Nov 1, 2015

TESIS DAN ANTI-TESIS PEMAHAMAN PENDEKATAN SAINTIFIK

Oleh Marsigit

Seperti diketahui bahwa secara eksplisit pendekatan Saintifik direkomendasikan untuk metode pembelajaran (dengan didukung atau dikombinasikan dengan metode lain yang selaras) dalam kerangka Kurikulum 2013. Sebelum diuraikan tentang implementasi dan contoh-contohnya, maka di sini akan dilakukan sintesis tentang adanya dikotomi pemikiran Saintifik dan Tidak Saintifik. Pendekatan saintifik yang terdiri dari sintak: a. mengamati; b. menanya; c.    mengumpulkan informasi; d.   mengasosiasi; dan e.   mengkomunikasikan.

Terdapat pemikiran (referensi) bahwa proses pembelajaran disebut ilmiah jika memenuhi kriteria seperti berikut ini.

Tesis 1dari referensi sebelah:
Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata.

Anti-Tesis oleh Marsigit:
Pembelajaran dengan pendekatan Saintifik tetaplah berbasis Kompetensi sesuai dengan jiwa dan semangat Kurikulum 2013. Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

Tesis 2 dari referensi sebelah:
Penjelasan guru, respon peserta didik, dan interaksi edukatif guru-peserta didik terbebas dari prasangka yang serta-merta, pemikiran subjektif, atau penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis.

Anti-Tesis 2 oleh Marsigit:
Pendekatan Saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka Konstruksivisme, yaitu
memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya.

Tesis 3 dari referensi sebelah:
Proses pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah. Pendekatan nonilmiah dimaksud meliputi semata-mata berdasarkan intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis.Intuisi. Intuisi sering dimaknai sebagai kecakapan praktis yang kemunculannya bersifat irasional dan individual. intuisi sama sekali menafikan dimensi alur pikir yang sistemik dan sistematik.Akal sehat. Guru dan peserta didik harus menggunakan akal sehat selama proses pembelajaran, karena memang hal itu dapat menunjukan ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang benar. Namun demikian, jika guru dan peserta didik hanya semata-mata menggunakan akal sehat dapat pula menyesatkan mereka dalam proses dan pencapaian tujuan pembelajaran.Prasangka. Sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang diperoleh semata-mata atas dasar akal sehat (comon sense) umumnya sangat kuat dipandu kepentingan orang (guru, peserta didik, dan sejenisnya) yang menjadi pelakunya. Ketika akal sehat terlalu kuat didompleng kepentingan pelakunya, seringkali mereka menjeneralisasi hal-hal khusus menjadi terlalu luas. Hal inilah yang menyebabkan penggunaan akal sehat berubah menjadi prasangka atau pemikiran skeptis. Berpikir skeptis atau prasangka itu memang penting, jika diolah secara baik. Sebaliknya akan berubah menjadi prasangka buruk atau sikap tidak percaya, jika diwarnai oleh kepentingan subjektif guru dan peserta didik.Penemuan coba-coba. Tindakan atau aksi coba-coba seringkali melahirkan wujud atau temuan yang bermakna. Namun demikian, keterampilan dan pengetahuan yang ditemukan dengan caracoba-coba selalu bersifat tidak terkontrol, tidak memiliki kepastian, dan tidak bersistematika baku. Tentu saja, tindakan coba-coba itu ada manfaatnya dan bernilai kreatifitas. Karena itu, kalau memang tindakan coba-coba ini akan dilakukan, harus diserta dengan pencatatan atas setiap tindakan, sampai dengan menemukan kepastian jawaban. Misalnya, seorang peserta didik mencoba meraba-raba tombol-tombol sebuah komputer laptop, tiba-tiba dia kaget komputer laptop itu menyala. Peserta didik pun melihat lambang tombol yang menyebabkan komputer laptop itu menyala dan mengulangi lagi tindakannya, hingga dia sampai pada kepastian jawaban atas tombol dengan lambang  seperti apa yang bisa memastikan bahwa komputer laptop itu bisa menyala.Berpikir kritis. Kamampuan berpikir kritis itu ada pada semua orang, khususnya mereka yang normal hingga jenius. Secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang bependidikan tinggi. Orang seperti ini biasanya pemikirannya dipercaya benar oleh banyak orang. Tentu saja hasil pemikirannya itu tidak semuanya benar, karena bukan berdasarkan hasil eksperimen yang valid dan reliabel, karena pendapatnya itu hanya didasari atas pikiran yang logis semata.

Anti-Tesis 3 oleh Marsigit:
Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah. Pendekatan Ilmiah bersintak (sesuai dengan referensinya), maka sifat Ilmiah tidak serta merta secara rigid identik dengan sintak-sintaknya. Untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah, misal kekeliruan mengobservasi, dan mengambil kesimpulan. Kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun siswa sudah menggunakan sintak Saintifik.

Peran intuisi sangat penting bai sebagai Intuisi Berpikir maupun sebagai Intuisi Pengalaman.
Akal sehat sangat bermanfaat sebagai dimulainya kesadaran untuk mempersepsi objek berpikir.

Kegiatan coba-coba secara ontologis bermakna sebagai kegiatan interaksi antara pikiran dan pengalaman, antara logika dan faktanya, antara analitik dan sintetik, dan antara a priori dan a posteriori.

Berpikir kritis adalah berpikir reflektif sampai pada kemampuan mengambil keputusan secara benar.

Fenomenologi sebagai kerangka filosofis pendekatan Saintifik.

Hermenitika sebagai pendekatan epistemologi pendekatan Saintifik.

Yogyakarta, Nopember 2015


155 comments:

  1. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Sintak dalam saintifik yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Mengamati yang dimaksud ialah mengamati fenomena yang terjadi menggunakan logika atau penalaran tertentu akan tetapi legenda, kira-kira, dan legenda juga dapat memperkuat siswa dalam pengamatan. Proses pembelajaran yang terjadi harus terhindar dari nilai non ilmiah yang berdasarkan pada intuisi, akal sehat, prasangka yang kesemuanya berasal dari coba-coba. Inilah hidup, unsur dalam kehidupan manusia semua ada tesis dan anti-tesisnya sama halnya dengan pendekatan saintifik yang juga ada tesis dan anti-tesisnya.

    ReplyDelete
  2. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pendekatan saintifik merupakan pembelajaran berbasis ilmiah. Dimana terdapat pembelajaran dengan metode penemuan dan pengembangan dalam memperoleh pengetahuan baru. Oleh karena itu pembelajaran yang bersifat abstrak khususnya bidang studi matematika lebih dipelihatkan konteks realitas dan logisnya. Peran guru sebagai fasilitator dan motivator untuk para siswa sangat penting dalam pembelajaran dengan pendekatan saintifik ini. Dimana guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, namun menjadi sarana dan prasarana agar siswa menemukan pengetahuan barunya sendiri.

    ReplyDelete
  3. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Materi pembelajan dalam kurikulum 2013 berbasis pada fakta atau fenomena yang merupakan objek keilmuan yang digunakana untuk membangun ilmu pengetahuan yang melibatkan logika dan pengalaman.

    ReplyDelete
  4. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Anti-Tesis 2 oleh Prof. Marsigit. Saya juga sepakat dengan pendapat Prof yang menyatakan bahwa pendekatan saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka konstruksivisme, yaitu memberi kesempatan peran siswa untuk membangun pengetahuan/konsepnya melalui fasilitasi guru. Terminologi “Penjelasan guru-respon siswa” bertentangan dengan semangat Saintisme yaitu kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter memperoleh Sensasi Pengalaman. Penalaran yang menyimpang perlu disadari dan dicarikan solusi dan penjelasannya untuk memperkokoh konsep yang telah dibangunnya. Ditambah dengan adanya kombinasi dengan metode metode dan model-model pembelajaran lain yang juga berbasis konstruktivismem, maka pembelajaran siswa akan lebih bermakna untuk membangun dirinya sendiri dngan pengetahuan yang ada.

    ReplyDelete
  5. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

    Tulisan ini tidak hanya ingin memaparkan kritik terhadap pemahaman pendekatan saintifik yang umumnya dijadikan referensi oleh pendidik saat ini. Tetapi juga memberikan penjelasan, bagaimana seharusnya pemahaman pendekatan saintifik dalam pandangan Pak Marsigit. Saya termasuk pendatang baru dalam dunia pendidikan berbasis saintifik. Sehingga tidak banyak kritis yang dapat saya ajukan. Melalui komentar ini saya mencoba untuk menambahkan kritik terhadap anti-tesis oleh pak Marsigit. Menurut pandangan saya, dongeng atau khayalan tidak bisa menjadi landasan pikiran dan pengalaman untuk pendidikan berbasis saintifik. Karena menurut saya, dongeng atau khayalan masing-masing orang dipengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada. Sehingga pengembangan ilmu pengetahuan hanya akan terbatas pada dimana dia berada. Sedangkan yang dimaksud pendekatan saintifik dalam pandangan saya adalah untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang universal sehingga bisa diterapkan di manapun tempat yang ada didunia ini.

    ReplyDelete
  6. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Dari hasil saya membaca tesis dan antitesis saya memperoleh bahwa dalam sebuah pembelajaran siswa dapat membangun konsepnya sendiri atau biasa disebut kontrutivisme. Peran guru disini adalah sebagai fasilitator dan tidak mendominasi dalam pembelajaran. Guru tidak boleh otoriter. Guru sebisa mungkin mengelola pembelajaran agar siswa berpean aktif dan pembelajaran tidak boleh didominasi oleh guru.

    ReplyDelete
  7. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Pembelajaran saintifik merupakan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah saintis dalam membangun pengetahuan melalui metode ilmiah. Pembelajaran saintifik tidak hanya memandang hasil belajar sebagai muara akhir, namun proses pembelajaran dipandang sangat penting. Oleh karena itu pembelajaran saintifik menekankan pada keterampilan proses. Pembelajaran ini menekankan pada proses pencarian pengetahuan daripada transfer pengetahuan, peserta didik dipandang sebagai subjek belajar yang perlu dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran, guru hanyalah seorang fasilitator yang membimbing dan mengkoordinasikan kegiatan belajar.

    ReplyDelete
  8. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Dalam rangka memahami sesuatu, dapat dilakukan dengan cara membuat sintetis dan mencari anti tesisnya dari suatu tesis. Termasuk dalam memahami tentang pendekatan saintifik. Misalnya terdapat tesis sebagai berikut, Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Anti tesis yang mungkin adalah Fakta atau fenomena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun (Ilmu) Pengetahuan dengan pendekatan Saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman. Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman.

    ReplyDelete
  9. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat Anti-Tesis oleh Prof. Marsigit tentang tesis I. Berbagai kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Dalam membangun sebuah pengetahuan diperlukan pengalaman (yang berupa kira-kira,legenda) dan logika

    ReplyDelete
  10. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Penerapan pendekatan saintifik menuntut adanya perubahan setting dan bentuk tersendiri yang berbeda dengan pembelajaran konvensional. Salah satu model pembelajaran yang dipandang sejalan dengan prinsip pendekatan saintifik/ilmiah yaitu model inkuiri. Model inkuiri memiliki beberapa tipe, salah satunya model inkuiri terbimbing. Model inkuiri terbimbing menekankan pada siswa yang memecahkan masalah dari guru atau buku teks melalui cara-cara ilmiah, melalui pustaka dan melalui pertanyaan dan guru membimbing siswa dalam menentukan proses pemecahan dan identifikasi solusi sementara dari masalah tersebut.

    ReplyDelete
  11. ARNY HADA INDA
    16709251079
    PPS-MAT D 2016
    Pendekatan Saintifik (Scientific Approach) dalam pembelajaran merupakan ciri khas dan menjadi kekuatan tersendiri dari keberadaan Kurikulum 2013. Dalam Permendikbud No. 65 Tahun 2013 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah telah mengisyaratkan tentang perlunya proses pembelajaran yang dipadu dengan kaidah-kaidah pendekatan saintifik/ilmiah. Kemendikbud (2013: 3) memberikan konsepsi tersendiri bahwa pendekatan ilmiah dalam pembelajaran di dalamnya mencakup komponen: mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta. Komponen-komponen tersebut semestinya dapat dimunculkan dalam setiap praktik pembelajaran, tetapi bukanlah siklus pembelajaran sehingga siswa dapat berperan aktif dalam setiap proses kegiatan pembelajaran.

    ReplyDelete
  12. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya sependapat dengan Bapak Marsigit mengenai anti-tesis yang telah dijelaskan. pembelajaran K13 membangun pengetahuan dengan logika dan pengalaman, dengan siswa memiliki pengalaman untuk menemukan konsep materi dengan mandiri maka siswa akan lebih paham mengenai materinya.

    ReplyDelete
  13. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    mengkonstruksi pengetahuan nya sendiri bagi siswa merupakan hal yang sangat penting, guru sebaiknya memberikan LKS untuk membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya. pembelajaran yang bermakna adalah ketika siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Didalam LKS tersebut berisi mengenai alur penemuan penemuan konsep matematika dan siswa menyelesiakan masalah dan mengikuti alur berfikir LKS tersebut.

    ReplyDelete
  14. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    saya sependapat dengan Bapak Marsigit yang tertuang dalam anti-tesis 3, selain pengalaman , imajinasi, intuisi juga penting bagi siswa dalam pemecahan masalah. Intuisi sangat berperan dalam memahami pernyataan-pernyataan matematika dan dalam pemecahan masalah matematika. Pemecahan masalah merupakan salah satu tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  15. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik memang menggunakan metode ilmiah menggunakan sintaks-sintaksnya. Namun, dalam pembelajaran, intuisi dan pengalaman diperlukan untuk memperkuat pemahaman yang ada. intuisi, melakukan perkiraan atas suatu hal yang diamati merupakan langkah awal dari menanya. Saat kita melakukan pengamatan kita mengira-ngira apa yang sedang terjadi dan menanyakan sesuatu berdasarkan apa yang kita duga sedang terjadi. Jadi, menurut saya, metode ilmiah itu baru bisa berjalan jika ada metode non ilmiah, keduanya saling melengkapi.

    ReplyDelete
  16. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Dalam kurikulum 2013 dipakai paradigma konstruktivisme dimana siswa dianggap sudah memiliki dasar dan siswa berperan aktif membangun pengetahuannya. Guru bertindak sebagai fasilitator. Jika guru tidak menilai setiap siswa secara subjektif dan memiliki penilaian merata bagi setiap siswa maka perlakuannya merata. Hal ini bertentangan dengan paradigma yang ada, yang menganggap bahwa kemampuan siswa berbeda-beda.

    ReplyDelete
  17. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Pendekatan saintifik yang terdapat dala kurikulum 2013 merupakan pembelajaran dimana siswa diposisikan sebagai subjek dan objek belajar sedangkan guru sebagai fasilitator, pembelajaran ini dapat dikreasikan atau dapat dikombinasikan dengan metode pembelajaran yang sudah ada sesuai dengan situasi dan kondisi pembelajaran yang ada. Pembelajaran ini tidak hanya dapat digunakan pada mata pelajaran tertentu saja tetapi dapat digunakan di semua mata pelajaran dengan sintak-sintak yang telah ada. Tesis dan antitesis akan melahirkan sintesis pengetahuan yang baru yang dapat menjadi ilmu pengetahuan sehingga mengubah mitos menjadi logos. Tesis dan anti tesis pemahaman tentang pembelajaran saintifik merupakan pengarahan untuk menemukan solusi pembelajaran yang lebih bermakna karena berdasarkan realita di lapangan kebanyaka guru-guru mengeluh mengenai pendekatan pembelajaran sintifik ini. Padahal jika dicermati lebih dalam para guru mengeluh karena kurangnya pemahaman mereka tentang pendekatana tersebut. yaah,,, memang tidak bisa dipungkiri bahwa merubah paradigma tidaklah semudah membalikkan telapak tangan diperlukan usaha yang ekstra dalam perubahan paradigma tersebut. Perbahan paradigma terkait erat dengan ruang dan waktu, guru telah merasa nyaman dengan pengetahuan yang dimiliki jika diganti-diganti membutuhkan pembelajaran kembali padahal waktu yang dimiliki pun terbatas. Masih banyak yang lain yang mesti dipikirkan oleh para guru, misalnya kelengkapan sertifikasi, penilaian kompetensi guru, kegiatan ekstrakulikuler di sekolah dan sebagainya.

    ReplyDelete
  18. Zuharoh Yastara Anjani
    14301241025
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari artikel ini, saya mendapatkan informasi penting mengenai pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik atau sering kali disebut pendekatan dilmiah ini memiliki sintak ilmiah. Namun, siswa terkadang masih melakukan kegiatan ilmiah ini dengan kegiatan non ilmiah misalnya kekeliruan mengobservasi dan mengambil kesimpulan. Oleh karena itu, guru harus membantu siswa agar pelaksanaan pembelajaran menggunakan sintak ilmiah ini berjalan sesuai harapan sehingga tidak terjadi salah konsep. Walaupun demikian, guru hanya sekedar membantu saja, prinsip konstruktivisme harus dilakukan yaitu siswa mengkonstruksi konsepnya sendiri.

    ReplyDelete
  19. Untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa dalam matematika sekolah diperlukan penggabungan antara akal dan pengalaman atau diperlukan penggabungan antara rasionalisme dan empirisme. Pengetahuan seharusnya terbentuk melalui akal dan pengalaman. Karena matematika sekolah bersifat konkret dan berupa aktivitas siswa. Mula-mula diamati benda kongkrit dari matematika kemudian melalui nalar ditelusuri hubungan dan pola sampai pada matematika yang abstrak. Artinya dimulai dari pengalaman diperoleh pemahaman yang bersifat rasional.

    ReplyDelete
  20. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Setelah menmbaca artikel ini, saya setuju dengan pendapat Prof. Marsigit pada antitesis 2. Dalam anti-tesis 2 disebutkan bahwa pendekatan saintifik sebagai kerangka konstruktivisme, yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri. Pemikiran subjektif diperlukan untuk menambah pengalaman belajar, jika pemikiran tersebut kurang tepat, guru sebagai fasilitator membantu siswa untuk menemukan solusi yang tepat.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Nur Fariza
    14301241024
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Berdasarkan antitesis yang diberikan Bapak Prof. Marsigit saya belajar bahwa khayalan, dongeng dan semisalnya dapat dijadikan hal untuk memparkuat landasan pemikiran dan pengalaman. Untuk itu cerita rekaan juga dapat digunakan dalam pembelajaran asalkan masih terkait dengan topik pembelajaran dan dapat terkoneksi sehigga menunjang pemahaman siswa.

    ReplyDelete
  22. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    saya tertarik dengan kata "intuisi". berdasarkan hasil perkuliahan pada tanggal 26 mei 2017 saya mendapatkan banyak hal tentang intuisi. seseorang yang intuisinya kurang baik maka dia kurang memaknai dan menikmati hidup ini. dikarenakan dia tidak mengatehui arah dan hanya mengetahui kanan kiri saja sehingga terkesan kurang menikmati alam ini. seseorang yang intuisinya kurang baik maka dia akan cenderung menghafal jalan karena dia tidak dapat mengetahui arah.

    ReplyDelete
  23. Assalamu’alaikum wr wb
    Dwi Kawuryani
    14301241049
    Pendekatan saintifik adalah pendekatan yang digunakan dalam kurikulum K13. Dalam penerapannya Pendekatan saintifik membutuhkan persiapan yang lebih banyak dan lebih matang dari pada pendekatan yang digunakan di kurikulum sebelumnya. Tulisan ini dapat menjadi bahan bacaan bagi para pengajar untuk lebih memahami tentang pendekatan saintifik yang baik dan mengerti tentang sintak-sintak yang terdapat dalam pendekatan saintifik. Dengan pengetahuan tentang pendekatan saintifik yang lengkap, guru dapat mempersiapkan pengajaran yang lebih baik sehingga dapat lebih maksimal dalam menjadi fasilitator untuk siswa.
    Terima kasih.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  24. Desy Dwi Frimadani
    16709251050
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Jelas dikatakan pada elegi ontologi saintifik bahwa saintifik dibedakan menjadi dua macam yaitu saintifik idealis dan realis. saintifik realis ini memiliki 5 sintak yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, mengkomunikasikan. Kebermaknaan pembelajaran dengan menggunakan metode saintifik ini juga didukung oleh pengalaman.

    ReplyDelete
  25. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tesis dan anti tesis yang pertama dapat disimpulkan bahwa substansi pembelajaran haruslah merupakan suatu yang dapat dijelaskan dengan logika dan fakta. Akan tetapi dongeng khayalan juga dapat dimanfaatkan dalam materi pembelajaran asalkan mampu dijelaskan keterkaitan dan hubungannya sehingga memperkuat pemahaman siswa.

    ReplyDelete
  26. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berdasarkan tesis dan anti tesis kedua saya menggaris bawahi bahwasannya tesis mengenai penjelasan guru bertentangan dengan roh dari pendekatan saintifik itu sendiri. pendekatan saintifik berlandaskan pada pembelajaran kontruktivism dimana siswa sendiri yang mengkonstruk pengetahuannya secara subjektiv dan mandiri.

    ReplyDelete
  27. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Ketika dalam proses mengkonstruk pengetahuan terjadi miskonsepsi atau penyimpangan maka disinilah peran guru sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa menemukan jalan ataupun cara yang benar.

    ReplyDelete
  28. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pembelajaran arusla bersifat ilmiah, akan tetapi dalam prosesnya tidak selalu hal ilmiah itu terjadi. Pendekatan ilmiah terkadang dapat kita temui dalam proses pembelajaran dan menurut saya itu hal yang wajar.

    ReplyDelete
  29. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Seperti halnya pada poin 3 dibahas mengenai proses pembelajaran yang harus menghindari sifat nonilmiah. Akan tetapi dalam prosesnya terkadang sifat non ilmiah tersebut muncul akibat dari perlakuan subjek.

    ReplyDelete
  30. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Peran dari sifat non ilmiah itu penting sebagai triger untuk mempersiapkan otak untuk berfikir dan mencerna materi yang akan dipelajari. Intuisi disini berperan dalam berfikir berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.

    ReplyDelete
  31. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam proses belajar akal sehat digunakan dalam memaknai ataupun menafsirkan objek-objek yang tengah dipelajari. Kegiatan mencoba-coba atau trial-eror disini sebagai suatu kegiatan yang memanfaatkan pengetahuan yang ada (prior knowledge) dan pengalaman serta mempertimbangkan logika dan fakta , analitik dan sintetik juga priori dan posteriori.

    ReplyDelete
  32. Nurrita Sabrina
    14301244010
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Berfikir kritis disini berperan aktif dalam pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman dan hasil yang telah dilakukan sebelumnya. Dimana sebelum mengambil suatu keputusan siswa akan melalui tahapan menganalisis terlebi dahulu.

    ReplyDelete
  33. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 1 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Saya setuju dengan anti tesis yang ditulis oleh Bapak Marsigit karena untuk membangun ilmu pengetahuan perlu digunakan fakta dan fenomena pada kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, tetap membutuhkan segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng untuk memperkuat landasan pemikiran, terlebih untuk para siswa yang relatif muda yang masih belajar matematika sekolah bahwa untuk belajar matematika misal membuktikan sesuatu masih menggunakan kira-kira untuk membuktikannya, tetapi justru itu yang akan membuat siswa semakin paham.

    ReplyDelete
  34. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 2 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Saya setuju dengan anti tesis yang ditulis oleh Bapak Marsigit bahwa penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis tidaklah selalu berarti salah, penalaran yang menyimpang yang muncul dari siswa tidaklah salah, hal itu tidak masalah muncul dari siswa karena akan menjadi pengalaman belajarnya. Dan yang seharusnya dilakukan adalah mencari pembenaran dari penalaran yang menyimpang tersebut tetapi tidak menyalahkan apa yang dilakukan siswa. Begitu pula dengan pemikiran subyektif siswa, hal tersebut bukan permasalahan selama guru dapat mengatasinya.

    ReplyDelete
  35. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Di sekolah kini memang sudah diterapkan kurikulum 2013 dan menggunakan pendekatan saintifik yaitu yang biasa disingkat dengan 5M. Menurut pendapat Prof. Marsigit dari yang saya pahami selama perkuliahan bahwa menanya seharusnya memang disebut hipotesis. karena siswa disini diminta untuk membuat hipotesis awal/rumusan sementara.

    ReplyDelete
  36. Fitri Nur Hidayah
    14301241001
    S1 Pendidikan Matematika 2014 A

    Pembelajaran matematika kini mengacu pada kurikulum 2013. Secara khusus pembelajaran berbasis kompetensi dalam kurikulum 2013 harus memperhatikan beberapa hal, salah satunya adalah pembelajaran perlu ditekankan pada masalah-masalah aktual yang secara langsung berkaitan dengan kehidupan nyata yang ada (Mulyasa, 2014:109).

    ReplyDelete
  37. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Tesis dan antitesis dari pemahaman pendekatan saintifik, yakni jika fenomena dan mengalaman menjadi substansi pembelajaran maka antitesisnya fenomena menjadi obyek pembelajaran. Jika pembelajaran masih menggunakan penjelasan guru maka antitesisnya pembelajaran mengunggulkan kemandirian siswa untuk memperoleh pengetahuannya dengan sedikit penjelasan guru. Demikianlah pemahaman pendekatan saitifik.

    ReplyDelete
  38. Ika Agustina Fitriani
    14301241018
    S1 Pendidikan Matematika

    Pembelajaran saintifik dalam Kurikulum 2013 diajarkan dengan menggunakan sintak 5M, dimana pada bagian Menanya seharusnya diganti dengan Hipotesis. Selain dalam artikel tersebut, opini ini juga dijelaskan langsung oleh Prof. Marsigit selama perkuliahan. Karena dengan melakukan hipotesis, siswa mampu menduga-menduga kejadian yang seharusnya terjadi, sedangkan kegiatan menanya belum tentu mampu membawa siswa untuk melakukan hipotesis.

    ReplyDelete
  39. Ujang Herlan Permana
    14301249001
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada pembelajaran dengan pendekatan saintifik, guru sebagai fasilitator membimbing siswa untuk mengkonstruk pengetahuan siswa dalam memahami konsep atau materi yang diajarkan sehingga siswa menjadi aktif dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  40. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Saya setuju dengan anti tesis Bapak yang pertama bahwa segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Perlu diingat bahwa masalah nyata itu tidak hanya melulu merupakan permasalahan yang dialami oleh siswa atau benar-benar nyata, tetapi dapat berupa khayalan atau dongeng asalkan masalah tersebut dapat dibayangkan oleh siswa. yang terpenting adalah selama siswa dapat membayangkannya, maka tidak akan menjadi masalah. Semua itu dibutuhkan untuk melatih intuisi siswa agar terus berkembang. Jika terdapat materi matematika yang tidak ditermukan dalam dunia nyata atau mungkin sulit ditemukan, lantas hal ini justru akan menyulitkan guru, seperti materi fungsi eksponen atau logaritma?

    ReplyDelete
  41. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Tesis 3 dan Anti-Tesis oleh Bapak Marsigit
    Menurut saya, tesis 3 dan anti-tesisnya oleh Bapak Marsigit ini tidak terlalu bertolak belakang seperti pada tesis 1 dan tesis 2. Akan tetapi, Bapak Marsigit menjelaskannya dengan lebih baik yang memiliki inti bahwa intuisi, akal sehat, kegiatan coba-coba, berpikir kritis, ditambah dengan fenomenologi dan hermeneutika adalah termasuk dalam komponen atau awal dari berpikir ilmiah, dan bukan serta merta dianggap sebagai berpikir non ilmiah.

    ReplyDelete
  42. ‘Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari ketiga tesis dan anti-tesis di atas dapat saya ketahui bahwa untuk membangun ilmu pengetahuan digunakan fenomena-fenomena yang ada di sekitar kita, kemudian dengan akal sehat kita, fenomena-fenomena tersebut dapat dipikirkan dengan kegiatan coba-coba hingga akhirnya menemukan solusi yang sesuai hingga akhirnya dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

    ReplyDelete
  43. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Membangun sebuah pengetahuan adalah dengan separuh pengalaman dan separuh logika, tidak bisa hanya mengandalkan pengalaman saja atau logika saja. Itulah sebenar-benar hidup. Oleh karena itu, dalam memperkuat logika berpikir dapat digunakan pengalaman yang berupa kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng. Dalam pendekatan saintifik yang bersifat ilmiah pun dapat digunakan kira-kira untuk memperkuat landasan berpikir juga pengalaman.

    ReplyDelete
  44. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik, diperlukan kemandirian untuk menemukan pengetahuannya karena siswa sendirilah yang mengkonstruksi ilmunya melalui fasilitas yang guru berikan, pemikiran subjektif dari siswa diperlukan untuk memperkokoh karakter dalam memperoleh pengalaman, bahkan penalaran yang menyimpang dari alur berpikir logis perlu untuk disadari dan dicarikan solusi serta penjelasannya yang berguna untuk memperkokoh konsep yang telah dibangun oleh siswa. Tidak serta merta menjudge kebenaran dari diri siswa.

    ReplyDelete
  45. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari tesis dan anti-tesis 3, saya menyadari bahwa sifat ilmiah tidak serta merta terlepas dari sifat non ilmiah. Bahkan terkadang untuk memperoleh sintak ilmiah dapat dilakukan hal-hal yang sifatnya non ilmiah. Peran intuisi, kegiatan coba-coba dan pemikiran kritis sangat diperlukan dalam pendekatan saintifik untuk dapat memperoleh kesimpulan yang benar. Dengan pendekatan saintifik pula, siswa dilatih untuk menajamkan intuisi dan berikir kritis.

    ReplyDelete
  46. Syafa'atun Muslimah
    14301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam pendekatan saintifik siswa diajak untuk menajamkan intuisi, baik intuisi berpikir dan intuisi pengalaman dalam melihat hubungan antara fakta dan fenomena pada kehidupan sehari-hari yang berguna untuk mengkontruksi pengetahuannya. Mempraktikkan pemikiran seperti coba-coba dan memikirkan pengalaman atau hipotesis dapat membantu siswa dalam memahami dan memperkokoh konsep yang telah dimiliki.

    ReplyDelete
  47. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Saya sependapat dengan anti-tesis yang dibuat oleh Bapak. Dalam mengambil kesimpulan haruslah hati-hati karena kesimpulan yang diambil akan menjadi pengetahuan bagi siswa. Tidak selamanya kesimpulan yang sudah menggunakan sintaks pendekatan saintifik selalu benar. Ada kalanya terjadi kesalahan observasi seperti yang disebutkan artikel di atas. Jadi kesimpulan yang diambil haruslah dicek kembali kebenarannya.

    ReplyDelete
  48. Ridwan Agung Kusuma
    13301241018
    Pend. Matematika A 2013

    Kegiatan mencoba-coba sebenarnya merupakan kegiatan yang bermanfaat dalam proses pembelajaran karena melibatkan proses berpikir dan pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah sehingga secara tidak langsung membuat siswa berpikir kreatif, yaitu menyelesaikan masalah tidak hanya dengan langkah yang sudah ada, tetapi menciptakan cara/langkah baru untuk menyelesaikan masalah. Terima kasih.

    ReplyDelete
  49. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017
    Terima kasih banyak Pak Prof. Marsigit. Paparan dan penjelasan ini memberikan sudut pandang baru bagaimana kita (saya) dalam memaknai pendekatan saintifik yang sebelumnya saya kenal melalui pelatihan-pelatihan hanya sebatas praktek yaitu menenuhi unsur 5M. Dengan membaca penjelasan ini, kami (saya) mulai berpikir bahwa dalam pendekatan saintifik suatu hal yang penting adalah bagaimana siswa membangun intuisinya dan mencocokkannya dengan realita (dalam hal ini mencoba) sehingga siswa mendapatkan suatu pengalaman dan bisa jadi pengalaman yang dia dapatkan adalah pengalaman melakukan kesalahan.

    Terima kasih banyak Pak, atas paparan dan penjelasannya.

    ReplyDelete
  50. Gina Sasmita Pratama
    17709251003
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Prof. Marsigit selalu mempunyai sudut pandang yang berbeda terhadap sesuatu. Termasuk pemahaman tentang pendekatan saintifik ini. Selama ini pengetahuan saya mengenai pendekatan saintifik sangat "baku" seperti point-point pada tesis 1, 2, dan 3. Tapi ternyata, pemahaman tentang pendekatan saintifik tidak sesempit itu. Seperti pada tesis 1, sepengetahuan saya materi pada pendekatan saintifik tidak boleh berupa kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Tetapi menurut Prof. Marsigit, segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng ternyata dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Juga pada tesis 3, yang saya tahu dalam pendekatan saintifik harus menghindari hal-hal yang non ilmiah. Tapi ternyata, untuk dapat melakukan hal-hal yang ilmiah terkadang siswa harus melakukan hal-hal yang tidak ilmiah seperti kekeliruan mengobservasi, coba-coba, dan mengambil kesimpulan. Jadi, postingan ini menyadarkan dan memberikan pengetahuan yang baru bagi saya bahwa pemahaman pendekatan saintifik itu tidak "baku", sangat luas dan tidak terbatas.

    ReplyDelete
  51. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Sejauh ini, pengetahuan saya akan pendekatan saintifik, sedikit banyak lebih mengacu kepada hal-hal yang diuraikan pada bagian tesis. Kemudian saya menyadari bahwa anti-tesis yang bapak kemukakan memang sesuai dengan keadaan yang ada, seperti yang tertulis pada anti tesis 2 bahwa pendekatan saintifik dapat dilakukan dengan kerangka konstruksivisme, dimana siswa membangun pengetahuan dengan guru sebagai fasilitator. Karena pada faktanya, peran guru masih dibutuhkan cukup besar dalam pendekatan saintifik ini, padahal hal ini bertentangan dengan semangat saintisme.

    ReplyDelete
  52. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Jika boleh jujur penjelasan yang dipaparkan oleh bapak memberikan sedikit pencerahan bagi saya mengenai kurikulum 2013 yang sedang dihadapi para guru Indonesia. Sebagai mahasiswa yang memang belum langsung terjun menghadapi pembelajaran menggunakan kurikulum 2013, selama ini saya berfikir bagaimana caranya si kita menerapkan kurikulum 2013? Saya selalu berfikir dalam menerapkan kurikulum 2013 itu sulit karena adanya pernyataan yang menjadi “Tesis” pada artikel di atas. Namun setelah adanya antithesis dari bapak, saya mendapatkan sedikit pencerahan dalam memaknai pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Sisa pemahaman yang masih belum saya ketahui memang harus saya lakukan dengan belajar lagi dan tidak langsung merasa puas karena membaca anti tesis dari bapak pada artikel di atas.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  53. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Penemuan coba-coba atau trial and error bertujuan agar siswa mendapatkan pengalamannya sendiri dalam memecahkan suatu masalah. Apabila kita memberikan rumus sejak awal, siswa hanya dapat menyelesaikan satu model persoalan saja. Apabila terdapat situasu yang berubah pada persoalan, siswa mulai kebingungan. Melalui trial and error, siswa memiliki pengalaman bahwa ia pernah melakukan kekeliruan di bagian a, bagian b, dan lainnya sehingga siswa lebih percaya diri untuk mencari solusi.

    ReplyDelete
  54. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualikum Prof,
    Selamat pagi. Pembelajaran pendekatan saintifik berarti pendekatan pembelajaran yang mengadopsi langkah-langkah ilmiah dalam membangun pengetahuan. Pendekatan ini menolak pendekatan non ilmiah, padahal dalam langkah-langkah ilmiah tersebut tidak dapat menghindari tahapan non ilmiah. Maka, perlu adanya keseimbangan di dalam pembelajaran. Maksudnya, pembelajaran yang dilakukan tidak hanya berdasarkan fakta, tetapi juga dengan melibatkan hal lain seperti intuisi dan juga percobaan dalam membangun pengalaman. Kedua hal tersebut memiliki peran penting dalam membangun pengetahuan siswa. Maka, filsafat mengajak kita untuk dapat mengkritisi segala sesuatu dengan membuat anti tesisnya.

    ReplyDelete
  55. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Terimakasih Prof Marsigit atas pemaparannya, hal ini membuat saya berfikir bahwa pendekatan saintifik/ilmiah dalam pembelajaran menjadi sangat mungkin untuk diberikan tentu saja, harus dilakukan secara bertahap, dimulai dari penggunaan hipotesis dan berfikir abstrak yang sederhana, kemudian seiring dengan perkembangan kemampuan berfikir dapat ditingkatkan dengan menggunakan hipotesis dan berfikir abstrak yang lebih kompleks.

    ReplyDelete
  56. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend. Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr. Wb
    Selamat malam bapak.
    Super sekali, saya sangat salut sama bapak, pmikiran sudut pandang dari bapak mengenai saintifik membuat saya memiliki wawasan yang lebih luas. Disini saya juga belajar bahwa kita bebas untuk berfilsafat, asal sesuai dengan konteks. Dengan sudut pandang bapak mengenai saintifik ini memberikan pencerahan bagi saya mengenai kurikulum 2013. Yang saya ketahui sebelumnya bahwa pendekatan saintifik hanya dengan 5M, sekarang saya mulai berpikir bahwa dalam pendekatan saintifik masih banyak hal yang penting.

    ReplyDelete
  57. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak.
    Setelah saya membaca postingan Bapak saya menyadari pentingnya berpikir luas. Hal-hal yang dianggap tidak berguna atau bahkan bertentangan ternyata bisa bermanfaat dan justru mendukung keberhasilan suatu hal.

    ReplyDelete
  58. Nama: Tri Wulaningrum
    NIM: 17701251032
    PEP S2 Kelas B / 2017

    "Indikator atau kriteria sifat non Ilmiah tidak serta merta dapat diturunkan dengan menegasikan sifat Ilmiah". Kalimat ini sejujurnya menjadi tamparan bagi saya. Terlepas dari topik kajian pada postingan ini (tentang pendekatan saintifik), pada hari-hari yang lalu saya menjadi orang yang mudah, mudah mencari hal-hal non ilmiah, hanya dengan mengingkarkan hal-hal yang ilmiah. Sungguh postingan ini kembali membawa saya pada refleksi diri.

    ReplyDelete
  59. Dewi Thufaila
    17709251054
    S2 Pendidikan Matematika C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Sebagaimanapun faktual atau saintiknya suatu pembelajaran, imajinasi tetaplah dibutuhkan, terlebih dalam pembelajaran matematika yang tidak segala sesuatunya dapat segera dipastikan, sebagian membutuhkan khayalan untuk memulai teorinya baru setelahnya dibuktikan dengan logika, dan secara empiris, berdasarkan penemuan, pengamatan, dan percobaan.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  60. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Dari tesis dan antitesis pertama saya menyimpulkan bahwa pembelajaran ilmiah memiliki substansi berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Sedangkan segala macam kira-kira, khayalan, legenda tau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Sebagai sintetiknya adalah pembelajaran pembelajaran operasi bilangan bulat pada anak sekolah dasar dengan pendekatan saintifik. Karena pendekatan yang digunakan saintifik maka pembelajarannya adalah pembelajaran ilmiah. Contoh soal atau LKS yang diunakan dapat memuat cerita rakyat atau tokoh-tokoh dalam dongeng atau kartun yang dapat direpresentasikan ke dalam operasi bilangan bulat. Tentu hal ini selain menambah semangat siswa dalam belajar juga dapat menguatkan pemahaman siswa akan operasi bilangan bulat karena contoh soalnya berupa soal cerita yang sesuai dengan kesenangan siswa.
    Sintetis dari tesis dan aanti-tesis yang kedua yaitu pada saat pembelajaran saintifik, guru memfasilitasi siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri melalui kegiatan pembelajaran yang telah dirancang. Guru memberi kesempatan siswa untuk berpikir secara mandiri dalam menyimpulkan materi pembelajaran. Tentu saja guru sekaligus mendampingi agar pemikiran siswa tidak terlalu subjektif agar diperoleh kesimpulan yang sesuai denan materinya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk mengembangkan dan memperkuat kemampuan berpikir dan menalar siswa, tetapi kontrol guru juga diperlukan agar tujuan pembelajaran sesuai serta tidak melenceng dari RPP yang telah dibuat.

    Wasalamu;alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  61. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Berdasarkan postingan diatas, dapat dilihat bahwa pemikiran pendekatan saintifik yang disebut ilmiah tidak hanya berdasarkan tesis-tesis yang ada. Masih ada terdapat pemikiran lain yang merupakan anti-tesis dari pemahaman itu. Akan tetapi bukan berarti pemikiran itu berjalan sendiri-sendiri, namun dengan melakukan sintesis antara tesis dan anti-tesis tersebut.
    Seperti pada tesis dan anti-tesis 1, bahwa substansi materi pembelajaran tidak hanya berasal dari fakta yang dapat dijelaskan secara logika atau penalaran. Namun, dengan membangun pengetahuan diperlukan logika dan pengalaman. Nah pengalaman tersebut dapat diperkuat dengan cerita dongeng atau legenda.
    Begitu juga yang terdapat pada tesis dan anti-tesis 2, bahwa interaksi antara siswa dan guru tidak terlepas dari pemikiran subyektif dan menyimpang dari alur berpikir logis. Namun, justru proses berpikir subyektif siswa dibutuhkan untuk membentuk dan memperkokoh karakter siswa. Dan disinilah tugas guru sebagai fasilitator, yaitu memfasilitasi siswanya dalam membangun karakter.

    ReplyDelete
  62. Shelly Lubis
    17709251040
    Pend.Matematika B (S2)

    Assalamu'alaikum wr.wb

    Saya setuju dengan penrnyataan bahwa secara akademik diyakini bahwa pemikiran kritis itu umumnya dimiliki oleh orang yang berpendidikan tinggi. Walaupun tidak semua hasil pemikirannya selalu benar. Tapi saya meyakini benar adanya bahwa pendidikan yang tinggi itu bisa merubah pola pikir seseorang.

    ReplyDelete
  63. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Menanggai anti tesis dari tesis 1, saya setuji bahwasannya terkadang kira-kira, khayalan, dan dongeng diperlukan untuk menguatkan landasan pikir dan pengalaman. Karena dunia logis bagi anak dan bagi orang dewasa pastilah berbeda. Suatu fenomena yang logis belum bagi orang dewasa bisa menjadi suatu yang khayal bagi anak-anak. Maka tidaklah bijak jika memkasakan anak-anak mengikuti dunia orang dewasa. Ada masa ketika sesuatu yang khayal dan bersifat dongeng itu penting untuk membantu anak memperoleh pengetahuan baru.

    ReplyDelete
  64. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya sangat setuju dengan beberapa antitesis yang Bapak kemukakan, terutama antitesis 2 bahwa pengetahuan itu dibangun oleh siswa itu sendiri dengan bimbingan guru. Guru sebagai fasilitator seharusnya dapat memfasilitasi siswa untuk lebih mandiri dalam mengontruksikan pengetahuan dari berbagai sumber dan pengalaman siswa. Bukan semata-mata memberikan pengetahuan begitu saja tanpa mengetahui prosesnya layaknya mengisi wadah yang kosong.

    ReplyDelete
  65. Insan A N/Magister Pmat C 2017
    Pernyataan anti tesis yang logis dan mudah dipahami, secara eksplisit memang pendekatan saintifik adalah bagian dari kurikulum 2013. Pernyataan bahwa proses belajar harus terhindar dari sifat non-ilmiah, praktis akan menghilangkan sifat manusiawi. Karena manusia dibekali juga dengan kemampuan intuisi, rasa, dan kemampuan belajar yang berbeda.

    ReplyDelete
  66. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017


    Pendekatan ilmiah merupakan suatu pendekatan yang cocok untuk diterapkan pada proses pembelajaran. Selain khayalan, dongeng, legenda, dapat juga menggunakan budaya sebagai sarana untuk memperkokoh landasan pemikiran peserta didik. Hal tersebut dapat diterapkan dalam salah satu kegiatan awal dalam tahapan pendekatan ilmiah yaitu mengamati. Peserta didik yang diajarkan matematika dengan dasar mengamati hal-hal yang konkret di sekitarnya akan mendapatkan suatu pengalaman belajar yang bermakna dibandingkan dengan yang tidak.

    ReplyDelete
  67. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Setiap tesis memungkinkan untuk disusun anti-tesisnya, hanya tergantung dari sudut pandang mana yang mau dipakai. Memang benar bahwa materi pembelajaran terfokus pada fakta-fakta yang terbebas dari kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Namun kita tidak dapat mengelak bahwa siswa sebagai subjek belajar mempunyai perkiraan, khayalan yang tidak bisa dilepaskan begitu saja saat berkenaan dengan pembelajaran. memang untuk materi yang diproyeksikan pada tujuan pembelajaran difokuskan pada fakta-fakta. namun penemuan kembali fakta-fakta tersebut dapat dibantu dengan perkiraan-perkiraan, khayalan, dongeng yang telah dikenal oleh siswa, sehingga pembelajaran akan lebih mudah menuju materi yang menjadi tujuannya.

    ReplyDelete
  68. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mungkin kata "asal berpikir kritis dari tesis 3 yang dikemukakan mengacu pada pemikiran yang mengkritisi sesuatu secara asal-asalan. Hal ini memang tidak diperbolehkan dalam pendekatan saintifik, mengingat pendekatan ini mensyaratkan kemampuan berpikir kritis siswa secara logis yang menyangkut materi pembelajaran maupun fakta-fakta yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari siswa dalam koridor yang ilmiah.

    ReplyDelete
  69. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari Tesis dan anti-tesis yang pertama. Pembelajaran saintifik benar menggunakan pembelajaran yang berbasis fakta. Seperti halnya metode RME (Realistic Mathematics Education) yang pernah saya gunakan dalam pembelajaran matematika di SMA. Pada pembelajaran itu bukan hanya fakta yang dibutuhkan tetapi khayalan siswa pun juga dapat mendukung pemahaman yang lebih atas suatu materi. Karena khayalan juga memperkuat landasan pikiran dan pengalaman siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  70. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C (S2)

    Kesulitan peserta didik dalam memahami konsep matematika dikarenakan dalam pembelajaran selalu diawali dengan objek matematika yang abstrak. Pembelajaran matematika sekolah dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran. Dalam pembelajaran kita dapat mengatakan bahwa konsep matematika abstrak merupakan ilmu matematika formal, sementara konsep matematika yang konkret merupakan ilmu matematika informal.Segala macam kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Dalam pendekatan saintifik, proses pembelajaran dimulai dengan mengamati suatu fenomena atau kejadian sebagai sumber belajar, selanjutnya menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan.

    ReplyDelete
  71. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik disebut ilmiah jika materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Saya sependapat, namun akan lebih lengkap jika jika siswa bisa berkreatifitas misalnya dengan kira-kira dan khayalan, tentu siswa akan mendapat pengalaman yang berbeda dan tentunya akan memperkuat pemahamannya terhadap substansi pembelajaran.

    ReplyDelete
  72. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Terimakasih banyak prof Marsigit atas artikel mengenai tesis dan dan anti tesis pemahaman pendekatan saintifik di atas. Persepsi dan perspektif yang berbeda-beda mengenai pendekatan saintifik sangatlah wajar. Tesis yang dikemukakan berdasarkan referensi dari sekolah, sudah cukup tepat dan sejauh ini perlahan dapat diimplementasikan disekolah-sekolah, meskipun sebagian yang lain masih menempatkannya sebagai wacana dan atau formalitas saja. Pendekatan saintifik yang di gadang-gadang pada pelaksanaan kurikulum 2013 saat ini memang membutuhkan pemikiran tingkat tinggi yang ilmiah dan relevan mengikuti tuntutan zaman. Kompetensi tersebut haruslah dimiliki dan dikuasai terlebih dahulu oleh para pendidik/ guru agar peserta didik benar-benar mampu mencapai tingkat berpikir yang ilmiah. Konten dalam proses pembelajaran yang digunakan oleh guru haruslah berbasis fakta atau fenomena yang secara langsung maupun tidak, menuntut peserta didik untuk berpikir menggunakan penalaran induktif dan deduktif, pemikiran yang kritis dan kreatif, serta cara yang tepat dalam membuat keputusan dan cara yang efektif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan didasarkan pada akal sehat, prasangka, pengalaman hidup, dan penemuan coba-coba, peserta didik dapat dilatih membangun berbagai konsep dan menanamkan perbedaan antara satu konsep dengan konsep yang lain, dimana itu akan menjadi pedoman ilmu pengetahuan yang akan ia miliki dan akan bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya selama ia menyerap berbagai informasi.

