Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 48: Permohonan Maaf Arogansi Filsafatku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk memahami bahwa ternyata untuk ke dua kalinya saya harus minta maaf atas Filsafatku karena Sifat Arogansi Filsafatku.

Salah satu bentuk Arogansi Filsafatku antara lain aku kurang santun memanggil nama-nama para Filsuf.

Aku tidak pernah memanggil Almarhum Plato, atau Profesor Aristoteles, atau Doktor Rene Descartes, atau yang saya Hormati dan saya Berbakti Tuan David Hume, atau yang saya Patuhi Tuan Immanuel Kant.

Melainkan aku selalu saja cukup memanggilnya sebagai menurut Plato, atau pendapat Aristoteles, atau bantahan Rene Descartes, atau menurut David Hume atau Teori Immanuel Kant, begitu saja.

Maaf sekali maaf.Tetapi anehnya kebiasaanku itu telah menjadi lazim dalam perbincangan filsafatku.

Sehingga sekarang aku pun menjadi ragu akan permohonan maafku.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.
Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

24 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Memang terkadang kebiasaan kita memanggil sebutan filsuf hanya dengan nama saja seolah kita tidak sopan kepada mereka. Tetapi jauh di lubuk hati kita sebenarnya kita menghormati mereka sebagai guru yang telah memberikan banyak ilmu kepada kita, walaupun kita tidak menyebutkan gelar atau sapaan hormat. Mungkin juga karena dalam tata tulis buku tidak disebutkan gelar dan sapaan hotmat itu sehingga kita pun tidak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya gelar para filsuf tersebut. Tetapi bukan maksud hati kami untuk tidak menghormati atau berlaku tidak sopan kepada guru-guru yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  2. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Suatu bentuk penghoramatan kepada para filsuf tidak cukup dengan mencantukan atau memanggil dengan gelar atau yang lainnya. Kita dapat menghormati mereka dengan cara mempelajari semua kerja kerasnya yang telah tertuang menjadi teori-teori dan membaca semua hasil karyanya. Ini semua dapat kita lakukan tentu bukan merupakan bentuk arogansi kita.

    ReplyDelete
  3. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Telah dijelaskan oleh Pak prof. Marsigit dalan pertemuan perkuliahan bahwa dalam filsafat, sebenar-benarnya orang yang berfilsafat adalah orang yang berpedoman pada pemikiran-pemikiran para filsuf terdahulu. Dalam berfilsafat tidak ada satupun orang yang akan bisa mencapai yang namanya kebenaran yang hakiki atau filsafat yang mempunyai nilai kebenaran yang sebenarnya,termasuk para filsuf itu sendiri. Namun di sisi lain orang yang berfilsafat itu bisa saja menjadi kejam atau pun menjadi tidak hormat terhadap orang lain karena pemikirannya. Contohnya adalah seperti yang di atas kita tidak pernah menyebut nama seorang filsuf dengan hormat misal Dr. Rene Descartes, karena filsafat itu sendiri bisa menjadikan seseorang tidak hormat kepada orang lain termasuk filsuf itu sendiri. Maka dalam berfilsafat itu harus mempunyai prinsip dan sebenar-benarnya prinsip dalam berfilsafat menurut saya adalah sopan santun.

    ReplyDelete
  4. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Salah satu bentuk Arogansi Filsafatku adalah ketika aku berpikir untuk memburu kebenaran. Yang dimaksudkan dengan kebenaran disini adalah kebenaran hakiki tentang suatu realitas. Padahal untuk mendapatkan kebenaran yang sunggu-sungguh dapat dipertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih, harus senantiasa terbuka untuk dipersoalkan kembali.

    ReplyDelete
  5. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016


    Memanggil sebutan para filsuf dengan hanya menyebutkan nama saja tanpa gelar memang terdengar tidak sopan. Tapi hal itu bukan berarti kita tidak menghargai atau menghormati beliau. Ada cara lain yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan penghormatan kita kepada para filsuf, salah satunya adalah dengan mempelajari teori, teorema, definisi, dan sebagainya, sebagai penghargaan kita atas hasil kerja keras mereka.

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Yang mempunyai pendapat tentang filsafat adalah para filusuf. Kebanyakan dari kami mungkin kurang lengkap ataupun kurang benar dalam penulisan tokoh filsafat tersebut. tetapi kami bukan bermaksud menjelek jelekkan tetapi hal tersebut karena kurangnya pengetahuan kami mengenai hal tersebut.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ketidaksopanan kita dalam menyebut gelar bagi para filsuf dalam berfilsafat memang seringkali dilakukan. Namun, ketidaksopanan tersebut bukan dikarenakan kesengajaan dari diri kita. Pemikiran mereka yang kita pelajari, menjadikan kita memahami bahwa jika nama mereka disebutkan kita tahu bahwa mereka adalah seorang filsuf dan sudah tertanam dalam benak kita bahwa mereka adalah orang-orang terkemuka dan hebat dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  8. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah memanggil beliau semua dengan nama yang kurang santun. Mungkin ini terjadi karena saya tidak mengenal beliau secara langsung dan karena kebiasaan. Penyebutan nama gelar dan Almarhum selayaknya memang digunakan. Terlebih kontribusi mereka sangatlah besar. Pemikiran-pemikiran besar mereka masih digunakan hingga saat ini, bahkan mungkin dikembangkan. Oleh karena itu, saya memohon maaf atas arogansiku atas kekurangsantunan dalam memanggil nama filsuf dan kelancanganku yang kadang mencoba berfilsafat tanpa dasar.

    ReplyDelete
  9. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Gajah mati meninggalkan gading. Orang mati meninggalkan nama. Ketika suatu nama telah dikenal dunia, maka itulah kehormatannya. Kita tidak perlu memanggilnya dengan sebutan ‘yang terhormat’, ‘yang mulia’ dan lain sebagainya. Karena hanya dengan nama saja sudah menunjukkan seberapa terhormatnya dia. Meskipun demikian, hal ini tidak akan menjamin kita memasuki syurga-Nya. Sehingga kita juga harus senantiasa menjalankan perintah-perintah Nya di samping membesarkan nama kita sendiri. alangkah mulianya kita jika setelah mati, nama kita kelak dikenal sebagai orang yang berkontribusi besar dalam memperjuangkan agama kita. setidaknya hal itu dalam kita jadikan bekal sebagai amal jariyah kita untuk meraih syurga Allah SWT.

    ReplyDelete
  10. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Manusia milenial adalah produk dari perusahaan didikan pada masa sebelumnya. Arogansi yang ada merupakan buah dari tanaman yang telah dewasa. Jangan lah berusaha menyalahkan arogansi pada diri kita saat ini. Sebuah kemajuan adalah melihat ke depan, merefleksi yang menjadi perdebatan, sebuah tatanan yang sudah baik jangan lah kita korek korek kesalahannya. Tak ada yang sempurna di dunia ini dan kekurangan akan muncul di akhir namun alangkah bijaksana ketika itu terjadi tak menyalahkan salah satu sis diri kita.

    ReplyDelete
  11. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Salah satu ciri seseorang belajar filsafat adalah dengan mempelajari pemikiran-pemikiran para filsuf yang merentang dari waktu ke waktu. Maka akan sering disebut-sebut nama-nama filsuf yang pemikirannya kuat dan dikenal dunia. Begitu pula dengan diriku yang sering menyebutkan nama-nama filsuf. Namun aku merasakan salah satu bentuk arogansi filsafatku yaitu kurang santun memanggil nama-nama para filsuf. Aku tidak pernah memanggil almarhum Plato, atau Prof. Aristoteles, atau Doktor Rene Descrate, atau yang saya hormati Tuan David Hume, atau yang saya patuhi Tuan Immanuel Kant. Melainkan aku selalu saja cukup emmanggilnya sebagai menurut Plato, atau pendapat Aristoteles, atau bantahan Rene Descrate, atau menurut David Hume atau Immanuel Kant.
    Aku merasa perlu meminta maaf atas kelancanganku memanggil nama-nama pendek mereka tanpa sebutan penghormatan. Tetapi anehnya kebiasaanku itu telah menjadi lazim dalam perbincangan filsafatku. Bahkan tidak hanya diriku, hampir semua orang yang sedang berfilsafat hanya menyebutkan nama pendek dari para filsuf pemilik pemikiran-pemikiran. Sehingga akan sangat aneh jika tiba-tiba hanya saya yang memanggil para filsuf itu dengan tambahan sebutan penghormatan.jadi sebenarnya apakah aku perlu meminta maaf atas kebiasaanku yang telah lazim itu?

    ReplyDelete
  12. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Ketika berpikir tentang suatu hal semakin dalam maka seringkali timbul kesadaran kemudian memunculkan kebingungan bahwa apa yang telah dilakukan itu sebenarnya tepat atau tidak dan sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak. Terkadang refleksi diri menyadarkan bahwa kita harus memohon maaf atas arogansi dalam berpikir dan berfilsafat. Mohon maaf karena menyebut nama tokoh filsafat dengan tidak didahului gelar atau kehormatan tetapi ternyata semua itu lazim digunakan. Muncul lagi kebingungan selanjutnya apakah perlu memohon maaf ketika semua itu sudah lazim. Karena berpikir tidak akan lepas dari kacaunya pikiran maka akan selalu menimbulkan kebingunan di dalam pikiran. Jadi yang diperlukan adalah jwaban dari pertanyaan apakah sudah sesuai dengan ruang dan waktunya ketika menyebut nama tanpa gelar dalam filsafatku?

    ReplyDelete
  13. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Secara kita sadari ataupun sedikit kita sadari, masing-masing kita telah bersifat arogan. Ya, arogansi filsafatku. Tidak jauh berbeda dengan kesombongan filsafatku. Atau malah lebih zalim ketimbang kesombongan filsafatku. Saya ragu-ragu untuk berpendapat tentang arogansi filsafatku dengan dihubungkan pada panggilan-panggilan para filsuf. Karena sebelum sampai pada postingan ini, jika dibahas tentang arogansi filsafat, sudah pasti saya akan menjawab bahwa arogansi filsafat adalah kesombonganku dalam berfilsafat, atau bahkan kemantapanku yang sangat berlebihan terhadap ilmu yang ku dapatkan, atau juga perasaan pahamku tentang suatu hal.
    Tapi, saat ini arogansi filsafatku dihubungkan dengan panggilan-panggilan para filsuf yang kurang santun. Sejujurnya, ini mengejutkan, karena selama ini, selama belajar filsafat maupun belajar lainnya, banyak orang yang tingkatan pendidikannya lebih tinggi dibanding saya, menyebut nama filsuf hanya dengan namanya begitu saja. Dan saya sebagai pembelajar hanya mengikutinya. Eh tunggu dulu, apa kepasrahanku dengan tradisi seperti ini juga wujud kesombonganku? Wah tunggu dulu, mungkin ini arogansi filsafatku.
    Sungguh, saya masih dalam tahap menduga-duga, saya masih belajar, mohon pencerahannya

    ReplyDelete
  14. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ragunya akan permohonan maaf pada artikel ini dikarenakan tidak sopannya ia memanggil para filsuf hanya dengan menyebutkan namanya, tanpa menyebutkan gelarnya. Namun dikarenakan ini semua sudah menjadi kebiasaan, maka timbulah keraguan untuk meminta maaf.
    Sikap arogansi dalam KBBI maksudnya kesombongan, atau keangkuhan. Dalam hidup jauhilah sikap sombong, karena apa yang harus disombongkan, karena sesungguhnya di atas langit masih ada langit. Kita ini belum jadi apa apa, hanya seseorang yang lemah dan menganggap diri kita lebih.

    ReplyDelete
  15. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Gelar keilmuwan, gelar kehormatan yang disandang seorang filsuf sebenarnya adalah wujud dari penghargaan masyarakat terhadap pemikirannya saat itu. Gelar tersebut tidak didapatkan dengan mudah melainkan memerlukan perjuangan dan pemikiran yang panjang. Sebenarnya Dengan langsung memanggil nama para filsuf tanpa di tambahkan dengan berbagai gelar yang ada membuat kami lebih ingat akan hasil buah pikir para filsuf yang berbeda beda satu dengan yang lainnya dan hal ini sudah menjadi kebiasaan. Akan tetapi dengan demikian kami telah melakukan reduksi terhadap apa yang murid-muri filsuf tersebut lakukan, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami yang telah melakukan reduksi ini.

    ReplyDelete
  16. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Filsuf itu sebenarnya tidak ada di dunia ini, tidak ada orang yang mengaku sebagai ahli filsafat. Tetapi yang memberikan gelar filsuf itu adalah orang-orang lain. Sebenarnya filsuf itu bukan gelar, seperti halnya profesor, tetapi filsuf itu merupakan orang yang ahli filsafat, maka kita harus berhati-hati dalam memanggilnya, karena kadang beliau tidak merasa nyaman dengan panggilan itu. Oleh karena itu dalam hal penyebutan yang kita perlukan adalah sesuai dengan ruang dan waktunya. Sehingga nantinya akan tercipta kondisi hormat-menghormati dan tidak menyinggung satu sama lain. Jika di dalam kehidupan, kita menyebutkan nama-nama tokoh dalam sebuah perbincangan ataupun dalam tulisan dengan namanya saja merupakan hal lazim. Misalnya tanpa Pak, Bu, Tuan, Nyonya, dsb. Hal ini harus dilakukan berdasarkan konteks. Atau berdasarkan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  17. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Sebagai warga timur kita memiliki sopan santun dan budaya yang lebih menghormati orang yang lebih tua dan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dengan menyebutnya dengan panggilan tertentu. Akan terasa tidak hormat dan tidak sopan santun bila kita menyebut nama asli tanpa embel-embel apapun. Beda dengan orang barat yang tidak mengenal strata dalam menyebut atau memanggil seseorang.
    Begitu pula panggilan kita kepada para filsuf yang langsung menyebut namanya, menurut saya itu bukannya suatu ketidakhormatan atau tidak menghargainya kita pada para filsuf, tetapi itu adalah bentuk kedekatan kita dengan mereka. Karena kita merasa dekat dengan apa yang disampaikan para filsuf maka kita seakan telah mengenalnya dan panggilan itu layaknya kita pada teman dekat.
    Sudah menjadi hal yang lazim jika kita merasa dekat dengan seseorang dan ajarannya maka kita menganggap mereka seperti teman sendiri dan panggilan itu akan lebih mendekatkan kita.

    ReplyDelete
  18. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Segala hal harus dilakukan sesuai dengan ruang dan waktu. Termasuk dalam menuliskan panggilan untuk seseorang. Ketika kita mengenal orang tersebut atau berbicara langsung dengannya, maka sebaiknya kita beri tambahan Pak, Bu, Sdra, Sdri, dan panggilan lainnya. Tetapi dalam sebuah bahasan akademik, kita tidak harus memanggil dengan panggila Bapak, ibu, dan sebagainya. Mengutip karya-karyanya secara bijak, tidak melakukan plagiat merupakan sebuah penghormatan bagi para ilmuwan dan para filsuf.

    ReplyDelete
  19. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya baru menyadari bahwa selama ini saya telah memanggil beliau semua dengan nama yang kurang santun. Mungkin ini terjadi karena saya tidak mengenal beliau secara langsung dan karena kebiasaan. Penyebutan nama gelar dan Almarhum selayaknya memang digunakan. Terlebih kontribusi mereka sangatlah besar. Pemikiran-pemikiran besar mereka masih digunakan hingga saat ini, bahkan mungkin dikembangkan. Oleh karena itu, saya memohon maaf atas arogansiku atas kekurangsantunan dalam memanggil nama filsuf dan kelancanganku yang kadang mencoba berfilsafat tanpa dasar.

