Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


16 comments:

  1. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Pembelajaran saintifik mulai berkembang dan diaplikasikan sebagai pendekatanpembelajaran di sekolah sekolah saat ini. Selain keunggulannya dibandingkan pembelajaran tradisional, saintifik juga memiliki kelemahan ditinjau dari sudut pandang spiritual. Sebagai contohnya jika seseorang sangat mengagung-agungkan saintifik dalam segala kegiatannya maka ia selalu bertanya dan meragukan apa saja yang tidak memiliki landasan teori atau tidak masuk akal atau tidak sesuai logika. Misalnya saja ia berpikir mengapa sampai ada tuhan, bentuk zat tuhan itu seperti apa, dan sebagainya yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran spiritual. Maka saintifik ini harus diimbangi dengan ilmu spiritual yang baik agar tidak mengagung-agungkan saintifik. Bersaintifik boleh-boleh saja, tetapi sewajarnya saja hanya untuk urusan duniawi.
    Pembentukan pengetahuan menurut Imanuel Kant (1671) adalah sintesis antara tesis dan anti-tesis, secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari logika pikir dan yang berasal dari logika pengalaman. Saya setuju dengan hal ini kareana pengetahuan diperoleh dari pengalaman yang dipikirkan. Jika seseorang hanya mengagung-agungkan pengalaman tanpa dipikirkan maka tidak ada kesimpulan dari penalaman tersebut, dengan kata lain belum terbentuk suatu pengetahuan. Sebaliknya, jika kita mengagung-agungkan loika pikir tanpa adanya pengalaman, maka sama saja dengan omong kosong tanpa bukti. Sehingga diperlukan singkronisasi antara pengalaman yang dialami yang kemudian dipikirkan agar terbentuk suatu ilmu pengetahuan.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  2. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan menggunakan saintifik sebagai pendekatannya, memang mempengaruhi pendidikan di Indonesia. Dengan munculnya pendekatan saintifik yang bercirikan pembelajaran berorientasi kepada siswa ini, mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Seperti pada postingan sebelumnya tentang persepsi guru pada pendekatan saintifik, dimana salah satu kelebihannya adalah guru dapat melatih siswa menjadi aktif dan kritis. Sementara itu, salah satu kekurangannya adalah pelaksanaan pembelajaran saintifik ini memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pengalaman guru sehingga bisa memanfaatkan waktu seefektif mungkin selama proses pembelajaran.
    Seperti yang terdapat pada postingan diatas bahwa pendapat Immanuel Kant menyatakan pengetahuan itu berasal dari logika pikir dan logika pengalaman, dimana hal tersebut merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Maka, untuk memperoleh pengetahuan tidak hanya membutuhkan logika berpikir saja, dan juga bukan hanya membutuhkan logika pengalaman. Akan tetapi, dibutuhkan kolaborasi antara keduanya membentuk suatu pengetahuan.

    ReplyDelete
  3. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Pendekatan saintifik merupakan salah satu bentuk pendekatan pebelajaran aliran saintisme. Para penganut aliran saitisme mencoba menggabungkan dua objek besar dalam ilmu yaitu objek yang ada dalam pikiran dan objek yang ada di luar pikiran. Selanjutnya objek-objek ilmu ini diopersionalkan ke dalam lima tahapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pada tingkatan sekolah dasar atau menengah siswa dapat memulai pembelajaran dengan mengamati objek-objek nyata di lingkungan sekitarnya, di kelas, di halaman sekolah, dst. Lalu akan timbul pertanyaan-pertanyaan oleh siswa megapa dan bagaimana suatu hal dapat terjadi. Nah pada tahap ini siswa tentu akan mencoba untuk terlibat di dalamnya. Berbekal teori-teori yang sudah ada siswa akan mengolah data-data yang diperoleh untuk selanjutnya dikomunikasikan dan dapat dikonfirmasi kebenarannya. Demikianlah bagaimana pendekatan saintifik itu menggabungkan sikap skeptis dengan realitas yang ada.

    ReplyDelete
  4. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Tulisan ini secara umum menggambarkan alur terbentuknya sebuah ilmu pengetahuan. Betapa pentingnya ilmu filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pakar keilmuan, psikolog dsb. Tidak dapat menjawab pertanyaan kapan manusia memiliki Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman, maka Filsafat dengan pendekatan ontologinya para Filsuf mampu menjawabnya sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia). Selain itu, dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kita juga harus menginteraksikan antara Ilmu Pikir dan Ilmu Pengalaman, agar kebenarannya lebih diakui secara koheren, meskipun terkadang sebenarnya sikap skeptis itu juga harus ada agar kita lebih berhati-hati dalam menyikapi ilmu pengetahuan tersebut. Sehingga dalam membangun pengetahuan kita tetap berpegang teguh pada prinsip kita masing-masing. Dengan demikian kita juga akan lebih mudah dalam mengambil keputusan yang bijaksana dan cerdas dalam menempatkan diri.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  5. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendekatan saintifik memang menarik untuk dibicarakan. Dewasa ini pendekatan saintifik tidak lagi menjadi pendekatan yang asing bagi dunia pendidikan. Awal mula pendekatan saintifik ini adalah dari para aliran saintisme yang menggabungkan asumsi – asumsi filsafat positivisme dan skeptisme. Skeptisme ilmiah ini akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan hal yang kurang memilki bukti empiris yang kuat. Hal ini sejalan dengan pendekatan saintifik yang saat ini digunakan dalam pembelajaran pada kurikulum 2013 Pendekatan saintifik sebagai salah satu pendekatan yang wajib digunakan dalam kurikulum 2013 merupakan manifestasi dari pendekatan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun atas dasar student centered. Pendekatan saintifik merupakan konsep belajar yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah (Majid, 2015: 3). Proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Permendikbud No 81A Tahun 2013 memberikan konsepsi tersendiri bahwa langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen-komponen mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasikan/ mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Berdasarkan ontologi saintifik yang Prof. tuliskan di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan menggunakan ilmu tersebut untuk mengambil suatu keputusan maka seseorang akan memperoleh nilai – nilai kebijakannya.

    ReplyDelete
  6. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Pendekatan saintifik memang lebih mudah diterapkan oleh guru di SD atau SMP. Menjadi agak lebih sulit diterapkan pada siswa SMA. Apalagi di perguruan tinggi. Semisal mata kuliah struktur aljabar, yang objek nya abstrak, bagaimana kita memikirkan tentang teori grup dan sebagainya yang sesungguhnya sulit untuk dipahami bagi sebagian mahasiswa

    ReplyDelete
  7. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan pendekatan scientifik adalah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, mengolah data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil dari penarikan kesimpulan. dari sintak ini terlihat jelas bahwa pendekatan scientifik sangat cocok untuk kurikulum 2013 yang dikembangkan saat ini, karena pada pendekatan tersebut lebih menuntut siswa untuk aktif dalam menggunakan semua indra dan potensi yang dimilikinya, hal ini juga menuntut guru lebih banyak bertindak hanya sebagai fasilitator agar dapat mengeksplor seluruh kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

    ReplyDelete
  8. Insan A N/Magister PMat C 2017
    Menarik membedah saintifik dengan asumsi ontologi yang rinci. Dalam pembelajaran tentunya membutuhkan saintifik idealisme dan realisme. Siswa untuk tingkat rendah (SD maupun awal SMP) lebih membtuhkan saintifik realisme, mengamati dan menganalisa objek konkret yang mudah diamati. Sedangkan untuk siswa tingkat tinggi (SMA), perlu digunakan campuran antara realisme dan idealisme.Siswa tentu agak kesulitan mengamati objek abstrak tanpa kemampuan berpikir sesuai pengetahuannya.

