Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

17 comments:

  1. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya menggaris bawahi pernyataan Bapak bahwa filsafat itu adalah diri kita sendiri. Jadi, filsafat masing-masing orang terkadang berbeda sesuai yang dipelajari dan diyakini masing-masing orang. Begitu juga dengan konsep benar dan salah yang Bapak sampaikan. Saya sepakat bahwa ketika ujian kita mendapat nilai 0 bukan berarti bodoh tetapi karena kurang membaca dan belajar. Hal ini mengajarkan kepada kita untuk terus belajar dan tidak merasa pintar karena di atas langit masih ada langit. Begitu pula dengan siswa, ketika mereka belum bisa mengerjakan soal ujian, maka sebagai guru sebaiknya tidak menghakimi bahwa siswa tersebut bodoh.

    ReplyDelete
  2. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PMat C

    Membaca refleksi perkuliahan di atas, beberapa kali disebutkan bahwa "filsafat ialah dirimu sendiri". dari pernyataan tersebut, timbuh suatu pertanyaan besar, lantas bagaimana tolok ukur dalam berfilsafat itu? apakah bisa seluas-luasnya, atau berbatas spiritual dan sebagainya?
    Namun sedikit pencerahan dari konsep fallibilisme yang pernah dijabarkan Bapak sebelumnya, yang pada intinya salah juga merupakan suatu kebenaran, bergantung pada semesta dan kondisinya juga.
    semakin kita belajar semakin kita menyadari bahwa "what we know is nothing", semoga dengan mempelajari filsafat ini semakin memompa semangat untuk terus belajar tanpa menanggalkan identitas kita dan tetap "down to earth"
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  3. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan para mahasiswa pada perkuliahan Filsafat Ilmu prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B, saya tertarik dengan pertanyaan yang menanyakan apakah sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana. Jawabannya adalah filsafat adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat.
    Dan lagi, saya dibuat merenung atas jawaban ini. Karena, selama ini saya berpikir bahwa filsafat itu bahasan yang sangat kompleks dan luas. Namun nyatanya, filsafat adalah diri kita sendiri. Bagaimana kita memikirkannya, bagaimana kita menerangkannya, itulah filsafat. Hingga sampai dimana kita tidak lagi mampu untuk memikirkannya, maka gunakanlah spiritual.
    Terima kasih Pak, semoga dengan membaca dan mempelajari setiap postingan Bapak, kami para mahasiswa semakin memahami filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  4. Assalamu'alaikum wr.wb.

    Berfilsafat adalah menyadari kalau kita tidak tahu. Karena menyadari maka kita akan mencari tahu dan terus mencari tahu, membaca dan terus membca fenomena yang ada di sekitar diri kita. Filsafat adalah diri kita. Maka pemikiran orang yang satu dengan yang lainnya tentu berbeda, maka ada banyak aliran ilmu yang berbeda juga di dunia ini.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  5. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Saya sepakat dengan pernyataan Bapak Marsigit mengenai konsep benar dan salah. Bahwa benar itu sesuai ruang dan waktu atau tidak. Kebenaran yang mutlak adalah kebenaran dari ranah spiritual (absolut). Kebenaran ini berlaku kapanpun, dimanapun, menembus ruang dan waktu. Kebenaran ini berkaitan dengan ketetapan Tuhan yang merupakan hubungan antara diri pribadi dengan Tuhan (habluminallah) serta tuntutan hubungan manusia dengan manusia sebagai sesama makhluk Tuhan (habluminannas).

    ReplyDelete
  6. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend. Matematika B

    Saya setuju bahwa berfilsafat itu adalah diri kita sendiri. Tidak perlu kuatir dengan nilai 0 untuk setiap tes filsafat asal kita telah menuangkan pemikiran kita, yang tentunya juga telah terisi, dengan cara memperbanyak bacaan.

    ReplyDelete
  7. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb
    Membaca berbagai ulasan di atas saya memandang bahwa filsafat itu adalah bagaimana cara kita menyampaikan sesuatu penyataan atau jawaban dengan disertai alasan yang datang dari dalam diri kita sendiri karena filsafat itu adalah sudut pandang kita dalam mengungkapkan dan menyikapi suatu masalah kehidupan, dan yang terpenting adalah kita harus selalu bersyukur terhadap anugrah yang tuhan berikan kepada kita dengan selalu belajar tanpa adanya rasa puas.

    ReplyDelete
  8. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PM C (S2)

    Nilai nol bukan berarti salah. Nilai nol dimaksudkan masih rendahnya pengetahuan yang dimiliki.Karena pengetahuan itu tak terbatas. Dengan belajar pada saat duduk di bangku perkuliahan itu rasanya masih belum cukup. Masih banyak yang perlu dipelajari. Tetapi tetap mempertahankan sikap rendah hati. Seperti ungkapan jika padi semakin berisi, maka ia akan semakin merunduk.

    ReplyDelete
  9. Nama : Latifah Pertamawati
    NIM : 17709251026
    Kelas : PM B (S2)

    Bismillaah.
    Saya setuju dengan jawaban bapak yang mengemukakan bahwa tetapkan dulu agamamu sebelum berfilsafat. Berfilsafat adalah aktivitas yang membutuhkan pikiran yang bebas. Ibarat melakukan perjalanan, diperlukan pegangan supaya kita tidak jatuh dan sempoyongan saat berusaha menelusuri jejak-jejak pikiran kita dalam berfilsafat. Tentu saja sebelum kita memulai perjalanan, kita harus memilih tongkat yang kuat dan tidak mudah rusak oleh benturan dan hantaman saat kita melaksanakan perjalanan tersebut.

    Semoga kita termasuk golongan orang yang beruntung mendapatkan manfaat berfilsafat untuk memahami diri sendiri, orang lain, lingkungan tempat kita berada saat ini.

    ReplyDelete
  10. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat, saya setuju dengan pernyataan bahwa kokoh kan dulu fondasi iman sebelum lepas landas pergi kemana entah mau perginya. Karena ketika iman sudah tertanam kuat dalam diri seseorang, badai cobaan apapun yang datang ke orang beriman tersebut akan diterimanya dengan sabar dan selalu dilihat sisi positif dari setiap kejadian. Yang mana kejadian tersebut dapat menjadikan dirinya menjadi semakin dekat kepada tuhannya.

    ReplyDelete
  11. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Beragama dari sisi filsafat. Dikatakan bahwa diatas “tetapkanlah dulu keyakinanmu”. Bagaimana pendapat bapak dengan beragamanya Mohammad Ali ? sebelum meneguhkan keyakinanya dalam islam, beliau belum yakin akan islam itu sendiri. Namun beliau telah “menerbangkan layang-layang pikirannya” ke islam sehingga membuatnya meneguhkan hatinya untuk memeluk islam sebagai agamanya hingga akhir hayatnya?

    ReplyDelete
  12. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017


    Berdasarkan artikel refleksi yang ditulis dari perkuliahan ini membuka pandangan saya bahwa filsafat sebagai sebuah ilmu yang mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari hal yang sederhana sampai yang kompleks. Sebuah ilmu yang sangat menarik untuk dipelajari.

    ReplyDelete
  13. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Setelah membaca beberapa artikel dalam blog ini, saya jadi mengerti bahwa filsafat masing-masing orang berbeda. Sesuatu yang menurut seseorang salah, belum tentu salah juga dalam pandangan orang lain. Pendapat seseorang itu bersifat relatif, bisa benar bisa juga salah tergantung dari mana sudut pandang kita melihatnya.

    ReplyDelete
  14. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Dikatakan diatas bahwa melalui pertanyaan jawaban singkat dapat mengatahui pikiran dan mengadakan dari yang mungkin ada bagi diri sendiri. Menurut saya pernyataan tersebut sangat logis karena melalui pertanyaan apapun dan dengan mengetahui respon orang yang ditanyai dapat diketahui bagaimana cara pikir orng yang ditanyai tersebut serta dapat menjadikan sarana untuk feedback ke diri sendiri sejauh mana pengetahuan diri untuk menjawab pertanyaan yang ditanyakan.

    ReplyDelete
  15. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Saya tertarik dengan pernyataan bapak. Filsafat ya komplek ya sederhana. Filsafat adalah penjelasanku. Dari pernyataan itu, saya mengambil inti bahwa dalam berfilsafat kita perlu melihat diri kita sendiri. Perlu untuk bercermin sejauh mana ilmu dan pengalaman yang kita miliki. Dalam hal ini, maka masih perlu untuk sering membaca untuk mempertajam ilmu tentang filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  16. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Satu hal yang membuat filsafat ilmu dari Bapak berbeda dengan buku-buku filsafat lain yang pernah saya baca yaitu berfilsafat menggunakan spiritual. "Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst."
    Pernyataan diatas membuat saya memiliki niat belajar filsafat. Karena dari beberapa buku filsafat yang pernah saya baca isinya hanya dikaitkan dengan logika dan kerasionalan manusia, bukankah rasional manusia itu sifatnya terbatas karena ada hal yang tak bisa dilampaui dengan akal. Lalu, bagaimana seorang ahli filsafat atau filsuf yang tidak mempercayai agama atau tidak memiliki keyakinan beragama, apakah ia boleh dikatakan ahli filsafat atau apakah akhirnya ia akan jatuh ke negeri kufar?

    ReplyDelete
  17. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B

    beragama dan berfilsafat adalah wujud keseriusan manusia di dunia dan setelahnya. Dalam berfilsafat selain argumentasi ilmiah kita perlu memiliki kesadaran mengenai diri terdalam manusia, kebenaran dan kebebasan. Misal, dalam pandangan filsafat lebih dimotivasi oleh kenyataan bahwa hidup adalah keterikatan yang menyebabkan penderitaan; dan penderitaan itu harus dilenyapkan; tujuannya adalah untuk mencapai kebebasan, realisasi diri yang terdalam, dan kesempurnaan. Sebagaimana halnya filsafat, pusat pemikiran filosofis agama, juga diawali dengan mendalami hakikat alam semesta, prinsip segala sesuatu, hakikat hidup dan kehidupan, atman dan brahman, hakikat manusia sebagai prinsip hidup, dengan tujuan individu dapat bebas dilandasi dengan kesadarannya. Apalah artinya kebebasan politis tanpa adanya kebebasan personal?

    ReplyDelete