Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


57 comments:

  1. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia memang tidak ada yang sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik Tuhan semata. Tetapi dengan ketidak sempurnaan itu, manusia bisa menikmati dan menjalani hidupnya. Keterbatasan melihat membuat kita bisa menikmati hidup, kita tidak akan bisa menikmati jika kita bisa melihat hal-hal yang menurut kita itu mengerikan

    ReplyDelete
  2. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Sebagai seorang guru kita juga harus mengetahui posisi anak yaitu di dunia bawah, dunia konkret, dunia pengalaman. Tetapi terkadang kita secara tidak sadar pernah memaksakan anak untuk memahami matematika layaknya seperti individu yang sudah dewasa. Banyak anak yang hanya menghafal rumus matematika tetapi tidak tahu penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari sehingga mereka enggan/malas untuk belajar matematika.

    ReplyDelete
  3. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Tujuan filsafat seperti yang dijelaskan dalam refleksi saudari Lia adalah menyadari stuktur dunia. Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Contoh yang mungkin sudah pembaca tahu, 4 x 6 = 24, akan tetapi 4 x 6 bisa menjadi 2.500 ketika seseorang akan mencetak foto. Jadi dalam menjawab pertanyaan haruslah memperhatikan dari struktur mana yang digunakan. Terima kasih.

    ReplyDelete
  4. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pengetahuan yang kita perolah adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka dalam berfilsafat adalah dengan memikirkan pengalaman dan mempraktekkan pikiran, pengalama akan mendukung kita dalam masalah yang terlihat, sedang sesuatu yang ada di pikiran akan membantu mengatasi masalah yang tidak secara langsung kita hadapi

    ReplyDelete
  5. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Mendidik bukan untuk menjadikan murid bisa seperti guru, tetapi agar murid bisa mengalami pengalamam yang seharusnya didapat sesuai umur mereka dengan dibantu atau difasilitasi oleh guru. Anak tidak hanya bisa mengamati dan dijelaskan, tetapi juga diberi pengalaman secara langsung atau dapat menyentuh contooh benda nyatanya

    ReplyDelete
  6. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terkadang saat menemukan sebuah pertanyaan, kita menemukan kebingungan-kebingungan, padahal bisa jadi dari pertanyaan tersebut, kita dapat mengetahui kedudukan terhadap kedudukan strukturnya. Keterbatasan manusia terkadang membuat kita tidak mengetahui tentang kedudukan sebuah pertanyaan sehingga menimbulkan kebingungan.

    ReplyDelete
  7. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Share dari refleksi perkuliahan ini. Setelah kami (saya) baca hal yang sangat menarik bagi saya adalah tentang pengalaman. Mendengar istilah pengalaman ini saya teringat dengan nama John Locke (1632-1704). Dia berpendapat bahwa jika pikiran diibaratkan sebagai kertas puti maka ide-ide di pikiran itu terbentuk dari “pengalaman” (Hardiman,2007:77). Dalam pengalaman tersebut pengetahuan mendapatkan dasarnya dan darinya pengetahuan diturunkan.

    Terima kasih banyak atas share refleksi yang sangat menginspirasi ini.

    ReplyDelete
  8. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    Pendidikan Matematika A pps

    Dengan filsafat saya menjadi biasa dengan kebingungan-kebingungan. Saya tahu kalau saya bingung. Tetapi mebiasakan diri dengan kebingunan itulah saya dapat mengatasi kebingungan saya. Kebingungan bukan menjadi problemnya melainkan jawaban-jawaban yang akan memunculkan problem problem baru tersebut. Menurut saya ini adalah suatu proses yang tiada akhir. Jadi pertanyaan-pertanyaan yang akan mucul tidak sepenuhnya akan terjawab, seperti mendekati tapi tidak akan pernah sampai

    ReplyDelete
  9. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof, Selamat malam.
    Jujur Prof, setelah membaca tulisan “Mengenal Filsafat Lebih Dalam” pikiran saya semakin kacau dan bingung dengan filsafat. Tapi saya masih ingat betul apa yang Prof katakan.”Sebingung-bingungnya pikiran itu adalah ilmu, asalkan bukan hati yang bingung karena hati yang bingung adalah bisikan setan.” Kebingungan itu akhirnya menuntun saya pada aktivitas “mencari.” Belum lama saya membaca buku tentang Filsafat Ilmu Pengetahuan. Di buku tersebut dijelaskan bahwa objek filsafat membahas segala sesuatu yang ada. Ilmu pengetahuan termasuk sesuatu yang ada, sehingga ketika berbicara ilmu pengetahuan, berarti kita sedang berfilsafat. Saya baru memahami kebingungan dalam pikir yang didasari keteguhan dalam hati membuat kita terus mencari solusi akan kebingungan dalam pikir tersebut.

    ReplyDelete
  10. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Semoga dengan berfilsafat kita bisa memaknai pentingnya berpikir, manfaat-manfaatnya dan sebagai sarana yang membedakan manusia dari makhluk lain dengan tujuan utama mendorong manusia untuk berpikir dan membantu kita mengetahui tujuan penciptaan diri dan agar manusia mengagungkan ilmu dan kekuasaan Allah yang tak terbatas.

    ReplyDelete
  11. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postigannya Pak. Penjelasan Bapak mengenai ketidaksempurnaan manusia sekali lagi mengingatkan saya untuk selalu bersyukur. Manusia diberi ketidaksempurnaan dalam pendengaran karena Tuhan berkehendak hamba-Nya mendengar hal yang sesuai dengan kapasitasnya. Manusia diberi ketidaksempurnaan dalam penglihatan karena Tuhan mengetahui dan mau hamba-Nya melihat yang sesuai dengan kapasitasnya. Tuhan selalu memberikan apa yang manusia butuhkan,bukan inginkan. Semoga kita termasuk hamba yang senantiasa bersyukur.

    ReplyDelete
  12. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C
    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam beberapa artikel yang saya baca memang selalu mengatakan dan selalu mengingatkan tentang Spiritual dari diri kita sendiri. Hal tersebut merupakan penyampaian yang sangatlah berharga bagi diri saya pribadi dan bagi orang lain yang memang secara perlahan ingin mulai memahami apa itu filsafat. Saya selalu berfikir. Memang pada dasarnya makhluk Alloh yang paling sempurna memang Rosululloh Muhammad SAW sehingga Alloh SWT memerintahkan kita untuk selalu mencontoh Beliau karena suri tauladan dan akhlaqnya yang memang paling baik dari seluruh umat manusia di dunia ini dari zaman dahulu sampai zamah berakhir. Seperti halnya dijelaskan dalam Q.S Al Ahzab Ayat 21 yang artinya “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosululloh itu suri tauladan yang baik bagimu yang mengharap (rahmat) Alloh dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Alloh”. Sehingga dalam berfilsafat saya berharap akan selalu berada pada jalan yang memang di ridhoi Alloh SWT dan selalu berada di dalam ajaran Nabi Muhammad SAW.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  13. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Menurut saya, postingan di atas menjelaskan bagaimana sudut pandang filsafat terhadap sesuatu. Misalnya, filsafat memandang pengalaman sebagai hal yang penting untuk memperoleh pengetahuan. Tanpa pengelaman dan pemikiran, pengetahuan tidk akan ada. Kemudian, dalam kondisi apapun, kita harus tetap rendah hati, berpedoman pada ajaran agama kita, dan sertakan selalu Allah dalam aktifitas kita. Karena seperti pepatah berikut ini "usaha tanpa doa adalah sombong, doa tanpa usaha adalah bohong".

    ReplyDelete
  14. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pengalaman adalah separuh dunia. Kutipan ini menarik karena ilmu tanpa pengalaman akan menjadi sia-sia. Bila kita selalu memandang sesuatu hanya dari satu sisi, kita tak pernah tau bagaimana pengalaman orang yang memandang dari sisi yang lain. Kekurangan yang kita miliki juga bukan hambatan untuk memperoleh pengalaman. Misalnya, orang yang tidak bisa mendengar meletakkan telapak tangannya di speaker sehingga ia bisa merasakan beat musik yang sedang diputar. Ia juga ingin memiliki pengalaman merasakan musik.

    ReplyDelete
  15. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060

    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Mengutip dari jawaban Bapak yaitu "Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu." membuat kita menyadari bahwa memiliki prinsip baik dalam hal agama dan karakter yang tangguh itu sangat penting. Ibaratnya jika daya tahan tubuh kita kuat, meskipun dekat dengan orang yang sedang terkena flu pun kita tidak akan tertular flu tersebut. Akan tetapi, ketika daya tahan tubuh kita lemah, maka meskipun kita tidak dekat-dekat pun kika akan tertular. Terimakasih.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  16. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend. Matematika B 2017

    Yang dapat saya simpulkan dari postingan ini bahwa sebenarnya filsafat itu luas, tergantung darimana sudut pandang kita. Semua orang bisa berfilsafat, tidak ada yang salah. Ketika kita bingung akan sesuatu, maka berfilsafatlah dengan baik, dengan bagaimana hati kita ingin memandang sesuatu tersebut. Berfilsafatlah lebih dalam, agar kita benar-benar yakin akan hati dan fikiran kita kita.

    ReplyDelete
  17. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya setuju bahwa segala yang ada di dunia ini tidaklah sempurna termasuk manusia. Dalam berfilsafat pun pasti akan muncul berbagai macam paham yang berbeda-beda. Manusia memahami filsafat dari sisi yang berbeda-beda dan hanya dari sebagian sisi saja karena sifat ketidaksempurnaan manusia. Tetapi ketidaksempurnaan itu merupakan anugerah Tuhan kepada kita. Karena jika satu saja manusia diberi kesempurnaan, maka ia tidak lagi bisa hidup. Karena manusia tidak sempurna, tetapi ketidaksempurnaan manusia itu menjadikan manusia hidup atau menemukan hidupnya.
    Saya tertarik dengan jawaban Pfor. Marsigit tentang bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan. Dunia itu berstruktur, maka tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia. Sedangkan di dalam kuliah filsafat digunakan struktur pikiran para filsuf sedagai acuannya. Saya sangat setuju karenajika kita menjawab suatu pertanyaan menurut filsafat, mau tidak mau kita mengacu pada suatu paham atau bahkan beberapa paham dari para filsuf. Jika kita menjawab hanya dengan penalaman saa maka itu belum cukup disebut berfilsafat. Karena sebenar-benar berfilsafat adalah yang bereferensi pada pemikiran filsuf. Dan kita tidak hanya cukup belajar tentang pemikiran seorang filsuf saja, melainkan filsuf-filsuf lain yang terlibat atau memiliki hubungan dengan salah satu filsuf tersebut.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  18. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Hidup manusia penuh dengan problematika yang harus dihadapi. Terkadang saya bimbang dalam menghadapi setiap masalah. Setelah saya membaca postingan Bapak, saya menyadari pentingnya belajar filsafat untuk mengatasi masalah kehidupan. Dengan berfilsafat maka manusia berpikir tentang struktur-struktur yang ada di dunia yang akan membantu manusia dalam masalah kehidupan.

    ReplyDelete
  19. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP B (S2)

    Refleksi perkuliahan. Selesai membaca postingan ini, penuh pertanyaan dalam pikiran saya. Sudahkan saya melakukan refleksi?
    Pada postingan ini, saya semakin bingung dan semakin sadar betapa kurangnya pengetahuan saya untuk mengikuti alur postingan di atas. Apakah saya salah jika saya melihat ada dimensi ruang dan waktu, ada kontradiksi pada tulisan di atas? Yang jelas, ada banyak hal yang harus saya cari tahu.

    ReplyDelete
  20. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari postingan kali ini yaitu tentang mengenal filsafat lebih dalam, saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh penulisnya sendiri yaitu Lia Agustina. Ia menanyakan bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman dan pentingkah pengalaman itu.
    Berdasarkan jawaban Pak Prof. adalah bahwa untuk membangun pengetahuan dibutuhkan separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dari jawaban tersebut tersirat makna bahwa pengalaman itu penting dalam membangun pengetahuan. Dari pengalaman kita dapat mengetahui dan mempelajari banyak hal sehingga akan membentuk suatu pengetahuan baru.
    Akan tetapi, jika hanya mengagungkan pengalaman, juga tidak akan bisa membangun pengetahuan. Pengetahuan akan terbentuk jika diiringii dengan logika berpikir. Jadi, yang sebenar-benar hidup adalah intraksi antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  21. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Saya ingin mengomentari bahwa saya sangat setuju bahwa ketidaksempurnaan yang kita miliki ini sebenarnya adalah anugerah. Bayangkan jika ingatan kita sempurna, maka dari sejak kita lahir hingga saat ini, tiap detik kita ingat dengan jelas, otak kita tidak akan mampu menyimpan bermilyar pangkat bermilyar memori yang telah kita jalani selama hidup.
    Alhamdulillah kita diberikan anugerah LUPA.

    ReplyDelete
  22. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya tertarik sekali bahwa benar di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah semata, kita sebagai manusia biasa hanya bisa memperdalam keyakinan kita bahwa di dalam kehidupan ini kita hanyalah sebagai pion allah dalam melakoni skenario yang telah di susun-Nya dengan sedemikian indahnya. Maka dari itu mulailah kita mempertebal IMTAQ dan memperdalam ilmu kita baik di bidang ilmu dunia maupun ilmu religius spritual kita untuk mempersiapkan dunia yang abstrak untuk diliat mata di kemudian hari.

    ReplyDelete
  23. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PM C (S2)

    Terhadap ketidaksempurnaan itu, kita justru butuh menyadarinya, mengakuinya dan memahaminya. Karena kesadaran, pengakuan dan pemahaman melahirkan penerimaan terhadap diri sendiri. Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan manusia. Karena dengan ketidaksempurnaan itu, manusia harus hidup saling membantu dan saling menolong satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  24. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat merupakan ilmu yang luas. Mempelajari filsafat sama dengan mempelajari hal yang ada dan yang mungkin ada. Berdasarkan pertanyaan yang ada di tulisan Bapak, memang benar bahwa pengetahuan itu dibangun dari pengalaman dan logika. Jika dihubungkan dengan filsafat, maka pengetahuan filsafat itu bisa bersumber dari pengalaman-pengalaman hidup sesorang serta logika yang dipikirkannya. Namun itu belum cukup, karena setiap manusia memiliki jutaan pengalaman yang berbeda dan pikiran yang berbeda pula. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu filsafat sangat luas.

    ReplyDelete
  25. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sungguh manusia diciptakan berbeda-beda agar saling melengkapi satu sama lain dalam suatu sistem kehidupan. Melengkapi kebutuhan hidup yang setiap orang akan bergantung pada orang lain. Sebagai makhluk sosial menerima keberagaman adalah sebuah hal yang penting agar tercipta kedamaian.

    ReplyDelete
  26. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Banyak sekali hal yang baru saya ketahui dalam ilmu filsafat melalui artikel-artikel bapak. Ternyata filsafat bukan hanya memandang suatu hal berdasarkan pandangan duniawi saja tetapi dari segala sudut pandang yang pada akhirnya bersyukur adalah salah satu kata yang saya rasa paling tepat atas semua yang telah dikaruniakan oleh sang pencipta.

    ReplyDelete
  27. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Saya setuju bahwa mengenai ketidaksempurnaan pada manusia itu adalah sebuah anugrah. Dengan ketidaksempurnaan itu membuat manusia saling membantu dan menolong satu dengan yang lainnya. Salah satu contohnya dari sisi lupa, saat teman kita lupa membawa penggaris ke sekolah, padahal saat itu membutuhkan penggaris, maka kita bisa meminjaminya.

    ReplyDelete
  28. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    menanggapi pertanyaan dan jawaban yang pertama, saya menggarisbawahi "manusia tidaklah sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah manusia bisa hidup". mungkin hanya segelintir orang saja yang memahami hal ini, sehingga banyak orang-orang di luar sana yang mengejar kesempurnaan dengan segala cara. padahal sepakat dengan pak marsigit bahwa kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Pengalaman diibaratkan sebagai separuh dunia. Dari pengalaman kita harusnya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sebaik-baik manusia ialah yang dapat belajar dan mampu berkaca dari pengalaman yang telah dilalui.
    WAllahu a'lam

    ReplyDelete
  29. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    Agama dan akal memang harus berjalan beriringan, demi terjalinnya keharmonisan dalam hidup. Seorang yang mendewakan pikiran dan mengasampingkan agama akan pincang, sebaliknya agama yang berjalan tanpa akal pikiran akan buta seperti yang disampaikan oleh Albert Einstein. Istilah fenomena linear merupakan istilah yang baru bagi saya. ada kasus dimana orang islam yang mengkaji lebih dalam mengenai agama, perbandingannya dan sebagainya tanpa memperkuat pondasi spiritualnya ikut terbaawa arus hingga keluar dari islam (murtad). Namun sebaliknya, orang-orang non islam yang memeluk agama islam saat mengkaji sains dan keajaiban-keajaiban di dunia lantas menghubungkannya dengan sisi spiritualitas atau menghubungkannya dengan kekuasaan tuhan. Oleh karenanya benar bagi kita untuk menyelaraskan akal pikiran dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari kita. Wallahu a'lam.

    ReplyDelete
  30. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Seperti kata bapak waktu pertemuan di kelas, landasan yang paling kokoh yaitu landasan spiritual. Jangan sampai kita membiarkan pikiran kita tanpa landasan, berbahaya. Kalau tidak ada landasan, seperti halnya layang-layang kalau tidak diikat akan pergi kemana-mana tidak akan bisa kembali. Kacaunya pikiran jangan sampai membuat kacaunya hati.

    ReplyDelete
  31. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Filsafat adalah diri sendiri, sehingga tentunya setiap orang bisa berfilsafat. Menarik menurut bapak bahwa menetapkan hati sebagai komandan sebelum mengembarakan pikiran. Karena jika mengembarakan pikiran tanpa menetapkan hati/spiritual sebagai komandan, maka bisa jadi pikiran tidak akan bisa kembali. benar sekali bahwa spiritual dalam berfilsafat sangat penting, karena merupakan pondasi dalam kehidupan dan bisa menuntun ke jalan yang benar.

    ReplyDelete
  32. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    Saya sangat setuju, bahwa ketidaksempurnaan adalah suatu anugerah. Manusia diciptakan berbeda-beda dan dengan ketidaksempurnaan. Dengan demikian, maka sejatinya manusia diciptakan untuk saling menolong, saling melengkapi, saling mengingatkan, selalu belajar, selalu berusaha menjadi lebih baik untuk bisa menciptakan kehidupan yang harmonis, tentunya tanpa ada rasa sombong dalam setiap diri manusia.

    ReplyDelete
  33. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih Prof Marsigit atas postingan di atas. Kali ini kita berbicara mengenai filsafat lebih jauh. Ini pertama kali nya saya memahami tentang filsafat. Pikiran yang semula tidak terbebani, sekarang harus beradaptasi dengan mata kuliah ini. Dari postingan diatas, sangat menarik dan membuat saya semakin penasaran apa itu filsafat dan penting kah seseorang memiliki filsafat diri. Pada dasar nya, dari pertemuan pertama dengan prof Marsigit, saya hanya dapat menangkap bahwa filsafat adalah dirimu sendiri, yang jelas berbeda dengan orang lain. Sehingga, filsafat setiap orang pasti berbeda-beda tergantung dengan kualitas pengalaman hidup dan pengetahuan yang ia miliki. Filsafat seringkali dikaitkan dengan segala sesuatu yang dipikirkan oleh manusia,yang tidak pernah ada habisnya. Namun demikian, filsafat diri seseorang haruslah memiliki pedoman dan berpegang teguh dengan pedoman itu agar tetap pada jalur yang benar dan wajar. Mulai dipahami bahwa filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai akar-akarnya, sesuatu yang terbatas maupun yang tak terbatas. Sehingga, untuk mempelajari filsafat, seseorang akan mengalami kemudahan dan kesulitan yang beragam, tergantung bagaimana cara ia memandangnya dan memahaminya. Semoga dengan membaca artikel-artikel postingan Prof Marsigit, saya mampu memiliki filsafat diri yang kuat sebagai salah satu idealisme diri.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  34. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum wr.wb. dan
    Selamat Siang,

    Setelah membaca artikel ini, saya tertarik dengan ungkapan “Praktikkanlah pikiran, dan Pikirkanlah Pengalaman”. Pikiran jika hanya ada dalam otak saja tidak diutarakan, dan laksanakan tidak akan menjadi pengetahuan bagi kita dan pengalaman-pengalaman sebelumnya yang sudah kita alamipun jika tidak diingat, hayati dan pikirkan hanya akan berlalu begitu saja dan tidak akan menjadi pengetahuan serta bermanfaat kita. Namun dalam bertindak juga tidak boleh hanya berlandaskan pikiran saja atau pengalaman saja, karena seperti yang telah dijelaskan pada postingan “Peradaban Dunia” kita tidak boleh sombong dengan hanya mendewa-dewakan pikiran saja atau pengalaman saja. Sehingga dalam bertindak haruslah berdasar pada pikiran dan pengalaman. Sekian dan terima kasih, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
    Selamat Siang dan
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  35. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    “Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda” adalah satu kalimat yang saya kutip dari jawaban Prof Marsigit dari pertanyaan “Bagaimana cara filsafat memandang sebuah pengalaman? Pentingkah pengalaman itu?” Saya telah membaca postingan mengenai a priori dan a posteriori. Yang satu mengutamakan pengetahuan, dan yang lain mengutamakan pengalaman. Namun sebenarnya yang terbaik adalah kombinasi dari keduanya. Seorang mahasiswa pendidikan yang telah selesai kuliah teori tentang pendidikan namun tidak memiliki pengalaman mengajar akan kesulitan ketika harus menghadapi siswa. Seorang yang menjadi guru tanpa mengetahui dasar teori tentang pendidikan dan siswa tidak akan dapat menghadapi siswa dengan baik. Oleh karena itulah keduanya sama-sama dibutuhkan. Tentu saja pengalaman sangat penting, namun pengetahuan atau dasar teori juga tidak kalah penting. Seseorang yang bijak akan bertindak atau mengambil sikap sesuai dengan apa yang diketahuinya dan yang pernah dialaminya.Itulah kesimpulan saya.

    ReplyDelete
  36. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb

    Setiap orang bisa berfilsafat, karena pada dasarnya filsafat itu sendiri bisa diperoleh dari pengalaman. "Pengalaman adalah guru terbaik". Maka sudah selayaknya kita sebagai insan yang diberi akal dan pikiran, semestinya kita belajar dari pengalaman, sehingga kita tidak melakukan keselahan yang sama di masa depan. Pengetahuan tanpa pengalaman pasti akan lenyap apabila kita tidak membagikan atau mengamalkan pengetahuan tersebut. Pengalaman tanpa pengetahuan juga akan sia-sia apabila kita tidak mengambil ibrah(pelajaran) terhadap yang telah terjadi.

    ReplyDelete
  37. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Manusia dalam memikirkan sesuatu terkadang hanya melihat dari satu sudut pandang, karena memang begitulah manusia jauh dari kesempurnaan. Sebabnya jika manusia memiliki satu saja sifat kesempurnaan maka hidup manusia tidak akan damai. Oleh karenanya bersyukurlah atas ketidaksempurnaan yang kita miliki. Dalam memperoleh pengetahuan berfilsafat kita harus menggabungkan antara pengalaman dan pikiran Karena dari dua kombinasi tersebut terbentuklah pengetahuan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  38. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Terima kasih pak atas tulisannya. Ada satu pertanyaan yang masih mengganjal bagi saya di bagian paragraf ini
    “Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

    dari paragaraf ini disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yg tidak sempurna, tapi bukankah manusia itu sempurna?
    contohnya dengan kita tidak bisa mendengar semua suara, tidak bisa melihat semua hal, bukankah itu sebuah kesempurnaan? lalu apa sebenarnya definisi dari kata sempurna? terima kasih

    ReplyDelete
  39. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca refleksi ini membuat saya semakin sadar dan mampu melihat sejauhmana pengetahuan saya terkait dengan ilmu filsafat. Pertemuan minggu lalu saat diadakan tes jawab singkat di kelas saya mendapatkan nilai nol. Nilai yang saya peroleh dapat diinterpretasikan bahwa saya belajar filsafat masih dalam proporsi mengalahkan ego saya namun saya belum dapat berpikir secara filsafat. Saya merasa masih banyak yang belum saya tahu dalam ilmu filsafat. Bagi saya, penting sekali memiliki kemauan untuk terus belajar. Dengan belajar, yang semula tidak tahu akan menjadi tahu. Saya juga masih melatih diri untuk mengkombinasikan antara pengalaman dan pikiran saat mempelajari suatu hal.

    ReplyDelete
  40. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Belajar filsafat itu adalah memperoleh pengetahuan dengan ikhlas mengolah pikir dan mengolah pengalaman, karena keduanya saling melengkapi. Apa yang kita pikirkan kita cobakan dan apa yang kita alami kita pikirkan, maka kita akan memperoleh suatu kesimpulan dengan seimbang dan tidak berat pada salah satu. Seperti itulah hidup, kita harus seimbang antara logika pikir dan hati. Dalam berfilsafat yang berarti megolah pikir, kita harus meneguhkan hati dan selalu menjaganya agar hati mampu menjadi pegangan pikir yang senang berkelana sehingga dia tahu jalan pulang. Sebenarnya hal itu tidak hanya saat berfilsafat namun saat kita menuntut ilmup egetahuan di bidang apapun.

    ReplyDelete
  41. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Sebuah diskusi perkuliahan yang tampak menarik, saya mengamati seluruh pertanyaan mahasiswa di atas adalah wujud dari pemikiran yang menghidupkan filsafat. Namun, yang paling menarik perhatian saya adalah pertanyaan dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan. Saya sangat sepakat dengan pernyataan Prof. Marsigit tentang struktur dan kesadaran. Filsafat adalah kemampuan manusia dalam melihat tanda-tanda, kemudian tanda-tanda tersebut lahir dari sebuah struktur. Tanpa kesadaran, tentu pikiran kita tidak akan bisa melihat struktur-struktur yang abstrak secara jernih.

    ReplyDelete
  42. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    "Dunia itu Berstruktur" pada postingan diatas ungkapan tersebut digambarkan dengan siang-malam, laki-perempuan, dll. Istilah lain yang mungkin sesuai dengan istilah diatas adalah "setiap alam itu berpasang-pasangan" sebagaimana firman Allah SWT Dalam QS. Ar-Rad ayat 3 yang artinya : "Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan". Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa semua ciptaan itu (buah yang pasang-pasangan, siang-malam, dll) sebagai tanda bagi orang yang berfikir. Karena filsafat adalah olah fikir maka orang yang berfilsafat semestinya bisa memahami tanda-tanya kebesaran tersebut.

    ReplyDelete
  43. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Tuhan memberikan ketidaksempurnaan kepada manusia untuk hidup. Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Hal itu karena Tuhan memberikan anugrah kepada manusia sesuai dengan kebutuhannya. Saat manusia diberi kesempurnaan dalam mendengar dan membuatnya dapat mendengar seluruh volume suara yang ada dialam ini, maka orang itu akan tereliminasi dari tatanan kehidupan ini. Sebaliknya, seorang yang mempunyai pendengaran yang kurang (tuna rungu) dapat menjalani kehidupan dengan bahagia. Itu karena, orang tersebut pandai mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan. Oleh karena itu, kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan. Terimakasih.

    ReplyDelete
  44. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pps UNY P.Mat B 2017

    terkadang saya berpikir kenapa sesuatu itu terjadi, kenapa Allah memberikan takdir seperti ini, dst. Manusia memang memiliki keterbatasan (tidak sempurna), nmaun tidak banyak orang yang mneyadari bahwa ketidaksemppurnaan itu adalah hal yang sempurna untuk individu tersebut. seperti yang penah bapak katakan bahwa manusia itu tidak sempurna dalam kesempurnaan dan sempurna dalam ketidaksempurnaan. dengan belajar filsafat, saya jadi paham bahwa tidak semua hal harus berjalan dengan sempurna. terkadang Allah merencanakan sesuatu karena itu adalah yang terbaik untuk individu tersebut. tugas kita (saya) debagai hamba Allah harus banyak-banyak bersyukur atas semua karunia yang telah diberikan-Nya.

    ReplyDelete
  45. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Terimakasih pak atas postingannya. Dengan postingan ini saya memperoleh informasi bagaimana cara mahasiswa pada jurusan yang berbeda dengan saya menanggapi atau menerima pembelajaran yang diberikan oleh bapak marsigit.

    Postingan ini menceritakan bahwa dunia ini terdiri dari pikiran dan pengalaman. Jika pengalaman saja atau pikiran saja maka kita hanya setengah hidup. Segala sesutau sebagai objek pikir dan objek pengalaman itu tidak akan ada artinya jika tanpa doa dan kerendahan hati. Seseorang yang rendah hati akan merasa dirinya selalu kekurangan dalam pengetahuan sehingga dia akan selalu ingin belajar dan belajar guna menyempurnakan kehidupannya. Seimbang antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  46. Junianto
    17709251065
    PM C

    Seperti Prof sampaikan bahwa filsafat adalah diri sendiri. Ketika menjawab soal jawab singkat dari Prof hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai 0, hal ini mengandung makan bahwa mahasiswa belum paham apa yang Prof sampaikan/ jelaskan. Di sisi lain, benar apa yang Prof sampaikan bahwa nilai nol juga mengindikasikan kebenaran filsafat adalah menurut Prof sendiri. Sesuatu yang benar menurut seseorang belum tentu benar menurut orang lain. Tetapi, tuga sebagai seorang mahasiswa adalah belajar dan terus belajar.

    ReplyDelete
  47. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    "Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya"
    Hal yang dikemukakan Bapak sama seperti dasar filsafat yang sering bapak kemukakan di kelas. Sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu sendiri. Akan sangat baik jika calon pendidik memahami hal ini. Setiap anak memiliki pemahamanannya sendiri, dan amat baik jika guru tak membentuk pikiran anak melainkan memfasilitasi anak untuk mengembangkan pikirannya sendiri.

    ReplyDelete


  48. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    Assalamualaikum Wr.Wb setelah membaca postingan tentang refleksi perkualiahan dengan judul “mengenal filsafat lebih” bahwa menyadarkan kami bahwa apakah selama perkuliahan ini kami sudah benar-benar dapat belajar dan memahami tentang filsafat itu sendiri. Sebenarnya kami belum yakin Prof apakah kami sudah masuk dalam proses berfilsafat, setiap pertemuannya kami mencoba untuk mengikuti irama berfikir secara filsafat dan Alhamdulillah terkadang kami dapat menemukan irama berfikir itu dan kadang masih bingung, tetapi hal tersebut tidak memadamkan semangat kami untuk terus belajar Prof. Terima kasih Prof. Mohon bimbingannya.

    ReplyDelete
  49. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Kalimat dari Pak Marsigit yang selalu saya ingat bahwa sebenar-benarnya pikiranmu adalah dirimu sendiri. Satu kalimat tetapi memiliki makna yang luas. Yang saya tangkap dari kalimat tersbeut adalah semua pikiran yang ada dalam diri kita akan mencerminkan seluruh perilaku yang kita akan lakukan. Oleh karena itu tingkat pengetahuan seseorang akan mempengaruhi pemikirannya yang akan berdampak pada perilakunya. Selain itu untuk menjadi orang yang lebih baik selalu senantiasa membaca dan membaca karena dari membaca tersebut kita kan menyadari bahwa pengetahuan yang kita miliki hanyalah sebagian kecil dari pasir yang ada di pantai, padahal seperti yang tadi disampaikan bahwa pengetahuan akan mempengaruhi pemikiran dan akan berdampak pada perilakunya.

