Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 47: Surat Pembaca




Ass Para Pembaca yang budiman, karena saya belum sempat membalas, saya ingin minta bantuan pembaca untuk ikut memecahkan persoalan yang ada pada Surat Pembaca sebagai berikut. Silahkan tulis jawaban atau solusi sebagai suatu komen mengikuti posting ini. Tayangan Surat Pembaca tealah mendapat ijin dari si Pengirim. Semoga bermanfaat. Amin.Marsigit




Kepada
Yth. Bpk Dr. Marsigit
Di tempat

Assalamu’alaikum wr. Wb

Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Dita guru di sebuah SD swasta di Kotagede yaitu SDIT Internasional Luqman Al Hakim. SD ini baru berdiri pada tahun 2008, sekarang telah mempunyai 3 kelas parallel (year 1A&B, year 2A&B, year 3A&B).

Sekolah ini menggunakan kurikulum UK sebagai acuan dalam proses belajar mengajar, serta berbasis multiple intelegence.

Banyak sekali persoalan yang slama ini kami alami, khususnya dalam metode pembelajaran matematika.

Kami menggunakan beberapa buku matematika, cth: CGP books UK, Marshall Cavendish Singapore, dan Matebooken swedia(buku Swedia ini hanya kami gunakan untuk membandingkan).

Banyak pola penyampaian pada masing-masing buku yang sama. Ketiganya mengacu pada problem solving methods. Perbedaannya adalah angka yang digunakan ada yang relatif kecil (hingga ratusan->untuk kelas 1-3) dan ada yang menggunakan angka yang relatif besar(ribuanuntuk kelas1-3). Selain mengajar matematika di kelas, kami juga dituntut untuk membangun karakter anak.

Banyak yang ingin saya sharingkan bersama Bapak, jika Bapak berkenan. Salah satu diantaranya mengenai teaching mathematics in primary school.

Saya ingin belajar banyak dari Bapak untuk memecahkan persoalan yang tengah kami hadapi di sekolah kami. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan

1.Untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika?

2.Dalam tehnik penilaian matematika, slama ini kami menggunakan skala lima yaitu Perfect, Excellent, Very good, good, dan quite good. Bagaimana assessment untuk subject matematika yang paling efektif menurut bapak yang berbasis multiple intelligence?

3.Alokasi waktu dalam KBM di sekolah kami untuk pembelajaran matematika di kelas adalah 100menit. Dalam kelas saya, pada saat menggunakan metode diskusi, alokasi waktu tersebut dirasa kurang. Menurut bapak, alokasi waktu untuk proses belajar matematika anak SD yang ideal dan yang dapat digunakan secara optimal untuk memantik anak berpikir kritis berapa menit?

4.Pada buku matematika yang kami gunakan sebagai acuan, angka yang digunakan relatif kecil dan terdapat berbagai tekhnik mengerjakan yang berbeda-beda(mental strategies), sedangkan pada buku yang mengacu KTSP angka yang digunakan relatif besar. Apakah tidak apa-apa jika kami memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan)?

5.Jika ingin mengikuti teacher training atau workshop matematika, bagaimana kami dapat memperoleh informasinya,pak?

Demikian beberapa pertanyaan dari saya, saya berharap agar Bapak Marsigit berkenan membagi ilmu yang bapak miliki kepada saya.

Terima kasih banyak atas waktu dan perhatian Bapak.

Wassalamu’alaikum wr.wb

15 comments:

  1. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pengelompokan di dalam kelas menurut kemampuannya, rendah, sedang, tinggi, akan berdampak pada psikologis anak. Akan muncul perasaan iri, rendah diri, malu, dll. Seharusnya keberagaman yang terjadi malah dapat kita manfaatkan untuk dapat mengembangkan yang memiliki kemampuan rendah agar dapat lebih berkembang. Maka kenapa ada pendekatan kooperatif, fungsinya adalah supaya dapat belajar secara berkelompok tetapi campur, tidak berdasarkan golongan, sehingga nanti siswa yang kemampuan tinggi menjadi guru kecil disana untuk menjelaskan pada siswa lainnya. Sehingga tercipta suatu kondisi harmonis antar siswa.

    ReplyDelete
  2. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menjawab pertanyaa yang diberikan oleh Ibu Dita. Saya menanggapi pertanyaan pertama, apakah anak yang memiliki kemampuan matematikanya rendah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas. Menurut saya Ibu jangan terburu-buru mengelompokkan sendiri dalam kelas, karena dengan pengelompokkan tersebut siswa menjadi malu untuk belajar. Selain itu apabila dalam satu kelas terdiri dari siswa-siswa yang berkemampuan rendah maka siswa-siswa tersebut akan sulit berkembang karena temannya juga tidak bisa.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  3. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Menurut saya, akan lebih baik siswa yang memiliki kemampuan rendah tetap berada dalam satu kelas dengan siswa yang memiliki kemampuan tinggi. Namun demikian, guru sebaiknya mempersiapkan metode atau pun strategi belajar yang lebih banyak melakukan diskusi kelompok, dengan setiap kelompok anggotanya memiliki beragam kemampuan atau dengan kata lain kemampuannya heterogen. Mereka diminta saling bekerjasama untuk memahami suatu materi sedemikian hingga setiap anggota dari kelompok tersebut menguasai materi yang sedang didiskusikan. Sehingga siswa yang memiliki kemampuan rendah akan berusaha memahami materi dengan belajar bersama teman sejawatnya. Karena anak biasanya lebih senang belajar dengan teman sebayanya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  4. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkait waktu yang diperlukan untuk diskusi, menurut saya 100 menit itu alokasinya sudah cukup bagi anak sekolah dasar. Masalahnya pada manajemen waktu yang baik. Karena kalau siswa sekolah dasar ditambahkan jam belajar matematikanya dalam satu hari belum tentu ia menjadi lebih paham. Justru malah bisa memberikan dampak bosan bagi siswa. Oleh karena itu, pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan variatif sangat diperlukan guna mengoptimalkan waktu yang tersedia.

