Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


29 comments:

  1. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Kurikulum 2013 adalah sangat erat kaitannya dengan pendekatan saintifik atau kurikulum 2013 memiliki ciri khas yaitu menggunakan saintifik. Dalam bidang filsafat semua ilmu itu pasti ada ontologi, epistimologi dan aksiologi nya, ontologi adalah suatu kebenaran yang bersifat konkret. Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.

    ReplyDelete
  2. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    PPs. P.Mat C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Ontologi (Schuh & Barab) adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang hakikat yang ada dan kenyataan. Dengan kata lain, ontologi mendefinisikan apa yang ada di dunia, baik struktur fisik atau abstrak. Hal ini menarik pembelajaran dan instruksi menyatakan pilihan ontologi mereka dengan menspesifikasi apa saja yang dianggap kebenaran tentang pengetahuan, informasi dan dunia. Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat.

    Sumber: Schuh, K. L., & Barab, S. A. Philosophical Perspectives.

    ReplyDelete
  3. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016
    Telaah ontologis akan menjawab pertanyaan-pertanyaan : apakah obyek ilmu yang akan ditelaah, bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut, dan bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir, merasa, dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan. Dapat kita katakan bahwa ontologi membahas hakekat dan objek dari suatu ilmu. Maka dari itu kali ini kita akan membahas tentang objek saintifik itu sendiri. Saya baru tahu asal muasal saintifik melalui bacaan yang ada pada blog Prof ini. Saintifik berdasar pada objek ilmu itu sendiri. Objek ilmu yaitu yang ada dan mungkin ada maka letak kedudukannya berada di dalam dan di luar pikiran manusia. Maka lahirlah aliran-aliran filsafat yang memandang hal yang berbeda tentang objek ilmu berdasarkan sudut pandang masing-masing. Aliran yang menganggap kebenaran objek yang ada di dalam pikiran yaitu idealis, rasionalis, dan skeptisis. Sedangkan aliran yang menganggap kebenaran berdadasarkan objek di luar pikiran yaitu realisme dan empirisme. Kemudian muncul ide supaya lebih baik mengapa tidak menggabungkan keduanya sehingga ada aliran Saintitisme. Jadi, objek saintifik yaitu logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Saintifik berdasarkan kedudukan objek ilmunya, maka saintifik ini dikategorikan sebagai realis saintifik karena berada di luar pikiran. Hal ini dikarenakan pada saat proses pembelajaran dengan langkah-langkah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan sesuai dengan konsel realis. Misalnya dalam proses mengasosiasi, maka sebenarnya siswa ini sedang mengumpulkan postulat-postulat atau teori-teori yang sesuai dengan pengalaman berpikir mereka yang akan mendukungnya dalam menemukan suatu pendapat baru. Dalam mengasosiasi tentunya siswa memiliki intuisi yang baik. Apapun dari setiap Konsep pembelajaran, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman.

    ReplyDelete
  5. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Pendekatan saintifik juga tidak terlepas dari berbagai teori-teori pembelajaran yang tela digunakan seblumnya, bahkan memiliki dasar dari berbagai filsuf terkemuka. Dalam pendekatan saintifik yang sintaknya tercantum dalam kurikulum 2013 memiliki persoalan, yaitu pengamatan. Apa yang di amati? Bagaimana mengamatinya? Apa hasil pengamatannya? Semua mata pelajaran pun melakukannya tak terkecuali matematika. Pendekatan yang dianggap bisa memfasilitasi para siswa untuk mengambangkan dirinya menjadi lebih baik pada jaman saat ini.

    ReplyDelete
  6. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Keberadaan saintitisme adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh kare itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri.

    ReplyDelete
  7. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca tulisan ini, saya lebih mengetahui tentang saintifik. Bahwa ternyata, pendekatan saintifik berawal dari adanya sikap skeptis. Dan dengan ontologi saintifik, menjelaskan bahwa pendekatan saintifik yang terdiri dari kegiatan 5M (Mengamati, Menanya, Mengumpulkan informasi, Menalar, dan Mengomunikasikan) memadukan antara logika pikir dan juga logika pengalaman. Sehingga, pembelajaran matematika yang didalamnya memuat hal-hal abstrak dapat dipahami oleh peserta didik, karena ilmu yang sesungguhnya memerlukan logika pikir dan logika pengalaman secara bersama-sama.

    ReplyDelete
  8. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Postingan ini menambah pengetahuan saya tentang saintifik. Saya jadi tahu bahwa pendekatan saintifik ternyata didasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisisme. Pendekatan saintifik terkait dengan logika pikir dan logika pengalaman.
    Saya juga terkesan dengan kata-kata penutup yang Prof Marsigit sampaikan bahwa secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus ruang dan waktu sehingga sebenar-benarnya orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam ruang dan waktu yang benar. Dengan kata lain, dapat bertindak secara sopan dan santun.

    ReplyDelete
  9. Dhian Arista Istikomah
    16703261016
    S3 Ilmu Pendidikan Konsentrasi Pendidikan Matematika 2016 (Mata Kuliah Kajian Kurikulum Matematika)

    Assalamualaikum Wr.Wb
    Saintifik menjadi perbincangan hangat bagi kalangan guru maupun dosen LPTK sejak diberlakukannya kurikulum 2013. Bagaimana mengimplementasikannya, bagaimana mengevaluasi sepertinya masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab tuntas bagi kalangan guru. Kurikulum sejatinya memang harus berubah, karena zaman tidaklah statis, pendidikan harus mengikuti perkembangan tersebut. Berdasar yang saya alami ketika terlibat dalam suatu diskusi dengan kepala sekolah kaitannya dengan implementasi kurikulum, pemerintah dirasa telah berupaya maksimal dalam penerapan kurikulum 2013 yang membawa bendera saintifik ini. Namun entah di bagian mana yang belum memadai sehingga banyak terdapat kesulitan guru dalam mengimpelemntasikannya.
    Membaca tulisan di blog Bapak Prof Dr. Marsigit memberikan pengetahuan terhadap apa sejatinya saintifik. Bahwa saintifik adalah berawal dari pragmatism, bahwa adanya ketidakpercayaan terhadap sesuatu apabila belum ada buktinya. Dalam tulisan diatas disampaikan bahwa ada saintifik idealis dan saintifik realis. Tentang saintifik realis telah dijelaskan diatas, namun jika saintifik idealis, bagaimana?
    Wassalamualaikum Wr. Wb

    ReplyDelete
  10. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan ini, saya menjadi tahu bahwa pendekatan saintifik ternyata diawali dari adanya sikap skeptis yang mana sikap ini mendasarkan pada adanya bukti yang kuat atau ilmiah tentang suatu klaim. Hal tersebut berarti bahwa percaya karena adanya bukti yang ilmiah dan bukan asal sekedar yakin atau percaya. Mengacu pada uraian di atas, dalam pendekatan saintifik yang diterapkan dalam pembelajaran kurikulum 2013 lebih kepada saintisme realis yaitu objek-objek yang dapat diamati. Dalam aplikasinya di kegiatan pembelajaran di kelas terutama pada mata pelajaran matematika kegiatan mengamati sering menjadi hal yang sulit diterapkan atau disajikan, hal ini dikarenakan objek matematika itu sendiri ada yang kongkrit (SD, SMP) dan abstrak (SMA).

    Pendekatan saintifik diharapkan akan mampu mengarahkan siswa menemukan pengetahuan dari kegiatan pada sintak-sintaknya (siswa menemukan,ada kegiatan ilmiah, bukan sekedar percaya), juga melalui pengalaman yang dilaluinya. Sebab ilmu pengetahuan selain berasal dari logika pikir juga berasal dari logika pengalaman.

    ReplyDelete
  11. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Kelompok Skeptis berpendapat bahwa, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah. Sehingga untuk mengetahui benar dan salah dar dari apa yang berada dikitar kita adalah dengan menggunakan Logika pikir. sehingga dalam menggunakan sintak pendekatan saintifik, Misalnya dalam proses mengasosiasi maka siswa akan mengumpulkan postulat-postulat atau teori-teori yang sesuai dengan pengalaman berpikir mereka yang akan mendukungnya dalam menemukan suatu pendapat baru.

    ReplyDelete
  12. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Keberadaan saintitisme adalah untuk menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang rendah secara real. Oleh kare itu, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa membangun matematikanya sendiri

    ReplyDelete
  13. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Yang dapat saya simpulkan adalah pendekatan saintifik yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 ini tidaklah mewakili saintifisme yang sebenarnya. Untuk menggapai pengetahuan, kita harus berpikir ekstensif dan intensif. Langkah-langkah dalam pembelajaran saintifik meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar kemudian mempresentasikan diharapkan mampu memperoleh dan membentuk pengetahuannya yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya. Ilmu yang diperoleh melalui tahapan mencoba juga berasal dari pengalamannya yangbersifat sintetik a posteriori.

    ReplyDelete
  14. Dheanisa Prachma Maharani
    1301241037
    Pend. Matematika A 2014

    Postingan ini sangat bermanfaat bagi calon guru untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Dengan membaca postingan ini saya menjadi tahu bahwa pendekatan Saintifik bermula dari Skeptifime Ilmiah yang akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti yang kuat. Filsafat Skeptifisme ini mendasari aliran Saintisme. Dimana aliran Saintisme merupakan penggabungan dari objek ilmu yang berada di dalam pikiran dan objek ilmu yang berada di luar pikiran.

    Terdapat 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifime Ideal dan Saintifisme Realis. Deangan membaca postingan ini, saya menjadi tahu bahwa ternyata Pendekatan Saintifik yang diterapkan dalam Kurikulum 2013 adalah pendekata yang diturunkan dari Saintifisme Realis, yaitu objek-objek yang teramati (benda konkrit).

    Guru matematika merasa kesulitan dan bingung ketika menggunakan Pendekatan Saintifik, karena belum dibedakannya Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk jenjang pendidikan SD dan SMP , guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda konkrit.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Setelah membaca post Prof Marsigit tentang ontologi saintifik ini saya menjadi tau bahwa ternyata filsafat yang mendasari pendekatan saintifik adalah filsafat positivisme dan filsafat skeptisisme. Pendekatan saintifik ternyata juga memadukan logika pikir dan logika pengalaman dalam pelaksanaannya. Hal yaang juga baru saya tau dari membaca post ini adalah saintifisme dibedakan menjadi 2: yaitu saintifisme realis dan saintifisme idealis, yang mana pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 diturunkan dari saintifisme realis.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. Aditya Raenda A
    143012241036
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Sikap skeptis adalah unsur dasar dari pendekatan saintifk karena sikap skeptis akan memposisikan seseorang untuk mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Dikenyataannya masih banyak guru Matematika yang mengalami kebingungan dalam menerapkan pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Pendekatan saintifik pada kurikulum 2013 merupakan pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati.

    ReplyDelete
  18. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan postingan tersebut, terdapat dua macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Sedangkan, untuk pendekatan saintifik pada Kurikulum 2013 sebenarnya diturunkan dari Saintifisme Realis, yaitu untuk objek-objek yang berada di luar pikiran (benda konkrit). Namun, (mungkin) karena belum memadainya pengetahuan tentang pendekatan saintifik, masih banyak guru yang merasa kesulitan untuk mengimplementasikannya pada pembelajaran, khususnya guru Matematika. Berbeda dengan guru SD atau awal SMP yang sudah jelas objek observasinya adalah benda konkrit.
    Lalu bagaimana? Dengan ontologi saintifik yang dijelaskan di atas pula, pendekatan saintifik memadukan antara logika pikir dan pengalaman. Sehingga, Matematika dengan objek abstrak dapat lebih mudah dipahami jika memadukan dua logika tersebut. Yaitu, pada proses observasi siswa mampu menghubungkan teori yang diamati dengan pengalaman berpikir atau pengetahuan yang dimiliki sehingga tercipta konsep baru.

    ReplyDelete
  19. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Postingan di atas membuat saya lebih tahu akan banyak hal. Ternyata saintifisme didasari oleh filsafat positivisme dan skeptisisme. Selain itu selama ini yang saya kira objek ilmu itu hanyalah apa yang ada diluar kita. Akan tetapi setelah membaca postingan ini saya sadar bahwa objek ilmu itu dapat berada di dalam pikiran kita maupun di luar pikiran kita. Sehingga muncullah saintifisme ideal dan santifisme realis. Namun selama ini dalam pendekatan saintifik dalam kurikulum 2013 hanya diturunkan dari santifisme realis saja, yaitu pada objek-objek yang teramati.

    ReplyDelete
  20. Umy Maysyaroh
    14301241014
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Tulisan ini menambah wawasan khususnya bagi saya pribadi mengenai pendekatan saintifik yang sudah familiar di ranah pendidikan belakangan ini. Namun kali ini berbeda, tulisan ini bukan hanya mengkaji tentang saintifik dan 5M-nya melainkan juga tentang akar dan basis dari saintifik, yakni sikap skeptis sebagai unsur dasar skeptisisme ilmiah (pendekatan saintifik) yang akan membuat seseorang selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat dan filsafat positivisme.
    Pembentukan pengetahuan ialah mengaitkan logika pikir dan logika pengalaman, dimana sebenar-benarnya ilmu bersifat sintetik a priori. Unsur dasar titik temu antara logika pikir dan logika pengalaman yakni potensi pikir pengalaman atau intuisi; intuisi pikir dan intuisi empirik (pengalaman), yang sudah terbawa sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi. Itulah mengapa secara filosofis dimungkinankan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sedangkan pendekatan saintifik diturunkan dari saintifisme realis, yakni untuk objek-objek yang teramati.
    Belum adanya pembeda antara saintifik ideal dengan saintifik realis memang dapat membuat guru matematika sekolah khususnya SMA merasa gamang karena objek observasinya bukan lagi benda kongkrit seperti pada SMP atau SD. Sehingga pada pendekatan saintifik yang sintaknya sesuai Kurikulum 2013, komponen utama dalam ontologi observasi yaitu abstraksi dan idealisasi.