    ReplyDelete
  50. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Jawaban Profesor yang membuat saya dapat lebih memaknai hidup adalah bahwa kita harus bersyukur diberi ketidkasempurnaan oleh Tuhan. Karena jika kita diberi kesempurnaan satu saja, maka hidup kita justru tidak akan tenang. Padahal satu orang saja memiliki sifat yang sangat banyak. Jadi tidak pantas lah jika kita meminta kepada Tuhan agar diberi kesempurnaan. Syukuri apa yang sudah kita punya, tetapi tetap jangan lupa untuk terus selalu berusaha agar menjadi sosok yang lebih baik lagi terutama dalam hal urusan dunia maupun akhirat.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  51. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Tulisan ini ternyata juga menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dijadikan sebagai kuis dan membuat saya dan sebagian besar teman-teman mendapatkan nilai nol. Banyak istilah-istilah filsafat yang belum saya ketahui saat itu. Mengaitkan tulisan ini dengan materi perkuliahan narasi besar dunia, sebenar-benar ilmu pengetahuan adalah gabungan antara a priori dengan sintetik a priori, dimana pikiran dan kehidupan pengalaman sama-sama memiliki kedudukan yang sama dan sama pentingnya. Akan tetapi, yang terpenting dalam berfilsafat adalah menyikapi filsafat dengan dunia transenden yang baik. Saat posisi kita di atas tetap rendah hati dan saat posisi kita berada dibawah tetap jangan berkecil hati karena sebenar-benar hidup adalah yang paham ruang dan waktu, dapat beradaptasi dalam segala situasi.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  52. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Begitu pentingnya pengalaman terutama dalam belajar matematika bagi anak-anak. Pengalaman merupakan hal yang sangat penting karena dalam dunia anak-anak adalah dunianya pengalaman. Dan hakekatnya ilmu bagi anak-anak adalah aktivitas, bukanlah suatu teori. Pengalaman adalah bentuk yang nyata dan konkrit bagi mereka, mereka belum mampu untuk berpikir yang abstrak. Maka untuk mengajarkan 1 + 1 kepada anak tidak langsung 1+1=2, melainkan dicontohkan dengan segala yang ada dalam dunianya, contohnya dengan memisalkan satu buah jeruk + satu buah apel, keduanya tidak bisa dikatakan 2 buah apel atau pun dua buah jeruk karena memiliki jenis yang berbeda. Oleh sebab itu, pentingnya pengalaman bagi mereka adalah untuk membangun intuisinya.

    ReplyDelete
  53. Manusia yang Allah ciptakan dengan berada diantara kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, yang memiliki banyak sifat, yang kesemuanya bercampur menjadi satu dalam diri manusia, yang memiliki banyak pengalaman baru di setiap detik selanjutnya dalam hidupnya yang Allah anugerahi otak untuk berfikir, maka bagi manusia yang mampu menggunakan kesemuanya itu maka orang itulah yang mampu mendapatkan dan membangun pengetahuannya yang sebenar-benarnya.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  54. Hidup ini haruslah seimbang, seseorang yang hanya mengandalkan olah pikirnya di dunia tentang dunia maka akan tersesat saat di dunia karena tidak ada yang menjadi pengingat dia tentang batasan dunia, seseorang yang hanya memikirkan hati tanpa menggunakan pikirannya un bisa tersesat, dia tak mampu untuk berinteraksi dengan manusia lain, jadi hidup itu haruslah seimbang antara pikiran dan hati. Spritualisme akan mengingatkan pikiran apa yang menjadi batasan yang dilakukan dan dipikirkan dalam dunia.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  55. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam belajar filsafat kita bisa mengetahui sebenar-benarnya filsafat adalah olahpikir, jadi ketika kita belajar fisafat walaupun dengan orang yang sama, apa yang kita pelajari belum tentu sama. Karena dengan berfilsafat kita akan selalu berpikir, mempelajari dengan cara memikirkan tentang suatu hal, dan dalam setiap manusia akan mempunyai pemikiran yang berbeda. jadi proses belajar filsafat tidak akan pernah berhenti selama kita masih selalu mengunakan pemikiran kita. Karena proses pemikiran akan terus berlanjut sesuai dengan kemajuan jaman.

    ReplyDelete