Sep 25, 2017

MENYOAL LARANGAN MEMBERI PR MATEMATIKA

Oleh: Marsigit UNY
23 September 2017


Saya mencoba berpikir positif dari himbauan P Menteri agar siswa jangan diberi PR Matematika.

Kita juga tidak dapat membayangkan jika semua Mapel masing masing memberi PR kepada siswa, maka bagaimana siswa mampu mengerjakan dirumah.

Sedangkan dirumah sebetulnya para siswa masih memerlukan kegiatan lain seperti bermain, bersosialisasi, dan mengaji misalnya.

Namun himbauan tidak memberi PR Matematika menurut saya sebetulnya perlu didudukkan secara lebih utuh dan komprehensif disertai pemenuhan standard pendidikan yang lain.

Untuk itu himbauan tidak memberi PR Matematika perlu didukung justifikasi akademik yang lebih kokoh dari sisi keilmuan pembelajaran matematika dan mapel yang lain.

Penguatan Pendidikan Karakter  (PPK) yang dicanangkan Pemerintah, bagaimanapun perlu kita dukung. Dan secara ontologis PPK juga sebetulnya dapat digali dari aspek pembelajaran matematika, jika pembelajaran matematika sudah bersifat inovatif dan progresif.

School Based Management sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan sebagai metode. Menurut saya itu adalah kerangka pendekatan managemen sekolah yang memungkinkan setiap mapel memperbaiki dan mengembangkan metodenya masing masing.

Perlu diingat bahwa ekosistem sekolah yang diharapkan juga termasuk kebijakan pemerintah baik jangka pendek, menengah maupun ujian, termasuk sistem ujian.

Persoalan utama yang selalu dihadapi guru dari tahun ke tahun adalah antara satu sisi beban menyelesaikan silabus dengan SK KD nya dan disisi lain memfasilitasi agar siswa mampu memahami, mengerti, trampil mengerjakan matematika untuk semua topik.

Dilema di atas tidak hanya dialami oleh guru, tetapi dirasakan juga oleh siswa, Kepala Sekolah, masyarakat dan orang tua.

Suatu saat terkadang guru terdorong untuk mencari solusi tepat dan cepat, maka memberi PR dirasakan bisa sebagai solusi mengatasi itu.

Solusi lain yang dilakukan guru dan juga disukai murid serta direstui Kepala Sekolah adalah mengubah metode pembelajaran hakiki matematika menjadi berorientasi pada ujian, yaitu UN, yaitu dengan cara lebih suka mengerjakan sebanyak banyaknya latihan soal. Saking terbebani pencapaian prestasi UN sampai sampai ada Kepala Sekolah yang melarang guru mengikuti penataran inovasi pbm. Menurutnya itu tidak akan banyak manfaat jika tidak berkontribusi langsung pada pencapaian UN. Katanya: "tak usah muluk muluk cari metode mengajar, yang penting UN lulus semua dan the best".

Saya katakan metode itu bukan metode hakiki karena hal tersebut juga dilakukan oleh Bimbel Bimbel dengan hanya berorientasi mencari cara singkat atau cara mujarab menemukan jawaban matematika. Jadi apalah bedanya sekolah dengan Bimbel?

Padahal hal demikian secara ontologis bertentangan dengan hakekat belajar matematika dan kurang menunjang pencapaian PPK.

Mengapa? Sebab sama seperti mapel mapel yang lain, semua mapel di tingkatan rendah (SD dan SMP) terikat psikologi belajar anak anak yang berbeda dengan psikologi belajar orang dewasa.

Lebih dari itu secara hakiki terdapat perbedaan berbagai paradigma pendidikan untuk SD, SMP di satu sisi dan SMA/SMK dan Universitas/orang dewasa di sisi lain.

Perbedaan paradigma pendidikan meliputi: paradigma keilmuan, paradigma tujuan, paradigma belajar, paradigma mengajar, paradigma menilai, paradigma sumber belajar.

Untuk anak kecil, paradigma keilmuan berbeda dengan orang dewasa. Bagi anak kecil, tiadalah bagi dia itu ilmu seperti ilmunya orang dewasa.

Jika bagi orang dewasa, matematika adalah ilmu, yaitu ilmu tentang struktur logika, struktur kebenaran, body of knowledge, dst. Maka definisi itu tidak berlaku untuk anak kecil.

Bagi anak kecil semua ilmu apapun Mapelnya, didefinisikan sebagai AKTIVITAS atau KEGIATAN.

Hakikat Matematika untuk anak kecil (SD dan SMP) adalah KEGIATAN:
1. Mencari pola atau hubungan.
2. Memecahkan masalah.
3. Meneliti fenomena matematika dari alam sekitar.
4. Berkomunikasi matematika dengan sesama atau guru.

Bagi anak kecil (SD dan SMP), IPA
adalah kegiatan menyelidiki fenomena alam.

Bagi anak kecil (SD dan SMP), IPS adalah kegiatan menyelidiki dan mengkonstruk fenomena sosial.

Demikian seterusnya.

Yang terjadi selama ini adalah bahwa pembelajaran di sekolah berorientasi pada buku teks, dan didalam buku teks itu isinya adalah paradigma keilmuan orang dewasa. Apa yang terjadi?

Yang terjadi adalah bahwa pendidikan generasi kita selama ini menggunakan paradigma keilmuan orang dewasa, dimana fungsi pendidikan dimaksudkan untuk menstransfer segala ilmunya orang dewasa beserta kepentingannya.

Jadi sistem pendidikan yang selama ini kita jalani yaitu sistem pendidikan bagi kepentingan dan  kependingan orang tua, di mana anak didik berkedudukan absolutely sebagai objek pelengkap penderita.

Jika paradigma bisa diubah yaitu dilaksanakannya paradigma AKTIVITAS bagi anak kecil, dengan sendirinya itu sudah merupakan PROSES yang sudah terjadi di sekolah. Artinya tidak perlu PR Matematika.

Di sini pulang kepada Pemerintah cq Kemendikbud, seberapa jauh berkomitmen utuh dan komprehensif tidak parsial dalam mengembangkan pendidikan sekolah?

Sistem Ujian Nasional adalah sumber segala sumber persoalan itu semua. Jika pemerintah tidak mampu moratorium sistem ujian nasional, selamanya praktek kependidikan akan begini terus dan selalu menghasilkan ambivalensi, yaitu berharap hasil pendidikan yang baik tetapi tidak disertai komitmen untuk mencapainya.

Keinginan atau kebijakan apapun adalah selalu lebih tinggi dan selalu menang dari ilmu segala ilmu. Tiadalah manfaat segala teori dan ilmu mendidik yang sophisticated dari Jepang, Finlandia maupun Australia jika Pemerintah belum berkomitmen untuk itu.

Segala macam inovasi apapun bentuknya harus diinisiasi dari atas atau dari Pemerintah. Jika inisiasi dari bawah maka akan melahirkan anarkhisme.

Memang kita juga menyadari kesulitan Pemerintah karena mempunyai agenda ganti policy lima tahunan.

Namun perlu diingat bahwa pendidikan berdimensi jangka pendek (short term), medium term dan long term.

Seyogyanya pemerintah mampu meminimalisir faktor ego sektoral dan memanfaatkan hasil riset dalam penentuan kebijakan.

Jadi menurut saya larangan memberi PR Matematika bertujuan baik tetapi tidak mampu menyelesaikan solusi hakiki pendidikan nasional, karena bersifat parsial, tidak matang dan tidak mempunyai landasan justifikasi keilmuan yang kuat.

Pesan saya kepada para guru, hendaklah selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuan secara bersama misalnya melalui lesson study.

Jadilah guru yang bijaksana, di satu sisi mampu memenuhi harapan pemerintah, tetapi di disi lain mampu menjadi pelindung murid muridnya. Di sekolah hanyalah guru satu satunya yang mampu melindungi hidup belajar para siswanya. Jika tiadalah guru mampu melindungi dan mengayomi kebutuhan para siswanya, maka dunia siswa akan berantakan akibatnya mereka akan kehilangan intuisi, kehilangan empati, kehilangan orientasi. Hasilnya jelas kenakalan remaja, tawuran, narkotika, dst.

Pesan saya juga, pelajarilah paradigma paradigma yang sesuai dengan anak kecil. Misal paradigma itu:
1. Belajar adalah membangun atau menemukan.
2. Siswa adalah subjek atau pelaku pendidikan.
3. Guru adalah fasilitator.
4. Mengajar adalah memfasilitasi siswa agar siswa mampu belajar.
5. Sumber belajar adalah semua lingkungan fisik dan hidup siswa.
Dst.

Seorang guru yang tidak bijak maka dia terkena label bisa mendholimi generasi muda. Jangan dikira, guru pun bisa kena label kenakalan orang tua, jika pada akhirnya mendidiknya menyebabkan kenakalan generasi muda.

Demikianlah tanggapan saya perihal larangan memberi PR Matematika.

Selamat berkarya dan berjuang demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Hidup pendidikan Indonesia. Hidup generasi muda bangsa. Hidup NKRI.

SALAM

141 comments:

  1. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum wr.wb.
    dan Selamat Malam

    Pemberian PR Matematika kepada siswa memberi dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah PR dapat menjadi sarana latihan bagi siswa karena dengan mengerjakan PR siswa akan berlatih dan mengulang kembali pelajaran yang telah diberikan sekolah sehingga akan meningkatkan pemahaman dan penguasaan materinya. Pemberian PR matematika juga dapat menjadi alat pemacu agar siswa mau belajar karena siswa-siswa yang mempunyai motivasi belajar yang rendah cenderung tidak akan belajar dirumah jika tidak ada PR. Namun selain dampak positif pemberian PR matematika juga memberikan dampak negative, misalnya jika PR terlalu banyak, hal itu malah akan menjadi beban bagi siswa dan akan membuat siswa menjadi takut dan malas terhadap matematika.

    ReplyDelete
  2. Menurut saya pemberian PR matematika masih diperlukan karena dengan pembelajaran saat ini belajar tidak hanya cukup di sekolah saja dan PR dapat menjadi alat belajar serta latihan bagi siswa untuk menerapkan apa yang telah dipelajari di sekolah sehingga ilmu yang di dapatkannya akan lebih melekat pada otaknya. Akan tetapi sebaiknya PR matematika yang diberikan jangan terlalu banyak dan juga sebaiknya PR matematika itu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari sehingga akan membuat siswa tertarik untuk mengerjakannya. Sekian pendapat saya, mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan, dan terima kasih.

    Selamat malam. dan
    Wassalamualaikum, wr.wb

    ReplyDelete
  3. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Menurut saya, pemberian PR tidak hanya berlaku pada mata pelajaran matematika saja. Ini tentunya dapat disertakan dengan temuan-temuan ilmiah untuk mengarahkan pada penetapan kebijakan yang diinginkan. Untuk tingkat sekolah dasar, adanya tugas-tugas sekolah mampu melatih tanggungjawab pada diri anak. Hal ini dikarenakan pada masa sekolah dasar mereka dapat melakukan aktivitas apa saja. Kemampuan spesifik juga akan mudah tergali dan terarah pada masa perkembangan usia sekolah (berada pada sekolah dasar). Pemberian PR dapat melihat sejauhmana pehamanan siswa dengan materi yang diajarkan namun disesuaikan dengan kemampuan yang ada pada masing-masing anak. Kemudian, bobot dari PR juga dapat dipertimbangkan kembali bagi pengajar. Saya juga sependapat dengan statement ini "Semua mapel bagi anak-anak adalah kegiatan". Perlu ditekankan pula para pengajar diharapkan dapat membuat kegiatan yang dapat membuat anak merasa senang saat belajar. Ketika anak senang maka pelajaran apapun yang diberi mereka akan mudah memahaminya. Bahkan mendorong dirinya sendiri untuk mampu menguasai materi setiap pelajaran.

    ReplyDelete
  4. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Sebagai seorang guru, saya sepakat dengan pendapat Prof Marsigit dalam tulisan ini. Meskipun belum pernah melakukan penelitian yang ilmiah serius mengenai hal ini, namun pernah beberapa tahun yang lalu saya mencoba membuat pengamatan sederhana mengenai kesulitan anak dalam belajar matematika di SD. Sekolah tempat saya mengajar ini termasuk sekolah yang tidak banyak memberikan PR (bukan sama sekali tidak memberikan PR) dalam subjek apapun, termasuk matematika.
    Pengamatan ini saya lakukan untuk anak-anak kelas 6 yang kesulitan dalam mengerjakan soal latihan UN. Ketika ditanyakan konsepnya, sebagian besar anak sudah memahami konsep. Persoalannya ternyata ada pada kurang berlatih. Anak-anak kurang banyak berlatih berhitung dasar, sehingga perlu waktu lebih lama untuk mengerjakan soal-soal tersebut. Anak-anak kurang dapat memahami soal cerita karena mereka kurang banyak berlatih membaca narasi yang sangat membantu memahami alur persoalan.
    Nah, latihan ini letaknya di mana? Jam sekolah saja tidak cukup untuk latihan. Anak-anak butuh latihan-latihan tambahan di luar itu. Tidak perlu banyak dan jangan sampai sulit di luar kemampuan mereka, tetapi cukuplah saja untuk memastikan anak-anak tetap berlatih dan terbiasa bermatematika.
    Di sekolah sudah terlalu banyak muatan yang harus ‘dikunyah’ anak-anak. Padahal sebenarnya ‘karakter’lah yang menjadi hal utama yang harus dicapai anak-anak SD. Kami menyebutnya sebagai ‘religiusitas’. Sifat dasar nurani yang mengagumi keindahan, kebaikan, kagum akan alam ciptaan, membela yang lemah, menghargai dan menghormati kawan. Belajar semestinya berawal dari sana. Rasa kagum akan memunculkan pertanyaan. Pertanyaan adalah ibu dari segala ilmu. Yang artinya filsafat juga. Maka berfilsafat adalah juga bertanya dan mempertanyakan. Matematika hanyalah salah satunya.
    Betapa indahnya belajar jika sungguh dapat berawal dari kekaguman, dan bukan hanya sekadar demi lulus UN. Maka keseluruhan hidup kita ini adalah belajar.

    ReplyDelete
  5. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menurut saya, PR atau pekerjaan rumah ada dua macam, yaitu (1) pekerjaan rumah yang berhubungan dengan materi namun tidak berhubungan dengan dunia bermain anak atau lingkungan dan, (2) pekerjaan rumah yang berhubungan dengan materi juga dengan dunia bermain anak dan lingkungan. Sikap pemerintah melarang kita memberikan PR kepada siswa menurut saya adalah jenis tuga yang pertama. Karena hal ini memberikan waktu yang sedikit bagi siswa untuk memiliki waktu bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Selain dari guru, orang tua juga harus mulai sadar akan hal itu. Sekarang ini banyak sekali orang tua yang memberikan jam pelajaran tambahan di luar kelas seperti mengikutkan anaknya ke bbimbingan belajar maupun les privat. Hal ini mungkin juga menjadi salah satu alasan pemerintah melarang kita memberikan pekerjaan rumah kepada siswa. Pemerintah mungkin berfikiran bahwa anak tidak akan memiliki waktu untuk bermain karena salah satu alasan tersebut. Jadi, kita sebagai guru seharusnya memaklumi keputusan tersebut dan mulai berfikir keras agar pelajaran di kelas bermakna. Memang benar untuk memberikan pelajaran yang bermakna jauh lebih lama. Hal ini juga menjadi perhatian pemerintah untuk memangkas materi yang cukup banyak sehingga dasar pengetahuan mereka digali sedalam-dalamnya dam memberikan pemahaman siswa untuk jangka panjang tidak hanya berorientasi pada ujian semata.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  6. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Yang kami pahami dari tulisan ini adalah jika ilmu untuk semua mapel diperoleh siswa dengan melakukan kegiatan di Sekolah. Dan pembelajaran menggunakan paradigma yang Bapak sampaikan maka dengan sendirinya pemberian PR dirasa sudah tidak diperlukan. Akan tetapi jika dilihat dengan kondisi kurikulum sekarang, pelarangan pemberian PR sepertinya masih kurang pas.

    ReplyDelete
  7. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya sangat setuju sekali dengan paparan Prof Marsigit. Kebijakan pemerintah pasti memiliki tujuan yang baik, hanya saja mungkin belum matang dan tidak dilandasi dengan keilmuan yang kuat.
    Pemberian PR matematika maupun pelajaran yang lainnya itu penting. Tetapi pemberian PR juga harus sesuai dengan porsinya, tidak terlalu banyak dan juga tidak terlalu sedikit, sehingga tidak menjadi beban bagi siswa dan tidak menyita kegiatan lainnya. Dalam proses pengerjaan PR, peran orang tua sangat dibutuhkan untuk mendampingi. Taraf siswa SD, PR yang tepat adalah sebagai bahan evaluasi dari pembelajaran yang telah dilaksanakan juga berfungsi untuk melatih siswa dalam mengerjakan soal-soal. Untuk memahami pelajaran matematika dibutuhkan latihan-latihan dalam mengerjakan soal, karena jika hanya belajar sekali saja yaitu pada saat di kelas, kemampuan memecahkan masalahnya tidak akan terlatih dengan baik, juga tidak mengenal berbagai macam jenis soal.

    ReplyDelete
  8. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Melalui tulisan ini saya memahami bahwa kondisi pendidikan Indonesia seperti mengalami dilema. Di satu sisi pemerintah mulai melakukan pelarangan pemberian PR kepada siswa mengingat paradigma yang seperti Pak Prof. sampaikan sebelumnya, bahwa bagi anak kecil ilmu itu didefinisikan sebagai suatu aktivitas dan kegiatan. Dimana hal ini berbeda dengan orang dewasa bahwa bagi orang dewasa ilmu adalah suatu struktur logika dan dan kebenaran.
    Dengan melihat paradigma keilmuan bagi anak kecil, wajar jika siswa tidak dibebankan dengan PR yang banyak dari masing-masing mata pelajaran. Ditambah lagi bahwa pada masa inilah siswa masih memerlukan kegiatan lain seperti bersosialisasi, mengenal lingkungan dan sebagainya. Maka sangat tepat jika pemerintah mengambil keputusan untuk melarang pemberian PR kepada siswa.
    Akan tetapi, jika dilihat kondisi kurikulum sekarang, pelarangan pemberian PR bagi siswa rasanya masih belum tepat. Seperti yang Bapak sampaikan pada tulisan diatas bahwa generasi sekarang menggunakan paradigma keilmuan orang dewasa, dimana fungsi pendidikan dimaksudkan untuk mentransfer segala ilmunya orang dewasa berserta kepentingannya.
    Dengan demikian kondisi pendidikan di Indonesia berada dalam kondisi serba salah. Disatu sisi pelarangan pemberian PR kepada siswa bertujuan baik, namun pemerintah masih mengalami kendala pada pelaksanaannya, seperti susunan kurikulum serta pelarangan tersebut belum mempunyai landasan ilmu yang kuat.

    ReplyDelete
  9. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B

    MENYOAL LARANGAN MEMBERI PR MATEMATIKA
    Assalamualaikum wr wb.Banyak guru mulai menggunakan pendekatan standar” pembelajaran yang lebih kooperatif, lebih menekankan pada konsep soal.Perubahan ini sering tidak mendasar dan tidak benar-benar mengubah sikap apa yang siswa kerjakan dan bagaimana mereka berfikir di dalam pelajaran matematika.Banyak kendala yang dihadapi oleh guru, mengenai penyusunan perangkat pembelajaran.Setidaknya, apa yang tercantum di dalam perangkat pembalajaran menjadi acuan buat guru mengajar.Jika kita lihat berkenaan dengan pelajaran matematika,banyak anak-anak yang acuh tak acuh dan mengutarakan ketidaknyamanan tentang pelajaran matematika dengan berbagai asumsi.Katanya pelajaran matematika menakutkan, membosankan dan lain-lain.Tugas seorang guru, bagaimana caranya memudarkan asumsi buruk anak teradap pelajaran ini.Buatlah mereka jatuh cinta terhadap pelajaran matematika.Mungkin adanya PR yang diberikan disertai dengan bimbingan dan arahan seorang guru bisa dapat sedikit memahami tentang matematika.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  10. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Terkait dengan penyelenggaraan Ujian Nasional yang menjadi perhatian penting di lingkungan sekolah. Ada di sekolah tertentu yang menerapkan pembelajaran selama 1 tahun di kelas 6 langsung dengan menggunakan drill soal UN tanpa memberikan materi pembelajaran secara terstruktur. Menurut saya hal tersebut dilakukan karena tuntutan agar siswanya memperoleh nilai UN yang baik sehingga mengabaikan hakekat pembelajaran yang sebenarnya.
    Di sisi lain ada siswa yang merasa tertekan dengan penerapan tersebut, menurut pengakuan, mereka merasa bosan harus menghadapi soal terus menerus. Realita tersebut hendaknya menjadi perhatian.

    ReplyDelete
  11. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    PR atau kependekan dari Pekerjaan Rumah masih relevan untuk diberikan pada siswa. PR matematika akan menilai kemampuan siswa apabila ia melakukannya secara mandiri di rumah tanpa bantuan guru. PR akan membuat siswa tidak lupa akan materi-materi yang dipelajari di sekolah pada hari-hari sebelumnya. PR dapat dikerjakan oleh siswa dengan suasana lebih santai, tidak terikat seperti di sekolah. Siswa dapat mengerjakan PR di rumah sambil makan, sambil berbincang-bincang, sambil nonton TV, sambil diskusi dengan orang tua, bahkan dapat dikerjakan bersama-sama guru privatnya jika ia ikut les di luar sekolah. Tetapi hendaknya guru memberikan PR sesuai dengan porsinya, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit

    ReplyDelete
  12. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Setiap kebijakan pemerintah selalui menuai pro dan kontra. Tak terkecuali dengan dukungan pemerintah pusat terhadap kebijakan pemerintah kabupaten Purwakarta ini yaitu tentang guru tidak boelh memberikan pr akademis untuk siswanya. Pemerintah Purwakarta tersebut melarang sekolah memberikan PR akademis kepada siswa mulai jenjang SD sampai SMA. Alih alih memberikan PR academis, guru diminta untuk memberikan PR berupa terapan ilmu yaitu penerapan dari pelajaran yang telah dipeoleh di sekolah untuk mendorong kreatifitas siswa.

    ReplyDelete
  13. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismilah
    Terkait dengan larangan pemberian pr di sekolah yang dilakukan oleh pemerintah kepada sekolah memang seperti berita negative yang terdengar ditelinga. Jika tidak menelaah secara lebih mendalam maksud dari kebijakan tersebut, maka akan terkesan bahwa kebijakan tersebut merupakan kebijakan yang melarang pemberian PR dengan bentuk apapun. Padahal larangan yang disampaikan oleh pemerintah adalah pr yang bersifat akademik, yang mana siswa harus memperlajari konsep ilmu dengan sendiri yang mana seharusnya dilakukan disekolah. Pemerintah menghimbau guru untuk memberikan PR yang berupa terapan ilmu, yaitu penerapan dari pelajaran yang telah diperoleh siswa untuk mendorong kreatifitas siswa. Misalkan jika dalam matematika adalah guru memberikan siswa berupa soal cerita yang berikan dengan kehidupan sehari hari sehingga siswa dapat mengaplikasikan konsep ilmu yang telah didapatkan di sekolah.

    ReplyDelete
  14. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya, Prof. Memang benar bahwa ketika nak pulang sekolah adalah waktu mereka untuk bercengkerama dengan keluarga serta bersosialisai dengan teman sebaya mereka, sehingga inilah mungkin yang menjadi dasar ditetapkannya kebijakan penghapusan karakter matematika. Namun menurut saya pemberian PR matematika atau tidak bukanlah isu utama pengajaran matematika di Indonesia, melainkan bagaimana guru dapat memenuhi target materi yang harus diajarkan dalam waktu yang telah ditentukan namun tetap dipahami oleh siswa.

    ReplyDelete
  15. Yolpin Durahim
    17709251029
    Pps. P. Mat B 2017

    Bagian ini cukup menarik untuk saya:

    Menyoal larangan PR matematika siswa ini perlu dikaji lebih dalam baik oleh satuan pendidikan guru, pemerintah dan orang tua. Ada pengaruh positif dan negatif serta perlu penanganan secara bijak. PR adalah sarana latihan bukan hanya secara intelektual tapi menuntut kemandirian dan rasa tanggungjawab siswa.
    Secara intelektual, siswa memang mendapatkan pengetahuan tambahan dengan berpikir lebih konstruktif diluar daripada materi yang mereka dapatkan dari gurunya di kelas. Mereka akan mencari dan membangun pola pikir untuk menemukan sendiri konsep-konsep yang lebih banyak lagi (SMA). Untuk anak SD dan SMP, PR bisa menjadi aktivitas yang akan menjadi pola-pola kebiasaan untuk mengantarkan mereka pada jenjang berikutnya. Secara kontekstual, banyak guru kesulitan untuk menjelaskan secara lebih detail semua konsep matematika karena tersedianya jam mengajar di sekolah belum sebanding dengan beban materi yang menjadi tuntutan kurikulum. Belum lagi standar ujian nasional dari waktu ke waktu yang semakin tinggi dijadikan ukuran keberhasilan siswa, guru dan sekolah. Beban ini semakin memberatkan. Bahkan hal inilah yang membuat orang tua berlomba-lomba memberikan les tambahan untuk anak meski harus membayar lembaga dengan biaya yang tentunya tak murah. Maka PR dibutuhkan untuk menjawab permasalahan guru dan siswa serta memenuhi tuntutan pemerintah untuk memenuhi standar pendidikan yang ditetapkan.
    Hanya saja permasalahannya terletak pada beban yang ditanggung siswa. Selain itu, kemandirian dan rasa tanggungjawab yang sebenarnya sudahkah sesuai dengan apa yang diharapkan?
    Beban itu berupa kondisi psikologis anak yang harus mengerjakan tumpukan tugas dari semua mata pelajaran yang jumlahnya tidak sedikit setiap semester. Belum lagi program full day school yang membuat anak kehabisan energi di sekolah bahkan harus menambah jam belajar di tempat bimbingan belajar. Otak dan fisik anak seperti terkuras habis, ditambah beban psikologisnya semakin memperburuk kondisi. Hal ini bisa sedikit diupayakan dengan adanya koordinasi di antara para guru untuk tidak memberikan tugas secara serentak. Namun itu sejatinya belum cukup jika tanpa perhatian yang besar antara pemerintah, guru dan orang tua.
    Terkait kemandirian dan rasa tanggungjawab, ini merupakan bagian dari penguatan karakter. Akan tetapi tanpa pengawasan yang tinggi, hal ini kebanyakan justru lepas dari tujuan murni sebenarnya. Indikator kematangan emosional mereka diantaranya dilihat dari apakah anak memiliki rasa tanggungjawab atau tidak. Namun dalam implementasinya, banyak kasus-kasus anak yang ketika diberikan tugas tapi tidak mengerjakan. Menyontek tugas dari teman. Bahkan ada yang tugasnya dilimpahkan kepada ayah, ibu, atau saudaranya di rumah. Dalam kasus ini cukup berbeda, keluarga membimbing anak mengerjakan tugas dengan melibatkan secara langsung dalam setiap proses pengerjaan tugas, namun ada yang dengan dalil ‘Kasih Sayang’ mengerjakan tugas anak tanpa dibimbing. Dan pemberian PR seperti ini yang dikhawatirkan pemerintah, tidak adanya pengawasan yang cukup ketat dari para guru sehingga berimplikasi pada minimnya makna dari pemberian PR sebenarnya. Akibatnya pemerintah berpikir tugas sebaiknya dituntaskan saat berada di kelas formal. Dan anak lebih dikuatkan pada tugas-tugas sosial di luar sekolah dalam membangun dan menguatkan karakter.
    Terakhir saya tidak mampu mengatakan pemerintah benar atau salah, sebab pendidikan kita masih harus berbenah lebih baik lagi ke depannya dengan pertimbangan berbagai aspek yang butuh kajian lebih dalam.

    ReplyDelete
  16. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Assalamualaikum wr. wb.
    Terimakasih prof. Marsigit atas tulisan di atas. Membicarakan pemberian Pekerjaan Rumah (PR) merupakan hal yang tidak asing dan sangatlah wajar. Namun sebagian guru tidak menyadari bahwa terkadang siswa juga terbebani dengan adanya pekerjaan yang ia bawa ke rumah. Bayangkan saja, sudah berjam-jam mereka belajar disekolah, menerima berbagai materi dari beberapa mata pelajaran, masih juga diberikan beban kerja di rumah. Padahal siswa juga memiliki peran dan tanggung jawab di rumah sebagai anak. Menurut saya, tidak semua mata pelajaran dan tidak semua materi mampu dijadikan pekerjaan rumah. Kemudian yang terjadi adalah siswa menjadi malas mengerjakannya, ia akan mengerjakan sesaat akan dikumpulkan, atau pagi harinya di sekolah dengan mencontek milik teman, bahkan terkadang ibu, ayah, atau saudaranya yang mengerjakannya saat di rumah. Sungguh ironis siswa jaman sekarang. Namun jika objek pembicaraan kita adalah mapel matematika, kembali lagi bahwa guru harus memperhatikan materi dan kompetensi apa yang harus dikuasai oleh siswa. Pun kalau pemberian PR matematika ini dilarang, juga tidak mungkin karena notabene untuk menguasai matematika siswa memang dianjurkan untuk banyak berlatih soal. Guru hendaknya mampu menentukan poin-poin atau sub bab manakah yang bisa dikerjakan siswa dirumah dengan memperkirakan kemampuan siswa dalam mengatur dan membagi waktu serta beban pikiran. Selain itu guru juga sebaiknya memperhatikan faktor yang mempengaruhi, sebab dan akibat yang akan terjadi setelahnya agar proses pembelajaran matematika dapat dianggap berhasil yakni ketika siswa mencapai kompetensi yang diharapkan dan prestasi mereka mengalami peningkatan.
    Wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  17. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Berbicara tentang masalah pendidikan nasional adalah salah satu permasalahan di negeri ini yang tidak akan ada pernah habis dan tidak pernah berujung, kenapa karena pendidikan memiliki aspek yang disebut selalu dinamis dengan berkembangnya zaman. Menurut saya Home work (PR) memiliki dampak positif dan negatif bagi siswa. Dampak postifnya adalah siswa secara tidak langsung diberi pengayaan dengan catatan guru juga harus memperhatikan psikologis siswa ketika ingin memberikan tugas tambahan untuk dibawa pulang dalam hal ini adalah PR, dan jumlah PR juga jangan terlalu banyak mungkin cukup 1 atau 2 soal dan usahakan jangan memberikan PR setiap akhir pembelajaran matematika karena siswa juga mempunyai kapasitas, tingkat kejenuhan, dan rasa ingin bersosialisasi dalam menikmati hidupnya dalam dunia anak-anak diluar jam pembelajaran disekolah. Sedangkan dampak negatifnya yaitu siswa akan merasa terdikte bahkan akan menimbulkan rasa jenuh, jengkel, bahkan benci tidak hanya pada pelajaran matematika tetapi juga terhadap guru matematikanya. Karena merasa waktunya hanya diisi oleh belajar dan belajar yang tidak hanya dilakoninya dalam dunia sekolah tetapi juga dunia setelah pulang sekolah yaitu di rumah.

    ReplyDelete
  18. INDAH PURNAMA SARI
    17701251035
    PEP B 2017

    saya sangat setuju dengan bapak mengenai perihal pr matematika ini pak.
    saya pribadi selalu kwalahan mencari cara bagaimana anak-anak mau mengulang kembali apa yang sudah dipelajari disekolah. bagi sebagian siswa matematika adalah momok yang menakutkan yang dapat membuat pusing tujuh keliling jadi seringkali diabaikan dalam pengulangan pembelajaran dirumah. pr lah satu-satu nya cara agar mereka dapat mengingat kembali apa yang telah dipelajari disekolah.
    memang anak-anak tidak bisa terlalu dipaksa, mereka juga harus menikmati masa remaja mereka mungkin dengan mengikuti organisasi didesanya dsb. namun disatu sisi guru-guru dipaksa untuk mengejar materi dengan silabus yang ada. jadi disini terjadi bentrokan antara memberikan kebebasan dengan beban kerja yang dipikul.
    saran saya mungkin pemerintah jangan melarang sepenuhnya guru dalam memberikan tugas pada siswa namun bisa diganti dengan diijinkan namun tidak boleh terlalu berlebihan semisal harus mengerjakan 100 soal dalam 2hari ataupun tindakan pemaksaan yang lain.
    Allahu'alam..

    ReplyDelete
  19. I Nyoman Indhi Wiradika
    17701251023
    S2 PEP Kelas B 2017

    Bagi saya, pemberian PR merupakan salah satu upaya guru untuk merespon cara belajar anak yang berbeda. Kita patut akui bahwa setiap anak memiliki kemampuan hingga cara belajar yang unik. Bagi saya, terkait PR baiknya menjadi otoritas guru yang lebih memahami karakteristik siswa di kelasnya. Saya rasa, kurang bijak jika wacana pemberian PR diputuskan oleh Mendikbud, apalagi jika dilandasi alasan pragmatis. Justru lebih bijak jika guru diberi ruang lebih untuk menghasilkan riset tentang pembelajaran di kelasnya masing-masing dan diberikan pelatihan tentang metode pembelajaran yang menjadi kebutuhan peradaban kini. Bagi saya kebijakan yang diperlukan oleh Mendikbud saat ini bukanlah aturan mikro seperti ruang kelas, melainkan pembenahan yang dimulai dari hal makro, yaitu kebijakan tentang manajemen tubuh birokrasi Mendikbud hingga upaya pengembangan kualitas pendidik.

    ReplyDelete
  20. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Larangan memberi PR Matematika menurut pandangan saya ada sisi positif dan ada sisi negatif. Dari sisi negatif, siswa tidak memiliki waktu yang lebih untuk bermain, bersosialisasi ketika sudah pulang. Tetpai dilihat dari sisi positif, PR dapat memberikan dampak yang besar bagi anak ketika di keluarga. Karena dengan adanya PR, maka timbullah sosialisasi anak antar orang tua, kakak dengan adiknya. Tidak selalu PR itu menjadi beban, karena PR itu nyatanya juga memberikan latihan soal agar anak lebih paham ketika tidak berada di lingkup sekolah. Tetapi konteks PR disini tidak selalu dengan banyaknya soal, tetapi cukup sedikit tetapi siswa dapat mengerjakan dengan mudah. Tidak harus setiap hari guru memberikan PR. Karena tidak semua bab itu sulit bagi siswa selama guru dapat menjelaskan dengan metode yang mudah dipahami.

    ReplyDelete
  21. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Larangan pemberian PR yang dilakukan P Metri pasti memiliki suatu tujuan yang sangat baik. Diantaranya kesempatan bermain dirumah bagi anak, serta kesempatan mengistirahatkan pikiran dari aktifitas belajar yang telah dilakukan disekolah sehingga anak tidak merasa terbebani. Namun dibalik larangan itu semua perlu digaris bawahi bahwa pemberian PR merupakan salah satu alternatif yang dilakukan guru untuk mencapai keterpahaman siswa, mengingat waktu yang tersedia di sekolah belum maksimal, apalagi dengan tuntutan ketercapaian silabus yang harus dicapai oleh guru.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  22. Riandika Ratnasari
    17709251043
    Pascasarjana Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Tujuan dari larang memberikan PR sebenarnya baik yaitu agar siswa dapat bersosialisasi pada lingkungannya. Namun, pada kenyataan jika seorang anak tidak diberikan PR maka dia lupa akan tanggung jawabnya sebagai pelajar yaitu belajar. Mereka akan mengatakan " ngapain belajar, wong ndak ada PR". Jadi bagi mereka kegiatan belajar dilakukan jika diberikan PR oleh guru. Tetapi jika PR yang diberikan terlalu sering dan banyak, maka kemungkin mereka mengerjakan PR sendiri itu sangat kecil. Mereka lebih memilih untuk mencontek temannya atau membagi PR bersama temannya. Jadi menurut saya, pemberian PR itu perlu tetapi harus dibatasi kuantitasnya yang sekiranya akan membuat anak itu belajar dan mengerjakan tugasnya sendiri. Terimakasih Bapak Marsigit atas ilmunya.

    ReplyDelete
  23. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Guru memberikan PR bukan tanpa alasan, entah alasan terkait pencapaian target belajar atau pemenuhan fasilitas bagi siswa yang memang senang mengerjakan soal, ataupun alasan-alasan lainnya. Oleh sebab itu pemberian PR menurut saya memiliki banyak dampak positif, namun terkait anggapan bahwa pemberian PR dapat membuat orientasi siswa dalam belajar hanya mengerjakan soal mungkin bisa ditanggapi dengan variasi PR yang diberikan, PR Matematika yang umumnya menyelesaikan soal-soal sesekali diberi variasi yang berbeda dengan meminta siswa menyelesaikan masalah disekitarnya.

