Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Tidak Sesat




Oleh Marsigit

Sebagai referensi, berikut saya copykan tulisan Sdri Ninda Argafani:

REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT
Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C 

Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit: 
1. Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta? 
 2. Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?
3. Apa yang harus saya lakukan jika saya tersesat?

Tanggapan dari saya (Marsigit):
1. Pertama, saya ingin sampaikan apresiasi kepada Sdri Ninda Argafani, karena Refleksinya cukup bagus, original, dan menggunakan olah pikir yang baik.
2. Kedua, saya ingin menanggapi perihal pokok-pokok pikiran anda sbb:
- Pengertian Filsafat:
Saya ingin sampaikan di sini bahwa saya sering mendefinisikan Filsafat sebagai OLAH PIKIR yang REFLEKSIF. Sementara anda ingin mereduksinya hanya pada kegiatan REFLEKSIF saya. Hal ini bisa berbahaya karena Anda bisa terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.
- Bahasa Analog:
Anda mengatakan bahasa Analog mempunyai keterbatasan untuk mengungkap segala sesuatu. Betul. Memang demikianlah. Selama itu urusan manusia, maka sifatnya adalah terbatas. Maka Bahasa Analog tentu bersifat terbatas. Maka tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa Hati itu bukan bahasa Analog, melainkan bahasa Langit atau bahasa Spiritual atau bahawa Wahyu atau bahasa Absolut, atau bahasa Kitab Suci.
-Kontradiksi meletakkan Hati sebagai Komandan, jika hati ternyata berisi Syaitan:
Bahasa Analog hati yang selalu saya gunakan mengandung maksud Hati yang terbebas dari kebingungan, terbebas dari Syaitan dan terbebas dari ragu-ragu. Satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sehingga Hati yang sudah terbebas dari unsur-unsurnya Syaitan itu, kemudian dapatlah dipakai sebagai Komandan dalam segala hidupmu, termasuk dalam berfilsafat.
-Keadaan Tidak Sehat:
Saya sungguh sedang menyaksikan Sdri Ninda Argafani dalam keadaan tidak sehat. Oleh karena hal inilah  maka aku munculkan persoalan ini dalam Blog ini. Hingga saat ini, Kuliah sudah 2 minggu, Anda tercatat hanya baru membuat Comment atas Elegi-elegi sebanyak 1 (satu) kali. Ini warning tidak hanya bagi anda, tetapi juga bagi yang lain. Inilah betul-betul keadaan TIDAK SEHAT. Mengapa? Berfilsafat tidak dapat menggunakan Sekali Gempur kemudian selesai. Berfilsafat seharusnya meniru Metode Hidup. Maka hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment. Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang anda perbuat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.
Sekali lagi, warning bagi anda, agar anda sesegera mungkin membaca Elegi-elegi yang lain, karena segala jawaban dari persoalan-persoalan Anda sudah tersedia di sana.
Selamat berjuang. Amin

28 comments:

  1. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Berfilsafat berarti mengolah pikir kita. Belajar filsafat membuat kita berusaha membangun dunia kita sendiri tetapi tetap berlandaskan spiritual. Karena seperti pada elegi sebelumnya, setiap orang diperbolehkan untuk berfilsafat bahkan orang kafir sekalipun, tetapi jika ia berfilsafat maka menjadi lebih kafirlah dia. Maka hal ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah kapan pun dan dimanapun kita berada agar kita terhindar dari kesesatan. Bahasa analog yang memang sering digunakan oleh para filsuf termasuk prof merupakan bahasa yang menurut saya adalah subyektif menurut pandangan si pembaca. Karena jika ilmu yang dimiliki belum cukup mampu menerima bahasa analog, maka pikiran kita akan semakin kacau. Dan disitulah para filsuf berhasil membaut kita untuk belajar filsafat.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Filsafat adalah olah pikir dan refleksif. Olah pikir yaitu tentang bagaimana kita mengolah berbagai informasi yang kita peroleh. Refleksif yaitu tentang bagaimana kita mengambil makna dari informasi yang kita peroleh. Antara olah pikir dan refleksif tidak dapat dipisahkan dalam mempelajari filsafat. Jika salah satunya kita tinggalkan kita dapat terjebak dalam mitos.

    ReplyDelete
  3. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Berfilsafat berarti berpikir sedalam-dalamnya atau merenung terhadap sesuatu secara menyeluruh dan universal sebagai olah pikir yang refleksif. Sedangkan reflektif adalah bagaimana kita mengenali, mengerti, dan mengungkapkan kembali dengan bahasa kita sendiri. Agar kita dapat memahamainya dengan mudah.

    ReplyDelete
  4. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum.. Di dalam filsafat terdapat jebakan filsafat namun kunci agar kita terhindar dari jebakan adalah dengan memperbanyak wawasan dan salah satunya dengan membaca dan terus membaca. Beberapa orang mengatakan "filsafat itu ilmu sesat dan menyesatkan". Jika pernyataan itu diterima mentah-mentah tanpa diselidiki atau dicari tau lebih lanjut tentang filsafat, maka banyak orang yang akan terkena imbas untuk menjauhi filsafat bahkan tidak ingin mengenal filsafat. Setelah mempelajari filsafat, tidak ada larangan dalam berfilsafat, siapa saja boleh berfilsafat. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    ReplyDelete
  5. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Elegi diatas sangatlah menarik. Merupakan sebuah bentuk refleksi yang hadir secara alamiah dari seseorang baru memulai untuk belajar filsafat. Namun lebih dari itu semua, sesuai dengan saran yang telah disampaikan oleh bapak, bahwa untuk memahami filsafat haruslah banyak menggali pemikiran para filsuf dengan membaca, selain itu membaca elegi-elegi yang telah bapak tulis juga akan sedikit banyaknya membantu menjawab permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh mahasiswa. Agar nantinya mahasiswa sekalian dapat keluar dari keadaan tidak sehat secara filsafat.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  6. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Apa yang dialami oleh Sdri Ninda juga terjadi pada saya. Awal mula saya belajar filsafat saya merasa bingung. Saat itu saya benar-benar tidak mengerti apa itu filsafat. Saya hanya mengetahui bahwa filsafat itu mendefinisikan sesuatu dari berbagai sudut pandang. Itulah yang saya ketahui dahulu. Tetapi setelah mengikuti dan membaca elegi-elegi ini saya menjadi tahu bahwa ternyata filsafat itu lebih dari sekedar mendefinisikan sesuatu

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Belajar filsafat seringkali orang awam memiliki stigma negatif tentangnya, bagaimana belajar filsafat itu menyesatkan, dan mengusik nilai ketuhanan dari seseorang. Dalam belajar filsafat awalnya saya merasa bingung tentang bagaimana saya harus mempelajari hal ini, sedangkan apa yang dipelajari disini pun saya masih bingung. sebenarnya mempelajari filsafat agar tidak tersesat adalah dengan merefleksikan pemahaman kita sendiri, belajar dengan ikhlas juga diperlukan dalam belajar filsafat, karena filsafat memerlukan hati dan pikiran yang lapang serta kemampuan untuk menyelaraskannya.

    ReplyDelete
  8. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    PEP B

    Sesat dalam filsafat adalah berhenti, dalam artian berhenti bertanya, berhenti berpikir dan berhenti untuk berefleksi. Maka sesungguhnya filsafat merupakan cerminan dari hidup yang dinamis, selalu berkembang dan berubah. Sesungguhnya saya yang baru belajar filsafat hanyalah kepingan kecil dari ilmu-ilmu filsafat yang ada di dunia ini, maka dari itu harus memaksimalkan potensi berpikir untuk dapat mencapai logos.

    ReplyDelete
  9. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Tersesat adalah hal yang biasa bagi manusia. Biasanya tersesat itu karena kita salah mengambil keputusan. Akan tetapi dari kesalahan itu kita bisa ambil pelajaran agar tidak tersesat lagi di kemudian hari. Sebaik-baiknya belajar adalah belajar dari pengalaman dan pengalaman adalah guru yang paling berharga.

    ReplyDelete
  10. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Menurut saya ada cinta sejati selain cinta Tuhan kepada hambanya. Cinta sejati yang paling hakiki tentunya adalah cinta Allah kepada hambaNya dan cinta rasul kepada umatNya. Barulah di bawahnya ada cinta orangtua kepada anaknya. Kemudian di bawahnya lagi ada persahabatan, pertemanan, dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  11. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Makna dari filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Apabila filsafat hanya diartikan sebagai kegiatan refleksi maka hal tersebut merupakan salah satu awal indikasi pereduksian filsafat. Filsafat juga olah pikir, saat melakukan refleksi tersebut kita juga melakukan olah pikir, berpikir tentang apa yang sedang, akan, telah kita refleksi. Oleh karena itu, agar kita dapat berefleksi dengan baik, kita harus senantiasa memperbanyak pemahaman kita melalui membaca referensi mengenai filsafat.

    ReplyDelete
  12. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Kesesatan itu dapat terjadi saat adanya ketidaksinkronan antara hati dan pikiran. Seperti hadits Rasulullah bahwa sebongkah daging yaitu hatilah yang akan menjadikan diri itu baik atau diri itu buruk. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa terpaut pada Allah Subhanahuwataalah oleh karena itu sebelum memulai segala sesuatu Rasulullah telah mengajarkan umatnya untuk berdoa terlebih dahulu. Hal ini agar menjaga hati tetap bersih dan senantiasa berzikir agar hati tetap terpaut kepada Allah. Jika hati seperti ini yang digunakan dalam bertindak maka seperti yang Rasulullah katakan baiklah diri tersebut dan tentu akan jauh dari kata tersesat. Wallahu’alam

    ReplyDelete
  13. Junianto
    PM C
    17709251065

    Belajar filsafat memang tidak terjadi secara instan dan cepat tetapi membutuhkan proses yang panjang. Tidak jarang pikiran kita menjadi bingung dan menganggap filsafat adalah ilmu yang membingungkan. Tetapi ketika kita merasa bingung bisa jadi karena ilmu kita memang belum sampai dan bisa jadi juga karena kita masih kurang dalam membaca referensi. Diaktakan Prof bahwa yang jarang membaca blog dan komen sedang dalam kondisi tidak sehat mengandung makna bahwa kita tidak mau membaca dan belajar. Sumber-sumber referensi filsafat ada di blog ini dan kita harus baca baca dan baca.

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C
    17709251065

    Menurut pendapat saya sangat wajar bahwa filsafat terkadang membuat pikiran kita menjadi bingung karena filsafat memang ilmu olah pikir. Selain itu, filsafat juga menuntut kita memahami pikiran orang lain yang terkadang ilmunya lebih tinggi dari kita seperi para filsuf. Maka dari itu, sangat wajar bila sekali dua kali tidak memahami ketika membaca referensi. Yang tidak boleh terjadi adalah kita menjadi putus asa dan tdak mau membaca ketika sudah mengalami kebingungan. Dikatakan Prof Marsigit pula bahwa ketika kita bingung dalam memahami fisafat itu artinya kita sedang berfilsafat yaitu berpikir.

    ReplyDelete
  15. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Saya sangat setuju dengan saudari Ninda. Saya juga diawal perkuliahan sangat tidak terbiasa dengan bahasa-bahasa analog. Tetapi, seiring waktu saya mulai belajar dan pikir itu di pikiran saya adalah bagaimana kita akan memahami filosofis. Seseorang yang sudah memiliki hati yang murni dan jernih sambil belajar filsafat tidak akan jatuh ke arah yang salah, karena pemikiran kita tentang filsafat itu sendiri berasal dari kita dan akan menyesuaikan dengan pemikiran yang telah menjadi dasar hati kita suci sebelumnya.
    Makna dari filsafat adalah olah pikir yang refleksif. Apabila filsafat hanya diartikan sebagai kegiatan refleksi maka hal tersebut merupakan salah satu awal indikasi pereduksian filsafat. Filsafat juga olah pikir, saat melakukan refleksi tersebut kita juga melakukan olah pikir, berpikir tentang apa yang sedang, akan, telah kita refleksi. Oleh karena itu, agar kita dapat berefleksi dengan baik, kita harus senantiasa memperbanyak pemahaman kita melalui membaca referensi mengenai filsafat

    ReplyDelete
  16. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya hampir termakan mitos ketika akan mengatakan bawhwa belajar filsafat adalah sesat atau setidaknya berbahaya. Namun persepsi saya ini akhirnya runtuh ketika mengikuti perkuliahan dengan Prof Marsigit. Sejak di pertemuan pertama dan diulangi terus menerus di pertemuan berikutnya, Prof Marsigit selalu mengingatkan bahwa dalam filsafat kita perlu mendasarinya dengan spiritual. Artinya filsafat kita tidak boleh bertentangan dengan kuasa Tuhan. Spiritual atau agama menjadi control bagi kita dalam berfilsafat. Sehingga persepsi bahwa orang yang belajar berfilsafat akan menjadi aneh, tidak percaya pada Tuhan adalah persepsi yang salah.

    ReplyDelete
  17. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Elegi menggapai tidak sesat menjelaskan tentang bagaimana mempelajari filsafat. Filsafat adalah pola pikir para filsuf, maka untuk dapat berfilsafat kita hendaknya mempelajari pikiran para filsuf. Hal itu dilakukan dengan cara membaca pikiran para filsuf, kemudian membuat refleksi dari apa yang kita baca. Dan melalui blog ini kita sedang dalam proses belajar untuk memahami pikiran para filsuf dan merefleksikannya melalui kolom komentar.

    ReplyDelete
  18. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Setiap orang pernah mengalami keraguan, ketakutan, ketidakpercayaan terhadap segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Sikap yang seperti ini yang akan membuat seseorang menuju jalan sesat. Padahal dengan kita berpikir jernih dan selalu bepikir positif akan membuat sesuatu menjadi lebih baik. Apalagi apabila sudah muncul keraguan dalam hati, maka akan menimbulkan kekacauan. Jadi jangan sekali kali ragu di dalam hati. Oleh karena itu agar kita selalu berpikir jernih dan tidak ada keraguan dalam hati sebaiknya kita selalu mengingat Alah dan selalu berdoa agar kita tidak tersesat.

    ReplyDelete
  19. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    PPs Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Selama kita masih menempatkan spiritual di atas pikiran kita maka inshaallah kita masih selalu berada dalam lindungan Allah dan tidak tersesat di dalam pikiran kita sndiri. Orang yang menyangsikan ketuhanan setelah mempelajari filsafat adalah orang-orang yang merugi, karena ia tidak memahami bahwa filsafat memiliki batasan kajian yang tidak dapat menembus level spiritual. Ia hanya mampu menjabarkan tanpa dapat menyentuh atau mengotak-atik apa yang menjadi kuasa Allah SWT. Maka tiada satupun ilmu di dunia ini yang Allah ciptakan untuk menyesatkan pikiran hambaNya, melainkan kekurangan iman manusia itu sendiri yang membuat dirinya tersesat.

    ReplyDelete
  20. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Penulis refleksi ini memiliki kesamaan dengan saya dimana filsafat merupakan hal yang sangat asing karena saya belum pernah mempelajari filsafat sebelumnya. Namun perlahan, pikiran saya mulai terbuka dan wawasan saya bertambah mengenai filsafat, istilah-istilah serta mengenai filsuf. Filsafat merupakan olah pikir yang refleksif dan menuntut kita untuk terus mengkajinya secara ikhlas hati dan pikiran.

    ReplyDelete
  21. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 207

    Filsafat adalah cara berpikir yang refleksif. Refleksi dilakukan pada keyakinan diri dengan realita yang ada. Hasil refleksi tersebut kemudian diolah dalam pikir. Filsafat sebagai pola pikir tersebut akan sangat berguna untuk landasan untuk apa yang akan dilakukan.
    Oleh karena itu, agar kita dapat berfilsafat dengan baik dan mendapatkan manfaat dari filsafat ini, kita harus selalu menambah pengetahuan filsafat kita melalui membaca referensi mengenai filsafat seperti yang disediakan dalam blog ini.

    ReplyDelete
  22. Assalamuaalaikum Wr. Wb. Dalam pemikiran orang awam, dalam hal ini orang-orang yang tidak secara langsung bersentuhan dengan filsafat, yang cenderung memaknai filsafat secara serampangan dari informasi-informasi yang tidak valid menganggap bahwa filsafat adalah ilmu yang sesat, padahal tidaklah demikian. Pendapat yang dibungkus dengan ketidaktahuan akan membawa kita pada kesesatan dan itu justru sangat bertolakbelakang dengan nilai-nilai filsafati. Oleh karena itu, untuk menggapai tidak sesat maka kita memiliki kewajiban untuk belajar dan mengetahui secara mendalam. Ingat bahwa, ketidaktahuan tidak akan menolong siapapun.

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Keadaan takut sesat adalah merupakan hidayah Allah Ta’ala yang merupakan bukti kasih sayang Allah Ta’ala kepada hambanya, karena dengan keadaan takut sesat hamba menjadi berhati-hati dalam mengambil Tindakan.Diantara tindakan positif bagi orang yang takut sesat adalah berdoa kepada Allah Ta’ala.Dan bertanyalah kepada ahlinya terhadap sesuatu yang belum difahami, sebagaimana Firman Allaah Ta’ala “ Fas- aluu ‘alaa ahladzikri inkuntum laa ta’ lamun” yang artinya bertanya kepada ahli Ilmu jika kamu tidak mengetahui.

    ReplyDelete
  24. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca refleksi di atas, saya mengapresiasinya, karena refleksi yang dibuat menggunakan olah pikir dan tidak hanya menyalin rekaman saja. Untuk keseluruhan saya juga sempat berpikir bahwa filsafat itu adalah ilmu untuk merefleksi diri, namun ternyata saya telah mereduksi pengertian filsafat terlalu jauh, Alhamdulillah saya membaca refleksi ini sehingga saya dapat terhindar dari salah satu mitos filsafat.

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Dari artikel di atas dapat kita ketahui bahwa dalam berfilsafat itu tidak bisa sekali langsung selesai, namun harus dilakukan secara rutin tanpa berhenti. Jadi dalam mempelajari filsafat kita harus rajin dalam mempelajarinya agar kita dapat meningkatkan filsafat kita. Karena tidak bisa belajar filsafat sekali langsung bisa namun memerlukan suatu proses yang rutin.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Sesat berarti terjerumus ke dalam lubang kesalahan/kekeliruan (ia melenceng dari hukum yang telah ditetapkan). Kesesatan terjadi karena dua factor: pertama, ia terjadi karena ketidaktahuan. Ketidaktahuan menyebabkan manusia tersesat dari kebenaran. Ketidaktahuan tidak akan menelong siapapun. Kedua, kesombongan yang membabibuta akan membawa kita pada kesesatan. Kesombongan berarti tidak mengakui adanya kekuatan absolut yang mengendalikan kehidupan ini. Ketidaktahuan dan kesombongan hanya bisa dilawan dengan keridhoan Allah SWT. Dengan cara berikhtiar dan bertawakkal di jalan Allah. insyaAllah kita akan terhindar dari kesesatan. Aamiin!

    ReplyDelete
  27. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Mempelajari filsafat menjadikan pola pikir dan olah hati menjadi sehat, bukan malah menjadi sesat. Kesesatan biasanya terjadi dikarenakan pola pikir yang tinggi di luar batas namun tidak diimbangi dengan hati yang bersih. Hal ini terkait dengan spiritualism dalam filsafat. Apapun yang kita pikirkan hendaknya tetap menjunjung spiritualitas di ranah tertinggi, yaitu agama kita masing-masing. Biarlah filsafat masuk dalam otak dan dipikirkan, namun tetap menjaga hati dalam iman dan taqwa.

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benar filsafat adalah olah pikir. Olah pikir tiap manusia berbeda-beda dan banyak sehingga pendefinisian filsafat pun berbeda-beda dan banyak. Dua kegiatan utama pada perkuliahan filsafat adalah komen dan membuat refleksi. Menurut saya dua hal tersebut bisa melatih dan mengasah kecerdasan pikir mahasiswa sehingga dalam kehidupan sehari-hari terbiasa berpendapat dan bisa mengkritisi hal-hal disekitarnya. Kegiatan refleksi perkuliahan dengan menggunakan bahasa sendiri sangat menarik, selain merangkai kata demi kata, kita bisa sisipkan curhatan kehidupan disitu yang dikolaborasikan dengan materi perkuliahan.

    ReplyDelete