    ReplyDelete
  20. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Filsuf itu orang yang pemikirannya memiliki dampak yang sangat besar bagi peradaban dunia. Cara menghargai pendapat dan pemikiran para filsuf adalah dengan menghargai pemikiran dari para filsuf yang tentunya berbeda-beda bahkan beberapa saling bertentangan. Setiap tokoh pasti memiliki satu sisi pemikiran yang berbeda dengan tokoh lainnya.

    ReplyDelete
  21. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Sayapun juga sering memanggil para filsuf dengan nama, saya meminta maaf jika beberapa orang menganggap ini merupakan wujud ketidak sopanan, namun sesungguhnya penyebutan tanpa almarhum dsb merupakan wujud bahwa pemikiran-pemikiran mereka, yang kita pelajari saat ini adalah hal yang "hidup", hal yang masih digunakan secara aktif oleh banyak orang sehingga ketika menjelaskan pendapat-pendapat atau pemikiran para filsuf tanpa almarhum adalah semata-mata karena perasaan hidup dari pemikiran itu yang mengesampingkan kenyataan bahwa para filsuf telah tiada, namun lebih memfokuskan pada ilmunya masih hidup sampai saat ini.

    ReplyDelete
  22. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Bila memanggil filsuf dengan nama merupakan suatu arogansi maka selama ini tidak disadari bahwa tidak hanya kepada filsuf saja bentuk kelancangan yang tidak sadar juga saya perbuat, ada banyak ahli-ahli lain atau para ilmuwan yang hanya dipanggil namanya saja tanpa embel-embel apapun, selain memang hanya namanya saja digunakan dalam beberapa sumber bacaan dan semua orang tampak biasa dan lazim dengan hanya menyebutkan namanya saja. Alasan lain biasanya menggunakan embel-embel tanda kesopanan di depan merupakan bentuk kesopanan yang lebih lazim digunakan sebagai sapaan tanda kesopanan kepada orang yang disegani. Namun bukan berarti selama ini kita bermaksud tidak menyegani para filsuf, ilmuwan dan sebagainya namun kita menyebutkannya dengan nama saja karena ilmu atau pengetahuan yang pelajari itu merujuk pada pemikiran beliau-beliau itu.

    ReplyDelete
  23. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Memang terkadang kebiasaan kita memanggil sebutan filsuf hanya dengan nama saja seolah kita tidak sopan kepada mereka. Tetapi jauh di lubuk hati kita sebenarnya kita menghormati mereka sebagai guru yang telah memberikan banyak ilmu kepada kita, walaupun kita tidak menyebutkan gelar atau sapaan hormat. Mungkin juga karena dalam tata tulis buku tidak disebutkan gelar dan sapaan hotmat itu sehingga kita pun tidak mengetahui dengan pasti apa sebenarnya gelar para filsuf tersebut. Tetapi bukan maksud hati kami untuk tidak menghormati atau berlaku tidak sopan kepada guru-guru yang berjasa dalam perkembangan ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  24. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Sebenar-benarnya manusia yang bermanfaat adalah manusia yang dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Tiada menyebut kata almarhum pada para filsuf menurut saya bukan salah satu bentuk sifat arogansi. Tidak hanya para filsuf saja yang dalam menyebut namanya tidak disertakan kata almarhum/almarhumah, namun para nabi, pahlawan, penemu-penemu besar di bidang ilmu lain pun diperlakukan sama. Ini merupakan bentuk penghormatan kepada segala jasa dan usaha yang telah dilalakukan oleh mereka. Sebagai bentuk pengakuan bahwa walaupun secara fisik mereka telah tiada, namun jiwa, semangat dan perjuangan mereka akan selalu ada dan berkembang.

    ReplyDelete