Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

74 comments:

  1. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A

    Menurut saya, filsafat merupakan olah pikir kita dalam memaknai sesuatu hal. Dalam berfilsafat tidak ada yang benar maupun salah karena mereka menembus ruang dan waktu yang berbeda. Berdasarkan pengalaman saya dalam membaca teori filsafat yang telah di tulis oleh Prof Marsigit sebagai seorang filsuf, filsafat memberikan nasihat-nasihat yang tersirat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  2. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb, filsafat memang ilmu yang sangat menarik. Filsafat itu saat kita berpikir, karena seperti yang disampaikan sebenar-benar berfilsafat adalah pikiran kita. Akan tetapi diam juga tetap berfilsafat. Memang terkadang sulit untuk bisa memahami dengan jelas tentang filsafat, namun hal tersebut tentu saja mengharuskan kita untuk membaca dan terus membaca untuk bisa belajar lebih tentang filsafat.

    ReplyDelete
  3. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berfilsafat merupakan suatu proses berpikir, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Obyek dari filsafat itu sendiri mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, tidak ada yang salah dan benar, semuanya tergantung pada ruang dan waktunya. Benar menjadi relatif karena kebenaran pada satu orang berbeda dengan kebenaran menurut orang lain.

    ReplyDelete
  4. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Menarik sekali kalimat tetapkan dulu hatimu, agamamu, keyakinanmu kemudian terbangkan layang-layang pikiranmu. Artinya, seseorang harus yakin dulu terhadap keyakinan dan agama sebelum memikirkan sesuatu. Sehingga pada akhir kalimat di simpulkan bahwa gunakan pikiran untuk memperkokoh keimanan.

    ReplyDelete
  5. Umi Arismawati
    18709251037
    Pendidikan Matematika B S2 2018

    Assalamu'alaikum, wr, Wb.
    Filsafat merupakan pola pikir. Filsafat itu sangat luas. Filsafat adalah pikiran mu sendiri. Untuk itu setiap orang dapat berfilsafat.

    ReplyDelete
  6. Umi Arismawati
    18709251037
    Pendidikan Matematika B S2 2018

    Assalamu'alaikum, wr, Wb.
    Saya sangat tertarik dengan "Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak". Hal benar belum tentu benar jika tidak didalam situasi yang sesuai. Begitupula hal yang benar jika dilakukan disituasi yang tidak tepat maka akan menjadi sesuatu yang salah. Sehingga benar dan salah itu tergantung pada ruang dan waktunya tergantung pada keadaan yang sedang terjadi.

    ReplyDelete
  7. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat pagi, Prof.
    Filsafat itu adalah sebuah penjelasan. Dalama kehidupan tentunya banyak hal yang perlu dijelaskan namun ada juga yang sulit dijelaskan. Misalnya, bagaimana semut seseorang kesurupan. Seringkali, orang yang mendapatkan wahyu dari Tuhan lah yang mampu menjelaskan hal itu. Namun, dalam keseharian hidup, memilih A atau B, melakukan C bukan D, fenomena E, adalah kegiatan yang dapat dijelaskan. Penjelasan itulah sebenar-benarnya filsafat. Untuk menggapai filsafah hidup yang baik adalah dengan memberikan penjelasan yang baik dan benar. Untuk menggapai hal itu kita perlu menambah pengetahuan.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  8. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dari jawaban Pak Marsigit mengenai bagaimana filsafat memandang benar dan salah, Saya menyimpulkan bahwa benar dan salah pada manusia itu relatif. Ketika sudah sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat maka dapat dikatakan benar. Namun benar dan salah yang absolut adalah kebenaran spiritual. Karena kebenaran absoult itu datangnya dari Alloh. Alloh yang maha kuasa untuk menentukan yang benar dan yang salah. Maka yang dapat dilakukan oleh manusia adalah berusaha untuk menembus ruang dan waktu dengan tepat agar selalu berada pada kebenaran.

    ReplyDelete
  9. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Sering Pak Marsigit katakana bahwa berfilsafat itu harus beragama dulu. Kuatkan iman dulu baru berfilsafat. Karena filsafat itu olah pikir. Olah pikir ini banyak sekali godaan-godaan yang akan membawa kita terjebak dalam mitos-mitos atau kesalahan pikir. Maka dari itu tempatkan spiritual diatas filsafat. Saya setuju bahwa berfilsafat adalah menggunakan pikiran untuk memperkokoh dan memperkuat iman.

    ReplyDelete
  10. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Sebenar-benarnya filsafat adalah dirimu, mengandung arti bahwa dalam tinjauan filsafat sesuatu itu tidak ada yang absolut..Kalaupun menurut kita sesorang itu salah, bukan berrti dia salah..mengapa? karena salah tersbut dilihat dari dimensi pikiran presepsi kita, dan belum tentu demikian menurut dimensi pikiran, presepsi pikiran lain..Struktur filafat menjadi benar atau salah apabila sesuai dengan ruang dan waktunya, sedangkan waktu dan ruang sangatlah cepat berubah..jadi akhirnya benar dan salah adalah relatif dan tidak absolut..

    ReplyDelete
  11. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    "Ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak" pasti ini ada di hampir seluruh mahasiswa yang di ampu oleh Prof marsigit. Namun jawaban prof Marsigit ialah "bacalah, pahami, lakukan". Semua itu harus dilakukan dengan ikhlas. Nisacaya semua yang kita harapkan akan tercapai. Aamiiin

    ReplyDelete
  12. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    "Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia ?" untuk mengetahui pendidikan, kita juga diharuskan mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Wadahnya adalah filsafat ilmu. Untuk mengetahui filsafat ilmu maka kita harus belajar filsafat dengan hati yang ikhlas dan tanpa paksaan. Agar kita dapat mengerti filsafat.

    ReplyDelete
  13. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?” Jika saya tidak salah dengar, dahulu prof Marsigit mengatakan seseorang di katakan berfilsafat jika sudah memikirkan apa yang menurut orang lain tidak penting untuk dipikirkan. Salah satunya dapat berkomunikasi dengan tanaman, hewan, bahkan benda matinsekalipun. Mengapa bisa terjadi? Ya karena filsafat itu adalah diriku.

    ReplyDelete
  14. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    "Bagaimana beragama dari sisi filsafat?". Prof marsigit pernah mengutarakan kuatkan agamamu sebelum berfilsafat. Maka, dengan adanya agama, maka pikiran kita akan jauh dari kesesatan. Beliau juga pernah berpesan, jangan mencampurkan agama dengan filsafat. Kita harus berhati hati jika membawa agama kedalam filsafat. Intinya, kuatkan iman dahulu.

    ReplyDelete
  15. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    "Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?" Benar atau salah itu tergantung ruang dan waktunya. Jika sesuai dengan ruang dan waktu, maka sebenar-benar orang itu dalam kebenaran. Namun. Jika tidak sesuai dengan ruang dan waktu maka orang itu dalam keadaan yang salah. Jadi, benar itu jika sesuai dengan ruang dan waktunya

    ReplyDelete
  16. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Sebenar-benarnya dalam berfilsafat adalah bagaimana kita mengolah pemikiran. Filsafat merupakan sesuatu yang kita katakan, baca, jelaskan atau yang lainnya. Dalam berfilsafat tidak ada sesuatu hal yang mutlak benar, hal tersebut dikarenakan adanya ruang dan waktu yang berbeda. Agar bisa menempatkan sesuatu pada ruang dan waktunya dengan benar kita harus selalu ikhlas dalam menjalani sesuatu hal yang dilakukan. Karena dengan ikhlas kita akan selalu berusaha secara maksimal dalam menggapai sesuatu.

    ReplyDelete
  17. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Filsafat itu wacana, bahasa, dan juga sebuah penjelasan. Jika seseorang ingin menjelaskan sebuah fenomena, tidak harus ia masuk ke dalam kejadian tersebut, karena jika ia masuk kedalamnya dan ia tidak sadar, maka tidak akan ada yang bisa menjelaskannya lagi. Misalnya saja seperti kesurupan. Seorang ahli ingin menjelaskan mengapa orang kesurupan. Dalam hal ini, ahli tersebut tidak harus kesurupan dulu untuk dapat menjelaskannya, namun dengan menggunakan olah pikir akan suatu fenomena dapat digunakan sebagai cara untuk menjelaskan hal-hal ghoib tersebut. oleh karena itu, penting untuk melakukan olah pikir sehingga dapat melihat dan menjelaskan fenomena tersebut tanpa harus merasakannya terlebih dahulu.
    Wassalamualaikm wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Awal perkuliahan filsafat bersama Prof. Marsigit biasanya diawali dengan tes jawab singkat. Namun anehnya sering dalam satu kelas memiliki nilai yang sama yaitu 0. Dalam hal ini, Prof. Marsigit menjelaskan bahwa nilai 0 bukan berarti salah, namun setiap orang memiliki filsafatnya masing-masing. Sesungguhnya dengan nilai nol tersebut bisa membuat kita lebih menyadari kemampuan kita agar tidak sombong. Senantiasa rendah hati karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang tidak sempurna dan penuh dengan keterbatasan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  19. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Berfilsafat itu menyadari bahwa jika belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuan, menyadari kapan mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Berfilsafat artinya sadar dengan potensi dan kekurangan kita. Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Seseorang bisa sadar karena ia berpikir. Jika seseorang terus mengolah daya pikirnya maka bisa menjadikannya seseorang yang ahli dan senantiasa berusaha untuk mengetahui apa yang tidak diketahuinya sebagai sebuah sarana memperoleh pengetahuan.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  20. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Pertanyaan serupa seperti pertanyaan mba Rizqy umami juga pernah terlintas dalam pikiran saya namun belum pernah saya utarakan kepada Bapak, dan mungkin pertanyaan serupa juga pernah terlintas dipikiran semua mahasiswa, mungkin. Sebelum saya sempat mengutarakannya pertanyaan tersebut sudah terjawab dalam elegi ini, saya jadi teringat entah itu perkataan siapa bahwa sebenarnya apapun yang ingin kita tanyakan atau apapun yang bapak tanyakan jawabnnya adalah ada didalam elegi. Belum mampu menjawab artinya belum membaca. Atau bisa saja sudah membaca namun belum mengerti sehingga masih salah jawabannya. Hidup adalah terjemah dan menterjemahkan. Membaca elegi bapak adalah salah satu bentuk melakukan terjemah kemudian bapak menterjemahkan diri kami dengan cara bertanya melakukan tes jawab singkat. Sebelumnya saya pernah bertanya mengapa diadakan tes jawab singkat dan jawaban bapak adalahuntuk mengadakan yang ada dan yang mungkin ada. Dan jawabannya kini lengkaplah sudah, yaitu tujuanya adalah agar kami mengadakan yang ada dan yang mungkin ada serta sebagai sarana menterjemahkan diri kami.

    ReplyDelete
  21. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Bahasa itu berdimensi, yang berbahasa pun berdimensi. Dialog antara tumbuhan dan yang menanam mengakibatkan sebuah elegi, dan benar sayapun mengalaminya. Suatu hari ayah saya pernah berkata saat sedang menoreh (menyadap pohon karet), kata beliau menoreh itu sambil dibacakan sholawat pohonnya, pohon yang diajak bicara dengan yang tidak itu beda hasilnya. Maksud dari beda hasilnya adalah berbeda dalam mengeluarkan getah nya. Yang diajak berbicara lebih banyak mengeluarkan getah. Saat itu saya hanya tertawa mendengar ayah saya mengatakan hal itu. Namun kemudian saya membuktikannya, ketika saya menanam tanaman berbunga mulai dari menanam, memasukkan tahan ke pot kemudian menanamnya saya berusaha mengatakan kepada tanaman tersebut agar ia berbunga dengan lebat dan cantik, tentunya diiringi dengan doa kepada Sang Maha Menghidupkan. Dan benar, tanaman tersebut tumbuh dengan subur dan mengeluarkan bunga yang cantik. Semenjak saat itu saya selalu berbicara dengan tanaman, dimanapun itu ketika saya melihat bunga yang sangat cantik saya akan mengatakan pada bunga tersebut bahwa dia amat cantik. Entah apa itu tapi memang benar apa yang bapak katakan bahwa bahasa itu berdimensi. Dimensi kita dengan bunga memang berbeda. Tetapi dengan mencoba berbicara dengan tanaman bukan berharap tanaman tersebut dapat berbicara juga. Yang diharapkan adalah agar antara penanam dan yang ditanam terjalin sebuat ikatan. Ikatan yang entah disebut apakah itu. Ikatan yang dapat didefinikan dengan kata-kata.

    ReplyDelete
  22. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan elegi di atas bahwa struktur kehidupan beragama dari perspektif filsafat adalah terlebih dahulu tetapkanlah agamamu, tetapkanlah keyakinanmu, dan tetapkanlah hatimu. Degan begitu kita dapat terhindar dari kejatuhan hal-hal keburukan. Karena spiritual adalah tunggal, maka pikiran hanya bisa mensupport spiritualisme dengan cara memperkokoh dan memperkuat iman kita.

    ReplyDelete
  23. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pada hakekatnya setiap hal-hal yang berhubungan dengan filsafat maka semuanya sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam mengolah pikiran. Karena filsafat merupakan olah pikir, sebenar-benar filsafat adalah dirimu. Dirimu adalah yang bukan dirimu karena bukan dirimu adalah sebenar-benar dirimu. Tiadalah seseorang melainkan dirinya dan bukan dirinya. Inilah filsafat mengkaji setiap hal didunia yang bergantung pada konteks ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  24. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan struktur kehidupan dari yang benar dan salah, menurut perspektif filsafat bahwa benar dan salah itu karena akibat dari pikiran manusia. Dimana yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan waktu atau tidak. Karena berfilsafat adalah olah pikir manusia, maka kebenaran dapat bersifat subyektif dan obyektif. Oleh karenanya, sebenar-benarnya kehidupan adalah mereka yang berpegang teguh dengan al-qur’an dan sunnah. Kita hanya bisa merencanakan apa yang akan kita lakukan kedepannya namun yang menentukan adalah kuasa Allah Ta'ala.

    ReplyDelete
  25. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Filsafat adalah bagaimana manusia dapat memahami esensi atau hakekat dari suatu hal. Bukti bahwa manusia memahami adalah dengan mampu membuat penjelasan-penjelasan terkait suatu hal. Penjelasan manusia sangat bergantung pada pengetahuan dan pengalamnannya masing-masing. Sehingga filsafat adalah diri kita masing-masing. Bagaimana masing-masing dari kita mampu menjelaskan hakekat suatu hal. Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah dalam berfilsafat. Sederhana atau kompleks dalam berfilsafat juga tergantung pada diri kita masing-masing. Terima kasih.

    ReplyDelete
  26. Nur Afni
    18709251027
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
    Manusia tersusun dari struktur. Kehidupan manusia sangat dipengaruhi oleh struktur pembentuk hidupnya yaitu agama, karakter, dan budaya. Ketiga struktur itu harus ada dalam kehidupan manusia. Jika salah satunya tidak ada maka akan berantakan komponen hidup manusia. Ketiga struktur pembentuk ini salaing berhubungan dan tidak saling lepas. terimakasih

    ReplyDelete
  27. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Filsafat yang begitu luas cakupannya , lebih luas bahkan dari isi pemikiran manusia karena manusia belumt tentu memikirkan sejauh yang ada di filsafat. Sehingga bila ada pertanyaan dan jawabannya sellau berbeda karena sama halnya diberikan satu objek dan masing-masing manusia diminta untuk deskripsikan ojek tersebut maka akan mempunyai pemikiran yang berbeda-beda sehingga pembuat soal membuat soal tersebut karena mempunyai jawaban sendiri yang menurut penanya itu merupakan jawaban yang tepaat, tetapi belum tentu orang lain akan menjawabnya seperti itu.

    ReplyDelete
  28. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Semakin luasnya cakupan isi filsafat maka, akan menjadi hal lumrah bagi manusia untuk menanyakan apakah bisa digunakan untuk berkomunikasi yang tidak mungkin terjadi selain berkomunikasi dengan yang sejenisnya. Bila diresapi lagi maka manusia yang biasanya berbicara dengan hewan peliharaannya maupun tumbuhan yang disiraminya setiap hari itu termasuk berfilsafat, meski tidak mendapat respon yang sesuai dengan diucapkan, para hewan dan tumbuhan sesungguhnya sudah meresponnya sesuai bahasa mereka dan bisa ditunjukkan dengan bagaimana sikap mereka, baik tumbuhan yang semakin subur, hewan yang nurut kepada pemiliknya.

    ReplyDelete
  29. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”
    Sama halnya dengan pertanyaan yang jawabannya bisa benar bisa salah, begitu juga dengan hidup yang bisa saja salah ambil tujuan dan benar dalam mengambil tujuan. Jadi yang menganggap suatu hal itu benar dan hal itu salah merupakan diri manusia sendiri yang menggunakan bantuan pikiran dan hati untuk bisa menyimpulkan apakah sesuatu boleh dianggap benar atau boleh dianggap salah.

    ReplyDelete
  30. Hendra
    18701261008
    PEP S3 2018

    pointnya adalah membaca dan bertanya; untuk memahami seseorang maka bacalah hasil tulisannya, jika tidak memiliki tulisan maka bertanyalah. Karena filsafat pada dasarnya adalah memahami apa yang ada di pikiran para filsuf atau seseorang. Mem[erbanyak membaca berarti memperbanyak pikiran filsuf dan bertanya adalah alternatif dari membaca. bagaimana mungkin bisa mengetahui pikiran para filsuf jika tak pernah membaca dan bertanya.

    ReplyDelete
  31. Hima Naili Hidayah
    19701251004
    PEP A S2

    Assalamu'alaikum Warahmatullahi wabarokatuh
    Kalimat yang sangat menarik bagi saya dalam artikel ini yaitu:
    Tetapkanlah dulu agama
    Tetapkanlah dulu keyakinan
    Tetapkanlah dulu hati
    Bagi saya menetapkan sebuah keyakinan dan hati sebelum bertindak atau melakukan sesuatu itu adalah hal yang harus diperhatikan dan wajib untuk dilaksanakan..
    Terima kasih prof. Marsigit atas segala Ilmunya.

    ReplyDelete
  32. Ahmad Syajili
    19709251066
    S2 PM D 2019

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan para mahasiswa pada perkuliahan Filsafat Ilmu prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B, saya tertarik dengan pertanyaan yang menanyakan apakah sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana. Jawabannya adalah filsafat adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat.
    Dan lagi, saya dibuat merenung atas jawaban ini. Karena, selama ini saya berpikir bahwa filsafat itu bahasan yang sangat kompleks dan luas. Namun nyatanya, filsafat adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita memikirkannya, bagaimana kita menerangkannya, itulah filsafat. Hingga sampai dimana kita tidak lagi mampu untuk memikirkannya, maka gunakanlah spiritual.
    Terima kasih Pak, semoga dengan membaca dan mempelajari setiap postingan Bapak, kami para mahasiswa semakin memahami filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  33. sintha fardu anggraeni
    19709251071
    S2 pendidikan matematika /D

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Share dari refleksi perkuliahan ini. Setelah saya baca dan coba renungi dan coba pahami. Pemahaman saya saat ini (setelah membaca ini) adalah berfilsafat ketidaktahuan itu bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Filsafat adalah mengolah pikir dan mencari tentang kebenaran (yaitu yang sesuai dengan ruang dan waktu-nya). Dengan demikian saya teringat dengan filsafat Rene Descartes “Cogito Ergo Sum” di mana dalam filsafatnya “aku berpikir, maka aku ada” (Hardiman, Budi, 2007:37).
    Terima kasih banyak atas share refleksi yang sangat menginspirasi ini.

    ReplyDelete
  34. Assalamu'alaikum wr. wb
    Novi Indriyani Kones
    19701251002
    PEP S2 A 2019

    filsafat ilmu sangat bermanfaat pada penerapan kehidupan sehari-hari karena dengan filsafat hidup lebih terkontrol karena mengetahui ruang dan waktu dari masing-masing orang dan mengetahui batasan antara ruang dan waktu Tuhan dan manusia. Memahami filsafat membutuhkan pola pikir yang begitu kompleks dan dapat sederhana juga. Kita memahami pikiran seorang filsuf, secara filsafat tidak dapat memahami secara sempurna karena kita sebagai manusia yang memiliki ruang dan waktu sendiri. Namun, berusaha masuk ke dalam pikiran filsuf bias saja yang penting kita kritis memilih mana pikiran yang sesuai dengan kita dan jika ada yang tidak sesuai perlu dibicarakan atau didiskusikan.

    Terimakasih
    Wassalamu'alaikum wr. Wb

    ReplyDelete
  35. Dea Armelia
    19709251072
    S2 Pend. Matematika D 2019
    Menurut saya, mencari kebenaran jauh lebih utama dari pada kebenaran itu sendiri. Karena mencari kebenaran adalah suatu usaha dan perjuangan yang menjadi hak dan kewajiban sang pencari dan disana terbentang berbagai pengalaman, sedangkan kebenaran yang dicari itu hanya untuk diyakini.

    ReplyDelete
  36. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Terima kasih Bapak atas artikel yang telah Bapak share kepada kami. Saya sangat tertarik dengan jawaban Bapak mengenai apa itu sebenarnya filsafat, lalu Bapak menjawab :”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca.

    ReplyDelete
  37. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019
    Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja. Karena filsafat itu diri kita sendiri maka hanya diri kita yang tahu, apa yang baik untuk kita, apa yang tidak baik, apa yang pantas dan tidak pantas dan sebagainya. lalu sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana? Karena filsafat itu diri kita sendiri maka semisal ada masalah, maka bagaimana kita menghadapi masalah itu? apa kita cuek saja acuh tak acuh karena masalah itu akan berlalu begitu saja, atau kita mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu, karena kita akan merasa terbebani karena masalah itu belum terselesaikan.

    ReplyDelete
  38. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Berfilsafat berarti bahwa munculnya kesadaran jika belum tahu, menyadari dan mengetahui mengenai ketidaktahuan, menyadari kapan mulai mengetahui, serta menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Filsafat adalah pemahaman yang sederhana di dalam kompleksitas, namun filsafat juga pemahaman yang kompleks di dalam kesederhanaan. Filsafat dalam beragama adalah ketika filsafat mengantarkan kepada penggunaan pikiran untuk memperkokoh dan mempertegas iman.
    Terimakasih Prof...

    ReplyDelete
  39. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001

    Ketika di awal perkuliahan, saya juga memiliki pertanyaan yang sama serta mendapatkan jawaban yang sama bahwa tes jawab cepat yang diberikan sudah terdapat dalam blog beserta penjelasannya yang detail. Minggu berikut kegiatannya masih sama bahkan hingga tes terakhir pun saya tetap tidak bisa menjawab satupun pertanyaan dalam tes tersebut. Tapi seperti yang dikatakan diakhir bahwa harus terus membaca dan tidak boleh menyerah. Oleh karena itu, walaupun saya belum mendapat nilai minimal sekalipun saya tetap menyempatkan diri membaca 1 hingga beberapa topik setiap harinya sambil memberikan komentar sebatas pemahaman saya.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  40. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001
    Dalam Blog yang bertemakan “wajah dan raport pendidikan Indonesia” terdapat berbagai penjelasan tentang wajah, tubuh, lengan, kaki system pendidikan negara kita, selain itu juga dalam tulisan tersebut kita diajak untuk merefleksikan bentuk tubuh pendidikan kita dalam rangka mempromosikan pendidikan yang demokratis, dan masih banyak penjelasan lainnya yang ditutup dengan skor rata – rata system pendidikan kita.
    Selanjutnya adalah dalam perkuliahan sebelumnya, topiknya adalah “politics and ideology of education”. Dalam penjelasan terkait topik kami diajak untuk melihat dimanakah posisi kita sebagai guru apakah sudah berada pada pendidikan modern atau traditional berdasarkan pandangan Paul Ernest. Hasilnya adalah kejujuran kami menempatkan kami pada guru tradisional namun bagaimanapun itulah kenyataan pendidikan serta komponennya di negara kita. Maka benar yang dikatakan Bapak bahwa untuk memperdalam pemahaman maka kita perlu melihat wadahnya yakni filsafat pendidikan dengan perbanyak membaca yang sudah dituliskan sambil direfleksikan.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  41. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001
    Pertanyaan keempat terkait beragama dari segi filsafat saya sangat sependapat bahwa sangat penting menetapkan keyakinan kita sesuai ajaran dalam agama kita masing – masing. Jangan menggunakan keyakinan kita untuk melakukan godaan yang dapat menjadi fitnah dan sebagainya. Akan tetapi ada baiknya kita dapat cerdas dalam berpikir dengan saling mengingatkan satu sama lain.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  42. Hanifah Nabila Hendral
    19701251003
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum
    Filsafat sangat luas. filsafat dapat masuk ke semua bidang pengetahuan bahkan sampai hal yang tak kasat mata. seperti yang dikatakan Prof pada artikel ini "benda-benda gaib diterangkan naik spiritual fisafat transenden, turun psikologi. transedennya filsafat adalah noumena. noumena itu diluar fenomena maka ruh atau arwah dianggap noumena. usaha manusia mengetahui arwah atau ruh dilakukan dengan berbagai metode, memakai logika, pengalaman. karena itu filsafat sangatlah luas ranah bidang pengetahuannya

    ReplyDelete
  43. Assalamu'alaykum wr wb
    Dwi Kawuryani
    19709251061
    Pendidikan Matematika S2 D
    Filsafat adalah diri kita, pikiran kita, oleh sebab itu filsafat bagi setiap orang pastilah berbeda. Dalam belajar filsafat, kita harus meneguhkan hati dan pikiran, karena jika tidak memiliki landasan pikiran yang kuat, maka hati dan pikiran kita akan mudah goyah dan tidak lagi dapat berpikir dengan baik. Kita tidak dapat menilai apakah filsafat seseorang itu baik atau buruk, benar atau salah, karena dalam filsafat setiap hal selalu tergantung dari dimensi ruang dan waktu. Apa yang kita pikir salah adalah apa yang benar dalam dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Dalam memandang struktur kehidupan, tentu kita tidak bisa melupakan struktur hermenetika kehidupan yang telah Bapak sampaikan dalam postingan yang lain. Struktur tersebut memberikan banyak pelajaran kepada saya bahwa hidup memang ada masanga harus sulit dan ada masanya kita merasa sedikit lebih mudah. Dengan memahami hal tersebut, saya dapat lebih menerima bahwa ada masanya saya akan diuji dan meskipun kehidupan terasa sulit, bahwa kehidupan tetap harus berjalan, ada proses berupa siklus yang akan terus berputar.
    Wassalamu'alaikum wr wb

    ReplyDelete
  44. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Bismillah, Mempelajari filsafat artinya mampu/berusaha menjadikan filsafat sebagai bahan rujukan untuk memandang berbagai struktur kehidupan, salah satunya adalah filsafat sebagai filsafat hidup kemudian diartikan sebagai pandangan hidup karena filsafat pada hakikatnya bersumber pada hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan) hal ini berarti bahwa filsafat mendasarkan pada penjelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat manusia sebagai makhluk monodualisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan raga).

    ReplyDelete
  45. Annisa Nur Arifah
    18709251058
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Dalam filsafat, konsepsi kehidupan dan sifatnya bervariasi. Keduanya menawarkan interpretasi mengenai bagaimana kehidupan berkaitan dengan keberadaan dan kesadaran, dan keduanya menyentuh isu-isu terkait, termasuk sikap hidup, tujuan, konsep tuhan atau dewa, jiwa atau kehidupan setelah kematian. Bagi para filsuf,mendefinisikan "kehidupan" adalah hal yang sulit, karena hidup adalah sebuah proses, bukan substansi murni.

    ReplyDelete
  46. Choirul Amri
    (19709251078 S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2019)

    Bismillah, Menurut saya, seperti apa yang telah diajarkan oleh Bapak Marsigit, filsafat merupakan sudut pandang dan olah pikir bagaimana kita memaknai sesuatu. Setiap kita memiliki pola pikir yang berbeda adanya persetujuan ada pula kontranya namun filsafat menengahi bahwa dalam berfilsafat tidak ada yang benar maupun salah karena mereka menembus ruang dan waktu yang berbeda. Jauh lebih dari itu, filsafat memberikan nasihat-nasihat yang tersirat maupun tersurat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  47. Sarah desiana pahu
    19709251063
    S2 PM D 2019
    Menurut saya pribadi, filsafat itu apa yang ada dipikiran kita sendiri. Apa yang kita sampaikan berdasarkan pikiran kita itu lah filsafat kita. Filsafat tiap orang orang itu berbeda karena filsafat itu bersifat multiface. Oleh karena itu seperti bapak Prof. Marsigit katakan banyak banyak membaca buku dan berusaha agar bisa berfilsafat dengan baik dan menembus ruang dan waktu. Terima kasih.

    ReplyDelete
  48. Sarah desiana pahu
    19709251063
    Ada hal yang menarik bagi saya disini yaitu beragama dari sisi filsafat. Saya setuju bahwa harus tetapkan dulu agamamu, tetapkan dulu keyakinanmu, tetapkan dulu hatimu. Karena bila tidak tetap ketiganya itu, saat menjalani hidup pasti mudah terombang ambing dan mudah terpengaruh akan hal yang menyimpang dari prinsip agamanya. Dan tidak dipungkiri masih ada sebagian besar orang yang seperti itu. Oleh karena itu kita sebagai manusia beragama, harus tegas dan menjaga jati diri kita sebagai manusia yang beragama dan menebarkan kebaikan bagi semua orang. Terima kasih.

    ReplyDelete
  49. Rona Happy Mumpuni
    19709251059
    S2 Pendidikan Matematika D

    Terima kasih kepada Vivi Nurvitasari dan Prof. Marsigit yang telah berbagi pengetahuan tentang FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN(refleksi perkuliahan). Kalimat yang cukup menarik bagi saya adalah "Filsafat itu adalah dirimu sendiri", jadi apabila kita mendapatkan nilai 0 dalam menjawab tes singkat mata kuliah filsafat ilmu tidak mengapa, karena dengan itu kita akan menjadi orang yang rendah hati dan terus menjadi manusia pembelajar seutuhnya.

    ReplyDelete
  50. Sri Ningsih
    19709251064
    S2 Pendidikan Matematika kelas D


    Filsafat adalah proses berpikir, bagaimana sesuatu dipandang. Dalam filsafat tidak ada benar dan salah karena filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

    ReplyDelete
  51. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  52. Lovie Adikayanti
    19709251068
    S2 Pendidikan Matematika D
    Assalamualaikum wr.wb
    Filsafat dalam memandang struktur kehidupan, ada 3 hal yang saya ketahui. Pertama, filsafat merupakan olah pikir. Olah pikir yang dimaksud adalah mengelola segala pikiran-pikiran yang ada dengan tujuan untuk menjelaskan dan memahami suatu fenomena. Kedua, bahwa berfilsafat adalah kesadaran diri akan ketahuan danm ketidaktahuan terhadap suatu hal. Ketiga, bahwa salah satu dari tujuan bfilsafat adalah untuk mengajarkan diri ini untuk selalu rendah hati dan belajar lebih baik lagi.

    ReplyDelete
  53. Fitria Restu Astuti
    19709251069
    S-2 Pendidikan Matematika D 2019

    Dari tes yang pernah Prof. Marsigit berikan saya pernah berpendapat bahwa filsafat itu tidak mengenal “toleransi” karena jika jawaban saya dengan jawaban Prof. Marsigit berbeda maka itu suatu kesalahan. Namun sampai di sini saya paham bahwa, filsafat yang sebenarnya itu adalah filsafatmu sendiri. Ilmu saya tentang filsafat sungguh sangat tidak ada apa-apanya, masih sangat-sangat sedikit. Terimakasih Prof, dengan adanya tes kemarin saya menjadi berniat untuk memahami bagaimana filsafat itu, kenapa filsafat bisa begini dan mengapa filsafat sangat sulit dipahami.

    ReplyDelete
  54. Latifa Krisna Ayu
    19709251060
    S2 Pendidikan Matematika D

    Berdasarkan tulisan diatas, tertulis bahwa filsafat yang sebenarnya adalah dirimu sendiri. Jika saya refleksikan hal ini pada diri saya, saya pun awalnya merasa bersalah pada diri saya sendiri karena tidak bisa mendapat nilai yang baik, selain itu saya merasa khawatir karena hasil saya berfilsafat akan pertanyaan Bapak Marsigit sering kali tidak sesuai dengan hasil pemikiran Bapak Marsigit. Namun seperti jawaban Bapak Marsigit bahwa filsafat itu adalah dirimu, maka janganlah khawatir. Kemudian jika saya telusuri lagi sebenarnya pertanyaan Bapak Marsigit sudah menuntut saya untuk berfilsafat dan akhirnya membuat saya menyadari bahwa saya belum paham. Semoga kedepannya saya dapat lebih banyak membaca sehingga menjadi lebih tahu.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  55. Rifki Rinaldo
    19709251070
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    filsafat merupakan gagasan atau ide bagaimana sesuatu itu dipandang. maka sebenar-benar berfilsafat adalah dirimu sendiri. bagaimana kamu mengenal diri sendiri. sesuatu perbuatan, perkataan, dan keputusan yang kita buat adalah bagian dari diri kita. Dengan kita berfilsafat kita dapat lebih mengenali diri sendiri. selain daripada itu dengan berfilsafat kita dapat merefleksikan perbuatan yang dilakukan untuk mengimprovisasi tindakan yang kita lakukan.

    ReplyDelete
  56. Dea Armelia
    19709251072
    S2 Pend. Matematika D 2019

    Menanggapi pertanyaan tentang “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”
    Benar salah itu ada, bila benar salah tidak ada maka tidak akan pernah ada rumusan, hukum, kesimpulan yang bersifat baku dan permanen. Semua meniscayakan pengetahuan tentang benar salah terlebih dahulu, dalam arti lain segala suatu harus dapat difahami terlebih dahulu dimana atau bagaimana benar salah nya maka barulah kesimpulan, rumusan, konklusi dapat dibuat atau ditetapkan.
    Dengan kata lain mengatakan benar salah itu bergantung kepada persepsi manusia , bergantung pandangan umum, bergantung siapa yang mengatakan, bergantung situasi dan kondisi.

    ReplyDelete
  57. Syaiful Syamsuddin
    19701261002
    S3 PEP 2019
    Filsafat merupakan gudang ilmu yang sangat luas, namun filsafat bisa brsifat sederhana maupun kompleks. Seseorang yang berfilsafat bisa jadi menurutnya telah berfikir secara kompleks namun menurut pandangan orang lain sederhana, begitupun sebaliknya, seseorang berfikiri sederhana namun dipandang orang lain secara kompleks. Berdasarkan hal ini,filsafat dapat diartikan tentang bagaimana cara atau olah pikir seseorang terhadap sesuatu, karena metode berfilsafat itu adalah metode hidup yang terjemah dan terjemahkan

    ReplyDelete
  58. pernah saya dengar dan saya baca pernyataan, "Filsafat adalah induk dari semua ilmu" Pernyataan ini keren dan menarik sekali untuk mengetahui lebih dalam tentang filsafat. Filsafat itu adalah diri sendiri dan diri sendiri yang menjelaskan apa maksud dan makna dari apa yang kita ungkapkan. Maka sering mendengar pernyataan dari Prof Marsigit sendiri,"sebenarnya-benarnya filsafat adalah penjelasan" merupakan ungkapan yang sangat bermakna. Didalam ungkapan tersebut mengandung makna bahwa berfilsafat itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Semua yang manusia butuhkan, dambakan, cita-citakan, perjuangkan selalu ada aspek filsafat didalamnya. Karenanya, filsafat selalu berhubungan dengan seluruh aspek kehidupan manusia dari dulu, sekarang dan nanti

    ReplyDelete
  59. Yufida Afkarina Nizar Isyam
    19709251073
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Saya setuju dengan pernyataan bahwa berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Pada dasarnya memang manusia diciptakan tanpa mengetahui apapun, manusia menjadi tahu karena dia mau belajar dan mencari tahu. Itu lah juga yang dikatakan sebagai tujuan hidup. Kita berusaha untuk terus menambah pengetahuan kita agar kita tidak tersesat. Kita harus menyadari bahwa kita belum tahu mengenai sesuatu, karena jika kita sadar pasti kita akan mencari tahu tentang ketidaktahuan tersebut, sehingga kita akan menjadi tahu apa yang tidak kita ketahui sebelumnya.

    ReplyDelete
  60. Aulia Nur Arivina
    18709251051
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Saya tertarik dengan jawaban Bapak yaitu filsafat itu adalah dirimu sendiri. Karena ada di dalam diri sendiri maka filsafat mempunyai pinsip filosofi fallibilisme bahwa manusia bisa salah. Tetapi berfilsafat tidak salah dalam berbagai sudut pandang. Saya mengerti bahwa membangun pengetahuan adalah separuh pengalaman dan separuh logika sehingga filsafat harus dipraktikkan dan dipikirkan pengalamannya.

    ReplyDelete
  61. Aulia Nur Arivina
    18709251051
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Setelah mengenal filsafat lebih dalam, pikiran memiliki kecenderungan konsisten, absolut, koheren, analitik, dan berlaku hukum identitas. Selain itu, sifat pengetahuan yang ada dalam pikiran adalah analitik, ukuran kebenarannya adalah konsisten sedangkan sifat pengetahuan pengalaman sintetik, dan bersifat kontradiksi. Karena memiliki sifat kontradiksi maka akan menghasilkan yang baru.

    ReplyDelete
  62. Vera Yuli Erviana
    NIM 19706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Filsafat adalah olah pikir manusia dalam memaknai suatu hal. Filsafat ada dalam diri manusia. Filsafat tidak membeda-bedakan agama. Filsafat dapat dipandang sebagai sesuatu yang kompleks atau sederhana. Filsafat dapat mempelajari tentang kehidupan, namun semua kebenaran sejatinya hanya milik Allah SWT, karena keterbatasan pemikiran, ruang, dan waktu manusia . Sehingga, sudah seharusnya kita selalu berikhtiar kepada Allah SWT.
    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  63. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  64. Menarik Sekali ungkapan yang Prof Sampaikan tentang agama dalam tinjauan filsafat prof mengatakan " tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.

    ReplyDelete
  65. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Sebenar-benarnya dalam berfilsafat adalah bagaimana kita cara kita berpikir. Dengan berfilsafat itu menyadari bahwa banyak hal yang belum kita tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuan, menyadari kapan mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Berfilsafat artinya sadar dengan potensi dan kekurangan kita. Dan dalam berfilsafat kita mengetahui bahwa manusia tidak akan pernah sempurna.

    ReplyDelete
  66. Muh. Asriadi AM
    19701251008
    S2 PEP A 2019
    Pemahaman saya dari artikel ini yaitu Berfilsafat artinya sadar dengan potensi dan kekurangan kita. Apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Seseorang bisa sadar karena ia berpikir. Pada hakekatnya setiap hal-hal yang berhubungan dengan filsafat maka semuanya sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam mengolah pikiran. Karena filsafat merupakan olah pikir, sebenar-benar filsafat adalah dirimu. Filsafat itu wacana, bahasa, dan juga sebuah penjelasan. Jika seseorang ingin menjelaskan sebuah fenomena, tidak harus ia masuk ke dalam kejadian tersebut, karena jika ia masuk kedalamnya dan ia tidak sadar, maka tidak akan ada yang bisa menjelaskannya lagi.

    ReplyDelete
  67. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif dan penelitian penalaran. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir. sehingga bisa saja antara aku dan kamu dalam berfilsafat akan menghasilkan definisi yang berbeda karena memiliki sistem berpikir yang berbeda.

    ReplyDelete
  68. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.

    ReplyDelete
  69. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Dalam berfilsafat jadikanlah agama berada dalam posisi tertinggi, jadikan agama sebagai pondasi sehingga saat kita berfilsafat kita memiliki batasan dan tidak akan berkelana bebas tanpa batasan.

    ReplyDelete
  70. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Benar salah dapat bersifat mutlak dan relatif. Jika dilihat dari segi budaya, benar salah akan bersifat relatif. Contohnya di Indonesia jika orang yang lebih muda menatap mata orang yang lebih tua saat berbicara adalah tidak sopan, maka hal ini berbeda dengan budaya barat yang mana harus selalu menatap mata lawan bicara. Namun jika dilihat dari Agama, maka benar-salah bersifat mutlak. Karena Islam bersifat universal, untuk semua manusia terlepas budaya, jenis kelamin dan lain sebagainya.

    ReplyDelete
  71. Hanifah nabila hendral
    S2 PEP A 2019
    19701251003
    Assalamualaikum
    Filsafat itu sederhana karena hanya menggunakan olah pikir, namun yang membuatnya menjadi kompleks adalah cara berpikir manusia

    ReplyDelete
  72. Filsafat adalah penjelasan. Penjelasan ini perlu disesuaikan dengan ruang dan waktunya. Karena penjelasa, maka setiap orang memiliki bahasa penjelas masing-masing, dan lagi ditekankan bahwa filsafat adalah diri sendiri. Dengan demikian, setiap orang normal bisa berfilsafat dengan mengandalkan pemikiran sendiri, tidak harus sama dan tidak bisa disamakan orang satu dengan orang lainnya karena setiap individu itu unik. Bahkan yang disebut kembar identik pun memiliki banyak perbedaan. Demikian inti yang bisa saya simpulkan dari tulisan ini.

    Ikhsanudin (PEP-S3/19701261001)

    ReplyDelete
  73. Rifki Rinaldo
    19709251070
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Filsafat dalam pengertian secara umum merupakan suatu kebijaksanaan hidup manusia untuk memberikan suatu pandangan hidup yang menyeluruh berdasarkan refleksi atas pengalaman hidup maupun ilmiah. Sedangkan dalam pengembangan proses pendidikan membutuhkan akal dan pola pikir yang baik dalam upaya mencerdaskan manusia dari kebodohan. Manusia memiliki dan pikiran untuk memecahkan problem-problem dalam mengembang proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari memiliki sifat primitif ke arah yang modern, serta manusia butuh filsafat dalam proses pendidikan. Agar proses pendidikan dapat berjalan dengan baik mampu berfilsafat dalam mengatasi masalah-masalah yang muncul dalam proses pendidikan

    ReplyDelete