Nov 1, 2015

TESIS DAN ANTI-TESIS PEMAHAMAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Marsigit

Seperti diketahui bahwa secara eksplisit pendekatan Saintifik direkomendasikan untuk metode pembelajaran (dengan didukung atau dikombinasikan dengan metode lain yang selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013. Sebelum diuraikan tentang implementasi dan contoh-contohnya, maka di sini akan dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik. Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak: a. mengamati; b. menanya; c.    mengumpulkan informasi; d.   mengasosiasi; dan e.   mengkomunikasikan.

Terdapat pemikiran (referensi) bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

Tesis 1dari referensi sebelah:
Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Anti-Tesis oleh Marsigit:
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

Tesis 2 dari referensi sebelah:
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Anti-Tesis 2 oleh Marsigit:
Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

Tesis 3 dari referensi sebelah:
Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik dan sistematik.Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil eksperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Anti-Tesis 3 oleh Marsigit:
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.

Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.
Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir.

Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori.

Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik.

Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik.

Yogyakarta, Nopember 2015


25 comments:

  1. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Inti dari pembelajaran scientific adalah mendorong siswa untuk dapat mencari, menemukan, serta membangun pengetahuannya sendiri melalui serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh guru, sebagaimana teori belajar konstruktivisme. Dalam hal ini guru hendaknya memiliki kreatifitas yang tinggi untuk dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung siswa dalam menemukan pengetahuannya. Pengetahuan siswa dapat dibangun melalui pengalaman belajar yang bermakna dengan menggunakan fakta atau fenomena sebagai objek kajian. Sintak dalam kegiatan belajar tidak harus saklek atau kaku, seharusnya bisa lebih fleksibel namun tetap dalam koridor saintific. Artinya siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi sesuai dengan cara terbaiknya. Dengan demikian potensi yang mereka miliki bisa lebih berkembang dengan optimal.

    ReplyDelete
  2. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Berdasarkan judul saja sudah kontra
    Terimakasih pak, bertambah lagi ilmu saya tentang pemahaman pendekatan Saintifik 😊

    ReplyDelete
  3. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami proses pembelajaran saintifik bukan merupakan sebuah proses yang cepat, dimulai dari membuat pondasi pada diri siswa, hingga siswa mempunyai pemahaman yang kuat. Pembelajaran saintifik merupakan perubahan besar yang terkandung dalam kurikulum 2013. Sampai saat ini berbagai macam pro dan kontra dalam penerapannya di masa transisi ini masih sering muncul. Kami menyadari bahwa pada dasarnya semua perubahan perlu proses, dan kami berharap hingga akhirnya nanti paradigma pendidikan sesuai dengan filosofi yang terkandung dalam kurikulum 2013

    ReplyDelete
  4. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Hegel merupakan filsuf Jerman dari aliran German Idealism. Bagi Hegel, setiap tesis akan mendapatkan reaksi berupa Antitesis dan pada gilirannya menghasilkan/menurunkan Sintesis. Sintesis tadi pada hakekatnya adalah Tesis baru sehingga pada saatnya akan mendapatkan reaksi baru yaitu Antitesis dan dengan demikian akan membutuhkan Sintesis yang baru lagi. Demikianlah seterusnya langkah-langkah tadi berulang kembali. Pendekatan saintifik tidak sekedar mengaitkan dengan fakta dan fenomena, hal tersebut merupakan sebuah antitesis. Sehingga muncul sintesis baru yang mengemukakan bahwapendekatan saintifik juga menjelaskan pada bagaimana siswa mampu membangun ilmunya sendiri, dengan difasilitasi guru.

    ReplyDelete
  5. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Hegel merupakan filsuf Jerman dari aliran German Idealism. Bagi Hegel, setiap tesis akan mendapatkan reaksi berupa Antitesis dan pada gilirannya menghasilkan/menurunkan Sintesis. Sintesis tadi pada hakekatnya adalah Tesis baru sehingga pada saatnya akan mendapatkan reaksi baru yaitu Antitesis dan dengan demikian akan membutuhkan Sintesis yang baru lagi. Demikianlah seterusnya langkah-langkah tadi berulang kembali. Pendekatan saintifik tidak sekedar mengaitkan dengan fakta dan fenomena, hal tersebut merupakan sebuah antitesis. Sehingga muncul sintesis baru yang mengemukakan bahwapendekatan saintifik juga menjelaskan pada bagaimana siswa mampu membangun ilmunya sendiri, dengan difasilitasi guru.

    ReplyDelete
  6. Rigia TIrza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    setiap hal di dunia ini memiliki sisi baik dan buruk, termasuk penerapan pendekatan saintifik ini. Hanya saja sebelum melakukan penerapan, kita harusnya terlebih dahulu melihat asal-usul dan segala hal yang berkaitan dengan pendekatan saintifik. Hal ini berguna agar tidak salah kaprah dan hanya menerapkannya sebagian atau terpotong-potong. Perlu dikaji secara lebih lanjut apakah penerapan pendekatan saintifik di Indonesia sudah tepat, atau hanya gaya-gayaan saja tanpa tau esensinya.

    ReplyDelete
  7. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    Dalam kehidupan tentu ada tesis dan anti tesisnya. Begitupun dalam pembelajaran di kelas. Jika pembelajaran hanya terpaku pada guru atau berpusat pada guru sehingga guru sebagai sumber informasi, maka anti tesis dari hal tersebut adalah pembelajaran yang bersifat student centered yaitu berpusat pada siswa sehingga membuat siswa aktiv berperan serta dalam kegiatan pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  8. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik hingga saat ini masih perlu diperhatikan. Masih ada guru yang belum mengerti proses pelaksanaanya dan bagi guru yang sudah paham pun terkadang masih mengalami kendala dalam prosesnya. Perlu proses dalam mengubah pembelajaran yang sudah terbiasa dengan pendekatan konvensional dan ceramah ke pembelajaran yang menggunakan pendekatan Saintifik. Diharapkan nantinya pemerintah dan seluruh tingkatan pendidikan dapat mengatasinya dan dapat memberikan pendidikan yang bermutu.

    ReplyDelete
  9. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Berfikir kritis merupakan aktivitas berfikir dalam hal memecahkan masalah, mengevaluasi dan mengambil keputusan. Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya Prof, apakah berfikir kritis masuk ke dalam high order thingking skills (HOTS)? kapan sebaiknya berfikir kritis diterapkan dalam pembelajaran apakah dimulai dari pendidikan dasar atau dimulai dari pendidikan menengah?

    ReplyDelete
  10. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tidak semua materi pembelajaran merupakan materi yang berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Dalam pembelajaran matematika, banyaak materi yang memerlukan abstraksi. Selain itu terkadang yang nyata dan nalar bagi orang dewasa belum tentu nalar bagi anak-anak. Khayalan tentang negeri dongerng terkadang lebih nyata dibandingkan dengan permasalahan ekonomi bagi anak sekolah dasar.

    ReplyDelete
  11. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dalam kehidupan, suatu hal tentu ada kontradiksinya, begitu juga proses pembelajaran yang dulunya berpusat pada guru, sekarang ada peraturan baru yang menggalakkan pendekatan saintifik yaitu proses pembelajarannya berpusat pada siswa.

    ReplyDelete
  12. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Setelah membaca postingan tentang tesis-anti tesis ini, saya rasa pendekatan saintifik tidak sepenuhnya bersifat ilmiah. Khayalan, legenda, atau dongeng pun juga dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Di tambah masih dibutuhkannya intuisi untuk melakukan pendugaan sebagai bentuk penarikan kesimpulan atas pengamatan yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  13. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  14. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pendekatan saintifik adalah proses mengkonstruksi pengetahuan siswa. Proses ini dapat dilakukan dengan memulai pembelajaran menggunakan sesuatu yang konkrit untuk membangun pengetahuan formal matematika siswa. Dalam prosesnya ternyata diperlukan hal-hal non ilmiah disaming yang ilmiah menjadi yang terpenting. Hal itu karena, sesuatu yang non ilmiah kadang-kadang menjadi jembatan bagi siswa unutk mengkonstruk pengetahuannya. Terimakasih

    ReplyDelete
  15. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Artikel tesis dan antitesis pemahaman pendekatan saintifik di atas mengajarkan kita mengenai makna dari pendekatan saintifik yang sebenarnya dalam penerapannya di kurikulum yang baru ini banyak mengalami kendala. Saya rasa sangat dibutuhkan kerjasama yang lebih baik lagi dari guru dan pemerintah juga orang tua murid untuk dapat benar-benar menerapkan metode ini agar peserta didik dapat mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

    ReplyDelete
  16. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dalam pembelajaran saintifik tidak mudah membuat siswa mengambil kesimpulan yang benar. Siswa dapat menyampaikan konklusi dari pembelajaran sangat ditekankan pada pembelajaran ini. Dengan pendekatan ini diharapkan siswa mampu mendapatkan ilmunya sendiri dengan penemuan ilmiah dan mampu menarik kesimpulan dengan benar.

    ReplyDelete
  17. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  18. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Membaca langkah-langkah pendekatan saintifik di atas, pendekatan yang bagus diterapkan dalam pembelajaran matematika. Namun dalam praktiknya di lapangan, pendekatan saintifik tidak mudah diterapkan dalam pembelajaran. Misalnya saja saat siswa diminta menganalisis informasi dari hasil pengamatan yang diperoleh, tanpa bimbingan yang tepat dari pendidik, kegiatan tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan. Selain itu, untuk membuat kesimpulan, terkadang data atau informasi yang terkumpul tidak mengarahkan pada kesimpulan. Sehingga peran guru sangat penting untuk melancarkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  19. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Apabila fenomena dan juga pengalaman mejadi substansi pembelajaran maka antitesisnya fenomena menjadi objek pembelajaran. Namun jika pembelajaran masih menggunakan guru makan antitesisnya pembelajaran mengunggulkan kemandirian siswa untuk dapat memperoleh pengetahuannya dengan sedikit penjelasan dari guru, bahkan ada kemungkinan tidak ada penjelasan dari guru sebab guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  20. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pendidikan saintifik bisa juga diterapkan di dunia pendidikan di Indonesia, namun yang perlu digaris bawahi adalah jangan terlalu menonjolkan pembelajaran saintifik sesuai teori pembelajaran saintifik yang ada. Jika kita lihat, di Indonesia ini yang merupakan kumpulan dari berbagai jenis suku, budaya, dan agama, maka jika pembelajaran saintifik diterapkan pada dunia pendidikan harus diimbangi dengan beberapa hal yang akan membuat berkembangnya peserta didik berdasarkan lingkungannya
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  21. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Tantangan bagi guru pada penerapan kurikulum 2013 adalah mengkondisikan pembelajaran saintifik. Menurut pengalaman saya di lapangan, ketika guru sudah berusaha membuat pembelajaran saintifik namun siswa malah tidak mau berfikir saintifik.

    ReplyDelete
  22. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Sejauh ini, pengetahuan saya akan pendekatan saintifik, sedikit banyak lebih mengacu kepada hal-hal yang diuraikan pada bagian tesis. Kemudian saya menyadari bahwa anti-tesis yang bapak kemukakan memang sesuai dengan keadaan yang ada, seperti yang tertulis pada anti tesis 2 bahwa pendekatan saintifik dapat dilakukan dengan kerangka konstruksivisme, dimana siswa membangun pengetahuan dengan guru sebagai fasilitator. Karena pada faktanya, peran guru masih dibutuhkan cukup besar dalam pendekatan saintifik ini, padahal hal ini bertentangan dengan semangat saintisme.

    ReplyDelete
  23. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Pendekatan saintifik dalam pelaksanaannya, ada yang menjadikan saintifik sebagai pendekatan ataupun metode. Namun karakteristik dari pendekatan saintifik tidak berbeda dengan metode saintifik (scientific method). Pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik memberikan porsi sebesarbesarnya bagi siswa untuk berperan dalam pembelajaran yang berlangsung. Porsi
    itu dapat dilihat dari langkah-langkah dalam proses pembelajaran yang meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta.

    ReplyDelete
  24. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan gagasan dalam pendekatan saintifik merupakan usaha untuk memfasilitasi siswa dalam mengonstruk pengetahuannya sendiri.Dalam penerapan pendekatan saintifik, guru dapat bertindak sebagai motivator dan memberikan scaffolding.

    ReplyDelete
  25. M. Zainudin
    16701261019
    PEP

    Konsep pembelajaran dengan pendekatan saintifik memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimaal

    ReplyDelete