Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

89 comments:

  1. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013


    dalam filsafat sesuatu itu tergantung dari obyek yang dipelajari, yaitu yang ada atau yang mungkin ada. sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. yang tetap atau idealis merupakan pikiran, dan yang berubah atau realis adalah pengalaman

    ReplyDelete
  2. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    belajar filsafat adalah belajar mengenai yang ada dan yang mungkin ada, belajar matematika dengan menggunakan filsafat yaitu belajar yang bermain dengan logika dan pengalaman

    ReplyDelete
  3. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    sesuatu yang konsisten dalam filsafat disebut analitik. siafat analitik tersebut membutuhkan aturan atau postulat atau aksioma sebagai dewanya atau kedudukan yang paling tinnggi. dibawahnya analitik yaitu sifat sintetik, yang bergantung pada sebab-akibat. oleh karena itu sifat sintetik berubah-ubah

    ReplyDelete
  4. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    sesuatu yang diatas dan bersifat konsisten atau analitik, juga besifat a priori, yaitu bisa dipikirkan tanpa melihat atau menyentuh bendanya. misal dalam siaran radio tentan kesehatan, seseorang bertanya melaui telepon tentang gejala sakit yang dialami, dan si dokter memberi resep untuk si penelpon tersebut. sedangkan yang dibawahnya analitik atau yg bersifat a posteriori misal seseorang datang ke doter untuk periksa dan dokter memberi resep setelah memeriksa secara langsung

    ReplyDelete
  5. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    jika pada anak pembelaran matematika itu adalah contoh-contoh yang digunakan sebagai definisi, maka pada orang dewasa, matematika itu berupa teori-teori atau definisi, teorema ,dan bukti. hanya sedikit contoh untuk lebih memperjelas.

    ReplyDelete
  6. Arief Widiasmo
    13301241077
    Pendidikan Matematika C 2013

    a priori atau paham tanpa melihat obyek secara langsung, sedangkan kebalikanya yaitu a posteriori atau paham dengan melihat obyek secara langsung. sebenar-benarnya ilmu adalah gabungan dari kedua sifat itu, yang disebut sintetik a priori , atau gabungan dari pengalaman dan pikiran

    ReplyDelete
  7. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Sungguh kita memang telah dijajah oleh powenow. Dan itu akan terus terjadi. Tidak akan ada yang bisa menghindari powernow itu. Kita membutuhkan powernow itu setiap harinya. Maka, kita pun akan secara terus-menerus menggunakan powernow untuk semua urusan yang ada.

    Maka peradaban dunia itu pun telah dikuasai oleh powernow. Yang bisa kita lakukan adalah boleh saja menggunakan powernow itu, tetapi jangan pernah lupakan jati dirimu. Jangan pernah lupakan pikiran kritismu dan hatimu yang ikhlas. Tetaplah pada jati dirimu dan jangan sampai terpengaruh lebih dalam kepada powernow.

    ReplyDelete
  8. Kumala Kusuma Putri
    13301241020
    Pendidikan Matematika I 2013

    Dengan begitu, kita dapat terhindar dari stigma-stigma buruk yang ada dan yang mungkin ada. Sungguh menghindari powernow itu sangat sulit karena kita sudah ketergantungan olehnya. Maka, kita hanya bisa berusaha untuk menghindar. Dan proses menghindar itu dimulai dari dirimu sendiri. Semua perubahan itu selalu dimulai dari dirimu sendiri. Begitu juga dengan seorang guru. Dengan demikian, murid-murid dan lingkunganmu juga akan ikut berubah. Terimakasih.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  9. Saya setuju dengan artikel di atas, bahwa dalam menjalani kehidupan dan membangun peradaban kita tetap harus berpijak pada nilai-nilai yang konsisten dan koheren

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  10. Kedua nilai tersebut akan selalu bersinergi dalam membangun peradaban. Berpijak pada salah satu nilai saja akan berakibat kemunduran/dan atau justru kerusakan peradaban manusia. Terlalu fundamentalis akan mengakibatkan terkekangnya peradaban, sedangkan sikap yang liberal dapat meruntuhkan nilai-nilai humanisme yang ada.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  11. Fenomena Comte yang kemudian memacu penyeragaman nilai-nilai atau tindak laku manusia cenderung menihilkan humanisme di dalamnya.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  12. Apakah benar yang dimaksudkan Comte dalam aliran positifistik adalah satu-satunya cara untuk membangun peradaban. Atau yang dimaksudkan Comte nilai-nilai yang positifistik dimaksudkan perkembangan dalam hal 'fisik' sedangkan hal yang sifatnya 'spiritual' apakah bisa diseragamkan semua seperti pembangunan fisik?

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  13. Fenomena positifisme telah mencakup berbagai aspek dalam kehidupan. Seperti halnya pendidikan yang harus mengacu pada kurikulum tertentu.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  14. Akan tetapi hal tersebut kadangkala menelan korban pada peserta didik yang kebetulan tidak bisa mengikuti sistem. Apakah kemudian ada sistem tertentu yang bisa mengakomodir kebutuhan pendidikan sesuai degan siswanya?

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  15. Hal yang sama terjadi pada pembangunan mental ataupun spiritual. Ketika dogma-dogma tersusun secara sistematis, maka kemudian muncul kesimpulan 'pembenaran' atau 'penyalahan' pada suatu peristiwa. Sehingga memunculkan kelompok mayoritas dan minoritas pada suatu masyarakat. Menurut saya ketika dogma-dogma yang demikian terus berkembang akan memunculkan kelompok-kelompok yang cenderung radikal seperti 'menurut saya' ISIS


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  16. Mereka yang belajar dengan pengalaman tentu akan berbeda dengan mereka yang belajar dari teori. Mereka akan cenderung mudah beradaptasi dengan segala kondisi. Kenyataan di lapangan realitas bukanlah sesuatu hal yang sifatnya konstan dan/atau tetap.


    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  17. Ada kalanya sistem pendidikan memerlukan sistem yang positifistik seperti pada pendidikan dasar sampai menengah.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP A
    16701261005

    ReplyDelete
  18. Kemudian dilanjutkan dengan perguruan tinggi yang harusnya menghasilkan berbagai sintesa yang mewujud baik 'produk' ataupun 'nilai' cenderung diabaikan oleh sistem pendidikan perguruan tinggi.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP A
    16701261005

    ReplyDelete
  19. Sehingga perguruan tinggi sekarang cenderung mencetak pribadi yang positifis dan hanya 'ikut' apa yang ada. Terlebih di Indonesia, yang kemudian justru mengecilkan peluang Indonesia untuk berkiprah dalm membangun peradaban

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  20. Pembacaan ulamg suatu peristiwa sangat diperlukan dalam membangun peradaban. Yang kemudian akan menghasilkan sintesa baik yang sinkron antara teks dan konteks di masyarakat.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  21. Ketika pembacaan ulang tidak ada dan atau hanya selalu berkiblat pada pembacaan terdahulu kan menyebabkan duatu bangsa menjadi gampang disetir oleh peradaban dan bukan justru membangun peradaban


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  22. Cenderung fanatik akan suatu aliran menurut saya justru akan melahirkan generasi-generasi yang saling bentrok.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  23. Cenderung fanatik akan suatu aliran menurut saya justru akan melahirkan generasi-generasi yang saling bentrok.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  24. Jsutru ketika kita bisa saling menyelaraskan setiap nilai akan menguntungkan dalam membangun peradaban. Indonesia yang indeks baca masyarakatnya termasuk salah satu yang terendah akan disulitkan untuk menjadi bangsa yang berdikari pada dirinya sendiri.

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  25. Indeks baca yang rendah di kalangan masyarakat akan menyebabkan pandangan yang melulu positifistik yang kemudian tanpa disadari karena peradaban berkembang pandangan yang demikian justru menyebabkan variabel-variabelnya berubah.

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  26. Sehingga tiap ada perselisihan cenderung menihilkan nilai-nilai humanis dalam menyelesaikannya

    Memet Sudaryanto
    16701261005
    S3 PEP

    ReplyDelete
  27. Maka dari itu diperlukan pembacaan yang sifatnya maju dan mundur pada waktu yang spesifik. Pembacaan dua arah akan membawa manusia membangun peradaban tanpa kemudian menihilkan nilai-nilai humanis dan menghambat peradaban.


    Memet Sudaryanto
    S3 PEP
    16701261005

    ReplyDelete
  28. Inca merupakan peradaban tervesar di Amerika Selatan pada era pra-Columbus. Wilayahnya membentang di daerah yang sekarang ini menjadi negara Ekuador, Peru, dan Chile. Pusat administrasi militer dan politik terletak di Cusco (sekarang berada dalam wilayah Peru).

    Memet Sudaryanto
    S3 PEP UNY
    16701261005

    ReplyDelete
  29. Yang sangat menarik adalah tidak semua orang mempelajari filsafat, hanya mereka yang memiliki keistimewaan yang mempelajarinya. Keistimewaan apa itu? Keistimewaan untuk menyadari bahwa kehidupan tak sempurna tanpa berolah pikir secara refleksif, dan itulah yang dimaknai sebagai berfilsafat.

    Dwi Margo Yuwono
    S3 PEP A

    ReplyDelete
  30. Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    Ada dua level atau tingkatan pada kesadaran kosmis, yaitu "Kesadaran sederhana" dan "Keadaran diri".

    ReplyDelete
  31. Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A2016

    Kesadaran sederhana; adalah kesadaran yang dimiliki oleh sebagian besar hewan mengenai tubuh mereka dan lingkungan sekitar mereka. Seperti yang seperti yang digambarkan oleh Prof. marsigit pada blog ini, ”Hewan tenggelam dalam kesadaran seperti seekor ikan di dalam laut; ia tidak bisa, bahkan sekalipun dalam imajinasinya keluar dari kesadaran itu selama satu detik agar bisa menyadarinya.

    Kesadaran diri; disisi lain, merupakan khas manusia dan memberi kita kesadaran yang sangat berbeda tentang diri kita sendiri: Kita bisa berpikir tentang fakta yang kita pikirkan. Kesadaran diri ditambah memiliki bahasa untuk mengekspresikan kesadaran ini akan memanfaatkannya, membentuk manusia homo sapiens.

    ReplyDelete
  32. Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    Kesadaran kosmis, pada gilirannya menempatkan sebagian jalan manusia diatas yang lain. Burke (seorang psikiater kanada) mendeskripsikannya sebagai suatu kesadaran yang tajam tentang “hidup dan keteraturan alam semesta” sejati, dimana seseorang merasakan kesatuan dengan Tuhan atau energi semesta.

    ReplyDelete
  33. Muhlis Malaka
    16701269003
    PEP A 2016

    Kesadaran intelektual ini, atau pemahaman tentang kebenaran, menimbulkan kebahagiaan yang luar biasa karena semua persepsi yang keliru dari kesadaran diri lenyap.

    ReplyDelete
  34. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Semua yang ada dan mungkin ada didalam pikiran kita maupun disekitar kita merupakan obyek filsafat yang perlu disyukuri karena semua ciptaan-Nya

    ReplyDelete
  35. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Memang sifat manusia itu dhoif (lemah) tidak ada kekuatan dan daya semua itu yang menjadi keterbatasan manusia dalam berpikir maupun dalam kehidupannya.

    ReplyDelete
  36. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Disekililing kita ada yang bersifat kekal dan ada yang bersifat berubah yang merupakan sunatullah, dalam diri kita banyak sekali perubahan dari anak-anak tumbuh menjadi dewasa, dari dewasa menjadi tua dan seterusnya.

    ReplyDelete
  37. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Manusia diciptakan untuk selalu berpkir sehingga bisa membangun ilmu pengetahuan dan peradaban.

    ReplyDelete
  38. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Pengalaman merupakan guru dalam kehidupan, karena banyak pengalaman mengajari kita sesuatu yang berharga untuk meraih masa depan yang lebih baik.

    ReplyDelete
  39. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Belajar dari pengalaman agar tidak jatuh dalam lubang yang sama, sehingga apa yang kita harapkan bisa jadi kenyataan

    ReplyDelete
  40. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Diharapkan kita selalu konsisten dalam segala hal, ibarat pepatah sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Sekecil apapun yang kita lakukan kalau kita konsisten akan lebih baik.

    ReplyDelete
  41. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Konsistensi baik ucapan maupun tindakan tentunya akan sangat diharapkan oleh orang-orang disekitar kita

    ReplyDelete
  42. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Manjada wa wajada (siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat). Konsistensi adalah sikap yang sangat baik yang tentunya harus kita kembangkan dan selalu kita laksanakan.

    ReplyDelete
  43. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Tiadalah ilmu jika tanpa pikiran apa yang dikatakan Descartes dan pengikutnya tentunya sangat mendasar karena kelebihan manusia diberi akal untuk selalu berpikir.

    ReplyDelete
  44. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Dari pengalaman-pengalaman yang ada memberikan kita banyak pengetahuan untuk selalu berkarya.

    ReplyDelete
  45. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Tetapi apa yang dikatakan Descartes dan pengikutnya maupun David Hume terbantahkan oleh Immanuel Kant keduanya benar dan keduanya juga salah.

    ReplyDelete
  46. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Menurut Immanuel Kant sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori dari penggabungan pengalaman dan pikiran.

    ReplyDelete
  47. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ketika seorang guru mengajari anak-anak perlu metode yang tepat karena dunia anak-anak lebih banyak bermain sambil belajar.

    ReplyDelete
  48. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ketika guru digambarkan sebagai seorang dewa yang tentunya lebih paham akan karakteristik anak didiknya.

    ReplyDelete
  49. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ada banyak perbedaan metode mengajar antara guru di tingkat dasar dengan guru ditingkat atas.

    ReplyDelete
  50. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Guru di sekolah dasar harus banyak memberi contoh, tidak banyak dengan definisi.

    ReplyDelete
  51. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Sorang guru di tingkat atas harus membuka wawasan anak didiknya agar berkembang sesuai tingkatannya tidak hanya dengan contoh saja tetapi perlu dengan banyak definisi.

    ReplyDelete
  52. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    August Compte memberikan pemikiran dalam membangun dunia tidak lagi perpedoman dengan agama saja.

    ReplyDelete
  53. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Kedudukan filsafat dalam membangun dunia menurut August Compte lebih tinggi dibanding Agama atau Spiritual.

    ReplyDelete
  54. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Membangun dunia menurut August Compte tidak hanya berlandaskan Agama, Filsafat tetapi menggunakan Saintifik yang berada dilevel tertiggi.

    ReplyDelete
  55. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ketidakberdaayaan Indonesia dalam pembangunan dunia kalah dengan powernow sehingga memunculkan lahirnya kurikulum 2013 dengan metode saintifiknya.

    ReplyDelete
  56. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Pemikiran August Compte melahirkan banyak perkembangan ilmu-ilmu dasar dan teknologi membawa dunia kedalam era industrialisasi.

    ReplyDelete
  57. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Di era sekarang tidak hanya dalam dunia kerja yang menerapkan industrialisasi, kebijakan pendidikan pun sekarang sudah banyak masuk ke dalam ranah industrialisasi.

    ReplyDelete
  58. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Cengkeraman power now yang sudah menguasi segala bidang sosial, ekonomi, teknologi dan aspek kehidupan manusia dari anak-anak, dewasa sampai orang tua. CUPUK MANIK bisa melupakan semuanya.

    ReplyDelete
  59. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dalam bermasyarakat dan bernegara, Indonesia lebih condong ke dunia timur yang mengedepankan spiritual dalam membangun dunia.

    ReplyDelete
  60. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Pancasila sebagai dasar negara kita merupakan falsafah yang banyak mengandung aturan-aturan untuk kita bermasyarakat dan bernegara.

    ReplyDelete
  61. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Seringkali kita mengalami fenomena Compte baik secara makro maupun mikro yang terjadi tidak hanya pada diri kita tapi mungkin orang terdekat kita.

    ReplyDelete
  62. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Hidup bagaikan seekor ikan dilaut yang selalu terombang ambing oleh derasnya ombak dilautan tetapi selalu konsisten dengan kehidupannya.

    ReplyDelete
  63. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Tetapi banyak pula dari ikan di laut yang mati akibat sudah terkontaminasi dengan banyaknya polusi maupun limbah dalam mengarumi hidupnya.

    ReplyDelete
  64. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Akan tetapi banyak dari masyarakat kita yang sudah terbuai dengan gemerlapnya power now sehingga lupa akan jati dirinya dalam pergaulan.

    ReplyDelete
  65. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dalam belajar filsafat tidak semua orang bisa memahaminya butuh orang-orang bijak untuk menjalaninya karena akan banyak tantangan.

    ReplyDelete
  66. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Begitupun dengan dengan ikan di laut walaupun derasnya ombak yang menghantam tetapi karena konsistensinya akhirnya bisa bertemu dengan Dewa Ruci sang penguasa laut.

    ReplyDelete
  67. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dengan selalu tawadhu, istiqomah, serta berserah diri pada Sang Khalik untuk semua yang diharapkan.

    ReplyDelete
  68. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dalam mengikuti perkulihan prof. Marsigit juga dituntut untuk selalu membaca blog, membuat komen dengan ikhlas tanpa paksaan

    ReplyDelete
  69. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Untuk mendapatkan ilmu tentunya harus selalu mengatasi tantangan yang ada disekitar kita, sehingga kita harus selalu waspada dalam melangkah.

    ReplyDelete
  70. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Karena filsafat ada disemua orang, makanya kita harus bisa memilah mana yang baik maupun yang buruk untuk kita jalani dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  71. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Tidak hanya di indonesia saja, di negara-negara lain pun banyak kekacauan timbul karena pengaruh power now yang merajalela.

    ReplyDelete
  72. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Selama ini di Indonesia dari masa kemerdekaan sampai sekarang belum ditemukan pemimpin yang berkarakter yang bisa membawa Indonesia berdiri tegak di negaranya sendiri.

    ReplyDelete
  73. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Pergaulan dunia di masa sekarang ini yang lebih ke arah dunia kontemporer mengharuskan kita untuk selalu mengikuti aturan yang telah ditetapkan.

    ReplyDelete
  74. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Diluar sana banyak pemangsa yang siap menerkam siapa saja yang tidak mengikuti aturan yang telah mereka buat.

    ReplyDelete
  75. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Indonesia merupakan salah satu dari sekian banyak jajahan power now yang selalu terombang-ambing tanpa pendirian yang pasti, seperti ketidak pastian dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 dengan metode saintifiknya.

    ReplyDelete
  76. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Banyak dari kita hanya menjadi pemikir yang lemah, dibandingkan dengan negara Australia yang sudah mengajarkan anak-anak SD dengan hipotesis.

    ReplyDelete
  77. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Untuk mengurai sebuah hipotesis menuntut kita untuk membuat sebuah percobaan untuk membuktikan akan salah dan benar yang telah menjadi asumsi kita.

    ReplyDelete
  78. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Ilmu humanaiora yang merupakan bagian dari hermeneutika yang menjadi rumah besar, metode saintifik hanya berada dalam bagian kecil humaniora.

    ReplyDelete
  79. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Kurikulum 2013 dengan metode saintifik tidak sepenuhnya mampu untuk memberikan alternatif untuk mengatasi beberapa permasalahan dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  80. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Komponen dasar dalam hermeneutika melalaui metode menajam, mendatar, dan mengembang diharapkan akan selalu selaras beringin antara satu metode dengan metode yang lainnya.

    ReplyDelete
  81. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Metode menajam menuntut semua untuk memahaminya secara terus menerus sesuai dengan ruang dan waktunya dengan saintifik.

    ReplyDelete
  82. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Kita harus mengupayakan agar semua aturan atau ketentuan bisa dilaksanakan dengan penuh istiqomah sesuai metode mendatar .

    ReplyDelete
  83. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Apa yang kita sudah pahami dan dipelajari sesuai aturan yang jelas perlunya untuk kita amalkan dengan penuh istiqomah sehingga akan melahirkan generasi yang akan mampu membangun dunia.

    ReplyDelete
  84. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Dalam membangun dunia kita harus bisa menyesuaikan diri dimanapun kita berada agar kita tidak salah dalam mengaruminya.

    ReplyDelete
  85. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Jangan kita sampai salah untuk terus melangkah akan tetapi harus menetapkan langkah kita pada jalan yang baik dan benar.

    ReplyDelete
  86. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Bahwasanya semua mahasiswa harus segera menemukan bangunan yang jelas dalam membangun dunia dengan filsafat tersebut.

    ReplyDelete
  87. Khaerudin
    16701261009
    S3 PEP/A 2016

    Diharapkan dalam kehidupan kita tidak hanya dinikmati untuk diri sendiri tetapi harus bisa membawa manfaat untuk sekarang maupun diwaktu yang akan datang.

    ReplyDelete
  88. Siska Nur Rahmawati
    16701251028
    PEP-B 2016

    Filsafat mengajarkan kita tentang dunia yang luas. Dunia yang luas memiliki pengetahuan dan wawasan yang luas pula. Dunia adalah tempat belajar untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman. Imannuel Kant menyampaikan bahwa kita harus menjalani hidup dengan sintetik apriori dengan menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang berdasar pada ruang dan waktu. Peradaban dunia yang semakin meraja lela membuat kekuatan PowerNow menyebar. Untuk itu, keimanan dan ketaqwaan kita juga harus ditingkatkan.

    ReplyDelete


Note: Only a member of this blog may post a comment.