    ReplyDelete
  73. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Mengutip kembali tentang pernyatan yang menyatakan bahwa “ fakta atau fonemena merupakan objek keilmuan yang digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan dengan pendekatan saintifik yang melibatkan unsur logika dan pengalaman.Segala macam kira- kira, kahyalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman..Jika dikaitkan dengan filsafat,apakah hubungan atau korelasi yang paling mendasar antara filsafat dengan pendekatan saintifik?anaknda mohon pencerahan dan penjelasannya pak.terimaksih banyak sebelumnya.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  74. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam postingan ini ada tiga tesis-antitesis. Dalam tesis pertama disebutkan bahwa segala substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan, bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata. Pada antitesis Prof Marsigit menyebutkan bahwa apa yang disebut di atas dapat menjadi landasan pikiran dan pengalaman. Saya sependapat bahwa kira-kira atau khayalan dapat dijadikan landasan pikiran. Seperti para ahli ilmu pengetahuan sebelum mereka menemukan sesuatu, tentunya mereka berangkat dari menganalisa hal yang ada dan yang mungkin ada. Misal: “Udara memang ada, karena buktinya makhluk hidup dapat bernafas. Tapi apakah ada unsur-unsur tertentu dalam udara? Kenapa ada yang beracun dan ada yang segar? Apakah kira-kira yang dapat menetralisir udara beracun tersebut?” Sama seperti ketika Archimedes bertanya-tanya, apakah kira-kira jika sebuah benda dimasukkan ke dalam wadah yang penuh air, air yang tumpah dari wadah tersebut volumenya sama dengan benda yang dimasukkan ke wadah?

    ReplyDelete
  75. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Pada antitesis 2, Prof Marsigit menyebutkan bahwa dalam pembelajaran dengan pendekatan santifik tidak ada istilah penjelasan guru-respon siswa, karena pendekatan saintifik pada dasarnya adalah pembelajaran konstruktivistik. Kata konstruk disini artinya adalah membangun, sehingga tujuannya adalah agar siswa dapat membangun pengetahuannya sendiri. Diluar ada unsur “keinginan orang dewasa” di sini, sisi baiknya adalah siswa dapat benar-benar memaknai pengetahuan yang ia dapatkan dengan membangunnya sendiri dari pondasi hingga puncak. Tentu saja guru tetap berperan dalam pembelajaran yang dilakukan bersama siswa, namun guru berperan sebagai fasilitator, bukan sebagai pemberi materi.

    ReplyDelete
  76. iLania Eka Andari
    17709251050
    S2 P>Mat C 2017

    Mengenai tesis ketiga, saya kurang setuju dengan sumber referensi sebelah yang menyebutkan bahwa berpikir kritis adalah nilai non ilmiah yang harus dihindari dalam pembelajaran. Berpikir kritis adalah indikasi bahwa seseorang mempertanyakan suatu hal yang belum diketahui sifatnya yang sebenarnya, atau sifatnya masih rancu. Orang yang kritis akan terus mencari dan mengejar jawaban dari pertanyaannya. Jika pembelajaran dihindarkan dari sikap berpikir kritis, maka pembelajaran yang terjadi hanyalah sebatas transfer of knowledge atau lebih buruknya hanyalah ceramah oleh guru yang tidak benar-benar dipahami oleh siswa. Selain itu, mengenai penemuan coba-coba. Menurut saya, penemuan coba-coba tidak bisa begitu saja dihindarkan dari pembelajaran. Pada kenyataannya, catatan-catatan kuno tentang matematika zaman dahulu oleh bangsa-bangsa kuno banyak menggunakan coba-coba atau sering disebut dengan tial and error. Begitu juga para fisikawan. Dengan adanya trial and error, seseorang dapat mengetahui apa yang harus dilakukan agar error tidak terjadi. Dengan kata lain, orang tersebut sudah belajar sesuatu.

    ReplyDelete
  77. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017

    Pendapat saya mengenai kalimat kesimpulan yang belum benar mungkin terjadi walaupun sudah menggunakan sintak saintifik, di sinilah kiranya peran guru sebagai fasilitator pembelajaran yaitu untuk mengoreksi miskonsepsi-miskonsepsi yang terjadi dalam kegiatan belajar.

    ReplyDelete
  78. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pendekatan saintifik melibatkan logika dan pengalaman, khalayan, perkiraan, dongeng hanya menjadi landasan penambah pengetahuan. Dalam proses pembelajaran tidak boleh menggunakan intuisi ataupun perkiraan semata, karena semua hal dalam pembelajaran harus bersifat ilmiah tidak boleh bersifat nonilmiah. Apalagi hanya kemungkinan yang berdasarkan perkiraan tanpa landasan yang kuat.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  79. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Pendekatan saintifik pada dasarnya untuk membentuk anak berfikir kritis terhada suatu masalah. Tugas seorang guru adalah untuk mengembangkan kecerdasan siswa. Berasal dari coba-coba maka siswa dapat mengembangkan kecerdasan intuisi. Kecerdasan intuisi itu sangat penting karena mereka dapatkan dari pengalaman ( dari penglihatan dan pendengaran). Selanjutnya, guru harus memberikan batasan dan mengembangkan kecerdasan refleksi nya. Hal ini menyebabkan siswa dapat berfikir secara runtut sesuai dengan aturan yang berlaku namun mereka tetap berfikir sesuai dengan apa yang mereka ketahui. Terimakasih Bapak Marsigit untuk ilmunya.

    ReplyDelete
  80. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Terima kasih bapak atas postingan ini, postingan ini memberikan saya gambaran bahwa ada sudut pandang lain dalam memahami pendekatan saintifik. Karena saya masih belum pernah terjun langsung menggunakan pendekatan saintifik di sekolah dalam waktu yang lama dan terus-menerus, maka pengalaman dan pengetahuan saya mengenai pendekatan saintifik masih sedikit dan hanya berkisar pada ranah tesisnya saja. Setelah membaca postingan ini, saya menyadari bahwa selain dalam kehidupan sehari-hari ternyata dalam dunia pendidikan yaitu dalam pendekatan saintifik pun memiliki antithesisnya sendiri. Segala yang hanya dipikirkan belum tentu sama dengan yang sebenarnya terjadi. Oleh karena itu agar lebih memahami mengenai pendekatan saintifik ini kita tidak boleh hanya melihatnya hanya dari satu sudut pandang yaitu tesisnya saja, namun kita juga harus melihat dari antitesisnya. Sekali lagi terima kasih bapak atas penjelasan dan pembelajaran yang diberikan ini. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  81. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Pendekatan saintifik banyak menimbulkan perdebatan panjang. Selain perdebatan panjang, banyak juga yang mendefinsikan pendekatan saintifik kurang mendalam. Kita banyak terjebak dengan istilah sains, ilmiah dan sejenisnya. Padahal, ilmiah bukan semata-mata fakta yang dapat dinalar, melainkan dongeng, mitos, legenda dapat dijadikan sumber dalam pembelajaran saintifik. Jika kita memiliki pandangan saintifik yang begitu luas, maka, banyak kebudayaan Indonesia yang dapat dijadikan rujukan keilmuan.

    ReplyDelete
  82. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027
    Dalam kegiatan pembelajaran di kelas dengan pendekatan saintifik guru lebih berperan sebagai fasilitator yang tugasnya menfasilitasi siswa untuk menemukan dan membangun berbagai konsep dan pengetahuannya secara mandiri. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran, yakni dengan melakukan penelitian sederhana, pengamatan, dan menemukan pola. Dengan proses pembelajaran seperti ini, harapannya siswa akan memiliki pengalaman belajar yang baik dan bermakna, sehingga apa yang ia dapat akan lebih membekas dan tertanam dalam benaknya.

    ReplyDelete
  83. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarja

    Postingan mengenai Tesis dan anti tesis pemahaman ini menyadarkan kepada pembaca bahwa memandang sesuatu itu tidak selalu pada satu sisi saja sedangkan sisi yang lain diabaikan karena dianggap kurang memberikan manfaat. Namun jika dilihat pada sisi yang berlainan ternyata dibalik sesuatu yang dianggap kurang memberikan dampak yang baik. Seperti yang diuraikan di atas, "Substansi atau materi pembelajaran berbasis pada fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu; bukan sebatas kira-kira, khayalan, legenda, atau dongeng semata". Ternyata antitesis dari pernyataan tersebut menyatakan bahwa kira-kira, khayalan, legenda, atau dongen tersebut menjadi pendukung dan penguat landasan pemikiran dan pemahaman siswa. Maka pelajaran yang dapat diambil dari postingan ini yaitu memahami suatu itu secara luas dan secara bijak sehingga dapat bersikap adil terhadap objek pikir lainnya.

    ReplyDelete
  84. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba menggaris bawahi beberapa hal dalam artikel tersebut. Paradigma konstruktifisme menjadi hal yang dominan dalam pendekatan saintifik dimana siswa di fasilitasi guru untuk berperan aktif falam belajar dan menbangun pengetahuaanya secara mandiri. Siswa juga diberi stimulus agar dapat berpikir kritis melalui masalah-masalah yang diberikan. Namun, meskipun dituntut ilmiah dalam segala hal, peran intuitif tidak bisa dikesampingkan. Dunia anak-anak memang sangat penuh dengan intuitif dimana mereka melakukan sesuatu tanpa alasan. Hal ini tentu perlu dipahami oleh guru sekaligus memahami psikologi siswa dalam belajar.

    ReplyDelete
  85. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Diskusi yang luar biasa, memberikan pengetahuan baru bagi pembaca tentang pendekatan saintifik dengan sudut pandang yg berbeda, pendekatan saintifik semestinya dimaknai lebih fleksibel, tidak hanya kaku dengan sistem ilmiah, kemudian pendekatan saintifik juga dimaknai secara luas dan mendalam, sehingga tidak terbatas oleh interaksi Guru-siswa saja, melainkan interaksi siswa-siswa, interaksi siswa-lingkungan, dan interaksi-interaksi lainnya yang mendukung perkembangan siswa.

    ReplyDelete
  86. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Saya pernah mendapatkan pembekalan mengenai pendekatan saintifik yang diterapkan pada kurikulum 2013 sewaktu micro teaching. Ketika itu, dosen saya menyalahkan kami jika kami memulai pembelajaran dengan menggiring siswa pada buku, misalnya "anak-anak, apa yang sudah kalian pelajari dari buku paket?". Menurut dosen saya, hal seperti ini telah keluar dari semangat saintifik, dimana pembelajaran harusnya dimulai dengan menyajikan fenomena alam untuk dikaji bersama-sama hingga akhirnya kita mendapatkan ilmu. Pendekatan saintifik tidak dimulai dari buku kemudian dicari padanannya di alam sekitar, namun justru kebalikannya. Yaitu mempelajari alam untuk kemudian dituliskan dalam buku atau catatan

    ReplyDelete
  87. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Membaca artikel ini saya mencoba memahami bahwa dalam memahami suatu hal termasuk memahami pendekatan saintifik kita perlu melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Agar tidak terjebak dalam satu definisi aja. Dengan membaca anti tesis ini tentunya harapan kita, kita akan menjadi lebih bijak dalam memahami pendekatan saintifik termasuk dalam menyikapi apakah adanya intuisi membuat pendekatan saintifik ini tidak berjalan, namun pada kenyataannya intuisi sangat diperlukan oleh siswa untuk memahami dan memaknai materi pembelajaran itu sendiri.

    ReplyDelete
  88. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Kurikulum 2013 mencoba menerapkan paradigma bawah dalam pembelajaran di kelas siswa menjadi aktor utamanya. Siswa menjadi pelaku aktif dalam mengkonstruksi pengetahuan, bukan sekadar menerima pengetahuan. Pada kurikulum ini siswa diarahkan untuk memiliki jiwa saintis dengan diberikan kesempatan untuk menemukan berbagai konsep baru melalui kegiatan 5M: mengamati, mananya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengomunikasikan. Hal ini tentu sangat penting bagi siswa untuk melatih diri membiasakan untuk dapat belajar berpikir kritis dan membangun atau menemukan pengetahun secara mandiri. Sementara itu, guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping yang membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya.

    ReplyDelete
  89. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pendidikan Matematika B Pps UNY 2017

    dari tulisan bapak, saya jadi paham bahwa pendekatan saintifik tidak harus berpedoman pada langkah-langkah ilmiah yang kaku, namun justru ada langkah non ilmiah yang akan membantu siswa dalam melakukan penemuan ilmiah, seperti khayalan, legenda, atau dongeng dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman, dan sebagainya.

    ReplyDelete
  90. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Terima kasih postingannya Prof, jujur saya sangat merasa kecil dengan pengetahuan yang saya miliki. Dari postingan bapak di atas membuat saya berpikir bahwa ternyata ada sudut pandang lain mengenai pendekatan saintifik. Tidak hanya tesis-tesis melainkan anti-tesis dari sudut pandang bapak. Muncul pertanyaan di benak saya mengenai sintak pendekatan saintifik, apakah jika salah satu proses pendekatan saintifik tidak dilaksanakan apakah masih bisa disebut pendekatan saintifik, dan apakah berpengaruh terhadap hasil pembelajaran itu sendiri?? Mohon pencerahannya Prof.

    ReplyDelete
  91. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum wr.wb

    Anti tesis merupakan sudut pandang yg berbeda dan baru untuk saya pribadi, dimana sebelumnya saya menggunakan kaca mata kuda bahwasanya pendekatan sentifik itu hanya bisa digunakan dengan tesis, kegiatan yg pasti dan akurat,dengan membaca blog ini saya jadi mendapatkan pemahaman baru bahwa anti tesis juga dapat digunakan untk melakukan pendekatan sentifik, dengan kegiatan coba-coba dan meraba pelaku dituntut untuk lebih kreatif dan lebih gesit dalam melakukan pendekatan.

    ReplyDelete
  92. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Terima banyak Prof. atas paparan tentang tesis dan antithesis pendekatan saintifk
    Tersebut membuka wawasan kami tentang hal terkait. Sebelumnya kami memahami bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik benar-benar terikat dan baku harus menggunakan sintak 5M. Setelah membaca paparan Prof. Dr Marsigit, M.A bahwa dalam proses pembelajaran kita tidak bisa terlepas dari segala sesuatu yang telah di miliki sejak lahir contohnya yakni insting dan pengetahuan intuitif. Terima Kasih Prof.

    ReplyDelete
  93. Indah Purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang diberikan melalui postingan diatas. Disini saya sangat setuju kepada bapak mengenai hal saintifik tidak hanya bergerak di 5M (anti tesos yang bapak tuliskan) namun dapat digerakkan oleh intuisi baik pada guru maupun pada murid itu sendiri. Sehingga murid dapat leluasa mengeluarkan ide ide dalam pembelajaran yang ada disekolahnya.

    ReplyDelete
  94. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Ketika saya belum mengenal filsafat, dalam memandang pendekatan saintifik rasanya agak aneh, karena seperti yang dipaparkan pada ketiga tesis tersebut. Saya berfikir-fikir kenapa materi yang disajikan harus dari fakta-fakta saja? Pernah dalam benak saya berpikir, bagaimana jika bukan fakta tetapi dapat dijadikan landasan atau pengantar menuju materi pembelajaran saintifik, apakah ini tidak termasuk ke dalam pembelajaran saintifik? Sekarang terjawablah sudah dengan adanya anti tesis yang dipaparkan oleh Pak Marsigit bahwa segala yang tidak fakta, kira-kira, khayal, legenda, bahkan dongeng bisa digunakan dalam proses pembelajaran saintifik untuk memperkuat landasan berpikir dengan tetap berbasis pada kompetensi kurtilas.

    ReplyDelete
  95. Terimakasih bapak telah berbagi pemikirannya mengenai anti tesis mengenai pendekatan saintifik, melalui pemikiran bapak marsigit saya mendapt pengetahuan baru melalui pandangan dalam sisi yang lain, harapannya kedepan pemerintah lebih memikirkan apa pendekatan yang terbaik utnutk pendidikan di Indonesia dengan juga memperhatikan kelebihan dan kekurangan dari pendekatan saintifik.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  96. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Menurut saya pendekatan saintifik masih belum banyak diterapkan di sekolah bahkan untuk sekolah yang telah berlabel penerapan kurikulum 2013, masih banyak guru yang menganggap apabila menggunakan pendekatan saintifik akan menyebabkan waktu untuk pembelajaran banyak dibutuhkan dan apabila diterapkan terus menerus akan menyebabkan materi yang harus diajarkan tidak akan tercapai dan pada akhirnya siswa dipaksa berpikir lebih keras dan akhirnya kembai ke pembelajaran yang biasa atau teacher center untuk menyelesaikan materi. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi guru yang tidak mempersiapkan dengan baik-baik. Karena menurut saya apabila guru mempersiapkan RPP, LKS beserta pengalamannya dalam praktik mengajar saya rasa akan mudah bagi guru dalam mengatur waktu pembelajaran.

    ReplyDelete
  97. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Membaca bahasan di atas membuat saya memiliki berbagai perspektif terkait tesis dan anti tesis pada pendekatan saintifik. Semula saya sendiri mempersepsikan pendekatan saintifik cenderung erat kaitannya dengan kegiatan yang ilmiah. Ternyata pola-pola non-ilmiah juga dilibatkan dalam pendekatan tersebut. Saya melihat ada keterbatasan dalam pendekatan saintifik terkait ketidakakuratan dalam pengambilan kesimpulan meskipun telah menggunakan langkah-langkah yang ilmiah. Menurut saya untuk meminimalisir ketidakakuratan tersebut peran pendidik sangatlah dibutuhkan. Misalnya, guru mengontrol kegiatan belajar siswa meskipun siswa diharapkan mampu belajar secara mandiri. Menurut saya jika pendekatan saintifik ini digunakan sesuai dengan tingkatan keilmuwannya masing-masing sangatlah membantu dalam proses belajar mengajar. Kemudian, sebagai pendidik juga diharapkan menguasai berbagai metode mengajar yang cocok dengan pendekatan saintifik. Dengan begitu proses belajar dengan pendekatan saintifik ini dapat diterapkan dengan efektif.

    ReplyDelete
  98. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017

    Dalam proses implementasi kurikulum 2013 pasti akan banyak mengalami perubahan, karena setiap proses akan ada perubahan yang terkadang tidak sejalan dengan pemikiran kita. Oleh karena itu, setiap mendapatkan sesuatu hal yang baru kita perlu mendalami lebih dalam dari perubahan itu.

    ReplyDelete
  99. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Terimakasih pak, atas penjabaran tesis-antitesis pemahaman pendekatan saintifik, melalui penjelasan tersebut memberi gambaran lain dari pemahaman dan pemikiran saya sebelumnya, yang saya sadari bahwa masih begitu terbatasnya pemahaman saya tentang pendekatan saintifik ini.
    Pendekatan saintifik bukan berarti semerta-merta segala sesuatu kegiatan belajar haruslah saintifik, membentuk maupun membangun pengetahuan hanya melalui proses ilmiah dan mengabaikan proses yang dianggap non ilmiah. Namun, nyatanya dalam belajar proses non ilmiah juga merupakan salah satu cara dalam membangun pengetahuan.

    ReplyDelete
  100. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Melalui pendekatan saintifik yang dilaksanakan atau diselenggarakan dalam kerangka kontruktivisme yaitu memberi kesempatan pada siswauntuk memperoleh dan juga membangun pengetahuannya dengan guru sebagai fasilitator dan siswa dapat memperoleh semangat saintisme. Semangat saintisme merupakan kemandirian untuk menemukan pengetahuannya. Pemikiran subjektif diperlukan untuk memperkokoh karakter untuk memperoleh sensasi pengalaman.

    ReplyDelete
  101. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Syarat lulus mahasiswa S1 adalah jika dia sudah membuat skripsi. Diambil dari kata diskripsi yang artinya mahasiswa hanya perlu belajar mendiskripsikan karya ilmiahnya dan mempertanggung jawabkan kebenarannya. Setelah lulus S1, dapat dilanjutkan ke S2. Untuk dapat lulus S2 mahasiswa harus dapat membuat Tesis. Diambil dari kata Hypotesis yang artinya mahasiswa harus dapat membuat hipitesis tentang karya ilmiahnya. Dalam artikel yang berjudul tesis dan anti-tesis dari pendekatan saintifik ini, menurut pendapat saya tesis dari pendekatan saintifik adalah kemungkinan keberhasilan yang akan dicpai dengan menggunakan pendekatan saintifik, sedangkan anti-tesisnya adalah apa kelemahan dari pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  102. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Bismillah...

    Saintifik adalah menemukan pengetahuan dengan mandiri, artinya di kurikulum 13 siswa dituntut untuk menemukan konsep atau pemahaman dengan mandiri, sehingga guru hanya pembimbing bukan penjelasan 100%. Saya sangat setuju dengan anti-tesis yang bapak berikan. Akan tetapi, pada realisasi dari k13 terkadang masih jauh dari tuntutannya. Karena menurut saya di K13 ini, perlu dipersiapkan guru dengan pelatihan-pelatihan beserta siswa yang juga diperlukan untuk kesiapannya sebelum belajar dengan pendekatan saintifik. Kesiapan yang saya maksud adalah dari kesiapan dari pemikiran guru akan materi yang diajarkan dan persiapan langkah pembelajaran yang membuat siswa mampu bernalar dengan intuisi yang ada.

    ReplyDelete
  103. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Inti dari pembelajaran scientific adalah mendorong siswa untuk dapat mencari, menemukan, serta membangun pengetahuannya sendiri melalui serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh guru, sebagaimana teori belajar konstruktivisme. Dalam hal ini guru hendaknya memiliki kreatifitas yang tinggi untuk dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung siswa dalam menemukan pengetahuannya. Pengetahuan siswa dapat dibangun melalui pengalaman belajar yang bermakna dengan menggunakan fakta atau fenomena sebagai objek kajian. Sintak dalam kegiatan belajar tidak harus saklek atau kaku, seharusnya bisa lebih fleksibel namun tetap dalam koridor saintific. Artinya siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi sesuai dengan cara terbaiknya. Dengan demikian potensi yang mereka miliki bisa lebih berkembang dengan optimal.

    ReplyDelete
  104. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Berdasarkan judul saja sudah kontra
    Terimakasih pak, bertambah lagi ilmu saya tentang pemahaman pendekatan Saintifik 😊

    ReplyDelete
  105. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Sepemahaman kami proses pembelajaran saintifik bukan merupakan sebuah proses yang cepat, dimulai dari membuat pondasi pada diri siswa, hingga siswa mempunyai pemahaman yang kuat. Pembelajaran saintifik merupakan perubahan besar yang terkandung dalam kurikulum 2013. Sampai saat ini berbagai macam pro dan kontra dalam penerapannya di masa transisi ini masih sering muncul. Kami menyadari bahwa pada dasarnya semua perubahan perlu proses, dan kami berharap hingga akhirnya nanti paradigma pendidikan sesuai dengan filosofi yang terkandung dalam kurikulum 2013

    ReplyDelete
  106. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Hegel merupakan filsuf Jerman dari aliran German Idealism. Bagi Hegel, setiap tesis akan mendapatkan reaksi berupa Antitesis dan pada gilirannya menghasilkan/menurunkan Sintesis. Sintesis tadi pada hakekatnya adalah Tesis baru sehingga pada saatnya akan mendapatkan reaksi baru yaitu Antitesis dan dengan demikian akan membutuhkan Sintesis yang baru lagi. Demikianlah seterusnya langkah-langkah tadi berulang kembali. Pendekatan saintifik tidak sekedar mengaitkan dengan fakta dan fenomena, hal tersebut merupakan sebuah antitesis. Sehingga muncul sintesis baru yang mengemukakan bahwapendekatan saintifik juga menjelaskan pada bagaimana siswa mampu membangun ilmunya sendiri, dengan difasilitasi guru.

    ReplyDelete
  107. Firman Indra Pamungkas
    PM C 2017 / 17709251048

    Hegel merupakan filsuf Jerman dari aliran German Idealism. Bagi Hegel, setiap tesis akan mendapatkan reaksi berupa Antitesis dan pada gilirannya menghasilkan/menurunkan Sintesis. Sintesis tadi pada hakekatnya adalah Tesis baru sehingga pada saatnya akan mendapatkan reaksi baru yaitu Antitesis dan dengan demikian akan membutuhkan Sintesis yang baru lagi. Demikianlah seterusnya langkah-langkah tadi berulang kembali. Pendekatan saintifik tidak sekedar mengaitkan dengan fakta dan fenomena, hal tersebut merupakan sebuah antitesis. Sehingga muncul sintesis baru yang mengemukakan bahwapendekatan saintifik juga menjelaskan pada bagaimana siswa mampu membangun ilmunya sendiri, dengan difasilitasi guru.

    ReplyDelete
  108. Rigia TIrza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    setiap hal di dunia ini memiliki sisi baik dan buruk, termasuk penerapan pendekatan saintifik ini. Hanya saja sebelum melakukan penerapan, kita harusnya terlebih dahulu melihat asal-usul dan segala hal yang berkaitan dengan pendekatan saintifik. Hal ini berguna agar tidak salah kaprah dan hanya menerapkannya sebagian atau terpotong-potong. Perlu dikaji secara lebih lanjut apakah penerapan pendekatan saintifik di Indonesia sudah tepat, atau hanya gaya-gayaan saja tanpa tau esensinya.

    ReplyDelete
  109. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    Dalam kehidupan tentu ada tesis dan anti tesisnya. Begitupun dalam pembelajaran di kelas. Jika pembelajaran hanya terpaku pada guru atau berpusat pada guru sehingga guru sebagai sumber informasi, maka anti tesis dari hal tersebut adalah pembelajaran yang bersifat student centered yaitu berpusat pada siswa sehingga membuat siswa aktiv berperan serta dalam kegiatan pembelajaran dan guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  110. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan saintifik hingga saat ini masih perlu diperhatikan. Masih ada guru yang belum mengerti proses pelaksanaanya dan bagi guru yang sudah paham pun terkadang masih mengalami kendala dalam prosesnya. Perlu proses dalam mengubah pembelajaran yang sudah terbiasa dengan pendekatan konvensional dan ceramah ke pembelajaran yang menggunakan pendekatan Saintifik. Diharapkan nantinya pemerintah dan seluruh tingkatan pendidikan dapat mengatasinya dan dapat memberikan pendidikan yang bermutu.

    ReplyDelete
  111. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Berfikir kritis merupakan aktivitas berfikir dalam hal memecahkan masalah, mengevaluasi dan mengambil keputusan. Maaf sebelumnya, saya ingin bertanya Prof, apakah berfikir kritis masuk ke dalam high order thingking skills (HOTS)? kapan sebaiknya berfikir kritis diterapkan dalam pembelajaran apakah dimulai dari pendidikan dasar atau dimulai dari pendidikan menengah?

    ReplyDelete
  112. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C

    Tidak semua materi pembelajaran merupakan materi yang berbasis fakta atau fenomena yang dapat dijelaskan dengan logika atau penalaran tertentu. Dalam pembelajaran matematika, banyaak materi yang memerlukan abstraksi. Selain itu terkadang yang nyata dan nalar bagi orang dewasa belum tentu nalar bagi anak-anak. Khayalan tentang negeri dongerng terkadang lebih nyata dibandingkan dengan permasalahan ekonomi bagi anak sekolah dasar.

    ReplyDelete
  113. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    dalam kehidupan, suatu hal tentu ada kontradiksinya, begitu juga proses pembelajaran yang dulunya berpusat pada guru, sekarang ada peraturan baru yang menggalakkan pendekatan saintifik yaitu proses pembelajarannya berpusat pada siswa.

    ReplyDelete
  114. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Setelah membaca postingan tentang tesis-anti tesis ini, saya rasa pendekatan saintifik tidak sepenuhnya bersifat ilmiah. Khayalan, legenda, atau dongeng pun juga dapat berfungsi untuk memperkuat landasan pikiran dan pengalaman. Di tambah masih dibutuhkannya intuisi untuk melakukan pendugaan sebagai bentuk penarikan kesimpulan atas pengamatan yang telah dilakukan.

    ReplyDelete
  115. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  116. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pendekatan saintifik adalah proses mengkonstruksi pengetahuan siswa. Proses ini dapat dilakukan dengan memulai pembelajaran menggunakan sesuatu yang konkrit untuk membangun pengetahuan formal matematika siswa. Dalam prosesnya ternyata diperlukan hal-hal non ilmiah disaming yang ilmiah menjadi yang terpenting. Hal itu karena, sesuatu yang non ilmiah kadang-kadang menjadi jembatan bagi siswa unutk mengkonstruk pengetahuannya. Terimakasih

    ReplyDelete
  117. Endah Dwi Nur Rahmawati
    17709251046
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Artikel tesis dan antitesis pemahaman pendekatan saintifik di atas mengajarkan kita mengenai makna dari pendekatan saintifik yang sebenarnya dalam penerapannya di kurikulum yang baru ini banyak mengalami kendala. Saya rasa sangat dibutuhkan kerjasama yang lebih baik lagi dari guru dan pemerintah juga orang tua murid untuk dapat benar-benar menerapkan metode ini agar peserta didik dapat mencapai tujuan belajar yang diharapkan.

    ReplyDelete
  118. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Dalam pembelajaran saintifik tidak mudah membuat siswa mengambil kesimpulan yang benar. Siswa dapat menyampaikan konklusi dari pembelajaran sangat ditekankan pada pembelajaran ini. Dengan pendekatan ini diharapkan siswa mampu mendapatkan ilmunya sendiri dengan penemuan ilmiah dan mampu menarik kesimpulan dengan benar.

    ReplyDelete
  119. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Pembelajaran dengan pendekatan saintifik adalah pembelajaran yang terdiri atas kegiatan mengamati (untuk mengidentifikasi hal-hal yang ingin diketahui), merumuskan pertanyaan (dan merumuskan hipotesis), mencoba/mengumpulkan data (informasi) dengan berbagai teknik, mengasosiasi/ menganalisis/mengolah data (informasi) dan menarik kesimpulan serta mengkomunikasikan hasil yang terdiri dari kesimpulan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap. Langkah-langkah tersebut dapat dilanjutkan dengan kegiatan mencipta.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  120. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Membaca langkah-langkah pendekatan saintifik di atas, pendekatan yang bagus diterapkan dalam pembelajaran matematika. Namun dalam praktiknya di lapangan, pendekatan saintifik tidak mudah diterapkan dalam pembelajaran. Misalnya saja saat siswa diminta menganalisis informasi dari hasil pengamatan yang diperoleh, tanpa bimbingan yang tepat dari pendidik, kegiatan tersebut tidak mudah untuk dilaksanakan. Selain itu, untuk membuat kesimpulan, terkadang data atau informasi yang terkumpul tidak mengarahkan pada kesimpulan. Sehingga peran guru sangat penting untuk melancarkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran.
    Wassalamu'alaikum wr. Wb.

    ReplyDelete
  121. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Apabila fenomena dan juga pengalaman mejadi substansi pembelajaran maka antitesisnya fenomena menjadi objek pembelajaran. Namun jika pembelajaran masih menggunakan guru makan antitesisnya pembelajaran mengunggulkan kemandirian siswa untuk dapat memperoleh pengetahuannya dengan sedikit penjelasan dari guru, bahkan ada kemungkinan tidak ada penjelasan dari guru sebab guru hanya sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  122. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Pendidikan saintifik bisa juga diterapkan di dunia pendidikan di Indonesia, namun yang perlu digaris bawahi adalah jangan terlalu menonjolkan pembelajaran saintifik sesuai teori pembelajaran saintifik yang ada. Jika kita lihat, di Indonesia ini yang merupakan kumpulan dari berbagai jenis suku, budaya, dan agama, maka jika pembelajaran saintifik diterapkan pada dunia pendidikan harus diimbangi dengan beberapa hal yang akan membuat berkembangnya peserta didik berdasarkan lingkungannya
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  123. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Tantangan bagi guru pada penerapan kurikulum 2013 adalah mengkondisikan pembelajaran saintifik. Menurut pengalaman saya di lapangan, ketika guru sudah berusaha membuat pembelajaran saintifik namun siswa malah tidak mau berfikir saintifik.

    ReplyDelete
  124. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Sejauh ini, pengetahuan saya akan pendekatan saintifik, sedikit banyak lebih mengacu kepada hal-hal yang diuraikan pada bagian tesis. Kemudian saya menyadari bahwa anti-tesis yang bapak kemukakan memang sesuai dengan keadaan yang ada, seperti yang tertulis pada anti tesis 2 bahwa pendekatan saintifik dapat dilakukan dengan kerangka konstruksivisme, dimana siswa membangun pengetahuan dengan guru sebagai fasilitator. Karena pada faktanya, peran guru masih dibutuhkan cukup besar dalam pendekatan saintifik ini, padahal hal ini bertentangan dengan semangat saintisme.

    ReplyDelete
  125. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Pendekatan saintifik dalam pelaksanaannya, ada yang menjadikan saintifik sebagai pendekatan ataupun metode. Namun karakteristik dari pendekatan saintifik tidak berbeda dengan metode saintifik (scientific method). Pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik memberikan porsi sebesarbesarnya bagi siswa untuk berperan dalam pembelajaran yang berlangsung. Porsi
    itu dapat dilihat dari langkah-langkah dalam proses pembelajaran yang meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan dan mencipta.

    ReplyDelete
  126. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Kegiatan mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengomunikasikan gagasan dalam pendekatan saintifik merupakan usaha untuk memfasilitasi siswa dalam mengonstruk pengetahuannya sendiri.Dalam penerapan pendekatan saintifik, guru dapat bertindak sebagai motivator dan memberikan scaffolding.

    ReplyDelete
  127. M. Zainudin
    16701261019
    PEP

    Konsep pembelajaran dengan pendekatan saintifik memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan potensi secara maksimaal

    ReplyDelete
  128. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih atas artikelnya, Pak. Artikel ini menambah pemahaman saya mengenai pendekatan scientific. Memang benar, selama ini saya lebih sering mengartikan pendekatan ini seperti dalam tesis, kemudian baru menyadari bahwa anti tesis yang telah Bapak kemukaan juga benar.
    .
    Hal ini membuat saya sadar bahwa memang kita harus memandang segala sesuatu dari berbagai perspektif, agar bisa memahami suatu hal secara menyeluruh. Selain itu, kita tidak boleh langsung percaya begitu saja akan suatu pernyataan, perlu kita analisis dan telusuri dulu kebenarannya.

    ReplyDelete
  129. Almaida alvi zahrotunnisa
    15301241046
    Pendidikan matematika A 2015
    Terimakasih Pak, artikel tersebut membuka sudut pandang yang lain mengenai pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik memamng mendorong dan menginspirasi siswa berpikir secara kritis, analistis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Akan tetapi dalam prakteknya dibutuhkan waktu pembelajaran yang lebih lama untuk mewujudkan semua tahapan-tahapan yang ada pada pendekatan saintifik. Sedangkan pada sistem pendidikan di Indonesia, pada mata pelajaran matematika SD-SMA banyak sekali materi yang harus dipelajari dalam waktu yang tersedia cukup singkat.

    ReplyDelete
  130. AGUS SETIAWAN
    14301241056
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mengembangkan pendekatan saintifik memerlukan pemahaman yang matematis dan terukur. Akan tetapi untuk memperkuat konsep dalam mengkonstruk pemikiran ilmiah maka perlu juga melakukan pemikiran kira-kira, khayalan, dongeng, legenda, dan sejenisnya. Yang menjadi penekanan dalam pendekatan saintifik adalah siswa sebagai subjek dan guru sebagai fasilitator. konon, sang Saintist Eintein banyak mengembangkan teorinya melalui "khayalan" atau imajinasinya. Jika telah memiliki landasan berpikir yang kuat, maka sah sah saja menggunakan imajinasi sebelum membuktikannya secara ilmiah.

    ReplyDelete
  131. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Terima kasih Pak Marsigit, artikel tersebut telah membuka pemikiran saya bahwa pembelajaran dengan pendekatan saintifik tidak sepenuhnya berdasarkan materi pembelajaran berdasarkan fakta atau unsur logika, namun juga membutuhkan kira-kira, khayalan, legenda atau dongeng dengan tujuan memperkuat pemikiran siswa. Selain itu intuisi juga sangat berperan dalam pembelajaran khususnya penyampaian materi untuk anak yang baru belajar, karena tidak setiap materi dapat diterapkan dengan baik jika penyampaian awalnya menggunakan definisi.

    ReplyDelete
  132. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007
    Banyak tesis dan antithesis mengenai pendekatan saintifik. Karna dalam membahas pendekatan saintifik, setiap orang memiliki sudut pandang masing-masing. Sebagai calon pendidik perlu meningkatkan pemahaman yang lebih dalam mengenali pendekatan saintifik. Dengan mengetahui tesis dan antithesis calon pendidik mengetahui mana yang benar menurut ruang dan waktu mengenai pendekatan saintifik. Dalam pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik siswa akan mengkonstruksi pengetahuannya dengan langkah mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Pendidik disini bertindak sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  133. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang sudah Bapak share kepada kami. Banyak thesis dan antithesis mengenai pendekatan saintifik. Inti dari pembelajaran scientifik adalah mendorong siswa untuk dapat mencari, menemukan, serta membangun pengetahuannya sendiri melalui serangkaian kegiatan yang difasilitasi oleh guru, sebagaimana teori belajar konstruktivisme. Dalam hal ini guru hendaknya memiliki kreatifitas yang tinggi untuk dapat menciptakan suasana belajar yang mendukung siswa dalam menemukan pengetahuannya. Pengetahuan siswa dapat dibangun melalui pengalaman belajar yang bermakna dengan menggunakan fakta atau fenomena sebagai objek kajian. Sintak dalam kegiatan belajar tidak harus saklek atau kaku, seharusnya bisa lebih fleksibel namun tetap dalam koridor saintific. Artinya siswa diberi kesempatan dan kebebasan untuk mengeksplorasi sesuai dengan cara terbaiknya. Dengan demikian potensi yang mereka miliki bisa lebih berkembang dengan optimal. Tidak semua materi dapat diajarkan dengan pendekatan saintifik, oleh karena itu guru diharapkan dapat mengetahui dan memahami dengan baik dan dapat memilah-milah materi mana yang tepat untuk diajarkan dengan menggunakan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  134. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Pendapat dan pengertian tentang saintifik menimbulkan arti yang beragam tergantung darimana sesoarang memandangnya. Pendekatan saintifik dilakukan pada kurikulum 2013 dengan urutan proses yaitu megamati, menanya, mengasosiasi, mengumpulkan informasi dan mengkomunikasikan

    ReplyDelete
  135. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Dari uraian tesis dan anti tesis diatas, saya memahami bahwa dalam pembelajaran saintifik selain dengan kegiatan yang melibatkan unsur logika pikir dan pengalaman, dapat diperkuat dengan khayalan, dogeng, dan legenda yang masih dapat diterima oleh pemahaman siswa. Kemudian dalam pembelajaran peran intuisi juga sangat diperlukan, sebagai landasan berpikir bagi siswa.

    ReplyDelete
  136. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Dari artikel di atas, saya belajar bahwa pendekatan saintifik tidak hanya berlandaskan pada kemampuan siswa secara kognitif berupa logika dan berlandaskan fakta. Namun, juga dapat dikombinasikan dengan hal-hal berupa imanjinasi, legenda, dongeng dan khayalan yang relevan yangmana masih dapat diterima akal peserta didik. Hal tersebut dapat dijadikan salah satu inovasi dalam dunia pembelajaran matematika.

    ReplyDelete
  137. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Terimakasih Prof, artikel yang sangat menarik dan dapat menambah informasi saya mengenai pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan suatu pendekatan yang menitikberatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Sehingga siswa memiliki peran yang banyak dalam menentukan dan menemukan konsep dalam pembelajaran. Namun dengan artikel diatas disebutkan bahwa siswa tidak hanya melibatkan unsur logika saja tetapi juga diperkaya dengan khayalan dan dongeng yang dapat menambah pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  138. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih kepada Pak Marsigit, artikel di atas sangat bermanfaat bagi Saya. Ternyata banyak sekali tesis maupun anti-tesis pendekatan saintifik. Hal ini disebabkan oleh sudut pandang yang berbeda dari masing-masing individu. Dengan adanya artikel di atas dapat membantu pendidik maupun calon pendidik dalam meningkatkan pemahamannya terkait pendekatan saintifik sehingga akan lebih menguasai dalam menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran dengan pendekatan saintifik.

    ReplyDelete
  139. Bayu Widyanto
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244010

    Dari artikel diatas, saya jadi tau tesis dan anti tesis dari pendekatan saintifik. Selain itu juga kemampuan logika siswa dapat diperkuat dari khayalan, legenda, atau dongeng. Intuisi siswa juga sangat berperan bagi siswa itu sendiri.

    ReplyDelete
  140. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    Pendidikan Matematika A 2015

    Terima kasih prof untuk artikel ini, menambah wawasan bagamana pendekatan saintifik yang saat ini menjadi pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013 yang jangan sampai menjadi pembelajaran yang rigid atau kaku sehingga perlu juga melihat dari sis yang lain seperti perlu adalnya suatu khayalan, legenda atau dongeng untuk memperkuat landasan berpikir siswa yang berarti bahwa perlunya wawasan guru yang luas tentang pendekatn saintifik inisehingga pembelajaran benarbenar membawa siswa untk menperoleh pembelajaran yang bermakna.

    ReplyDelete
  141. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Setelah membaca artikel ini pada bagian tesis dan antitesis ke-3, ada yang menyatakan bahwa pembelajaran harus terhindar dari sifat-sifat atau nilai-nilai nonilmiah diantaranya yaitu intuisi, akal sehat,prangka, penemuan melalui coba-coba, dan asal berpikir kritis. Namun antitesisnya menyebutkan bahwa untuk memperoleh sintak Ilmiah terkadang subjek didik melakukan hal-hal yang dapat dikategorikan sebagai non ilmiah. Hal ini menggambarkan bahwa metode saintifik tidak selalu diartikan dalam satu makna tetapi dalam penggunaannya dapat digali lebih da;am dan dikembangkan lebih luas lagi.

    ReplyDelete
  142. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Dari anti tesis 2 yang disampaikan oleh Prof disebutkan bahwa pendekatan saintifik dapat diselenggarakan dalam kerangka konstruktivisme, dimana siswa membangun konsep dan pengetahuan secara mandiri dengan guru hanya sebagai fasilitator. Disini siswa akan menggunakan pengetahuan/pengalaman yang sudah diperoleh sebelumnya untuk membangun konsep yang baru. Guru sebagai fasilitator perlu menyadari apakah pengalaman yang siswa peroleh menyimpang atau tidak, sehingga apabila pengalaman yang diperoleh menyimpang guru bisa dapat segera menemukan solusi untuk meluruskannya.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  143. Okta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dari artikel di atas, saya belajar bahwa meskipun pendekatan saintifik mengandung kata ilmiah, bukan berarti harus berdasarkan logika dan fakta. Selain aspek kognitif, aspek afektif juga diperlukan. Intuisi maupun prasangka siswa sangat dibutuhkan dalam pendekatan ini agar siswa dapat membangun konsep dengan bahasa dan pengertian mereka sendiri. Dan peran guru adalah sebagai fasilitator.

    ReplyDelete
  144. Lisfiyati Mukarromah
    15301241042
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof sudah membagikan artikel di atas. Membaca artikel ini sangat membuka wawasan saya tentang pendekatan saintifik.
    Berdasarkan yang saya pahami dari tulisan Prof Marsigit di atas, pendekatan saintifik tidak hanya melibatkan unsur logika dan fakta, tetapi juga diperkuat dengan imajinasi siswa yang didapat dari khayalan, dongeng dan legenda yang relevan. Intuisi siswa juga menjadi hal yang sangt penting.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  145. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terimakasih Prof atas artikel yang telah dishare. Sngat bermanfaat untuk para pendidik dan calon pendidik nantinya. Berdasarkan artikel diatas wawasan saya bertambah mengenai pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik ini tidak hanya melibatkan unsur-unsur logika saja. Kita bisa melihat dari sudut pandang yang lain seperti pendekatan saintifik ini bisa diperkuat dengan imajinasi yang didapat dari dongeng, khayalan dan sebagainya.

    ReplyDelete
  146. Rosmiyati Putri UtamiMay 13, 2018 at 10:20 PM

    Rosmiyati Putri Utami
    15301241031
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Terkait tesis dan anti-tesis di atas salah satunya dapat disimpulkan bahwa dongeng, khayalan, legenda juga memiliki peran dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan saintifik yaitu dapat memperkuat pemikiran dan pengalaman. Dari sini dapat dilihat bahwa dalam pendekatan saintifik tidak hanya mengandung unsur-unsur ilmiah yang logis saja tapi juga dapat melibatkan intuisi.

    ReplyDelete
  147. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Artikel ini menambah wawasan saya terkait pendekatan saintifik. Berdasarkan tesis dan anti-tesis, saya mengetahui beberapa fakta atau pengetahuan baru. Pada awalnya saya hanya mengira bahwa pendekatan saintifik hanya menggunakan logika atau penalaran saja. Seperti pada anti-tesisnya ternyata tidak semua hanya menggunakan logika, ternyata juga perlu adanya kira-kira, khayalan, dongeng, legenda, dan sejenisnya yang memperkuat prediksi atau logika yang akan diambil. Seperti pada anti-tesis 3, intusi dan berpikir kritis juga perlu. Beberapa penelitian tentang pendekatan saintifik juga menghubungkan pendekatan ini dengan berpikir kritis terhadap materi matematika yang diajarkan. Berpikir kritis juga diperlukan dalam menemukan setiap permasalahan, sehingga sebenarnya pendekatan apapun intuisi dan berpikir kritis itu diperlukan.

    ReplyDelete
  148. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dengan pembelajaran saintifik, siswa menjadi lebih berkesempat untuk membangun dan mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Sehingga, proses pembelajaran hanya melalui penjelasan guru, pemberian rumus menjadi berkurang. Selain itu dengan pendekatan saintifik siswa berkesempatan untuk mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan kehidupannya sehari-hari.

    ReplyDelete
  149. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Pendekatan saintifik dapat dilaksanakan dengan mengkonstruksi pengetahuan siswa. dapat dimulai dengan pembelajaran untuk mengamati suatu hal yang konkrit agar siswa dapat membangun pengetahuan formalnya. Sehingga dapat dikatakan siswa diharapkan dapat menerjemahkan permasalahan menjadi kalimat matematikanya.

    ReplyDelete
  150. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Artikel yang sangat membuka pikiran, Pak. Terima kasih.
    Pendekatan saintifik bukan berarti mengajarkan peserta didik untuk berpikir ilmiah tanpa mengindahkan intuisinya. Intuisi, baik intuisi berpikir ataupun intuisi pengalaman justru akan sangat bermanfaat dalam mempersepsi objek berpikir.
    Kebanyakan artikel mengenai pendekatan saintifik memang selaras dengan tesis-tesis yang sudah Bapak tuliskan di atas, namun anti-tesis yang Bapak kemukakan juga benar adanya. Oleh karena itu, dalam memandang segala hal kita harus menggunakan banyak perspektif, jangan hanya ngotot dengan satu perspektif tanpa memikirkan perspektif-perspektif lain.

    ReplyDelete