Nov 4, 2015

Menembus Ruang dan Waktu


Direfleksikan oleh Fitriani, S.Pd, 15709251067
PPs Prodi Pendidikan Matematika A 2015, Sabtu, 31 Oktober 2015
Diperbaiki oleh Marsigit

Assalamualaikum wr.wb
Pada pertemuan ke-7 Perkuliahan Filsafat Ilmu dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. di  hari Selasa tanggal 27 Oktober 2015 pukul 11.10 s.d. 12.50 di ruang 305B Gudung lama Pascasarjana. Sama halnya dengan pertemuan sebelumnya Beliau memulai pertemuannya dengan berdoa bersama menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan tes jawab singkat dengan topik “Membangun Filsafat dengan Menembus Dimensi Ruang dan Waktu” adapun bentuk-bentuk dari pertanyaan Beliau seperti berikut:

Pertanyaan 1 dari Azmi Yunianti

Setelah beberapa kali mengikuti ujian filsafat, nilai yang saya dapatkan memprihatinkan. Menjawab dengan berfikir saja salah, apalagi tidak? Sebenarnya apakah sih yang salah dari saya pak, apakah karena fikiran saya atau bagaimana?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mendapatkan nilai yang jelek itu adalah benar di dalam filsafat, karena engkau belum membacanya. Nilai yang jelek itu merupakan contoh dari Fallibilisme, singkatnya Salah itu Benar.

Fallibilisme adalah prinsip filosofis bahwa manusia bisa salah. Istilah ini diambil dari kata latin abad tengah Fallibilis. Konsep ini sangat penting bagi ilmu pengetahuan, ini dikarenakan ilmu pengetahuan mencari validitas kebenaran. Karena itu mereka mengharapkan suatu pengetahuan menjadi seakurat mungkin.

 Dengan adanya paham tersebut memberikan pemaham kita sebagai pendidik ketika mendapatkan “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT” jadi janganlah tergesa menyalahkan anak jika Salah dalam menjawab pertanyaan. Karena jika dia belum belajar, maka jawabannya yang Salah menjadi Benar dalam keadaannya. Jika engkau belum membaca Elegi-elegi, maka adalah Benar jika nilai anda adalah nol. Maka sebenar-benar Fallibisme adalah aliran filsafat yang sangat berguna untuk melindungi objek dari ketersemena-menaan Subjekya; untuk melindungi siswa SD dari ketersemena-menaanya gurunya. Jikalau seorang guru belum memberi fasilitas belajar, belum memberi pengalaman belajar, belum memberi kesempatan bekerjasama, maka jangan berharap siswanya akan menjawab benar dari setiap pertanyaan-pertanyaannya.

Terkait dengan nilai yang belum meningkat, ini merupakan pertanda bahwa “Anda Masih perlu memperbanyak Bacaan” karena dalam tes yang saya buat ini,  bukan hanya mengukur kemampuan tetapi sebagai pembelajaran bahwa ternyata “MENYADARI BAHWA AKU BELUM FAHAM ITU PENTING”. Oleh karena itu agar nilai dapat meningkat maka tingkatkanlah bacaan sehingga nantinya dapat berfikir isomorfis dengan saya (Beliau Bapak Prof. Marsigit). Jika engkau ingin belajar filsafat kepada saya, maka pelajarilah pikiran-pikiran saya; dan pikiran-pikiran saya semuanya sudah saya tuangkan dalam Elegi-elegi.

Berfikir isomorfis merupakan pemikiran yang sepadan yang menggambarkan pemetaan satu-satu. Misalnya pemikiran seseorang mengatakan bahwa di Indonesia ada Jakarta, di benua Kutub ada beruang merupakan contoh pemikiran Isomorfis. Setiap orang dapat mengatakan apa yang difikirkannya kecuali orang yang mabuk, pikun dan gila. Maka pikiran dua orang bersifat Isomorpis, pikiran banyak orang juga bersifat Isomorpis, bahkan pikiranmu dengan Dunia ini juga Isomorpis. Pertanda bahwa pikiran kita saling berisomorpis adalah sama-sama adanya pengertian Jakarta misalnya, di dala pikiran kita. Aku punya konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst; maka pikiranmu juga mempunyai konsep orang tua, orang muda, saudara, anak, adik, keluarga, dst. Itulah bahwa pikiran kita saling berisomorpis.

Yang menjadi persoalan adalah bahwa ternyata Isomorpisma itu mempunyai derajadnya atau kadarnya, jadi kita mempunyai isomorpisma umum, isomorpisma khusus. Maka diriku dan dirimua yang sedang belajar filsafat kepadaku selalu berusaha meningkatkan saling kesepahaman dengan mengingkatkan kadar isomrpisma masing-asing, sehingga yang ada dalam pikiranku juga ada dalam pikiranmu dan sebaliknya. Namun manusia, karena keterbatasannya, tidak dapat mencapai Isomorpisma absolut; kita hanya berusaha menggapainya. Sebanar-benar sifat Absolut adalah hanya milik Tuhan saja.

Dengan demikian, tujuan diadakannya tes filsafat adalah agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan. Namun, perlu diketahun bahwa rendah hati tidak sama dengan rendah diri. Rendah hati maksudnya adalah agar seseorang tidak merasa sombong dalam menuntut ilmu. Ketahuilah bahwa “DI ATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT”. Di dalam tingkatan normatif pemikiran, ketika seseorang yang merasa sombong di dalam dirinya maka seseorang tersebut telah terkena MITOS. Kerena setinggi-tingginya pemikiran maka ancamannya adalah MITOS. Kerena dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu Spiritual. Ada kalanya seseorang ketika berada dalam tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus  terhenti dan diturunkan ke hati, contohnya ketika proses ibadah. Proses ibadah yang dimaksud terkhususnya adalah do’a. Doa yang diteruskan dari pemikiran yang terhenti akan diteruskan ke hati sehingga akan diambil alih oleh Sang Maha Kuasa.