    ReplyDelete
  21. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Menurut Immanuel Kant pengetahuan berasal dari tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Objek pengalaman bersifat kontradiksi ontologi yaitu berada dalam ruang dan waktu, saling berhubungan dan berlaku hukum sebab akibat. Pendekatan saintifik atau dapat disebut sebagai saintigik realis menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda yang ada disekitar siswa dengan harapan agar anak-anak dapat menggunakan logika penalaran sesuai apa yang biasa mereka lakukan dalam kehidupan sehari-harinya.

    ReplyDelete
  22. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Ontology saintifik berada pada aliran saintisisme. Dimana pada aliran saintisisme terdiri dari dua aliran besar yaitu aliran positivisme dan skeptisisme. Kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual. Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  23. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Ontologi saintifik melalui mengamati, menanya, mengasosiasi/menalar, menyampaikan dan berbagi adalah kesesuaian antara aksioma atau pastulat pikir dan dikatakan sensasi pengalaman jika memenuhi untuk hukum sebab-akbiat. Selain itu ontologi saintifik juga dapat dikatakan sebagai kegiatan belajar seseorang yang dalam dimensinya berusaha menembus ruang dan waktu untuk mencapai logos.

    ReplyDelete
  24. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Ontologi merupakan cabang dari studi filsafat yang berusaha menanyakan dan menjawab mengenai hakikat segala sesuatu. Sehingga judul tulisan ini berusaha untuk mengungkap hakikat dari saintifik. Dari tulisan ini saya memahami pandangan pak Marsigit mengenai hakikat saintifik, yaitu sebagai skeptisme ilmiah terhadap sebuah gejala atau fenomena. Hasil dari skeptisme tersebut diharapkan menghasilkan ilmu sains, dan yang mengalami dan melakukannya diharapkan mendapatkan pengalaman ilmu sains. Namun dalam praktiknya yaitu dalam kurikulum 2013, pendekatan saintifik diturunkan dari saintifis relais karena mengamati objek-objek yang berada di luar pikiran. Jika demikian, pendekatan saintifik yang ada saat ini cenderung ke filsafat Aristoteles. Hal ini baru setengah dari idealnya pendekatan saintifik secara ontologis.

    ReplyDelete
  25. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Saintifik juga berperan menyelaraskan antara obyek benda pikir yang ada dalam pikiran kita dan ada yang diluar pikiran kita. Hal ini diperlukan agar matematika yang abstrak dapat diterima siswa di kelas yang tingkat pendidikannya belum bisa mengkonstruk suatu hal yang abstrak. Oleh karenanya, keberadaan pendekatan saintifik sangat diperlukan untuk memfasilitasi siswa untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri.

    ReplyDelete
  26. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan aliran Idealis-Rasionalis-Skeptisism dan aliran realism-empirirsisme. Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

    ReplyDelete
  27. Azizah Pusparini
    14301244012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Setelah membaca postingan dari Bapak, saya menjadi lebih tahu mengenai saintifik. Yang pertama saya jadi tahu bahwa pendekatan saintifik didasarkan pada filsafat positivisme dan skeptisisme. Selain itu, pendidikan saintifik yang diterapkan dalam kurikulum 2013 mengombinasikan antara logika berpikir dan logika pengalaman siswa dalam menemukan suatu konsep.

    ReplyDelete
  28. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Seperti yang tertulis di atas saintifik dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Hal ini mengindikasikan bahwa kita sebagai seorang yang beragama harus menempatkan saintifik pada tempatnya ( dalam bahasa jawa disebut empan papan). Hal ini dikarenakan jangan sampai saintifik mengalahkan benteng religi kita sebagai umat beragama. Terdapat hal-hal yang tidak dapat disaintifikkan dan cukup iman dan hati kita yang menembusnya.

    ReplyDelete
  29. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tulisan Bapak, saya menjadi tahu bahwa pendekatan saintifik menggunakan logika pikir dan logika pengalaman. Kemdudian Pendekatan Saintifik mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme.

    ReplyDelete