Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 47: Surat Pembaca




Ass Para Pembaca yang budiman, karena saya belum sempat membalas, saya ingin minta bantuan pembaca untuk ikut memecahkan persoalan yang ada pada Surat Pembaca sebagai berikut. Silahkan tulis jawaban atau solusi sebagai suatu komen mengikuti posting ini. Tayangan Surat Pembaca tealah mendapat ijin dari si Pengirim. Semoga bermanfaat. Amin.Marsigit




Kepada
Yth. Bpk Dr. Marsigit
Di tempat

Assalamu’alaikum wr. Wb

Sebelumnya, perkenalkan, nama saya Dita guru di sebuah SD swasta di Kotagede yaitu SDIT Internasional Luqman Al Hakim. SD ini baru berdiri pada tahun 2008, sekarang telah mempunyai 3 kelas parallel (year 1A&B, year 2A&B, year 3A&B).

Sekolah ini menggunakan kurikulum UK sebagai acuan dalam proses belajar mengajar, serta berbasis multiple intelegence.

Banyak sekali persoalan yang slama ini kami alami, khususnya dalam metode pembelajaran matematika.

Kami menggunakan beberapa buku matematika, cth: CGP books UK, Marshall Cavendish Singapore, dan Matebooken swedia(buku Swedia ini hanya kami gunakan untuk membandingkan).

Banyak pola penyampaian pada masing-masing buku yang sama. Ketiganya mengacu pada problem solving methods. Perbedaannya adalah angka yang digunakan ada yang relatif kecil (hingga ratusan->untuk kelas 1-3) dan ada yang menggunakan angka yang relatif besar(ribuanuntuk kelas1-3). Selain mengajar matematika di kelas, kami juga dituntut untuk membangun karakter anak.

Banyak yang ingin saya sharingkan bersama Bapak, jika Bapak berkenan. Salah satu diantaranya mengenai teaching mathematics in primary school.

Saya ingin belajar banyak dari Bapak untuk memecahkan persoalan yang tengah kami hadapi di sekolah kami. Ada beberapa pertanyaan yang ingin saya ajukan

1.Untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika?

2.Dalam tehnik penilaian matematika, slama ini kami menggunakan skala lima yaitu Perfect, Excellent, Very good, good, dan quite good. Bagaimana assessment untuk subject matematika yang paling efektif menurut bapak yang berbasis multiple intelligence?

3.Alokasi waktu dalam KBM di sekolah kami untuk pembelajaran matematika di kelas adalah 100menit. Dalam kelas saya, pada saat menggunakan metode diskusi, alokasi waktu tersebut dirasa kurang. Menurut bapak, alokasi waktu untuk proses belajar matematika anak SD yang ideal dan yang dapat digunakan secara optimal untuk memantik anak berpikir kritis berapa menit?

4.Pada buku matematika yang kami gunakan sebagai acuan, angka yang digunakan relatif kecil dan terdapat berbagai tekhnik mengerjakan yang berbeda-beda(mental strategies), sedangkan pada buku yang mengacu KTSP angka yang digunakan relatif besar. Apakah tidak apa-apa jika kami memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan)?

5.Jika ingin mengikuti teacher training atau workshop matematika, bagaimana kami dapat memperoleh informasinya,pak?

Demikian beberapa pertanyaan dari saya, saya berharap agar Bapak Marsigit berkenan membagi ilmu yang bapak miliki kepada saya.

Terima kasih banyak atas waktu dan perhatian Bapak.

Wassalamu’alaikum wr.wb

40 comments:

  1. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Menurut saya untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), tidak harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika. Karena pengelompokan tersebut kadang bisa memunculkan keminderan bagi siswa itu sendiri. Lebih baik tetap dibuat kelas dengan variasi tingkat kemampuan sehingga diciptakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan memfasilitasi siswa agar saling bertukar informasi dan saling membantu dalam pembelajaran.
    Dalam teknik penilaian yang diberlakukan tersebut sudah baik karena tidak terpaku pada angka. Mengenai assessment sebaiknya bukan pada nilai angka atau huruf namun objek assessment lebih memntingkan pada portofolio siswa, tidak terpaku pada tes saja

    ReplyDelete
  2. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Dalam pertanyaan pertama, apakah perlu dipisahkan antara anak yang memiliki kemampuan rendah di kelas? Menurut saya, tidak perlu untuk dipisahkan dalam kelas matematika, sebaiknya kita sebagai guru pun tidak membeda-bedakan kemampuan para siswanya. Karena dalam pembelajaran yang memiliki kemampuan heterogen jauh lebih baik dari pada di kelas yang memiliki kemampuan homogen. Sebagai guru pun sebaiknya pandai-pandai memanfaat kemampuan yang heterogen tersebut, misalnya saja dengan menggunakan metode pembelajaran teman sebaya, teman-teman yang memiliki kemampuan lebih bisa menjadi tentor bagi teman-temannya yang lemah dalam matematika. Karena beberapa siswa mungkin lebih paham jika dijelaskan dengan teman sebayanya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya kita tidak perlu mengelompokan siswa yang memiliki kemampuan rendah, itu justru akan menyulitkan siswa untuk berkembang. Akan lebih baik jika kelas dikelompokan menjadi kelompok yang heterogen sehingga siswa dapat saling membantu karena kebanyakan siswa ketika tidak memahami suatu hal cenderung bertanya kepada kawan terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  4. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menurut saya kita tidak perlu mengelompokan siswa yang memiliki kemampuan rendah, itu justru akan menyulitkan siswa untuk berkembang. Akan lebih baik jika kelas dikelompokan menjadi kelompok yang heterogen sehingga siswa dapat saling membantu karena kebanyakan siswa ketika tidak memahami suatu hal cenderung bertanya kepada kawan terlebih dahulu.

    ReplyDelete
  5. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Memang pada awal pembentukan sampai berjalannya suatu sekolah yang berbasis internasioanl tidak lah lepas dari berbagai permasalahan. Hal demikian juga dialami ketika pemerintah secara gembor-gemboran dalam mensosialisasikan dan menerapkan RSBI yang akhirnya peraturannya dihapuskan oleh MK. Tidak sedikit memang permasalahan yang dialami, mulai dari bagaimana menyesuaikan kurikulum dari luar yang sesuai dengan culture budaya kita sampai pada permasalahan yang sifatnya teknis pada proses pembelajaran. Salah satu permasalahan yang di alami di atas adalah mengenai alokasi waktu. Untuk metode diskusi atau metode lain yang sifatnya cooperative, menurut pengalaman saya memang membutuhkan waktu yang banyak. Apabila kita menggunakan alokasi waktu yang standar pada umumnya, maka pada proses pembelajaran, waktu hanya akan habis pada hal yang sifatnya teknis seperti mengatur kelompok dll, sedangkan materi yang akan disampaikan tidak habis tepat pada waktunya.

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya ingin menanggapi pertanyaan pertama tentang "Untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika?" menurut saya tidak usah dikarenakan jika siswa disendirikan di kelas tertentu maka dia tidak akan dapat berkembang. berbeda jika dia dijadikan satu dengan siswa dengan kemapuan seperti biasa bahkan tinggi maka dia akan menjadi dapat lebih berkembang.

    ReplyDelete
  7. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya juga ingin menanggapi mengenai pembelajaran yang dilakukan secara berkelompok atau diskusi kelompok. menurut saya diskusi kelompok sangat baik bagi siswa usia tersebut karena usia tersebut apalagi SD SMP pembelajaran matematikanya adalah suatu aktivitas. sehingga pembelajaran kooperatif sangatlah baik dan bagus guna meningkatkan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  8. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 5. Jika ingin mengikuti teacher training atau workshop matematika, bagaimana kami dapat memperoleh informasinya,pak? Saat ini, kita berada di zaman serba modern, salah satunya dengan adanya internet yang memudahkan akses untuk mengetahui beberapa hal termasuk workshop-workshop yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu.

    ReplyDelete
  9. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan ketiga mengenai alokasi waktu. Sudah menjadi hal yang biasa kalau guru sering kesulitan untuk menyesuaikan waktu belajar yang tersedia dengan target yang harus dicapai oleh siswa. Menurut saya waktu 100 menit yang diberikan memang sudah ideal. Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana cara guru agar 100 menit tersebut efektif. Selain itu, guru juga perlu memberikan tugas tambahan agar siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran di kelas saja. Disinilah peran orang tua sangat diperlukan untuk mengawasi waktu belajar siswa di luar jam sekolah.

    ReplyDelete
  10. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)
    Saya akan mengemukakan pendapat tentang pertanyaan nomor 1. Menurut saya, siswa yang memiliki kemampuan yang lemah tidak perlu dikelompokkan ke kelas sendiri sebab secara psikologis akan membuat anak menjadi minder dan tidak percaya diri serta merasa kurang mampu dibandingkan teman-teman yang lain. Selain itu, siswa yang kurang mampu, akan lebih kesulitan belajar jika dikelompokkan secara tersendiri. Alangkah baiknya jika, tidak ada pemisahan antara yang berkemampuan lebih dan lemah. Namun, dalam proses pembelajaran guru harus memberikan bimbingan, perhatian dan motivasi yang lebih, kepada siswa yang kurang mampu tersebut.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Untuk pertanyaan nomor 4, sebaiknya juga disesuaikan dengan pemahaman anak. Anak-anak yang konsepnya tentang operasi hitung jika diberikan angka yang besar akan mengalami beban pikiran dan stress sehingga dia tidak mau belajar matematika. Akhirnya, bukannya menyenangi malah anak tersebut akan membenci matematika. Jadi, tidak masalah memberikan angka yang kecil dulu untuk memperkuat pemahaman siswa barulah maju ke angka yang lebih besar. Dengan demikian, pemahaman mereka dapat lebih baik.

    ReplyDelete
  12. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Apakah anak yang memiliki kemampuan matematika yang rendah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas? Menurut saya, dalam proses pembelajaran misalnya dalam kerja kelompok, siswa dengan kemampuan matematika rendah perlu dikelompokkan sendiri dan tentu saja lembar kegiatan siswa yang diberikan juga berbeda dengan kelompok dengan kemampuan matemtika tinggi dan sedang. Siswa dengan kemampuan matematika rendah membutuhkan guidance yang lebih di LKS nya, serta proses yang lebih sederhana. Namun, ketika proses pembelajaran biasa, sebaiknya siswa tidak di pisah pisah misalnya saja tempat duduknya, berdasarkan kemampuan matematika, karena itu akan membuat anak menjadi minder dan kemungkinan besar akan berakibat negatif, bukan positif

    ReplyDelete
  13. Pony Salimah Nurkhaffah
    14301241006
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menjawab pertanyaan nomor 1, kemampuan setiap siswa berbeda-beda. Untuk siswa dengan berkemampuan rendah hendaknya mendapat perhatian khusus dari guru dan mendapatkan pendampingan yang lebih dibandingkan siswa yang lain. Sedangkan yang sudah mahir bisa diadakan pengayaan untuk lebih memperdalam ilmunya.

    ReplyDelete
  14. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Pengelompokan anak berdasarkan kemampuannya dalam bermatematika sebenarnya sangat baik untuk mengatasi permasalahan yang dialami siswa tersebut. hal ini banyak diterapkan di negara lain seperti Jepang. Sistem kelas mereka berdasarkan uruan nilai atau peringkat. Karena hal ini dinilai efektif untuk mengatasi anak yang berkemampuan rendah secara saksama dan lebih intensif. Apabila mereka digabungkan dengan anak berkemampuan tinggi, maka akan ada dua kemungkinan. Pertama, anak tersebut termotivasi, hal ini sebnarnya yang sangat diharapkan. Sedangkan kedua adalah anak tersebut akan merasa kurang percaya diri dan semakin lemah. Kemudian ketika kita mengelompokkan anak secara heterogen di dalam kelas yang heterogen, hal ini diharapkan bahwa anak yang lebih pandai dapat membantu temannya yang lebih lemah. Cara tersebut merupakan salah satu strategi guru dalam mengatasi kelas yang heterogen. Bukan pada kelas yang homogen seperti yang telah disampaikan sebelumnya. Tentunya semua ada plus dan minusnya.

    ReplyDelete
  15. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Dari paparan juga saya menangkap bahwa sekolah tersebut merupakan national plus yang menggunakan dua kurikulum sekaligus, yakni kurikulum nasional dan kurikulum UK. Perbedaan dari dua kurikulum yang digunakan ini tentu terdapat perbedaan alur dalam materi pembelajaran, seperti yang disebutkan bahwa “buku matematika yang kami gunakan sebagai acuan, angka yang digunakan relatif kecil dan terdapat berbagai teknik mengerjakan yang berbeda-beda (mental strategies), sedangkan pada buku yang mengacu KTSP angka yang digunakan relatif besar”. Menurut saya tidak masalah memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan) selama anak dapat memahaminya dan tujuan pada setiap KD nya tercapai. Guru memiliki hak untuk mengelola pembelajarannya di kelas. Cara pengajaran terbaik di kelas hanyalah guru kelas tersebut yang mengetahuinya karena dia yang menjalankan dan yang mengenal karakteristik siswanya.

