Nov 1, 2015

Ontologi Saintifik


Oleh Marsigit

Secara umum, objek ilmu meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Letak kedudukan objek ilmu berada di dalam pikiran atau di luar pikiran. Jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme.

Aliran Saintisisme berusaha menggabungkan kedua aliran besar tersebut. Namun aliran Saintisme mendasarkan pada gabungan asumsi-asumsi filsafat Positivisme dan Skeptisisme, yang dengan tegas menolak pendekatan non-ilmiah termasuk religiusitas dan humaniora. Skeptisisme sendiri sebagai aliran filsafat merentang sejarahnya sejak jaman Yunani Kuno.

Kelompok Skeptis adalah berpendapat, manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia di sekitar kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Oleh karena itu manusia tidak dapat benar-benar mengetahui apa yang benar dan salah (Pyrrhon, Timon, Epikurus, Socrates, dan Rene Descartes).

Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik.

Sebagai salah satu akar dan basis Saintifisme dan Saintifik, metode Positive yang dipelopori oleh Auguste Compte, menolak tesis-tesis ilmu-ilmu humaniora (geistesweistensaften) dan juga menolak Filsafat termasuk metafisik yang ada di adalamnya; sebaliknya kaum Positive berusaha membangun struktur dunia untuk membangun dunia dengan meletakkan metode Positive di atas Filsafat dan Spiritual.

Merunut objek dan pendekatan normatifnya pada time-line sejarahnya, konsekuensi logis dari dunia kontemporer dalam mempersepsi munculnya gagasan pendekatan Saintifik, haruslah berbesar hati untuk menerima kenyataan akan munculnya ide sintetik yang bersifat radik. Secara khusus seberapa jauh kita mampu memikirkan adanya konsep-konsep Saintifisme Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer.

Dalam khasanah pembentukan pengetahuan, I Kant (1671) secara gamblang menguraikan bahwa “pengetahuan” haruslah merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis; secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari Logika Pikir dan yang berasal dari Logika Pengalaman.

Yang berasal dari Logika Pikir direpresentasikan oleh Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme. Sedangkan yang berasal dari Logika Pengalaman direpresentasikan oleh Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme. Logika Pikir mempunyai sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu; sedangkan Logika Pengalaman mempunyai sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu.

Hermenitika ilmu menjamin adanya interaksi linear dalam kesiklikan antara unsur-unsur keterwakilan logika pikir dan logika pengalaman; sehingga I Kant menegaskan bahwa sebenar-benar Ilmu adalah bersifat Sintetik a priori. Logika pikir saja tanpa adanya logika pengalaman dianggap baru mencapai setengah ilmu; demikian juga jika hanya logika pengalaman tanpa adanya logika pikir.

Dalam sejarahnya, hemenitika keilmuan tersebut menghasilkan forma interaksi yaitu Positivisme dan Saintifisme beserta turunan-turunan dalam bentuk sintak-sintak praksis kependidikan, misalnya pendekatan Saintifik, Projek Based Learning, Problem Based-Learning, Cooperative Learning, Contextual Learning, dst.

Kemudian satu hal yang perlu direnungkan adalah mengapa manusia mampu berpikir? Memikirkan pengalamannya? Dan mewujudkan pemikirannya? Logika Pikir tidak akan pernah tuntas mampu menjelaskan mengapa dan sejak kapan dimulainya logika pikir, kecuali dengan cara menentukan “titik awal”; sedangan Logika Pengalaman dengan cara “membangun kesadaran”. Namun siapakah, kapankah dan dengan cara bagaimanakah seseorang mampu menentukan “titik awal”? Dan dalam keadaan yang bagaimana dan kapan seseorang dikatakan menyadari segala sesuatu?

Pertanyaan tersebut tidak mungkin dapat dijawab, kecuali menggunakan pendekatan Ontologi dan Epistemilogi Ilmu. Dengan cara ini I Kant  menemukan unsur dasar yang merupakan titik temuantara Logika Pikir dan Logika Pengalaman, yaitu Potensi Pikir Pengalaman yang berupa Kategori: Singular, Bagian, Universal – Afirmatif, Negatif, Infinit – Kategori, Hipotetik, Sintetik.  Potensi Pikir Pengalaman inilah yang kemudian dikenal sebagai Intuisi; potensi pikir berupa Intuisi Pikir dan potensi pengalaman berupa Intuisi Empirik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, sejak kapan manusia mempunyai Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman? Untuk pertanyaan ini maka tiadalah orang termasuk pakar keilmuan, psikologi dst yang mampu menjawabnya kecuali melalui pendekatan ontologis bahwa komponen Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman masing-masing terdiri dari 2 (dua) unsur Forma (wadah) dan Substansi (isi). Pertanyaan dilanjutkan, sejak kapan dan dari manakah unsur Forma Intuisi dan Substansi Intuisi, para Filsuf hanya mampu menyebutkan sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia).

Namun untuk kepentingan pedagogik, tentunya kita tidak pusa hanya berhenti sampai di situ saja. Secara psikologis, Intuisi Pikir dan Intuisi Empirik terbawa dan terbentuk sejak manusia lahir, serta berkembang melalui interaksi dengan objek/benda terdekat di sekelilingnya termasuk orang tua, keluarga, masyarakat dan sekolah. Inilah pondasi yang seharusnya digunakan oleh setiap edukationis dan psikologis untuk mengembangkan teori-teori belajar dan mengajar.

Dari uraian di atas kiranya dapat dipahami mengapa secara filosofis dimungkinkan munculnya berbagai macam teori pembentukan ilmu, pembenaran ilmu dan macam-macam ilmu. Sifat dan kedudukan Objek Pikir dan Objek Pengalaman menentukan jenis dan sifat metode keilmuannya. Jika objeknya berada di dalam pikir (tidak dapat diamati) maka lahirlah Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal; jika objeknya berada di luar pikir (dapat di amati/dipersepsi) maka lahirlah Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, Subjektivism, Positivisme Realis dan Saintifisme Realis.

Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran).

Menurut I Kant (1671), Objek Pikir bersifat Identitas, yaitu memenuhi formula A=A. Hal ini dapat tercapai karena Objek Pikir terbebas oleh Ruang dan Waktu. Maka ditemukan X=X,  1+3 = 3+1, Y=2x-1, ..dst. Itulah sifat dari Matematika Murni, yang kemudian disebut sebagai Matematika Formal atau Matematika Aksiomatik.

Matematika Murni bersifat tautologis dengan indikator kebenarannya adalah Konsistensi. Jika tidak konsisten dikatakan bersifat kontradiksi tautologis. Semua Ilmu Formal termasuk dalam kategori ini yaitu Sain Murni, Fisika Murni, Biologi Murni, dst. (Penulis: itulah ilmunya untuk orang dewasa). Singkat kata, ilmu-ilmu dengan Objek Pikir bersifat analitik a priori. Mereka mampu memikirkannya walaupun belum memersepsi objeknya.

Objek Pengalaman bersifat Kontradiksi Ontologis yang memenuhi 3 (tiga) sifat: mereka berada dalam Ruang dan Waktu, mereka saling berhubungan, dalam mereka berlaku hukum sebab-akibat. Kontradiksi ontologis berbeda makna dengan kontradiksi tautologis. Kontradiksi ontologis diformulasikan dengan “Subjek  tidak sama dengan Predikatnya, atau S tidak sama dengan P”, maksudnya adalah bahwa setiap sifat/predikat tidaklah mungkin menyamai subjeknya.

Misal Rambut Hitam, Hitam adalah sifat Rambut, maka tidaklah pernah Hitam sama dengan Rambut, karena Rambut mempunyai sifat tidak hanya Hitam. Semua benda/sifat adalah Subjek dari suatu Predikat sekaligus Predikat dari suatu Subjek yang lain. Jika Saintifism Realis mendasarkan kepada Objek Pengalaman titik pangkal, maka adalah relevan bahwa Saintifik Realis atau yang kemudian disebut sebagai pendekatan Saintifik, menggunakan objek-objek pengalaman atau benda-benda kongkrit sebagai bahan observasinya.

Guru Matematika di sekolah, ketika menggunakan pendekatan Saintitik,  merasa gamang ketika menyuruh siswa mengamati fenomena matematika yang cukup tertulis di dalam buku teks. Hal tersebut karena belum dibedakannya antara Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Sedangkan untuk kelas rendah seperti di SD atau awal SMP, guru tidak merasa ragu karena objek observasinya adalah benda-banda kongkrit (Objek Pengalaman).

Apapapun objeknya, dalam pendekatan Saintifik yang sintaknya sesuai dengan yang tercantum pada Kurikulum 2013, persoalan selanjutnya adalah menjawab apa yang diamati? Bagaimana mengamatinya? Dan apa hasil pengamatannya? Ontologi pengamatan/observasi termasuk dalam ranah Fenomenologi Husserl, yang terdiri dari 2(dua) komponen utama yaitu: Abstraksi dan Idealisasi. Abstraksi mengandung arti mengambil/mengobservasi/memandang sebagian saja sifat yang ada dari Objek pengamatannya.

Setiap Objek pengamatan mempunyai beribu-ribu sifat namun, untuk Matematika misalnya, sifat Kubus yang diamati adalah perihal bentuk, ukuran dan banyaknya sisi, rusuk dan sudut. Sifat-sifat bahan terbuat dari materi tertentu, keindahan, kualitas, harga dst tidaklah termasuk ranah yang diobservasi. Sifat yang diabaikan (tidak perlu diperhatikan) kemudian disimpan ditempat yang disebut sebagai Epoche. Sedangkan Idealisasi adalah menganggap sempurna sifat yang ada, misal bahwa terdapat sudut lancip, maka yang dimaksud adalah lancip sempurna; tidak dalam kondisi agak lancip, kurang lancip, dst.

Kegiatan observasi diawali dengan (tingkat) Kesadaran akan objek yang akan diobservasi sehingga observer mempunyai daya sensibilitas observasi. Daya sensibilitas observasi ini penting untuk menghasilkan Representasi dari objek teramati yang berupa Persepsi objek teramati. Pada tahap ini, pengalaman mengobservasi yang diperoleh (Logika Pengalaman) tidak dapat bekerja/berdiri sendiri tanpa bantuan Logika Pikir, yaitu dengan hadirnya kemampuan Imajinasi dengan cara sintesis, sehingga gabungan antara pengalaman mengobservasi dan imajinasi menghasilkan Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman.

Mengapa? Dia dikatakan Pengetahuan Pikir jika sesuai dengan Aksioma atau Postulat Pikir. Dan dikatakan Sensasi Pengalaman jika sesuai dengan Hukum Sebab-Akibat dan Hubungan antar Satuan Pengalaman. Aksioma/Postulat Pikir dan Satuan Pengalaman tersebut berdomisili di dalam Kategori Berpikir (I Kant) yang terbawa sejak lahir sebagai Fatal dan Vital, dan terdiri dari Forma dan Substansi; dan bersifat intuitif (hasil berpikir dan pengalaman). Interaksi antara Pengetahuan Pikir dan Sensasi Pengalaman tersebut itulah yang kemudian disebut sebagai Ilmu (Pengetahuan), yang bersifat sintetik a priori. Sintetik sensasinya, dan a priori pikirannya.

Secara ontologis, yang dimaksud kegiatan “mengasosiasi” pada pendekatan Saintifik adalah mencari Postulat-postulat Pikir mana yang bersesuaian dengan Sensasi Pengalamannya. Itulah kesulitan yang dialami oleh para observer, termasuk observer dewasa apalagi observer anak-anak. Kesesuaian antara postulat-postulat pikir dan sensasi-sensasi pengalaman, menghasilkan apa yang disebut sebagai Konsep (orang awam mengatakan sebagai Pengertian).

Apapun dari setiap Konsep, maka terdiri dari Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi). Formanya berupa Kategori Berpikir dan Substansinya berupa Sensasi Pengalaman. Kategori Berpikir merupakan genus (unsur dasar) yang dengan kegiatan berpikir dan sensasinya akan menemukan postulat-postulat berpikir selanjutnya secara berkhirarkhi dan kompleks. Maka secara ontologis, dengan sintak-sintak pendekatan Saintifik diharapkan Subjek Belajar akan mampu menemukan, memperkokoh dan mengembangkan Kategori Berpikir sebagai unsur dasar setiap Ilmu (Pengetahuannya), yang dituntun secara konsisten, rigor, analitik, logik, formal, abstrak, identitas, a priori, dan tautologi oleh Postulat-postulat Umumnya, yang telah diakui kebenarannya secara koheren oleh komunitas keilmuannya; serta dilandasi secara kokoh oleh Sensasi Pengalamannya, dengan kesadaran bahwa Sensasi Pengalamannya tersebut bersifat sintetik a posteriori.

Dengan berkembangnya secara intensif dan ekstensif Kategori Berpikir akan diperoleh Struktur Pengetahuan yang kemudian disebut sebagai Ilmu Pengetahuan. Dengan Ilmu Pengetahuan yang telah berhasil dibangunnya itu maka seseorang akan memperoleh nilai-nilai kebijakannya, antara lain adalah mengambil Keputusan/Judgment (sekarang disebut Evaluasi-tahap akhir taksonomi Bloom) secara tepat dan bijaksana. Secara ontologis, kegiatan belajar seseorang dapat dikatakan sebagai menembus Ruang dan Waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun).

Yogyakarta, Nopember 2015


55 comments:

  1. Munaya Nikma Rosyada
    14301241002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Masih dijumpai guru yang belum mahir menggunakan pendekatan saintifik. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan mengenai perbedaan saintifik ideal dan saintifik realis. Guru belum menyadari bahwa siswa SD dan SMP awal memerlukan benda kongkret sebagai objek pengalamannya. Maka dari itu dibutuhkan guru yang terampil menyusun pembelajarannya dengan mempertimbangkan perkembangan kognitif siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  2. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Paparan dan penjelasan ini. Untuk memahami penjelasan ini saya harus paham dulu mengenai beberapa istilah yaitu: Ontologi, Epistemilogi, Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme, Saintifisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal. Sehingga dari paparan Bapak ini tidak hanya tentang penjelasan mengenai Saintifik secara ontologis saja yang bisa saya dapatkan melainkan banyak hal tentang paham-paham filsafat yang terkait dengan saintifik itu sendiri. Hal ini menunjukkan kepada kami (saya) bahwa pada pemikiran-pemikiran filsafat, suatu hal yang tampaknya bertentangan setelah di pelajari lebih jauh ternyata hal-hal tersebut saling keterkaitan.

    Terima kasih banyak Pak, atas paparan dan penjelasannya.

    ReplyDelete
  3. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Banyak sekali hal yang didapat dari paparan ini, namun ada satu hal yang paling berkesan bagi saya yaitu pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Objek-objek diluar pikiran yang tentu saja tidak semua orang memiliki cakupan yang sama apakah ini yang membuat kurikulum 2013 sampai saat ini masih di revisi, apakah kurikulum 2013 dapat dijadikan sebagai kurikulum yang cocok untuk pendidikan di Indonesia? Keterbatasan manusia menjadikan munculnya pertanyaan dan masalah-masalah, munculnya ketidaktahuan yang merupakan bagian dari berfilsafat, sehingga berfilsafat diperlukan dalam mengembangkan pendidikan.

    ReplyDelete
  4. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam pemaparan di atas, ada beberapa hal yang masih saya pertanyakan yaitu dalam pembahasan, dikatakan adanya sintetik apriori dan sintetik aposteriori. Setelah saya pelajari lebih lanjut mengenai apriori dan aposteriori, ternyata terhubung dengan sumber-sumber yang baik dipelajari mengenai apriori dan aposteriori yang disarankan bapak pada tulisan “A Priori A Posteriori“, yang ditulis pada 02 Desember 2012. Dari sumber yang bapak berikan pada tulisan di blog tersebut, saya sedikit mengerti apa itu apriori dan aposteriori.
    Jika menurut artikel bapak saya mengambil kesimpulan pendekatan saintifik menggunakan pendekatan sintetik aposteriori yaitu menggunakan pengalaman sebagai kendaraan yang mengantarkan kita menuju sesuatu yang ingin diketahui. Memang kesulitas pasti terjadi karena pengalaman dalam menggunakan pendekatan ini masih bisa di bilang sangat dini. Namun jika kita lihat realita pada tahun 2017 sekarang, dimana kurang lebih 2 tahun setelah bapak membuat artikel ini, saya berpendapat sekarang sudah banyak guru yang mampu menerapkan pendekatan ini karena sudah mulai memahami pendekatan saintifik itu seperti apa. Sehingga sudah mulai adanya peningkatan mutu pendidik sedikit demi sedikit untuk mengembangkan pendidikan Indonesia yang lebih baik walaupun memang pasti selalu ditemukan suatu masalah dalam pelaksanaanya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  5. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Dari postingan ini, saya memperolah pengetahuan-pengetahuan baru mengenai saintifik, karena menurut saya di postingan ini Bapak meninjau saintifik dari kacamata filsafat. Hal-hal yang saya dapatkan antara lain, bagaimana awal mulanya istilah saintifik itu muncul. Kemudian, Bapak juga menjelaskan tahapan-tahapan saintifik secara umum. Mulai dari mengamati, mengamati disini maksudnya mengamati sifat-sifat objeknya, sebenarnya setiap objek memiliki beribu-ribu sifat, tetapi cukup diamati sifat yang kita perlukan saja untuk proses pembelajaran. Kemudian pengalaman mengamati harus dibarengi dengan kegiatan berfikir atau dalam saintifik disebut mengasosiasi. Ini merupakan tahap yang sulit bagi siswa terutama ana-anak. Kesesuaian antara pola pikir dan pengalaman tersebutlah yang menghasilkan kesimpulan/konsep/pengertian. Postingan ini juga menimbulkan pertanyaan bagi saya, bagaaimana tahap mengamati pada anak setingkat SMA jika materi matematika yang akan dibahas susah untuk dicari contoh di kehidupan nyatanya? Padahal sebaiknya, hal-hal yang diamati ialah objek-objek konkret yang ada di sekitar atau pengalaman-pengalaman yang pernah siswa alami terkait materi yang akan diajarkan.

    ReplyDelete
  6. Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Setelah saya membaca tulisan Bapak, saya menjadi lebih sadar akan kurangnya ilmu pengetahuan yang saya miliki. Selain itu, saya juga menyadari akan kurang luasnya cara pandang saya terhadap suatu hal. Dari postingan tersebut saya belajar tentang logika pikir dan logika pengalaman yang diperlukan dalam pembelajaran, tentang abstraksi dan idealisasi, tentang saintifik ideal dan saintifik realis, serta mengenal banyak istilah yang belum saya ketahui sebelumnya. Terimakasih Pak Marsigit.

    ReplyDelete
  7. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas penjelasannya Pak. Saya jadi mendapat wawasan baru tentang pendekatan saintifik ideal dan realis. Pembelajaran matematika harusnya dimulai dengan pendekatan saintifik realis di tingkatan SD dan awal SMP karena siswa kebanyakan masih berpikir secara konkret. Barulah setelah itu perlahan-lahan guru mulai bisa menggunakan pendekatan saintifik ideal.

    ReplyDelete
  8. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof,
    Selamat pagi, Berdasarkan bacaan di atas, saintifik terdiri dari saintifik ideal dan saintifik realis. Saintifik ideal ialah yang berada di dalam pikiran sedangkan saintifik real ialah yang berasal dari logika pengalaman. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan dalam Kurikulum 2013 berdasar pada saintifik realis, yaitu menggunakan objek nyata. Sintaks pembelajaran yang dilaksanakan meliputi mengamati, menanya, mengobservasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Semestinya, dalam membangun pengetahuan melalui kelima sintaks tersebut, perlu adanya sinergi antara logika pikir dan logika pengalaman. Seperti yang ditegaskan oleh Kant bahwa sebenar-benar ilmu adalah bersifat sintetik a priori, yaitu pengalaman yang dipikirkan atau sebaliknya.

    ReplyDelete
  9. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terima kasih Prof Marsigit atas pemaparannya, saya menemukan banyak sekali istilah yang "jujur" masih baru untuk saya dan butuh waktu untuk memahami nya seperti Ontologi, Epistemilogi, Idealisme, Rasionalisme, Skeptisisme, Logisisme, Formalisme, Simbolisme, Objektivisme, Absolutisme, Positivisme, Saintifisme, Positivisme Ideal, dan Saintifisme Ideal. Hal ini menyadarkan saya bahwa saya masih sangat kurang dalam mebaca. terima kasih Prof

    ReplyDelete
  10. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Terimakasih pak atas postingannya,
    Postingan ini sangatlah bermanfaat, disini mengupas/ mengkaji mengenai saintifik. Di postingan ini juga saya mendapatkan banyak istilah baru yang harus saya cari tahu lebih dalam. Saya juga baru tahu jika kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran maka lahirlah filsafat Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism. Jika kebenaran berdasarkan objek di luar pikiran maka lahirlah filsafat Realisme dan Empirisisme. Selain itu di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dan saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Ini merupakan informasi baru yang saya dapatkan dari postingan bapak. Terimakasih bapak.

    ReplyDelete
  11. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    Jauh dari pengertian saintifik yang saya hafalkan selama ini. Pengetahuan baru tentunya. Apakah wajar jika saya kebingungan dan kesulitan dalam memahami bagian-bagian dari postingan ini (Ontologi Saintifik).
    Hal yang ingin saya tanyakan salah satunya terkait dengan penjelasan ini, "Dengan gamblang, di sini kita telah memperoleh 2 (dua) macam Saintifisme yaitu Saintifisme Ideal dan Saintifisme Realis. Dikarenakan ketidakjelasan pada fase ini, maka pada tataran yang lebih rendah telah terjadi kevakuman/distorsi/reduksi dengan hanya dikenalkan saja pendekatan Saintifik; namun menurut hemat penulis, pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran". Saya ingin bertanya how the way bapak memiliki hemat terkait pendekatan saintifik yang diimplementasikan pada kurikulum 2013?
    Terlepas dari itu semua, saya setuju bahwa "Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar (Jawa: sopan santun)"

    ReplyDelete
  12. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pada postingan ini saya merasa banyak asing dengan istilah yang muncul. Istilah Saintifik yang saya rasa cukup akrab pun baru saya ketahui bahwa ada dua macam.
    Semakin aku banyak membaca, semakin aku banyak berpikir, semakin aku banyak belajar, semakin aku sadar bahwa aku tak mengetahui apa pun (Voltaire).
    Salah satu istilah pada artikel ini yang paling menarik bagi saya yaitu skeptisism. Hal ini karena pendapat dari kelompok skeptis ini kadang kita juga melakukannya tanpa kita sadari. bahwa kebenaran dari sesuatu tidak dapat benar-benar diketahui karena manusia tak dapat mengetahui dengan pasti mengenai segala sesuatu di dunia. Prinsip ini penting dalam belajar karena ilmu pengetahuan memerlukan suatu kepastian yang seakurat mungkin.

    ReplyDelete
  13. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Pembelajaran saintifik mulai berkembang dan diaplikasikan sebagai pendekatanpembelajaran di sekolah sekolah saat ini. Selain keunggulannya dibandingkan pembelajaran tradisional, saintifik juga memiliki kelemahan ditinjau dari sudut pandang spiritual. Sebagai contohnya jika seseorang sangat mengagung-agungkan saintifik dalam segala kegiatannya maka ia selalu bertanya dan meragukan apa saja yang tidak memiliki landasan teori atau tidak masuk akal atau tidak sesuai logika. Misalnya saja ia berpikir mengapa sampai ada tuhan, bentuk zat tuhan itu seperti apa, dan sebagainya yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran spiritual. Maka saintifik ini harus diimbangi dengan ilmu spiritual yang baik agar tidak mengagung-agungkan saintifik. Bersaintifik boleh-boleh saja, tetapi sewajarnya saja hanya untuk urusan duniawi.
    Pembentukan pengetahuan menurut Imanuel Kant (1671) adalah sintesis antara tesis dan anti-tesis, secara garis besar tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis yang berasal dari logika pikir dan yang berasal dari logika pengalaman. Saya setuju dengan hal ini kareana pengetahuan diperoleh dari pengalaman yang dipikirkan. Jika seseorang hanya mengagung-agungkan pengalaman tanpa dipikirkan maka tidak ada kesimpulan dari penalaman tersebut, dengan kata lain belum terbentuk suatu pengetahuan. Sebaliknya, jika kita mengagung-agungkan loika pikir tanpa adanya pengalaman, maka sama saja dengan omong kosong tanpa bukti. Sehingga diperlukan singkronisasi antara pengalaman yang dialami yang kemudian dipikirkan agar terbentuk suatu ilmu pengetahuan.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  14. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan menggunakan saintifik sebagai pendekatannya, memang mempengaruhi pendidikan di Indonesia. Dengan munculnya pendekatan saintifik yang bercirikan pembelajaran berorientasi kepada siswa ini, mempunyai kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Seperti pada postingan sebelumnya tentang persepsi guru pada pendekatan saintifik, dimana salah satu kelebihannya adalah guru dapat melatih siswa menjadi aktif dan kritis. Sementara itu, salah satu kekurangannya adalah pelaksanaan pembelajaran saintifik ini memerlukan waktu yang cukup lama. Untuk mengatasi hal tersebut, dibutuhkan pengalaman guru sehingga bisa memanfaatkan waktu seefektif mungkin selama proses pembelajaran.
    Seperti yang terdapat pada postingan diatas bahwa pendapat Immanuel Kant menyatakan pengetahuan itu berasal dari logika pikir dan logika pengalaman, dimana hal tersebut merupakan sintesis antara tesis-tesis dan anti-tesis anti-tesis. Maka, untuk memperoleh pengetahuan tidak hanya membutuhkan logika berpikir saja, dan juga bukan hanya membutuhkan logika pengalaman. Akan tetapi, dibutuhkan kolaborasi antara keduanya membentuk suatu pengetahuan.

    ReplyDelete
  15. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Pendekatan saintifik merupakan salah satu bentuk pendekatan pebelajaran aliran saintisme. Para penganut aliran saitisme mencoba menggabungkan dua objek besar dalam ilmu yaitu objek yang ada dalam pikiran dan objek yang ada di luar pikiran. Selanjutnya objek-objek ilmu ini diopersionalkan ke dalam lima tahapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pada tingkatan sekolah dasar atau menengah siswa dapat memulai pembelajaran dengan mengamati objek-objek nyata di lingkungan sekitarnya, di kelas, di halaman sekolah, dst. Lalu akan timbul pertanyaan-pertanyaan oleh siswa megapa dan bagaimana suatu hal dapat terjadi. Nah pada tahap ini siswa tentu akan mencoba untuk terlibat di dalamnya. Berbekal teori-teori yang sudah ada siswa akan mengolah data-data yang diperoleh untuk selanjutnya dikomunikasikan dan dapat dikonfirmasi kebenarannya. Demikianlah bagaimana pendekatan saintifik itu menggabungkan sikap skeptis dengan realitas yang ada.

    ReplyDelete
  16. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Tulisan ini secara umum menggambarkan alur terbentuknya sebuah ilmu pengetahuan. Betapa pentingnya ilmu filsafat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika pakar keilmuan, psikolog dsb. Tidak dapat menjawab pertanyaan kapan manusia memiliki Intuisi Pikir dan Intuisi Pengalaman, maka Filsafat dengan pendekatan ontologinya para Filsuf mampu menjawabnya sebagai Fatal (takdir) dan Vital (ikhtiar manusia). Selain itu, dalam mempelajari ilmu pengetahuan, kita juga harus menginteraksikan antara Ilmu Pikir dan Ilmu Pengalaman, agar kebenarannya lebih diakui secara koheren, meskipun terkadang sebenarnya sikap skeptis itu juga harus ada agar kita lebih berhati-hati dalam menyikapi ilmu pengetahuan tersebut. Sehingga dalam membangun pengetahuan kita tetap berpegang teguh pada prinsip kita masing-masing. Dengan demikian kita juga akan lebih mudah dalam mengambil keputusan yang bijaksana dan cerdas dalam menempatkan diri.
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  17. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    S2 Pendidikan Matematika A (PM A)

    Pendekatan saintifik memang menarik untuk dibicarakan. Dewasa ini pendekatan saintifik tidak lagi menjadi pendekatan yang asing bagi dunia pendidikan. Awal mula pendekatan saintifik ini adalah dari para aliran saintisme yang menggabungkan asumsi – asumsi filsafat positivisme dan skeptisme. Skeptisme ilmiah ini akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan hal yang kurang memilki bukti empiris yang kuat. Hal ini sejalan dengan pendekatan saintifik yang saat ini digunakan dalam pembelajaran pada kurikulum 2013 Pendekatan saintifik sebagai salah satu pendekatan yang wajib digunakan dalam kurikulum 2013 merupakan manifestasi dari pendekatan kontruktivisme dimana pengetahuan dibangun atas dasar student centered. Pendekatan saintifik merupakan konsep belajar yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah (Majid, 2015: 3). Proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan saintifik menyentuh tiga ranah yaitu sikap, pengetahuan dan keterampilan. Permendikbud No 81A Tahun 2013 memberikan konsepsi tersendiri bahwa langkah pendekatan saintifik dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen-komponen mengamati, menanya, mengumpulkan informasi/ eksperimen, mengasosiasikan/ mengolah informasi, dan mengkomunikasikan. Berdasarkan ontologi saintifik yang Prof. tuliskan di atas, dapat saya ambil pelajaran bahwa dengan ilmu pengetahuan yang kita miliki dan menggunakan ilmu tersebut untuk mengambil suatu keputusan maka seseorang akan memperoleh nilai – nilai kebijakannya.

    ReplyDelete
  18. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 Pend.Matematika B

    Pendekatan saintifik memang lebih mudah diterapkan oleh guru di SD atau SMP. Menjadi agak lebih sulit diterapkan pada siswa SMA. Apalagi di perguruan tinggi. Semisal mata kuliah struktur aljabar, yang objek nya abstrak, bagaimana kita memikirkan tentang teori grup dan sebagainya yang sesungguhnya sulit untuk dipahami bagi sebagian mahasiswa

    ReplyDelete
  19. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Pembelajaran dengan pendekatan scientifik adalah pembelajaran yang terdiri dari kegiatan mengamati, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan data, mengolah data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan hasil dari penarikan kesimpulan. dari sintak ini terlihat jelas bahwa pendekatan scientifik sangat cocok untuk kurikulum 2013 yang dikembangkan saat ini, karena pada pendekatan tersebut lebih menuntut siswa untuk aktif dalam menggunakan semua indra dan potensi yang dimilikinya, hal ini juga menuntut guru lebih banyak bertindak hanya sebagai fasilitator agar dapat mengeksplor seluruh kemampuan peserta didik dalam proses pembelajaran yang dilakukan.

    ReplyDelete
  20. Insan A N/Magister PMat C 2017
    Menarik membedah saintifik dengan asumsi ontologi yang rinci. Dalam pembelajaran tentunya membutuhkan saintifik idealisme dan realisme. Siswa untuk tingkat rendah (SD maupun awal SMP) lebih membtuhkan saintifik realisme, mengamati dan menganalisa objek konkret yang mudah diamati. Sedangkan untuk siswa tingkat tinggi (SMA), perlu digunakan campuran antara realisme dan idealisme.Siswa tentu agak kesulitan mengamati objek abstrak tanpa kemampuan berpikir sesuai pengetahuannya.

    ReplyDelete
  21. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mangutip Maqolah yang mengatakan bahwa kita harus mementingkan adab atau sopan santun di atas ilmu. Namun setelah membaca postingan ini saya kembali menelisih bahwa jarang seseorang yang beradab tidak memiliki ilmu. Dengan keilmuan yang matang, seseorang dapat memutuskan bagaimana mereka harus bertindak di setiap situasi yang dihadapi. Adapun kebijaksanaan seseorang akan meningkat seiring dengan pengalaman orang tersebut. Hal ini semakin menambah matang konsep bahwa memang antara ilmu dan adab, pikiran dan pengalaman saling melengkapi. Merupakan hal biasa mengulas 5M dari sudut kependidikan, mengenai artinya maupun tagihannya. Namun berbeda dengan postingan ini yang memberikan wacana dan wawasan baryu mengenai 5M dari sudut pandang filsafat

    ReplyDelete
  22. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Historia Vitae Magistra merupakan prinsip yang populer dalam sejarah. Prinsip ini mengatakan bahwa dengan pengalaman akan mengajarkan kebijaksanaan bagi yang mampu mengilhaminya dengan baik. Selaras dengan pernyataan Pak Marsigit bahwa seseornag yang cerdas sejatinya ialah orang yang dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. Pendekatan saintifik yang tengah digencarkan oleh pemerintah diproyeksikan agar siswa dapat berkembang secara maksimal tanpa meninggalkan penghayatan ilmu pengetahuan yang diperolehnya, sehingga mereka dapat menyelesaikan persoalan kehidupan yang kompleks dan mampu membuat keputusan dengan bijaksana. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  23. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah

    Guru harus diberikan penjelasan atau pengetahuan tambahan mengenai pembelajaran saintifik. Saya baru mengetahui bahwa ada 2 macam saintifik yaitu Saintifik Ideal dan Saintifik Realis. Yang diterapkan pada kurikulum 2013 lebih ke saintifik realis atau objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Tidak semua materi dapat diamati di luar pikiran tetapi hanya melalui khayalan dan angan-angan saja. Walaupun tidak secara konkrit, tetapi apa yang dilakukan guru juga merupakan suatu pendekatan saintifik yang ideal (yang ada di dalam pikiran).

    ReplyDelete
  24. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B


    Setelah membaca ulasan ini saya menyadari bahwa terbentuknya ilmu pengetahuan melalui proses yang begitu kompleks berdasarkan sudut pandang filsafat. Selama ini saya hanya mempelajari dan mendalami melalui proses kognitif atau secara biopsikologi. Saya juga menjadi paham apa yang menyebabkan seseorang dapat berpikir, memikirkan pengalamannya dan mampu menuangkan pikirannya. Ini dijawab dengan adanya titik awal dimana antara logika pikir dan pengalaman menjadi sebuah intuisi. Intuisi tersebut memiliki wadah dan isi, namun keduanya hanya dapat terwujud jika ada takdir dan ikhtiar manusia. Hal ini berarti bahwa selama seseorang memiliki dorongan untuk berusaha mempelajari sesuatu dan sesuai dengan waktunya sejatinya ia telah membangun suatu pengetahuan dalam dirinya. Saya menjadi memiliki gambaran juga bagaimana seseorang yang berpikir harus disertai pula dengan sikap atau karakter yang baik. Ini dapat pula dikatakan bahwa seseorang yang telah belajar diharapkan dapat memiliki integritas pada area akademik.

    ReplyDelete
  25. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Pendekatan Saintifik yang diimplementasikan pada Kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari Saintifisme Realis,yaitu untuk objek-objek yang teramati (di luar pikiran). Kemampuan berfikir matematis adalah kemampuan seseorang untuk mampu berfikir logis dan sistematis dalam menghadapi berbagai masalah baik dalam matematika maupun dalam menyelesaikan masalah kehidupannya. Kemampuan berpikir ini dapat mendorong peserta didik untuk selalu menyelesaikan permasalahan dengan melihat berbagai sudut pandang berdasarkan pengetahuan atau pengalaman sebelumnya dengan disertai alasan atau dasar yang tepat/logis. Sehingga guru harus merangsang cara berpikir anak agar dapat belajar dengan melihat dari pengalaman dan tidak hanya terpaku pada buku.

    ReplyDelete
  26. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Intuisi berpikir dan intuisi empirik sudah dibawa sejak manusia dilahirkan. Kemudian kedua intuisi ini berinteraksi dengan obyek pada lingkungan, seperti orangtua, guru, masyarakat, sekolah, dll. Kedua intuisi ini tepat jika dipakai sebagai dasar membuat teori-teori belajar. Dua intuisi ini akan menarik jika dikolaborasikan karena akan saling menguatkan satu sama lain.

    ReplyDelete
  27. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Ontologi filsafat
    Assalamualaikum wr wb,,,.di dalam filsafat juga dijelaskan tentang matematika .Pada matematika murni misalnya.Matematika murni bersifat hipotesis, dalam pengertian ia tidak dapat memberitahu bagaimana kasusnya pada dunia aktual,misalnya berapa banyak benda yang ada pada tempat tertentu, namun hanya bisa menunjukkan apa yang terjadi apabila x benar, misalnya bahwa akan ada 12 kursi di dalam suatu ruang bila ada 5+7 kursi.

    ReplyDelete
  28. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dari bagian awal postingan ini, saya memahami bahwa ternyata saintifik dan saintifisme merupakan penggabungan antara aliran skeptisisme dan realisme. Skeptisisme bersama dengan idealisme dan rasional berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran. Sedangkan realisme bersama dengan empirisme berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di luar pikiran.
    Dalam postingan Prof Marsigit yang lain telah disinggung berkali-kali mengenai pentingnya pengetahuan dan pentingnya pengalaman. Manakah yang lebih penting antara pengetahuan dan pengalaman? Dapat saya sebutkan bahwa pengetahuan dan pengalaman berangkat dari dua hal besar. Pengetahuan berangkat dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran, sedangkan pengalaman berangka dari kebenaran berdasarkan objek yang ada di dalam pikiran. Banyaknya teori pembentukan ilmu yang muncul adalah karena adanya pikiran dan pengalaman.
    Kemudian saya memahami bahwa yang selama ini dimaksud oleh Prof Marsigit sebagai wadah (forma) adalah kategori berpikir sedangkan isi (substansi) adalah pengalaman. “Isi dapat menjadi wadah, dan wadah dapat juga menjadi isi” berkali-kali saya dengar saat kuliah filsafat pendidikan matematika bersama beliau. Sekarang saya memahami bahwa antara pikiran dan pengalaman saling mengimplikasi, sehingga yang satu dapat pula menjadi yang lain.

    ReplyDelete
  29. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, banyak informasi yang saya peroleh setelah membaca penjelasan di atas, saya ikut merenungkan pertayaan apa, mengapa,bagaimana dan kapan logika berfikir, logika pengalaman begitupula dengan beberapa pertanyaan yang timbul selanjutnya. Semua pertanyaan itu hanya bisa dijawab menggunakan pendekatan ontologi dan epistimologi hingga diperoleh ilmu-ilmu sampai pada akhirnya menjadi pondasi dasar dalam mengembangkan teori-teori belajar mengajar. Pendekatan saintifik yang diimplementasikan saat ini pada kurikulum 2013 adalah pendekatan yang diturunkan dari saintifisme realis yaitu untuk objek yang teramati (di luar pikiran). Pembelajaran dengan pendekatan saintifik terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ini diketahui), merumuskan pertanyaan/menanya, mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasikan/menganalisis/mengolah data serta menarik kesimpulan kemudian mengomunikasikan hasil dari yang telah disimpulkan. Melalui pembelajaran saintifik siswa diharapkan untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan keterampilan,sikap serta nilai spritual.

    ReplyDelete
  30. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pendekatan saintifik merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang memusatkan pada pengamatan, namun permasalahan saat ini langkah-langkah dalam mengamati masih sangat jarang diterapkan dalam pembelajaran. Karena guru masih merasa canggung tentang aktifitas pengamatan yang harus dilakukan, apa yang diamatai, bagaimana yang diamati serta berbagai langkah pengamatan lainnya. Oleh karena itu diperlukannya perhatian khusus bagi para guru, sehinnga pendekatan saintifik yang diimplementasikan dalam kurikulum 2013 dapat dilaksanakan dengan baik.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  31. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Saat ini di Indonesia mengimplementasikan kurikulum 2013 dan pendekatan saintifik merupakan salah satu pendekatan yang di rekomendasikan. Pada dasarnya pendekatan ini digunakan agar siswa lebih aktif di dalam pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Namun, pada kenyataan banyak guru yang belum mengimplementasikan. Sebagai calon seorang guru maka tugas kita adalah mengubah cara mengajar guru agar menjadi lebih baik sehingga konsep dasar matematika dapat tertanam. Sebab pada dasarnya konsep itu penting sebagai dasar/fondasi. Jika konsep sudah kuat maka untuk permasalahan yang lebih kompleks akan lebih mudah untuk di pahami dan siswa dapat memutusakan keputusan yang terbaik. Karena pada dasarnya keputusan itu bergantung pada ruang dan waktu. Alangkah baiknya jika keputusan itu di buat pada waktu yang tepat. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  32. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Cara berfikir yang sangat menarik Prof. Menggali rumusan tindakan hingga kebijakan dengan mengupas secara ontologis adalah sangat penting untuk memahami struktur. Secara tidak langsung dalam memahami Ontologi Saintifik, saya dapat memahami salah satu dari asumsi ilmu, yaitu menganggap setiap objek memiliki struktur satu sama lain. Sangat penting bagi guru untuk memahami saintifik secara ontologis sebelum secara axiologi dan terapan.

    ReplyDelete
  33. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Postingan ini menguraikan ontologi-ontologi saintifik dalam membangun pengetahuan. Salah satu cara membangun pengetahuan siswa adalah dengan menerepakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik yang diterapkan pada pembelajaran matematika masih terasa belum maksimal oleh kebanyakan guru maupun siswa yang kebingungan bagaimana kegiatan pembelajaran yang diinginkan. Dari postingan ini, hal tersebet dikarenakan pendekatan saintifik yang digunakan itu masih bersifat formal. Pendekatan saintifik yang diinginkan seharusnya yaitu pendekatan saintifik yang bersifat realisitis. Karena dengan pendekatan saintifik realistik siswa akan lebih mendapatkan pengalaman belajar yang berkesan sehingga siswa antusias dan memiliki keinginan yang tinggi untuk mengetahui ilmu-ilmu berikutnya. Selain Pendekatan saintifik masih banyak ontologi-ontologi lainnya untuk membentuk pengetahuan.

    ReplyDelete
  34. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Penerapan pembelajaran saintifik di sekolah memiliki salah satu kelebihan yaitu mengubah kebiasaan belajar siswa dari yang hanya menerima materi jadi dari guru menjadi kebiasaan untuk menemukan sendiri suatu konsep sampai tahap mengomunikasikannya tetapi tetap dalam bimbingan guru agar tidak terjadi kekeliruan dan berada dalam tahap berpikir ilmiah yang benar.

    ReplyDelete
  35. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Mengasosiasikan sama halnya dengan mengolah informasi yang merupakan kegiatan pembelajaran yang berupa pengolahan informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen maupun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. Kompetensi yang dikembangkan dalam proses mengasosiasi/mengolah informasi adalah mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan. Sehingga tahap mengasosiasi ini dapat membangun sikap positif siswa, karena sikap yang positif merupakan tujuan utama pada setiap kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  36. Junianto
    17709251065
    PM C

    Paparan ini menceritakan tentang narasi besar filsafat. Saya mencoba menggaris bawahi pernyataan Immanuel Kant yang merupakan penengah antara penganut logika pikir dan logika pengalaman (empriris). Immanuel Kant menegaskan bahwa ilmu adalah sintetik a priori yag berusaha memadukan sintetik yang berasal dari logika pengalaman dan a priori dari logika pikir. Kant manyatakan bahwa ilmu adalah perpaduan antara keduanya, maka logika pikir tanpa pengalaman belum sempurna dan harus disempurnakan dengan perpaduan antara logika pikir dan pengalaman. Pernyataan I. Kant ini juga menjadi penengah pertengkaran antara penganut logika pikir dan penganut logika pengalaman.

    ReplyDelete
  37. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pertengkaran antara penganut logika pikir dan logika pengalaman menjadi hal yang turut melahirkan revolusi dalam keilmuan. Pendekatan saintifik yang terkandung dalam kurikulum 2013 juga bersumber dari sejarah keilmuan ini. Meskipun pendekatan saintifik masih menjadi polemik di kalangan pendidik, namun tidak bisa dipungkiri bahwa gagasan dan teori ini sangat bagus. Tetapi, kendala-kendala yang dialami poendidik juga tidak sedikit, sehingga evaluasi dan pelatihan perlu dilakukan secara berkelanjutan jika ingin mengoptimalkan aplikasi pendekan saintifik.

    ReplyDelete
  38. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih bapak untuk tulisannya. Mohon izin untuk mengutip tulisan bapak sebelum saya mengajukan sebuah pertanyaan. Bapak menulis bahwa:
    "Sikap skeptis adalah sebuah sikap yang menyangsikan kenyataan yang diketahui baik ciri-cirinya maupun eksistensinya. Sikap skeptis sebagai unsur dasar Skeptisisme Ilmiah akan memposisikan seseorang untuk selalu mempertanyakan klaim yang kurang memiliki bukti empiris yang kuat. Skeptisisme Ilmiah inilah yang kemudian dikenal sebagai pendekatan Saintifik."

    Yang saya pahami dari kalimat tersebut adalah pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang menyangsikan kebenaran tanpa bukti empiric yang kuat, sehingga ia akan selalu dan selalu mempertanyakan bukti sampai pada bukti empiric yang kuat dan sifatnya final. Padahal disisi lain kita mengetahui bahwa ilmu pengetahuan selalu berkembang, suatu kebenaran hamper selalu direvisi dengan kebenaran yang lebih baru. Misalnya dulu kita mengenal bahwa atom adalah bagian terkecil suatu benda, namun setelah sekian lama pendapat itu gugur karena atom masih dapat dibagi menjadi electron dan proton. Dengan demikian, pertanyaan saya adalah, bagaimana pendekatan saintifik memandang hal demikian (perkembangan ilmu)? apakah tidak ada kemungkinan lahirnya sebuah kebenaran yang sifatnya final?.
    demikian pertanyaan saya bapak, sekali lagi terima kasih untuk tulisan-tulisan yang bapak sajikan dalam blog ini.

    ReplyDelete
  39. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Kegiatan menanya dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, mengembangkan kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis sehingga dalam tahapan menanya ini dapat membangun pola pikir yang maju dan selalu ingin tahu terhadap hal-hal yang baru atau yang belum diketahui sehingga peserta didik memiliki kemauan untuk terus belajar dan menggali informasi yang terus berkembang seiring dengan berkembangnya peradaban manusia

    ReplyDelete
  40. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Alhamdulillah, setelah membaca habis artikel ini saya menjadi lebih memahami hakikat dari saintifik, sesuai dengan judulnya, ontologi, sehingga artikel ini memaparkan hakikat tentang pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik sejatinya menggunakan paham sintetik apriori. Karena dalam pelaksanaanya siswa akan diajak untuk menggunakan, mengolah, dan menghubungkan yang menjadi obyek pikir dengan yang ada di luar pikir yaitu kenyataan. Paparan ini semakin memantapkan bahwa pendekatan saintifik patut untuk diberikan karena akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengolah obyek pikir namun juga tetap peka terhadap lingkungan sehingga dapat mengasosiasikannya menjadi ilmu pengetahuan. Pada paparan di atas, pendekatan saintifik pada SD dan SMP akan sangat jelas karena obyeknya memang obyek nyata, namun PR kita sekarang adalah bagaimana menerapkannya pada jenjang SMA karena di sma sudah memasuki ranah semi abstrak yang kebanyakan obyeknya sudah bukan lagi benda konkrit.

    ReplyDelete
  41. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih atas postingannya Prof, saya lihat begitu banyak postingan mengenai saintifik diblog bapak, memang menarik untuk diperbincangkan. Dari postingan di atas, saya dapat menyimpukan bahwa pendekatan saintifik ata dua, yaitu saintifik realis dan saintifik idealis. Penerapannya dari kedua pendekatan saintifik diatas berbeda pula. Untuk pendekatan saintifik realis lebih kepada kenyataan logika, apa yang tampak/real. Pendekata ini lebih cocok digunakan pada anak sekolah dasar karena mereka berpikir berdasarkan apa yang mereka lihat. Untuk pendekatan saintifik lebih cocok diajarkan di anak sekolah menengah ke atas.

    ReplyDelete
  42. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Dalam pemaparan ini saya jadi memahami pemdekatan saintifik yang seharusnya digunakan untuk guru SD dan SMP, hal itu dikarnakan siswa berfikir berdasarkan dgn apa yg mereka lihat.
    dalam hal ini itu akan mempermudah siswa untuk berfikir dengan apa yang mereka lihat. Namun sangat disayangkan sekali jika masih terdapat tenaga pengajar yg blm memahami pendekatan ini, dikarnakan cara ini sangat produktif untuk memberikan pemahaman ke siswa berdasarkan dgn apa yg siswa itu lihat.

