Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


47 comments:

  1. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang wajib di gunakan pada pembelajaran di sekolah baik sekolah dasar maupun sekolah menengah, berdasarkan aturan kurikulum 2013. Dalam antitesis yang diungkapkan oleh prof. Marsigit diatas bahwa fakta, khayalan maupun dongeng yang terjadi di masyarakat bisa dijadikan pengetahuan untuk memperkuat logika dan memperkaya pengalaman. Selain itu pendekatan saintifik dapat diselenggarakan melalui kerangka kontruktivisme yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman ditemui di lingkungannya. Sehingga pendekatan saintifik merupakan hal-hal yang bersifat ilmiah yang yang dibentuk melalui pengamatan dan kegiatan sehari-hari siswa yang bersinggungan dengan lingkungan sekitarnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Seperti yang dikatakan oleh Saudari Tiwi bahwa "Pendekatan saintifik merupakan hal-hal yang bersifat ilmiah yang yang dibentuk melalui pengamatan dan kegiatan sehari-hari siswa yang bersinggungan dengan lingkungan sekitarnya". Hal tersebut sepertinya berkaitan dengan ilmu pengetahuan yang terkontruks melalui pengalaman sadar siswa atau orang-orang yang terlibat di dalamnya.

      Delete
  2. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Sangat menarik sekali pak tulisan di atas. Kalimat yang sangat saya perhatikan adalah yang mengatakan bahwa "sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada pada ruang dan waktu yang benar." Saya sangat setuju sekali dengan kalimat tersebut. Karena sepandai apapun kita, sehebat apapun pembelajaran dan ilmu yang kita miliki, jika kita tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu tidak ada artinya tanpa memiliki akhlak yang baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Terkait komentar saudari Rosi, bahwa "sepandai apapun kita, sehebat apapun pembelajaran dan ilmu yang kita miliki, jika kita tidak bisa menempatkan diri sesuai dengan ruang dan waktu tidak ada artinya tanpa memiliki akhlak yang baik". Hal tersebut sepertinya mengarah kepada keseimbangan teori dan praktik yang dikerjakan oleh seseorang demi mencapai aktivitas yang berfaedah dan ridho Allah SWT.

      Delete
  3. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait topik bahasan mengenai Ontologi Saintifik bahwa ilmu yang membahas tentang hakiket sesuatu yang ada/berada atau dengan kata lain artinya ilmu yang mempelajari tentang “yang ada” atau dapat dikatakan berwujud dan berdasarkan pada logika. serta Pendekatan saintifik bukan metode pembelajaran, tetapi lebih berperan dalam langkah-langkah dalam proses pembelajaran. Yang didalamnya bisa juga dipadukan dengan metode-metode pelajaran. Biasanya pendekatan ini lebih cocok di terapkan dalam kerja kelompok, jadi sebelum sampai ke kegiatan proses pembelajaran peserta didik sudah di kelompokan terlebih dahulu. sehingga ontologi saintifik adalah hakikat dari saintifik baik dari segi manfaat, fungsi maupun defimisi.

    ReplyDelete
  4. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Seseorang akan mengalami beberapa hal untuk kemudian memahami benar dan salah. Artinya, seseorang akan mengalami proses untuk melakukan konstruksi terhadap ilmu pengetahuan. Jika manusia sudah memahai atau sudah memperoleh ilmu pengetahuan, maka, dia akan dengan mudah memisahkan mana benar dan mana salah.

    ReplyDelete
  5. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Postingan ini menggambarkan alur dari filsafatnya saintifik. Betapa pentingnya ilmu filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika para pakar keilmuan, psikolgi dsb tidak dapat menjawab pertanyaan kapan manusia memiliki intuisi pikir dan intuisi pengalaman, maka filsafat dengan pendekatan ontologinya para filsuf mampu menjawabnya sebagai fatal (takdir) dan vital (ikhitar).