    ReplyDelete
  5. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkait pertanyaan apakah tidak apa-apa jika kami memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan), menurut saya tidak masalah jika siswa tersebut diberikan angka yang kecil pada kelas 1 sampai 3 asalkan konsep yang mereka pegang benar-benar sampai matang betul. Barulah nanti saat kelas 4 sampai 6 diberikan angka yang lebih besar. Daripada harus memaksakan anak untuk langsung belajar angka yang besar tapi konsepnya belum dipahami dengan baik.

    ReplyDelete
  6. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Menjadi seorang guru benar-benar mulia jika menyadari akan kemuliaannya. Jika guru merasa lelah maka saya yakin bahwa lelahnya guru lebih banyak pada pemikiran daripada lelahnya fisik. Baiklah, menurut pembaca mengenai surat tersebut yaitu:
    1. Memetak-metakkan atau mengumpulkan siswa secara homogen kurang baik, yang lebih baik dalam kelas adalah heterogen sehingga kelas tersebut akan hidup.
    2. Penilaian dalam proses pembelajaran sudah ditentukan oleh pemerintah, namun lebih baik jika guru yang memutuskan cara dan bentuk penilaian siswa, yang penting mengandung unsur-unsur teori atau komponen yang diharapkan.
    3. Ketika seorang guru ikhlas dengan materi yang disampaikan maka waktu untuk mengajar tidak akan pernah cukup, begitu pula dengan guru yang mengejar materi, namun guru yang tidak nyaman akan mengajar maka waktu itu akan selalu banyak untuknya. Jadi, sedikit waktunya maka metode atau cara mengajar harus menyesuaikan dengan catatan bahwa guru harus kreatif.
    4. Manusia pada umumnya memiliki step-step untuk bisa menggunakan pikirannya dan untuk mampu merangkai informasi yang didapatkan atau pengalamannya. Ketika memberikan pemahaman pada siswa, haruslah kita mengerti tentang kebutuhan yang wajar untuk siswa. Untuk anak SD sebenarnya di dalamnya hanya mengenalkan saja. Tentu angka kecil dulu, artinya bahwa pondasinya benar-benar kuat, barulah memulai bagian atasnya.
    5. sekarang sudah mengenal banyak sarana untuk memperoleh informasi, karena banyaknya cara tersebutlah sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa siswa lebih dahulu tahu dari pada gurunya. Namun sarana untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat yaitu dengan bertanya..
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  7. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Saya mencoba mengutarakan pendapat saya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Ibu Dita. Menurut saya, pengelompokkan anak menjadi homogen dalam satu kelas adalah kurang baik. Dengan mengelompokkan anak berkemampuan rendah dan tinggi, anak yang berkemampuan rendah akan merasa rendah diri dan minder sedangkan anak dengan kemampuan sedang dan tinggi akan merasa tinggi hati dan merendahkan teman lainnya. Maka akan lebih baik jika suatu kelas heterogen, terdiri dari siswa dengan berbagai kemampuan. Tetapi dalam kelas yang heterogen, guru harus berupaya keras agar kebutuhan setiap siswa terpenuhi.

    ReplyDelete
  8. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Apakah anak yang memiliki kemampuan matematika yang rendah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas? Menurut saya, dalam proses pembelajaran misalnya dalam kerja kelompok, siswa dengan kemampuan matematika rendah perlu dikelompokkan sendiri dan tentu saja lembar kegiatan siswa yang diberikan juga berbeda dengan kelompok dengan kemampuan matemtika tinggi dan sedang. Siswa dengan kemampuan matematika rendah membutuhkan guidance yang lebih di LKS nya, serta proses yang lebih sederhana. Namun, ketika proses pembelajaran biasa, sebaiknya siswa tidak di pisah pisah misalnya saja tempat duduknya, berdasarkan kemampuan matematika, karena itu akan membuat anak menjadi minder dan kemungkinan besar akan berakibat negatif, bukan positi

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya secara tiak langsung melakukan labeling kepada siswa. Ketika kita melakukan labeling akan berpengaruh kepada mental siswa, berpengaruh pada semangat siswa dalam belajar. Selain itu siswa yang dikelompokkan berdasarkan kemampuan aka sulit berkembang terutama siswa yang memiliki kemampuan rendah, ketika mereka membutuhkan informasi berkaitan dengan materi dia tidak menemukan jawaban dari temannya karena kemampuan mereka yang sama-sama rendah, oleh karena itu sebaiknya tidak mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  10. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih, pak Marsigit. Saya paham bahwa setiap tulisan yang bapak posting di blog ini adalah tulisan pilhihan yang menurut bapak penting dan mengandung nilai-nilai edukatif. Tapi saya rasa ini adalah salah-satu yang terunik yaitu mengungkapkan suatu aspirasi melalui surat terbuka. Sampai saat ini, meskipun terdengar kolot, surat-menyurat adalah cara yang paling romantis dalam berkomunkasi terutama untuk mengejawantahkan isi-isi dalam hati.

    ReplyDelete
  11. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Mengelompokkan siswa dalam kelompok diskusi yang heterogen dengan tingkat kemampuan berbeda merupakan salah satu cara guru dalam mengelompokkan siswa untuk hal ini menurut saya ada nilai positif dan negatifnya tersendiri. Positifnya yang berkemampuan tinggi membantu teman berkemampuan di bawahnya, namun negatifnya bisa saja dalam kelompok yang berkemampuan tinggi menonjol dengan sendirinya dan aktif sendiri maka tidak ada bedanya dengan saat belajar mandiri tanpa ada kelompok. Namun bila pengelompokan tidak secara heterogen pembelajaran atau diskusi dalam kelompok akan terhambat, namun disisi lain bila secara heterogen terkadang siswa berkemampuan tinggi dan berkemampuan di bawahnya sulit berkomunikasi atau berdiskusi.
    Dalam hal ini, kita tidak dapat menyalahkan atau menjudge yang dilakukan guru baik atau buruk sebab segala sesuatu usaha yang dilakukan guru dalam membentuk kelompok disikusi tentunya sudah dipertimbangkan berdasarkan pengalamannya maupun anjuran dari metode atau model pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

    ReplyDelete
  12. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Ilmu yang bermanfaat. Menurut saya untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), tidak harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika. Karena pengelompokan tersebut kadang bisa memunculkan keminderan bagi siswa itu sendiri. Lebih baik tetap dibuat kelas dengan variasi tingkat kemampuan sehingga diciptakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan memfasilitasi siswa agar saling bertukar informasi dan saling membantu dalam pembelajaran.
    Dalam teknik penilaian yang diberlakukan tersebut sudah baik karena tidak terpaku pada angka. Mengenai assessment sebaiknya bukan pada nilai angka atau huruf namun objek assessment lebih memntingkan pada portofolio siswa, tidak terpaku pada tes saja.
    Alokasi waktu dalam KBM di sekolah untuk pembelajaran matematika di kelas seharusnya sudah dirasa cukup asalkan bagaimana caranya mengelola kelas. Jika untuk membangun kekritisan siswa mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang esensinya kurang dan membutuhkan waktu banyak bisa disiasati.

    ReplyDelete
  13. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Kurikulum, menjadi suatu wadah yang dapat digunakan dalam mengembangkan pendidikan. Dalam proses pembelajaran, apalagi yang sifatnya berupa diskusi kelompok, maka dirasa perlu untuk memahami karakter masing-masing dari siswa yang ada di dalam suatu kelas. Pemahaman karakter ini seringkali diabaikan, padahal setiap siswa memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing. Pengelompokan yang sesuai dapat dilakukan dengan menggabungkan setiap tingkatan kemampuan siswa dalam satu kelompok. Hal ini diharapkan dapat menciptakan iklim pembelajaran yang efektif di kelas, dimana antar sesama siswa akan dapat saling belajar bersama, membantu sesama dan lebih dari itu untuk dapat mengharagai sesama.

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elementary School, menjadi titik awal pembentukan karakter seorang siswa. Sehingga peran guru dalam hal ini masih cukup besar pengaruhnya bagi siswa. Siswa sekolah dasar memiliki kecendrungan untuk dapat meniru apa yang ia lihat dan ia rasakan, sehingga peran guru perlu sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata. Untuk memahami kemampuan siswa sekolah dasar, diperlukan pendekatan yang tidak biasa. Pembelajaran di kelas pun cukup berpengaruh. Jikalau guru dapat memahami karakteristik siswa dengan baik, tentulah ia dapat menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswanya tersebut. Diskusi kelompok, akan tidak efektif jikalau peserta diskusi masih belum bisa memahami apa yang ia pelajari dengan baik, kurangnya ttimbal balik dari peserta lain dll. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar dirasa masih kurang cocok menggunakan metode diskusi kelompok. Saya rasa, metode ini dapat digunakan sesekali hanya pada materi yang telah dikuasai sepenuhnya oleh siswa atau merupakan materi lanjutan dari yang telah diajarkan oleh guru sebelunya. Namun usaha membudayakan diskusi kelompok di sekolah dasar, patut dijadikan langkah awal dalam menciptakan budaya diskusi yang baik di sekolah dasar.

    ReplyDelete