Nov 4, 2015

Menembus Ruang dan Waktu


Direfleksikan oleh Fitriani, S.Pd, 15709251067
PPs Prodi Pendidikan Matematika A 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015
Diperbaiki oleh Marsigit

Assalamualaikum wr.wb
Pada pertemuan ke-7 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Selasa tanggal 27 Oktober 2015 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 305B Gudung lama Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan tes jawab singkat dengan topik “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” adapun bentuk-bentuk dari pertanyaan Beliau seperti berikut:

Pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti

Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar.

Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Istilah ini diambil dari kata latin abad tengah Fallibilis. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin.

 Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Jika engkau belum membaca Elegi-elegi, maka adalah Benar jika nilai anda adalah nol. Maka sebenar-benar Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan Subjekya; untuk melindungi siswa SD dari ketersemena-menaanya gurunya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Terkait dengan nilai yang belum meningkat, ini merupakan pertanda bahwa “Anda Masih perlu memperbanyak Bacaan” karena dalam tes yang saya buat ini,  bukan hanya mengukur kemampuan tetapi sebagai pembelajaran bahwa ternyata “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit). Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.

Berfikir isomorfis merupakan pemikiran yang sepadan yang menggambarkan pemetaan satu-satu. Misalnya pemikiran seseorang mengatakan bahwa di Indonesia ada Jakarta, di benua Kutub ada beruang merupakan contoh pemikiran Isomorfis. Setiap orang dapat mengatakan apa yang difikirkannya kecuali orang yang mabuk, pikun dan gila. Maka pikiran dua orang bersifat Isomorpis, pikiran banyak orang juga bersifat Isomorpis, bahkan pikiranmu dengan Dunia ini juga Isomorpis. Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya, di dala pikiran kita. Aku punya konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst; maka pikiranmu juga mempunyai konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst. Itulah bahwa pikiran kita saling berisomorpis.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.

Dengan demikian, tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Namun, perlu diketahun bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati maksudnya adalah agar seseorang tidak merasa sombong dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”. Di dalam tingkatan normatif pemikiran, ketika seseorang yang merasa sombong di dalam dirinya maka seseorang tersebut telah terkena MITOS. Kerena setinggi-tingginya pemikiran maka ancamannya adalah MITOS. Kerena dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu Spiritual. Ada kalanya seseorang ketika berada dalam tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus  terhenti dan diturunkan ke hati, contohnya ketika proses ibadah. Proses ibadah yang dimaksud terkhususnya adalah do’a. Doa yang diteruskan dari pemikiran yang terhenti akan diteruskan ke hati sehingga akan diambil alih oleh Sang Maha Kuasa.

Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT. Amin. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, maka kita menemukan terminologi Kesadaran Hati. Jika kita ekstensikan maka kita akan menemukan lagi Kecerdasan Hati, Ilmu Hati, Metode Hati, …dst. Itu hanya dapat dipahami dengan spiritualitas kita masing-masing. Sedangkan terminologi yang dihasilkan semata-mata menunjukkan keterbatasan bahasa atau ungkapan untuk menggambarkan Dunia Hati. Jangankan bahasa atau istilah, sedangkan pikiran kita juga tidak akan tuntas mampu mengetahui relung hati kita masing-masing.

Berdasarkan pengalaman Beliau Bapak Marsigit yang telah itikaf di mesjid dibimbing oleh para SUFI selama beberapa hari hanya untuk memperbaiki ibadah, tata cara sholat, doa dan sebagainya sehingga Beliau dapat mengetahui bahwa ada fase dimana pemikiran berhenti dan diteruskan ke hati. dan doa tersebut diambil alih oleh sang Maha Kuasa. “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.

Pertanyaan 2 dari Evvy Lusiana

Bagaimana pandangan filsafat tentang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mengenai pemimpin berarti ada pemimpin dan ada yang dipimpin termasuk struktur dunia yang lengkap berdimensi. Tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin.  Pemimpin merupakan dewa bagi orang yang dipimpin. Sehingga Logika Para Dewa berarti Logika Para Pemimpin. Contohnya “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”. Sehingga divisualisasikan dalam bentuk perwayangan atau cerita sehingga berbicara yang berkaitan dengan Para Dewa pun sebenarnya juga berstruktur seperti ada Dewa Raja, ada Dewa Prajurit, ada Dewa Perdana Menteri, ada Dewa Lurah dan seterusnya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki logika Para Dewa, kontradiksi Para Dewa, kesalahan Para Dewa dan seterusnya. 

Mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu yang baik berarti dapat dianalogikan sebagai hubungan antara subyek dan predikat yang mempunya dimensi yang lebih tinggi. Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat. Maka masing-masing dari kita adalah pemimpin dari sifat-sifat kita masing-masing. Menjadi pemimpin yang baik  harus memenuhi dimensi yang lebih tinggi maka pikiran lebih luas dan dalam serta pengalaman yang lebih luas dan mendalam. Baik secara fisik seorang pemimpin harus kuat. Secara formalnya, misalnya dengan melanjutkan pendidikan S2 bagi pemimpin merupakan peningkatan dimensi untuk menjadi pemimpin yang baik yang merupakan indikator titik point peningkatan dimensi.

Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Manusia hidup menuju dimensi yang lebih baik dalam fenomena garis lurus dalam siklik yang berputar. Pada perputaran siklik ada fase dimana manusia menjumpai peristiwa yang sama, misalnya selalu mengalami keadaan Hari Minggi tiap minggunya, manusia lupa ketika telah lanjut usia dan kembali ke sifat kekanak-kanakan. Hal ini berarti dalam hidup anda tidak berarti bahwa Anda akan semakin hebat melainkan ada fase dimana Anda lupa atau menjadi pikun. Fase siklik dari kehidupan yang terluar adalah adalah spiritual. Fase siklik ini bagi dunia timur atau spiritualisme, merupakan wadahnya bagi manusia untuk menyukuri hidup; maka orang bijaksana di timur adalah orang yang pandai bersyukur. Fase siklik inilah yang tidak dimiliki oleh negeri negeri Barat. Fase kehidupan negeri Barat merupakan diagram lurus (open ended) yang memiliki ended yang terbuka sehingga tidak mengerti hidupnya mau kemana ujungnya mau kemana dan tujuannya kemana; dengan filsafat hidup mencari terus dan terus mencari. Maka bijaksana menurut dunia barat adalah manusia yang sedang mencari.

Siklik terluar di negeri kita adalah Spriritualitasme yang berpengang teguh pada keyakian masing-masing dan berbasis serta dipayungi oleh spriritualisme masing-masing. Sehebat-hebat pikiran dan sepusing-pusing pikiran maka berhentilah dan mulai mengambil air wudhu kemudian sholat bagi umat muslim dan beribadah yang lain sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Siklikkanlah pikiran dan kegiatan anda sehingga mampu menghayati karunia dan kebesaran Tuhan.

Jika fenomena siklik kita ditambah unsur linear maka itulah yang namanya fenomena hidup maju berkelanjutan, ituleh hermenitika hidup yaitu terjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermenitika hidup itulah metode hidup yang sesuai dengansunatullah atau kodrat tuhan; wujudnya dalam masyarakat adalah saling bersilaturakhim. Inilah harta karun dunia timur yang belum digali. Jika digali dan dikembangkan maka kita akan mempunyai metode pembelajaran dengan Metode Silaturakhim. Mengapa tidak? Renungkanlah

Sifat pemimpin dianalogikan sebagai hubungan subyek dan predikat. Bagaimana seorang pemimping megeloha sifat-sifatnya. Contohnya memiliki kulit sawo matang, berambut keriting, berbadan kurus, dan seterusnya yang berjumlah semilyar pangkat semilyar lebih sifat yang ada pada diri pemimpin, belum lagi sifat-sifat yang ada di luar diri pemimpin.

Maka sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna memiliki sifat. Misalnya penglihatan manusia yang tidak lengkap merupakan sifat yang mesti disyukuri sebab jika manusia memiliki penglihatan yang lengkap maka   manusia tidak akan hidup dengan tenang bahkan salalu pingsan jika memandang sesama. Sehingga sebenar-benar manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Sipemilik sifat diterminis adalah Subjek, yang dijatuhi sifat diterminis adalah objeknya.  Maka godaan yang paling besar dari seorang pemimpin (sebagai subjek) adalah menggunakan kuasanya terhadap objeknya. Godaan terbesar seorang guru adalah menjatuhkan sifat kepada murid-muridnya, dimana sifat yang dijatuhkan belum tentu cocok dengan keadannya. Itulah maka sebagian dosa-dosa kita adalah dikarenakan sifat diterminis kita.

Secara netral kita bisa determin dengan menyebutnya si A tinggi, si B jangkung dst; tetapi kategori tinggi di Indonesia belum tentu kategori tinggi di negara lain seperti pemain basket Amerika. Maka dalam menjalani hidup ini khususnya pemimpin haruslah berhati-hati tidak boleh semena-mena menjatuhkan sifat orang yang dipimpin, karena sifat yang dijatuhkan jika tidak tepat, maka dampaknya bisa sangat besar bagi objeknya. Jatuhnya sebuah sifat itu merupakan fenomena abstraksi, karena manusia tidak mungkin memikirkan semua sifat, melainkan hanya sedikit sifat sesuai yang mampu dipikirkan sesuai keadaan subjektif dirinya. Sehingga menjadi seorang pemimpin yang ideal perlu mengamalkan ayat-ayat Spiritualitas kepemimpinan yang ada.

Pertanyaan 3 dari Tri Rahma Silviani

Dalam mengolah pikir dalam menembus ruang dan waktu tentang olah pikir yang menembus dunia. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas? 

Jawaban Beliau Bapak Prof.Marsigit M.A

Caranya adalah sesuai dengan hukum Tuhan dan SunnatullahNya beserta kondratnya yang dimana ikhlas juga termasuk kodratNya. Maka definisi ikhlas menurut Beliau dimulai dari level bawah dari Spiritual dalam filsafat merupakan keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. seperti ikhlasnya batu menembus ruang dan waktu, yang tidak satupun batu yang protes dalam menjalani kehidupannya. Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu. Misalnya ruangan menjadi gelap disebabkan ada bom merupakan contoh salah ruang dan waktu karena merupakan kejadian yang dipaksa agar gelap. Itulah contoh tidak ikhlas. Ikhlas adalah unsurnya surga dan tidak ikhlas adalah unsurnya neraka.

Secara materialnya, normatifnya, formalnya sampai kepada Spiritualnya dalam menembus ruang dan waktu itu, semua terjadi karena keikhlasan. Jadi saya mendefinisikan keikhlasan secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya. Sehingga kejadian seperti hari kiamat pun merupakan keikhlasan jika itu sudah merupaka suratan takdir. Tetapi manusia bisa saja mengalami ketidakikhlasan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misal ketika sengaja minum obat overdosis, bisa saja dunia subjektifnya kemudian mempunyai 2(dua) matahari, matahari terbit dari selatan..dst. Itu adalah fenomena tidak ikhlas. Maka sebenar-benar tidak ikhlas adalah perbuatan unsur-unsurnya syaiton. Na’u dzubillah mindalik. Maka bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. 

Pertanyaan 4 dari Fitriani

Apa bedanya Para Dewa dengan Power Now?

Jawaban Beliau Bapak Prof Marsigit, M.A  

Ayam itu Dewanya Cacing
Cacing itu Dewanya Tanah
Kakak Dewanya Adeknya
Engkau Dewa dari Kendaraamu
Mentri merupakan Dewanya Dosen
Pengulu merupakan Dewa pernikahan

Maka sebenar-benar yang dimaksud para Dewa adalah subjeknya. Sehingga di dunia ini Amerika itu merupakan negara Dewa. Sama halnya dengan Rusia dan Cina merupakan negara para DEWA karena memiliki senjata nuklir yang dimana bisa atau mampu menghancurkan sebuah negara dengan senjata nuklirnya. Sehingga kumpulan ilmu politik, sosio politik, dan seterusnya jadilah istilah  POWER NOW yang dibuat oleh negara-negara dewa tersebut. Tingkatannya dari dimensi yang rendah meliputi Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, Pos Modern dan Power Now. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tribal adalah dewanya para Archaic, Tradisional adalah dewanya para Tribal, Feudal adalah dewanya para Tradisional, Modern adalah dewanya para Feudal dan Pos Modern adalah dewanya para Modern ..demikian seterusnya.

Dimulai dengan peradaban Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now. Istilah modern yang sebenarnya telah ada pada masa 1700an pada masa Rene Decrates pada masa kontemporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewanya adalah Barat Obama sedangkan Power Now adalah kekuasaan dari negara Dewa tersebut. 

Pertanyaan 5 dari Nur Afni R N

Apa bedanya Power Now dengan Super Power?

Jawaban Beliau Bapak Marsigit M.A

Power Now itu digambarkan denga orang yang super maka tidak cukup kalau wajahnya cuma satu. Sehingga yang dilakukan oleh super power dalam perwayangan yaitu Prabu Arwana dengan banyak muka sehingga dikatakan Dasa Muka. Dasa muka meunjukkan hidup yang standar ganda. Jika mukanya satu maka standarnya satu kalau mukanya 10 maka standarnya 10 untuk memanipulasi ruang dan waktu. jangankan mukanya 10, orang yang mukanya 1 saja bisa punya banyak standar. Oleh karena itu, di daerah bergaul dengan negara-negara Super Power dan  sebagainya selalu menerapkan standar ganda. Dasa Muka sebagai lambang keburukan Prabu Rahwana; namun jangan dikira, hanya melalui kajian filsafatlah bahwa kita sebetulnya juga menemukan Prabu Ramawijawa (lambang kebaikan) akan mempunyai Dasa Muka dalam tanda petik. Dikarenakan khasanah kebaikan maka yang demikian tidak perlu diekspos supaya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Jika Prabu Ramawijaya tidak mempunyai sifat Dasa Muka pula maka dia tidak akan mampu mengalahkan Prabu Rahwana. Maka sebenar-benar sifat Dasa Muka atau Multifacet adalah berdimensi dan berstruktur. Setiap manusia mempunyai fatal (takdir) dan potensi (ikhtiar) untuk bersifat multifacet. Maka multifacet adalah struktur dan dimensinya dunianya manusia masing-masing; tanpa itu maka manusia tidak akan mampu menembus ruang dan waktu.

Standar ganda merupakan dua sisi yang berlainan seperti disisi lain ingin membantu namun di sisi lain ingin mengambil keuntungan. Sehingga sebenarnya menggambarkan standar ganda dengan menggunakan kata ganda pun tidak cukup sehingga diganti Multi Standar. Di dalam dunia perwayangan, Dunia jahat dikalahkan oleh kebaikan diibaratkan dengan Prabu Wijaya yang dibantu oleh Hanoman. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidk boleh hanya berperan satu atau dua saja dalam hidup ini. Misanya mulfaset mimik wajah yeng bisa sedih dan gembira, cemberut, sendara dan sebagainya. Maka sifat multifacet atau sifat ganda atau standar ganda atau standar multiple sekalipun itu dapat negatif dapat positif. Standar ganda yang negatif seperti sifat Prabu Rahwana atau negeri Superpower; standar ganda positif adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Sebenar-benar standar ganda adalah kontradiktifnya filsafat; itulah sifat dunia.

Pertanyaan 6 dari Retno Kusuma Dewi

Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? 

Jawaban Beliau Prof Marsigit M.A

Perbedaan agama merupakan suatu hal yang berdimensi dan berlevel. Sesuai dengan tingkatannya yaitu Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Masing-masing mempunyai dimensi dan level yang sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti halnya ibadah, seorang muslim tidak dapat mengajak seseorang yang beragama lain untuk mengikuti ibadah ke masjid, begitu juga sebaliknya. Ibadah jika diturunkan akan menjadi Ilmu-ilmu bidang seperti politik, tata negara. Dalam falsafah Pancasila terdapat monodualisme yaitu HABLUMMINALLAH yang merupakan hubungan antara makhluk denga makhluknya dan HABLUMMINANNAS meupakan hubungan dengan sesama manusia. Sehingga dalam Pancasila relevan mencerminkan bangsa Indonesia yaitu toleran yang meghargai perbedaan. 

Sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satudengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA. Semua memiliki budaya tersendiri. Budaya dapat menambah pengetahuan. Budaya yang satu dengan budaya yang lain dapat membentuk chemistri, dapat dipikirkan, dapat diinginkan dan dapat dilakukan. Maka kontradiksi itu hanya dipikiran saja namun tetaplah damai dalam hati.

Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih.

Wassalamualaikum wr.wb
         



199 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Orientasi dunia yang terpuasat oleh releksi kritiuas serta kemapuan pemikiran adalah proses mengetahui dan memahami. Dari sini manusia sebagai suatu proses dan ia adalah mahluk sejarah yang terikat dalam ruang dan waktu. Manusia memiliki kemapuan dan harus bangkit dan terlibat dalam proses sejarah dengan cara untuk menjadi lebih.

    ReplyDelete
  2. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Sebetulnya fisik manusia tidak pernah mampu menembus ruang dan waktu. Manusia hanya bisa menembus ruang dan waktu melalu metafisiknya. Sehingga manusia dikatakan menembus ruang dan waktu apabila dia berpikir. Dalam alam pikir, waktu berjalan relatif dengan kemampuan pikir individu tersebut. Saya bisa memikirkan pembangunan sebuah rumah lengkap bertingkat dalam waktu 10 detik, namun di dunia nyata, saya tidak dapat membuat rumah yang sama dengan yang saya pikirkan dengan waktu 10 detik. Ini lah menembus ruang dan waktu melalui pikiran. Ketika saya tidur, saya mengalami kejadian yang menyedihkan. Setelah terbangun, saya jadi teringat, ternyata mimpi tadi adalah mimpi kejadian di masa lalu. Namun ada pula kejadian yang belum pernah terjadi. Kejadian mimpi tersebut, juga merupakan kejadian menembus ruang dan waktu.
    Itu saja yang dapat saya komentari pak, mohon maaf tidak dapat mengomentari semua isi tulisan ini, karena saya ingin beranjak ke tulisan bapak yang lain lagi.

    ReplyDelete
  3. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya ingin menanggapi pertanyaan dari Azmi Yunianti "Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?".
    pertanyaan yang diungkapkan si penanya diatas sama seperti pengalaman saya sewaktu ujian singkat atau bisa disebut kuis pertama pada saat pembelajaran etnomatematika. Banyak dikelas saya yang mendapat nilai sangat rendah, bahkan ada juga yang tidak mendapat poin satupun. Hal ini terjadi dikarenakan mungkin kami belum paham dan belum mempunyai fikiran isomorpis dengan Prof. Marsigit, oleh karena itu wajib bagi kami untuk membaca blog Prof. Marsigit sehingga kami akan mempunyai fikiran yang isomorpis dengan Prof. dan pada akhirnya kami dapat mengikuti pembelajaran dengan faham.

    ReplyDelete
  4. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Segala sesuatu di dunia ini harus didefinisikan sesuai ruang dan waktu agar bernilai benar. Bisa jadi suatu hal bernilai benar detik ini namun belum tentu benar detik berikutnya. Karena hidup linier, cenderung manusia kehilangan barokah setiap harinya karena tidak menyadarinya. Godaan dan perjuangan semakin besar. Sifat dan karakteristik sampai dengan komponen apabila mau di jalankan haruslah berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  5. Inung Sundari
    14301241011
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Fallibilisme. Manusia bisa salah. Begitu pun siswa. Dalam proses belajarnya, siswa seringkali menemui kesulitan maupun kesalahan ketika mengerjakan soal yang kemudian membuat siswa mendapatkan nilai yang kurang baik. paham falliabilis memberikan pemahaman bagi siswa bahwa ketika dia melakukan kesalahan atau mendapatkan nilai kurang baik, itu adalah pertanda bila dia belum banyak belajar. Dengan paham ini, siswa juga dijak untuk menjadi pribadi yang rendah hati dan tidak sombong. Siswa perlu menyadari bahwa dia masih belum banyak tahu sehingga dia perlu banyak belajar. Salah satu hal yang perlu dimiliki siswa dalam melaksanakan kegiatan belajarnya adalah keikhlasan agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar.

    ReplyDelete
  6. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Saya tertarik untuk berkomentar tentang dewa pada pertanyaan nomor 4. Seperti yang pernah Pak Marsigit sampaikan pada perkuliahan bahwa antara dewa dengan daksa, tak selamanya dewa adalah dewa. Siswa kelas 6 adalah dewa bagi siswa kelas 4. Tapi siswa kelas 6 bukanlah dewa lagi bagi gurunya, melainkan guru yang menjadi dewa bagi siswa kelas 6 itu. Sehingga tergantung berhadapan dengan siapa baru dapat ditentukan kedudukannya sebagai dewa ataukah daksa.

    ReplyDelete
  7. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sangat termenung dengan kalimat Bapak yang mengatakan "Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya." Saat mendapatkan banyak cobaan dan ujian, kata-kata dari dalam diri untuk bisa lebih ikhlas akan bisa menjadikan kita lebih nyaman dalam menjalani berbagai hal.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    menembus ruang dan waktu mengajarkan kita arti keikhlasan, karna menerima keadaan yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. maka dengan terus berdoa melawan segala sesuatu yang menjadi mitos terhadap ruang dan waktunya. Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT.

    ReplyDelete
  9. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari bacaan di atas, saya mendapatkan ilmu baru yaitu tentang fallibilisme. Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Maksudnya dalam filsafat, salah itu benar. Ilmu ini sangat bermanfaat bagi para calon pendidik bahkan bagi para pendidik. Karena pada zaman sekarang masih banyak yang menyalangkan siswa apabila mendapatkan nilai yang jelek. Padahal alasan siswa mendapatkan nilai jelek itu berbagai macam. Alangkah lebih baik ketika pendidik dapat memaklumi itu, karena bisa saja itu merupakan suatu proses untuk mendapatkan nilai yang baik. Sehingga pendidik tidak semena – mena terhadap siswanya. Bagi saya sendiri, istilah baru ini sangat bermanfaat, membuka wawasan baru saya untuk lebih mengenal dunia pendidikan, khususnya pada saat proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  10. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Selain ilmu baru, setelah membaca bacaan di atas saya mendapatkan banyak pelajaran. Pertama, dimensi kita akan selalu meningkat apabila kita terus menambah ilmu kita, terus, terus, dan terus. Hal itu dapat dilakukan dengan memperbanyak membaca bacaan yang bermanfaat. Kedua, kita harus ikhlas menjalani hidup, karena semuanya sudah diatur dalam skenario terbaik-Nya. Ketiga adalah kita tidak bisa semena – mena terhadap orang lain, kita tidak bisa memaksakan apa yang kita inginkan. Di dunia ini sebenar – benarnya manusia itu berbeda satu dnegan yang lainnya. Sehingga kita harus memaklumi itu semua.

    ReplyDelete
  11. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam meberikan penilaian, entah benar atau salah, hendaknya dapat disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya. Karena sesungguhnya yang diberi penilaian adalah terkait dengan proses bukan langsung pada hasilnya. Yang bernilai benar bisa saja salah, dan yang bernilai salah belum tentu salah. Hal ini disesuaikan dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  12. Mutiara Khalida (NIM 13301241054)
    Kelas Filsafat Pendidikan Matematika 2013

    "Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat." kalimat ini sangat saya ingat, pemimpin adalah seseorang yang memimpin predikat. Maka dari itu pilihan-pilihan yang ditentukan pemimpin pun akan dilakukan oleh predikat. Maka dari itu, pemimpin lebih baik berhati-hati dalam membuat keputusan.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Mufti Hanafi
    13301244005
    Pendidikan Matematika 2013

    Musuh terbesar dalam setiap jati diri manusia yang dituangkan dalam elegi elegi adalah kesombongan, seorang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain, bersifat kejumawaan.
    Tatkala seorang mendapati dihadapannya kebenaran baru tak perlu memunculkan mitos baru yang menutupi peluang hatinya menerima kebenaran tersebut.kaitannya dengan pemimpin dan ruang dan waktu maka masing- masing pribadi adalah pemimpin dalam ruang dan waktunya. Sehingga tidak ada alasan untuk menghindar dari tugas memimpin.

    ReplyDelete
  14. Berfilsafat adalah mencari kebijaksanaan dengan mendayagunakan olah pikir. Belajar filsafat bukan secara formal dengan mendefinisikannya secara teoritis. Karena jika kita belajar filsafat secara formal kita kehilangan makna dari berfilsafat. Filsafat dibangun dan dibentuk dari dalam diri manusia yang melakukan pencarian kebenaran, mencari pencerahan atau penjelasan Kita tidak mampu mendefinisikan filsafat secara pasti karena filsafat adalah diri kita sendiri yang relatif terhadap ruang dan waktu. Bahwa ucapan tidak apat dijelaskan dengan tulisan dan pikiran belum mampu dijelaskan oleh ucapan secara sempurna apalagi untuk menjelaskan perasaan dan hati. Sesuatu yang dapat dirasakan tetapi tidak dapat dijelaskan dan bila dijelaskan kadang berbeda dengan yang awal. Dengan meningkatkan dimensi dengan berfilsafat maka diharapkan hal-hal tersebut dapat dijelaskan.

    ReplyDelete
  15. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Dalam menembus dimensi ruang dan waktu tentunya tidak akan terlepas dari 4 dimensi kehidupan yaitu material, normatif, formal dan spiritual. Penggambaran batu sebagai objek yang mampu menembus ruang dan waktu sebagai contoh pembelajaran kepada kita berata IKHLASNYA batu dalam menembus ruang dan waktu. Bagaimanapun ruang dan waktu sebagai unsur yang bermain dalam dunia ini tetaplah batu tersebut mengikuti ruang dan waktu tidak protes, bahkan batu mengikuti apa yang menjadi ketentuan ruang dan waktu. maka marilah kita belajar dari batu dengan ikhlasnya menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  16. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Banyak manusia yang malas dan tidak menggunakan sebaik mungkin waktu yang dimilikinya dan malah bersantai santai sekan akan memiliki waktu yang masih panjang dikemudian hari. padahal belum tentu kita masih mempunyai watu luang besok. karena ingatlah bahwa gunakan waktu luangmu sebelum datang waktu sempitmu. jangan bersantai santai sekan akan masih ada waktu banyak tetapi lakukan apa yang bisa dilakukan saat ini.

    ReplyDelete
  17. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING” dari kalimat itu saya menyadari bahwa untuk mendapatkan suatu kebenaran atau suatu nilai harus mengetahui seberapa besar usaha kita untuk bisa paham. Sering kali kita menuntut nilai yang bagus tetapi tidak sesuai dengan pemahaman yang kita punya. Dalam filsafat agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir seperti yang diinginkan dosen atau di sini beliau Bapak Prof. Marsigit M.A. kita harus bisa memahami pikiran-pikiran yang ada dalam pikiran beliau dengan banyak membaca elegy-elegi agar kita bisa memahami filsafat dengan benar.

    ReplyDelete
  18. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    jawaban Pak marsigit untuk penanya pertama, mengajarkan bahwa belajar filsafat tidak selalu tentang nilai bagus dan nilai jelek. lebih dari itu, belajar filsafat dapat mendeteksi seberapa jauh kita memahami dan mendalami filsafat itu sendiri. jika nilai masih buruk, mungkin belajar kita masih kurang. inti dari belajar dan tes filsafat bukanlah nilai, namun kerendahan hati dalam bidang keilmuan.

    ReplyDelete
  19. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    komentar saya secara keseluruhan postingan ini adalah pentingnya menyadari ruang dan waktu. semua yang ada dan yang mungkin ada mempunyai porsi sendiri-sendiri pada ruang dan waktu. dan filsafat adalah diri sendiri. semakin banyak kita belajar filsafat, maka seharusnya kita semakin mengerti diri sendiri, akan kelebihan dan kekurangan, perihal kerendahan hati dan kejernihan olah pikir.

    ReplyDelete
  20. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Orang yang menembus batas ruang dan waktu adalah
    Orang yang bisa melewati waktu dan ruang (tempat) yang tidak bisa dilewati oleh manusia biasa di zamannya.
    Orang yang mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dilakukan oleh manusia lain di zamannya sehingga jarak yang jauh terasa singkat, waktu pun terasa lebih lambat baginya dibandingkan manusia lainnya.
    Orang yang berada di tempat (ruang) yang mana waktu di sana berjalan lebih lambat daripada waktu yang dijalani manusia di muka bumi sehingga di sana ia menjadi awet muda.

    ReplyDelete
  21. Nahrul Pintoko Aji
    14301244008
    Pendidikan Matematika A 2014

    Kita bisa mengambil contoh kisah ashabul kahfi yang di ceritakan dalam al quran. Di masa sekarang pun banyak orang yang bisa menembus batas ruang dan waktu. Menurut saya kekuatan perasaan menjadi pemacu kemampua tersebu. Cinta dengan makhluk sudah bisa mampu membuat orang memiliki kemampuan menembus ruang dan waktu, walaupun tidak semua orang bisa. Lebih lebih cinta kepada Allah, hal ini lah yang membuat para kekasih Allah memiliki kemampuan khusus termasuk kemampuan mengunjungi dimensi dimensi yang tinggi dan orang awam sering tidak percaya dengan ini karena perbedaan pengalaman dan ilmu.

    ReplyDelete
  22. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam filsafat kesalahan dapat di pandang menjadi suatu yang benar. Paham ini dinamakan suatu Fallibisme. Dalam tulisannya salah itu masih wajar karena belum belajar. Dalam praktik pendidikannya pak Prof mengilustrasikannya kedalam proses belajar, ketika guru belum maksimal dalam memfasilitasi siswa ketika belajar maka kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa itu wajar.

    ReplyDelete
  23. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Memahami belum faham itu penting sebagai tolak ukur posisi kita dimana. Dengan begitu kita dapat termotivasi untuk mengupgrade diri kita menjadi lebih baik lagi. Salah satu cara terbaik yang di bahas disini adalah dengan membaca. Ada istilah bahwa “Membaca merupakan jendela dunia” yang artinya ketika kita membaca kita mampu melihat keluar apa yang tak nampak dalam pikiran kita sehingga pikiran kita dapat terbuka dan dinamis.

    ReplyDelete
  24. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pada jawaban pertama pak Prof. Marsigit ditekankan bahwa untuk belajar filsafat ke beliau maka kita perlu membaca pola berfikir beliau yakni salah satunya dengan membaca tulisan-tulisan beliau. Proses menyamakan ini diistilahkan sebagai isomorpis. Dan dengan cara membaca dan mengomentari ini juga merupakan suatu proses saya meng-isomorpiskan persepsi saya agar sefrekuensi dengan beliau .

    ReplyDelete
  25. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Tidak dapat dipungkiri saat melakukan tes mungkin nilai kita tak sesuai harapan atau bahkan jauh dari harapan. Menuut jawaban pak Prof. Marsigit saya menyimpulkan bahwasannya hal tadi itu merupakan salah satu teguran dari Allah SWT agar kita tidak sombong. Bisa saja sebelum tes kita menguasai materi yang akan diujikan lantas kita sombong lalu kemudian ketika tes tiba Allah berikan kita lupa sehingga kita tidak mampu mengerjakan tes secara maksimal.

    ReplyDelete
  26. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sebagai manusia kita tidak boleh menjadi sombong. Seberapapun kaya , pandai serta cantik kita hanyalah makhluk ciptaan Allah. Hakikat kita hidup adalah untuk beribadah kepada Allah jadi merugilah mereka orang-orang yang sombong . Tak ada manusia yang sempurna karena kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

    ReplyDelete
  27. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Pemimpin memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding lainnya. Hakikatnya menajdi pemimpin disini diartikan merupakan seseorang yang memiliki kemampuan (dimensi) diatas rata-rata yang lainnya. Seperti yang disebutkan pada jawaban pak Prof. Marsigit bahwa kakak dapat menjadi pemimpin bagi adik-adiknya bahkan kita sendiripun merupakan pemimpin bagi diri kita sendiri

    ReplyDelete
  28. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Indikator menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijak yakni memiliki keterbukaan dalam pemikiran dan tentunya pengalaman luas dan mendalam. Tidak dapat dipungkiri indikator tersebut dibutuhkan karena nanti seorang pemimpin harus mampu membuat suatu keputusan bijak yang meminimalkan resiko untuk keseluruhan rakyat yang dipimpin.

    ReplyDelete
  29. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    “Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik” hal ini linear dengan perintah Allah bahwasannya hari ini haruslah lebih baik dari hari sebelumnya. Merugi dan celakalah orang-orang yang hari ini sama ataupun tidak lebih baik dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  30. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Kehidupan manusia itu seperti roda yang berputar (siklik). Ada suatu masa kejayaan ada pula masa keterpurukan. Setiap orang memiliki cara tersendiri dalam menghadapi masa-masa tersebut. Masa kejayaan ataupun terpuruk merupakan suatu ujian dari Allah semua masa akan selalu dipertanggung jawabkan pada akhirnya.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Setiap fase kehidupan merupakan suatu pembelajaran. Entah ketika kita berada pada fase tertinggi ataupun terendah. Ketika berada dalam fase tertinggi maka jangan lupa untuk memandang ke bawah agar kita selalu bersyukur atas karunia yang telah dilimpahkan-Nya. Begitu pula ketika berada pada fase terendah janganlah bersedih hati, tengoklah ke atas ada Dzat yang Maha Kuasa minta, berdoa kepada yang Kuasa untuk dinaikan derajat dan tingkatannya.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dalam jawaban dari pertanyaan kedua ini pak Prof. Marsigit menyinggunga bahwa tidak ada seorang manusia di bumi ini yang sempurna karena hakikat kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata. Jadi meskipun nantinya sebagian orang menjadi pemimpin mereka tidak boleh semena-mena dan zalim terhadap yang dipimpin.

    ReplyDelete
  33. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menjadi seorang pemimpin artinya berani berkorban , berlaku adil tidak semena-mena terhadap apa yang dipimpin.Pemimpin yang baik juga harus mamu menempatkan prioritas bersama di atas dirinya.

    ReplyDelete
  34. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Keikhlasan itu diibaratkan tidak ada paksaan. Ketika dalam melakukan suatu hal ada keterpaksaan maka tidak ada keikhlasan dalam hal tersebut. Ikhlas disini dijaawab merupakan salah satu unsur surga begitu sebaliknya ketidak ikhlasan disini merupakan unsur neraka. Maka dari itu ketidak ikhlasan dalam diri itu merupakan suatu perbuatan hasutan dari syaiton.

    ReplyDelete
  35. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Sebaik-baik melakukan sesuatu harus dilandasi rasa ikhlas. Karena ketika melakukan suatu tanpa ikhlas (ada indikasi tidak ikhlas) maka hal yang kita kerjakan hanya mendapat ganjaran lelah saja. Berbeda halnya dengan dilandasi ikhlas meskipun lelah apa yang kita lakukan juga dihitung sebagai ibadah Insya Allah.

    ReplyDelete
  36. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Dewa dan Power Now dipandang berbeda. Pak Prof. Marsigit menekankan bahwa yang dianggap dewa lebih ke subjek (pelakunya) sedangkan power now tatanan kekuasaan (alat) yang digunakan dewa itu sendiri.

    ReplyDelete
  37. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Agama adalah sesuatu yang tidak dapat dipaksakan hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an untukku agamaku dan untukmu agamamu. Di Indonesia sendiri prinsip tersebut telah dijadikan sebagai landasan negara yang tertuang dalam Pancasila kemudian dijabarkan dalam UUD 1945 pasal 29 dimana masyarakat diberikan kebebasan dalam emilih agama sendiri.

    ReplyDelete
  38. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Menembus ruang dan waktu. sebagai manusia kita hanya dapat menjalani waktu yang kita miliki dengan sebaik baiknya jangan sampai terbuang sis sia begitu saja, gunakan untuk mencari ilmu beribadah kepada Tuhan YME bukannya melakukan hal hal yang dilarang.

    ReplyDelete
  39. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan MAtematika I 2014

    Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Inilah tujuan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan hanya menikmati kehidupan, tetapi menikmati kehidupan yang membawa kita ke arah yang lebih baik.

    ReplyDelete
  40. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah...
    Cara menembus ruang dan waktu adalah dengan keikhlasan. Ikhlas ada dua yaitu ikhlas hati dan ikhlas pikir. Ikhlas hati adalah jika kita melakukan sesuatu tanpa paksaan dan tidak mengharapkan imbalan. Sedangkan ikhlas pikir yakni ketika kita mempelajari sebuah ilmu yang baru maka kita dapat memahaminya dengan cara mengungkapkannya kembali atau membuat sintesis-sintesis. Ingat bahwa hidup itu hanya sekali. Jangan sampai kita merugi dengan membuang-buang waktu melakukan sesuatu hal dengan terpaksa. Segala sesuatu harus diniatkan dengan ikhlas. agar kita mampu memetik pelajaran darinya.

    ReplyDelete
  41. Dheanisa Prachma Maharani
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dari postingan ini, saya belajar tentang paham falibilisme.
    Falibilisme adalah doktrin filosofis yang menyatakan bahwa semua pengetahuan bisa salah. Beberapa fasibilis bahkan berkata bahwa kepastian mutlak pengetahuan itu tidak mungkin. Kepastian mutlak atau absolut hanya milik Tuhan.
    Oleh sebab itu, pemikiran bahwa kita "aku belum paham" utu penting adanya agar kita tak cepat puas akan sesuatu dan menyadari bahwa diatas langit masih ada langit
    Terimakasih

    ReplyDelete
  42. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam postingan ini saya juga berpikir tentang pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu. Pemimpin dan yang dipimpin dianalogikan sebagai subyek dan predikat. Pemimpin adalah subyek yang bertugas memimpin predikatnya. Oleh karena itu, pemimpin yang baik harus memenuhi dimensi pengetahuan yang lebih tinggi. Pemimpin haruslah meningkatkan dimensi pengetahuan mereka.
    Disisi lain, sejatinya kita semua adalah pemimpin. Kita adalah pemimpin dari sifat kita masing masing. Kita semua harus bisa mengelola sifat masing-masing

    Terimakasih

    ReplyDelete
  43. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam postingan ini saya juga belajar tentang menembus ruang dan waktu dengan keikhlasan. Keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak atau penentangan kodrat itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  44. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Selain itu, saya juga belajar tentang perbedaan dewa dan power now. Pemimpin itu diibaratkan para dewa. Pemimpin dan yang dipimpin diibaratkan sebagai predikat dan subjeknya. Dimana pemimpin atau dewa tadi memimpin subjeknya.
    Sedankan Power Now adalah kumpulan ilmu politik, sosio politik yang dibuat oleh negara-negara yang dianggap dewa oleh negara yang lain.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  45. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Dalam postingan ini juga saya memaknai bahwa memiliki "wajah banyak" itu tak selamanya buruk jika dimaknai dengan positif. Memiliki wajah yang banyak berarti kita memiliki standar ganda. dengan memiliki "wajah banyak" ini berarti kita belajar agar bisa menjawab seluruh tantangan jaman.
    Namun, istilah "wajah banyak" ini harus dimaknai dengan positif agar tercipta kehidupan yang harmoni dengan standar ganda.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  46. Dheanisa Prachma Maharani
    14301241037
    S1 Pend. Matematika A 2014

    Perbedaan agama adalah hal yang lumrah terjadi mengingat negara kita adalah negera bhineka. Namun harus kita ingat bahwa kebhinekaan itu disatukan oleh Pancasila. Maka sebaik-baik kita sebagai bangsa ini adalah bertoleransi antar agama agar terjadi kerukunan antar umat beragama tanpa terjadi sesuatu yang tidak stabil.

    Terimakasih

    ReplyDelete
  47. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari postingan tersebut saya mendapatkan pelajaran salah satunya tentang fallibilisme yaitu prinsip bahwa manusia bisa salah. Yang menyadarkan kita calon guru bahwa kesalahan yang dilakukan siswa adalah kebenaran, maka janganlah sekali-kali menyalahkan anak atau siswa yang salah dalam menjawab pertanyaan, karena bisa jadi justru hal itu karena gurunya yang kurang memfailitasi si anak. Fallibisme inilah aliran filsafat yang melindungi si anak (objek) dari kesemena-menaan gutu (subjeknya).

    ReplyDelete
  48. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah tujuan diadakannya tes filsafat, yaitu agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Seseorang yang rendah hati dalam bidang keilmuwan dia tidak akan sombong dalam menuntut ilmu, justru dia akan sadar dan hijrah untuk lebih giat lagi dalam menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  49. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Hakekat manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Maka sebagai guru, godaan terbesar adalah menjatuhkan sifat kepada siswa-siswanya, padahal sifat itu belum tentu cocok. Oleh karena itu, refleksi tersebut menyadarkan saya sebagai seorang calon guru untuk berhati-hati dan tidak semena-mena menjatuhkan sifat kepada siswa atau tidak menjudge siswa A benar dan siswa B salah.

    ReplyDelete
  50. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Pernyataan terakhir yang paling menarik adalah “Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih. “Jadi, bagaimana kita berpikir dan bertindak itulah filsafat seusai aliran kita, dan apa yang dapat kita pikirkan berasal dari bacaan yang kita masukkan kedalam pikiran kita yang menghasilkan sikap dan tindakan kita. Maka bacaan yang kita pilih sangat menentukan kualitas diri kita.

    ReplyDelete
  51. Yosepha Patricia Wua Laja
    16709251080
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Para guru lebih mempertimbangkan hasil daripada proses dengan memberikan cara cepat dalam penyelesaian matematika. Padahal Kant sendiri berpendapat bahwa konsep matematika pertama-tama diperoleh secara a priori melalui pengalaman dengan intuisi penginderaan. Proses ini merupakan langkah pertama dalam mempelajari konsep-konsep matematika. Proses berikutnya adalah proses intuisi akal yang memungkinkan dikonstruksikanyya pendidikan matematikadalam ruang dan waktu. Sebelum diambil keputusan atau solusi masalah matematika menggunakan intuisi budi terlebih dahulu obyek-obyek matematika disintesiskan kedalam beberapa kategori seperti kuantitas, kualitas, contoh, bukan contoh. Sehingga intuisi menjadi landasan bagi matematika dan kebenaran matematika. Intuisi-intuisi ini diterapkan guru sebagai sebuah proses mengkonstruk pemahaman siswa, melalui penginderaan, akal dan budi.

    ReplyDelete
  52. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Kebenaran dalam belajar dan mengejar nilai itu adalah absolut. Jika tidak sesuai dengan maksud yg diinginkan, maka itu adalah salah. Tetapi jika ditinjau dari segi filsafat, kesalahan tersebut bisa berarti kebenaran tergantung keadaannya. Menjawab salah karena ketidak pahaman itu merubapakn benar dalam segi filsafat, karena keaddannya memang dia tidak paham dgn materinya

    ReplyDelete
  53. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Berfikir sebagai guru jangan lah hanya menyalahkan muridnya, tetapi selidiki dulu kesalahan murid tersebut berasal dari mana. Apakah karena muridnya sendiri atau karena dari guru yang belum atau kurang dalam memberika pengalaman belajar bagi muridnya

    ReplyDelete
  54. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Benar berfikir isomorfis itu ada kadarnya masing-masing. Tidak mungkin seorang anak SD bisa memiliki pendangan seluas gurunya. Karena itu berfikir isomorfis itu berdasarkan pengalaman, baik pengalaan sendiri maupun berbagi pandangan dari orang lain

    ReplyDelete
  55. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Pada tngkat spiritual, ada kalanya pemikiran berhenti dan diteruskan oleh hati. Doa yang tulus adalah doa yang berasal dari ketulusan hati, bukan hanya dari pikiran yg menginginkan sesuatu lalu disampaikan dalam kata-kata doa

    ReplyDelete
  56. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Setiap manusia pastilah melakukan kesalahan, tetapi kesalahan itu haruslah selalu diperbaiki untuk mendapatkan pengalaman yang baik. Kesalahan yang dibuat oleh siswa, seorang guru sebaiknya tidak seperti menyalahkan siswanya. Tetapi haruslah memperbaiki kesalahan siswanya tersebut, agar siswanya mendapat suau pengalaman belajar yang positif

    ReplyDelete
  57. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Manusia adalah pemimpin, paling tidak sebagai pemimpin akan sikap-sikapnya sendiri. Menjadi pemimpin haruslah memiliki dimensi dan pengalaman yang lebih luas. Sikap-sikap buruk dalam diri kita harus kita pimpin agar tidak selalu muncul, dan sebaiknya kita munculkan sikap-sikap postif kita. Kita tau mana yang positif mana yang buruk ya berdasar dari pengalaman dalam berkehidupan sehari hari

    ReplyDelete
  58. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Hidup didunia harus lah ikhlas, jangan memaksakan sesuatuu yang bukan kodratnya. Misal kita terlahir sebagai laki-laki atau pun wanita, kita harus ikhlas menerima itu. Selain itu ketidak ikhlasan merupakan ciri dari syaiton yang sebaiknya kita jauhi

    ReplyDelete
  59. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    Perbedaan agama dalam kehidupan bermasayakat haruslah dipandang sedewasa mungkin. Filsafat mengajarkan bahwa itu mempunyai dimensi dan level masing masing sesuai ruang dan waktu. Kita tidak bisa memaksakan suatu keyakinan pada orang lain, dan sebaliknya orang lain juga tidak bisa memaksakan keyakinan pada kita. Maka kunci dari perbedaan agama adalah toleransi, itu pun tertuang dalam nilai-nilai pancasila

    ReplyDelete
  60. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    dalam dunia pendidikan. ketika anak melakukan ketika anak salah dalam menerima konsep dalam pembelajaran sehingga salah mengerjakan suatu soal. itu bukanlah kesalahan. itu juga merupakan kebenaran dalam filsafat. benar dalam sudut pandang anak tersebut.

    ReplyDelete
  61. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Dalam mengajar. Guru harus mampu memposisikan sebagai pelajar juga karena bagaimanapun manusia akan selalu belajar. dan yang tidak dipelajari tidak melulu soal pendidikan. bisa belajar tentang lingkungan. bagaimana siswa belajar dan memahami pelajaran, itu juga belajar bagi seorang guru.

    ReplyDelete
  62. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    belajar dan berspiritual itu penting. karena seccara tidak sadar membantu pikiran kita menghadapi masalah duniawi. menyeimbangankan segala masalah. merefreshkan pikiran dan menenangkan hati.

    ReplyDelete
  63. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Godaan terbesar seorang pemimpin adalah bagaimana ia menggunakan kekuasaannya. karena hal itu sangat rawan dan memiliki jarak yang tipis dengan penyelewengan kekuasaan serta rasa sombong diri

    ReplyDelete
  64. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    Sebenar-benarnya Iklhas adalah dalam hal dan perbuatan. tidak memiliki dendam serta rasa iri hati yang dapat menimbulkan perbuatan negatif

    ReplyDelete
  65. M Iqbal Wildan M
    13301241047
    Pendidikan Matematika A 2013

    manusia tidak akan lepas dengan yang namanya Standart ganda. Lebih tepatnya sulit untuk melepaskan dari hal tersebut karena setiap keputusan yang diambil maka akan selalu terbesit pikiran "apa keuntungan yang bisa kuambil dari ini?"

    ReplyDelete
  66. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Setelah membaca artikel refleksi ini, menyadarkan saya bahwa “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Saya merasa penting bagi saya untuk menambah wawasan dan pengetahuan agar bisa memandang berbagai persoalan dengan berbagai sudut pandang dan berbagai pola pikir. Dengan mengikuti kuliah filsafat semakin menyadarkan saya untuk selalu belajar sehingga bisa meningkatkan dimensi pikiran saya sehingga pikiran saya bisa se"isomorfis" mungkin dengan pemikiran Bapak Prof. Marsigit.
    Terimakasih atas refleksi yang sangat inspiratif ini.

    ReplyDelete
  67. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Pada pertemuan pertama di kuliah Prof Marsigit, ada satu pernyataan beliau yang memberikan kesan untuk saya, yakni " Belajar filsafat mengajarkan kita untuk menjadi orang yang rendah hati, artinya orang yang belajar filsafat akan menyadari bahwa ilmu yang kita miliki belum ada apa-apanya dan perlu untuk belajar lebih banyak lagi, sebenar-benarnya orang yang belajar filsafat adalah orang yang merasa dirinya tidak bisa"

    ReplyDelete
  68. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Kembali tersadar bahwa sebagai guru, masih banyak dari kita yang menyoroti siswa yang memberi jawaban salah pada saat di kelas. Kita kadang lupa bahwa di dalam 'kesalahan' itu mereka sebenarnya terjadi proses belajar atau bahkan bisa jadi kita yang belum memfalisitasi mereka secara utuh.

    ReplyDelete
  69. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPS PMA 2017

    Saya sangat tertarik dengan pertanyaan pertama tentang suatu kebenaran, dan pertanyaan keempat tentang para dewa. Menurut dimensi saya 2 hal ini erat kaitannya dengan pembelajaran.

    Penjelasan yang Prof sampaikan mengajak kita untuk dapat menembus ruang dan waktu. Seperti halnya penjelasan dari pertanyaan pertama dan keempat, Penjelasan tersebut membuat kita paham bahwa hal yang salah bisa menjadi benar dan hal yang benar bisa menjadi salah, tergantung sudut pandang kita memandang. Dalam hal sudut pandang inilah semua tergantung pada ruang dan waktunya. Salah satu implikasi di dalam pembelajaran matematika ialah ketika siswa membuat kesalahan dalam pembelajaran, bukan berarti ia memang salah, melaikan bisa jadi ia benar. Kesalahan tersebut bisa disebabkan oleh pembelajaran yang tidak sesuai atau bahkan karena memang siswa belum pernah diberikan pengalaman dalam pembelajaran tersebut. Maka guru sebagai dewanya murid tidak bisa semerta-merta mengatakan siswanya salah. Guru perlu memperhatikan hal-hal apa yang mengakibatkan siswa membuat kesalahan.

    ReplyDelete
  70. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Setelah membaca postingan Bapak Marsigit di atas, saya menjadi mengerti bahwa filsafat mengajarkan manusia untuk saling bertoleransi. Seperti jawaban pak Marsigit pada pertanyaan nomor 6: Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? Saya suka dengan jawaban bahwa sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lainya. Dalam hal ibadah, manusia mempunyai hak untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinannya masing-masing. Dalam Al Quran sendiri, telah disebutkan bahwa “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (Surat Al Kafirun ayat 6). Maka dari itu Pancasila relevan menggambarkan kehidupan bertoleransi di Indonesia.

    ReplyDelete
  71. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Setelah membaca postingan Pak Marsigit di atas, saya menyadari bahwa hidup itu berproses menuju dimensi yang lebih baik. Manusia belajar untuk mendapatkan banyak pengetahuan untuk kehidupan yang lebih sejahtera. Mahasiswa S1 setelah lulus segera mencari pekerjaan atau melanjutkan S2 untuk dimensi yang lebih baik. Manusia berproses dalam fenomena garis lurus namun dalam siklik yang berputar. Ketika memasuki masa tua, manusia kembali pada masa kanak-kanaknya. Ia menjadi pikun, lupa tidak tahu apa-apa layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Setelah usia sangat renta, aktivitas-aktivitas kecil sehari-hari perlu mendapat asistensi: makan disuapin, mandi dimandikan, dan lainnya, persis seperti bayi dua tahun. Namun Fase siklik dari kehidupan terluar adalah spiritualisme, yang mengajak kita untuk selalu bersyukur menikmati setiap fase kehidupan di dunia.

    ReplyDelete
  72. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Dalam pemaparan bapak yang telah direfleksikan oleh Sdri. Fitriana, S.Pd. tersebut membuat saya bingung pak. Ada beberapa aspek yang memang masih belum bisa saya cerna dan saya pahami mengenai filsafat. Ada beberapa pertanyaan yang muncul ketika membaca artikel ini. Namun, hal-hal tersebut membuat saya sadar akan kurangnya bacaan mengenai filsafat yang saya pelajari sekarang ini. Hal tersebut menggambarkan bahwa memang saya belum bisa menjadi diri saya sendiri karena kurangnya asupan ilmu. Namun, dari pemaparan di atas dan membaca beberapa komentar yang telah ada, saya lebih tertarik pada pertanyaan yang ke enam yaitu menyangkut agama. Jika pertanyaan ke-6 disinkronkan dengan pertanyaan satu, kita bisa melihat bahwa memang hal yang benar itu bisa saja salah, dan hal yang salah itu juga bisa saja benar, tergantung dari sudut pandang kita melihat. Namun tidak semua hal bisa disimpulkan seperti itu. Ada beberapa hal yang pada dasarnya memang benar, dan tidak mungkin salah. Yaitu adanya Sang Pencipta yang memang masing-masing agama memiliki sebutan yang berbeda-beda. Walaupun memang ada yang memiliki paham “ATHEIS” namun pada dasarnya pada hati yang paling kecil mereka mengakui adanya Sang Pencipta yang sengaja mereka tutupi keyakinan mereka karena adanya sifat GENGSI yang sangat tinggi seperti halnya paman Nabi Muhammad yaitu Abu Lahab yang percaya bahwa Muhammad SAW adalah Rosululloh SAW, namun karena jabatan dan kekuasannya dia menutupi keyakinan tersebut. Jadi ada kalanya yang benar memang benar dan yang salah memang salah.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  73. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dari jawaban-jawaban Bapak terhadap pertanyaan yang diajukan, saya memahami filsafat sebagai ilmu yang tidak dapat dipandang dari satu sisi saja. Ketika orang-orang mengatakan "Dalam filsafat, tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah" saya semakin bingung, ilmu seperti apakah filsafat ini? Bukan ilmu yang membingunkan, namun memang beginilah sebenarnya keadaan di dunia. Seperti pada pertanyaan pertama, mengapa nilai saya rendah dalam ujian filsafat. Jika biasanya pandangan kita berpusat pada Apa salah saya sehingga dapat nilai rendah, kini bisa jadi "Ternyata masih banyak yang belum saya pahami, sehingga kedepannya akan lebih baik jika saya mulai mempelajari lebih banyak". Ada berbagai pandangan lain mengenai kasus nilai rendah tsb pastinya, namun tetap pada dasarnya filsafat tidak mengandung kebenaran absolut, karena kebenaran absolut berada diatas tingkat filsafat.

    ReplyDelete
  74. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Matematika A 2017

    Dari hasil reflkesi di atas, saya merasa belajar filsafat menuntun kita untuk selalu rendah hati, bersyukur (mengetahui arti hidup), dan menjalani hidup ini sesuai dengan kodratnya (ikhlas). Rendah hati akan membuat kita mudah untuk menerima ilmu, tidak merasa hebat, dan menyadari bahwa sebaik apapun kita masih ada yang lebih baik. Bersyukur dalam hal ini mengetahui arti hidup, maksudnya mengetahui bahwa kita diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya, sehingga kita akan selalu mempersiapkan diri (produktif) sebelum waktu itu tiba. Menjalani hidup ini sesuai dengan kodratnya atau ikhlas akan mengantarkan kita kepada hati yang tenang, tidak risau jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana dan harapan kita, karena kita meyakini bahwa apa yang terjadi adalah yang terbaik dari-Nya untuk kita. Terimakasih Bapak, terimakasih atas nasehat-nasehatnya.

    ReplyDelete
  75. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B 2017

    Terimakasih banayk atas postingannya pak, banyak pelajaran yang dapat diambil dari postingan diatas, mulai dari cara memandang sebuah penomena seperti yang diuraikan dalam pertanyaan pertama, kemudian bagai hidup yang sebenar-benar hidup sehingga dapat menembus ruang dan waktu sebagaiman dipaparkan pada pertanyaan ketiga, kemudian bagaiman menentukan sifat dari suatu objek yang dipaparkan secara jelas pada pertanyaan kedua, dan banyak lagi pelajaran lainnya yang dapat kita pahami bersama.

    ReplyDelete
  76. Junianto
    PM C
    17709251065

    Salah satu yang menarik dari filsafat adalah yang salah belum tentu salah dan yang benar belum tentu benar sebagaimana yang Bapak sampaikan pada artikel di atas. Sebagaimana sifat dasar manusia bahwa manusia itu tempat salah dan lupa, sehingga sesuatu yang benar jika manusia itu berbuat salah. Hal ini dikarenakan sifat dasar manusia dan hal itu wajar. Justrue menjadi salah jika manusia selalu berbuat benar, karena ini menyalahi kodrat manusia. Inialah yang menurut menjadi pelajaran berharga dari apa yang Bapak posting diartikel ini.

    ReplyDelete
  77. Nur Dwi Laili Kurniawati
    S2 Pendidikan Matematika C
    17709251059

    Kesalahan dalam sebuah pembelajaran adalah hal yang wajar. Karena kesalahan itulah sebenar-benar proses belajar. Sebenar-benar dalam pembelajaran tidaklah ada jawaban yang salah. Ketika peserta didik menjawab salah maka sesungguhnya itu benar dalam kondisi peserta didik tersebut karena belum memahami materi. Maka tugas seorang pendidik harus senantiasa mendorong peserta didik tersebut agar tidak menyerah karena sebuah kesalahan dan terus belajar agar memahami apa yang belum dipahami.

    ReplyDelete
  78. Insan A N/S2 Pmat C
    Bismillah, pemimpin dalam pandangan filsafat, antara satu dimensi ke dimensi yang lainnya. Analogi yang mudah dipahami bahwa pemimpin harus mempunyai kemampuan atau dimensi atau level yang lebih tinggi daripada yang dipimpin. Hal ini menurut saya haruslah diterapkan diseluruh sistem atau komponen di kehidupan.

    ReplyDelete
  79. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B 2017

    Hal yang saya katakan pada diri saya sendiri ketika membaca postingan bapak yang satu ini adalah, "Saya memang harus meningkatkan bacaan saya". Mungkn saja dengan meanmbah bacaan saya, saya akan semakin rendah hati dalam menuntut ilmu; saya mungkin bisa semakin menyadari adanya standar dan proses; saya mungkin saja semakin menyadari bagaimana subjek dan objek itu berada; saya akan semakin menyadari betapa pentingkan keberadaan hati (Allah, agama, doa) sebagai fondasi saya dalam menuntut ilmu. Dengan menambah bacaan saya, mungkin saja saya akan semakin mendekati pada kalimat ini, "Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya.".

    ReplyDelete
  80. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017

    Wa'alaikumussalam Warohmatullahi Wabarokatuh.
    Sungguh ulasan ini menjadi bahan renungan yang sangat mendalam. Saya kagum dengan jawaban Prof. Marsigit dikarenakan beliau menjawab dengan gamblang beserta contoh dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya juga disertakan dengan kerendahan hati beliau dalam membagi ilmu kepada mahasiswa. Saya mengamati dari jawaban beliau yang selalu menekankan bahwa ada kekuatan lain di luar batas kemampuan manusia pada umumnya, yaitu kekuatan Sang Maha Kuasa. Jika segala sesuatu yang dilakukan dengan melibatkan campur tangan Tuhan di dalamnya, maka kedamaian dalam hati juga akan tercipta. Manusia hanya bisa melakukan yang terbaik dengan segala upaya yang sudah diberi oleh-Nya. Namun, hasil dari apa yang sudah dilakukan sepenuhnya berada dalam tangan Tuhan. Hidup juga akan mudah dilalui saat Tuhan selalu menyertai dan memberkati. Sukses selalu buat Prof. Marsigit dan kita semua. Aamiin Allaahumma Aamiin.

    ReplyDelete
  81. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Berdasarkan artikel di atas saya memahami bahwa menurut faham fallibilisme, semuanya adalah bernilai benar. Tidak ada paham yang dapat dibenarkan untuk memberikan pernyataan bahwa sesuatu itu bernilai benar. Semua itu bernilai benar jika menyesuaikan dengan kondisinya.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  82. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Contohnya bahwa mahasiswa bapak yang memberikan pertanyaan menjawab pertanyaan ujian dengan salah, sesungguhnya jawaban ujiannya bernilai benar jika dilihat dari kondisinya dimana mahasiswa tersebut belum cukup belajar dan membaca materi-materi yang bapak berikan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  83. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Assalamualaikum. Terima kasih atas tulisannya, pak. Setelah saya membaca tulisan ini, sya jadi bertanya-tanya, apakah konsep fallibilisme mungkin terjadi dalam penelitian tindakan kelas? Karena setahu saya, orientasi PTK dewasa ini cenderung ditekankan pada keberhasilan teori atau metode tertentu, sehingga jika suatu teori/metode gagal diuji dalam suatu penelitian tindakan kelas maka penelitian itu dianggap salah pula. Padahal setahu saya, hakikat PTK adalah ingin menguji suatu teori/metode tertentu untuk melihat pengaruh terhadap suatu variabel, terlepas pengujian tersebut berhasil atau tidak memperlihatkan pengaruh, namun penelitian tetap dianggap objektif.

    ReplyDelete
  84. Nama: Hendrawansyah
    NIM:17701251030
    PEP 2017 (S2 ) Kelas B
    Waalaikum salam wr wb.Terimakasih banyak prof,anaknda mendapatkan banyak pencerahan dari membaca dan menelaah berbagai jawaban dari Bapak mengenai pertanyaan teman-teman mahasiswa .Ada bebarapa point yang saya dapat.Pertama,untuk bisa menjadii benar diawali dengan berbagai kesalahan.Rasanya dari kesalahan itu kita dituntun dan dibimbing untuk lebih baik lagi.Kedua, setinggi apapun ilmu yang kita miliki tetap rendah hati layaknya padi” semakin banyak isinya semakin menunduk”.Ketiga, ketika pikiran dan hati kita kacau, maka tak ada pengharapan yang lebih tinggi melainkan berdo’a meminta petunjuk kepada Sang Khalik.Jika menelusuri kembali tentang pemimpin, sepertinya ada yang berbeda dengan pemimpin- pemimpin zaman dulu.Pemimpin pada zaman dulu, ketika disodorkan sebuah jabatan mereka cendurung merenung bahkan menitikkan air mata karena rasa ketakutan yang amat mendalam.Sebabnya, karena mereka takut tak mampu memegang amanah.Sekarang konteksnya sudah berbeda,Sekarang orang-orang justru merasa senang ketika disuguhkan sebuah jabatan bahkan rela mekukan apa saja untuk mendapatkan jabatan tersebut.Banyak yang tinggi ilmunnya, namun di lain sisi sentuhan rohaninya kurang.Yang ingin anaknda tanyakan sesuai dengan materi”Menembus Batas Ruang dan Waktu”Bagaimanakah menjadi pemimpin yang ideal dan pemimpin yang ikhlas itu?Anaknda mohon jawaban dan pencerahannya Bapak.Terimaksih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  85. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A

    Filsafat memiliki arti yang luas agar dapat menembus ruang dan waktu. Namun pemilik ruang dan waktu sesungguhnya adalah pencipta ruang dan waktu itu sendiri, yaitu Allah SWT. Pada akhirnya filsafat mengajarkan kita agar selalu rendah hati terhadap penciptaan-Nya. Dari tulisan di atas, terkait pertanyaan pertama mengenai ‘salah dalam menjawab’ menandakan bahwa salah itu benar dalam filsafat, dan dikenal dengan Fallibilisme. Jika kita ingin benar, maka harus ada kesalahan. Ketika kita salah, maka kita akan terus belajar dari kesalahan, mencari kebenaran serta menggali lebih banyak ilmu pengetahuan. Semakin banyak yang dipelajari, maka semakin sadar bahwa semakin sedikit yang kita ketahui.

    ReplyDelete
  86. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPS PMat C

    Ungkapan bahwa "adanya tes dimaksudkan agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan" saya sangat setuju, terkesan, asertif dsb yang mampu mengungkapkan suka cita. Banyak seseorang yang telah mengenyam pendidikan yang "sebenarnya belum seberapa" merasa telah mengetahui segala-galanya., sehingga saat orang lain bertanya mengenai suatu konsep atau fenomena, orang tersebut menjawab dengan lantang dan percaya diri seolah mengetahui segalanya, padahal sejatinya tidak mampu menjamahnya. Sikap rendah hati sangat penting dimiliki mengingat "fauqo kulli dzi 'ilmin 'aliim". Konsep fallibilisme merupakan konsep baru dan menarik bagi saya dan jika dipikirkan lebih jauh memang benar, bahwa siswa yang salah tetaplah benar jika dikaitkan dengan semestanya, alasan maupun kondisinya. Biarpun pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, namun pendidikan di Indonesia mustahil semakin maju jika tidak disokong dengan semangat belajar dan sikap rendah hati dalam keilmuan.
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  87. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPS PMat C

    Sedikit sharing mengenai keikhlasan. saya pernah mendengar bahwa saat kita belajar mengenai keihlasan, kita haruslah telah menguasai dan mampu mengaplikasikan konsep "kesabaran". Mustahil bagi seorang yang ikhlas untuk bersikap tidak sabar atau grusa grusu dan sebagainya.
    Ambil contoh saat kita ditimpa musibah atau kemalangan, orang-orang akan mengingatkan kita untuk bersabar, hal ini benar adanya. dengan bersabar akan menuntun kita kepada dimensi yang lebih tinggi, yakni dimensi keihlasan. Seperti yang telah dipaparkan pada artikel di atas, sebaik-baik manusia ialah yang senantiasa melakukan perbaikan dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Sehingga berproses dalam kesabaran dan keikhlasan ialah salah satu usaha yang dapat kita lakukan untuk menjadi yang lebih baik.
    Mengutip hadits Nabi bahwa sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Hal ini dapat kita korelasikan dengan konsep kesabaran dan keikhlasan. dengan berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat tanpa memandang seberapa besarnya manfaat tersebut, kita telah berproses satu langkah lebih maju menuju dimensi keikhlasan
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  88. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari artikel ini, saya tertarik dengan pertanyaan point 1, dimana dalam bahasannya terdapat kalimat “salah itu benar dalam filsafat”. Disini saya mencoba mencerna kalimat tersebut. Karena jika dibaca tanpa memahami maknanya, akan sulit diterima oleh logika. Tiada mungkin yang salah menjadi suatu yang benar, karena yang benar ialah benar dan yang salah tidak akan bisa berubah menjadi benar apapun pembenarannya. Namun, jika berbicara dalam ruang lingkup filsafat, yang salah itu adalah benar. Dan kemudian dikenal dengan konsep fallibilisme. Bahwa fallibilisme adalah prinsip yang mengatakan semua manusia bisa salah.
    Berdasarkan hal tersebut, maka janganlah kita mengambil kesimpulan terlalu cepat akan sesuatu hal. Karena boleh jadi kesalahan itu timbul dikarenakan belum mengetahuinya, bukan karena adanya unsur kesengajaan untuk melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  89. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Filsafat merupakan salah satu dimensi berpikir dalam ruang dan waktu tertentu. Filsafat merupakan ilmu yang mendalami sesuatu secara mendetil, bahkan untuk sesuatu yang kecil dan sepele. Filsafat mengungkap hal yang mungkin ada dari semua hal, sejatinya hal ini menyatakan bahwa setiap hal pasti ada filsafatnya. Namun, seperti hal-hal lainnya, filsafat ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan, namun jika kita mampu menggunakan filsafat sesuai dengan tempat dan waktunya, maka hal-hal yang buruk tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai dengan tempat dan waktunya.

    ReplyDelete
  90. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Tulisan di atas sangat penting dibaca oleh para pendidik maupun calon pendidik bahwa “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT”
    Banyak pendidik yang belum mengerti bahwa kesalahan siswa itu proses menuju yang benar. Tidak jarang pendidik memarahi siswa jika menjawab salah sehingga siswa merasa minder. Padahal kesalahan siswa juga perlu diperhatikan oleh pendidik, alangkah baiknya jika siswa melakukan kesalahan kemudian dibimbing untuk mengetahui kesalahannya sehingga ia dapat memperbaikinya.

    ReplyDelete
  91. Dalam menjalani kehidupan ini kita tidak boleh sombong. Sehebat-hebat seeorang masih ada yang lebih hebat. Di atas langit, masih ada langit. Setinggi-tinggi pemikiran ancamannya adalah mitos. Batasan dari berpikir adalah spiritual. Maka sepintar-pintarnya seseorang, dia harus selalu ingat sama Sang Pencipta agar hati menjadi tenang.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  92. Sebenar-benar keikhlasan dalam menembus ruang dan waktu adalah keikhlasan itu sendiri. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita harus selalu ikhlas dalam menjalani skenario terbaik ini. Ikhlas itu ketika kita menjalani tidak perlu mengeluh. Ikhlas itu ketika kita melakukan hal baik tak perlu diceritakan ke orang lain, misal kita habis membantu orang lain, tidak perlu diupdate di media sosial kalau kita membantu, kalau diceritakan ke orang lain berarti tidak ikhlas. dan kegiatan yang dilakukan jadi sia-sia. Oleh karena itu, dalam menjalani hidup kita harus sesering mungkin beristighfar (dalam agama Islam) agar terhindar dari sikap sombong atas ketidakikhlasan yang entah sengaja atau tidak sengaja dilakukamn.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  93. Shelly Lubis
    17709251040
    PM B (s2)

    Perbedaan agama merupakan sunatullah. Sudah ada sejak dulu. Sikap kita adalah menghormati mereka yang berbeda agama dengan kita. Bahkan kepada keluarga kita sendiri kita tidak bisa memaksakan agama kita kepada mereka. Yang terbaik adalah mendoakan dan berdakwah kepada mereka. Selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  94. Nama : Latifah Fitriasari
    Nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Dalam berlajar membutuhkan keikhlasan, karena banyak yang belajar namun jarang yang memperoleh hasil. Akhlaqnya masih buruk, interaksi antar sesamanya juga belum baik. Ikhlas dalam belajar diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, menghilangkan kebodohan dari orang lain menghidupkan dan menjaga ilmu serta mengamalkannya. Belajar membutuhkan niat yang ikhlas karena Allah, karena niat dapat berbolak-balik. Setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan

    ReplyDelete
  95. Nama :Latifah Fitriasari
    Nim : 17709251055
    Kelas : PMC (S2)

    Konsep fallibilisme merupakan kesalahan yang benar. Ini merupakan hal yang baru bagi saya, karena dalam keadaan yang salah dapat dibenarkan dalam filsafat. Sehingga dapat menjadi bahan introspeksi diri dari masing-masing individu yang saling berinteraksi. Sehingga jika dikaitkan dalam pendidikan, guru mendapati siswanya yang memperoleh nilai kurang baik tidak langsung menghakimi siswa yang bersangkutan, bisa saja nilai yang kurang memuaskan disebabkan karena kurang maksimalnya guru dalam memberikan atau mentransfer ilmu untuk para peserta didik.

    ReplyDelete
  96. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Prinsip falibilisme merupakan suatu konsep filosofis dimana manusia bisa salah yang telah diuraikan oleh bapak sejalan dengan konsep bahwa manusia adalah tempatnya salah. namun dari kesalahan tersebut manusia dapat belajar dari kesalahannya. Sehingga tidak mengulangi kesalahan tersebut di kemudian hari. Maka disebutkan juga tadi bahwa jika anak yang melakukan kesalahan merupakan hal yang tidak sepenuhnya salah, karena dari kesalahan-kesalahan tersebutlah anak dapat belajar memperluas pengalamannya.
    Terkait dengan memperbanyak bacaan. Merupakan suatu hal yang penting untuk kami semua untuk memperbanyak bacaan. Hal ini dapat meningkatkan pemahaman kami akan apa yang telah dibaca. Sehingga kami mampu menempatkan diri, baik itu ketika berbicara dengan anak kecil, dewasa, maupun dengan orang yang dituakan.

    ReplyDelete
  97. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Yang saya tangkap dari artikel bapak adalah kesalahan dalam proses belajar merupakan hal yang wajar selama ada kemauan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Yang tidak baik adalah sudah menyadari diri salah tetapi tidak memperbaiki. Semoga kami menjadi orang yang selalu dan terus belajar.

    ReplyDelete
  98. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sesuai dengan pendapat bapak bahwa diri sendiri kita sebagai manusia saja sudah plural. Apalagi kita sebagai warga negara dari bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama kita membutuhkan rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama untuk menyatukan perbedaan demi kemajuan bersama.

    ReplyDelete
  99. Assalamualaikum wr.wb.
    Selamat malam,

    Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Setelah membaca artikel ini kita memahami bahwa kita tidak boleh secara sepihak menjudge jika siswa mendapat nilai yang kurang baik maka itu hanya salah siswanya saja. Sebaiknya dengan rendah hati kita perlu mengoreksi diri mungkin selama ini pembelajaran yang kita berikan pada siswa belum maksimal dan segera mencari jalan keluarnya. Sekian dan terima kasih. Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Malam, dan
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  100. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Setelah membaca artikel ini, saya mendapat banyak pesan, salah satunya yaitu seseorang harus selalu rendah hati dalam segala hal, termasuk juga dalam hal keilmuan. Seperti ilmu padi "Makin berisi makin merunduk". Juga mengingatkan bahwa "Di atas langit masih ada langit" dan dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu spiritual. Ada kalanya saat seseorang ketika berada pada tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus terhenti dan diturunkan ke hati.

    ReplyDelete
  101. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Konsep tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin. Bagaimana dengan konsep pemimpin dalam pemerintahan kita misalkan ketika terjadi reformasi pada tahun 98, dimana rakyat menuntut pemimpin untuk turun dari singgasanya. Padahal dikatakan diawal bahwa tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpinnya ?

    ReplyDelete
  102. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Ikhlas merupakan salah satu konteks terpenting dalam kehidupan. Setiap orang dituntut untuk selalu ikhlas. Ikhlas itu sendiri diiringi dengan sifat sabar. Karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan makhluknya. Susah untuk mendefinisikan arti kata ikhlas. Karena ikhlas merupakan suatu perbuatan atau tidnakan secara nyata yang bukan hanya dilisankan semata. Dalam postingan di atas, terdapat tulisan “secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya”. Untuk menembus ruang dan waktu dengan benar maka dapat dilakukan dengan silahturahmi, komunikasi, kemandirian, dan hal lain. Sehingga ikhlas itu akan muncul dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  103. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dari bacaan diatas terlintas di kepala. Mengapa orang-orang zaman sekarang terlalu banyak berkomentar tanpa memberi solusi, terlalu sering menghakimi tanpa tahu asal usul?
    Ada berita yang akhir sebulan lalu yang membuat saya terdiam di depan televisi yaitu seseorang yang baru saja keluar dari masjid dibakar hidup-hidup. Faktanya orang tersebut baru saja selesai sholat dan membawa recorder masjid untuk diperbaiki di rumah nya karna almarhum seorang tukang servis. Pada saat bersamaan, Almarhum dituduh mencuri recorder dan langsung dihakimi massa dengan membakar tubuhnya? Na'udzubillah, manusia-manusia seperti apa yang hidup di zaman sekarang? Bukankah kita adalah manusia, makhluk Allah yang paling sempurna diciptakan dengan akal dan pikiran. Seringkali saya ingin mendalami ilmu neuroscience, biar saya bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat pada sel neuron otak manusia zaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau berbicara sesuatu tidak ada lagi "second-thoughts" nya. Bagaimana pandangan filsafat Bapak terhadap peristiwa tersebut?

    ReplyDelete
  104. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B

    salam,
    Agama merupakan pilar individu, setiap manusia dapat menemukan agamanya masing-masing seiring dengan perjalanannya dalam merefleksikan hidup. Hati adalah rumah yang bagi agama. Namun seiring berjalannya waktu gejolak-gejolak batas antara pemikiran tiap-tiap manusia, pikiran individu dengan perasaannya sendiri, perasaan antar manusia semakin sering mengalami konflik. Sungguh menarik setelah saya baca ulasan Prof. Marsigit tentang konsep Power Now, apakah pergolakan yang terjadi di dunia ini akibat dari Power Now yang menerapkan standar ganda negative? Apakah mungkin Power Now bisa melebur agama-agama tiap individu menjadi ‘agama baru’ yaitu kapitalisme?

    ReplyDelete
  105. Bulan Nuri
    17709251028
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benarnya filsafat adalah manusia itu sendiri. Dalam kehidupan manusia tidak mampu memahami semua sifat-sifat. Ia hanya mampu memahami sebagian dari sifat-sifat yang ada. Untuk mempermudah dalam berkomunikasi seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang pola pikir lawan bicaranya. Seperti dalam hal mempelajari filsafat ilmu kami harus mampu memahami pola pikir bapak Marsigit dan cara berfikir filsafat serta memperbanyak bacaan. Dalam filsafat salah bisa berarti benar. Hal ini dikarekan bisa jadi seseorang melakukan kesalahan, namun dalam kondisi tertentu kesalahn tersebut menjadi sesuatu hal yang benar. Dewa dalam filsafat dapat dicontohkan seperti Ayam yang merupakan dewa sang cacing. Dewa memiliki kekuatan lebih dari sang hamba. Adapun tentang perbedaan agama merupakan sesuatu hal yang dimensial dan berlevel.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  106. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya. Pada pertemuan kedua perkuliahan filsafat ilmu, bapak menjelaskan bahwa sebaik baiknya cara dalam bersyukur kepada Allah adalah dengan berdoa, karena karunia yang diberikan olehNya kepada kita merupakan anugerah dan nikmat yang harus selalu kita syukuri. Anugerah dan nikmat tidak selalu berupa harta maupun uang, tapi bisa berupa kesehatan, teman yang baik, keluarga yang harmonis, dan lain-lain. Terimakasih.

    ReplyDelete
  107. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    Dalam filsafat “SALAH ITU BENAR”, bisa diambil makna bahwa salah dalam melakukan sesuatu hal itu adalah wajar, dengan kesalahan yang dilakukan maka seseorang akan mengerti bagaimana melakukan hal benar. Dalam pendidikan, kesalahan peserta didik jika disikapi dengan baik oleh pendidikan maka akan membuat peserta didik menjadi mengerti dimana letak kesalahannya, dapat lebih paham dan mampu melakukan yang benar. Intinya sebagai pendidik perlu bisa menempatkan diri. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
    Semakin manusia berilmu, seharusnya semakin merunduk. Semuanya didasari dengan keikhlasan dan tanpa adanya rasa sombong.

    ReplyDelete
  108. Devi Nofriyanti
    17709251041
    S2 Pendidikan Matematika

    Belajar filsafat artinya belajar mendefinisikan seuatu secara mendalam. hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, ternyata ada dalam filsafat. setelah membaca postingan ini, saya bisa menghubungkannya dengan pertemuan perkuliahan kedua hari kamis lalu. Belajar tentang keikhlasan, belajar memahami bahwa "salah itu benar", belajar melihat bahwa ada hal yang terletak diantara baik dan buruk. terkadang kita hanya berfokus kepada hal baik atau buruk saja tanpa memikirkan sesuai dengan ruang dan waktunya. Dengan belajar filsafat, saya jadi lebih mengerti hakikat hidup. Terima kasih banyak untuk ilmunya pak :')

    ReplyDelete
  109. Ada banyak hal yang saya dapatkan ketika membaca tulisan Prof, tidak hanya pemahaman baru tapi juga pertanyaan-pertanyaan. Dari pertanyaan pertama mahasiswa, bapak menjawab bahwa cara berfikir mahasiswa tsb belum isomorfis dengan bapak.
    Setelah saya renungi lebih dalam, saya sampai pada kesimpulan bahwa pikiran atau kemampuan berfikir itu bertingkat-tingkat, sehingga memungkinkan munculnya kondisi pikiran yang tidak isomorfis. Lalu pertanyaannya, apakah setiap kondisi isomorfis selalu bermakna salah bagi orang yang pikirannya berada di tingkat bawah?

    ReplyDelete
  110. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas postingan di atas. Hal menarik yang bisa saya tangkap terkait dengan istilah Fallibisme, yakni prinsip filosofis yang menyatakan bahwa manusia bisa salah. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat “Anak yang melakukan kesalahan merupakan kebenaran dalam filsafat sehingga Salah itu Benar”. Setiap siswa memiliki bakat, minat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Sehingga benar sekali apabila ada siswa yang salah dalam menjawab pertanyaan janganlah tergesa dalam menyalahkannya karena pada dasarnya siswa memiliki ruang dan waktunya masing-masing untuk mampu beradaptasi mengikuti dan memahami jalan berpikir guru. Dengan adanya ketidak mampuan siswa dalam mengerjakan suatu tes, akan membuatnya berkarakter rendah hati yang diiringi mau belajar, dan guru hendaknya terus menjadi model fasilitator yang profetik agar kompetensi yang diharapkan tercapai oleh siswa. Sehingga, rasa ikhlas untuk menggapai sesuatu yang dapat menembus segala ruang dan waktu, perlahan akan sampai ke dalam hati para siswa sesuai spiritualisme yang berpegang teguh pada keyakinan mereka masing-masing. Jadi, sebenar-benar manusia di bumi itu memanglah tidak ada yang sama. Namun, manusia tetap bergerak untuk mencapai yang menjadi tujuan hidupnya sesuai filsafat diri yang dibangunnya.
    Wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  111. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs P.Mat B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Sangat menarik postingan ini, pertama membahas tentang “salah tapi benar menurut filsafat”. Saya belum pernah mendengar kata Fallibilisme sebelum saya membaca postingan bapak. Sangat menarik arti dari kata fallibilisme yaitu prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. sebenar-benarnya Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan subjeknya. Kedua membahas tentang tujuan diadakan nya tes filsafat, yaitu agar setiap insan yang berilmu dapat bersifat rendah hati akan keilmuannya. Karena sejatinya hanya Allah lah yang berhak untuk mempunyai sifat sombong, karena Allah Maha Mengetahui lagi Maha Agung.

    ReplyDelete
  112. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Menembus ruang dan waktu dengan belajar filsafat. Belajar filsafat menjadikan seseorang bersikap rendah hati dan tidak menyombongkan apa yang dimiliki. Selalu berusaha belajar dan berpikir kritis tentang hal-hal yang ada dan yang mungkin ada di dunia ini. Selain itu belajar filsafat juga belajar untuk selalu ikhlas dalam mengharap ridho Allah. Ikhlas atas kehendak Allah SWT.

    ReplyDelete
  113. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Setiap manusia adalah pemimpin. Minimal adalah sebagai pemimpin bagi dirinya sendiri. Keseimbangan dari segala aspek merupakan hal yang penting bagi apa yang dipimpin. Dari artikel bapak, saya menjadi termotivasi untuk belajar ikhlas. Terkadang ikhlas mudah diucapkan tetapi sulit untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  114. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Sebaik-baik orang dan secerdas-cerdas orang adalah orang yang mampu menembus ruang dan waktu. Menembus ruang dan waktu bisa berarti sadar dan menaruh sesuai porsinya. Dalam menembus ruang dan waktu ini dibutuhkan keikhlasan. Keikhalasan menembus ruang dan waktu adalah keikhlasan itu sendiri. Keikhalasan ini pula adalah bekal untuk menjalani hidup, karena itu sunnatullahnya aturan dari Sang Pencipta. Dari bagian pertanyaan para dewa dan powernow dapat diketahui bahwa dunia itu ada kalanya diatas dan adakalanya dibawah, dan itu saling berhubungan seperti rantai. Seperti yang telah dicontohkan ayam itu dewanya cacing, cacing itu dewanya tanah. Cacing disini bisa menjadi subjek dan juga objek sekaligus. Dan pada pertannyaan perbedaan agama menurut filsafat yang tetap dikedepankan adalah toleransi seperti yang telah dicontohkan.

    ReplyDelete
  115. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    “Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya.”
    Saya sangat terharu dengan kalimat bijak ini. Merefleksi kembali konsep pendidikan yang humanis ysng menekankan bahwa pendidikan yang pertama dan utama adalah bagaimana membangun komunikasi dan relasi sosial yang baik antar pribadi dan pribadi, antar pribadi dan kelompok di sekolah, serta antar pribadi dan lingkungannya di masyarakat. Maka seorang pendidikan harus menjadi fasilitator yang baik dalam perkembangan kognitif, psikomotor, maupun afektif. Menciptakan suasana belajar yang kondusif bagi siswa sehingga bisa mengeksplor diri secara mandiri dan bertanggungjawab.

    ReplyDelete
  116. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit).

    Bapak benar, bahwa kepahaman adalah buah dari proses membaca tiada henti. Dan membaca adalah buah dari proses ingin tahu yang besar. Dan ingin tahu adalah buah dari niat yang sungguh-sungguh untuk belajar. Artinya jika tak paham berarti belum ada niat yang sungguh-sungguh untuk belajar. Sejauh ini pemahaman saya seperti itu. Namun, semakin saya membaca semakin saya menyadari banyak sekali hal yang saya tidak tahu dan tidak mengerti. Sehingga proses belajar tidak akan bisa mencapai puncak kepahaman yang sebenarnya karena setiap akhir dari kepahaman adalah awal dari kebingungan yang lainnya. Ilmu itu sifatnya universal, luas dan menyeluruh. Selain itu bersifat akumulatif, ilmu yang dikenal sekarang merupakan kelanjutan dari ilmu sebelumnya, oleh karenanya bersifat relatif dan temporal, tidak pernah mutlak dan final.

    ReplyDelete
  117. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    “Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.”

    Diantaranya cara untuk bisa menyatukan pemahaman antar personal adalah dengan mempelajari caranya berpikir maka di situ kita akan mengerti tentang sesuatu hal.

    ReplyDelete
  118. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    “Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.”

    Tulisan ini mengingatkan saya tentang betapa kuat komunikasi dalam mempengaruhi cara orang lain berpikir dan bertindak. Dan pentingnya interaksi seperti tarikan magnet antara satu dan lainnya. Maka sebuah kalimat popular pernah ada “Bahwa untuk melihat diri kita maka lihatlah minimal 10 orang di sekitar kita.” Pun banyak para ilmuawan berpendapat bahwa peran lingkungan dampaknya sangat besar dalam membentuk pola pikir dan sikap. Dari situlah kita juga berusaha meningkatkan kadar isomorpisma masing-masing meski dengan keterbatasan tidak akan pernah setara.

    ReplyDelete
  119. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.
    Terimakasih banyak pak. Jika manusia berusaha mencari tentang kebutuhan sejati yang paling mendasar di dunia ini maka saya berani mengatakan, itu adalah do’a. Kenapa? Karena do’a adalah wujud pembuktian ketergantungan seseorang yang merasa memiliki Tuhan. Do’a seperti sebuah pengakuan betapa tak ada daya dan upaya melainkan atas kuasa-Nya. Maka Q.S Al-Ikhlas yang merupakan surah dengan ketauhidan paling tinggi termaktum setelah ayat pertama “Dialah Allah, Yang Maha Esa” yaitu ayat kedua “Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu”. Ya, segala sesuatu, meliputi segala apa yang menjadi ciptaan-Nya bahkan yang tak kasatmata sekalipun.

    ReplyDelete
  120. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Dalam uraian diatas dijelaskan tujuan utama tes filsafat yang dilakukan adalah untuk menjadikan seseorang tidak sombong dalam berilmu, artinya seseorang harus rendah hati dalam berilmu. Karena sesungguhnya ilmu itu hanya mengisi hati-hati yang bersih. Bukan hati yang kotor.

    Demikian, terimakash.

    ReplyDelete
  121. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Rendah hati dan rendah diri itu sangat berbeda. Rendah hati menjadikan diri sangat mulia, namun rendah diri menjadikan diri dibawah standar kebaikan yang seharusnya kita berada atau posisi kita. Jadi dalam berilmu kita harus merasa rendah diri dan selalu haus akan ilmu, sehingga menjadikan kita insan yang lebih bermamfaat bagi sesama dengan terus membagikan ilmu yang kita miliki.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  122. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya tertarik dengan jawaban soal nomor satu. Karena dari dulu saya memang selalu bertanya-tanya, kenap bisa kami selalu mendapat nol saya ada tes jawab singkat. Ternyata memang adal kalanya salah itu adalah benar dalam filsafat. Karena hal itu akan dilihat dari ruang dan waktunya oleh karena itu dinamakan menembus ruang dan waktu. Dan satu hal lagi yang menurut saya sangat berarti bahwa ilmu itu adalah hal yang tinggi, maka untuk mendapat kucuran ilmu itu kita harus merendahkan hati, namun perlu kita sadari bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri.

    ReplyDelete
  123. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Kemudian yang saya cermati adalah paham fabilisme. Paham ini melindungi obyeknya dari subyeknya, contohnya kesalahan yang dilakukan siswa saat menjawab soal jika memang belum difasilitasi untuk tahu. Sedangkan memang melakukan kesalahan adalah proses dari belajar, namun pengalaman yang sering kami temui di lapangan adalah, kami mencoa memfasilitasi siswa-siswa untuk belajar dan tak apa melakukan kesalahan misalkan dengan metode penemuan, namun beberapa siswa masih mengalami krisis kepercayaan diri, mereka merasa takut untuk mencoba dan melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  124. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Mengenai istilah menembus ruang dan waktu, dulu waktu pertama kali mendengar kata-kata ini tentunya saya sangat bingung dengan maksudnya, namun seiring dengan berjalannya waktu dan terus mengikuti perkuliahan, maka saya semakin memahami. Dalam bahasa Jawa mampu menembus ruang dan waktu lebih condong kepada pengertian mampu berlaku sopan santun sesuai adat Jawa. Menembus ruang dan dan waktu artinya perilaku kita mampu menyesuaikan dengan keadaan yang sedang berlangsung dan tempat dan juga waktunya sehingga apa uang kita lakukan dan katakan sesuai dengna konteks keadaan dan permasalahan. Ketrampilan menembus ruang dan waktu perlu untuk terus diasah, salah satunya adalah dengan menjaga silaturakhim dengan sesama.

    ReplyDelete
  125. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Waalaikumsalam Wr.Wb
    Pertanyaan pertama yang diajukan oleh Mba Azmi Yunianti sepertinya banyak yang juga bertanya-tanya seperti itu. Sudah berpikir saja jawabannya masih salah, apalagi tidak berpikir. Rasanya greget gimana gitu menjawab tes jawab singkat dengan mendapat nilai yang jelek. Tetapi nilai jelek itu adalah benar di dalam filsafat. Saya sangat setuju dengan apa yang Pak Marsigit sampaikan, dengan nilai jelek itu kita bisa rendah hati, bisa membakar semangat untuk lebih banyak lagi membaca, dan ada keinginan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Jika nilainya bagus bisa jadi kita akan sombong dan malas untuk membaca. Terimakasih Pak atas segala semangatnya.

    ReplyDelete
  126. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada postingan ini mewakili pertanyaan yang belum sempat disampaikan kepada bapak. Karena ada beberapa pertanyaan yang saya sendiri rasakan dan ingin mengetahui jawabannya. Dengan postingan ini setidaknya pertanyaan tersebut dapat saya ketahui jawabannya. Pertanyaan tersebut salah satunya yaitu mengenai hasil jawaban yang masih mendapatkan skor 0. Pelajaran yang dapat saya tangkap dari test dan hasil tersebut yaitu apa yang harus dibanggakan jika malas membaca dan belajar. Sehingga, dengan memperoleh skor 0 dan sulit sekali menaikan skor itu menyadarkan bahwa diri ini tidaklah ada artinya jika tidak belajar, apalagi jika tidak sadar-sadar kebutuhan kita sebenarnya adalah membaca agar menjadi tahu.

    ReplyDelete
  127. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya tertarik dengan pertanyaan mengenai bagaimana pemimpin yang dapat menembus ruang dan waktu, tentang ikhlas,dan tentang pandangan filsafat mengenai perbedaan agama.
    Dari jawaban di atas pemimpin yang dapat menembus ruang dan waktu yang baik yaitu mengetahui hubungan antara pemimpin dengan yang dipimpin. Seorang pemimpin harus mengetahui apa yang harus dan tidak harus dimilikinya pada saat memimpin. Sehingga tidak terjadi prilaku semena-mena terhadap yang dipimpinnya maka itulah pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu.
    Kemudian mengenai keikhlasan, ikhlas itu merupakan ikhlas itu sendiri. Ikhlas alasan kita untuk selalu menerima dengan penerimaan yang baik. Dan pandangan filsafat mengenai perbedaan agama. Dari postingan ini, Dalam filsafat disadari bahwa setiap orang berbeda-beda dan berdimensi-dimensi. Ada habluminallah dan ada habluminannas, artinya setiap orang memiliki kebebasan sendiri terhadap hubungan antar Tuhannya dan hubungannya terhadap manusia lainnya.

    ReplyDelete
  128. Dari refleksi ini saya mendapat pencerahan baru, bahwasanya seorang guru terkadang harus berpaham fallibisme dalam kegiatan pembelajarannya yaitu aliran filsafat yang melindungi objek dari ketersemena-menaan subjeknya. Sehingga seorang guru tidak dengan mudahnya menyalahkan anak yang belum mengerti dalam menjawab pertanyaan karena si anak belum belajar lebih.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  129. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Berdasar pengalaman di atas disebutkan bahwa salah dalam filsafat merupakan hal yang benar dalam filsafat. Apabila siswa salah menjawab soal dalam tes maka benar bahwa dia tidak belajar. Kemudian disebutkan lagi bahwa salah dalam folsafat itu dinamakan fallibilisme. Fallibilisme menjadi penting dalam sebuah ilmu pengetahuan, utamanya untuk menguji kebenaran dan keakuratan ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  130. Dari hasil refleksi ini saya dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk menjadi seorang pemimpin yang baik haruslah terlebih dahulu mengamalkan jiwa spritualitas kepemimpinannya. Untuk dapat berfilsafat pada jalur yang benar adalah dengan membangun pemikiran diri sendiri dengan banyak membaca untuk menambah pengetahuan.


    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  131. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Kehidupan di dunia ini bersifat plural dan kontradiktif, semuanya berbeda. Maka dari itu sebaik-baik manusia adalah yang mampu bersopan santun terhadap ruang dan waktunya. Kita harus dapat menyesuaikan diri kita dengan ruang dan waktu dimana saat ini kita berada. Setiap ruang dan waktu tentu memiliki karakteristik sopan dan santunnya masing-masing. Oleh sebab itu, agar dapat bersopan santun terhadap ruang dan waktu yang tepat, maka kita harus selalu rendah hati, tidak sombong, dan ikhlas. Dengan ketiga hal tersebut hati dan pikiran kita akan terbuka dengan segala macam perbedaan dan perubahan. Dengannya hati dan pikiran kita akan terbuka untuk dapat menerima ilmu dan pengetahuan baru yang dapat membuat kita menyesuaikan diri dengan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  132. Dewi saputri
    17701251036
    PEP B S2
    Assalamualaikum Wr.wb

    Artikel ini sangat menarik untuk dibaca dan sangat-sangat bermanfaat bagi sipembaca. Dimana terdapat di salah satu kutipan artikel tersebut mengatakan bahwasanya pemimpin dan dipimpin itu merupakan suatu subject dan predikat, dimana pemimpin itu adalah subject dan yang dipimpin itu merupakan suatu predikat. Dalam hal ini saya dapat menyimpulkan bahwa setiap orang berhak untuk menjadi pemimpin, seperti yang dijelaskan menjadi pemimpin atas sifat dan perilaku kita bahkan menjadi kepala keluarga juga merupakan subject dari ruang dan waktu dan anak-anak kita yang menjadi predikatnya.

    ReplyDelete
  133. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 P.Mat A 2017

    Arti dari menembus ruang dan waktu baru saya pahami ketika perkuliahan minggu kemarin bersama Prof.Marsigit ketika ada teman sekelas saya yang bertanya bagaimana cara kita menembus ruang dan waktu. Ternyata, setiap detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan tahun kita dapat menembus ruang dan waktu. Ketika kita belajar sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui dan sesudah belajar kita menjadi tahu, itu artinya kita sudah menembus raung dan waktu. Oleh karena itu jika dikaitkan dengan elegi di atas, maka dalam menembus ruang dan waktu itu haruslah dilakukan dengan ikhlas. Jika dalam proses menembus ruang dan waktu kita lakukan dengan tidak ikhlas, maka apa yang kita lakukan tersebut tidak ada manfaatnya dan tidak berdampak baik bagi kita.

    ReplyDelete
  134. Assalmualaikum Wr.Wb
    Menanggapi pertanyaan yang terakhir tentang bagaimana pandangan filsafat memandang perbedaan agama, menurut kami bahwa filsafat membandang perbedaan agama bahwa cara pandang tersebut tergantu dari mana memandang dan seberapa tinggi tingkatan filsafat orang yang memandang. Seperti yang sudah di jelaskan Prof. Dr. Marsigit, M.A bahwa setiap berfilsafat harus memiliki landasan maka menurut kai yang dikatakan masih awam bahwa perbedaan itu merupakan rahmat dari Tuhan dan dengan adanya perbedaan seharusnya membuat terdorong untuk belajar sehingga timbullah sikap toleransi. Sehingga dalam berfilsafat mungkin saja filsafat orang A berbeda dengan orang B. Terima Kasih Prof. Mohon maaf jika ada perkataan atau tulisan yang tidak sesuai.
    Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    ReplyDelete
  135. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Saya mempunyasi pertanyaan yang sama seperti pertanyaan nomor 1,dan berdasarkan jawaban yang Bapak sampaikan saya menyadari bahwa kesalahan adalah hal yang wajar,apalagi jika kita belum belajar. Maka Sebenar-benarnya salah yang demikian itu benar dalam filsafat. Kita sebagai guru ketika memberikan suatu pertanyaan kepada siawa namun jawaban siawa tidak seauai dengan apa yang kita inginkan, maka hendaknya seorang guru tidak mengatakan salah kepada siswa tersebut namun berilah pengertian terlebih dahulu, beri kesempatan mereka belajar hingga akhirnya mereka sendirilah yang mengetahui kesalahan mereka setelah mereka belajar.

    ReplyDelete
  136. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B
    Melihat pertanyaan nomor 1 dan jawabnya, saya teringat Bapak pernah mengatakan bahwa "SALAH ITU PENTING". Dikatakan PENTING sebab dengan adanya kesalahan kita dapat mengetahui mana yang benar. Terkadang ketika guru mengoreksi jawaban siswa dan jawaban siswa salah, guru menyalahkan siswanya. Padahal sebenarnya itu bukan salah siswa, itu adalah kesalahan guru, sebab guru belum biaa membuat siswa paham akan materi. Guru yang menyalahkan siswanya berarti masih menganggap dia yang paling benar. Guru memiliki peran yang penting dalam pembelajaran. Alangkah baiknya jika guru tidak menyalahkan siswa. Namun menasihati dan memberikan motivasi agar siswa lebih giat dan semangat untuk belajar, semata-mata demi kebaikan anak didiknya.
    Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  137. Assalamualaikum wr. wb.

    Berfilsafat juga merupakan proses dalam menembus ruang dan waktu. Setiap mahluk juga melakukan proses menembus ruang dan waktu. Sejalan dengan ruang dan waktu, kita mengalami berbagai hal. Hal itu baik, buruk, benar amupun salah, semua itu penting dalam membetuk diri yang lebih baik, tergantung kita yang menyikapinya.

    Menembus ruang dan waktu yang ikhlas adalah dengan mengikuti sunatullah, beserta kodrat dari tuhan. Dengan keikhlasan, menembus ruang dan waktu akan menjadi lebih mudah, kerna menembus ruang dan watu itu sendiri adalah sebuah keiklasan.

    Sebenar-benarnya manusia di bumi ini tidak ada yang sama, karena keanekaragaman adalah sebuah kelebihan yang harus disyukuri. Bila tidak ada perbedaan satu sama lain manusia tidak akan hidup. Sebagai contoh, petani membutuhkan pedagang, pedagang membutuhkan pembeli, guru membutuhkan murid, murid membutuhkan guru, rakyat membutuhkan pemimpin, dan seterusnya. Jadi perbedaan bukanlah untuk memecah belah, tetapi sebagai kesempatan untuk bekerjasama melakukan apa yang mustahil dikerjakan sendiri.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  138. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Penting untuk menyadari bahwa memahami diri kita belum paham adalah penting. Dengan menyadari bahwa diri kita belum paham maka kita akan berusaha untuk paham. Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar memahami adalah dengan membaca, bertanya. Dengan membaca pengetahuan kita akan bertambah, semakin banyak kita membaca kita akan memiliki wawasan yang lebih luas. Bertanya adalah awal dari pengetahuan. Dengan bertanya kita akan membangun pondasi ilmu. Tetapi setelah membaca dan bertanya kita harus semakin menyadari bahwa ternyata lebih banyak hal yang belum kita pahami dibanding apa yang sudah kita pahami. Kita harus menyadari bahwa di atas langit masih ada langit. Bahwa tidak ada yang perlu kita sombongkan dengan ilmu kita yang belum ada apa-apanya dibanding ilmu yang belum kita miliki.

    ReplyDelete
  139. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)


    Segala hal yang dipikirkan dan dilakukan dapat dikatakan benar atau tidak ada yang salah asalkan sesuai dengan penempatan ruang dan waktunya. Saat seseorang telah dapat membedakan di mana dan kapan dia sedang berada maka tidak ada yang salah dengan pendapat dirinya. Pengetahuan tentang ruang dan waktu tentu saja sejalan dengan pengetahuan dan pengalaman yang sudah dia dapatkan. Oleh karena itu agar seseorang semakin mudah dalam menyesuaikan ruang dan waktu maka seseorang tersebut tidak boleh berhenti dalam mencari ilmu.

    ReplyDelete
  140. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Setiap orang memiliki pemikiran yang berbeda. Terganttung dari kemampuan masing-maisng orang, baik dala hal bertanya ataupun memahami sesuatu. dala setiap pertemuan pasti ada tanya jawab, hal tersbeut baik bagi setiap siswa agar bisa mengungkapkan apa isi hatinya, apa yang ada dalam pemikirannya. Kemudian setelah mendapat jawaban, apakah jawaban tersbeut sudah menjawab rasa ingin tahu penanya. Hal ini efektif untuk mengetahui sejauh mana mahasiswa belajar dari apa yang diinstruksikan.

    ReplyDelete
  141. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Mengenai pemimpin yang menembus ruang dan waktu, pemimpin di indonesia dipilih secara demokrasi yang artinya pemimpin dipilih oleh rakyak baik secara langsung maupun perwakilan. Pada zaman orde baru Pemimpin Indonesia dalam hal ini presiden Soeharto dipilih dengan cara perwakilan oleh wakil-wakil rakyat diparlemen yaitu MPR ( Majelis Permusyawarahan Rakyat). Pada zaman ini kebebasan berpendapat rakyat sangat dibatasi, tiap ada gerakan kecil untuk menentang keputusan pemimpin yang dirasa tidak memimihak kepada rakyat, maka Pemerintah akan langsung menghilangkan ancaman itu dengan cara yang sudah kita ketahui semua. Masa ini berakhir ketika tahun 1998 terjadi reformasi sehingga indonesia menuju ke ere demokrasi dan puncaknya pada tahun 2004 dilakukan pemiliha presiden secara langsung untuk pertama kalinya dalam sejarah indonesia

    ReplyDelete
  142. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Pada pertanyaan ke 2 dei evy
    Tentang pandangan filsafat dalam pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu
    Ketika pemimpin harus mengembangkan sifat-sifat dan godaan subject pada object saya pernah membaca buku tentang leadership tapi lupa judulnya soalnya buku kaka sepupu saya yang sedang lanjut s2 di uii jogja jurusan sdm dan sifat tersebut memang ada disebutkan dibuku tersebut
    Banyak hal didalam kepemimpinan yang jika mencoba mengapai elegi-elegi akan menjadi semakin baik
    Apalagi jika memahami fungsi dari keberdaan manusia dibumi ini

    ReplyDelete
  143. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari membaca beberapa pertanyaan serta jawaban di atas. Saya tertarik dengan pertanyaan kedua oleh Evvy Lusiana yang menanyakan bagaimana seorang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Saya ingin mencoba merefleksikan apa yang ada di pikiran saya. Setiap manusia ditakdirkan menjadi pemimpin, minimal memimpin dirinya sendiri. Di rumah, seorang kepala keluarga memimpin istri dan anak-anaknya. Di masyarakat, seorang Ketua RT memimpin warga satu RT nya, lurah memimpin para dukuh, gubernur memimpin para bupatinya, presiden memimpin menterinya, dan seterusnya. Di sekolah, kepala sekolah memimpin para guru, guru memimpin muridnya dan sebagainya. Oleh karena itu setiap manusia memiliki potensi yang sama untuk menjadi seorang pemimpin.
    Namun, menjadi seorang pemimpin itu harus mampu melaksanakan tugas kepemimpinannya dengan bijaksana. Contohnya seorang ayah harus bisa adil dalam memperlaukan anak-anaknya. Adil berbeda dengan sama. Anak yang paling tua SMA dengan adiknya yang masih SD uang sakunya lebih banyak yang SMA. Hal tersebut tidak sama tetapi adil. Jadi, seorang pemimpin harus tahu kebutuhan dari yang dipimpinnya. Selain itu, seorang pemimpin tidak boleh merebut hak dari yang dipimpinnya. Contohnya seorang DPR yang mengambil uang rakyat demi kepentingan pribadi merupakan perilaku mengambil hak dari yang dipimpinnya. Seorang guru yang memaksakan dan membetasi cara berpikir muridnya juga merupakan perilau mengambil hak dari yang dipimpinnya. Oleh karena itu, kita sebagai calon pemimpin marilah berusaha agar tindakan kepemimpinan kita sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  144. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Belajar filsafat akan akan bisa membuat kita mampu memposisikan diri. Tahu tentang apa yang harus kita lakukan. Menembus ruang dan waktu akan dialami oleh semua benda yang ada di dunia ini, karena setiap benda dapat berfilsafat bahkan benda mati sekalipun. Batu dapat berfilsafat dengan menembus ruang dan waktu. Batu yang berasal dari kawah merapi akan menembus ruang saat terjadi letusan dan terlempar ke tempat lain dan batu tersebut juga akan membus watu saat mengalami pelapukan dan menjadi pasir akibat berjalannya waktu. Maka, dengan belajar filsafat akan mampu memahami segala sesuatu berdasarkan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  145. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu'alaikum.. ‘Menyadari bahwa aku belum paham itu penting’ dengan begitu kita tidak akan sombong dengan apa yang kita ketahui. Dengan merasa bahwa diri sendiri belum tahu maka seseorang akan senantiasa belajar. Hakekat manusia itu belajar, ketika lahir belajar bernafas sampai nanti ketika ajal menjemput. Ilmu itu selalu berkembang dan pasti akan ada hal baru yang bisa dipelajari, maka sebagai manusia tidak boleh sombong. Manusia tidak tahu apa yang terjadi dibelahan bumi lain sampai ia mempelajarinya.
    Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

    ReplyDelete
  146. Latifah Fitriasari
    17709251055
    S2 Pend. Matematika C

    Kesadaran mengenai ruang dan waktu cenderung membagi relasi ini ke dalam bagian-bagian menurut kategori ruang, yakni besaran, batas-batas, sisi dalam, sisi luar; dan kategori waktu, yakni masa lampau, masa kini, dan masa depan. Pemimpin tempo dulu tentu harus memimpin masyarakat sesuai dinamika saat itu, demikian pula pemimpin masa kini harus menerapkan metode kepemimpinan yang cocok dengan dinamika saat ini.

    ReplyDelete
  147. Metia Novianti
    17709251021
    P.Mat A S2 2017

    Mengenai pertanyaan pertama yang diajukan Azmi Yunianti dan jawaban yang diberikan bapak, saya sangat setuju. Sebagai calon pendidik, ketika anak atau siswa melakukan kesalahan, kita jangan langsung menjudge. Sebaiknya kita berikan feedback kenapa ia salah sehingga ia tidak lansung down dan masih memiliki motivasi untuk belajar. Saya juga merasa bahwa apa yang bapak tuliskan bahwa tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan itu menjadikan saya tidak sombong karena sungguh, saya hanya memiliki ilmu yang sedikit dan masih banyak ilmu-ilmu dan hal-hal yang tidak saya ketahui.

    ReplyDelete
  148. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    P Mat A

    Pemimpin yang sesuai ruang dan waktu adalah pemimpin yang dapat menempatkan diri kapan dan dimana ia harus berbicara, harus bersikap, harus bertindak, harus mendengar, harus melihat, dst. Apabila seorang pemimpin mampu berperilaku sebagaimana ia bersikap sesuai situasi dan kondisi rakyat maka ia dapat disebut pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Sesuai ruang artinya ia mampu menempatkan diri, dimana bumi dipijak disitulah langit dijunjung. Sesuai waktu artinya ia update dengan informasi saat ini, sehingga dapat berkomunikasi dengan mudah kepada rakyatnya. Istilah kerennya pemimpin zaman now. Ia dinamis dan tetap memegang prinsip, sehingga tidak mudah goyah dan ikut arus.

    ReplyDelete
  149. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan jawaban Bapak Marsigit dari pertanyaan nomor satu terkait dengan kesalahan. Kesalahan merupakan hal yang wajar, apalagi jika kita belum belajar, maka sebenar-benarnya salah yang demikian itu benar dalam filsafat. Kita sebagai guru ketika memberikan suatu pertanyaan kepada siswa namun jawaban mereka tidak sesuai dengan keinginan kita, maka hendaknya seorang guru tidak mengatakan salah kepada siswa tersebut namun berilah pengertian terlebih dahulu, diberi kesempatan untuk belajar hingga akhirnya mereka sendirilah yang mengetahui kesalahan mereka setelah mereka belajar.

    ReplyDelete
  150. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Fallibilisme merupakan sebuah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Kesalahan yang dilakukan manusia sesungguhnya dapat menjadi sarana untuk mengintropeksi diri sendiri. Ketika seorang anak salah dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan yang diajukan gurunya bisa jadi karena anak belum belajar, bisa jadi karena anak tidak paham. Tetapi bisa jadi juga guru yang belum dapat memfasilitasi anak mempelajari materi tersebut dengan baik. Karena itulah seorang guru juga harus melakukan instropeksi dan refleksi dalam pemeblajaran.

    ReplyDelete
  151. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs Pmat C

    sesungguhnya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. kesalahan yang dilakukan merupakan salah satu cara manusia untuk mengintropeksi dan memperbaiki diri. kita dianjurkan untuk dapat menempatkan diri pada dimensi ruang dan waktu, harus bisa menyesuaikan dengan keadaan di sekitar kita tanpa merubah prinsip.

    ReplyDelete
  152. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Ruang dan waktu berarti sesuatu yang sesuai tempat dan sesuai waktu. Jika kita melakukan sesuatu hal tidak sesuai dengan tempatnya. Maka berarti kita telah menyalahi ruang dan waktu. Seseorang yang menyalahi ruang dan waktu berarti seseorang yang telah menyalahi aturan. Agar hidup tetap aman dan damai, maka letakkan sesuatu pada tempatnya.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  153. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Pertanyaan-pertanyaan yang baik, dan ditujukan pada orang yang tepat sehingga semua pertanyaan dapat dijawab dan dijelaskan dengan detail.
    Saya tertarik dengan pertanyaan 1, dari segi filsafat dijelaskan bahwa sebenarnya tidak ada anak yang bodoh. Bahkan anak yang salah pun itu benar dalam filsafat, mungkin ia salah karena belum belajar dan kurang membaca. Atau ketika anak tersebut sudah belajar akan tetapi tidak mengalami peningkatan maka tugas guru adalah melakukan refleksi apakah sudah memberikan fasilitas belajar, memberi pengalaman belajar, memberi kesempatan bekerjasama, jika semua itu belum diberikan jangan berharap siswa akan menjawab benar.
    Dari sini, saya belajar pentingnya apersepsi pada pembelajaran di kelas. Ketika mereka mengulang kembali materi prasyarat, kemudian mereka paham, maka akan memudahkan mereka untuk menjawab benar di materi-materi yang selanjutnya. Banyak belajar sebelum belajar yang lain itu penting.

    ReplyDelete
  154. Junianto
    PM C
    17709251065

    Dari artikel ini bisa saya pahami bahwa dalam belajar filsafat itu membutuhkan waktu yang panjang. Dari perkuliahan saja nampaknya belum cukup. Dikatakan bahwa banyak mahasiswa yang mendapatkan nilai 0 meskipun sudah beberapa kali tes jawab singkat. Ini bukanlah hal yang salah, tetapi sebuah proses menuju pemahaman filsafat. Itu berarti bahwa kita memang perlu terus membaca referensi filsafat. Belajar filsafat memang seperti halnya memahami pikiran para filsuf.

    ReplyDelete
  155. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Segala sesuatu yang berada di dalam ruang dan waktu merupakan bayangan dari apa yang ada di dalam pikiran. Jadi, jika kita ingin menembus ruang dan waktu, maka seharusnya kita menggunakan akal pikiran kita guna mencapai atau menembus ruang dan waktu. Menembus raung dan waktu memang sangat diperlukan bagi setiap manusia yang hidup di dunnia ini. Karena ketika mereka hanya berkutat di ruang dan waktu, maka mereka akan sulit untuk memahami hal-hal yang abstrak.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  156. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Berdasarkan jawaban Bapak Marsigit pada pertanyaan no. 2 terkait dengan pemimpin yang sesuai ruang dan waktu. Setiap manusia diciptakan untuk menjadi pemimpin, yang paling utama adalah memimpin diri sendiri. Belajarlah untuk bisa memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain. Dan untuk menjadi pemimpin yang baik, hendaknya kita memenuhi dimensi yang lebih tinggi dengan berpikir lebih luas dan memiliki pengalaman yang lebih luas dan lebih mendalam. Karena sebenar-benarnya hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik.

    ReplyDelete
  157. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Ketika pertama kali belajar filsafat dan mendapat nilai nol, pertanyaan yang ada dalam benak saya kurang lebih sama seperti Saudari Azmi Yunianti namun ketika mendengar penjelasan dari Bapak saya sadar bahwa memang benar menyadari bahwa saya belum paham dan masih harus banyak belajar itu penting. Dengan merasa saya belum bisa dan saya masih belum pandai akan mendorong untuk belajar lebih banyak dan lebih keras.

    ReplyDelete
  158. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Menjawab pertanyaan nomer 1 terkait kesalahan menjawab suatu tes. Sebagai seorang guru selain tugas mendidik, membimbing, mengajarkan tak kalah penting adalah tugas mengevaluasi dan menilai. Evaluasi yang dilakukan bisa melalui penilain tertulis, penilaian proyek, penilaian portofolio, penilain praktik dsb. Yang paling sering dilakukan yaitu penilaian tertulis atau tes siswa mengerjakan soal yang d siapkan guru. Dalam menjawab terkadang siswa menjawab dengan jawaban yang salah, namun sebagai guru tak seharusnya menjudgement bahwa siswa bodoh atau tidak bisa menjawab. Namun guru perlu refleksi diri apakah tes yang ia berikan sudah diajarkan pada siswa ?

    ReplyDelete
  159. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 pmat c 2017

    Belajar secara filsafat adalah mengadakan segalah yang mungkin ada. Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan kesunggahan hati, kesadaran, dan keikhlasan. Oleh karena itu belajar filsafat harus dijalankan dengan tujuan menggapai ridho Allah, agar belajar filsafat dapat dijalani dengan serius dan penuh motivasi.

    ReplyDelete
  160. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    P.Mat A 2017

    Assalamualaikum Wr. Wb. Salah-satu hal yang paling saya kagumi dari pak Marsigit adalah membuka ruang yang seluas-luasnya kepada kami untuk mengungkapkan argumentasi atau mempertanyakan hal-hal yang kami tidak pahami tentang filsafat. Dan yang paling mengesankan adalah ruang untuk menuangkan ide-ide melalui tulisan seperti tulisan dari Fitriani di atas yang telah bapak edit dan cantumkan sebagai bahan ajar untuk kita semua. Semoga kita menjadi generasi yang gemar membaca dan menulis. Aamiin!!

    ReplyDelete
  161. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Berfilsafat itu membagi menjadi dua macam yaitu obyek yang dalam pikiran dan obyek di luar pikiran. Obyek yang di luar pikiran itu merupakan hal yang dapat dilihat, didengar ataupun diraba. Sedangkan obyek yang di dalam pikiran juga memiliki sifat-sifat tersendiri.

    ReplyDelete
  162. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Salah dalam filsafat itu dapat berarti benar. Itu merupakan fallibilisme. Fallibilisme adalah prinsip filosofis yang dapat menghindarkan manusia dari judge manusia lainnya. Seringkali kita memandang sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspetasi kita merupakan hal yang salah. Dan seringkali manusia memukul rata bahwa kesalahan merupakan suatu keburukan. Padahal jika kita ingin lebih meluaskan pandangan. Suatu kesalahan kadangkala merupakan sarana bagi seseorang untuk menginstropeksi dirinya. Hal itu karena, sebuah kesalahan kadangkala disebabkan karena ketidak tahuan dan melalui kesalahan dapat dijadikan pintu menuju kebenaran. Terimakasih

    ReplyDelete
  163. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Kajian filsafat itu sangat luas, meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Sebenar-benarnya musuh filsafat adalah ketidaksesuaian dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang di maksud adalah temppat dan waktu yang bersesuaian dengan filsafat. Maka dari itu jika berpendapat atau berfilsafat akan sesuatu hal, harus melihat dari segala pandangan, bukan hanya pandangan yang bersifat subjektif.

    ReplyDelete
  164. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PMC

    Ada pepatah mengatakan bahwa padi semakin berisi semakin menunduk. Maka manusia pun mengikuti padi. Semakin banyak pemahaman yang dimiliki oleh seseorang maka semakin paham pula bahwa ia belum memahami apapun. Karena dengan ilmu yang dimiliki seseorang seharusnya ia dapat melihat bahwa ternyata masih banyak ilmu lain yang belum ia ketahui. Semakin ia membaca makas seharusnya semakin banyak pula pertanyaan yang ia miliki.

    ReplyDelete
  165. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Saya tertarik dengan pertanyaan yang diajukan oleh Retno Kusuma Dewi. Bapak telah menjawab menurut pandangan filsafat mengenai perbedaan agama. Saya ingin memberikan pendapat saya mengenai perbedaan agama. Menurut saya, sesungguhnya manusia memiliki fitrah dan mengikuti fitrah yang telah Allah tetapkan untuknya. Begitu pula pun dengan agama, Allah telah memberikan agama fitrah untuk manusia. Perbedaan agama yang ada ini karena fitrah telah dicampuri oleh nafsu manusia. Jangankan perbedaan agama yang sesungguhnya berbeda, bahkan dalam suatu agama saja dapat memiliki berpuluh-puluhan golongan. Seperti yang digambarkan oleh Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam, dari Sahabat ‘Auf bin Mâlik Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Ummat Yahudi berpecah-belah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan, maka hanya satu golongan yang masuk surga dan 70 (tujuh puluh) golongan masuk neraka. Ummat Nasrani berpecah-belah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan dan 71 (tujuh puluh satu) golongan masuk neraka dan hanya satu golongan yang masuk surga. Dan demi jiwa Muhammad yang berada di tangan-Nya, sungguh akan berpecah-belah ummatku menjadi 73 (tujuh puluh tiga) golongan, hanya satu (golongan) masuk surga dan 72 (tujuh puluh dua) golongan masuk neraka.’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, ‘Wahai Rasûlullâh, ‘Siapakah mereka (satu golongan yang selamat) itu ?’ Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘al-Jamâ’ah.’”

    ReplyDelete
  166. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 1 dari saudari Azmi. dari apa yang telah saya pelajari selama satu semester kuliah filsafat, saya jadi mengetahui bahwa tes jawab singkat merupakan tes yang sebenarnya bukan untuk menguji seperti halnya tes lain pada umumnya. tes ini diberikan oleh prof Marsigit dengan berbagai tujuan : 1) sebagai pesan yang tersirat bahwasanya ilmu yang mahasiswa miliki tentang filsafat masih sangat sedikit sehingga mahasiswa perlu banyak membaca, baik bacaan dari blog, buku, internet dan sebagainya (bacaan yang ada dan yang mungkin ada). 2) bahwa ketika menjadi guru/dosen jangan semena-mena dalam memberikan ujian/tugas. 3) salah dalam belajar itu adalah hal yang lumrah, atau bisa dikatakan salah itu benar. benar jika kita mengetahui letak kesalahan kita dan sigap memperbaikinya. 4) Nilai yang berupa angka bukanlah tujuan utama dari pembelajaraan, karena yang terpenting adalah pemahaman. demikianlah yang dapat saya pahami tentang makna dibalik tes jawab singkat.

    ReplyDelete
  167. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    menanggapi pertanyaan 2 dari saudari Evy tentang pandangan filsafat mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu. dapat kita pahami bahwa pemimpin adalah orang yang memiliki kuasa terhadap orang yang dipimpin. contoh sederhananya adalah guru dan murid. guru memiliki kuasa terhadap siswanya saat mengajar di kelas. pemimpin yang sesuai ruang danwaktu akan selalu memperhatikan keadaan orang yang dipimpin. artinya ia tidak akan memaksakan kehendak dan bersikap semena-mena. dari tulisan tersebut juga dicontohkan bahwa guru tidak sepantasnya menjatuhkan sifat siswa, misal menjudge seorang siswa malas, bodoh, dsb, sehingga mereduksi sifat-sifat siswa yang lainnya. tugas pemimpin teramat berat, namun seorang pemimpin yang baik pasti mampu memposisikan dirinya dalam berpikir, berucap ataupun bertindak sesuai dengan ruang dan waktu sehingga orang yang dipimpin merasa nyaman.

    ReplyDelete
  168. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 3 dari saudari Tri terkait bagaimana agar dapat menembus ruang dan waktu dengan ikhlas. jika berbicara tentang keikhlasan maka ini telah memasuki ranah spiritual. sebenar-benarnya keikhlasan itu hanya dapat dirasakan oleh diri sendiri lewat hati. seseornag mungkin dapat menilai keikhlasan orang lain, namun pada dasarnya penilaian tersebut belum tentu tepat. agar bisa ikhlas maka kita harus menyandarkan segala sesuatunya kepada Allah SWT, jangan mengharapkan penilaian makhluk. manusia bisa beerikhtiar dengan ikhlas kemudian berserah diri dengan segala ketetapan Allah. jika usaha kita telah maksimal, namun hasilnya tidak sesuai dengan yang kita inginkan maka yakinlah bahwa ketetpan Allah itu pasti baik. mungkin kita diminta untuk berusaha lebih giat lagi atau mungkin juga hal yang kita inginkan justru buruk untuk diri kita. tugas kita berikhtiar dengan ikhlas dan memasrahkan hasil kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  169. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan 4 dari saudari Fitriani tentang perbedaan dewa dan power now. secara filsafat dewa dapat diartikan seseorang/sesuatu yang kedudukannya lebih tinggi. jika dikaitkan dengan kehidupan sosial bermasyarakat dewa juga dapat diartikan sebagai pimpinan. dari tulisan ini dapat kita ketahui perbedaan antara dewa dan power now. power now merupakan kekuasaan para dewa yang saat ini turut kita rasakan. misalnya kekuatan persenjataan Amerika, Rusia, kemudian Teknologi yang diciptakan oleh mereka. begitu besarnya pengaruh power now tentu harus kita sikapi dengan hati-hati jangan sampai menggerus nilai-nilai kebangsaan dan spiritual kita.

    ReplyDelete
  170. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007
    Ketika seorang siswa salah menjawab pertanyaan dari guru, atau mendapat nilai jelek ketika ujian, sebaiknya guru tidak menyalahkan siswa, dalam filsafat, kesalahan siswa itu merupakan kebenaran, karena berdasarkan faham fallibilisme “salaj itu benar dalam filsafat”. Jadi jangan langsung menilai siswa itu salah. Dengan adanya kesalahan siswa, guru pelu melakukan tindak lanjut, sebenarnya apa yang menyebabkan siswa salah menjawab pertanyaan, apakah karna siswa belum belajar, atau ada indikator pembelajaran yang belum tercapai. Inilah kegunaan filsafat, agar kita dapat melihat suatu hal dari sudut pandang lain.
    Sebagi guru, harus mengerti tentang dimensi ruang dan waktu. Guru harus mengetahui karakter siswa. Selain itu, guru juga harus mengenal lingkungan yang ada. Agar keputusan-keputusan guru itu tidak merugikan siswa. Dan kunci untuk menemmbua ruang dan waktu adalah keikhlasan.

    ReplyDelete
  171. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang telah Bapak share kepada kami. Dalam ilmu filsafat memang tidak ada yang salah. karena ilmu filsafat selalu memandang dari sudut pandang yang berbeda, dan setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda satu sama lain. semua itu benar akibat dari diri kita sendiri. Menyadari bahwa aku belum paham itu penting’ dengan begitu kita tidak akan sombong dengan apa yang kita ketahui. Dengan merasa bahwa diri sendiri belum tahu maka seseorang akan senantiasa belajar. Hakekat manusia itu belajar, ketika lahir belajar bernafas sampai nanti ketika ajal menjemput. Ilmu itu selalu berkembang dan pasti akan ada hal baru yang bisa dipelajari, maka sebagai manusia tidak boleh sombong (seperti yang sudah dijelaskan diatas langit masih ada langit). Manusia tidak tahu apa yang terjadi dibelahan bumi lain sampai ia mempelajarinya. Nilai kita jelek, itu merupakan suatu kebenaran karena ada beberapa kemungkinan, misalnya kita kurang bersungguh-sungguh dalam mengerjakan. sehingga kita harus bersungguh-sungguh dalam belajar agar tidak mendapatkan nilai yang jelek.

    ReplyDelete

  172. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Filsafat adalah ilmu yang menembus ruang dan waktu. Setiap orang memiliki pendapat sendiri-sendiri dan juga menganggap apa yang dipikirkannya itu benar akan tetapi jika dipandang dari pemikiran orang lain itu salah, tapi jawaban kedua benar menurut filsafat karena itu merupakan hasil memahahi dan menerjemahkan sesuatu sesuai dengan pikiran sendiri maka setiap orang itu adalah filsuf. Semua orang bisa belajar filsafat tapi tidak semua orang bisa berfilsafat.

    ReplyDelete

  173. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Filsafat adalah ilmu yang menembus ruang dan waktu. Setiap orang memiliki pendapat sendiri-sendiri dan juga menganggap apa yang dipikirkannya itu benar akan tetapi jika dipandang dari pemikiran orang lain itu salah, tapi jawaban kedua benar menurut filsafat karena itu merupakan hasil memahahi dan menerjemahkan sesuatu sesuai dengan pikiran sendiri maka setiap orang itu adalah filsuf. Semua orang bisa belajar filsafat tapi tidak semua orang bisa berfilsafat.

    ReplyDelete
  174. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Dari artikel diatas, dapat diperoleh banyak informasi. Bahwasanya siswa yang menjawab pertanyaan dengan salah adalah benar menurut Fallibilisme. Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT”. Benar jika seorang siswa menjawab semua pertanyaan dengan jawaban yang salah apabila seorang guru belum melakukan kegiatan pembelajaran, belum menyampaikan materi, belum memberikan kesempatan bekerja sama, belum memberikan pengalaman dll. Jika terkait nilai yang diperoleh siswa yang belum meningkat merupakan tanda bahwa siswa tersebut masih kurang banyak membaca. Sehingga dijelaskan kembali, bahwa tes yang dibuat bukan hanya mengukur kemampuan namun juga digunakan untuk menyadarkan siswa bahwa siswa perlu untuk menyadari jika diri mereka belum paham dengan baik. Selain itu, dengan diadakannya tes membuat siswa harus rendah hati, bahwa setelah ilmu yang ia pahami ternyata masih banyak lagi ilmu yang lain yang belum dipahami. Seperti kata pepatah “DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”.

    ReplyDelete
  175. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    Pendidikan Matematika

    Sesuatu yang salah itu bisa saja benar, tergantung dari sudut pandangnya. “Salah itu benar dalam filsafat”. Oleh karena itu ketika siswa melakukan kesalahan atau salah dalam menjawab pertanyaan jangan tergesa-gesa menyalahkan siswa tersebut. Guru perlu tahu apa yang menyebabkan kesalahan itu, dari siswa sendiri yang belum mempelajarinya, atau dari guru yang belum memberi fasilitas belajar, berdiskusi dengan siswa. Dalam belajar, menyadari bahwa diri sendiri belum paham itu penting dan tidak boleh sombong dalam keilmuan. Catatan yang penting adalah bahwa “filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah diri sendiri dengan memperbayak bacaan dengan bacaan yang dipilih”

    ReplyDelete
  176. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya tertarik dengan jawaban dari Bapak Prof. Marsigit M. A yang berbunyi: “Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar”. Yang dapat saya simpulkan adalah ketika kita tidak mengetahui tentang suatu hal dan kita melakukan suatu kesalahan pada hal tersebut, maka kita tidak salah, melainkan benar. Adalah benar ketika kita melakukan suatu kesalahan karena kita belum paham ilmunya. Begitu juga dalam kegiatan pembelajaran, guru tidak boleh langsung saja menyalahkan siswanya yang menulis jawaban yang salah, siswa melakukan kesalahan karena mereka belum paham/mengerti sehingga tugas/kewajiban seorang guru adalah memperbaiki kesalahan siswanya dengan cara yang lebih mudah dicerna oleh siswa.

    ReplyDelete
  177. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas artikelnya, Prof. Saya setuju dengan pernyataan bahwa “janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya.” Terkadang guru dan orang tua sering kali memarahi anak saat jawaban mereka salah ataupun nilai mereka jelek, tanpa mau tahu alasan dibalik itu semua, sehingga alangkah lebih baiknya kita mencari tahu dulu alasannya kemudian menasehati anak dengan cara yang baik.
    .
    Selain itu, saya juga setuju “jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.” Sehingga saat nilai anak murid kita belum bagus, sebaiknya kita refleksi diri kita sendiri terlebih dahulu untuk mengetahui sebenarnya apa yang salah dan bisa memperbaikinya di kemudian hari.

    ReplyDelete
  178. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Dari artikel di atas saya belajar bahwa pentingnya bagi seorang guru memahami karakteristik, situasi, dan kondisi siswa. Secara materil, kognitif, dan psikis. Setiap kondisi merupakan keadaan yang relatif bagi pelakunya untuk berkehendak. Bukan merupakan suatu kesalahan bagi seorang anak yang masih belum pernah diberi pengalaman untuk menyelesaikan suatu permasalahan dan dianggap salah oleh orang lain yang lebih dewasa ataupun lebih mumpuni di bidang tersebut. Sebagai seorang guru sudah merupakan kewajiban baginya untuk memfasilitasi sebaik mungkin siswanya dalam belajar. Sebagai seorang guru kita harus mampu memahami prior knowledge apa saja yang sudah dan belum dimiliki oleh siswa sebelum memasuki pembelajaran.

    ReplyDelete
  179. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dalam melihat sesuatu janganlah hanya dari satu sudut pandang. Kita harus melihat dari berbagai sudut pandang. Terkadang sesuatu yang salah itu bisa saja benar tergantung dari sudut pandangnya. Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Prof diatas bahwa “Mendapatkan nilai yang jelek adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya salah itu benar”. Oleh karena itu dalam pembelajaran jangan langsung menjudge atau menilai siswa itu salah. Sebaiknya mencari tahu alasan dibalik semua itu. Guru harus mampu memahami kondisi ataupun karakteristik siswa.

    ReplyDelete
  180. Bayu Widyanto
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244010

    Dari artikel diatas, diketahui bahwa Fallibilisme merupakan prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah.Siapasih disini yang belum pernah berbuat salah, pasti sudah pernahkan walaupun itu sekali. Misalnya saja seorang siswa yang diberikan soal matematika oleh guru dan kemudian siswa tersebut menjawab soal yang diberikan. Tentu saja siswa tersebut menganggap bahwa jawabannya itu benar. Akan tetapi jawaban yang diberikan siswa tersebut sebenarnya salah. Saya setuju dengan Prof Marsigit, setuju dengan kalimat yang mengatakan "“SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya". Jadi kita sebagai seorang guru harus mengetahui, kenapa siswa tidak menjawab soal tersebut dengan benar. Hal tersebut bisa jadi karena guru kurang memfasilitasi pembelajaran, siswa yang kurang belajar, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  181. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Saya tertarik dengan pertanyaan nomer satu oleh mba Azmi Yunianti. 
    Terimakasih atas jawabannya Prof. Saya baru mengetahui istilah Fillibilisme setelah membaca jawaban Prof. Ketika siswa tidak dapat menjawab pertanyaan dalam ujiannya, seringkali yang dijudge hany siswanya saja. Padahal, hal tersebut tidak hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri. Jika guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka guru jangan berharap siswa akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. Alangkah baiknya jika guru juga melakukan refleksi diri, apa saja yang masih kurang dan pembelajaran?sudahkan guru memotivasi siswa?dan sebagainya. Hal tersebut menjadi evaluasi agar pembelajaran menjadi lebih baik lagi.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  182. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Menembus ruang dan waktu dengan keikhlasan dijelaskan oleh Prof. Marsigit dari sudut pandang filsafat yaitu dengan menjalani hidup sesuai dengan kodratnya. Saya dapat menangkap pembelajaran penting dari sini yaitu untuk terus bersyukur dengan setiap ketentuan yang sudah Allah SWT tetapkan dalam hidup kita. Hasil yang kita peroleh dari setiap usaha yang kita lakukan itu sudah merupakan takaran terbaik untuk kita. Jika manusia masih saja merasa kekurangan maka hal tersebut menunjukkan bahwa dia belum mampu mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan.

    ReplyDelete
  183. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya akan sedikit mengulas dari pertanyaan dan jawaban yang ada. Pada pertanyaan 1, saya tertarik dengan pernyataan nilai yang jelek adalah benar dimata filsafat. Seringkali anak jika menjawab soal, jawabannya belum tentu benar-dapat salah total ataupun benar namun belum tepat. Dari pernyataan sebelumnya, jawaban yang salah tersebut adalah benar menurut siswa yang menjawab. Sehingga janganlah selalu menyalahkan anak jika jawaban yang diinginkan belum tepat. Sebagai guru memberikan fasilitas belajar, pengalaman belajar, kesempatan kerjasama yang baik akan memberikan anak kemampuan yang baik dan terus bertambah, sehingga anak akan dapat menjawab dengan benar. Sebagai anak/siswa teruslah belajar dan membaca agar wawasan pengetahuan terus bertambah.
    Pada pertanyaan 2, pemimpin yang dapat menembus ruang dan waktu dengan menjadi pemimpin yang ideal dan mengamalkan spiritualitas dalam kepemimpinannya. Namun menambahkan saja, jika pemimpin itu mengamalkan spiritualitas dalam kepemimpinannya, ia harus mampu melihat beragam agama yang ada, sehingga tidak menyinggung beberapa pihak dan seperti tidak hanya melihat dari kalangannya saja.
    Pada pertanyaan 3, agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar dan ikhlas dapat dilakukan dengan cara membangun kehidupan sesuai dengan batasan ruang dan waktu. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya.

    ReplyDelete
  184. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Perkuliahan yang sangat menyenangkan jika dilihat dari hasil refleksi perkuliahannya. Namun ada satu poin yang sangat menarik perhatian saya, yaitu mengenai tidak ada yang salah dalam filsafat ilmu, karena sesungguhnya salah itu benar. Jadi sebagai calon guru, kita tidak dapat dan tidak boleh men-judge peserta didik salah jika kita belum memberikan fasilitas belajar, belum memberikan pengalaman belajar, dan belum memberikan kesempatan kerjasama. Maka tugas kita sebagai calon guru adalah memberikan fasilitas belajar, penglaman belajar, serta kesempatan kerjasama agar kita dapat mengharapkan jawaban yang benar dari peserta didik.
    Selain itu, anjuran untuk terus membaca dan tetap tidak sombong sangat menyadarkan bahwa memang “di atas langit masih ada langit.”

    ReplyDelete
  185. Lisfiyati Mukarromah
    15301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih sudah membagikan artikel di atas Prof. Saya tertarik dengan pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti dan jawaban Prof Marsigit.
    Dari jawaban Prof Marsigit saya mendapat point yang sangat menarik yaitu SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT.
    Sebagai calon guru, kita harus memahami betul point tersebut. ketika besok kita menemukan siswa yang melakukan kesalahan, maka itu merupakan suatu kewajaran dalam filsafat. Jika kita sudah mengajarkan suatu materi namun anak tersebut masih belum paham, kita tidak boleh menyalahkan anak tersebut. Kita bisa merefleksi diri, mungkin cara kita menyampaikan materi kurang tepat, metodenya kurang tepat, bahasanya terlalu rumit, mungkin kita belum cukup menfasilitasi siswa, belum memberi pengalaman belajar, belum memberinya kesempatan untuk berdiskusi, dll.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  186. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih pak, atas jawaban yang sudah prof tulisankan. Jika seorang mendapatkan hasil yang rendah dalam suatu tes, maka itu akan membuat seorang untuk rendah hati, membuat orang untuk terus mencari ilmu karena ilmu yang dimiliki masih sedikit. Jika kita tidak pernah merasa rendah hati, maka kita akan merasa bahwa diri ini selalu benar, dan itu adalah sifat yang tidak baik. Karena memang benar bahwa “di atas langit, masih ada langit”

    ReplyDelete
  187. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Saya tertarik dengan pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti, karena sebelumnya kuis pada kelas etnomatematika saya mendapat nilai yang sangat rendah. Dari artikel-artikel pada blog ini saya menemukan bahwa hal-hal yang Pak Marsigit tanyakan pada saat kuis tertuang secara gamblang jawabannya di blog ini. Karenanya untuk lebih memahami perkuliahan etnomatematika diharuskan untuk rajin membaca 

    ReplyDelete
  188. Rina Anggraeni
    15301241043
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Dari refleksi di atas tentang perkuliahan filsafat dengan tema “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” didapat kesimpulan bahwa filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih. Jadi, saya memetik pesan dari refleksi di atas intinya kita harus rajin membaca agar bisa membangun diri sendiri karena diri kita sendirilah yang disebut filsafat.

    ReplyDelete
  189. Amayda Ade Pramesti
    15301244012
    S1 Pend.Mat A 2015

    saya tertarik dengan pertanyaan dari Mbak Azmi serta jawaban dari Prof mengenai salah itu benar difilsafat. hal ini jika diterapkan dalam proses pembelajaran maka siswa melakukan kesalahan itu hal yang benar. siswa melakukan kesalahan jika dia belum paham tentang materi tersebut maka dia benar karena ya memang benar jika dia melakukan kesalahan karena dia belum paham dengan apa yang dipelajarinya. terimakasih Prof atas ilmunya

    ReplyDelete
  190. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Saya masih sering mendengar pemberitaan mengenai kekerasan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Ketika seorang siswa melakukan kesalahan, guru terkadang berbuat semena-mena kepada siswa. Dengan membaca artikel Prof. Marisigit, saya menyadari bahwa kesalahan yang dilakukan siswa merupakan salah satu proses belajar siswa. Ketika siswa melakukan kesalahan, tidak semua kesalahan itu disebabkan oleh siswanya. Seperti yang disampaikan Prof. Marsigit kesalahan tersebut dapat disebabkan oleh guru yang belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama. Hal ini dapat menjadi, bagi saya dan para calon guru, atau guru lainnya untuk menjadi semakin lebih baik dalam proses pembelajaran.

    ReplyDelete
  191. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Sebelumnya, terima kasih atas artikel yang telah Bapak post karena menambah ilmu dan membukakan pikiran saya (lagi). Pada artikel tersebut saya terfokus pada paham "Fallibilisme" bahwa "Salah itu benar dalam filsafat”. Kita tidak boleh menyalahkan anak jika ia salah dalam menjawab pertanyaan tanpa mengetahui keadaannya. Jika siswa belum belajar atau jika siswa tidak paham, tentulah jawaban yang salah ini benar menurut keadaan. Ketidakpahaman siswa inilah yang menjadi cermin bagi seorang pendidik. Jika siswa tidak paham, berati pendidik kurang memfasilitasi siswa dalam belajar. Pembelajaran yang dilaksanakan kurang optimal sehingga pendidik juga harus merefleksi dan memperbaiki pembelajaran.

    Selain itu, menurut saya untuk mengetahui keadaan atau latar belakang dari jawaban siswa maka terdapatlah soal essay. Dari soal essay pendidik dapat mengetahui apa yang membuat siswa salah dalam menjawab. Kemudian, kesalahan yang ditemukan ini diperbaiki, salah satunya dengan program remedial.

    Berkaitan dengan berpikir isomorfis, menjadi pendidik juga menuntut kita agar berpikir isomorfis dengan siswa. Pendidik harus memfasilitasi siswa agar memahami konsep pembelajaran atau dengan kata lain siswa berpikir isomorpis dengan guru terkait materi pembelajaran. Pendidik juga harus melihat dari sudut pandang siswa saat menyusun rencana pembelajaran terkhusus LKS. Penyusunan LKS harus disesuikan dengan sudut pandang siswa agar siswa dapat mengerjakan LKS tersebut. Hal ini berati guru juga harus berpikir isomorpis dengan siswa agar siswa dapat berpikir isomorpis dengan guru.

    ReplyDelete
  192. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada postingan Bapak Prof. Marsigit yang berjudul "Menembus ruang dan waktu" ini--khususnya pada bagian Pertanyaan 1 dan jawabannya--setidanya ada tiga hal penting yang saya catat/pahami. Pertama, bahwa salah dalam menjawab soal itu benar jika konteksnya siswa/orang yang menjawab soal tersebut belum belajar. Oleh karena itu, tidaklah adil jika seorang guru "menyalahkan" siswanya apabila siswa tersebut melakukan kesalahan dalam menjawab soal. Bisa jadi, guru tersebut belum memfasilitasi siswanya untuk belajar. Kedua, bahwa filsafat itu penting dalam membangun kesadaran diri bahwa rasa "ketidaktahun" terhadap sesuatu itu perlu dimiliki, sebab dengan rasa "ketidaktahuan" tersebut dapat mendorong diri kita untuk selalu belajar dan belajar dan selalu rendah hati. Ketiga, bahwa filsafat merupakan oleh pikir. Oleh karena itu, untuk mempelajari filsafat pada orang lain, kita perlu mempelajari dan memahami pikiran-pikiran orang tersebut sedemikian sehingga terwujud pikiran yang isomorfis.

    ReplyDelete
  193. Eka Susanti
    NIM. 15301241006
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Saya ingin menanggapi jawaban Prof Marsigit mengenai pertanyaan mbak Azmi. Saya tertarik dengan kalimat berikut “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Hal ini membuat saya berpikir bahwa benar jawaban siswa adalah cermin bagaimana cara guru mengajarkan materi di kelas. Apabila siswa menjawab dengan jawaban yang salah berarti benar jika guru tidak memfasilitsinya untuk mengontruksi pengetahuannya sendiri atau bisa jadi benar apabila siswa tersebut yang tidak menggerakkan dirinya untuk belajar

    ReplyDelete
  194. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih pak atas artikelnya. Dari artikel tersebut, sesuatu yang menarik perhatian saya adalah mengenai paham "Fallibilisme" bahwa "Salah itu benar dalam filsafat”. Seorang guru haruslah berhati-hati dalam tindakannya kepada siswa, jangan serta merta menyalahkan siswa atas ketidakmampuannya dalam mengerjakan soal atau menjawab pertanyaan. Kita sepatutnya mengkaji terlebih dahulu penyebab apa saja yang kira-kira menyebabkan ketidakmampuan siswa tersebut. Bisa jadi salah satu penyebabnya justru bersumber dari pembelajaran yang kita laksanakan belum mampu memfasilitasi siswa.

    ReplyDelete
  195. Intan Heryani Putri
    1530124101
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Wah, menarik. Terima kasih, Prof. Membaca tulisan "Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih." memotivasi saya untuk terus meningkatkan minat baca pada bacaan yang baik dan bermanfaat, serta membangun. Dan yang juga sangat menarik bagi saya adalah pernyataan bahwa "SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT”. Sehingga guru janganlah tergesa menyalahkan anak jika ia Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Menarik sekali

    ReplyDelete