Oct 31, 2014

Pertanyaan-pertanyaan Filsafat dari mahasiswa S2 PM C




Pertanyaan-pertanyaan berikut muncul dari para Mahasiswa  pada perkuliahan Filsafat Ilmu program S2 Pendidikan Matematika (PM C) Hari Jum'at, 31Oktober 2014 pk 07.30 sd 09.10 di R. 201 A Gedung PPs Lama Universitas Negeri Yogyakarta. Silahkan para pembaca yang budiman untuk berusaha menjawab atau menanggapi satu atau lebih dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Selamat berfilsafat, semoga selalu diberi kecerdasan pikiran dan hati. Amin.

1. Rahmi Hidayati:
Bagaimana pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis?

2. Firda HalawatI:
Bagaimana konsep Kehormatan menurut Filsafat?

3. Mu'ad Mas'adi:
Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat?

4. Meidy Putra Areka:
Bagaimana memanfaatkan sifat kontradiksi/anomali/ketidaksempurnaan manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan orang lain?

5. Sestri Nela Kurnia:
Bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?

6. Evri Kurniawati:
Apa yang dimaksud Fatamorgana dan bagaimana menyikapinya?

7. Aqiilah:
Bagaimana Filsafat memandang konsep hubungan/interaksi dalam keluarga dan masyarakat?

8. Bayu Widiya Dwi Santoso:
Bagaimana konsep Demokrasi dalam Filsafat?
 
9. Ria Dwi Hapsari:
Bagaimana Filsafat dapat menjelaskan konsep dan keadaan Alam Barzah?

10. Jaya Paldi:
Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?

11. Usi Susanti:
Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?

12. Wahyu Hardiyanto:
Bagaimana agar terhindar dari Ruang dan Waktu yang salah?

13. Oktaviana Mutia Dewi:
Apa hubungan antara Filsafat, Teori dan Paradigma Pendidikan?

14. Inna Puspawati:
Bagaimana konsep Radikalisme dalam Filsafat?

15. Ni Kadek:
Bagaimana konsep Kekuasaan dalam Filsafat?

16.  Theodora Yunita Mekaria
Bagaimana konsep Karma dalam Filsafat?

17.  Maria Trisna Sero Wondo:
Bagaimana Filsafat mampu menuntun kita mencapai Cita-cita?

18.  Rahayu Malini:
Bagaimana konsep Perbedaan Agama dalam Filsafat?

19.  Maria Antonia:
Bagaimana konsep Adat Istiadat dan Budaya dalam filsafat?

20.  Aslim Asman:
Apa hakikat konsep Bilangan dalam Filsafat?

21.  Zuida Ratih:
Apa konsep makna Bertengkar, Bercerai, Berkelai, dan Berperang dst.. dalam Filsafat?

22.  Betty Kusumaningrum:
Bagaimana Filsafat memandang perubahan/pergantian Kurikulum Pendidikan?







43 comments:

  1. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
    Dari beberapa pertanyaan diatas, saya tertarik untuk menjawab pertanyaan nomor 11 dari Usi Susanti tentang Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing? Menurut saya, filsafat juga bisa berarti dirimu sendiri. Sebenar-benarnya berfilsafat adalah pikiran atau pola pikir sehingga pola pikirmu bisa menjadi filsafat akan dirimu sendiri.
    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya coba menjawab pertanyaan nomor 17 tentang bagaimana filsafat menuntun kita dalam menggapai cita-cita?
    Filsafat adalah tentang berpikir, untuk menggapai cita-cita kita tentu harus berpikir caranya agar bisa meraih cita-cita. Terdapat beberapa hal yang perlu kita perhatikan dalam menggapai cita-cita yaitu, pikiran kita tentang bagaimana dan apa yang dilakukan untuk dapat menggapainya, niat yang tulus dalam diri, keikhlasan untuk dapat menjalani dan menerima resiko yang ada, dan mampu untuk melakukan hal-hal positif yang dapat dapat mendukung tujuan kita dalam menggapai cita-cita, serta kita harus menghindari rasa takut akan kegagalan dan ragu-ragu dalam usaha kita dalam menggapai cita-cita tersebut.

    ReplyDelete
  3. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya coba untuk menjawab pertanyaan nomor 20 tentang apa hakikat konsep bilangan dalam filsafat? Menurut pendapat saya konsep bilangan dalam filsafat yaitu bilangan merupakan suatu konsep matematika yang bersifat abstrak yang biasanya digunakan untuk mengukur. Lambang yang digunakan untuk mewakili suatu bilangan disebut sebagai angka atau lambang bilangan, misalanya 1,2,3,4,5,… dan seterusnya. Lambang bilangan dapat kita gunakan untuk menunjukan apa yang ada dalam pemikiran kita sesuai dengan urutannya. Walaupun bilangan bentuknya abstrak tetapi dapat digunakan untuk menjelaskan benda konkret.

    ReplyDelete
  4. Tiara Cendekiawaty
    18709251025
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Saya mencoba menjawab pertanyaan nomor 12 tentang bagaimana agar terhindar dari ruang dan waktu yang salah?. Filsafat adalah berpikir agar selalu sesuai dengan ruang dan waktu. Filsafat itu tentang menggunakan pikiran dan hati. Ketika berada pada ruang dan waktu yang salah maka sebenarnya sudah terjebak dalam mitos karena sudah tidak berpikir dan tidak menggunakan hatinya lagi. Untuk itu, agar tidak terjebak dalam ruang dan waktu yang salah maka harus senantiasa menghidupkan pikiran dengan terus berpikir dan mendekatkan diri dengan Allah agar hatinya selalu terjaga.

    ReplyDelete
  5. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Bagaimana agar terhindar dari ruang dan waktu yang salah. Filsafat merupakan olah pikir. Berpikir dalam berbagai hal. Berpikir antara mana yang baik dan buruk, berpikir antara yang sesuai dan tidak sesuai, dan lain sebagainya. Agar tidak salah ruang dan waktu maka kita harus terus belajar dan berlatih. Belajar tentang materi pembelajaran, belajar tentang kehidupan, belajar dengan kondisi yang sesuai dan tidak, belajar yang mungkin dan tidak mungkin, dan belajar hal-hal yang lainnya. Kita harus terus belajar agar dapat mengetahui ruang dan waktu yang sesuai. Kita berfilsafat ketika dalam melakukan proses pembelajaran filsafat bersama dengan dosen ahli. Jangan sampai kita berfilsafata dirumah dengan adik kita yang masih belum mengerti hal-hal ini karena berpikir filsafat belum tentu diterima oleh orang lain. Yang ada malah kita dianggap sudah tidak waras lagi. Berfilsafatlah pada ruang dan waktu yang sesuai. Contoh lain seperti pada saat membahas tugas matematika, lakukanlah bersama orang yang sesuai jurusan atau yang lebih tahu, jangan dibahas dengan orang bahasa yang cenderung menghindari matematika apalagi ditambah dengan situasi yang krang memungkinkan seperti ketika dia sedang sibuk mengerjakan tugasnya. Hal ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada malah akan menambah masalah. untuk itu kita harus terus belajar dan berusaha untuk lebih mengerti mana yang sesuai dan tidak sesuai. Kapan dan dimana kita harus berbuat A, kapan dan dimana kita harus berbuat B, dan lain sebagainya.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  6. Aan Andriani
    18709251030
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Bagaimana konsep karma dalam filsafat?
    Karma sama seperti halnya akibat. Karma baik dapat diperoleh ketika kita melakukan perbuatan baik. melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan karma buruk dapat diperoleh karena telak melakukan perbuatan buruk. Karma diberikan oleh yang Kuasa karena makhluknya sudah sangat keterlaluan. Jika manusia sudah melakukan keburukan yang sangat parah dan tidak bisa ditoleransi lagi oleh manusia, maka Allah akan menghukumnya secara langsung dan dengan cara yang sangat pedih. Tapi jika manusia tersebut selalu berbuat baik dan senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, maka ia akan mendapatkan balasan yang sesuai yan disini disebut sebagai karma baik.
    Wassalamualaikum wr.wb.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. any Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya coba menjawab pertanyaan nomor 4 tentang bagaimana memanfaatkan sifat kontradiksi/anomali/ketidaksempurnaan manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan orang lain? Sifat kontradiksi membantu kita untuk membandingkan dua hal yang memiliki pandangan berbeda terhadap suatu hal. membandingkan membuat kita dapat menentukan pilihan terhadap sikap mana yang bermanfaat bagi kita. Kontradiksi dan ketidaksempurnaan membuat kita sadar kita membutuhkan orang lain dan inilah yang membuat kita dapat hidup dengan orang lain, saling membutuhkan dan hidup bersama.

    ReplyDelete
  10. 75. Pertanyaan-pertanyaan filsafat dari S2 PM C
    Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Isu-issu tentang transgender atau perkawinan sesame jenis memang menjadi topic yang hangat diperbincangkan oleh penduduk di seluruh dunia. Pertanyaan saudari Rahmi Hidayati menarik saya untuk menanggapi hal tersebut. bagaimana pandangan filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesame jenis?.
    Para filsuf menganggap bahwa setiap orang berhak atas kebahagiannya masing-masing. Filsuf mengkategorikan sebuah filsafat dalam spiritualitas dan modernitas. Filsuf barat menganggap bahwa modernitas adalah puncak dari filsafat. Transgender atau perkawinan sejenis bisa jadi adalah lifestyle yang dianut oleh seseorang yang tidak membenarkan adanya kebahagiaan dalam dirinya sendiri. Para filsuf barat melegalkan transgender atau perkawinan sesame jenis. Merubah jati diri seseorang merupakan kebebasan bagi seseorang sehingga perkawinan sejenis dianggap sebagai hak asasi manusia yang sah dilakukan karena hal tersebut bukanlah hal yang menganggu kehidupan orang lain. Di sisi lain, filsuf timur meletakkan spiritualitas sebagai puncak dari filsafat. Sangat jelas bahwa para filsuf tersebut menentang adanya transgender dan perkawinan sejenis. Meskipun merupakan hak bagi setiap orang, hanum hal tersebut sangat jelas bertentangan dengan aturan spiritual. Spiritualitas yaitu meletakkan Tuhan dalam hati, pikiran, dan setiap langkahnya. Sehingga ia percaya bahwa apa yang telah diciptakan oleh Tuhannya adalah hal mutlak dan tidak bisa dirubah. Laki-laki dan perempuan diciptakan berpesang-pasangan dan saling membutuhkan. Masing-masing mempunyai fitrahnya, fitrah perempuan tidak sama dengan fitrah seorang laki-laki. Akan tetapi kedua makhluk hidup tersebut mempunyai hal yang sama yaitu menjadi bahagia dengan tidak melanggar aturan-Nya. Jawaban tentang pandangan filsafat terhadap transgender dan perkawinan sejenis terletak pada sisi mana hal tersebut ingin dibahas.

    ReplyDelete
  11. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Selanjutnya saya ingin menambahkan dengan mencoba menjawab pertanyaan nomor 6 dari saudari Evri Kurniawati tentang maksud dari fatamorgana dan bagaimana menyikapinya. Fatamorgana merupakan ilusi atau hal yang direpresentasikan dari panca indera. Fatamorgana hanyalah bayangan-bayangan dari pikiran manusia yang tampak nyata. Fatamorgana akan menjadi sebuah ancaman bagi seseorang yang mempercainya. Para filsuf terutama melihat ancaman tersebut muncul lantaran pengembangan IPTEK berjalan terlepas dari asumsi-asumsi dasar filosofinya seperti landasan ontology. Untuk menyikapi fatamorgana ini, seseorang harus memegang teguh prinsip spiritual dan fakta-fakta akan suatu ilmu pengetahuan. Jangan sampai seseorang terjebak dengan ilusinya karena tidak menemukan fakta-fakta yang dapat mendukung informasi yang sedang ia proses di dalam otaknya. Selain itu menyikapi fatamorgana dapat dilakukan dengan menemukan tesis dan anti tesisnya. Sehingga seseorang yang sedang terjebak dalam sebuah fatamorgana dapat memperluas sudut pandangnya berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang ada.

    ReplyDelete
  12. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya coba untuk menjawab pertanyaan nomor 1 tentang bagaimana pandangan filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis? Transgender atau perkawinan sesama jenis merupakan suatu bentuk penyimpangan yang terjadi di dunia dewasa ini. Penyimpangan ini merupakan hal yang berlawanan dengan tujuan penciptaan yaitu menciptakan manusia dan pasangannya begitupun dengan binatang dan tumbuhan, masing-masing diciptakan dalam pasangan laki-laki dan perempuan, jantan dan betina. Kita mungkin tidak terlibat secara langsung di dalamnya namun orang-orang di sekitar kita yang telah terlibat membawa keprihatinan tersendiri bagi kita. Setiap kita pasti memiliki pemikiran yang negatif dan tidak mampu menerima keadaan ini dengan menentang adanya perkawinan sesama jenis sehingga tidak merusak moral bangsa kita.

    ReplyDelete

  13. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya mencoba untuk memberikan jawaban untuk pertanyaan nomor 2 tentang bagaimana konsep kehormatan menurut filsafat.
    Kehormatan berkaitan dengan harga diri sesorang. Kehormatan tidak dapat diukur atau dinilai dengan alat ukur, uang ataupun harta. Dalam kehidupan sehari-hari persoalan kehormatan menjadi suatu persoalan yang sangat sensitif karena menyangkut harga diri. Seseorang tidak akan rela jika kehormatan atau harga dirinya dinjak-injak. Oleh karena itu, manusisa akan berjuang dengan berbagai cara untuk mempertahankan harga diri dan memilikinya secara utuh. Kehormatan dapat diperoleh bila kita melakukan hal-hal yang normal, wajar, yang dapat diterima dalam hidup bermasyarakat. Jika kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat, maka saat itu juga kita kehilangan kehormatan, nama baik kita tercemar. Kehormatan juga merupakan hak dari setiap individu Oleh karena itulah tak seorangpun berhak atas diri orang lain, sebab kehormatan adalah menyangkut hidup itu sendiri.

    ReplyDelete
  14. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PM A PPs UNY 2018

    Saya mencoba untuk menjawab pertanyaan nomor 5 tentang bagaimana filsafat memandang konsep lupa dalam psikologi.
    Lupa berkaitan dengan kemampuan sesorang dalam mengingat apa yang tersimpan dalam memorinya. Ada hal-hal yang mud mudah untuk dilupakan dan ada pula hal-hal yang susah untuk dilupakan. Lupa adalah reduksi bagi kita agar kita dapat mengisi pengetahuan kita dengan pengetahuan yang baru.

    ReplyDelete
  15. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Berdasarkan pertanyaan bagaimana memandang konsep lupa yang ada di dalam psikologi, secara spiritual lupa adalah kodrat manusia yang tidak dapat dihindari. Karena jika kita hidup tanpa lupa brarti kita tidak hidup, dan sebenar-benarnya hidup adalah lupa.

    ReplyDelete
  16. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari pertanyaan bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing, saya teringat dengan perkataan Pak Marsigit tentang mengerti diri kita sendiri yaitu kerjakan pikiranmu, pikirkan pikiranmu. Dari kalimat tersebut, kita dapat mengetahui bahwa filsafat itu siapa saja dan apa saja. Kita berfilsafat berkeyakinan pada hati, sehingga kita berfilsafat adalah diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  17. Atin Argianti
    18709251001
    PPs PM A 2018
    Dari pertanyaan bagaimana agar terhindar dari ruang dan waktu yang salah, menurut saya hidup itu sesuai dengan ruang dan waktu, jadi kita tidak dapat menghidari ruang dan waktu. Ruang dan waktu yang salah disini diartikan sebagai kesalahan pikir. Jika kita salah berpikir berarti kita masih dalam pikiran tanpa dikenai beban ruang dan waktu. Dan jika kita pikirkan, saat kita pikirkan tersebut sudah terikat ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  18. Fany Isti Bigo
    18709251020
    PPs UNY PM A 2018

    Berdasarkan pertanyaan tentang bagaimana filsafat memandang perubahan/pergantian kurikulum pendidikan.
    Perubahan atau pergantian kurikulum merupakan hal yang lumrah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Perubahan yang dilakukan merupakan langkah yang ditempuh untuk lebih mengoptimalkan kurikulum yang sudah ada sebelumnya, asalkan dalam mengimplementasikan kurikulum yang baru semua pihak yang terlibat dalam pengimplementasian tersebut telah siap untuk menerapkan kurikulum yang baru.

    ReplyDelete
  19. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Saya akan mencoba menjawab mengenai bagaimana memanfaatkan sifat kontradiksi/anomali/ketidaksempurnaan manusia untuk kemaslahatan manusia itu sendiri dan orang lain? Sebenar-benar hidup adalah kontradiksi. Manusia itu tidak akan pernah sama dengan seper-sekian detik sebelumnya. Sifat kontradiksi disini dapat menjadi pembanding atau refleksi bagi kita mengenai apa yang sudah dilaksanakan dan apa yang sedang terjadi. Dari sini lah manusia akan terus termotivasi untuk berusaha. Demikian juga sifat ketidaksempurnaaan manusia, dengan menyadari bahwa manusia itu tidak ada yang sempurna karena manusia memiliki keterbatasan maka menjadikan manusia selalu rendah diri, selalu bersyukur, selalu berusaha untuk mengupayakan segala sesuatu yang diinginkan.

    ReplyDelete
  20. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Filsafat itu sangatlah dekat dengan diri kita. Sering dikatakan bahwa sebenar-benar filsafat adalah dirimu sendiri. Karena filsafat adalah berpikir, dan hidup adalah selalu berpikir. Maka setiap hari apa yang kita lakukan adalah sedang berfilsafat. Berfilsafat itu bisa dari yang ada dan yang mungkin ada. Segala sesuatu yang dekat dengan kita dapat kita cari filsafatnya.

    ReplyDelete
  21. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Saya akan menjawab mengenai konsep lupa. Menurut Gulo (1982) dan Rober (1988) lupa adalah ketidakmampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dialami atau dipelajari, dengan demikian lupa bukanlah peristiwa hilangnya item informasi dan pengetahuna dari akal kita. Lupa sering terjadi pada semua orang baik yang kecil, remaja, dewasa hingga yang tua, yang miskin dan yang kaya pun tak luput dari lupa. Karena kodrat manusia adalah tempat salah dan lupa. Oleh karena itu, untuk mengatasi lupa adalah dengan selalu berpikir karena dengan berpikir akan melatih kita untuk terus mengingat.

    ReplyDelete
  22. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dari beberapa pertanyaan di atas saya akan mencoba menjawab pertanyaan bagaimana mengubah yang mungkin ada menjadi ada? Objek kajian filsafat adalah yang ada dan yang mungkin ada. Sesuatu dikatakan mungkin ada artinya bisa ada ataupun tidak ada. Sedangkan filsafat sendiri adalah berpikir mengenai sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Untuk mengubah yang mungkin ada adalah dengan mengada yaitu berpikir. Proses mengada ini akan menghasilkan ada. Ada itu juga bisa ada atau tidak ada. Sesuatu yang ada juga bisa jadi tidak ada. Artinya manusia di dunia ini sifatnya hanya berikhtiar dengan mengupayakan usahanya secara optimal untuk menjadi ada. Kemudian yang menentukan ada atau tidak ada adalah takdir Alloh.

    ReplyDelete
  23. Rosi Anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan tentang konsep cinta dalam filsafat. Cinta bukan perasaan, karena apabila cinta merupakan perasaan, maka akan dapat berubah-rubah, sedangkan cinta yang sesungguhnya tidak berubah, cinta yang sesungguhnya itu tetap ada dan tidak berubah bagaimanapun dan kapanpun kondisinya. Cinta yang sebenarnya adalah kesetiaan, cinta berhubungan dengan perasaan, namun cinta bukanlah perasaan. Singkatnya cinta itu komitmen dan keputusan.

    ReplyDelete
  24. Cahya Mar'a saliha sumantri
    18709251034
    S2 pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Berkaitan pertanyaan Aqiilah:
    Bagaimana Filsafat memandang konsep hubungan/interaksi dalam keluarga dan masyarakat?
    Keluarga maayarakat mempunyai interaksi langsung dengan diri manusia sehingga tanpa disengaja akan masuk ke pikiran kita. Pikiran kita akan tetap terhubung dengan akar-akar pikiran mungkin akan terhubung dengan yang lain tetapi hubungan dengan keluarga tetap menjadi pikiran kita karena sejak ada di dunia kita sudah terhubung dengan keluarga apalagi masyarakat karena berada di lingkungan sosial. Oleh karena itu pikiran sosial merupakan filsafat yang memang selalu dipikirkan.

    ReplyDelete
  25. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Foucault mendefinisikan kekuasaan sebagai relasi. Di mana ada relasi, di situ ada kekuasaan. Contohnya saja ada relasi antara negara dan masyarakat. Dengan demikian, negara memiliki kekuasaan untuk "memaksa" masyarakat untuk mematuhi peraturan.

    ReplyDelete
  26. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Bagaimana filsafat memandang konsep lupa yang ada di dalam psikologi? Salah satu sifat manusia yaitu lupa, lupa berarti hilangnya ingatan dari otak manusia, lupa itu ada yang sifatnya sementara dan ada juga yang sifatnya selama-manya. Lupa terjadi karena ketidakmampuan otak kita untuk memanggil kembali memori yang pernah terekam. Sifat lupa tidak selamanya buruk, justru sifat lupa ini memiliki banyak manfaat yang jarang terpikirkan oleh kita. Allah SWT memberikan sifat ini kepada manusia sebagai anugerah, bayangkan apa yang terjadi ketika tidak ada sifat lupa dalam diri manusia, maka banyak peristiwa yang tidak diinginkan akan menghantui kita setiap saat. Jadi selain Allah SWT memberikan ingatan kepada manusia, alat juga memberikan penghapusnya, yaitu lupa karena tidak semua perjalanan hidup yang dialaui manusia sesuai yang diinginkan atau berjalan baik-baik saja, terdapat peristiwa-peristiwa buruk atau hal-hal yang tidak diinginkan yang harus dilupakan.

    ReplyDelete
  27. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Bagaimana filsafat menuntun kita mencapai cita-cita? Cita-cita adalah sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Maka cita-cita adalah objek kajian filsafat. Menurut Saya untuk mencapai cita-cita haruslah ikhtiar. Ikthtiar inilah adalah proses dari mengada sesuatu yang ada dan yang mungkin ada. Ketika sudah menjadi ada dan pengada maka cita-cita telah tercapai. Maka dari itu filsafat dalam menuntun kita untuk mencapai cita-cita adalah prinspi dari filsafat itu sendiri yaitu berpikir.

    ReplyDelete
  28. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Sangat disayangkan sekali fenomena yang terjadi seperti ini, banyak orang yang menganggap bhwa transgender, perkawinan sesame jenis atau orang-orang biasa menyebutnya LGBT, dipandang masyarakat sebagai suatu kebenaran, normal dan alamiah. sebaliknya fenomena tersebut merupakan sesuatu yang abnormal. Perkawinan dalam islam merupakan peristiwa sacral yang luhur dan suci, dimana komitmen dua jenis kelamin berbeda dilakukan atas nama Tuhan. sebagai negara yang berlandasakan pancasila yaitu sila pertama Ketuhanan Yang maha Esa sudah semestinya kita tunduk dan patuh terhadap ajaran-ajaran yang dianutnya. Dimana telah dijelaskan dalam Al-Qur’an bahwa perkawinan yang dilakukan sesama jenis dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi fitrah manusia.

    ReplyDelete
  29. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Bagaimana filsafat dapat menjelaskan konsep dan kkeadaan Alam Barzakh?.Kematian adalah akhir dari perjalanan manusia di dunia. Namun, jiwa manusia akan melanjutkan kehidupannya diakhirat kelak, yakni kembali ke sisi Allah SWT. Alam kubur /barzakh adalah tempat awal bagi manusia setelah mengalami kematian. Dalam kubur manusia akan merasakan kenikmatan jika beramal baik dan begitupun sebaliknya akan mengalami kesengsaraan jika beramal buruk, sebagaimana H.R. Tirmidzi “Kuburan dapat merupakan taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurangnya neraka”. Jadi, di alam barzakh, manusia akan mendapatkan mendapatkan kesenangan ataupun kesengseraan sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat sebelumnya didunia.

    ReplyDelete
  30. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Bagaimana konsep Demokrasi dalam Filsafat?. Secara metodologis, demokrasi mengandung makna filosofis di mana kemenangan suara mayoritas merupakan kebenaran. Kebenaran ini harus diberlakukan bagi seluruh rakyat tanpa pengecualian termasuk minoritas dan golongan putih. Kebenaran mayoritas sebagai suara rakyat yang dijadikan landasan pengambilan hukum. Pengambilan hukum inilah yang mempresentasikan pengambilan kebenaran dan keadilan yang akan dituangkan dalam format yuridis. sehingga dapat dkatakan bahwa kebenaran ini berasal dari persepsi rakyat yang diwakilkan oleh wakil rakyat.

    ReplyDelete
  31. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsaat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?. Semua persoalan yang terjadi, pada akhirnya kita kembalikan kepada diri kita sendiri. Manusia tentu mempersoalkan dirinya sendiri. Dalam suatu persoalan, perdebatan dan cita-cita, kita terus –menerus bertanya tentang diri kita sendiri, Siapakah sebetulya aku ini?, bahkan ketika kita mengalami suatu pertentangan, kebingungan ataupun kebimbangan mengenai yang baik dan buruk, maka kita akan refleks berfikir untuk menjawab permasalahan tersebut. Jadi, cara untuk mengetahui diri sendiri dengan terus memikirkannya dan menerjemahkannya, karena ada banyak hal dalam diri kita juga yang perlu diterjemahkan (hermeneutika). Jika seseorang tidak berusaha mengenal diri sendiri, maka dia akan sulit menentukan arah dan tujuan hidupnya. Sebenar-benarya tidak ada manusia yang mampu mengetahui dirinya sendiri, yang ada manusia yang berusaha untuk mengetahui dirinya sendiri

    ReplyDelete
  32. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr. Wb.
    Mencoba menuturkan pendapat hati dan pikiran terkait pertanyaan saudari Sestri Nela Kurnia:
    Bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?
    Lupa bisa disengaja dan tidak disengaja, dalam arti memutuskan untuk menghilangkan memori padahal tidak hilang dan satunya tanpa disadari memori sudah hilang hingga membuat mencari dan menyusun kembali lagi memori-memori yang hilang tersebut. Terputusnya memori dalam pikiran antar satu dengan yang lain disebut lupa, tapi hanya sementara karena meori tersebut akan menyambung lagi bila mulai teringat. Jikalau lupa ingatan, maka memori tidak hanya terputus tetapi sembunyi hingga diri ini berusaha keras untuk mengingat satu persatu kejadian dan akhirnya tersusun sedikit demi sedikit memori meskipun ada yang masih hilang setidaknya masih mengingat beberapa. Bila dikaitkan dengan psikologi, seperti tadi bahwa keadaan di mana mental dalam pikiran manusia bisa berubah, maksudnya karena terputusnya memori manusia karena hal lain dan tersambung lagi bilang sudah teringat kembali. Bila dikaitkan dengan filsafat, maka lupa termasuk berfilsafat karena memang bermain di dalam pikiran, memori dalam pikiran yang berhamburan ke mana-mana membuat manusia berpikir lebih keras dan menyusun lagi memori-memori menjadi utuh.

