Nov 9, 2015

PERADABAN DUNIA

PERADABAN DUNIA
(BELAJAR PERAN DAN FUNGSI DARI FILSAFAT)
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu pertemuan kedelapan,
Kamis, 05 November 2015
Direfleksikan oleh
Vivi Nurvitasari, 15701251012,
S2 Prodi PEP Kelas B Universitas Negeri Yogyakarta
Diperbaiki oleh
Marsigit


Bismillahirahmanirrahim
Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Petemuan kuliah Filsafat Ilmu yang dilaksanakan pada tanggal 05 November 2015 jam 07.30 sampai dengan 09.10 diruang 306A gedung lama Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta Prodi Pendidikan Penelitian dan Evaluasi Pendidikan kelas B dengan dosen pengampu Prof. Dr. Marsigit, M.A. Sistem perkuliahan pada minggu ini berbeda dengan pertemuan sebelumnya karena pada pertemuan kali ini Pak Marsigit memberikan penjelasan tentang “Peran dan Fungsi Filsafat dari Awal Zaman sampai Akhir Zaman”.

Berikut adalah hasil refleksi dari materi yang telah disampaikan oleh Pak Marsigit pada pertemuan ke delapan :

Obyek filsafat itu adalah yang ada dan yang mungkin ada, yang mempunyai sifat bermilyar-milyar pangkat bermilyar pun belum cukup untuk menyebutkannya karena sifat itu berstruktur dan berdimensi. Misalnya saja warna hitam mempunyai semilyar sifat hitam, yaitu hitam nomor 1 ini, hitam nomor 2 itu, dst. Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa  memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan. Jadi yang direduksi, yang dipilih adalah sifat dari obyek filsafat itu yang bersifat tetap dan berubah.  Kalau hanya berubah itu hanya separuhnya dunia, separuhnya lagi bersifat tetap, buktinya sejak lahir sampai sekarang sampai mati pun manusia tetap ciptaan Tuhan.

Dunia jika hanya thesis saja baru separuhnya dunia dan itu tidak sehat dan juga tidak harmonis. Supaya sehat dan harmonis adanya interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Misalkan saja namanya Pak Marsigit, walapun ada tambahan Prof.; Dr.; M.A tetap saja namanya Pak Marsigit. Maka  sebenar-benar hidup adalah interaksi antara yang tetap dan yang berubah. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Yang berubah itu tokohnya Heraclitus. Yang tetap itu bersifat idealis, dan yang berubah itu bersifat realis. Yang ideal tokohnya Plato. Yang realis tokohnya Aristoteles. Tetap-ideal itu ternyata salah satu sifat dari pikiran, sedangkan berubah-realis ternyata salah satu sifat dari pengalaman. Pikiran menghasilkan aksioma, pengalaman menghasilkan kenyataan.

Benarnya yang tetap, benarnya yang ideal, benarnya aksioma itu konsisten atau koheren, sedangkan benarnya yang berubah, benarnya kenyataan, benarnya pengalaman itu adalah korespodensi. Yang konsisten atau koheren tersebut merupakan matematika sebagai ilmu untuk orang dewasa sedangkan yang korespodensi adalah matematika untuk anak-anak yaitu matematika berupa aktivitas. Yang konsisten atau koheren tersebut bila dinaikkan menjadi transendentalisme, dinaikkan lagi menjadi spiritual dan semakin ke atas menjadi kebenaran tunggal yaitu mono dan menjadi aliran monisme. Sedangkan korespodensi bila diturunkan menjadi plural atau dualis yang menjadi dualisme.

Selagi kita itu berada di duniamaka kita masih mempunyai sifat yang plural, jangankan mahasiswa UNY, sedangkan diriku sendiri bersifat plural, karena bersifat plural maka pada yang tetap itu bersifat konsisten atau identitas yaitu A=A. A=A hanya terjadi dipikiran, maka matematika yang tertulis dibuku itu hanya matematika untuk orang dewasa, hanya benar ketika masih didalam pikiran, tapi ketika ditulis bisa saja salah. Sedangkan yang berubah itu bersifat kontradiksi yaitu A≠A, karena A yang pertama tidak sama dengan A yang kedua. Maka yang bersifat identitas itu tidak terikat oleh ruang dan waktu sedangkan yang bersifat kontradiksi itu terikat oleh ruang dan waktu. Yang bersifat tetap dan identitas itu dikembangkan dan dipertajam dengan logika yang tokohnya adalah Sir Bentrand Russel, maka lahirlah aliran Logisism. Ilmu yang  bersifat formal dan lahirlah aliran Formalism, tokohnya Hilbert.

Jadi yang ada dan yang mungkin ada itu bisa saja sembarang benda. Kemudian dari adanya logika dari objek filsafat yang bersifat tetap, maka pera rasio menadi sangat penting, kemudian lahirlah aliran Rasionalisme tokohnya Rene Decartes. Sedangkan dalam objek filsafat yang bersifat berubah, sebagian besar terjadi pada pengalaman; maka lahirlah empirisme tokohnya David Hume yang menuju pada sekitar abad 15. Yang tetap itu kebenarannya bersifat absolut maka lahirlah Absolutisme, sedangkan yang berubah itu bersifat relatif, lahirlah aliran relatifisme. Jadi aliran filsafat itu tergantung pada obyeknya, dan ini terjadi pada diri kita masing-masing secara mikro, dan ketika kita membaca atau mempelajari buku, misalnya buku tentang Rene Decartes itu berarti makronya. Jadi hidup itu adalah interaksi antara mikro dan makro.

Yang namanya logika, pikiran itu konsisten didalam filsafat disebut analitik. Analitik berarti yang penting konsisten dalam satu hal menuju ke hal yang lain. Sehingga yang disebut analitik dan konsisten tersebut membutuhkan aturan atau postulat. Untuk yang mempunyai aksioma atau yang mempunyai postulat adalah subyeknya atau dewanya, misalnya seorang kakak membuat aturan untuk adiknya, ketua membuat aturan pada anggotanya, dosen membuat aturan untuk mahasiswanya. Sedangkan yang di bawah atau yang berubah itu bersifat sintetik punya sebab dan akibat. Yang diatas yang bersifat tetap atau konsisten itu bersifat analititk, dan juga bersifat a priori yaitu bisa dipikirkan walaupun belum melihat bendanya.

Yang dibawah berupa pengalaman itu adalah a posteriori, contohnya dokter hewan yang harus memegang sapi untuk bisa mengetahui mengetahui penyakit yang diderita si sapi tersebut, jadi a posteriori itu adalah paham setelah melihat bendanya. Sedangkan a priori, misalnya dokter yang membuka prakter pengobatan lewat radio, ketika menangani pasien, dokter tersebut mendengarkan keluhan-keluhan dari si pasien lewat radio, hanya dengan mendengarkan tanpa melihat, dokter tersebut sudah bisa membuat resep yang didasari oleh konsistensi antara teori satu dengan teori yang lain.

Maka Immanuel Kant mencoba mendamaikan perdebatan yang terjadi antara empirisme dan rasinalisme. Descartes dan pengikutnya berkata tiadalah ilmu jika tanpa pikiran, sedangkan David Hume berkata tiadalah ilmu jika tidak berdasarkan pengalaman. Lalu Immanuel Kant mengatakan bahwa antara Descartes dan David Hume itu keduanya benar dan juga keduanya salah. Dalam apa yang disebutkan oleh David Hume terdiri unsur kesombongan karena mendewa-dewakan pengalaman. Sedangkan dalam apa yang dikatakan Descartes itu terdapat kelemahan yaitu terlalu mendewa-dewakan pikiran dan mengabaikan pengalaman. Maka unsur daripada pikiran adalah analitik a priori, dan unsur daripada pengalaman adalah sintetik a posteriori. Ambil sintetiknya, ambil a priorinya, maka sebenar-benarnya ilmu itu bersifat sintetik a priori, ya dipikirkan dan juga dicoba.

Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.

Jika kita sebagai guru SD maka pikiran kita juga harus menjelma menjadi pikiran anak-anak, kalau tidak maka gambarannya akan seperti gunung meletus yang mengeluarkan lava, yang tinggal dilembah gunung itu adalah anak-anak, sedangkan guru atau orang dewasa itu bagaikan lava yang turun dari atas dan panasnya bukan main. Maka ketika mengajarkan matematika pada anak itu berikan contohnya, karena definisi bagi anak kecil itu berupa contoh, sedangkan matematika bagi orang dewasa itu adalah definisi, teorema dan  bukti.

Akhirnya filsafat dalam perjalanannya seperti yang disebutkan diatas, maka lahirlah dalam sifat yang tetap dan konsisten itu berupa ilmu-ilmu dasar dan murni, sedangkan dalam sifat yang berubah itu berupa sosial, budaya, ilmu humaniora. Maka sampai disitulah bertemu yang namanya bendungan Compte. Dari sinilah SEGALA MACAM PERSOALAN DUNIA sekarang ini muncul, yaitu dengan munculnya Fenomena Compte sekitar 2(dua) abad yang lalu. Fenomena Compte ditandai dengan lahirnya pemikiran August Compte seorang mahasiswa teknik (drop out) tapi pikirannya berisi tentang filsafat.

Compte berpendapat bahwa agama saja tidak bisa untuk membangun dunia, karena agama itu bersifat irrasional dan tidak logis. Maka diatasnya agama atau spiritual itu adalah filsafat, dan diatasnya filsafat itu ada metode Positive atau saintifik. Positive atau saintifik itulah yang digunakan untuk membangun dunia, maka lahirlah aliran positifisme. Jadi di Indonesia Kurikulum 2013 dengan metode Saintifiknya itu asal mulanya dari pikiran Compte yang berupa positivisme tadi. Jadi metode saintifik dalam kurikulum itu adalah ketidakberdayaan Indonesia bergaul dengan Power Now. Sumber persoalan/permasalahan segala macam kehidupan manusia di dunia sekarang ini adalah berawal mula dari dimarginalkannya Agama oleh Auguste Compte yang dianggap tidak mampu digunakan sebagai pijakan untuk membangun Dunia. Itulah sebenar-benar yang disebut sebagai Fenomena Compte.


Dari kesemua aspek Fenomena Compte, yang didukung oleh ilmu dasar sehingga menghasilkan teknologi, sehingga menjadi paradigma alternatif, kenapa? Fenomena Compte dengan didukung dengan pengembangan Ilmu-ilmu dasar dan teknologi, telah menghasilkan Peradaban Barat dengan era industrialisasinya. Hingga jaman sekarang kontemporer, dunia dikuasai oleh segala aspek industrialisasi dan teknologi. Itulah-sebenar-benar fenomena Kontemporer atau Power Now yang mengusasi setap jengkal dan setiap desah napas kehidupan kita tanpa kecuali di seluruh dunia mulai dari anak-anak, orang dewasa, laki-perempuan, …dst. Dunia Timur yang lebih mengandalkan metode Humaniora, ditengah pergulatan dari dalam dirinya sendiri, TIDAK MENYADARI BAHWA FENOMENA COMPTE TELAH MENJELMA MENJADI POWER NOW, yang disokong pilar-pilar Kapitalisme, Liberalisme, Hedonisme, Pragmatisme, Materialisme, Utilitarianisme, …dst.

Sementara itu Indonesia, di mana letak geografis dan perikehidupan berbangsa dan bermasyarakat berasal dari Dunia Timur yang lebih mengedepankan aspek-aspek humaniora dengan Strukturnya Dunia Timur yang terdiri dari/dimulai dari Material paling bawah, Formal di atasnya, Normatif diatasnya lagi, dan  Spiritual yang menjiwai, mendasari dan melingkupi seluruhnya. Itu merupakan cita-cita Indonesia sesuai dengan dasar negaranya yaitu Pancasila, dimana Pancasila itu filsafat negara yg bersifat Monodualis, mono karena Esa Tuhannya, dualis yaitu aku dengan masyarakatku, jadi vertikal dan horisontal, itulah cita-cita kita semua sebagai warga negara Indonesia. Dalam perjuangan membangun struktur kehidupan Indonesia yang demikian tadi, ternyata kita menjumpai fenomena ontologis yaitu Fenomena Compte.

Secara filsafat, Fenomena Compte dapat dipahamai dari 2(dua) sisi, yaitu secara macro dan micro. Secara macro, Fenomena Compte sesuai dengan yang ditulis oleh Auguste Compte dalam bukunya POSITIVESME. Secara micro, maka setiap hari kita sendiri-sendiri atau bersama-sama atau secara kelembagaan/negara selalu mengalami Fenomena Compte. Contoh micronya adalah jika seseorang memutuskan untuk membeli produk baru, misal Hand Phone canggih, tetapi kemudian timbul masalah dalam dirinya, atau keluarganya, atau mungkin keluarganya menjadi berantakan gara-gara produk baru, maka itulah yang disebut sebagai micronya Fenomena Compte. Seorang mahasiswa yang membeli komputer baru sehingga melupakan kewajiban ibadah Shalatnya maka dia sudah terkena Fenomena Compte.


Maka kita belajar filsafat itu bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian). Pada jaman Kontemporer ini sudah banyak ikan-ikan kecil di laut yang mati terkena limbahnya kehidupan Power Now. Banyak juga makhluk hidup yang mengalami perubahan genetika/mutasi gen, misal TKI muda yang pergi ke Luar Negeri, setelah kembali dia sudah berubah semuanya, dunia dan akhiratnya. Itulah salah satu dampak mikro fenomena Compte.

Belajar Filsafat bukanlah sembarang manusia yang mampu menjalaninya. Ibarat kita ini adalah ikan kecil di lautan, maka belaar filsafat bukanlah sembarang ikan. Tetapi adalah ikan yang mempunyai kesadaran kosmis dan kesadaran kosmos. Kita yang belajar filsafat untuk mengatahui struktur dunia dapat diibaratkan sebagai seorang Bima yang mencari Wahyu atau Banyu Penguripan Perwitasari di dasar samudra. Sang Bima dengan bersikap mengalir dengan kesadaran hidup baik buruk, ditipu dan difitnah, tetapi didasari aspek Fatal dengan berserah diri pada Yang Kuasa, akhirnya dapat bertemu Dewa Ruci sang Dewa dasar laut sebagai representasi Dewa atau yang Kuasa, untuk memberikan wahyu atau pencerahan atau ilmu. Sebagai mahasiswa, ilmu yang engkau dapat dari P Marsigit dan juga dengan cara membaca Elegi-elegi kejadiannya mirip dengan sang Bima menemupakan air kehidupan. Engkau akan mengerti setiap aliran air jernih atau air limbahnya Kapitalisme mulai dari hulu sampai ke hilirnya.

Untukmendapatkan sebenar-benar ilmu (wahyu) maka seseorang (Bima, Arjuna dan engkau si subjek belajar filsafat) harus mampu menatasi segala kontradiksi sesuai dengan batasan0batasannya. Jadi apakah anda paham apa itu kontradiksi? Karena sebenar-benarnya hidup ini adalah kontradiksi. Kontradiksi yang nyata dan yang kasat mata adalah ketika orang terjun ke air, muncul di atas sudah terlentang, maka berfilsafat itu mencari pengetahuan sehingga ketika terjun ke dalam air bisa muncul lagi dengan selamat. Jadi berfilsafat itu mencari alat untuk memilah-milah antara limbah kapitalisme, limbah liberalisme, limbahnya materialisme, dst. Jadi filsafat itu ada didalam diri kita semuanya. Maka adanya interaksi antara makro dan mikro. Jadi itulah gambarannya untuk mahasiswa sebagai bekal ketika membaca elegi-elegi dalam blog Pak Marsigit.

Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik).

Sehingga Indonesia telah menjadi obyek dari dunia Power Now, maka begini salah begitu salah, serba salah. Itulah kita bangsa yang lemah, para pemikirnya juga menjadi pemikir yang lemah, sehingga metode Saintifiknya juga menjadi tidak berkarakter, karena dalam setiap metode saintifik di dunia aslinya terdapat langkah yaitu Hipotesis. Tetapi di dalam Kurikulum 2013 tidak ada dan diganti dengan Menanya. Menanya apa, menanya untuk apa? Sebetulnya adalah untuk membuat Hipotesis sementara. Tetapi mendengan kata-kata Hipotesis tentu semua orang, guru dan murid akan ketakutan. Binatang macam apa Hipotesis itu. Padahal di Australia, Hipotesis itu sudah ada di Sekolah Dasar. Hipotesis itu sederhanay hanya “pendapat sementara”, boleh benar, boleh salah. Untuk membuktika benar salahnya itulah maka diperlukan Percobaan. Sangat sederhana.

Metode saintifik itu hanya salah satu aspek dari ilmu humaniora, sepertiganya daripada hermeneutika. Jika Kurikulum 2013 akan mengangkat metode Saintifik sebagai slogan atau tema universal, maka akan terjadi ketimpangan. Tidaklah mungkin bagian dapat mengatasi/melingkupi keseluruhannya. Saintifik adalah bagian dari Humaniora. Humaniora manusia dikembangan dengan metode sunatullah (terjemah dan diterjemahkan) dan lahirlah metode Hermenitika.

Dalam Hermeneutika terdapat 3(tiga) komponen dasar utama yaitu metode menajam, metode mendatar dan metode mengembang dalam titik ada 3 elemen. Elemen menejam atau menukik yang artinya mendalami secara intensif dengan memakai metode  saintifk. Metode mendatar itu artinya membudayakan (istiqomah/sustain). Metode mengembang yang artinya membangun dunia (constructive).  Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca. Ikan ya ikan tetapi alangkah baiknya ikan itu mengetahui jenis-jenis dari air agar bisa mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya. Jika engkau paham dan sadar mudah-mudahan keturunanmu juga nantinya akan mengerti dan sadar, juga orang didekatmu, keluargamu termasuk murid-muridmu. Amin.


Alhamdulillahirrobbil’alamin.

28 comments:

  1. nama : Latifah Fitriasari
    nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Subhanallah.. sangat memotivasi saya untuk terus belajar dan banyak membaca. Saya juga ingin meningkatkan cara belajar siswa dengan menerapkan hipotesis yang secara sederhana adalah pendapat sementara dimana pendapat tersebut boleh salah boleh benar sehingga untuk tahapan selanjutnya diperlukan percobaan yang sederhana. Terimakasih Pak atas inspirasinya.

    ReplyDelete
  2. nama : Latifah Fitriasari
    nim : 17709251055
    kelas : PM C (S2)

    Subhanallah.. sangat memotivasi saya untuk terus belajar dan banyak membaca. Saya juga ingin meningkatkan cara belajar siswa dengan menerapkan hipotesis yang secara sederhana adalah pendapat sementara dimana pendapat tersebut boleh salah boleh benar sehingga untuk tahapan selanjutnya diperlukan percobaan yang sederhana. Terimakasih Pak atas inspirasinya.

    ReplyDelete
  3. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada menciptakan peradaban dunia mulai dari zaman dulu hingga sekarang. Yang ada dan yang mungkin ada,yang tetap dan yang berubah-ubah. Pada zaman dulu peradaban dunia sempat mengalami perselisihan paham antara paham yang mengagung-agungkan pengalaman dan paham yang mengagung-agungkan pikiran atau logika. Kedua-duanya memiliki tokoh yang pendapat yang sama-sama kuat dalam hal mendukung paham mereka masing-masing. Yang tetap itu Permenides sedangkan yang berubah itu Herachitos. Pengikutnya pun sama-sama banyak. Tetapi satu sama lain tidak mau berdamai melainkan saling menolak paham satu dan yang lainnya. Yang satu berada di dalam pikiran dan yang satu lagi di luar pikiran.
    Paham yang dibawa oleh Permenides yang bersifat ada, tetap, dan berada di dalam pikiran disebut Rasionalisme. Sedangkan paham yang dibawa oleh Herachitos yang bersifat mungkin ada, berubah, dan berada di dual pikiran disebut empirisisme. Kemudian peradaban dunia berubah setelah muncul seorang tokoh bernama Imanuel Kant yang menjadi juru damai dari perseteruan kedua paham tersebut. Ia mengatakan bahwa ilmu terbentuk bukan hanya dari salah satu diantara pikiran atau pengalaman, melainkan interaksi dari keduanya. Tiadalah dapat disebut sebuah ilmu jika hanya berdasarkan pikiran saja, dan tiadalah dapat disebut sebuah ilmu jika berdasarkan pengalaman saja.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  4. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Berfilsafat itu objeknya bersifat konkret namun pemikiran dan kebenarannya bersifat abstrak, apalagi di dalam dunia modern scientific-politics seperti sekarang ini yang perkataan manusianya bersifat ambigu bahkan banyak yang memiliki kepribadian ganda yang hanya menggunakan bahasa sebagai pedang untuk berperang, maka dari itu selalu ingatlah bahwa lisan kita merupakan musuh terdekat kita, jadi kita sebagai manusia berpendidikan sebagai kholifah di muka bumi ini hendaknya membiasakan hidup dengan konsep berprilakulah sesuai seperti perkataan.
    “You can't always get what you want, but, if you try, sometimes you just might find you get what you need ”.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  5. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs Pend. Matematika C

    Education is a never ending process. refleksi materi perkuliahan Filsafat ilmu tersebut memaparkan hirarki kehidupan ditinjau dari sudut pandang filsafat. berawal dari objek filsafat yang lemudian dielaborasi menjadi dikotomi-dikotomi kehidupan yang barangkali merupakan sesuatu yang "baru" bagi sebagian pembaca, termasuk saya.
    Paparan istilah-istilah dalam filsafat dikombinasikan dengan baik sehingga memberikan gambaran baru bahwa mereka semua saling terkait dan tidak dapat dipisahkan.

    ReplyDelete
  6. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs Pend. Matematika C

    saya sangat mengapresiasi dan afirmatif dengan statement yang menyatakan bahwa saat kita akan mengajarkan matematika atau akan memahami anak-anak pada umumnyta, kita harus menjelma selayaknya anak-anak. Benar sekali, hal ini juga telah saya praktikkan dalam saya membimbing anak-anak. Saat kita membimbing anak-anak dengan subjek kita atau posisi kita sebagi orangf dewasa, hal tersebut justru akan menjadi boomerang. anak-anak akan berpikir orang dewasa adalah seorang dewa yang perintahnya mutlak, sehingga anak akan berkembang seadanya dan sekadar kita "memerintah", tidak dapat mencapai zona maksimumnya. Namun jika kita memperlakukan diri kita selatyaknya anak-anak, dalam artian menggunakan bahasa maupun perlakuan yang mudah diterjemahkan dalam dunia dan bahasa mereka, anak-anak akan lebih asertif dan dapat berkembang maksimal tanpa ada bayang-bayang "dewa" yang menakut-nakuti mereka.
    Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  7. Nama: Efi Septianingsih
    17701251013
    Penelitian dan Evaluasi Pendidikan


    Pada kalimat ini "Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik)."

    Benar2 membuat saya semakin anti politik, karena mereka hanya menyelamatka kepentingam golongan, bukan bumi pertiwi ini.
    Yang jujur akan mati segera entah diketahui keberadaannya atau mungkin lenyap tanpa identitas diri. Atau mungkin diasingkan oleh kasus yang entah berantah.
    Sebegitu ringkihnya kah sistem di Indonesia ini pak? Saya tidak menyalahkan negara ini karena telah begitu teramat baik. Yang saya sesalkan adalah manusia yang berada dalam sistem tersebut yang menjadikan bumi pertiwi ini semakin merintih.
    Maaf sebelum nya ya pak, terimakasih pak

    ReplyDelete
  8. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika (Kelas B)

    Sebuah refleksi pembelajaran yang sangat lengkap. Ilmu yang disampaikan seakan sudah terangkum dalam artikel ini. kesimpulan dari artikel tersebut adalah setiap manusia memiliki warna yang bermacam-macam, oleh kerena itu kita harus memiliki pemahaman yang baik kepada semua manusia agar kita dapat bergaul dengan baik. selain itu juga keihklasan dalam belajar harus selau ditingkatkan. Ikhlas adalah kunci untuk mempelajari ilmu dengan menyenangkan. dengan demikian, kebaikan bagi diri sendiri dan irang lain akan mudah di dapatkan.

    ReplyDelete
  9. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Peran dan fungsi filsafat dari awal sampai akhir zaman jangkauannya sangat luas. Karena obyek filsafat itu sendiri yang ada dan yang mungkin ada. Bahkan masing-masingnya masih mempunyai struktur dan dimensi, sehingga sifatnya tidak terbatas. Disini saya tertarik dengan pendapat Immanuel Kant yang menyatakan bahwa mendewa-dewakan pengalaman merupakan suatu kesombongan, dan merupakan suatu kelemahan jika terlalu mendewa-dewakan pikiran. Maka yang sebenar-benarnya ilmu itu adalah yang bersifat keduanya, bahwa dalam setiap proses mengetahui kedua unsur (berdasarkan pikiran dan pengalaman) tersebut muncul secara bersamaan. Jadi memang harus dipikirkan dan juga dicobakan.

    ReplyDelete
  10. Rahma Dewi Indrayanti
    17709251038
    Pendidikan Matematika Kelas B

    Dalam hidup kita harus "mengalir", selalu berusaha untuk beradaptasi dengan lingkungan, selalu berusaha mengerti setiap individu karena manusia itu penuh warna dan setiap individu itu unik. Sebagai gambaran: saat kita membimbing anak-anak, kita tidak bisa berperan sebagai yang dewasa karena akan membuat mereka kurang berkembang dan apa yang sebenarnya dibutuhkan anak-anak tidak sepenuhnya tercapai karena yang dewasa kurang dapat mengetahuinya. Terimakasih atas inspirasinya pak.

    ReplyDelete
  11. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Filsafat adalah ilmu yang mempelajari yang ada dan yang mungkin ada. Seperti yang disampaikan oleh Pak Marsigit bahwa kita tidak mampu menyebutkan seluruh yang ada apalagi yang mungkin ada. Misalkan menyebutkan warna biru, ada biru muda, biru tua, biru tosca, biru agak muda, biru laut, dan biru-biru yang lain. Ada sekitar 1 milyar pangkat 1 milyar, itu pun belum tentu selesai.
    Dengan keluasan ilmu filsafat, terkadang kita tidak tahu bahwa kita sebenarnya mempelajari ilmu filsafat, layaknya anak ayam kelaparan di atas makanannya.
    Menanggapi tentang kurang siapnya bangsa Indonesia terhadap berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politik bahwa memang saat ini Indonesia sedang mengalami degradasi karakter. Tidak jauh-jauh, banyak di sekitar kita yang sudah terlalu larut dalam budaya barat; hedonisme, hura-hura.
    Disadari atau tidak, hal tersebut menyebabkan berkurangnya nilai spiritual bangsa Indonesia. Misal: lebih rela menunda sholat dari pada menunda menonton film, lebih rela tidak membaca kitab al-Qur'an dari pada tidak membaca status facebook, twitter, dan lain-lain. Nah, hal itu menjadi penyebab utama krisis karakter bangsa Indonesia.
    Oleh karena itu, perlu ditanamkan nilai-nilai karakter sejak dini dalam lingkungan sekolah maupun keluarga.

    ReplyDelete
  12. Asalamu'alaikum wr.wb. Berbicara filsafat, pasti akan berkaitan dengan segala yang ada dan mungkin ada. Segala sesuatu di dunia ini selalu berhubungan. Banyak sekali ilmu-ilmu pengetahuan yang berkembang pesat di dunia ini. Filsafat memiliki peranan dan fungsi yang sangat penting dalam perkembangan dunia. Beberapa dari sekian banyak adalah a posteriori, yaitu berdasar pengalaman.Sedangkan a priori berdasarkan keterkaitan antara teori yang ada.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  13. Guru itu digambarkan sebagai seorang dewa yang turun dari langit menuju bumi. Oleh karena itu, harus menjelma jadi manusia biasa. Ketika mengajar di SMP dan SMA guru harus bisa menjelma seperti pemikiran anak-anak di usia SMP dan SMA. Guru harus tau seperti apa perkembangan pemikiran anak-anak, kesukaannya, gaya belajar di usia mereka seperti apa, dsb. Dengan begitu akan terbangun chemistry belajar yang baik sehingga akan terbentuk pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran yang tidak akan pernah dilupakan siswa.

    Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    ReplyDelete
  14. Shelly Lubis
    17709251040
    PM B (s2)

    Assalamu'alaikum Wr.Wb

    Setelah membaca hasil refleksi dan komen-komen teman-teman di atas, saya juga ingin mengomentari, terutama di bagian Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri. Menanggapi hal ini, seyogyanya tidak menjadikan kita anti politik. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, jika kita ingin menjadikan bangsa kita bangkit, salah satu senjata nya adalah politik. Jika anda merasa politik bisa menguasai anda, maka sebaiknya anda mundur, tapi jika anda merasa bisa menguasai politik dan tidak membiarkannya menggerogoti diri anda, maka sebaiknya anda maju dan gunakan senjata itu untuk membangkitkan bangsa kita.

    Wassalamu'alaikum Wr.Wb

    ReplyDelete
  15. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017
    Assalamu’alaikum wr, wb
    Mengutip kalimat bapak “Maka manusia sifatnya terbatas dan tidak sempurna, oleh karena itu manusia tidak mampu memikirkan semua sifat dan hanya bisa memikirkan sebagian sifat saja, sebagian sifat yang dipikirkan saja sehingga bersifat reduksi yaitu untuk tujuan tertentu, tujuannya ialah membangun dunia, dunia pengetahuan.”
    Saya memahami ini sebagai suatu kecenderungan dalam memaknai suatu ilmu. Bahwa manusia dengan kapasitas kemampuan dan pikiran yang terbatas tidak akan mampu mempelajari semua hal di dunia. Manusia hanya bisa memikirkan bagian paling sedikit dari alam jagat raya. Sehingga banyak rahasia dan dimensi kehidupan yang sulit dijangkau oleh nalar. Namun, untuk kehidupan yang layak sebagai karunia dari Tuhan, bekal berupa potensi akal cukup untuk membangun peradaban dunia. Masing-masing manusia memikirkan hal-hal menurut kecenderungan potensi itu untuk mencapai tujuan tertentu. Hingga kemudian lahirlah dinamika kehidupan yang memiliki ragam keahlian. Ada yang memilih konsentrasi pendidikan, ekonomi, sosial, teknik, sains, seni dan sebagainya. Berkaca dari beberapa para ilmuan, mereka sukses membangun peradaban keilmuan yang terus berkembang hingga kini. Dengan keterbatasan, mereka fokus menekuni penelitian pada bidang-bidang yang diminati. Satu hal yang bersifat tetap adalah kodrat mereka sebagai manusia ciptaan Tuhan dan yang berubah adalah pengalaman mereka untuk terus berpikir konstruktif menghasilkan temuan-temuan baru dan mutakhir.

    ReplyDelete
  16. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017
    Bagian ini cukup menarik untuk saya:
    “Jadi jika analitik a priori itu dunianya orang dewasa atau dunianya dewa, sedangkan sintetik a posteriori itu adalah dunianya anak-anak. Maka Dewa itu mengetahui banyak hal tentang anak-anak, dan anak-anak hanya mengetahui sedikit tentang Dewa. Jadi mendidik anak itu harus bisa melepaskan ke Dewaan nya, karena kalau tidak dilepaskan baju Dewanya, itu akan menakut-nakuti anak tersebut. Dewa jika turun ke bumi akan menjelma menjadi manusia biasa. Guru digambarkan seorang Dewa yang turun ke bumi menjelma menjadi manusia biasa, itulah gambarannya seorang guru.”
    Saya sangat sepakat dengan analogi di atas. Berangkat dari pengalaman mengajar siswa SD, SMP dan SMA, saya berusaha memahami kondisi psikologi anak-anak didik saya. Untuk menjadi seorang guru kita perlu memahami dunia mereka. Sebab kondisi emosional para siswa mempengaruhi cara mereka berpikir dan menerima pelajaran. Misalnya saat mengajar anak-anak SD maka guru harus melepas sekat antara dirinya dan para siswa. Guru perlu menurunkan sedikit level kewibawaan, keseriusan dan menciptakan suasana bermain yang lebih menyenangkan. Sebab anak-anak adalah keceriaan, kelembutan dan kepekaan rasa yang sangat tinggi. Berbeda halnya ketika mengajar anak SMA, masa dimana mereka sedang memahami jati diri dan menemukan potensi yang dimiliki. Maka hal yang paling tepat untuk menambah intensitas kedekatan adalah dengan menciptakan keakraban seperti halnya kawan. Jadi, sikap penerimaan dari hasil interaksi yang tepat akan semakin memudahkan seorang guru memberikan pemahaman baik secara kognitif, afektif ataupun psikomotor.

    ReplyDelete
  17. Tari Indriani
    17701251027
    PPs PEP Kelas B 2017

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Membaca artikel diatas membuat saya berpikir tentang paragraf berikut,
    "Setiap hari Indonesia tidak bisa berdiri tegak karena digempur oleh berbagai macam peristiwa Power Now yang berupa teknologi, pendidikannya, serta politiknya. Sehingga Indonesia selalu menjadi negara yang lemah dan tidak mempunyai jati diri, kenapa bisa begitu? Hal ini salah satunya dikarenakan Indonesia dalam sejarahnya belum mempunyai Pemimpin yang berkarakter dan berwawasan ke depan (400 tahun misalnya. Indonesia dalam kancah pergaulan dunia, seperti seekor anak ayam yang kelaparan di dalam lumbungnya sendiri. Bergaul dengan dunia kontemporer dewasa ini tidaklah mudah dan tidaklah murah. Agar si anak ayam Indonesia tidak dipatuk oleh si Rajawali Power Now maka Indonesia harus mau dan mampu memberikan konsensi berupa Investasi atau mengikuti aturan, ketentuan, bahkan paradigma (misal Saintifik)."
    Memilih pemimpin yang hanya pintar saja tidak cukup, apalagi tidak pintar. Pemimpin harus ada jiwa empati, mengapa? Karna manusia dengan rasa empati yang ada dalam dirinya berpotensi cerdas dan kreatif. Karna tujuannya cuma 1 untuk mengubah lingkungannya miskin menjadi sejahtera, yang bodoh menjadi pandai, dan paling penting yang tak beragama menjadi beriman. Tapi sulit untuk mencari yang seperti itu, karna di Indonesia pemimpin bukan dipilih dari empati namun ditunjuk dari populariti. Mungkin itulah mengapa Indonesia lemah dan belum punya jari diri, karna terlalu banyak pribadi yang mudah dirasuki.

    Wassalamu'alaikum wr.wb

    ReplyDelete
  18. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B 2017
    Bagian penutup dalam ulasan ini begitu penting bagi saya. Membaca dan membaca. Kelihatannya sangat mudah namun saat untuk menerapkannya butuh dorongan yang kuat dari dalam diri serta konsistensi dalam menjalankannya. Satu ungkapan unik yang tertulis dalam artikel ini dan membuat saya menjadi merenung lebih dalam, yaitu "ikan ya ikan namun alangkah baiknya jika ikan itu mengetahui jenis-jenis air agar dapat mencari air yang bersih, karena itu bukan untuk kepentingan ikan itu sendiri, karena nantinya ikan itu akan bertelur sehingga menyelamatkan generasi yang akan datang atau keturunan kita nantinya". Saya sangat setuju dengan statement unik ini. That's why kita dianjurkan untuk dapat memberi manfaat kepada orang lain melalui ilmu yang kita miliki. Ada suatu kesenangan bathin yang dirasakan saat kita melakukan hal tersebut.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM:17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.,,Terimakasih banyak pak atas penjelasannya.Membangun peradaban dunia memang tidak terlepas dari peran dan fungsi filsafat.Jika menelisik jauh tentang filsafat maknanya dalam bahasa aslinya adalah cinta terhadap kebijaksanaan.Dan untuk membangun peradaban dunia sangat dibutuhkan orang-orang yang bijak dalam berpikir dan bertindak.Berfilsafat berarti merenung secara mendalam terhadap segala sesuatu secara metodik, sistematik menyeluruh atau universal untuk mencari hakikat sesuatu.Namun bagaimanapun bentuk dan cara kita mempelajari filsafat dengan mengutip kembali penjelasan bapak bahwa “Sebaik-baik filsafat adalah yang ada pada diri kita sendiri.Sebagaimana yang juga telah dipaparkan sebelumnya bahwa filsafat memiliki objek material yang sifatnya tak terbatas yakni segala sesuatu yang ada dan mungkin ada.Anaknda ingin memaparkan sebuah pertanyaan,Yang pertama, bagamanakah makna kata ada dan tidak ada yang sebenarnya menurut filsafat ilmu?Yang kedua, apakah ada ayat- ayat di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan tentang aksioma?Karena aksioma yang anaknda pelajari tedapat dalam matematika dimana maknanya yang berarti kebenaran umum dengan tidak memerlukan pembuktian lagi dan diakui oleh banyak orang.Anaknda mohon pencerahan dan penjelasannya.Terimakasih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  20. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  21. Assalamualaikum wr.wb. dan
    Selamat Siang,
    Nama : Ramayanti Agustianingsih
    NIM : 17709251045
    PPs PMat C 2017

    Filsafat itu terjadi pada diri kita sendiri dan seperti ungkapan yang tertulis pada artikel bahwa belajar berfilsafat itu “bagaikan seekor ikan dilaut yang airnya terkena polusi berupa kontemporer (kekinian)”. Ini artinya filsafat itu sangat diperlukan manusia supaya mampu bertahan pada zaman saat ini yang telah dikuasai oleh teknologi dan agar tidak terjebak dalam Fenomena Compte. Karena itu filsafat tidak dapat dilakukan orang-orang biasa saja, orang-orang yang enggan melatih otaknya untuk berpikir dengan mencari dan meningkatkan pengetahuannya. Dunia dan zaman terus berubah, pengetahuan pun terus berkembang sehingga jika kita enggan untuk mencari dan meningkatkan pengetahuan maka tentunya kita tidak akan tahu apa-apa karena ada banyak hal yang tidak diketahui dan dipahami, dan akhirnya kita pun hanya akan menjadi boneka yang dikendalikan oleh zaman, boneka yang mengikuti semua aturan zaman padahal belum tentu aturan-aturan itu baik dan sejalan dengan ajaran agama. Oleh karena itu agar mampu berfilsafat dengan baik, mari rajin-rajinlah membaca, baik membaca buku, artikel, atau elegi-elegi seperti yang diberikan oleh bapak dalam blog ini. Sekian dan terima kasih, maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan.