    ReplyDelete
  6. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Berkaitan dengan pendekatan saintifik, dari postingan ini Saya menjadi tahu bahwa sebenarnya saintifik itu ada dua yaitu saintifik idealis dan saintifik realis. Namun, dalam kurikulum 2013 yang digunakan adalah saintifik realis yang kemudian disebut sebagai pendekatan saintifik saja. Menurut saya saintifik realis ini justru akan membantu guru dalam mengarahkan siswa dalam membangun suatu konsep. Karena berawal atau bertolak dari pengalaman-pengalaman siswa. Pengalaman siswa disini bukan berarti sesuatu yang sudah dilakukan siswa tetapi bisa juga berupa pengetahuan awal yang dimiliki siswa. Jadi pendekatan saintifik yang demikian sangat mendukung pada matematika sekolah yang ramah dan dibangun berdasarkan intuisi-intuisi siswa.

    ReplyDelete
  7. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Saintifik mengabungkan realisme dan emperisme.. Dalam proses pembelajaran untuk memperoleh pembenaran dan asal usul dari ilmu pengetahuan, saintifik sangat mendukung..Saintifik memakai pendekatan ilmiah dalam membuktikan dan memperoleh suatu pengetahuan serta kesempatan kepada siswa dalam membangun pengetahuan melalui pengalaman dan intuisinya..Namun pendekatan saintifik perlu didampingi dengan pendekatan spritual, karena dalam kehidupan ini terdapat hal-hal atau dimensi kehidupan yang tidak bsa dipecahkan oleh akal pikir manusia..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Terkait komentar pak Samsul, bahwa "pendekatan saintifik perlu didampingi dengan pendekatan spritual, karena dalam kehidupan ini terdapat hal-hal atau dimensi kehidupan yang tidak bsa dipecahkan oleh akal pikir manusia", hal tersebut sepertinya mengarah pada penekanan nilai dari penerapan atau penanaman konsep dari pendekatan saintifik yang berkorelasi dengan pendekatan spiritual.

      Delete
  8. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Kelompok skeptis berpendapat bahwa manusia tidak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu yang ada disekitarnya bahkan mengenai diri sendiri sehingga manusia tidak benar-benar mengetahui apa yang benar dan apa yang salah. Manusia hanya bisa berusaha mencari bukti mengenai yang salah dan benar, namun tidak akan bisa benar-benar menemukannya. Mereka hanya mendekati benar belum sampai dalam sesuatu yang benar karena kebenaran tersebut hanyalah milik Yang Maha Tahu segalanya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  9. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Setiap pertanyaan pasti ada jawaban. Namun setiap ada pertanyaan belum tentu bisa menjawabnya. Misalnya saja ada pertanyaan mengapa manusia mampu berpikir? Bagaimana wujud pemikiran tersebut? sejak kapan manusia mempunyai intuisi pikir dan intuisi pengalaman? dan lain sebagainya. pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak akan mudah untuk dijawab. Namun hal tersebut bisa diatasi menggunakan pendekatan ontologi dan epistemologi ilmu. secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus ruang dan waktu. Orang dapat menembus ruang dan waktu yang benar merupakan orang yang cerdas.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  10. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Keberadaan saintitisme adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh kare itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  11. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Dalam elegi tersebut dikatakan bahwa dengan Ilmu Pengetahuan seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antar lain adalah mengambil keputusan/judgment secara tepat dan bijaksana. Sehingga dapat dikatakan bahwa semakin tinggi atau semakin banyak Ilmu Pengetahuan yang dimiliki seseorang maka semakin bijaklah ia. Ilmu pengetahuan bukan hanya ilmu yang didapat dari bangku sekolah, Ilmu Pengetahuan dapat diperoleh seseorang dari pengalaman hidup yang dialaminya, maka tak heran jika terkadang seorang petani dapat berlaku lebih bijak dari pada seorang sarjana yang mengaku memiliki banyak Ilmu.

    ReplyDelete
  12. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Pendekatan saintifik berkaitan dengan pendekatan ilmiah yang memiliki objek pikir dan pengalaman. Saintifik diperlukan olah pikir dalam melakukan proses pembelajaran di kelas, selain itu pengalaman dalam saintifik menjadikan seorang guru mampu menghadapi segala kondisi dalam proses pembelajaran. Guru dalam menerapkan Pendekatan saintifik sangat bagus diterapkan sesuai dengan ruang dan waktu yang benar.

    ReplyDelete
  13. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Objek filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek filsafat berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Sebenar-benar filsafat adalah olah pikir. Saintifik yang memiliki arti ilmiah, seperti halnya para ilmuwan atau filsuf terdahulu menemukan temuan-temuannya berdasarkan konsep keilmiahan. Ilmuwan terdahulu sangat mengedepankan pendekatan saintifik dalam menghasilkan sebuah teori baru.

    ReplyDelete
  14. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Kurikulum 2013 merupakan pengusung metode pembelajaran berkerangka ilmiah (pendekatan saintifik) di sekolah. Pendekatan Saintifik merupakan salah satu metode Induksi (khusus menuju umum). Metode Saintifik yang bersifat induktif dipandang lebih cocok dengan dunia penemuan ilmiah (inquiry) dan dengan dunia anak-anak sekolah. Hal ini karena metode Saintifik berangkat dari telaah objek-objek kongkrit, melakukan investigasi, kemudian memperoleh pengetahuan baru atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya. Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis, yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

    ReplyDelete
  15. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Pendekatan saintifik merupakan pendekatan ilmiah yang bersifat induktif. Bergerak dari hal khusus menuju umum. Pendekatan saintifik seperti pendekatan inquiri dan discovery. Pendekatan saintifik tepat digunakan bagi siswa yang memiliki pengetahuan prasyarat yang cukup. Namun, tidak semua materi dalam pembelajaran matematika tepat menggunakan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  16. Luthfannisa Afif Nabila
    18709251031
    S2 Pendidikan Matematika B 2018
    Assalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
    Dalam postingan diatas dikatakan bahwa Logika Pengalaman didapatkan dengan cara membangun kesadaran. Nah, yang menjadi pertanyaan saya adalah bagaimana jika seseorang mempunyai pengalaman yang kurang baik lalu ia sadar akan pengalamannya tersebut, dan kemudian ke depannya dia terjebak lagi dalam pengalaman yang kurang baik tersebut padahal ia telah menyadarinya, bagaimana logika pengalaman memandang hal tersebut? Terima kasih.
    Wassalamu'alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

    ReplyDelete
  17. Kartianom
    18701261001
    S3 PEP 2018

    K-13 dengan pendekatan saintifik menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini berpusat pada siswa, guru hanya sebagai yang memberikan fasilitas dalam proses pembelajaran. Keaktifan siswa dapat dilihat dari sintak-sintak yang terdapat pada K-13, yang dimulai dari proses mengamati, menanya, menggai informasi, menalar, dan mengkomunikasikan.

    ReplyDelete
  18. Hendra B
    18701261008
    PEP S3 2018

    objek ilmu ada dua yaitu yang ada dan mungkin ada. Ada di dalam pikiran dan ada di dalam realitas. Pada dasarnya ontologi saintifik penggabungan dari dua pemikiran yakni realitas dan empirisme, untuk memperoleh ilmu adanya kesesuaian antara apa yang ada dipikiran dengan kenyataan. objek kajiannya adalah mengamati gejala-gejala yang yang ada secara empiris dan dan ada di dalam pikiran dibuatkan tesi tesis dan anti tesisnya sehingaga menghasilkan sintesa atau sintesis

    ReplyDelete
  19. Diana Prastiwi
    1809251004
    S2 P. Mat A 2018

    Secara ontologis, melalui sintak-sintak pendekatan Saintifik akan membimbing siswa untuk menemukan, memperkokoh dan mengembangkan kategori berpikir sebagai unsur dasar pengetahuannya, yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat; serta dilandasi secara kokoh sensasi pengalamannya, dengan kesadaran bahwa sensasi pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori. impletasi pembelajaran kurikulum 2013 yang membutuhkan pikiran terbuka dan paradigma yang ahrus diperluas adalah salah satu kunci yang harus dimiliki oleh seornag guru untuk melaksanakan dan menerapkan dalam proses pembelajaran dalamkelas.

    ReplyDelete
  20. Cinta Adi Kusumadewi
    18709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2018

    Mengenai pendekatan saintifik, dapat kita peroleh informasi bahwa pendekatan saintifik memiliki dua unsur yaitu saintifik aliran idealis dan saintifik aliran realis. Saintifik idealis merupakan konsep-konep saintifik yang ada di dalam pikiran yang didukung oleh pikiran secara rasional, sehingga konsep ini bersifat koheren dan absolut di dalam pikiran. Namun, saintifik realis, yang menjadi penerapan dari kurikulum 2013 saat ini adalah suatu pendekatan yang justru akan membantu guru dalam mengarahkan siswa dalam membangun suatu konsep melalui pengalaman sebagai unsur pembentuknya. Oleh karena berawal dari pengalaman-pengalaman siswa, yang kemudian akan menimbulkan intuisi manusia, hendaknya guru memiliki peran penting dalam menciptakan pengalaman bagi siswa, baik pengalaman dalam hidupnya, maupun pengalaman berpikir.

    ReplyDelete
  21. M. Ikhsan Ghozali
    19701261003
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Ingin tahu adalah kodrat manusia, demikian pernyataan Aristoteles. Ingin tahu ini tidak semata disadari melainkan diwujudkan menjadi pengetahuan. Dalam konteks filsafat, Plato menyatakan bahwa rasa ingin tahu ini bukanlah dalam pengertian secara umum (common sense), melainkan adanya "rasa kagum", terutama terhadap sesuatu yang sederhana dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Karena rasa kagum dimulai dari hal yang jelas, maka untuk mendapatkannya (sesuatu yang ingin dicari/diketahui) mesti diketahui dulu apa yang hendak dicari/diketahui itu. Ini dikarenakan hal yang ingin dicari/diketahui bukanlah semata adanya/hadirnya, melainkan hakikatnya. Tidak jarang, untuk hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa sudah mengetahuinya secara jelas akan sesuatu, padahal yang kita ketahui barulah pada kejelasan sifat umumnya (common sense), belum pada hal hakikatnya, bisa jadi karena kita tidak pernah memikirkannya, kecuali ada yang menanyakan. Misal, banyak orang tahu apa itu "Hak dan Kewajiban", namun yang diketahuinya biasanya berangkat dari apa yang diketahui secara umum (common sense). Akan tetapi, ia sulit memberikan penjelasan tentang hakikatnya ketika diminta.
    Tulisan Prof di atas secara singkat menguraikan tentang pembentukan ilmu pengetahuan: teori, proses, kategori, struktur, beserta tokohnya. Dalam dugaan saya, tulisan Prof di atas, selain untuk berbagi pengetahuan, juga bisa dimaknai sebagai upaya mendorong (motivasi) kepada para pembaca untuk berproses memiliki "rasa kagum" dan selanjutnya mampu meningkatkan notion-nya.
    Demikian yang bisa saya sampaikan. Mohon maaf dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  22. Jewish Van Septriwanto
    19709251077
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Objek ilmu adalah pengetahuan empiris, pengetahuan yang dapat dijangkau manusia. Ilmu mengemukakan tiga asumsi mengenai objek empiris: (a) menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, misalnya dalam hal bentuk, struktur, sifat, dsb. Kita dapat mengelompokkan beberapa objek yang serupa ke dalam satu golongan; (b) menganggap bahwa suatu benda tidak mengalami perubaan dalam jangka waktu tertentu. Kegiatan kelimuan mempelajari tingkah laku suatu objek dalam jangka waktu tertentu; (c) menganggap tiap gejala bukan merupkan suatu kejadian yang bersifat kebetulan. Tiap gejala mempunyai pola tertentu. Pendekatan saintifik beranggapan bahwa anak akan mendapatkan pengetahuan jika anak tersebut mengalami atau mencari pengetahuan itu sendiri. Tugas guru dalam hal ini adalah sebagai pembimbing, motivator, memberi penguatan, dan mengevaluasi.

    ReplyDelete
  23. sintha fardu anggraeni
    19709251071
    S2 pwndidikan matematika /D


    terimkasih banyak Pak Prof Marsigit.
    dari yang saya pahami secara umum obyek ilmu meliputi yang dan yang mungkin ada. obyek pengalaman bersifat kontradiksi ontologi, berada dalam ruang dan waktu, berlaku hukum sebab akibat.

    ReplyDelete
  24. Ahmad Syajili
    19709251066
    S2 PMD 2019

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan menggunakan saintifik sebagai pendekatannya, memang mempengaruhi pendidikan di Indonesia. Dengan munculnya pendekatan saintifik yang bercirikan pembelajaran berorientasi kepada siswa ini, mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Seperti pada postingan sebelumnya tentang persepsi guru pada pendekatan saintifik, dimana salah satu kelebihannya adalah guru dapat melatih siswa menjadi aktif dan kritis. Sementara itu, salah satu kekurangannya adalah pelaksanaan pembelajaran saintifik ini memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pengalaman guru sehingga bisa memanfaatkan waktu seefektif mungkin selama proses pembelajaran.
    Seperti yang terdapat pada postingan diatas bahwa pendapat Immanuel Kant menyatakan pengetahuan itu berasal dari logika pikir dan logika pengalaman, dimana hal tersebut merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Maka, untuk memperoleh pengetahuan tidak hanya membutuhkan logika berpikir saja, dan juga bukan hanya membutuhkan logika pengalaman. Akan tetapi, dibutuhkan kolaborasi antara keduanya membentuk suatu pengetahuan.

    ReplyDelete
  25. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Terima kasih Bapak atas artikel yang sudah Bapak share kepada kami. jujur saya baru medengar sikap skpetis, dan tertarik dengan sikap skpetis, dari artikel tersebut Sikap skeptis merupakan sebuah paham yang mengajarkan manusia untuk curiga, tidak mudah percaya, dan bersikap hati-hati atas tindakan orang lain. Dengan kata lain skeptis adalah sikap untuk meragukan kebenaran sesuatu yang bersifat mengandung informasi.

    ReplyDelete
  26. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Di era keterbukaan saat ini, kita perlu membangun sikap skeptis secara positif terkait banyaknya informasi yang kita terima di berbagai media dan diambil manfaat yang positif. jadi menurut saya dengan adanya sikap skpetis pada diri siswa, maka diharapkan siswa mempunyai rasa ingin tahu yang tingi terhadap sesuatu, sehingga pendekatan saintifik akan sangat berguna disini, diharapkan guru juga dapat memfasilitasi rasa ingin tahu siswa dengan memberikan jawaban yang memuaskan pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  27. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Kajian ilmu pengetahuan merupakan luapan pemikiran mengenai objek-objek filsafat yaitu semua yang ada dan yang mungkin ada baik yang sudah ada di dalam pikiran mau yang ada diluar pikiran. Seperti halnya pendekatan saintifik yang menggunakan langkah 5M di dalam pelaksanaannya adalah lahir dari pemikiran positivistik, empirisme dan realis yang juga didukung oleh dasar-dasar pemikiran yang lain. Mengkaji ilmu pengetahuan adalah upaya dalam kehidupan, yang sebenar-benarnya kecerdasan dalam melalui kehidupan adalah menembus ruang dan waktu, di dalam konteks yang benar.

    Terimakasih Prof...

    ReplyDelete
  28. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001

    Pendekatan saintifik juga merupakan pendekatan ilmiah yang memungkinkan kita untuk mengonstruk konsep dan prinsip melalui tahapan – tahapan yang jelas dan nyata. Ciri khas dari ilmiah itu sendiri adalah selalu mempertanyakan hal – hal yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Jika manusia pada dasarnya tidak mengetahui segala sesuatu bahkan dirinya sendiri hal ini semata – mata karena manusia itu tidak sempurna. Jangan meminta untuk sempurna karena itu akan sama saja dengan meminta kematian. Karena tidak sempurna pertanda kita masih hidup dan terus berproses. Maka pesan diakhir tulisan ini adalah jadilah orang cerdas, kenalilah ruangmu, waktumu. Kurang dan lebih ini meruapakan pemahaman saya.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  29. Hanifah Nabila Hendral
    19701251003
    S2 PEP A 2019
    Assalamualaikum
    Saintifisme adalah istilahyang digunakan untuk kepecayaan bahwa metode dan pendekatan imiah dapat diterapkan untuk segala hal dan bahwa sains adalah cara pandang dunia yang paling otoritatif atau paling berharga hingga menyingkirkan cara pandang lainnya. Saintifisme dibagi menjadi dua yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis.

    ReplyDelete
  30. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  31. Dea Armelia
    19709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Seperti yang telah disebutkan bahwa Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu MEMPERTANYAKAN klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat.
    Munculnya suatu pertanyaan karena adanya keraguan (skeptis). Sikap skeptis bisa kita misalkan untuk mempertanyakan diri kita sendiri. Jika kita mampu meragukan keyakinan sendiri, ini berarti kita siap memulai suatu perjalanan. Perjalanan seorang pencari, bukan perjalanan seorang pengikut. Keraguan adalah awal dari pencerahan. Ketika kita ragu, kita bertanya, kita belajar, dan kita mengubah pikiran kita. Ketika kita tidak meragukan, maka kita tidak mencari, dan ketika kita tidak mencari, maka kita tidak menemukan.
    Ketika kita meragukan, pintu pengetahuan baru akan terbuka lebar. Cakrawala baru akan terbuka membentang. Pemahaman-pemahaman segar pun akan masuk ke dalam pikiran kita. Pengetahuan baru bukan untuk diyakini, tapi untuk diragukan, dan sebagai pijakan untuk tangga pengetahuan berikutnya.

    ReplyDelete
  32. Annisa Nur Arifah
    18709251058
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Ontology saintifik berarti menanyakan apa realitas dari pendidikan saintifik. Realitas dari pendidikan saintifik yaitu berada pada proses pembelajaran. Sedangkan pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati (untuk mengidentifikasi atau menemukan masalah), merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan mengomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang "ditemukan".

    ReplyDelete
  33. Choirul Amri
    (19709251078 S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2019)
    Bismillah, ontology saintifik dibangun atas dua kata ontology dan saintifik. Ontology adalah cabang ilmu filsafat yang membahas mengenai keberadaan sesuatu yang sifatnya konkrit atau nyata, sementara saintifik adalah keilmiahan suatu cara untuk menunjukkan menjadi konkrit oleh karenanya berhubungan keduanya. Hasil darinya adalah pengetahuan, ialah semua yang diketahui. Dilihat dari segi motifnya, pengetahuan diperoleh melalui dua cara, pertama, pengetahuan yang diperoleh begitu saja, tanpa niat, tanpa usaha, tampa keingintahuan dan tanpa disengaja. Kedua: Pengetahuan yang didasari motif ingin tahu, diperoleh lewat belajar. Rasa ingin tahu ada pada manusia sejak ia diciptakan dan rasa ingin tahu itu adalah takdir.
    Pengetahuan manusia dibagi kepada :
    1. Pengetahuan Sains : Objeknya empiris, paradigmanya sains, menggunakan metode ilmiah dan kriterianya rasional-empiris.
    2. Pengetahuan Filsafat : Objeknya abstrak-rasional, paradigmanya rasional, menggunakan metode rasional dan kriterianya rasional.
    3. Pengetahuan Mistik : Objeknya abstrak supra-rasional, paradigmanya mistik, menggunakan metode latihan/percaya dan kriterianya rasa, iman, logis dan kadang empiris.

    Terimakasih.

    ReplyDelete
  34. Fitria Restu Astuti
    19709251069
    S-2 Pendidikan Matematika D 2019

    Terimakasih prof atas artikel yang bermanfaat. Setelah saya membaca artikel yang prof bagikan, saya menjadi lebih paham tentang abagaimana ontology dari saintifik. Saintifik saat ini diterapkan pada kurikulum 2013. Pembelajaran dengan metode saintifik dimulai dari langkah mengamati kemudian dilanjutkan ke kegiatan menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  35. Rona Happy Mumpuni
    19709251059
    S2 Pendidikan Matematika D

    Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi pelajaran baru yang akan dipelajari oleh peserta didik. Dalam kegiatan ini, guru harus mengupayakan agar peserta didik yang belum paham suatu konsep dapat memahami konsep tersebut, sedangkan peserta didik yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut dapat dihilangkan. Kesalahan konsep tersebut salah satunya disebabkan karena sulitnya membedakan saintifik ideal dan saintifik realis.

    ReplyDelete
  36. Rifki Rinaldo
    19709251070
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan pemaparan prof, pendekatan saintifik berasal dari kerangka kontruktivisme yang merupakan kerangkan pembelajaran yang memberikan kesempatan siswa untuk membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman yang ditemui di lingkungannya. Sehingga pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang bersifat ilmiah yang yang dibentuk melalui pengamatan dan kegiatan sehari-hari dan dipadukan dengan logika berpikir siswa pada pengetahuan awalnya.

    ReplyDelete
  37. Latifa Krisna Ayu
    19709251060
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan tulisan di atas, disampaikan bahwa intuisi pikir dan intuisi empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Dalam penerapan hal tersebut ke dalam saintifik. Oleh karena itu dalam pendekatan saintifik siswa seharusnya mampu menggunakan intuisi pikir dan intuisi empiriknya. Walaupun nanti dihasilkan pemahaman yang berbeda-beda karena intuisi setiap siswa berbeda. Namun pendekatan saintifik menyediakan evaluasi dan refleksi bagi siswa.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  38. Tiara Wahyu Anggraini
    19709251065
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Terima kasih Prof. Berdasarkan artikel di atas, ada dua macam saintifisme yaitu saintifisme ideal dan saintifisme realis. Saintifisme ideal memiliki sifat abstrak atau didalam pikiran yang berasal dari logika pikir. Sedangkan saintifisme realis memiliki sifat real yang berasal dari logika pengalaman. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan pada kurikulum 2013 lebih mengarah pada saintifisme realis yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Hal tersebut selaras dengan langkah-langkah pembelajaran saintifik yang kita ketahui yaitu mengamati, menanya atau merumuskan pertanya, mengumpulkan informasi, menalar atau mengasosiasi, dan mengomunikasikan.

    ReplyDelete
  39. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Bismillah, dalam kajian ilmu filsafat sangat berkaitan dengan pembelajaran didalam kelas, dan salah satunya dalam sebuah pendekatan. Pendekatan yang saat ini masih di gencarkan di Indonesia adalah pendekatan saintifik.
    Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang mencombain antara aliran realistik dan empirisme. dimana membutuhkan hal konkret dan berdasarkan pengalaman. kemudian saintifik diperlukan olah pikir dalam melakukan proses pembelajaran di kelas, selain itu pengalaman dalam saintifik menjadikan seorang guru mampu menghadapi segala kondisi dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  40. Vera Yuli Erviana
    NIM 19706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Filsafat mempelajari apa yang ada dan apa yang mungkin ada. Ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Ilmu pengetahuan berkembang melalui pemikiran dan pengalaman. Dimana keduanya saling berhubungan dan terbatas pada ruang dan waktu. Ilmu akan senantiasa berkembang dan tiada habisnya. Sehingga, sebagai manusia, yang dapat dilakukan adalah memanfaatkan ruang dan waktu untuk selalu mendalami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  41. Hima Naili Hidayah
    19701251004
    PEP A 2019

    Saintifik merupakan sebuah pendekatan yang muncul dari hal-hal yang bersifat ilmiah melalui pengamatandan kegiatan sehari-hari serta lingkungan sekitar. Sehingga pendekatan ini mengharapkan peserta didik untuk membangun pengetahuannya berdasarkan pengalaman yang d temuinya. Dalam hal ini guru hanya berperan sebagai fasilitator

    ReplyDelete
  42. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Ontologi sainstifik merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang hakikat sainstifik, struktur sainstifik dan karakteristik sainstifik.Hakikat sainstifik menjawab pertanyaan apa sainstifik itu sebenarnya, struktur sainstifik menjelaskan tentang cabang-cabang sainstifik, dan karakteristik sainstifik menjelaskan tentang karakter atau ciri dari sainstifik menurut para ahli.

    ReplyDelete
  43. Muh. Asriadi AM
    19701251008
    S2 PEP A 2019
    Pemahaman saya dari artikel ini yaitu ontologi Saintifik yang membahas tentang hakiket sesuatu yang ada/berada atau dengan kata lain artinya ilmu yang mempelajari tentang “yang ada” atau dapat dikatakan berwujud dan berdasarkan pada logika. serta Pendekatan saintifik bukan metode pembelajaran, tetapi lebih berperan dalam langkah-langkah dalam proses pembelajaran. Menurut saya saintifik realis ini justru akan membantu guru dalam mengarahkan siswa dalam membangun suatu konsep. Karena berawal atau bertolak dari pengalaman-pengalaman siswa. Pengalaman siswa disini bukan berarti sesuatu yang sudah dilakukan siswa tetapi bisa juga berupa pengetahuan awal yang dimiliki siswa.

    ReplyDelete