Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 30: Kata-kataku Tak Mampu Mengucapkan Semua Pikiranku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata Kata-kataku Tidak Mampu Mengucapkan Semua Pikiranku.

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

12 comments:

  1. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Jelaslah bahwa apa yang semua pikirkan tidak akan mampu seluruhnya kita ucapkan. Kekuatan pikiran telah terbukti secara ilmiah. Kita tahu bahwa otak kita ini telah di desain dengan sempurna oleh Allah SWT. sungguh beruntunglah bagi orang-orang yang diciptakan dengan otak yang cerdas. Kecepatan pikiran. Ketika kita mengucapkannya, maka tidak ada kata yang mampu mengimbanginya. Terkadang apa yang kita pikirkan itu tidak sesuai dengan apa yang kita ucapkan. Hal ini juga tergantung dengan etika ketika kita berbicara tetang hubungan sosial. Dan terkadang dengan pikiran, kita dapat bersembunyi dari orang lain.

    ReplyDelete
  2. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Analogi ini sama halnya dengan forum tanya jawab yang sebelumnya. Saya sependapat bahwa kata-kataku tak mampu mengucapkan semua pikiranku. Manusia dikaruniai otak untuk berpikir dan memikirkan sebuah objek secara ekstensif dan intensif. Ketika muncul sebah objek dalam pikiran kita, maka kita akan memikirkan objek tersebut secara luas bahkan mendalam. Misalnya hanya dengan memikirkan satu orang saja, maka akan banyak deskripsi yang muncul dalam pikiran kita. Namun jika kita menuangkan deskripsi itu dalam sebuah ucapan, maka kata-kata yang keluar dari mulut kita tidak akan mampu mendeskripsikan semua yang kita pikirkan. Itulah mengapa kata-kataku tak mampu mengiktui pikiranku.

    ReplyDelete
  3. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Kebenaran bukanlah hasil dari sebuah proses berpikir yang diungkapkan melalui kata-kata, namun lebih dari itu, kebenaran berbicara tentang fakta dan realita yang menunjuk kepada eksistensi manusia itu sendiri dalam hubungannya dengan Tuhan (Allah), diri sendiri dan masyarakat sekitarnya. Kebenaran harus dipahami di dalam konteks yang benar, hingga kebenaran itu mampu diaplikasikan di dalam kehidupan setiap hari, dengan konsep dan perilaku yang benar. Dalam ilmu pengetahuan modern dan filsafat Barat, orang tidak dapat dianggap mengetahui sesuatu, sebelum ia bisa merumuskan konsep dan kata atas apa yang ia ketahui. Kata dan konsep itu bisa berupa bahasa, atau simbol matematik. Dasar dari semua ini adalah kesepakatan bersama untuk merumuskan simbol. Semua itu dianggap berguna sebagai alat bantu komunikasi. Kata dan konsep ini tidak hanya mewakili maksud atau pikiran, tetapi juga makna sebuah tindakan.

    ReplyDelete
  4. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya mencoba mensintesiskan tesis yang saya buat sebagai berikut:
    Aku adalah seseorang yang dikenal mampu berbicara dengan cepat, saking cepatnya sampai-sampai orang-orang bilang aku ini ceplas-ceplos. Tetapi menurutku aku itu hebat karena mampu mengungkapkan semua yang ada di pikiranku melalui kata-kata yang aku ucapkan. Ketika disuruh mengomentari teman tentang presentasi materi kuliah di kelas aku dengan lancarnya mengucapkan apa saja yang ada di pikiranku dengan kata-kata. Mulai dari pikiranku tentang materi yang mereka tampilkan sampai cara mereka menyajikan materi di depan kelas. Bahkan ketika ada hal kecil yang kupikir menjadi kelebihan dan kekurangan dari presentasi tadi, aku mampu mengucapkannya dengan kata-kata.
    Berikut anti-tesis dari sintesis di atas:
    Setelah selesai kuliah aku pergi ke taman kampus bersama teman-teman. Anehnya pada hari itu teman-temanku seperti menyembunyikan sesuatu. Karena aku memikirkan hal yang aneh maka kutanyakan saja pada mereka kenapa sepertinya ada yang disembunyikan. Ya, memang saya pandai mengucapkan semua yang ada di pikiranku tanpa malu-malu. Tiba-tiba dari belakangku muncul seorang cowok membawa bunga mawar warna merah. Dia berhenti di depanku dan mengatakan bahwa dia memiliki perasaan yang spesial padaku. Sungguh pada saat itu lidahku kelu. Aku bingung mau berkata apa. Aku seperti tak mampu berkata-kata. Pikiranku bercampur aduk saking senangnya. Akuingin mengucapkan sesuatu yang mampu mewakili pikiranku. Tetapi aku merasa tak mampu. Aku merasa tak menemukan satu kata pun yang mampu mengungkapkan isi pikiranku saat itu. Maka aku menyadari ahwa kata-kataku tidak mampu mengucapkan semua pikiranku.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  5. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Bahasa lisan itu sifatnya terbatas. Berbeda lagi dengan bahasa pikiran dan hati. Itulash sebabnya terkadang apa yang kita pikirkan tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sebagai contoh: besarnya rasa cnta seseorang itu tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata karena rasa cinta itu memakai bahasa pikiran dan hati.

    ReplyDelete
  6. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb.
    Saya sepakat dengan pernyataaan itu, pak prof. Keterbatasan lisan memang tak mampu menjangkau semesta pikiran. Tidak hanya dalam konteks kognitif, tapi juga dalam konteka etis. Misal, dalam pikiran kita ingin sekali mengejek seseorang melalui lisan, tapi karena secara etika itu dilarang, maka kita mengurungkan niat untuk mengejek dengan lisan. Cukup dalam pikiran saja

    ReplyDelete
  7. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Apa yang diucapkan merupakan hasil dari buah pemikiran seseorang. Seseorang yang berucap biasanya ia telah berpikir. Akan tetapi adapula yang berucap tanpa berpikir terlebih dahulu. Sehingga kata-katanya bisa menyakiti orang lain. Hal ini memang sering terjadi di sekitar kita. Namun, apa yang kita pikirkanpun belum tentu mampu diucapkan oleh kata-kata. Hal ini memang bisa terjadi ketika kita dalam kondisi tertentu. Misalnya ketika kita dalam kondisi berempati kepada orang lain. Apa yang kita pikirkan terkadang tidak sampai hati untuk dikatakan. Selain itu, bisa pula terjadi ketika dalam keadaan kaget, shyok, dsb. Orang biasa menyebutnya Speechless atau terdiam sesaat. Sehingga seluas apapun kita dapat berpikir, akan terbatas ketika kita tidak mampu mengucapkannya dalam bentuk kata-kata, terlebih secara lisan.

    ReplyDelete
  8. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Manusia diberikan anugerah berupa pikiran oleh Tuhan. Di dalam kehidupan ini segala sesuatu dapat dipikirkan. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik manusia dapat berpikir tentang sesuatu. Ketika apa yang aku pikirkan akan aku tulis maka ketika aku memikirkan tentang satu hal kemudian menulisnya ternyata aku sudah memikirkan hal lain. Dalam segala aspek kehidupan manusia dapat memikirkannya. Sehingga ternyata kata-kataku tak mampu mengucapkan semua pikiranku.

    ReplyDelete
  9. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Kata-kataku tak mampu mengucapkan semua pikiranku"
    Saya masih belajar, timbul pertanyaan, sedikit takut untuk mengutarakannya. "Apakah ini berkaitan dengan si reduksionis?, bahwa manusia adalah seorang yang suka mereduksi?". Karena keterbatasan yang dimiliki manusia, tidak segala hal yang dipikirkan dapat didisplaykan, salah satunya didisplaykan secara verbal.
    Pikiran, di dalamnya terdapat sifat-sifat yang komplek. Apabila kita diberikan kemampuan super agar bisa mengatakan segala yang ada dalam pikiran, maka bisa saja hanya satu "bunyi tidak bermakna" yang keluar dari mulut kita, karena semuanya keluar secara seri. Diibaratkan jika kita diberikan kekuatan super untuk mampu mengatakan segala hal yang kita pikirkan, seperti halnya dua kaki kita yang dipaksakan berjalan bersama, tidak harmonis malah. Karena harmonisasi langkah kaki kita jika antara yang kanan dan yang kiri saling bergantian.
    Maka, memanglah benar jika kata-kataku tiadalah mampu mengucapkan semua pikiranku.

    ReplyDelete
  10. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Tak semua hal yang dapat dipikir dapat diucapkan. Banyak orang mengatakan "kalo ngomong mbok dipikir dulu". Ya, memang kita harus memikirkan apa yang mau kita katakan. Mempertimbangkan banyak hal, apakah satu kata yang keluar dari mulut kita akan menimbulkan dampak baik atau buruk bagi orang lain. Manusia berhak memilih untuk berkata-kata seperti apa. Pilihan tersebut bersumber pada pikiran. Maka benarlah bahwa kata-kataku tak mampu mengucapkan semua pikiranku.

    ReplyDelete
  11. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Semua yang ada sudah ada didalam pikiran. Namun tidak semua yang ada didalam pikiran mampu diucapkan dalam kata-kata. Dalam berkomunikasi bisa dengan dua hal yaitu secara lisan dan tulisan. Secara Lisan berarti berkomunikasi melalui kata-kata yang terucap, dan secara tulisan berarti berkomunikasi melalui tulisan. Komunikasi ini sendiri sangat penting tentunya, untuk menyampaikan ide, gagasan, atau informasi yang ada dalam pikiran. Namun, dalam mengutarakan isi hati dan pikiranpun harus di reduksi, sesuai ruang dan waktunya. Reduksilah sesuatu yang kurang pas/kurang baik untuk disampaikan. Jadi, semua yang ada dalam pikiran, tidak harus diucapkan. Ucapkanlah segala sesuatu yang penting untukmu dan untuk orang lain, yang terikat dengan ruang dan waktu. Simpanlah sebagian pikiranmu, untuk ruang dan waktu yang kurang tepat.

    ReplyDelete
  12. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami ucapan, perkataan atau kata-kata berdasarkan tingkatan filsafat yang pernah dijelaskan kepada kami, maka kata-kata terletak pada dimensi formal, sedangkan pikiran, logika dan rasio terletak pada level normatif sehingga tingkatan pikiran, logika dan rasio sesungguh berada diatas ucapan, perkataan dan kata-kata. Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, kami senantiasa berusaha untuk menuangkan pikiran kami melalui kata-kata agar orang yang berkomunikasi dengan kami bisa memahami pemikiran kami yang kami tuangkan dalam ucapan tersebut akan tetapi terkadang, mungkin sering orang yang kami ajak untuk berkomunikasi salah memahami apa yang kami pikirkan. Demikian pula kami juga berusaha memahami pemikiran orang yang berkomunikasi dengan kami melalui ucapan dan perkataannya, dan tentu saja terkadang kami juga tidak paham dan salah paham mengenai apa yang dia ucapkan dan katakan. Sehingga ternyata kata-kata dan ucapan tidak cukup untuk merepresentasikan isi dan semua maksud dari pikiran seseorang.

    ReplyDelete