Sep 25, 2017

*INTOLERANSI*



Oleh:
Marsigit UNY, 12 Juli 2017


*Togog*:
Intoleransi itu apa Lung, Reng, Truk, Gong, Mar?

*Mbilung*:
_Intolerasi_ itu tidak peduli.

*Gareng*:
_Intoleransi_ itu tidak toleran.

*Petruk*:
_Intoleransi_ itu mau menang sendiri.

*Bagong*:
Kalau kamu apa Mar?

*Semar*:
Ue ... nanti dulu. Semua bisa punya pendapat masing masing. Tetapi apapun pendapatmu semua itu sifatnya intuitif dan hipothetical. Walaupun begitu tetaplah engkau semua dapat dikatakan sedang mencari kebenaran. Bermacam macam cara orang mencari kebenaran itu. Untuk lebih jernihnya saya ingin bertanya dulu kepada Togog, kenapa kamu bertanya seperti itu?

*Togog*:
Iya, melihat gejala di masyarakat sepertinya ada fenomena intoleransi.

*Semar*:
E ... kamu tidak jelas, tetapi saya sudah dapat menangkap. Intoleransi dikaitkan dengan paham radikalisme begitu kan?

*Semar* :
Begini, secara psikilogis, intoleransi itu adalah kutub lawannya toleransi. E...dari jenisnya, Toleransi itu: kemerdekaan, bebas tetapi bertanggung jawab, keterbukaan, akses informasi dan teknologi, demokrasi, kesamaan hak gdan kewajiban, pengakuan hak dan kesadaran melaksanakan kewajiban, inovasi dan kreativitas, sama, kebersamaan, beda, perbedaan, kebinekaan, toleransi itu pilihan atau alternatif, toleransi itu hak asasi dan kewajiban asasi manusia, toleransi itu hidup, toleransi itu pikiran dan juga perasaan, toleransi itu menterjemahkan, toleransi itu bahasa, toleransi itu silaturahim, toleransi itu hermenitika.

*Semar*:
Dari ekstensinya, Toleransi itu: titik, garis, bidang, ruang, sempit, sendiri, bersama, semua, luas, bersama, sedikit, banyak, pluralitas_.

*Semar*:
Dari intensitasnya, Toleransi itu ethernity, langit, udara, angin, uap, api, bumi, tanah, batu, air, melayang, menrawang, transformasi, mengembang, ringan, sedang, berat, rendah, tinggi, relatif, hakiki.

*Semar*:
Maka aku katakan jika tidaklah demikian itu maka aku sebut sebagai intoleransi.

*Bagong*:
Aneh, apa ada toleransi batu?

*Semar*:
E hanya kamu tidak dapat melihat saja. Keadaan aman tenteram itu antara lain disebabkab oleh toleransinya para batu batu itu. Maka jika para batu, tanah, dan air tidak bertoleransi lagi atau jika mereka sudah intoleransi maka akan terjadi tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, tsunami, dsb. Jadi baru hanya intoleransi batu batu saja ternyata dapat menjadi bencana bagi kehidupan manusia. Apalagi intoleransi manusia.

*Togog*:
Kaitannya dengan intoleransi paham ?

*Semar*:
E .. kamu mesti harus tahu struktur hirarkhi dunia dari bawah ke atas yaitu: pertama, kenyataan-benda mati-benda hidup-tumbuhan-dan binatang; kedua, naik ke aturan-tata cara-tata krama-undang undang; ketiga, naik ke pikiran, pengetahuan atau ilmunya manusia, paham, filsafat, aliran ilmu, macam macam ilmu; keempat, naik lagi ke hati-perasaan-etik estetika, nilai baik buruk; kelima, naik lagi keyakinan manusia, macam macam keyakinan, Agama, akidah, dan; naik keenam, naik lagi, hakikat, syariat dan yang paling tinggi adalah makrifat menuju Kuasa Alloh SWT.

*Togog*:
Apa maksudnya hirarkhi?

*Semar*:
E ... struktur dunia itu ekstensif dan intensif. Hirarki itu artinya intensif, tingkatan atau kedalaman. Kamu bisa menyebabkan intoleransinya batu dengan cara melemparkannya hingga mengenai Mbilung. Sehingga intoleransinya batu itu menggambarkan intoleransimu ke Mbilung. Tetapi jika Alloh SWT berkehendak menciptakan intoleransinya batu secara besar besaran misal Gunung meletus, maka semua tanpa kecuali akan terkena dampaknya. Yang membedakan dampaknya hanyalah ekstensi atau cakupannya.

*Togog*:
Intoleransi paham belum dijawab?

*Semar*:
Paham, apapun pahamnya jika itu dalam ranah diri manusia maka belum sampai kepada Kuasa Alloh SWT kecuali hanya berikhtiar menuju ke sana. Sebab tiadalah manusia kecuali yang di Kehendaki, mampu masuk ke ranah Kuasa Alloh SWT. Setinggi tinggi paham, jika itu dipikirkan oleh manusia maka jatuhnya pada aliran filsafat. Filsafat itu debatable sebab aku beda dengan kamu. Sedangkan filsafat itu adalah diriku atau dirimu. Sehebat hebat pikiran manusia itu urusan dunia. Selebihnya intoleransi itu jatuhnya pada ideologi, politik, sosial dan budaya, yaitu urusan dunia. Sedangkan urusan dunia sesuai dengan kodrat sunatullohnya, bersifat beda atau plural. Maka toleransi itu urusan dunia, yaitu urusan mengikuti hakekat perbedaannya. Jadi toleransi hakiki itu kodrat sunat Alloh SWT yang menciptakan keanekaragaman dunia. Jika kita mampu bersifat toleran maka kita sudah mengamalkan sunatulloh Nya. Namun intoleransi hakiki juga kodrat sunatullohnya Alloh SWT yang merupakan Kuasa mutlak Nya. Tidak ada toleransi bagi dirimu untuk menjalankan Perintah dan meninggalkan Larangan Nya. Artinya sebenar benar toleransi atau intoleransi hakiki adalah hanya milik Alloh SWT semata. Sedangkan manusia itu adanya hanyalah toleransi atau intoleransi relatif.

END

10 comments:

  1. Restu Widhi Laksana
    S2 Pendidikan Matematika A 2018
    18709251022
    Bismillahirrokhmanirrokhim
    Dari uraian secara ekstensif dan intensif tentang toleransi yang mencakup segala hal saya ingin memberikan kesimpulan berdasar pemahaman saya. Bahwa sesuatu yang berjalan baik sesuai Sunatullah dan tidak merugikan atau mendatangkan manfaat bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk toleransi. Contohnya seperti penggambaran toleransi batu. Selama batu tersebut diam dan tdak merugikan makhluk lain maka batu tersebut sedang menunjukkan bentuk toleransinya. Sedangkan semua hal yang berdampak buruk pada orang lain atau makhluk lain adalah sebuah bentuk intoleransi. Karena mendatangkan kebaikan maupun keburukan adalah kuasa dari Allah SWT maka segala bentuk toleransi dan intoleransi yang terjadi sejatinya adalah karena Sunatullah atau seizin Allah. Kira- kira begitulah yang dapat saya fahami dari artikel diatas.

    ReplyDelete
  2. Umi Arismawati
    18709251037
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Assalamu’alaikum, Wr.Wb.
    Yang dapat saya ambil dari artikel diatas adalah bahwa toleransi merupakan menerima perbedaan dan toleransi yang saling hakiki itu merupakan korat sunatAllah. Akan tetapi ada beberapa hal yang tidak ada toleransi yaitu untuk menjalankan Perintah dan meninggalkan Larangan Nya.

    ReplyDelete
  3. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Saya sepakat bahwa toleransi dan intoleransi manusia itu relatif. Sebeenar-benar toeransi dan intoleransi adalah milik Allah. Mengapa demikian? Hal ini karena kita akan menganggap orang lain intoleransi sesuai dengan value yang kita miliki. Bisa jadi, mereka yang kita anggap melakukan intoleransi sudah melakukan toleransi sesuai dengan value yang mereka miliki. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat Indonesia untuk menyepakati value yang baik sehingga dapat menghargai value masing-masing tanpa menyakiti satu dengan yang lain.

    ReplyDelete
  4. Assalamu Alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
    Besse Rahmi Alimin
    18709251039
    s2 Pendidikan Matematika 2018

    Terkait topik bahasan mengenai INTOLERANSI bahwa intoleransi erat kaitannya dengan sikap tegas, konsekuen, atau taat asas. Yang dibutuhkan dalam demokrasi adalah toleransi dalam arti positif. Hanya perlu diingat bahwa toleransi dalam arti positif itu hanya dapat dijamin oleh sebuah pemerintahan yang mempraktikkan intoleransi dalam arti positif.

    ReplyDelete
  5. Diana Prastiwi
    18709251004
    S2 P. Mat A 2018

    Inteloransi merupakan sikap yang bertolak belakang dengan sikap toleran. Sikap toleran sendiri mrupakan sikap dimana saling menghargai, menjaga dalam suatu keadaan dimasyarakat atau dlam suatu kelompok. Namun, untuk intoleran sendiri yang selalu bertolak belakang dengan toleran merpakan kondisi dimana dimasyarakat adanya suatu perbedaan. Akan tetapi pada artikel diatas saya menangkap bahwa sejatinya toleran dan intoleran sendiri tidak dapat di nyatakan dalam suatu definisi yang tetap. Karena setiap kepala manusia memndefinisikan intoleran akan berbeda-beda, namun dalam kondisi yang terjadi dimasyarakat akan lebih dapat dijeaskan dari kejadian yang ada di masyarakat. Namun untuk mencapai suatu keadaan yang ideal dalam masyaraat intoleran sendiri ada bermacam-macam seperti hanya toleransi yang juga banyak dalah hal tertentu, sehingga penggunaan sikap memahami dan menghargai baiknya disesuaikan dengan ruang dan waktu dimana kita berada.

    ReplyDelete
  6. Nurul Huda
    18701264005
    S3 PEP 2018
    Setelah membaca tulisan bapak tentang Intoleransi ini, saya ingin berbagi pengalaman dalam bekerja dalam isu keragaman, terutama di Cirebon dengan basis pesantren. Ini tulisan lama dalam sub judul "Para Nyai dan Para Kiai Moderat: Pengalaman dan Pengamalan dari Cirebon" yang telah dimuat dalam buku "Membangun Kebersamaan dalam Keragaman: Petikan Pengalaman dari Cirebon (Fahmina: 2012). Karena keterbatasan ruang disini yang maksimal hanya 4.096 karakter, maka saya buat beberapa postingan (comment)

    ReplyDelete
  7. Nurul Huda
    18701264005
    S3 PEP 2018

    Bagian I:

    Sembilan belas ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi di Amerika mengunjungi Cirebon. Mereka ingin mengetahui kerja-kerja kemanusiaan yang dilakukan beberapa lembaga dan komunitas di Cirebon. Di mulai dari Fahmina, bertemu dengan para tokoh lintas agama dan komunitas marginal lainnya. Lalu silaturrahim dengan Nasruddin Aziz, Wakil Wali Kota Cirebon di Balai Kota Cirebon.
    Perjalanan berlanjut ke Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur Kuningan, berdialog bersama Rama Djatikusuma. Rama Djati bercerita tentang pluralitas di Cigugur, terutama pluralitas agama dan kepercayaan yang dianut masyarakat. Bahkan tak sedikit dalam satu keluarga (rumah) yang memiliki kepercayaan dan agama yang berbeda-beda. Namun mereka tetap hidup dalam damai. Pesan perdamaian itu berulang-ulang disampaikan Rama Djati. Meski demikian, upaya-upaya untuk menggoyang kedamaian di Cigugur tetap ada, terutama oleh kelompok-kelompok yang sering melakukan kekerasan atas nama agama tertentu.

    ReplyDelete
  8. Nurul Huda
    18701264005
    S3 PEP 2018
    Bagian II:
    Menjelang ashar, rombongan meluncur kembali ke Cirebon, dengan tujuan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy Babakan Ciwaringin. Kediaman Nyai Masrifah Amva, pengasuh pesantren tersebut. Pondok Pesantren ini sepeninggal KH. Muhammad, diasuh langsung oleh Nyai Masrifah Amva. Sesampai di pesantren, rombongan diterima langsung oleh Nyai Masrifah Amva di ruang tamu yang memang sangat luas.
    Nyai Masrifah Amva menceritakan tentang keterbukaan pesantrennya terhadap dunia luar. Misalnya, Ken Zuraida istri WS. Rendra dari Bengkel Teater Rendra juga sedang membuat workshop al-Barzanji, bersama santri Kebon Jambu sekitar 6 bulan untuk dipentaskan di beberapa kota di Indonesia. Seni di Pesantren harus dinamis, terbuka, dan berdialog dengan kemajuan di luar. Ken Zuraida membantu untuk kemajuan seni dan budaya pesantren. Nyai Masrifah Amva juga memberi contoh nyata, dengan menerbitkan banyak buku sastra, puisi, cerpen, novel, otobiografi, dan tentu saja buku khas pesantren seperti kumpulan doa-doa. Nyai Masrifah Amva juga mengundang musisi papan atas Iwan Fals dan Ki Ageng Ganjur untuk mentas di Pesantrennya. Semuanya dilakukan untuk membuka cakrawala para santrinya bahwa dunia luar itu luas, dunia itu terbuka lebar, dan setiap santri harus tahu itu. Nyai Masrifah Amva juga menceritakan tamu-tamu yang datang bukan hanya dari umat Islam tetapi juga dari beragam agama. Di ruang tamu yang lumayan luas itu, sejenis pendopo, terpajang foto-foto para tamu dan juga cover buku, serta kliping berita media.
    Karena bertepatan dengan bulan puasa ramadhan, di kediaman Nyai Masrifah Amva dilakukan buka puasa bersama. Selepas Maghrib, ada suguhan pentas seni, ada tari saman dari Aceh, dan sajian khas Cirebon, Tari Topeng Kelana, yang dimainkan santri putri Pondok Pesantren Kebon Jambu. Ribuan santri bersuka cita dengan pentas ini. Rombongan tamu yang duduk berjajar pun luar biasa memberikan apresiasi.
    Tari Topeng dimainkan santri, merupakan kegiatan yang belum terbiasa dipentaskan dan dipelajari di pesantren. Namun Nyai Masrifah Amva mengajarkan kepada santri dan mementaskannya di hadapan tamu-tamu. Menurut Nyai Masrifah Amva, Tari Topeng memiliki filosofi yang sangat bagus tentang kehidupan. Karena itu, setiap santri penting untuk mempelajarinya. Ilmu bisa didapat dan dipelajari dari mana saja. Dari Tari Topeng kita memahami watak-watak manusia, dan bagaimana mestinya menjadi manusia yang baik. Jika pesantren abai terhadap seni, jangan salahkan bila para pekerja seni, seniman, dan budayawan juga akan abai terhadap pesantren. Pesantren harus merangkul dan mengayomi semua, tegas Nyai Masrifah Amva.

    ReplyDelete
  9. Nurul Huda
    18701264005
    S3 PEP 2018
    Bagian III:
    Selain ke kediaman Masriyah Amva, ada juga rombongan yang mengunjungi kediaman Nyai Afwah Mumtazah di Pondok Pesantren Aisyah Kempek Cirebon. Nyai Afwah Mumtazah yang menjabat sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah ISIF Cirebon ini, adalah contoh lain pengasuh pesantren yang memperjuangkan kesetaraan gender dan keragaman. Di Pondok Pesantren Aisyah, Nyai Afwah Mumtazah mengembangkan pendidikan kesehatan reproduksi, dan mengajarkan kitab yang memiliki visi keadilan dan kesederajatan.
    Nyai Afwah Mumtazah juga memberikan keluasan kepada santri-santrinya untuk berdialog langsung dengan tamu yang datang dan ingin berdiskusi bersama para santri. Di kediaman Nyai Afwah Mumtazah, juga sangat terbuka bagi siapa saja yang datang. Para tamu yang datang bukan hanya dari berbagai agama yang ada di Indonesia, tetapi juga dari manca negara seperti Singapura, Australia, Amerika, dan Inggris. Nyai Afwah Mumtazah adalah salah satu ulama perempuan yang memiliki pemikiran sangat progresif di Cirebon. Karena itu Nyai Afwah Mumtazah, sangat sering diminta menjadi pemateri atau fasilitator dalam berbagai forum tingkat nasional di berbagai kota di Indonesia, untuk isu pluralisme, demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan gender.
    “Santri semestinya belajar hal-hal yang ada di luar sana, Karena hidup tidak selamanya di pesantren. Kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan nyata dimana santri akan bermasyarakat. Masalah di masyarakat itu komplek, karena itu setiap santri harus memiliki bekal yang cukup selain ilmu agama. Saya juga juga belajar dari ilmu-ilmu di luar pesantren, supaya tahu dan bisa membekali santri secara lebih baik,” alasan Nyai Afwah Mumtazah atas keterbukaan pesantrennya.
    Nyai Afwah Mumtazah sejak tahun 2012 juga didapuk sebagai ketua Rabithah Ma’ahid As-Salafiy Cirebon (Ikatan Pesantren Salafi Cirebon), yang telah menerbitkan kitab-kitab kuning untuk pesantren, seperti kitab Mambaus’sa’adah, yang telah dijadikan rujukan dan bahan mengaji di berbagai pesantren di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.

    ReplyDelete
  10. Intoleransi
    Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Intoleransi adalah lawan dari toleransi. Intoleransi mengarah pada hal-hal yang negatif seperti tidak peduli, tidak toleran, mau menang sendiri, dan lain sebagainya. Sedangkan toleransi megarah pada hal-hal yang positif seperti peduli terhadap sesama, pengakuan hak dan kesadaran melakukan kewajiban, kesamaan hak dan kewajiban, dan lain-lain. Sebenar-benar toleransi atau intoleransi hanyalah milik Allah SWT. Sedangkan apapun yang dilakukan manusia sesungguhnya hanya bersifat relatif. Manusia hanya bisa berusaha dan berbuat yang terbaik untuk mendapatkan yang terbaik.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete