yang kita pelajari dapat bermanfaat kita harus terhindar dari stigma dengan cara selalu berpikir kritis dan senantiasa menjaga hati tetap bersih.

    ReplyDelete

  41. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Cantralma adalah sosok penuntut ilmu, sedangkan hanuya adalah ilmu yang sedang kita tuntut. Untuk dapat menggapai hanuya, maka kita perlu menyiapkan wadahnya yaitu kutarunggu yang berupa pikiran kritis dan hati yang bersih. Maksudnya kita harus menggunakan logika dan pikiran kita ketika menuntut ilmu dan menggunakan hati yang bersih yaitu keikhlasan menuntut ilmu. Dalam perjalanan menutut ilmu terdapat beberapa rintangan yang harus dihadapi seperti stigma. Stigma adalah kabar tentang suatu yang tidak jelas kebenarannya, sehingga sering kali membuat penuntut ilmu tersesat, maka untuk menanggulanginya, kita harus menanggapi stigma berpikir kritis terhadap stigma yang datang dan dengan hati yang bersih untuk tidak mudah terhasut.

    ReplyDelete
  42. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Stigma adalah persepsi negatif akan sesuatu hal. Hampir setiap saat kita mendapatkan atau menemui stigma. Agar terhindar dari stigma kita harus selalu menggunakan pikiran kritis kita. Kita tidak boleh langsung percaaya dengan rumor yang beredar. Dengan hati yang bersih dan ikhlas, kita dapat melawan stigma. Atau kita dapat memilih untuk mengambil hikmah dari stigma tersebut namun tetap tidak mengikuti stigma itu.

    ReplyDelete
  43. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Nilai yang terkandung dalam elegi diatas yaitu salah satunya tentang wadah dan isi. Wadah dan isi adalah dua hal yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Karena wadah tidak ada jika tak ada isi dan begitu sebaliknya. Kejadian yang sering terjadi di masyarakat ini yaitu orang orang akan lebih melihat wadah mengagungkan wadahnya atau tampak luarnya padahal penting pula untuk melihat isi atau substansi dalamnya. Apaun konteksnya. Dan sebaik baik nya yaitu keseimbangan antara wadah dan isi ini.
    Nilai lain yang baik yaitu pikitan yang kritis dan hati yang ikhlas. Karena kita telah dianugrahi pikiran maka kita gunakan dengn maksimal untuk memikirkan yang baik atau berpikir kritislah untuk mendapatkan ilmu itu. dan untuk hati maka ikhlas lah, hanya itu intinya. Bismillah

    ReplyDelete
  44. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Stigma buruk akan selalu datang menggoda kehidupan. Stigma buruk memegang peranan penting dalam kehidupan, karena membuat manusia selalu berusaha untuk memiliki pikiran yang kritis dan hati yang jernih. Perjuangan untuk menggapai pikiran yang kritis dan hati yang jernih akan bermakna karena adanya stigma buruk yang selalu menghadang. Kenalilah berbagai macam aspek, supaya kita bisa tahu dan memilih mana saja aspek yang akan memperkuat pertahanan kita dari berbagai macam serangan stigma buruk.

    ReplyDelete
  45. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Segenap kata, perbuatan, perilaku, dan pengalaman kita menunjukkan ilmu kita yang sebenarnya. Ilmu kita adalah pikiran kita. Ilmu kita tidak akan bermanfaat jikalau kita tidak ikhlas. Begitu pula sebaliknya, ikhlas kita tifak akan memberikan manfaat tanpa adanya ilmu atau tanpa adanya pikiran kritis. Berpikir kritis dan ikhlas haruslah saling melengkapi. Oleh karena itu, kita harus selalu berpikir kritis dan ikhlas dalam melakukan sesuatu

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Berpikir kritis dan hati yang ikhlas merupakan syarat utama dalam menuntut ilmu. melaksanakan kedua syarat itu tentu tidak mudah, diperlukan tekat yang kuat, lelah, waktu yang tidak sedikit, dan pengorbanan lainnya. Pepatah mengatakan manisnya hidup setelah lelah berjuang. Jadi bagi para pencari ilmu, jangan bersedih, karena ada kebahagiaan di setiap pos pencapaiaan ilmu.

    ReplyDelete
  47. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Pikiran dan hati adalah landasan bagi kehidupan manusia. Ketika manusia mampu menenggunakan pikiran dengan tidak lupa disertai dengan hati yang ikhlas maka kehidupannya pun akan menjadi bermakna, akan terhindar dari godaan-godaan kecil, dan kesombongan.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete