Sep 25, 2017

*POSITIVISME*


Oleh: Marsigit, UNY
5 Agustus 2017


*Semar*:
E...gus..Aguste Compte? Apa yg melatarbelakangi engkau bikin Positivisme?

*Compte*:
Karena saya melihat ada Agama, pada jaman pertengahan atau jaman gelap, telah disalah gunakan.

*Semar*:
Disalah gunakan bagaimana?

*Compte*:
Dengan dalih Agama tertentu, maka pada jaman itu, orang tidak boleh berpikir merdeka.

*Semar*:
O begitu, lantas?

*Compte*:
Padahal, orang diseluruh dunia itu selalu menghadapi kenyataan yaitu Membangun Dunia. Bagaimana bisa orang membangun dunia, kalau tidak boleh berpikir merdeka. Maka saya buat terapi dengan cara memarginalkan semua Agama.

*Semar*:
Bagaimana tetapinya?

*Compte*:
Saya membuat buku berjudul Positivisme, yang di dalamnya mengandung kritikan bahkan serangan saya kepada semua Agama. Saya katakan: _Agama itu tidak logis, maka Agama tidak dapat dipakai untuk membangun Dunia_.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzim. Kamu sudah melampaui batas.

*Compte*:
Lho saya tidak ingin menjadi orang munafik. Agama ya diperlukan tetapi tidak utama untuk metode membangun Dunia.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzimu. Lha menurut kamu, untuk membangun Dunia bagaimana metodenya?

*Compte*:
Menurut saya, untuk membangun Dunia kita perlu merubah paradigma. Paradigma baru saya sebut Paradigma Positive yaitu 3 tingkatan dari atas ke bawah secara hirarkhi: 1. Metode Positive, 2. Filsafat, 3. baru Agama.

*Semar*:
Astaghfirulloh al adzimu. Itu bertentangan dengan dunia Timur, dunia Indonesia, tanah Jawa.

*Compte*:
Lha kalau di Indonesia atau Jawa seperti apa?

*Semar*:
Indonesia yang berlandaskan Pancasila, memandang Struktur Dunia itu berhirarkhi darì atas ke bawah: 1. Spiritual, 2. Filsafat, 3. Ilmu Badang, 4. Hukum dan tata cara, 5. Kenyataan. Jadi di Indonesia atau Jawa, Spiritualitas itu mendasari sekaligus menjadi tujuan hidup.

*Compte*:
Bagaimana orang Indonesia atau Jawa, mengelola dan menghadapi kenyataan sekarang?

*Semar*:
Em... agak bingung saya. E..keadaan sekarang macam macam. Orang Indonesia itu lebih 350 juta, jadi macam macam.

*Compte*:
Apakah ada orang Indonesia yang lupa beribadah, dikarenakan dolanan HP?

*Semar*:
Em... ada nggak ya? Saya sendiri pernah lupa sholat karena main Game. Kayaknya ada. E maksud saya ... mungkin agak banyak. Mungkin.

*Compte*:
Kalau begitu jangan salahkan saya. HP itu adalah hasil membangun Dunia. Lupa sholat itu sudah memarginalkan Agama. Jadi orang yang lupa sholat karena dolanan HP itu adalah pengikut saya. Padahal sekarang semakin banyak jumlahnya. Maka apalah arti Aguste Compte seperti saya, karena saya sudah mati pada tahun 1857. Tetapi ajaranku semakin banyak pengikutnya, karena nyata.

*Semar*:
E...hue hue... Gareng, Petruk, lan Bagong, ayo pada sholat berjamangah. Ayo pada diakeh akehke lhe ngaji, maca Kitab Suci. Dolanan HP ya kena ning eling papan lan wektune. Aja padha ninggalke sholat. Ayo pada melu simbah kyai istigosah, dulkodiran, kalimah toyibah, dhikir, wirid lsp. Nek ora, mengko mundhak keselong karo ajarane Aguste Compte. Nau dzubilah mindzalik.

*END*



64 comments:

  1. Restu Widhi Laksana
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251022
    Bismillahirrokhmanirrokhim
    Uraian artikel ini kembali mengingatkan saya khususnya tentang spiritualitas. Memang benar saat ini produk dari membangun dunia mendominasi setiap kalangan, baik tua maupun muda, dari setiap tingkatan sosial dari pengemis sampai para petinggi istana semua lebih mementingkan produk membangun dunia.
    Walaupun sekarang mulai juga banyak muncul produk spiritualitas yang memanfaatkan produk membangun dunia, contohnya Dr. Zakir Naik yang sangat menginspirasi lewat chanel youtube peace TV, kemudian mode tren busana syar'i, para penceramah dalam negeri yang juga memanfaatkan teknologi internet dan smartphone untuk menjangkau lebih luas umat.
    Namun Hedonisme dan positivisme belum mampu dikalahkan dominasinya. Bagaimana tidak, jika anak umur 1 tahun saja sudah dicekoki dengan smartphone yang penting agar si anak tidak rewel. Dibandingkan pelajaran agama yang baru mereka terima setelah usia sekolah, minimal PAUD dan TK itupun dengan porsi yang masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan interaksinya dengan smartphone. Maka perlu rasanya didengungkan lagi adat ketimuran, bukan karena kolot, tetapi karena adat tersebut baik untuk diterapkan.

    ReplyDelete
  2. Hasmiwati
    18709251023
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Kehidupan kita sekarang ini sudah sangat jauh dari hukum-hukum alam, yang digantikan oleh hukum-hukum buatan manusia sendiri yang sangat egoistis dan mengandung nilai hedonis yang sangat besar, sehingga kita pun merasakan betapa banyaknya bencana yang melanda diri kita. Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Comte sering disebut Bapak Positivisme karena aliran filsafat yang didirikannya tersebut. Menurutnya ilmu pengetahuan harus nyata dan bermanfaat serta diarahkan untuk mencapai kemajuan. Positivisme pada kenyataannya menitik beratkan pada sesuatu yang nampak yang dapat dijadikan obyek kajiaannya, di mana hal tersebut adalah bergantung kepada panca indera. Padahal perlu diketahui bahwa panca indera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna. Sehingga kajiannya terbatas pada hal-hal yang nampak saja, padahal banyak hal yang tidak nampak dapat dijadikan bahan kajian.

    ReplyDelete
  3. Samsul Arifin / 18701261007 / S3 PEP 2018

    Positivisme hanya berlandaskan logika..ini sangat membahayakan dan menyesatkan..nilai kebaikan tidak akan terdifinisikan dengan jelas..spiritual, agama adalah alat mendifinisikan nilai kebaikan..
    Ilmu/kepandaian penting, tapi karakter/moral lebih dari itu..

    ReplyDelete
  4. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait topik bahasan mengenai Positivisme bahwa Positivisme mengajarkan kebenaran yang logis, ada bukti empiris yang terukur. Positivisme mengatakan bahwa air mendidih adalah 100 derajat celcius, besi mendidih 1000 derajat celcius, dan yang lainnya misalnya tentang ukuran meter, ton, dan seterusnya. Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari.

    ReplyDelete
  5. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Dari artikel di atas, saya dapat menyimpulkan bahwa dalam kehidupan ini harus seimbang. Hidup tidak hanya mengejar dunia saja tetapi juga mengejar akhirat begitu juga sebaliknya. Kita tidak bisa terlepas dari perkembangan zaman.

    ReplyDelete
  6. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Dari artikel diats, positivisme merupakan ajaran yang dibawa oleh Comte yang merupakan landasan untuk membangun dunia dengan tidak menggunakan agama. Teori Positivisme ini akan tentu kita tahu adalah teori yang bertentangan dengan Indonesia. Indonesia menempatkan Agama pada posisi paling atas sehingga menjadikan patokan untuk melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. namun, disadari atau tidak terkadang manusia secara tidak sadar mengikuti teori Comte yang tidak mendahulukan agama. Dari hal tersebut sehingga dibutuhkan keseimbangan antara kegiatan berhubungan dengan Agama dan juga dalam masalah dunia, karena setiap teori ada porsinya dalam penggunaan, kita harus dapat menempatkan penggunaan kecanggihan teknologi yang ada dengan urusan agama.

    ReplyDelete
  7. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Memang benar, dewasa ini dengan canggihnya teknologi bukan malah memperkuat iman kita, malah memperlemah iman kita. Banyak dari kita menjadi budak dari teknologi. Ini wanti wanti bagi orangtua dimasa yang akan datang. Jangan sampai anak anak kita menjado budak teknologi. Perkuat pondasi agama anak kita dan pondasi ideologi anak kita.

    ReplyDelete
  8. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Akhir kata mengenai agama dan teknologi. Kemajuan teknologi bisa membawa dampak positif dalam kehidupan umat manusia yakni bisa menyenangkan dan membahagiakan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bisa terjadi sebaliknya. Hal ini disebabkan karena teknologi merupakan suatu alat atau sarana yang tidak mempunyai nilai buruk. Hal ini tergantung pada kehendak pemakainya, kemudian agar para pemakainya menggunakan hal-hal yang positif dan bisa membawa kemanfaatan, maka teknologi sangat perlu dibarengi dengan agama, karena agamalah yang mengarahkan pada manusia untuk menggunakan semuanya itu pada hal-hal yang positif, agar hidup ini bisa tentram, menyenangkan dan bahagia dibawa naungan ridha Allah swt.

    ReplyDelete
  9. Nurul Huda
    18701264005
    S3 PEP 2018

    Positifism yang melihat segala sesuatu dapat digeneralisasi adalah salah satu yang menghambat dalam perkembangan ilmu pengetahuan, terutama dalam bidang ilmu-ilmu social. Karena setiap orang, setiap kelompok, komunitas dan seterusnya adalah unik, karena itu tidak bias digeneralisasikan. tergantung kontek dan waktu.

    ReplyDelete
  10. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Paham ini memandang bahwa dalam membangun dunia perlu dengan berpikir secara merdeka. Sedangkan berpikir merdeka tidak akan bisa dilakukan jika adanya batasan berupa dalih agama. Oleh karena itu, mereka mengesampingkan agama untuk dapat membangun dunia. Hal ini berkebalikan dengan yang ada di Indonesia yang berlandasakan pancasila sehingga menempatkan spiritual pada urutan awal. Namun yang terjadi karena adanya hasil pembangunan dunia yang menyebabkan seseorang lalai dalam melakukan kewajibannya sebagai umat beragama. Untuk itu, perlu adanya kesadaran diri bahwa pembangunan dunia itu penting tapi tidak dengan meninggalkan kewajiban utama sebagai umat beragama namun dapat menggunakan agama sebagai benteng agar tidak lupa dengan aturan yang ada.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  11. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Agama itu tidak logis, maka Agama tidak dapat dipakai untuk membangun Dunia. memang benar Prof. apalagi seperti era sekarang yang mana agama malah dijadikan media untuk berpolitik. padahal agama sangat riskan sekali untuk memperpecah belah umat yang imbasnya kepada keutuhan Negara itu sendiri.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  12. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Paham positivisme dapat juga dikatakan suatu paham yang mengedepankan pikiran para logos. Padahal ketika kita mengaitkan dengan agama maka tentu ada yang tidak sinergi di dalamnya, karena agama sangat mengedepankan keyakinan. Dengan keyakinan maka kita akan berbuat yang tidak sia-sia atau membuat kita yakin dengan apa yang akan dikerjakan.

    ReplyDelete
  13. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Kata positivisme merupakan suatu paham yang kontradiksi dengan paham agama islam, sebagai umat muslim maka al quran dan hadits merupakan pedomannya. Sebagaimana kita tahu bersama sebaik-baik petunjuk adalah yang mempelajari al quran dan hadits. Sesungguhnya kehidupan dunia hanya sementara dan kehidupan akhirat lah yang kekal. Hal ini bukan berarti urusan dunia kita tinggalkan segalanya melainkan bagaimana kita mampu mengutamakan urusan akhirat dan memperhatikan urusan dunia tanpa meninggalkannnya.

    ReplyDelete
  14. Lukman
    18701264003
    S3 PEP 2018

    Semar Limbung

    Ilmu yang merupakan serapan dari bahasa Arab, yang pluralnya adalah Ulama, yang disebut Ulama karena banyak ilmu dan takut kepada Allah SWT, tereduksi mejadi satu di antara 3 pengetahuan: Ilmu, Seni, dan Agama. Begitu kuatnya Postivisme. Semarpun, yang dewa itu, limbung menghadapi Comte...dan dengan mengembalikan pada lingkungan spiritual dengan harapan selamat dan menyelamatkan dirinya. Apalagi para daksa...Pengembalian makna ilmu yang memunculkan ulama pewaris nabi...dapat dimulai kembali dengan perpaduan antara dzikir dan berpikir lillahi ta'la. Kalau hanya ilmu, maka berselisihlah para manusia...kalau dzikir saja maka peradaban akan tertinggal.

    Rasulullah Muhammad SAW menerima wahyu pertama kali di Gua Hiro’, sebagaimana tersurat dalam Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa saat Malaikat Jibril as. meminta Rasulullah SAW untuk membaca, maka Rasulullah SAW menjawab bahwa beliau tidak bisa membaca. Hal ini terulang sampai tiga kali, dan kemudian menjadi terurai saat Malaikar Jibril as. meminta Rasulullah SAW membaca dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (Iqro’ bismirobbika).

    Dengan dasar ini, dapat dimulai dengan mempopulerkan, belajar di sekolah (iqro') harus dimulai, dijalani, dan bertujuan lillahi ta'ala.

    Terima kasih. Wallohu A'lam.

    ReplyDelete
  15. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Manusia bisa berpikiran bahwa mereka bisa menggapai seluruh isi dunia dengan hanya memakai pikirannya dan itu merupakan bentuk keistimewaan manusia yang memiliki akar. Berpikir positivsm menjadi landasan manusia untuk lebih memahami isi dunia dengan mengaitkan semuanya dengan ilmu pengetahuan. Menyangkutpautkan semuanya menjadi satu yang dihubungkan dengan positivsm dan dihubungkan dengan pikiran sendiri sehingga terciptalah pikiran positivsm.

    ReplyDelete
  16. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Menurut wikipedia,Comte berpendapat positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Penganut paham positivisme meyakini bahwa hanya ada sedikit perbedaan (jika ada) antara ilmu sosial dan ilmu alam, karena masyarakat dan kehidupan sosial berjalan berdasarkan aturan-aturan, demikian juga alam. Positivisme berusaha menjelaskan pengetahuan ilmiah berkenaan dengan tiga komponen yaitu bahasa teoritis, bahasa observasional dan kaidah-kaidah korespondensi yang mengakaitkan keduanya. Tekanan positivistik menggarisbawahi penegasannya bahwa hanya bahasa observasional yang menyatakan informasi faktual.

    ReplyDelete
  17. Yoga Prasetya
    18709251011
    S2 Pendidikan Matematika UNY 2018 A
    Positivism merupakan suatu aliran filsafat yang menolak aktivitas metafisik. Positive adalah nyata dan bukan khayalan. Positivisme mengutamakan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang mengandalkan pada fakta-fakta yang ada. karena pandangan dunia yang dianut positivism adalah pandangan dunia objektif berdasar ilmu yang pasti.

    ReplyDelete
  18. Lumaurridlo
    18701261010
    S3-PEP 2018

    kebutuhan manusia terhadap agama adalah kebutuhan yang paling bisa ditunda. oleh sebab itu manusia bisa menunda atau melupakan selamanya selama kebutuhan akan tuhan belum muncul. manusia yang tidak dikenalkan dengan tuhan cenderung akan berjalan mengikuti nafsu buruknya saja. atau hanya memandang melalui rasio logis tanpa hati nurani. tuhan mengetahui segalnya. Dia tahu yang terbaik walaupun mungkin menurut sebagian manusia dipandang tidak logis. tuhan maha sabar dan tuhan maha pengampun. membangun dunia tanpa melibatkan tuhan sama artinya menghancurkan dunia secara perlahan. karena pada dasarnya tuhan itu adalah kontrol. membangun dunia dengan melibatkan tuhan itulah peradaban manusia setinggi-tingginya. tuhan maha sabar, tuhan maha pengampun mari kita bertaubat, sebenar-benar taubat, taubatan nasuha.

    ReplyDelete
  19. Erma Zelfiana Surni
    18709251009
    S2. P.Matematika A 2018

    Assalamualaikum Wr. Wb
    Positivisme berasal dari kata Positif, adalah teori filosofis yang menyatakan bahwa pengetahuan yang meyakinkan didasarkan pada fenomena alam dan sifat serta hubungannya. Dengan demikian, serta dapat ditafsirkan melalui akal dan logika, membentuk sumber eksklusif. Positivisme berpendapat bahwa pengetahuan yang valid (kepastian atau kebenaran) hanya ditemukan dalam pengetahuan posteriori ini.
    Postif adalah hal-hal baik yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku dalam kehidupan bermasyarakat.

    ReplyDelete
  20. Hanif Cahyo Adi Kistroro
    18701264004
    S3 PEP 2018

    Positivisme mnendasarkan ilmu pengetahuan sebagai alat mencari kebahagiaan.sumber yang berisifat mistik, bastrak dan tdak rasional bukan menjadi dasra pemikirannya. positivisme tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empirik. betul dan salah berdasarkan sesuatau yang terjadi dan nyata dialami.

    ReplyDelete
  21. Rifki Rinaldo
    19709251070
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Positivisme memandang bahwa ilmu pengetahuan hanyalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar yang dapat digunakan untuk membangun dunia. positivisme menganggap agama sebagai penghambat kemajuan dunia. Positivisme menggunakan sudut pandang logika dan harus berdasarkan data empiris atau kerasionalan. Walapun demikian, ilmu pengetahuan dapat menciptakan teknologi yang dapat membantu manusia itu sendiri. Hanya dalam pelaksanaannya, teknologi yang harusnya digunakan untuk sesuatu yang positif yang salah-satunya mempermudah kita dalam beribadah justru membuat kita semakin bermalasan dalam beribadah. hal tersebut dikarenakan lemahnya iman kita, kurangnya pondasi kuat tentang agama. Seharusnya dalam beragama menjadikan kontrol diri dan mengarahkan kita ke arah yang positif seperti pemanfaatan ilmu pengetahun dengan benar atau penggunaan teknologi dengan bijak. Oleh sebab itu, kita harus membangun pondasi kuat dalam beragama. Menjadikan teknologi sebagai salah satu sarana positif. Sehingga apa yang sudah kita perbuat itu mendapat berkah dari Allah SWT.

    ReplyDelete
  22. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Sebenarnya tidak semua aspek didalam agama dapat dilogikakan. Karena pada dasarnya, manusia memiliki keterbatasan mengenainya. Manusia sebatas dimampukan untuk berusaha belajar, berusaha memahami, berusaha berdoa, terutama berusaha patuh, selebihnya adalah mutlak urusan Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika ada kekeliruan mengenai urusan dunia, bukan salah agamanya sebab semua agama mengajarkan bagaimana manusia dapat mencapai kesuksesan kehidupan dunia bahkan sampai pada kehidupan setelah adanya kematian. Jika ada ketidakseimbangan dalam urusan dunia, itu hanya salah manusianya bukan agamanya. Maka tetaplah agama yang utama untuk segala urusan, tetaplah Tuhan menjadi pusat kepatuhan.
    Terimakasih Prof.

    ReplyDelete
  23. Heru Purnomo
    Pendas S3 2019
    19706261001

    Asslamuallaikum, wr wb
    saya sangat terinspirasi apa Yang dituliskan bapak, begitu mudah saya mencerna materi filsafat pendidikan tentang postivisme Yang diperankan semar dan agus Comte, dua tokoh wayang dan manusia pemikir Yang begitu mudah dimengerti, pada dasarnya postivisme mengajarkan tentang kebenaran yang nyata dan objektif.bagimana Comte mencoba mengubah paradigma Yang berbeda Dari Sisi agama pada masa itu Yang selalu dijadikan sebuah pembenaran.paradigm agus Comte 1857 Yang dulu ditentang sekarang merasuk kebanyak sendi-sendi kehidupan tanpa disadarinya.agama adalah tiang kepercayaan untuk arah pedoman hidup, lbh Dari postivisme.terima kasih

    ReplyDelete
  24. ahmad syajili
    19709251066
    S2 PMD 2019
    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Comte sering disebut Bapak Positivisme karena aliran filsafat yang didirikannya tersebut. Menurutnya ilmu pengetahuan harus nyata dan bermanfaat serta diarahkan untuk mencapai kemajuan. Positivisme pada kenyataannya menitik beratkan pada sesuatu yang nampak yang dapat dijadikan obyek kajiaannya, di mana hal tersebut adalah bergantung kepada panca indera. Padahal perlu diketahui bahwa panca indera manusia adalah terbatas dan tidak sempurna.Berpikir positivsm menjadi landasan manusia untuk lebih memahami isi dunia dengan mengaitkan semuanya dengan ilmu pengetahuan. Menyangkutpautkan semuanya menjadi satu yang dihubungkan dengan positivsm dan dihubungkan dengan pikiran sendiri sehingga terciptalah pikiran positivsm.

    ReplyDelete
  25. Dhamar Widya Safitri
    19701251009
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaikum.
    Manusia saat ini sudah tidak bisa lepas dari teknologi (HP). Tetapi, manusia juga tidak bisa menyalahkan HP jika mereka lalai dalam ibadah mereka. Bahkan saat ini HP juga bisa membantu manusia dalam urusan beribadah, contohnya pengingat waktu beribadah atau hal yang lainnya. Yang bisa manusia lakukan adalah menggunakan HP sebaik mungkin dan tetap dekat dengan Tuhan.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  26. Hanifah Nabila Hendral
    19701251003
    PEP S2 A 2019

    Assalamualaikum
    umat Islam memiliki 2 landasan dalam beragama yaitu Al Quran dan Sunnah. Al Quran bersumber dari Allah sedangkan sunnah besumber dari Allah melalui Rasullah. Karena agama bersumber dari Allah dan Allah lah yang menciptakan dunia seisinya tentu Allah yang mengetahui isi keseluruhan dari Dunia. oleh karena itu pernyataan "untuk membangun Dunia tidak perlu agama" benar-benarlah salah. untuk membangun rumah saja kita memerlukan ilmu, desain rumah, dan lain sebagainya tidak mungkin kita asal membangun rumah. begitu pula dalam membangun dunia, kita perlu petunjuk yang tentunya ada di dalam Al Quran. kita kita bisa membanbgun dunia tanpa tau Dunia itu sendiri ? Dalam membangun Dunia tentu kita harus mengikuti beberapa aturan, tidak mungkin asal dan bebas begitu saja, akan menyebabkan kekacauan nantinya.
    Saya jadi semakin paham, kita memang haruslah berilmu tetapi kita juga harus beriman agar kita tidak terpeleset seperti Aguste Compte. Iman dan Ilmu haruslah beriringan. ilmu tanpa iman itu sombong dan iman tanpa ilmu adalah bohong.

    Wassalamualaikum

    ReplyDelete
  27. sintha fardu anggraeni
    19709251071
    S2 pendidikan matematika /D

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Hal yang saya pahami terkait positivisme adalah dalam aliran filsafat ini objek adalah sesuatu yang faktual. Satu-satunya bentuk pengetahuan yang valid mengenai kenyataan hanyalah ilmu pengetahuan (Hardiman,2007: 205). Positivisme menolak sama sekali bentuk pengetahuan lain misal etika, teologi, seni, yang melampaui fenomena yang dapat diamati. Maka saya setuju bahwa aliran ini kurang cocok untuk di Indonesia yang berlandaskan Pancasila, dan saya juga merasa sadar bahwa saya juga terbawa arus positivisme ini, karena cukup sering juga lalai dalam beribadah. Terima kasih banyak, Pak. Tulisan ini menjadi pengingat bagi saya untuk lebih baik darap beribadah.

    ReplyDelete
  28. Tiara Wahyu Anggraini
    19709251065
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Dari postingan bapak di atas menyadarkan kita bahwasanya kita lebih mementingkan dunia daripada beribadah. Kita bisa sampai berjam-jam mengerjakan tugas atau menggunakan gadget hingga kita lalai dalam beribadah. Alangkah baiknya, kita harus menyeimbangkan duniawi dengan beribadah kepada Allah SWT. karena kita hanya sementara di dunia ini, dan kehidupan sebenarnya adalah di akhirat kelak. Terima kasih banyak pak, tulisan bapak ini bisa jadi alarm buat kita semua yang membacanya sehingga tidak lalai untuk beribadah.

    ReplyDelete
  29. Selamat siang
    Dari artikel positivism ini membedakan dua aliran atau bisa disebut paham Timur dan Barat. Dalam artikel Prof menyinggung istilah "berlawanan" antara Timur Dan Barat. Apa si perbedaanya? Kalau Saya cermati artikel ini perbedaan kedua aliran ini terletak pada penggunaan dominan aspek pikiran dan perasaan. Aliran Barat mengedepankan pikiran/ logika sedangkan aliran Timur menggunakan perasaan. Kedua aliran ini melihat kebenaran dari sudut pandang yang Berbeda. Aliran Barat melihat kebenaran dari segi benar dan salah secara logika sedangkan aliran Timur melihat kebenaran itu dengan menngunakan perasaan. Karenanya sulit bagi orang Timur menngunakan kata seperti kamu salah secara lugas tetapi kita cenderung mengatakan mungkin kamu keliru. Sedangkan orang Barat dengan lugas dan tegas mengatakan salah kalau Salah dan benar kalau benar. Disinilah aliran positivism bermain. Jadi Keberadaan Tuhanpun dipertanyakan karena bukti keberadaan Tuhan belum terbukti secara ilmiah atau keberadaanNya tidak bisa dilihat.
    Itulah makna dari artikel positivism yang saya paham.

    ReplyDelete
  30. Assalamu’alaikum wr. Wb
    Novi Indriyani Kones
    19701251002
    PEP S2 A 2019
    Pelajaran inti yang saya ambil dalam artikel ini adalah sesibuk apapun kita dalam berdunia, tetap ingat pada Gusti Allah diutamakan dan diaplikasikan setiap kegiatan berdunia. Jangan sampai segala hiruk pikuk duniawi kemudian kita melupakan Tuhan kita. Dunia hanya fatamorgana sebagai ujian kita untuk tetap ingat atau tidak kepada Gusti Allah.
    Terimakasih
    Wassalamu’alaikum wr. Wb

    ReplyDelete
  31. Syalom.
    Assalamualaikum.
    Meilan Lengkong
    19701251011
    S2 PEP A 2019

    Intinya adalah Ketika kita mampu mengolah pikiran dan Perasaan kita sebagai manusia dengan benar, maka kita mampu memposisikan diri sebagai manusia modern yang tentunya dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang tidak dapat dipungkiri semakin maju bahkan mampu menjerat kita dalam dosa. Antara Ilmu dalam Hati (doa dan Ibadahmu) dan Ilmu dalam pikiran (Dunia/teknologi) haruslah ada keseimbangan antar keduanya karena jika kita tidak paham akan Ilmu hati maka akan menjadi Godaan untuk Ilmu Pikiran dan menyebabkan kita meninggalkan Ibadah kita (*kaitannya dengan Artikel "Paralogos").
    Oleh karena itu, seharusnya Manusia yang menciptakan Teknologi maka Manusia pula yang mengendalikannya, BUKAN teknologi yang berbalik Mengendalikan Manusia.

    Terima kasih
    Syalom.
    Wassalamualaikum.

    ReplyDelete
  32. Anna Isabela Sanam
    19701251001
    S2 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (2019)

    Mengutip dari sebuah tulisan tentang Positivisme dimana Comte juga berpendapat bahwa untuk menciptakan masyarakat yang adil, diperlukan metode positif yang kepastiannya tidak dapat digugat yang terdiri dari, fakta-fakta, perbaikan terus menerus dari syarat-syarat hidup, kepastian, kecermatan. Melihat konsep ini saya memahami bahwa memang secara logika Agama bukanlah unsur utama dalam membangun dunia termasuk negara kita Indonesia karena yang diperlukan adalah logika sains atau hal – hal empirik. Dan saat ini tentunya Indonesia terus melakukan perbaikan – perbaikan dalam berbagai bidang untuk kemajuan negara kita. Sedangkan, Agama menurut saya lebih kepada keyakinan kita apa lagi jika di Indonesia terdapat 350 juta orang dengan keyakinan berbeda pula. Oleh karena itu, sebagai bagian dari bangsa ini saya sangat berharap bahwa negara Indonesia akan tetap disatukan oleh Pancasila.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  33. Choirul Amri
    (19709251078 Pendidikan Matematika Kelas D 2019)

    Bismillah, teori yang dinyatakan oleh A.Compte dalam bukunya yang berjudul positivisme memanglah sangat kontroversial. Sehingga para ahli dalam filsafat tidak setuju dengan hal itu seperti penganut paham filsafat Permenides, Plato atau yang berlawanan menurut Heraclitos dan Aristoteles keduanya masih menempatkan kuasa Tuhan berada diposisi teratas sementara dirinya tidak mempercayai spiritual sebagai aspek tertinggi, namun karena ada dan dipercaya oleh manusia di dunia dia menempatkan spiritual dipaling bawah yang menurutnya tidak penting dan tidak masuk akal sebenarnya. Astaghfirullah.
    Oleh karenanya sebagai muslim kita harus menempatkan segala sesuatu berdasarkan firmanNya dan tuntunan sunnahnya, selama ini antara sains dan agama Islam tidak pernah terjadi kontradiksi dan apa-apa yang belum terbukti percayalah suatu saat nanti pasti akan terbukti seperti sejarah lalu yang kebenarannya baru bias dibuktikan. Maka jangan mempertuhankan logika, jangan mempertuhankan akal tapi bimbinglah akal dengan fitrahnya. Terimakasih.

    ReplyDelete
  34. Jewish Van Septriwanto
    19709251077
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Paham positivisme menempatkan ketika seorang masih perpandangan teologis berarti ia masih berfikiran kuno/ketinggalan zaman walaupun ia hidup dizaman yang modern. Dan ketika orang berfikiran realitas/nyata maka dia dapat sebagai seorang yang modern walaupun dimana saja mereka berada. Pendapat ini jika dilihat dari sudut pandangnya akan lebih menjurus kepada tahap dalam keyakinan hati manusia. maka landasan berpijak pada pandangan ini adalah menempatkan Tuhan sebagai pemilik ilmu yang sebenar-benarnya.

    ReplyDelete
  35. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001

    Aliran yang dianut sang Auguste Comte adalah positivisme. Salah satu quotesnya adalah “religion is an illusion of childhood, outgrown under proper education”. Maka tak mengherankan jika Comte berpendapat agama bukan metode utama membangun dunia karena melalui prinsip positivisme Comte membangun dasar pengaplikasian metode ilmiah dan ilmu sosial sebagai sarana dalam memperoleh kebenaran. Namun Comte mengusungkan pikirannya bahwa dunia dapat dibangun jika merubah paradigma yang ia sebut paradigma positif. Paradigm positif ini terdapat agama sebagai tingkatan paling bawah setelah metode positif dan metafisik. Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Sedangkan tahap metafisik adalah suatu masa dimana disini adalah masa perubahan.

    Terima Kasih Prof.

    ReplyDelete
  36. Anna Isabela Sanam
    s2 PEP A 2019
    19701251001

    Contoh yang paparkan dalam tulisan ini adalah hal yang tentunya sering praktikan juga. Saya pribadi tidak ingin menjadi munafik karena saya sendiri pun sering karena keasyikan menonton TV sampai lupa beribadah. HP adalah hasil membangun dunia maka TV pun sama. Semoga tulisan ini menyadarkan kita agar hasil membangun dunia tidak mendominasi hidup kita. Semoga kita tidak berambisi untuk mencari dan mewujudkan kebahagiaan kita namun kita melupakan sang maha pemberi, sang maha penentu. Semoga kita lebih menyadari hakikat kita yang sebenarnya.

    Terima kasih Prof.

    ReplyDelete
  37. Aulia Nur Arivina
    18709251051
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Buku yang berjudul positivisme ditulis oleh Aguste Compte yang di dalamnya mengandung kritikan kepada semua agama. Karena Compte menganggap bahwa dengan agama orang tidak boleh berpikir merdeka disaat masyarakat ingin membangun dunia. Perubahan paradigma untuk membangun dunia tersebut selanjutnya dikenal sebagai paradigma positif.

    ReplyDelete
  38. Aulia Nur Arivina
    18709251051
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Secara perlahan-lahan dunia mulai berubah, terutama dengan adanya perkembangan teknologi yang menyebabkan kecanduan. Bahkan perkembangan tersebut dapat membuat kita terlena dengan kewajiban kita sebagai makhluk Alloh SWT untuk menunaikan ibadahnya. Sehingga kita harus mempunyai keteguhan untuk tetap mengutamakan ibadah, entah bagaimana perkembangan teknologi yang terjadi.

    ReplyDelete
  39. Ardhya Handayani
    19701251015
    S2 PEP 2019 A

    Percakapan antara Comte dan Semar ini membahasa mengenai positivism. Postitivisme menyatakan bahwa satu satnya sumber pengetahuan yang benar adalah ilmu alam dan menolak aktivitas yang besifat metafisik. Dalam aliran ini agama atau spiritualitas tidak menjadi penting dan tidak diutamakan. Hal ini tentu saja bertolak belakang dengan adat Indonesia seperti yang di katakan oleh Semar. Indonesia dalam Pancasila sila 1 yang menyatakan ketuhanan yang maha Esa, dan menempatkan spiritualitas sebagai landasan. Namun ketika saya membaca percakapan antara Comte dan Semar ini memang benar banyak orang mengatakan mereka menempatkan spiritualitas sebagai landasan, namun dalam praktiknya terkadang tidak terjadi, seperti yang dinyatakan oleh semar yang terganggu sholatnya karena Hp, hal ini juga kadang terjadi pada saya. dari hal ini saya melihat butuhnya kita memupuk nilai spiritualitas seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi.

    ReplyDelete
  40. Sekar Hidayatun Najakh
    19701251007
    S2 PEP A 2019

    Assalamualaykum wr wb...
    Pada hakikatnya tidak semua aspek didalam agama dapat dilogikakan. Karena memang manusia memiliki keterbatasan terkait dengan hal tersebut. Manusia sebatas dimampukan untuk berusaha belajar, berusaha memahami, berusaha berdoa, terutama berusaha patuh, selebihnya adalah mutlak urusan Tuhan Yang Maha Kuasa. Jika ada kekeliruan mengenai urusan pembangunan dunia, bukan salah agamanya sebab agama mengajarkan bagaimana manusia dapat mencapai kesuksesan kehidupan dunia bahkan sampai pada kehidupan setelah adanya kematian. Jika ada ketidakseimbangan dalam urusan dunia, itu adalah salah manusianya bukan agamanya. Maka tetaplah unsur spiritual atau agama yang utama untuk landasan segala urusan, tetaplah Tuhan menjadi pusat kepatuhan. Agama bukan belenggu, tapi agama adalah jalan menuju kebenaran hakiki. Ibaratnya kita ingin menuju suatu tujuan, maka kita memilih melalui jalan yang terbaik dengan jalur-jalur yang sudah ada. Bisa saja kita melalui apapun yang kita anggap sebagai jalan, tapi tanpa adanya jalur, tidak akan ada jaminan kita bisa selamat sampai ke tujuan.

    Terimakasih Prof.