    ReplyDelete
  16. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan menanggapi pertanyaan no.1 yaitu untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas(lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika. Jawaban saya adalah tidak. Justru sebaiknya jangan dibedakan dengan teman yang lain. Anak yang memiliki kemampuan lower di kelas pasti dalam dirinya memilki rasa minder terhadap teman yang lain. Apalagi jika guru sampai mengelompokannya secara khusus, maka akan timbul diskriminasi di dalamk kelas. Solusi yang terbaik adalah melakukan pembelajaran berbasis diskusi kelompok dan membaurkan anak lower tersebut dengan anak yang kemampuannya di atas rata-rata. Hal ini diharapkan anak berkemampuan rata-rata tersebut mampu menjadi tutor sebaya bagi anak lower tadi. Karena bisa jadi anak lower tadi sebetulnya cerdas, tetapi menurutnya tutor sebaya lebih menyenangkan.
    Selanjutnya saya akan menjawab pertanyaan no.3 tentang alokasi waktu untuk proses belajar matematika anak SD yang ideal dan yang dapat digunakan secara optimal untuk memantik anak berpikir kritis berapa menit? Jawaban saya adalah ‘relatif’. Lanyanya waktu yang diperlukan tergantung dari beberapa unsur yaitu: pertama, kemampuan awal siswa. Kedua, jenis materi yang diajarkan. Keempat, kondisi kelas. Dan kelima, kualitas LKS. Agar pembelajaran efektif dan efisien, maka kelima hal tersebut harus dioptimalkan.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  17. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Menurut pendapat saya pada pertanyaan pertama, pengelompokan kelas bagi anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower) sebetulnya perlu untuk anak kengan kriteria tertentu. Sebagai guru, sebaiknya dapat mengobservasi terlebih dahulu tentang peserta didiknya. Perlunya pengelompokan tersendiri adalah ketika anak tersebut sama sekali tidak bisa mengikuti kegiatan pembelajaran di kelas, maka ia harus dibimbing secara terpisah atau mandiri. Sebagai contoh kasusnya yaitu anak dengan slow learner. Akan tetapi ia tetap mengikuti kegiatan pembelajaran sebagaimana mestinya, kemudian ia diberikan jam tambahan di luar kegiatan pembelajaran agar sosial anak tersebut dapat berkembang.
    Pertanyaan kedua, assessment untuk subject matematika yang paling efektif berbasis multiple intelligence menurut saya adalah penilaian autentik yang mengutamakan pada proses bukan hasil. Penialaian ini dapat dilakukan dengan observasi dan mendokumentasikan proses atau kegiatan belajar siswa. Perkembangan belajar siswa terus menerus dipantau berdasarkan proses belajar mereka di kelas atau pun di luar kelas. Kemudian untuk dokumentasi dapat dilakukan dengan pengambilan foto, video, catatan lapangan, maupun wawancara langsung dengan siswa. Penilaian dengan bentuk seperti itu memang memerlukan tenaga yang lebih, namun akan terlihat perbedaan yang mencolok ketika guru hanya melakukan penilaian secara hasil. Karena proses pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  18. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Terimakasih Prof atas kesempatan yang diberikan
    Sulit bagi saya untuk menjawab pertanyaan dari saudara penanya tersebut. Beberapa pertanyaan yang diajukan menuntut jawaban dari “sudut pandang seorang guru”, sedangkan saya belumlah menjadi seorang guru dan bukan dari latar pendidikan (s1) keguruan. Tapi mari kita belajar bersama.
    Mohon maaf, terkait dengan penggunaan kurikulum UK dan lain-lain, saya rasa tidak ada salahnya. Akan tetapi kita juga harus sangat berhati-hati dengan bahaya internasionalisasi. Bolehlah kita mengambil nilai-nilai positif dari luar, akan tetapi kita juga harus menyadari bahwa di dalam diri kita (sistem negara kita) juga terdapat pedoman-pedoman positif yang harus kita terjemahkan.
    Yang kedua, saya akan menanggapi pertanyaan poin 1 yang intinya tentang pengelompokan siswa pada saat pembelajaran matematika. Saya setuju untuk dibuat pengelompokan, hanya saja kelompok yang saya maksut bukan kelompok berdasarkan peringkat (sistem seperti ini hanya akan menciptakan dinding sosial pemisah si pintar dan si kurang pintar). Pengelompokan yang saya maksut justru dengan kelompok heterogen. Jadi dalam satu kelompok terdapat siswa yang sudah memahami materi dengan yang belum. Selanjutnya diterapkan sistem tutor sebaya. Sistem seperti ini menurut saya sedikit membantu memecahkan masalah.
    Sekali lagi, terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mba Dita. Untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika? Menurut saya, pengelompokkan sendiri bagi anak yang berkemampuan rendah bukan menjadi solusi yangv terbaik. Karena untuk kalangan SD sendiri, ketika ada suatu perbedaan kelas tinggi sama kelas rendah, akan membuat terganggunya psikologi anak ketika ia masuk kekelas golongan yang rendah.
    Menurut saya, tetap saja di gabungkan dengan anak yang kemampuannya tinggi, namun sebagai guru harus cari metode/pendekatan yang lebih ekstra. Guru harus kreatif dalam mengelola kelas tanpa harus memisahkan kelas kemampuan tinggi dengan rendah. Masih banyak solusi lain untuk mengatasi itu.

    2.Dalam tehnik penilaian matematika, slama ini kami menggunakan skala lima yaitu Perfect, Excellent, Very good, good, dan quite good. Bagaimana assessment untuk subject matematika yang paling efektif menurut bapak yang berbasis multiple intelligence?
    Kalau saya sendiri, sebenarnya setuju akan penilaian yang di maksud di atas, namun jangan juga melupakan nilai objektifnya. Walaupun ada angka dalam penilaian, harus tetap dideskripsikan dengan kata-kata yang memotivasi.

    3.Alokasi waktu dalam KBM di sekolah kami untuk pembelajaran matematika di kelas adalah 100menit. Dalam kelas saya, pada saat menggunakan metode diskusi, alokasi waktu tersebut dirasa kurang. Menurut bapak, alokasi waktu untuk proses belajar matematika anak SD yang ideal dan yang dapat digunakan secara optimal untuk memantik anak berpikir kritis berapa menit?
    Menurut saya untuk belajaritu tidak ada batasan waktu, jadi motivasi anak untuk belajar dirumah. Karena mau 100 menit, 200 menit pun sesungguhnya tidak cukup untuk suatu pembelajaran, apalagi konteks matematika. Tuntut siswa untuk belajar mandiri dirumah.

