Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 31: Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku.

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

37 comments:

  1. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pepatah mengatakan bahwa dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Isi hati seseorang memang tidak ada yang tahu. Begitu juga dengan isi hati masing-masing. Pikiran bisa memikirkan banyak hal tetapi tidak mampu menjangkau segala relung hati. Hati seakan terkait erat dengan perasaan. Dan terkadang pikiran kita tidak bisa menjelaskan mengenai alasan-alasan bagaimana berbagai perasaan dapat menjangkit di relung hati kita.

    ReplyDelete
  2. Supriadi / 16709251048
    Kelas C 2016 Pendidikan matematika – S2

    Dalam hadits Rasulullah saw dikatakan bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging, apabila segumpal daging tersebut baik maka baik jugalah seluruh tubuh, begitupun sebaliknya apabila segumpal daging tersebut buruk (tidak baik) mak tidak baik pulalah seluruh tubuh. Dan segumpal daging tersebut adalah hati. Hati memang menjadi suatu misteri dalam kehidupan manusia. Terkadang kita sedih, kita senang, marah, dan sebagainya di mana pikiran tidak mampu untuk memikirkannya apa penyebab ke semua itu. Dengan hati juga membuat tingkat keimanan manusia kepada penciptanya dapat naik dan turun. Imam asy-Syaukani berkata, “Harta dan kerabat tidak bisa memberikan manfaat kepada seseorang pada hari kiamat. Yang bisa memberikan manfaat kepadanya hanyalah hati yang selamat. Dan hati yang selamat dan sehat adalah hati seorang mukmin yang sejati". Oleh karena itu ,mari kita kita menjaga hati kita agar tetap menjadi hati-hati yang bersih yang dapat menambah keimanan kita kepada Allah SWT.


    ReplyDelete
  3. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Ketika aku berusaha mensintesiskan hati dan pikiranku, apa yang aku pikirkan akan sintesis dengan apa yang diucapkan oleh hati. Pikiran dan hati adalah dua hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Untuk medapatkan ilmu manusia membutuhkan kecerdasan pikiran dan untuk memaknai ilmu dengan baik tidak cukup hanya dengan pikiran tetapi juga dengan hati yang ikhlas.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Manusia dianugerahi akal untuk berpikir dan memecahkan masalah serta dianugerahi hati untuk memahami realitas. Pikiran mencakup yang ada dan yang mungkin ada, kita bisa memikirkan sesuatu yang sudah kita alami atau belum kita alami, itulah cakupan yang ada dan yang mungkin ada. Namun hati juga merasakan sesuatu yang pernah aku alami, atau yang belum pernah aku alami bahkan yang tidak mampu kita pikirkan. Ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan yang sama-sama logis, mungkin pikiran kita akan kesulitan untuk memilih. Ketika pikiran tidak mampu untuk memilih, maka hatilah yang mungkin akan mampu memilih. Hati dapat memutuskan apa yang tidak dapat diputuskan oleh pikiran kita. Sehingga pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku.

    ReplyDelete
  5. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pikiran terletak dalam dimensi normatif, sedangkan relung hatiku terletak dalam dimensi spiritual. Dengan hal ini pun bisa dilihat, bahwa memiliki perbedaan dimensi, dimensi spiritual pun terletak diatas dimensi normatif. Hal ini bermaksud bahwa semua perkara yang ada di dalam hati manusia tidak akan bisa dipikirkan oleh pikiran manusia. Hati adalah tempatnya Tuhan, sedangkan pikiran adalah kemilikan manusia yang terbatas.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    segala sesuatu yang kita pikirkan dikendalikan oleh hati. Apa yang ada dalam relung hati kita tidak semua dapat dipikirkan. Hal ini dikarenakan berbagai hal yang kita pikirkan mempunyai cakupan yang luas dan dalam, sehingga kita perlu menggunakan hati untuk dapat menjernihkan pikiran kita. Pikiran kita tidak dapat mengartikan apa yang ada dalam hati kita, karena hatilah yang mengarahkan pikiran.

    ReplyDelete
  7. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    misalnya, saat hati kita jernih, semua yang kita pikirkan adalah hal yang positif. Saat hati kta mulai kotor, misalnya saja saat kita mulai iri pada orang lain, pikiran yang ada hanyalah akan mecari cari kesalahan orang itu kemudian kita mulai mengucapkan hal-hal yang jelek tentang dia dan kemudia melakukan hal yang jahat padanya. Kita dapat memikirkan banyak kata untuk mendefinisikan hati yang jernih, tapi itu hanya mampu mendefinisikan sebagian kecil dari hati yang jernih. Yang saya sebutkan hati yang jernih, hati yang kotor pun banyak sekali definisinya.

    ReplyDelete
  8. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku. Di dalam pikiranku mungkin lebih banyak logika ketimbang dengan hatiku yang terlalu melibatkan banyak perasaan dan kurang berfikir akan logika. Hati yang telah berkecamuk tidak dapat dikendalikan oleh pikiran, oleh karenanya dapat membrontak. tetapi perlu keseimbangan antara hati dan pikiran sehingga akan tercipta jiwa yang damai dan tentram.

    ReplyDelete
  9. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Hati dan pikiran merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki batas dan ranah masing-masing. Pikiran manusia memiliki batas, sehingga manusia tidak dapat memikirkan segala hal, termasuk memikirkan hatinya. Manusia tidak akan mampu memikirkan senang, sedih, marah, dan kecewa dengan sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Apalagi memikirkan semua yang ada di hatinya.

    ReplyDelete
  10. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Berdasarkan forum-forum sebelumnya, telah disebutkan bahwa kegiatan tidak mampu mengikuti tulisan. Kemudian tulisan tidak mampu mengikuti perkataan. Sedangkan perkataan tidak mampu mengikuti pikiran. Sekarang disuguhkan semua pernyataan bahwa pikiran tidak mampu mampu memikirkan semua relung hati. Hal ini menunjukkan bahwa hatilah yang paling berkuasa. Hati adalah raja. Segumpal daging yang apabila dia bersih, maka baiklah semua anggota badan kita atau perbuatan kita. tetapi apabila kotor maka buruklah semua tubuh atau perbuatan kita. katakanlah bahwa segumpal daging itu yang kita sebut dengan hati.

    ReplyDelete
  11. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku. Ini merupakan perluasan dari forum tanya jawab yang sebelumnya. Ketika kita memikirkan sesuatu, maka ada hal-hal terselip yang masih tersimpan dalam relung hati kita dan tidak mampu kita pikirkan. Misalnya saja sebuah keyakinan, terkadang keyakinan itu tak mampu dijelaskan oleh pikiran atau logika, tapi di dalam hati kita tertanam keyakinan itu. Maka yanga da di dalam hati lah yang paling luas dibandingkan dengan apa yang mampu kita pikirkan.

    ReplyDelete
  12. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Dengan segala keistimewaan yang mereka miliki, terkadang orang melihat sosok manusia pemikir dan penggerak ini dalam wujud seorang warga negara yang berbakti kepada negara, seorang aktivis yang memiliki pemikiran cemerlang, seorang ilmuwan yang brilian, seorang seniman ulung yang kreatif, seorang negarawan, atau satu pribadi yang mampu menghimpun sekian banyak kelebihan. Akhir-akhir ini kita dapat menemukan begitu banyak ilmuwan dan aktivis yang memiliki salah satu di antara beberapa sifat yang kita bicarakan di atas. Di antara mereka ada orang-orang yang pemikirannya mendahului perbuatannya. Di antara mereka ada orang-orang yang pemikirannya seiring dengan perbuatannya. Dan di antara mereka ada orang-orang yang perbuatannya saja yang terlihat sementara pemikirannya tetap mereka simpan dalam hati.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Berikut sintesis dari tesis saya:
    Aku merasa bahwa pikiranku mampu memikirkan semua relung hatiku. Contohnya ketika relung hatiku merasa senang, aku bisa memikirkan senang. Senang itu ketika aku menerima hadiah atau aku sedang juara kelas atau saat aku dibilang cantik. Ketika aku memikirkan tentang perasaan senang aku seperti melihat bunga-bunga yang indah atau kupu-kupu yang cantik. Contoh yang lain adalah ketika relung hatiku merasakan marah, marah itu biasanya aku rasakan ketika ada yang merusak barang kesayanganku, ada yang mengoolokoloku tanpa sebab, ada yang mengecewakan amanah yang aku berikan. Ketika aku memikirkan tentang perasaan marah aku seperti memikirkan petir yang menggelegar atau api yang menyala-nyala dan sangat panas atau badai yang bertiup sangat kencang.
    Berikut anti-tesis dari tesis di atas:
    Selain senang dan marah, terkadang relung hatiku merasakan hal yang aneh yaitu ketika aku sedang berdoa di dalam diamku. Memohon ampun dan rahmat dari Tuhan yang maha esa. Sehingga tak sadar tubuhku merasa lemas, jantungku berdegup kencang, air mataku mulai menetes. Aku merasa takut tetapi juga nyaman. Aku merasa hina tetapi juga beruntung. Entah sebenarnya apa yang aku rasakan di relung hatiku. Aku tak mampu untuk memikirkannya. Aku hanya terus melantunkan doa tak henti-hentinya. Berdzikir sebanyak banyaknya. Saat itulah aku sadar bahwa ternyata pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  14. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Kita mengetahui bahwa pikiran manusia itu terbatas. Manusia memiliki keterbatasan untuk menerjemahkan dan memikirkan apa yang ia rasakan karena hati itu bersifat lebih rumit dan abstrak dari pada pikiran. Terkadang kita merasa kesal tanpa tau penyebabnya, merasa senang tanpa sebab, merasa sendiri tanpa sebab yang kita ketahui. Itulah keterbatasan kita untuk memikirkan sebab akibat yang terjadi pada hati kita.

    ReplyDelete
  15. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualikum Wr. Wb.
    Ada yang mengatakan "suara hati adalah suara Tuhan" sebab ia adalah kebenaran di mana moralitas itu tertanam. Namun, ia tak nampak. Ia bersemayam di dalam relung hati. Akal sehat lah yang membuatnya nampak ke permukaan. Tapi bagaimana jika akal kita tidak sehat? Tentunya suara itu akan tetap bersemayam dan tidak akan terjangkau oleh akal yang sakit.

    ReplyDelete
  16. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pikiran merupakan salah satu obyek dalam filsafat. Pemikiranpun dapat berasal dari luar maupun dalam pemikiran manusia. Saya pernah berpikir dan sangat ingin kalau setiap hari bisa lebih dari 24 jam, ingin memiliki waktu seperti yang lain, dsb. Rasanya memang sempit, ketika segala hal menuntut untuk diprioritaskan. Sedangkan segala yang dilakukan sudah menjadi rutinitas. Hal tersebut tentu akan lebih sempit ketika tidak dijalakan dengan hati. Sampai suatu kesempitan tersebut semakin dipersempit dengan fikiran bahwa segalanya tidak mudah. Selain itu dipersempit pula dengan tidak membuka hati dan tidak melihatnya secara luas. Sehingga, apa yang ada di dalam hati, belum tentu cukup untuk ada dalam pikiran, karena pikiran dan hati seharusnya dapat diseimbangkan.

    ReplyDelete
  17. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Tak semua hal di dunia ini dapat dipikir dengan akal, terutama masalah spiritual. Urusan pikiran adalah urusan dunia. Sementara hati lebih mengarah pada spiritualitas. Tidaklah benar jika melakukan ibadah tetapi masih memikirkannya, hal ini menandakan ibadahmu masih sebatas masalah dunia.

    ReplyDelete
  18. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    "Pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku". Kembali disuguhkan dengan "pikiran" dan "hati". Jangan pernah merasa bosan, kerena keduanya sangatlah penting bagi kita. Pikiran adalah penting dan hati pun sangatlah penting. Tetapi, yang masih saya ingat hingga kini adalah "jangan pernah kau kacaukan hatimu", "jangan pernah kau gunakan logika mu untuk memecahkan kebingungan hatimu". Maka melalui dua nasihat itu, saya pribadi mulai memberikan persetujuan jika memanglah benar apabila pikiran tiadalah mampu memikirkan semua relung hatiku. Implikasinya dalam kehidupan sehari-hari ialah tidak semua permasalahan atau isu atau topik bahasan atau fenomena dapat dipecahkan dengan logika secara rasional, karena di dunia ini terdapat hal-hal lain yang sifatnya irasional.

    ReplyDelete
  19. Widuri Asmaranti
    17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku. Pikiran adalah suatu proses terjemah dan menterjemahkan. Kemampuan kita berpikirpun terbatas, ketika kita memikirkan sesuatu berarti ada proses terjemah dan menterjemahkan isi hati (relung hati). Namun dalam kita berpikir dengan adanya keterbatasan, maka akan ada beberapa yang ada didalam relung hati belum mampu kita terjemahkan dalam pikiran. oleh sebab itu, tidak semua yang ada direlung hati, mampu kita terjemahkan ke pikiran kita.

    ReplyDelete
  20. Kartika Pramudita
    17701251021
    S2 PEP B

    Ketika aku merasa bahagia, pikiranku tidak bisa menjelaskan semua tentang kebahagiaanku. Ketika aku merasa kecewa, pikiranku tidak bisa menjelaskan tentang semua kekecewaanku. Ketika aku jatuh cinta, pikiranku tidak mampu menjelaskan alasan mengapa aku jatuh cinta. Semua itu membuatku percaya bahwa pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku. Kepercayaan itu membuat saya harus berusaha untuk bisa membedakan antara hati dan pikiran. Ada kalanya setiap urusan yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini adalah perkara pikiran dan ada kalanya pula merupakan perkara hati. Namun, dalam setiap tindakan hati tetap harus terjaga agar tidak terjerumus ke hasutan syetan.

    ReplyDelete
  21. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman jika pikiran, logika dan rasio berada dalam dimensi normatif (berdasarkan level filosofis yang telah dijelaskan kepada kami), maka sesungguhnya hati dan keyakinan berada pada dimensi spiritual yaitu level tertinggi dari tingkatan filosofis yang telah dijelaskan kepada kami. Di dalam hati kami terletak keimanan dan keyakinan, perintah-perintah Tuhan dan larangan-larangan Tuhan yang telah sampai pada kami baik melalui kitab suci, pengajian, pelajaran agama yang telah kami ikuti, yang mana semua perintah dan larangan itu kami imani dengan paradigma “kami dengar, maka kami taati”. Bukan “kami dengar, kami pikirkan dulu, kalau bisa diterima baru kami taati”. Pikiran kami tidak mampu memahami apa itu ibadah, apa itu doa, kenapa harus ibadah, kenapa harus berdoa, apa benar Tuhan itu ada, benarkah semua ibadan dan doa yang sdh kami lakukan itu tepat? Pertanyaan-pertanyaan itu tak akan mampu dijawab oleh pikiran dan rasio kami, tapi dalam hati kami dan keyakinan kami ini lah ibadah kami dan inilah doa kami, karena kami membutuhkan dan diperintahkan untuk beribadah dan berdoa.

    ReplyDelete
  22. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Hati dan pikiran itu saling terkait, pikiran itu tugasnya memikirkan, hati merasakan. Hati yang gundah menjadikan pikiran kacau, bukan pikiran kacau menyebabkan hati yang gundah. Ketika hati merasakan gundah maka tidak ada sesuatupun yang dapat kita pikirkan dengan benar. Maka sebelum kita pikirkan, kita merasakannya telebih dahulu melalui hati. Bahkan terkadang kita juga sering kebingungan mengenai apa yang kita rasakan, kenapa tiba-tiba hati menjadi resah. Hal itu menggambarkan bahwa pikiran kita tidak mampu untuk memikirkan semua relung hati. Oleh karena itu apabila hati mulai resah, yang harus dilakukan adalah menenangkan diri dan beristighfar, dengan menyebut nama Allah, maka hati akan menjadi tenang.

    ReplyDelete
  23. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia adalah hati. Hati merupakan hal tertinggi yang dimiliki manusia. Apa yang manusia pikirkan tak akan mampu memikirkan apa yang hati rasakan. Karena hati kitalah yang tertaut dengan Tuhan kita. Ketika logika kita tidak mampu memikirkannya, maka cukuplah hati kita yang meyakininya. Maka ketika pikiran kita tidak mampu memikirkan jalan keluar atas permasalahan kita, gunakanlah hati kita untuk menentukan mana yang terbaik.

    ReplyDelete
  24. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Kita mengetahui bahwa pikiran manusia itu terbatas. Manusia memiliki keterbatasan untuk menerjemahkan dan memikirkan apa yang ia rasakan karena hati itu bersifat lebih rumit dan abstrak dari pada pikiran. Terkadang kita merasa kesal tanpa tahu penyebabnya, merasa senang tanpa sebab, merasa sendiri tanpa sebab yang kita ketahui. Itulah keterbatasan kita untuk memikirkan sebab akibat yang terjadi pada hati kita.

    ReplyDelete
  25. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pikiranku tak mampu memikirkan semua relung hatiku. Pikiran berhubungan erat dengan perasaan, pikiran diwarnai oleh perasaan seperti senang,sedih, suka, duka, bahkan kebencian. Namun dengan berbagai macam perasaan yang berasal dari hati yang terdalam tidak akan mampu dipikirkan oleh logika kita.misalkan saja perasaan cinta, pikiran kita tidak akan mampu memikirkan dan mendeskripsikan rasa cinta itu, karena pikiran kita terbatas tidak bisa memikirkan semua hal yang kita rasakan, karena hati sangatlah luas dapat merasakan berbagai hal dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  26. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hati dan pikiran merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki batas dan ranah masing-masing. Pikiran manusia memiliki batas, sehingga manusia tidak dapat memikirkan segala hal, termasuk memikirkan hatinya. Manusia tidak akan mampu memikirkan senang, sedih, marah, dan kecewa dengan sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Apalagi memikirkan semua yang ada di hatinya.

    ReplyDelete
  27. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Hati berpikir secara emosi, mengungkapkan perasaan yang tidak bisa digambarkan secara logis. Sedangkan pikiran lebih cenderung rasional dan praktis. Mendapatkan jawaban saat menentukan pilihan seringkali terletak pada situasi dan pengalaman seseorang. Namun, hal ini sering lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hati dan pikiran ibarat dua penasehat, terkadang berbeda pendapat. Mereka memainkan perannya dengan cara yang berbeda dan berbicara dengan bahasa yang berbeda.

    ReplyDelete
  28. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Hati kita merasakan banyak hal yang mungkin kitabtidak bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana, sehingga pikiran kita tidak mampu dalam mendefinisikan maupun memikirkan apa yang hati kita rasakan. Sebagaimana terkadang seseorang memiliki jalan berpikir dan merasakan hati yang berbeda hal ini membuat pikiran kita memikirkan hati karena suatu hal yang kintradiktif. Manusia memiliki keterbatasan, sebagaimana pikiran kita terbatas dalam memikirkan suatu hal.

    ReplyDelete
  29. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    pikiranku memang terbatas dalam memahami semua isi didalam hatiku, pikir ku ingin berkata tidak namun hatiku memaksa untuk berkata iya. disini kadang tidak semua olah pikir sesuai dengan olah hati, oleh karena itu didalam filsafat penting adanya olah hati dan olah pikir. sehingga menghasilkan ke iklhasan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  30. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Manusia memiliki banyak keterbatasan, baik keterbatasan berpikir maupun keterbatasan yang lainnya. Semua yang dirasakan oleh manusia tidak dapat semuanya dipikirkan oleh dirinya sendiri, karena sesungguhnya yang berkaitan dengan hati sangatlah abstrak yang semuanya itu tidak bisa dinalar dengan pikiran. Seperti halnya masalah keyakinan atas qodo dan qodar, takdir, adanya syurga dan neraka, perjalan isra mi’raj nabi, dan lain sebagainya, semuanya hanya perlu diyakini dalam hati, tidak perlu dipikirkan sesuai dengan akal pikir kita yang terbatas. Maka tidak semua hal bisa kita pikirkan.

    ReplyDelete
  31. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Itulah sedalam-dalamnya relung hati manusia. Yang terdalam tersimpan semua maksud dan cita-cita untuk hidupnya yang sangat luas dan dalam. Semua yang ada dalam isi hati kita, tidak akan mampu pikiran kita untuk memikirkan semuanya. Bila pikiran kita bertanya pada fakta suatu kebenaran, maka hal tersebut masih bisa dijelaskan dengan rasio dan pengalaman, tetapi kalau hati menyentuh ranah keyakinan secara spiritual, maka pikiran sudah sulit atau bahkan tidak mampu memikirkannya. Pikiran tidak mampu menjelaskan keyakinan hati, sehingga semua yang ada dalam hati belum mampu untuk dipikirkan sepenuhnya karena keterbatasan pikiran. Maka jelaslah pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku.

    ReplyDelete
  32. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pikiran dan perasaan memiliki dimensinya masing-masing. Pikiran mampu memikirkan apa yang terjadi namun tidak bisa memikirkan semua yang dirasakan. Tidak semua hal yang dirasakan bisa dijelaskan dan dipikirkan menggunakan logika. Untuk memahami apa yang dirasakan bukanlah menggunakan olah pikir namun menggunakan olah rasa.

    ReplyDelete
  33. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Relung hati manusia adalah yang paling rumit karena sangat perasa dan segala yang berurusan deng hati adalah hal yang complicated. Sedangkan, pikiran mengandalkan logika dan segala pengetahuan yang ada dalam pikiran, memikirkan yang ada direlung hati merupakan wujud dari bentuk perenungan, kegelisahan, dan segala rasa yang kita alami. Terkadang kegelisahan tersebut tak mendapatkan titik terang ketika kita mencoba memikirkannya mencari jawaban dari perenungan ataupun kegelisahan yang kita rasakan.

    ReplyDelete
  34. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Hal ini adalah hal yang jelas menurut saya, karena terkadang memang pikiran tidak mampu memikirkan semua relung hati, pikiran tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi dalam relung hati kita masing-masing. Relung hati, menurut pemahaman saya, adalah apa yang kita rasakan, bukan pikirkan, tetapi rasakan. Berdasarkan pengetahuan saya, adalah mungkin bahwa pikiran menjelaskan apa yang kita rasakan, namun pasti terdapat bias pada penjelasan tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa relung hati itu bersifat subjektif, sedangkan pikiran bersifat objektif. Pengolahan antara pikiran dan hati tergantung pada masing-masing individu. Pada beberapa orang, mungkin objektivitas adalah hal yang dijunjung tinggi. Pada beberapa orang yang lain, subjektifitas lebih dijunjung tinggi. Menurut saya, tidaklah mungkin kedua hal tersebut berjalan secara bersamaan. Mengapa? Karena menurut saya masalah hidup bersifat relatif. Dalam menyelesaikannya pun, harus tergantung pada urgensinya. Ada kalanya memang objektifitas harus dipilih, ada kalanya subjektifitas dipilih (yang berkaitan dengan baik/ buruknya sesuatu menurut ilmu/ kepercayaan yang dimiliki). Pikiran memang terkadang tidak dapat memikirkan semua relung hatiku karena ada kalanya apa yang ada dan menjadi keputusan hati tidak harus dijelaskan dalam logika, tidak harus semua dijelaskan dalam pikiran logisku.

    ReplyDelete
  35. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pikiran dan hati, ternyata sama-sama rumit. Hati ibarat labirin, yang memaksa kita untuk dapat menemukan jalan menuju suatu hal yang benar kita inginkan. Proses gejolak antara hati dan pikiran ini menjadi salah satu bentuk kontradiksi yang ada. Antara keduanya memang mencoba untuk saling sejalan, untuk saling memahami. Namun, merupakan hal yang sulit jika pikiran dapat memikirkan apa yang ada pada hati seseorang. Bahkan, apa yang hati rasakan dan inginkan seringkali diluar logika yang ada.

    ReplyDelete
  36. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Pikiran terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita rasakan. Pikiran itu tidak sejalan dengan perasaan. Pikiran memikirkan bisnis untuk rugi dalam apa yang kita lakukan namun persaan tidak, perasaan lebih mementingkan kepentingan untuk mebahagiakan orang lain tanpa memikirkan untung rugi. Jadi menurut saya apa bila pikiran tisak mempu memikirkan semua relung hatiku, maka saya sependapat karena tidak semya pikiran kita dapat mewakili dari setiap perasaan yang ada dalam hati kita. Semoga kita semakin mengerti akan hati kita untuk selalu berfikir mana yang lebih baik mengikuti hati kita atau menikuti pikiran kita, keduanya ada tempat, ruang dan waktu untuk mempergunakannya.

    ReplyDelete