Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


16 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari postingan kali ini yaitu tentang mengenal filsafat lebih dalam, saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh penulisnya sendiri yaitu Lia Agustina. Ia menanyakan bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman dan pentingkah pengalaman itu.
    Berdasarkan jawaban Pak Prof. adalah bahwa untuk membangun pengetahuan dibutuhkan separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dari jawaban tersebut tersirat makna bahwa pengalaman itu penting dalam membangun pengetahuan. Dari pengalaman kita dapat mengetahui dan mempelajari banyak hal sehingga akan membentuk suatu pengetahuan baru.
    Akan tetapi, jika hanya mengagungkan pengalaman, juga tidak akan bisa membangun pengetahuan. Pengetahuan akan terbentuk jika diiringii dengan logika berpikir. Jadi, yang sebenar-benar hidup adalah intraksi antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  3. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend.Matematika B

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Saya ingin mengomentari bahwa saya sangat setuju bahwa ketidaksempurnaan yang kita miliki ini sebenarnya adalah anugerah. Bayangkan jika ingatan kita sempurna, maka dari sejak kita lahir hingga saat ini, tiap detik kita ingat dengan jelas, otak kita tidak akan mampu menyimpan bermilyar pangkat bermilyar memori yang telah kita jalani selama hidup.
    Alhamdulillah kita diberikan anugerah LUPA.

    ReplyDelete
  4. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya tertarik sekali bahwa benar di dunia ini tidak ada yang sempurna. Kesempurnaan itu hanya milik Allah semata, kita sebagai manusia biasa hanya bisa memperdalam keyakinan kita bahwa di dalam kehidupan ini kita hanyalah sebagai pion allah dalam melakoni skenario yang telah di susun-Nya dengan sedemikian indahnya. Maka dari itu mulailah kita mempertebal IMTAQ dan memperdalam ilmu kita baik di bidang ilmu dunia maupun ilmu religius spritual kita untuk mempersiapkan dunia yang abstrak untuk diliat mata di kemudian hari.

    ReplyDelete
  5. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PM C (S2)

    Terhadap ketidaksempurnaan itu, kita justru butuh menyadarinya, mengakuinya dan memahaminya. Karena kesadaran, pengakuan dan pemahaman melahirkan penerimaan terhadap diri sendiri. Ketidaksempurnaan adalah kesempurnaan manusia. Karena dengan ketidaksempurnaan itu, manusia harus hidup saling membantu dan saling menolong satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat merupakan ilmu yang luas. Mempelajari filsafat sama dengan mempelajari hal yang ada dan yang mungkin ada. Berdasarkan pertanyaan yang ada di tulisan Bapak, memang benar bahwa pengetahuan itu dibangun dari pengalaman dan logika. Jika dihubungkan dengan filsafat, maka pengetahuan filsafat itu bisa bersumber dari pengalaman-pengalaman hidup sesorang serta logika yang dipikirkannya. Namun itu belum cukup, karena setiap manusia memiliki jutaan pengalaman yang berbeda dan pikiran yang berbeda pula. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu filsafat sangat luas.

    ReplyDelete
  7. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sungguh manusia diciptakan berbeda-beda agar saling melengkapi satu sama lain dalam suatu sistem kehidupan. Melengkapi kebutuhan hidup yang setiap orang akan bergantung pada orang lain. Sebagai makhluk sosial menerima keberagaman adalah sebuah hal yang penting agar tercipta kedamaian.

    ReplyDelete
  8. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Banyak sekali hal yang baru saya ketahui dalam ilmu filsafat melalui artikel-artikel bapak. Ternyata filsafat bukan hanya memandang suatu hal berdasarkan pandangan duniawi saja tetapi dari segala sudut pandang yang pada akhirnya bersyukur adalah salah satu kata yang saya rasa paling tepat atas semua yang telah dikaruniakan oleh sang pencipta.

    ReplyDelete
  9. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Saya setuju bahwa mengenai ketidaksempurnaan pada manusia itu adalah sebuah anugrah. Dengan ketidaksempurnaan itu membuat manusia saling membantu dan menolong satu dengan yang lainnya. Salah satu contohnya dari sisi lupa, saat teman kita lupa membawa penggaris ke sekolah, padahal saat itu membutuhkan penggaris, maka kita bisa meminjaminya.

    ReplyDelete
  10. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    menanggapi pertanyaan dan jawaban yang pertama, saya menggarisbawahi "manusia tidaklah sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah manusia bisa hidup". mungkin hanya segelintir orang saja yang memahami hal ini, sehingga banyak orang-orang di luar sana yang mengejar kesempurnaan dengan segala cara. padahal sepakat dengan pak marsigit bahwa kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Pengalaman diibaratkan sebagai separuh dunia. Dari pengalaman kita harusnya belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Pepatah mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik, sebaik-baik manusia ialah yang dapat belajar dan mampu berkaca dari pengalaman yang telah dilalui.
    WAllahu a'lam

    ReplyDelete
  11. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    Agama dan akal memang harus berjalan beriringan, demi terjalinnya keharmonisan dalam hidup. Seorang yang mendewakan pikiran dan mengasampingkan agama akan pincang, sebaliknya agama yang berjalan tanpa akal pikiran akan buta seperti yang disampaikan oleh Albert Einstein. Istilah fenomena linear merupakan istilah yang baru bagi saya. ada kasus dimana orang islam yang mengkaji lebih dalam mengenai agama, perbandingannya dan sebagainya tanpa memperkuat pondasi spiritualnya ikut terbaawa arus hingga keluar dari islam (murtad). Namun sebaliknya, orang-orang non islam yang memeluk agama islam saat mengkaji sains dan keajaiban-keajaiban di dunia lantas menghubungkannya dengan sisi spiritualitas atau menghubungkannya dengan kekuasaan tuhan. Oleh karenanya benar bagi kita untuk menyelaraskan akal pikiran dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari kita. Wallahu a'lam.

    ReplyDelete
  12. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Seperti kata bapak waktu pertemuan di kelas, landasan yang paling kokoh yaitu landasan spiritual. Jangan sampai kita membiarkan pikiran kita tanpa landasan, berbahaya. Kalau tidak ada landasan, seperti halnya layang-layang kalau tidak diikat akan pergi kemana-mana tidak akan bisa kembali. Kacaunya pikiran jangan sampai membuat kacaunya hati.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Filsafat adalah diri sendiri, sehingga tentunya setiap orang bisa berfilsafat. Menarik menurut bapak bahwa menetapkan hati sebagai komandan sebelum mengembarakan pikiran. Karena jika mengembarakan pikiran tanpa menetapkan hati/spiritual sebagai komandan, maka bisa jadi pikiran tidak akan bisa kembali. benar sekali bahwa spiritual dalam berfilsafat sangat penting, karena merupakan pondasi dalam kehidupan dan bisa menuntun ke jalan yang benar.

    ReplyDelete
  15. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    Saya sangat setuju, bahwa ketidaksempurnaan adalah suatu anugerah. Manusia diciptakan berbeda-beda dan dengan ketidaksempurnaan. Dengan demikian, maka sejatinya manusia diciptakan untuk saling menolong, saling melengkapi, saling mengingatkan, selalu belajar, selalu berusaha menjadi lebih baik untuk bisa menciptakan kehidupan yang harmonis, tentunya tanpa ada rasa sombong dalam setiap diri manusia.

    ReplyDelete
  16. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih Prof Marsigit atas postingan di atas. Kali ini kita berbicara mengenai filsafat lebih jauh. Ini pertama kali nya saya memahami tentang filsafat. Pikiran yang semula tidak terbebani, sekarang harus beradaptasi dengan mata kuliah ini. Dari postingan diatas, sangat menarik dan membuat saya semakin penasaran apa itu filsafat dan penting kah seseorang memiliki filsafat diri. Pada dasar nya, dari pertemuan pertama dengan prof Marsigit, saya hanya dapat menangkap bahwa filsafat adalah dirimu sendiri, yang jelas berbeda dengan orang lain. Sehingga, filsafat setiap orang pasti berbeda-beda tergantung dengan kualitas pengalaman hidup dan pengetahuan yang ia miliki. Filsafat seringkali dikaitkan dengan segala sesuatu yang dipikirkan oleh manusia,yang tidak pernah ada habisnya. Namun demikian, filsafat diri seseorang haruslah memiliki pedoman dan berpegang teguh dengan pedoman itu agar tetap pada jalur yang benar dan wajar. Mulai dipahami bahwa filsafat adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam tentang sesuatu sampai akar-akarnya, sesuatu yang terbatas maupun yang tak terbatas. Sehingga, untuk mempelajari filsafat, seseorang akan mengalami kemudahan dan kesulitan yang beragam, tergantung bagaimana cara ia memandangnya dan memahaminya. Semoga dengan membaca artikel-artikel postingan Prof Marsigit, saya mampu memiliki filsafat diri yang kuat sebagai salah satu idealisme diri.
    Wassalamu’alaikum wr.wb.

    ReplyDelete