Nov 2, 2015

Mengenal Filsafat Lebih Dalam

 Oleh Lia Agustina

http://justliy.blogspot.co.id/2015/10/mengenal-filsafat-lebih-dalam-bagian-2.html

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Prodi PEP
Oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Kamis, 22 Oktober 2015
Pukul 07.30 – 09.10

Semakin lama aku semakin penasaran dengan filsafat, semakin lama semakin tinggi tingkat curiosity ku terhadap satu mata kuliah ini apalagi mata kuliah filsafat ilmu ini yang dibawakan oleh Prof. Marsigit secara unik dan dengan metode yang berbeda dari mata kuliah yang lain. Sekali lagi pada hari ini Kamis, 22 Oktober 2015 diadakan lagi tes jawab singkat yang menimbulkan kekesalan dan penyesalan yang mendalam setelah tes itu, banyak dari kami yang mendapatkan nilai Do Re Mi (1, 2, 3), dan nilai yang memalukan itu kami dapatkan karena ternyata kami belum bisa berpikir secara filsafat seperti Prof. Marsigit. Awal dari ilmu pengetahuan adalah pertanyaan.

Aku masih bingung tentang “Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman? Dan pentingkah pengalaman itu?”. Aku ajukan pertanyaan ini terhadap Prof. Marsigit.

Dan seperti inilah jawabannya….

“Kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa mendengar siksa neraka misalnya. Itu barulah satu sifat saja, bayangkan manusia yang mempunyai bermilyar-milyar sifat. Maka itulah hebatnya Tuhan memberi ketidaksempurnaan kepada kita untuk hidup. Pengalaman adalah separuh dunia.

Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Karena ini olah pikir kita bisa praktik, praktiknya didalam laboratorium. Praktiknya filsafat, misalnya dengan bertanya dan memikirkan  bagaimana/apakah kita bisa hidup dengan pengalaman saja, dan bagaimana kita hidup dengan pikiran saja. Contoh, dokter yang melayani dengan radio. Hanya dengan mendengarkan keluhan pasien, ia bisa mendiagnosa penyakitnya dengan analisis dari pengetahuan yang telah ia miliki sebelumnya. Dokter ini menggunakan metode Analitik Apriori yaitu bisa memikirkan walaupun tidak melihat secara langsung objeknya. Hanya dari pengetahuan yang sebelumnya sudah pernah ia dapatkan. Sebaliknya seorang Dokter Hewan, yang ingin memeriksa seekor Sapi yang sakit, ia harus memeriksanya dan memberikan tindakan secara langsung barulah ia dapat memikirkan penyakit sapi tersebut, maka dokter itu menggunakan metode Sintetik a posteriori (kehidupan pengalaman).

Jadi, yang diatas, pikiran itu cenderung konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum Identitas; jika derajatnya dinaikkan lagi menuju spiritual, dan dinaikkan lagi nilai kebenarannya dan nilai Identitasnya adalah tunggal (monoisme atau kuasa Tuhan). Jika ditarik kebawah, dunia pengalaman cenderung Sintetik a posteriori, yaitu dunianya yang nyata, konkret, dan bersifat Kontradiksi. Menurut Immanuel Kant, langit itu konsisten (para dewa, kakak terhadap adik, dosen terhadap mahasiswa, dll, semua tidak punya kesalahan). Semakin tinggi semakin kecil kontradiksi, sebenar benar yang tidak ada kontradiksi atau absolute adalah Tuhan. Semakin turun semakin besar kontradiksi, maka sebenar benar kontradiksi ada dalam predikatnya. Sebenar benar ilmu adalah sintetik a priori menurut Immanuel Kant. Ilmu mu akan lengkap dan kokoh jika bersifat sintetik a priori.  Contoh seni hanya untuk seni tidak untuk masyarakat maka itu hanyalah separuh dunia. Oleh karena itu timbullah Metode saintifik, mencoba itu Sintetik, dan menyimpulkan itu a priori.

Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi. Dengan kontradiksi lah bisa ada produk baru. Yang diatas jika ditarik kebelakang adalah selaras dengn hal-hal yang ada dalam pikiran. Benda pikir itu tidak terhalang oleh ruang dan waktu. Itulah dunia pikiran, bersifat ideal, tetap, menuju kesempurnaan. Maka itu akan tersapu habis untuk semua tokoh filsafat yang berchemistry dengan pikiran mulai dari yang bersifat tetap (Permenides), rasionalisme (Descartes), Perfectionism, Formalisme, dll. Tapi itu adalah dunia transenden, semakin keatas semakin bersifat transenden atau beyond (dunianya para dewa).  Engkau adalah transenden bagi adikmu, ketua adalah transenden bagi anggotanya, dan subjek juga transenden bagi para predikat-predikatnya. Maka transenden adalah sifatnya para dewa, dan pengalaman/kenyataan adalah dunianya para daksa. Tapi di dalam kehidupan sehari-hari, kita menjumpai, uniknya, hebatnya, dan bersyukurnya dunia pendidikan itu karena kita mengelola, berjumpa serta berinteraksi dengan anak kecil.

Anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Mathematics is for mathematics, art is for art, science is for science, …dst itu adalah ilmunya orang dewasa (para dewa). Tapi untuk anak kecil, pameran seni tidak hanya untuk dipandang tapi harus bisa dipegang/disentuh karena itu adalah dunia anak. Hakekat ilmu bagi anak adalah aktifitas/kegiatan. Mendidik bukanlah suatu ambisi agar semua murid kita bisa seperti kita. Fungsi guru adalah memfasilitasi anak didiknya. Ada= potensi mengada= ikhtiar pengada= produk. Dunia mengalami dilema (anomaly) karena kekuatan pikir itu adalah hebat, kekuatan pikir memproduksi resep/rumus untuk digunakan, jika dinaikkan bisa menjadi postulat-postulat kehidupan. The power of mind  (Francis Bacon) bisa merekayasa pikiran bisa mengkonstruk konsep sebagai resep kehidupan. Dan hasilnya menakjubkan sehingga lahirlah peradaban. Jadi peradaban adalah produk dari the power of mind.”

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Tyas, yaitu “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?”

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Filsafat adalah dirimu sendiri. Tidak usah jauh-jauh sampai Yunani, yang aku sebut tadi yang absolute, ketika aku berdoa, aku adalah seorang spiritualis, so, my behave is as spiritualist.  Tapi, begitu ada pencuri, saya bersikap tegas, determinist, dan otoritarian. Maka demokratik, romantic, pragmatis itu tidak lain tidak bukan adalah dirimu sendiri, inilah yang disebut sebagai Mikrokosmis. Sedangkan makrokosmis adalah pikiran/pendapat para filsuf, ada sejarah dan tanggal lahirnya, dll. Oleh karena filsafat adalah dirimu sendiri maka sah-sah saja jika orang atheis mau berfilsafat. Filsafat peduli dengan ruang dan waktu, dan tujuannya adalah memperoleh kebahagiaan melalui olah pikir. oleh karena itu bersifat kontekstual. Supaya hidup berbahagia itu harus berchemistry dengan kontekstual. Strukturnya jelas yaitu: material, formal, normatik, spiritual. Semakin ke atas semakin mengerucut. Tetapkanlah hatimu sebagai komandanmu sebelum engkau mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakn pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linear (lurus tak kerujung), maka orang yang hanya mengandalkan pikiran saja, hidupnya linear seperti garis lurus, tidak mengerti hidupnya akan berhenti sampai dimana, dan tidak bisa kembali (merefleksikan hidup=bersyukur). Namun jika hidupnya dituntun oleh spiritualitas maka pada setiap titiknya akan terjadi hermenitika kehidupan: pertama, fenomena menajam (dengan saintifik), fenomena mendatar (membudayakan), dan fenomena mengembang (konstruksi-membangun hidup)  Manfaat berfilsafat kita mampu menjelaskan posisi kita secara berstruktur dunia”.

Ada sebuah pertanyaan lagi yang muncul dari Ian Harum tentang Bagaimana cara filsafat untuk menjawab suatu pertanyaan.

Lalu seperti inilah jawaban dari Prof. Marsigit..

“Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia.    


63 comments:

  1. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Filsafat memandang sebuah pengalaman sebagai a priori dan a posteriori. Manusia hidup itu melibatkan pikiran dan pengalaman yang kemudian dibentuk sebagai sebuah pengetahuan. Pengetahuan dibangun dari separuh pengalaman dan separuh logika. Oleh sebab itu, berfilsafat adalah memikirkan pikiran dan memikirkan pengalaman. Pikiran itu cenderung konsisten dan absolut, yang mana jika dinaikkan derajatnya maka akan menjadi spiritualitas dan jika dinaikkan lagi maka akan menjadi kuasa Tuhan. Maka, pengalaman datangnya dari kuasa Tuhan yang disampaikan melalui pikiran-pikiran manusia.

    ReplyDelete
  2. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Sangat menarik sekali pak tulisan di atas. Saya sangat setuju sekali dengan ungkapan bahwa dunia ini berstruktur. Tentu saja dalam segala hal semuanya sudah terstruktur, misalnya apa yang akan kita lakukan esok hari semua sudah terstruktur di dalam pikiran kita. Dan sebenar-benar struktur kehidupan adalah takdir dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  3. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Sebenar-benarnya filsafat adalah diri kita sendiri. Berfilsafat tidak terlepas dari olah pikir kita, bagaimana kita memikirkan semua yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Pikiran kita terbentuk dari prior knowledge kita atau pengalaman kita selanjutnya pengalama itu dijadikan pengetahuan baru yang nantinya akan mengalami asimilasi dan akomodasi menjadi pikiran baru lagi. Kita dapat berpikir pun karena adanya kontradiksi, tapi seperti yang dijelaskan semakin ke atas maka kontradiksi semakin kecil sehingga secara spritual kita menerima dengan mutlak kuasa Tuhan tanpa adanya pertentangan.

    ReplyDelete
  4. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Manusia bisa hidup karena ketidaksempurnaan. Begitulah kalimat yang menarik untuk saya. Bnear saja, jika kita diberikan kesempurnaan untuk berpikir, maka, kita tidak akan bisa merasakan nikmatnya tidur karena sepanjang hari kita hanya akan berpikir.

    ReplyDelete
  5. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, Wb.
    Saya sangat tertarik dengan ungkapan "Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda".Sehingga pengalaman sangat penting dalam berfilsafat dan pengetahuan. Kita dapat membangun pola pikir dengan pengalaman-pengalaman sebelumnya. Dan tidaklah salah bahwa kita dapat belajar dari pengalaman.

    ReplyDelete
  6. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat pagi, Prof.
    Salah satu fungsi berfilsafat adalah menggapai kebahagiaan. Memikirkan apa yang kita lakukan (pengalaman) dan menjelaskannya entah untuk diri sendiri ataupun orang lain adalah suatu kebahagiaan. Bercerita tentang pengalaman adalah kebaikan dan pelajaran untuk orang lain. Dengan demikian, siapa saja bisa berfilsafat tanpa memandang status, ras, suku, agama, dan bahkan yang tak beragama. Karena pada hakekatnya tiap orang punya pengalaman, dan jika ditambah dengan logikanya untuk menterjemahkan pengalamannya, orang akan menemukan filsafatnya. Dalam hidup ini, seumpama kita sedang berteori dalam mendefinisikan banyak hal. Kita membuat suatu narasi sebagai teori, dan pengalaman adalah bukti dari teori tersebut.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Berdasarkan komentar saudara Falentino bahwa " siapa saja bisa berfilsafat tanpa memandang status, ras, suku, agama, dan bahkan yang tak beragama. Karena pada hakekatnya tiap orang punya pengalaman, dan jika ditambah dengan logikanya untuk menterjemahkan pengalamannya, orang akan menemukan filsafatnya. Dalam hidup ini, seumpama kita sedang berteori dalam mendefinisikan banyak hal,Kita membuat suatu narasi sebagai teori, dan pengalaman adalah bukti dari teori tersebut", dari pernyataan tersebut bisa jadi memaknai filsafat dari perspektif berdasarkan hukum sebab akibat.

      Delete
  7. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Berfilsafat artinya kita ingin mengetahui cara berpikir para filsuf terdahulu. Cara berpikir filsuf bermacam-macan sesuai paham yang dianut para filsuf tersebut. Bagaimana cara kita (sebagai orang awam) berfilsafat atau memahami filsafat yang memiliki pandangan yang berbeda-beda? Jawabannya mudah sekali. Pilihlah cara pandang yang menurutmu sesuai dengan pemikiran dan jalan hidupmu. Fokuskan dalam memahami filsafat melalui cara pandangku. Alhasil kamu akan mengenal filsafat tersebut lebih dalam lagi. Terima kasih.

    ReplyDelete
  8. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Berfilsafat adalah berpikir. Berpikir itu tergantung pada subjek yang berpikir. Maka berfilsafat itu tidak lepas dari pengalaman kita. Berdasarkan pengalaman ini lah kita dapat membangun suatu pengetahuan, namun baru separuh. Separuhnya lagi adalah logika. Jadi pengetahuan itu dibangun dari separuh pengalaman dan separuh logika. Itulah struktur pengetahuan. Jika dinaikan lagi maka akan menjadi spritualitas, dan jika dinaikan lagi adalah kuasa Tuhan. Maka sebenar-benar ilmu itu datangnya dari Tuhan. Manusia hanya mensintesis pengetahuan berdasarkan pengalaman dan logikanya. Maka dari itu menurut Immanuel Kant ilu adalah sintetik a priori.

    ReplyDelete
  9. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Sejatinya semua manusia adalah sedang berfilsafat. Pada kehidupan manusia selalu melibatkan olah pikir dan pengalaman, intuisi yang dimiliki yang kemudian menjadikan sebuah pemahaman dan pengethuan yang dimiliki seseorang. Filsafat memikirkan apa yang ada, kemungkianan yang akan ada dan yang tidk ada menyesuaikan ruang dan waktu..Jadi dari kacamata filsafat, sesuatu yang ada ini tidaklah ada yang absolut..apa yang ada detik ini, bukanlah sesuatu yang ada 1 detik yang lalu atau 1 detik yang akan datang.

    ReplyDelete
  10. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    "Bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman?" Membangun pengetahuan adalah interaksi antara pengalaman dan logika. Maka berfilsafat adalah praktik dari olah pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Seperti yang diutarakan saudara Darwis bahwa cara filsafat memandang sebuah pengalaman adalah dengan Membangun pengetahuan interaksi antara pengalaman dan logika. Maka dikatakan berfilsafat sebagai praktik dari olah pikiran dan pengalaman. Hal tersebut sepertinya mengarah pada hukum keseimbangan dari hasil abstraksi.

      Delete
  11. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    “Bagaimana orang atheis berfilsafat? Bisakah? Seperti apa?” Semua orang bisa berfilsafat. Karena filsafat itu ialah diriku atau dirimu. Seorang atheis kontemporer terkenal adalah Stephen Hawking. Ia adalah salah satu tokoh kontemporer yang mengagungkan ilmu sehingga bagi dia agama itu tidak penting. Semua yang terjadi di dunia ini adalah secara tiba tiba.

    ReplyDelete
  12. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Filsafat merupakan olah pikir kita akan sesuatu. Filsafat akan membawa kita untuk mempraktikan yang kita pikirkan dan memikirkan pengalaman yang dimiliki. Karena sebenar-benarnya hidup adalah interaksi yang terjadi anatara pikiran dan pengalaman. Adanya interaksi tersebut akan menghindarkan diri kita akan adanya kesalahan yang mungkin bisa terjadi pada ruang dan waktu yang berbeda. oleh sebab itu, marilah kita selalu memikirkan pikiran dan pengalaman untuk dapat menggapai sebenar-benarnya hidup dalam berfilsafat.

    ReplyDelete
  13. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Mengutip dar penggalan paragraf di atas, bahwa “Dunia itu berstruktur. Pagi-sore itu struktur dunia, laki-laki-perempuan adalah struktur dunia, logika-pengalaman itu struktur dunia. Kita harus bisa mengabstraksi (memilih) yang mana struktur yang dipakai untuk membangun perkuliahan ini. Perkuliahan ini menggunakan struktur pikiran para filsuf. Jadi dunia dan akhirat penuh dengan struktur (full of structure). Jadi, secara filsafat untuk menjawab sebuah pertanyaan, begitu ada pertanyaan di suatu tempat dengan kesadaran full of structure, maka pertanyaanmu itu terang benderang kedudukannya, dilihat dari berbagai macam kedudukan struktur. Misal, wadah itu ada dimana? Tergantung strukturnya, bisa siang bisa malam. Kelembutan, wadahnya perempuan, kesigapan, wadahnya laki-laki, dll. Wadah itu ada dimana-mana, yang engkau pikirkan, katakan, sebutkan itu adalah wadah sekaligus isi. Kenapa isi? Karena setiap yang engkau sebut itu mempunyai sifat dan engkau tidak dapat menyebut sesuatu dimana dia tidak mempunyai sifat. Maka sebenar benarnya dunia adalah penuh dengan sifat. Jadi, hidup adalah sifat itu sendiri, dari yang ada dan yang mungkin ada. Tujuan filsafat adalah menyadari struktur dunia". Selanjutnya, maksud dari gagasan tersebut sepertinya, mengarah pada ontologi filsafat ditinjau dari satu sudut bangun ruang dan waktu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
      Besse Rahmi Alimin
      18709251039
      s2 Pendidikan Matematika 2018

      Selanjutnya, filsafat juga bisa dikatakan sebagai usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati. Serta Sumber dari filsafat ialah manusia, dalam hal ini akal dan kalbu manusia yang sehat yang akan berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran dan pada akhirnya akan memperoleh kebenaran.

      Proses dalam mencari kebenaran itu dengan melalui berbagai tahap. Tahap Pertama, manusia akan berspekulasi dengan pemikirannya mengenai semua hal. Tahap Kedua, dari berbagai spekulasi itu akan disaring menjadi beberapa buah pikiran yang dapat diandalkan. Tahap Ketiga, buah dari pikiran tadi akan menjadi titik awal dalam mencari kebenaran (penjelajahan pengetahuan yang didasari kebenaran), selanjutnya berkembang sebagai ilmu pengetahuan, seperti fisika, matematika, politik, hukum dan lain sebagainya.

      Delete
  14. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran dan pikirkanlah pengalaman. Lakukanlah apa yang kita pikirkan, karena apa yang kita lakukan menjadi pengalaman tersendiri bagi kita. Setiap orang pasti memiliki pengalaman, ada pengalaman baik dan ada pengalaman buruk. Pengalaman tersebut bukan semata-mata langsung dibuang begitu saja, namun pikirkanlah mengapa bisa memiliki pengalaman tersebut dan bagaimana untuk memperbaiki pengalaman buruk agar bisa lebih baik untuk kedepannya. Pengalaman adalah guru yang paling baik. Sehingga kita bisa belajar dari pengalaman dan dapat merencanakan sesuatu yang lebih indah lagi.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  15. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Setiap orang bisa berfilsafat. Tidak memandang orang tersebut beragama atau tidak, orang tersebut kaya atau miskin, laki-laki atau perempuan, dan sebagainya. tidak ada larangan dan tidak ada ketentuan orang untuk berfilsafat. Karena pada dasarnya filsafat adalah diri sendiri. sehingga semua orang bebas untuk berfilsafat. Dalam berfilsafat perlu menetapkan hati sebagai komando dalam berpikir. Jangan hanya berpikir saja namun perlu juga diarahka oleh hati. Sehingga apa yang ada di hati selaras dengan apa yang ada dipikiran. Jika pikiran tidak dikendalikan oleh hati bisa menjadikan orang tersebut sombong dan tidak pernah bersyukur dengan apa yang dimilikinya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  16. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Pandangan filsafat terhadap pengalaman. Menurut saya pandangan yang cukup unik berikut ini:
    Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dan ini dinamik setiap hari. Sebenar benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Pikiran kita bermain dalam analitik apriori sedangkan pengalaman kita bermain dalam sintetik a posteriori. Dua hal yang sangat harmonis dalam hidup jika digunakan secara beriringan.

    ReplyDelete
  17. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.
    Refleksi yang sangat menarik dan menjadi pengetahuan tambahan bagi saya. Dunia pikir dan dunia pengalaman menjadi sangat penting bahkan disebutkan bahwa pengalaman adalah separuh dunia. Karena pikiran saja tidak bisa membawa kita mengenal dunia lebih jauh, tidak bisa membuat kita menguasai suatu ilmu, harus ada pengalaman dan praktik yang membuat kita bisa memahami. Dan pendidikan ada sebagai bahan pikir serta bahan pengalaman.

    ReplyDelete
  18. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu'alaikum, wr, wb.

    Pengalaman memang sangat penting, sama seperti yang sering dikatakan bahwa kita dapat belajar dari pengalaman. Pendidikan menjadi salah satu cara dalam memberikan kepada siswa. tetapi kita sebagai guru harus tepat dalam memberikan pengalaman. Kita harus tepat memilih pendidikan seperti apa yang harus diterapkan dalam dunia dewasa dan pendidikan yang bagaimana yang harus diterapkan dalam dunia anak-anak. Karena kita tidak bisa memaksakan anak-anak berpikir dewasa, dan begitupun kita sudah tidak semestinya berpikir layaknya anak-anak.

    ReplyDelete
  19. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Dari elegi tersebut saya amat tertarik dengan jawaban bapak atas pertanyaan mbak Lia Agustina tentang “Bagaimana cara filsafat memandang sebuah pengalaman? Pentingkah pengalaman itu?” dan jawaban yang bapak berikan adalah “kita kadang memandang hanya dari satu sisi saja karena memang sifat manusia tidaklah sempurna tapi karena ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup ini, jika kita diberi satu saja kesempurnaan kita langsung saja tidak bisa hidup, misal kita diberi kesempurnaan mendengar, mendengar apapun yang ada dan yang mungkin ada langsung saja kita tidak bisa hidup, kita bisa saja mendengar siksa neraka misalnya…” sungguh jawaban yang sangat menarik Prof. dan saya jadi membayangkan bagaimana kalau manusia diberikan kesempurnaan melihat, melihat yang ada dan yang mungkin ada, pasti tidak akan tenang dan nampaknya tak akan bisa tidur nyenyak. Dari jawaban Bapak tadi saya jadi mengerti pernyataan yang pernah Bapak sampaikan yaitu “manusia itu sempurna dalam ketidaksempurnaannya” dan benar yang menyebabkan manusia sempurnya itu adalah ketidaksempurnaannya, dan jika manusia itu sempurna karena kesempurnaan maka kasusnya akan seperti kasus pendengaran tadi. terimakasih Prof, sungguh ilmu yang amat bermanfaat.

    ReplyDelete
  20. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Filsafat berdasarkan sudut pandang pengalaman, bentuk pengetahuan merupakan bentuk dari separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah kerjakan apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau kerjakan. Inilah kehidupan yang tidak cukup hanya dipandang dengan satu sisi saja, tetapi memang sifat manusia tidaklah sempurna. Oleh sebab itu, dengan ketidaksempurnaan kita dapat belajar menata hidup ke arah yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan-kesalahan/pengalaman. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya. Belajar dari kesalah merupakan cara awal untuk mencapi kesuksesan yang akan mendatan.

    ReplyDelete
  21. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Filsafat berdasarkan perspektif orang atheis, seperti yang kita ketahui bahwa filsafat adalah dirimu sendiri. Ketika saya berdo maka saya adalah seorang spiritualis karena saya memiliki keyakinan atas apa yang saya kerjakan, maka sebenar-benar perbuatan adalah spiritualitas. Tapi, begitu ada hal kejadian yang saya tidak senangi, maka saya akan bersikap tegas, determinist, dan otoritarian secara spontanitas. Hal inilah yang merupakan sebenar-benar selain diriku sendiri.

    ReplyDelete
  22. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berfilsafat dengan menjawab suatu pertanyaan, sebagaimana inti dari berfilsafat adalah olah pikir dari manusia atau dirimu. Tanpa kita sadari bahwa kita mampu berfilsafat karena filsafat itu sesuatu yang ada dipikiran kita. ketika kita mampu menuangkan apa yang ada dipikiran kita maka itulah sebenar-benar filsafat. Kaitannya dengan menjawab suatu pertanyaan, apapun jawaban yang kita lontarkan itulah filsafat menurut kita, namun terkait kebenaran dan kesalahan atas jawaban tersebut belum tentu bernilai benar karena tergantung pada konteks ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  23. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Menurut pendapat saya, setiap orang dapat berfilsafat, begitu pula orang atheis. Seperti yang sudah disampaikan oleh Prof Marsigit bahwa dunia ini berstruktur. Mulai dari material, formal, normatik, dan spiritual. Spiritual berada pada tingkatan paling tinggi. Orang atheis mampu berfilsafat, mampu memikirkan dan menjelaskan esensi atau hakekat suatu kehidupan, namun dia tidak akan pernah menjangkau spiritual, karena memang mereka menganggap bahwa kehidupan dan mempercayai suatu hal hanyalah berdasarkan pada apa yang mampu ia pikirkan dengan pikirannya. Sementara untuk menjangkau spiritual, pikiran saja tidak akan mampu membawanya ke sana.

    ReplyDelete
  24. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Untuk menjadi tertarik dengan filsafat bisa dimulai dengan memahami apa filsafat itu sekilas menurut para tokoh dan mulai menghubungkan dengan kehidupan manusia. Menghubungkan di sini artinya memaknai lebih dalam lagi dengan menerapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, padahal penerapan tersebut sudah diterapkan oleh manusia sejak dulu, sejak dini karena memang filsafat itu segala kegiatan manusia termasuk berpikir yang ada di dalam pikiran pun dikatakan berfilsafat. Sehingga dari sini manusia sekalian berevaluasi diri, memperbaiki diri pelan-pelan, karena akan mempengaruhi filsafat selanjutnya.

    ReplyDelete
  25. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Berfilsafat adalah separuh pikiran dan separuh pengalaman. Berfilsafat artinya mengektraksi pikiran dan pengalaman menjadi bahasa-bahasa yang lebih mendetail dan mendalam. Dengan mengekstraksi pikiran dan pengalaman akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah kepada hakikat dari objek pikiran atau pengalaman yang kita rasakan/alami.

    ReplyDelete
  26. Muhammad Nurfauzan
    14301241015
    S1 Pendidikan Matematika

    Setiap manusia dalam berfilsafat memiliki cara tersendiri. Seperti memaknai ssesuatu dapat dengan menimbulkan pertanyaan dalam diri sendiri. Jika Immanuel Kant berfilsafat dengan menjawab 3 pertnyaaan, Apa yang bisa aku tahu? Apa yang harus aku lakukan ? Apa yang boleh aku harap? (sumber : Ngaji Filsafat:Filsafat Harap pada tanggal 2-1-2018 ) . dan berfilsafat itu perlu harapan jika tanpa harapan, akan terjadi seperti di indonesia sekarang, perpecahan dimana-mana

    terimakasih

    ReplyDelete
  27. Hendra b.
    18701261008
    PEP S3 2018

    saya setuju dengan statement dari refleksi ini adalah bahwa sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Apa yang ada dipikiran terefleksikan di dalam kehidupan nyata dan kehidupan terfleksikan di dalam pikiran.

    ReplyDelete
  28. M. Ikhsan Ghozali
    19701261003
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Kata "berstruktur" dalam tulisan ini sungguh menggelitik. Kata ini menuntun saya untuk mencoba mengikuti perbincangan sebatas yang saya ketahui. Dalam tulisan dinyataan bahwa makrokosmos adalah keteraturan, begitupun mikrokosmos. Keteraturan dapat terjadi karena berstruktur, dan adanya fungsi. Dunia berstruktr, kehidupan berstruktur, pengetahuan berstruktur, hal lainnya pun berstruktur. Strukturnya lengkap dan interaktif: kontekstual, material, formal, normatik, dan spiritual, saling melengkapi dan sesuai dengan fungsi masing-masing. Begitupun dengan filsafat, merupakan struktur yang fungsional, yang menyediakan kebajikan dan kebijakan, dan selanjutnya dapat memberi pemahaman yang utuh dan benar terhadap struktur dunia, berikut fungsi-fungsinya sehingga dapat memberi manfaat dan kebahagiaan, lahir dan batin.
    Berfilsafat terkait dengan hal ruang, waktu, dan subjek, Siapa pun boleh berfilsafat dengan caranya masing-masing, berpikir dan bertindak secara dinamis dan interaktif, untuk dapat mengenal dirinya, dunianya, dan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya. Wassalamu'alaikum.

    ReplyDelete
  29. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Terima kasih Bapak atas artikel yang sudah Bapak share kepada kami. Mendengar kata Filsafat yang terlintas adalah sebenarnya apa sih filsafat itu? Pentingkah? Mungkin saya masih awam mengenai filsafat, menurut saya ilmu filsafat itu susah, cakupannya sangat luas karena setiap kata itu mengandung berjuta-juta makna. Ada keinginan untuk mengambil perkuliahan ilmu filsafat di semester tujuh nanti. tapi saya masih memikirkannya matang-matang. Tapi setelah saya pikir lebih dalam lagi, filsafat itu seperti diri kita sendiri. banyak maunya, banyak harapan, banyak mimpi, banyak komentar, banyak keinginan, banyak cara, banyak ide dan sebagainya.Sehingga dapat saya simpulkan bahwa filsafat itu ya seperti diri saya (yang banyak maunya, banyak impian dan harapan), pentingkah filsafat? wah ternyata sangat penting. Sepenting hidup kita untuk lebih baik di masa yang akan datang.

    ReplyDelete
  30. Dini Senjaningrum
    19709251067
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Artikel di atas menarik untuk saya karena perngalaman pertama saya tidak jauh berbeda saat mengikuti kuliah filsafat yang dibawakan oleh Prof. Marsigit. Awal mengikuti perkuliahan filsafat membuat saya bingung tentang maksud dan tujuan filsafat untuk dipelajari. Setelah mengikuti beberapa kali perkuliahan, ada beberapa hal yang saya pelajari yaitu filsafat mengajarkan untuk tidak berbangga diri dengan ilmu yang sudah dimiliki. Kesombongan dan ego harus dihilangkan untuk mempersiapkan diri kita menerima ilmu baru, dan cara terbaik untuk memperoleh ilmu adalah dengan membaca.

    ReplyDelete
  31. Ahmad Syajili
    19709251066
    S2 PM D 2019

    Dari postingan kali ini yaitu tentang mengenal filsafat lebih dalam, saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh penulisnya sendiri yaitu Lia Agustina. Ia menanyakan bagaimana secara filsafat memandang sebuah pengalaman dan pentingkah pengalaman itu.
    Berdasarkan jawaban Pak Prof. adalah bahwa untuk membangun pengetahuan dibutuhkan separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran anda dan pikirkanlah pengalaman anda. Dari jawaban tersebut tersirat makna bahwa pengalaman itu penting dalam membangun pengetahuan. Dari pengalaman kita dapat mengetahui dan mempelajari banyak hal sehingga akan membentuk suatu pengetahuan baru.
    Akan tetapi, jika hanya mengagungkan pengalaman, juga tidak akan bisa membangun pengetahuan. Pengetahuan akan terbentuk jika diiringi dengan logika berpikir. Jadi, yang sebenar-benar hidup adalah intraksi antara pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  32. sintha fardu anggraeni
    19709251071
    S2 pendidikan matematika /D


    terimaksih pak prof marsigit.
    dengan membaca blog bapak mengenai mengenal filsafat lebih dalam baru kali ini saya mengetahui tentang filsafat itu terdapar diri saya. ilsafat pada intinya adalah berpikir secara mendalam dan luas agar dapat memahami sesuatu dan dibalik sesuatu. selain itu dalam memahami sesuatu dan dibalik sesuati diperlukan rasa keingintahuan. Rasa keingintahuan adalah sarana belajar yang sangat menarik. Hanya diri sendiri yang mampu mendorong seseorang untuk ingin tahu. Karena filsafat dan paradigma didalam dirinya membisikinya lah yang menjadi sebab seseorang memiliki rasa ingin tahun. Filsafat dalam diri seseorang membuat hidupnya akan penuh warna dan menyemangatinya dalam kehidupan dan mampu membuat orang tersebut lebih bijaksana dalam bersikap dan bertindak dan mengambil keputusan.

    ReplyDelete
  33. Selamat malam semuanya
    adapun kesimpulanya dari artikel ini adalah rasa ingin tahu merupakan awal dari berfilsafat, rasa ingin tahu tersebut dengan mengajukan pertanyaan. Disini fungsi pertayaan untuk menjawab rasa ingin tahu tersebut. Dalam proses menemukan jawaban tidaklah mudah; tergantun sudut pandang dan contoh-contoh yang bisa mendukung pandangan kita tersebut. Karenaya, critical thinking merupakan tagihan utama dalam berfilsafat. Kebenaran bisa berubah menjadi salah dan salah bisa berubah menjadi benar tergantung alasan. Karenanya, dalam berfilsafat itu fleksibel dan dinamis dan segala sesuatu bisa berubah-ubah pandangan tergantung sudut pandang yang kita gunakan. Singkatnya, berfilafat itu adalah proses menemukan kebenaran atas dasar alasan yang mendasar dan masuk akal.

    ReplyDelete
  34. Assalamu'alaikum wr. wb
    Novi Indriyani Kones
    19701251002
    PEP S2 A 2019

    filsafat memandang filsafat bagian dari pikiran yang bersifat sintetik aposteori dan dapat juga analitik apriori. Karena pengalaman itu didapatkan dari proses semakin ke bawah dan proses semakin ke atas. Selain itu, filsafat memandang atheis bahwa orang yang hanya menggunakan pikirannya dapat keliru tp gunakan juga hati kita sehingga kita dapat mencapai tingkat spiritual. Terakhir, filsafat dalam menjawab pertanyaaan adalah dengan kesadaran penuh dari struktur.

    Terimakasih
    Wassalamu'alaikum wr. wb

    ReplyDelete
  35. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Dunia ini adalah kumpulan dari struktur-struktur, baik yang tampak maupun yang tidak tampak. Baik yang ada dan yang mungkin ada. Hidup di dunia, sejatinya adalah dibangun dari struktur. Hermenitika atau struktur hidup terbangun dari komponen-komponen yang berdimensi hirarki, yaitu material, formal, normatif dan spiritual. Sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara yang tetap ada dan yang berubah. Yang tetap ada dicetuskan oleh filsuf Permenides, sedangkan yang berubah dicetuskan oleh filsuf Heraclitus. Sebenar-benarnya hidup adalah interaksi antara yang idealis dan yang realis. Dimana tokoh idealis adalah Plato sedangkan tokoh realis adalah Aristoteles. Sebenar-benar dunia adalah struktur, yang di dalamnya terdapat wadah dan isinya.
    Terimakasih Prof...

    ReplyDelete
  36. Hanifah Nabila Hendral
    19701251003
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum
    Setiap manusia bebas untuk berfilsafat, bahkan untuk orang ateis sekalipun. Dalam berfilsafat harus menetapkan hati sebagai komandanmu sebelum kamu mengembarakan pikiranmu. Karena jika engkau mengembarakan pikiranmu tanpa menetapkan hatimu/spiritualmu sebagai komandanmu, bisa jadi pikiranmu tidak akan bisa kembali. Itulah fenomena linier (lurus tak berujung). Orang yang mengandalkan pikirannya saja hidupnya seperti garis lurus, tidak ada ujungnya. Dia tidak tau harus berhenti sama mana. kita sebagai umat islam tau kalau kita tidak hanya hidup di alam dunia melainkan juga di alam akhirat. Karena itu dalam berfilsafat haruslah menetapkan hati, jadikan Al Quran dan Sunnah sebagai pedoman sehingga kita tau kemana arah hati akan berlayar.

    ReplyDelete
  37. Dea Armelia
    19709251072
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Dengan adanya pertanyaan tersebut dengan tujuan keingin tahuan atas jawaban apa yang ditanyakan maka kita sudah memiliki rasa ingin tau secara mendalam, dengan demikian filsafat pun sudah mulai ada pada diri kita sendiri.
    Latar belakang lahirnya filsafat, karena itu yaitu rasa ingin tahu yang mana didorong oleh dua faktor penting: “interen” dan “eksteren”. Faktor interen adalah kecenderungan atau dorongan dari dalam diri manusia, yaitu rasa ingin tahu itu sendiri. Sebuah kodrat manusia tentang kehidupan manusia. Inilah, ruh dasar makna inherenitas filsafat bagi manusia. Adakah manusia yang tidak ingin tahu? Mungkin ada, tetapi jika ini terjadi maka dapat diprediksikan manusia yang demikian tidak akan dinamis. Bukankah keberubahan bermula dari keingintahuan?.
    Selanjutnya, Faktor eksteren hakikatnya merupakan faktor dari luar manusia itu. Yakni, adanya hal atau sesuatu yang menggejala di hadapan manusia sehingga menimbulkan rasa heran atau kagum. Mengapa ini terjadi? Karena manusia berhubungan dengan hal-hal di luar dirinya: alam, hewan, tumbuhan, dan manusia lainnya. Segala hal yang ada di luar dirinya secara kausalitas memang diperuntukkan untuk dirinya. Manusia yang berpikir dengan begitu akan terdorong untuk terus menerus mengembangkannya untuk kemaslahatannya.

    ReplyDelete
  38. Rizki Nisa Setyowati
    19701251013
    PEP S2 A

    Sejatinya, dunia ini adalah kumpulan obyek-obyek filsafat, yang ada dan yang mungkin ada. Sementara, bagi mausia, hidup di dunia adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman untuk mendapatkan pengetahuan dengan menerjemahkan dan memahami obyek-obyek filsafat. Maka, pengetahuan manusia dibentuk dari separuh pengalaman dan separuh logika. Pikiran manusia berifat konsisten dan absolut. Jika derajatnya dinaikkan akan menjadi spiritual dan puncaknya adalah kuasa Tuhan. Sedangkan pengalaman sifatnya kontradiktif dan selalu berubah. Demikian, pengalaman sesungguhnya adalah kuasa Tuhan yang disampaikan melalui pikiran manusia agar manusia mampu memahami ilmu dan memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  39. Rizki Nisa Setyowati
    19701251013
    PEP S2 A

    Dari bacaan di atas, saya memahami bahwa dalam berfilsafat, seseorang harus memiliki titik di mana ia akan kembali, dalam bacaan di atas disebut sebagai "komandan", yang tidak lain adalah hati/spiritualitas. Sementara, atheis tidak mengenal konsep spiritualitas dalam dirinya. Demikian, berfilsafat bagi seorang atheis hanya sebatas proses olah pikir tanpa refleksi

    ReplyDelete
  40. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Bismillah, mempelajarin filsafat secara mendalam artinya kita harus mampu berpikir, karena filsafat apa yang kita pikirkan dan yang mampu berpikir berkaitan dengan manusia, dimana manusia adalah yang mau berpikir. Artinya filsafat sangat erat dengan yang namanya manusia. dan dapat dikatakan sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain.Manusia tidak hanya dituntut untuk berpokir namun juga harus ada action, dimana action tersebut akan menciptakan pengalaman.filsafat dilihat dari sudut pandang pengalaman, bentuk pengetahuan merupakan bentuk dari separuh pengalaman dan separuh logika. Maka berfilsafat adalah kerjakan apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau kerjakan. Inilah kehidupan yang tidak cukup hanya dipandang dengan satu sisi saja, tetapi memang sifat manusia tidaklah sempurna. Oleh sebab itu, dengan ketidaksempurnaan kita dapat belajar menata hidup ke arah yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan-kesalahan/pengalaman

    ReplyDelete
  41. Annisa Nur Arifah
    18709251058
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Pandangan filsafat terhadap pengalaman bisa dijabarkan sebagai berikut. Filsafat adalah sistematisasi pengalaman bernalar dan kecenderungan ingin tahu, yang telah kita miliki sejak masa kanak-kanak. Kecenderungan yang (ironisnya) seringkali justru menjadi rusak akibat “jawaban-jawaban yang berpretensi mutlak” dari bermacam bentuk pengetahuan (tradisi, sains, ideologi, terutama agama). Filsafat adalah pengalaman yang bergulat hendak merumuskan kerumitan dirinya yang sebenarnya tak terumuskan. Suatu upaya tanpa akhir untuk memahami kenyataan yang mungkin tak akan pernah tuntas terjelaskan.

    ReplyDelete
  42. Annisa Nur Arifah
    18709251058
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Selain itu, berfilsafat adalah bermain menjajaki berbagai kemungkinan untuk memahami pengalaman dan kehidupan. Dunia filsafat pada dasarnya tidak melihat kebenaran berdasarkan otoritas. Patokannya hanyalah akal sehat dan pengalaman manusiawi konkret.

    ReplyDelete
  43. Choirul Amri
    (19709251078 S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2019)
    Bismillah, dari bacaan diatas dapat saya simpulkan sedikit tentang filsafat. filsafat diartikan sebagai usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara kritis, sistematis, universal, fundamentalis, integral dan mungkin saja akan muncul pertentangan untuk mencapai dan menemukan pembenaran dan akhirnya kebenaran yang mendekati kebenaran dari Tuhan. Adapun asal dari filsafat itu sendiri adalah manusia, dalam hal ini akal dan hati manusia yang sehat yang akan berusaha keras dengan sungguh-sungguh untuk mencari pembenaran dan pada akhirnya akan memperoleh kebenaran.
    terimakasih.

    ReplyDelete
  44. Fitria Restu Astuti
    19709251069
    S-2 Pendidikan Matematika D 2019

    Disebutkan bahwa anak kecil adalah dunia bawah, dunia diluar pikiran, dunia konkret, dunia pengalaman. Ilmu bagi anak kecil bukanlah ilmu bagi orang dewasa. Bagi orang dewasa setiap pengalaman yang dialami sudah dikelompokkan sesuai dengan ciri dan sifatnya menjadi ilmu tertentu missal matematika itu adalah matematika, seni ya seni. Akan tetapi bagi anak-anak, belajar adalah suatu kegiatan. Dari kegiatan itu akan timbul pengalaman-pengalaman baru yang kemudian dikoneksikan menjadi suatu pengetahuan. Pengalaman yang paling bermakna bagi anak-anak yaitu dengan menggunakan benda-benda konkret. Anak akan lebih paham pada pelajaran ketika dihadapkan langsung dengan benda yang dipelajari.

    ReplyDelete
  45. Rona Happy Mumpuni
    19709251059
    S2 Pendidikan Matematika D

    Terima kasih kepada Lia Agustina dan Prof. Marsigit yang telah berbagi pengetahuan tentang Mengenal Filsafat Lebih Dalam (refleksi perkuliahan). Saya dapat mengambil kesimpulan bahwa membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Sehingga berfilsafat adalah praktikkanlah pikiran kita dan pikirkanlah pengalaman kita. Selain itu, sebenar-benar hidup adalah interaksi antara pikiran dan pengalaman. Sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten, sedang sifat dari pengetahuan pengalaman adalah sintetik, dan bersifat kontradiksi.

    ReplyDelete
  46. Latifa Krisna Ayu
    19709251060
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan tulisan Bapak Marsigit terkait ketidaksempurnaan saya baru menyadari bahwa ketidaksempurnaan adalah sesuatu yang seharusnya patut kita syukuri, seperti ketidak sempurnaan mendengar. Jika kita memiliki pendengaran yang terlalu sempurna, maka kita akan dapat mendengar suara dalam rentang frekuensi yang luas yang akan mengakibatkan kita akan selalu dapat mendengarkan berbagai suara, bahkan mungkin kita tidak bisa tidur nyenyak karena terlalu banyak suara yang kita dengar, dan kita tidak bisa fokus belajar karena banyak gangguan suara yang kita dengar. Jadi mari kita lebih bersyukur atas ketidaksempurnaan yang kita miliki.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  47. Rifki Rinaldo
    19709251070
    S2 Pendidikan Matematika D

    berdasarkan tulisan diatas, saya mendapatkan pengetahuan baru bahwa dalam berfilsafat kita menggunakan dua unsur yaitu pengalaman dan logika. sehingga dalam berfilsafat itu jelas logikanya dan dapat dipraktikkan. kedua hal ini sangat terkait dan terikat. Adapun asal dari filsafat adalah diri kita sendiri. Walaupun demikian, manusia itu tidak sempurna sehingga kita perlu adanya penguat pengkokoh tempat tujuan hidup yang tidak lain adalah Allah SWT pencipta seluruh alam semesta.

    ReplyDelete
  48. Rochyati
    19709251074
    S2 P. Mat D 2019

    Terima kasih Bapak dan Mba Lia sudah mengajarkan kita melihat ketidaksempurnaan dari sisi yang berbeda. Ada kebaikan dibalik ketidaksempurnaan manusia. Ketidaksempuraan manusia mengetahui kapan mati misalnya, membuat manusia untuk selalu beribadah dan berbuat baik. Kalau manusia tahu kapan mati, ada kemungkinan untuk menunda beribadah atau berbuat baik dengan alasan masih lama.

    ReplyDelete
  49. WIWIN MISTIANI
    PEP S3 2019
    seperti yang di sampaikan dalam perkulihan beliau pada tanggal 17 OKTOBER 2019 beliau menyampaikan
    Hidup manusia itu metafisik. Jadi Setelah yang ada itu masih ada yang ada lagi terus begitu seterusnya. Maju tidak selesai mundur tidak selesai kenapa karena manusia tidak sempurna. Kenapa manusia tidak sempurna agar manusia bisa hidup sebab jika manusia itu sempurna maka manusia tidak akan bisa hidup. Jadi kesempurnaan manusia itu sebenarnya tidak sempurna atau bisa dikatakan manusia itu sempurna didalam ketidak sempurnaan dan tidak sempurna di dalam kesempurnaan

    ReplyDelete
  50. Vera Yuli Erviana
    NIM 19706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Setiap manusia tidak sempurna. Namun, dengan ketidaksempurnaan itulah kita bisa merasakan hidup, karena dengan diberikannya satu kesempurnaan saja, manusia tidak dapat hidup. Membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika. Dalam praktiknya, ilmu pengetahuan dihasilkan dari logika yang dibuktikan dengan eksperimen dan pengalaman. Ilmu pengetahuan semakin berkembang dengan ditemukannya fakta-fakta baru, sehingga dapat digunakan dan bermanfaat bagi banyak manusia.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  51. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    filsafat secara mendalam artinya kita harus mampu berpikir, karena filsafat apa yang kita pikirkan dan yang mampu berpikir berkaitan dengan manusia, dimana manusia adalah yang mau berpikir. Maka berfilsafat adalah kerjakan apa yang engkau pikirkan dan pikirkan apa yang engkau kerjakan. Inilah kehidupan yang tidak cukup hanya dipandang dengan satu sisi saja, tetapi memang sifat manusia tidaklah sempurna. dengan ketidaksempurnaan kita dapat belajar menata hidup ke arah yang lebih baik dengan belajar dari kesalahan-kesalahan/pengalaman. Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat buat manusia lainnya.

    ReplyDelete
  52. Muh. Asriadi AM
    19701251008
    S2 PEP A 2019
    Pemahaman saya dari artikel ini yaitu ada Kajian Filsafat bersifat intensif dan ekstensif. Intensif maksudnya adalah dalam sedalam-dalamnya sampai tidak ada yang lebih dalam. Ekstensif artinya luas seluas-luasnya. Walaupun intensif dan ekstensif adalah “dalam” dan “luas” dalam khasanah kemampuan manusia, tetapi pengertian demikian serta-merta langsung dapat berbenturan dengan kaidah Agama. Oleh karena itu mempelajari filsafat tidaklah terbebas dari ketentuan-ketentuan. Memelajari Filsafat hendaknya tidak bersifat parsial, tetapi bersifat komprehensif dan holistik. Mengomunikasikan Filsafat hendaknya sesuatu dengan ruang, waktu dan konteksnya

    ReplyDelete
  53. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Melalui filsafat sesuatu akan dimulai dengan pertanyaan dan berakhir pula dengan pertanyaan, yang seakan-akan masih belum ada jawaban tentang apa yang mereka rasakan dalam kehidupan. Filasafat adalah sebuah kata yang sering di dengar namun tak pernah tahu sejatinya arti dan makna filsafat.

    ReplyDelete
  54. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    filsafat juga merupakan sebuah metode reflektif dalam penalaran yang digunakan manusia untuk menemukan kebenaran yang dicarinya. Dalam filsafat terdapat seperangkat teori dan system berpikir yang menghantarkan manusia untuk menemukan dan mencari pengetahuan secara mendalam

    ReplyDelete
  55. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  56. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    filsafat merupakan upaya manusia dalam mencari pengetahuan dan mewujudkan kebenaran yang dicarinya dalam kehidupan dengan belajar pada realita dan fenomena yang dipelajarinya dengan teori-teori yang senantiasa dikembangkan. Filsafat memiliki ciri-ciri radikal, sistematis dan universal. Radikal yang dimaksud adalah sampai ke akar-akarnya. Sistematis adalah berurutan dan salaing berkaitan. Sedangkan universal adalah dalam artian berlaku untuk semua

    ReplyDelete
  57. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    menurut Sudarsono dalam bukunya Ilmu Filsafat Suatu Pengantar (1993) obyek dalam filsafat ada dua, obyek material dan obyek formal. byek material adalah suatu hal yang menjadi target yang dituju atau pemikiran sesuatu yang dipelajari baik sebuah benda konkrit maupun yang abstrak sedangkan obyek formal filsafat merupakan sudut pandang terhadap obyek material, termasuk prinsip-prinsip yang digunakan.

    ReplyDelete
  58. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Filsafat merupakan sebuah ilmu yang mendalami segala realitas tentang manusia, alam, Tuhan dengan penalaran ilmiah yang bernilai filosofis. Orang yang mendalami filsafat adalah oaring yang cinta pada kebenaran yang hakiki. Mereka menjadikan pengetahuan sebagai arah untuk melakukan perubahan dan menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan.

    ReplyDelete
  59. Saya sepakat dengan penjelasan bahwa pendidikan untuk anak kecil adalah aktivitas atau kegiatan. Banyak orang dewasa yang tidak menyadari ini, mereka berambisi untuk menyamakan pendidikan anak kecil dengan pendidikan orang dewasa sehingga pengalaman belajar anak-anak menjadi terbatas. Anak-anak sangat suka bermain. Dalam hal ini, permainan bisa menyebabkan perubahan perilaku anak-anak. Adanya perubahan perilaku anak seringkali mengarah pada kondisi yang lebih baik, bukankah ini definisi dari pendidikan? Orang tua dan guru perlu menyadari dan menyesuaikan belajar anak berbasis kegiatan atau aktivitas, misalnya dalam bentuk permainan.

    Ikhsanudin (PEP-S3/19701261001)

    ReplyDelete