Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


152 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Menurut Immanuel Kant pengetahuan berasal dari tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Objek pengalaman bersifat kontradiksi ontologi yaitu berada dalam ruang dan waktu, saling berhubungan dan berlaku hukum sebab akibat. Pendekatan saintifik atau dapat disebut sebagai saintigik realis menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda yang ada disekitar siswa dengan harapan agar anak-anak dapat menggunakan logika penalaran sesuai apa yang biasa mereka lakukan dalam kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ontology saintifik berada pada aliran saintisisme. Dimana pada aliran saintisisme terdiri dari dua aliran besar yaitu aliran positivisme dan skeptisisme. Kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual. Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ontologi saintifik melalui mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, menyampaikan dan berbagi adalah kesesuaian antara aksioma atau pastulat pikir dan dikatakan sensasi pengalaman jika memenuhi untuk hukum sebab-akbiat. Selain itu ontologi saintifik juga dapat dikatakan sebagai kegiatan belajar seseorang yang dalam dimensinya berusaha menembus ruang dan waktu untuk mencapai logos.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Ontologi merupakan cabang dari studi filsafat yang berusaha menanyakan dan menjawab mengenai hakikat segala sesuatu. Sehingga judul tulisan ini berusaha untuk mengungkap hakikat dari saintifik. Dari tulisan ini saya memahami pandangan pak Marsigit mengenai hakikat saintifik, yaitu sebagai skeptisme ilmiah terhadap sebuah gejala atau fenomena. Hasil dari skeptisme tersebut diharapkan menghasilkan ilmu sains, dan yang mengalami dan melakukannya diharapkan mendapatkan pengalaman ilmu sains. Namun dalam praktiknya yaitu dalam kurikulum 2013, pendekatan saintifik diturunkan dari saintifis relais karena mengamati objek-objek yang berada di luar pikiran. Jika demikian, pendekatan saintifik yang ada saat ini cenderung ke filsafat Aristoteles. Hal ini baru setengah dari idealnya pendekatan saintifik secara ontologis.

    ReplyDelete
  5. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Saintifik juga berperan menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang tingkat pendidikannya belum bisa mengkonstruk suatu hal yang abstrak. Oleh karenanya, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  6. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan aliran Idealis-Rasionalis-Skeptisism dan aliran realism-empirirsisme. Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

    ReplyDelete
  7. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan dari Bapak, saya menjadi lebih tahu mengenai saintifik. Yang pertama saya jadi tahu bahwa pendekatan saintifik didasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisisme. Selain itu, pendidikan saintifik yang diterapkan dalam kurikulum 2013 mengombinasikan antara logika berpikir dan logika pengalaman siswa dalam menemukan suatu konsep.

    ReplyDelete
  8. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti yang tertulis di atas saintifik dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Hal ini mengindikasikan bahwa kita sebagai seorang yang beragama harus menempatkan saintifik pada tempatnya ( dalam bahasa jawa disebut empan papan). Hal ini dikarenakan jangan sampai saintifik mengalahkan benteng religi kita sebagai umat beragama. Terdapat hal-hal yang tidak dapat disaintifikkan dan cukup iman dan hati kita yang menembusnya.

    ReplyDelete
  9. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan Bapak, saya menjadi tahu bahwa pendekatan saintifik menggunakan logika pikir dan logika pengalaman. Kemdudian Pendekatan Saintifik mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme.

    ReplyDelete
  10. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Dasar saintifik adalah penggunaan logika. Perlu digarisbawahi, tidak selalu kita harus menggunakan logika. Apabila kita menggunakan logika secara berlebihan, maka kita akan menjadi sosok yang egois, hati nurani kita akan tertutup, atau bahkan tidak percaya akan adanya Tuhan. Karenanya penting sekali menyeimbangkan logika dan perasaan.

    ReplyDelete
  11. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Pendidikan Matematika 2013

    Artikel ini banyak memberikan saya informasi mengenai pendekatan saintifik. Dalam akhir artikel ini juga terdapat kalimat yang sangat penting mengenai orang cerdas yang juga memiliki sopan santun.
    "Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)."

    ReplyDelete
  12. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik sedang di sosialisikan pada berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. pendekatan saintifik ini merupakan proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa sehingga siswa dapat dengan aktif mengkonstruk pengetahuannya sendiri. pada pendekatan saintifik menggunakan logika berpikir dan pengalaman

    ReplyDelete
  13. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Ontology merupakan cabang ilmu filsafat yang membahas tentang hakekat suatu ilmu. Dalam postingan ini dibahas onlotogi saintifik yang merupakan pendekatan kurikulum saat ini. meskipun saintifik ada 2 macam, saintifik realis dan saintifik idealis, pendekatan saintifik yang ada dalam kurikulum 2013 adalah saintifik realis. Itulah mengapa pembelajaran di sekolah menuntut adanya 5 m karena siswa harus mengamati, merasakan sendiri mengkonstruk ilmu sehingga ilmu tersebut lebih bermakna dan maknanya tertanam dalam pikiran mereka.

    ReplyDelete
  14. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Objek pengalaman memiliki 3 sifat: berada dalam ruang dan waktu, saling berhubungan dan memilki hubungan sebab akibat. Saat dilakukan kegiatan 5 m dalam pendekatan saintifik diharapkan seseorang mampu mengambil keputusan yang benar sesuai dengan ilmu yang telah diperolehnya. Dengan demikian, murid diperlengkapi untuk menghadapi masa depannya dan tidak mudah terombang-ambing saat menghadapi masalah saat berbaur dengan masyarakat sekitarnya.

    ReplyDelete
  15. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari paparan di atas, kita mengetahui bahwa saintifisme ada 2 macam, yaitu saintifisme realis dan saintifisme ideal. Pendekatan saintifik yang sedang dikembangkan pada kurikulum 2013 termasuk saintifisme realis, yang berarti semua kegiatan saintifik didalamnya berhubungan dengan hal yang dapat diamati; apa yang diamati, bagaimana cara mengamati, dan apa yang diperoleh dari kegiatan mengamati tersebut. Hal ini akhirnya pun menimbulkan sensasi pengalaman kepada siswa, sebagai bekal dalam mengasosiasi, sehingga terbentuklah ilmu pengetahuan

    ReplyDelete
  16. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu pengetahuan merupakan hasil berkembangnya konsep, dimana konsep terdiri dari Forma (wadah) dan Substansi (isi). Forma sebagai kegiatan berpikir, sedangkan Substansi sebagai sensasi pengalaman. Seseorang yang telah mendapat ilmu pengetahuan menggunakannya untuk menilai kebijakan yang akan ditempuh, dapat mengevaluasi perbuatannya sendiri. Akan lebih bijaksana apabila orang tidak hanya punya ilmu saja, melainkan masuk ke dalam tahap cerdas, dimana seseorang belajar menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  17. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kesimpulan saya dari bacaan ini adalah, pada hakikatnya pendekatan saintifik terbentuk dari saintifik ideal dan saintifik realist. Pada penerapan kurikulum 2013 yang diterapkan adalah saintifik realist yaitu saintifik yang obyeknya hanya ada diluar pikiran tidak mencakup didalam pikiran atau ideal. Menurut Immanuel Kant bahwa manusia dikatakan menyadari sesuatu jika memiliki dua unsur yaitu intuisi pikir dan intuisi pengalaman. Jadi dalam mebentuk suatu pendekatan pembelajaran diharapkan mampu mengembangkan kedua unsur tersebut. Segala sesuatu dudunia ini tidak ada yang sempurna, untuk mencapai kesempurnaan itu diharapkan pelaku pendidikan dapat mencari solusi bersama-sama dalam rangka penyempurnaan metode pembelajaran. Misalnya pendekatan saintifik pada kurikulum 2013. harapan saya, semoga para pendidik mampu menganalisa pendekatan-pendekatan pembelajaran yang digunakan atau diterapkan pada suatu kurikulum sehingga pembelajaran di abad 21 ini mampu berkembang sesuai dengan harapan bangsa.

    ReplyDelete
  18. Saitifik lebih menekankan pada objek pembelajaran yang dapat teramati olah indra. Hal ini karena pada usia sekolah menurut piaget siswa berada pada taraf operasional kongkrit. Sedang untuk objek yang berada dialam pikir diteruskan dari objek yang teramati oleh indra. Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika peralihan objek yang dari luar pikiran atau yang teramati oleh indra menjadi objek pikiran. Siswa tidak bisa memikirkan objek pikir tetapi dapat memahami objek diluar pikir. Ketika abstraksi maka harus ditekankan bahwa siswa dapat memahaminya.

    ReplyDelete
  19. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    sebenarnya saya juga msih bingung dengan maksud dari mengasosiasi, apakah mengasosiasi merupakan penerapan dari apa yang telah kita temukan di awal kemudian kita mengerjakan sejenis latihan soal untuk menambah pemahamn kita tentang konsep yang telah kita temukan di awal. tetapi apakah mengasosiasi sebatas menjawab pertanyaan mengenai konsep yang telah kita peroleh.

    ReplyDelete
  20. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Ontologi adalah salah satu cabang ilmu filsafat yang memperlajari tentang objek-objek ilmu. Ontologi saintifik berarti ilmu yang mempelajari objek-objek ilmu saintifik, sehingga banyak yang dibahas dalam tulisan tersebut.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  21. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Objek ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang ada atau sesuatu yang mungkin ada. Dalam ilmu saintifik sendiri lebih digunakan objek yang dapat diamati dan dieksplorasi langsung ole siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  22. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Dalam tulisan tersebut saya tertarik dengan aliran aliran yang ada. Aliran yang bisa dibilang bertolak belakang namun tetap memiliki objek ilmu yang sama, yaitu ilmu pengetahuan. Aliran tersebut akan membantu seseorang dalam memahami orang lain dan memahami dirinya sendiri dalam melihat suatu ilmu pengetahuan.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  23. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Ontologi saintifik adalah hakekat dari metode saintifik sendiri. Saintifik dibedakan menjadi dua yaitu saintifik realis dan saintifik idealis, pendekatan saintifik yang ada dalam kurikulum 2013 adalah saintifik realis. Saintifik realis ini lebih menekankan kehidupan nyata dan kebermaknaan pembelajaran.

    ReplyDelete
  24. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    inti dari pendekatan saintifik yang kita kenal pada kurikulum 2013 memiliki lima sintak dalam proses pembelajarannya, yaitu mengamati/observasi, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, menyimpulkan. Pada hakikatnya sintak-sintak dari pendekatan saintifik tersebut ingin menjadikan subjek belajar mampu menemukan sendiri dan memahami konsep yang mereka pelajari. Dan juga agar subjek belajar mampu menembus dan berada pada ruang dan waktu yang benar. dengan menggunakan pendekatan saintifik, maka usaha untuk mewujudkan pendidikan yang berasakan kompetensi sedikit banya akan terwujud.

    ReplyDelete
  25. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ilmu adalah keseluruhan objek baik dalam pikiran ataupun tidak serta baik yang ada maupun tidak ada. Kebenaran ilmu yang berasal dari dalam pikiran akan menciptakan filsafat idealis, Rasionalis dan Skeptism. Sedangkan kebenaran yang berasal dari luar akan mencipta filsafat Realisme dan Empirism

    ReplyDelete
  26. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pendekatan saintifik menggabungkan dua aliran yakni berdasrkan aliran Positivisme dan Skeptisme. Dimana aliran tersebut menolak aspek non-ilmiah khususnya religiusitas dan humaniora. Padahal dalam praktiknya sendiri aspek non-ilmiah akan selalu muncul.

    ReplyDelete
  27. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Persepsi mengenai suatu hal itu benar dan salah dahulu pernah disinggung dalam mata kuliah sosiologi dan antropologi serta ilmu sosial budaya. Pada umumnya suatu hal itu dikatakan benar dalam suatu kelompok masyarakat ketika pada umumnya hal tersebut melekat dalam sosial masyarakat, begitupun sebaliknya.

    ReplyDelete
  28. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Aliran skeptisme percaya bahwa manusia tidak benar-benar mengetahui mengenai suatu hal itu benar ataupun salah. Manusia hanya mampu berpersepsi mengenai suatu yang benar dan salah.

    ReplyDelete
  29. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dari artikel di atas didapat bahwa pengetahuan itu berasal dari tesis dan anti-tesis yang berasal dari logika pemikiran serta pengalaman. Ini dapat diartika bahwa dalam proses pembetukan pengetahuan dalam diri seseorang harus mempertimbangkan logika pikir dan pengalaman. Ibaratnya logika berpikir dapat diartikan sebagai suatu hipotesis pengetahuan dan pengalaman merupakan proses praktik (mengumpulkan informasi). Ketika logika berpikir dan pengalaman bersinergi (mengasosiasi) maka terciptalah suatu pengetahuan baru dalam diri seseorang

    ReplyDelete
  30. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Pendekatan Saintifik merupakan suatu aliran Skeptisme Ilmiah. Skeptisme Ilmiah ini terhadap suatu yang memiliki bukti yang tidak menguatkan akan selalu dipertanyakan kebenarannya. Hal ini sejalan dengan proses sintaks Saintifik, dimana kegiatan menanya disini sebagai hipotesis sementara untuk kemudian mengumpulkan informasi dilanjutkan mengasosiasi dan kemudian mengomunikasikannya.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Saya setuju dengan pendapat bapak Prof . Marsigit bahwa logika pikir dan logika pengalaman memiliki hubungan yang linear. Seperti interpretasi saya sebelumnya terhadap terbentuknya pengetahuan dimana logika pikiran diibaratkan sebagai suatu proses pembentukan hipotesis pengetahuan dan logika pengalaman sebagai proses mengumpulkan informasi. Jadi ketika proses pembetukan pengetahuan hanya mengandalkan logika berpikir ataupun logika pengalaman saja itu belum memenuhi syarat untuk mengasosiasinya menjadi suatu pengetahuan. Sehingga logika berpikir dan pengalaman ini harus tercapai ketika proes pembentukan pengetahuan.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Intuisi berpikir dan empirik mulai berkembang sejak manusai lahir. Beberapa faktor yang mempengaruhi perkembangannya adalah kondisi lingkungan sosial dimana manusia itu tumbuh . Oleh karena itu saya setuju dengan pendapat bapak Prof. Marsigit pada artikel ini bahwasannya sebagai calon edukatonis (guru) mampu mempengaruhi siswa-siswa dalam membentuk intuisi mereka dengan mempraktikan berbagai macam teori belajar

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Matematika murni digolongkan sebagai matematika orang dewasa (matematika kongkret) dan bersifat konsisten. Dan matematika murni ini tidak cocok untuk diberikan kepada anak-anak. Adapun seperti yang pernah disampaikan pak Prof. Marsigit dalam kuliahnya bahwa pembelajaran matematika yang ada di sekolah SD masih berupa contoh-contoh baru pada tahapan SMP mulai bergeser sedikit demi sedikit begitupun pada jenjang berikutnya. Subtansi yang diajarkan disetiap jenjang sama yang membedakan hanya kedalaman dan keluasan materi serta pendekatan yang digunakan.

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Dalam artikel ini dibahas mengenai Saintifism Realis dan Saintifis Ideal. Dimana Saintifis Realis ini menggunakan benda-benda kongkrit sebagai objek pengalamannya dan pendekatan saintifis realis ini sangat cocok diterapkan untuk kelas dasar seperti SD dan SMP

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Artikel ini juga menekankan bahwa dalam kegiatan mengamati harus disesuaikan dengan materi serta konteks matematika. Jadi guru juga berperan penting dalam kegiatan mengamati ini bagaimana mengarahkan agar siswa dapat mengamati hal-hal yang esensial sesuai dengan tujuan pembelajaran matematika itu sendiri

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Artikel ini membahas mengenai definisi kegiatan mengasosiasi secara ontologis pada pendekatan saintifik yakni singkronisasi atau penyesuaian antara postulat pikir (teori) dengan pengalaman .

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Salah satu kesulitan yang dibahas pada pendekatan saintifik di artikel ini adalah mengenai kegaitan mengasosiasi. Secara umum ketika seseorang telah melalui tahap mengamati kemudian menanya lalu mengumpulkan informasi tahap selanjutnya adalah mengasosiasi. Kesulitan yang biasa dihadapi oleh observer dalam tulisan ini adalah menyesuasikan tentang apa yang diamati (pengalaman) dengan hipotesis ( postulat pemikiran).

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Yang saya sukai dalam artikel ini adalah pesan terakhir yang bapak Prof. Marsigit sampaikan di akhir artikel. Beliau berpesan bahwa sebaik-baiknya orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Sopan santun). Saya mengambil simpulan bahwa menjadi orang cerdas tidak hanya mengenai intelektual saja akan tetapi orang cerdas haruslah tahu nilai attitude dan tata krama yang sopan dan santun.

    ReplyDelete
  39. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Ontologi adalah cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Pendekatan Sanitifik yang saat ini sudah tidak asing di Kurikulum 2013 merupakan pendekatan yang diturunkan dari ilmu Saintifisme Realis. Dimana objeknya berada di luar pikir atau dapat diamati. Sehingga dalam pembelajaran kurikulum 2013 dengan pendekatan Saintifik ini dituntut untuk banyak mengamati objek-objek yang berkaitan dengan pembelajaran. Pada pembelajaran matematika, para siswa dituntut untuk dapat mengamati fenomena matematika yang ada disekitarnya untuk menurunkan suatu konsep pembelajaran.

    ReplyDelete
  40. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Ontologi adalah salah satu kajian dari filsafat. Pembahasan mengenai ontologi menandung makna yang berkaitan dengan kebenaran suatu fakta. Ontologi saintifik adalah salah satu ontologi yang menerapkan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan langkah-langkah pembelajaran yang baru diterapkan dalam kurikulum 2013. Langkah pembelajaran dalam pendekatan saintifik dimulai dengan mengamati, menanya, mencoba/mengumpulkan data, mengasosiasi/mengolah informasi dan mengkomunikasikan. Mempelajari ontologi sangat bermanfaat, karena dapat menambah pengetahuan guru mengenai bagaimana harus bersikap terhadap siswanya serta bagaimana harus bersikap terhadap masyarakat yang memiliki sifat dan sudut pandang berbeda.

    ReplyDelete
  41. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran matematika kini mengacu pada kurikulum 2013. Secara khusus pembelajaran berbasis kompetensi dalam kurikulum 2013 harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada (Mulyasa, 2014:109).salah satu pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan nyata adalah pendekatan matematika realistik. Pendidikan matematika realistik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran matematika yang berasal dari Belanda (Wijaya, 2012:20). Menurut Karunia Eka Lestari (2015) pendidikan matematika realistik adalah matematika sekolah yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa terlebih dahulu sebagai titik awal pembelajaran.

    ReplyDelete
  42. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Karakteristik pendidikan matematika realistik:
    • Penggunaan konteks
    • Penggunaan model untuk matematisasi progresif
    • Pemanfaatan hasil konstruksi siswa
    • Interaktivitas
    • Keterkaitan
    Treffers (Wijaya, 2012: 21-22).

    ReplyDelete
  43. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Seperti yang telah diungkapkan bahwa dalam pembelajaran dengan kurikulum 2013 dengan saintifik maka diutamakan menggunakan kehidupan nyata sebagai dasar pembelajarannya. salah satunya dengan matematika realistik.
    berikut prinsip prinsip pembelajaran realistik menurut Suherman (2003):
    a. didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks
    b. perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema dan sebuah simbol
    c. siswa aktif
    d. interaksi sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika
    e. membuat jalinan antar topik atau antar pokok bahasan.

    ReplyDelete
  44. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Saintitisme merupakan penyelarasan antara objek yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh karena itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun konsep matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  45. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Salah satu kalimat yang menarik perhatian saya adalah "Kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)". Inilah yang harus kita cermati dan resapi dengan baik, bahwasannya kita harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kita berada, baik untuk menuntut ilmu ataupun kegiatan lainnya.

    ReplyDelete
  46. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan artikel di atas, pendekatan saintifik didasarkan pada sikap skeptis, kemudian pendekatan saintifik ini merupakan pendekatan ilmiah yang realis, dalam pembelajarannya menggunakan logka berpikir siswa serta pengalaman siswa.

    ReplyDelete
  47. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Ontologi berarti hakikat. Apa hakikat saintifik? Saintifik sebenarnya merupakan sebuah paham yang berpandangan bahwa ilmu itu harus dibuktikan kebenarannya secara empiris atau secara nyata dengan metode ilmiah. Jika fanatik dengan hakikat saintifik, akan sangat berbahaya bagi Indonesia yang menjunjung tinggi asas ketuhanan, karena tidak semua ilmu Tuhan itu dapat dibuktikan secara ilmiah, terkadang kita hanya harus menerimanya. Namun, di Indonesia, saintifk merupakan sebuah pendekatan baru dalam bidang pendidikan yang terkenal dengan 5M nya.

    ReplyDelete
  48. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Prof. Marsigit dalam perkuliahannya maupun dalam postingan di blog ini selalu mengatakan bahwa objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Jauh sebelumnya saat pertama kali mendengar hal itu, jujur saya bingung dan tidak tau apa maksudnya. Namun, setelah sampai saat ini saya mulai memahami dan menafsirkan bahwa objek yang ada dan yang mungkin ada inilah berupa pikiran atau logika berpikir dan pengalaman. Oleh karena itu, memang benar jika dalam mengkonstruksi pengetahuan atau ilmu, siswa harus secara aktif dan mengalami sensasi dari dua hal itu. Secara aktif berpikir dan secara aktif mengalami kegiatan pembelajaran. Itulah sebenar-benar guru yang memfasilitasi siswa, bukan menggurui atau mendewai.

    ReplyDelete
  49. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Matematika mempunyai banyak pengertian sesuai dengan pandangan seseorang terhadapnya. Ada matematika murni yang bersifat tautologis yaitu nilai kebenaran yang konsisten. Objek kajian dalam matematika murni bersifat formal dan ditujukan untuk orang dewasa. Berbeda dengan matematika sekolah yang menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda konkrit sebagai objek kajiannya dan ditujukan untuk anak-anak. Inilah yang seharusnya ada disekolah, yaitu matematika sekolah. Oleh karena itu, guru harus dapat memfasilitasi siswa secara logika dan pengalaman, salah satunya dengan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  50. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik, memfasilitasi pengalaman tidak cukup hanya dengan mengamati fenomena yang ada di dalam buku teks. Oleh karena itu, guru juga harus dapat membedakan yang mana saintifik ideal dan saintifik realis. Mengobservasi objek pengalaman pun disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif siswa, baik SD, SMP, maupun SMA.

    ReplyDelete
  51. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Kurikulum 2013 yang menggunakan pendekatan saintifik merupakan sebuah inovasi yang beberapa tahun ini sedang dicanangkan pemerintah Indonesia. Dengan adanya ontologi saintifik ini sangat bermanfaat dan membantu saya sebagai calon guru untuk memahami seluk beluk pendekatan saintifik. Terimakasih kepada Prof. Marsigit yang telah memberikan ilmunya kepada kami para mahasiswa. Semoga kami dapat menggunakan ilmu ini dengan sebaik-baiknya.

    ReplyDelete
  52. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Masih dijumpai guru yang belum mahir menggunakan pendekatan saintifik. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai perbedaan saintifik ideal dan saintifik realis. Guru belum menyadari bahwa siswa SD dan SMP awal memerlukan benda kongkret sebagai objek pengalamannya. Maka dari itu dibutuhkan guru yang terampil menyusun pembelajarannya dengan mempertimbangkan perkembangan kognitif siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  53. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Paparan dan penjelasan ini. Untuk memahami penjelasan ini saya harus paham dulu mengenai beberapa istilah yaitu: Ontologi, Epistemilogi, Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme, Saintifisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal. Sehingga dari paparan Bapak ini tidak hanya tentang penjelasan mengenai Saintifik secara ontologis saja yang bisa saya dapatkan melainkan banyak hal tentang paham-paham filsafat yang terkait dengan saintifik itu sendiri. Hal ini menunjukkan kepada kami (saya) bahwa pada pemikiran-pemikiran filsafat, suatu hal yang tampaknya bertentangan setelah di pelajari lebih jauh ternyata hal-hal tersebut saling keterkaitan.

    Terima kasih banyak Pak, atas paparan dan penjelasannya.

    ReplyDelete
  54. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Banyak sekali hal yang didapat dari paparan ini, namun ada satu hal yang paling berkesan bagi saya yaitu pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Objek-objek diluar pikiran yang tentu saja tidak semua orang memiliki cakupan yang sama apakah ini yang membuat kurikulum 2013 sampai saat ini masih di revisi, apakah kurikulum 2013 dapat dijadikan sebagai kurikulum yang cocok untuk pendidikan di Indonesia? Keterbatasan manusia menjadikan munculnya pertanyaan dan masalah-masalah, munculnya ketidaktahuan yang merupakan bagian dari berfilsafat, sehingga berfilsafat diperlukan dalam mengembangkan pendidikan.

    ReplyDelete
  55. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam pemaparan di atas, ada beberapa hal yang masih saya pertanyakan yaitu dalam pembahasan, dikatakan adanya sintetik apriori dan sintetik aposteriori. Setelah saya pelajari lebih lanjut mengenai apriori dan aposteriori, ternyata terhubung dengan sumber-sumber yang baik dipelajari mengenai apriori dan aposteriori yang disarankan bapak pada tulisan “A Priori A Posteriori“, yang ditulis pada 02 Desember 2012. Dari sumber yang bapak berikan pada tulisan di blog tersebut, saya sedikit mengerti apa itu apriori dan aposteriori.
    Jika menurut artikel bapak saya mengambil kesimpulan pendekatan saintifik menggunakan pendekatan sintetik aposteriori yaitu menggunakan pengalaman sebagai kendaraan yang mengantarkan kita menuju sesuatu yang ingin diketahui. Memang kesulitas pasti terjadi karena pengalaman dalam menggunakan pendekatan ini masih bisa di bilang sangat dini. Namun jika kita lihat realita pada tahun 2017 sekarang, dimana kurang lebih 2 tahun setelah bapak membuat artikel ini, saya berpendapat sekarang sudah banyak guru yang mampu menerapkan pendekatan ini karena sudah mulai memahami pendekatan saintifik itu seperti apa. Sehingga sudah mulai adanya peningkatan mutu pendidik sedikit demi sedikit untuk mengembangkan pendidikan Indonesia yang lebih baik walaupun memang pasti selalu ditemukan suatu masalah dalam pelaksanaanya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  56. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Dari postingan ini, saya memperolah pengetahuan-pengetahuan baru mengenai saintifik, karena menurut saya di postingan ini Bapak meninjau saintifik dari kacamata filsafat. Hal-hal yang saya dapatkan antara lain, bagaimana awal mulanya istilah saintifik itu muncul. Kemudian, Bapak juga menjelaskan tahapan-tahapan saintifik secara umum. Mulai dari mengamati, mengamati disini maksudnya mengamati sifat-sifat objeknya, sebenarnya setiap objek memiliki beribu-ribu sifat, tetapi cukup diamati sifat yang kita perlukan saja untuk proses pembelajaran. Kemudian pengalaman mengamati harus dibarengi dengan kegiatan berfikir atau dalam saintifik disebut mengasosiasi. Ini merupakan tahap yang sulit bagi siswa terutama ana-anak. Kesesuaian antara pola pikir dan pengalaman tersebutlah yang menghasilkan kesimpulan/konsep/pengertian. Postingan ini juga menimbulkan pertanyaan bagi saya, bagaaimana tahap mengamati pada anak setingkat SMA jika materi matematika yang akan dibahas susah untuk dicari contoh di kehidupan nyatanya? Padahal sebaiknya, hal-hal yang diamati ialah objek-objek konkret yang ada di sekitar atau pengalaman-pengalaman yang pernah siswa alami terkait materi yang akan diajarkan.

    ReplyDelete
  57. Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Setelah saya membaca tulisan Bapak, saya menjadi lebih sadar akan kurangnya ilmu pengetahuan yang saya miliki. Selain itu, saya juga menyadari akan kurang luasnya cara pandang saya terhadap suatu hal. Dari postingan tersebut saya belajar tentang logika pikir dan logika pengalaman yang diperlukan dalam pembelajaran, tentang abstraksi dan idealisasi, tentang saintifik ideal dan saintifik realis, serta mengenal banyak istilah yang belum saya ketahui sebelumnya. Terimakasih Pak Marsigit.

    ReplyDelete
  58. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas penjelasannya Pak. Saya jadi mendapat wawasan baru tentang pendekatan saintifik ideal dan realis. Pembelajaran matematika harusnya dimulai dengan pendekatan saintifik realis di tingkatan SD dan awal SMP karena siswa kebanyakan masih berpikir secara konkret. Barulah setelah itu perlahan-lahan guru mulai bisa menggunakan pendekatan saintifik ideal.

    ReplyDelete
  59. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Selamat pagi, Berdasarkan bacaan di atas, saintifik terdiri dari saintifik ideal dan saintifik realis. Saintifik ideal ialah yang berada di dalam pikiran sedangkan saintifik real ialah yang berasal dari logika pengalaman. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan dalam Kurikulum 2013 berdasar pada saintifik realis, yaitu menggunakan objek nyata. Sintaks pembelajaran yang dilaksanakan meliputi mengamati, menanya, mengobservasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Semestinya, dalam membangun pengetahuan melalui kelima sintaks tersebut, perlu adanya sinergi antara logika pikir dan logika pengalaman. Seperti yang ditegaskan oleh Kant bahwa sebenar-benar ilmu adalah bersifat sintetik a priori, yaitu pengalaman yang dipikirkan atau sebaliknya.

    ReplyDelete
  60. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terima kasih Prof Marsigit atas pemaparannya, saya menemukan banyak sekali istilah yang "jujur" masih baru untuk saya dan butuh waktu untuk memahami nya seperti Ontologi, Epistemilogi, Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme, Saintifisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal. Hal ini menyadarkan saya bahwa saya masih sangat kurang dalam mebaca. terima kasih Prof

    ReplyDelete
  61. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya,
    Postingan ini sangatlah bermanfaat, disini mengupas/ mengkaji mengenai saintifik. Di postingan ini juga saya mendapatkan banyak istilah baru yang harus saya cari tahu lebih dalam. Saya juga baru tahu jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme. Selain itu di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dan saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Ini merupakan informasi baru yang saya dapatkan dari postingan bapak. Terimakasih bapak.

    ReplyDelete
  62. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    Jauh dari pengertian saintifik yang saya hafalkan selama ini. Pengetahuan baru tentunya. Apakah wajar jika saya kebingungan dan kesulitan dalam memahami bagian-bagian dari postingan ini (Ontologi Saintifik).
    Hal yang ingin saya tanyakan salah satunya terkait dengan penjelasan ini, "Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran". Saya ingin bertanya how the way bapak memiliki hemat terkait pendekatan saintifik yang diimplementasikan pada kurikulum 2013?
    Terlepas dari itu semua, saya setuju bahwa "Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)"

    ReplyDelete
  63. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pada postingan ini saya merasa banyak asing dengan istilah yang muncul. Istilah Saintifik yang saya rasa cukup akrab pun baru saya ketahui bahwa ada dua macam.
    Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun (Voltaire).
    Salah satu istilah pada artikel ini yang paling menarik bagi saya yaitu skeptisism. Hal ini karena pendapat dari kelompok skeptis ini kadang kita juga melakukannya tanpa kita sadari. bahwa kebenaran dari sesuatu tidak dapat benar-benar diketahui karena manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia. Prinsip ini penting dalam belajar karena ilmu pengetahuan memerlukan suatu kepastian yang seakurat mungkin.

    ReplyDelete
  64. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Pembelajaran saintifik mulai berkembang dan diaplikasikan sebagai pendekatanpembelajaran di sekolah sekolah saat ini. Selain keunggulannya dibandingkan pembelajaran tradisional, saintifik juga memiliki kelemahan ditinjau dari sudut pandang spiritual. Sebagai contohnya jika seseorang sangat mengagung-agungkan saintifik dalam segala kegiatannya maka ia selalu bertanya dan meragukan apa saja yang tidak memiliki landasan teori atau tidak masuk akal atau tidak sesuai logika. Misalnya saja ia berpikir mengapa sampai ada tuhan, bentuk zat tuhan itu seperti apa, dan sebagainya yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran spiritual. Maka saintifik ini harus diimbangi dengan ilmu spiritual yang baik agar tidak mengagung-agungkan saintifik. Bersaintifik boleh-boleh saja, tetapi sewajarnya saja hanya untuk urusan duniawi.
    Pembentukan pengetahuan menurut Imanuel Kant (1671) adalah sintesis antara tesis dan anti-tesis, secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari logika pikir dan yang berasal dari logika pengalaman. Saya setuju dengan hal ini kareana pengetahuan diperoleh dari pengalaman yang dipikirkan. Jika seseorang hanya mengagung-agungkan pengalaman tanpa dipikirkan maka tidak ada kesimpulan dari penalaman tersebut, dengan kata lain belum terbentuk suatu pengetahuan. Sebaliknya, jika kita mengagung-agungkan loika pikir tanpa adanya pengalaman, maka sama saja dengan omong kosong tanpa bukti. Sehingga diperlukan singkronisasi antara pengalaman yang dialami yang kemudian dipikirkan agar terbentuk suatu ilmu pengetahuan.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  65. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan menggunakan saintifik sebagai pendekatannya, memang mempengaruhi pendidikan di Indonesia. Dengan munculnya pendekatan saintifik yang bercirikan pembelajaran berorientasi kepada siswa ini, mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Seperti pada postingan sebelumnya tentang persepsi guru pada pendekatan saintifik, dimana salah satu kelebihannya adalah guru dapat melatih siswa menjadi aktif dan kritis. Sementara itu, salah satu kekurangannya adalah pelaksanaan pembelajaran saintifik ini memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pengalaman guru sehingga bisa memanfaatkan waktu seefektif mungkin selama proses pembelajaran.
    Seperti yang terdapat pada postingan diatas bahwa pendapat Immanuel Kant menyatakan pengetahuan itu berasal dari logika pikir dan logika pengalaman, dimana hal tersebut merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Maka, untuk memperoleh pengetahuan tidak hanya membutuhkan logika berpikir saja, dan juga bukan hanya membutuhkan logika pengalaman. Akan tetapi, dibutuhkan kolaborasi antara keduanya membentuk suatu pengetahuan.

    ReplyDelete
  66. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Pendekatan saintifik merupakan salah satu bentuk pendekatan pebelajaran aliran saintisme. Para penganut aliran saitisme mencoba menggabungkan dua objek besar dalam ilmu yaitu objek yang ada dalam pikiran dan objek yang ada di luar pikiran. Selanjutnya objek-objek ilmu ini diopersionalkan ke dalam lima tahapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pada tingkatan sekolah dasar atau menengah siswa dapat memulai pembelajaran dengan mengamati objek-objek nyata di lingkungan sekitarnya, di kelas, di halaman sekolah, dst. Lalu akan timbul pertanyaan-pertanyaan oleh siswa megapa dan bagaimana suatu hal dapat terjadi. Nah pada tahap ini siswa tentu akan mencoba untuk terlibat di dalamnya. Berbekal teori-teori yang sudah ada siswa akan mengolah data-data yang diperoleh untuk selanjutnya dikomunikasikan dan dapat dikonfirmasi kebenarannya. Demikianlah bagaimana pendekatan saintifik itu menggabungkan sikap skeptis dengan realitas yang ada.

    ReplyDelete
  67. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Tulisan ini secara umum menggambarkan alur terbentuknya sebuah ilmu pengetahuan. Betapa pentingnya ilmu filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pakar keilmuan, psikolog dsb. Tidak dapat menjawab pertanyaan kapan manusia memiliki Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman, maka Filsafat dengan pendekatan ontologinya para Filsuf mampu menjawabnya sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia). Selain itu, dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kita juga harus menginteraksikan antara Ilmu Pikir dan Ilmu Pengalaman, agar kebenarannya lebih diakui secara koheren, meskipun terkadang sebenarnya sikap skeptis itu juga harus ada agar kita lebih berhati-hati dalam menyikapi ilmu pengetahuan tersebut. Sehingga dalam membangun pengetahuan kita tetap berpegang teguh pada prinsip kita masing-masing. Dengan demikian kita juga akan lebih mudah dalam mengambil keputusan yang bijaksana dan cerdas dalam menempatkan diri.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  68. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendekatan saintifik memang menarik untuk dibicarakan. Dewasa ini pendekatan saintifik tidak lagi menjadi pendekatan yang asing bagi dunia pendidikan. Awal mula pendekatan saintifik ini adalah dari para aliran saintisme yang menggabungkan asumsi – asumsi filsafat positivisme dan skeptisme. Skeptisme ilmiah ini akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan hal yang kurang memilki bukti empiris yang kuat. Hal ini sejalan dengan pendekatan saintifik yang saat ini digunakan dalam pembelajaran pada kurikulum 2013 Pendekatan saintifik sebagai salah satu pendekatan yang wajib digunakan dalam kurikulum 2013 merupakan manifestasi dari pendekatan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun atas dasar student centered. Pendekatan saintifik merupakan konsep belajar yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah (Majid, 2015: 3). Proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Permendikbud No 81A Tahun 2013 memberikan konsepsi tersendiri bahwa langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen-komponen mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasikan/ mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Berdasarkan ontologi saintifik yang Prof. tuliskan di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan menggunakan ilmu tersebut untuk mengambil suatu keputusan maka seseorang akan memperoleh nilai – nilai kebijakannya.

    ReplyDelete
  69. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Pendekatan saintifik memang lebih mudah diterapkan oleh guru di SD atau SMP. Menjadi agak lebih sulit diterapkan pada siswa SMA. Apalagi di perguruan tinggi. Semisal mata kuliah struktur aljabar, yang objek nya abstrak, bagaimana kita memikirkan tentang teori grup dan sebagainya yang sesungguhnya sulit untuk dipahami bagi sebagian mahasiswa

    ReplyDelete
  70. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan pendekatan scientifik adalah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, mengolah data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil dari penarikan kesimpulan. dari sintak ini terlihat jelas bahwa pendekatan scientifik sangat cocok untuk kurikulum 2013 yang dikembangkan saat ini, karena pada pendekatan tersebut lebih menuntut siswa untuk aktif dalam menggunakan semua indra dan potensi yang dimilikinya, hal ini juga menuntut guru lebih banyak bertindak hanya sebagai fasilitator agar dapat mengeksplor seluruh kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

    ReplyDelete
  71. Insan A N/Magister PMat C 2017
    Menarik membedah saintifik dengan asumsi ontologi yang rinci. Dalam pembelajaran tentunya membutuhkan saintifik idealisme dan realisme. Siswa untuk tingkat rendah (SD maupun awal SMP) lebih membtuhkan saintifik realisme, mengamati dan menganalisa objek konkret yang mudah diamati. Sedangkan untuk siswa tingkat tinggi (SMA), perlu digunakan campuran antara realisme dan idealisme.Siswa tentu agak kesulitan mengamati objek abstrak tanpa kemampuan berpikir sesuai pengetahuannya.

    ReplyDelete
  72. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mangutip Maqolah yang mengatakan bahwa kita harus mementingkan adab atau sopan santun di atas ilmu. Namun setelah membaca postingan ini saya kembali menelisih bahwa jarang seseorang yang beradab tidak memiliki ilmu. Dengan keilmuan yang matang, seseorang dapat memutuskan bagaimana mereka harus bertindak di setiap situasi yang dihadapi. Adapun kebijaksanaan seseorang akan meningkat seiring dengan pengalaman orang tersebut. Hal ini semakin menambah matang konsep bahwa memang antara ilmu dan adab, pikiran dan pengalaman saling melengkapi. Merupakan hal biasa mengulas 5M dari sudut kependidikan, mengenai artinya maupun tagihannya. Namun berbeda dengan postingan ini yang memberikan wacana dan wawasan baryu mengenai 5M dari sudut pandang filsafat

    ReplyDelete
  73. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Historia Vitae Magistra merupakan prinsip yang populer dalam sejarah. Prinsip ini mengatakan bahwa dengan pengalaman akan mengajarkan kebijaksanaan bagi yang mampu mengilhaminya dengan baik. Selaras dengan pernyataan Pak Marsigit bahwa seseornag yang cerdas sejatinya ialah orang yang dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. Pendekatan saintifik yang tengah digencarkan oleh pemerintah diproyeksikan agar siswa dapat berkembang secara maksimal tanpa meninggalkan penghayatan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, sehingga mereka dapat menyelesaikan persoalan kehidupan yang kompleks dan mampu membuat keputusan dengan bijaksana. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  74. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah

    Guru harus diberikan penjelasan atau pengetahuan tambahan mengenai pembelajaran saintifik. Saya baru mengetahui bahwa ada 2 macam saintifik yaitu Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Yang diterapkan pada kurikulum 2013 lebih ke saintifik realis atau objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Tidak semua materi dapat diamati di luar pikiran tetapi hanya melalui khayalan dan angan-angan saja. Walaupun tidak secara konkrit, tetapi apa yang dilakukan guru juga merupakan suatu pendekatan saintifik yang ideal (yang ada di dalam pikiran).

    ReplyDelete
  75. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B


    Setelah membaca ulasan ini saya menyadari bahwa terbentuknya ilmu pengetahuan melalui proses yang begitu kompleks berdasarkan sudut pandang filsafat. Selama ini saya hanya mempelajari dan mendalami melalui proses kognitif atau secara biopsikologi. Saya juga menjadi paham apa yang menyebabkan seseorang dapat berpikir, memikirkan pengalamannya dan mampu menuangkan pikirannya. Ini dijawab dengan adanya titik awal dimana antara logika pikir dan pengalaman menjadi sebuah intuisi. Intuisi tersebut memiliki wadah dan isi, namun keduanya hanya dapat terwujud jika ada takdir dan ikhtiar manusia. Hal ini berarti bahwa selama seseorang memiliki dorongan untuk berusaha mempelajari sesuatu dan sesuai dengan waktunya sejatinya ia telah membangun suatu pengetahuan dalam dirinya. Saya menjadi memiliki gambaran juga bagaimana seseorang yang berpikir harus disertai pula dengan sikap atau karakter yang baik. Ini dapat pula dikatakan bahwa seseorang yang telah belajar diharapkan dapat memiliki integritas pada area akademik.

    ReplyDelete
  76. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Kemampuan berfikir matematis adalah kemampuan seseorang untuk mampu berfikir logis dan sistematis dalam menghadapi berbagai masalah baik dalam matematika maupun dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Kemampuan berpikir ini dapat mendorong peserta didik untuk selalu menyelesaikan permasalahan dengan melihat berbagai sudut pandang berdasarkan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya dengan disertai alasan atau dasar yang tepat/logis. Sehingga guru harus merangsang cara berpikir anak agar dapat belajar dengan melihat dari pengalaman dan tidak hanya terpaku pada buku.

    ReplyDelete
  77. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Intuisi berpikir dan intuisi empirik sudah dibawa sejak manusia dilahirkan. Kemudian kedua intuisi ini berinteraksi dengan obyek pada lingkungan, seperti orangtua, guru, masyarakat, sekolah, dll. Kedua intuisi ini tepat jika dipakai sebagai dasar membuat teori-teori belajar. Dua intuisi ini akan menarik jika dikolaborasikan karena akan saling menguatkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  78. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Ontologi filsafat
    Assalamualaikum wr wb,,,.di dalam filsafat juga dijelaskan tentang matematika .Pada matematika murni misalnya.Matematika murni bersifat hipotesis, dalam pengertian ia tidak dapat memberitahu bagaimana kasusnya pada dunia aktual,misalnya berapa banyak benda yang ada pada tempat tertentu, namun hanya bisa menunjukkan apa yang terjadi apabila x benar, misalnya bahwa akan ada 12 kursi di dalam suatu ruang bila ada 5+7 kursi.

    ReplyDelete
  79. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari bagian awal postingan ini, saya memahami bahwa ternyata saintifik dan saintifisme merupakan penggabungan antara aliran skeptisisme dan realisme. Skeptisisme bersama dengan idealisme dan rasional berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran. Sedangkan realisme bersama dengan empirisme berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di luar pikiran.
    Dalam postingan Prof Marsigit yang lain telah disinggung berkali-kali mengenai pentingnya pengetahuan dan pentingnya pengalaman. Manakah yang lebih penting antara pengetahuan dan pengalaman? Dapat saya sebutkan bahwa pengetahuan dan pengalaman berangkat dari dua hal besar. Pengetahuan berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran, sedangkan pengalaman berangka dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran. Banyaknya teori pembentukan ilmu yang muncul adalah karena adanya pikiran dan pengalaman.
    Kemudian saya memahami bahwa yang selama ini dimaksud oleh Prof Marsigit sebagai wadah (forma) adalah kategori berpikir sedangkan isi (substansi) adalah pengalaman. “Isi dapat menjadi wadah, dan wadah dapat juga menjadi isi” berkali-kali saya dengar saat kuliah filsafat pendidikan matematika bersama beliau. Sekarang saya memahami bahwa antara pikiran dan pengalaman saling mengimplikasi, sehingga yang satu dapat pula menjadi yang lain.

    ReplyDelete
  80. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, banyak informasi yang saya peroleh setelah membaca penjelasan di atas, saya ikut merenungkan pertayaan apa, mengapa,bagaimana dan kapan logika berfikir, logika pengalaman begitupula dengan beberapa pertanyaan yang timbul selanjutnya. Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab menggunakan pendekatan ontologi dan epistimologi hingga diperoleh ilmu-ilmu sampai pada akhirnya menjadi pondasi dasar dalam mengembangkan teori-teori belajar mengajar. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan saat ini pada kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari saintifisme realis yaitu untuk objek yang teramati (di luar pikiran). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ini diketahui), merumuskan pertanyaan/menanya, mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasikan/menganalisis/mengolah data serta menarik kesimpulan kemudian mengomunikasikan hasil dari yang telah disimpulkan. Melalui pembelajaran saintifik siswa diharapkan untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan,sikap serta nilai spritual.

    ReplyDelete
  81. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pendekatan saintifik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang memusatkan pada pengamatan, namun permasalahan saat ini langkah-langkah dalam mengamati masih sangat jarang diterapkan dalam pembelajaran. Karena guru masih merasa canggung tentang aktifitas pengamatan yang harus dilakukan, apa yang diamatai, bagaimana yang diamati serta berbagai langkah pengamatan lainnya. Oleh karena itu diperlukannya perhatian khusus bagi para guru, sehinnga pendekatan saintifik yang diimplementasikan dalam kurikulum 2013 dapat dilaksanakan dengan baik.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  82. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saat ini di Indonesia mengimplementasikan kurikulum 2013 dan pendekatan saintifik merupakan salah satu pendekatan yang di rekomendasikan. Pada dasarnya pendekatan ini digunakan agar siswa lebih aktif di dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Namun, pada kenyataan banyak guru yang belum mengimplementasikan. Sebagai calon seorang guru maka tugas kita adalah mengubah cara mengajar guru agar menjadi lebih baik sehingga konsep dasar matematika dapat tertanam. Sebab pada dasarnya konsep itu penting sebagai dasar/fondasi. Jika konsep sudah kuat maka untuk permasalahan yang lebih kompleks akan lebih mudah untuk di pahami dan siswa dapat memutusakan keputusan yang terbaik. Karena pada dasarnya keputusan itu bergantung pada ruang dan waktu. Alangkah baiknya jika keputusan itu di buat pada waktu yang tepat. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  83. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Cara berfikir yang sangat menarik Prof. Menggali rumusan tindakan hingga kebijakan dengan mengupas secara ontologis adalah sangat penting untuk memahami struktur. Secara tidak langsung dalam memahami Ontologi Saintifik, saya dapat memahami salah satu dari asumsi ilmu, yaitu menganggap setiap objek memiliki struktur satu sama lain. Sangat penting bagi guru untuk memahami saintifik secara ontologis sebelum secara axiologi dan terapan.

    ReplyDelete
  84. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan ini menguraikan ontologi-ontologi saintifik dalam membangun pengetahuan. Salah satu cara membangun pengetahuan siswa adalah dengan menerepakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik yang diterapkan pada pembelajaran matematika masih terasa belum maksimal oleh kebanyakan guru maupun siswa yang kebingungan bagaimana kegiatan pembelajaran yang diinginkan. Dari postingan ini, hal tersebet dikarenakan pendekatan saintifik yang digunakan itu masih bersifat formal. Pendekatan saintifik yang diinginkan seharusnya yaitu pendekatan saintifik yang bersifat realisitis. Karena dengan pendekatan saintifik realistik siswa akan lebih mendapatkan pengalaman belajar yang berkesan sehingga siswa antusias dan memiliki keinginan yang tinggi untuk mengetahui ilmu-ilmu berikutnya. Selain Pendekatan saintifik masih banyak ontologi-ontologi lainnya untuk membentuk pengetahuan.

    ReplyDelete
  85. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Penerapan pembelajaran saintifik di sekolah memiliki salah satu kelebihan yaitu mengubah kebiasaan belajar siswa dari yang hanya menerima materi jadi dari guru menjadi kebiasaan untuk menemukan sendiri suatu konsep sampai tahap mengomunikasikannya tetapi tetap dalam bimbingan guru agar tidak terjadi kekeliruan dan berada dalam tahap berpikir ilmiah yang benar.

    ReplyDelete
  86. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Mengasosiasikan sama halnya dengan mengolah informasi yang merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa pengolahan informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengasosiasi/mengolah informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Sehingga tahap mengasosiasi ini dapat membangun sikap positif siswa, karena sikap yang positif merupakan tujuan utama pada setiap kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  87. Junianto
    17709251065
    PM C

    Paparan ini menceritakan tentang narasi besar filsafat. Saya mencoba menggaris bawahi pernyataan Immanuel Kant yang merupakan penengah antara penganut logika pikir dan logika pengalaman (empriris). Immanuel Kant menegaskan bahwa ilmu adalah sintetik a priori yag berusaha memadukan sintetik yang berasal dari logika pengalaman dan a priori dari logika pikir. Kant manyatakan bahwa ilmu adalah perpaduan antara keduanya, maka logika pikir tanpa pengalaman belum sempurna dan harus disempurnakan dengan perpaduan antara logika pikir dan pengalaman. Pernyataan I. Kant ini juga menjadi penengah pertengkaran antara penganut logika pikir dan penganut logika pengalaman.

    ReplyDelete
  88. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pertengkaran antara penganut logika pikir dan logika pengalaman menjadi hal yang turut melahirkan revolusi dalam keilmuan. Pendekatan saintifik yang terkandung dalam kurikulum 2013 juga bersumber dari sejarah keilmuan ini. Meskipun pendekatan saintifik masih menjadi polemik di kalangan pendidik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gagasan dan teori ini sangat bagus. Tetapi, kendala-kendala yang dialami poendidik juga tidak sedikit, sehingga evaluasi dan pelatihan perlu dilakukan secara berkelanjutan jika ingin mengoptimalkan aplikasi pendekan saintifik.

    ReplyDelete
  89. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih bapak untuk tulisannya. Mohon izin untuk mengutip tulisan bapak sebelum saya mengajukan sebuah pertanyaan. Bapak menulis bahwa:
    "Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik."

    Yang saya pahami dari kalimat tersebut adalah pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang menyangsikan kebenaran tanpa bukti empiric yang kuat, sehingga ia akan selalu dan selalu mempertanyakan bukti sampai pada bukti empiric yang kuat dan sifatnya final. Padahal disisi lain kita mengetahui bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang, suatu kebenaran hamper selalu direvisi dengan kebenaran yang lebih baru. Misalnya dulu kita mengenal bahwa atom adalah bagian terkecil suatu benda, namun setelah sekian lama pendapat itu gugur karena atom masih dapat dibagi menjadi electron dan proton. Dengan demikian, pertanyaan saya adalah, bagaimana pendekatan saintifik memandang hal demikian (perkembangan ilmu)? apakah tidak ada kemungkinan lahirnya sebuah kebenaran yang sifatnya final?.
    demikian pertanyaan saya bapak, sekali lagi terima kasih untuk tulisan-tulisan yang bapak sajikan dalam blog ini.

    ReplyDelete
  90. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Kegiatan menanya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis sehingga dalam tahapan menanya ini dapat membangun pola pikir yang maju dan selalu ingin tahu terhadap hal-hal yang baru atau yang belum diketahui sehingga peserta didik memiliki kemauan untuk terus belajar dan menggali informasi yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia

    ReplyDelete
  91. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Alhamdulillah, setelah membaca habis artikel ini saya menjadi lebih memahami hakikat dari saintifik, sesuai dengan judulnya, ontologi, sehingga artikel ini memaparkan hakikat tentang pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik sejatinya menggunakan paham sintetik apriori. Karena dalam pelaksanaanya siswa akan diajak untuk menggunakan, mengolah, dan menghubungkan yang menjadi obyek pikir dengan yang ada di luar pikir yaitu kenyataan. Paparan ini semakin memantapkan bahwa pendekatan saintifik patut untuk diberikan karena akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengolah obyek pikir namun juga tetap peka terhadap lingkungan sehingga dapat mengasosiasikannya menjadi ilmu pengetahuan. Pada paparan di atas, pendekatan saintifik pada SD dan SMP akan sangat jelas karena obyeknya memang obyek nyata, namun PR kita sekarang adalah bagaimana menerapkannya pada jenjang SMA karena di sma sudah memasuki ranah semi abstrak yang kebanyakan obyeknya sudah bukan lagi benda konkrit.

    ReplyDelete
  92. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas postingannya Prof, saya lihat begitu banyak postingan mengenai saintifik diblog bapak, memang menarik untuk diperbincangkan. Dari postingan di atas, saya dapat menyimpukan bahwa pendekatan saintifik ata dua, yaitu saintifik realis dan saintifik idealis. Penerapannya dari kedua pendekatan saintifik diatas berbeda pula. Untuk pendekatan saintifik realis lebih kepada kenyataan logika, apa yang tampak/real. Pendekata ini lebih cocok digunakan pada anak sekolah dasar karena mereka berpikir berdasarkan apa yang mereka lihat. Untuk pendekatan saintifik lebih cocok diajarkan di anak sekolah menengah ke atas.

    ReplyDelete
  93. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Dalam pemaparan ini saya jadi memahami pemdekatan saintifik yang seharusnya digunakan untuk guru SD dan SMP, hal itu dikarnakan siswa berfikir berdasarkan dgn apa yg mereka lihat.
    dalam hal ini itu akan mempermudah siswa untuk berfikir dengan apa yang mereka lihat. Namun sangat disayangkan sekali jika masih terdapat tenaga pengajar yg blm memahami pendekatan ini, dikarnakan cara ini sangat produktif untuk memberikan pemahaman ke siswa berdasarkan dgn apa yg siswa itu lihat.

    ReplyDelete
  94. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    sejarah atau dasar lahirnya suatu ilmu pengetahuan bahkan sejarah kita sendiri adalah Fatal (takdir) dan Vatal (usaha Manusia). dengan demikian untuk dapat memahami suatu ilmu pengetahuan harus berlandaskan kedua hal tersebut, dimana takdir fatal sebagai batasan kita dalam berpikir sehingga tidak melampui batas (selalu sadar dan yakin bahwa segala uang terjadi ada campur tangan tuhan) dan vatal adalah usaha kita dalam kehidupan ini untuk terus menemukan dan mempelajari ciptaan tuhan melalui potensi pikir pengalaman yang kita miliki.

    ReplyDelete
  95. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    Mempelajari ontologi saintifik, membentangkan wawasan kami agar berfikir tidak sempit dan memikirkan berbagai hal yang dapat mendorong pertumbuhan pembelajaran saintifik agar dapat membantu siswa dalam memperoleh pengetahuannya. Setelah membaca pemaran Prof. Diatas bahwa saintifik tidak melulu tentang 5M namun yang lebih penting lagia adalah merumuskan masing-masing 5M dengan menggunakan intuisi dan pengetahuan intuitif serta perpijak dengan menggunakan saintisme ideal dan saintisme realis. Terima Kasih Prof.

    ReplyDelete
  96. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang sungguh bermakna di atas. Sejujurnya, mungkin istilah-istilah yang ada pada bacaan di atas sebagian besar belum pernah saya dengar dan tahu, jikalau saya belum mengikuti kuliah bapak tentang Narasi Besar atau perjalanan panjang sejarah filsafat. karena saat itulah saya baru tahu makna mendasar dari pemikiran saintifik. Jika mengingat lagi, Auguste compte hanya ingin menghentikan perdebatan para filsuf tentang pemikiran-pemikiran mereka. Dia hanya memikirkan bagaimana cara membangun dunia tanpa memperdebatkan apa yang memang sulit disatukan. Kesalahan Compte adalah dia berargumen bahwa dunia harus dibangun tanpa adanya agama karena agama dinilai tdak logis dan tidak cocok. Dia mengutamakan positivistik/ saintifik, kemudian filsafat, baru kemudian agama. Jika dilihat dari makna dasar Ontologi, “ontos” berarti ada/ keberadaan atau secara istilah ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat makhluk hidup/ metafisika umum. Artinya kita harus mampu memahami disebalik kata Saintifik. Rasanya memang mengutamakan logika atau pikiran, namun bagi Compte agama adalah aspek terakhir yang dibutuhkan karena pada dasarnya dia tidak percaya dengan Tuhan. Padahal, sebenar-benar diriku adalah ibadahku. Jadi urusan dunia dan akhirat adalah hal yang harus diseimbangkan dan ini juga menjadi tantangan bagi guru bagaimana saintifik ini tetap mampu dterapkan dalam pembelajaran di sekolah namun tetap dengan berlandaskan aspek spiiritualitas. Waallahu’alam bishowab

    ReplyDelete
  97. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Terimaksaih Pak atas pemaparan sejarah awal adanya saintifik. Sungguh saya baru mnegetahuinya ternyata saintifik terbagi menjadi dua, yaitu saintifik ideal dan saintifik realis. Dan menurut Pak Marsigit, saintifik yang diterapkan pada kurtilas adalah saintifik realis yaitu objek-objeknya berada di luar pikir maka objeknya dapat diamati dan dapat dipersepsi, sedangkan saintifik ideal objek-objeknya berada di dalam pikir jadi objeknya tidak dapat diamati. Saya setuju dengan pendapat Bapak, karena dalam sintak pembelajaran kurtilas biasa tercantum objek yang harus diamati oleh siswa. Objek yang tercantum dalam sintak tersebut objek-objek yang diluar pikir, sehingga memudahkan siswa dalam mengamati dan juga sesuai dengan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  98. Dalam tulisan ini saya mempelajari banyak istilah yang jarang digunakan dalam bahasan kehidupan sehari-hari, saya mempelajari istilah-istilah baru, terimaksih bapak, di tulisan ini saya mempelajar tentang :
    Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism (objek dari dalam pikiran), Realisme dan Empirisisme (objek di luar pikiran), Saintisisme (gabungan di luar dan di dalam), Positivisme, religiusitas dan humaniora, Saintifik, Saintifisme
    Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer, Logisisme, Formalisme,
    Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme, Logika Pikir dan pengalaman, Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme, sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu, sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu, Hermenitika ilmu, bersifat Sintetik a priori, Ontologi dan Epistemilogi Ilmu, Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi)

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  99. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala pemikiran yang ada di dunia ini akan membentuk teori-teori yang nantinya dapat digunakan oleh orang lain dalam menyampaikan pemikirannya. Tidak ada pemikiran yang salah asalkan pemikiran tersebut dapat disampaikan alasannya dan sebabnya. Setiap orang memiliki pendaptnya sendiri terhadap suatu keadaan dan hasil pemikiran tentang keadaan tersbeut akan menjadi filsafat bagi dirinya.Begitu juga dengan pendekatan saintifik merupakan hasil pemikiran filsof yang digunakan dalam pebelajaran di Indonesia. Pendekatan saintifik dapat menjadi pendekatan yang dipilih karena memiliki beberapa karakteristik yang tentu saja dapat menjadikan siswa menjadi lebih berpikir kritis dan mandiri.

    ReplyDelete
  100. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dalam ontologi saintifik ini dijelaskan bagaimana proses pembelajaran saintifik, kebedaraannya dalam pendidikan seperti apa. Pendekatan saintifik adalah salah satu pendekatan yang digunkan dalam rangka implementasi kurikulum 2013. Dimana dalam perubahan kurikulum saat ini, memnita guru untuk mengubah paradigma dalam proses pembelajaran. Implementasi kurikulum 2013 membutuhkan perubahan paradigma pembelajaran dari pembelajaran konvensional.

    ReplyDelete
  101. Anisa Safitri
    17701251038
    PEPB

    Pembelajaran kurikulum 13 menggunakan pendekatan saintifik, Disebutkan bahwa secara ontologis, melalui sintak-sintak pendekatan Saintifik akan membimbing siswa untuk menemukan, memperkokoh dan mengembangkan kategori berpikir sebagai unsur dasar pengetahuannya, yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat; serta dilandasi secara kokoh sensasi pengalamannya, dengan kesadaran bahwa sensasi pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori. impletasi pembelajaran kurikulum 2013 yang membutuhkan pikiran terbuka dan paradigma yang ahrus diperluas adalah salah satu kunci yang harus dimiliki oleh seornag guru untuk melaksanakan dan menerapkan dalam proses pembelajaran dalamkelas.

    ReplyDelete
  102. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Ontologi adalah teori mengenai apa yang ada, dan membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh suatu perwujudan tertentu. Eksistensi dari entitas-entitas matematika juga menjadi bahan pemikiran filsafat. Adapun metode-metode yang digunakan antara lain adalah abstraksi fisik yang dimana berpusat pada suatu objek, abstraksi bentuk adalah sekumpulan objek yang sejenis, abstraksi metafisik adalah sifat objek yang general.

    ReplyDelete
  103. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Saintifisme adalah gabungan dari aliran realisme dan empirisme, dengan objek ilmunya meliputi sesuatu ada dan yang mungkin ada, serta meliputi apa yang ada dalam pikiran dan diluar pikiran. Manusia akan mati saat mereka berhenti berfikir, saat berhenti berfikir maka mere akan termakan mitos, mitos adalah kebiasaan berulang-ulang tanpa adanya pembuktian tetapi sudah dianggap menjadi sesuatu yang benar. Manusia juga akan mati saat dia menghakimi diri sendiri ataupun orang lain dengan sebuah mitos. Hidup adalah bagaiman tentang kita berfikir dan terus berkembang karena ilmu terletak diperbatasan

    ReplyDelete
  104. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Terimakasih Prof untuk informasinya
    Lagi-lagi pengembangan pengetahuan yang menjadikan seseorang memiliki intuisi yang lebih baik
    Dan dalam ontology Saintifik ini penjelasan yang sulit namun lebih mudah dipahami dibanding buku2 yang lain

    ReplyDelete
  105. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami, kecerdasan dalam belajar matematika dapat berupa kecerdasan Intuitif dan refektif, dua kecerdasan ini sangat penting sehingga perlu dibangun dalam memperoleh skema yang akan dibentuk siswa dalam pemahamannya terhadap suatu konsep. Dengan menggunakan pendekatan saintifik diharapkan mampu mengarahkan siswa untuk menemukan skemanya tersebut dalam memahami suatu konsep, melalui intuisi siswa, akan diarahkan ke bentuk matematika yang formal.

    ReplyDelete
  106. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Kurikulum 2013 mengarahkan pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Atau bisa juga disebut dengan aliran saintisisme. aliran ini berusaha untuk menggabungkan dua hal yang saling bertolak belanang. meskipun sebenarnya, dari perbedaan iu muncullah sesuatu yang padu dan lebih baik. saintisisme melibatkan dua unsur yaitu perlunya olah pikir dan olah pengalaman. olah pikir ditekankan pada hal-hal yang idea. sedangkan olah pengalaman menekankan pada hal-hal yang bisa dipahami karena dengan adanya pengalaman.

    ReplyDelete
  107. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)."
    Kalimat penutup postingan ini sungguh menggelitik bagi saya. Secerdas-cerdasnya seseorang, tiadalah arti ilmunya jika ia tidak memiliki sopan santun. Saya setuju dengan pendapat tersebut. Sopan dan santun itu dapat diajarkan mulai dari kehidupan di keluarga dan sekolah. Kurikulum dengan pendekatan saintifik kurang memperhatikan sopan santun, bahkan di Indonesia, pendidikan agama dan kewarganegaraan kurang dapat dilihat dalam kegiatan belajar sehari-hari. hal ini lah yang harus menjadi fokus guru jika pendekatan ini dilaksanakan. Guru harus lebih memperhatikan pengajaran sopan santun dalam kehidupan sehari-hari.

    ReplyDelete
  108. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    Sikap skeptis merupakan sebuah paham yang mengajarkan manusia untuk curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain. Dengan kata lain skeptis adalah sikap untuk meragukan kebenaran sesuatu yang bersifat mengandung informasi. Di era keterbukaan saat ini, kita perlu membangun sikap skeptis secara positif terkait banyaknya informasi yang kita terima di berbagai media dan diambil manfaat yang positif.

    ReplyDelete
  109. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Intuisi merupakan sesuatu yang dimiliki oleh manusia, terlepas kuat tidaknya atau tajam tidaknya intuisi seseorang. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Hal ini perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran. Ini juga yang mungkin menjadi pertimbangan dalam penggunaan pendekatan Saintifik dalam kurikulum 2013. Pendekatan Saintifik diharapkan mampu untuk memberi ruang agar siswa dapat mengembangkan kemampuan berpikirnya sendiri melalui intuisi dan berbagai pengalaman serta pengetahuannya untuk mengkonstruk pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  110. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Intuisi yang baik dapat menghasilkan keputusan yang baik pula. Pembelajaran di sekolah tidak hanya meingkatkan kecerdasar intuitif saja, tetapi juga kecerdasan reflektif agar siswa mampu mengevaluasi apa saja yang sudah ia dapatkan baik disekolah maupun di lingkungan luar sekolah.

    ReplyDelete
  111. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs P.Mat C

    membaca tentang skeptis saya jadi ingat pesan dosen S1 saya "sebagai seorang statistik kita tidak boleh sepenuhnya percaya terhadap sesuatu, harus ada kecurigaan minimal 5%". jadi kita tidak boleh menerima sesuatu tanpa mencurigainya, kita harus mencari/ meneliti kemungkinan erornya, termasuk dalam menerima ilmu, kita juga boleh mencurigainya apakah sudah benar atau belum, itu akan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis kita.

    ReplyDelete
  112. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Terdapat 2 macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Saintifisme Ideal bersifat abstrak atau di dalam fikiran yang berasal dari logika pikir dan dianut oleh kaum Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, dan Absolutisme. Sedangkan Saintifisme Realis bersifat real yang berasal dari logika pengalaman dan dianut oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme.
    Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 lebih mengarah pada saintifisme Realis,dimana objek-objek yang dipelajari dapat teramati atau berada di luar pikiran.

    ReplyDelete
  113. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Skeptisme merupakan paham yang meragukan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Paham ini, mengajarkan kita untuk terus menerus mempertanyakan sesuatu yang belum ada kepastiannya. Paham ini merupakan dasar dari pendekatan saintifik yang meminta siswa untuk menanya dan melakukan kegiatan eksperimen. Selain itu, bertanya merupakan awal pintu masuknya sebuah pengetahuan.Terimaksih

    ReplyDelete
  114. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Skeptisisme merupakan paham yang memandang sesuatu selalu tidak pasti (meragukan, mencurigakan) atau dengan kata lain paham yang memandang ketidakpercayaan atau keraguan seseorang tentang sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Skeptisisme perlu dimunculkan dalam pembelajaran saintifik karena salah satu konsep dalam pembelajaran saintifik adalah menanya. Dengan adanya skeptisisme maka peserta didik terus bertanya-tanya kebenaran dari suatu ilmu yang kemudian ia akan berusaha mencari tahu kebenarannya.

    ReplyDelete
  115. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Metode saintifik merupakan salah satu metode pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum 2013. Dalam pandangan filsafat, metode saintifik yaitu apapun dari setiap konsep, maka terdiri dari forma (wadah) dan substansi (isi). Wadahnya berupa kategori berpikir dan substansinya berupa sensasi pengalaman. Kategori berpikir merupakan unsur dasar yang dengan kegiatan berpikir akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pada pendekatan saintifik diharapkan subyek belajar akan mampu menemukan dan mengembangkan kategori berpikir sebagai unsur dalam setiap ilmu.

    ReplyDelete
  116. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Ontologi saintifik adalah objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Keberadaan saintifik adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh karena itu, ontologi saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  117. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Seorang peserta didik memang diharusnkan memiliki kemampuan yang sesuai dengan apa yang menjadi keinginan dari seorang guru. Namun, keharusan mereka disini tidak berarti keharusan yang harus di capai, namun saya memberi makna keharusan disini adalah sebagai tuntutan yang menjadi tolak ukur perkembangan kemampuan mereka. Seorang guru jika hanya berorientasi dimana mereka harus memberikan yang terbaik dan menuntut pemahaman mereka, maka kemungkinan sedikit siswa itu paham apa yang mereka kerjakan. Namun jika guru mengajar dengan ikhlas dan tidak mengharapkan terlalu tinggi terhadap kepintaran peserta didik, maka kemungkinan besar peserta didik akan memahami apa yang mereka terangkan. Karena pada dasarnya kepintaran seorang peserta didik bukan dari optimisme guru mengajarkan mereka, namun keikhlasan seorang guru dalam memberikan ilmu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  118. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Ternyata saintifik tidak hanya sebatas 'saintifik' saja. Dalam tulisan ontologi saintifik, saya menemukan bahwa ada saintifik ideal dan saintifik realis. Sintifik realis adalah yang disebut sebagai pendekatan saintifik karena obyeknya berada diluar pikiran sehingga dapat diamati dan diobservasi.

    ReplyDelete
  119. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Pendekatan saintifik dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada siswa dalam mengenal, memahami berbagai materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari mana saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru (Daryanto, 2014: 51). Penggunaan pendekatan saintifik dalam pembelajaran memiliki banyak tujuan. Pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 yang diterapkan di Indonesia menjabarkan langkah-langkah pembelajaran tersebut menjadi lima kegiatan belajar yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasikan/ mengolah informasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  120. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Metode saintifik merupakan metode yang biasanya digunakan oleh para ilmuwan dalam menemukan pengetahuan atau teori maupun konsep. Dalam konteks pembelajaran, metode saintifik sangat penting digunakan untuk mengembangkan cara-cara berpikir dan bekerja secara ilmiah. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik dapat juga dipahami sebagai pembelajaran yang terdiri atas kegiatan unuk mengamati, menanya atau merumuskan pertanyaan, mengumpulkan informasi dengan satu atau lebih teknik, menalar atau mengasosiasi, dan mengomunikasikan jawaban atau kesimpulan.

    ReplyDelete
  121. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007
    Kurikulum 2013 saat ini menggunakan kurikulum yang dijiwai dengan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik ini menggunakan aliran saintifisme. Aliran ini adalah aliran yang berusaha menyatukan hal yang bertolak belakang, yaitu aliran idealism yang berakar pada pikiran dan aliran realism yang berakar pada kenyataan. Misalnya saja, dalam pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik, dimana siswa diminta untuk mengamati hal-hal yang berhubungan dengan materi. Pada siswa SMP biasanya pada tahap mengamati, siswa dimita megamati benda-benda konkret. Kemudian pada tahap asosiasi, siswa akan mencari postulat pikir yang bersesuaian dengan pengalamannya. Setelah melakukan asosiasi, siswa akan menemukan konsep materi. Dalam pembelajaran, guru sebaiknya dapat memfasilitasi ssiwa dalam menghubungkan antara pikiran dan kenyataan.

    ReplyDelete
  122. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang sudah Bapak share kepada kami. jujur saya baru medengar sikap skpetis, dan tertarik dengan sikap skpetis, dari artikel tersebut Sikap skeptis merupakan sebuah paham yang mengajarkan manusia untuk curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain. Dengan kata lain skeptis adalah sikap untuk meragukan kebenaran sesuatu yang bersifat mengandung informasi. Di era keterbukaan saat ini, kita perlu membangun sikap skeptis secara positif terkait banyaknya informasi yang kita terima di berbagai media dan diambil manfaat yang positif. jadi menurut saya dengan adanya sikap skpetis pada diri siswa, maka diharapkan siswa mempunyai rasa ingin tahu yang tingi terhadap sesuatu, sehingga pendekatan saintifik akan sangat berguna disini, diharapkan guru juga dapat memfasilitasi rasa ingin tahu siswa dengan memberikan jawaban yang memuaskan pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  123. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Kurikulum 2013 menggunakan metode saintifik. Metode saintifik ini berasal dari aliran saintisisme yang merupakkan gabungan dari aliran realisme dan empirilisme. Kedua aliran ini memiliki perbedaan yaitu idealisme berpusat pada pikiran sedangkan empirilismme berpusat pada kenyataan. Dari kedua paham ini melahirkan langkah-langkah saintifik yang dikenal 5M yaitu mengamati, menganalisa, menanya, mengasosiasikan dan juga mempresentasikan.

    ReplyDelete
  124. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Terima kasih Prof. Berdasarkan artikel di atas, ada dua macam saintifisme yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis. Saintifisme ideal memiliki sifat abstrak atau didalam pikiran yang berasal dari logika pikir. Sedangkan saintifisme realis memiliki sifat real yang berasal dari logika pengalaman. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan pada kurikulum 2013 lebih mengarah pada saintifisme realis yaitu untu objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Hal tersubut selaras dengan langkah-langkah pembelajaran saintifik yang kita ketahui yaitu mengamati, menanya atau merumuskan pertanya, mengumpulkan informasi, menalar atau mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  125. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas artikelnya, Prof. Saya semakin mengetahui pendekatan saintifik. Pendekatan ini dicanangkan kurikulum 2013, di mana sintaks metode ini adalah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengomunikasikan, dan mencipta. Metode ini sering dipadupadankan dengan model discovery learning, inquiry learning, Problem Based Learning, Project Based Learning maupun yang lain.

    ReplyDelete
  126. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Dari artikel di atas, saya belajar bahwa pendekatan saintifik yang melandasi Kurikulum 2013 lebih mengarah kepada saintifisme realis yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Hal ini menurut saya relevan dengan kenyataan nyata pada kehidupan ini, bahwa dalam menyelesaikan permasalahan tidak ada yang berbentuk model. Jadi, dengan ilmu seperti misalnya matematika, permasalahan nyata di alam ini dapat dimodelkan dan disederhanakan agara dapat diselesaiakn dengan lebih mudah. Dengan adanya pendekatan saintifik ini diharapkan dapat melatih siswa berpikir kritis dan mempunyai pengalaman yang mumpuni untuk dapat menyelesaikan permasalahan nyata di kehidupan ini.

    ReplyDelete
  127. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Dari artikel yang dituliskan oleh Prof diatas, saya memperoleh informasi baru yang sangat menarik. Yaitu dimana saintifisme itu dibedakan menjadi 2: saintifisme ideal dan saintifisme realis. Saintifisme idealis jika objeknya berada didalam pikir (tidak dapat diamati) sedangkan saintifisme realis jika objeknya berada diluar pikir (dapat damati/dipresepsi). Namun pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Sintifik realis kemudian disebut dengan pendekatan saintifik yang menggunakan objek-objek pengalaman atau benda konkrit sebagai bahan observasinya. Sebagai contoh dalam menggunakan langkah-langkah saintifik tentang mengamati. Kegiatan mengamati yang ada cukup tertulis pada buku siswa, hal tersebut terjadi karena belum dibedakan antara saintifik realis dan saintifik idealis. Sedangangkan untuk tingkat SD sampai awal SMP guru sudah tidak ragu lagi dalam memberikan kegiatan mengamati, karena objek yang dijadikan bahan pengamatan adalah benda konkrit (objek pengalaman).

    ReplyDelete
  128. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015


    Dari artikel di atas terdapat sebuah kalimat yang menyatakan bahwa pendekatan saintifik adalah sebutan lain dari saintifik realis yang mendasarkan pada objek pengalaman. Karena pada pendekatan saintifik sendiri di dalamnya diterapkan objek-objek pengalaman atau benda-benda konkrit sebagai bahan observasinya. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki kaitan dengan kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, hendaknya dalam kegiatan pembelajaran guru mengajak siswa untuk terlibat secara langsung (aktif) sehingga pembelajaran akan bermakna bagi siswa dan akan memudahkan siswa dalam belajar matematika karena konsep-konsep matematika dipahami dengan baik.

    ReplyDelete
  129. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam kurikulum 2013 pembelajaran diterapkan dengan metode saintifik, yang mana terdiri dari 5 langkah yaitu Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Mengasosiasi, Mengomunikasikan. Terdapat 2 macam saintifisme yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis. Saintifime ideal ini memiliki sifat abstrak. Sedangkan saintifisme realis ini memiliki sifat real atau nyata yang berasal dari logika pengalaman.

    ReplyDelete
  130. Yolanda Lourenzia Tankwele
    15301241033
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pendidikan di Indonesia menggunakan kurikulum 2013 dimana didalamnya menggunkan pendekatan saintifik yang tidk lain berada pada aliran saintifisme. dimana aliran saintifisme ini berdasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisme yang berarti pendekaan saintifik ini ada pada pendektan ilmiah, mungkin hal inilah yang mendasari sintaks pendekatan saintifik menjadi 5M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  131. Bayu Widyanto
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244010

    Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang diterapkan pada kurikulum 2013. Pendekatan ini menggunakan syntak 5M dan pembelajarannya yang berpusat pada siswa. Pendekatan ini menggunakan aliran saintisisme. Saintisisme ini memiliki dua macam yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis. Pada kurikulum 2013 pengimplementasiannya menggunakan pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis yaitu untuk objek-objek yang teramati. Pendekatan saintifik ini juga sering divariasi atau digabungkan dengan pendeketan/metode/model yang lain.

    ReplyDelete
  132. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Setelah membaca postingan Pak Prof. Marsigit ini saya menjadi tahu mengenai dasar filsafat pendekatan saintifik--pendekatan pembelajaran pada Kurikulum 2013. Bahwa pendekatan saintifik berdasarkan pada aliran-aliran positivisme (menolak tesis-tesis ilmu humaniora/non-ilmiah) dan skeptisisme (ilmiah) yang mempertanyakan klaim-klaim yang tidak memiliki bukti yang kuat. Kemudian, yang menjadi pertanyaan saya adalah, apakah pendekatan saintifik ini tetap relevan untuk digunakan dalam pembelajaran religiusitas atau humaniora (misal: IPS, PKn, Sejarah, Sosiologi, dll) mengingat aliran yang menjadi dasar dari pendekatan saintifik sama-sama menolak tesis-tesis ilmu humaniora?
    Terima kasih

    ReplyDelete
  133. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Postingan yang sangat menarik. Postingan ini mengemukakan awal dan filsafat mengapa kurikulum 2013 dengan pendekatan saintifik diperlukan. Hal ini dikarenakan manusia belajar lewat intuisi dan dilakukan secara bertahap. Pendekatan tersebut dapat membantu siswa memahami hal-hal abstrak melalui hal yang konkrit. Beberapa siswa lebih mudah memahami sesuatu ketika berhubungan dengan benda atau hal konkrit seperti dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pendekatan saintifik sangat diperlukan karena terdapat sintak dan konteks yang sesuai.

    ReplyDelete
  134. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih prof atas artikel yang bermanfaat. Setelah saya membaca artikel yang prof bagikan, saya menjadi lebih paham tentang abagaimana ontology dari saintifik. Saintifik saat ini diterapkan pada kurikulum 2013. Pembelajaran dengan metode saintifik dimulai dari langkah mengamati kemudian dilanjutkan ke kegiatan menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  135. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Terimakasih atas artikelnya Prof.
    Berdasarkan tulisan Prof, pengetahuan saya jadi bertambah. Ternyata, untuk mengembangkan teori-teori belajar mengajar diperlukan pemahaman intuisi yang sangat baik. Manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan intuisi dari lahir, yaitu intuisi pikir dan intuisi empirik. Dengan berjalannya waktu, intuisi tersebut berkembang seiring manusia itu tumbuh dalam interaksi dengan lingkungannya. Nah, intuisi inilah yang akan menjadi pondasi para ahli untuk membentuk teori-teori belajar.
    Mohon maaf Prof apabila ada salah.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  136. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Terimakasih atas artikelnya Prof.
    Berdasarkan tulisan Prof, pengetahuan saya jadi bertambah. Ternyata, untuk mengembangkan teori-teori belajar mengajar diperlukan pemahaman intuisi yang sangat baik. Manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan intuisi dari lahir, yaitu intuisi pikir dan intuisi empirik. Dengan berjalannya waktu, intuisi tersebut berkembang seiring manusia itu tumbuh dalam interaksi dengan lingkungannya. Nah, intuisi inilah yang akan menjadi pondasi para ahli untuk membentuk teori-teori belajar.
    Mohon maaf Prof apabila ada salah.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  137. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  138. PM
    Alvi Khoirunnisak
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241012

    Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik, merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Faktor lain bisa jadi karena guru belum siap menerapkan metode saintifik. Sehingga Guru terkesan terlalu melepaskan siswa, dan kurang maksimal dalam perannya sebagai fasilitator. Maka perlu adanya sistem pendidikan yang jelas, serta mungkin untuk guru-guru yang sudah lama mengajar agar diberikan pembekalan pemelajaran saintifik secara baik.

    ReplyDelete
  139. Lisfiyati Mukarromah
    15301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2015


    Terimakasih Prof sudah menjelaskan tentang ontologi saintifik.
    Saya mendapatkan ilmu baru bahwa sebenarnya pendekatan saintifik bisa dibedakan menjadi 2 yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis.
    Pendekatan saintifik yang diimplementasikan pada kurikulum 2013 hanyalah pendekatan yang diturunkan dari saintifik realis, yaitu obyek yang diamati berupa benda konkret.
    Pengamatan benda-benda konkret masih relevan jika diterapkan pada siswa pada tingkat SD karena tahap berpikirnya masih konkret. Tetapi bagaimana dengan pembelajaran matematika di SMA? Kebanyakan guru menggunakan kasus pada buku teks sebagai obyek pengamatannya karena pada kurikulum 2013 belum dibedakan antara saintifik realis dan saintifik ideal.
    Terimaksih.

    ReplyDelete
  140. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih prof, dengan ini saya menjadi sedikit tahu mengenai dasar filsafat pendekatan saintifik. Dan saya juga sependapat bahwa guru matematika di sekolah ketika menggunakan pendekatan Saintifik kurang menyuruh siswa untuk mengamati, karena terkadang objeknya abstrak. Sedangkan untuk jenjang yang lebih rendah, missal SD dan SMP guru tidak ragu utnuk menyuruh siswa melakukan pengamatan langsung, karena objeknya yaitu benda-benda yang kongrit. Sebaiknya sebagai seorang guru, tetap memberikan kesempatan siswa sesuai dengan langkah-langkah pada pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  141. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Segala hal di dunia ini, termasuk ilmu pengetahuan dan peradaban manusia adalah ciptaan Allah SWT. Asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora tentu sangat keliru. Kurrikulum 2013 yang saat ini mendasari jalannya pendidikan di Indonesia menginginkan metode pembelajaran saintifik, yang berakar dari filsafat Positivisme dan Skeptisisme sebagai metode konvensionalnya. Tapi pembelajaran di Indonesia masih berdasarkan kekaguman dan rasa syukur pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  142. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saintifik merupakan pendekatan yang digunakan pada kurikulum 2013. Objek pada saintifik untuk kelas rendah (SD dan SMP) adalah benda-benda kongkrit. Pada pendekatan ontologis terdapat sintaks “mengasosiasi” yang secara ontologis berari mencari postulat-postulat hasil pemikiran yang sesuai dengan pengalaman. Hal tersebut yang nantinya akan menjadi “Konsep” (Pengertian) yang tertanam pada diri anak. Sebagai guru perlulah menyadari ontologis tersebut, agar tidak salah memberikan persepsi bagi anak didiknya. Saya tertarik dengan kalimat “Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu.”. Hal tersebut berarti untuk memahami berbagai hal seseorang perlulah terus belajar dan belajar. Selain itu, terdapat kalimat yang dapat saya simpulkan bahwa sopan santun merupakan kunci utama bagi orang cerdas sebagai tanda bahwa ia telah mampu menembus Ruang dan Waktu yang benar.
    Terimakasih Prof atas informasinya.

    ReplyDelete
  143. Amayda Ade Pramesti
    15301244012
    S1 Pend.Mat A 2015

    terimakasih Prof untuk postingannya menganai ontologi sanitifik. dari sini saya semakin mengetahui santifik secara luas. pendekatan saintifik yang memiliki sintak 5m yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar dan mengkomunikasikan. kurikulum terbaru di Indonesia yaitu kurikulum 2013 menggunakan saintifik untuk dasar pengajarannya. terdapat 2 macam saintifisme yaitu santifisme ideal dan saintifisme realis

    ReplyDelete
  144. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof, informasi yang sangat bermanfaat. Dari artikel yang telah disampaikan oleh Prof. Marsigit saya mengetahui bahwa ternyata saintifik dibedakan menjadi dua yaitu realis dan idealis. Selain itu dalam tahap mengamati dalam pendekatan saintifik juga dibedakan menjadi dua yaitu abstraksi dan idealisasi.

    ReplyDelete
  145. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terima kasih Prof atas ilmunya. Dengan membaca artikel yang profesor tulis, saya menjadi semakin mengerti mengenai ontologi saintifik. Ontologi didefinisikan sebagai cabang filsafat ilmu yang membicarakan tentang hakikat ilmu pengetahuan. Dari artikel yang profesor tulis, saya dapat mengetahui bahwa objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan saintifisme sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis

    ReplyDelete
  146. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Salah satu akar dari pendekatan saintifik ternyata adalah skeptisisme, dimana pada pendekatan saintifik ini terdapat tahap menanya, dimana rasa penasaran dan pikiran kritis siswa dikembangkan. Pembelajaran saintifik terdiri dari dua yaitu Saintifik Ideal dan Saitifik Realis. Pembelajaran saintifik memiliki tahap mengamati objek dan tahap asosiasi, dimana pada tahap asosiasi ini siswa mencoba mencari "postulat" yang tepat berdasarkan pengalamannya. Kegiatan observasi/mengamati diawali dengan tingkat kesadaran akan objek yang akan diamati sehingga peserta didik mempunyai daya sensibilitas observasi. Oleh karena itu apersepsi diperlukan agar siswa siap dan terbantu untuk mengaitkan pembelajaran yang akan dilakukan dengan pengalaman yang telah ia peroleh. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan representasi dari objek teramati yang berupa persepsi objek teramati.

    ReplyDelete