Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 24: Mohon Maaf Filsafatku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata
aku harus memohon maaf karena menurut filsafatku, Segala Bencana dan Malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata Hanyalah Jatuhnya Suatu Sifat yang satu kepada Sifat yang lainnya (aksiden).

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit
Posted by D

7 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Setiap manusia berfilsafat untuk mengolah pikirannya masing-masing. Pada dasarnya manusia diciptakan secara sempurna memiliki akal dan nafsu yang keduanya harus bisa dikendalikan untuk menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi. Khalifah ialah bahwa manusia diciptakan untuk menjadi penguasa yang mengatur apa-apa yang ada di bumi, seperti tumbuhannya, hewannya, hutannya, airnya, sungainya, gunungnya, lautnya, perikanannya dan seyogyanya manusia harus mampu memanfaatkan segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatannya. Namun ada kalanya filsafat yang digunakan manusia tidak mampu menggunakan akalnya secara maksimal dan menahan nafsu atas gejolak yang ada dalam kehidupan di dunia sehingga menimbulkan bencana dan malapetaka yang dahsyat. Untuk menghindari hal demikian maka tetaplah selalu berfilsafat dengan memaksimalkan penggunaan akal dan mendekatkan diri kepadaNya.

    ReplyDelete
  2. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pandangan filsafat setiap orang berbeda-beda karena tidak ada sesuatu yang identik di dunia ini. Hal ini menunjukkan bahwa olah pikir yang dilakukan manusia bisa berbeda, dan bisa pula menimbulkan bencana karena hasutan syaitan. Aksiden inilah yang merupakan segala bencana dan malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata hanyalah jatuhnya suatu sifat yang satu kepada sifat yang lainnya. Oleh karena itu, sebaiknya dalam berfilsafat kita harus berpikir jernih dan ikhlas sehingga mendapatkan ridho dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mensisntesiskan tesisnya sebagai berikut:
    Berbicara mengenai bencana dan malapetaka yang dahsyat, saya merasakan akhir-akhir ini di muka bumi sering terjadi malapetaka dan bencana yang dahsyat. Mulai dari bencana alam, peperangan, bahkan wabah penyakit yang belum ditemukan obatnya. Sehingga saya jadi takut dengan beberapa hal yang berbau bencana. Yang pertama saya takut dengan hujan lebat karena saya khawatir akan terjadi bencana banjir. Lalu saya juga takut dengan pistol karena orang-orang di daerah peperangan menggunakannya untuk berperang. Selain itu saya juga takut dengan bakteri karena saya khawatir tertular penyakit berbahaya.
    Berikut saya uraikan anti-tesis dari tesis di atas.:
    Kemarin di rumah saya hujan rasanya sejuk sekali apalagi setelah lama mengalami musim kering akhirnya halaman rumah kembali sejuk karena diguyur hujan. Ah ternyata hujan itu baik juga dan tidak menyeramkan seperti yang saya pikirkan. Lalu saat saya melihat berita di TV ada kasus pencurian saya merasa lea karena pelakunya berhasil dilumpuhkan polisi dengan tembakan di kaki. Ah ternyata pistol itu ada manfaatnya juga kalau dipegang oleh polisi yang menegakkan keadilan. Eh saat saya melihat tayangan kesehatan di TV ternyata kerja usus kita itu dibantu oleh bakteri e-coli untuk mencerna makanan. Wah bersyukurnya ternyata ada bakteri baik di dalam tubuh kita. kemudian saya sadar bahwa sebenarnya segala bencana dan malapetaka itu hanyalah jatuhnya suatu sifat buruk pada benda atau hal-hal yang sebenarnya juga memiliki sifat baik.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Terima kasih, pak prof. Saya sangat sepakat bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan kita berdiri di atas prinsip kausalitas (sebab-akibat). Tidak mungkin suatu terjadi tanpa ada sebab yang mendahuluinya. Tak ada yang terjadi dengan sendirinya. Hal yang baik maupun yang buruk memiliki asbabun nuzul nya masing-masing. Tapi yang mengharukan dari itu semua, selalu ada pelajaran hidup yang bisa kita petik yang membawa kita pada kedewasaan dalam menjalani hidup.

    ReplyDelete
  5. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Agak sulit untuk memulai ini, atau bahkan ini sangat sulit. Bagaimana aku bisa memulainya. Bismillah, mari kita bersama-sama berdiskusi
    Permohonan maaf filsafat, karena setiap manusia adalah filsafatnya masing-masing, tentu akan ada hal yang harus dimohonkan maaf. Karena apa? Karena "ke-masing-masing-an" ini tentu akan mencetuskan filsafat yang heterogen dan unik. Tiap-tiap filsuf akan berbeda.
    Permohonan maaf ini terlalu luas sepertinya jika langsung dikaitkan dengan heterogenitas gagasan-gagasan filsafat tiap manusia. Permohonan maaf ini akan lebih indah jika dimulai dari internal masing-masing manusia, dari diriku sendiri, refleksi. Ternyata, sering kali, apa yang kita pikirkan, apa yang kita putuskan, hanyalah jatuhnya suatu sifat yang satu dengan sifat yang lain. Sering kali kita memandang hanya pada satu sisi, bahkan terkadang juga kita memilih sisi yang buruk dalam memberikan judgment akan suatu hal. Bencana dan malapteka yang maha dasyat, yang sedang kita pikirkan itu, ternyata merupakan jatuhnya suatu sifat yang satu dengan sifat yang lain, hanya saja kita sedang melihat sisi sifat keburukannya. Karena hidup ini harmonis dan seimbang, marilah kita mulai belajar melihat dan membuat setting pemikiran positif.

    ReplyDelete
  6. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Segala Bencana dan Malapetaka yang Maha Dahsyat itu ternyata Hanyalah Jatuhnya Suatu Sifat yang satu kepada Sifat yang lainnya (aksiden)"
    Segala bencana dan malapetaka hadir karena dampak kejadian sebelumnya. Sadar atau tidak kita ikut andil dalam menghadirkan bencana tersebut. Sedikit saja perbuatan kita akan memberi dampak yang bisa daja menghadirkan bencana. Contohnya ketika kita secara tidak sengaja membuang sampah di jalan. Mungkin saja sampah yang terbuang berkumpul dengan sampah lainnya lalu menyumbat saluran air dan menyebabkan banjir. Di situlah sifat ketidaksengajaan kita memberi dampak buruk bagi lingkungan kita. Di sanalah kita harus meminta maaf karena sedijit sifat kita dapat membawa bencana dan malapetaka kepada orang lain

    ReplyDelete
  7. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Sesungguhnya ketika membaca judul ini, saya mengalami kebingungan. Namun saya akan mecoba mensintesiskan pikiran saya mengenai maafkan filsafatku.
    Filsafat merupakan olah fikir, pandangan dari setiap orang yang memiliki sudut pandang yang berbeda. Olah pikir setiap orang pun tidak semuanya bisa diterima dengan orang lain. Ada yang mungkin menurut orang lain ada olah fikir kita yang kurang pas, inilah kita harus meminta maaf atas olah pikir yang kita punya, karena dengan ketidak cocokan olah pikir dengan orang lain, mungkin mampu membuat orang lain merasa jengkel atas apa yang kita kemukakan. Dan minta maaf atas filsafat karena kita harus meminta maaf jika menurut mereka filsafat kita kurang pas.

    ReplyDelete