    ReplyDelete
  41. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Saat membicarakan mengenai agama maka yang akan terpatri pada diri seseorang adalah suatu keyakinan terhadap hal hal yang mutlak pada ajaran agama tersebut. Dalam aspek agama tidak semuanya dianalogikan ke logika, karena ada keterbatasan kita sebagai manusia untuk melogikan tersebut.
    dalam pekembangan membangun dunia, maka agama tidak pernah bisa dipisahkan atas urusan dunia dan agama, karena agama hal yang paling mendasar yang harus dimiliki manusia. Agama adalah pedoman untuk manusia yang paling utama agar manusia tersebut memiliki arah dan tujuan yang lurus.
    Diperkembangan jaman sekarang, kita sebagai manusia harus tetap yakin bahwa "Perkembangan Dunia yang Harus Mengikuti Agama, bukan sebaliknya", karena tujuan dari suatu agaman bukan hanya berurusan tentang dunia melainkan hingga akhirat

    terima kasih prof. atas ilmunya

    ReplyDelete
  42. Sarah desiana pahu
    19709251063
    S2 PM D 2019
    Menurut saya, apa yang dikatakan comte mengenai positivisme ini tergantung bagaimana kita memandang aliran ini. Banyak yang setuju dan tidak setuju itu semua hak masing masing. Apa yang seseorang yakini belum tentu sama dengan apa yang anda yakini. Namun bagi saya, yang namanya agama itu penting sebagai pedoman atas arah dan tujuan dalam melangkah. Dan tetap menjunjung tinggi nilai nilai pancasila sebagai landasan kita. Terima kasih.

    ReplyDelete
  43. Indra Kusuma Wijayanti
    18709251046
    Pendidikan Matematika S2 C
    Dalam bidang ilmu sosiologi, antropologi, dan bidang ilmu sosial lainnya, istilah positivisme sangat berkaitan erat dengan istilah naturalisme dan dapat dirunut asalnya ke pemikiran Auguste Comte pada abad ke-19. Comte berpendapat, positivisme adalah cara pandang dalam memahami dunia dengan berdasarkan sains. Hal ini berbentrokkan dengan agama yang saya anut, sebab pemikiran positivism adalah pemikiranbebas tanpa adanya batasan agama, padahal yang saya percayai bahwa apapun tindakan kita harus berdasarkan pada apa yang Tuhan perintahkan yang termuat dalam kitab yang saya percaya.

    ReplyDelete
  44. Puspitarani
    19709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Terima kasih Bapak atas atikel berjudul Positivisme yang telah Bapak share kepada kami. Dari artikel ini saya banyak mendapat ilmu baru yang sebelumnya belum saya terima. Positivisme merupakan paham yang mengarah kepada perbuatan atau tindakan yang memiliki nilai etik dan estika yang baik dan benar sesuai dengan norma-norma yang ada pada pancasila. Sesuatu dikatakan positive adalah apabila mempunyak dampak yang baik dan menguntungkan tidak hanya pada diri sendiri melainkan orang lain serta terhadap lingkungan alam sekitar. Dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang bernilai positive secara tidak langsung kita membentuk sebuah identitas diri yang hakiki. Namun pada kenyataannnya, saat ini ajaran positivisme sudah mulai luntur, dikarenakan kita anak jaman now yang terlena akan kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya handphone. Dalam sehari saja tidak terhitung sudah berapa puluh kali kita memantengi hp kita, sampai-sampai kita tidak sadar akan waktu, waktu untuk sholat, makan, dan belajar.

    ReplyDelete
  45. Annisa Nur Arifah
    18709251058
    S2 Pendidikan Matematika C 2018

    Positivism berarti suatu aliran filsafat yang berpangkal pada sesuatu yang pasti, faktual, nyata, dari apa yang diketahui dan berdasarkan data empiris. Filsafat pendidikan positivisme akan membantu guru sebagai pendidik untuk pendalaman pikiran bagi penyusunan kurikulum dan pembelajaran serta pendidikan siswanya di sekolah, kemudian mengaitkannya dengan faktor-faktor spiritual, sosial, ekonomi, budaya dan lain-lain, dalam berbagai bidang kehidupan untuk menciptakan anak didik yang sempurna baik lahir maupun batinnya.

    ReplyDelete
  46. Sri Ningsih
    19709251064
    S2 Pendidikan Matematika kelas D
    Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris.Paham positivisme adalah paham yang mengutamakan logika di atas segala-galanya. Padahal tidak semua hal mampu kita logikan. Masih banyak hal yang menjadi rahasia Tuhan yang kita sebagai manusia biasa tidak mampu mengetahuinya.

    ReplyDelete
  47. Latifa Krisna Ayu
    19709251060
    S2 Pendidikan Matematika D

    Positivisme secara etimologi berasal dari kata positive, yang dalam bahasa filsafat bermakna sebagai suatu peristiwa yang benar-benar terjadi, yang dapat dialami sebagai suatu realitas. Ini berarti, yang disebut sebagai positif bertentangan dengan sesuatu yang hanya ada di dalam angan-angan (impian), atau terdiri dari sesuatu yang hanya merupakan konstruksi atas kreasi kemampuan untuk berpikir dari akal manusia. Dapat disimpulkan bahwa pengertian positivisme secara terminologis berarti suatu paham yang dalam "pencapaian kebenaran"-nya bersumber dan berpangkal pada kejadian yang benar-benar terjadi. Namun pada kenyataannya ada banyak hal-hal yang berkaitan dengan metafisika dan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Saya sendiri tidak setuju dengan positivisme karena saya mempercayai bahwa ada berbagai hal yang metafisika dalam dunia ini. Selain itu banyak kejadian di dunia ini yang tidak bisa dikaji dari sisi ilmu pengetahuan, karena semua itu terjadi karena kuasa Tuhan.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  48. Yufida Afkarina Nizar Isyam
    19709251073
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Yang bisa saya ambil dari tulisan tersebut adalah di zaman globalisasi ini memang semakin terjadi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara besar-besaran untuk mengubah dunia. Namun yang perlu kita ingat bahwa jangan lupakan kewajiban kita sebagai pemeluk agama masing-masing karena terlena dengan perkembangan yang ada. Kita memang harus turut serta dalam membangun dunia, namun jangan malah membuat kita lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap agama masing-masing. Dan jangan pula menyalahgunakan agama dengan melakukan tindakan-tindakan yang berdalih atas nama agama padahal tindakan tersebut dilakukan demi kepentingan pribadi dan malah merugikan orang lain.

    ReplyDelete
  49. Rona Happy Mumpuni
    19709251059
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Setelah saya membaca dialog pada artikel di atas, saya dapat menyimpulkan beberapa kelebihan dari "POSITIVISME"


    *KELEBIHAN POSITIVISME*
    1. Dengan pandangan positivisme maka manusia akan terdorong dengan semangat optimisme untuk bertindak aktif dan kreatif.

    2. Positivisme telah mendorong laju kemajuan di bidang fisik dan teknologi. Karena positivisme menganggap bahwa ilmu adalah satu-satunya pengetahuan yang valid, dan fakta-fakta sajalah yang mungkin dapat menjadi obyek pengetahuan. Dengan demikian positivisme dapat dijadikan formula untuk mengawali kebangkitan Islam yang selama ini dianggap terpuruk dibanding dengan Barat, terutama di bidang ilmu alam (sains).

    3. Dengan munculnya pandangan tersebut, maka lahirlah model-model ilmu pengetahuan yang positif yang lepas dari muatan spekulatif, beserta hukum-hukumnya yang umum dan dinyatakan berlaku untuk segala-galanya.

    4. Filsafat positivisme sangat berharga dalam usaha untuk lebih memahami implikasi penggunaan ilmu pengetahuan modern beserta teknologinya yang sangat menentukan hidup dalam kehidupan manusia dewasa ini.

    ReplyDelete
  50. Rona Happy Mumpuni
    19709251059
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Selain kelebihan, tentu saja terdapat kekurangan dari "POSITIVISME"

    *KEKURANGAN POSITIVISME*
    Positivisme mengabaikan pengaruh peneliti dalam memahami realitas sosial dan secara salah menggambarkan objek studinya dengan menjadikan realitas sosial sebagai objek yang eksis secara objektif dan tidak dipengaruhi oleh orang-orang yang tindakannya berpengaruh pada kondisi yang diteliti.

    Paham positivisme dalam usaha memecahkan suatu masalah di masyarakat bertitik tolak dari konsep, teori, dan hukum yang sudah mapan yang mungkin tidak relevan untuk situasi sosial yang khas dari masyarakat yang diteliti dan kurang mementingkan kepentingan praktis.

    ReplyDelete
  51. Lovie Adikayanti
    19709251068
    S2 Pendidikan Matematika D
    Assalamualaikum wr.wb
    Positivisme adalah suatu aliran filasafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika, tidak mengenal adanya spekulasi, semua di dasarkan pada data empiris dalam kajian filsafat, sesungguhnya aliran ini menolak adanya spekulasi teoritis sebagai sarana untuk memperoleh pengetahuan.

    ReplyDelete
  52. Ngaenun Nangim
    19709251058
    S2 Pendidikan Matematika D 2019

    Di era sekarang khususnya, produk dari membangun dunia mendominasi setiap kalangan, baik tua maupun muda, dari setiap tingkatan sosial dari kalangan bawah sampai kalangan atas semua lebih mementingkan produk membangun dunia. Hukum alam tentang adat istiadat sepertinya sudah tidak berlaku secara maksimal bahkan hampir punah. Padahal sejatinya, segala aspek dari dulu sampai sekarang harus saling terikat dalam membangun masa depan yang lebih baik. Positivisme mengajarkan kebenaran logis da nada bukti empiris yang terukur. Keseimbangan dalam memikirkan dunia dan akhirat harus terus disuarakan.

    ReplyDelete
  53. Fitria Restu Astuti
    19709251069
    S-2 Pendidikan Matematika D 2019

    Aliran Positivisme dikemukakan oleh Auguste Compte mempercayai paradigma positivism yaitu dunia dibangun berdasarka hierarki; 1. Metode Positivisme, 2. Filsafat, kemudian baru agama. Hal ini tentu bertentangan dengan cara pandang dunia Timur terutama tanah Jawa yang mengedepankan spiritualisme. Saya sendiri bukan termasuk orang yang mempercayai aliran positivism, naudzubillah tsumma naudzubillah. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang sombong. Jangan sampai kita merasa kita lebih hebat dari Allah Swt. Sesungguhnya pertolongan yang paling utama itu datangnya dari Allah. Kita dapat menciptakan teknologi, itu semua nikmat dari Allah Swt. Sesungguhnya manusia dating ke dunia tanpa membawa apapun, semua yang diterima ataupun dimiliki di dunia ini hanya sekedar titipan. Kita matipun hanya membawa amalan yang kita kerjakan. Bukan harta benda ataupun keluarga. Oleh karena itu, ketika dunia mencapai kejayaan dengan terciptanya teknologi-teknologi yang kita anggap mutakhir itu semua adalah titipan dari Allah Swt.

    ReplyDelete
  54. Wiwin Mistiani
    19701261011
    PEP S3 2019

    Menarik sekali apa yang dikatakan oleh semar dalam percakapan diatas yang mengatakan bahwa Indonesia yang berlandaskan Pancasila, memandang Struktur Dunia itu berhirarkhi darì atas ke bawah: 1. Spiritual, 2. Filsafat, 3. Ilmu Badang, 4. Hukum dan tata cara, 5. Kenyataan. Jadi di Indonesia atau Jawa, Spiritualitas itu mendasari sekaligus menjadi tujuan hidup dan ini tidak sama dengan pendapat compte yang mendahulukan metode positivisme dibanding spiritul. saya kurang setuju jika dengan beragama tidak dapat membangun dunia. karna justru dengan agama kita dapat membagun peradaban yang humanis dan tidak bebas nilai.

    ReplyDelete
  55. Achmad Rante Suparman
    19701261010
    PEP S3 2019


    Assalamualaikum Wr Wb.
    Terima kasih tulisannya Prof.
    Positivisme merupakan suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisik, positivisme menekankan aspek rasionali-ilmiah, karena itulah positivisme mampu mendorong kemajuan disektor fisik dan teknologi, akan tetapi positivisme hanya kan berlaku pada yang terlihat sj.

    Sehingga jika compte menyatakan bahwa "Agama itu tidak logis, maka Agama tidak dapat dipakai untuk membangun Dunia", itu hanya pembangunan fisik dunia, compte melewatkan suatu kebahagiaan yang tidak dapat dilihat dari segi positivisme.

    bahwa inti pembangunana adalah fisik dan rohani

    ReplyDelete
  56. M. Ikhsan Ghozali
    19701261003
    PEP S3 2019

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Terima kasih Prof. atas kisahnya, menggelitik. Jika ditilik dari percakapan di atas, alasan munculnya Positivisme oleh Auguste Comte tak lepas dari kondisi saat itu, di mana dominasi rohaniawan dengan dogma-dogma keagamaan memandulkan pikiran dan akal sehat. Salah satu contoh yang fenomenal adalah apa yang terjadi pada Galileo Galilei. Positivisme seolah menjadi antitesis yang berujud perlawanan atas hal tersebut. Comte menilai bahwa manusia menjadi tidak merdeka karena hak menggunakan akal sehat dan pikirannya dikendalikan oleh sekelompok rohaniawan yang mengatasnamakan agama. Apa yang ditegaskan oleh Comte, apalagi ia meletakkan spiritualitas/agama di bagian paling bawah, tentunya memunculkan pro dan kontra, mulai saat itu hingga sekarang. Kita pun tentunya akan ikut menolak bahkan mencela apa yang "diajarkan" oleh Comte. Namun, apabila melihat kondisi kekinian, hal tersebut seolah menjadi peringatan bagi manusia sekarang, utamanya di Indonesia, yang menjadikan spiritualitas sebagai bentuk pengabdian dan tujuan hidup. Bagaimana tidak, sebagaimana yang Prof. Marsigit tulis di atas, ternyata ketaatan spiritualitas manusia seringnya dikalahkan oleh rasionalitas-ilmiah dan kesenangan duniawi yang bersifat fisik dan psikis semata. Sesungguhnya, kekhawatiran Comte tersebut telah terbantahkan dengan banyaknya ilmuwan yang tidak intelek tapi juga religius. Artinya, spiritualitas tidak menghilangkan rasionalitas-ilmiah seseorang, melainkan menjadi energi yang potensial sebab akal hanya memiliki batasan jangkauan yang hanya bisa dijangkau oleh spitualitas.
    Demikian dan terima kasih.
    Wassalamu'alaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  57. Dea Armelia
    19709251072
    S2 Pend. Matematika D 2019
    Yang menarik di sini, jawaban dari Comte yang mana untuk membangun Dunia kita perlu merubah paradigma (Paradigma Positive) yaitu: 1. Metode Positive, 2. Filsafat, 3. baru Agama
    Disini saya menyimpulkan konsep Positivisme yang dibangun Comte yaitu Positivisme tidak hanya menggunakan metode rasionalisme saja atau empirisme saja, tetapi menggabungkan keduanya dengan cara melihat gejala yang fakta dan nampa. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Metode ini diarahkan pada fakta-fakta, diarahkan pada perbaikan terus menerus dari syarat-syarat hidup, berusaha ke arah kepastian dan ke arah kecermatan.

    ReplyDelete
  58. Heriansyah
    19701261017
    PEP S3 2019

    Tulisan reflektif, autokritik sekaligus kaya wawasan. Menurut Comte, pandangan hidup yang awalnya didasarkan pada dogma agama, sekarang beralih digantikan ilmu pengetahuan positif. Pada tahap ini, Comte menafikan segala sesuatu yang non-inderawi. Ia mengakui bahwa cara pandang itu sebangun dengan para pendahulunya. Comte menganggap bahwa pengetahuan yang tidak berdasarkan fakta-fakta positif dan pendekatan yang dilakukan tidak dengan metode ilmu pengetahuan, itu fantasi atau spekulasi liar. Jenis pengetahuan spekulasi atau fantasi liar inilah yang disebutnya teologi dan metafisika. Comte hanya menerima fakta-fakta yang dikemukakan secara positif ilmiah dan menjauhkan diri dari semua pertanyaan-pertanyaan yang mengatasi bidang ilmu-ilmu positif. Sebagai orang Islam tentu kita tidak sependapat dengan Comte. Persepktif Islam memandang realitas tidak cukup hanya dengan fakta-fakta saja melainkan ada yang lebih dari fakta-fakta tersebut yang tidak dapat difikirkan oleh akal dan indera manusia saja. Itulah teori Islamnya, hanya saja faktanya kita sebagai umat Islam justru ikut-ikutan berpikir atau ikut arus positivisme sebagaimana diceritakan pada tulisan Prof Marsigit di atas. Terima kasih Prof..

    ReplyDelete
  59. Vera Yuli Erviana
    NIM 19706261005
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Positivesme merupakan ajaran yang memandang bahwa landasan untuk membangun dunia tidak menggunakan agama, namun sejatinya semua hal dalam kehidupan kita berkaitan erat dengan agama. Segala hal sudah ada di dalam agama, mulai dari kita bangun tidur hingga tidur lagi semua sudah di atur dengan baik dan sempurna oleh agama.
    Kalimat
    “*Compte*:
    Apakah ada orang Indonesia yang lupa beribadah, dikarenakan dolanan HP?”
    Menggelitik diri saya, banyak orang yang mulai terlena akan kecanggihan teknologi. Ketika sudah waktunya sholat, mereka masih terlena akan dunia dan teknologi. Padahal teknologi ada berkat ilmu yang diturunkan Allah kepada hambanya.

    ReplyDelete
  60. Duden Saepuzaman
    NIM. 19701261008
    S3 PEP 2019
    Membaca tulisan ini saya menjadi teringat di kelas kita diminta beristigfar tiga kali oleh prof, terkait paradigma positivisme yang menempatkan agama diurutan ke 3 setelah metode positivisme dan filsafat dalam mebangun Dunia. Padahal landasan negara kita, Pancasila menempatkan Agaman( ranah spritual) di urutan pertama ( Sila ke satu ) .
    Tuisan ini benar-benar banyak menambah perspetif kita...Terima kasih prof

    ReplyDelete
  61. Memang benar semakin banyak manusia yang dikuasai teknologi. Seharusnya manusia yang menguasai teknologi. Banyak anak remaja sekarang yang dikuasai teknologi, misalnya mereka main game saat pelajaran di kelas. Fenomema ini cukup sering dijumpai di puluhan sekolah yang pernah saya kunjungi baik secara langsung maupun dari pernyataan guru di sekolah bersangkutan. Mereka yang dikuasai teknologi (smartphone), tidak menempatkan teknologi tersebut sesuai ruang dan waktunya. Semoga di masa yang akan datang permasalahan ini bisa segera teratasi dengan berbagai inovasi yang tepat dan teknologi bisa dimanfaatkan sesuai ruang dan waktunya.

    Ikhsanudin (PEP-S3/19701261001)

    ReplyDelete
  62. Alfiana Dewi
    19701251005
    S2 PEP A 2019

    Positivism adalah suatu aliran filsafat yang menolak aktivitas metafisik. Positive adalah nyata dan bukan nyata. Positivisme mengutamakan pengetahuan berdasarkan pengalaman yang mengandalkan pada fakta-fakta yang ada. karena pandangan dunia yang dianut positivism adalah pandangan dunia objektif berdasar ilmu yang pasti. Sebagai contoh saat membicarakan mengenai agama maka yang akan terpatri pada diri seseorang adalah suatu keyakinan terhadap hal hal yang mutlak pada ajaran agama tersebut. Dalam aspek agama tidak semuanya dianalogikan ke logika, karena ada keterbatasan kita sebagai manusia untuk melogikan tersebut.
    dalam pekembangan membangun dunia, maka agama tidak pernah bisa dipisahkan atas urusan dunia dan agama, karena agama hal yang paling mendasar yang harus dimiliki manusia. Agama adalah pedoman untuk manusia yang paling utama agar manusia tersebut memiliki arah dan tujuan yang lurus.

    ReplyDelete
  63. Muh. Asriadi AM
    19701251008
    S2 PEP A 2019
    Pada tulisan ini saya memahami bahwa Positivisme mengajarkan kebenaran yang logis, ada bukti empiris yang terukur. Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme hanya berlandaskan logika..ini sangat membahayakan dan menyesatkan..nilai kebaikan tidak akan terdifinisikan dengan jelas..spiritual, agama adalah alat mendifinisikan nilai kebaikan. Teori Positivisme ini akan tentu kita tahu adalah teori yang bertentangan dengan Indonesia. Indonesia menempatkan Agama pada posisi paling atas sehingga menjadikan patokan untuk melakukan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. namun, disadari atau tidak terkadang manusia secara tidak sadar mengikuti teori Comte yang tidak mendahulukan agama. Dari hal tersebut sehingga dibutuhkan keseimbangan antara kegiatan berhubungan dengan Agama dan juga dalam masalah dunia

    ReplyDelete
  64. Puguh Ardianto Iskandar
    19706261002
    S3 Pendidikan Dasar 2019

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pandangan Aguste Compte mengingatkan kita bahwa manusia harus mampu berpikir logis. Bisa membedakan mana kewajiban yang harus dipenuhi. Buku Aguste Compte yang berjudul Positivisme juga bisa menjadi dasar agar manusia ingat bahwa agama harus menjadi pedoman untuk mencapai kehidupan dunia dan akhirat yang hakiki. Dicontohkan bahwa sekarang banyak orang lupa terhadap agama, yakni dengan menggunakan teknologi (hasil membangun dunia) yang melupan kewajiban sebagai orang beragama.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete