Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

172 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dalam memandang filsafat dalam segala struktur kehidupan manusia ada batasannya dan ada dimensinya. Dalam dimensi komunikasinya pengalaman-pengalaman dalam persepsi pancaindra untuk dapat menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya. Orang yang cerdas adalah orang yang mampu untuk berpikir. Dalam berfilsafat terdapat tiga aspek yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ontologi mengenai suatu realitas kenyataan menuju pada kebenaran, epistemologi mengenai kebenaran dari suatu pengetahuan, sedangkan aksiologi mengenai nilai. Dengan demikian ketiga aspek tersebut melingkupi kehidupan manusia dari manusia yang berawal melalui masalah yang berkaitan dengan realitas kenyataan kemudian manusia berpikir realitas tersebut benar atau salah lalu setelahnya manusia akan mengukur pernyataan tersebut berdasarkan nilai.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Dalam berbicara pendidikan dengan ahli pemikiran tentulah harus melihat akar pikiran dari pendidikan itu sendiri. Tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan yang menjadi fondasi untuk membangun, mempertahankan serta meningkatkan pendidikan. Oleh karena itu untuk melihat permukaan dalam dunia pendidikan, perhatikan dan kokohkan fondasinya terlebih dahulu. Setelah itu barulah perbaiki sistem yang ada.

    ReplyDelete
  3. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Lewat berpikir dan berefleksi, kita sebenarnya mengonfrontasikan diri dengan lingkungan dunia dan bagaimana kita memandang dan memahami diri kita. Kaitan erat antara filsafat sebagai pandangan hidup dan sebagai ilmu dapat kita lihat dalam biografi setiap filsuf dalam setiap era berpikir manusia. Saya hanya menyebut beberapa nama yang secara eksplisit berbicara tentang pokok ini, terutama kaitan erat antara ‘berpikir’ dengan kehidupan konkret – hidup dan estetika, kehidupan praktis-konkret. Di sini kita bisa melihat bagaimana filsafat langsung berhubungan dengan pembentukan sikap, kepribadian dan transendensi serta transformasi diri manusia.

    ReplyDelete
  4. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Saya meragukan jika kehidupan itu berstruktur. Jika kehidupan berstruktur, maka kehidupan di masa depan sudah bisa diramalkan kejadiannya, dan sudah pasti sama persis. Jika kehidupan ini berstruktur, maka kehidupan ini berjalan sendiri tanpa adanya kuasa Tuhan. Namun berdasarkan pengalaman yang telah lampau, ternyata kehidupan di masa depan tidak bisa diprediksi. Bahkan kehidupan sebelum kita hidup tidak bisa kita prediksi tanpa berita dari langit yang disampaikan melalui Jibril kepada Muhammad Sholallahu Alaihi Wa sallam. Hal ini pula yang menjadi dasar keberadaan kuasa Tuhan. Tapi mungkin saja kehidupan itu berstruktur. Namun strukturnya adalah struktur yang tidak dapat kita pikirkan. Atau kita bisa memikirkannya, namun hanya sebagian saja. Karena struktur yang sebenar-benarnya struktur hanya diketahui oleh Allah SWT yang maha mengetahui. Karena Dia yang telah menciptakan alam semesta, yang mencakup ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya tertarik dengan apa yang ditanyakan dan apa yang dijawab oleh Prof. Marsigit mengenai ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”.
    Ternyata filsafat tersebut sangatlah sederhana dan juga sangatlah kompleks. tergantung bagaimana kita menanggapinya. karena berfikir saja itu sudah filsafat. sederhana kan.

    ReplyDelete
  6. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Apabila semua hal yang ada di hidup kita sudah dijalankan akan menjadi hermeneutika. Di setiap titik pada hermeneutika terdapat 3 elemen yaitu linier, mengembang, dan meruncing. Hidup ini menerjemahkan antara sadar dan tidak sadar. Jika belum dijalankan itu artinya belum hidup. Hidup jaman sekarang adalah linier maksudnya bisa maju tidak bisa kembali. Seperti anak panah yang berjalan linier ke depan. Manusia harus bersyukur, paling tidak bisa berhenti untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan kepada manusia.

    ReplyDelete
  7. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hal yang saya dapatkan dari postingan ini adalah ketika kita berfilsafat haruslah dulu mendasarinya dengan landasan spiritual yang kokoh agar tidak tersesat dalam kufar maupun majusi. Penting untuk mempersiapkan landasan spiritual dikarenakan berkaitan dengan hati. Menetapkan hati dilakukan untuk membatasi pikiran, agar pikiran tetap dalam koridornya.

    ReplyDelete
  8. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    "Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja." Terima kasih Prof. atas nasihat yang diberikan. Ini salah satu jadi pemicu kami untuk tidak lelah membaca dengan ikhlas.

    ReplyDelete
  9. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Membaca postingan ini membuat saya tertarik pada kalimat yang diucapkan oleh Prof Marsigit yaitu, “berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu.” Berdasarkan kalimat tersebut, saya menangkap suatu makna bahwa filsafat adalah tentang kesadaran. Melalui refelksi dalam filsafat, manusia menyadari jikalau dirinya adalah makhluk yang penuh dengan ketidaktahuan, ketidakmengertian, dan keterbatasan. Menyadari akan kekurangannya, sudah sepantasnya manusia senantiasa bersikap rendah hati seraya memohon pertolongan Tuhan YME.

    ReplyDelete
  10. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    berfilsafat adalah berpikir. namun bukan hanya berpikir, namun terus belajar dari setiap pengalaman dan ilmu pengetahuan. belajar juga tidak terlepas dengan membaca. maka dengan begitu, teruslah untuk baca baca dan baca.

    ReplyDelete
  11. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    Saya tertarik pada jawaban dari pertanyaan ”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”. Disitu dikatakan bahwa kita harus menentukan keyakinan baru bisa menerbangkan layang-layang pikiran. Kita perlu berpegang teguh pada apa yang kita yakini. Dari kalimat itu saya mengambil pelajaran bahwa iman merupakan pondasi yang penting.

    ReplyDelete
  12. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika

    Filsafat adalah ilmu olah pikir, berfilsafat adalah memahami pikiran sendiri. Jika kita belajar filsafat dengan para filsuf maka kita belajar pikiran para filsuf dan seyogyanya kita akan kembali kepada pikiran kita sendiri. Oleh karena itu dalam filsafat kita harus kuat dengan pikiran sendiri.

    ReplyDelete
  13. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Filsafat memang erat kaitannya dengan kehidupan kita, namun itu bukan berarti dengan mempelajari filsafat kita bisa menjadi punya kemampuan untuk berbicara dengan makhluk selain manusia, misalnya tumbuhan, binatang, batu, dan lain-lain. Pada intinya, yang berbicara itu berdimensi, maka manusia memiliki kemampuan untuk berbicara dengan dimensinya sendiri. Filsafat dalam memandang kebenaran dan kesalahan juga tidak mematok yang ini benar dan yang itu salah. Sebenar-benarnya kebenaran filafat itu ya pikiranmu sendiri. Maka agar pikiranmu tidak tersesat bacalah, bacalah, dan bacalah filsafat. Landasilah dan payungilah belajar filsafatmu itu dengan agama, dengan Tuhan. Tetapkan dulu keyakinanmu. Setelah kamu menetapkan keyakinanmu, barulah kamu dapat beragama dengan baik menurut keyakinanmu itu. Maka dengan agamamu lah, dengan Tuhan mu lah kamu melandasi dan memayungi pikiranmu agar tidak kehilangan arah dalam berfilsafat. Karena sebenar-benarnya pikiran manusia tidak sebanding dengan Tuhan.

    ReplyDelete
  14. Struktur kehidupan akan berbeda-beda menurut pandangan sesorang atau filosofi yang dipahaminya. Menurut pandangan orang timur maka spiritual adalah segalanya kemudian dibawahnya normatif, formatif dan terakhir material. Tetapi di daerah lain maka material berada pada tingkat paling atas dan spiritual ditingkat bawah. Ada juga yang tidak berstruktur.

    ReplyDelete
  15. Struktur yang terkecil dalam filsafat adalah genus. Didalam genus mengandung wadah dan isi, forma dan subtansi. Bila telah memahami genus maka kita sedang berfilsafat. Gelas adalah wadah, isinya adalah air, air adalah wadah isinya adalah oksigen. Gelas adalah isi wadahnya adalah kardus. Segala yang ada dan mungkin ada dapat diterjemahkan dan menterjemahkan itulah hermenetika. Kehidupan yang dajalani didunia tidak lepas dari menerjemahkan dan diterjemahkan.
    Ketika siswa sedang belajar maka kesalahan siswa adalah benar, siswa akan belajar dari kesalahan tidak langsung memperoleh kebenaran dalam filsafat fallibilis. Berapa banyak peneliti melakukan percobaan samapai berhasil, berapa banyak penelitian yang dilakukan oleh perusahaan sampai berhasil. Kesalahan-kesalahan akan memperoleh kebenaran yang berguna.

    ReplyDelete
  16. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pada dasarnya tes jawab singkat bukan hanya untuk mengetahui kemampuan kita, namun sisi lain yang menjadi tujuan terselubung dari tes jawab singkat adalah melatih kita atau menyadarkan kembali kepada kita bahwa sebenarnya ilmu kita masih perlu untuk ditambah, masih perlu untuk belajar. Janganlah pernah merasa bahwa ilmu kita telah tinggi dengan apa yang telah kita dapat karena sebenar-benarnya ilmu sangatlah luas. Sebagaimanapun kita belajar pasti tetaplah masih ada yang belum diketahui. Karena ilmu filsafat merupakan ilmu olah berpikir, maka dalam memandang struktur kehidupan pasti menggunakan pikiran tertentu. Bahwasanya setiap orang mempunyai alasan dan masalah tertentu dalam menjalani kehidupan dalam struktur tertentu. Menurut A mungkin berbeda cara pandangnya menurut B, dan seterusnya. Baik A maupun B, maupun yang lainnya punya alasan khusus kenapa melakukan hal ini, hal itu sesuai pemikirannya. Satu hal yang perlu diperhatikan bagaimana menjaga keharmonisan itu semua sehingga bermanfaat, menjadi vital.

    ReplyDelete
  17. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    memang tidak mudah belajar filsafat tetapi ingatlah bahwa harus secara rutin membaca tulisan seorang filsafat agar kita dapat memahami pikiran seorang filusuf tersebut. jika kita dapat memahami pikiran filusuf tersebut tentunya kita akan semakin paham dengan apa yang ditulisnya dan kita akan menjadi sedkit demi sedikit paham dengan filsafat. sehingga jika kita diberikan soal pada saat ujian sisipan mengenai filsafat nilai kita tidak 0 kembali. itulah salah satu motivasi belajar filsafat yaitu agar kita memahami apa yang dituliskan seorang filusuf tersebut.

    ReplyDelete
  18. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan Prof. Marsigit M.A dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Oleh karena itu Sebagai mahasiswa untuk memahami filsafat kita harus baca, baca, dan baca. Seseorang, apalagi mahasiswa untuk memahami filsafat harus bisa memposisikan diri sebagai orang yang harus membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat itu semua harus dilakukan terus menerus sampai bisa memahami apa itu filsafat.

    ReplyDelete
  19. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    terima kasih bapak telah memposting refleksi perkuliahan ini. sedikit banyak pertanyaan saya selama ini, juga disebutkan dan dibahas pada beberapa postingan tanya jawab. pertanyaan yang sama diantaranya adalah bagaimana beragama dalam filsafat? saya telah menemukan jawabannya, yaitu kita harus menetapkan dulu, hati, pikiran dan keyakinan pada agama kita (islam). baru lah setelah itu, kita bisa bebas berpikir dan mencari pengalaman, asalkan masih sesuai dengan isi dan koridor agama kita (islam).

    ReplyDelete
  20. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Saya disini jugan ingin sedikit bercerita tentang kuis jawab singkat yang diberikan Prof. Marsigit sewaktu perkuliahan Etnomatematika. saya kurang ingat berapa soal yang diberikan. tetapi saya sangat terkesan dengan soal yang hanya dijawab singkat tetapi masih saja banyak mahasiswa yang mendpat nilai nol. waktu itu dikelas kami nilainya berkisar dari 0 sampai 4 sehingga cukup mengherankan bagi kami, padahal soal tersebut tidaklah susah tetapi jawaban kami memang belum tepat.

    ReplyDelete
  21. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pertanyaan pertama ini sama denan pernyataan saya yang muncul ketika tes jawab cepat dengan mata kuliah etnomatika. Hal ini pernah dibahas di salah satu tulisan pak Prof. Marsigit juga bahwasannya untuk menjawab pertanyaan dengan tepat dan sesuai dengan pola pikir Prof. Marsigit kita haruslah membaca tulisan-tulisan beliau untuk meng-isomorpiskan pikiran kita dengan beliau.

    ReplyDelete
  22. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Istilah menembus ruang dan waktu yang dijawab oleh pak prof. Marsigit sama halnya dengan istilah isomorpis yang telah dibahas di salah satu tulisan beliau di awal. Disini dijealskan bahwa filsafat merupakan diri kita sendiri sehingga cara terbaik untuk belajar filsafat pak Prof. Marsigit adalah dengan membaca tulisan dan karya beliau sehingga kita mengerti dan paham pola pemikiran beliau.

    ReplyDelete
  23. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut artikel diatas saya dapat menarik simpulan bahwa setiap mata kuliah yang diampu belaiu akan selalu ada tes jawab cepat. Seperti yang telah dituliskan dalam jawaban beliau bahwasannya hal ini bertujuan untuk mengadakan yang mungkin ada pada diri mahasiswa tersebut masing-masing.

    ReplyDelete
  24. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam mempelajari mengenai pendidikan pak Prof. Marsigit menyatakan bahwa kita harus mengetahui mengenai latar belakang pendidikian, landasan pendidikan serta masa depan pendidikan itu sendiri. Ketiga hal tersebut telah terangkum dalam filsafat pendidian.

    ReplyDelete
  25. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam filsafat segala sesuatu yang kita ketahui namun tidak dapat menjelaskan bagaimana dia memperoleh hal tersebut dapat diartikan sebagai ilham. Berbeda dengan wahyu yang memiliki proses untuk mengetahuinya. Proses wahyu yang dijelaskan Prof. Marsigit dalam tulisan ini menurut saya dapat dianalogikan sebagai proses mengasosiasi dalam pendekatan pembelajaran saintifik.

    ReplyDelete
  26. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sebelumnya ditulisan Prof. Marsigit berfilsafat artinya memahami dirimu sendiri. Sedangkan dari jawaban pertanyaan kedua saya paham bahwa konteks memahami diri sendiri itu didefinisikan sebagai kesadaran kita dalam menyikapi ketidaktahuan.

    ReplyDelete
  27. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dijelaskan bahwa setiap manusia memiliki potensi menjadi baik ataupun buruk. Saya menyukai pernyataan Prof. Marsigit “raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia” . Hal ini linear dengan tujuan penciptaan manusia yakni untuk beeribadah kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  28. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pernyataan Prof. Marsigit mengenai “raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia” juga selalu ditekankan dalam setiap perkuliahan beliau. Sehingga dalam praktik perkuliahannya pun selalu dikaitkan dengan dimensi spiritual yakni dalam pembelajaran selalu diawali dan diakhiri dengan doa.

    ReplyDelete
  29. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam jawaban pertanyaan ke-3 mengenai bagaimana beragama dalam filsafat Pak Prof. Marsiit menekankan sebelumnya sebelum memasuki ranah filsafat itu sendiri kita harus menentukan agama kita. Artinya perkuat keyakinan dan tanamkan nilai agama tersebut dalam hati agar nanti dalam prosesnya tidak goyah dan melenceng dari nilai agama itu sendiri.

    ReplyDelete
  30. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dari jawaban pak Prof. Marsigit saya dapat menyimpulkan bawa mencadi cerdas itu perlu sebagai suatu usaha ritual untuk memperkuat keyakinan apa yang tengah kita percayai. Menjadi cerdas menjadikan kita tau mana kala hal tersebut baik ataupun buruk mana yan lebih banyak manfaatnya ataupun mudaratnya.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut beliau ketika menyikapi pertanyaan ke-5 bahwasannya spiritual merupakan masala individu dengan Tuhannya. Spiritual seseorang ini dapat dilihat dari orang itu sendiri, keluarganya, pola pikir, serta lingkungannya. Beliau menegaskan bahwa dalam masalah spiritual merupakan suatu proses seseorang dalam berikhtiar mengetahui mana yang benar dan kurang benar.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam filsafat benar dan salah dipandang sebagai kesesuaian dengan ruang dan waktu. Pada dimensi spiritualisme kebenaran bersifat absolute artinya segala sesuatu yang telah ditetapkan dalam konteks agama ini benar. Misal saja segala sesuatu yang diperintahkan Allah melalui Al-Qur’an bersifat absolut wajib. Sama halnya dengan shalat 5 waktu merupakan suatu perkara wajib jika tidak dikerjakan maka berdosa.

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Jika kebenaran dimensi spiritual merupakan suatu yang absolute maka kebenarann menurut seseorang itu bersifat subjektif. Hal ini telah dijelaskan juga pada mata kuliah sosial budaya. Dimana sekarang tengah terjadi pergeseran nilai. Contoh saja dahulu bahasa inggris di beberapa daerah dikatakan sebagai bahasa setan akan tetapi sekarang ini bahasa inggris merupakan salah satu bahasa yang diajarkan dalam sekolah begitu juga LGBT merupakan suatu penyakit akan tetapi di beberapa negara itu dipandang sebagai suatu hak asasi manusia.

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Terkait pertanyaan mengenai filsafat itu kompleks atau sederhana saya menyimpulkan jawaban pak Prof. Marsigit bahwasannya filsafat dapat dipandang kompleks dan juga sederhana. Semua tergantung dari pandangan kita sendiri memandang filsafat itu komples ataupun sederhana.

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut Prof. Marsigit filsafat itu tergantung dari olah pikir, reflektif serta cara pandang kita terhadap filsafat. Seperti yang pernah dibahas pada tulisan beliau yang lainnya hakikat filsafat ada pada diri kita sendiri. Akibatnya filsafat diri dari tiap orang akan berbeda tergantung dengan pribadi individu tersebut.

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Istilah “Knowledge is Power” dari Francis Bacon merupakan hal saya garis bawahi pada jawaban pertanyaan terakhir yang ditujukan kepada Prof. Marsigit. Hal ini juga dikatakan beberapa malam oleh penceramah khutbah tarawih bahwasannya orang yang berilmu itu memiliki derajatnya lebih tinggi.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Tentunya kita juga tidak asing dengan istilah “tuntulah ilmu hingga ke negeri China”. Ibarat tersebut menandakan betapa pentingnya menuntut ilmu itu sendiri. Berguru pada pengalaman negeri Matahari Jepang ketika tengah dalam krisis setelah di bom nuklir oleh sekutu pemimpinnya kala itu tidak memikirkan bagaimana memulihkan keadaan akan tetapi lebih menekankan kepada pengembangan pendidikan untuk generasinya. Alhasil sekarang Jepang berhasil bangkit dan menjadi salah satu negeri yang maju.

    ReplyDelete
  38. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    “Knowledge is power” interpretasi istilah tersebut telah saya temukan ketika berada pada jenjang sekolah dasar. Dulu guru SD saya berpesan bahwa Ilmu itu berharga dibandingkan harta apapun. Ilmumu menjagamu berbeda dengan harta kamu yang menjaga hartamu.

    ReplyDelete
  39. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dari tulisan beliau ini dapat disimpulkan bahwa kedudukan ilmu begitu mulia. Ini menjadi cambuk bagi saya sendiri sebagai calon guru agar sebaik-baiknya dalam proses pembelajaran selain sebagai fasilitator saya juga harus mampu menjadi motivator bagi calon siswa saya kelak sehingga mereka termotivasi untuk belajar lebih dalam sendiri.

    ReplyDelete
  40. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam jawaban yang dikemukan pak Prof. Marsigit salah satu tujuan beliau melakukan tes adalah untuk menyadarkan mahasiswa untuuk tidak sombong dalam segala hal. Bahwa untuk mempelajari matakuliah beliau kita perlu membaca ulisan-tulisan beliau sehingga pemikiran kita dan beliau dapat isomorpis.

    ReplyDelete
  41. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Ketika membaca judulnya, saya sudah berpikiran bahwa filsafat akan memandang struktur kehidupan dari berbagai sudut pandang. Sejatinya filsafat adalah bukan darimana dia memandang sesuatu, tetapi penjelasan tentang mengapa dia berpandangan demikian. Dari semua proses perkualiahan, Bapak selalu membuat model atau hierarkhie atau struktur. Begitulah filsafat. Maka struktur antara satu orang dengan yang lainnya juga kan berbeda, tergantung dari bagaimana cara dia memandang. Yang jelas, struktur kehidupan dibangun menggunakan pondasi spiritual, jadi spiritual itu merupakan dasar. Kokoh tidaknya sebuah kehidupan itu tergantung pondasi yang dibuatnya.

    ReplyDelete
  42. Filsafat merupakan olah pikir. Berfilsafat merupakan suatu proses berpikir, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Obyek dari filsafat itu sendiri mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, tidak ada yang salah dan benar, semuanya tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  43. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Filsafat merupakan olah pikir. Berfilsafat merupakan suatu proses berpikir, berpikir seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Obyek dari filsafat itu sendiri mencakup semua yang ada dan yang mungkin ada. Dalam berfilsafat, tidak ada yang salah dan benar, semuanya tergantung pada ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  44. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dengan melihat jawaban bapak dari pertanyaan pertama saya menyadari bahwa untuk bisa memahami filsafat, kita harus memahami diri sendiri. Hal itu dikarenakan filsafat hanya ada di dalam diri manusia masing-masing. Filsafat setiap orang hanya bisa dipahai dengan bertanya. Sebagai mahasiswa, baiknya kita terus membaca dan terus membaca agar memahami filsafat itu sendiri. Sebenarnya dari kesalahan yang terjadi itulah kita menyadari bahwa diri ini masih kurang dan harus terus berusaha untuk berkembang.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  45. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Menurut sumber yang saya baca, Filsafat Pendidikan memiliki peranan yang penting karena filsafat pendidikan menjadi landasan filosofis dan pemberi arah untuk usaha-usaha perbaikan, kemajuan dan tetap eksisnya pendidikan. Tanpa landasan dan arahan, penyelenggaraan pendidikan sangat sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang direncanakan. Landasan yang kuat sangat dperlukan bagi para pembangun bangunan pendidikan selanjutnya agar bangunannya menjadi kokoh dan eksis selamanya.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  46. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam postingan ini, saya menyukai salah satu ungkapan yaitu bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  47. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014
    Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Pandangan ini sangatlah membuat saya terkagum akan filsafat. dari sini saya menyadari bahwasanya filsafat mengajarkan kita untuk berpikir untuk memperkokoh iman dan agama masing-masing

    Terimakasih

    ReplyDelete
  48. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan diri kita dengan Tuhan (habluminAllah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Spiritual merupakan tanggung jawab setiap insan masing-masing kepada Tuhannya (hambluminAllah). Kita sesama makhluk hanya bisa saling mengingatkan, saling mengasihi satu sama lain (hambluminannas).

    Terimakasih

    ReplyDelete
  49. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Jika dipandang dalam pandangan falibilisme, semua bisa jadi benar dan bisa jadi salah. Karena filsafat hanya ada dalam pikiran masing-masing orang. Filsafat ada di dalam diri masing-masing orang. Semua yang pasti hanya milik Ilahi.yang benar adalah suatu kebenaran yang sesuai dengan ruang dan waktu. Sesuatu itu tidak boleh menentang ruang dan waktu.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  50. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dari postingan ini, saya membaca satu hal yang saya garis bawahi. Ketika tes telah usai dinilai, dulu saya berpikir bahwa kenapa nilai saya begitu jelek. Ternyata dengan membaca postingan ini pertanyaan saya terjawab. Bahwasanya setiap orang memiliki filsafat masing-masing d dalam diri mereka. Dengan mendapatkan nilai nol, kita bisa rendah hati dengan terus belajar karena menyadari diri ini masih jauh dari kata baik.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  51. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu pertanyaan dalam postingan tersebut yang juga menjadi pertanyaan saya adalah yang telah disampaikan oleh Sdri. Rizky Umami. Yang dapat saya simpulkan dari jawaban Prof. Marsigit yakni bahwa filsafat adalah diri kita sendiri. Karena kita diberikan pertanyaan filsafat oleh Prof. Marsigit maka jawabannya adalah diri beliau, ketika jawaban kita berbeda maka antara diri kita dengan belliau belum menemui ruang dan waktu yang sama, atau kita belum memahami beliau. Untuk dapat memahaminya adalah dengan cara membaca, baca, dan baca postingan dari beliau. Tugas mahasiswa adalah terus membaca, berusaha, dan berikhtiar, jangan patah semangat.

    ReplyDelete
  52. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Kesimpulan yang saya ambil yaitu salah dalam filsafat adalah benar jika engkau memang belum mengetahui ilmunya. Nilai yang rendah adalah untuk introspeksi diri dan memunculkan rasa rendah hati. Namun bukan benar seperti itu yang diharapkan. Benar yang bagus menurut saya adalah benar ketika kita sudah tahu ilmunya. Artinya dapat menjawab pertanyaan dengan lebih baik lagi. Oleh karena itu membaca sangat diperlukan dalam rangka memperkaya informasi dan ilmu yang kita miliki. Karena membaca adalah salah satu cara kita belajar dan belajar adalah wajib bagi siapapun yang sehat akalnya.

    ReplyDelete
  53. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Filsafat selalu erat kaitannya dalam kehidupan, berfilafat maka manusia berfikir. Namun bukan hanya ekedar berfikir, tetapi juga memahami setiap makna dan arti dari kehidupan dan seluruh dinamikanya.

    ReplyDelete
  54. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika sudah sampai pada tahap berfilsafat dan berfilsafat sesuai dengan kaidah maka orang tersebut telah sampai pada tahap yang tinggi yaitu mampu menentukan mampu berfikir yang dapat memberikan efek jangka pendek maupun panjang untuk kehidupannya maupun kehidupan orang banyak.

    ReplyDelete
  55. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  56. Rizka Azizatul Latifah
    14301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat tidak ada yang salah dan benar dalam memahami setiap kontennya. Tergantung pikiran massing-masing orang yang tentunya memiliki pengalaman dan masa lalu kehidupannya.

    ReplyDelete
  57. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat adalah dirimu sendiri, maka berfilsafat adalah metode hidup. Sepintar apapun orang jika diberikan pertanyaan berkaitan dengan filsafat juga bisa mendapat nilai nol, karena filsafat tergantung pada masing-masing pemahaman orang

    ReplyDelete
  58. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Dalan filsafat tidak ada benar dan salah, karena salah itu juga bisa berarti benar sesuai keadaan. Kebenaran dalam filsaat adalah kebenaran yang objektif, karena filsafat adalah tentang diri masing-masing

    ReplyDelete
  59. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Filsafat itu sederhana dan jua kompleks, karena filsafat adalah berpikir. Tingkat befpikir tiap orang pastilah berbeda-beda, maka dari itu filsafat tergantung dari cara berfikir masing-masing orang. Tetapi jika anda sudah menyimpulkan sesuatu dan berhenti berpikir, disitu anda sudah tidak lagi berfilsafat

    ReplyDelete
  60. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Urusan spiritual adalah urusan masing-masing kita dengan Tuhan, spiritualku ya dengan melihat diriku, lingkunganku, keluargaku, pola pikirku, pengalamanku. Karena itu berkaitan denga diri masing-masing, bukan antar manusia

    ReplyDelete
  61. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia itu terbatas, sesuai ruang dan waktunya. Keterbatasan kita mungkin pada orang lain tidak, begitu ppun sebaliknya. Manusia membuat postulat atau aturan-aturanya sendiri, sehingga terbentuklah struktur dalam dirinya yang berkaita dengan menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  62. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Beragama dalam filsafat dimulai dari hati terlebih dahulu. Tetapkanlah dulu agamamu, keyakinanmu, dan mantapkan hatimu, baru setelah iitu kuatkan dengan pikiran-pikiran untuk memperkuat iman dan taqwa dengan belajar agama yang anda yakini dan mengamalkanya

    ReplyDelete
  63. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebagaimana telah disebutkan dalam refleksi ini, berfilsafat adalah menyadari bahwa saya belum tahu, menyadari dan mengegahui ketidaktahuanku, menyadari kapan mulai mengetahui dan mengetahui batas antara tahu dan tidak tahu.
    Namun manusia terkadang tidak mengetahui batasan antara tahu dan tidak tahu. Karena terkadang manusia tidak mau belajar lebih, untuk mengetahui ketidaktahuannya. Sebagai manusia yang memiliki keterbatasan, ketidaktahuan merupakan sebuah hal yang wajar, namun dengan semakin banyak ketidaktahuan, menandakan sejauh mana seorang manusia mencari pengetahuan. Karena manusia yang semakin banyak mencari ilmu dia akan merasa kecil karena mengetahui banyak hal yang dia tidak ketahui.

    ReplyDelete
  64. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Pendidikan sebuah hal yang terpenting dalam kehidupan dan dalam pendidkan pada umumnya mengajarkan sebuah arti dari kebenaran dan kebaikan. dan semua orang berhasrat untuk melakukan kebenaran, tapi apa itu kebenaran sendiri sebagaimana dijelaskan pada refleksi diatas kebenaran mempunyai sifat-sifat tertentu apabila dilihat dari segi kualitas pengetahuannya.

    ReplyDelete
  65. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Share dari refleksi perkuliahan ini. Setelah kami (saya) baca dan coba renungi dan coba pahami. Pemahaman saya saat ini (setelah membaca ini) adalah berfilsafat ketidaktahuan itu bukanlah suatu hal yang perlu dikhawatirkan. Filsafat adalah mengolah pikir dan mencari tentang kebenaran (yaitu yang sesuai dengan ruang dan waktu-nya). Dengan demikian saya teringat dengan filsafat Rene Descartes “Cogito Ergo Sum” di mana dalam filsafatnya “aku berpikir, maka aku ada” (Hardiman, Budi, 2007:37).

    Terima kasih banyak atas share refleksi yang sangat menginspirasi ini.

    ReplyDelete
  66. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postigannya Pak. Kembali saya mengingat salah Firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang kurang lebih artinya adalah "Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang berilmu beberapa derajat." Sebagaimana contoh yang Bapak sebutkan mengenai layang-layang pikiran yang diterbangkan jauh tanpa landasan agama bisa jadi berakhir di tempat yang tidak baik, ilmu dan agama adalah dua hal yang harus dijalankan secara beriringan. Orang beriman harus berilmu dan orang yang berilmu harus beriman.

    ReplyDelete
  67. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Saya tertarik dengan penjelasan yang Prof berikan tentang filsafat dapat dikatakan kompleks dan juga sederhana. Dikatakan sederhana karena filsafat merupakan olah pikir, dan dikatakan kompleks jika pikiran tidak bisa lagi memikirkan apa yang dipikirkan. Akan tetapi pikiran saya masih memandang filsafat sebagi hal yang kompleks dan sulit untuk dicerna. Mengapa bisa demikian Prof? apakah dimensi yang saya gunakan masih salah Prof?
    Saya juga pernah membaca sebuah buku dimana Aristoteles pernah mengemukakan bahwa segala sesuatu dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok. (1) Substansi, (2)aksidensia mutlak, (3) aksidensia relative, (4) tindakan, (5) derita, (6) ruang, (7) waktu, (8) keadaan, (9) kebiasaan. Apakah berbagai struktur kehidupan dapat digolongkan kedalam kelompok yang di kelompokkan Aristoleles Prof? mohon pencerahannya.

    ReplyDelete
  68. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs P.Mat A 2017

    Pada refleksi kali ini, ketidaktahuan sebenarnya hal yang wajar, bisa dikatakan ketidaktahuan merupakan bagian dari pengetahuan karena dari ketidaktahuan akan lahir pengetahuan-pengetahuan baru yang nantinya akan memunculkan suatu pencerahan. Pencerahan akan datang dari ketidaktahuan. Asalkan diri kita sadar dengan ketidaktahuan kita. Sehingga nantinya kta dapat mencari pengetahuan-pengetahuan untuk mengatasi ketidaktahuan tersebut. Semakin banyak yang ingin kita ketahui akan semakin banyak pertanyaan-pertanyaan ketidaktahuan yang akan muncul. Sehingga kita mempunyai sifat rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu muncul karena kita yang selalu berpikir. Dari rasa ingin tahu akan dapat memecahkan setiap permasalahan yang ada. Dengan bekal rasa ingin tahu juga kita dapat mengerti tentang diri sendiri dan mengetahui tentang suatu kebenaran. Karena sesorang yang selalu ingin tahu akan menggunakan pikirannya untuk mencari kebeneran kebeneran sesuatu yang mereka pertanyakan.

    ReplyDelete
  69. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Filsafat mengajarkan kita untuk rendah hati. Selalu merasa tidak tahu adalah kunci dari aktivitas berfikir manusia. Ketidaktahuan kita menggiring kita untuk lebih menggerakkan otak kita untuk mencari tahu. Orang yang merasa paling tahu itulah justru memiliki kecenderungan berhenti berfikir lebih tinggi. Sehingga orang yang merasa paling tahu dan paling pintar akan mendekatkan diri pada kesombongan yang berimplikasi pada sulitnya menerima ilmu baru.

    ReplyDelete
  70. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika boleh saya memilih, saya lebih memilih menjadi orang yang tidak tahu ap-apa. Namun, apakah kita hidup itu untuk memilih? Bukannya kita hidup itu untuk bersyukur dan cara bersyukur kita dengan cara melakukan ibadah terhadap Tuhan? Sebagaimana yang di Nash kan di dalah Al-Qur’an pada surat ke 51 ayat 56 yaitu “wa maa kholaqtu al jinna wa al insa illa liya’buduun” yang memiliki arti --tidaklah Aku (Alloh) menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah—Ibadah tersebut merupakah refleksi dari sikap syukur kita kepada Alloh SWT yang telah memberikan banyak sekali kenikmatan salah satunya adalah kenikmatan memiliki ilmu. Penyakit atau cobaan bagi orang yang berilmu adalah sifat takabbur yaitu sifat tinggi hati yang mengganggap “aku adalah segalanya”. Hal tersebut yang jika saya cermati dalam artikel ini menjadi penyebab tidak bisanya kita berfilsafat karena masih selalu puas akan yang kita miliki. Karena memang benar adanya, orang yang selalu haus akan ilmu adalah mereka yang sedang mencari jati diri mereka sendiri agar menjadi jari diri yang memang sesuai dengan ruang dan waktu kita masing-masing.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  71. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Terimakasih Bapak atas postingannya. Dari refleksi ini, saya mengetahui bahwa dalam belajar filsafat tidak perlu takut salah, bahkan kesalahan tersebut mengajarkan kita untuk selalu mau belajar dan membaca lebih banyak lagi. Selain itu, berfilsafat mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dalam menuntut ilmu, menyadari bahwa kemampuan kita sebagai manusia sangatlah terbatas, sehingga jangan pernah ingin menjadi manusia yang ahli dalam semua bidang di kehidupan ini, karena itu di luar kemampuan kita sebagai manusia. Berfilsafat juga mengajarkan kita untuk mempunyai pedoman atau pegangan yakni agama, dengan adanya agama kita mempunyai pijakan, mempunyai tujuan, kita akan mengetahui bagaimana dan untuk apa ilmu-ilmu dunia yang selama ini sudah kita peroleh.

    ReplyDelete
  72. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Mengenai padangan filsafat terhadap agama, saya sangat tertarik dengan jawaban Bapak. Banyak orang yang ilmunya sudah tinggi tapi masih tidak dapat mempercayai Tuhan, mereka tenggelam di dalam ilmunya namun tidak memiliki dasar keimanan yang kuat. Maka benar bahwa tetapkan agamamu, pelajari dulu agamamu, dan baru dikaji lebih dalam sehingga tidak gampang digoda setan dan paham2 sesat.

    ReplyDelete
  73. Insan A N/S2 Pmat C
    Bismillah, sedikit saya tergertak bahwa sebelum berfilsafat, maka kuatkanlah patoknya, kuatkanlah ikatannya, yang dalam tulisan ini dimaksud dengan agama. dengan keyakinan agama yang sudah kuat, maka kita tidak akan terombang-ambing karena kita punya patokan sebagai pengikat agar tidak lepas dan jatuh,

    ReplyDelete
  74. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Benar dan salah mengikuti ruang dan waktu. Adakalanya suatu hal benar di waktu A dan tempat B tetapi menjadi salah ketika di waktu D dan tempat C. Meskipun begitu sebagai seorang manusia kita harus memiliki pegangan yang kuat agar tidak terombang ambing dengan benar salah dalam ruang dan wkatu, karena ada kalanya benar dan salah itu mengikuti ruang dan waktu, tetapi ada kalanya pula benar dan salah adalah mutlak tetap. Maka sebaik-baik pegangan adalah agama kita. Katika kita telah memiliki keyakinan yang kuat, maka kita akan percaya dan yakin bahwa ada kalanya sesuatu itu hitam, ada kalanya sesuatu itu putih, tetapi ada kalanya pula sesuatu itu abu-abu, bahkan ada kalanya pula sesuatu itu ada pada batas antara hitam dan putih, antara hitam dan abu-abu, antara abu-abu dan putih. Semoga kita senantiasa diberikan hidayah dan petunjuk oleh Allah Swt agar tidak tersesat dari jalan Nya. Amin.

    ReplyDelete
  75. Muhammad sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    pelajaran yang dapat saya ambil dari tulisan diatas adalah bahwa dalam mencari ilmu atau mengolah pikir (berfilsafat) harus IKHLAS berusaha dan berikhtiar, SABAR dan tidak patah semangat, berSYUKUR atas semua yang dialami dan didapatkan karena semua itu adalah ilham.

    ReplyDelete
  76. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Tulisan yang sangat apik dalam pemahaman antara filsafat yang dikaitkan dengan struktur kehidupan. Pada tulisan ini terlihat dalam berbagai konteks. Saya juga banyak belajar dari para dosen yang telah lebih dahulu belajar dan beliau selalu berpesan kepada saya agar selalu rendah hati. Ketika ada perasaan rendah hati di dalam diri, maka kita akan sadar dan menganggap bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Oleh karena itu, saya selalu menyempatkan waktu untuk membaca agar pikiran saya dapat terus bekerja secara optimal. Selain itu, satu pernyataan dari Rene Descartes yang selalu memotivasi diri saya, yaitu cogito ergo sum, "aku berpikir maka dari itu aku ada". Ini berarti bahwa eksistensi manusia dapat tercermin dari pola pikirnya.

    ReplyDelete
  77. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Tulisan yang sangat mendalam untuk memahami nilai kebenaran dari filsafat itu sendiri. Karena pada dasarnya kebenaran filsafat itu sendiri adalah relatif. Dan kebenaran itu juga selalu mengalami perkembangan zaman atau waktu dan peradaban manusia. Penilaian tentang suatu kebenaran itu juga bergantung pada ruang dan waktu, walaupun kebenaran yang diinginkan oleh filsafat adalah kebenaran yang tetap atau hakiki sehingga nilai kebenaran tersebut dapat dijadikan sandaran atau pandangan hidup manusia. Pada dasarnya sifat manusia itu tidak pernah merasa puas, karena itu kita selalu mencari kebenaran dari sebuah filsafat agar kita puas akan nilai kebenaran yang kita inginkan. Akan tetapi kita adalah umat beragama islam yang mempunyai Al-quran dan Al-hadis sebagai sandaran hidup.

    ReplyDelete
  78. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    Setiap kali saya membaca postingan tentang refleksi perkuliahan, saya semakin menayadari bahwa saya belum bisa menyimpulkan apa apa terkait beberapa postingan bapak yang sudah saya baca sebelumnya. Karena ketika saya membaca refleksi perkuliahan sebuah kelas yang dituliskan oleh seorang mahasiswa sebelumnya, kemudian membaca refleksi perkuliahan lainnya, saya semakin menemukan banyak kajian yang dimunculkan, tetapi saya belum mengetahui karena memang belum membaca.
    Terlepas dari hal tersebut, saya selalu mengutip kalimat-kalimat yang dapat memotivasi saya, contohnya pada postingan di atas kurang lebih saya membaca bahwa kita tidak boleh sombong dengan ilmu yang kita miliki.

    ReplyDelete
  79. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Filsafat merupakan ilmu yang kita pelajari untuk memahami, lebih memahami tentang hal-hal yang terjadi di sekitar kita dengan lebih mendalam dan dilihat dari sisi yang berbeda dengan yang umumnya hal-hal tersebut kita pandang, dan semakin kita mempelajari hal tersebut semakin juga kita memahami esensi diri dan esensi dari pikiran kita sendiri.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  80. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Filsafat merupakan ilmu dasar yang mendasari segala pengetahuan. Ketika mempelajari filsafat, sudah dapat dipastikan kita juga mempelajari 3 ilmu ini, yaitu ontologi atau hakikat hidup, kita mempelajari kenyataan konkret secara ikhlas, epistemologi atau dasar-dasar serta batasan-batasan ilmu pengetahuan, setelahnya kita mempelajari aksiologi, kita memahami teori tentang nilai, untuk apa pengetahuan yang telah kita dapatkan itu kita gunakan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  81. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggaris bawahi pernyataan Bapak bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Jadi, filsafat masing-masing orang terkadang berbeda sesuai yang dipelajari dan diyakini masing-masing orang. Begitu juga dengan konsep benar dan salah yang Bapak sampaikan. Saya sepakat bahwa ketika ujian kita mendapat nilai 0 bukan berarti bodoh tetapi karena kurang membaca dan belajar. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk terus belajar dan tidak merasa pintar karena di atas langit masih ada langit. Begitu pula dengan siswa, ketika mereka belum bisa mengerjakan soal ujian, maka sebagai guru sebaiknya tidak menghakimi bahwa siswa tersebut bodoh.

    ReplyDelete
  82. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    Membaca refleksi perkuliahan di atas, beberapa kali disebutkan bahwa "filsafat ialah dirimu sendiri". dari pernyataan tersebut, timbuh suatu pertanyaan besar, lantas bagaimana tolok ukur dalam berfilsafat itu? apakah bisa seluas-luasnya, atau berbatas spiritual dan sebagainya?
    Namun sedikit pencerahan dari konsep fallibilisme yang pernah dijabarkan Bapak sebelumnya, yang pada intinya salah juga merupakan suatu kebenaran, bergantung pada semesta dan kondisinya juga.
    semakin kita belajar semakin kita menyadari bahwa "what we know is nothing", semoga dengan mempelajari filsafat ini semakin memompa semangat untuk terus belajar tanpa menanggalkan identitas kita dan tetap "down to earth"
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  83. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan para mahasiswa pada perkuliahan Filsafat Ilmu prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B, saya tertarik dengan pertanyaan yang menanyakan apakah sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana. Jawabannya adalah filsafat adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat.
    Dan lagi, saya dibuat merenung atas jawaban ini. Karena, selama ini saya berpikir bahwa filsafat itu bahasan yang sangat kompleks dan luas. Namun nyatanya, filsafat adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita memikirkannya, bagaimana kita menerangkannya, itulah filsafat. Hingga sampai dimana kita tidak lagi mampu untuk memikirkannya, maka gunakanlah spiritual.
    Terima kasih Pak, semoga dengan membaca dan mempelajari setiap postingan Bapak, kami para mahasiswa semakin memahami filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  84. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Berfilsafat adalah menyadari kalau kita tidak tahu. Karena menyadari maka kita akan mencari tahu dan terus mencari tahu, membaca dan terus membca fenomena yang ada di sekitar diri kita. Filsafat adalah diri kita. Maka pemikiran orang yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda, maka ada banyak aliran ilmu yang berbeda juga di dunia ini.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  85. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sepakat dengan pernyataan Bapak Marsigit mengenai konsep benar dan salah. Bahwa benar itu sesuai ruang dan waktu atau tidak. Kebenaran yang mutlak adalah kebenaran dari ranah spiritual (absolut). Kebenaran ini berlaku kapanpun, dimanapun, menembus ruang dan waktu. Kebenaran ini berkaitan dengan ketetapan Tuhan yang merupakan hubungan antara diri pribadi dengan Tuhan (habluminallah) serta tuntutan hubungan manusia dengan manusia sebagai sesama makhluk Tuhan (habluminannas).

    ReplyDelete
  86. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend. Matematika B

    Saya setuju bahwa berfilsafat itu adalah diri kita sendiri. Tidak perlu kuatir dengan nilai 0 untuk setiap tes filsafat asal kita telah menuangkan pemikiran kita, yang tentunya juga telah terisi, dengan cara memperbanyak bacaan.

    ReplyDelete
  87. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Membaca berbagai ulasan di atas saya memandang bahwa filsafat itu adalah bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu penyataan atau jawaban dengan disertai alasan yang datang dari dalam diri kita sendiri karena filsafat itu adalah sudut pandang kita dalam mengungkapkan dan menyikapi suatu masalah kehidupan, dan yang terpenting adalah kita harus selalu bersyukur terhadap anugrah yang tuhan berikan kepada kita dengan selalu belajar tanpa adanya rasa puas.

    ReplyDelete
  88. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PM C (S2)

    Nilai nol bukan berarti salah. Nilai nol dimaksudkan masih rendahnya pengetahuan yang dimiliki.Karena pengetahuan itu tak terbatas. Dengan belajar pada saat duduk di bangku perkuliahan itu rasanya masih belum cukup. Masih banyak yang perlu dipelajari. Tetapi tetap mempertahankan sikap rendah hati. Seperti ungkapan jika padi semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk.

    ReplyDelete
  89. Nama : Latifah Pertamawati
    NIM : 17709251026
    Kelas : PM B (S2)

    Bismillaah.
    Saya setuju dengan jawaban bapak yang mengemukakan bahwa tetapkan dulu agamamu sebelum berfilsafat. Berfilsafat adalah aktivitas yang membutuhkan pikiran yang bebas. Ibarat melakukan perjalanan, diperlukan pegangan supaya kita tidak jatuh dan sempoyongan saat berusaha menelusuri jejak-jejak pikiran kita dalam berfilsafat. Tentu saja sebelum kita memulai perjalanan, kita harus memilih tongkat yang kuat dan tidak mudah rusak oleh benturan dan hantaman saat kita melaksanakan perjalanan tersebut.

    Semoga kita termasuk golongan orang yang beruntung mendapatkan manfaat berfilsafat untuk memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan tempat kita berada saat ini.

    ReplyDelete
  90. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat, saya setuju dengan pernyataan bahwa kokoh kan dulu fondasi iman sebelum lepas landas pergi kemana entah mau perginya. Karena ketika iman sudah tertanam kuat dalam diri seseorang, badai cobaan apapun yang datang ke orang beriman tersebut akan diterimanya dengan sabar dan selalu dilihat sisi positif dari setiap kejadian. Yang mana kejadian tersebut dapat menjadikan dirinya menjadi semakin dekat kepada tuhannya.

    ReplyDelete
  91. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat. Dikatakan bahwa diatas “tetapkanlah dulu keyakinanmu”. Bagaimana pendapat bapak dengan beragamanya Mohammad Ali ? sebelum meneguhkan keyakinanya dalam islam, beliau belum yakin akan islam itu sendiri. Namun beliau telah “menerbangkan layang-layang pikirannya” ke islam sehingga membuatnya meneguhkan hatinya untuk memeluk islam sebagai agamanya hingga akhir hayatnya?

    ReplyDelete
  92. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017


    Berdasarkan artikel refleksi yang ditulis dari perkuliahan ini membuka pandangan saya bahwa filsafat sebagai sebuah ilmu yang mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang kompleks. Sebuah ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari.

    ReplyDelete
  93. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Setelah membaca beberapa artikel dalam blog ini, saya jadi mengerti bahwa filsafat masing-masing orang berbeda. Sesuatu yang menurut seseorang salah, belum tentu salah juga dalam pandangan orang lain. Pendapat seseorang itu bersifat relatif, bisa benar bisa juga salah tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya.

    ReplyDelete
  94. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dikatakan diatas bahwa melalui pertanyaan jawaban singkat dapat mengatahui pikiran dan mengadakan dari yang mungkin ada bagi diri sendiri. Menurut saya pernyataan tersebut sangat logis karena melalui pertanyaan apapun dan dengan mengetahui respon orang yang ditanyai dapat diketahui bagaimana cara pikir orng yang ditanyai tersebut serta dapat menjadikan sarana untuk feedback ke diri sendiri sejauh mana pengetahuan diri untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan.

    ReplyDelete
  95. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Saya tertarik dengan pernyataan bapak. Filsafat ya komplek ya sederhana. Filsafat adalah penjelasanku. Dari pernyataan itu, saya mengambil inti bahwa dalam berfilsafat kita perlu melihat diri kita sendiri. Perlu untuk bercermin sejauh mana ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Dalam hal ini, maka masih perlu untuk sering membaca untuk mempertajam ilmu tentang filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  96. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Satu hal yang membuat filsafat ilmu dari Bapak berbeda dengan buku-buku filsafat lain yang pernah saya baca yaitu berfilsafat menggunakan spiritual. "Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst."
    Pernyataan diatas membuat saya memiliki niat belajar filsafat. Karena dari beberapa buku filsafat yang pernah saya baca isinya hanya dikaitkan dengan logika dan kerasionalan manusia, bukankah rasional manusia itu sifatnya terbatas karena ada hal yang tak bisa dilampaui dengan akal. Lalu, bagaimana seorang ahli filsafat atau filsuf yang tidak mempercayai agama atau tidak memiliki keyakinan beragama, apakah ia boleh dikatakan ahli filsafat atau apakah akhirnya ia akan jatuh ke negeri kufar?

    ReplyDelete
  97. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B

    beragama dan berfilsafat adalah wujud keseriusan manusia di dunia dan setelahnya. Dalam berfilsafat selain argumentasi ilmiah kita perlu memiliki kesadaran mengenai diri terdalam manusia, kebenaran dan kebebasan. Misal, dalam pandangan filsafat lebih dimotivasi oleh kenyataan bahwa hidup adalah keterikatan yang menyebabkan penderitaan; dan penderitaan itu harus dilenyapkan; tujuannya adalah untuk mencapai kebebasan, realisasi diri yang terdalam, dan kesempurnaan. Sebagaimana halnya filsafat, pusat pemikiran filosofis agama, juga diawali dengan mendalami hakikat alam semesta, prinsip segala sesuatu, hakikat hidup dan kehidupan, atman dan brahman, hakikat manusia sebagai prinsip hidup, dengan tujuan individu dapat bebas dilandasi dengan kesadarannya. Apalah artinya kebebasan politis tanpa adanya kebebasan personal?

    ReplyDelete
  98. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pada kitab suci disebutkan betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst. Benar sekali bahwa orang yang tidak cerdas bisa menyesatkan seperti setan, karena kurangnya ilmu, maka yang disampaikan bisa tidak sesuai dengan kenyataan ataupun yang seharusnya. Sedangkan orang yang cerdas dan berilmu maka bisa menjadi panutan dalam bertindak dan berperilaku.

    ReplyDelete
  99. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    “Filsafat ialah dirimu sendiri”
    Fisafat adalah penjelasanku. Filsafat masing-masing orang adalah berbeda, tergantung dari apa yang dia yakini. Sesuatu yang menurut orang benar, belum tentu benar menurut yang lain. Dalam berfilsafat perlu landasan keyakinan dan agama.
    Sehingga dapat sedikit disimpulkan bahwa semakin seseorang berilmu, semakin banyak godaan/rintangan, semakin dibutuhkan landasan spiritual yang kokoh agar tidak terjerumus, disini sangat diperlukan keikhlasan.

    ReplyDelete
  100. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof Marsigit atas postingan di atas. Kali ini kita berbicara mengenai filfasat dalam memandang struktur kehidupan. Pemahaman filsafat bagi sebagian orang mungkin tidak semudah para filsuf-filsuf terdahulu atau bahkan para dosen dan pengajar mata kuliah filsafat. Karena sejati nya filsafat adalah dirimu sendiri. Ketika seseorang tidak paham dan dia menyadari mengapa dia tidak paham, itulah filsafat. Kehidupan itu kompleks, korelasi dari berbagai unsur yang terdapat didalamnya, termasuk filfasat diri. Sedangkan filsafat itu bisa kompleks dan bisa sederhana. Filsafat itu bisa sempit bisa luas, bisa konkret bisa juga abstrak. Dalam memandang struktur kehidupan, filsafat diri seseorang amatlah penting untuk dimilikinya. Dewasa ini, di dalam kehidupan yang mulai penuh gejolak dan kekompleksan permasalahan, filsafat hadir dan penting untuk dipahami sebagai alat penguat diri dan pengarah hidup. Bukan pedoman hidup, namun sebagai senjata yang secara sadar maupun tidak, seseorang dalam menjalani kehidupannya akan bergerak sesuai filsafat diri yang ia miliki. Filsafat setiap orang pastilah berbeda beda, tergantung pengetahuan, pengalaman dan cerita hidup masing-masing yang ia rasakan sejak kecil. Pentingnya filsafat tidak akan dirasakan oleh anak-anak namun akan disadari ketika ia sudah beranjak dewasa. Filsafat sangat berperan penting dalam kehidupan manusia. Filsafat diciptakan oleh manusia, untuk kepentingan memahami kedudukan manusia, pengembangan manusia, dan peningkatan hidup manusia. Sehingga luas sekali makna dam hikmah nya, bagaimana filsafat memandang struktur kehidupan di dunia ini.
    Wassalamu’alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  101. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb,,,Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari refleksi materi tentang” filsafat dalam memandang berbagai struktur kehidupan”.Berbagai macam lontaran pertanyaan dari teman-teman mahasiswa diikuti oleh jawaban dari bapak, dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami.Seperti yang dituturkan,fondasi utama filsafat adalah agama atau keyakinan agar kita tak lepas landas akibat dari tak mampu membendung pikiran.Untuk meminimalisir hal tersebut dibutuhkan agama, sejalan dengan ungkapan yang sering kita dengar “ilmu tanpa agama akan sesat, agama tanpa ilmu akan pincang.Berfilsafat adalah berangkat dari yang tidak diketahui menjadi ingin tahu.Dalam diri manusia mempunyai dua sisi, sebagaimana yang telah dikemukakan yaitu sisi takwa dan sisi nafsu.Ketika manusia cenderung ingin melakukan keburukan itu disebut sisi takwa dan ketika manusia cenderung pada keburukan itu di sebut sisi nafsu.

    ReplyDelete
  102. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum wr.wb.

    Terima kasih bapak atas pembelajaran yang diberikan melalui postingan ini. Filsafat itu olah pikir dan terjadi dalam diri kita masing-masing. Filsafat itu terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, misalnya agama, spiritual, pendidikan, psikologi dan lain-lain. Karena itu filsafat setiap orang terhadap kehidupan berbeda-beda dan untuk mampu berfilsafat kita harus dengan rendah hati menyadari bahwa masih ada yang belum diketahui dan dengan tanpa putus asa rajin membaca dan terus membaca sehingga tidak akan terpengaruh atau ikut-ikutan perkataan orang lain tanpa memikirkannya atau memahaminya lebih lanjut. Sekian dan terima kasih, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Malam, dan
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  103. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Belajar filsafat adalah belajar tentang yang ada dan yang mungkin ada sehingga kajiannya sangatlah luas. Belajar filsafat berarti proses berpikir. Dalam kehidupan ini dapat dilihat dari sudut pandang filsafat. Namun dalam belajar filsafat harus dengan landasan spiritual yang kokoh. Tujuan dari belajar filsafat adalah agar diri menyadari akan keterbatasannya sebagai makhluk Allah dan juga merasa bahwa diri ini harus terus menerus belajar. Selain itu menjadikan manusia merasa rendah hati.

    ReplyDelete
  104. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Kisah pengalaman spiritual selama 10 hari yang tertulis sungguh menarik. Mengingatkan untuk kita agar selalu berdoa dalam setiap melakukan aktivitas sehari-hari serta menjaga keimanan agar selalu meningkatkan aspek spiritual kita yang terkadang naik terkadang turun.

    ReplyDelete
  105. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Filsafat memandang tentang kebenaran dan kesalahan merupakan sebuah falibilisme dimana keduanya memiliki unsur kebenaran. Kebenaran bersifat benar begitu juga dengan kesalahan bersifat benar, keduanya berinteraksi dalam hidup ini yang saling terkait. Oleh karena itu diperlukan saling ketergangan dari kedunya dalam hidup ini. Kesalahan tidak dapat dipungkiri adanya namun disisi lain dengan adanya kesalahan kita menjadi tahu makna dari sebuah kebenaran, kita menjadi tahu hakekat dari sebuah kebenaran. Karena berfilsafat itu menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuan, menyadari kapan saya mulai mengetahui, dan menyadari batas antara tahu dan tidak tahu.

    ReplyDelete
  106. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Mempelajari filsafat mempunyai esensi yang sangat besar dalam kehidupan kita. Belajar filsafat mengajarkan kita kesadaran akan diri, bahwa kita belum tau, mengetahui kita belum tau serta kapan kita mulai tau. Sehingga dengan demikian kita sadar bahwa kita sangat kecil dari ilmu pengetahuan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  107. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Ketika Bapak mengajar dikelas sering mengatakan bahwa sebenar-benarnya orang berfilsafat adalah berfikir. Jadi ketika kita sudah tidak berfikir maka kita sudah tidak berfilsafat. Sebab sebenarnya apapun yang kita katakan itu benar tergantung bagaimana argumen kita untuk memperkuatnya. Belajar filsafat dengan Bapak merupakan belajar untuk rendah hati dan tidaka sombong. Bapak memberikan nilai nol bukan berarti kita bodoh. Nilai di dalam filsafat bukan sebagai kuantitatif, namun untuk menyadarkan diri kita untuk mau belajar dan selalu ikhlas serta pasrah diri kepada Tuhan. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  108. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Selain definisi yang telah Bapak sampaikan diatas, istilah radikal dalam pengertian lebih luas mengacu pada hal-hal mendasar, dan esensial. Berdasarkan konotasinya yang luas, kata itu mendapatkan pengertian teknis dalam berbagai hal, seperti politik, ilmu sosial, bahkan dalam ilmu kimia dikenal istilah radikal bebas. Istilah radikal sebenarnya netral, bisa bermakna positif dan negatif. Namun sangat disayangkan, makna istilah radikal yang tersebar di masyarakat luas justru lebih mengarah ke makna negatif dan tindakan yang ekstrimis.Sedangkan istilah radikalisme di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, cet. th. 1995, Balai Pustaka mendefinisikan sebagai faham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Berdasarkan definisi tersebut jika ada sekelompok orang yang menginginkan perubahan pada UUD 45 dan menolak ideologi pancasila maka kelompok tersebut dapat dikatakan sebagai kelompok radikalisme. Karena UUD 45 dan pancasila merupakan akar atau bonggol berdiri/tegaknya bangsa dan negara ini. jadi memang betul jika faham radikalisme ini memang menakutkan karena dapat merusak dasar/pondasi dalam bernegara.

    ReplyDelete
  109. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Filsafat adalah dirimu sendiri, maka filsafat itu sendiri sebenarnya adalah penjelasan diri tentang proses seusatu yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat dapat digunakan untuk memandang apapun, termasuk dalam mendalami spiritual masing-masing, namun tentunya sebelumnya kita harus memiliki suatu pegangan agama terlebih dahulu karena berfilsafat tentang ilmu ketuhanan itu seperti bermain layang-layang yang akan terus terbang namun akan terbang tak terkendali jika tidak ada pegangan. Berfilsafat sendiri merupakan ilmu pikir, sehingga seharusnya ketika dalam menjawab soal tes jawab singkat pun seharusnya kita mampu memikirkan anti tesisnya, kenapa kita menganggap hal itu benar, jangan-jangna kita hanya termakan sebuah mitos saja. Oleh karena itu belajar filsafat sebenarnya belajar mengolah pikir dan membiasakan berpikir kritis, sehingga dalam mendalami ilmu papun kita mampu mencari anti tesisnya dan tidak memakan mentah-mentah dan termakan mitosnya saja.

    ReplyDelete
  110. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Filsafat adalah dirimu sendiri. Sedangkan metode berfilsafat adalah metode hidup yakni saling menerjemahkan dan diterjemahkan. Oleh sebab itu, sebaik - baik belajar filsafat adalah dengan berusaha menerjemahkan apa yang ada dan mungkin ada, baik dalam diri kita maupun apapun yang terdapat disekitar kita. Selain itu kitapun harus bersedia diterjemahkan oleh yang lain. Sementara itu untuk dapat saling menerjemahkan dan diterjemahkan sehingga pada akhirnya dapat berfilsafat dengan baik, kita harus banyak belajar dari para filsuf dengan membaca, membaca, dan membaca, berpikir kritis, berikhtiar pantang menyerah.

    ReplyDelete
  111. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pps UNY P.Mat B 2017

    Awalnya saya kaget saat mengikuti tes jawab singkat yang diberikan oleh pak marsigit. pertanyaan yang diberikan itu terasa aneh di benak saya, contohnya : "dimana ruangnya?, kapan waktunya?, jam berapa?", saya tau karena ini pelajaran filsafat tentu saja jawaban yang benar adalah jawaban secara filsafat (bukan jawaban umum). Pada tes pertama saya mendapat nilai 0, begitupun dengan tes yang kedua. awalnya saya mau protes kenapa jawaban saya selalu salah, bukankah bapak pernah mengatakan bahwa semua jawaban itu adalah benar asalkan ada penjelasannya?. baiklah, setelah saya mengikuti tes jawab singkat yang kedua, saya baru paham bahwa tujuan tes tersebut bukanlah untuk mendapat skor yang besar tapi pemahaman tentang filsafat. benar ataupun salah keduanya memiliki arti benar. sampai pada saatnya saya berpikir skor dalam tes jawab singkat itu tidaklah penting, yang terpenting adalah seberapa besar pemahaman saya tentang pemikiran yang bapak tuangkan di blog ini. sebenar-benarnya filsafat adalah diri sendiri, salah satunya bagaimana saya berpikir tentang belajar filsafat.

    ReplyDelete
  112. Dari refleksi ini saya bisa menyimpulkan bahwa
    1. Filsafat adalah diriku sendiri. Metode filsafat adalah metode hidup diri kita sendiri.
    2. Berfilsafat artinya menyadari batas antara tahu dan ketidaktahuan.
    3. Setiap diri memiliki potensi positif dan negative.
    4. Agama adalah dasar sebelum berfilsafat.
    5. Manusia harus bertindak sesuai dengan ruang dan waktu.
    6. Filsafat bisa kompleks atau sederhana sesuai dengan penjelasannya sendiri.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  113. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Filsafat itu dirimu sendiri dan belajar filsafat itu dari nol, sehingga kita tetap rendah hati dalam belajar filsafat. kalimat ini lah yang Pak Marsigit katakan sewaktu dalam perkuliahan. Sewaktu mengisi jawaban tes singkat yg diberikan pak marsigit saya mendapatkan nilai nol. Dan dari nilai nol ini saya menjadi berfikir bahwa saya memang harus lebih banyak lagi membaca agar saya lebih paham mengenai filsafat. Meskipun nantinya setlah kita banyak membaca tetapi ketika jawab tes singkat masih mendaptkan nilai nol itu lah yang dimaksud dengn filsafat itu adalah dirimu sendiri dan dengan mendapatkan nilai nol lagi itu berarti kita harus tetap baca, baca dan baca lagi.

    ReplyDelete
  114. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Filsafat merupakan pikiran seseorang yang dapat menjelasakan sesuatu dengan logika dan dapat diterima oleh orang lain. Oleh karena itu, belajar filsafat bukan untuk menentukan pendapat A lebih benar atau pendapat si B lebih benar. Sehingga tidak ada pendapat yang salah dalam berfilsafat asalkan pendapat tersebut dapat dijelaskan secara logika dan dapat diterima dalam ruang dan waktu yang sesuai. Filsafat yang sering disampaikan oleh pak marsigit yaitu tentang dirinya sendiri, tentang apa yang dia pikirkan. Bukan berarti untuk menyombongkan diri, karena sebenar-benarnya pikiran adalah pikiran yang absolute yaitu dari yang Maha Esa.

    ReplyDelete
  115. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Dalam belajar filsafat tentu kita harus memahami bahwa setiap apa yang ada di bumi itu bersifat relatif tergantung siapa yang memandangnya, kapan, dan dimana, termasuk perihal benar dan salah. Dengan kata lain kebenaran itu berdasarkan ruang dan waktu. Sesuatu yang menurut kita benar, belum tentu benar menurut orang lain, atau benar untuk saat ini belum tentu benar untuk besok hari. Untuk dapat memahami tentang kebenaran ini, maka seseorang harus dapat menembus ruang dan waktu, menempatkan dirinya di posisi kapan dan dimana seharusnya ia berada. Sebagaimana yang sering Prof. Marsigit utarakan bahwa sepandai - pandainya orang adalah yang mampu sopan dan santun terhadap ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  116. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Semakin saya belajar tentang filsafat, semakin saya sadar betapa sombongnya saya selama ini. Setelah saya membaca dan mencoba memahami filsafat, saya merasa saya sudah memiliki cukup pengetahuan untuk duduk dalam kelas. Tetapi yang tidak saya sadari adalah tidak ada kata cukup dalam belajar. Sebanyak apapun membaca, kita tak akan mencapai ujung dari pengetahuan itu sendiri. Nilai nol yang saya dapatkan setiap kali kuis adalah pengingat saya bahwa saya bukanlah apa-apa. Saya masih perlu banyak belajar, membaca, dan menambah pengalaman saya dalam berbagai hal. Mendapatkan nilai nol bukanlah alasan saya untuk menyerah dan berhenti membaca. Nilai nol adalah awal dari kesadaran diri saya bahwa saya bukanlah apa-apa sehingga saya mempunyai semangat untuk terus belajar tanpa henti.

    ReplyDelete
  117. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017
    Assalamu'alaikum wr wb.
    Dari tes jawab singkat itu, ada pertanyaan pertama yang membuat saya tertarik, karena itu terjadi pada saya. Ternyata metode dari filsafat itu adalah metode hidup, yaitu terjemah dan menterjemahkan. Kalimat bapak yang mengatakan bahwa ,”Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praktisnya”, sehingga filsafat itu adalah olah pikir yang dipakai untuk menjelaskan sebuah fenomena.
    Ada Pertanyaan yang diberikan itu adalah “Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”, jawaban yang diberikan bapak adalah “tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu dan tetapkanlah dulu hatimu”, lalu yang membuat saya berpikir bagaimana ahli filsuf yang terdahulu yang belum mempunyai agama.
    Filsafat itu adalah pikiran manusia, yang mana benar dan salah itu hanya menurut waktu dan tempat, karena musuhnya filsafat adalah tidak sesuai dengan fruang dan waktu, karena kebeneran yang hakiki adalah milik Tuhan semata. Maka manusia itu adalah makhluk hidup, hidup itu adalah berpikir, sehingga manusia yang berfilsafat adalah manusia yang berpikir.

    ReplyDelete
  118. Aristiawan
    17701251025
    PEP 2017 B

    Ada sebuah istilah yang mengatakan bahwa bertanya adalah separuh dari jawaban. Di lain waktu Sudjiwo tejo pernah mengatakan bahwa pertanyaan yang baik adalah yang mengandung 90-99% jawaban. Sehingga pentinglah aktivitas kita yaitu bertanya. Dengan bertanya, berarti kita sebelumnya telah melalui proses berfikir. Maka teruslah bertanya, bertanya dan bertanya. Karena dengan bertanya ini merupakan awal dari sebuah pemahaman.

    ReplyDelete
  119. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Ilmu yang dimiliki seseorang akan dilihat kedalaman pengetahuannya apabila seseorang tersebut dapat menjawab pertanyaan. Pertanyaan menjadi indikator yang tepat dalam mengetahui tingkat pengetahuan dari seseornag. Apabila seseorang dapat menjawab pertanyaan dengan benar sebenarnya dia tidak boleh berbangga diri karena bisa saja pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang sederhana, maksudnya apabila dia diberikan dengan pertanyaan lain yang lebih kompleks maka bisa saja dia tidak bisa menjawabnya. Sedangkan apabila seseorang belum bisa menjawab pertanyaan hal ini dapat dijadikan motivasi bagi dirinya untuk lebih banyak lagi dalam belajar.

    ReplyDelete
  120. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Spiritual itu tentang bagaimana hati kita meyakini. Maka sebelum berfilsafat kita harus menetapkan dulu keyakinan kita, meyakinkan dulu hati kita. Dan dalam belajar filsafat kita harusnya menyadari ketidaktahuan kita, menyadari kapan kita mulai mengetahui, dan menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Filsafat itu dibawah spiritual, maka kita harus berhati-hati dan mengetahui batas antara filsafat dan spiritual. Filsafat itu tentang olah pikir. Spiritual itu tentang hati. Maka jangan sampai yang ada dalam pikiran mengalahkan apa yang ada di dalam hati.

    ReplyDelete
  121. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam perkuliahan saya pernah mendengar, sebenar-benarnya filsafat adalah olahpikir, jadi ketika kita belajar fisafat walaupun dengan orang yang sama, apa yang kita pelajari belum tentu sama. Karena dengan berfilsafat kita akan selalu berpikir, mempelajari dengan cara memikirkan tentang suatu hal, dan dalam setiap manusia akan mempunyai pemikiran yang berbeda. jadi proses belajar filsafat tidak akan pernah benhenti selama kita masih selalu mengunakan pemikiran kita.

    ReplyDelete
  122. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Filsafat sangat relatif dalam memandang kebenaran dan kesalahan, tidk serta merta mengatakan yang ini benar dan yang itu salah. Filsafat memandang ini benar dalam hal begini begini, itu benar dalam hal begini-begini, semua memiliki ruang dan waktunya masing-masing. Hidup itu berdimensi ruang dan waktu, begitupun dengan kebenaran. Maka, sebenar-benarnya kebenaran filafat itu ya pikiranmu sendiri. Maka supaya pikiranmu tidak tersesat baca, baca, dan bacalah pikiran-pikiran para filsuf melalui bacaan-bacaan filsafat. Landasilah dan payungilah belajar filsafatmu itu dengan agama, dengan Tuhan. Tetapkan dulu keyakinanmu. Agar jalanmu senantiasa dalam arah yang benar.

    ReplyDelete
  123. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dalam berfilsafat kita adalah dewanya. Dalam artian filsafat adalah dirimu sendiri, bagaimana membahasakannya dengan bahasa sendiri, merefleksikan dalam kehidupannya sendiri. berfilsafat juga berarti mampu menempatan diri sesuai dengan ruang dan waktunya. Berfilsafat juga meliputi menembus ruang dan waktu. Kemudian dalam berfilsafat ada pula yang namanya strukturnya mulai dari fenomenanya, psikologinya dan spiritualnya pun ada. Dalam berfilsafat sebelum membahas mengenai keberagaman tetapkan dahulu diri kita itu siapa, tetapkan iman terlebih dahulu. Filsafat meliputi yang ada dan yang mungkin ada sehingga jika ditanyakan apakan kompleks ataukah sederhana maka jawabanyya tentu keduanya, karena meliputi yang ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  124. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Filsafat merupakan salah satu bidang yang mempunyai kajian keilmuan yang sangat luas. Filsafat akan sulit dipaham jika tidak benar-benar terjun ke dalam dunia ilmu filsafat itu sendiri. Di dalam filsafat kita tidak akan menemukan jawaban yang bersifat True or False. Semua jawaban bersifat benar karena filsafat adalah diri kita sendiri. Namun, untuk menunjang pemahaman kita tentang ilmu filsafat yaitu dengan memperbanyak membaca buku filsafat ataupun elegy-elegy yang ada di blog bapak Prof. Marsigit. Mudah-mudahan kita akan memperoleh banyak pandangan hidup.

    ReplyDelete
  125. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Setelah membaca artikel yang berjudul Filsafat dalam memandang berbagai struktur kehidupan, saya tertarik untuk mnanggapai pertanyaan dari Saudari Rizqy Umami yang intinya, bagaimana memahami filsafat karena selama ini dia berusaha membaca dan memahami isi postingan dari blog ini, namun ketika dia menjawab tes jawab cepat yang Prof Marsigit berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban yang benar.
    Saya Pernah bertanya kepada Prof Marsigit tetntang jawaban dari tes jawab cepat dipertemuan sebelumnya, saat itu saya bertanya kenapa metafisik dari metafisik adalah metafisik, padahal metafisik adalah kebalikan atau lawan, sehingga secara logika lawan dari lawan adalah teman. Tetapi Beliau menjawab itu kan kemari karena saya belum sarapan karena sekarang saya sudah sarapan maka metafisik dari metafisik adalah ruang dan waktu. Dari ringkasan tersebut dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah sesuatu yang fleksibel yang membicarakan sesuatu objek yang ada dan mungkin ada dan menembus ruang dan waktu

    ReplyDelete
  126. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Filsafat adalah diri kita sendiri, metode filsafat yaitu terjemah dan terjemahkan. Berfilsafat itu adalah membaca pikiran para filsuf , membaca semua hal yang berkaitan dengan yang ada dan yang mungkin ada. Dengan membaca maka kita akan menjadi pengada, pengada yang mengadakan yang mungkin ada menjadi yang ada. Dengan kita membaca akan banyak pula pertanyaan yang muncul dalam pikiran kita, dengan demikian kita berarti telah berpikir kritis dan mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  127. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Seperti yang bapak bilang
    Bahwa filsafat itu ya filsafatmu sendiri
    Jadi baca baca baca dan baca
    Semakin membaca saya semakin bingung dan merasa semakin banyak banget ga tau nya
    Mungkin itu yang dinamakan proses menggapai kah pak?
    Tapi lebih baik bacanya postingan bapak dibanding kan membaca dan menerjemahkan buku dari Immanuel Kant
    Karena banyak banget hal yang belum saya pahami di filsafat ilmu ini, lagi-lagi baca, baca dan baca

    ReplyDelete
  128. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya orang cerdas adalah mereka yang mampu menembus ruang dan waktu. Kita haruslah sadar akan ruang dan waktu, maka kita harus pandai-pandai menterjemahkan dan ikhlas untuk diterjemahkan. Sebenar-benarnya bijak adalah kesadaran akan ruang dan waktu. Semua subjek, objek, dan predikat yang terkait oleh ruang dan waktu maka hukum-hukumnya/aturan yang melekat juga terikat ruang dan waktu. Jika ingin berhasil maka santunlah terhadap ruang dan waktu

    ReplyDelete
  129. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Setelah membaca pertannyaan-pertanyaan beserta jawaban yang ada di artikel di atas. Saya tertarik dengan pertanyaan dari Tyas Kartiko yaitu apakah filsafat itu kompleks atau sederhana. Saya akan mencoba merefleksikan pikiran saya terkait dengan pertanyaan tersebut. Seperti yang dikatan oleh pak Marsigit dalam artikel tersebut bahwa filsafat itu bisa kompleks yan bisa sederhana. Karena sesungguhnya filsafat itu adalah alasan kita menjawabnya. Penjelasan mengapa kita bisa menyebutnya lomplek, atau mengapa kita bisa menyebutnya sederhana iala filsafat itu sendiri. Jadi jawaban manapun benar asal ada alasannya.
    Kalau menurut saya, filsafat itu kompleks. Tidak semua orang mampu memikirkan apa yang ia pikirkan, atau mampu memberi alasan atas pilihan yang ia ambil. Artinya, tida semua orang mampu berfilsafat. Saya pun pada awalnya bingung mengartikan apa itu filsafat. Mencari referensi kesana-kemari tetapi hanya berputar-putar tida jelas. Sampai saya sadari bahwa ternyata setiap pikiran yang saya refleksikan itulah filsafat saya. Bahkan ketika saya sedang mengetik kalimat ini dan berubah pikiran bahwa sebenarnya filsafat itu sederhana, itu juga benar. Hal tersebut juga merupakan filsafat.

    ReplyDelete
  130. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Belajar filsafat akan membuat kita semakin paham jika hati kita mampu memahaminya. Akan menjadi kebalikannya jika kita hanya mengumbar pikiran kita, mengikuti alur pikiran kita. Karena tanpa modal hati yang bersih dan spiritual yang kuat akan mengarahkan kita pada kebenaran. Dalam struktur kehidupan jika dipandang dari segi filsafat dapat dilihat dari berbagai aspek. Benar dan salah jika dipandang dari segi filsafat dibagi menjadi dua kebenaran logoka dan kebenaran spiritual. Perbedaan dari kedua kebenaran tersebut adalah untuk kebenaran logika bersifat konsinten yang artinya logika tidak akan berubah-ubah sedang kan kebenaran spiritual berrsifat absolut yang artinya keberana bersifat mutlak dan tidak perlu dibuktikan kebenarannya

    ReplyDelete
  131. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PPs Pendidikan Matematika C

    Hampir setiap manusia dapat dikatakan sebagai seorang filsuf, artinya bahwa setiap orang itu mempunyai filsafatnya sendiri-sendiri. Setiap diri yang berkesadaran tentu mempunyai pandangan khas terhadap alam semesta. Lewat berpikir dan berefleksi, kita memandang dan memahami diri kita yang berkaitan antara filsafat sebagai pandangan hidup.

    ReplyDelete
  132. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Filsafat memiliki sudut pandang sendiri dalam memandang kehidupan, tergantung siapa yang berfilsafat. Tidak semua orang mampu berfilsafat, namun semua orang bisa belajar berfilsafat. Seperti yang sering dikatakan oleh Bapak bahwa filsafat adalah dirimu, dan bagaimana kamu menjelaskan hal tersebut. Dengan demikin membaca, membaca dan membaca adalah salah satu cara menambah wawasan guna menambah penjelasan tersebut. Filsafat adalah dapat menjelaskan sesuatu yang sulit dengan cara yang mudah, sehingga akan mudah pula untuk dipahami.

    ReplyDelete
  133. Metia Novianti
    17709251021
    P.Mat A S2 2017

    Dalam berfilsafat, tiap orang melakukan olah pikir dengan caranya masing-masing. Dalam pertanyaan kelima tentang "bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?", saya setuju dengan jawaban bapak. Spiritual itu memang kembali lagi pada diri kita masing-masing, spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Saya merasa filsafat yang disampaikan oleh bapak selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan selalu menempatkan spiritual di tempat yang paling tinggi. Ini jelas sangat berbeda dari filsafat yang saya ketahui selama ini dan membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar.

    ReplyDelete
  134. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Bertanya dan adanya pertanyaan merupakan salah satu indicator seseorang berfikir dan mengada. Refleksi pertemuan filsafat yang dituliskan saudari vivi nurvitasari sangat bagus karena bahasanya teratur dan apik sehingga mudah untuk dibaca dan dipelajari. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga memberikan kami banyak informasi dan ilmu untuk dipelajari. Menanggapi pertanyaan saudara suhariyono tentang keberagaman agama dalam filsafat berdasarakan jawaban Prof yang terefleksi diatas bahwa keberagaman agaman dalam filsafat merupakan perkara masing-masing individual. Agaman merupakan spiritual yang dijadikan landasan seseorang dalam berfilsafat agar pikiran dan hati memiliki benteng dan tidak berjalan sembarangan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  135. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca jawaban Bapak untuk pertanyaan dari saudara Bayuk Nusantara membuat saya menyadari bahwa ada berbagai macam jenis kebenaran. Benar yang paling benar dan bersifat mutlak atau absolut adalah kebenaran spiritual atau kebenaran yang berasal dari Tuhan. Tapi terkadang dalam menerjemahkan kebenaran spiritual saja, masih banyak orang yang berdebat tentang nilai benar dan salahnya.

    ReplyDelete
  136. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Filsafat merupakan olah pikir, filsafat merupakan Bahasa. Maka karena filsafat merupakan olah pikir, setiap orang pastilah memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam melihat suatu fenomena. Maka sangatlah wajar jika setiap filsuf memiliki pemikirannya sendiri-sendiri. Sangatlah wajar jika pendapat seorang filsuf berbeda dengan filsuf lainnya. Filsafat merupakan Bahasa. Bahasa yang manusia gunakan untuk menyampaikan pemikirannya juga pastilah berbeda-beda. Dan dengannya semakin berbeda-beda lagi dalam pemahaman setiap orang.

    ReplyDelete

  137. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs P.Mat C

    filsafat merupakan diri kita sendiri, sehingga dalam menjawa pertanyaan menurut filsafat sebenarnya tidak ada yang salah, karena jawaban tersebut merupakan pikiran kita sendiri dalam menerjemahkannya dengan bahasa kita. jika jawaban di dasarkan dengan pemikiran filsafat maka jawaban antara satu dengan yang lainnya sangat besarkemungkinannay untuk memiliki jawaban yang berbeda.

    ReplyDelete
  138. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Hal yang sangat menarik adalah ketika hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai nol. Hal ini tidak hanya menandakan bahwa mahasiswa belum memahami apa yang diajarkan oleh dosen,namun lebih dari itu semua hal ini menjadikan mahasiswa untuk terus belajar dan belajar. Selain itu juga agar mahasiswa tidak berlaku sombong dan terkena mitos akan kepuasan ilmu yang ia ketahui. Sehingga diharapkan mahasiswa selalu mengintropeksi diri bahwa ilmu yang telah didapat masihlah sangat sedikit.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  139. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dari hasil refleksi diatas, saya tau bahwa sesuatu itu dikatakan benar jika sesuai dengan ruang-waktunya, sedangkan hal itu dikatakan salah jika tidak sesuai dengan ruang-waktunya. Maka, mulai sekarang kita hendaknya menempatkan semua sesuai ruang dan waktu.
    Karena filsafat adalah penjelasan dari dirimu, menurut saya filsafat itu kompleks karena harus sesuai dengan 3 pilar yaitu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Dengan banyak belajar dan membaca, suatu saat filsafat akan menjadi sederhana tergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  140. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ilmu filsafat merupakan ilmu olah pikir, sehingga dalam memandang struktur kehidupan masing-masing individu pastilah berbeda, menggunakan pikiran tertentu. Bahwasanya setiap individu mempunyai alasan dan masalah tertentu dalam menjalani kehidupan. Cara pandang individu A mungkin berbeda dengan individu B, juga C dan seterusnya. Baik A, B, C dan yang lainnya mempunyai alasan khusus kenapa melakukan hal tertentu tersebut sesuai pemikirannya.

    ReplyDelete
  141. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Mengenai tes jawab singkat, saya pikir bukan hanya untuk mengetahui kemampuan kita namun juga menyadarkan kembali pada kita bahwa sebenarnya ilmu kita masih perlu untuk ditambah, masih perlu banyak belajar. Jangan pernah merasa bahwa ilmu kita telah tinggi dengan apa yang telah kita dapat, karena sebenar-benarnya ilmu sangatlah luas. Inilah pelajaran yang mungkin ingin Prof tanamkan pada kita bahwa kita harus selalu belajar, tidak bersifat sombong dan sok tau.

    ReplyDelete
  142. Junianto
    PM C
    17709251065

    Sering Prof sampaikan bahwa filsafat adalah dirimu sendiri. Itu artinya bahwa kita tidak bisa memahami filsafat orang lain 100%. Ini bisa dilihat dari tes jawab singkat Prof Marsigit dimana hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai 0. Disampaikan pula bahwa seorang filsuf pun bisa jadi mendapat nilai 0 dari tes jawab singkat tersebut. Maka dari itu, filsafat tidak lain dan tidak bukan adalah dirimu sendiri jadi sangat wajar ketika kita belum bisamemahami filsafat orang lain karena orang lain memiliki filsafatnya sendiri.

    ReplyDelete
  143. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebaiknya, kita sebagai manusia harus bijak dalam ,e,andang berbagai struktur kehidupan yang ada di dunia ini. Karena jika manusia hanya memandang satu unsur struktur kehidupan atau hanya memandang stuktur kehidpan yang terbatas, maka mereka akan terkena mitos dikarena pengetahuan mereka juga yang terbatas. Struktur kehidupan yang ada di dunia ini merupakan satu kesatuan yang memang saling berhubungan satu sama lain, sehingga antara struktur yang satu dengan yang lainnya haruslah seimbang dalam memandangnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  144. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    berdasarkan pemahaman saya setelah membaca, ketika kita harusnya menyadari kapan belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan mulai mengetahui dan mengetahui batas antara tahu dan tidak tahu.Manusia memiliki keterbatasan, ketidaktahuan kita pasti sangat banyak, namun dengan semakin banyak ketidaktahuan, menandakan sejauh mana seorang manusia mencari pengetahuan. Semakin tidak tahu, semakin berusaha mencari tahu.

    ReplyDelete
  145. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Belajar filsafat artinya adalah mempelajari pemikiran para filsuf. Bagaimana kita bisa mempelajari pemikiran para filsuf ialah dengan membaca, membaca, dan membaca. Membaca apa saja yang seorang filsuf argumenkan, membaca apa yang filsuf rumuskan, membaca apa yang filsuf temukan, membaca apa yang filsuf perdebatkan, dsb. Dalam mempelajarinya, hanya agama lah yang dijadikan sebagai pedoman atau landasan. Karena agama berbeda dengan filsafat dan keduanya tidak bisa dicampur adukkan. Manusia bebas berpikir, manusia bebas belajar, manusia bebas berpendapat, dsb. Karena bukan hal yang tidak mungkin bahwa manusia dapat menembus ruang dan waktu melalui pikirannya.

    ReplyDelete
  146. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya manusia tanpa disadari setiap waktu itu berfilsafat, karena filsafat itu adalah olah pikir. Maka dalam kehidupan sehari-hari sangat tidak mungkin jika kita tidak melakukan proses berpikir. Orang bertanya itu termasuk filsafat, karena dia melakukan olah pikir juga. Karena olah pikir, maka akan ada konflik pemikiran yang terjadi antara pemikirannya dengan pemikiran yang dipelajari. Maka dalam belajar filsafat akan bahaya jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, akan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran lain. Membuat komen merupakan langkah bijaksana untuk setiap orang yang ingin berfilsafat. Karena akan melakukan olah pikir atas apa yang dia pelajari. Dan orang itu bisa dikatakan bijaksana apabila mengerti caranya menggunakan filsafat untuk dapat membantu kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bisa menyesuaikan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  147. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Mungkin apa yang dialami saudari vivi sama halnya dengan saya. Alhamdulillah saya tidak perlu berkecil hati sesuai dengan kata Prof Marsigit. Justru hal ini bisa menjadi pacuan untuk saya untuk terus belajar. Seperti nasihat bapak "Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja."

    ReplyDelete
  148. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Benar adalah ketika sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari benar adalah ketika sesuai dengan norma yang berlaku disuatu masyarakat. Maka sesuatu yang benar di suatu tempat terkadang dianggap salah di tempat yang lain. Kebenaran bagi seorang manusia juga bersifat subjektif karena benar bagi dia belum tentu benar bagi ku. Tetapi ada pula kebenaran yang absolut yaitu kebenaran spiritual. Kebenaran Allah SWT adalah mutlak dimana kita harus mengikuti perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.

    ReplyDelete
  149. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Filsafat adalah ilmu yang bisa menembus ruang dan waktu. Nilai benar dan salahnya itu harus bersesuaian dengan ruang dan waktu, karena musuh dari filsafat itu sendiri tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Kebanaran yang hakiki adalah milik Allah Semata, tetapi manusia memiliki nilai benar yang sesuai dengan ajaran atau landasan yang berlaku. filsafat juga merupakan ilmu olah pikir secara luas dan mendalam. Sehingga filsafat juga mengajarkan yang namanya hermenetika di dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  150. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007
    Filsafat itu seperti sudut pandang lain dalam menghadapi suatu hal. Dalam menghadapi suatu hal antara satu dengan yang lain dapat berbeda. Saya masih ingat ketika diberi 20 tes soal isian singkat oleh Bapak. Kami sebagai mahasiswa menjawab soal-soal tersebut masih salah, paling tinggi hanya dua soal yang benar. Kemudian Bapak mengatakan, jawaban tersebut benar jika sesuai dengan jawaban Bapak. Sedangkan, jawaban antara saya dan Bapak itu bisa berbeda, tergantung dari mana sudut pandang terhadap suatu hal. Dan saya sekarang mengerti Pak, semakin saya membaca semakin menambah wawasan saya, dan cara itu pula untuk memahami jawaban-jawaban dari Bapak dalam tes tersebut.

    ReplyDelete
  151. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang telah Bapak share kepada kami. Saya sangat tertarik dengan jawaban Bapak mengenai apa itu sebenarnya filsafat, lalu Bapak menjawab :”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja. Karena filsafat itu diri kita sendiri maka hanya diri kita yang tahu, apa yang baik untuk kita, apa yang tidak baik, apa yang pantas dan tidak pantas dan sebagainya. lalu sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana? Karena filsafat itu diri kita sendiri maka semisal ada masalah, maka bagaimana kita menghadapi masalah itu? apa kita cuek saja acuh tak acuh karena masalah itu akan berlalu begitu saja, atau kita mencari cara untuk menyelesaikan masalah itu, karena kita akan merasa terbebani karena masalah itu belum terselesaikan.

    ReplyDelete
  152. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Dalam pandangan filsafat benar atau salah tergantung dari cara pandangnya dan cara kita menyikapinya. Namun perkara yang benar adalah perkara yang sesuai dengan ruang dan waktu. Tindakan manusia yang sesuai dengan ruang dan waktu adalah sebenar-benarnya tindakan yang dilakukannya.

    ReplyDelete
  153. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    memahami suatu hal tergantung dari mana sudut pandang untuk melihatnya. menurut pandanagan filsafat benar itu jika mampu mennembus ruang dan waktu sednagkan salah jika tidak mamapu menembus ruang dan waktu. jadi pandanagn akan sesuatu yang bernilai benar atau salah tergantung dari ruang dan waktu

    ReplyDelete
  154. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    Pendidikan matematika A 2015

    Filsafat adalah dirimu sendiri. Oleh karena itu, metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemahan dan terjemahkan, yang berarti perlu membaca dan terus membaca. Filsafat adalah dirimu sendiri, dari pernyataan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang memiliki filsafatnya masing-masing atau dengan kata lain memiliki pandangan yang berbeda-beda. Apa yang dianggap benar oleh diri kita, belum tentu oranglain menganggap benar juga. Filsafat juga mengajarkan kepada kita untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan teruslah untuk membaca dan membaca.

    ReplyDelete
  155. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Dari hasil refleksi diatas, saya memperoleh banyak informasi yang sangat bermanfaat. Bahwa ketika kita berusaha membaca dan memahami filsafat dari postingan Prof, namun masih saja kurang tepat dalam menjawab pertanyaan itu dikarenakan filsafat adalah diri sendiri. Sehingga metode berfilsafat adalah adalah metode hidup, yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkan diriku, yaitu dari pikirannya dengan cara membaca dan terus membaca. Kemudian yang sebaliknya akan diterjemahkan dengan cara bertanya. Sehingga menjadi mahasiswa harus mau membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat.

    ReplyDelete
  156. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Dari artikel di atas saya belajar banyak hal baru, termasuk menyadari ketika mengapa saya merasa cukup kesulitan ketika belajar tentang filsafat. Beberapa hal yang saya tangkap di sini adalah bahwa filsafat bersifat relative dan unik, tergantung dari mana kita memandang sesuatu. Berdasarkan ilmu apa yang kita pakai saat menilai sesuatu juga merupakan pembeda suatu hasil. Menurut suatu kepercayaan dan suatu ilmu tertentu mungkin suatu hal dikatan benar, namun menurut ilmu dan pandangan lain mungkin suatu hal tersebut bisa dinggap kurang pas bahkan salah.

    ReplyDelete
  157. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya tertarik dengan pertanyaan pertama yang berbunyi “Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”. Saya tertarik dengan pertanyaan tersebut karena Saya juga merasakan hal yang sama. Dan jawaban yang Bapak berikan sangat menakjubkan. Filsafat adalah diri kita sendiri, itu sebabnya mengapa kita sulit memahami filsafat/pandangan orang lain. Karena sudut pandang setiap orang berbeda-beda sehingga pemikirannya pun berbeda-beda dan cara memahaminya pun akan berbeda-beda.

    ReplyDelete
  158. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam filsafat itu tidak ada kebenaran yang mutlak. Benar atau salah itu tergantung dari sudut pandangnya. Dalam pandangan filsafat sesuatu benar jika mampu menembus ruang dan waktu. Metode filsafatadalah metode hidup, yaitu terjemah dan terjemahkan.

    ReplyDelete
  159. Bayu Widyanto
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244010

    “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”. Dari pertanyaan tersebut saya jadi teringat mengenai 20 soal yang diberikan di perkuliahan Etnomatematika. Saya menjawab soal tersebut dan menganggap jawaban itu benar akan tetapi ternyata jawaban tersebut salah ketika dicocokan. Dengan kata lain, dari sudut padang saya bahwa jawaban yang saya berikan itu benar tapi dari sudut padang lain jawaban itu salah. Jadi, benar atau salah tergantung dari masing-masing orang(sudut pandang). Akan tetapi dari filsafat sendiri memandang bahwa yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.

    ReplyDelete
  160. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari tes yang pernah Prof. Marsigit berikan saya pernah berpendapat bahwa filsafat itu tidak mengenal “toleransi” karena jika jawaban saya dengan jawaban Prof. Marsigit berbeda maka itu suatu kesalahan. Namun sampai di sini saya paham bahwa, filsafat yang sebenarnya itu adalah filsafatmu sendiri. Ilmu saya tentang filsafat sungguh sangat tidak ada apa-apanya, masih sangat-sangat sedikit. Terimakasih Prof, dengan adanya tes kemarin saya menjadi berniat untuk memahami bagaimana filsafat itu, kenapa filsafat bisa begini dan mengapa filsafat sangat sulit dipahami.

    ReplyDelete
  161. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Berdasarkan artikel ini saya mengetahui beberapa hal. Filsafat merupakan dirimu sendiri, sehingga benar atau salah suatu perkara bergantung pada bagaimana orang tersebut memandang. Belajar filsafat merupakan belajar memahami pemikiran para filsuf. Belajar filsafat dapat melalui membaca. Dengan membaca dan terus membaca, secara tidak langsung akan mengetahui pengetahuan yang ada pada pemikiran para filsuf. Dalam memahami filsafat harus tetap berpedoman pada agama yang dianut.
    Terimakasih Prof atas artikelnya.

    ReplyDelete
  162. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Berkenaan dengan tes isian singkat. Alasan mengapa mahasiswa sering kali mendapatkan nilau yang sangat kecil bahkan nol adalah dikarenakan masih kurangnya membaca. Seperti yang Prof katakan, seorang apalagi mahasiswa itu hanya busa membaca, berusaha, berikhtiar, dan jangan patah menyerah. Selain itu, rendahnya nilai yang diperoleh juga digunakan untuk menyadari bahwa ilmu yang diperoleh masih sangatlah sedikit. Sebenar-benarnya ilmu itu sangat luas. Jadi jangan berpuas diri terhadap ilmu yang diperoleh selama ini. Hendaknya selalu haus dan semangat dalam mencari ilmu.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  163. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    15301241046
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    saya sangat tertarik dengan Pertanyaan dari Sdri. Rizqy Umami tentang Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?, Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut sangat hebat. Saya jadinmemahami bahwa filsafat itu adalah dirimu sendiri. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca. Seseorang mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar. Memang ilmu kami masih sangat sedikit, saya bahkan terkadang masih kesulitan memahami artikel-artikel yang prof berikan.

    ReplyDelete
  164. Lisfiyati Mukarromah
    15301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2015


    Terimakasih Prof sudah mengajarka ilmu tentang filsafat. Berdasarkan yang saya pahami dari artikel di atas, kebenaran dalam filsafat itu tidak bersifat mutlak. Filsafat melihat benar dan salah berdasarkan sudut pandangnya. Saya juga memahami bahwa filsafat yang sebenarnya adalah filsafatmu sendiri. Kemarin pada waktu tes 20 soal oleh Prof, saya hanya mampu menjawab benar 2 soal saja. Saya menyimpulkan bahwa saya perlu memperbanyak bacaan saya, ikhtiyar dan terus semangat belajar.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  165. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih pak, saya jadi memahami bahwa ternyata filsafat itu adalah diri kita sendiri. Saat mendapat hasil rendah saat tes cepat, itu karna setiap orang memiliki filsafatnya masing-masing. Tetapi, dengan hasil yang rendah bukan berarti harus berhenti untuk berpikir dan membaca. Karena ilmu itu harus ters dicari.

    ReplyDelete
  166. Amayda Ade Pramesti
    15301244012
    S1 Pend.Mat A 2015

    kebenaran dalam filsafat itu tidak mutlak. karena filsafat melihat benar dan salah dari sudut pandang yang berbeda dan yang benar yaitu yang bisa menembus ruang dan waktu (intensi dan ekstensinya)

    ReplyDelete
  167. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari postingan Prof.Marsigit ini saya menyadari bahwa filsafat merupakan diri kita sendiri. Metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Untuk menerjemahkan diri perlu membaca, membaca dan membaca. Kemudian, dari tes yang Prof. Marsigit berikan banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai kecil bahkan nol. Hal ini disebabkan karena kurangnya membaca. Terimakasih Pof, hal ini menyadarkan saya untuk lebih giat dalam membaca, berikhtiar.

    ReplyDelete
  168. Alvi Khoirunnisak
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241012

    Dari artikel Prof di atas, kajian filsafat mengajarkan saya bahwa segala sesuatu harus ditempatkan sesuai dengan ruang dan waktunya. Serta filsafat sebenarnya refleksi dari diri kita sendiri. Sehingga dalam filsafat tidak ada yang paling benar, karena filsafat selalu memyesuaikan orang, ruang, dan waktu filsafat utu digunakan. Seperti halnya dalam hidup, yang mutlak benar hanya milik Allag

    ReplyDelete
  169. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Pada postingan yang berjudul "Filsafat dalam memandang berbagai struktur kehidupan" ini, setidaknya ada 3 hal yang saya garis bawahi. Pertama, bahwa filsafat merupakan olah pikir. Olah pikir yang dimaksud adalah mengolah segala pikiran-pikiran yang ada dengan tujuan untuk menjelaskan dan memahami suatu fenomena. Kedua, bahwa berfilsafat adalah kesadaran diri akan ketahuan dan ketidaktahuan terhadap suatu hal. Ketiga, bahwa salah satu tujuan dari filsafat adalah untuk mengajarkan diri ini untuk selalu rendah hati/tidak sombong dan menyadarkan pada diri ini untuk selalu belajar dan belajar karena sesungguhnya masih sangat banyak hal yang belum dan tidak diketahui oleh diri ini.
    Terima kasih Pak Prof. Marsigit atas postingannya yang luar biasa dan bermanfaat.

    ReplyDelete
  170. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih pak atas artikelnya, telah menambah wawasan saya mengenai filsafat. Dari artikel tersebut saya tertarik dengan bahasan mengenai kebenaran dalam filsafat itu tidak bersifat mutlak. Kita harus mencoba memandang sesuatu dari beberapa sudut pandang sekaligus, karena terkadang suatu hal dapat dinilai salah dari sudut pandang A, namun justru jika dilihat dari sudut pandang B hal tersebut malah bernilai benar.

    ReplyDelete
  171. Intan Heryani Putri
    1530124101
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Sebelumnya saya ingin menyampaikan bahwa tugas membuat refleksi seperti ini merupakan cara yang bagus untuk membuat siswa/ mahasiswa benar-benar serius belajar dan memperhatikan. Yang kedua, dengan guru menguploadnya di blog, merupakan apresiasi tersediri bagi siswa dan saya juga menyetujui cara ini. Terkait tulisan di atas, saya menjadi sedikit lebih mengerti tentang filsafat. Bahwa filsafatmu itu adalah ya dirimu sendiri, filsafatku ya penjelasanku sendiri. Saya masih perlu belajar lebih banyak lagi.

    ReplyDelete