    Selamat Siang, dan
    Wassalamualaikmu, wr.wb

    ReplyDelete
  22. Nama : Dewi Saputri
    NIM : 17701251036
    PPS PEP B (S2)

    Assalamu'alaikum Wr.Wb
    Berfilsafat itu mencari pengetahuan dengan di dasarkan selalu berserah diri kepada yang maha kuasa, karena untuk mencari pengetahuan itu banyak sekali yang dapat membuat seseorang menyimpang dari keadaan yang sebenarnya. Banyak membaca dan selalu mencari ilmu pengetahuan dari manapun dengan yang sebenar benarnya serta harus tetap dilandasi dengan selalu berserah diri kepada yang maha kuasa dapat menyelamatkan kita dan generasi yang akan datang.

    ReplyDelete
  23. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Ilmu filsafat membuka wawasan secara luas dan membuka pandangan bahwa dunia dan seisinya tidak ada batas. Kami sebagai manusia menjadi sadar bahwa kami hanya sebuah titik kecil di antara luasnya jagat raya. Sudah sepantasnya manusia memiliki sifat rendah hati dan peduli terhadap sesama.

    ReplyDelete
  24. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika Kelas C

    Assalamu'alaikum Wr.Wb
    Mengutip kalimat "Membangun matematika itu menemukan konsep, menemukan rumus. Maka mahasiswa yang sedang membangun dunia dengan filsafat itu belum jelas seperti apa bangunannya. Maka dari itu harus banyak membaca." Benar sekali Pak, dengan membaca kita bisa tahu tentang banyak hal dan tentu itu dapat meningkatkan kualitas diri. Kualitas diri itu sendiri memiliki peranan yang sangat penting dalam menarik kesuksesan yang diinginkan. Semakin tinggi kualitas diri seseorang, semakin besar kesuksesan yang ia bisa dapatkan. Semakin mudah juga ia bisa mendapatkan kesuksesan tersebut.

    ReplyDelete
  25. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.
    Filsafat merupakan refleksi dari sebuah pengalaman. Pengalaman yang dapat dibangun dari membaca berbagai referensi sehingga tampak jelas bangunan yang akan dibangun itu. Dari pengalaman yang dimiliki tersebut dapat bermanfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan. Begitu pentingnya filsafat. Filsafat dalam pendidikan bukan hanya mempelajari tentang pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu dapat digunakan dalam kehidupan yang sesungguhnya. Seperti guru yang menyalurkan ilmunya kepada siswa. Bukan hanya menuangkan air dari botol A ke botol B, tetapi guru juga memberikan cara bagaimana air yang ditumpahkan itu tidak akan tumpah. Tidak serta merta memberikan materi kemudian soal, tetapi guru memberikan contoh.

    ReplyDelete
  26. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Ulasan yang menarik Prof, filsafat adalah soal kemungkinan. Dalam perjalanan hidup manusia selalu menemui berbagai macam fenomena beserta deretan problem. Sering kali hal tersebut dilalui tanpa berpikir dengan sungguh-sungguh. Filsafat dapat dikatakan sebagai metode untuk berpikir secara reflektif sekaligus radikal. Hasil dari pemikiran yang terefleksi dan teradikalisasi tersebut adalah argumentasi, hal yang selalu menggoda manusia untuk mempersoalkan keadaan diri, hingga—dalam beberapa kasus—‘diusir’dari kebenaran. Namun, filsafat selalu menunda kepastian. Penundaan itulah yang membuka ruang kemungkinan-kemungkinan baru. Manusia memiliki kemampuan untuk mengkaji hal-hal yang bersifat empiris yang kemudian dibangun untuk menciptakan sebuah pengetahuan. Namun apakah pengalaman empiris setiap manusia sama? Atau semua manusia dapat mencapai sifat empirisme manusia pada umumnya? Lalu, bagaimana dengan kepercayaan yang selalu diceritakan dengan pengalaman empirisme oleh otoritas namun tidak perlu dialami oleh manusia lainnya menggunakan pancainderanya?

    ReplyDelete
  27. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    assalamualaikum wr wb
    benar bahwa sejak kecil anak harus sudah mulai dikenalkan dengan "hipotesis" yaitu pendapat sementara, jadi anak anak harus sudah bisa belajar berpendapat entah itu benar maupun tidak benar, untuk membuktikannya bisa dilakukan percobaan untuk beberapa kasus. Anak yang terbiasa berpendapat maka akan menjadi pribadi yang kritis dan maju

    ReplyDelete
  28. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    assalamualaikum wr wb
    benar bahwa sejak kecil anak harus sudah mulai dikenalkan dengan "hipotesis" yaitu pendapat sementara, jadi anak anak harus sudah bisa belajar berpendapat entah itu benar maupun tidak benar, untuk membuktikannya bisa dilakukan percobaan untuk beberapa kasus. Anak yang terbiasa berpendapat maka akan menjadi pribadi yang kritis dan maju

    ReplyDelete