Sep 25, 2017

MENYOAL LARANGAN MEMBERI PR MATEMATIKA

Oleh: Marsigit UNY
23 September 2017


Saya mencoba berpikir positif dari himbauan P Menteri agar siswa jangan diberi PR Matematika.

Kita juga tidak dapat membayangkan jika semua Mapel masing masing memberi PR kepada siswa, maka bagaimana siswa mampu mengerjakan dirumah.

Sedangkan dirumah sebetulnya para siswa masih memerlukan kegiatan lain seperti bermain, bersosialisasi, dan mengaji misalnya.

Namun himbauan tidak memberi PR Matematika menurut saya sebetulnya perlu didudukkan secara lebih utuh dan komprehensif disertai pemenuhan standard pendidikan yang lain.

Untuk itu himbauan tidak memberi PR Matematika perlu didukung justifikasi akademik yang lebih kokoh dari sisi keilmuan pembelajaran matematika dan mapel yang lain.

Penguatan Pendidikan Karakter  (PPK) yang dicanangkan Pemerintah, bagaimanapun perlu kita dukung. Dan secara ontologis PPK juga sebetulnya dapat digali dari aspek pembelajaran matematika, jika pembelajaran matematika sudah bersifat inovatif dan progresif.

School Based Management sebenarnya kurang tepat kalau dikatakan sebagai metode. Menurut saya itu adalah kerangka pendekatan managemen sekolah yang memungkinkan setiap mapel memperbaiki dan mengembangkan metodenya masing masing.

Perlu diingat bahwa ekosistem sekolah yang diharapkan juga termasuk kebijakan pemerintah baik jangka pendek, menengah maupun ujian, termasuk sistem ujian.

Persoalan utama yang selalu dihadapi guru dari tahun ke tahun adalah antara satu sisi beban menyelesaikan silabus dengan SK KD nya dan disisi lain memfasilitasi agar siswa mampu memahami, mengerti, trampil mengerjakan matematika untuk semua topik.

Dilema di atas tidak hanya dialami oleh guru, tetapi dirasakan juga oleh siswa, Kepala Sekolah, masyarakat dan orang tua.

Suatu saat terkadang guru terdorong untuk mencari solusi tepat dan cepat, maka memberi PR dirasakan bisa sebagai solusi mengatasi itu.

Solusi lain yang dilakukan guru dan juga disukai murid serta direstui Kepala Sekolah adalah mengubah metode pembelajaran hakiki matematika menjadi berorientasi pada ujian, yaitu UN, yaitu dengan cara lebih suka mengerjakan sebanyak banyaknya latihan soal. Saking terbebani pencapaian prestasi UN sampai sampai ada Kepala Sekolah yang melarang guru mengikuti penataran inovasi pbm. Menurutnya itu tidak akan banyak manfaat jika tidak berkontribusi langsung pada pencapaian UN. Katanya: "tak usah muluk muluk cari metode mengajar, yang penting UN lulus semua dan the best".

Saya katakan metode itu bukan metode hakiki karena hal tersebut juga dilakukan oleh Bimbel Bimbel dengan hanya berorientasi mencari cara singkat atau cara mujarab menemukan jawaban matematika. Jadi apalah bedanya sekolah dengan Bimbel?

Padahal hal demikian secara ontologis bertentangan dengan hakekat belajar matematika dan kurang menunjang pencapaian PPK.

Mengapa? Sebab sama seperti mapel mapel yang lain, semua mapel di tingkatan rendah (SD dan SMP) terikat psikologi belajar anak anak yang berbeda dengan psikologi belajar orang dewasa.

Lebih dari itu secara hakiki terdapat perbedaan berbagai paradigma pendidikan untuk SD, SMP di satu sisi dan SMA/SMK dan Universitas/orang dewasa di sisi lain.

Perbedaan paradigma pendidikan meliputi: paradigma keilmuan, paradigma tujuan, paradigma belajar, paradigma mengajar, paradigma menilai, paradigma sumber belajar.

Untuk anak kecil, paradigma keilmuan berbeda dengan orang dewasa. Bagi anak kecil, tiadalah bagi dia itu ilmu seperti ilmunya orang dewasa.

Jika bagi orang dewasa, matematika adalah ilmu, yaitu ilmu tentang struktur logika, struktur kebenaran, body of knowledge, dst. Maka definisi itu tidak berlaku untuk anak kecil.

Bagi anak kecil semua ilmu apapun Mapelnya, didefinisikan sebagai AKTIVITAS atau KEGIATAN.

Hakikat Matematika untuk anak kecil (SD dan SMP) adalah KEGIATAN:
1. Mencari pola atau hubungan.
2. Memecahkan masalah.
3. Meneliti fenomena matematika dari alam sekitar.
4. Berkomunikasi matematika dengan sesama atau guru.

Bagi anak kecil (SD dan SMP), IPA
adalah kegiatan menyelidiki fenomena alam.

Bagi anak kecil (SD dan SMP), IPS adalah kegiatan menyelidiki dan mengkonstruk fenomena sosial.

Demikian seterusnya.

Yang terjadi selama ini adalah bahwa pembelajaran di sekolah berorientasi pada buku teks, dan didalam buku teks itu isinya adalah paradigma keilmuan orang dewasa. Apa yang terjadi?

Yang terjadi adalah bahwa pendidikan generasi kita selama ini menggunakan paradigma keilmuan orang dewasa, dimana fungsi pendidikan dimaksudkan untuk menstransfer segala ilmunya orang dewasa beserta kepentingannya.

Jadi sistem pendidikan yang selama ini kita jalani yaitu sistem pendidikan bagi kepentingan dan  kependingan orang tua, di mana anak didik berkedudukan absolutely sebagai objek pelengkap penderita.

Jika paradigma bisa diubah yaitu dilaksanakannya paradigma AKTIVITAS bagi anak kecil, dengan sendirinya itu sudah merupakan PROSES yang sudah terjadi di sekolah. Artinya tidak perlu PR Matematika.

Di sini pulang kepada Pemerintah cq Kemendikbud, seberapa jauh berkomitmen utuh dan komprehensif tidak parsial dalam mengembangkan pendidikan sekolah?

Sistem Ujian Nasional adalah sumber segala sumber persoalan itu semua. Jika pemerintah tidak mampu moratorium sistem ujian nasional, selamanya praktek kependidikan akan begini terus dan selalu menghasilkan ambivalensi, yaitu berharap hasil pendidikan yang baik tetapi tidak disertai komitmen untuk mencapainya.

Keinginan atau kebijakan apapun adalah selalu lebih tinggi dan selalu menang dari ilmu segala ilmu. Tiadalah manfaat segala teori dan ilmu mendidik yang sophisticated dari Jepang, Finlandia maupun Australia jika Pemerintah belum berkomitmen untuk itu.

Segala macam inovasi apapun bentuknya harus diinisiasi dari atas atau dari Pemerintah. Jika inisiasi dari bawah maka akan melahirkan anarkhisme.

Memang kita juga menyadari kesulitan Pemerintah karena mempunyai agenda ganti policy lima tahunan.

Namun perlu diingat bahwa pendidikan berdimensi jangka pendek (short term), medium term dan long term.

Seyogyanya pemerintah mampu meminimalisir faktor ego sektoral dan memanfaatkan hasil riset dalam penentuan kebijakan.

Jadi menurut saya larangan memberi PR Matematika bertujuan baik tetapi tidak mampu menyelesaikan solusi hakiki pendidikan nasional, karena bersifat parsial, tidak matang dan tidak mempunyai landasan justifikasi keilmuan yang kuat.

Pesan saya kepada para guru, hendaklah selalu meningkatkan ilmu dan pengetahuan secara bersama misalnya melalui lesson study.

Jadilah guru yang bijaksana, di satu sisi mampu memenuhi harapan pemerintah, tetapi di disi lain mampu menjadi pelindung murid muridnya. Di sekolah hanyalah guru satu satunya yang mampu melindungi hidup belajar para siswanya. Jika tiadalah guru mampu melindungi dan mengayomi kebutuhan para siswanya, maka dunia siswa akan berantakan akibatnya mereka akan kehilangan intuisi, kehilangan empati, kehilangan orientasi. Hasilnya jelas kenakalan remaja, tawuran, narkotika, dst.

Pesan saya juga, pelajarilah paradigma paradigma yang sesuai dengan anak kecil. Misal paradigma itu:
1. Belajar adalah membangun atau menemukan.
2. Siswa adalah subjek atau pelaku pendidikan.
3. Guru adalah fasilitator.
4. Mengajar adalah memfasilitasi siswa agar siswa mampu belajar.
5. Sumber belajar adalah semua lingkungan fisik dan hidup siswa.
Dst.

Seorang guru yang tidak bijak maka dia terkena label bisa mendholimi generasi muda. Jangan dikira, guru pun bisa kena label kenakalan orang tua, jika pada akhirnya mendidiknya menyebabkan kenakalan generasi muda.

Demikianlah tanggapan saya perihal larangan memberi PR Matematika.

Selamat berkarya dan berjuang demi kemajuan pendidikan Indonesia.

Hidup pendidikan Indonesia. Hidup generasi muda bangsa. Hidup NKRI.

SALAM

22 comments:

  1. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Membelajarkan matematika untuk orang dewasa dan anak-anak tentu berbeda. Aktivitas anak dalam belajar matematika dalam artikel tersebut meliputi kegiatan mencari pola atau hubungan, memecahkan masalah, meneliti fenomena matematika dari alam sekitar dan berkomunikasi matematika dengan sesame atau guru. Melihat hal tersebut menjadi dasar pentingnya memilih strategi dan metode pembelaaran matematika yang tepat. Tujuannya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai optimal, siswa tidak merasa kesulitan belajar matematika.

    ReplyDelete
  2. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Salah satu metode yang disarankan Prof Marsigit adalah Lesson Study. Lesson study adalah model pembinaan (pelatihan) profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegialitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar (Sumar Hendayana, dkk, 2009: 5). Pendidik merupakan kunci utama dalamkeberhasilan pembelajaran. Pendidik memberikan kesan kepada siswa dalam belajar. Siswa akan menyukai mata pelajaran tertentu dikarenakan guru. Semoga pendidikan kita semakin terintegrasi satu samalain,sehingga tercapai output pendidikan yang berkualitas. :)

    ReplyDelete
  3. Muhammad Fendrik
    18706261001
    S3 Dikdas 2018
    Sebelumnya terima kasih Prof Marsigit untuk ilmunya hari ini. Saya akan mencoba mengomentari artikel ini sesuai dengan pemahaman saya.
    Menyoal larangan memberi PR khususnya pada mata pelajaran Matematika sampai sekarang masih menjadi hal yang prokontra dari peneliti, praktisi, akademisi, maupun orang tua karena memang berdasarkan hasil penelitian yang dituangkan dalam jurnal maupun buku juga berbeda. Akan tetapi perihal PR menjadi pro dan kontra memiliki alasannya masing-masing, ada yang Pro dengan ketentuan bahwa PR harus berdasarkan dengan materi dan substansi yang jelas sesuai dengan kepentingan siswa (Buku karangan Arends) sedangkan Kontra karna PR telah meregut waktu anak yang pada hakikatnya mendapatkan pengalaman belajar dari bermain dengan teman-temannya sebagai bentuk belajar bersosialisasi atau berkomunikasi dengan orang lain.

    ReplyDelete
  4. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3


    Definisi mata pelajaran akan berbeda sesuai dengan tingkatannya seperti yang sudah dicontohkan pada artikel di atas. Artinya, penerapan dari definisi tersebut pun akan berbeda. Jika matematika didefinisikan sebagai ilmu tentang logika atau the body of knowledge, maka matematika untuk anak anak adalah mengenai pola, mencari solusi. Dengan demikian, cara mengajarnya pun akan sangat berbeda. Hal ini harus disesuaikan dengan tingk pendidikan.

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. Umi Arismawati
    18709251037
    Pendidikan Matematika B S2 2018

    Saya sangat setuju dengan kalimat "Bagi anak kecil semua ilmu apapun Mapelnya, didefinisikan sebagai AKTIVITAS atau KEGIATAN". Dalam pembelajaran jangan memberikan definisi kepada anak karena bagi anak definisi itu sangat abstrak. Perlu adanya kegiatan pembelajaran yang dapat membangun pengetahuan siswa terlebih dahulu baru pada akhirnya diberi penguatan menjadi sebuah definisi.

    ReplyDelete
  7. Umi Arismawati
    18709251037
    Pendidikan Matematika B S2 2018

    Menurut saya memberikan PR merupakan salah satu cara penguatan pembelajaran kepada siswa. Tugas ini menjadi cara untuk siswa dapat lebih memahami materi yang sedang dipelajari. Akan tetapi mungkin porsinya harus diperhatikan, karena porsi yg berlebihan dapat menjadi kurang efektif. Mungkin PR dapat diberikan tidak setiap hari, hanya diberikan untuk pada keadaan tertentu yang dirasa perlu untuk latihan siswa agar lebih paham.

    ReplyDelete
  8. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat pagi Prof.
    Memberikan PR bagi siswa diperlukan untuk melatih kembali pemahaman siswa tersebut. Kenapa pemberian PR diperlukan? Hal ini karena kemampuan memberikan perhatian selama pembelajaran di kelas setiap orang berbeda-beda. Artinya terdapat siswa yang mampu memperhatikan pembelajaran dengan baik dan ada pula yang tidak dapat melakukan hal tersebut. Pemberian PR diperlukan untuk mengulang kembali pembelajaran yang sudah diberikan di kelas sehingga siswa semakin memahami dan dapat mengingat kembali bagaimana cara menyelesaikan permasalahan matematika tersebut. Terima kasih.

    ReplyDelete
  9. Restu WIdhi Laksana
    18709251022
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Bismillahirrokhmanirrokhim
    Memang perlu definisi dan kejelasan tentang kebijakan larangan pemberian PR ini. Jika hanya dengan larangan tanpa adanya pengganti sesuai dengan yang dikatakan pak Marsigit maka kebijakan ini tidak baik untuk diterapkan, ibaratnya seperti memotong salah satu tangan atau kaki guru tanpa menggantinya dengan yang lebih baik.
    Bagi Guru selama ini PR adalah jalan keluar terbaik untuk memperpanjang jam pelajaran di luar kelas, karena banyaknya kompetensi yang harus dikuasai siswa dengan waktu yang sangat terbatas. Sehingga pemberian PR diharapkan siswa juga menambah jam belajarnya di luar sekolah. Namun Esensi pemberian PR ini tidak dipahami oleh sebagian guru, sehingga bagi sebagian guru PR hanya dipandang sebagai sebuah bahan untuk penilaian. Sehingga soal yang terdapat dalam PR tidak membuat siswa termotivasi namun menjadikan siswa objek pelengkap penderitaan seperti dalam artikel diatas. Apalagi saat ini PR lebih banyak dikerjakan oleh orang tua dibanding siswa sendiri. Tentunya hal ini perlu di kaji ulang.
    Di artikel ini saya melihat bahwa pemberian PR itu boleh tapi PR yang bagaimana dulu. Jika hanya sebagai alat penialaian atau assesment maka PR itu suatu hal yang mubazir karena tidak hanya membebani siswa namun juga PR tersebut tidak akan berkontribusi apapun terhadap pengetahuan siswa.

    ReplyDelete
  10. Darwis Cahyo Nugroho
    18709251038
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamualaikum wr.wb
    Saya setuju dengan pendapat prof Marsigit bahwa larangan memberi PR Matematika bertujuan baik tetapi tidak mampu menyelesaikan solusi pendidikan nasional, karena sifatnya yang parsial. Alangkah baiknya guru memberikan PR namun yang sifatnya mengulang pelajaran yang sudah di berikan. Sehingga siswa tidak merasa di beri beban dalam belajar.

    ReplyDelete
  11. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Sampai saat ini larangan pemberian PR di sekolah masih menjadi perdebatan khususnya bagi para guru. Karena saya yakin guru sangat memahami kondisi para siswanya di kelas sehingga ada yang pro dan kontra terhadap hal ini. Pemberian PR memberikan efek positif dan negative bagi siswa. Efek positifnya yaitu siswa akan menjadi lebih mandiri dan termotivasi untuk belajar khususnya saat di luar sekolah sehingga siswa transfer ilmu yang dilakukan oleh guru menjadi lebih maksimal. Di lain sisi muncullah efek negative terhadap pemberian PR kepada siswa yaitu berkurangnya jam bermain anak, waktu istirahat, waktu dengan keluarga, dan memicu kelelahan dan stress pada anak.
    Menyikapi hal tersebut, saya pribadi tidak setuju jika pemberian PR matematika kepada siswa itu dilarang mengingat matematika adalah ilmu yang sangat penting untuk di pelajari dan membutuhkan pemhaman yang mendalam, namun dengan syarat adanya pengurangan jam belajar atau aktivitas sekolah yang membuat pembelajaran matematika menjadi kurang optimal.

    ReplyDelete
  12. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    PR yang diberikan kepada para siswa ada yang berdampak baik tapi juga ada yang berdampak buruk. Tujuan diberikannya PR agar siswa mau belajar dirumah dan ebih memahami apa yang telah dipelajari ketika di sekolah. Namun hal ini bisa berdampak buruk jika terlalu banyak PR yang diberikan. Siswa ketika di sekolah memang untuk belajar dan menimba ilmu, namun ketika di rumah mereka juga perlu adanya waktu untuk bersantai dan bermain bersama teman-temannya. Jika terlalu banyak PR yang diberikan akan membuat siswa kurang menikmati masa kanak-kanaknya dan membuat psikologinya tidak berkembang dengan baik. oleh karena itu, dalam memberikan PR harus melihat seberapa penting PR tersebut dan seberapa mampukah anak-anak tersebut dalam menyelesaikan PR.
    Wassalamualaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  13. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Saya lebih cenderung kepada pengkondisian dalam memberikan PR matematika kepada siswa, karena karakter kebutuhan dan kepuasan dalam belajar siswa berbeda, ada siswa yang senang diberikan PR dan ada juga siswa yang tidak senang dengan hal tersebut. Dalam pembelajaran matematika tidak cukup ketika latihan berhitung di sekolah saja melainkan perlunya tambahan latihan di rumah agar siswa terlatih dalam kemampuan berhitungnya. Di sinilah peran seorang guru dalam melihat kondisi siswa yang diajar, apakah efektif ketika saya memberikan PR atau tidak.

    ReplyDelete
  14. Muh. Fachrullah Amal
    18709251036
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Pemberian PR merupakan sesuatu yang sah-sah saja dalam pembelajaran khususnya matematika. Karena capaian kompetensi atau target tujuan pembelajaran yang telah disusun dalam RPP terkadang tidak sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan. Oleh karena itu, guru dapat memberikan tugas tambahan atau PR kepada siswa agar capaian kompetensi tersebut dapat terpenuhi dengan berdasar pada materi yang telah diajarkan.

    ReplyDelete
  15. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Jika ditelusuri lebih dalam memang benar apa yang dikatan oleh Prof Marsigit, bahwa PR terkadang dihadirkan akibat tuntutan pemerintah yang memberikan begitu banyak materi tanpa menyadari bahwa waktunya tidak memadai, belum lagi tuntutan UN. Begitu banyak dampak yang dihasilkan akibat diterapkanya UN, bukan membuat pendidikan semakin baik malah menimbulkan kekacauan. Seakan nilai gengsi sekolah berada di tangan UN hingga para guru dan kepala sekolah tak segan melakukan berbagai macam cara nilai UN siswa tinggi tanpa peduli sebenarnya apa yang seharusnya diterima dan dipelajari oleh anak. Mengapa kita tidak pernah berkaca pada sistem pendidikan di negara-negara maju seperti Australia misalnya yang lebih takut siswanya tidak bisa mengantre dibandingkan dengan tidak bisa matematika. Sederhana saja target yang mereka inginkan dari siswa, seperti budaya mentre misalnya. Apakah disekolah di Indonesia hal tersebut diajarkan sekolah, nampaknya tidak. Maka tidak heran jika semakin lama moral bangsa semakin jauh merosot.

    ReplyDelete
  16. Eka Puspita Sari
    18709251035
    S2 PM B 2018

    Terlepas dari penyebab apapun alasan guru memberikan PR kepada siswa, saya termasuk yang tidak setuju jika PR dilarang. Namun dengan catatan PR yang diberikan adalah PR yang bermaksud untuk memberikan siswa latihan soal atas apa yang telah dipelajari, agar kemampuan anak semakin terasah karena semakin banyak pengalaman siswa dalam menyelesaikan masalah maka semakin kaya pengetahuan siswa. Jangan berikan PR yang menuntut siswa untuk melakukan usaha lebih, misalnya memberikan PR yang materinya belum pernah diberikan di kelas. Hal tersebut sama saja membebani siswa, padahal waktu dirumah bukan hanya tentang mengerjakan PR, masih banyak kegiatan lain yang harus dikerjakan siswa. Mengapa saya tidak setuju PR dilarang karena terkadang siswa tidak mempunyai inisiatif untuk mempelajari lagi apa yang telah diberikan disekolah, maka solusinya adalah memberikan PR dengan jumlah sedikit saja dan tingkat kesulitan yang tidak terlampau jauh dari apa yang telah diberikan disekolah. Hal tersebut dilakukan agar setidaknya siswa membuka kembali buku pelajarannya dirumah, walupun hanya untuk mengerjakan PR satu atau dua nomor.

    ReplyDelete
  17. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Dari dulu anak sekolah akan membawa pekerjaan rumah untuk diperiksan dan diberikan nilai oleh guru keesokan harinya. Padahal anak sudah belajar di sekolah mulai pagi hingga sore, waktu bermainnya akan terpotong bahkan tidak ada karena berkutat dengan tugas. Bisa jadi keesokan harinya, guru hanya memeriksan dan tidak memberi nilai. Hal itu akan menjadi percuma bagi anak yang bertujuan mencari nilai, tetapi akan tetap bermanfaat bagi anak yang memang mengerjakan tugas karena untuk belajar. Sehingga, pekerjaan rumah bagi anak sekolah bisa diberikan hanya sekali dalam sat semester itupun karena mungkin hanya sebagai bahan evaluasi atau bisa saja pekerjaan rumah tidak diberikan tetapi memberikan tugas akhir.

    ReplyDelete
  18. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Menanggapi pesan Bapak untuk mempelajari paradigm pendidikan yang salah satunya yaitu guru adalah fasilitator. Guru-guru harus belajar dan berlatih untuk menjadi fasilitator yang baik dalam kelasnya. Menjadi guru sebagai fasilitator, setidaknya berusaha untuk Memiliki pemahaman dan pengetahuan (mengenali) kekuatan dan kelemahan setiap (masing-masing) peserta didik yang ada di kelas yang diampunya. Memiliki kepedulian kepada seluruh peserta didik yang di dalam kelasnya dan sedang berupaya mengikuti pembelajarannya. Memiliki kesadaran penuh bahwa setiap peserta didik memiliki hak yang sama untuk belajar. Memahami bahwa setiap peserta didik mempunyai minat yang berbeda-beda dan mempunyai gaya dan cara belajar. Mempunyai jiwa kepemimpinan. Memiliki tugas yang kompleks meliputi: melakukan penilaian dan evaluasi; melakukan perencanaan pembelajaran secara baik; mengimplementasi rancangan pembelajaran yang telah dibuat dan mengubah sesuai kondisi yang ada di saat pembelajaran dilaksanakan.

    ReplyDelete
  19. Dita Aldila Krisma
    18709251012
    PPs Pendidikan Matematika A 2018

    Peniadaan PR bisa saja diterapkan asal kebutuhan pendidikan lainnya yang menunjang kemampuan peserta didik dapat terfasilitasi di sekolah dan di lingkungan sekitar. Peniadaan PR ini mungkin bisa diterapkan pada jenjang sekolah dasar. Hal ini karena peserta didik di sekolah dasar mempunyai waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan mengeksplor banyak peristiwa sehingga mereka akan mempunyai bekal dalam menghadapi tantangan sejak dini. Bisa tidak ada PR namun perlu usaha keras juga dari orang tua untuk mendidik putra putrinya dengan baik. Lain halnya pada jenjang SMP dan SMA, alangkah baiknya tetap ada PR. Harus ada perbedaan dalam memperlakukan siswa pada tingkat dasar dan menengah. Peserta didik SMP dan SMA sudah mampu berpikir abstrak dan harus bisa menyelesaikan masalah yang tidak lagi sederhana terus namun juga masalah kompleks. Perlu adanya pengulangan belajar di rumah yang berupa tugas pekerjaan rumah.

    ReplyDelete
  20. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Di berbagai belahan dunia manapun mempunyai sistem embelajaran yang berbda-beda. Termasuk dalam hal pemberian pekerjaam rumah , karena mereka berpikir sudah cukup siswa belajar seharian di sekolah, sesampainya di rumah siswa tinggal beristirahat dan bersosialisasi dengan teman-temannya untuk bermain atau sekedar hanya mengulang kembali pelajaran yang telah dipelaajari. Karena pekerjaan rumah tidak begitu ampuh untuk mendisiplinkan siswa, siswa bisa menyalin punya temannya, siswa tidak mau mengerjakannya, sehingga lebih baik lebih banyak diberikan aktifitas dalam pembelajaran.

    ReplyDelete
  21. Muhammad Nurfauzan
    14301241015
    S1 Pendidikan MAtematika

    PPeniadaan PR matematika untuk siswa seperti pisau bermata dua. Untuk dilihat kebermanfaatnya ada. Sperti di tempat saya mengajar bahwa dgn ditambah murid-murid yang juga banyak haflan dipondok maka pemberian PR dapat mengurangi beban dari murid tersebut karena setelah ashar sudah mulai mengaji (padahal pulang sekolah pukul 13:30) lalu mengaji sampai pukul 22.00 (umumnya jam 22.00) maka agar tidak memforsir tidak apa. Tapi jika kita lihat jaman now, banyak sekali murid-murid banyak yang terjerumus dalam keburukan, maka peniadaan PR membuat waktu murid-murid tersebut semakin selo dan semakin selo malah dapat menjaddikan peuang masukkan keburukanmenjadi lebih besar.

    terimakasih

    ReplyDelete
  22. Muhamad ikhsan sahal guntur
    18709251044
    PPs Pendidikan Matematika c 2018

    saya sangat setuju bahwa larangan memberi PR Matematika walaupun bertujuan baik tetapi tidak mampu menyelesaikan masalah yang ada, karena bersifat parsial, tidak matang dan tidak mempunyai landasan justifikasi keilmuan yang kuat. karena bila kita melihat dari sisi lain sebenarnya ativitas mengerjakan pr dirumah merupakan salah satu cara untuk mendekatkan hubungan harmonis antara anak dan orang tunya, Pengerjaan pr juga memfasilitasi dan menstimulus siswa untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajarinya disekolah. seharusnya kebijakan untuk tidak memberikan PR perlu dikaji lagi semisalpun ingin segera diterapkan maka dalam penerapanya haruslah secara bertahap dan terevluasi.

    ReplyDelete