    ReplyDelete
  9. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mangutip Maqolah yang mengatakan bahwa kita harus mementingkan adab atau sopan santun di atas ilmu. Namun setelah membaca postingan ini saya kembali menelisih bahwa jarang seseorang yang beradab tidak memiliki ilmu. Dengan keilmuan yang matang, seseorang dapat memutuskan bagaimana mereka harus bertindak di setiap situasi yang dihadapi. Adapun kebijaksanaan seseorang akan meningkat seiring dengan pengalaman orang tersebut. Hal ini semakin menambah matang konsep bahwa memang antara ilmu dan adab, pikiran dan pengalaman saling melengkapi. Merupakan hal biasa mengulas 5M dari sudut kependidikan, mengenai artinya maupun tagihannya. Namun berbeda dengan postingan ini yang memberikan wacana dan wawasan baryu mengenai 5M dari sudut pandang filsafat

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Historia Vitae Magistra merupakan prinsip yang populer dalam sejarah. Prinsip ini mengatakan bahwa dengan pengalaman akan mengajarkan kebijaksanaan bagi yang mampu mengilhaminya dengan baik. Selaras dengan pernyataan Pak Marsigit bahwa seseornag yang cerdas sejatinya ialah orang yang dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. Pendekatan saintifik yang tengah digencarkan oleh pemerintah diproyeksikan agar siswa dapat berkembang secara maksimal tanpa meninggalkan penghayatan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, sehingga mereka dapat menyelesaikan persoalan kehidupan yang kompleks dan mampu membuat keputusan dengan bijaksana. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah

    Guru harus diberikan penjelasan atau pengetahuan tambahan mengenai pembelajaran saintifik. Saya baru mengetahui bahwa ada 2 macam saintifik yaitu Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Yang diterapkan pada kurikulum 2013 lebih ke saintifik realis atau objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Tidak semua materi dapat diamati di luar pikiran tetapi hanya melalui khayalan dan angan-angan saja. Walaupun tidak secara konkrit, tetapi apa yang dilakukan guru juga merupakan suatu pendekatan saintifik yang ideal (yang ada di dalam pikiran).

    ReplyDelete
  12. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  13. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B


    Setelah membaca ulasan ini saya menyadari bahwa terbentuknya ilmu pengetahuan melalui proses yang begitu kompleks berdasarkan sudut pandang filsafat. Selama ini saya hanya mempelajari dan mendalami melalui proses kognitif atau secara biopsikologi. Saya juga menjadi paham apa yang menyebabkan seseorang dapat berpikir, memikirkan pengalamannya dan mampu menuangkan pikirannya. Ini dijawab dengan adanya titik awal dimana antara logika pikir dan pengalaman menjadi sebuah intuisi. Intuisi tersebut memiliki wadah dan isi, namun keduanya hanya dapat terwujud jika ada takdir dan ikhtiar manusia. Hal ini berarti bahwa selama seseorang memiliki dorongan untuk berusaha mempelajari sesuatu dan sesuai dengan waktunya sejatinya ia telah membangun suatu pengetahuan dalam dirinya. Saya menjadi memiliki gambaran juga bagaimana seseorang yang berpikir harus disertai pula dengan sikap atau karakter yang baik. Ini dapat pula dikatakan bahwa seseorang yang telah belajar diharapkan dapat memiliki integritas pada area akademik.

    ReplyDelete
  14. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Kemampuan berfikir matematis adalah kemampuan seseorang untuk mampu berfikir logis dan sistematis dalam menghadapi berbagai masalah baik dalam matematika maupun dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Kemampuan berpikir ini dapat mendorong peserta didik untuk selalu menyelesaikan permasalahan dengan melihat berbagai sudut pandang berdasarkan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya dengan disertai alasan atau dasar yang tepat/logis. Sehingga guru harus merangsang cara berpikir anak agar dapat belajar dengan melihat dari pengalaman dan tidak hanya terpaku pada buku.

    ReplyDelete
  15. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Intuisi berpikir dan intuisi empirik sudah dibawa sejak manusia dilahirkan. Kemudian kedua intuisi ini berinteraksi dengan obyek pada lingkungan, seperti orangtua, guru, masyarakat, sekolah, dll. Kedua intuisi ini tepat jika dipakai sebagai dasar membuat teori-teori belajar. Dua intuisi ini akan menarik jika dikolaborasikan karena akan saling menguatkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete