Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 25: Ilmuku adalah Kontradiksi itu




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata Ilmuku adalah sebuah Kontradiksi.

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

9 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Ilmu merupakan sebuah pengetahuan yang telah dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Semakin kita mencari ilmu maka kita akan semakin bodoh. Semakin banyak ilmu semakin banyak pengetahuan kita. semakin luas ilmu, semakin luaslah pandangan kita tentang dunia. semakin dalam ilmu, maka semakin dalam kita memaknai kehidupan. Semakin tinggi ilmu, maka semakin tinggi cita-cita kita. semakin mempelajari ilmu, maka semakin banyak pertanyaan. Semakin kita memahami ilmu, maka semakin terlihat jelas kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. karena ilmu adalah kontradiksi itu sendiri. namun, janganlah sekali-kali kita sombong karena keilmuan yang kita miliki. Tirulah filsafat ilmu padi, semakin tua semakin merunduk.

    ReplyDelete
  2. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Munculnya sebuah kontradiksi itu merupakan awal dari proses berpikir. Adanya kontradiksi dikarenakan manusia berpikir kritis dan kreatif, sehingga menemukan antitesis dari pengetahuan yang sedang dipelajari. Jadi, kontradiksi bukan merupakan suatu kesalahan, melainkan suatu proses asimilasi dan akomodasi yang kemudian akan membentuk skema baru yang nantinya akan melahirkan sebuah pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Sintesis dari tesisnya sebagai berikut:
    Ilmuku adalah pengalamanku yang aku pikirkan. Contohnya saat aku belajar di Sekolah Dasar. Aku diajari tentang penjumlahan bilangan bulat.Ibu guru mengajarkan bahwa 1+1=2, 2+2=4, 4+4=8, 8+8=16, dan sebagainya. Aku sangat yakin bahwa hal tersebut adalah benar. Aku yakin bahwa 1+1 itu pasti jawabannya 2. 2+2 itu pasti jawabannya 4. 4+4 itu pasti jawabannya 8. 8+8 itu pasti jawabannya 16. Itulah ilmuku, karena pengalamanku dalam menjumlahkan yang aku pikirkan sehingga masuk ke dalam pikiran dan ingatanku.
    Anti-tesis dari tesis di atas adalah sebagai berikut:
    Lalu saat istirahat pelajaran aku hendak membeli peralatan tulis, kebetulan teman-temanku menitipuntuk dibelikan beberapa peralatan tulis juga sehingga kucatat apa yang aku beli pada selembar kertas. Daftarnya sebagai berikut: 2 pensil, 5 buku tulis bergaris, 2 buku tulis berpetak, dan 1 penggaris. Kemudian aku pergi ke koperasi siswa atau kopsis untuk membelinya. Di perjalanan, tiba-tiba saja aku ingat pelajaran penjumlahan di kelas matematika tadi lalu aku membuka kertas yang berisi daftar belanja dan mulai berpikir. Aku telah mengetahui ilmu penjmlahan bilangan bulat, tetapi setelah aku mencoba menjumlahkan benda-benda yang ada di daftar belanjaku ternyata tidak bisa. Aku tahu bahwa 2+5+2+1 itu hasilnya 10, tetapi ketika aku menjumlahkan 2 pensil+5 buku tulis bergaris+2 buku tulis berpetak+ 1 penggaris jawabannya tidak sama dengan 10 pensil atau 10 buku tulis bergaris atau 10 buku tulis berpetak atau 10 penggaris. Aku menemukan bahwa ilmukku adalah sebuah kontradiksi.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb.
    Proses belajar adalah proses mencari. Apa yang dicari? Yang dicari adalah perihal hakikat dari fragmen-fragmen kehidupan. Dalam proses belajar (mencari) kita tidak akan hanya menghadapi satu jalan. Dinamika keilmuan, pluralitas pengetahuan, keberagaman paradigma, akan membawa kita pada proses yang kompleks. Kita akan dihadapkan pada pada pintu-pintu yang saling kontradiktif. Ketika kita masuk ke dalam pintu-pintu tersebut san mencoba untuk memahami setiap substansi yang ada di dalam pintu-pintu itu maka, tak khayal ilmu-ilmu yang meresap ke dalam diri kita tidak lain adalah kumpulan-kumpulan pengetahuan yang saling kontradiksi. Apakah itu salah? Saya pikir tidak, sebab dialektika tak akan bekerja tanpa kontradiksi.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Ilmu adalah pengetahuan tentang yang ada dan mungkin ada di dunia ini. Kita memperoleh ilmu dari belajar yang awalnya kita tidak tahu apa-apa, maka kita akan menjadi tau hakekat kita. Selama proses kehidupan kita akan selalu mempelajari ilmu sebagai subjek yang harus kita ketahui di dunia ini, semakin banyak sendi kehidupan yang kita lewati maka subjek ilmu yang akan kita temui akan semakin beraneka ragam terkadang subjek baru yang kita temui tak lantas kita terima begitu saja ada proses menimbang, membandingkan, mengatur dsb yang terjadi di otak kita berdasarkan subjek-subjek ilmu yang telah kita ketahui. Sebagai contoh saya diajarkan jika sapi adlah hewan berkaki 4, namun suatu ketika saya melihat dari sisi samping saya hanya nampak 2 kaki sapi, lantas dimana kaki sapi yang lain? Itu lah mengapa ilmuku adalah kontradiksi itu. Oleh karena itu, tak selamanya ilmu itu benar, tetapi, ilmu benar ketika di letakan pada posisi yang benar.

