Nov 3, 2015

FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN


FILSAFAT DALAM MEMANDANG BERBAGAI STRUKTUR KEHIDUPAN
Refleksi pertemuan ketujuh (Kamis, 29 Oktober 2015)
Direfleksikan oleh: Vivi Nurvitasari, 15701251012
Diperbaiki oleh: Marsigit

http://vivinurvitasari.blogspot.co.id/2015/11/filsafat-dalam-memandang-berbagai.html

Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 29 Oktober 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Pak Marsigit, Perkuliahan ini diawali dengan tes jawab cepat sebanyak 50 soal lalu dilanjutkan dengan mahasiswa mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan dijawab oleh Pak Marsigit.

Sistem pertemuan pada minggu ini sama dengan pertemuan sebelumnya yaitu adanya tes jawab cepat diawal kuliah, tema tes kali ini juga masih sama dengan tema pada pertemuan minggu sebelumnya yaitu tentang “Menembus Ruang dan Waktu”. Tes jawab cepat yang diberikan Pak Marsigit ini sudah ada dalam postingan-postingan Bapak diblog Pak Marsigit. Sehingga untuk bisa menjawab tes ini, mahasiswa diharapkan rajin membaca dan memperbanyak membaca postingan diblog Pak Marsigit.

Pertanyaan pertama dari Sdri. Rizqy Umami :“Bagaimana memahami filsafat karena selama ini saya berusaha membaca dan memahami  isi postingan dari Bapak, namun ketika saya menjawab tes jawab cepat yang Bapak berikan itu selalu kurang sesuai dengan jawaban dari Bapak?”

Jawaban Pak Marsigit dari pertanyaan tersebut adalah: ”Seorang filsuf besar pun jika diminta untuk mencoba menjawab pertanyaan saya dari soal tes jawab cepat ini bisa berkemungkinan mendapatkan nilai nol karena filsafat itu adalah dirimu sendiri, jadi janganlah khawatir. Maka metode berfilsafat adalah metode hidup yaitu terjemah dan terjemahkan. Terjemahkanlah diriku, bukan aksesorisnya tetapi pikirannya dengan cara baca, baca, dan baca, kemudian saya menerjemahkan diri anda dengan cara bertanya, ternyata masih kosong karena belum sepenuhnya membaca. Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja.

Pertanyaan-pertanyaan jawab singkat saya ini fungsinya tidak semata-mata mengetahui pikiran anda, tapi untuk sarana mengadakan dari yang mungkin ada bagi dirimu masing-masing. Setidaknya dari bertanya tadi para mahasiswa sudah mulai ada kesadaran menembus ruang dan waktu, apa maksudnya? Jangankan manusia, sedangkan binatang, tumbuhan dan batu pun juga menembus ruang dan waktu. Tidak ada batu yang protes ketika kehujanan, kalau hujan protes karena kehujanan pun si batu itu menembus ruang dan waktu dengan metodologi dan ilmu tertentu, tapi diam disitu pun dia dari kehujanan menjadi tidak kehujanan itu sudah menembus ruang.

Semua benda bisa saya katakan, didepannya diberi artikel waktu, misalkan pada hari Kamis ini kabut asap, pada hari Kamis ini Presiden Jokowi. Silahkan sebut 1 (satu) sifat saja dari bermilyar pangkat bermilyar sifat yang tidak dikaitkan dengan waktu yang bisa anda sebut, bahkan yang notabenenya terbebas oleh ruang dan waktu yang ada di pikiran anda, misalnya 2+2=4 itu karena terbebas oleh ruang dan waktu, tapi saya masih bisa mengatakan hari ini bahwa 2+2=4, pada hari Jumat besok juga 2+2=4, itu identitas karena terbebas oleh ruang dan waktu, ketika sudah terikat oleh ruang dan waktu serta merta menjadi kontradiktif, ada sifat-sifatnya dan sifat itu bersifat subordinat menjadi predikat daripada subyeknya.”

Pertanyaan kedua dari Sdri. Fajar:”Bagaimana filsafat memandang pendidikan di Indonesia dan meningkatkan pendidikan di Indonesia?”

Jawaban dari Pak Marsigit Adalah: “Itu tema besar tapi itu bisa anda baca di postingan saya yang sudah ada dan sangat lengkap, tapi esensinya untuk mengetahui praksis pendidikan, alangkah baiknya juga mengetahui latar belakang pendidikan dan landasan pendidikan serta masa depan pendidikan. Itu wadahnya tidak lain dan tidak bukan adalah filsafat pendidikan. Untuk mengetahui filsafat pendidikan maka belajarlah filsafat. Semua terangkum di postingan saya termasuk ada unsur-unsurnya, pilar-pilarnya politik pendidikan dan ideologi pendidikan dan pendidikan konstekstual. Jadi tidak usah jauh-jauh ke Amerika karena di Indonesi pun ada politik pendidikan juga politik pemerintahan.”

Pertanyaan ketiga dari Sdra. Ndaru Asmara: ”Apakah dengan berfilsafat kita bisa berinteraksi atau mungkin berkomunikasi dengan makhluk lain, misalkan saja hewan dan tumbuhan?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Filsafat itu wacana, filsafat itu bahasa, filsafat itu penjelasan, maka ada jarak antara penjelasan dan praksisnya. Bagi seorang filsuf, dia berkeinginan untuk menjelaskan kenapa orang kesurupan, tapi filsuf sendiri tidak bisa kesurupan, sedangkan yang kesurupan tidak menyadarinya, jangan kemudian filsuf juga harus ikut-ikutan kesurupan, nanti siapa yang mau menjelaskan tentang alasan mengapa orang kesurupan tersebut, karena filsafat itu olah pikir, dari semua pikiran-pikiran yang ada itu kemudian dipakai untuk menjelaskan fenomena, termasuk fenomena gaib secara filsafat naik spiritual, turun menjadi psikologi, filsafat itu lengkap ada spiritualnya juga ada psikologinya.

Orang awam akan menyebut ilham, spiritual petunjuk dari Tuhan, kalau seseorang mendapatkan pencerahan, tetapi tidak mengerti sebabnya dia memperoleh pencerahan tersebut, secara filsafat begitu saja, itu namanya ilham. Dan ternyata kalau kita mau meneliti setiap yang ada dan yang mungkin ada, setiap waktu saya selalu mendapatkan ilham, saya bisa menjawab pertanyaanmu karena saya mendapatkan ilham, jangan kemudian memitoskan ilham, semua pencerahan yang ada ini adalah ilham. Apakah anda bisa menjelaskan proses trjadinya ketika anda bisa menjawab dengan menggunakan yang ada didalam pikiranmu? Seberapa jauh anda bisa, dan tidak akan bisa sempurna, pada akhirnya itu adalah ilham juga.

Wahyu itu juga ilmu, makanya orang jaman dahulu dipersonifikasikan wahyu itu sebagai benda hidup, karena apa? Karena audiensnya itu  tradisional sekali maka ketika sang Arjuna (Pak Marsigit) mencari wahyu itu pergi ke hutan ke tempat yang sepi artinya itu engkau dikamar (untuk jaman sekarang) lalu membaca elegi saya. Itu sama saja ketika jaman dulu arjuna masuk ke hutan mencari wahyu atau menyepi, merenung, memahami, disitulah anda akan mendapatkan wahyu yang banyak sekali, pengetahuan yang mungkin ada menjadi ada.

Persis sama dengan yang dilakukan arjuna itu tadi, yang mungkin ada menjadi ada, wahyunya berupa manusia setengah dewa bisa berdialog dengan arjuna sehingga akan menjadi satu dengan diri Arjuna. Apa yang menjadi satu dengan dirimu? Spiritualnya formal adalah spiritual, spiritualnya material adalah spiritual, itu yang telah menjadi satu dengan dirimu dikarenakan pertanyaan-pertanyaan dan jaaban-jawabanku, jadi anda tadi sudah mendapatkan banyak sekali wahyu ketika menjawab pertanyaan dan memperoleh jawaban dari saya, tapi engkau tidak menyadarinya.

Berfilsafat itu adalah menyadari kalau saya belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan saya mulai mengetahui, menyadari batas antara tahu dan tidak tahu. Maka benda-benda gaib dsb itu diterangkan naik spiritual filsafat transenden, turun psikologi. Transendennya filsafat adalah noumena. Noumena itu diliuar dari fenomena. Yang dipegang yang dilihat semua yang difikirkan yang didengar itu semua fenomena, maka ruh dan arwah dianggap noumena.

Usaha manusia untuk mengetahui tentang arwah atu ruh, dilakukan dengan berbagai macam metode  memakai logika, memakai pengalaman, memakai teori ke spiritual berbagai macam cara untuk berusaha mengetahui apa yang disebut dengan arwah. Maka ada batasannya, batas-batas tertentu, maka bagi pikiran saya yang namanya setan itu potensi negatif, malaikat potensi positif.

Di dalam dirimu ada potensi negatif ada potensi positif, neraka itu potensi negatif, surga itu potensi positif oleh karena itu raihlah surga ketika engkau masih didunia tapi bukan berarti surga dunia. Maka  orang-orang yang sudah masuk surga atau calon penghuni surga itu secara psikologi itu kelihatan, secara hukum juga kelihatan. Jelas para koruptor itu tidak masuk surga secara hukum, jelas dia orang-orang yang masuk neraka secara hukum, secara spiritual lain lagi, itulah pikiran kita berdimensi, yang dilihat pun berdimensi, dan yang dipikirkanpun berdimensi.

Maka bagi anak kecil pohon itu ada hantunya, padahal kata kakak saya itu hanya supaya anak kecil takut dan tidak merusak tanaman, jadi bagi orang dewasa itu hanya sebatas menakut-nakuti si anak kecil, itulah buahnya.

Berbicara dengan hewan (saya pus-pus, kucingnya meong), akrab dengan kucing, apa definisi bicara?, itu saya sudah mengetahui bahasa kucing. Komunikasi dengan tumbuhan (aduh kamu tumbuhan sudah mulai layu maka aku siram), jadi elegi kalau diteruskan elegi tumbuhan membutuhkan air, dialog antara tumbuhan dengan yang menanamnya tadi itu munculnya elegi itu seperti itu. Jadi bahasa itu berdimensi, sedangkan yang berbahasa juga berdimensi; maka secara filsafat berkomunikasi dengan yang gaib adalah fenomena komunikasi pada suatu tataran tertentu dari komunikasi yang berdimensi.

Saya pernah mengalami pengalaman spiritual selama 10 hari tinggal dimasjid belajar bersama sufi, menertibkan tata cara berdoa beribadah, dsb. Ketika intensif berdoa disitu, alamnya seperti itu, saya pun rasanya enggan pulang, ingin saja berdoa terus, dan ketika itu sensitifitas rohani atau hati saya itu sangat tinggi sehingga kemampuan-kemampuan metafisik itu muncul jangankan dengan apa yang dikatakan atau berdialog dengan itu, misalkan seseorang yang makan bakmi di pinggir jalan yang bakminya tidak didoakan ketika dibuat, dan orang yang memakannya tidak berdoa sebelum makan bakmi tsb, saya melihatnya seperti orang memakan cacing, itu ketika diriku sedang memiliki spiritual yang sangat tinggi.

Level tertentu pada suatu dimensi komunikasi (dengan yang gaib) mempunyai sifat da karakter tertentu bersiat subjektif yang hanya dapat diketahui atau dirasakan oleh yang bersangkutan. Pemahaman dalam pikirannya terkadang menggunakan pengalaman-pengalaman persepsi (pancaindra) untuk menterjemahkan dan mengambil sikap dalam interaksinya dengan yang gaib. Sehingga ada jarak antara persepsi dan pikirannya. Jarak itulah sebagai penyebab tidak validnya pengalaman pribadi berkomunikasi dengan yang gaib, jika akan dituturkan kepada orang lain, Maka barang siapapun, tidak dapat mengatakan kepada siapapun perihal pengalaman spiritual (khusyuk) kecuali hanya dirasakannya sendiri, semata-mata untuk meningkatan kadar keimannnya. Begitu dituturkan kepada orang lain, serta merta akan menjadi tidak valid.

Pertanyaan keempat dari Sdra. Suhariyono:”Bagaimana beragama dari sisi filsafat?”

Jawaban dari Pak Marsigit: “Itu pertanyaan sudah selalu saya katakan bahwa beragama dari sisi filsafat ialah tetapkanlah dulu agamamu, tetapkanlah dulu keyakinanmu, tetapkanlah dulu hatimu, yakin dulu baru mulai menerbangkan layang-layang pikiran, sebab jika layang-layang pikiran itu kita terbangkan jauh tetapi kita ini belum mempunyai patokan agama, nantinya akan lepas talinya , maka akan terbang kemana-mana, maka jatuhlah ke negeri majusi, ke negeri kufar (sangat kafir), dst. Maka pikiran itu sehebat-hebatnya manusia berpikir setengah dewa tidak akan mungkin dia bisa menuntaskan perasaannya. Sering sekali anda itu merasakan sesuatu yang anda tidak mampu memikirkannya, perasaan setiap saat anda itu merasakan, mulai merasakan dari sedih negatif 1000, sampai sedih positif 1000 jadi gembira, gembira negatif jadi sedih, itu baru perasaan gembira dan sedih, belum jika perasaan sayang, cinta, empati, dst. Maka pikiran itu bisanya hanya mensupport spiritualisme, berfilsafat versi saya ini adalah silahkan pikiranmu digunakan untuk memperkokoh dan memperkuat iman anda masing-masing. Saling mengingatkan sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi di kitab suci itu disebutkan juga betapa pentingnya orang cerdas dan orang yang berpikir daripada orang yang tidak cerdas, karena orang yang tidak cerdas itu pun menjadi sumber godaan setan. Godaan setan itu bermacam-macam, jadi fitnah, jadi mengatakan yang tidak baik, dst.”

Pertanyaan kelima dari Sdri. Ma’alifa Alina: ”Bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?”

Jawaban dari Pak Marsigit adalah: “Kalau menurut saya, spiritual akan kembali pada diri masing-masing, karena spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Kalau saya daripada artinya sesuatu yang sangat diluar kemampuan saya secara alami mengalir, lihat diriku, diri orangtuaku, lihat diri keluargaku, lihat diri pikiranku, lihat diri pengalamanku, begitu saja bagi saya, mengalir saja. Tengoklah komunitasmu, tengoklah keluargamu, tengoklah pengalamanmu, seperti apa spiritual itu selama ini? Maka hidup yang baik adalah masa lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang. Spiritual itu adalah tugas kita sebagai manusia untuk berikhtiar mengetahui mana-mana saja yang soheh, dan yang kurang soheh, dst.

Manusia itu terbatas, oleh karenanya bertindaklah sesuai dengan ruang dan waktunya. Misalnya adanya teknologi untuk menentukan tangaal 1 syawal, karena saya tidak bisa ya maka saya hanya bisa mengikuti aturan dari pemerintah saja, ketetapan pemerintah. Jadi segala macam spiritualitas bersifat postulat, postulat adalah yang kemudian menjadi model diterapkan didunia, manusia juga membuat postulat-postulat, maka subyek menentukan postulatnya bagi obyeknya. Engkau juga membuat postulat, membuat peraturan pada adik anda. Jadi seperti itu struktur per struktur, dirimu yang memahami struktur juga berstruktur, struktur dirimu itu ternyata dinamik yang sedang menembus ruang dan waktu.”

Pertanyaan selanjutnya dari Sdra. Bayuk Nusantara: “Bagaimana filsafat memandang adanya benar dan salah?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Sudah berkali-kali saya katakan,  jadi itu maksudnya karena pikiran manusia. Yang benar itu adalah sesuai dengan ruang dan wktu atau tidak.”
Kebenaran logika adalah konsisten, dan kebenaran pengalaman adalah korespondensi. Sedangkan kebenaran spiritual adalah absolut. Kebenaran diriku itu subjektif, kebenaran kita itu objektif, kebenaran para dewa adalah paralogos, kebenaran para daksa adalah faktanya, kebenaran kapitalis adalah modalnya, kebenaran skeptis adalah keraguannya, kebenaran fallibis adalah kesalahannya, kebenaran dunia adalah plural, kebenaran spiritual adalah tunggal, kebenaran idealis adalah tetap, kebenaran realis adalah relatif, kebenaran langit adalah aksioma, kebenaran bumi adalah konkritnya, kebenaran subjek adalah predikatnya, kebenaran predikat adalah subjeknya, kebenaran normatif adalah ontologinya, kebenaran estetika adalah keindahannya, kebenaran matematika adalah koherensinya, kebenaran tindakan adalah tulisannya, kebenaran tulisan adalah ucapannya, kebenaran ucapan adalah pikirannya, dan kebenaran pikiran adalah spiritualnya, kebenaran statistika adalah validitasnya, kebenaran psikologi adalah gejala jiwanya, kebenaran wadah adalah isinya, kebenaran isi adalah wadahnya, kebenaran filsafat adalah intensi dan ekstensinya.

Pertanyaan terakhir dari Sdri. Tyas Kartiko: ”Jadi sebenarnya filsafat itu kompleks atau sederhana?”

Jawaban Pak Marsigit adalah: “Ya kompleks ya sederhana, tapi bukan jawaban saya yang seperti ini yang merupakan filsafat. Filsafatnya adalah penjelasanku kenapa saya menjawab kompleks, dan penjelasanku kenapa saya menjawab sederhana, itulah filsafat. Engkau pun bisa menerangkan, itulah filsafatmu, filsafat itu sederhana sekali hanya olah pikir, berpikir reflektif. Anda mengerti bahwa anda sedang berpikir, itu filsafat, jadi sederhana sekali. Kalau ingin ditambahkan boleh pilarnya ada 3 Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Kompleks karena intensif, dalam sedalamnya bersifat radik, maka ada istilah radikalisme, ekstensif yaitu luas seluas-luasnya, melipiuti dunia dan akhirat. Yang masih bisa engkau jangkau melalui pikiranmu, setelah engkau tidak mampu memikirkannya ya sudah, gunakan alat yang lain yaitu spiritualitas.

Dalam rangka menggapai kebenaran itu, Francis Bacon namanya, terkenal dengan kata-kata ‘knowledge is power’, pengetahuanmu itu adalah kekuatanmu. Ada beberapa kendala seseorang itu mencapai kebenaran. Kendala pasar, misalnya di facebook orang bicara begini begitu, jadi kalau begini kesimpulannya begitu, juga kalau begitu kesimpulannya begini, dsb.  Kendala panggung, artis misalnya Syahrini mengatakan begitu, jadi ini itu begitu menurut Syahrini seorang artis terkenal. Pak marsigit berkata spiritualnya formal adalah spiritual, sampai akhir kuliah, sampai engkau meninggalkan dunia akan tetap seperti itu, itu berarti engkau  termakan atau terpengaruh oleh mitos-mitosnya pak Marsigit. Itu harus engkau cerna dan telaah, itulah mengapa saya heran kenapa tidak ada mahasiswa yang bertanya tentang pertanyaan soal tes saya tadi, berarti sudah ada kecenderungan  engkau itu terhipnotis oleh pernyataan saya dan itu menjadi kebenaran final bagi dirimu, padahal itu bukan kehendak daripada berfilsafat ini. Engkau harus membuat anti thesisnya.

Namanya orang menguji itu suka-suka, engkau bisa saja menguji saya supaya nilai saya mendapat nol. Nilai nol itu bukan berarti salah tapi itu membuktikan bahwa setiap dari dirimu itu mempunyai filsafatnya masing-masing, karena filsafat dari perkuliahan ini adalah untuk mengajarkan agar kita tidak sombong dengan mendapatkan nilai nol dari setiap tes, agar kita selalu rendah hati. Tetapi kalau itu kesimpulannya berarti engkau sudah berhenti berpikir, tetapi filsafat itu terus menerus memikirkannya, maka bacalah pertengkaran antara orang tua berambut putih karena itu proses mendapatkan ilmu. Jangan hanya membaca elegi Pak Marsigit di dalam mimpi, mimpi itu diukur konsistensinya jadi tidak koheren, tapi mimpi itu sebagian dari pengalaman tapi tidak sepenuhnya jadi tidak korespondensi. Jadi mimpi itu bukan persepsi. Mimpi bisa diterangkan dengan teori berpikir, tapi akan lain jika diterangkan oleh seorang paranormal.”

Alhamdulillahirrobil’alamin
Wasssalmu’alaikum, Wr. Wb.

23 comments:

  1. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Seperti yang bapak bilang
    Bahwa filsafat itu ya filsafatmu sendiri
    Jadi baca baca baca dan baca
    Semakin membaca saya semakin bingung dan merasa semakin banyak banget ga tau nya
    Mungkin itu yang dinamakan proses menggapai kah pak?
    Tapi lebih baik bacanya postingan bapak dibanding kan membaca dan menerjemahkan buku dari Immanuel Kant
    Karena banyak banget hal yang belum saya pahami di filsafat ilmu ini, lagi-lagi baca, baca dan baca

    ReplyDelete
  2. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Sebenar-benarnya orang cerdas adalah mereka yang mampu menembus ruang dan waktu. Kita haruslah sadar akan ruang dan waktu, maka kita harus pandai-pandai menterjemahkan dan ikhlas untuk diterjemahkan. Sebenar-benarnya bijak adalah kesadaran akan ruang dan waktu. Semua subjek, objek, dan predikat yang terkait oleh ruang dan waktu maka hukum-hukumnya/aturan yang melekat juga terikat ruang dan waktu. Jika ingin berhasil maka santunlah terhadap ruang dan waktu

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Setelah membaca pertannyaan-pertanyaan beserta jawaban yang ada di artikel di atas. Saya tertarik dengan pertanyaan dari Tyas Kartiko yaitu apakah filsafat itu kompleks atau sederhana. Saya akan mencoba merefleksikan pikiran saya terkait dengan pertanyaan tersebut. Seperti yang dikatan oleh pak Marsigit dalam artikel tersebut bahwa filsafat itu bisa kompleks yan bisa sederhana. Karena sesungguhnya filsafat itu adalah alasan kita menjawabnya. Penjelasan mengapa kita bisa menyebutnya lomplek, atau mengapa kita bisa menyebutnya sederhana iala filsafat itu sendiri. Jadi jawaban manapun benar asal ada alasannya.
    Kalau menurut saya, filsafat itu kompleks. Tidak semua orang mampu memikirkan apa yang ia pikirkan, atau mampu memberi alasan atas pilihan yang ia ambil. Artinya, tida semua orang mampu berfilsafat. Saya pun pada awalnya bingung mengartikan apa itu filsafat. Mencari referensi kesana-kemari tetapi hanya berputar-putar tida jelas. Sampai saya sadari bahwa ternyata setiap pikiran yang saya refleksikan itulah filsafat saya. Bahkan ketika saya sedang mengetik kalimat ini dan berubah pikiran bahwa sebenarnya filsafat itu sederhana, itu juga benar. Hal tersebut juga merupakan filsafat.

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Belajar filsafat akan membuat kita semakin paham jika hati kita mampu memahaminya. Akan menjadi kebalikannya jika kita hanya mengumbar pikiran kita, mengikuti alur pikiran kita. Karena tanpa modal hati yang bersih dan spiritual yang kuat akan mengarahkan kita pada kebenaran. Dalam struktur kehidupan jika dipandang dari segi filsafat dapat dilihat dari berbagai aspek. Benar dan salah jika dipandang dari segi filsafat dibagi menjadi dua kebenaran logoka dan kebenaran spiritual. Perbedaan dari kedua kebenaran tersebut adalah untuk kebenaran logika bersifat konsinten yang artinya logika tidak akan berubah-ubah sedang kan kebenaran spiritual berrsifat absolut yang artinya keberana bersifat mutlak dan tidak perlu dibuktikan kebenarannya

    ReplyDelete
  5. Nama : Latifah Fitriasari
    NIM : 17709251055
    Kelas : PPs Pendidikan Matematika C

    Hampir setiap manusia dapat dikatakan sebagai seorang filsuf, artinya bahwa setiap orang itu mempunyai filsafatnya sendiri-sendiri. Setiap diri yang berkesadaran tentu mempunyai pandangan khas terhadap alam semesta. Lewat berpikir dan berefleksi, kita memandang dan memahami diri kita yang berkaitan antara filsafat sebagai pandangan hidup.

    ReplyDelete
  6. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Filsafat memiliki sudut pandang sendiri dalam memandang kehidupan, tergantung siapa yang berfilsafat. Tidak semua orang mampu berfilsafat, namun semua orang bisa belajar berfilsafat. Seperti yang sering dikatakan oleh Bapak bahwa filsafat adalah dirimu, dan bagaimana kamu menjelaskan hal tersebut. Dengan demikin membaca, membaca dan membaca adalah salah satu cara menambah wawasan guna menambah penjelasan tersebut. Filsafat adalah dapat menjelaskan sesuatu yang sulit dengan cara yang mudah, sehingga akan mudah pula untuk dipahami.

    ReplyDelete
  7. Metia Novianti
    17709251021
    P.Mat A S2 2017

    Dalam berfilsafat, tiap orang melakukan olah pikir dengan caranya masing-masing. Dalam pertanyaan kelima tentang "bagaiman filsafat menjelaskan ketetapan Tuhan, seperti teologi, fiqih dan konsekuensinya seperti apa?", saya setuju dengan jawaban bapak. Spiritual itu memang kembali lagi pada diri kita masing-masing, spiritual itu urusan dirimu dengan Tuhan (habluminallah), dan juga ada tuntunan antara urusanmu dengan orang lain namanya habluminannas. Saya merasa filsafat yang disampaikan oleh bapak selalu berpegang teguh pada ajaran-ajaran agama dan selalu menempatkan spiritual di tempat yang paling tinggi. Ini jelas sangat berbeda dari filsafat yang saya ketahui selama ini dan membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar.

    ReplyDelete
  8. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Bertanya dan adanya pertanyaan merupakan salah satu indicator seseorang berfikir dan mengada. Refleksi pertemuan filsafat yang dituliskan saudari vivi nurvitasari sangat bagus karena bahasanya teratur dan apik sehingga mudah untuk dibaca dan dipelajari. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan juga memberikan kami banyak informasi dan ilmu untuk dipelajari. Menanggapi pertanyaan saudara suhariyono tentang keberagaman agama dalam filsafat berdasarakan jawaban Prof yang terefleksi diatas bahwa keberagaman agaman dalam filsafat merupakan perkara masing-masing individual. Agaman merupakan spiritual yang dijadikan landasan seseorang dalam berfilsafat agar pikiran dan hati memiliki benteng dan tidak berjalan sembarangan. Terima Kasih.

    ReplyDelete
  9. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Membaca jawaban Bapak untuk pertanyaan dari saudara Bayuk Nusantara membuat saya menyadari bahwa ada berbagai macam jenis kebenaran. Benar yang paling benar dan bersifat mutlak atau absolut adalah kebenaran spiritual atau kebenaran yang berasal dari Tuhan. Tapi terkadang dalam menerjemahkan kebenaran spiritual saja, masih banyak orang yang berdebat tentang nilai benar dan salahnya.

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Filsafat merupakan olah pikir, filsafat merupakan Bahasa. Maka karena filsafat merupakan olah pikir, setiap orang pastilah memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam melihat suatu fenomena. Maka sangatlah wajar jika setiap filsuf memiliki pemikirannya sendiri-sendiri. Sangatlah wajar jika pendapat seorang filsuf berbeda dengan filsuf lainnya. Filsafat merupakan Bahasa. Bahasa yang manusia gunakan untuk menyampaikan pemikirannya juga pastilah berbeda-beda. Dan dengannya semakin berbeda-beda lagi dalam pemahaman setiap orang.

    ReplyDelete

  11. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs P.Mat C

    filsafat merupakan diri kita sendiri, sehingga dalam menjawa pertanyaan menurut filsafat sebenarnya tidak ada yang salah, karena jawaban tersebut merupakan pikiran kita sendiri dalam menerjemahkannya dengan bahasa kita. jika jawaban di dasarkan dengan pemikiran filsafat maka jawaban antara satu dengan yang lainnya sangat besarkemungkinannay untuk memiliki jawaban yang berbeda.

    ReplyDelete
  12. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Hal yang sangat menarik adalah ketika hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai nol. Hal ini tidak hanya menandakan bahwa mahasiswa belum memahami apa yang diajarkan oleh dosen,namun lebih dari itu semua hal ini menjadikan mahasiswa untuk terus belajar dan belajar. Selain itu juga agar mahasiswa tidak berlaku sombong dan terkena mitos akan kepuasan ilmu yang ia ketahui. Sehingga diharapkan mahasiswa selalu mengintropeksi diri bahwa ilmu yang telah didapat masihlah sangat sedikit.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  13. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dari hasil refleksi diatas, saya tau bahwa sesuatu itu dikatakan benar jika sesuai dengan ruang-waktunya, sedangkan hal itu dikatakan salah jika tidak sesuai dengan ruang-waktunya. Maka, mulai sekarang kita hendaknya menempatkan semua sesuai ruang dan waktu.
    Karena filsafat adalah penjelasan dari dirimu, menurut saya filsafat itu kompleks karena harus sesuai dengan 3 pilar yaitu Ontologi, Epistemologi, Aksiologi. Dengan banyak belajar dan membaca, suatu saat filsafat akan menjadi sederhana tergantung ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  14. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Ilmu filsafat merupakan ilmu olah pikir, sehingga dalam memandang struktur kehidupan masing-masing individu pastilah berbeda, menggunakan pikiran tertentu. Bahwasanya setiap individu mempunyai alasan dan masalah tertentu dalam menjalani kehidupan. Cara pandang individu A mungkin berbeda dengan individu B, juga C dan seterusnya. Baik A, B, C dan yang lainnya mempunyai alasan khusus kenapa melakukan hal tertentu tersebut sesuai pemikirannya.

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Mengenai tes jawab singkat, saya pikir bukan hanya untuk mengetahui kemampuan kita namun juga menyadarkan kembali pada kita bahwa sebenarnya ilmu kita masih perlu untuk ditambah, masih perlu banyak belajar. Jangan pernah merasa bahwa ilmu kita telah tinggi dengan apa yang telah kita dapat, karena sebenar-benarnya ilmu sangatlah luas. Inilah pelajaran yang mungkin ingin Prof tanamkan pada kita bahwa kita harus selalu belajar, tidak bersifat sombong dan sok tau.

    ReplyDelete
  16. Junianto
    PM C
    17709251065

    Sering Prof sampaikan bahwa filsafat adalah dirimu sendiri. Itu artinya bahwa kita tidak bisa memahami filsafat orang lain 100%. Ini bisa dilihat dari tes jawab singkat Prof Marsigit dimana hampir semua mahasiswa mendapatkan nilai 0. Disampaikan pula bahwa seorang filsuf pun bisa jadi mendapat nilai 0 dari tes jawab singkat tersebut. Maka dari itu, filsafat tidak lain dan tidak bukan adalah dirimu sendiri jadi sangat wajar ketika kita belum bisamemahami filsafat orang lain karena orang lain memiliki filsafatnya sendiri.

    ReplyDelete
  17. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Sebaiknya, kita sebagai manusia harus bijak dalam ,e,andang berbagai struktur kehidupan yang ada di dunia ini. Karena jika manusia hanya memandang satu unsur struktur kehidupan atau hanya memandang stuktur kehidpan yang terbatas, maka mereka akan terkena mitos dikarena pengetahuan mereka juga yang terbatas. Struktur kehidupan yang ada di dunia ini merupakan satu kesatuan yang memang saling berhubungan satu sama lain, sehingga antara struktur yang satu dengan yang lainnya haruslah seimbang dalam memandangnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  18. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    berdasarkan pemahaman saya setelah membaca, ketika kita harusnya menyadari kapan belum tahu, menyadari dan mengetahui ketidaktahuanku, menyadari kapan mulai mengetahui dan mengetahui batas antara tahu dan tidak tahu.Manusia memiliki keterbatasan, ketidaktahuan kita pasti sangat banyak, namun dengan semakin banyak ketidaktahuan, menandakan sejauh mana seorang manusia mencari pengetahuan. Semakin tidak tahu, semakin berusaha mencari tahu.

    ReplyDelete
  19. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Belajar filsafat artinya adalah mempelajari pemikiran para filsuf. Bagaimana kita bisa mempelajari pemikiran para filsuf ialah dengan membaca, membaca, dan membaca. Membaca apa saja yang seorang filsuf argumenkan, membaca apa yang filsuf rumuskan, membaca apa yang filsuf temukan, membaca apa yang filsuf perdebatkan, dsb. Dalam mempelajarinya, hanya agama lah yang dijadikan sebagai pedoman atau landasan. Karena agama berbeda dengan filsafat dan keduanya tidak bisa dicampur adukkan. Manusia bebas berpikir, manusia bebas belajar, manusia bebas berpendapat, dsb. Karena bukan hal yang tidak mungkin bahwa manusia dapat menembus ruang dan waktu melalui pikirannya.

    ReplyDelete
  20. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Sebenarnya manusia tanpa disadari setiap waktu itu berfilsafat, karena filsafat itu adalah olah pikir. Maka dalam kehidupan sehari-hari sangat tidak mungkin jika kita tidak melakukan proses berpikir. Orang bertanya itu termasuk filsafat, karena dia melakukan olah pikir juga. Karena olah pikir, maka akan ada konflik pemikiran yang terjadi antara pemikirannya dengan pemikiran yang dipelajari. Maka dalam belajar filsafat akan bahaya jika tidak dilandasi dengan iman yang kuat, akan mudah terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran lain. Membuat komen merupakan langkah bijaksana untuk setiap orang yang ingin berfilsafat. Karena akan melakukan olah pikir atas apa yang dia pelajari. Dan orang itu bisa dikatakan bijaksana apabila mengerti caranya menggunakan filsafat untuk dapat membantu kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Bisa menyesuaikan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  21. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Mungkin apa yang dialami saudari vivi sama halnya dengan saya. Alhamdulillah saya tidak perlu berkecil hati sesuai dengan kata Prof Marsigit. Justru hal ini bisa menjadi pacuan untuk saya untuk terus belajar. Seperti nasihat bapak "Seseorang, apalagi mahasiswa itu hanya bisanya membaca, berusaha, berikhtiar jangan patah semangat, diteruskan saja."

    ReplyDelete
  22. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Benar adalah ketika sesuai dengan ruang dan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari benar adalah ketika sesuai dengan norma yang berlaku disuatu masyarakat. Maka sesuatu yang benar di suatu tempat terkadang dianggap salah di tempat yang lain. Kebenaran bagi seorang manusia juga bersifat subjektif karena benar bagi dia belum tentu benar bagi ku. Tetapi ada pula kebenaran yang absolut yaitu kebenaran spiritual. Kebenaran Allah SWT adalah mutlak dimana kita harus mengikuti perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.

    ReplyDelete
  23. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Filsafat adalah ilmu yang bisa menembus ruang dan waktu. Nilai benar dan salahnya itu harus bersesuaian dengan ruang dan waktu, karena musuh dari filsafat itu sendiri tidak sesuai dengan ruang dan waktu. Kebanaran yang hakiki adalah milik Allah Semata, tetapi manusia memiliki nilai benar yang sesuai dengan ajaran atau landasan yang berlaku. filsafat juga merupakan ilmu olah pikir secara luas dan mendalam. Sehingga filsafat juga mengajarkan yang namanya hermenetika di dalam kehidupan.

    ReplyDelete