Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Tidak Sesat




Oleh Marsigit

Sebagai referensi, berikut saya copykan tulisan Sdri Ninda Argafani:

REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT
Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C 

Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit: 
1. Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta? 
 2. Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?
3. Apa yang harus saya lakukan jika saya tersesat?

Tanggapan dari saya (Marsigit):
1. Pertama, saya ingin sampaikan apresiasi kepada Sdri Ninda Argafani, karena Refleksinya cukup bagus, original, dan menggunakan olah pikir yang baik.
2. Kedua, saya ingin menanggapi perihal pokok-pokok pikiran anda sbb:
- Pengertian Filsafat:
Saya ingin sampaikan di sini bahwa saya sering mendefinisikan Filsafat sebagai OLAH PIKIR yang REFLEKSIF. Sementara anda ingin mereduksinya hanya pada kegiatan REFLEKSIF saya. Hal ini bisa berbahaya karena Anda bisa terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.
- Bahasa Analog:
Anda mengatakan bahasa Analog mempunyai keterbatasan untuk mengungkap segala sesuatu. Betul. Memang demikianlah. Selama itu urusan manusia, maka sifatnya adalah terbatas. Maka Bahasa Analog tentu bersifat terbatas. Maka tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa Hati itu bukan bahasa Analog, melainkan bahasa Langit atau bahasa Spiritual atau bahawa Wahyu atau bahasa Absolut, atau bahasa Kitab Suci.
-Kontradiksi meletakkan Hati sebagai Komandan, jika hati ternyata berisi Syaitan:
Bahasa Analog hati yang selalu saya gunakan mengandung maksud Hati yang terbebas dari kebingungan, terbebas dari Syaitan dan terbebas dari ragu-ragu. Satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sehingga Hati yang sudah terbebas dari unsur-unsurnya Syaitan itu, kemudian dapatlah dipakai sebagai Komandan dalam segala hidupmu, termasuk dalam berfilsafat.
-Keadaan Tidak Sehat:
Saya sungguh sedang menyaksikan Sdri Ninda Argafani dalam keadaan tidak sehat. Oleh karena hal inilah  maka aku munculkan persoalan ini dalam Blog ini. Hingga saat ini, Kuliah sudah 2 minggu, Anda tercatat hanya baru membuat Comment atas Elegi-elegi sebanyak 1 (satu) kali. Ini warning tidak hanya bagi anda, tetapi juga bagi yang lain. Inilah betul-betul keadaan TIDAK SEHAT. Mengapa? Berfilsafat tidak dapat menggunakan Sekali Gempur kemudian selesai. Berfilsafat seharusnya meniru Metode Hidup. Maka hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment. Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang anda perbuat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.
Sekali lagi, warning bagi anda, agar anda sesegera mungkin membaca Elegi-elegi yang lain, karena segala jawaban dari persoalan-persoalan Anda sudah tersedia di sana.
Selamat berjuang. Amin

22 comments:

  1. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Dalam mengahadapi suatu sikap seseorang seringkali berkutat pada keraguan, ketakutan, penasaran, keingintahuan, dan ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sikap yang seperti ini yang akan membuat seseorang menuju jalan sesat. Jika seseorang berpikir dengan akal dan pikiran yang jernih dan positif akan menuntun orang tersebut kejalan yang benar. Namun jika pikiran dirasa sudah tidak kuat lagi, maka yang kita butuh yaitu hati sebagai wadah spiritual dimana saat sudah tidak dapat berpikir dengan jernih.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Bahasa yang digunakan dalam filsafat adalah bahasa analog, yaitu bahasa yang lebih tinggi dari kiasan. Analog adalah kemiripan antara dua hal. Contoh dari hidup yang tidak sehat misalnya sakit, tergesa-gesa, terpaksa, memaksa. Hidup sehat adalah hidup yang beradab. Beradab yaitu menggunakan tata cara. Agar berfilsafatnya sehat harus menggunakan tata cara. Disarankan jika kita sudah mulai risau dalam berfilsafat maka berhenti terlebih dahulu kemudian berdoa. Dalam berdoa harus dalam keadaan sehat. Metode hidup yang terkenal pada filsafat adalah bahasa analog. Jadi tidak semuanya dikatakan dengan bahasa yang jelas dan mutlak. Musuh filsafat adalah kepastian. Selama itu membahas hal yang duniawi, maka kepastian akan menjadi musuh filsafat. Dengan bahasa analog maka sesuatu menjadi tidak pasti, hal inilah yang menuntut kemampuan berpikir. Bahasa analog ini adalah bahasa yang kontekstual. Berfilsafat itu dibangun dengan konteksnya.

    ReplyDelete
  3. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B
    Dimensi fenomena yang saya almai pun demikian. Beberapa orang berpendapat bahwa mempelajari filsafat itu berbahaya karena dapat menjErumuskan fikiranmu ke dalam hal-hal yang menyesatkan. Fenomena tersebut membuat saya was-was ketika mulai mempelajari mata kuliah filsafat ilmu.
    Setelah selesai mengikuti mata kuliah filsafat ilmu pada pertemuan perdana, saya mulai merenung dan terus berfikir mengenai pembahasan yang disampaikan oleh Pak Marsigit. Ketika proses perenungan tersebut saya membenarkan dimensi fenomena yang beranggapan bahwa mempelajari filsafat dapat menjerumuskan fikiran kita kepada hal yang menyesatkan jika kita tidak melandaskan spiritual sebagai suatu landasan yang kokoh dan juga jika kita tidak memahami alat yang digunakan untuk berfilsafat. Selain itu, rasa was-was dalam diri yang muncul akibat adanya dimensi fenomena itulah yang ternyata akan menyebabkan saya tersesat dan terjebak.
    Yang paling utama dari mempelajari filsafat ilmu menurut saya yaitu landasi dengan spiritual dan sebenar-benar berfilsafat adalah membaca (hal yang sering diucapkan oleh Pak Marsigit).

    ReplyDelete
  4. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Berfilsafat itu berarti terus mengasah otak kita berfikir, berfikir untuk apa? Untuk menemukan hakikat hidup, sehingga kita dapat melakukan refleksi / perenungan. Maka dari itu spiritualitas ditempatkan pada posisi tertinggi, karena memang hakikat hidup ini adalah ibadah. Kalau spiritualitas ditempatkan pada posisi tertinggi, tidak mungkin seseorang akan tersesat dalam berfilsafat, sekalipun ia tidak memahami bahasa analog. Bahasa analog terkadang tidak bisa menjelaskan semuanya. Gunakanlah bahasa hati untuk refleksi pemikiran kita masing-masing. Sesungguhnya bahasa hati adalah bahasa langit atau bahasa absolut, yang mana bahasa hati itu kita gunakan untuk berkomunikasi dengan Allah SWT.

    ReplyDelete
  5. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Pada elegi ini tidak sesat atau di jalan yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan waktu. Karena manusia itu sifat, maka pendapat mengenai tidak sesat pun juga bermacam-macam. Maka, sebenar-benar tidak sesat itu adalah di jalan Tuhan. Kemudian bagaimana agar kita tidak sesat? Baca, baca, dan baca. Karena kita tidak akan pernah tahu mana yang benar dan yang salah ketika kita tidak mempelajarinya. Karena filsafat olah pikir, maka hati-hati dalam mempelajarinya, harus dilandasi dengan iman yang kuat, karena jika tidak kita akan gampang goyah diterpa pemikiran-pemikiran lainnya. Sehingga sebelum belajar filsafat perkuat iman dan berdoalah agar kamu tidak tersesat dan selalu mengingat Allah.

    ReplyDelete
  6. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Kehidupan merupakan sebuah rangkaian dimensi-demensi. Dari apa yang saya baca pada elegi-elegi sebelumnya, Filsafat merupakan pemikiran para filsuf. Hal tersebut kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Ketika mempelajari filsafat, penting untuk meletakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Karena spiritualitas merupakan pegangan dalam melakukan segala sesuatu, tidak hanya dalam belajar filsafat. Saya pribadi terkadang masih kurang bisa menjangkau apa maksud dari beberapa elegi yg Bapak ulas, terkadang hanya mampu memikirkan nya saja tanpa mengetahui arti dibalik tulisan tersebut. Namun, saya tidak khawatir, seperti apa yg Bapak sampaikan ketika awal perkuliahan, bahwa kebingungan dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syeitan yang menggangu dalam hatimu.

    ReplyDelete
  7. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Sungguh postingan ini membawa saya kembali duduk di kelas mengikuti perkuliahan Filsafat Ilmu untuk pertama kalinya. Jauh sebelum masuk perkuliahan (tepatnya setelah proses KRS dan saya tahun akan mendapatkan mata kuliha Filsafat Ilmu), saya sudah mempersiapak satu pertanyaan. Benar saja, pertanyaan tersebut saya utarakan kepada Bapak Marsigit pada kuliah perdana. Ya pada kuliah perdana langsung saya tanyakan. Karena apa? karena itulah kegelisahan saya saat itu. Pertanyaan bermula pada kegelisahan yang sama pada beberapa orang tentang filsafat, yaitu seberapa menyesatkan. Oiya pertanyaan saya waktu itu kurang lebih adalah sebagai berikut:
    "Seberapa berpotensi filsafat dapat menimbulkan masalah maupun memecahkan masalah? Lebih dari satu orang di lingkungan saya memberikan saran agar belajar filsafat jangan sendirian"

    Dan mau tau jawabannya? Sungguh saya tertegun dengan jawaban Bapak Marsigit. Awalnya, saya kira belaiau akan menjawab dengan teori teori besar yang belum pernah kukenali sama sekali seperti beberapa jawaban profesor yang pernah kutemui. Dan jawbannya mashaallah. Beliau menjawab yang pada intinya saya atau siapapun yang belajar filsafat atau belajar apapun untuk senantiasan berpegang teguh pada spiritualitas. Berdoa, sudah pasti harus kita lantunkan.
    Sejujurnya, sampai saat ini saya masih meraba-raba, saya masih mencoba mencari tahu hakikat filsafat. Membaca elegi? saya sudah mencoba. Berkomentar? Saya lakukan, terkadang saya malah bertanya ini itu. Karena sejujurnya saya masih belum paham, saya merasa belum mengetahui apa-apa. Tapi inshaallah saya akan terus berusaha. Bismillah

    ReplyDelete
  8. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Belajar tentang filsafat berarti belajar tentang kehidupan melalui refleksi atau perenungan. Sehingga belajar filsafat itu tidak hanya saat perkuliahan saja tapi selama kita hidup. Belajarnya menggunakan hati dan pikiran. Dan filsafat ini ada dimensi dimensinya mulai yang rendah hingga yang paling tinggi yaitu spiritualitas, sehingga disini sebenarnya tidak ada istilah ilmu itu menyesatkan. Karena seseungguhnya dalam belajar kita sudah diberi wanti-wanti untuk menggunakan hati juga, tidak dengan pikiran saja. Namun hati yang benar benar bersih, karena hati juga bisa berisi setan. Sehingga kita perlulah memohan pada yang menciptakan hati ini agar hati ini senantiasa bersih. Agar dapat menerima ilmu-ilmu yang bermanfaat.

    ReplyDelete
  9. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Belajar filsafat tergantung pada diri kita masing-masing. Apabila belajar sebagian dan sepotong-potong maka dapat mendekatkan dengan kesesatan. Belajar filsafat tidak dilandaskan pada spiritual juga dapat mengiring seseorang dalam kesesatan.
    Jadi belajar filsafat hendaknya terus menerus dan berlandaskan pada spiritual dan hati. Belajar filsafat harus dilakukan untuk melatih olah pikir dan agar selalu melakukan refleksi diri. Karena manusia merupakan makhluk Allah SWT yang tak luput dari salah sehingga dengan berfilsafat maka seseorang dapat selalu menyadari kesalahan dan memohon ampun kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Keadaan tidak sehat yang di maksud di dalam elegi ini adalah keadaan seseorang dilihat dari prosesnya belajar filsafat. Salah satu contoh yang diungkapkan pada elegi ini adalah ketika seorang mahasiswa yang mengaku sedang belajar filsafat, tetapi hanya membaca sedikit sekali referensi. Maka ia berada dalam keadaan tidak sehat. Karena berfilsafat berarti mempelajari pemikiran-pemikiran para filsuf. Bukan dengan instan filsafat itu dapat dipelajari.
    Keadaan tidak sehat lain yang dapat saya sampaikan menurut pengalaman di sekitar saya adalah terburu-buru membaca postingan karena mengejar jumleh komen. Beberapa mahasiswa kurang bijaksana dalam mengatur waktunya selama perkuliahan. Sehingga menyepelekan pentingnya membaca postingan-postingan di blog ini. Sedangkan mau tidak mau harus membuat banyak komen. Hal ini baru disadari setelah batas waktu membuat komen semakin mepet. Hasilnya bermunculan lah komen-komen ‘karbit’ dan kirang ikhlas.

    ReplyDelete
  11. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Tidak akan tersesat seseorang jika ia meletakan spiritualitas ditempat yang paling tinggi di dalam dirinya. Begitu juga dengan filsafat. Filsafat menempatkan dirinya satu tingkat di bawah spiritual, artinya filsafat berpegang teguh pada spiritual dan tidak akan bertolak belakang dengan spiritual. Tidak akan tersesat seseorang yang mempelajari filsafat apabila ia berpegang teguh pada spiritualnya. Bahkan, dengan mempelajari filsafat maka tingkat dimensi seseorang akan meningkat. Karena ketika sesorang memahami filsafat, maka ia akan mampu memikirkan suatu hal sedalam mungkin, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun. Maka bagi kita sebagai pemula, memulai belajar filsafat dengan membaca elegi di dalam blog ini sangatlah baik dan sangat dianjurkan.

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Obyek filsafat adalah semua yang ada dan mungkin ada. Dengan mempelajari filsafat tidak jarang saya menemukan sesuatu yang bersifat retorikal. Filsafat membuat saya menyadari sesuatu yang ada dan yang mungkin ada, yang sebelumnya tidak terjangkau dengan pemikiran saya. Maka untuk terus menggali kesadaran terkait hal yang ada dan mungkin ada serta menyeimbangkan pemikiran terhadap tesis dan anti tesis pada ruang dan waktu yang tepat, kita harus terus membaca dan membaca. Semakin banyak membaca semakin kita menyadari kekurangan diri, memperluas daya pikir, dan mempertebal keimanan.

    ReplyDelete
  13. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca ulasan ini membuat saya semakin menyadari bahwa membuat refleksi dalam filsafat sangatlah harus hati-hati. Kehati-hatian tersebut mencakup pada pernyataan yang telah dituliskan. Sesat, menurut saya merupakan kondisi saat seseorang tidak menyadari bahwa dirinya tersesat dan tidak menghiraukan apa yang diingatkan oleh orang lain. Terima kasih Prof, saya kagum dengan sikap Bapak yang selalu memberikan peringatan kepada mahasiswa saat berada dalam kondisi yang tidak sehat.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Pada elegi ini menyebutkan bahwa awal kemungkinan tersesat dalam belajar filsafat adalah seseorang yang terjebak dalam mitos. Mitos dalam filsafat adalah saat dimana seseorang berhenti berfikir yaitu ketika merasa tidak ada yang tidak jelas, sebab dalam belajar filsafat seperti yang pernah bapak sampaikan bahwa semua kejelasan dalam filsafat adalah mitos.
    Belajar filsafat sebagai olah fikir, dimana kita memang harus selalu bingung,bertanya, berfikir dan sebagainya, semua itu hanya boleh ada dalam pikiran namun tidak di dalam hati, selalu menempatkan nilai spritual diatas segala sesuatunya dan teruslah belajar agar tidak terbuai mitos yang berujung pada kesesatan.

    ReplyDelete
  16. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    Assalamualaikum wr wb

    Terimakasih banyak Pak prof,dalam elegi ini juga menjadi nasehat buat saya pribadi.Betapa tidak, di dalam menuliskan coment-coment saya mencoba memilah –milah sedikit kata yang terlihat agak sesuai meski kenyataan masih tetap telihat tak indah.Hal ini yang menjadi ketakutan terbesar buat saya. Namun izinkan saya untuk membenahi diri saya dari yang sebelumnya dengan membaca elegi-elegi yang ada.
    Dalam elegi ini juga memberikan pelajaran bagaimana cara berfilsafat.Filsafat tak lepas dari olah hati dan olah pikiir.Hati memiliki peran dalam mengendalikan pikiran.Dan cara mengolah pikiran yaitu dengan membaca dan membaca.Karena filsafat adalah membaca. Di sisi lain yang juga penting terus beriktiar dan berdoa kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan dan ketenangan di dalam belajar.

    ReplyDelete
  17. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Proses berfilsafat adalah olah pikir, jadi bagaimana kita mengolahnya dan sejauh apa setiap manusia pasti berbeda. Dalam elegi di atas menunjukkan bahwa memang sebagian besar kita masih menggunakan "the power of kepepet" dalam menyelesaikan suatu permaslahan. Begitu juga dengan tugas, terkadang kalau tidak diingatkan terlupkan karena pemikiran yang berjalan.

    ReplyDelete
  18. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Tulisan di atas begitu apaik sehingga membawa membaca menyelami setiap kalimat dengan membayangkan dimensi dari setiap fenomena. Seperti halnya tulisan saudari ninda afragani bahwa bagi kami filsafat menupakan hal yang benar-benar baru meskipun sebelumnya kami pernah mendengarkan adanya filsafat dan banyak orang menuturkan bahwa dalam belajar filsafat dapat membuat orang menjadi gila, pemikirannya menyeleweng dari jalur sebenarkan dan masih banyak lagi. Oleh karenanya pada ssemester ini, ketika mendapatkan mata kuliah filsafat kami merapa bertanya-tanya bagaimana filsafat membuat sesorangmenjadi menyelewengn, menjadi gila dan lainnya. Namun, pemikiran kami tentang hal tersebut runtuh ketika sudah bertemu dan belajar filsafar dengan Prof. Dr Marsigit karena beliau menyampaikan bahwa sebenar-benar filsafat memiliki landasan dan spirituallah yang digunakan dan belajar filsafat pada perkuliahan ini. Spiritual di letakkan diatas filsafat maka serasional-rasional pikiran manusia tentang suatu subyek ataupun obyek mana tujuannya hanya Tuhan Yang Maha Esa. Dan dari penjabaran ini kami berpikir bahwa mungkin orang yang belajar filsafat seningga dia menyeleweng mungkin karena dia berfilsafat tanpa landasan sehingga pemikirannya bebas terbang tanpa kendali. Semoga Allah senantiasa menerangi hari kita dengan cahaya hidayah seperti menerangi dunia dengan cahaya matahari sehingga hati selalu bersih. Amien. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  19. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Beberapa hal yang disampaikan di atas juga saya temukan dalam perkuliahan Pak Marsigit. Tetapi ada yang menarik. Izinkan saya mengutip beberapa baris dari postingan di atas:
    "Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat."
    Wah ini cukup menggelitik saya. Selama ini saya memang menyadari selama belajar filsafat saya mencari di mana kejelasan dari filsafat. Awalnya, yang sering saya temukan adalah ketidakjelasan dan ketidakpastian. Sebenarnya filsafat itu seperti apa to? Tapi, setelah saya menyadari bahwa filsafat adalah refleksi diri, saya menjadi tersadar bahwa kejelasan itu akan saya dapatkan dalam diri saya sendiri. Bagaimana saya dapat menemukan filsafat saya, itulah titik kejelasan dalam filsafat.

    ReplyDelete
  20. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalmu'alaikum Wr. Wb

    Sebelum saya mengikuti perkulihan filsafat ilmu, saya sama sekali tidak pernah terpikirkan akan belajar mengeanai filsafat karena saya merasa ranah saya buakn diarea itu. Saya juga pernah mendapatkan warning dari seseorang, beliau mengatakan "berhati-hatilah dalam belajar filsafat karena apa yang dipelajari dapat melampaui batas pikiran kita". Tetapi Alhamdulillah setelah saya belajar filsafat ilmu dengan Prof. Marsigit, warning yang pernah saya dapatkan seolh-olah terbantahkan sedikit demi sedikit, karena apa yang saya dapatkan diperkuliahan dan dari membaca elegi-elegi di blog ini pengetaguan spritual dan pelajaran mengenai kehidupan banyak sekali yang saya dapatkan. Jadi pada dasarnya ketka kita berfilsafat pondasi yang paling utama adalah spritual yang harus ditanamkan didalam hati, jika pikiran sudah melampaui batas maka keimanan kita kepada Allah lah yang dapat membatasinya.

    ReplyDelete
  21. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Banyak hal yang dapat saya pelajari dari tulisan elegi menggapai tidak sesat ini. Salah satunya yaitu bagaimana cara merefleksikan pertemuan-pertemuan yang sudah direkam. Refleksi hasil pertemuan di kelas dapat dilakukan dengan menuangkan apa yang ada dipikiran yang berhubungan dengan apa yang disampaikan pada pertemuan di kelas. Selain itu, mengenai filsafat dan agama. Agama dan filsafat merupakan sesuatu yang berbeda menurut saya. Agama merupakan sesuatu yang berhubungan dengan spiritual yang bersifat absolute, sedangkan filsafat merupakan sintesis atau pandangan atau pikiran seseorang mengenai sesuatu yang tentunya bersifat relatif.

    ReplyDelete
  22. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sebenarnya dalam filsafat intinya adalah berfikir secara reflkestif secara mendalam dan luas. Dengan berpikir seperti ini kami akan mampu menganalisis secara kritis segala yang ada dan yang mungkin ada di sekitar kami. Dalam menganalisis kami menyadari bahwa meliputi enam pertanyaan yaitu what (apa), who (siapa), when (kapan), why (mengapa) dan how (bagaimana), dengan kelima pertanyaan ini kami berharap mampu untuk merefleksikan segala sesuatu yang kami dapatkan. Dengan kemudian kami berharap untuk dapat meningkatkan kemampuan analisis dalam menjalani kehidupan dan tidak tersesat dalam menjalaninya.

    ReplyDelete