    ReplyDelete
  6. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Ilmuku adalah kontradiksi itu".
    Ilmu adalah kontradiksi
    Kontardiksi, kita sadar akan kehadiran kontradiksi jika dalam keadaan sadar dan berfikir. Seseorang yang sedang berada dalam kegiatan berfikir tentu akan masuk pada dunia kontradiktif. Bahkan sampai pada "aku bukanlah aku". Maka ilmu adalah kontradiksi. Maka kontradiksi adalah ilmu.

    Ilmuku adalah kontradiksi, refleksikan pada diriku, maka saya sadar jika ilmu adalah tentatif. Kelak, selalu ada pembaharuan atau bahkan ada penyangkalan pada ilmu yang ada saat ini. Maka, karena itulah, ilmu selalu berada pada garis "proses" ataupun garis "perjalanan", tidak akan ada finishnya. Bisa ditebak bukan betapa banyaknya kontradiksi yang akan kita jumpai pada perjalanan ini. Jangan merasa lelah, kontradiksi inilah yang membuat kita berpikir kritis. Jangan merasa lelah, perjalanan ini tiada akhir, kecuali Tuhan yang mengatakan ini telah berakhir. Kontradiksi memang terdengar sedikit menyeramkan (bagi saya), rasanya seperti akan ada hal yang meruntuhkan gagasan yang saya bawa. Tapi kontradiktif inilah yang akan menemaini kita dalam proses yang panjang ini

    ReplyDelete
  7. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Berpikir memang melalui proses kontradiktif. Ketika berpikir, pertimbangan dan perbandingan selalu hadir. Yang berbeda dan yang sama selalu muncul. Maka ilmuku adalah kontradiksi, karena muncul dari pertentangan.

    ReplyDelete
  8. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ilmu adalah Kontradiksi, karena sebenar benarnya ilmu ketika seseorang mampu mengkontradiksikan sesuatu, berarti seseorang tersebut telah mampu berfikir kritis, menganalisis dsb. Karena jika hanya menerima pengetahuan yang didapat, berarti kita belumberilmu, karena ilmu adalah respon dari pengetahuan yang didapat, termasuk respon mengkontradiksikan pengetahuan yang didapat.

    ReplyDelete
  9. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Saat kami menuntut ilmu, sesungguhnya kami melakukan kegiatan berpikir. Berpikir pada dasarnya terjadi saat ada sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, atau kita berada dalam suatu kondisi kita harus memilih atau membuat suatu keputusan. Hal ini sesuai dengan pemikiran Friedrich Hegel (1770-1831) bahwa tujuan dasariah filsafat adalah mengatasi oposisi-oposisi. (Hardiman,2007 : 176). Dalam kehidupan sehari-hari kita hanya menangkap kemajemukan, pertentangan, kontradiksi, dan lain-lain. Hal-hal tersebut menimbulkan ketidakpuasan dalam pikiran dan menurut Hegel kepentingan dasar dari pikiran (rasio) adalah mengusahakan keutuhan dari oposisi-oposisi tersebut. Jadi ternyata ilmuku adalah bersumber dari kontradiksi-kontradiksi yang kami hadapi.

    Referensi:
    Hardiman, F. B. (2007). Filsafat Modern. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

    ReplyDelete