Sebenar-benar do’a adalah ketika kita hijrah dari kesadaran doa menuju kesadaran hati, di mana pikiran kita tidak mampu lagi memikirkan doa-doa kita, tetapi harapannya doa kita sudah diambil alih oleh Allah SWT. Amin. Sebenar-benar filsafat adalah diri kita sendiri, maka kita menemukan terminologi Kesadaran Hati. Jika kita ekstensikan maka kita akan menemukan lagi Kecerdasan Hati, Ilmu Hati, Metode Hati, …dst. Itu hanya dapat dipahami dengan spiritualitas kita masing-masing. Sedangkan terminologi yang dihasilkan semata-mata menunjukkan keterbatasan bahasa atau ungkapan untuk menggambarkan Dunia Hati. Jangankan bahasa atau istilah, sedangkan pikiran kita juga tidak akan tuntas mampu mengetahui relung hati kita masing-masing.

Berdasarkan pengalaman Beliau Bapak Marsigit yang telah itikaf di mesjid dibimbing oleh para SUFI selama beberapa hari hanya untuk memperbaiki ibadah, tata cara sholat, doa dan sebagainya sehingga Beliau dapat mengetahui bahwa ada fase dimana pemikiran berhenti dan diteruskan ke hati. dan doa tersebut diambil alih oleh sang Maha Kuasa. “Doa kok hitung-hitungan” doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya.

Pertanyaan 2 dari Evvy Lusiana

Bagaimana pandangan filsafat tentang pemimpin yang sesuai ruang dan waktu?

Jawaban dari Beliau Bapak Prof. Marsigit M.A

Mengenai pemimpin berarti ada pemimpin dan ada yang dipimpin termasuk struktur dunia yang lengkap berdimensi. Tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin.  Pemimpin merupakan dewa bagi orang yang dipimpin. Sehingga Logika Para Dewa berarti Logika Para Pemimpin. Contohnya “KAMU MERUPAKAN DEWA BAGI ADIKMU DAN ADIKMU MERUPAKAN PREDIKAT (DAKSA) BAGI DIRIMU”. Sehingga divisualisasikan dalam bentuk perwayangan atau cerita sehingga berbicara yang berkaitan dengan Para Dewa pun sebenarnya juga berstruktur seperti ada Dewa Raja, ada Dewa Prajurit, ada Dewa Perdana Menteri, ada Dewa Lurah dan seterusnya. Oleh karena itu, masing-masing memiliki logika Para Dewa, kontradiksi Para Dewa, kesalahan Para Dewa dan seterusnya. 

Mengenai pemimpin yang sesuai dengan ruang dan waktu yang baik berarti dapat dianalogikan sebagai hubungan antara subyek dan predikat yang mempunya dimensi yang lebih tinggi. Pemimpin adalah subyek, tugasnya sebagai pemimpin para predikat. Maka masing-masing dari kita adalah pemimpin dari sifat-sifat kita masing-masing. Menjadi pemimpin yang baik  harus memenuhi dimensi yang lebih tinggi maka pikiran lebih luas dan dalam serta pengalaman yang lebih luas dan mendalam. Baik secara fisik seorang pemimpin harus kuat. Secara formalnya, misalnya dengan melanjutkan pendidikan S2 bagi pemimpin merupakan peningkatan dimensi untuk menjadi pemimpin yang baik yang merupakan indikator titik point peningkatan dimensi.

Sebenar-benar hidup adalah peningkatan dimensi menuju dimensi yang lebih baik. Manusia hidup menuju dimensi yang lebih baik dalam fenomena garis lurus dalam siklik yang berputar. Pada perputaran siklik ada fase dimana manusia menjumpai peristiwa yang sama, misalnya selalu mengalami keadaan Hari Minggi tiap minggunya, manusia lupa ketika telah lanjut usia dan kembali ke sifat kekanak-kanakan. Hal ini berarti dalam hidup anda tidak berarti bahwa Anda akan semakin hebat melainkan ada fase dimana Anda lupa atau menjadi pikun. Fase siklik dari kehidupan yang terluar adalah adalah spiritual. Fase siklik ini bagi dunia timur atau spiritualisme, merupakan wadahnya bagi manusia untuk menyukuri hidup; maka orang bijaksana di timur adalah orang yang pandai bersyukur. Fase siklik inilah yang tidak dimiliki oleh negeri negeri Barat. Fase kehidupan negeri Barat merupakan diagram lurus (open ended) yang memiliki ended yang terbuka sehingga tidak mengerti hidupnya mau kemana ujungnya mau kemana dan tujuannya kemana; dengan filsafat hidup mencari terus dan terus mencari. Maka bijaksana menurut dunia barat adalah manusia yang sedang mencari.

Siklik terluar di negeri kita adalah Spriritualitasme yang berpengang teguh pada keyakian masing-masing dan berbasis serta dipayungi oleh spriritualisme masing-masing. Sehebat-hebat pikiran dan sepusing-pusing pikiran maka berhentilah dan mulai mengambil air wudhu kemudian sholat bagi umat muslim dan beribadah yang lain sesuai dengan keyakinan agama masing-masing. Siklikkanlah pikiran dan kegiatan anda sehingga mampu menghayati karunia dan kebesaran Tuhan.

Jika fenomena siklik kita ditambah unsur linear maka itulah yang namanya fenomena hidup maju berkelanjutan, ituleh hermenitika hidup yaitu terjemah dan diterjemahkan. Sebenar-benar hermenitika hidup itulah metode hidup yang sesuai dengansunatullah atau kodrat tuhan; wujudnya dalam masyarakat adalah saling bersilaturakhim. Inilah harta karun dunia timur yang belum digali. Jika digali dan dikembangkan maka kita akan mempunyai metode pembelajaran dengan Metode Silaturakhim. Mengapa tidak? Renungkanlah

Sifat pemimpin dianalogikan sebagai hubungan subyek dan predikat. Bagaimana seorang pemimping megeloha sifat-sifatnya. Contohnya memiliki kulit sawo matang, berambut keriting, berbadan kurus, dan seterusnya yang berjumlah semilyar pangkat semilyar lebih sifat yang ada pada diri pemimpin, belum lagi sifat-sifat yang ada di luar diri pemimpin.

Maka sebenar-benar manusia adalah tidak ada yang lengkap dan sempurna memiliki sifat. Misalnya penglihatan manusia yang tidak lengkap merupakan sifat yang mesti disyukuri sebab jika manusia memiliki penglihatan yang lengkap maka   manusia tidak akan hidup dengan tenang bahkan salalu pingsan jika memandang sesama. Sehingga sebenar-benar manusia memiliki sifat determinis yaitu menjatuhkan sifat tertentu kepada suatu sifat tertentu pula. Sipemilik sifat diterminis adalah Subjek, yang dijatuhi sifat diterminis adalah objeknya.  Maka godaan yang paling besar dari seorang pemimpin (sebagai subjek) adalah menggunakan kuasanya terhadap objeknya. Godaan terbesar seorang guru adalah menjatuhkan sifat kepada murid-muridnya, dimana sifat yang dijatuhkan belum tentu cocok dengan keadannya. Itulah maka sebagian dosa-dosa kita adalah dikarenakan sifat diterminis kita.

Secara netral kita bisa determin dengan menyebutnya si A tinggi, si B jangkung dst; tetapi kategori tinggi di Indonesia belum tentu kategori tinggi di negara lain seperti pemain basket Amerika. Maka dalam menjalani hidup ini khususnya pemimpin haruslah berhati-hati tidak boleh semena-mena menjatuhkan sifat orang yang dipimpin, karena sifat yang dijatuhkan jika tidak tepat, maka dampaknya bisa sangat besar bagi objeknya. Jatuhnya sebuah sifat itu merupakan fenomena abstraksi, karena manusia tidak mungkin memikirkan semua sifat, melainkan hanya sedikit sifat sesuai yang mampu dipikirkan sesuai keadaan subjektif dirinya. Sehingga menjadi seorang pemimpin yang ideal perlu mengamalkan ayat-ayat Spiritualitas kepemimpinan yang ada.

Pertanyaan 3 dari Tri Rahma Silviani

Dalam mengolah pikir dalam menembus ruang dan waktu tentang olah pikir yang menembus dunia. Bagaimanakan agar dapat menembus ruang dan waktu itu dengan ikhlas? 

Jawaban Beliau Bapak Prof.Marsigit M.A

Caranya adalah sesuai dengan hukum Tuhan dan SunnatullahNya beserta kondratnya yang dimana ikhlas juga termasuk kodratNya. Maka definisi ikhlas menurut Beliau dimulai dari level bawah dari Spiritual dalam filsafat merupakan keikhlasan itu menembus ruang dan waktu. seperti ikhlasnya batu menembus ruang dan waktu, yang tidak satupun batu yang protes dalam menjalani kehidupannya. Maka sebenar-benar keikhlasan menembus ruang dan waktu adalah KEIKHLASAN ITU SENDIRI. Karena keihlasan merupakan salah satu kodrat Tuhan maka jalanilah hidup ini sesuai dengan kodratnya. Ketika ada pemaksaan kehendak itulah yang disebut tidak ikhlas dimana keadaan yang salah dalam menembus ruang dan waktu. Misalnya ruangan menjadi gelap disebabkan ada bom merupakan contoh salah ruang dan waktu karena merupakan kejadian yang dipaksa agar gelap. Itulah contoh tidak ikhlas. Ikhlas adalah unsurnya surga dan tidak ikhlas adalah unsurnya neraka.

Secara materialnya, normatifnya, formalnya sampai kepada Spiritualnya dalam menembus ruang dan waktu itu, semua terjadi karena keikhlasan. Jadi saya mendefinisikan keikhlasan secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya. Sehingga kejadian seperti hari kiamat pun merupakan keikhlasan jika itu sudah merupaka suratan takdir. Tetapi manusia bisa saja mengalami ketidakikhlasan meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Misal ketika sengaja minum obat overdosis, bisa saja dunia subjektifnya kemudian mempunyai 2(dua) matahari, matahari terbit dari selatan..dst. Itu adalah fenomena tidak ikhlas. Maka sebenar-benar tidak ikhlas adalah perbuatan unsur-unsurnya syaiton. Na’u dzubillah mindalik. Maka bangunlah hidup yang sebenar-benar sesuai dengan ruang dan waktu adalah dengan melakukan silaturahim, komunikasi, kemandirian dan hal lainnya dengan ikhlas agar dapat menembus ruang dan waktu dengan benar. 

Pertanyaan 4 dari Fitriani

Apa bedanya Para Dewa dengan Power Now?

Jawaban Beliau Bapak Prof Marsigit, M.A  

Ayam itu Dewanya Cacing
Cacing itu Dewanya Tanah
Kakak Dewanya Adeknya
Engkau Dewa dari Kendaraamu
Mentri merupakan Dewanya Dosen
Pengulu merupakan Dewa pernikahan

Maka sebenar-benar yang dimaksud para Dewa adalah subjeknya. Sehingga di dunia ini Amerika itu merupakan negara Dewa. Sama halnya dengan Rusia dan Cina merupakan negara para DEWA karena memiliki senjata nuklir yang dimana bisa atau mampu menghancurkan sebuah negara dengan senjata nuklirnya. Sehingga kumpulan ilmu politik, sosio politik, dan seterusnya jadilah istilah  POWER NOW yang dibuat oleh negara-negara dewa tersebut. Tingkatannya dari dimensi yang rendah meliputi Archaic, Tribal, Tradisional, Feudal, Modern, Pos Modern dan Power Now. Maka sebenar-benar yang terjadi adalah bahwa Tribal adalah dewanya para Archaic, Tradisional adalah dewanya para Tribal, Feudal adalah dewanya para Tradisional, Modern adalah dewanya para Feudal dan Pos Modern adalah dewanya para Modern ..demikian seterusnya.

Dimulai dengan peradaban Archaic yang merupakan kehidupan manusia pada zaman batu kemudian Tribal yang merupakan masyarakat pedalaman dilanjutkan tradisional, modern dan Power Now. Istilah modern yang sebenarnya telah ada pada masa 1700an pada masa Rene Decrates pada masa kontemporer. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dewanya adalah Barat Obama sedangkan Power Now adalah kekuasaan dari negara Dewa tersebut. 

Pertanyaan 5 dari Nur Afni R N

Apa bedanya Power Now dengan Super Power?

Jawaban Beliau Bapak Marsigit M.A

Power Now itu digambarkan denga orang yang super maka tidak cukup kalau wajahnya cuma satu. Sehingga yang dilakukan oleh super power dalam perwayangan yaitu Prabu Arwana dengan banyak muka sehingga dikatakan Dasa Muka. Dasa muka meunjukkan hidup yang standar ganda. Jika mukanya satu maka standarnya satu kalau mukanya 10 maka standarnya 10 untuk memanipulasi ruang dan waktu. jangankan mukanya 10, orang yang mukanya 1 saja bisa punya banyak standar. Oleh karena itu, di daerah bergaul dengan negara-negara Super Power dan  sebagainya selalu menerapkan standar ganda. Dasa Muka sebagai lambang keburukan Prabu Rahwana; namun jangan dikira, hanya melalui kajian filsafatlah bahwa kita sebetulnya juga menemukan Prabu Ramawijawa (lambang kebaikan) akan mempunyai Dasa Muka dalam tanda petik. Dikarenakan khasanah kebaikan maka yang demikian tidak perlu diekspos supaya sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Jika Prabu Ramawijaya tidak mempunyai sifat Dasa Muka pula maka dia tidak akan mampu mengalahkan Prabu Rahwana. Maka sebenar-benar sifat Dasa Muka atau Multifacet adalah berdimensi dan berstruktur. Setiap manusia mempunyai fatal (takdir) dan potensi (ikhtiar) untuk bersifat multifacet. Maka multifacet adalah struktur dan dimensinya dunianya manusia masing-masing; tanpa itu maka manusia tidak akan mampu menembus ruang dan waktu.

Standar ganda merupakan dua sisi yang berlainan seperti disisi lain ingin membantu namun di sisi lain ingin mengambil keuntungan. Sehingga sebenarnya menggambarkan standar ganda dengan menggunakan kata ganda pun tidak cukup sehingga diganti Multi Standar. Di dalam dunia perwayangan, Dunia jahat dikalahkan oleh kebaikan diibaratkan dengan Prabu Wijaya yang dibantu oleh Hanoman. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari pun kita tidk boleh hanya berperan satu atau dua saja dalam hidup ini. Misanya mulfaset mimik wajah yeng bisa sedih dan gembira, cemberut, sendara dan sebagainya. Maka sifat multifacet atau sifat ganda atau standar ganda atau standar multiple sekalipun itu dapat negatif dapat positif. Standar ganda yang negatif seperti sifat Prabu Rahwana atau negeri Superpower; standar ganda positif adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan umat. Sebenar-benar standar ganda adalah kontradiktifnya filsafat; itulah sifat dunia.

Pertanyaan 6 dari Retno Kusuma Dewi

Bagaimanakah filsafat memandang perbedaan agama? 

Jawaban Beliau Prof Marsigit M.A

Perbedaan agama merupakan suatu hal yang berdimensi dan berlevel. Sesuai dengan tingkatannya yaitu Material, Formal, Normatif dan Spiritual. Masing-masing mempunyai dimensi dan level yang sesuai dengan ruang dan waktu. Seperti halnya ibadah, seorang muslim tidak dapat mengajak seseorang yang beragama lain untuk mengikuti ibadah ke masjid, begitu juga sebaliknya. Ibadah jika diturunkan akan menjadi Ilmu-ilmu bidang seperti politik, tata negara. Dalam falsafah Pancasila terdapat monodualisme yaitu HABLUMMINALLAH yang merupakan hubungan antara makhluk denga makhluknya dan HABLUMMINANNAS meupakan hubungan dengan sesama manusia. Sehingga dalam Pancasila relevan mencerminkan bangsa Indonesia yaitu toleran yang meghargai perbedaan. 

Sebenar-benar manusia di bumi ini adalah tidak ada yang sama. Semua memiliki skope masing-masing yang membedakan antara yang satudengan yang lainya baik skope agama, keluarga, kuliah, tugas, fungsi dan sifat-sifat yang ADA dan MUNGKIN ADA. Semua memiliki budaya tersendiri. Budaya dapat menambah pengetahuan. Budaya yang satu dengan budaya yang lain dapat membentuk chemistri, dapat dipikirkan, dapat diinginkan dan dapat dilakukan. Maka kontradiksi itu hanya dipikiran saja namun tetaplah damai dalam hati.

Filsafat adalah dirimu sendiri, maka bangunlah dirimu sendiri dengan memperbanyak bacaan dengan bacaan yang dipilih.

Wassalamualaikum wr.wb
         



27 comments:

  1. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Assalamualaikum. Terima kasih atas tulisannya, pak. Setelah saya membaca tulisan ini, sya jadi bertanya-tanya, apakah konsep fallibilisme mungkin terjadi dalam penelitian tindakan kelas? Karena setahu saya, orientasi PTK dewasa ini cenderung ditekankan pada keberhasilan teori atau metode tertentu, sehingga jika suatu teori/metode gagal diuji dalam suatu penelitian tindakan kelas maka penelitian itu dianggap salah pula. Padahal setahu saya, hakikat PTK adalah ingin menguji suatu teori/metode tertentu untuk melihat pengaruh terhadap suatu variabel, terlepas pengujian tersebut berhasil atau tidak memperlihatkan pengaruh, namun penelitian tetap dianggap objektif.

    ReplyDelete
  2. Nama: Hendrawansyah
    NIM:17701251030
    PEP 2017 (S2 ) Kelas B
    Waalaikum salam wr wb.Terimakasih banyak prof,anaknda mendapatkan banyak pencerahan dari membaca dan menelaah berbagai jawaban dari Bapak mengenai pertanyaan teman-teman mahasiswa .Ada bebarapa point yang saya dapat.Pertama,untuk bisa menjadii benar diawali dengan berbagai kesalahan.Rasanya dari kesalahan itu kita dituntun dan dibimbing untuk lebih baik lagi.Kedua, setinggi apapun ilmu yang kita miliki tetap rendah hati layaknya padi” semakin banyak isinya semakin menunduk”.Ketiga, ketika pikiran dan hati kita kacau, maka tak ada pengharapan yang lebih tinggi melainkan berdo’a meminta petunjuk kepada Sang Khalik.Jika menelusuri kembali tentang pemimpin, sepertinya ada yang berbeda dengan pemimpin- pemimpin zaman dulu.Pemimpin pada zaman dulu, ketika disodorkan sebuah jabatan mereka cendurung merenung bahkan menitikkan air mata karena rasa ketakutan yang amat mendalam.Sebabnya, karena mereka takut tak mampu memegang amanah.Sekarang konteksnya sudah berbeda,Sekarang orang-orang justru merasa senang ketika disuguhkan sebuah jabatan bahkan rela mekukan apa saja untuk mendapatkan jabatan tersebut.Banyak yang tinggi ilmunnya, namun di lain sisi sentuhan rohaninya kurang.Yang ingin anaknda tanyakan sesuai dengan materi”Menembus Batas Ruang dan Waktu”Bagaimanakah menjadi pemimpin yang ideal dan pemimpin yang ikhlas itu?Anaknda mohon jawaban dan pencerahannya Bapak.Terimaksih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  3. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A

    Filsafat memiliki arti yang luas agar dapat menembus ruang dan waktu. Namun pemilik ruang dan waktu sesungguhnya adalah pencipta ruang dan waktu itu sendiri, yaitu Allah SWT. Pada akhirnya filsafat mengajarkan kita agar selalu rendah hati terhadap penciptaan-Nya. Dari tulisan di atas, terkait pertanyaan pertama mengenai ‘salah dalam menjawab’ menandakan bahwa salah itu benar dalam filsafat, dan dikenal dengan Fallibilisme. Jika kita ingin benar, maka harus ada kesalahan. Ketika kita salah, maka kita akan terus belajar dari kesalahan, mencari kebenaran serta menggali lebih banyak ilmu pengetahuan. Semakin banyak yang dipelajari, maka semakin sadar bahwa semakin sedikit yang kita ketahui.

    ReplyDelete
  4. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPS PMat C

    Ungkapan bahwa "adanya tes dimaksudkan agar seseorang dapat rendah hati dalam bidang keilmuan" saya sangat setuju, terkesan, asertif dsb yang mampu mengungkapkan suka cita. Banyak seseorang yang telah mengenyam pendidikan yang "sebenarnya belum seberapa" merasa telah mengetahui segala-galanya., sehingga saat orang lain bertanya mengenai suatu konsep atau fenomena, orang tersebut menjawab dengan lantang dan percaya diri seolah mengetahui segalanya, padahal sejatinya tidak mampu menjamahnya. Sikap rendah hati sangat penting dimiliki mengingat "fauqo kulli dzi 'ilmin 'aliim". Konsep fallibilisme merupakan konsep baru dan menarik bagi saya dan jika dipikirkan lebih jauh memang benar, bahwa siswa yang salah tetaplah benar jika dikaitkan dengan semestanya, alasan maupun kondisinya. Biarpun pendidikan merupakan tanggung jawab bersama, namun pendidikan di Indonesia mustahil semakin maju jika tidak disokong dengan semangat belajar dan sikap rendah hati dalam keilmuan.
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  5. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPS PMat C

    Sedikit sharing mengenai keikhlasan. saya pernah mendengar bahwa saat kita belajar mengenai keihlasan, kita haruslah telah menguasai dan mampu mengaplikasikan konsep "kesabaran". Mustahil bagi seorang yang ikhlas untuk bersikap tidak sabar atau grusa grusu dan sebagainya.
    Ambil contoh saat kita ditimpa musibah atau kemalangan, orang-orang akan mengingatkan kita untuk bersabar, hal ini benar adanya. dengan bersabar akan menuntun kita kepada dimensi yang lebih tinggi, yakni dimensi keihlasan. Seperti yang telah dipaparkan pada artikel di atas, sebaik-baik manusia ialah yang senantiasa melakukan perbaikan dari satu dimensi ke dimensi lainnya. Sehingga berproses dalam kesabaran dan keikhlasan ialah salah satu usaha yang dapat kita lakukan untuk menjadi yang lebih baik.
    Mengutip hadits Nabi bahwa sebaik-baik manusia ialah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Hal ini dapat kita korelasikan dengan konsep kesabaran dan keikhlasan. dengan berusaha menjadi seseorang yang bermanfaat tanpa memandang seberapa besarnya manfaat tersebut, kita telah berproses satu langkah lebih maju menuju dimensi keikhlasan
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  6. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Dari artikel ini, saya tertarik dengan pertanyaan point 1, dimana dalam bahasannya terdapat kalimat “salah itu benar dalam filsafat”. Disini saya mencoba mencerna kalimat tersebut. Karena jika dibaca tanpa memahami maknanya, akan sulit diterima oleh logika. Tiada mungkin yang salah menjadi suatu yang benar, karena yang benar ialah benar dan yang salah tidak akan bisa berubah menjadi benar apapun pembenarannya. Namun, jika berbicara dalam ruang lingkup filsafat, yang salah itu adalah benar. Dan kemudian dikenal dengan konsep fallibilisme. Bahwa fallibilisme adalah prinsip yang mengatakan semua manusia bisa salah.
    Berdasarkan hal tersebut, maka janganlah kita mengambil kesimpulan terlalu cepat akan sesuatu hal. Karena boleh jadi kesalahan itu timbul dikarenakan belum mengetahuinya, bukan karena adanya unsur kesengajaan untuk melakukan kesalahan.

    ReplyDelete
  7. Ulivia Isnawati Kusuma
    17709251015
    PPs Pend Mat A 2017

    Filsafat merupakan salah satu dimensi berpikir dalam ruang dan waktu tertentu. Filsafat merupakan ilmu yang mendalami sesuatu secara mendetil, bahkan untuk sesuatu yang kecil dan sepele. Filsafat mengungkap hal yang mungkin ada dari semua hal, sejatinya hal ini menyatakan bahwa setiap hal pasti ada filsafatnya. Namun, seperti hal-hal lainnya, filsafat ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan, namun jika kita mampu menggunakan filsafat sesuai dengan tempat dan waktunya, maka hal-hal yang buruk tidak akan pernah terjadi. Oleh karena itu segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai dengan tempat dan waktunya.

    ReplyDelete
  8. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Tulisan di atas sangat penting dibaca oleh para pendidik maupun calon pendidik bahwa “ANAK YANG MELAKUKAN KESALAHAN” merupakan “KEBENARAN DALAM FILSAFAT” karena berdasarkan faham Fallibilisme tersebut Beliau Bapak Marsigit menyebutkan bahwa “SALAH ITU BENAR DALAM FILSAFAT”
    Banyak pendidik yang belum mengerti bahwa kesalahan siswa itu proses menuju yang benar. Tidak jarang pendidik memarahi siswa jika menjawab salah sehingga siswa merasa minder. Padahal kesalahan siswa juga perlu diperhatikan oleh pendidik, alangkah baiknya jika siswa melakukan kesalahan kemudian dibimbing untuk mengetahui kesalahannya sehingga ia dapat memperbaikinya.

    ReplyDelete
  9. Dalam menjalani kehidupan ini kita tidak boleh sombong. Sehebat-hebat seeorang masih ada yang lebih hebat. Di atas langit, masih ada langit. Setinggi-tinggi pemikiran ancamannya adalah mitos. Batasan dari berpikir adalah spiritual. Maka sepintar-pintarnya seseorang, dia harus selalu ingat sama Sang Pencipta agar hati menjadi tenang.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  10. Sebenar-benar keikhlasan dalam menembus ruang dan waktu adalah keikhlasan itu sendiri. Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita harus selalu ikhlas dalam menjalani skenario terbaik ini. Ikhlas itu ketika kita menjalani tidak perlu mengeluh. Ikhlas itu ketika kita melakukan hal baik tak perlu diceritakan ke orang lain, misal kita habis membantu orang lain, tidak perlu diupdate di media sosial kalau kita membantu, kalau diceritakan ke orang lain berarti tidak ikhlas. dan kegiatan yang dilakukan jadi sia-sia. Oleh karena itu, dalam menjalani hidup kita harus sesering mungkin beristighfar (dalam agama Islam) agar terhindar dari sikap sombong atas ketidakikhlasan yang entah sengaja atau tidak sengaja dilakukamn.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  11. Shelly Lubis
    17709251040
    PM B (s2)

    Perbedaan agama merupakan sunatullah. Sudah ada sejak dulu. Sikap kita adalah menghormati mereka yang berbeda agama dengan kita. Bahkan kepada keluarga kita sendiri kita tidak bisa memaksakan agama kita kepada mereka. Yang terbaik adalah mendoakan dan berdakwah kepada mereka. Selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT.

    ReplyDelete
  12. Nama : Latifah Fitriasari
    Nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Dalam berlajar membutuhkan keikhlasan, karena banyak yang belajar namun jarang yang memperoleh hasil. Akhlaqnya masih buruk, interaksi antar sesamanya juga belum baik. Ikhlas dalam belajar diniatkan untuk menghilangkan kebodohan dari diri sendiri, menghilangkan kebodohan dari orang lain menghidupkan dan menjaga ilmu serta mengamalkannya. Belajar membutuhkan niat yang ikhlas karena Allah, karena niat dapat berbolak-balik. Setiap amalan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan

    ReplyDelete
  13. Nama :Latifah Fitriasari
    Nim : 17709251055
    Kelas : PMC (S2)

    Konsep fallibilisme merupakan kesalahan yang benar. Ini merupakan hal yang baru bagi saya, karena dalam keadaan yang salah dapat dibenarkan dalam filsafat. Sehingga dapat menjadi bahan introspeksi diri dari masing-masing individu yang saling berinteraksi. Sehingga jika dikaitkan dalam pendidikan, guru mendapati siswanya yang memperoleh nilai kurang baik tidak langsung menghakimi siswa yang bersangkutan, bisa saja nilai yang kurang memuaskan disebabkan karena kurang maksimalnya guru dalam memberikan atau mentransfer ilmu untuk para peserta didik.

    ReplyDelete
  14. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Prinsip falibilisme merupakan suatu konsep filosofis dimana manusia bisa salah yang telah diuraikan oleh bapak sejalan dengan konsep bahwa manusia adalah tempatnya salah. namun dari kesalahan tersebut manusia dapat belajar dari kesalahannya. Sehingga tidak mengulangi kesalahan tersebut di kemudian hari. Maka disebutkan juga tadi bahwa jika anak yang melakukan kesalahan merupakan hal yang tidak sepenuhnya salah, karena dari kesalahan-kesalahan tersebutlah anak dapat belajar memperluas pengalamannya.
    Terkait dengan memperbanyak bacaan. Merupakan suatu hal yang penting untuk kami semua untuk memperbanyak bacaan. Hal ini dapat meningkatkan pemahaman kami akan apa yang telah dibaca. Sehingga kami mampu menempatkan diri, baik itu ketika berbicara dengan anak kecil, dewasa, maupun dengan orang yang dituakan.

    ReplyDelete
  15. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Yang saya tangkap dari artikel bapak adalah kesalahan dalam proses belajar merupakan hal yang wajar selama ada kemauan untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Yang tidak baik adalah sudah menyadari diri salah tetapi tidak memperbaiki. Semoga kami menjadi orang yang selalu dan terus belajar.

    ReplyDelete
  16. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Sesuai dengan pendapat bapak bahwa diri sendiri kita sebagai manusia saja sudah plural. Apalagi kita sebagai warga negara dari bangsa yang terdiri dari berbagai suku dan agama kita membutuhkan rasa toleransi yang tinggi terhadap sesama untuk menyatukan perbedaan demi kemajuan bersama.

    ReplyDelete
  17. Assalamualaikum wr.wb.
    Selamat malam,

    Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Setelah membaca artikel ini kita memahami bahwa kita tidak boleh secara sepihak menjudge jika siswa mendapat nilai yang kurang baik maka itu hanya salah siswanya saja. Sebaiknya dengan rendah hati kita perlu mengoreksi diri mungkin selama ini pembelajaran yang kita berikan pada siswa belum maksimal dan segera mencari jalan keluarnya. Sekian dan terima kasih. Maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Malam, dan
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  18. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C

    Setelah membaca artikel ini, saya mendapat banyak pesan, salah satunya yaitu seseorang harus selalu rendah hati dalam segala hal, termasuk juga dalam hal keilmuan. Seperti ilmu padi "Makin berisi makin merunduk". Juga mengingatkan bahwa "Di atas langit masih ada langit" dan dalam berpikir seseorang mempunyai batas yaitu spiritual. Ada kalanya saat seseorang ketika berada pada tingkatan spiritual maka pikiran seseorang harus terhenti dan diturunkan ke hati.

    ReplyDelete
  19. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Konsep tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpin. Bagaimana dengan konsep pemimpin dalam pemerintahan kita misalkan ketika terjadi reformasi pada tahun 98, dimana rakyat menuntut pemimpin untuk turun dari singgasanya. Padahal dikatakan diawal bahwa tingkatan pemimpin lebih tinggi dibandingkan dengan tingkatan orang yang dipimpinnya ?

    ReplyDelete
  20. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Ikhlas merupakan salah satu konteks terpenting dalam kehidupan. Setiap orang dituntut untuk selalu ikhlas. Ikhlas itu sendiri diiringi dengan sifat sabar. Karena Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan makhluknya. Susah untuk mendefinisikan arti kata ikhlas. Karena ikhlas merupakan suatu perbuatan atau tidnakan secara nyata yang bukan hanya dilisankan semata. Dalam postingan di atas, terdapat tulisan “secara filsafat adalah keikhlasan perihal atau untuk semua yang ada dan yang mungkin ada di dalam menembus ruang dan waktunya”. Untuk menembus ruang dan waktu dengan benar maka dapat dilakukan dengan silahturahmi, komunikasi, kemandirian, dan hal lain. Sehingga ikhlas itu akan muncul dengan sendirinya.

    ReplyDelete
  21. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP Kelas B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dari bacaan diatas terlintas di kepala. Mengapa orang-orang zaman sekarang terlalu banyak berkomentar tanpa memberi solusi, terlalu sering menghakimi tanpa tahu asal usul?
    Ada berita yang akhir sebulan lalu yang membuat saya terdiam di depan televisi yaitu seseorang yang baru saja keluar dari masjid dibakar hidup-hidup. Faktanya orang tersebut baru saja selesai sholat dan membawa recorder masjid untuk diperbaiki di rumah nya karna almarhum seorang tukang servis. Pada saat bersamaan, Almarhum dituduh mencuri recorder dan langsung dihakimi massa dengan membakar tubuhnya? Na'udzubillah, manusia-manusia seperti apa yang hidup di zaman sekarang? Bukankah kita adalah manusia, makhluk Allah yang paling sempurna diciptakan dengan akal dan pikiran. Seringkali saya ingin mendalami ilmu neuroscience, biar saya bisa tau dan riset perbedaan signifikan apa yang terdapat pada sel neuron otak manusia zaman sekarang, sampai untuk melakukan sesuatu atau berbicara sesuatu tidak ada lagi "second-thoughts" nya. Bagaimana pandangan filsafat Bapak terhadap peristiwa tersebut?

    ReplyDelete
  22. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  23. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B

    salam,
    Agama merupakan pilar individu, setiap manusia dapat menemukan agamanya masing-masing seiring dengan perjalanannya dalam merefleksikan hidup. Hati adalah rumah yang bagi agama. Namun seiring berjalannya waktu gejolak-gejolak batas antara pemikiran tiap-tiap manusia, pikiran individu dengan perasaannya sendiri, perasaan antar manusia semakin sering mengalami konflik. Sungguh menarik setelah saya baca ulasan Prof. Marsigit tentang konsep Power Now, apakah pergolakan yang terjadi di dunia ini akibat dari Power Now yang menerapkan standar ganda negative? Apakah mungkin Power Now bisa melebur agama-agama tiap individu menjadi ‘agama baru’ yaitu kapitalisme?

    ReplyDelete
  24. Bulan Nuri
    17709251028
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Sebenar-benarnya filsafat adalah manusia itu sendiri. Dalam kehidupan manusia tidak mampu memahami semua sifat-sifat. Ia hanya mampu memahami sebagian dari sifat-sifat yang ada. Untuk mempermudah dalam berkomunikasi seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang pola pikir lawan bicaranya. Seperti dalam hal mempelajari filsafat ilmu kami harus mampu memahami pola pikir bapak Marsigit dan cara berfikir filsafat serta memperbanyak bacaan. Dalam filsafat salah bisa berarti benar. Hal ini dikarekan bisa jadi seseorang melakukan kesalahan, namun dalam kondisi tertentu kesalahn tersebut menjadi sesuatu hal yang benar. Dewa dalam filsafat dapat dicontohkan seperti Ayam yang merupakan dewa sang cacing. Dewa memiliki kekuatan lebih dari sang hamba. Adapun tentang perbedaan agama merupakan sesuatu hal yang dimensial dan berlevel.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  25. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya. Pada pertemuan kedua perkuliahan filsafat ilmu, bapak menjelaskan bahwa sebaik baiknya cara dalam bersyukur kepada Allah adalah dengan berdoa, karena karunia yang diberikan olehNya kepada kita merupakan anugerah dan nikmat yang harus selalu kita syukuri. Anugerah dan nikmat tidak selalu berupa harta maupun uang, tapi bisa berupa kesehatan, teman yang baik, keluarga yang harmonis, dan lain-lain. Terimakasih.

    ReplyDelete
  26. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Doa merupakan harapan setiap manusia dengan doa maka manusia memiliki harapan, sebenar-benar doa adalah memohon ampun kepadaNya dan memanggil namaNya. Pada pertemuan kedua perkuliahan filsafat ilmu, bapak menjelaskan bahwa sebaik baiknya cara dalam bersyukur kepada Allah adalah dengan berdoa, karena karunia yang diberikan olehNya kepada kita merupakan anugerah dan nikmat yang harus selalu kita syukuri. Anugerah dan nikmat tidak selalu berupa harta maupun uang, tapi bisa berupa kesehatan, teman yang baik, keluarga yang harmonis, dan lain-lain. Terimakasih.

    ReplyDelete
  27. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    S2 Pendidikan Matematika Kelas B

    Dalam filsafat “SALAH ITU BENAR”, bisa diambil makna bahwa salah dalam melakukan sesuatu hal itu adalah wajar, dengan kesalahan yang dilakukan maka seseorang akan mengerti bagaimana melakukan hal benar. Dalam pendidikan, kesalahan peserta didik jika disikapi dengan baik oleh pendidikan maka akan membuat peserta didik menjadi mengerti dimana letak kesalahannya, dapat lebih paham dan mampu melakukan yang benar. Intinya sebagai pendidik perlu bisa menempatkan diri. Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.
    Semakin manusia berilmu, seharusnya semakin merunduk. Semuanya didasari dengan keikhlasan dan tanpa adanya rasa sombong.

    ReplyDelete