Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Tidak Sesat




Oleh Marsigit

Sebagai referensi, berikut saya copykan tulisan Sdri Ninda Argafani:

REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT
Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C 

Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit: 
1. Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta? 
 2. Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?
3. Apa yang harus saya lakukan jika saya tersesat?

Tanggapan dari saya (Marsigit):
1. Pertama, saya ingin sampaikan apresiasi kepada Sdri Ninda Argafani, karena Refleksinya cukup bagus, original, dan menggunakan olah pikir yang baik.
2. Kedua, saya ingin menanggapi perihal pokok-pokok pikiran anda sbb:
- Pengertian Filsafat:
Saya ingin sampaikan di sini bahwa saya sering mendefinisikan Filsafat sebagai OLAH PIKIR yang REFLEKSIF. Sementara anda ingin mereduksinya hanya pada kegiatan REFLEKSIF saya. Hal ini bisa berbahaya karena Anda bisa terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.
- Bahasa Analog:
Anda mengatakan bahasa Analog mempunyai keterbatasan untuk mengungkap segala sesuatu. Betul. Memang demikianlah. Selama itu urusan manusia, maka sifatnya adalah terbatas. Maka Bahasa Analog tentu bersifat terbatas. Maka tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa Hati itu bukan bahasa Analog, melainkan bahasa Langit atau bahasa Spiritual atau bahawa Wahyu atau bahasa Absolut, atau bahasa Kitab Suci.
-Kontradiksi meletakkan Hati sebagai Komandan, jika hati ternyata berisi Syaitan:
Bahasa Analog hati yang selalu saya gunakan mengandung maksud Hati yang terbebas dari kebingungan, terbebas dari Syaitan dan terbebas dari ragu-ragu. Satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sehingga Hati yang sudah terbebas dari unsur-unsurnya Syaitan itu, kemudian dapatlah dipakai sebagai Komandan dalam segala hidupmu, termasuk dalam berfilsafat.
-Keadaan Tidak Sehat:
Saya sungguh sedang menyaksikan Sdri Ninda Argafani dalam keadaan tidak sehat. Oleh karena hal inilah  maka aku munculkan persoalan ini dalam Blog ini. Hingga saat ini, Kuliah sudah 2 minggu, Anda tercatat hanya baru membuat Comment atas Elegi-elegi sebanyak 1 (satu) kali. Ini warning tidak hanya bagi anda, tetapi juga bagi yang lain. Inilah betul-betul keadaan TIDAK SEHAT. Mengapa? Berfilsafat tidak dapat menggunakan Sekali Gempur kemudian selesai. Berfilsafat seharusnya meniru Metode Hidup. Maka hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment. Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang anda perbuat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.
Sekali lagi, warning bagi anda, agar anda sesegera mungkin membaca Elegi-elegi yang lain, karena segala jawaban dari persoalan-persoalan Anda sudah tersedia di sana.
Selamat berjuang. Amin

50 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Berfilsafat itu tidak hanya sekedar menggunakan pola pikir saja namun harus yang reflektif, kita dianjurkan bisa menganalisis, menelaah dan membangun dunia. Dengan menggunakan pola pikir kita dengan baik, kita harus bisa menggunakan secara baik, bijak, dan tanpa merugikan orang lain. Dan jangan sampai kita menggunakan pikiran kita untuk menyesatkan orang lain. Karena itu merupakan penyalah gunaan pikiran kita dalam berfilsafat. Selain itu dengan memegang tinggi spritual diatas filsafat akan mencegah kita dari kesesatan.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    “hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment” saya pikir kalimat ini juga ditujukan bagi saya. Ketika mulai melanjutkan sekolah lagi (Kuliah S2 saat ini) terasa betul bagi saya bahwa membaca harus benar-benar dijadikan sebagai gaya hidup atau life style. Tidak hanya di mata kuliah yang bapak ajarkan, namun semuanya.
    Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu dengan baik tanpa membaca? Karena itu membaca sangatlah penting. Penting juga bagi kita untuk member koment atas apa yang kita baca, tidak hanya tulisan-tulisan dalam blog bapak ini, namun semua bacaan yang kit abaca belajarlah untuk membuat komen pribadi terhadap bacaan itu. Saya pikir dengan cara belajar seperti ini, maka dengan sendirinya kita sedang membangun cara berpikir Filsafat sebab berfilsafat artinya kita sengan mengolah pikir yang bersifat REFLEKSIF

    ReplyDelete
  3. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Ninda bahwa filsafat merupakan hal yang baru saya pelajari. Akan tetapi, elegi-elegi dari blog ini sungguh memberikan banyak ilmu dan pembelajaran bagi saya untuk senantiasa berpikir yang refleksif. Saya juga sangat sependapat bahwa prinsip/dasar spiritual menjadi pondasi dalam filsafat agar tidak terjadi kesesatan berpikir. Bukan filsafat lah yang sesat, namun cara berpikir lah yang bisa menjadikan sesat.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pemahaman filsafat setiap individu berbeda tergantung tingkat pemikiran dan hati individu tersebut. Elegi-elegi juga membuat saya tertarik untuk belajar memahami bahasa hati. Semoga dengan berlatih merefleksi akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan.

    ReplyDelete
  5. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Filsafat adalah pikiran ketika kita mencoba belajar filsafat artinya kita belajar pikiran para filsuf. Perlu diingat kembali dalam belajar filsafat jangan terjebak pada pikiran filsuf yang akan menjadi mitos bagi dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Apa yang dialami oleh Sdri Ninda juga terjadi pada saya. Awal mula saya belajar filsafat saya merasa bingung. Saat itu saya benar-benar tidak mengerti apa itu filsafat. Saya hanya mengetahui bahwa filsafat itu mendefinisikan sesuatu dari berbagai sudut pandang. Itulah yang saya ketahui dahulu. Tetapi setelah mengikuti dan membaca elegi-elegi ini saya menjadi tahu bahwa ternyata filsafat itu lebih dari sekedar mendefinisikan sesuatu

    ReplyDelete
  7. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya belajar filsafat itu tidak mudah, karena kita harus mengubah olah pikir kita yang biasa-biasa saja menjadi olah pikir yang refleksif. Akan tetapi, elegi-elegi dari blog ini membantu saya memahami bagaimana cara berfikir filsafat, banyak bahasa-bahasa baru yang saya pelajari dari setiap elegi-eleginya serta banyak pesan kehidupan yang saya terima pada setiap elegi-eleginya.

    ReplyDelete
  8. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ilmu filsafat sesungguhnya ilmu refleksi diri melalui renungan. Dalam proses perenungan terdapat berpikir kritis untuk mendapatkan suatu hasil pemikiran yang diterapkan dalam keseharian. Ketika suadah mencapai di satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan dalam kehidupan. Untuk mencapai tingkatan tertinggi tersebut tidak hanya dengan perenungan semata, namun harus disingkronkan dengan hati dan nilai spiritual, agar ilmu filsafat tersebut berada di jalan benar dan jauh dari kesesatan. Tidak ada suatu apa pun di dunia ini tanpa campu tangan Tuhan, oleh Karena itu nilai spiritual sangat berperan, dan juga hati yang menjadi tolak ukur manusia bermoral atau tidak.

    ReplyDelete
  9. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ada orang yang mengatakan bahwa berfilsafat itu sulit namun menurut saya tidak juga karena sebenarnya berfilsafat itu adalah bagaimana kita mengolah pemikiran kita secara bijaksana. Mengapa saya katakan bahwa berfilsafat itu tidak sulit, karena berfilsafat itu toh tidak harus orang yang berpendidikan tinggi, malahan banyak orang yang sekolahnya rendah namun berpikirnya jauh melebihi orang yang sekolah tinggi. Karena filsafat itu mengenal tentang hakikat, dan untuk mengenal hakikat tentu perlu kebijaksanaan, analisis dan penelaahan yang mendalam, dan yang peling penting agar tidak terjerumus kepada kesalahan adalah dengan terus mengaitkannya dengan nilai-nilai agama Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika hal ini kita lakukan saya yakin tidak akan sesat selama-lamanya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

    ReplyDelete
  10. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Belajar filsafat tidak bisa instan. Berfilsafat seharusnya meniru metode hidup. Sebagaimana yang selalu Prof sampaikan baca baca dan baca elegi dan buatlah komen dari elegi yang engkau baca itu. Jika kita hanya membaca setengah-setengah atau hanya sekedar membaca tanpa mencoba memahami dan menghayatinya, maka sesungguhnya kita bisa terjebak dalam kesesatan yang kita buat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam ruang dan waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada. Belajar filsafat dapat menuntun kita menjadi orang yang berpikir kritis secara intensif dan ekstensif serta bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan, sehingga dapat terhindar dari sifat reduksionisme yang tidak tepat.

    ReplyDelete
  11. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    belajar filsafat mungkin akan terbangun dengan perasaan bingung dan menimbulkan pertanyaan. Dengan membaca artikel di atas, filsafat didefinisikan sebagai pemikiran refleksif. Jika kita menguranginya hanya dengan aktivitas refleksif, maka kita akan terjebak dalam mitos atau awal kemungkinan tersesat. Dengan mempelajari filosofi, kita tidak hanya diwajibkan untuk berpikir kritis, tapi juga diharapkan bisa bertindak sesuai dengan apa yang kita pikirkan.

    ReplyDelete
  12. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya setuju dengan Sdri. Ninda yang lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai ilmu refleksi/perenungan dibandingkan mendefinsikannya sebagai ilmu pikir. Meski tak dapat dipungkiri jika belajar filsafat menuntut kita untuk berpikir berat. Menurut saya, yang dimaksud dengan kegiatan merenung menurut filsafat tidak sama dengan merenung atau melamum ketika di kamar, kamar mandi, dsb. Merenung menurut filsaat merupakan kegiatan berpikir secara lebih cermat, telti, dan mendalam. Melalui perenungan tersebut saya meyakini bahwa dengan filsafat kita bisa belajar menjadi pribadi yang lebih bijaksana, bisa berpikir kritis, logis, serta mampu memandang masalah dari berbagai sudut pandang.

    ReplyDelete
  13. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Setelah membaca refleksi di atas, saya mengapresiasinya, karena refleksi yang dibuat menggunakan olah pikir dan tidak hanya menyalin rekaman saja. Untuk keseluruhan saya juga sempat berpikir bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk merefleksi diri, namun ternyata saya telah mereduksi pengertian filsafat terlalu jauh, Alhamdulillah saya membaca refleksi ini sehingga saya dapat terhindar dari salah satu mitos filsafat.

    ReplyDelete
  14. Cendekia Ad Dien
    16709251044
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dalam berfilsafat erat kaitannya dengan kegiatan berpikir kritis dan mendalam. Berbagai pemikiran dan gagasan lahir sebagai hasil dalam berfilsafat. Pemikiran-pemikiran tersebut kemungkinan dapat berupa sesuatu yang benar atau salah. Yang perlu diperhatikan adalah menghindari hasil pemikiran yang bernilai salah yang berujung pada sesatnya dalam berfilsafat. Pada hakikatnya, berfilsafat adalah menggunakan sumber-sumber pemikiran yang benar yaitu menggunakan akal dan hati. Akal dan hati yang bebas dari unsur-unsur syaiton. Spiritualitas pun juga ditempatkan di bagian yang paling tinggi serta berusaha menghindari mitos-mitos. Ini dapat dijadikan sebagai cara agar tidak sesat dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  15. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dalam berfilsafat, kita harus memiliki pegangan. Pegangan dapat berupa ilmu yang cukup dan juga panutan. Manusia tanpa ilmu pengetahuan bagaikan wadah yang kosong, tanpa isi. Panutan manusia yang dapat dipercaya dan tidak akan pernah menyesatkan adalah Rasulullah, yang selalu mengajarkan ketaatan dalam beragama. Apabila kita belajar filsafat, gunakanlah ilmu pengetahuan sebagai bekal, agama (spiritual) sebagai panutan, pikiran untuk mengkritisi, hati untuk merasakan, pengalaman untuk referensi, keterampilan sebagai bantuan, dan juga potensi sebagai pelumas dalam memperoleh ilmu filsafat. Tanpa semuanya itu, maka manusia akan terancam tersesat sehingga tidak akan mencapai tujuan belajar filsafat.

    ReplyDelete
  16. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. fisafat itu mempelajari hakekat suatu hal. Kajian filsafat itu sangat mendalam. Kadang dalam memahami sesuatu ilmu kita bisa tergelincir dan tersesat dalam ilmu itu sendiri. filsafat membantu dengan menajdi pegangan agar tidak tergelincir dalam jurang ilmu. Ia menjadi pengingat apa, mengapa, dan bagaimana ilmu itu.

    ReplyDelete
  17. Sehar Trihatun
    16709251043
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Seperti artikel yang sebelumnya saya baca bahwa belajar filsafat itu tidak mudah, belajar filsafat tidak boleh sepenggal-sepenggal karena jika demikian akan memberikan gambaran yang tidak lengkap. Oleh karena itu kita harus bersungguh-sungguh dalam belajar filsafat dengan keteguhan hati. Saya sangat setuju bahwa kita harus menempatkan spiritual di tempat yang paling tinggi karena dimensi Tuhan tidak dapat dicapai oleh manusia secanggih maupun sepintar apapun manusia itu.

    ReplyDelete
  18. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Filsafat merupakan kegiatan berolah pikir yang reflektif. Dengan berpikir reflektif kita dapat menganalisis segala hal yang ada dalam lingkungan kita. analisis yang meliputi 5W1H, itu yang merupakan salah satu bentuk refleksi kita terhadap sesuatu hal. Salah satu tujuannya adalah agar kita sebagai manusia dapat meningkatkan kemampuan kita menganalisa sesuatu hal yang ada dalam kehidupan kita agar tidak mudah tersesat dalam hidup.

    ReplyDelete
  19. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Berfilsafat tidak hanya soal olah pikir, berfilsafat juga merupakan kegiatan refleksi diri kita sendiri. Oleh karenanya ada yang menyebut filsafat adalah dirimu sendiri karena di dalam filsafat itu tercemin dirimu. Tidak hanya itu, dalam berfilsafat tentunya kita harus menggunakan hati yang ikhlas dan tulus untuk memahami apa itu filsafat sehingga kita tidak tersesat dalam mitos-mitos yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini.

    ReplyDelete
  20. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Sesungguhnya hati (spiritual) tidaklah seharusnya membuat pikiran tertutup akan rasionalisme dan tanpa logika.
    Akan tetapi sering kali hal ini terjadi. Hati terkalahkan oleh rasional tanpa logika.
    Belajar adalah hal yang dilakukan sepanjang hidup, sehingga sering kali didengar pembelajaran sepanjang hayat.

    ReplyDelete
  21. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Saya juga baru ketika kuliah S2 belajar dan mengenal filsafat. Saya mendengar pendapat orang lain tentang belajar filsafat, mereka mengatakan harus berhati-hati ketika belajar filsafat karena dapat menyesatkan pikiran. Saya bingung dengan penjelasan tersebut. Sekarang saya mengerti bahwa filsafat adalah berpikir tentang fenomena kehidupan, seluk beluknya dipikirkan. Selagi itu masuk akal kita selalu bisa menerima hal tersebut. Namun, saya juga memahami dalam berfilsafat kita harus menggunakan pikiran yang jernih dan hati yang bersih. Dengan demikian kita akan menggapai tidak sesat.

    ReplyDelete
  22. Zuliyanti
    14301241009
    S1 Pendidikan Matematika I

    Sependapat dengan mbak Hening Carrysa, belajar filsafat bukanlah hal yang mudah, namun menurut saya filsafat mempermudah kita memahami kehidupan. Dengan melakukan refleksi dan renungan. Dari elegi-elegi yang saya baca dalam blog ini, saya menyadari bahwa filsafat mengubah pola pikir menjadi lebih kritis dan mendalam.

    ReplyDelete
  23. Zuliyanti
    14301241009
    Pendidikan Matematika I

    Mempelajari filsafat ilmu menjadikan kita semakin kritis yang tentunya akan sangat berguna bagi calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah, serta untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi di masa depan.

    ReplyDelete
  24. Lana Sugiarti
    16709251062
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Dari artikel yang ditulis tersebut, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam kehidupan ini kita selalu menginginkan kejelasan. Kejelasan yang ingin diperoleh melalui banyak cara dan banyak hal, salah satunya dengan belajar filsafat. Dengan belajar filsafat maka kita diberi ruang seluas – luasnya untuk berpikir mengenai hal – hal yang ingin diketahui. Selain itu dalam menambah referensi belajar filsafat dan kehidupan ini bisa banyak membaca dari elegi – elegi dalam blog ini. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, oleh karena itu dalam belajar juga membutuhkan hati. Hati untuk ikhlas dalam belajar. Sehingga apa yang dipelajari dapat dipahami dengan baik.

    ReplyDelete
  25. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Filsafat lebih spesifik dapat diartikan sebagai sebagai ilmu refleksi atau ilmu renungan. karena filsafat tidak hanya menuntut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Dari tulisan di atas dan penjelasan yang disampaikan Prof. Marsigit dalam perkuliahan adalah setiap kali berfilsafat, seseorang mestinya harus menjadikan hati sebagai komandan dalam berpikir. Hati di sini maksudnya adalah hati yang bersih, ikhlas, tidak dalam kebingungan dan tidak dalam keadaan pengaruh syaitan. Ini artinya kedudukan spriritual atau agama sangat dijunjung tinggi dalam berfilsafat karena secara umum agama tidak hanya meliputi pikiran tetapi hati juga termasuk di dalamnya.

    ReplyDelete

  26. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Filsafat sebagai rangkaian aktivitas dari budi manusia ialah pemikiran reflektif ( reflective thinking). Yang dapat dirincikan sebagai jenis pemikiran yang terdiri atas mempertimbangkan secara cermat suatu pokok soal dalam pikiran dan memberikannya perhatian yang sungguh – sungguh dan terus menerus ( the kind of thinking that consists in turning a subject over in the mind and giving it serious and consecutive consideration). Sehingga filsafat matematika pada dasarnya adalah pemikiran reflektif terhadap matematika dalam arti menengok sendiri untuk memahami bekerjannya budi itu sendiri. Bekerjanya akal pikiran ditandai dengan sebuah kegiatan mengisi otak dan pikiran dengan baca dan terus membaca blog powermathematics.

    ReplyDelete
  27. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ketika kita merasa bingung saat memahami sesuatu maka sesungguhnya itu adalah tanda awal dari ilmu. Namun jangan sampai kita merasakan bingung dalam hati kita karena kebingungan kita dalam hati berarti itu pertanda syaitan telah nangkring dalam hati kita. Na’udzubillah. Maka hendaknya kita meletakkan spiritualitas di posisi tertinggi. Selain itu ketika kita berfilsafat atau mempelajari ilmu-ilmu yang lain, hendaknya kita menetapkan hati kita sebagai komandan. Maka dengan meletakkan spiritual di posisi tertinggi disertai hati yang dijadikan komandan, kita akan terbebas dari kesesatan. Karena yang membimbing pikiran hati kita adalah Allah SWT. Oleh karena itu, berikhtiar agar senantiasa menjadikan hati sebagai komandan ketika kita melakukan sesuatu. Semoga Allah SWT menjaga hati kita agar selalu terpaut dengan-Nya.

    ReplyDelete
  28. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    S2 Pendidikan Matematika D

    Tidak sesat pasti kita tahu bahwa itu berhubungan dengan yang namanya mau sampai tapi belum sampai. Mungkin bsa diilustrasikan bahwa kita mau pergi ke suatau daerah,, mau sampai di daerah itu dan kita mengalamai sesuru yang menghalangi dalam poerjalan, maka saat itu lah yang disebut tidak sesat. Tidak sesat artinya kita tidak menyimpang dari apa yang ada norma-norma yang berlaku di dunia kita.

    ReplyDelete
  29. Nurwanti Adi Rahayu
    16709251067
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Dalam filsafat metode belajar adalah metode hidup, dengan menghidupkan filsafat kita dapat mempelajarinya dengan baik.
    Artinya mempelajari metode belajar sama halnya dengan mempelajari metode hidup.
    Karena pada hakekatnya hidup adalah untuk belajar. Belajar memahami, belajar merefleks, belajar mempelajari sebagia bekal dalam hidup itu sendiri.

    ReplyDelete
  30. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dari refleksi di atas terlihat bahwa saya setuju jika dalam belajar filsafat sebagai ilmu refleksi karena di dalam filsafat tidak hanya menuntut kita untuk berpikir krtitis terhadap penampakan maupun kenyataan yang ada tetapi juga dengan belajar filsafat diharapkan kita dapat mengambil sesuatu hasil pemikiran para filsuf yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Berfilsafat seharusnya menury metode hidup dengan menyingkirkan perasaan was-was terhadap segala keputusan yang diambil karena perasaan was-was yang membuat adalah kita sendiri.

    ReplyDelete
  31. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya juga seperti saudari ninda. Begitulah awal-awal dengan membaca blog ini sedikit bingung dengan bahasa yang digunakan dan perbedaan dimensi yang disajikan. Namun setelah merasa nyaman dengan membaca blog ini. Maka waktu dari detik ke detik, menit ke menit, samapi jam ke jam dapat saya nikmati bacaannya. Dan mengahasilkan tesis dan anti-tesis setelah membaca bacaan-bacaan yang ada. Begitulah hakekekat bepikir. Tidaklah ada jalan yang sesat, mungkin jalan tersebut hanya mengambil rute yang lebih jauh untuk lebih jauh menjangkau lebih luas pemikiran yang lebih dari pikiran diri sendiri.

    ReplyDelete
  32. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    "filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan" melalui kalimat itu saya semakin menyadari bahwa filsafat itu erat kaitannya dengan kehidupan kita sehari hari, dan yang harus dilakukan adala merefleksi diri sendiri terhadap apa yang telah kita lakukan dalam melewati jalan yang telah kita pilih, sesungguhnnya tidak ada jalan yang salah namun hanya jalurnya dan jaraknya yang berbeda beda, ibarat pepatah seribu jalan menuju Roma.

    ReplyDelete
  33. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Dari elegi ini saya mendapatkan pencerahan yang lebih jelas akan makna filsafat, yakni olah pikir yang refleksif. Bila pemahaman akan filsafat hanya diartikan sebagai kegiatan refleksi maka hal tersebut merupakan salah satu awal indikasi pereduksian filsafat. karena para perefleksi (mahasiswa) akan memahami makna filsafat dari setiap elegi dengan pikirannya masing-masing. Entah itu persepsi yang benar atau yang salah. Namun, senantiasa mengupgrade pemahaman mahasiswa melalui kontinuitas membaca referensi elegi di blog ini serta adanya pendampingan di kelas akan membantah kekhawatiran para filsuf tersebut. Oleh karenanya, belajar dari berbagai referensi akan sangat membantu menyimpulkan pemahaman yang benar. Dengan adanya refleksi ini maka kita dapat terhindar dari salah satu mitos filsafat.

    ReplyDelete
  34. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Berfilsafat ialah mempelajari pemikiran para filsuf. Untuk dapat memahami pikiran para filsuf harus disertai dengan hati dan pikiran yang ikhlas agar tidak tersesat. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, karena filsafat adalah cerminan dari diri kita sendiri. Oleh karena itu, berfilsafat secara kaffah agar mendapat dunia seutuhnya.

    ReplyDelete
  35. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat tidak hanya menuntut kita untuk berpikir kritis tetapi juga dapat mengambil sesuatu dari pemikiran tersebut dan dapat diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari sehingga kita bisa memiliki kebijaksanaan atau kearifan. Sesuatu yang membuat kita sakit disebut filsafat karena timbul gejolak pada diri kita sehingga timbulah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan.

    ReplyDelete
  36. Anisa Wahyu Nur Khasanah
    14301241010
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tetap dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tetapi jangan sampai bingung dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda setan bertengger disana. Taruhlah agama ditempat yang paling tinggi dan tetapkan hatimu sebagai komandanmu.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan matematika I 2014

    Pertanyaan kedua Ninda menurut saya sangat menarik. Saya kemudian mengingat kisah nabi Ibrahim yang kala itu bermimpi mengenai anak semata wayangnya nabi Ismail untuk disembelih. Padahal posisinya nabi Ismail merupakan anak kesayanganya. Pada awalnya nabi Ibrahim takut kala itu mimpinya berasal dari syaitan, akan tetapi mimpinya tersebut terjadi 3 kali sehingga kemudian beliau percaya itu merupakan suatu perintah Allah SWT. Kemudian beliau ikhlas dan menjalankan perintahnya.

    ReplyDelete
  38. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat bukan hanya kegiatan olah piker, tapi merupakan kegiatan olah piker yang reflektif. Agar hal ini dapat dijalankan, berfilsafat seharusnya meniru metode hidup, dilakukan setiap hari hingga menjadi kebiasaan. Berpikir reflektif bukan dicapai hanya satu kali, semakin seseorang memikirkan suatu hal secara mendalam semakin banyak hal yang akan ditemukan olehnya. Itulah kenapa tidak boleh ada kata berhenti karena hanya akan terkena mitos.

    ReplyDelete
  39. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan matematika I 2014

    Filsafat disini diartikan sebagai perenungan diri. Seperti yang pernah dibahas di artikel prof. Marsigit sebelumnya hakikat filsafat itu adalah diri kita sendiri. maka konteks refleksi diri yang dibahas di sini dapat masuk ranah filsafat yang telah di jelaskan sebelumnya.

    ReplyDelete
  40. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam pandangan filsafat segala sesuatu yang membuat sakit merupakan filsafat ini dikarenakan akibat yang dimunculkan ketika rasa sakit itu adalah proses perenungan untuk mampu menanggulangi rasa tersebut. Tentunya dalam proses perenungan tersebut melibatkan kerja pikiran dan hati kita.

    ReplyDelete
  41. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Terkait dengan rasa sakit yang menimbulkan perenungan untuk kemudian mengaktifasi pikiran dan hati maka sakit disini dapat dikatakan filsafat. Lalu kemudian muncul pertanyaan dari saya bagaimana jika rasa bahagia ataupun senang ? Ketika seseorang dalam keadaan bahagia ataupun senang kemudian juga merenungkan proses perjuangan mereka untuk mencapai bahagia yang tentunya juga melibatkan kerja pikiran dan hati. Apakah lantas bahagia dan senang juga merupakan filsafat?

    ReplyDelete
  42. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan matematika 2014

    Segala sesuatu di dunia ini berdimensi begitu juga dengan filsafat. Pada artikel ini juga membahas mengenai filsafat yang merupakan hasir pemikiran suatu orang dengan menjadikan bahasa sebagai alatnya. Hal ini sejalan beberapa artikel yang di posting prof. Marsigit bahwa hakikat filsafat itu berbeda pada masing-masing individu tergantung bagaimana mereka menginterpretasikannya.

    ReplyDelete
  43. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan matematika I 2014

    Kita tahu bahwa setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda-beda akibatnya pandangan terhadap filsafatnya berbeda dan jangkauan dimensi juga berbeda. Untuk orang yang memang intelektuasnya tinggi otomatis dimensi filsafatnya tinggi berkebalikan dengan yang biasa saja ataupun rendah.

    ReplyDelete
  44. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Saya sependapat dengan Prof. Marsigit bahwa titik awal mengapa seseorang bisa tersesat adalah karena BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS. Mandheg berarti berhenti, berhenti berpikir kritis, berhenti menggapai logos sehingga dia tersesat dalam logos yang merupakan hasutan syaitan. Yang perlu kita upayakan agar kita tidak tersesat dan tetap pada jalan menggapai logos adalah dengan terus berpikir, berpikir kreatif dan kritis terhadap pengetahuan, sehingga kita tidak sampai pada titik mandheg itu.

    ReplyDelete
  45. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti yang disampaikan pada artikel ini saya juga serring mendengar persepsi di masyarakat mengenai filsafat bahwa jika ingin mempelajari filsafat hal yang pertama dilakukan adalah menguatkan nilai spiritual kita. Hal ini linear dengan apa yang dikatakan oleh Prof. Marsigit ketika belajar filsafat maka kita harus meletakkan nilai spiritual terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  46. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidika Matematika I 2014

    Sepemahaman dengan Ninda bahwa bukan filsafat yang sesat akan tetapi pola pikiran kitalah yang sesat untuk itulah mengapa Prof. Marsigit dalam setiap artikelnya yang telah saya baca tidak lupa menambahkan unsur spiritual entah itu diawal, pertengahan dan akhir bahkan dengan ara tersirat ataupun tersurat.

    ReplyDelete
  47. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Saya ingin sedikit bercerita tentang pandangan saya terhadap filsafat ketika saya SMA dulu. Ketika mendengar kata filsafat, karena saya belum mengetahui apa itu hakikat filsafat, maka saya langsung berpikiran bahwa nanti kekita kita belajar filsafat maka akan menggoyahkan keyakinan kita dan akan membuat kita menjadi sesat, karena pikiran kita telah dicuci oleh filsafat. Dan sekarang saya menyadari bahwa pemikiran itu adalah pemikiran paling bodoh. Ternyata pandangan saya dulu sangat sempit dan bukan itu filsafat yang dimaksud. Dan setelah mempelajari filsafat, saya menemukan kesenangan tersendiri, terutama ketika membaca elegi-elegi di dalam postingan blog ini. dengan belajar filsafat, kita tidak akan menjadi sesat, justru kita dapat membuka pikiran kita dan lebih berhati-hati dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  48. Manusia kadang tersesat karena tidak mengetahui arah dan jalan yang harus dilalui. Begitupun dengan filsafat, dalam belajar fisafat kita harus mengetahui arah dan jalan yang ditempuh. Salah satu jalan belajar fisafat adalah dengan banyak membaca. Arah dari filsafat dapat dipahami dari pemikiran filsufnya. Manakah filsafat materialis, manakah filsafat spiritual. Dengan mengetahui arah maka filsafat mana yang kita pelajari menjadi rambu-rambu agar kita tidak tersesat. Jika dalam filsafat untuk mencari kebenaran kita harus meninggalkan pengelaman dan rasio yang telah dimiliki. Kita manusia yang beragama menjadikan pengalaman dan rasio tentang agama kita sebagai pegangan agar tidak tersesat.

    ReplyDelete
  49. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam mengahadapi suatu sikap seseorang seringkali berkutat pada keraguan, ketakutan, penasaran, keingintahuan, dan ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sikap yang seperti ini yang akan membuat seseorang menuju jalan sesat. Jika seseorang berpikir dengan akal dan pikiran yang jernih dan positif akan menuntun orang tersebut kejalan yang benar. Namun jika pikiran dirasa sudah tidak kuat lagi, maka yang kita butuh yaitu hati sebagai wadah spiritual dimana saat sudah tidak dapat berpikir dengan jernih.

    ReplyDelete
  50. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Bahasa yang digunakan dalam filsafat adalah bahasa analog, yaitu bahasa yang lebih tinggi dari kiasan. Analog adalah kemiripan antara dua hal. Contoh dari hidup yang tidak sehat misalnya sakit, tergesa-gesa, terpaksa, memaksa. Hidup sehat adalah hidup yang beradab. Beradab yaitu menggunakan tata cara. Agar berfilsafatnya sehat harus menggunakan tata cara. Disarankan jika kita sudah mulai risau dalam berfilsafat maka berhenti terlebih dahulu kemudian berdoa. Dalam berdoa harus dalam keadaan sehat. Metode hidup yang terkenal pada filsafat adalah bahasa analog. Jadi tidak semuanya dikatakan dengan bahasa yang jelas dan mutlak. Musuh filsafat adalah kepastian. Selama itu membahas hal yang duniawi, maka kepastian akan menjadi musuh filsafat. Dengan bahasa analog maka sesuatu menjadi tidak pasti, hal inilah yang menuntut kemampuan berpikir. Bahasa analog ini adalah bahasa yang kontekstual. Berfilsafat itu dibangun dengan konteksnya.

    ReplyDelete