    ReplyDelete
  24. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Memberi PR atau larangan memberikan PR pada akhirnya akan selalu menjadi pro kontra. Semuanya memiliki alasan yang sama-sama logisnya. Dan masing-masing akan kokoh pada pendapatnya. Pun semua memiliki plus minusnya. Hanya saja, masalah utamanya bukan pada boleh atau tidak memberikan PR, karena hal ini hanyalah bagian cabang dari sebuah pohon pendidikan. Pembenahan paling penting adalah pembenahan pada akarnya. Kemanakah arah pendidikan kita yang sebenarnya, dan apakah kita sudah komitmen pada tujuan itu. Misalnya kita mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah menguatkan karakter anak, tapi kenyataannya UN masih menjadi momok. Bila guru berorientasi pada penguatan karakter, namun siswanya tidak lulus UN atau nilai jelek, guru yang akan kena imbasnya. Sekolah bias kehilangan kepercayaan dari orang tua atau masyarakat. Resiko ini tentu menjadi kekhawatiran besar bagi pihak sekolah.
    Jadi kembali lagi, kita kokohkan kemana arah tujuan pendidikan ini. Dan kita harus komitmen terhadap hal tersebut. Komitmen ini harus dimiliki semua pihak, baik pemerintah, sekolah dan masyarakat. Semuanya harus memiliki frame berfikir yang sama. Sehingga tidak ada lagi kekhawatiran-kekhawatiran yang dirasakan oleh pihak sekolah. karena bagaimanapun, permasalahan cabang seperti ini akan selalu muncul, dan hanya pemahaman mengenai arah/tujuan pendidikan lah yang akan menjadi wasit dari perdebatan seperti ini

    ReplyDelete
  25. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya rasa penting PR matematika diberikan untuk siswa karena akan melatih kemampuan siswa agar lebih memahami dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak cukup jika hanya dikerjakan di sekolah karena waktu yang terbatas. Tetapi guru juga harus menakar pr yang akan diberikan agar tidak melampaui batas yang dimiliki siswa dan divariasikan agar siswa tidak merasa jenuh.

    ReplyDelete
  26. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Menyoal larangan memberi PR matematika pastinya pemerintah sudah memilkirkan solusi seperti apa yang akan dijalankan apabila aturan tersebut diterapkan. Kita sebagai warga negara mendukung aturan tersebut diterapkan dengan syarat pemerintah memiliki solusi yang efektif untuk menyelesaikan masalah tersebut.

    ReplyDelete
  27. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Membaca artikel ini mengingatkan saya ketika berbincang-bincang dengan guru-guru yang menjadi pelaku di lapangan. Sama persis seperti yang dituliskan pada artikel ini, guru dituntut untuk mengantarkan siswa didiknya mencapai standar yang diinginkan oleh pemerintah, dalam prakteknya, nilai UN dijadikan sebagai pembanding antar daerah, oleh karena itu dari pemerintah sendiri tentnya akan sangat termotivasi menginginkan daerahnya menjadi unggul dilihat dari segi nilai UN. Turunlah perintah mencapai nilai tinggi ke kepala sekolah dan terakhir gurulah yang harus mengejar target itu karena guru yang berinteraksi langsung dengan siswa. Namun, yang terlihat di lapangan beberapa siswa ternyata tidak mampu untuk mencapai target tersebut. Guru yang paling bingung menyikapi hal tersebut karena dia berada diperbatasan antara mencapai target nilai UN namun di satu sisi dia ingin menjadi pelindung siswanya. Namun apa daya, inisiasi dari lapisan bawah sering menguap tidak berbekas.

    ReplyDelete
  28. Latifah Pertamawati
    S2 PM B
    17709251026

    Bismillaah..
    Saya teringat pada saat saya mengajar di salah satu SD dan SMP Full Day di tempat saya tinggal. Terdapat 2 jenis orang tua, yaitu : orang tua yang mendukung adanya PR dan orang tua yang mendukung ditiadakannya PR. Bagian kurikulum kemudian mengambil jalan tengah dari hal tersebut yaitu, boleh diberikan PR asalkan tidak memberatkan siswa. Memang jalan tengah ini mungkin yang terbaik bagi siswa, tetapi beban berat menghampiri para guru dan sekolah jika siswa mendapatkan nilai yang tidak melampaui kompetensi yang seharusnya. Tidak jarang, pada akhir tahun siswa bersekolah pada suatu jenjang pendidikan (kelas 6 SD, 9 SMP, 12 SMA), terdapat beberapa mata pelajaran yang dipangkas/ ditiadakan untuk memenuhi target nilai kelulusan pada ujian nasional. Jika sudah begini, bagaimana solusi terbaik yang harus kita dilakukan? Seperti saran Pak Marsigit, jadilah pribadi yang bijaksana, jadilah guru yang bijaksana, di satu sisi mampu memenuhi harapan pemerintah, tetapi di disi lain mampu menjadi pelindung murid muridnya.

    ReplyDelete
  29. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Saya sangat setuju dengan pernyataan bapak yang mengatkan bahwa guru dan siswa dibebani begitu banyak hal dalam pendidikan di Indonesia. Selain itu, pergantian menteri yang begitu cepat juga menyebabkan kebijakan pendidikan yang tidak konsisten. Kembali lagi yang dirugikan apada akhirnya adalah siswa dan sekolah. Penerapan full day school dan peniadaan PR sebenarnya dapat menjadi kebijkana yang baik untuk dilkasanakan. Namun tentunya kebijakana ini ini harus matang dan sudah terencana dengan baik.

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Membicarakan sistem pendidikan dan kebijakan pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah menjadi sesuatu yang tidak pernah selesai. Selalu terdapat masalah-masalah baru yang menjadi bahan revisi untuk perbaikan berikutnya. Mengenai larangan memberikan PR matematika menjadi dilema banyak guru. Disamping tujuan pemberian PR agar siswa belajar kembali di rumah, pemberian PR juga melatih siswa untuk terbiasa dalam menyelesaikan masalah-masalah. Dengan larangan memberikan PR Matematika, maka guru dituntut untuk dapat berinovasi dalam pembelajaran agar siswa tetap bisa menambah pemahaman belajar tidak hanya dengan menjawab atau mengerjakan PR. Namun dapat dengan belajar yang berkualitas di dalam kelas.

    ReplyDelete
  31. Devi Nofriyanti
    17709251041
    Pps UNY P.Mat B 2017

    Benar sekali bahwa aapalah gunanya jika diterapkan kebijakan larangan pemberian PR kepada siswa tanpa melihat ada hal lain yang perlu diperbaiki. saya sangat sependapat dengan Bapak, bahwa selama ini siswa terbebani belajar matematika karena buku-buku teks yang sebenarnya berisikan materi orang dewasa, tidak melatih siswa untuk melakukan aktivitas menemukan matematika. banyak siswa yang frustasi, merasa matematika adalah pelajaran yang sulit semua itu karena belum tepatnya cara guru dalam membelajarkan matematika, dan kembali lagi bahwa ini memang PR besar bagi pemerintah untuk membuat kurikulum yang bisa meghandle semua karakter siswa. negara kita membebani siswa dan guru dengan banyaknya materi, danm penilaian ujian nasional. siswa kita bukanlah robot. mereka harus menikmati proses belajar, bukan berusaha mendapat nilai yang besar dengan menghalalkan segala cara. kembali lagi, bahwa kebijakan larangan memberi PR kepada siswa tanpa diiringi evaluasi proses pembelajaran matematika adalah keputusan yang menurut saya tidak tepat.

    ReplyDelete
  32. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika kelas A 2017

    Assalamualaikum wr.wb
    Jujur sebenarnya saya salah satu pribadi yang mendukung adanya peraturan melaranf memberi PR kepada siswa. Saya menghargai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tetapiperlu adanya batasan dalam kebijakan tersebut. Tentunya dengan memberikan PR yang banyak kepada siswa di semua mata pelajaran dapat memberikan beban psikologis terhadap mereka. Selain itu guru juga dibebani dengan administrasi pembelajaran yang harus dipenuhi sehingga terkadang guru luput dari konten dalm PR yang diberikan kepada siswa, sehingga terkadang siswa sulit untuk menyelesaikan PR tersebut.. di sisi lain, dengan adanya PR dapat membantu siswa lebih memahami pelajaran yang diberikan oleh guru. Semua memang punya sisi positif dan negatif, pro dan kontranya. Terlepas dari itu, muncul satu pertanyaan dalam benak saya, mengapa pendidkan di finlandia yang tidak menerapkan sistem PR jauh di atas pendidikan Indonesia?

    ReplyDelete
  33. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Tidak memberi PR matematika kepda siswa pasti banyak menuai pro dan kontra. Tetapi Pemerintah pasti memiliki tujuan yang baik tentang persolan untuk tidak memberikan PR matematika. Akan tetapi, saya kurang setuju jika tidak memberikan PR matematika kepada siswa. Menurut saya, memberi PR matematika kepada siswa adalah satu cara untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai materi matematika yang telah disampaikan disekolah, karena untuk lebih memahami materi mapel matematika siswa harus banyak berlatih dengan mengerjakan soal-soal matematika, terkadang jam disekolah tidak lah cukup untuk mengerjakan banyak soal, sehingga biasanya salah satu strategi guru adalah memberikan PR. PR yang diberikan juga dengan jumlah yang tidak banyak, PR yang diberikan hanya untuk sekedar mengulang kembali materi yang sudah dipelajari disekolah dan untuk memberikan latihan lebih kepada siswa agar siswa lebih memahami materi yang telah diberikan.

    ReplyDelete
  34. Junianto
    17709251065
    PM C

    Larangan memberikan PR kepada anak merupakan permasalahan yang mneurut saya memiliki hubungan dengan sistem pendidikan secara keseluruhan. Jika ditinjau dari sudut pandang siswa maka memberi PR akan membebani siswa sehingga guru dianggap sadis. Guru selalu menjadi ujung tombak kesalahan dalm pembelajaran. Di sisi lain, guru punya beban belajar yang sangat berat. Dengan waktu yang singkat, guru harus mampu menyelesaikan materi yang sangat banyak, membuat siswa paham, dan mampu , menyelesaiakan soal/ permasalahan. Jika dilihat dari sisi ini, maka sebenarnya guru juga dituntut menyelesaikan banyak tugas. Jadi, sebenarnya sistem pendidikan lah yang harus ditinjau ulang. Jangan hanya menyusun kurikulum bagus tanpa melihat kondisi lapangan.

    ReplyDelete
  35. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Sebenarnya, PR diberikan oleh guru sebagai kontrol apakah siswa juga belajar di rumah dan apakah orangtua memiliki ikut membantu proses belajar anaknya. Anak tidak semestinya hanya belajar di sekolah, tapi juga belajar di rumah bersama orangtua. Sekolah bukan tempat penitipan di mana seluruh prestasi anak menjadi tanggung jawab sekolah. Karena pada hakikatnya proses belajar anak adalah tanggungjawab bersama orangtua dan sekolah. Ketika anak tidak diberi PR, akan ada kemungkinan orangtua tak mengontrol dengan baik perkembangan anaknya di sekolah karena bisa saja proses bimbingan belajar yang dilakukan oleh orangtua tidak berjalan dengan baik.
    Menjadi guru memang susah susah gampang. Di satu sisi harus menjalankan kurikulum yang telah ditentukan pemerintah beserta perangkat-perangkat kebijakannya. Kebijakan yang kadang membuat guru geleng-geleng kepala karena penerapannya di lapangan tak semudah yang diharapkan. Di sisi lain guru juga harus menjadi pelindung siswa-siswanya. Guru yang paling mengerti keadaan siswa. Maka menjadi seorang guru harus mampu mengabstraksi kebijakan pemerintah dengan baik untuk diterapkan sesuai dengan keadaan siswanya. Mencari win-win solution di tengah perdebatan yang ada untuk mendukung atau menentang kebijakan atau himbauan.
    Hidup guru Indonesia! Teruslah berjuang demi pendidikan Indonesia yang lebih baik! Karena yang selalu saya yakini: teacher is not a profession, it is a passion.

    ReplyDelete
  36. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Menurut saya PR masih diperlukan untuk menguatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan guru di sekolah. Namun, porsi pemberian PR yang perlu di manajemen, artinya harus ada SOP pemberian PR kepada siswa. Sehingga PR tidak terlalu banyak karena membebani siswa dan mengurangi waktu siswa dalam bermain dan bersosialisasi. Jika mengamati beberapa SMA favorit di Jogja, pelajaran matematika dengan soal-soal tingkat tinggi sering diberikan guru SMA 3 Jogja, bahkan sering juga di beri PR. Tapi saya pernah bertanya kepada siswa, ternyata siswa malah senang dengan adanya PR yang "menantang" itu, karena bisa memunculkan kebanggaan tersendiri bagi mereka jika mampu menyelesaikannya.

    ReplyDelete
  37. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Pemberian tugas atau pr kepada siswa selalu menuai pro dan kontra tersendiri dalam dunia pendidikan saat ini, disatu sisi pemberian tugas rumah bermaksud untuk membantu siswa latihan dan memperdalam pemahaman terhadap materi yang telah dipelajarinya, namun dilain sisi pemberian tugas dianggap membebani siswa dan membuat waktu siswa untuk mengali potensi dirinya menjadi terbatas. Berbagai dilema dirasakan oleh guru, disatu sisi guru memiliki beban tanggung jawab dalam menyelesaikan silabus dengan SK dan KDnya, namun disisi lain guru diharapkan untuk memfasilitasi siswa agar siswa mampu memahami, mengerti, terampil mengerjakan matematika untuk semua topik yang mereka pelajari. Saya setuju dengan pendapat bapak yang menyebutkan himbauan larangan memberikan pr kepada siswa bukanlah merupakan suatu solusi, tetapi guru perlu memperhatikan paradigma yang tepat dan sesuai untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika sebagaimana mestinya sesuai ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  38. Assalamualaikum Wr.Wb

    Terima kasih Prof. atas pencerahan terkait larangan memberi PR matematika kepada siswa. Berdasarkan penjabaran Prof dan pengalaman mengajar di SMP, kami sependapat bahwa sebaiknya tidak memberikan PR matematika ataupun pelajaran lainnya agar siswa dapat melakukan kegiatan-kegiatan lain dirumahnya. Berdasar pengalaman di mengajar d SMP kami merasa dilema Prof karena jika kami tidak memberikan PR, kami masih takut dan tidak yakin siswa akan belajar sebulum mengikuti pelajaran di kelas ataupun yakin waktu luang di ruang akan di gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Oleh karenanya kami maish sering memberikan PR sebagai bahan agar siswa dapat belajar. Mohon pencerahannya untuk hal ini Prof. terima kasih
    Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024

    ReplyDelete
  39. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Terkait dengan larangan pemerintah pemberian PR matematika untuk anak SD dan SMP menurut saya antara setuju dan tidak setuju. Pemberian PR pada anak SD dan SMP khususnya mata pelajaran matematika memiliki kelabihan dan kekurangan. Kelebihannya ialah siswa mau tidak mau menjadi belajar dirumah terkait materi yang diajarkan di sekolah. Sedangkan sisi negatifnya adalah waktu siswa dirumah menjadi berkurang, apalagi jika semua mata pelajaran memberikan PR setiap harinya. Maka bisa jadi anak akan merasa jenuh belajar dan kurang dalam berkegiatan social lainnya, seperti bermain dan mengaji.
    Jika PR benar-benar dihilangkan, maka ada urgensi yang seharusnya bisa diselesaikan dengan memberikan PR menjadi tidak terselesaikan. Contohnya seperti penguatan materi pelajaran. Tetapi apabila setiap guru bebas memberikan, maka siswa juga akan keteteran dan bahkan merasa bosan dengan mata pelajaran. Solusi dari permasalahan tersebut menurut saya dengan melakukan sift pemberian PR. Maksudnya, antara guru mata pelajaran satu dengan yang lainnya saling bergantian dalam memberikan PR. Misalnya satu kelas diberi ketentuan PR maksimal 3 kali dalam seminggu dengan mata pelajaran yang berfariatif. Sehingga satu mata pelajaran memberikan PR setiap 3 minggu sekali. Dengan begitu PR yang diperoleh siswa tidak akan bersamaan dengan mata pelajaran lain.

    ReplyDelete
  40. Gamarina Isti R
    17790251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Larangan memberikan PR untuk semua subjek mata pelajaran sudah terdengar sejak diberlakukannya sistem full day school yang telah diterapkan untuk anak SD dan SMP. Hal itu dikarenakan siswa sudah belajar dari pagi hingga petang apalbila siswa diberikan PR maka siswa akan terbebani dan tujuan dari full day school untuk meningkatakan karakter siswa dan semakn dekat dengan keluarga pada hari sabtu dan minggu tidak akan tercapai. Dalam pelaksanaannya ada siswa yang merasa janggal apabila satu pelajaran tidak ada PR nya. Ada siswa yang menyatakan apabila tidak ada PR siswa tidak akan belajar di rumah dan untuk siswa yang memiliki semangat belajar yang tinggi hal itu dapat menjadi salah satu penghambat dalam belajar. Hal inilh yang menjadi tugas dari seorang guru dimana saat pembelajaran di kelas guru dapat memaksimalkan waktu Kegiatan Belajar Mengajar dengan semaksimal mungkin agar nantinya tanpa ada PR di rumah pun siswa sudah paham dalam pelajaran tersebut.

    ReplyDelete
  41. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya yakin pemerintah mempunyai maksud baik, dengan memberlakukan larangan tersebut diharapkan siswa lebih memiliki banyak waktu untuk belajar hal lain dan tidak terbebani dengan tugas rumah.
    Menurut saya pribadi, melarang guru memberikan PR matematika kepada siswa adalah hal yang kurang tepat. Matematika adalah mata pelajaran yang memerlukan banyak latihan dan waktu belajar matematika siswa di sekolah terbatas. Pemberian PR matematika oleh guru, menurut hemat saya, dimaksudkan agar siswa belajar matematika dirumah sehingga ketuntasan belajar dapat dicapai.

    ReplyDelete
  42. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Berdasarkan postingan Prof. Marsigit di atas, pembelajaran saat ini dengan beban belajar yang menggunung serta kondisi psikologi siswa memang sangat jauh dari ideal. Tidak semua guru berpikir dan mempertimbangkan cara belajar, metode yang atraktif dsb dalam mendesain pembelajaran melainkan menghitung terlebih dahulu beban belajar siswa kemudian membagi sesuai hari aktif yang tersedia. Berbanding terbalik dengan keharusan alur mendesain pembelajaran guru yang pertama kali harusnya menganalisis karakteristik siswa, lantas ─Ćitentukanlah metode yang tepat. Hal tersebut mengakibatkan pembelajaran menjadi hilang ruh kebermaknaannya sehingga siswa keluar kelas pun sudah lupa apa yang dipelajari di kelas. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  43. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Mengenai pemberian PR bagi siswa, sebenarnya saya setuju untuk tetap dipertahankan sistem seperti itu. Hal ini dikarenakan siswa jika tidak diberi PR, di rumah mereka tidak akan membuka kembali pelajaran yang dipelajari di sekolah. Terlebih sekarang pendekatan pembelajaran saintifik yang diberlakukan di sekolah yang kaya materi dengan metode saintifik dan waktu yang tetap saja terbatas, pemberian PR tentu akan membantu proses belajar di sekolah. Misal akan dipelajari materi statistika, memberikan PR siswa untuk melakukan mini riset seperti menghitung teman mereka yang menyukai warna coklat atau menghitung banyak meja kursi di sekolah dsb akan sangat membantu. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  44. Rosnida Nurhayati
    17709251042
    PPs PM B 2017


    Setiap kebijakan pasti ada kajian yang mendalam, begitu juga dengan himbauan tentang pemberian pr matematika. Saya sebagai seorang guru terkadang juga tidak begitu tega memberikan beban pekerjaan rumah yang banyak kepada siswa saya. Di era saat ini tekhnologi yang begitu canggihnya, bisa digunakan sebagai salah satu sumber bagi belajar siswa. Jadi seorang siswa tidak tergantung hanya dengan apa yang diberika oleh guru. Terutama siswa SD, dala masa pertumbuhan mereka, proses interaksi yang seharusnya dibangun oleh guru dan siswa dala proses pembelajaran, dalam tatap muka diberikan pengalaman yang menyenangkan agar bisa memotivasi siswa, dengan tingginya motivasi siswa terhadap pembelajaran maka diharapkan ia akan mempelajari materi dengan sendirinya di rumah. Tanpa mengganggu proses perkembangan yang lain, sebagai seorang individu. Jadi tidak perlu menambah beban dengan memberikan pr yang banyak.

    ReplyDelete
  45. Nama : Syaiful Anwar
    NIM : 17709251044
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr. wb.

    Menyoal larangan memberi PR matematika perlu kita sikapi secara hati-hati. Banyak guru memandang bahwa memberi PR merupakan sebuah cara agar siswa belajar dirumah. Daari sudut pandang lain bahwa siswa terkadang mendapatkan PR yang banyak mengakibatkan tekanan mental, dan berkurangnya waktu untuk bersosialisasi, berolahraga, belajar dari lingkungan, dan bermain. Banyak pendapat mengenai persoalan larangan memberikan PR matematika apabila dilihat dari berbagai sudut pandang, ada yang positif juga negatif. Menurut pendapat saya, saya setuju dengan tidak memberi PR matematika, kerena memberikan PR matematika akan membebani siswa.

    Walaupun demikian kita harus kembalikan lagi kepada tujuan pembelajaran matematika disekolah, bahwa siswa harus melampaui berbagai standar untuk dianggap telah memenuhi tujuan tersebut. Dalam berbagai kasus yang sangat beragam didunia sekolah, ada kalanya memberikan PR juga merupakan tindakan yang dianggap perlu, maka itu tergantung dari guru sendiri. Kita tidak bisa menyamaratakan kepada semua sekolah. Karena sekolah-sekolah beragam, siswa beragam, guru juga beragam. Siswa itu unik dan memiliki potensi fatal dan fitalnya masing-masing, apabila kita menyamaratakan setiap siswa, maka kita sama saja merobotisasi siswa.

    Wassalumalaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  46. Pemberian PR Matematika bisa menjadi sarana siswa untuk mengingat kembali pelajaran yang telah dipelajarinya di sekolah, siswa terkadang pada zaman glogalisasi ini, terkadang pulang ke rumah langsung bersama dengan handphone, mereka terkadang terlena tidak belajar di rumah, pemberian PR bisa menjadi solusi agar siswa tidak menghabiskan seluruh waktunya untuk bermain, namun pemberian PR pun harus sesuai dengan kemampuan siswa, tidak memberi PR dalam jumlah di luar kemampuan siswa.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  47. Nur Dwi Laili Kurniawati
    17709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2017

    Menurut saya pemberian PR masihlah diperlukan. Siswa yang tidak diberi PR dan tidak memiliki motivasi belajar tidak akan mencoba mengingat pembelajaran yang diberikan guru di sekolah ataupun mencoba mempelajari materi selanjutnya. Yang perlu digaris bawahi adalah bentuk PR yang diberikan kepada siswa. Guru harus menyadari bahwa salah satu paradigma yang sesuai dengan anak kecil adalah bahwa siswa belajar adalah membangun atau menemukan. Artinya PR yang diberikan guru dapat berbentuk kegiatan bagi siswa, bukan hanya soal-soal. Bahkan PR adakalanya sangat perlu diberikan kepada siswa karena sumber belajar adalah semua lingkungan fisik dan hidup siswa. Ada kalanya suatu materi perlu siswa pelajari di rumah dengan melakukan aktivitas-aktivitas yang kurang memungkinkan dilakukan disekolah. Sebagai contoh ketika mempelajari bangun ruang, siswa dapat diberi PR mencari model-model bangun ruang yang ada di rumah.

    ReplyDelete
  48. Salmaini Safitri Syam
    17709251012
    PPs PM A

    Dewasa ini, pendidikan karakter mulai sering dibicarakan untuk diterapkan dalam pendidikan Indonesia. Menyoal larangan memberi PR Matematika, demi mencapai pendidikan karakter masih dinilai kurang pas. Jika proses belajar mengajar yang inofatif sudah dirasakan dan memiliki progress yang positif terhadap siswa, mungkin pemberian PR Matematika tersebut mulai bisa disahkan. Namun kenyataannya, mengingat guru yang butuh mengejar pemberian materi sesuai KD yang ada, dan menjadikan siswa pada akhirnya mungkin akan mengalami kurangnya latihan maupun pembahasan materi lebih mendalam, maka dirasa masih dibutuhkannya pemberian PR kepada siswa. Dengan adanya pemberian PR, siswa bisa mengulang pembelajaran kembali di rumah, mengingat kembali materi di sekolah dengan latihan di rumah dengan mengerjakan soal-soal yang ada di PR. Tetapi tidak jarang bahwa masih ada siswa yang mengerjakan PR di sekolah, maka hal ini dinilai masih perlu pengayaan dalam pemberian makna kepada siswa.

    ReplyDelete
  49. Pemerintah harus mampu menciptakan orientasi tujuan dalam pendidikan. Pendidikan di Negara kita seolah bahwa pendidikan yang bertujuan untuk mendapatkan nilai yang tinggi saat UN, pendidikan yang berorientasi pada nilai UN. Padahal tidak hanya itu, lebih dari itu. Yaitu pemahaman yang benar tentang pengetahuan dan sikap.

    Nama : Frenti Ambaranti
    NIM : 17709251034
    Kelas : S2 Pendidikan Matematika B

    ReplyDelete
  50. Septi Yana Wulandari
    17709251031
    S2 Pend. Matematika B

    Pendidikan di Indonesia masih berorientasi pada nilai UN. Kebanyakan sekolah menghalalkan berbagai cara agar nilai UN siswa-siswanya berada di atas rata-rata sehingga dapat menaikkan pamor sekolah yang bersangkutan. Orientasi tersebut, menjadikan guru pasif dalam mengembangkan metode belajar yang inovatif yang dapat memfasilitasi siswa untuk mengembangkan potensinya. Padahal, hakikat matematika sekolah itu bukan hanya mengejar nilai akhir namun mencari pola dan hubungan, memecahkan masalah, dan komunikasi matematis. Untuk itu, seorang guru harus bijaksana dapat dapat memenuhi tuntutan kebijakan pemerintah namun juga tidak mendzolimi kebutuhan siswa. Terimakasih.

    ReplyDelete
  51. Efi Septianingsih
    Prodi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
    Kelas B
    17701251013

    Pamong di Indonesia sendiri memiliki ketentuan berbadasarkan kebijakan kurikulum dari sekolah
    Sekolah pun memiliki kebijakan dari mementerian pendidikan
    Oleh karena itu semua telah berstuktur sesuai dengan tingkatnya
    Pendidikan yang baik berdasarkan apa yang dibutuhkan oleh siswanya
    Dan sebagai pendidik yang baik sesuai dengan apa yang dianggap baik oleh pendidik itu sendiri
    Siswa memiliki bakat yang berbeda2
    PR sendiri terkadang menjadikan siswa lebih mandiri atau mungkin juga menjadikan siswa menjadi makhluk yang lebih sosial jika siswa tersebut mengerjakan pr berkelompok dengan rekan sebayanya

    ReplyDelete
  52. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PM C S2

    PR dibuat agar guru mengetahui seberapa jauh siswa paham dengan materi yang telah disampaikan serta melatih siswa untuk belajar mandiri di rumah jadi siswa lebih rajin belajar dirumah sehingga mengurangi dampak negatif di lingkungan rumah. PR juga bisa membuat anak lebih bersosialisai karena bisa mengajak teman-temannya untuk mengerjakan atau belajar bersama.

    ReplyDelete
  53. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C
    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh

    Beberapa waktu yang lalu Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengingatkan agar para guru tidak setiap hari memberikan pekerjaan rumah bagi murid-muridnya. Beliau berpendapat bahwa dengan adanya penguatan pendidikan karakter (PPK), siswa tidak boleh lagi diberikan PR. Beliau juga menyampaikan himbauan bahwa guru harus lebih kreatif, jangan sedikit-sedikit PR, sedikit-sedikit mencatat buku sampai habis. Saya setuju dengan himbauan dari Mendikbud Muhadjir Effendy, karena siswa sekolah dasar sekarang selalu diberi PR matematika yang sangat banyak, dengan jumlah yang bisa mencapai 50 soal yang harus ditulis dengan cara pengerjaannya. Maksud guru agar siswa mampu memahami soal-soal tersebut, tetapi pada kenyataannya siswa hanya mencatat ulang PR tersebut yang sudah dikerjakan oleh orang tua mereka, keluarga atau Guru les.

    ReplyDelete
  54. Beberapa negara maju dengan pendidikan terbaik seperti Firlandia, memang meminimalisir pemberian pekerjaan rumah (PR) pada siswanya. Hal ini dipercaya efektif bagi siswanya yaitu dengan memberikan waktu bagi siswanya untuk relax, mengistirahatkan otak. Namun jika hal ini diterapkan di Indonesia belumlah suatu jalan yang tepat untuk peningkatan kualitas pendidikan. Pemberian PR adalah sebagai tindak lanjut bagi siswa untuk mengulang pembelajaran di rumah. Hal ini perlu tetap dipertahankan karena mengingat minat membaca siswa Indonesia yang tergolong kategori rendah (61 dari 69 negara pada PISA 2015). Namun kita tetap juga harus memberikan waktu bagi siswa untuk bermain dengan berinteraksi dengan lingkungan dengan jalan tidak membebankan pemberian PR dalam jumlah yang banyak.

    ReplyDelete
  55. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Larangan pemberian PR ini mungkin menjadi salah satu jalan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Tapi, setuju dengan statement artikel di atas, bahwa ini bukan solusi yang hakiki, karena sifatnya parsial. Perlu upaya selanjutnya yang lebih mantap, lebih ditimbang timbang.
    Artikel di atas kembali memperlihatkan satu kenyataan betapa indah dan beratnya tanggung jawab seorang guru. Dia harus memenuhi tuntutan pemerintah, diapun harus melindungi murid muridnya. Luar biasa sekali, bukan?
    Poin selanjutnya ialah tentang pendapat kepala sekolah yang melarang guru mengikuti Penataran inovasi pembelajaran. Ironisnya lagi, UN menjadi orientasi utamanya. Kenyataan ini benar benar membawa saya pada praduga betapa pendidikan saat ini belumlah mencerdaskan kehidupan bangsa. Orientasi yang dibangun sangat kuantitatif sekali, terkesan langsung menembak hasil, lantas bagaimana dengan prosesnya?
    Maka bagi saya, untuk memperbaiki keadaan saat ini harus dimulai dari diri masing masing. Bismillah

    ReplyDelete
  56. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Semua keputusan memang ada pro kontranya. Tidak mungkin bisa menyenangkan semua pihak. Sama halnya dengan pemberian PR ini. Ada yang mendukung ada yang menolak. Sebenarnya, PR diberikan oleh guru sebagai kontrol apakah siswa juga belajar di rumah dan apakah orangtua memiliki ikut membantu proses belajar anaknya. Anak tidak semestinya hanya belajar di sekolah, tapi juga belajar di rumah bersama orangtua. Sekolah bukan tempat penitipan di mana seluruh prestasi anak menjadi tanggung jawab sekolah,tetapi oangtua juga harus punya kesadaran bahwa mereka adalah yang berperan penting terhadap kesuksesan belajar anak.
    Semua keputusan memang ada konsekuensinya. Kalau guru tidak boleh memberi PR, maka mental dan sikap anak-anak Indonesia harus dipersiapkan dengan baik untuk lebih mandiri dalam belajar.

    ReplyDelete
  57. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    larangan pemberian PR matematika menurut saya bukanlah suatu solusi yang tepat, melihat kondisi kebanyakan anak jaman now, mereka belajar hanya jika ada PR, kalau tidak ada PR mereka tidak belajar kecuali waktu akan ada ulangan atau ujian. namun dalam pemberian PR harusnya sewajarnya saja, jangan terlalu banyak soal, karena seperti yang Prof. Marsigit tulis diatas, anak-anak masih memerlukan waktu untuk bermain dan melakukan aktivitas lain. jadi menurut saya pemberian PR tidak perlu dilarang, tetapi bisa dikurangi untuk porsi jumlah soalnya.

    ReplyDelete
  58. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Pemberian PR sebenarnya dimaksudkan oleh guru sebagai suatu sarana agar siswa terus mengulang kembali materi yang telah ia daoatkan, agar nantinya ia benar-benar memahami konsep tersebut. Namun dewasa ini timbul banyak spekulasi tentang pemberian PR bagi siswa. hal ini memang tidak mengagetkan. karena terkadang siswa sering menyeluhkan banyaknya PR yang harus ia kerjakan. Sehingga esensi dari tujuan mulia memberikan PR malah menjadi sesuatu yang membebani siswa. Sebenarnya pemberian PR juga tetap dibutuhkan, asalkan dalam kapasitas yang sesuai.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  59. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Memberikan PR merupakan hal yang baik jika guru mampu menjadikan PR tersebut menjadi hal yang tidak membebankan siswa ketika pulang dari sekolah, misalnya dengan memperhatikan jumlah PR yang diberikan. Sebisa mungkin memberikan soal sekitar 2 atau 3 saja tapi sudah mewakili dari materi yang baru saja dipelajari, agar siswa tidak bosan dan tidak membenci pelajaran matematika.

    ReplyDelete
  60. Junianto
    PM C
    17709251065

    Ada larangan memberikan PR (pekerjaan rumah) matematika kepada siswa dengan alasan akan membebani siswa. Menurut pendapat saya, himbauan ini perlu dipikirkan lagi secara komprehensif dan menyeluruh berkaitan dengan latar belakangnya. PR diberikan guru kepada siswa dengan tujuan agar siswa bisa belajar mandiri di rumah. Hal ini disebabkan karena waktu belajar disekolah sangat terbatas ditambah materi yang dibebankan kepada siswa sangat banyak. Dalam hal ini guru dituntut untuk mengajarkan kepada siswa dan dituntut hasil UN siswa harus bagus, sementara sistem tidak mendukung hal tersebut. Materi matematika disekolah terkenal melebar dan luas tetapi tidak mendalam. Kemudian guru menyiasati kekurangan waktu ini dengan memberikan tugas mandiri kepada siswa yaitu PR. Dengan diberikan PR saja terkadang siswa masih belum paham, apalagi tanpa diberikan PR.

    ReplyDelete
  61. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPS P.Mat A

    Matematika sebagai salah satu pelajaran disekolah tentu berbeda dengan ilmu ilmu yang lain. Matematika adalah mencari pola dan hubungan, memecahkan masalah, komunikasi, serta meneliti fenomena di alam. Sehingga matematika itu harus dilakukan dan dikerjakan oleh siswa atau Learning by doing. PR sebagai salah satu media untuk melatihnya tentu sangat bermanfaat. Saya sependapat dengan Prof., perlu kajian yang mendalam terkait efek manfaat dan mudhorat pemberian PR tidak hanya justifikasi beberapa oknum tanpa dasar atau penelitian yang kuat.

    ReplyDelete
  62. Luthfi Nur Azizah
    177099251002
    PPS P.Mat A

    Pemerintah sebagai pemegang tabuh peraturan memiliki peran sentral dalam pembuatan kebijakan. Mengutip kalimat Prof. Marsigit, bahwa keinginan atau kebijakan apapun adalah selalu lebih tinggi dan selalu menang dari ilmu segala ilmu. Saya memaknainya, peraturan atau kebijakan pemerintah yang sesuai dengan tujuan pendidikan akan semakin meningkatkan capaian tujuan pendidikan. Kebijakan-kebijakan yang tidak memberatkan guru dan lembaga pendidikan akan membuat guru lebih fokus pada pembelajaran di kelas, sehingga proses pendidikan akan menjadi lebih inovasi karena guru memilik bnyak waktu untuk mempersiapkannya.

    ReplyDelete
  63. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Solusi yang diberikan seharusnya memberikan dampak positif terhadap hasil belajar siswa. Jika memang PR tidak penting dan akan dihilangkan karena menyita waktu santai siswa, maka seharusnya pembelajaran yang diberikan itu sudah cukup memfasilitasi kebutuhan siswa. Kebanyakan yang mengutamakan adanya PR karena mereka berfikir bahwa apa yang diperoleh siswa di dalam kelas masih dikatakan kurang dari apa yang harus dicapai pada saat pembelajaran. Hal inilah yang memicu adanya PR itu diberikan oleh pendidik. Maka, pantaslah jika pendidik masih mengutamakan adanya PR gunan membantu mendalami kemampuan siswa secara formalnya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  64. Mariana Ramelan
    17709251056
    S2 Pend. Matematika C 2017

    Menanggapi tentang dialrangnya memberikan PR kepada siswa. Menurut saya hal ini ada baik dan buruknya tergantung ruang dan waktu. Di negara lain mungkin kebijakan ini telah diberlakukan dan Indonesia mencoba mengikuti hal tersebut. Jelas berbeda ya antara siswa Indonesia dengan siswa di negara lain, siswa Indonesia yang di beri PR saja terkadang tidak belajar apalagi tidak diberi PR?, berbeda dengan siswa luarnegeri mereka memiliki minat belajar tinggi karena sudah kharakteristiknya seperti itu. Mungkin ada benarnya ketika pemberian PR ini membuat psikologi siswa terganggu namun memberikan PR juga ada manfaatnya untuk memacu siswa belajar.

    ReplyDelete
  65. Pemberian PR matematika menurut Cooper adalah praktek yang penuh kontradiksi, di satu sisi dia mampu memberikan dampak positif namun di satu sisi juga dapat memberikan dampak negatif. Salah satu dampak postif dari pemberian pr adalah dapat menjadi alat berlajar siswa di rumah sehingga siswa akan meningkatkan pemahaman, dan keterampilan. Akan tetapi pemberian PR juga memberikan dampak negatif yaitu mengurangi waktu siswa sebagai anak untuk menjadi anak-anak, karena waktu bermainnya dihabiskan untuk mengerjakan PR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akan tetapi menurut Arbaugh and Wieman PR matematika dapat menjadi komponen yang penting dalam pembelajaran matematika. Dan agar dapat menjadi komponen pbm mtk maka pr perlu di desain dengan tepat. Ada 5 kriteria dalam mendesain pr yang dapat dijadikan patokan yaitu, Purpose, Efficiency, Ownership, Competence, dan Aesthetic appeal.

      Delete
  66. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Menurut saya, PR itu bersifat baik bagi siswa, tapi tidak di semua kegiatan pembelajaran diberikan PR. PR dapat membantu siswa untuk belajar di rumah. PR pun dapat bersifat negatif tergantung dari orang yang memandang hakikat dari sebuah PR itu. Karena untuk saat ini, banyak siswa yang tidak belajar jika tidak diberikan pr atau tugas rumah.

    ReplyDelete
  67. Shelly Lubis
    17709251040
    S2 P.Mat B

    Larangan memberi PR matematika mungkin sama seperti waktu diterapkannya Kurikulum 2013 dahulu, pemerintah mungkin berniat baik dan kebijakan yang ingin diterapkan juga sebenarnya dapat membantu dan memperbaiki metode belajar di sekolah, hanya saja memang belum dipersiapkan secara matang dan keseluruhan.

    ReplyDelete
  68. Nur Dwi Laili K
    17709251059
    PPs PMAT C

    PR merupakan sebuah objek dimana ia bisa menjadi bermanfaat ataupun menjadi suatu petaka. Semua itu tergantung oleh ruang dan waktu, tergantung tujuan, dan tergantung PR seperti apa yang diberikan. Maka dalam memberikan PR kepada siswa guru perlu mempertimbangkan apakah PR benar-benar dibutuhkan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa saat itu. Jika memang PR dibutuhkan maka guru perlu menganalisis PR seperti apa yang dibutuhkan oleh siswa. Jangan sampai PR malah menjadi beban bagi siswa dan membuat siswa tidak menikmati matematika.

    ReplyDelete
  69. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    PR atau Pekerjaan Rumah sebenarnya digunakan untuk memantau para siswa agar walaupun mereka berada di luar sekolah akan tetap belajar. Tanpa PR, tidak menjamin siswa akan tetap belajar di rumah. Lagipula PR dapat dikerjakan secara bersama-sama dengan ayah, ibu, kakak, atau teman-teman. Jadi menurut saya, eksistensi PR masih sangat dibutuhkan. Hanya saja, guru harus memperhatikan bahwa memberikan PR jangan terlalu banyak. Selain itu guru juga jangan langsung menerapkan hukuman pada siswa-ssiwa yang tidak mengerjakan PR.

    ReplyDelete
  70. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Permasalahannya bukan terletak pada pemberian PR, melainkan pada pengajaran guru. Matematika hendaknya jangan disajikan secara abstrak, tapi harus konkrit dan melibatkan aktivitas siswa, karena seperti yang kita ketahui bahwa matematika anak-anak dan orang dewasa itu berbeda. Menurut saya pelu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap kurikulum yang memuat materi terlalu banyak dan padat. siswa kita bukanlah robot yang mampu mempelajari semuanya dalam waktu singkat. akan lebih baik jika walaupun materi yang dipelajari sedikit, tetapi siswa memiliki kemampuan memahaminya secara mendalam.

    ReplyDelete
  71. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Menurut saya PR bukanlah penyebab pelajaran matematika menjadi momok yang menakutkan. Melainkan guru dan sistem pembelajaran yang diterapkannyalah yang menjadi momok bagi siswa. Jadi sudah seharusnya guru lebih memperhatikan cara mengajarnya di dalam kelas. Apabila lingkungan belajar disetting dalam pembelajaran yang menyenangkan maka siswa akan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran bahwa jika siswa diberikan tugas tambahan seperti PR maka mereka tidak akan merasa terbebani. Jadi tugas guru adalah membuat siswa terlebih dahulu senang terhadap pelajaran matematika itu sendiri.

    ReplyDelete
  72. Haniek Sri Pratini
    NIM 17703261029
    IP Kons Pend Mat

    PR tetap perlu diberikan sejauh guru mengupayakan untuk kebaikan dan perkembangan siswa. Orientasi pembelajaran hendaknya selalu diarahkan kepada pemcapaian kompetensi oleh siswa yang memperkembangkan diri siswa secara menyeluruh bukan berorientasi pada UN. Oleh sebab itu guru perlu menyikapi larangan pemberian PR dengan tidak merugikan kepentingan siswa untuk berkembang secara utuh.

    ReplyDelete
  73. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301241046
    Menurut saya, sebaiknya pemberian PR tidak dilarang oleh pemerintah. Pada kenyataannya yang mengetahui realitas seperti apa karakteristik siswa adalah guru yang terjun langsung di lapangan. Perlu tidaknya PR diberikan saya rasa guru memiliki pertimbangannya masing-masing. Guru yang sering memberikan PR bisa dikarenakan siswa-siswa di sekolahnya malas belajar, jika tidak ada PR atau ulangan siswanya tidak akan belajar. Sedangkan kompetensi dasar matematika yang harus dikuasai sangat banyak, tidak cukup hanya dengan mengandalkan jam pelajaran matematika di sekolah.
    Untuk masalah PR yang diberikan seharusnya PPK saja itu bisa sesuai kreativitas guru. Ada lima karakter prioritas dalam PPK yakni religiositas, nasionalis, integritas, gotong royong, dan mandiri. Guru dapat memberikan PR secara berkelompok untung meningkatkan gotong royong dan PR individu untuk meningkatkan kemandirian siswa. Untuk religiositas dan integritas guru dapat memberikan instruksi pada siswa untuk tidak hanya menyalin jawaban dari orang lain. Sedangkan untuk nasionalis, guru dapat memberikan soal-soal problem solving yang disangkutpautkan dengan sejarah Indonesia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. This comment has been removed by the author.

      Delete
  74. Lisfiyati Mukarromah
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301241042

    Assalamualaikum wr. wb.
    Saya setuju dengan pendapat bapak Marsigit.
    saya setuju bahwa larangan memberi PR matematika tersebut bertujuan baik. Akan tetapi menurut saya pemerintah seharusnya tidak sampai mewajibkan guru untuk tidak memberi PR. Itu adalah hak guru dan siswa. Guru lebih mengetahui kondisi di lapangan.
    Kebijakan tersebut cocok untuk diterapkan kepada sekolah-sekolah yang sudah melaksanakan program full day school. Di sekolah yang sudah menerapkan program tersebut, siswa sudah terlalu banyak berpikir di sekolah. Siswa berhak memiliki waktu untuk bermain, mengaji di TPA dan madrasah diniyah, dan mengisi waktu luang di rumah untuk membantu orang tua ataupun sekedar bercengkrama dengan keluarga. Sehingga memberi PR matematika pada siswa di sekolah yang sudah menerapkan full day school saya rasa kurang efektif karena bisa menyebabkan siswa stress dan membenci matematika.
    Kebijakan larangan memberi PR matematika harus diimbangi dengan keefektifan pembelajaran matematika di sekolah. Jika pembelajaran matematika di sekolah sudah sangat mendukung untuk tercapainya kompetensi, maka guru tidak perlu memberikan PR matematika. Lain lagi dengan sekolah yang pembelajarannya masih kurang efektif dan siswanya malas belajar jika tidak diberi PR, maka menurut saya guru tetap berhak memberikan PR kepada siswa.
    Alternative lain yang bisa ditawarkan yaitu guru bisa memberikan PR kepada siswa. PR tersebut tidak melulu soal-soal tentang teori-teori dan rumus-rumus matematika, tetapi bisa berupa kegiatan yang sifatnya bisa mengembangkan kreatifitas siswa.
    Terimakasih,..
    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    ReplyDelete
  75. Tri Wahyu Nurjanah
    15301241010
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Bismillah..
    Bagi saya larangan memberi PR matematika kepada peserta didik itu tidak buruk. Akan tetapi dengan catatan, jika pendidik dalam proses belajar mengajar mampu mengaitkan konsep yang baru dengan konsep yang sudah dimiliki sebelumnya agar pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik. Tidak salah jika pendidik berorientasi pada latihan soal secara terus menerus, tetapi itu akan membebani peserta didik. Apalagi saat peserta didik menemukan soal yang berbeda, Mereka cenderung tidak bisa mengerjakanya. Dan inilah salah satu masalah yang sering muncul karena mereka tidak memiliki pemahaman konsep. Dan ini juga sebagai PR untuk kita sebagai bakal calon pendidik, dimana nanti kita tidak hanya menjadi pendidik yang biasa-biasa saja.

    ReplyDelete
  76. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007
    menurut saya pemberian PR bukan suatu hal yang mutlak. diberikan atau tidaknya suatu PR merupakan suatu pilihan. PR diberikan jika karakteristik siswa memang perlu diberi PR, karena siswa tidak pernah belajar, dengan adanya PR, siswa akan belajar. namun, jika siswa sudah dapat menguasai dengan baik materi yang disampaikan oleh guru, maka PR dapat ditiadakan. karakteristik siswa di kelas, dapat dinilai oleh guru, sehingga guru mengerti bagaimana karakter siswa, apakah perlu atau tidak pemberian PR tersebut.
    kemudian, menurut saya mata pelajaran matematika dapat lebih baik menguasainya dengan banyak latihan soal - soal. dengan demikian siswa akan banyak mendapatkan berbagai pengalaman soal. siswa akan menguasai materi tersebut dan siswa dapat terampil dalam mengerjakan soal - soal. hal ini sulit dilakukan saat jam Kegiatan Belajar Mengajar, mengingat banyak KI-KD yang harus dikuasai oleh siswa. sehingga untuk mengasah ketrampilan siswa perlu adanya kegiatan di luar jam Kegiatan Belajar Mengajar. salah satu alternatifnya adalah dengan memberikan PR. namun sebaiknya guru juga mempertimbangkan banyaknya soal dari setiap PR yang diberikan kepada siswa. jika dirasa materi sulit, maka dapat diberikan sebagai tugas kelompok. agar siswa tidak terbebani dengan adanya PR.

    ReplyDelete
  77. Siti Nur Fatimah
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241045

    Menurut saya larangan pemberian PR matematika adalah solusi yang kurang tepat. Memang maksud pemerintah baik, larangan pemberian PR tersebut dimaksudkan agar siswa tidak terbebani oleh tugas sekolah. Selama disekolah, siswa sudah banyak menerima materi pelajaran. Banyak juga sekolah yang sudah menerapkan full day school sehingga siswa banyak menghabiskan waktunya disekolah. Hal tersebut menyebabkan siswa kekurangan waktu untuk sekedar bermain, bersosialisasi dengan temannya, melakukan hobi nya ataupun quality time bersama keluarganya. Tetapi disisi lain dengan adanya PR akan membuat siswa mau untuk belajar. Mengerjakan PR bisa menjadi media latihan bagi siswa untuk mendalami materi yang telah diajarkan. Guru hendaknya menerapkan metode pembelajaran yang tepat sehingga nantinya siswa dapat memahami konsep dengan baik, dengan demikian akan timbul sikap postif terhadap matematika. Dalam memberikan PR juga jangan banyak, lebih baik sedikit tapi bermakna, Atau mungkin juga guru lebih kreatif dan bervariatif dalam memberikan soal-soal sehingga kegiatan belajar menjadi kegiatan yang menyenangkan. Sehingga siswa tidak akan merasa terbebani.

    ReplyDelete
  78. Woro Alma manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Mengenai larangan pemberian PR Matematika, menurut saya hal tersebut perlu dipertimbangkan lagi. Untuk memutuskan larangan pemberian PR Matematika, sebagai pendidik perlu mempertimbangkan bagaimana karakteristik dari peserta didiknya. Apakah peserta didik merupakan tipe yang dapat belajar sendiri atau belajar jika diberi PR saja. Jika melihat kondisi anak sekarang, mereka cenderung mau belajar ketika memiliki PR saja bahkan belajar jika akan ulangan yaitu dengan sistem kebut semalam. Dengan tipe belajar jika diberi PR saja, maka PR sangatlah perlu diberikan sebagai bahan belajar. Apalagi matematika merupakan mata pelajaran yang membutuhkan latihan soal agar dapat memahaminya. Pemberian PR tersebut dapat dilakukan yaitu dengan catatan bahwa PR tersebut tidak overload jumlahnya, karena sesuai yang disampaikan Pak Marsigit, seorang anak itu masih memerlukan waktu untuk bermain dan melakukan hal lainnya selain belajar di sekolah. Selain itu, pemberian PR juga dapat disiasati dengan beberapa metode misalnya memberikan kegiatan berupa kreativitas atau dengan memberikan soal yang tidak banyak jumlahnya, namun soal tersebut memiliki tipe yang berkualitas. Sehingga peserta didik dapat mengeksplor pemahamannya tentang materi yang dibahas ketika di sekolah.

    ReplyDelete
  79. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  80. Raudhah Nur Pratiwi
    15301244009
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Saya sangat setuju dengan artikel Prof. Marsigit.
    Setiap pemerintah mengeluarkan peraturan pasti menuai pro dan kontra dari masyarakat. Saya mengapresiasi tujuan baik pemerintah mengeluarkan larangan tersebut. Ketika saya sekolah dulu, saya pun juga sempat merasa terbebani dengan PR. Belum lagi jam pulang sekolah yang sore, ditambah kegiatan-kegiatan seperti OSIS, ekstrakurikuler, dsb. Banyaknya PR dari berbagai mapel dan jumlah soal PR yang banyak memang dirasa sangat membebankan bagi saya.
    Namun, banyak hal yang perlu ditinjau kembali dari himbauan pemerintah tersebut. Bagaimana karakteristik mata pelajaran?bagaimana tingkat kekompleksan materi?apakah materi tersebut kompleks dan diperlukan pengulangan materi?bagaimana karakter siswa, apakah siswa memiliki kesadaran untuk mereview pelajaran atau hanya memanfaatkan waktu luang dengan malas-malasan?
    Dan masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan lainnya.
    Menurut saya, rasanya sah-sah saja memberikan PR ke siswa apabila PR tersebut tidak membebankan siswa (baik dari segi kuantitas maupun kualitas) serta materi yang sedang diajarkan memang dirasa perlu untuk direview kembali oleh siswa. Namun, tidak semua mapel/materi perlu memberikan PR. Apabila suatu mapel/materi memang dirasa tidak perlu memberikan PR, yaa jangan. Sebab nanti bisa menyita waktu siswa untuk mengembangkan karakter atau bakatnya yang lain.
    Terimakasih.

    ReplyDelete
  81. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Larangan pemberian PR menurut saya bukanlah suatu solusi yang tepat. Tujuan dari pemberian PR adalah agar guru dapat mengetahui sejauhmana siswa mampu memahami apa yang telah dijelaskan di sekolah. Selain itu dengan pemberian PR membuat anak akan rajin belajar di rumah serta mengurangi dampak negatif dari lingkungan siswa. PR juga dapat diberikan untuk mengenalkan siswa terhadap materi yang akan dipelajari, sehingga akan membuat anak akan lebih siap untuk mempelajari materi secara mendalam. Namun terkadang ada beberapa siswa yang mengeluhkan mengenai banyaknya PR yang harus mereka kerjakan. Tidak hanya siswa beberapa orang tua juga mengeluhkan banyaknya PR yang harus dikerjakan oleh anak-anaknya karena membuat interaksi antara orang tua dan anak menjadi berkurang karena si anak terlalu sibuk untuk mengerjakan PR. Menurut saya pemberian PR ini tetap bisa dilakukan asalkan dengan kapasitas yang sesuai.

    ReplyDelete
  82. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Menurut saya tentang larangan pemberian PR matematika bagi siswa kurang tepat. Dimana sesuai yang telah dipaparkan diatas mengenai persoalan utama yang selalu dihadapi guru adalah beban menyelesaikan silabus dengan SK KD dengan waktu yang sudah ditentukan. Selain itu guru juga dituntut agar menjadi fasilitator siswa menjadi paham, terampil dan mengerti cara menyelesaikan dari semua topik dan masalah matematika. Maka dari itu untuk memenuhi tuntutan tersebut guru mengambil jalan untuk memberikan PR kepada siswa. Dengan adanya PR matematika yang diberikan kepada siswa maka diharapkan mereka akan lebih memahami dan menguasai konsep matematika dengan baik. Selain itu pemberian PR matematika juga sebaiknya selalu berkaitan dengan persoalan yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari agar setiap siswa tidak bosan dalam menyelesaikan PR tersebut karena mengerti bahwa aplikasi matematika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Terkait solusi lain yang sering dilakukan yaitu mengubah metode pembelajaran yang berorientasi pada UN saya juga kurang setuju, dimana di sekolah siswa hanya konsentrasi dengan banyak latihan soal menuju UN. Hal tersebut tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yaitu untuk memberikan pemahaman tentang konsep-konsep matematika, apabila siswa hanya berkonsentrasi dengan soal-soal yang berkaitan dengan UN saja maka mereka hanya mengafal rumus tanpa mengetahui kosep dasarnya dan mengakibatkan munculnya paradigma dibenak siswa bahwa matematika adalah pelajaran yang sulit dengan banyak rumus didalamnya. Maka dari itu, untuk mngatasi persoalan tersebut guru harus membangun pembelajaran dengan berbagai metode yang sesuai agar siswa dapat memahami konsep matematika dengan baik melalui proses menemukan. Sehingga apabila siswa memahami konsep dasar matematika dengan baik maka mereka juga akan lebih mudah dalam menghadapi soal UN tanpa harus menghafal setiap rumusnya. Pemberian PR matematika yang berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari juga berfungsi agar siswa mudah memahami konsep matematika dengan sumber belajar yang bermacam-macam. dengan syarat pemberian PR sesuai dengan kapasitas siswa, karena apabila guru memberikan PR yang terlalu banyak maka siswa juga akan merasakan bosan dan malas untuk mengerjakannya. Maka dari itu peranan guru sangat penting bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Guru yang baik dan berkualitas pasti akan memberikan hasil belajar yang baik juga bagi siswa.

    ReplyDelete
  83. Amayda Ade Pramesti
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244012

    Menurut saya mengenai pemberian PR pada peserta didik tidak terlalu buruk jika pemberian PR tersebut diberikan pada waktu atau suasana yang tepat. Guru memberikan pr bertujuan agar pesertadidik belajar di rumah dan kembali mengingat materi yang sudah diajarkan. Pemberian pr di sekolah dengan sistem fullday bisa diberikan PR dengan 1 atau 2 nomor saja, supaya tidak terlalu membebani pesertadidik dalam mengerjakan PR tersebut. Karena sebagian besar pesertadidik hanya akan belajar jika adanya PR maka pemberian pr walaupun cuma 1 ataupun 2 nomor saja hal tersebut diharapkan tidak terlalu membebani pesertadidik. Pemberian pr dilakukan pada waktu atau suasana yang tepat dengan mempertimbangkan psikis dan fisik peserta didik.

    ReplyDelete
  84. Siti Efiana
    15301241029
    Pendidikan Matematika I 2015

    Selama ini, kebijakan pemerintah memang sering menimbulkan pro kontra. Sebenarnya, saya sependapat bahwa pelarangan pemberian PR ini bermaksud baik, akan tetapi memang perlu dikaji lebih dalam lagi, apakah dengan tidak adanya PR merupakan jaminan bahwa siswa akan melakukan aktivitas lain seperti membantu pekerjaan rumah, bersosialisasi dengan trman, dsb? Mengingat banyak anak-anak jaman sekarang yang malah kecanduan bermain gadget sehingga lupa segala hal.
    Belum lagi di sisi lain, bukankah dengan pemberian PR ini adalah salah satu cara guru agar siswa mau belajar dan mengulang kembali materi? Apalagi matematika itu bukan merupakan materi yang bisa dipelajari semalam, diperlukan belajar yg continu agar benar-benar bisa memahami konsep, bukan hanya sekadar menghafal rumus.
    Pemberian PR ini juga merupakan salah satu cara siswa untuk mengetahui sejauh mana mereka telah memahami materi, bagian mana saja yang belum mereka mengerti.
    Namun, memang perlu kita garis bawahi bahwa PR yang diberikan tidak boleh terlalu banyak sehingga siswa tidak merasa terbebani. Cukup beberapa soal saja yang mewakili kompetensi yang telah dilatihkan.

    ReplyDelete
  85. Endar Chrisdiyanto
    S1 pendidikan Matematika A 2015
    15301244011

    Menurut saya larangan pmeberian PR itu boleh-boleh saja akan tetapi hal itu hanya berlaku bagi sekolah yang menenrapakan sistem Full Day School karena sekolah yang menerapakan Fullday ini akan menguras tenaga siswa SD/SMP. Pemberian PR boleh saja dilakukan untuk sekolah yang kondisi sekolahnya 6 hari kerja karena akan banyak waktu yang tersisa bagi siswa . selain itu pula pemberian PR ini bertujuan untuk mengetahui tngkat pemahaman siswaa dalam menguasai mata pelajaran yang baru disampaikan oleh guru dan juga untuk mengetahui tingkat pencapai dari subbab kompetensi yang disampaikan.sehingga pemberian PR ini dirasa efektif dalam pencapaian hasil belajar siswa.

    ReplyDelete
  86. Endar Chrisdiyanto
    S1 pendidikan Matematika A 2015
    15301244011

    Menurut saya larangan pmeberian PR itu boleh-boleh saja akan tetapi hal itu hanya berlaku bagi sekolah yang menenrapakan sistem Full Day School karena sekolah yang menerapakan Fullday ini akan menguras tenaga siswa SD/SMP. Pemberian PR boleh saja dilakukan untuk sekolah yang kondisi sekolahnya 6 hari kerja karena akan banyak waktu yang tersisa bagi siswa . selain itu pula pemberian PR ini bertujuan untuk mengetahui tngkat pemahaman siswaa dalam menguasai mata pelajaran yang baru disampaikan oleh guru dan juga untuk mengetahui tingkat pencapai dari subbab kompetensi yang disampaikan.sehingga pemberian PR ini dirasa efektif dalam pencapaian hasil belajar siswa.

    ReplyDelete
  87. Qorry Aina Fitroh
    15301241047
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pemberian PR kepada peserta didik memiliki sisi positif dan negatifnya masing-masing seperti yang telah diungkapkan dalam artikel di atas. Guru memberikan PR kepada peserta didik dengan misi agar peserta didik mempelajari kembali materi yang telah dipelajari di sekolah sehingga mereka memahaminya secara matang, harapannya. Akan tetapi tidak semua peserta didik mengerjakan PR secara sungguh sungguh dengan niat agar lebih memahami materi, terkadang mereka hanya asal mengerjakan, sebagai contoh dengan melihat pekerjaan temannya kemudian ia salin bisa juga ia hanya meminta bantuan orang sekitar untuk mengerjakannya tanpa peduli ia mengerti atau tidak yang terpenting PR selesai. Nah, di sini pentingnya peran orang tua dan lingkungan sekitar untuk mendukung dan mengontrol peserta didik di rumah, agar harapan guru selaras dengan harapan orang tua dan misi pendidikan tercapai. Dalam memberikan PR guru juga seharusnya melihat dan menimbang urgensi soal tersebut, jadi kompetensi yang dirasa kurang tercapai dalam kelas yang seharusnya lebih diutamakan sehingga tidak banyak PR yang diberikan. PR yang diberikan juga tidak mulu tentang mengerjakan soal, sesekali PR yang bersifat kontekstual sehingga peserta didik lebih memahami kegunaan atau kebermanfaatan materi tersebut. Jadi, pemberian PR oleh guru seharusnya tidak dilarang sepenuhnya karena itu merupakan hak guru, ia yang lebih mengetahui kondisi peserta didik dan pentingnya pemberian PR pada materi tersebut.

    ReplyDelete
  88. Rosmiyati Putri UtamiFebruary 12, 2018 at 12:02 AM

    Rosmiyati Putri Utami
    15301241031
    S1-Pendidikan Matematika A 2015

    Menurut saya PR (Pekerjaan Rumah) masih perlu diberikan kepada siswa, sebab PR dapat menjadi sarana bagi siswa untuk belajar di rumah. Menurut saya, khususnya untuk mata pelajaran matematika itu membutuhkan banyak latihan soal mulai dari soal yang mudah hingga soal yang membutuh kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS). Melalui PR siswa dapat menambah pemahaman mengenai materi yang sudah dipelajarinya di sekolah dan melalui PR siswa juga diharapkan untuk tidak langsung lupa dengan apa yang telah dipelajari di sekolah.
    Mengingat sekarang pemerintah mulai menerapkan sistem full day school, diharapkan kepada guru/pengajar untuk memberikan PR dengan porsi yang tidak berlebihan akan tetapi dapat mencapai tujuan pembelajaran, sehingga pemberian PR tidak memberatkan siswa, karena sesuai yang diungkapkan oleh pak marsigit di atas bahwa siswa masih memerlukan waktu untuk bermain, bersosialisasi dan waktu untuk bersama keluarga.
    Akan tetapi pemberian PR juga bisa disesuaikan dengan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran ini, sebab ketika siswa memiliki semangat yang tinggi dan memiliki pemahaman yang tinggi terhadap mata pelajaran ini maka PR bisa diberikan hanya jika ketika siswa memiliki kesulitan dalam memahami materi tertentu saja. Jadi, pemberian PR oleh guru bisa disesuaikan dengan kondisi pemahaman siswa.

    ReplyDelete
  89. Alman Kresna Aji
    S1-Pendidikan Matematika I 2015
    15301241022

    Pelarangan pemberian PR untuk siswa sudah jelas akan menimbulkan pro dan kontra. Dimana dalam manajemen kependidikan pemberian PR adalah salah satu kegiatan untuk meningkatkan atau memperdalam pemahaman ilmu dari siswa. Mata pelajaran matematika sedikit berbeda dengan mata pelajajaran yang lain, bahwa selain ilmu atau konsep siswa juga melakukan praktik penyelesaian masalah secara matematika. Sehingga, adanya PR akan sangat membantu siswa dalam melakukan praktik atau latihan untuk menyelesaikan permasalahan matematika. Akan tetapi, apabila siswa didominasi dengan PR dimana hampir setiap mata pelajaran memberikan PR maka hal ini akan mengganggu proses perkembangan siswa secara psikologi. Jadi, dengan demikian siswa akan mengalami overdosis atau overload sehingga PR yang bertujuan untuk memberikan pendalaman materi bagi siswa tidak memberikan dampak positif dan akan memberikan perasaan bagi siswa bahwa PR adalah beban persekolahan.

    ReplyDelete
  90. Jatmiko
    NIM 17703261032
    IP Kons Pend Mat

    Pemberian PR, saya kira sejauh ini masih diperlukan oleh siswa. Asalkan tujuan utamnya adalah untuk meningkatkan kopetensi yang dimiliki siswa, PR dipergunakan untuk menghubungkan topik pelajaran yang sudah dipelajari dengan lingkungan sekitar.

    ReplyDelete
  91. M. Zainudin
    16701261019
    PEP

    Pada hakikatnya semua bertujuan baik, setiap pihak mempunyai cara pandang sesuai dengan keyakinan dan paradigma masing-masing, akan lebih baik jika masing-masing pihak bermusyawarah untuk menentukan sesuatu yang efektif

    ReplyDelete
  92. Eka Susanti
    15301241006
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Menyoal permasalahan PR memang tak ada habisnya, akan selalu ada pro kontra yang dialami oleh pihak-pihak terkait. Menurut saya, pemberian PR masih sangat diperlukan sebagai media untuk memperdalam pengetahuan siswa terkait materi yang ada. Hal ini sejalan dengan Teori Gestalt yang menyatakan bahwa latihan sangat diperlukan dalam proses pembelajaran. Namun, guru hendaknya turut memperhatikan beban PR yang diberikan agar siswa masih memiliki waktu unruk mengerjakan aktivitas lainnya. Terimakasih

    ReplyDelete
  93. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Mencoba mengamati dengan sudut pandang yang berbeda, menurut pendapat saya sebagai orang yang menikmati pendidikan di Indonesia, sudah terlalu menjenuhkan menghadapi masalah klasik semacam ini. Dari zaman orang tua saya sampai zaman saya bahkan generasi angkatan keturunan saya nanti mungkin masih bisa menikmati UN. Masalah yang tidak dianggap masalah ini tidak mungkin terselesaikan jika hanya menutupi kelemahannya dengan alibi bahwa siswa keberatan karena adanya pemberian PR sehingga guru dilarang memberikan PR. Setahu saya tujuan utama pemberian PR adalah keterbatasan waktu yang dimiliki di dalam kelas dan untuk melatih kemampuan siswa agar mereka bisa advance kemampuan mereka sendiri lebih jauh. Karena mustahil bagi pendidik memberikan semuanya mulai dari konsep sampai latihan soal bertaraf HOTS (High Order Thinking Skill) dalam waktu 40 menit per JP untuk SMP dan 45 menit per JP untuk SMA. Memang pemberian PR bukanlah suatu keharusan, namun itu hanya sebagai salah satu cara untuk mengatasi keterbatasan yang ada dalam pembelajaran di kelas. Kalaupun dihapuskan pemberian PR asalkan pendidik dan peserta didik tidak merasa keberatan untuk lebih cooperative dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas ya tidak masalah. Tetapi itu cukup mustahil dilakukan mengingat tuntutan dari berbagai pihak yang cukup memberatkan, seperti misalnya: UN, SNMPTN, SBMPTN,UM. Masalah seperti ini tidak bisa ditanggulangi hanya dengan satu cara. Namun jika ditelusuri, sebenarnya kegunaan UN hanyalah sebagai pemetaan, bukan sebagi tuntutan. Dan jika kita membuka mata lebar-lebar sebenarnya tuntutan ini bukan berasal dari pusat saja tapi pada intermediate actor nya seperti misalnya kepala daerah yang menginginkan regional kekuasannya dipandang paling baik, sehingga tiap daerah berlomba-lomba menunjukkan eksistensi dirinya menjadi yang terbaik dengan berbagai cara yang ditempuh mulai dari menekan pihak sekolah untuk maksimal nilai UN nya dan ini yang membuat pihak sekolah mau tidak mau mengupayakan hal-hal yang cukup memberatkan siswa. Namun juga bukan pihak ini juga yang hanya menjadi lelakonnya. Mungkin juga lebih ke masalah mental dan adanya krisis kepercayaan diri pada masyarakat. Jika mereka merasa berkebutuhan untuk belajar, mau diberi PR atau tidak diberi PR itu bukanlah masalah.

    ReplyDelete
  94. Alvi Khoirunnisak
    15301241012
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Pemberian PR sering kali menjadi topik pembicaraan yang menarik. Selalu ada pro dan kontra dalam pelaksanaannya. Namun bagi saya sendiri, pemberian PR tidak mutlak salah atau benar. Perlu ditinjau terlebih dahulu beberapa hal seperti
    1. Tingkat pemahaman siswa, jika siswa dirasa memerlukan latihan, namun jam belajar di sekolah tidak mencukupi utk melanjutkan latihan, pemberian PR menjadi perlu untuk siswa, agar siswa semakin memahami materi yang disampaikam
    2. Tingkat kesulitan PR. Sering kali yang membuat PR menjadi pro dan kontra adalah PR dirasa terlalu sulit untuk siswa. Tingkatan kesulitan yg terlalu jauh dg materi yang disampaikan membuat siswa mengeluh dg pemberian PR. Belum lagi padatnya jadwal, dan PR lain dari pelajaran lain.

    Maka, pemberian PR tidak bisa sepenuhnya disalahan hingga dilarang dengan adanya UU pemerintah tersebut.
    Selama pemberian PR pada waktu, materi dan porsi yang pas, PR justru dapat membantu siswa untuk meningkatkan pemahaman terhadap pelajaran.
    Terimakasih :)

    ReplyDelete
  95. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Mengenai Larangan memberi PR matematika, tentunya akan menuai banyak pro kontra. Dan saya membaca kebanyakan komentar disini sudah banyak memberikan ulasan mengenai dampak negatifnya jika larangan memberi PR ini dilaksanakan. Saya sangat setuju jika matematika merupakan mata pelajaran yang membutuhkan banyak latihan untuk meningkatkan kreativitas dalam mengerjakan soal, disamping memahami konsep. Namun, disisi lain saya sangat setuju dengan pendapat bapak mengenai siswa memiliki kegiatan lain dirumah. Terlebih untuk saat ini sudah berlaku full day school untuk beberapa daerah. Saya rasa, dengan adanya full day school ini akan makin menekan siswa jika diberikan banyak PR pada hari weekdays. Misal pembelajaran matematika hari senin diberikan PR untuk pertemuan selanjutnya hari kamis, padahal setiap harinya mereka sudah belajar di sekolah dari pukul 7.30 hingga 16.30. Jika tetap dipaksakan memberi PR padahal siswa tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan dirumah, takutnya justru siswa menghalalkan segala cara untuk mengerjakan PR-nya misalkan dengan menyontek.

    Sehingga menurut saya, masalah larangan memberi PR ini perlu dikaji lagi dan perlu diperhitungkan mengenai jam belajar siswa di sekolah dan di rumah juga.

    ReplyDelete
  96. Aji Pangestu
    15301241009
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Segala kebijakan pasti akan menuai pro dan kontra, sama halnya dengan larangan pemberian PR matematika ini. Di satu sisi, memang pemberian PR matematika ini terkesan memberatkan siswa. Hal ini dikarenakan saat di rumah, tugas siswa bukan hanya mengerjakan PR dari sekolah, tetapi ada banyak hal seperti membantu orangtua, bermain, mengaji, dan lain-lain. Namun di satu sisi, tujuan pemberian PR ini adalah untuk memantapkan siswa dalam memahami materi yang telah didapat serta sebagai gambaran awal untuk materi selanjutnya. Walaupun memang hal yang terjadi adalah banyak siswa yang pada akhirnya menghalalkansegala cara untuk mendapatkan jawaban dari PR tersebut. Tidak jarang yang memilih untuk menyontek siswa lain untuk mendapatkan jawaban dari PR tersebut.

    Menurut saya, perlu adanya kajian kembali terkait larangan memberi PR matematika mempertimbangkan ketercapaian tujuan pembelajaran serta melihat juga dari segala sisi.

    ReplyDelete
  97. Eka Zuliana
    17703261019
    S3 IP Matematika 2017

    Barangkali kegiatan pemberian PR dapat kita ubah dengan memberikan proyek - proyek kecil yang dapat dibuat dan didiskusikan diantara siswa dalam rangka menguatkan pemahaman konsep matematika mereka

    ReplyDelete
  98. Norma Galih Sumadi
    15301241038
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Setiap kebijakan memang tidak bisa dihindarkan dari pro dan kontra. Dalam hal larangan pemberian PR Matematika pun demikian, tentunya memiliki dampak positif dan negatifnya sendiri. Saya sependapat dengan komentar-komentar sebelumnya bahwa pelajaran Matematika memang membutuhkan banyak latihan untuk mengasah kemampuan siswa dalam hal pemecahan masalah. Disamping itu, latihan juga diperlukan untuk lebih memahami konsep serta lebih mahir dalam mengaplikasikannya. Sayangnya, jam pelajaran di sekolah yang terbatas menjadi salah satu faktor yang mendorong PR menjadi solusi utama bagi guru. Padahal seperti yang kita tahu, siswa juga memerlukan waktu untuk bersosialisasi baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, yang mana dengan adanya kebijakan full day school sendiri sudah memaksa siswa untuk menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Menurut saya, untuk mengatasi hal tersebut memang diperlukan kebijaksanaan guru agar baik kebutuhan siswa untuk lebih memahami konsep Matematika serta kebutuhan untuk sosialisasi dapat tetap terpenuhi, contohnya dengan tetap memberikan PR namun dengan memperhatikan jumlah soal serta tingkat kesulitannya agar tidak terlalu memakan waktu siswa namun juga tetap berguna sebagai fasilitas bagi siswa untuk mengembangkan kemampuannya.

    ReplyDelete
  99. Eka Susanti
    15301241006
    Pendidikan Matematika I 2015

    Setiap hal pasti memiliki sisi positif dan negatif. Kebijakan mengenai pemberian PR pada siswa dapat ditanggapi berbeda oleh banyak orang. Memang, kebijakan fullday school yang digagas pemerintah membuat siswa 'sedikit' terforsir apabila masih harus mengerjakan PR di rumah. Jika setiap guru memberikan 5 soal untuk PR padahal terdapat 10 mata pelajaran, maka siswa memiliki kewajiban menyelesaikan 50 soal. Kebanyakan siswa sudah kelelahan dan ingin beristirahat setelah padatnya agenda. Disisi lain, guru juga dituntut untuk menyelesaikan materi. Selain itu menurut aliran Aliran latihan mental (struktur otak manusia terdiri atas gumpalan-gumpalan otot yang harus dilatih. Artinya siswa dapat memaknai pembelajarannya dengan mengerjakan latihan yang terstruktur dan berulang. Untuk itulah PR dapat digunakan sebagai latihan di rumah. Guru hendaknya memberikan PR yang sewajarnya dan disesuaikan dengan beban siswa

    ReplyDelete
  100. Yuni Pratiwi
    15301241005
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dengan adanya keputusan kementrian mengenai larangan memberi PR Matematika ini pasti menuai pro dan kontra. Terlebih lagi yang menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Mungkin larangan memberi PR Matematika ini sudah diberlakukan di Luar Negeri, tetapi kita harus ingat bahwa yang baik bagi oranglain belum tentu baik bagi kita. Karakteristik siswa di luar negeri dan siswa di Indonesia itu berbeda, siswa diluar negeri mampu belajar dengan sendirinya karena memang memiliki motivasi belajar yang tinggi, beda dengan siswa di Indonesia di berikan PR saja masih bermalas-malasan untuk belajar apalagi tidak diberikan PR sama sekali, bisa jadi mereka tidak belajar sama sekali. Sebenarnya agar tidak terlalu membebani pesikis siswa bisa dilakukan dengan pemberian PR tetapi jumlah soalnya dikurangi, sehingga siswa tetap belajar tetapi psikis mereka tidak lagi terbebani. Tetapi ada yang sangat saya herankan, pemberian PR Matematika dilarang atas dasar membebani psikis siswa, tetapi kenapa sekarang sekolah menjadi full day school? Dimana jam belajar di sekolah menjadi bertambah, padahal sesuai yang Prof tuliskan bahwa pendidikan itu tidak hanya disekolah. Poin kedua perihal UN, UN ini sudah dirasakan dari jaman bapak ibuk saya menempuh pendidikan, saya merasakan, dan pasti penerus saya dimasa depan pasti juga akan mengalami UN. Sungguh sangat ironis jika UN dijadikan tombak ukur suatu kualitas pendidikan. Seharusnya UN hanya dijadikan suatu pemetaan , bukan sebagai tuntutan suatu sekolah.

    ReplyDelete
  101. Puspitarani
    15301244008
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    Terima kasih Bapak atas artikel yang Bapak share kepada kami. Setiap aturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing. Seperti kurikulum 2013 yang baru saja 5 tahun ini dilaksanakan. Beberapa kali saya pernah bertanya kepada saudara saya (guru dan siswa) tentang pelaksanaan K-13 itu seperti apa. kebanyakan mereka menjawab masih bingung, memberatkan, guru tidak banyak bicara, murid yang dituntut untuk menemukan sendiri. Begitu pula dengan larangan pemberian PR Matematika, pasti juga ada pro dan kontra. Dari beberapa komentar yang saya baca ada yang mengatakan jika mungkin larangan memberi PR matematika sudah diberlakukan di luar negeri. Nah dari sini kita harus tahu terlebih dahulu negara mana saja yang sudah melarang memberi PR Matematika untuk siswa,misalnya negara Jepang yang notabene bisa dibilang siswa-siswinya sudah pandai dan terampil ber-matematika dibuktikan dengan tes/ujian dan nilai matematika Internasional yang mengatakan hasil belajar Matematika siswa-siswa Jepang tinggi. lalu kita kembali lagi ke negara kita Indonesia, apakah siswa-siswi di Indonesia sudah pandai dan terampil ber-matematika? saya rasa belum, bahkan dari data Internasional hasil belajar siswa Indonesia masih tergolong rendah. Apalagi di jaman modern ini, misalnya anak tidak ikut les atau kegiatan yang lain apa ada jaminan mereka dapat menguasai matematika jika tidak diberi PR? Lalu apakah ada jaminan juga untuk anak yang sudah les mereka dapat menguasai Matematika? terkadang anak yang malas untuk les mereka akan menggunakan waktu mereka untuk bermain, untuk anak yang rajin les juga biasanya menyerahkan PR atau tugas kepada guru lesnya agar dikerjakan oleh guru lesnya. Jadi pemerintah boleh memberikan larangan memberikan PR Matematika untuk siswa, asalkan ada jaminan bahwa siswa tanpa diberi tugas tambahan dapat pandai dan terampil bermatematika. Mungkin larangan pemberian PR Matematika hanya berlaku untuk siapa saja, dan tidak berlaku untuk siapa. Kami yang kuliah di Jurusan Pendidikan Matematika saja setiap minggu ada tugas matematika. Apalagi Matematika merupakan salah satu pelajaran yang dimasukkan dalam Ujian Nasional, ujian untuk masuk universitas.

    ReplyDelete

  102. Endar Chrisdiyanto
    S1 pendidikan Matematika A 2015
    15301244011

    Menurut saya larangan pemberian PR itu boleh-boleh saja akan tetapi hal itu hanya berlaku bagi sekolah yang menerapkan sistem Full Day School karena sekolah yang menerapakan Fullday ini akan menguras tenaga siswa SD/SMP. Pemberian PR boleh saja dilakukan untuk sekolah yang kondisi sekolahnya 6 hari kerja karena akan banyak waktu yang tersisa bagi siswa . selain itu pula pemberian PR ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswaa dalam menguasai materi mata pelajaran yang baru disampaikan oleh guru dan juga untuk mengetahui tingkat pencapai dari subbab kompetensi yang disampaikan.sehingga pemberian PR ini dirasa efektif dalam pencapaian hasil belajar siswa.
    Reply

    ReplyDelete
  103. OKta Islamiati
    15301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Pemberian PR kepada siswa sudah dilakukan secara turun temurun dalam sistem pendidikan di Indonesia sehingga aturan pemerintah tersebut menimbulkan banyak pro dan kontra di kalangan masyarakat. Menurut saya asal mula diterbitkannya larangan tersebut karena tujuan dari pemberian PR sudah mulai bergeser. Pemberian PR seharusnya bukan untuk membebani siswa (contohnya dengan memberi banyak PR), tetapi memfasilitasi siswa agar lebih memahami pembelajaran yang sudah dilaksanakan sebelumnya dan membantu guru agar dapat menilai materi apa yang masih dirasa sulit bagi siswa. Namun dengan adanya fullday school, pemberian PR bisa menjadi beban bagi siswa. Berdasarkan hal tersebut pemerintah membuat aturan tersebut yang sangat saya apresiasi karena tujuannya baik, agar siswa memiliki waktu lebih disamping belajar. Akan tetapi, menurut saya pemberian PR itu perlu namu tidak terlalu banyak, mungkin 2 atau 3 soal saja agar siswa mengingat kembali apa yang sudah mereka pelajari. Oleh karena itu, peraturan tersebut harus ditinjau kembali dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain.

    ReplyDelete
  104. Julialita Muhariani
    15301241004
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Keputusan kementrian terkait larangan pemberian PR ini ternyata menimbulkan pro dan kontra dari berbagai kalangan. Menurut pandangan Saya, siswa boleh-boleh saja diberikan PR tetapi dalam upaya agar siswa mempelajari lagi materi yang telah dipelajari di sekolah secara mendalam, karena di jaman yang super canggih seperti saat ini ketika siswa pulang ke rumah mereka bukan lagi segera berganti pakaian, makan, istirahat, tetapi mereka segera mencari gadget masing-masing hingga akhirnya lupa waktu. Mau makan saja sudah lupa, bagaimana dengan materi baru yang baru saja dipelajari di sekolah. Tentu akan dilupakan sangat cepat. Oleh karena itu, pemberian PR adalah salah satu cara agar siswa belajar, namun jangan berikan terlalu banyak PR, beri saja 1 atau 2 soal tetapi bermakna.

    ReplyDelete
  105. Muhammad Labib Hidayaturrohman
    15301241023
    Pendidikan Matematika I 2015

    Terimakasih atas artikel bapak. Dalam pembelajaran, guru berperan sebagai fasilitator sehingga guru seharusnya berusaha sebaik mungkin dalam memfasilitasi siswa supaya dapat belajar dengan baik. dalam memfasilitasi siswa, banyak cara yang guru lakukan dan itu semua harus dipertimbangkan dengan baik, termasuk mempertimbangkan aspek pelajaran lainnya. Menurut saya, PR adalah salah satu cara yang guru lakukan untuk memfasilitasi siswa agar lebih mudah memahami dan memaknai suatu materi dalam pembelajaran. Namun, sering guru tidak mempertimbangkan banyak hal ketika memberikan PR, guru cenderung memberikan PR terlalu banyak atau terlalu sedikit sehingga siswa tidak terfasilitasi dengan baik. Menurut saya, PR dapat menjadi salah satu fasilitas bagi siswa apabila PR yang diberikan cukup dalam artian tidak terlalu banyak atau tidak terlalu sedikit bahkan tidak ada sama sekali. Namun dalam pemberian PR juga memperhatikan karakteristik siswa, apakah dengan karakteristik siswa tersebut akan lebih terfasilitasi dengan pemberian PR atau tidak, disitulah salah satu tugas guru sebagai fasilitator. Ada baiknya untuk setiap kebijakan yang ada dipertimbangkan dengan baik dan tidak hanya terpaku hanya pada beberapa titik contoh seperti hanya di Jakarta atau semacamnya dalam mengambil kebijakan. Terimakasih

    ReplyDelete
  106. Bayu Widyanto
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301244010

    Pastilah banyak yang pro dan kontra mengenai larangan memberi pr matematika. Kalau menurut saya sendiri larangan memberi pr ini boleh-boleh saja, asal dilihat dulu karakteristik siswa tersebut. Apakah mendukung, semisal saja di sekolah guru telah memberikan soal-soal latihan di kelas, dan hasilnya cukup bagus maka fair-fair saja tidak memberi pr kepada siswa. Akan tetapi jika masih banyak yang belum bisa, maka baik juga jika memberikan pr kepada siswa terkait materi yang belum dipahami/dikuasainya. Sebenarnya ada baik dan buruk saat memberikan pr maupun tidak.

    ReplyDelete
  107. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    Pendidikan Matematika

    Menurut saya larangan memberikan PR matematika kepada siswa memiliki tujuan yang baik yaitu memberikan kesempatan kepada siswa untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan mengembangkan talenta yang dimiliki yang tidak mereka dapatkan di sekolah. Akan tetapi kebijakan ini memang harus ditinjau ulang. Menurut saya pemberian PR ke ada siswa masih diperlukan krena dengan adanya PR siswa akan tergerak untuk belajar, siswa bisa terus belatih dalam menyelesaiakn suatu permasalahan, siswa bisa mengembangkan pengetahuan dan juga dapat mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari, tetapi bukan berarti setiap pertemuan guru memberikan PR dan jangan sampai PR malah membebani siswa, jadi pemberian PR jangan banyak, misalnya saja 1-3 soal.

    ReplyDelete
  108. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Kebijakan baru dalam dunia pendidikan: dilarang memberikan PR kepada siswa. Dalam setiap kebijakan, tentu selalu ada pro-kontra, ada dampak positif dan negatifnya. Saya setuju dengan artikel Pak Marsigit di atas, bahwa sebenarnya kebijakan mengenai larangan memberikan PR kepada siswa tersebut punya maksud dan tujuan yang baik. Namun, ada baiknya kebijakan tersebut dibarengi dengan kebijakan lain seperti pembenahan dalam sistem pembelajaran, bahwasanya hakikat pembelajaran matematika di tingkat dasar (SD & SMP) adalah kegiatan, termasuk di dalamnya kegiatan mencari pola atau hubungan, memecahkan masalah dan lain-lain. Metode-metode yang digunakan dalam membelajarkan matematika harus diberi variasi dengan tujuan peningkatan kemampuan-kemampuan matematis siswa, bukan hanya berorientasi pada pencapaian nilai yang tinggi dalam Ujian Nasional tanpa memperhatikan masuk atau tidaknya pembelajaran ke dalam diri siswa.

    ReplyDelete
  109. kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Menurut saya kebijakan pemerintah tentang larangan memberikan PR kepada siswa itu kurang tepat, dikarenakan kebanyakan siswa jika tidak diberi PR maka tidak akan belajar saat di rumah. sebenarnya tujuan guru untuk memberikan PR siswa adalah agar siswa dapat belajar di rumah dan dapat mengulang kembali pelajaran yang sudah disampaikan di sekolah. poin selanjutnya, saya sependapat dengan artikel tersebut bahwa guru haruslah bijaksana, di satu sisi mampu memenuhi harapan pemerintah, tetapi di disi lain mampu menjadi pelindung murid muridnya. Di sekolah hanyalah guru satu satunya yang mampu melindungi hidup belajar para siswanya. Jika tiadalah guru mampu melindungi dan mengayomi kebutuhan para siswanya, maka dunia siswa akan berantakan akibatnya mereka akan kehilangan intuisi, kehilangan empati, kehilangan orientasi. Hasilnya jelas kenakalan remaja, tawuran, narkotika, dst. dari pernyataan tersebut, tampak sangat berat tugas seorang guru

    ReplyDelete
  110. Finda Ayu Annisa
    15301241024
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Sedikit pendapat saya tentang larangan memberikan PR matematika kepada peserta didik kurang setuju. Karena dengan memberikan PR ke peserta didik maka peserta didik akan tergerak untuk mengerjakan PR tersebut dan ia mau tidak mau harus belajar. Peserta didik dapat berlatih dalam menyelesaikan suatu permasalahan yang terdapat di PR tersebut. Selain itu, peserta didik juga dapat menambah pengetahuannya tentang matematika. Tapi di sini guru harus bijaksana dalam memberikan PR. Janganlah PR menjadi beban bagi peserta didik dan jangan memberi PR di setiap pertemuan.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  111. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Setelah membaca artikel Bapak saya sedikit "terkejut" bahwa ternyata "nilai oriented" berdampak sangat besar, sampai-sampai terjadi kasus pelarangan terhadap inovasi dalam pembelajaran. Lebih baik kita lebih menekankan proses agar siswa dapat mengerti logika berpikir untuk masalah tertentu, tidak hanya "dijejeli" rumus untuk mengejar nilai.
    Terkait hal tidak memberikan PR, saya masih ragu-ragu harus menyetujui wacana ini atau tidak. Jika pembelajaran di sekolah dapat menjaminnya tercapainya kompetensi yang harus dicapai oleh siswa, tidak memberikan PR tidak menjadi masalah, karena siswa telah mendalami di sekolah. Akan tetapi, jika dalam proses pembelajaran dirasa siswa kurang mendalami materi yang diajarkan, pemberian PR juga bisa menjadi sarana siswa untuk lebih mendalami materi.
    Jika pemberian PR benar-benar dihapuskan, apakah pembelajaran di sekolah sudah menjamin penguasaan materi yang utuh? Sebagai calon guru atau guru, sepedtinyang disebutkan pada artikel di atas bahwa kita harus senantiasa meningkatkan imu dan pengetahuan siswa melalui proses pembelajaran. Sehingga siswa bisa mencapai Kompetensi yang harus dicapai tanpa pemberian PR.
    Saya juga ingin bertanya, Pak. Jika pemberian PR benar-benar dihapuskan, dapatkah diganti dengan diadakan kuis ringan setelah belajar materi untuk menguji pemahanan siswa sekaligus membantu siswa untuk lebih memperdalam materi? Terima kasih

    ReplyDelete
  112. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Realita di sekolah memang benar siswa-siswa, guru-guru bahkan kepala sekolah terbenani dengan adanya UN. Tentu semua berharap nilai UN yang diraih siswa-siswi di sekolah baik dan membanggakan akan tetapi sebaik apapun hasil yang diperoleh jika esensi pembelajaran tidak tercapai maka nilai itu hanya sebatas angka yang tidak bermakna. Kepala sekolah dan guru-guru seharusnya dapat memfasilitasi siswa dalam belajar. Tidak hanya sekedar bisa mengerjakan soal tetapi siswa juga harus mampu memahami dan merencanakan cara mencari solusi dari soal yang didapat. Berbagai macam metode yang ada dapat menjadi alternative guru untuk menjadikan pembelajaran menjadi bermakna. Adanya PR juga menambah motivasi siswa dalam belajar khususnya matematika.

    ReplyDelete
  113. Nur'aini Habibah Sa'diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah pasti menuai pro dan kontra dari berbagai lapisan masyarakat, dalam hal ini kebijakan terkait larangan pemberian PR matematika. Di satu sisi, pemberian PR dirasa memberatkan bagi siswa karena saat dirumah tugas siswa tidak hanya belajar, namun juga bermain, membantu orang tua, serta lainnya. Hal tersebut mengakibatkan siswa harus mampu mengatur jadwalnya padahal terdapat kebijakan pemerintah bahwa sekolah dilaksanakan full day school yang membuat siswa lelah saat sampai dirumah. Mengingat hal tersebut, larangan terhadap pemberian PR tidak salah dilakukan asalkan pada setiap pembelajaran dikelas telah mencapai tujuan pembelajaran secara keseluruhan baik dalam kemampuan kognitif siswa maupun kemampuan afektif siswa. Disisi lain, pemberian PR matematika tidak salah dilakukan. Matematika memang membutuhkan banyak latihan, keterampilan, kreativitas dalam memahami konsep serta menyelesaikan masalah terkait konsep tersebut. Pemberian PR dapat membantu pembelajaran matematika yang terbilang cukup rumit dan tidak dapat diselesaikan secara langsung saat pembelajaran dikelas. Namun perlu diperhatikan pula bahwa pemberian PR matematika perlu melihat mata pelajaran lain yang membutuhkan konsentrasi serupa. Jika pemberian PR matematika mengacuhkan hal-hal lainnya, anak akan cenderung malas dan pemberian PR tidak menjadi efektif dan efisien.
    Saya setuju dengan pendapat Prof Marsigit. Disamping itu enurut saya, perlu adanya pengkajian ulang terkait larangan pemberian PR. Pengkajian tersebut dilihat dari berbagai aspek seperti kemampuan siswa, keterlaksanaan tujuan pembelajaran, pembagian waktu untuk siswa, orang tua, maupun guru, serta aspek-aspek lainnya.

    ReplyDelete
  114. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    “Jadilah guru yang bijaksana, di satu sisi mampu memenuhi harapan pemerintah, tetapi di disi lain mampu menjadi pelindung murid muridnya. Di sekolah hanyalah guru satu satunya yang mampu melindungi hidup belajar para siswanya.” Kalimat di atas menyadarkan dan mengingatkan saya betapa pentingnya guru bagi kelangsungan hidup pelajar khususnya dan negara pada umumnya. Karena negara di songsong oleh generasi muda.

    Terkait larangan memberikan PR Matematika, pendapat saya pribadi, menurut saya hal itu kurang tepat. Di lihat saja dari karakteristik pelajar Indonesia pada umumnya, mereka tidak akan belajar jika tidak ada tugas, PR, atau ujian. Setidaknya siswa akan mengulang kembali pelajaran di sekolah dengan mengerjakan PR. Selain itu PR juga dapat melatih sikap sosial yaitu tanggung jawab.

    ReplyDelete
  115. Rina Anggraeni
    15301241043
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Dari pesan bapak tentang menyoal larangan memberikan PR, saya akan berusaha untuk mengerti dan paham paradigma-paradigma yang sesuai dengan tingkatan usia peserta didik. Sebenarnya menurut saya PR yang sewajarnya itu memiliki banyak manfaat, salah satunya yang paling umum yaitu menjadikan peserta didik belajar, karena dengan mengerjakan PR secara tidak langsung mereka juga belajar. Semoga nantinya semua calon guru akan menjadi guru yang bijaksana, amiin.

    ReplyDelete
  116. Zayan Nur Ansito Rini
    15301241003
    S1 Pendidikan Matematika

    PR dipandang sebagai salah satu hal yang menyulitkan, membebani, dan menyita waktu siswa untuk bisa berkumpul dengan keluarga. Padahal PR adalah salah satu cara guru melihat apakah tujuan pembelajaran yang sudah dilaksanakan tercapai? Bagaimana tingkat pemahaman siswa sebenarnya? Akan tetapi, dalam pemberian PR juga harus mengikuti aturan, tidak asal tentu saja. Menurut yang pernah disampaikan oleh dosen saya, PR paling tidak harus bisa diselesaikan paling lama satu jam. Mempertimbangkan jam belajar masyarakat dan juga mata pelajaran lain. Karena tidak mungkin ketika semua mata pelajaran memberi PR, guru justru memberikan PR yang sangat sulit dan butuh waktu sangat lama untuk mengerjakannya. Yang jelas, PR tidak memberi dampak buruk asal diberikan sesuai dengan rambu-rambu yang ada.

    ReplyDelete
  117. Ibnu Rafi
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Setelah membaca postingan Bapak yang berjudul "menyoal larangan memberi PR matematika" ini, saya menjadi cukup memahami esensi dari PR--kapan perlu memberi PR dan kapan tidak perlu memberi PR. Saya setuju dengan yang diungkapkan oleh Pak Prof. Marsigit bahwa larangan memberi PR matematika yang diimbau oleh bapak Menteri Pendidikan seharusnya memiliki alasan/dasar/landasan yang jelas dan kuat. Sebab, imbauan untuk tidak memberi PR matematika yang mungkin "terinspirasi" dari pendidikan di Finlandia akan lebih baik jika disesuaikan dengan kondisi pendidikan di Indonesia.

    ReplyDelete
  118. Ibnu Rafi
    14301241053
    S1 Pendidikan Matematika Kelas I 2014

    Menurut Carr, N. S [1], bahwa "Homework, when designed and implemented properly, is a valuable tool for reinforcing learning."(p. 169). Berdasarkan hal ini, pemberian PR akan efektif jika PR tersebut ditujukan untuk memperkuat pengetahuan siswa terhadap hal yang ia pelajari di sekolah. Namun untuk memastikan tujuan ini bisa tercapai atau tidak bukanlah hal yang mudah terlebih dengan "menjamurnya" bimbingan belajar yang menjadikan siswa "tergantung" pada para tentor, termasuk mengerjakan PR. Di lain sisi, saya setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Prof. Marsigit bahwa PR tidak lagi menjadi keharusan untuk diberikan kepada siswa (atau malah tidak ada PR lagi) jika sudah dipastikan bahwa matematika yang dibelajarkan kepada siswa (SD atau SMP) adalah matematika sekolah yang berupa kegiatan mencari pola dan hubungan antarpola, memecahkan masalah, meneliti/menginvestigasi fenomena matematika di kehidupan sehari-hari atau di alam sekitar, dan berkomunikasi.

    [1] Carr, N. S. (2013). Increasing the effectiveness of homework for all learners in the inclusive classroom. School Community Journal, 23 (1), pp. 169-182

    ReplyDelete
  119. Zudhy Nur Alfian
    15301241035
    S1 Pend Matematika 2015

    Menurut pemikiran saya, pemberian PR masih diperbolehkan. Dengan adanya PR diharapkan siswa dapat secara mandiri menemukan dan atau menyelesaikan permasalahan yang diberikan. Selain itu, saya setuju terkait pembelajaran pada tingkat dasar, yang seharusnya pembelajaran merupakan suatu bentuk aktivitas. Hal ini agar siswa mengenal betul apa yang dia pelajari dalam bentuk konkrit. Sedangkan selama ini, selama pembelajaran pada tingkat dasar seolah-olah anak dewasa. Selain hal tersebut, dalam praktik di sekolah, sebagian besar sekolah tersebut memiliki target dalam hal Ujian Nasional, sehingga fokus utama pada keberhasilan nilai UN. Sehingga, siswa diberi latihan-latihan untuk membantu menemukan pola yang ada di soal UN tanpa memberikan asal usul materi tersebut. Hal ini menyebabkan siswa merasa tercekoki dan kurang paham mengenai esensi belajar matematika untuk kehidupan.

    ReplyDelete
  120. Intan Heryani Putri
    15301241011
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Saya kurang sepakat jika pemberian PR Matematika benar-benar dihentikan karena menurut saya, siswa perlu diberi PR untuk dia tetap belajar di rumah, tidak hanya di sekolah. Tidak semua siswa dapat rajin dengan sendirinya untuk belajar tanpa suruhan, pemberian PR ini bisa menjadi salah satu motivasi untuk mereka tetap belajar. Terkait akan mengganggu kegiatan di rumah yang lain seperti sosialisasim rasanya tidak juga apabila PR yang diberikan memang sesuai porsi. Tidak terlalu banyak dan memberatkan siswanya, ada penyesuaian waktu yang dapat dikira-kira oleh guru, seberapa butuh atau seberapa tingkat kesulitan pengerjaan PR tersebut harusnya disesuaikan dengan baik. Bukan berarti sama sekali tidak ada PR.

    ReplyDelete
  121. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Saya setuju dengan pendapat Prof mengenai UN dan PR. Permasalahannya bukan terletak pada UN atau PR itu sendiri akan tetapi paradigma pendidikan yang digunakan. Selama ini pendidikan di Indoensia masih berorientasi pada hasil, belum proses. Munculnya anggapan negatif mengenai inovasi-inovasi pembelajaran merupakan sebuah kondisi yang sangat memprihatikan jika lihat dari sudut pandang pengembangan kualitas pendidikan sebagai akibat dari paradigma yang digunakan selama ini. Oleh karena itu, peran pemerintah (stakeholder) sangat urgent dalam mengatasi masalah ini demi meningkatkan kualitas pendidikan dan SDM di Indonesia.

    ReplyDelete
  122. Ibrohim Aji Kusuma
    18709251018
    S2 PMA 2018

    Menyoal UN dan PR, kita dapat mengambil contoh negara-negara maju yang ternyata masih menggunakan sistem tersebut (Standarized Test) seperti Jepang, Cina dll. Artinya jika kita berpendapat UN dan PR itu tidak perlu, maka yang kita sampaikan pada dasarnya adalah opini bukan fakta/teori yang berdasar research.
    Menurut saya, UN perlu digunakan sebagai persyaratan tertentu seperti peran GRE/ SAT di USA/Ingggris. PR juga penting sebagai bagian dari pembelajaran dengan batasan-batasan tertentu.

    ReplyDelete
  123. Ameliasari Tauresia Kesuma
    18701261015
    S3 PEP (Penelitian dan Evaluasi Pendidikan)

    Setuju Prof. Finlandia saja memberikan PR ke murid muridnya diperhitungkan benar, bahwa PR tersebut bisa selesai dikerjakan di rumah selama 15 menit.
    Setuju juga bahwa PR yang diberikan ke siswa harusnya lebih bermakna dan konstekstual untuk pemahaman mendalam mereka terhadap suatu konsep dasar, dan yang terpenting sesuai tumbuh kembang mereka. Menurut saya yang terjadi di lapangan sepertinya paradok dengan permendikbud 22 tentang standar proses, bahwa misal RPP yang dibuat harus sesuai dengan minat, perkembangan fisik dan psikologis peserta didik - https://untukanakbangsa.blogspot.com/2018/05/permendikbud-20-24-tahun-2016.html#more - sampai kapan anak anak belajar tanpa makna :(
    Sedih prof, permasalahan pendidikan kita sangat komplek - padahal kita harus mempersiapkan anak bangsa ini untuk menghadapi kehidupannya di abad 21

    Semangaaatt ah...
    Terimakasih inspirasinya Prof, jadi merasa diperkuat lagi sekarang. Alhamdulillah

    ReplyDelete
  124. Agnes Teresa Panjaitan
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251013

    Saya setuju dengan apa yang Bapak paaprkan dalam tulisan ini. Saya yakin bahwa pemerintah memiliki niatan yang baik dalam menyusun suatu kebijakan terutama dalam bidang pendidikan. Akan tetapi, seperti yang Bapak katakan bahwa setinggi-tingginya ilmu, lebih tinggi adalah kebijakan dan pemerintah menyadari betul hal tersebut. Kebijakan akan memengaruhi banyak hal seperti proses dan hasil. Alangkah lebih bijaksana jikalau sebelum membuat aturan pemerintah meninjau terlebih dahulu dari penelitian-penelitian yang sudah ada ataupun melakukan penelitian khusus untuk hal tersebut. Menurut saya, pemberian PR matematika juga merupakan metode yang dianggap layak untuk diberikan untuk sebagian murid yang membutuhkan hal tersebut dikarenakan berbagai pertimbangan seperti kondisi ketertinggalan dengan materi yang ditetapkan dan karakter siswa yang memang membutuhkan latihan lebih. Karena karakter siswa juga berbeda beda.

    ReplyDelete
  125. Dini Arrum Putri
    18709251003
    S2 P Math A 2018

    Miris sekali ketika membaca tentang tulisan bapak di atas bahwa pendidikan sekarang terjadi karena dasar untuk kepentingan guru ataupun orang tua. Guru cenderung memberikan siswa sekolah dasar PR untuk mengatas solusi permasalahannya sendiri yang mana justru akan menyulitkan siswa apalagi image matematika masih dipandang sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan. Seharusnya siswa memang tidak perlu dibebankan dengan begitu banyak pekerjaan rumah sehingga menunda aktivitas lainnya, guru yang berkuliatas akan memanfaatkan waktu belajar mereka di kelas dengan cara membuat matematika menjadi mapel yang menyenangkan, lebih membimbing siswa untuk mengexplore dan menemukan sendiri di lingkungan sekitar mereka.

    ReplyDelete
  126. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018

    Saya sependapat dengan Bapak bahwa larangann memberi PR Matematika bertujuan baik tetapi tidak mampu menyelesaikan solusi pendidikan nasional. Sekolah sekarang yang menggunakan full day atau hanya lima hari kerja pastinya akan mengurangi kegiatan siswa di rumah, jika siswa masih diberi PR mereka pasti akan mengeluh karena capek pulang sore. Tetapi ada sekolah yang full day tetap memberikan PR dan tugas-tugas lain. Hal tersebut seharusnya guru lebihh mengerti keadaan siswanya agar tidak memberikan tugas dan itu juga termasuk aturan dari pemerintah. Seorang guru memang harus menjdi orang yang bijak sesuai dengan pendapat Bapak, say juga setuju dengan itu.

    ReplyDelete
  127. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Saya setuju dengan pendapat Pak Marsigit mengenai penghapusan pemberian PR itu baik namun tidak mampu menyelesaikan masalah pendidikan kita. Pada dasarnya niatan guru memberikan PR kepada siswanya tentu baik yaitu bertujuan agar siswa bisa mengulang kembali pelajaran yang sudah di peroleh di sekolah. Akan tetapi mengingat banyaknya mata pelajaran di sekolah, jika setiap mata pelajaran memberikan PR tentu ini akan membuat beban bagi siswa. Karena saat dirumah siswa tentu mempunyai aktivitas lainnya seperti yang muslim harus pergi mengaji dll. Oleh karena itu sebagai guru kita harus bijak dalam memberikan PR kepada siswa. Jangan membuat siswa malah terbebani dan akhirnya mengeluh saat mengerjakan PR.

    ReplyDelete
  128. Yuntaman Nahari
    18709251021
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Larangan memberi PR matematika yang telah digemborkan oleh pemerintah menuai banyak reaksi, khususnya para pendidik. Saya setuju dengan pendapat prof bahwa larangan pemberian PR matematika memang mempunyai tujuan yang baik, namun tidak mampu menyelesaiakan solusi hakiki pendidikan nasional. Menjadi guru yang bijaksana memang berat, harus mampu memenuhi harapan pemerintah dan melindungi siswanya. Sebagian besar guru mungkin mengalami dilematis, bagaimana seandainya siswa tidak diberi PR, bagaimana jikalau sebaliknya. Semua keputusan memang akan menuai risiko. Mengenai kapan dan bagaimana harus memberikan PR kepada siswa, terlebih dahulu lihatlah bagaimana kondisi siswa dan lingkungan belajarnya, kemudian sesuaikanlah agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

    ReplyDelete
  129. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    PPS Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr. wb.
    Saya setuju bahwa larangan pemberian PR dari pemerintah memang bertujuan baik tetapi tidak dapat menjadi solusi dari masalah pendidikan nasional. Malah justru menjadi dilema guru. Disatu sisi dengan pemberian PR guru dapat memenuhi beban SK KD yang harus dicapai dan untuk memfasilitasi siswa dalam memahami, mengerti dan terapmpil dalam penguasaan konsep tetapi disisi lain pemberian PR akan membatasi siswa dalam penguatan pendidikan karakter. Oleh karena itu, pemerintah seyogyanya dalam membuat kebijakan pertimbangkan berbagai hal baik situasi dan kondisi dilapangan serta paradigma-paradigma pendidikan yang seharusnya diterapkan. Selain itu peran guru harus bijaksana dalam mengimbangi baik memenuhi kebijakan dan harapan pemerintah maupun dalam mengayomi dan memenuhi kebutuhan murid.
    Wassalamu’alaikum wr wb

    ReplyDelete
  130. Endah Kusrini
    18709251015
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Saya setuju dengan pernyataan Prof. Marsigit bahwa larangan pemberian PR bertujuan baik namun bukan solusi dari masalah pendidikan yang kita hadapi. Saya juga setuju bahwa masalah utama yang dikeluhkan oleh guru adalah beban menuntaskan SK KD, karena saya pun merasakan hal yang sama ketika mengajar di sekolah. Dilematis memang, di satu sisi ingin membantu siswa untuk membangun pengetahuan matematika melalui aktifitas-aktifitas, namun di sisi lain siswa dituntut untuk mampu sukses dalam ujian. Hal tersebut membuat guru mempunyai inisiatif untuk memberikan PR kepada siswa dengan harapan agar selama di rumah siswa dapat semakin memperdalam apa yang telah mereka pelajari di sekolah, karena pada kenyataannya masih ada siswa-siswa yang tidak belajar jika tidak diberi PR.

    ReplyDelete
  131. Seftika Anggraini
    18709251016
    PPs Pend. Matematika A 2018

    Pembelajaran matematika orang dewasa berbeda dengan pembelajaran matematika anak kecil karena mereka memiliki cara berpikir dan psikologi yang berbeda. Sehingga pembelajaran yang diberikan saharusnya disesuaikan dengan dua hal tersebut supaya anak tidak merasa tertekan dan meraaa senang dengan pembelajaran yang diterima.
    Terima kasih

    ReplyDelete
  132. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu’alaikum wr wb
    Menurut saya, larangan pemberian PR matematika yang dilakukan oleh pemerintah adalah suatu hal yang baik tetapi juga buruk. Sisi baiknya pelarangan PR untuk siswa memberikan kesempatan kepada siswa untuk memanfaatkan waktu diluar sekolah untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan lingkungannya. Buruknya yaitu, ketika siswa tidak diberikan PR mereka cenderung tidak akan mempelajari atau mengingat apa yang diberikan di sekolah ketika berada di rumah. Padahal proses belajar tidak bisa hanya mengandalkan ketika siswa berada di sekolah dengan waktu yang sangat terbatas. Maka dari itu pemberian PR masih perlu dilakukan, tetapi dengan mempertimbangkan porsi yang sesuai agar siswa dapat berinteraksi juga dengan lingkungan yang ada diluar sekolah.

    ReplyDelete
  133. Fany Isti Bigo
    PPs UNY PM A 2018
    18709251020

    memberikan Pr atau tidaknya menurut saya harus dilihat dari kebutuhan siswanya. Jika siswa sendiri dirasa perlu untuk mendalami sesuatu dan mampu dengan mengerjakan sendiri maka berikan pr mandiri. namun ada banyak siswa yang ternyata tidak mampu mengerjakan Pr sendiri artinya ia membutuhkan tutor sebaya yang membantunya. dan ada pula yang sangat membutuhkan gurunya langsung dalam membantunya belajar. Guru memang dituntut untuk bekerja sesuai peraturan namun guru juga adalah orang tua bagi muridnya yang paham tentang kebutuhan siswanya masing-masing.

    ReplyDelete
  134. Bayuk Nusantara KR.J.T
    18701261006
    S3 Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP)


    Saya setuju dengan kalimat dalam artikel tersebut yaitu terjadi ambivalensi yaitu berharap[ hasil yang baik tetapi tidak disertai dengan komitmen untuk mencapainya. Saat ini pemerintah hany baerharap hasil yang terbaik tetapi tidak ada komitmen untuk mencapai hal tersebut. OLeh karena itu, pemerintah hendaknya memiliki komitmen yang konsisten untuk mewujudkan hasil pendidikan yang baik.

    ReplyDelete
  135. Anggoro Yugo Pamungkas
    18709251026
    S2 Pend.Matematika B 2018

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
    Perihal pelarangan memberi PR matematika, itu menurut saya kurang tepat. Karena dengan adanya PR, siswa akan mencoba kembali pelajarannya dirumah, walaupun ada sebagian siswa yang menganggap sekolah itu adalah rumahnya :D, sehingga mereka setiap ada PR mengerjakan di sekolah. tapi itu tidak terlalu menjadi masalah, tetapi yang menjadi masalah jika mereka tidak belajar apa-apa diluar jam pelajaran. Dengan adanya PR, sehingga mereka melihat kembali materi-materi sebelumnya.
    Hidup pendidikan Indonesia. Hidup generasi muda bangsa. Hidup NKRI. :)

    ReplyDelete
  136. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika B

    Memberi PR atau tidak sebenarnya tergantung dari situasi di kelas. Apabila siswa memang perlu untuk memahami lebih dalam suatu, materi memberi PR bisa menjadi solusi. Namun, dengan catatan PR tersebut tidak boleh terlalu banyak karena akan menjadi beban untuk siswa. Pada zaman modern seperti sekarang PR juga bisa menjadi solusi untuk siswa agar tidak terlalu lama bermain gadget.

    ReplyDelete
  137. Samsul Arifin
    18701261007
    S3 PEP 2018

    PR=pekerjaan sekolah dialihkan tempatnya menjadi di rumah
    "Pekerjaan" identik dengan suatu beban yang harus ditanggung dan dipertanggung jawabkan.
    Setuju sekali PR dihapus..bukankah PR akan mengurangi frekwensi anak untuk berinteraksi dengan ortu dan lingkungan sosialnya sehingga tumbuh kembang anak bisa terganggu termasuk intuisinya. Seseorang utk bisa survive di kehidupan nyata ini tidak hanya mengandalkan dan bermodalkan ilmu dari pendidikan formal sj, melainkan juga dr luasnya wawasan yg diperoleh dari pengalaman hidup yg telah dijalani...

    ReplyDelete
  138. Nani Maryani
    18709251008
    S2 Pendidikan Matematika (A) 2018
    Assalamu'alaikum Wr.Wb.

    Terimakasih banyak Bapak untuk tulisannya. Saya sangat setuju dengan pendapat Bapak. Beberapa saat yang lalu masalah mengenai larangan memberi PR Matematika ini sangat ramai diberitakan oleh masyarakat dan pemerintah. Hal tersebut mendapat banyak sekali reaksi dari beberapa kalangan, khususnya bagi para pengajar dan pendidik. Larangan pemberian PR Matematika sebenarnya memiliki tujuan yang bagus, akan tetapi tidak mampu menyelesaikan solusi hakiki pendidikan nasional. Menjadi seorang guru yang baik memang tidaklah mudah, guru harus memenuhi harapan pemerintah, sedangkan disisi lain guru juga harus melindungi siswa. Hal yang terbaik yang bisa dilakukan adalah melakukan yang terbaik sebagai seorang guru yang bisa mewujudkan harapan pemerintah dan juga melindungi para siswa.
    Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

    ReplyDelete