Oct 31, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM C




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM C) Hari Jum'at, 31Oktober 2014 pk 07.30 sd 09.10 di R. 201 A Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.

1. Rahmi Hidayati:
Bagaimana pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis?

2. Firda HalawatI:
Bagaimana konsep Kehormatan menurut Filsafat?

3. Mu'ad Mas'adi:
Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat?

4. Meidy Putra Areka:
Bagaimana memanfaatkan sifat kontradiksi/anomali/ketidaksempurnaan manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan orang lain?

5. Sestri Nela Kurnia:
Bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?

6. Evri Kurniawati:
Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?

7. Aqiilah:
Bagaimana Filsafat memandang konsep hubungan/interaksi dalam keluarga dan masyarakat?

8. Bayu Widiya Dwi Santoso:
Bagaimana konsep Demokrasi dalam Filsafat?
 
9. Ria Dwi Hapsari:
Bagaimana Filsafat dapat menjelaskan konsep dan keadaan Alam Barzah?

10. Jaya Paldi:
Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?

11. Usi Susanti:
Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?

12. Wahyu Hardiyanto:
Bagaimana agar terhindar dari Ruang dan Waktu yang salah?

13. Oktaviana Mutia Dewi:
Apa hubungan antara Filsafat, Teori dan Paradigma Pendidikan?

14. Inna Puspawati:
Bagaimana konsep Radikalisme dalam Filsafat?

15. Ni Kadek:
Bagaimana konsep Kekuasaan dalam Filsafat?

16.  Theodora Yunita Mekaria
Bagaimana konsep Karma dalam Filsafat?

17.  Maria Trisna Sero Wondo:
Bagaimana Filsafat mampu menuntun kita mencapai Cita-cita?

18.  Rahayu Malini:
Bagaimana konsep Perbedaan Agama dalam Filsafat?

19.  Maria Antonia:
Bagaimana konsep Adat Istiadat dan Budaya dalam filsafat?

20.  Aslim Asman:
Apa hakikat konsep Bilangan dalam Filsafat?

21.  Zuida Ratih:
Apa konsep makna Bertengkar, Bercerai, Berkelai, dan Berperang dst.. dalam Filsafat?

22.  Betty Kusumaningrum:
Bagaimana Filsafat memandang perubahan/pergantian Kurikulum Pendidikan?







52 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Kehormatan merupakan sutau nilai lebih yang dimiliki oleh setiap orang, akan tetapi bukan berarti bahwa setiap orang memiliki satu nilai lebih tinggi dari pada yang lain. Nilai lebih yang dimaksudkan adalah bagaimana seseorang itu didapatkan. Setingi-tingginya apa yang dimiliki, tidak boleh sombong akan hal tersebut.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Menanggapi pertanyaan tentang Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat? Menurut saya konsep pembentukan karakter manusia dapat dilihat dari banyak aspek. Menurut ilmuan Eropa lebih memandang manusia dari kaca mata empiristik. Sedangkan dalam perspektif Islam, manusia dipahami sebagai makhluk yang memiliki potensi fitrah dimana terdapat daya-daya yang dapat memunculkan sebuah sikap dan perilaku yang tidak lepas dari stimulus dari luar.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014



    Pilihan yang terbaik dan tepat dalam tatanan yang harmonis pada kehidupan pribadi manusia dan alam semesta dibutuhkan sebuah sistem yang tepat yang dapat menyelesaikan berbagai persoalan. Kemudian munculah berbagai macam pemikiran ataupun ideologi-ideologi yang semua itu menawarkan konsep-konsep yang diangggap paling bijaksana untuk menjalani kehidupan ini.

    ReplyDelete
  4. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Ia bahkan berusaha dengan berbagai cara untuk merebut, mempertahankan harga diri, dan memilikinya secara utuh. Jadi kehormatan itu diperoleh bila ia melakukan hal-hal yang normal, wajar, yang dapat diterima dalam hidup bermasyarakat. Akan tetapi bila ia melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat, maka saat itu juga ia kehilangan kehormatan, nama baiknya tercemar. Namun pada jaman sekarang ini nilai kehormatan telah bergeser, pergerseran nilai kehormatan lebih terasa pada sisi sosial. Dalam hal ini kehormatan sering dikaitkan dengan harta dan kekayaan.

    ReplyDelete
  5. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Saya akan mencoba menjawab pertanyan pertanya yaitu bagaimana pandangan filsafat terhadap transgender? Sesungguhnya yang kita lakukan dalam berfilsafat adalah kegiatan olah pikir. Jika seseorang benar-benar berfilsafat maka ciri-cirinya adalah kacaunya pikir tetapi tidak sampai mengacaukan hati. Dalam kasus trangender ini, menurut saya para pelakunya telah berfilsafat dengan baik tentang bagaiman mereka mengidentifikasi diri mereka sendiri. Tetapi sayangnya selain kacau pikir, mereka juga kacau hati. Mereka melupakan spiritual dan mengubah kodratnya terhadap jenis kelamin. Baik laki-laki yang menjadi perepuan maupun perempuan yang menjadi laki-laki. Hal ini terjadi karena kesombongan seseorang yang merasa mampu mengubah ciptaan tuhan sesuai kemauannya.
    Selanjutnya saya akan mencoba menanggapi pertanyaan no.5 tentang bagaimana filsafat memandang konsep lupa yang ada di dalam psikologis? Lupa seringkali dianggapsebagai penghambat manusia dalam berpikir atau melakukan olah pikir atau berfilsafat. Tetapisesungguhnya lupa juga merupakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan kapasitas penyimpana nmemori. Manusia dikatakan hidup apabila ia berpikir, dengan kata lain menyerap dan memproses informasi tanpa henti. Coba bayangkan jika semua informasi yang kita peroleh tiapdetiknya setiap hari selalu tertampung di dalam pikiran kita dan memenuhi kapasitas memori kita. tentu hal ini akan merusak otak kita bahkan menjadikan seseorang gila. Oleh karena itu kita diberi anugerah lupa agar di dalam pikiran kita masih menyisakan ruang untuk menyimpan informasi-informasi yang akan datang dan memprosesnya. Kemudian melupakannya atau bahkan memunculkan kembali. Egitu siklusnya terus menerus. Sehingga informasi atau ilmu yang ada di dalam pikiran kita bergantian menempati ruang di dalam memori kita.

    Wasalamu'alaikum wr wb.

    ReplyDelete
  6. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya akan mencoba menjawab (menanggapi.red) pertanyaan nmr 10 yaitu: Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?
    Menurut saya, konsep cinta dalam filsafat itu tidak dapat didefinisikan. Cinta itu relatif. Cinta adalah cinta itu sendiri. Cinta itu perasaan yang tidak dapat didefinisikan.

    ReplyDelete
  7. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasarkan postingan ini saya akan berusaha menanggapi pertanyaan nomor 10, mengenai konsep cinta. Menurut saya konsep cinta adalah mengetahui. Bagaimana kita mengetahui bahwa yang kita raakan dan pikirkan adalah cinta. Karena mungkin saja sebelumnya pernah merasakan hal tersebut, namun tidak tahu bahwa itu cinta. Jadi menurut saya cinta adalah sebuah hasil dari proses mencari ilmu pengetahuan, dimana kita sebelumnya tidak tahu menjadi tahu dan menyadari kapan kita mulai tahu, sebagaimana ketika merasakan cinta, kita tahu bahwa itu adalah cinta dan sadar bahwa kita tahu bahwa yang kita rasakan adalah cinta.

    ReplyDelete
  8. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.
    Dari kumpulan “pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM C” kami (saya) sangat tertarik dengan pertanyaan Bapak Bayu Widiya Dwi Santoso: “Bagaimana konsep Demokrasi dalam Filsafat?” Menurut Thomas Hobbes manusia itu pada dasarnya memiliki keinginan untuk menguasai orang lain, yang terjadi dalam kehidupan sosial tak kurang dari “bellum omnes contra omnia” yaitu perang semua melawan semua. Dengan kondisi tersebut manusia itu adalah serigala bagi sesamanya atau yang sering dikenal sebagai “homo homini lupus”. (Hardiman,2007:71). Oleh karenanya Hobbes beranggapan bahwa seorang pemimpin negara harus memiliki kekuasaan mutlak terhadap rakyatnya. Menurut Hobbes demokrasi itu lemah dan keropos dan hanya bisa dilakukan di negara kecil. (Hardiman,2007:73) Akan tetapi, saat ini banyak pihak yang menggembor-gembor kan kecaman terhadap teori Hobbes ini, akan tetapi diam-diam mengaplikasikan teori ini.
    Terimakasih banyak Pak.

    ReplyDelete
  9. Auliaul Fitrah Samsuddin
    17709251013
    PPs P.Mat A 2017

    Terima kasih atas postingannya Pak. Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan ke-6 yaitu tentang fatamorgana. Menurut Parmenides. Realitas ada dua macam yakni kebenaran hakiki yang mutlak, homogen dan tidak terikat oleh waktu (Way of truth/Aletheia) serta fatamorgana (Way of opinion/Doxa)yaitu bahwa dunia yang tampak ini adalah bersifat palsu dan menipu. Pengalaman seharihari yang bersifat material-fisis di dunia ini pada dasarnya adalah fatamorgana yang merupakan refleksi dari Aletheia. (Yuana,2010)

    ReplyDelete
  10. Alfiramita Hertanti
    17709251008
    S2- Pendidikan Matematika

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Saya akan mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan di atas.
    Jawaban no.1
    Ada banyak aliran dalam filsafat sehingga untuk menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu disempitkan pada aliran filsafat tertentu. Misal, dalam filsafat eksistensialis, LGBT sah-sah saja karena itu adalah hak individu (hak privasi/orientasi sex). Sama halnya dengan liberalisme yang bertumpu pada kebebasan individu.
    Jawaban no.2
    Filsafat yang mana? Ada banyak aliran filsafat dan memiliki konsep kehormatannya masing-masing. Namun jika kite kembalikan dalam pengertian generalnya, maka kehormatan menurut filsafat adalah kebijaksanaan (mencapai kebijaksanaan adalah jalan menuju kehormatan yang hakiki).
    Jawaban no.4
    Dengan cara belajar dengan giat dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan manusia. Kenapa manusia wajib untuk belajar? Karena manusia adalah makhluk yang tidak sempurna namun dikaruniai akal yang dinamis

    ReplyDelete
  11. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Assalammualaikum, Wr.Wb
    Terimakasih pak postingannya. Saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 6 dari Evri Kurniawati, yang bertanya "Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?". Fatamorgana adalah sesuatu yang semu, yaitu suatu bayangan yang tampak seperti ada tapi sebenarnya tidak ada. Sebagai Contoh adalah bila anda berjalan kaki ditengah terik matahari di jalan Aspal yang panas dan tak ada kendaraan, memandanglah ke arah yang jauh maka anda akan mendapati dikejauhan seakan akan ada kubangan air. Ini berarti fatamorgana dapat juga disebut tipuan. Dalam Al-Qur’an Allah telah mengingatkan pada kita tentang tipuan dan kepalsuan kehidupan dunia ini, agar kita hati hati dan waspada menghadapinya. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadit 20)". Jadi harus waspada dengan tipuan. Tipuan apapun, agar kita terbebas dari tipuan maka kita harus banyak banyak berserah diri kepada Allah untuk dijauhkan dari fatamorgana dunia.

    ReplyDelete
  12. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof
    Hubungan antara Filsafat, Teori dan Paradigma Pendidikan. Seperti yang diungkapkan dalam artikel yang berjudul philosophy of mathematics education, filsafat pendidikan matematika bertujuan untuk memperjelas dan menjawab pertanyaan tentang status dan pondasi di dalam pendidikan matematika, baik status dan pondasi objeknya maupun metodenya. Secara ontologis, filsafat matematika memperjelas sifat-sifat asli atau hakikat dari setiap komponen di dalam pendidikan matematika. Secara epistemologis, filsafat matematika memperjelas apakah semua pernyataan pendidikan matematika yang bermakna memiliki objektifitas dan menentukan kepercayaan. Maka hubungan antara filsafat, teori dan juga paradigma pendidikan ialah bahwa filsafat matematika memberikan pengaruh besar terhadap teori dan paradigma pendidikan matematika yang digunakan.

    ReplyDelete
  13. Ilma Rizki Nur Afifah
    17709251020
    S2 Pendidikan Matematika A

    Saya akan mencoba menjawab Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?
    Cinta merupakan anugrah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita. Cinta ada berbagai macam; cinta kepada Allah, cinta kepada manusia, dan cinta kepada makhluk. Intinya apapun cinta yang ada dalam hati seseorang, hendaknya dilakukan atas dasar cinta kepada Allah agar cinta kita tetap pada jalannya

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C
    17709251065

    Saya mencoba menanggapi mengenai bagaimana pandangan filsafat tentang transgender dan perkawinan sesama jenis. Menurut saya, filsafat adalah ilmu tentang kehidupan dan kodrat manusia sesuai sunatullah. Ketika ada fenomena transgender dan perkawinan sesama jenis tentu ini tidak sesuai dengan sunatullah. Karena tidak sesuai dengan sunatullah maka secara filsafat ini merupakan sesuatu yang telah menyimpang. Apalagi filsafat juga sejalan dengan agama dan agama juga tidak melegalkan adanya fenomena ini.

    ReplyDelete
  15. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Pertanyaan mahasiswa pada artikel ini sangat beragam dan sangat unik, namun saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan "Bagaimana pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis?" Pada orang yang menganut paham perkawinan sesama jenis itu diperbolehkan, maka mungkin ia tidak memposisikan dirinya sebagai makhluk spiritual. Wanita dan pria diciptakan Allah SWT berpasang-pasangan, bukan sesama jenis. Adanya paham yang melegalkan perkawinan sesama jenis telah menngesampingkan aspek spiritual sebagai kebenaran absolut yang datang dari Tuhan. Sebagian besar para pendukung homoseksual berpijak pada paham eksistensialisme dalam filsafat, yaitu paham yang memandang berbagai gejala hidup berdasarkan eksistensinya. Paham ini juga meyakini bahwa manusia harus bertanggung jawab terhadap kemauannya yang bebas, sehingga ini dijadikan fondasi bagi mereka yang mendukung legalitas perkawinan sesama jenis.

    Eksistensialisme memandang bahwa seseorang dapat menetapkan pilihan hidupnya berdasarkan kemauan yang ada dalam hatinya dan kemauan itu tidak harus sesuai dengan standar moral yang berlaku di sekitarnya, sehingga kebebasan sangat dijunjung tinggi di dalam paham ini.

    ReplyDelete
  16. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Saya mencoba memberikan tanggapan atas pertanyaan nomor 6.
    Yang dimaksud fatamorgana dalam filsafat adalah sesuatu yang tidak dapat difikirkan. Karena jika difikirkan terus menerus fikiran tidak akan mendapatkan makna apa itu fatamorgana. Seperti yang diterangkan oleh prof. Marsigit pada artikel yang saya baca sebelumnya, saya memahami bahwa untuk mengetahui apa itu fatamorgana, hendaknya kita berhenti memikirkannya. Karena dengan berhenti memikirkannya kita secara tidak langsung menyerahkan pengertian fatamorgana kepada Tuhan dan tidak membutuhkan penjelasan apapun mengenainya.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  17. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B

    Mari kita belajar bersama, mari kita diskusi. Saya akan mencoba berpendapat dengan menjawab pertanyaan:

    "Usi Susanti:
    Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?"

