Nov 4, 2015

Menembus Ruang dan Waktu


Direfleksikan oleh Fitriani, S.Pd, 15709251067
PPs Prodi Pendidikan Matematika A 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015
Diperbaiki oleh Marsigit

Assalamualaikum wr.wb
Pada pertemuan ke-7 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Selasa tanggal 27 Oktober 2015 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 305B Gudung lama Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan tes jawab singkat dengan topik “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” adapun bentuk-bentuk dari pertanyaan Beliau seperti berikut:

Pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti

Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar.

Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Istilah ini diambil dari kata latin abad tengah Fallibilis. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin.

 Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Jika engkau belum membaca Elegi-elegi, maka adalah Benar jika nilai anda adalah nol. Maka sebenar-benar Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan Subjekya; untuk melindungi siswa SD dari ketersemena-menaanya gurunya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Terkait dengan nilai yang belum meningkat, ini merupakan pertanda bahwa “Anda Masih perlu memperbanyak Bacaan” karena dalam tes yang saya buat ini,  bukan hanya mengukur kemampuan tetapi sebagai pembelajaran bahwa ternyata “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit). Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.

Berfikir isomorfis merupakan pemikiran yang sepadan yang menggambarkan pemetaan satu-satu. Misalnya pemikiran seseorang mengatakan bahwa di Indonesia ada Jakarta, di benua Kutub ada beruang merupakan contoh pemikiran Isomorfis. Setiap orang dapat mengatakan apa yang difikirkannya kecuali orang yang mabuk, pikun dan gila. Maka pikiran dua orang bersifat Isomorpis, pikiran banyak orang juga bersifat Isomorpis, bahkan pikiranmu dengan Dunia ini juga Isomorpis. Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya, di dala pikiran kita. Aku punya konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst; maka pikiranmu juga mempunyai konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst. Itulah bahwa pikiran kita saling berisomorpis.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.

Dengan demikian, tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Namun, perlu diketahun bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati maksudnya adalah agar seseorang tidak merasa sombong dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”. Di dalam tingkatan normatif pemikiran, ketika seseorang yang merasa sombong di dalam dirinya maka seseorang tersebut telah terkena MITOS. Kerena setinggi-tingginya pemikiran maka ancamannya adalah MITOS. Kerena dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu Spiritual. Ada kalanya seseorang ketika berada dalam tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus  terhenti dan diturunkan ke hati, contohnya ketika proses ibadah. Proses ibadah yang dimaksud terkhususnya adalah do’a. Doa yang diteruskan dari pemikiran yang terhenti akan diteruskan ke hati sehingga akan diambil alih oleh Sang Maha Kuasa.

Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT. Amin. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, maka kita menemukan terminologi Kesadaran Hati. Jika kita ekstensikan maka kita akan menemukan lagi Kecerdasan Hati, Ilmu Hati, Metode Hati, …dst. Itu hanya dapat dipahami dengan spiritualitas kita masing-masing. Sedangkan terminologi yang dihasilkan semata-mata menunjukkan keterbatasan bahasa atau ungkapan untuk menggambarkan Dunia Hati. Jangankan bahasa atau istilah, sedangkan pikiran kita juga tidak akan tuntas mampu mengetahui relung hati kita masing-masing.

Berdasarkan pengalaman Beliau Bapak Marsigit yang telah itikaf di mesjid dibimbing oleh para SUFI selama beberapa hari hanya untuk memperbaiki ibadah, tata cara sholat, doa dan sebagainya sehingga Beliau dapat mengetahui bahwa ada fase dimana pemikiran berhenti dan diteruskan ke hati. dan doa tersebut diambil alih oleh sang Maha Kuasa. “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.

Pertanyaan 2 dari Evvy Lusiana

Bagaimana pandangan filsafat tentang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mengenai pemimpin berarti ada pemimpin dan ada yang dipimpin termasuk struktur dunia yang lengkap berdimensi. Tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin.  Pemimpin merupakan dewa bagi orang yang dipimpin. Sehingga Logika Para Dewa berarti Logika Para Pemimpin. Contohnya “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”. Sehingga divisualisasikan dalam bentuk perwayangan atau cerita sehingga berbicara yang berkaitan dengan Para Dewa pun sebenarnya juga berstruktur seperti ada Dewa Raja, ada Dewa Prajurit, ada Dewa Perdana Menteri, ada Dewa Lurah dan seterusnya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki logika Para Dewa, kontradiksi Para Dewa, kesalahan Para Dewa dan seterusnya. 

Mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu yang baik berarti dapat dianalogikan sebagai hubungan antara subyek dan predikat yang mempunya dimensi yang lebih tinggi. Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat. Maka masing-masing dari kita adalah pemimpin dari sifat-sifat kita masing-masing. Menjadi pemimpin yang baik  harus memenuhi dimensi yang lebih tinggi maka pikiran lebih luas dan dalam serta pengalaman yang lebih luas dan mendalam. Baik secara fisik seorang pemimpin harus kuat. Secara formalnya, misalnya dengan melanjutkan pendidikan S2 bagi pemimpin merupakan peningkatan dimensi untuk menjadi pemimpin yang baik yang merupakan indikator titik point peningkatan dimensi.

Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Manusia hidup menuju dimensi yang lebih baik dalam fenomena garis lurus dalam siklik yang berputar. Pada perputaran siklik ada fase dimana manusia menjumpai peristiwa yang sama, misalnya selalu mengalami keadaan Hari Minggi tiap minggunya, manusia lupa ketika telah lanjut usia dan kembali ke sifat kekanak-kanakan. Hal ini berarti dalam hidup anda tidak berarti bahwa Anda akan semakin hebat melainkan ada fase dimana Anda lupa atau menjadi pikun. Fase siklik dari kehidupan yang terluar adalah adalah spiritual. Fase siklik ini bagi dunia timur atau spiritualisme, merupakan wadahnya bagi manusia untuk menyukuri hidup; maka orang bijaksana di timur adalah orang yang pandai bersyukur. Fase siklik inilah yang tidak dimiliki oleh negeri negeri Barat. Fase kehidupan negeri Barat merupakan diagram lurus (open ended) yang memiliki ended yang terbuka sehingga tidak mengerti hidupnya mau kemana ujungnya mau kemana dan tujuannya kemana; dengan filsafat hidup mencari terus dan terus mencari. Maka bijaksana menurut dunia barat adalah manusia yang sedang mencari.

Siklik terluar di negeri kita adalah Spriritualitasme yang berpengang teguh pada keyakian masing-masing dan berbasis serta dipayungi oleh spriritualisme masing-masing. Sehebat-hebat pikiran dan sepusing-pusing pikiran maka berhentilah dan mulai mengambil air wudhu kemudian sholat bagi umat muslim dan beribadah yang lain sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Siklikkanlah pikiran dan kegiatan anda sehingga mampu menghayati karunia dan kebesaran Tuhan.

Jika fenomena siklik kita ditambah unsur linear maka itulah yang namanya fenomena hidup maju berkelanjutan, ituleh hermenitika hidup yaitu terjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermenitika hidup itulah metode hidup yang sesuai dengansunatullah atau kodrat tuhan; wujudnya dalam masyarakat adalah saling bersilaturakhim. Inilah harta karun dunia timur yang belum digali. Jika digali dan dikembangkan maka kita akan mempunyai metode pembelajaran dengan Metode Silaturakhim. Mengapa tidak? Renungkanlah

Sifat pemimpin dianalogikan sebagai hubungan subyek dan predikat. Bagaimana seorang pemimping megeloha sifat-sifatnya. Contohnya memiliki kulit sawo matang, berambut keriting, berbadan kurus, dan seterusnya yang berjumlah semilyar pangkat semilyar lebih sifat yang ada pada diri pemimpin, belum lagi sifat-sifat yang ada di luar diri pemimpin.

Maka sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna memiliki sifat. Misalnya penglihatan manusia yang tidak lengkap merupakan sifat yang mesti disyukuri sebab jika manusia memiliki penglihatan yang lengkap maka   manusia tidak akan hidup dengan tenang bahkan salalu pingsan jika memandang sesama. Sehingga sebenar-benar manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Sipemilik sifat diterminis adalah Subjek, yang dijatuhi sifat diterminis adalah objeknya.  Maka godaan yang paling besar dari seorang pemimpin (sebagai subjek) adalah menggunakan kuasanya terhadap objeknya. Godaan terbesar seorang guru adalah menjatuhkan sifat kepada murid-muridnya, dimana sifat yang dijatuhkan belum tentu cocok dengan keadannya. Itulah maka sebagian dosa-dosa kita adalah dikarenakan sifat diterminis kita.

Secara netral kita bisa determin dengan menyebutnya si A tinggi, si B jangkung dst; tetapi kategori tinggi di Indonesia belum tentu kategori tinggi di negara lain seperti pemain basket Amerika. Maka dalam menjalani hidup ini khususnya pemimpin haruslah berhati-hati tidak boleh semena-mena menjatuhkan sifat orang yang dipimpin, karena sifat yang dijatuhkan jika tidak tepat, maka dampaknya bisa sangat besar bagi objeknya. Jatuhnya sebuah sifat itu merupakan fenomena abstraksi, karena manusia tidak mungkin memikirkan semua sifat, melainkan hanya sedikit sifat sesuai yang mampu dipikirkan sesuai keadaan subjektif dirinya. Sehingga menjadi seorang pemimpin yang ideal perlu mengamalkan ayat-ayat Spiritualitas kepemimpinan yang ada.

Pertanyaan 3 dari Tri Rahma Silviani

Dalam mengolah pikir dalam menembus ruang dan waktu tentang olah pikir yang menembus dunia. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas? 

Jawaban Beliau Bapak Prof.Marsigit M.A

Caranya adalah sesuai dengan hukum Tuhan dan SunnatullahNya beserta kondratnya yang dimana ikhlas juga termasuk kodratNya. Maka definisi ikhlas menurut Beliau dimulai dari level bawah dari Spiritual dalam filsafat merupakan keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. seperti ikhlasnya batu menembus ruang dan waktu, yang tidak satupun batu yang protes dalam menjalani kehidupannya. Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu. Misalnya ruangan menjadi gelap disebabkan ada bom merupakan contoh salah ruang dan waktu karena merupakan kejadian yang dipaksa agar gelap. Itulah contoh tidak ikhlas. Ikhlas adalah unsurnya surga dan tidak ikhlas adalah unsurnya neraka.

Secara materialnya, normatifnya, formalnya sampai kepada Spiritualnya dalam menembus ruang dan waktu itu, semua terjadi karena keikhlasan. Jadi saya mendefinisikan keikhlasan secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya. Sehingga kejadian seperti hari kiamat pun merupakan keikhlasan jika itu sudah merupaka suratan takdir. Tetapi manusia bisa saja mengalami ketidakikhlasan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misal ketika sengaja minum obat overdosis, bisa saja dunia subjektifnya kemudian mempunyai 2(dua) matahari, matahari terbit dari selatan..dst. Itu adalah fenomena tidak ikhlas. Maka sebenar-benar tidak ikhlas adalah perbuatan unsur-unsurnya syaiton. Na’u dzubillah mindalik. Maka bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. 

Pertanyaan 4 dari Fitriani

Apa bedanya Para Dewa dengan Power Now?

Jawaban Beliau Bapak Prof Marsigit, M.A  

Ayam itu Dewanya Cacing
Cacing itu Dewanya Tanah
Kakak Dewanya Adeknya
Engkau Dewa dari Kendaraamu
Mentri merupakan Dewanya Dosen
Pengulu merupakan Dewa pernikahan

Maka sebenar-benar yang dimaksud para Dewa adalah subjeknya. Sehingga di dunia ini Amerika itu merupakan negara Dewa. Sama halnya dengan Rusia dan Cina merupakan negara para DEWA karena memiliki senjata nuklir yang dimana bisa atau mampu menghancurkan sebuah negara dengan senjata nuklirnya. Sehingga kumpulan ilmu politik, sosio politik, dan seterusnya jadilah istilah  POWER NOW yang dibuat oleh negara-negara dewa tersebut. Tingkatannya dari dimensi yang rendah meliputi Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, Pos Modern dan Power Now. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tribal adalah dewanya para Archaic, Tradisional adalah dewanya para Tribal, Feudal adalah dewanya para Tradisional, Modern adalah dewanya para Feudal dan Pos Modern adalah dewanya para Modern ..demikian seterusnya.

Dimulai dengan peradaban Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now. Istilah modern yang sebenarnya telah ada pada masa 1700an pada masa Rene Decrates pada masa kontemporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewanya adalah Barat Obama sedangkan Power Now adalah kekuasaan dari negara Dewa tersebut. 

Pertanyaan 5 dari Nur Afni R N

Apa bedanya Power Now dengan Super Power?

Jawaban Beliau Bapak Marsigit M.A

Power Now itu digambarkan denga orang yang super maka tidak cukup kalau wajahnya cuma satu. Sehingga yang dilakukan oleh super power dalam perwayangan yaitu Prabu Arwana dengan banyak muka sehingga dikatakan Dasa Muka. Dasa muka meunjukkan hidup yang standar ganda. Jika mukanya satu maka standarnya satu kalau mukanya 10 maka standarnya 10 untuk memanipulasi ruang dan waktu. jangankan mukanya 10, orang yang mukanya 1 saja bisa punya banyak standar. Oleh karena itu, di daerah bergaul dengan negara-negara Super Power dan  sebagainya selalu menerapkan standar ganda. Dasa Muka sebagai lambang keburukan Prabu Rahwana; namun jangan dikira, hanya melalui kajian filsafatlah bahwa kita sebetulnya juga menemukan Prabu Ramawijawa (lambang kebaikan) akan mempunyai Dasa Muka dalam tanda petik. Dikarenakan khasanah kebaikan maka yang demikian tidak perlu diekspos supaya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Jika Prabu Ramawijaya tidak mempunyai sifat Dasa Muka pula maka dia tidak akan mampu mengalahkan Prabu Rahwana. Maka sebenar-benar sifat Dasa Muka atau Multifacet adalah berdimensi dan berstruktur. Setiap manusia mempunyai fatal (takdir) dan potensi (ikhtiar) untuk bersifat multifacet. Maka multifacet adalah struktur dan dimensinya dunianya manusia masing-masing; tanpa itu maka manusia tidak akan mampu menembus ruang dan waktu.

Standar ganda merupakan dua sisi yang berlainan seperti disisi lain ingin membantu namun di sisi lain ingin mengambil keuntungan. Sehingga sebenarnya menggambarkan standar ganda dengan menggunakan kata ganda pun tidak cukup sehingga diganti Multi Standar. Di dalam dunia perwayangan, Dunia jahat dikalahkan oleh kebaikan diibaratkan dengan Prabu Wijaya yang dibantu oleh Hanoman. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidk boleh hanya berperan satu atau dua saja dalam hidup ini. Misanya mulfaset mimik wajah yeng bisa sedih dan gembira, cemberut, sendara dan sebagainya. Maka sifat multifacet atau sifat ganda atau standar ganda atau standar multiple sekalipun itu dapat negatif dapat positif. Standar ganda yang negatif seperti sifat Prabu Rahwana atau negeri Superpower; standar ganda positif adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Sebenar-benar standar ganda adalah kontradiktifnya filsafat; itulah sifat dunia.

Pertanyaan 6 dari Retno Kusuma Dewi

Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? 

Jawaban Beliau Prof Marsigit M.A

Perbedaan agama merupakan suatu hal yang berdimensi dan berlevel. Sesuai dengan tingkatannya yaitu Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Masing-masing mempunyai dimensi dan level yang sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti halnya ibadah, seorang muslim tidak dapat mengajak seseorang yang beragama lain untuk mengikuti ibadah ke masjid, begitu juga sebaliknya. Ibadah jika diturunkan akan menjadi Ilmu-ilmu bidang seperti politik, tata negara. Dalam falsafah Pancasila terdapat monodualisme yaitu HABLUMMINALLAH yang merupakan hubungan antara makhluk denga makhluknya dan HABLUMMINANNAS meupakan hubungan dengan sesama manusia. Sehingga dalam Pancasila relevan mencerminkan bangsa Indonesia yaitu toleran yang meghargai perbedaan. 

Sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satudengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA. Semua memiliki budaya tersendiri. Budaya dapat menambah pengetahuan. Budaya yang satu dengan budaya yang lain dapat membentuk chemistri, dapat dipikirkan, dapat diinginkan dan dapat dilakukan. Maka kontradiksi itu hanya dipikiran saja namun tetaplah damai dalam hati.

Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih.

Wassalamualaikum wr.wb
         



29 comments:

  1. Johanis Risambessy
    16701251029
    PPs PEP B 2016

    Dalam berfilsafat tidak ada istilah benar dan salah. Benar menurutmu belum tentu benar menurut orang lain. Oleh karena itu, dalam mengungkapkan apa yang kita pikirkan usahkan agar orang lain juga paham dengan apa yang akan kita sampaikan. Karena benar atau salah itu tergantung ruang dan waktu. Dengan demikian, janganlah kita tergesa-gesa untuk menyalahkan orang lain ketika menjawab yang salah. Karena salah itu benar dalam filsafat. Bisa saja orang tersebut belum belajar sehingga Ia tidak bisa menjawab. Hal ini dilakukan untuk menghindari sikap keegoisan kita kepada orang lain lain.

    ReplyDelete
  2. "Ayam itu Dewanya Cacing
    Cacing itu Dewanya Tanah
    Kakak Dewanya Adeknya
    Engkau Dewa dari Kendaraamu
    Mentri merupakan Dewanya Dosen
    Pengulu merupakan Dewa pernikahan"

    Manusia berfilsafat, seperti Prof Igit
    Jawaban ini menghenyakkan akal sehatku
    dan kemudian aku berpikir
    "Apa filsafat diriku sendiri?"

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  3. Dalam sebuah silogisme, saya terkagum pada kalimat ini "Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now."
    Ini merupakan susunan dalam filsafatnya masing-masing manusia. Manusia dalam perspektif dalam dirinya akan berhasil membaut sesuatu yang besar dan disebut sebagai power now!

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  4. Dasa muka sebagai standar ganda pada diri manusia pasti ada. Kehidupan tersebut membentuk filsafat dalam dirinya sehingga filsafat tersbeut perlu dipikirkan pola dan strukturnya sesuai kebutuhan masyarakat tersebut. Power now datang dan super power memiliki karakteristiknya masing-masing. Kenapa harus dibandingkan?

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  5. Standar ganda itu seperti menciptakan kemunafikan pada dirinya sendiri, namun bisa ditoleransi dengan cara yang lebih sederhana. Manusia yang berstruktur terlalu dalam dan membentuk pola sendiri harusnya memiliki ruang dan waktu untuk dia selesaikan sendiri. Dalam membangun ruang waktu sebagai diri yang selalu dipenuhi kecendekiaan manusia harus mengembalikan dirinya pada ruang dan waktu dan sekali lagi bergantung atas ruang dan waktu. Manusia perlu berpikir tentang power now yang akan dibawa kemana diri ini, semuanya berstruktur atas dan oleh pikiran serta nurani masing-masing individu yang dilalui dengan ikhtiar yang ikhlas. Satu hal yakni iktiar dan doa.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  6. Ruang dan waktu mengajari manusia dalam berpikir.
    Saya merefleksikan ruang dan waktu adalah mata kuliah filsafat. Ratusan kali diri saya mengutuk sistem, kenapa komentar saya tidak sesuai dengan jumlah yang sudah saya hitung. Saya kemudian mengeluh, pada akhirnya saya harus kembali menciptakan ruang dan waktu.
    Manusia berpikir maka ia yang akan terus mengetahui filsafatnya.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  7. Pak Marsigit,
    saat ini saya tidak mengeluh, tapi saya bahagia diberi waktu yang jauh lebih panjang dari pada yang lain untuk belajar membentuk filsafat saya sendiri.


    salam sungkem
    salam kangen
    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  8. Manusia kemudian berpersepsi, sesuai dengan kutipan dari atas "bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar."
    Saya selalu belajar dari Prof. Igit yang selalu menginspirasi saya untuk terus mengenal filsafat diri dan menjadikannya pondasi paling kuat untuk berpikri dan terus berusaha. manusia yang berfilsafat ia adalah yang mengenal dirinya sendiri.

    memet Sudaryanto
    s3 PEP

    ReplyDelete
  9. Pembentukan filsafat pada diri masnuia, seperti hubungan subyek dan predikat.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  10. Yang pasti prinsip dalam manusia memahami dirinya sendiri, sebenar-benar tiap manusia di bumi ini adalah berbeda, dan bahkan jumlah perbedaannya tidak bisa dihitung melalui skope statistik pun, karena setiap individu seperti di atas memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satu dengan yang lain, baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA.

    Memet Sudaryanto
    S4 PEP

    ReplyDelete
  11. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas?

    Kenapa dipikirkan? Ikhlas tidak untuk dipikirkan, kalau masih memikirkan maka belum ikhlas.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP

    ReplyDelete
  12. Tidak ada yang salah dengan berpikir, tapi ada kemungkinan bahwa cara berpikirnya yang keliru. Cara berpikir yang keliru adalah cara berpikir yang tidak refleksif, dengan kata lain, cara berpikir yang tidak menjelaskan sesuatu. Konklusi yang didapat dari cara berpikir semacam itu kemungkinan besar akan keliru. Terima kasih.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  13. Bertu Takaendengan
    16709251034
    P.Mat B

    Sebenar-benarnya keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah keikhlasan itu sendiri. Keikhlasan merupakan salah satu kodrat dan sifat Tuhan karena itu jalanilah hidup ini sesuai dengan kodrat dan ketetapanNya. Sesuatu disebut ikhlas apabila kita dapat memikirkan, mengatakan dan melakukan sesuatu tanpa ada paksaan dari pihak lain atau berdasar pada kesadaran dan keinginan diri sendiri. Misalnya dalam membuat komen pada kolom komentar di blog Pak Marsigit, kita harus memiliki sifat ikhlas dimana setiap hal yang kita pikirkan dan tuliskan di kolom komentar merupakan murni pemikiran kita yang didasarkan pada kesadaran untuk dapat meningkatkan dimensi berpikir kita dalam berfilsafat

    ReplyDelete
  14. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Mendapat nilai jelek dalam filsafat itu wajar tetapi bukan berarti kita itu bodoh tetapi kita belum menguasai sepenuhnya apa yang dikehendaki oleh seorang guru maupun dosen saat itu.

    ReplyDelete
  15. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Manusia memang tempatnya salah dan lupa karena semua itu sudah menjadi kodratnya, tetapi setelah salah harus segera instropeksi diri akan kesalahan yang diperbuat.

    ReplyDelete
  16. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Fallibilis yang berasal dari bahasa latin sebagai konsep yang sangat vital dalam ilmu pengetahuan untuk mendapatkan kebenaran yang akurat.

    ReplyDelete
  17. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dalam filsafat salah itu benar hendaknya seoarang guru atau pendidik ketika melihat siswanya berbuat salah harus segera memberikan pemahaman dari apa yang sudah dilakukan.

    ReplyDelete
  18. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ketika anak didik berbuat salah berarti anak didik tersebut belum belajar, jangan langsung menghakimi anak didik tersebut.

    ReplyDelete
  19. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Guru yang bijak tentunya akan memberikan segala upaya dalam belajar, seperti pengalamannya, kesempatan untuk mengutarakan pendapatnya, saling tolong menolong dan juga bekerjasama dalam kebaikan.

    ReplyDelete
  20. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Terus belajar dan terus berusaha supaya kita mendapatkan nilai seperti yang kita inginkan, kita idamkan, kita harapkan dengan cara yang baik pula.

    ReplyDelete
  21. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Untuk belajar ilmu kepada seseorang tentunya kita harus mengikuti apa yang beliau ingingkan sehingga kita bisa sejalan dengan pikirannya.

    ReplyDelete
  22. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dengan membaca elegi-eleginya tentu kita sudah berusaha untuk bisa memadukan arah pikiran kita dalam ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  23. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Orang yang masih sehat selalu berpikir untuk kehidupannya, berbeda dengan orang yang mabuk walaupun mereka diberi akal tetapi mereka tidak bisa berpikir karena telah hilang kesadaran.

    ReplyDelete
  24. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Isomorfis berarti berusaha memadukan satu persatu dua arah pikiran yang berbeda menjadi satu pikiran yang sejalan.

    ReplyDelete
  25. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Karena keterbatasan manusia maka tidak bisa mencapai derajat berisomorfis dalam segala hal, yang semua itu hanya milik yang Sang Khalik

    ReplyDelete
  26. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Rendah hati itu perlu, tidak hanya dalam belajar saja tetapi dalam pergaulan sehari-hari harus bisa menjadi hati yang sehat sehingga selalu tawadhu dalam hidupnya.

    ReplyDelete
  27. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Tidak ada yang perlu disombongkan dari kita, karena bahwasanya sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga.

    ReplyDelete
  28. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Diciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah, dengan beribadah kita telah melaksanakan kewajiban kita, dalam ibadah kita bisa bertafakur kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  29. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Benar dan salah di dalam filsafat itu bersifat relatif. Hasil ujian yang selalu menunjukkan nilai nol adalah hasil yang mengajarkan kita untuk tidak menyombongkan diri atas pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki. Namun, kita harus selalu berendah hati dan menghargai orang lain. Filsafat adalah dirimu sendiri, filsafat bersifat relatif tergantung pada ruang dan waktu.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.