    4.Pada buku matematika yang kami gunakan sebagai acuan, angka yang digunakan relatif kecil dan terdapat berbagai tekhnik mengerjakan yang berbeda-beda(mental strategies), sedangkan pada buku yang mengacu KTSP angka yang digunakan relatif besar. Apakah tidak apa-apa jika kami memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan)?
    Menurut saya tidak apa apa, semakin tahun semakin lama belajar siswa, maka ilmunya semakin bertambah, jadi wajar kalau angka dalam operasi bilangan pun bertambah, karena jika hanya seputaran angka kecil saja hingga kelas 6, ilmu mereka otomatis tidak bertambah.

    5.Jika ingin mengikuti teacher training atau workshop matematika, bagaimana kami dapat memperoleh informasinya,pak?
    Perluas jaringan, cari teman sebanyak banyaknya. Jangan menutup komunikasi dengan seseorang, karena seseorang itu bisa saja mendatangkan ribuan informasi.

    ReplyDelete
  20. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Saya mencoba menjawab pada pertanyaan pada point 1.
    "Untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika?".

    Menurut saya hal ini tidak perlu dilakukan karena sebanrnya ini malah membuat anak menjadi dibeda-bedakan biasanya akan timbul rasa ketidaknyamanan pada saat proses belajar didalm kelas karena kelas cenderung pasif dan tidak ada motivasi lebih bagi anak didalam kelas untuk berusaha memahami materi yang diberikan. jika didalm kelas ada anak yang mempunyai kemampuan tinggi anak akan lebih mudah sharing dalam mengerjakn soal karena akan lebih mudah dalam memahami materi. Mungkin anak didalam satu kelas bisa dibagi rata untuk anak mempunyai kemampuan yang rendah dan tinggi hingga proses belajar mengajar didalm kelas lebih aktif.

    ReplyDelete
  21. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba menanggapai tentang pengelompokkan kelas. Sebenarnya setiap anak memiliki kemampuan masing-masing. Kemampuan masing-masing anak tersebut tentu berbeda-beda. Dalam suatu kelas dengan anak yang berbeda-beda tentunya guru memiliki tantangan untuk dapat memfasilitasi anak sesuai kebutuhannya. Untuk anak yang memiliki kemampuan matematika rendah dapat terfasilitasi dan anak yang memiliki kemampuan tinggi juga dapat terfasilitasi. Salah satu dampak yang tidak diinginkan dari pemisahan anak dengan kemampuan tinggi dan rendah adalah anak dengan kemampuan rendah aka merasa minder dan juga tidak terpacu dan tidak termotivasi oleh teman yang lain. Sehingga menurut saya apabila masih memungkinkan anak untuk dapat difasilitasi di kelas maka tidak perlu untuk dipisahkan dengan siswa yang lain, namun sebagai guru hendaknya dapat mengelola kelas agar siswa tersebut tidak terabaikan dan siswa yang lain tidak merasa terganggu dengan cara menyusun bermacam-macam lembar kegiatan sesuai kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  22. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Jawaban untuk pertanyaan pertama, menurut saya anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower) tidak perlu dipisah karena akan mempengaruhi psikologi anak tersebut. Siswa akan merasa bahwa dirinya tidak berkompeten, merasa bodoh dan merasa memiliki sifat-sifat negatif lainnya yang akan berakibat pada semangat belajar siswa tersebut. Sebaiknya siswa yang lower tersebut diberi pemahaman dan perhatian khusus dengan menambah pursi latihan agar kemampuannya bisa meningkat. Selain itu untuk pertanyaan nomor 4, menurut saya melatih siswa dengan bilangan yang lebih besar itu perlu, namun dilakukan bertahap agar siswa tidak kaget dengan angka yang terlampau besar.

    ReplyDelete
  23. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami tertarik dengan pertanyaan yang pertama “untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), apakah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika?”. Pertanyaan ini cukup kompleks, dalam pemikiran kami jika anak tersebut digabung bersama-sama dengan anak yang lain ada kekhawatiran bahwa anak tersebut akan tertinggal dan sulit mengikuti teman-temannya dalam belajar, akan tetapi jika dikelompokkan secara tersendiri karena akan membuat si anak merasa kurang percaya diri karena merasa disisihkan dengan teman-temannya yang lain. Sehingga menurut saya akan lebih baik jika tidak harus dikelompokkan tersendiri, akan tetapi guru harus mampu untuk menyusun kegiatan pembelajaran yang adil dan memberikan sedikit perhatian tambahan kepada si anak, agar dia mampu mencapai tujuan pembelajaran secara optimal.