    ReplyDelete
  43. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    sejarah atau dasar lahirnya suatu ilmu pengetahuan bahkan sejarah kita sendiri adalah Fatal (takdir) dan Vatal (usaha Manusia). dengan demikian untuk dapat memahami suatu ilmu pengetahuan harus berlandaskan kedua hal tersebut, dimana takdir fatal sebagai batasan kita dalam berpikir sehingga tidak melampui batas (selalu sadar dan yakin bahwa segala uang terjadi ada campur tangan tuhan) dan vatal adalah usaha kita dalam kehidupan ini untuk terus menemukan dan mempelajari ciptaan tuhan melalui potensi pikir pengalaman yang kita miliki.

    ReplyDelete
  44. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    Mempelajari ontologi saintifik, membentangkan wawasan kami agar berfikir tidak sempit dan memikirkan berbagai hal yang dapat mendorong pertumbuhan pembelajaran saintifik agar dapat membantu siswa dalam memperoleh pengetahuannya. Setelah membaca pemaran Prof. Diatas bahwa saintifik tidak melulu tentang 5M namun yang lebih penting lagia adalah merumuskan masing-masing 5M dengan menggunakan intuisi dan pengetahuan intuitif serta perpijak dengan menggunakan saintisme ideal dan saintisme realis. Terima Kasih Prof.

    ReplyDelete
  45. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillahirrohmanirrohim, terimakasih prof. Marsigit atas artikel yang sungguh bermakna di atas. Sejujurnya, mungkin istilah-istilah yang ada pada bacaan di atas sebagian besar belum pernah saya dengar dan tahu, jikalau saya belum mengikuti kuliah bapak tentang Narasi Besar atau perjalanan panjang sejarah filsafat. karena saat itulah saya baru tahu makna mendasar dari pemikiran saintifik. Jika mengingat lagi, Auguste compte hanya ingin menghentikan perdebatan para filsuf tentang pemikiran-pemikiran mereka. Dia hanya memikirkan bagaimana cara membangun dunia tanpa memperdebatkan apa yang memang sulit disatukan. Kesalahan Compte adalah dia berargumen bahwa dunia harus dibangun tanpa adanya agama karena agama dinilai tdak logis dan tidak cocok. Dia mengutamakan positivistik/ saintifik, kemudian filsafat, baru kemudian agama. Jika dilihat dari makna dasar Ontologi, “ontos” berarti ada/ keberadaan atau secara istilah ontologi adalah cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat makhluk hidup/ metafisika umum. Artinya kita harus mampu memahami disebalik kata Saintifik. Rasanya memang mengutamakan logika atau pikiran, namun bagi Compte agama adalah aspek terakhir yang dibutuhkan karena pada dasarnya dia tidak percaya dengan Tuhan. Padahal, sebenar-benar diriku adalah ibadahku. Jadi urusan dunia dan akhirat adalah hal yang harus diseimbangkan dan ini juga menjadi tantangan bagi guru bagaimana saintifik ini tetap mampu dterapkan dalam pembelajaran di sekolah namun tetap dengan berlandaskan aspek spiiritualitas. Waallahu’alam bishowab

    ReplyDelete
  46. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Terimaksaih Pak atas pemaparan sejarah awal adanya saintifik. Sungguh saya baru mnegetahuinya ternyata saintifik terbagi menjadi dua, yaitu saintifik ideal dan saintifik realis. Dan menurut Pak Marsigit, saintifik yang diterapkan pada kurtilas adalah saintifik realis yaitu objek-objeknya berada di luar pikir maka objeknya dapat diamati dan dapat dipersepsi, sedangkan saintifik ideal objek-objeknya berada di dalam pikir jadi objeknya tidak dapat diamati. Saya setuju dengan pendapat Bapak, karena dalam sintak pembelajaran kurtilas biasa tercantum objek yang harus diamati oleh siswa. Objek yang tercantum dalam sintak tersebut objek-objek yang diluar pikir, sehingga memudahkan siswa dalam mengamati dan juga sesuai dengan kemampuan siswa.

    ReplyDelete
  47. Dalam tulisan ini saya mempelajari banyak istilah yang jarang digunakan dalam bahasan kehidupan sehari-hari, saya mempelajari istilah-istilah baru, terimaksih bapak, di tulisan ini saya mempelajar tentang :
    Idealis, Rasionalis, dan Skeptisism (objek dari dalam pikiran), Realisme dan Empirisisme (objek di luar pikiran), Saintisisme (gabungan di luar dan di dalam), Positivisme, religiusitas dan humaniora, Saintifik, Saintifisme
    Ideal, Saintifisme Realis, Saintifisme Rasional, Saintifisme Positif, Saintifisme Empiris, dan Saintifisme Kontemporer, Logisisme, Formalisme,
    Simbolisme, Objektivisme dan Absolutisme, Logika Pikir dan pengalaman, Realisme, Empirisisme, Intuisionisme, dan Subjektivisme, sifat-sifat konsisten, logis, koheren, analitik, rigor, a priori, formal, murni, objektif, terukur, deduktif, abstrak, intuisi murni dan terbebas oleh ruang dan waktu, sifat kecocokan, persepsi, intuisi empirik, sintetik, a posteriori, subjektif, relatif, induktif, konkrit, dan terikat oleh ruang dan waktu, Hermenitika ilmu, bersifat Sintetik a priori, Ontologi dan Epistemilogi Ilmu, Forma (wadah) dan Sibstansi (Isi)

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  48. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Segala pemikiran yang ada di dunia ini akan membentuk teori-teori yang nantinya dapat digunakan oleh orang lain dalam menyampaikan pemikirannya. Tidak ada pemikiran yang salah asalkan pemikiran tersebut dapat disampaikan alasannya dan sebabnya. Setiap orang memiliki pendaptnya sendiri terhadap suatu keadaan dan hasil pemikiran tentang keadaan tersbeut akan menjadi filsafat bagi dirinya.Begitu juga dengan pendekatan saintifik merupakan hasil pemikiran filsof yang digunakan dalam pebelajaran di Indonesia. Pendekatan saintifik dapat menjadi pendekatan yang dipilih karena memiliki beberapa karakteristik yang tentu saja dapat menjadikan siswa menjadi lebih berpikir kritis dan mandiri.

    ReplyDelete
  49. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Dalam ontologi saintifik ini dijelaskan bagaimana proses pembelajaran saintifik, kebedaraannya dalam pendidikan seperti apa. Pendekatan saintifik adalah salah satu pendekatan yang digunkan dalam rangka implementasi kurikulum 2013. Dimana dalam perubahan kurikulum saat ini, memnita guru untuk mengubah paradigma dalam proses pembelajaran. Implementasi kurikulum 2013 membutuhkan perubahan paradigma pembelajaran dari pembelajaran konvensional.

    ReplyDelete