Oct 21, 2012

Elegi Menggapai Tidak Sesat




Oleh Marsigit

Sebagai referensi, berikut saya copykan tulisan Sdri Ninda Argafani:

REFLEKSI I - Kuliah Dr. Marsigit:
PENCAPAIAN TERTINGGI DALAM MENGUAK HAKEKAT FILSAFAT
Oleh : Ninda Argafani (12709251053)
 Jadwal kuliah : Kamis, 13-09-2012
Waktu : 13.00 WIB
Kelas : PMat C 

Filsafat merupaka hal baru bagi saya. Dari apa yang telah di sampaikan oleh Dr. Marsigit pada perkuliahan minggu lalu, sedikit banyak dapat saya menyimpulkan mengenai pengertian dari filsafat. Jika banyak orang mengartikan filsafat dengan olah pikir, saya cenderung lebih suka mendefinisikan filsafat sebagai reflection science atau ilmu refleksi / perenungan. Jika kita menggunakan olah pikir sebagai definisi filsafat, saya kira hal ini terlalu umum karena semua ilmu pada dasarnya menuntut kita untuk berfikir. Saya sendiri memahami filsafat sebagai ilmu refleksi / perenungan karena filsafat tidak hanya menunut kita untuk berfikir kritis baik itu hal yang berupa penampakan maupun kenyataan, tetapi juga kita diharapkan dapat mengambil sesuatu dari hasil pemikiran tersebut yang dapat kita aplikasikan ke dalam kehidupan kita sehari-hari baik secara individu maupun bermasyarakat dan diharapkan dengan semakin seringnya kita berpikir, semakin seringnya refleksi atau renungan-renungan yang kita lakukan, maka kita akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan. Selain itu, saya lebih suka memahami filsafat sebagai ilmu perenungan karena sesuai dengan slogan filsafat, yaitu bahwa filsafat yang hidup karena filsafat memang hidup. Sekaligus karena metode untuk mempelajari filsafat adalah kehidupan, dan karakter kehidupan adalah juga karakter filsafat.
Dalam kehidupan kita selalu menginginkan kejelasan, tidak ada seorangpun di dunia ini yang menginginkan ketidakjelasan. Sama halnya dengan filsafat. Sebagai contoh, rasa kehilangan yang membuat kita tidak bahagia. Kita tidak bahagia berarti sakit. Dalam filsafat, sesuatu yang membuat sakit disebut filsafat. Mengapa? Karena timbul gejolak-gejolak didalamnya, rasa penderitaan dan kesengsaraan. Dari hal-hal tersebut lalu timbullah inisiatif pemikiran yang bermuara pada perenungan. Bagaimana kita bisa keluar dari keadaan ini? Apa saja refleksi yang harus saya lakukan? Dan semua itu dapat dipahami dan dijelaskan baik dengan menggunakan hati maupun pikiran. Salah satu anjuran dari Dr. Masigit, agar saya lebih memahami hakekat filsafat adalah dengan membaca artikel – artikel Elegi beliau, maaf saya sudah membaca artikel Bapak tapi saya belum bisa menjawab perenungan yang bapak berikan karena saya belum paham betul.
Bicara mengenai filsafat tentu tidak lepas dari dimensi karena segala sesuatu itu berdimensi. Kehidupan adalah rangkaian dimensi-demensi fenomena. Dari sini saya teringat dengan komentar / pendapat beberapa orang maupun artikel di internet yang mengatakan bahwa mempelajari filsafat itu sia-sia. Sebelum saya menjelaskan mengapa saya teringat dengan pendapat tersebut, saya tersentuh dengan apa yang kemarin Dr. Marsigit sampaikan. Bahwa filsafat itu datang dari definisi pemikiran tiap-tiap individu dan bahasa analog sebagai tool-nya. Dari sini saya beranggapan, jelas sudah mengapa filsafat begitu diremehkan? Untuk menjawab hal tersebut maka kita kembalikan lagi bahwa pemikiran tiap-tiap individu itu berbeda. Bukan hanya berbeda dari sisi definisi bahkan jangkauan dimensi pemikiran tiap-tiap individu sangatlah berbeda. Terutama jika individu tersebut bukanlah tipe pemikir. Maka akan jelas sekali perbedaan jangkauan dimensinya ketika mereka saling beragurmen. Dan kedudukan bahasa analog sebagai tool juga sangat jelas. Bahasa analog sebagai tool, yaitu untuk membantu mengurai apa yang manusia pikirkan sehingga dapat tersampaikan ke manusia lainya. Tetapi karena jangkauan dimensi pemikiran yang berbeda, terkadang bahkan sering apa yang tersurat tidak dapat mengungkap maksud yang tersirat. Sehingga bahasa analog pun juga belum menjadi tool yang sempurna, karena sebanyak-banyaknya atau sebagu-bagusnya bahasa analog yang manusia miliki ternyata tidak mampu menuliskan / menggambarkn hakekat dari pemikiran manusia itu sendiri.
Perkuliahan minggu lalu adalah pertemuan pertama saya denga filsafat. Dalam penjelasan yang Dr. Marsigit sampaikan mengenai filsafat, ada rasa ketakutan di dalam hati saya. Saya sempat berpikir kalau filsafat itu ilmu yang menyesatkan. Lalu, ketika saya akan  menulis refleksi ini, sebelumnya saya sempat surfing di internet dan ada artikel yang mengutarakan bahwa ada yang berargumen kalau filsafat ilmu yang menyesatkan atau belajar filsafat itu menyesatkan. Dari sini saya sempat kawatir, bagaimana jika saya tersesat? Lalu kembali saya dengarkan rekaman perkuliahan minggu lalu dan saya kaji lagi artikel-artikel yang saya temui sampai pada akhirnya saya sampai pada suatu pemahaman bahwa apa yang disampaikan oleh Dr. Marsigit itu berkorelasi benar. Beliau mengatakan bahwa letakkanlah spiritualitas di atas filsafat. Mengapa? Karena jangkauan dimensi pemikiran manusia adalah jawabannya. Dr. Marsigit pernah membahas mengenai cinta dan filosofinya. Cinta, sampai kapanpun otak manusia tidak akan pernah sanggup untuk menguak misterinya. Dari sana saya beranggapan bahwa selain menggunakan hati kita juga perlu menundukkan hati untuk dapat merenunginya, meskipun dalam perenungan tersebut kita tidak akan pernah bisa menembus hakekat cinta. Tetapi setidaknya dengan menundukkan hati, kita dapat menyederhakan rasa sehingga kita bisa paham apa yang sebenarnya diingikan oleh cinta yang sekarang bercokol dihati kita. Pembahasan lain yang Dr. Marsigit sampaikan adalah ketika ada teman beliau yang bernama Prof. Don seorang ahli matematikawan terkenal Amerika bertanya kepada beliau, Apa hubungan matematika dengan doa? Prof. Don juga mengklaim bahwa dirinya bukan seorang atheis tetapi beliau juga tidak percaya Tuhan. Sangat menggelikan bukan? Lalu Dr. Masigit menjawab bahwa ranah Tuhan itu tidak hanya ada dipikiranmu tetapi juga dihatimu. Prof. Don masih belum mengerti, beliau menjalani kehidupannya hanya berdasarkan pada apa yang dapat beliau jangkau oleh pemikirannya. Sedangkan berbicara mengenai Tuhan akan seperti membahas bilangan irrasional dalam matematika. Tuhan hanya dapat dijangkau menggunakan hati, karena setinggi-tinggi dan secanggih-canggihnya pemikiran manusia tidak akan sanggup menembus ranah Tuhan. Dr. Marsigit juga menjelaskan makna Tuhan dalam bahasa analog yang disebut hati, sedangkan filsafat adalah pikiran. Dari sini saya dapat memahami bahwa filsafat bukan ilmu yang menyesatkan tepati dapat menyesatkan jika kita tidak mempunyai pegangan yang kuat yaitu agama / spiritualitas. Saya juga memahami bahwa filsafat bukan ilmunya yang menyesatkan tetapi manusia mempelajarinya yang telah sesat. Bingung dalam berpikir berarti tanda awal dari ilmu, tapi jangan sampai bingung dalam hatimu atau kacau dalam hatimu karena kekacauan dalam hatimu pertanda syaitan bercokol dalam hatimu. Dr. Marsigi menghimbau bahwa taruhlah spiritualitas ditempat yang paling tinggi dan dalam berfilsafat tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu. Saya sangat setuju dengan himbauan untuk menaruh aspek spiritual diatas segala-galanya. Karena kembali lagi ke dimensi, bahwa hati sendiri juga mempunyai dimensi dan jangkauan dimensi hati dari tiap-tiap individu berbeda. Sehingga hal ini juga akan mempengaruhi sesatkah manusianya ataukah filsafatkah yang telah menyesatkan manusia tersebut.

Pertanyaan untuk Dr. Marsigit: 
1. Adakah cinta sejati di dunia ini selain cinta manusia kepada Tuhan Sang Pencipta? 
 2. Menurut saya apa yang Bapak sampaikan sangat kontradiksi antara menempatkan spiritual ditempat yang paling tinggi dengan menetapkan hati sebagai komandan dalam berfilsafat. Bagaimana jika yang bercokol di hati manusia saat itu adalah syaitan dan bukan Tuhan? Apa kemungkinan yang akan terjadi?
3. Apa yang harus saya lakukan jika saya tersesat?

Tanggapan dari saya (Marsigit):
1. Pertama, saya ingin sampaikan apresiasi kepada Sdri Ninda Argafani, karena Refleksinya cukup bagus, original, dan menggunakan olah pikir yang baik.
2. Kedua, saya ingin menanggapi perihal pokok-pokok pikiran anda sbb:
- Pengertian Filsafat:
Saya ingin sampaikan di sini bahwa saya sering mendefinisikan Filsafat sebagai OLAH PIKIR yang REFLEKSIF. Sementara anda ingin mereduksinya hanya pada kegiatan REFLEKSIF saya. Hal ini bisa berbahaya karena Anda bisa terjebak ke dalam keadaan BERHENTI atau MANDHEG. Ini adalah keadaan tidak sehat atau terjebak dalam MITOS atau awal dari kemungkinan TERSESAT.
- Bahasa Analog:
Anda mengatakan bahasa Analog mempunyai keterbatasan untuk mengungkap segala sesuatu. Betul. Memang demikianlah. Selama itu urusan manusia, maka sifatnya adalah terbatas. Maka Bahasa Analog tentu bersifat terbatas. Maka tidaklah cukup manusia menggunakan Bahasa Analog, sedemikian pula bahwa manusia tidak cukup menggunakan pikiran. Maka untuk area spiritual, gunakan hati kita masing-masing, dan bahasa Hati itu bukan bahasa Analog, melainkan bahasa Langit atau bahasa Spiritual atau bahawa Wahyu atau bahasa Absolut, atau bahasa Kitab Suci.
-Kontradiksi meletakkan Hati sebagai Komandan, jika hati ternyata berisi Syaitan:
Bahasa Analog hati yang selalu saya gunakan mengandung maksud Hati yang terbebas dari kebingungan, terbebas dari Syaitan dan terbebas dari ragu-ragu. Satu-satunya cara untuk membebaskannya adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sehingga Hati yang sudah terbebas dari unsur-unsurnya Syaitan itu, kemudian dapatlah dipakai sebagai Komandan dalam segala hidupmu, termasuk dalam berfilsafat.
-Keadaan Tidak Sehat:
Saya sungguh sedang menyaksikan Sdri Ninda Argafani dalam keadaan tidak sehat. Oleh karena hal inilah  maka aku munculkan persoalan ini dalam Blog ini. Hingga saat ini, Kuliah sudah 2 minggu, Anda tercatat hanya baru membuat Comment atas Elegi-elegi sebanyak 1 (satu) kali. Ini warning tidak hanya bagi anda, tetapi juga bagi yang lain. Inilah betul-betul keadaan TIDAK SEHAT. Mengapa? Berfilsafat tidak dapat menggunakan Sekali Gempur kemudian selesai. Berfilsafat seharusnya meniru Metode Hidup. Maka hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment. Perasaan was-was anda tentang kemungkinan tersesat adalah disebabkan oleh keadaan yang anda perbuat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam Ruang dan Waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada.
Sekali lagi, warning bagi anda, agar anda sesegera mungkin membaca Elegi-elegi yang lain, karena segala jawaban dari persoalan-persoalan Anda sudah tersedia di sana.
Selamat berjuang. Amin

10 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Berfilsafat itu tidak hanya sekedar menggunakan pola pikir saja namun harus yang reflektif, kita dianjurkan bisa menganalisis, menelaah dan membangun dunia. Dengan menggunakan pola pikir kita dengan baik, kita harus bisa menggunakan secara baik, bijak, dan tanpa merugikan orang lain. Dan jangan sampai kita menggunakan pikiran kita untuk menyesatkan orang lain. Karena itu merupakan penyalah gunaan pikiran kita dalam berfilsafat. Selain itu dengan memegang tinggi spritual diatas filsafat akan mencegah kita dari kesesatan.

    ReplyDelete
  2. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    “hidupkanlah kegiatan membaca anda dan membuat comment” saya pikir kalimat ini juga ditujukan bagi saya. Ketika mulai melanjutkan sekolah lagi (Kuliah S2 saat ini) terasa betul bagi saya bahwa membaca harus benar-benar dijadikan sebagai gaya hidup atau life style. Tidak hanya di mata kuliah yang bapak ajarkan, namun semuanya.
    Bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu dengan baik tanpa membaca? Karena itu membaca sangatlah penting. Penting juga bagi kita untuk member koment atas apa yang kita baca, tidak hanya tulisan-tulisan dalam blog bapak ini, namun semua bacaan yang kit abaca belajarlah untuk membuat komen pribadi terhadap bacaan itu. Saya pikir dengan cara belajar seperti ini, maka dengan sendirinya kita sedang membangun cara berpikir Filsafat sebab berfilsafat artinya kita sengan mengolah pikir yang bersifat REFLEKSIF

    ReplyDelete
  3. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Ninda bahwa filsafat merupakan hal yang baru saya pelajari. Akan tetapi, elegi-elegi dari blog ini sungguh memberikan banyak ilmu dan pembelajaran bagi saya untuk senantiasa berpikir yang refleksif. Saya juga sangat sependapat bahwa prinsip/dasar spiritual menjadi pondasi dalam filsafat agar tidak terjadi kesesatan berpikir. Bukan filsafat lah yang sesat, namun cara berpikir lah yang bisa menjadikan sesat.

    ReplyDelete
  4. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pemahaman filsafat setiap individu berbeda tergantung tingkat pemikiran dan hati individu tersebut. Elegi-elegi juga membuat saya tertarik untuk belajar memahami bahasa hati. Semoga dengan berlatih merefleksi akan dapat sampai pada satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan.

    ReplyDelete
  5. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Filsafat adalah pikiran ketika kita mencoba belajar filsafat artinya kita belajar pikiran para filsuf. Perlu diingat kembali dalam belajar filsafat jangan terjebak pada pikiran filsuf yang akan menjadi mitos bagi dirimu sendiri.

    ReplyDelete
  6. Syahlan Romadon
    PM C 2016/ 16709251047

    Apa yang dialami oleh Sdri Ninda juga terjadi pada saya. Awal mula saya belajar filsafat saya merasa bingung. Saat itu saya benar-benar tidak mengerti apa itu filsafat. Saya hanya mengetahui bahwa filsafat itu mendefinisikan sesuatu dari berbagai sudut pandang. Itulah yang saya ketahui dahulu. Tetapi setelah mengikuti dan membaca elegi-elegi ini saya menjadi tahu bahwa ternyata filsafat itu lebih dari sekedar mendefinisikan sesuatu

    ReplyDelete
  7. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Menurut saya belajar filsafat itu tidak mudah, karena kita harus mengubah olah pikir kita yang biasa-biasa saja menjadi olah pikir yang refleksif. Akan tetapi, elegi-elegi dari blog ini membantu saya memahami bagaimana cara berfikir filsafat, banyak bahasa-bahasa baru yang saya pelajari dari setiap elegi-eleginya serta banyak pesan kehidupan yang saya terima pada setiap elegi-eleginya.

    ReplyDelete
  8. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ilmu filsafat sesungguhnya ilmu refleksi diri melalui renungan. Dalam proses perenungan terdapat berpikir kritis untuk mendapatkan suatu hasil pemikiran yang diterapkan dalam keseharian. Ketika suadah mencapai di satu tingkatan tertinggi dari hakikat filsafat itu sendiri, yaitu kebijaksaan atau kearifan dalam kehidupan. Untuk mencapai tingkatan tertinggi tersebut tidak hanya dengan perenungan semata, namun harus disingkronkan dengan hati dan nilai spiritual, agar ilmu filsafat tersebut berada di jalan benar dan jauh dari kesesatan. Tidak ada suatu apa pun di dunia ini tanpa campu tangan Tuhan, oleh Karena itu nilai spiritual sangat berperan, dan juga hati yang menjadi tolak ukur manusia bermoral atau tidak.

    ReplyDelete
  9. Sumandri
    16709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ada orang yang mengatakan bahwa berfilsafat itu sulit namun menurut saya tidak juga karena sebenarnya berfilsafat itu adalah bagaimana kita mengolah pemikiran kita secara bijaksana. Mengapa saya katakan bahwa berfilsafat itu tidak sulit, karena berfilsafat itu toh tidak harus orang yang berpendidikan tinggi, malahan banyak orang yang sekolahnya rendah namun berpikirnya jauh melebihi orang yang sekolah tinggi. Karena filsafat itu mengenal tentang hakikat, dan untuk mengenal hakikat tentu perlu kebijaksanaan, analisis dan penelaahan yang mendalam, dan yang peling penting agar tidak terjerumus kepada kesalahan adalah dengan terus mengaitkannya dengan nilai-nilai agama Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika hal ini kita lakukan saya yakin tidak akan sesat selama-lamanya baik di dunia maupun di akhirat kelak.

    ReplyDelete
  10. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Belajar filsafat tidak bisa instan. Berfilsafat seharusnya meniru metode hidup. Sebagaimana yang selalu Prof sampaikan baca baca dan baca elegi dan buatlah komen dari elegi yang engkau baca itu. Jika kita hanya membaca setengah-setengah atau hanya sekedar membaca tanpa mencoba memahami dan menghayatinya, maka sesungguhnya kita bisa terjebak dalam kesesatan yang kita buat sendiri. Itulah juga keadaan terjebak ke dalam ruang dan waktu gelap. Ingat bahwa Mitos selalu berusaha menjerumuskan kita dimanapun kita berada. Belajar filsafat dapat menuntun kita menjadi orang yang berpikir kritis secara intensif dan ekstensif serta bijaksana dalam menghadapi setiap permasalahan, sehingga dapat terhindar dari sifat reduksionisme yang tidak tepat.

    ReplyDelete