    Menurut saya, jawabannya adalah dengan berpikir. Sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri, bukan? Maka selagi kita dalam keadaan penuh kesadaran, kita harus senantiasa berpikir. Ya mungkin saja dimulai dengan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis tentang hakikat suatu hal, mencari tesis-tesisnya, mencari nati-tesis - anti-tesisnya, kemudian menyusun sintesis-sintesisnya.

    ReplyDelete
  18. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Saya akan membantu mencoba menjawab pertanyaan no 6, Jika ditinjau dari ilmu sains Fatamorgana merupakan sebuah fenomena di mana optik yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir atau padang es. Seringkali di gurun pasir, fatamorgana menyerupai danau atau air atau kota. Ini sebenarnya adalah pantulan daripada langit yang dipantulkan udara panas. Jika ditinjau dari ilmu filsafat, Fatamorgana merupakan perubahan kehidupan yang semu, Semu dalam beribadah dan semu dalam menuntut ilmu, Semu itu merupakan bantuk yang bisa dianggap ada ataupun yang mungkin ada, artinya beribadahlah kita dan berbuat baiklah kita tanpa diketahui orang lain sehingga kita terhindar dari sifat gibah dan riya’.

    ReplyDelete
  19. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualaikum wr wb.Saya ingin menanggapi pertanyaan mengenai cara mengetahui diri sendiri.Kabanyakan orang, jika ditantang, akan memiliki perasaan sangat kuat bahwa diri bukan sekedar serentetan pengalaman yang terhubung oleh hukum-hukum sebab-akibat,melainkan sekurangnya merupakan suatu substansi yang relatif permanen.Pandangan ini didukung oleh argument-argumen berikut:1) Pengetahuan mensyaratkan identitas diri, karena pengetahuan selalu merupakan keragaman.2)Suatu pikiran mengimplikasikan adanya seorang pemikir yang berbeda dari pikiran apa pun.3)Memori memberitahu saya bahwa “saya” yang samalah yang berbuat begini sekarang begitu sekarang ini berbuat begini begitu di masa lalu.Tetapi kejadian-kejadian masa lalu sudah lewat dan sekarang tidak dapat direduksi menjadi sekedar serangkaian peristiwa.Penjelasan ini merupakan argumet yang penting, tapi di sisi lain sangatlah sulit untuk membentuk suatu gagasan mengenai seperti apa kemungkinannya diri yang eksis sebagai “substansi” mengatasi dan melampaui pengalaman-pengalamannya..Di sini kita dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang sama dengan yang kita temui saat menanyakan apa itu substansi fisik yang mengatasi dan melampaui kualitas-kualitas dan hubungan-hubungannya.Apakah substansi di balik pengalaman-pengalaman saya (atau seringkali disebut ego murni) berubah atau tidak?jika berubah saya bukan lagi diri saya sendiri,jika tidak berubah, substansi tersebut bukanlah “saya” karena tentu saya sudah menganggap diri saya mampu berubah dan saya harap menjadi semakin baik.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  20. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Assalamualaikum wr wr, saya ingin mencoba menanggapi pertanyaan nomor 18 dari Rahayu Malini tentang konsep perbedaan agama, menurut saya agama adalah keyakinan. Masing-masing kita bisa saja memiliki keyakinan yang berbeda. Agama merupakan sarana menjalin hubungan spiritual bagi hamba kepada tuhannya. Sebagai seseorang yang hidup di negara yang penuh dengan keberagaman agama ini, kita perlu menanamkan sikap toleransi. Menghormati agama yang diyakini orang lain, tidak memaksakan keyakinan kita kepada orang lain, serta tidak memandang rendah ataupun menyalahkan agama lain yang berbeda merupakan cara kita dalam menyikapi perbedaan ini, sebab pada dasarnya setiap agama itu tidak mengajarkan bagi kita untuk memaksakan keyakinan kita kepada orang lain.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari pertanyaan-pertanyaan filsafat mahasiswa S2 PM C, saya akan mencoba menangggapi pertanyaan nomor 19 dari saudari Maria Antonia. Pertanyaannya adalah bagaimana konsep adat istiadat dan budaya dalam filsafat. Adat istiadat berarti perilaku budaya dan aturan-aturan yang diterapkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam hal ini, adat istiadat itu berarti segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan dan dilaksanakan secara terus menerus oleh sekelompok masyarakat dari nenek moyangnya terdahulu. Sedangkan filsafat merupakan cara berfikir manusia yang menghasilkan sikap atau pandangan hidup. Dengan demikian terlihat hubungan antara filsafat dan adat istiadat atau budaya, dimana filsafatlah yang mengendalikan cara berfikirnya adat istiadat atau budaya. Yang berarti bahwa dibalik adat istiadat terdapat filsafat, dan dibalik filsafat terdapat manusia yang menentukan nilai-nilai budaya melalui filsafat itu sendiri.

    ReplyDelete
  23. Maghfirah
    17709251007
    S2 Pendidikan Matematika A 2017

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Dari beberapa pertanyaan diatas, saya akan mencoba untuk memberikan pendapat mengenai pertanyaan “Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?”
    Dalam ilmu fisika, fatamorgana adalah suatu fenomena atau gejala optik yang terjadi karena pembiasaan cahaya melalui kepadatan udara yang berbeda sehingga membuat sesuatu yang tidak ada menjadi seolah olah ada. Dalam KBBI fatamorgana adalah sesuatu hal yang bersifat khayal dan tidak nyata. Kata fatamorgana itu sendiri berasal dari nama seorang penyihir di zaman Raja Arthur yang bernama Morgana Le Fay atau Faye Le Morgana. Jadi dapat disimpulkan bahwa fatamorgana adalah sebuah tipuan dan khayalan yang dapat melalaikan manusia. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar dengan pikiran dan hati ikhlas agar dituntun jalannya oleh Allah SWT

    ReplyDelete
  24. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.
    Saya akan mencoba memberi pendapat saya terhadap pertanyaan nomor 8, demokrasi menurut filsafat yaitu memberikan hak yang sama dalam berfilsafat terhadap sesuatu selama ia mempunyai dasar atau hakikat ilmu yang disandarkan kepada nya. Sebagai manusia yang diberi kelebihan melalui pikiran yang sehat, sudah sewajarnya kita berfilsafat terhadap apa yang kita ketahui saja, karena sebenar-benarnya pengetahuan adalah milik Allah SWT, kita hanya memiliki sedikit saja ilmu milik-Nya, sudah seharusnya kita tetap tunduk terhadap perintahnya sebagai tanda syukur kita pada-Nya.

    ReplyDelete
  25. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Saya tertarik untuk mencoba menanggapi pertanyaan Rahmi Hidayati tentang pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis. Dalam filsafat, istu tentang LGBT ataupun transgender sering kali dibaca dengan perspektif filsafat keadilan. Dalam filsafat, kemungkinan tindakan untuk melarang LGBT dan transgender sebagai tindakan arogansi tindakan tanpa pemikiran tentang keadilan yang matang. Dalam sejarahnya hak pada umumnya hanya dinikmati oleh kaum feodal, aristokrat dan para pemimpin agama. Namun, pemikiran Jeremi Bentham tentang hak keadilan yang harus berasal dari masyarakat sendiri tidak dari penguasa, mulai muncul yang kemudian menjadi landasan berpikir filsuf keadilan dalam hukum. Memang dalam filsafat terkadang pikiran selalu menabrak norma-norma yang berlaku di masyarakat, namun sepemahaman saya seperti itulah kenyataanya jika kita memandang dunia dengan kacamata filsafat, berpikir sekuler.

    ReplyDelete
  26. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Saya akan mencoba berpendapat tentang pertanyaan “Bagaimana memanfaatkan sifat kontradiksi/anomali/ketidaksempurnaan manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan orang lain?”
    Manusia penuh dengan kontradiksi. Namun kontradiksi tersebut yang dapat menjadikan manusia hidup. Hal yang terpenting adalah bagaimana manusia dapat mengelola kontradiksinya sehingga dapat menjadikannya ada karena mengada. Ketidaksempurnaan sendiri dapat menjadikan manusia hidup nyaman, bayangkan apabila manusia memiliki kesempurnaan dalam hal mengingat. Maka seseorang dapat mengingat semua yang terjadi dari lahir. Seseorang akan mengingat sakit hati terhadap orang lain sehingga akan menimbulkan perselisihan yang tak ada henti. Itu saja dalam satu hal dampaknya sudah sangat luar biasa. Jadi untuk memanfaatkan ketidaksempurnaan tersebut alangkah baiknya ketika seseorang berbuat salah maka segera berusaha memaafkan dan melupakan kesalahannya.

    ReplyDelete
  27. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 2017

    Menurut saya bertengkar ataupun berkelahi dapat terjadi karen atmosfir yang tercipta serta kemistri yang mulai kehilangan eksistensinya. Karena pada dasarnya itu tercipta karena ketidak mampuan diri untuk mengendali serta menggunakan akal sehat diri saat kondisi tertentu. Sehingga diluapkan dalam perkelahian ataupun pertengkaran. Oleh sebab itu untuk menghindari hal tersebut harus selalu menggunakan akal sehat serta menanggapi sesuatu dengan kepala dingin, serta tidak mudah mengambil keputusan dalam keadaan marah, dan mencoba memahami dengan baik apa yang orang lain ingin sampaikan, dan menempatkan diri kita diposisi dia agar kita mampu memahami apa yang ingin dia sampaikan dengan benar.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  28. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Saya akan mencoba berpendapat terhadapa pertanyaan no.7 yaitu ” Bagaimana Filsafat memandang konsep hubungan/interaksi dalam keluarga dan masyarakat?”
    Konsep hubungan dalam keluarga dan masyarakat sama seperti konsep dalam hidup sosial. Sebelum hidup sosial akan lebih baik jika kita mengetahui bagaimana cara kita membangun hidup dalam kehidupan sosial. Membangun hidup sosial yaitu dengan cara berinteraksi untuk membangun kebermaknaan hidup karena hidup tanpa makna sama seperti hidup yang kosong.. Satu hal juga yang tidak boleh dilupakan yaitu saling berinteraksi, berarti saling bersilaturrhami, dalam bersilaturrahim perlu rasa saling menghormati dan keikhlasan. Dalam Interaksi sosial juga perlu rasa saling menghargai, menghormati, rasa ikhlas, kasih sayang dan tanggung jawab.

    ReplyDelete
  29. Dheni Nugroho
    17709251023
    PPs Pendidikan Matematika

    saya akan menanggapi pertanyaan berikut ini:
    "Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?
    Fatamorgana hakikatnya tidak dapat ditemukan dalam pikiran seseorang. Bahkan dengan definisi apapun kita sebagai manusia tidak dapat mengetahui sebenarnya apa fatamorgana itu. Setinggi apapun ilmu seseorang dia tidak akan bisa mendefinisikan fatamorgana dalam dirinya. Oleh karena itu, yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berikhtiar dengan pikiran dan hati ikhlas agar dituntun jalannya oleh Allah SWT"

    ReplyDelete
  30. Wisniarti
    1770921037
    PM B Pascasarjana

    Saya akan mencoba mengemukakan pendapat saya mengenai lupa. Sebelumnya kita pernah mempelajari dan selalu diingatkan bahwa di dalam pikiran kita itu terdapat yang ada dan yang mungkin ada. Sedangkan lupa itu dimana? apakah berada diantara yang ada dan yang mungkin ada? atau lupa merupakan antitesis?. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam memikirkan lupa, kita lihat lupa itu objek pikir atau bukan. Sebelumnya juga pernah membahas mengenai EPOKE, yang kata pak marsigit merupakan tempat penyimpanan, sehingga jika kita tidak sedang membutuhkan sesuatu kita dapat fokus dengan apa yang sedang kita lakukan. Sehingga, dari uraian yang ada dan yang mungkin ada dan Epoke, menurut saya lupa itu artinya kita tidak fokus dengan apa yang ada, kita meletakan sesuatu yang ada itu di dalam epoke. Untuk itu kita lebih bijak dalam memilih apa yang harus di keluarkan dari epoke sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  31. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Saya akan mencoba menjawab satu pertanyaan lagi yaitu mengenai fatamorgana dan cara menyikapinya. Menurut saya fatamorgana itu merupakan sesuatu yang memberikan angan-angan dan harapan yang sejatinya tidak ada. Cara menyikapinya yaitu dengan meminimalisir angan-angan dan berusaha dengan sungguh-sungguh serta meminimalisir harapan.

    ReplyDelete
  32. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- Pascasarjana
    17701251037

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor tiga yang diajukan oleh Mu'ad Mas'adi tentang proses pembentukan karakter manusia menurut pandangan filsafat. Menurut saya, pembentukan karakter berawal dari pikiran. Pikiran yang positif akan membentuk perkataan dan tindakan yang positif. Perkataan dan tindakan positif yang berulang-ulang akan membentuk sifat atau karakter positif. Sebenar-benar filsafat adalah pola pikir, sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Siapa kita adalah apa yang kita pikir.

    ReplyDelete
  33. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Mohon izin untuk menjawab pertanyaan pertama dari Rahmi Hidayati:
    Bagaimana pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis?
    Saya berpendapat bahwa transgender ataupun perkawinan sejenis adalah suatu hal yang tidak bisa dibenarkan. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran agama, yang mana agama merupakan pondasi kehidupan kita. Dalam agama Allah sudah menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia berpasang-pasang, antara laki-laki dan perempuan. Dia pun sudah menegaskan bahwa jodoh seorang laki-laki adalah perempuan dan juga sebaliknya. Lebih lanjut lagi, Allah sudah memperingatkan pada kita akan adzab-Nya yang pernah ditimpakan kepada kaumnya nabi Luth a.s yang juga menyimpang pada hal yang sama, yaitu perilaku homo.
    Secara kodrat, perkawinan sejenis merupakan hal yang berlawanan dengan kodrat kita manusia. Ada beberapa tugas perempuan yang tidak bisa digantikan oleh laki-laki dan juga sebaliknya. Sehingga perkawinan sejenis merupakan hal yang bertentangan dengan fitrah kita sebagai manusia.

    ReplyDelete
  34. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Saya ingin mencoba menjawab pertanyaan “bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi”. Lupa itu sebuah penyakit yang sulit dihindari. Lupanya seseorang bisa karena faktor usia maupun karena kacaunya pikiran. Lupa itu berarti tidak ingat. Karena tidak mau mengingat atau sudah tidak ingat lagi. Karena sekali lagi, manusia itu terpengaruh oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  35. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Pertanyaan dari Betty Kusumaningrum:
    Bagaimana Filsafat memandang perubahan/pergantian Kurikulum Pendidikan? Menarik untuk dijawab, saya coba menjawab menurut perspektif saya pribadi, perubahan/penggantian kurikulum merupakan hasil dari berfilsat, karena filsafat adalah olah pikir dan perubahan/penggantian kurikulum merupakan hasil dari olah pikir para petinggi pendidikan. Sehingga perubahan/pergantian kurikulum dirasa perlu dilakukan jika berdasarkan olah pikir yang dilandaskan dari penelitian menemukan kekurangan atau kekeliruan dalam kurikulum yang sedang berjalan.

    ReplyDelete
  36. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    bismillahirrahmanirrahim...
    saya tertarik untuk menanggapi pertanyaan dari Mu'ad Mas'adi mengenai Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat? menurut filsafat pembentukan karakter yang paling utama ialah sopan dan santun dan tidak lupa pula harus bergerak sesuai dengan ruang dan waktu. manusia harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya, dengan beradaptasi dengan lingkungan maka akan terbentuklah karakter manusia itu sendiri dan tidak lupa harus dilandasi dengan sopan dan santun, itulah tingkatan tertinggi dalam karakter.

    ReplyDelete
  37. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan bagaimana konsep lupa dalam psikologi. Lupa artinya terdapat retrieval failure dalam mengingat kembali apa yang pernah diketahui atau dialaminya. Lupa sebenarnya hal yang wajar karena memori jangka panjang manusia tidak dapat menyimpan seluruh hal yang pernah dialaminya. Sebagian hanya masuk ke memori jangka pendek, bahkan sebagian lagi hilang.

    ReplyDelete
  38. Yusrina Wardani
    17709251057
    PPs PMAT C 2017
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan hakikat bilangan dalam filsafat. Bilangan memiliki jumlah atau banyak yang tidak terbatas, seperti pikiran manusia yang tidak memiliki batas. Bilangan ada negatif tak hingga sampai positif tak hingga. Pemikiran manusia pun bisa negatif maupun positif dan bisa juga netral seperti bilangan 0 yang sifatnya netral.

    ReplyDelete
  39. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Saya akan mencoba menanggapi tentang pertanyaan bagaimana agar terhindar dari ruang dan waktu yang salah. Dalam filsafat sesungguhnya seseorang dikatakan cerdas jika mampu membaca ruang dan waktu dengan baik. Kemampuan ini pun tidak begitu saja didapatkan namun berasal dari proses belajar dan berpikir menghubungkan pengalaman dan logika berpikirkan sehingga terbentuk intuisi untuk membaca ruang dan waktu. Jadi, menurut saya tidak ada ruang dan waktu yang salah. Hanya saja apakah kita mampu menempatkan diri dengan baik.

    ReplyDelete
  40. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah, saya mohon ijin untuk menjawab pertanyaan “Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?”
    Jawab:
    Sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Secara sadar atau tidak, perbuatan, perilaku, perkataan, dan pikiran kita merupakan cerminan dari filsafat yang ada pada diri kita. Meskipun kita tau ilmu anak kecil itu merupakan intuisi, alias ilmu yang tidak tahu menahu namun ia lakukan dan terapkan, namun kita akan tahu bahwa secara perlahan ilmu dan segala yang ia lakukan baik tindakan, perkataan maupun pikirannya merupakan filsafat pada dirinya. Beruntunglah jika kita lahir di keluarga yang cukup baik, harmonis, penuh kasih sayang, dan saling menghormati serta menghargai. Maka konsep filsafat diri kita secara tak sadar akan tertata rapih dan selaras dengan kehidupan yang ia jalani. Usaha kita menggapai logos dalam segala hal merupakan bentuk nyata filsafat yang ada pada diri kita. Tidak usah ragu dan bimbang apakah kita telah berfilsafat dalam menjalani hidup atau belum, karena kita hanya perlu segala sesuatunya dengan ikhlas dan apa adanya. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  41. Saya akan mencoba lagi menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat mampu menuntun kita mencapai Cita-cita?”
    Jawab:
    Filsafat dalam diri kita masing-masing perlahan akan menuntun kita untuk melakukan segala yang ada dan yang mungkin ada dengan arah dan tujuan hidup yang jelas. Ketika impian dan cita-cita tidak hanya ingin menjadi sebuah mitos belaka, maka kita dengan sadar maupun tidak kita tetap akan tergerak hati dan pikirannya untuk melakukan ikhtiar hingga cita-cita itu tercapai. Bayangan kesuksesan pun akan terus berada dipikiran, hingga itu telah kita raih dan menjadi nyata. Jadi, tidak ada ruginya berfilsafat. Karena, berfilsafat yang benar akan membantu kita meraih dan menggapai apa yang kita inginkan selagi kita tetap berlandaskan pada spiritualitas yang kuat dan benar. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  42. Bismillah, lagi-lagi saya ingin mencoba menjawab pertanyaan “Bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?”
    Jawab:
    Lupa adalah ketika kita tidak sedang berpikir pada ruang dan waktu yang tepat. Ketika lupa, kita tidak sadar, kita telah dikuasai mitos, artinya pikiran kita bisa saja kacau, atau yang diingat bukanlah sesuatunya yang seharusnya diingat. Manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Salah ketika manusia berbuat tidak sesuai pada ruang dan waktunya, sedangkan lupa adalah ketika manusia tidak berpikir sesuai ruang dan waktunya. Jadi ketika lupa, hendaklah beristighfar, karena hanya dengan pertolonganNya lah pikiran kita akan dibantu dan dituntun kembali memikirkan hal-hal yang seharusnya dipikirkan, dan mengingat hal-hal yang seyogyanya diingat sesuai ruang dan waktunya yang tepat. Wallahu’alam bishowab, semoga Allah menjaga pikiran kita dalam kebaikan dan menjauhkan kita dari sifat lupa

    ReplyDelete
  43. Junianto
    17709251065
    PM C

    Saya mencoba menanggapi pertanyaan terakhir tentang perubahan kurikulum. Perubahan Kurikulum merupakan suatu keniscayaan yang memang harus terjadi seiring perkembangan zaman dan dunia pendidikan saat ini. Segala bentuk evaluasi dan saran menajdi acuan adanya perbaikan dan perubahan kurikulum. Jika perubahan kurikulum benar-benar didasari dengan adanya semangat perubahan dan perbaikan tentuk hal inilah yang diharapkan. Namun, terkadang perubahan kurikulum diboncengi dengan muatan politik dan sejenisnya, sehingga seakan-akan perubbahan kurikulum adalah sebuah proyek yang bisa diambil keuntungan. Inilah yang sering terjadi di negara kita. Para politisi selalu memanfaatkan keadaan ini sebagai peluang untuk mendapatkan keuntungan.

    ReplyDelete
  44. Junianto
    17709251065
    PM C

    Menanggapi pertanyaan no 18 tentang konsep perbedaan agama. Konsep perbedaan agama dalam filsafat merupakan hal wajar. Manusia pun mempunyai ciri, karakteristik, dan sifat yang berbeda. Maka dari itu, tiap individu pun akan memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Inilah yang akan melahirkan keyakinan yang beragam pula dan di pengaruhi oleh latar belakang keluarga juga. Jadi, perbedaan agama bukanlah hal yang perlu diperdebatkan karena ajaran agama adalah kebaikan. Semakin tinggi pengetahuan seseorang juga pasti akan lebih menghargai perbedaan.

    ReplyDelete
  45. Dheni Nugroho
    17709251023
    Pendidikan Matematika

    Fatamorgana hakikatnya tidak dapat ditemukan dalam pikiran seseorang. Bahkan dengan definisi apapun kita sebagai manusia tidak dapat mengetahui sebenarnya apa fatamorgana itu. Setinggi apapun ilmu seseorang dia tidak akan bisa mendefinisikan fatamorgana dalam dirinya.

    ReplyDelete
  46. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Seseorang sering berada pada ruang dan waktu yang tidak pas. Perlu upaya untuk membiasakan setiap kegiatan yang kita lakukan supaya sesuai dengan ruang dan waktu yang tepat. Misalkan ekspresi bahagia ketika di upacara pemakaman tentu tidak tepat, namun ekspresi bahagia ketika lulus kuliah itu tepat. Kadang supaya tepat ruang dan waktu, tidak cukup hanya dengan pikiran namun juga memakai hati/perasaan.

    ReplyDelete
  47. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan tentang "Bagaimana filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?". Menurut apa yang saya dapatkan selama perkuliahan filsafat, lupa itu penting. Terkadang kita perlu melupakan sesuatu. Contohnya: kita bertemu dengan teman baru dan berkenalan. Ketika kita di rumah harus melakukan tugas yang diberikan orang tua, maka kita juga harus melupakan teman yang berkenalan dengan kita agar fokus pada apa yang kita kerjakan. Jika tidak bisa melupakan teman kita, maka pikiran kita akan campur aduk dan tidak dapat fokus pada suatu hal sehingga akan mengakibatkan pekerjakan yang kita lakukan menjadi berantakan (tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan).

    ReplyDelete
  48. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan dari saudari Rahayu Malini dengan pertanyaannya “bagimana konsep perbedaan agama dalam filsafat?”, bismillahirrahmanirrahim, jelas berbeda antara agama dan filsafat, agama berkaitan dengan Tuhan sehingga agama adalah masalah kepercayaan yang tidak semuanya bisa dipikir dengan logika, tetapi harus dengan hati. Sedangkan filsafat adalah ilmu tentang kehidupan, atau fenomena kehidupan, atau pemikiran manusia yang dijabarkan dalam konsep yang sangat mendasar. Untuk mempelajari filsafat ini dibutuhkan landasan agama atau spiritual, jika tidak memiliki agama maka tidak akan memiliki landasan untuk berfilsafat, dan itu sangatlah berbahaya.

    ReplyDelete
  49. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Saya akan mencoba menjawab pertanyaan "Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?". Fatamorgana merupakan hal yang bersifat khayal atau tidak dapat dipercayai. menurut wikipedia Fatamorgana adalah pembiasan cahaya melalui kepadatan yang berbeda, sehingga bisa membuat sesuatu yang tidak ada menjadi seolah ada. saya pernah membaca tulisan Prof. Marsigit mengenai fatamorgana ini, intinya seberapa keraspun kita berpikir mengenai fatamorgana kita tidak akan mampu mengungkapkannya karena Allah menciptakan kita sebagai manusia yang tidak sempurna (memiliki keterbatasan) dalam berpikir. hal ini menunjukkan betapa besarnya kuasa Allah SWT.

    ReplyDelete
  50. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Saya mencoba menjawab pertanyaan dari Mu'ad Mas'adi: Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat?
    Dari hasil referensi yang sudah saya baca bahwa Di dalam filsafat dapat mengungkap cara pembentukan karakter pada manusia secara logis dengan melalui pendidikan yang berkarakter. Dengan adanya pendidikan berkarakter tersebut manusia dapat dibentuk seacara tahap pertahap karakter yang ada pada diri manusia. Jika karakter pada seseorang belum tercapai dengan semestinya, dapat dilakukan dengan proses pembentukan karakter yang baik, karena pembangunan karakter yang dilakukan oleh seorang pendidik pada peserta didik sangat berperan aktif disebabkan peserta didik jika tidak mempunyai karakter maka belum tentu peserta didik dapat menerima apa saja yang ditransfer oleh seorang pendidik dengan baik.

    ReplyDelete