Oct 10, 2012

Forum Tanya Jawab 31: Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku




Ass, untuk semuanya:

Sintesiskan tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesisnya untuk menemukan bahwa ternyata Pikiranku Tidak Mampu Memikirkan Semua Relung Hatiku.

Dapat menggunakan referensi.

Tuliskan sintesis anda sebagai komen mengikuti posting ini.

Demikian selamat mencoba. Semoga bermanfaat. Amin

Marsigit

15 comments:

  1. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015

    Hati dan pikiran itu saling terkait, pikiran itu tugasnya memikirkan, hati merasakan. Hati yang gundah menjadikan pikiran kacau, bukan pikiran kacau menyebabkan hati yang gundah. Ketika hati merasakan gundah maka tidak ada sesuatupun yang dapat kita pikirkan dengan benar. Maka sebelum kita pikirkan, kita merasakannya telebih dahulu melalui hati. Bahkan terkadang kita juga sering kebingungan mengenai apa yang kita rasakan, kenapa tiba-tiba hati menjadi resah. Hal itu menggambarkan bahwa pikiran kita tidak mampu untuk memikirkan semua relung hati. Oleh karena itu apabila hati mulai resah, yang harus dilakukan adalah menenangkan diri dan beristighfar, dengan menyebut nama Allah, maka hati akan menjadi tenang.

    ReplyDelete
  2. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Karunia terbesar yang Allah SWT berikan kepada manusia adalah hati. Hati merupakan hal tertinggi yang dimiliki manusia. Apa yang manusia pikirkan tak akan mampu memikirkan apa yang hati rasakan. Karena hati kitalah yang tertaut dengan Tuhan kita. Ketika logika kita tidak mampu memikirkannya, maka cukuplah hati kita yang meyakininya. Maka ketika pikiran kita tidak mampu memikirkan jalan keluar atas permasalahan kita, gunakanlah hati kita untuk menentukan mana yang terbaik.

    ReplyDelete
  3. Muh Wildanul Firdaus
    17709251047
    Pendidikan matematika S2 kls C

    Kita mengetahui bahwa pikiran manusia itu terbatas. Manusia memiliki keterbatasan untuk menerjemahkan dan memikirkan apa yang ia rasakan karena hati itu bersifat lebih rumit dan abstrak dari pada pikiran. Terkadang kita merasa kesal tanpa tahu penyebabnya, merasa senang tanpa sebab, merasa sendiri tanpa sebab yang kita ketahui. Itulah keterbatasan kita untuk memikirkan sebab akibat yang terjadi pada hati kita.

    ReplyDelete
  4. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Pikiranku tak mampu memikirkan semua relung hatiku. Pikiran berhubungan erat dengan perasaan, pikiran diwarnai oleh perasaan seperti senang,sedih, suka, duka, bahkan kebencian. Namun dengan berbagai macam perasaan yang berasal dari hati yang terdalam tidak akan mampu dipikirkan oleh logika kita.misalkan saja perasaan cinta, pikiran kita tidak akan mampu memikirkan dan mendeskripsikan rasa cinta itu, karena pikiran kita terbatas tidak bisa memikirkan semua hal yang kita rasakan, karena hati sangatlah luas dapat merasakan berbagai hal dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Hati dan pikiran merupakan dua hal yang berbeda. Keduanya memiliki batas dan ranah masing-masing. Pikiran manusia memiliki batas, sehingga manusia tidak dapat memikirkan segala hal, termasuk memikirkan hatinya. Manusia tidak akan mampu memikirkan senang, sedih, marah, dan kecewa dengan sedalam-dalam dan seluas-luasnya. Apalagi memikirkan semua yang ada di hatinya.

    ReplyDelete
  6. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Hati berpikir secara emosi, mengungkapkan perasaan yang tidak bisa digambarkan secara logis. Sedangkan pikiran lebih cenderung rasional dan praktis. Mendapatkan jawaban saat menentukan pilihan seringkali terletak pada situasi dan pengalaman seseorang. Namun, hal ini sering lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Hati dan pikiran ibarat dua penasehat, terkadang berbeda pendapat. Mereka memainkan perannya dengan cara yang berbeda dan berbicara dengan bahasa yang berbeda.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Hati kita merasakan banyak hal yang mungkin kitabtidak bisa mendefinisikan secara jelas bagaimana, sehingga pikiran kita tidak mampu dalam mendefinisikan maupun memikirkan apa yang hati kita rasakan. Sebagaimana terkadang seseorang memiliki jalan berpikir dan merasakan hati yang berbeda hal ini membuat pikiran kita memikirkan hati karena suatu hal yang kintradiktif. Manusia memiliki keterbatasan, sebagaimana pikiran kita terbatas dalam memikirkan suatu hal.

    ReplyDelete
  8. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    pikiranku memang terbatas dalam memahami semua isi didalam hatiku, pikir ku ingin berkata tidak namun hatiku memaksa untuk berkata iya. disini kadang tidak semua olah pikir sesuai dengan olah hati, oleh karena itu didalam filsafat penting adanya olah hati dan olah pikir. sehingga menghasilkan ke iklhasan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  9. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Manusia memiliki banyak keterbatasan, baik keterbatasan berpikir maupun keterbatasan yang lainnya. Semua yang dirasakan oleh manusia tidak dapat semuanya dipikirkan oleh dirinya sendiri, karena sesungguhnya yang berkaitan dengan hati sangatlah abstrak yang semuanya itu tidak bisa dinalar dengan pikiran. Seperti halnya masalah keyakinan atas qodo dan qodar, takdir, adanya syurga dan neraka, perjalan isra mi’raj nabi, dan lain sebagainya, semuanya hanya perlu diyakini dalam hati, tidak perlu dipikirkan sesuai dengan akal pikir kita yang terbatas. Maka tidak semua hal bisa kita pikirkan.

    ReplyDelete
  10. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa dalamnya lautan dapat diukur, dalamnya hati siapa tahu. Itulah sedalam-dalamnya relung hati manusia. Yang terdalam tersimpan semua maksud dan cita-cita untuk hidupnya yang sangat luas dan dalam. Semua yang ada dalam isi hati kita, tidak akan mampu pikiran kita untuk memikirkan semuanya. Bila pikiran kita bertanya pada fakta suatu kebenaran, maka hal tersebut masih bisa dijelaskan dengan rasio dan pengalaman, tetapi kalau hati menyentuh ranah keyakinan secara spiritual, maka pikiran sudah sulit atau bahkan tidak mampu memikirkannya. Pikiran tidak mampu menjelaskan keyakinan hati, sehingga semua yang ada dalam hati belum mampu untuk dipikirkan sepenuhnya karena keterbatasan pikiran. Maka jelaslah pikiranku tidak mampu memikirkan semua relung hatiku.

    ReplyDelete
  11. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pikiran dan perasaan memiliki dimensinya masing-masing. Pikiran mampu memikirkan apa yang terjadi namun tidak bisa memikirkan semua yang dirasakan. Tidak semua hal yang dirasakan bisa dijelaskan dan dipikirkan menggunakan logika. Untuk memahami apa yang dirasakan bukanlah menggunakan olah pikir namun menggunakan olah rasa.

    ReplyDelete
  12. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Relung hati manusia adalah yang paling rumit karena sangat perasa dan segala yang berurusan deng hati adalah hal yang complicated. Sedangkan, pikiran mengandalkan logika dan segala pengetahuan yang ada dalam pikiran, memikirkan yang ada direlung hati merupakan wujud dari bentuk perenungan, kegelisahan, dan segala rasa yang kita alami. Terkadang kegelisahan tersebut tak mendapatkan titik terang ketika kita mencoba memikirkannya mencari jawaban dari perenungan ataupun kegelisahan yang kita rasakan.

    ReplyDelete
  13. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Hal ini adalah hal yang jelas menurut saya, karena terkadang memang pikiran tidak mampu memikirkan semua relung hati, pikiran tidak mampu menjelaskan apa yang terjadi dalam relung hati kita masing-masing. Relung hati, menurut pemahaman saya, adalah apa yang kita rasakan, bukan pikirkan, tetapi rasakan. Berdasarkan pengetahuan saya, adalah mungkin bahwa pikiran menjelaskan apa yang kita rasakan, namun pasti terdapat bias pada penjelasan tersebut. Sebagaimana kita tahu bahwa relung hati itu bersifat subjektif, sedangkan pikiran bersifat objektif. Pengolahan antara pikiran dan hati tergantung pada masing-masing individu. Pada beberapa orang, mungkin objektivitas adalah hal yang dijunjung tinggi. Pada beberapa orang yang lain, subjektifitas lebih dijunjung tinggi. Menurut saya, tidaklah mungkin kedua hal tersebut berjalan secara bersamaan. Mengapa? Karena menurut saya masalah hidup bersifat relatif. Dalam menyelesaikannya pun, harus tergantung pada urgensinya. Ada kalanya memang objektifitas harus dipilih, ada kalanya subjektifitas dipilih (yang berkaitan dengan baik/ buruknya sesuatu menurut ilmu/ kepercayaan yang dimiliki). Pikiran memang terkadang tidak dapat memikirkan semua relung hatiku karena ada kalanya apa yang ada dan menjadi keputusan hati tidak harus dijelaskan dalam logika, tidak harus semua dijelaskan dalam pikiran logisku.

    ReplyDelete
  14. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Pikiran dan hati, ternyata sama-sama rumit. Hati ibarat labirin, yang memaksa kita untuk dapat menemukan jalan menuju suatu hal yang benar kita inginkan. Proses gejolak antara hati dan pikiran ini menjadi salah satu bentuk kontradiksi yang ada. Antara keduanya memang mencoba untuk saling sejalan, untuk saling memahami. Namun, merupakan hal yang sulit jika pikiran dapat memikirkan apa yang ada pada hati seseorang. Bahkan, apa yang hati rasakan dan inginkan seringkali diluar logika yang ada.

    ReplyDelete
  15. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Pikiran terkadang tidak sejalan dengan apa yang kita rasakan. Pikiran itu tidak sejalan dengan perasaan. Pikiran memikirkan bisnis untuk rugi dalam apa yang kita lakukan namun persaan tidak, perasaan lebih mementingkan kepentingan untuk mebahagiakan orang lain tanpa memikirkan untung rugi. Jadi menurut saya apa bila pikiran tisak mempu memikirkan semua relung hatiku, maka saya sependapat karena tidak semya pikiran kita dapat mewakili dari setiap perasaan yang ada dalam hati kita. Semoga kita semakin mengerti akan hati kita untuk selalu berfikir mana yang lebih baik mengikuti hati kita atau menikuti pikiran kita, keduanya ada tempat, ruang dan waktu untuk mempergunakannya.

    ReplyDelete