    ReplyDelete
  24. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Pengelompokan di dalam kelas menurut kemampuannya, rendah, sedang, tinggi, akan berdampak pada psikologis anak. Akan muncul perasaan iri, rendah diri, malu, dll. Seharusnya keberagaman yang terjadi malah dapat kita manfaatkan untuk dapat mengembangkan yang memiliki kemampuan rendah agar dapat lebih berkembang. Maka kenapa ada pendekatan kooperatif, fungsinya adalah supaya dapat belajar secara berkelompok tetapi campur, tidak berdasarkan golongan, sehingga nanti siswa yang kemampuan tinggi menjadi guru kecil disana untuk menjelaskan pada siswa lainnya. Sehingga tercipta suatu kondisi harmonis antar siswa.

    ReplyDelete
  25. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Dalam kesempatan ini saya akan mencoba menjawab pertanyaa yang diberikan oleh Ibu Dita. Saya menanggapi pertanyaan pertama, apakah anak yang memiliki kemampuan matematikanya rendah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas. Menurut saya Ibu jangan terburu-buru mengelompokkan sendiri dalam kelas, karena dengan pengelompokkan tersebut siswa menjadi malu untuk belajar. Selain itu apabila dalam satu kelas terdiri dari siswa-siswa yang berkemampuan rendah maka siswa-siswa tersebut akan sulit berkembang karena temannya juga tidak bisa.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  26. Nurika Mitahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Menurut saya, akan lebih baik siswa yang memiliki kemampuan rendah tetap berada dalam satu kelas dengan siswa yang memiliki kemampuan tinggi. Namun demikian, guru sebaiknya mempersiapkan metode atau pun strategi belajar yang lebih banyak melakukan diskusi kelompok, dengan setiap kelompok anggotanya memiliki beragam kemampuan atau dengan kata lain kemampuannya heterogen. Mereka diminta saling bekerjasama untuk memahami suatu materi sedemikian hingga setiap anggota dari kelompok tersebut menguasai materi yang sedang didiskusikan. Sehingga siswa yang memiliki kemampuan rendah akan berusaha memahami materi dengan belajar bersama teman sejawatnya. Karena anak biasanya lebih senang belajar dengan teman sebayanya.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  27. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkait waktu yang diperlukan untuk diskusi, menurut saya 100 menit itu alokasinya sudah cukup bagi anak sekolah dasar. Masalahnya pada manajemen waktu yang baik. Karena kalau siswa sekolah dasar ditambahkan jam belajar matematikanya dalam satu hari belum tentu ia menjadi lebih paham. Justru malah bisa memberikan dampak bosan bagi siswa. Oleh karena itu, pemilihan metode pembelajaran yang tepat dan variatif sangat diperlukan guna mengoptimalkan waktu yang tersedia.

    ReplyDelete
  28. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Terkait pertanyaan apakah tidak apa-apa jika kami memberikan angka yang kecil (hingga ratusan) kepada siswa hingga kelas 3, kemudian pada saat kelas 4,5,6 anak baru diajarkan operasi hitung dengan angka besar (ribuan), menurut saya tidak masalah jika siswa tersebut diberikan angka yang kecil pada kelas 1 sampai 3 asalkan konsep yang mereka pegang benar-benar sampai matang betul. Barulah nanti saat kelas 4 sampai 6 diberikan angka yang lebih besar. Daripada harus memaksakan anak untuk langsung belajar angka yang besar tapi konsepnya belum dipahami dengan baik.

    ReplyDelete
  29. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Menjadi seorang guru benar-benar mulia jika menyadari akan kemuliaannya. Jika guru merasa lelah maka saya yakin bahwa lelahnya guru lebih banyak pada pemikiran daripada lelahnya fisik. Baiklah, menurut pembaca mengenai surat tersebut yaitu:
    1. Memetak-metakkan atau mengumpulkan siswa secara homogen kurang baik, yang lebih baik dalam kelas adalah heterogen sehingga kelas tersebut akan hidup.
    2. Penilaian dalam proses pembelajaran sudah ditentukan oleh pemerintah, namun lebih baik jika guru yang memutuskan cara dan bentuk penilaian siswa, yang penting mengandung unsur-unsur teori atau komponen yang diharapkan.
    3. Ketika seorang guru ikhlas dengan materi yang disampaikan maka waktu untuk mengajar tidak akan pernah cukup, begitu pula dengan guru yang mengejar materi, namun guru yang tidak nyaman akan mengajar maka waktu itu akan selalu banyak untuknya. Jadi, sedikit waktunya maka metode atau cara mengajar harus menyesuaikan dengan catatan bahwa guru harus kreatif.
    4. Manusia pada umumnya memiliki step-step untuk bisa menggunakan pikirannya dan untuk mampu merangkai informasi yang didapatkan atau pengalamannya. Ketika memberikan pemahaman pada siswa, haruslah kita mengerti tentang kebutuhan yang wajar untuk siswa. Untuk anak SD sebenarnya di dalamnya hanya mengenalkan saja. Tentu angka kecil dulu, artinya bahwa pondasinya benar-benar kuat, barulah memulai bagian atasnya.
    5. sekarang sudah mengenal banyak sarana untuk memperoleh informasi, karena banyaknya cara tersebutlah sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa siswa lebih dahulu tahu dari pada gurunya. Namun sarana untuk mendapatkan informasi yang tepat dan akurat yaitu dengan bertanya..
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  30. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Saya mencoba mengutarakan pendapat saya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan Ibu Dita. Menurut saya, pengelompokkan anak menjadi homogen dalam satu kelas adalah kurang baik. Dengan mengelompokkan anak berkemampuan rendah dan tinggi, anak yang berkemampuan rendah akan merasa rendah diri dan minder sedangkan anak dengan kemampuan sedang dan tinggi akan merasa tinggi hati dan merendahkan teman lainnya. Maka akan lebih baik jika suatu kelas heterogen, terdiri dari siswa dengan berbagai kemampuan. Tetapi dalam kelas yang heterogen, guru harus berupaya keras agar kebutuhan setiap siswa terpenuhi.

    ReplyDelete
  31. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Apakah anak yang memiliki kemampuan matematika yang rendah harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas? Menurut saya, dalam proses pembelajaran misalnya dalam kerja kelompok, siswa dengan kemampuan matematika rendah perlu dikelompokkan sendiri dan tentu saja lembar kegiatan siswa yang diberikan juga berbeda dengan kelompok dengan kemampuan matemtika tinggi dan sedang. Siswa dengan kemampuan matematika rendah membutuhkan guidance yang lebih di LKS nya, serta proses yang lebih sederhana. Namun, ketika proses pembelajaran biasa, sebaiknya siswa tidak di pisah pisah misalnya saja tempat duduknya, berdasarkan kemampuan matematika, karena itu akan membuat anak menjadi minder dan kemungkinan besar akan berakibat negatif, bukan positi

    ReplyDelete
  32. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya secara tiak langsung melakukan labeling kepada siswa. Ketika kita melakukan labeling akan berpengaruh kepada mental siswa, berpengaruh pada semangat siswa dalam belajar. Selain itu siswa yang dikelompokkan berdasarkan kemampuan aka sulit berkembang terutama siswa yang memiliki kemampuan rendah, ketika mereka membutuhkan informasi berkaitan dengan materi dia tidak menemukan jawaban dari temannya karena kemampuan mereka yang sama-sama rendah, oleh karena itu sebaiknya tidak mengelompokkan siswa berdasarkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  33. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Terima kasih, pak Marsigit. Saya paham bahwa setiap tulisan yang bapak posting di blog ini adalah tulisan pilhihan yang menurut bapak penting dan mengandung nilai-nilai edukatif. Tapi saya rasa ini adalah salah-satu yang terunik yaitu mengungkapkan suatu aspirasi melalui surat terbuka. Sampai saat ini, meskipun terdengar kolot, surat-menyurat adalah cara yang paling romantis dalam berkomunkasi terutama untuk mengejawantahkan isi-isi dalam hati.

    ReplyDelete
  34. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Mengelompokkan siswa dalam kelompok diskusi yang heterogen dengan tingkat kemampuan berbeda merupakan salah satu cara guru dalam mengelompokkan siswa untuk hal ini menurut saya ada nilai positif dan negatifnya tersendiri. Positifnya yang berkemampuan tinggi membantu teman berkemampuan di bawahnya, namun negatifnya bisa saja dalam kelompok yang berkemampuan tinggi menonjol dengan sendirinya dan aktif sendiri maka tidak ada bedanya dengan saat belajar mandiri tanpa ada kelompok. Namun bila pengelompokan tidak secara heterogen pembelajaran atau diskusi dalam kelompok akan terhambat, namun disisi lain bila secara heterogen terkadang siswa berkemampuan tinggi dan berkemampuan di bawahnya sulit berkomunikasi atau berdiskusi.
    Dalam hal ini, kita tidak dapat menyalahkan atau menjudge yang dilakukan guru baik atau buruk sebab segala sesuatu usaha yang dilakukan guru dalam membentuk kelompok disikusi tentunya sudah dipertimbangkan berdasarkan pengalamannya maupun anjuran dari metode atau model pembelajaran yang diterapkan oleh guru.

    ReplyDelete
  35. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Ilmu yang bermanfaat. Menurut saya untuk anak yang mempunyai kemampuan matematika rendah di kelas (lower), tidak harus dikelompokkan sendiri di dalam kelas matematika. Karena pengelompokan tersebut kadang bisa memunculkan keminderan bagi siswa itu sendiri. Lebih baik tetap dibuat kelas dengan variasi tingkat kemampuan sehingga diciptakan suatu kegiatan pembelajaran yang akan memfasilitasi siswa agar saling bertukar informasi dan saling membantu dalam pembelajaran.
    Dalam teknik penilaian yang diberlakukan tersebut sudah baik karena tidak terpaku pada angka. Mengenai assessment sebaiknya bukan pada nilai angka atau huruf namun objek assessment lebih memntingkan pada portofolio siswa, tidak terpaku pada tes saja.
    Alokasi waktu dalam KBM di sekolah untuk pembelajaran matematika di kelas seharusnya sudah dirasa cukup asalkan bagaimana caranya mengelola kelas. Jika untuk membangun kekritisan siswa mungkin untuk kegiatan-kegiatan yang esensinya kurang dan membutuhkan waktu banyak bisa disiasati.

    ReplyDelete
  36. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Kurikulum, menjadi suatu wadah yang dapat digunakan dalam mengembangkan pendidikan. Dalam proses pembelajaran, apalagi yang sifatnya berupa diskusi kelompok, maka dirasa perlu untuk memahami karakter masing-masing dari siswa yang ada di dalam suatu kelas. Pemahaman karakter ini seringkali diabaikan, padahal setiap siswa memiliki kemampuan dan keunikan masing-masing. Pengelompokan yang sesuai dapat dilakukan dengan menggabungkan setiap tingkatan kemampuan siswa dalam satu kelompok. Hal ini diharapkan dapat menciptakan iklim pembelajaran yang efektif di kelas, dimana antar sesama siswa akan dapat saling belajar bersama, membantu sesama dan lebih dari itu untuk dapat mengharagai sesama.

    ReplyDelete
  37. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  38. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Elementary School, menjadi titik awal pembentukan karakter seorang siswa. Sehingga peran guru dalam hal ini masih cukup besar pengaruhnya bagi siswa. Siswa sekolah dasar memiliki kecendrungan untuk dapat meniru apa yang ia lihat dan ia rasakan, sehingga peran guru perlu sangat berhati-hati dalam bersikap dan bertutur kata. Untuk memahami kemampuan siswa sekolah dasar, diperlukan pendekatan yang tidak biasa. Pembelajaran di kelas pun cukup berpengaruh. Jikalau guru dapat memahami karakteristik siswa dengan baik, tentulah ia dapat menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswanya tersebut. Diskusi kelompok, akan tidak efektif jikalau peserta diskusi masih belum bisa memahami apa yang ia pelajari dengan baik, kurangnya ttimbal balik dari peserta lain dll. Keterbatasan kemampuan yang dimiliki oleh siswa sekolah dasar dirasa masih kurang cocok menggunakan metode diskusi kelompok. Saya rasa, metode ini dapat digunakan sesekali hanya pada materi yang telah dikuasai sepenuhnya oleh siswa atau merupakan materi lanjutan dari yang telah diajarkan oleh guru sebelunya. Namun usaha membudayakan diskusi kelompok di sekolah dasar, patut dijadikan langkah awal dalam menciptakan budaya diskusi yang baik di sekolah dasar.

    ReplyDelete
  39. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Ilmu saya sebagai mahasiswa S1 Pendidikan Matematika rasa-rasanya belum cukup untuk menjawab pertanyaan dari Ibu Dita ini, tetapi perkenankanlah saya untuk mengungkapkan pemikiran saya terhadap kasus ini.
    Untuk pertanyaan pertama, menurut saya anak yang mempunyai kemampuan matematika lebih rendah tidak perlu dikelompokkan sendiri. Biarkan saja mereka bergabung bersama siswa-siswa lainnya sehingga mereka dapat belajar bersama, justru mungkin anak-anak ini akan memiliki performa belajar yang lebih tinggi ketika belajar dari tutor sebayanya. Lalu, contoh bantuan yang dapat guru berikan untuk kasus seperti ini adalah memfasilitasi pelajaran tambahan jika memang diperlukan.
    Selanjutnya saya ingin mengungkapkan gagasan saya berkaitan dengan pertanyaan nomor 4. Dalam pembelajaran mikro, dosen saya selalu berpesan untuk tidak memberikan pembelajaran yang serba mendadak. Jika anak sampai kelas 3 mempelajari bilangan hingga ratusan saja kemudian mulai kelas 4 mereka harus mempelajari operasi hitung untuk angka ribuan, bukankah itu contoh dari pembelajaran yang mendadak? Solusinya mungkin mulai dari akhir kelas 2 SD atau awal kelas 3 SD, siswa sedikit demi sedikit mulai dikenalkan dengan angka ribuan. Pendekatan yang digunakan bisa dengan angka-angka ratusan. Contohnya adalah 1000 merupakan hasil dari 999 ditambah 1, atau 1000 merupakan hasil dari 700 ditambah 300. Dengan begitu, siswa tidak akan “kaget” dengan perkembangan materi yang diterimanya. Jika siswa sudah mengenal angka ribuan, pembelajaran selanjutnya akan lebih mudah dipahami oleh siswa.
    Mohon maaf jika dalam gagasan saya ini masih terdapat banyak kekurangan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  40. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Menurut saya anak yang memiliki kemampuan rendah di kelas tidak boleh di kelompokkan sendiri di kelas. Pengelompokan dalam pembelajaran seharusnya dilakukan secara heterogen sehingga antar anggota kelompok dapat saling menyampaikan
    pengetahuan yang dimiliki. Pengelompokan secara heterogen dapat memfasilitasi kegiatan tutor sebaya, dimana anak yang memiliki kemampuan rendah tidak merasa canggung atau takut untuk bertanya kepada teman kelompoknya.

    ReplyDelete