    ReplyDelete
  33. Cahya Mar'a Saliha SumantriDecember 9, 2018 at 8:46 PM
    Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr. Wb.
    Pertanyaan dari saudara Jaya Paldi mengenai "Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?", berbicara cinta tidak akan habisnya, akan semakin meluas pembahasan ini hingga jauh di mata. Cinta mengandung romantisme yang dalam sekali maknanya, cakupannya luas hingga membuat melayang, cinta kalau tidak di pikirkan belum bisa disebut cinta, karena cinta tidak bisa di luar kepala,kalau cinta tidak dipikirkan maka perilaku ini akan menjadi brutal tidak berlandaskan cinta. Beda dengan kegiatan yang dilakukan dengan cinta, akan menghasilkan yang baik pula, cinta di sini berarti melakukan dengan sepenuh hati, dengan santun, dengan tata krama, berpikir dulu sebelum bertindak itu semua termasuk cinta. Bukan hanya cinta tentang perasaanku dan perassan dia, tetapi memang bentuk cinta banyak macamnya. Sehingga, cinta dalam filsafat berasal dari hati dan pikiran yang berkombinasi untuk menyetujui indikator-indikator perbuatan cinta dan menolak apabila sudah terlalu jauh dari dasar cinta.

    ReplyDelete
  34. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr. Wb.
    Mengenai pertanyaan dari saudari Usi Susanti:
    Bagaimana cara mengetahui diri sendiri dan menyadari bahwa Filsafat sangatlah dekat dengan diri kita masing-masing?
    Gali dalam pikiran, selami mereka, pahami mereka satu persatu, ajak kenalan lagi bila perlu, karena semua yang ada di dalam pikiran diri ini merupakan dasar filsafat yang memang sudah menjadi bakal filsafat sejak dulu. Renungi diri sendiri, evaluasi diri, atau bahkan hanya melakukan aktifitas seoerti biasanya sudah termasuk filsafat. Cukup sadari bahwa diri ini sedang beraktifitas melakukan apapun, baik benar maupun salah tetap sudah termasuk berfilsafat. Kenali diri lebihdalam lagi dan selalu bersyukur karena sudah melakukan aktifitas yang baik setiap harinya.

    ReplyDelete
  35. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr. Wb.
    Pertanyaan dari saudari Theodora Yunita Mekaria yaitu:
    Bagaimana konsep Karma dalam Filsafat?
    Anggapan umum tentang karma menjadi topik yang dianggap tabu karena memang istilah tersebut sudah ada sejak jaman dulu, yang mengaitkan tentang mitos leluhur dan kebanyakan karma mengandung arti negatif. Hal itu akan menjadikan manusia trauma terhadap segala aktifitas yang dapat menimbulkan karma, sehingga akan lebih berpikir keras lagi bila akan melakukan aktifitas. Tetapi sebenarnya karma bisa dicegah bila manusia berpikiran positif dan selalu berperilaku yang wajar , maksudnya tidak merugikan orang di sekitar, dan malah harusnya membuat orang di sekitar nyaman dan senang dengan kehadiran diri ini. arti karma bila dilihat dari penjelasan di atas maknanya mengarah ke akibat dari kegiatan yang dilakukan atau efek atau dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut. Meskipun dampaknya tidak mengarah ke diri ini, tetapi kemungkinan bisa jadi terbalaskan di keesokan harinya. Misalnya, suka menggosip, maka dampaknya bisa jadi diri ini akan berbalik digosipkan oleh orang-orang lain.

    ReplyDelete
  36. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Saya akan mencoba menanggapi pertanyaan filsafat nomor 12, bagaimana agar terhindar dari ruang dan waktu yang salah? Sebelum kita menghindar, kita harus memahami dahulu mana yang berarti salah maupun benar dalam konteks ruang dan waktu. Ketika kita telah memahami betul apa yang dimaksud benar sesuai ruang dan waktu maka diri kita pun akan memposisikan diri pada keadaan yang benar. Maka dari itu kita harus mampu belajar memposisikan diri untuk mengetahui mana yang baik dan benar juga mana yang salah dan buruk. Ketika kita berada pada posisi yang salah sebenarnya hati kita pun akan merasa tidak nyaman, maka berusahalah untuk selalu menjernihkan hati dan pikiran kita dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT agar kita selalu takut pada hal hal buruk yang menjerumuskan kita

    ReplyDelete
  37. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pertanyaan dari saudara Mu'ad Mas'adi:
    Bagaimana proses pembentukan Karakter Manusia menurut pandangan Filsafat?
    Manusia mempunyai ciri khas masing-masing yang belum tentu dipunyai oleh manusia lain, hal itu yang membuat manusia merupakan makhluk yang khas dengan berbagai karakter dalam diri dan pikirannya. Manusia mempunyai karakter tersebut karena kebiasaan yang tertanam dalam pikirannya agar selalu melakukan hal tersebut sehingga hal itu akan menjadi kebiasaan bagi orang lain juga untuk melihatnya dan menjuluki dengan karakter seperti itu. Ada pula yang memang sengaja membentuk karakternya sendiri dan berupaya untuk lebih memperbaiki karakternya setiap waktu, caranya dengan memikirkan apapun yang menurutnya dan menurut orang lain baik maka ia akan mulai membiasakannya dan mendapat julukan karkater sesuai yang dia dan orang lain inginkan. Sehingga, kembali lagi pada diri sendiri apalagi pikiran untuk lebih berhati-hati lagi dalam memikirkan sesuatu untuk dilakukan karena hal itu akan menjadikan dia bersikap seperti itu pula di mata orang lain.

    ReplyDelete
  38. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Menurut pertanyaan saudara Jaya Paldi:
    Bagaimana konsep Cinta dalam Filsafat?
    Kesekian kalinya pembahasan cinta memang never ending. Cinta terbentuk dari kebiasaan, dan pikiran dalam hati karena perilaku manusia berdasarkan kebiasaan dan pikiran yang mempengaruhi untuk melakukan sesuatu. Diawali dengan hal kecil bise disebut awal dari cinta, misalnya memberi makan kucing liar yang ada di belakang rumah, membuang sampah pada tempatnya, menyiram tanaman, membantu orang tua, dsb. Sehingga cinta tidak selalu membahas tentang asmara antara dua sejoli laki-laki dan perempuan saja, tetapi perilaku sosial juga termasuk bentuk cinta. Sehingga, cinta bisa mencakup semua aspek, cinta tertinggi kepada Sang Maha Pencipta. Seperti itulah siklus cinta yang tanpa disadari manusia mereka telah melakukan aktifitas berdasar cinta.

    ReplyDelete
  39. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Berdasarkan pertanyaan saudari Ni Kadek:
    Bagaimana konsep Kekuasaan dalam Filsafat?
    Induk kucing berkuasa atas anak-anaknya, pohon besar berkuasa atas tanaman yang lebih kecil darinya, teman sebaya yang berkuasa atas pembenaran perbuatan negatif teman-temannya, kepala sekolah berkuasa atas pegawai sekolah, pemimpin perusahaan berkuasa atas karyawannya, dll. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang berlandaskan kekuasaaan, tetapi bukan kekuasaan yang dianggap merugikan meskipun ada yang merugikan. Maksudnya, seperti induk kucing berkuasa atas segala tanggung jawab makanan, keamanan semua anak-anaknya sehingga kekuasaan di sini berarti tanggung jawab yang diemban oleh induk kucing untuk ketentraman keluarganya. Begitu juga dengan pohon besar yang melindungi tanaman di bawahnya dari sinar matahari bila jenis tanaman tersebut tidak tahan panas, bisa jadi diuntungkan dari daun-daun yang jatuh dari pohon besar agar menjadi kompos pada tanaman tersebut. Sehingga, bila berbicara tentang pemimpin yang berkuasa, akan sensitif pembahasannya karena bisa saja kekuasaan tersebut malah lari dari tanggung jawab dan tidak mewadahi bawahannya. Bisa disimpulkan bahwa kekuasaan kembali ke dalam diri manusia itu sendiri ingin menjadi penguasa yang seperti apa bila ingin mempunyai kekuasaan yang aman dan meawadahi seluruh rekan-rekannya.

    ReplyDelete
  40. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pertanyaan dari saudari Zuida Ratih:
    Apa konsep makna Bertengkar, Bercerai, Berkelai, dan Berperang dst.. dalam Filsafat?
    Memisahkan diri, terpaksa berpisah, memutuskan tali, merupakan istilah-istilah yang berkaitan dengan bertengkar, bercerai, berkelahi, berperang. Karena bertengkar merupakan awal dari berpisah satu sama lain, bercerai awal dari memaksakan untuk berpisah, berkelahi sama halnya dengan bertengkar dengan memutuskan tali silaturahim antar pihak, dan berperang juga awal dari keterpaksaan memisahkan diri dengan dua belah pihak. Hal tersebut bisa terjadi karena di dalam hati dan pikirannya dipenuhi dengan emosi, amarah, pikiran negatif terhadap pihak lain sehingga cara yang ditempuh dengan bertengkar, berdebat, bercerai, berperang. Tidak ada waktu bagi mereka untuk duduk bersama memikirkan solusi tengah, bisa jadi ada pihak-pihak tertentu yang mempengaruhi untuk segera melakukan tindakan tersebut. Bila ingin menghindari hal tersebut, hendaknya pikirkan hal-hal ke depan yang akan menjadi dampaknya, selami lagi ke dalam pikiran individu agar bisa berpikir lebih realita.

    ReplyDelete
  41. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Berdasar pertanyaan saudari Rahmi Hidayati:
    Bagaimana pandangan Filsafat terhadap transgender atau perkawinan sesama jenis?
    Wanita dan Pria merupakan makhluk hidup yang hidup berpasang-pasangan. Berapasangan dalam arti memang wanita diciptakan dari tulang rusuk pria sehingga pasangannya adalah seorang pria. Seperti kutub pada baterai ada positif dan negatif, bila kutub sejenis atau positif bertemu kutub positif maka tidak akan terjadi reaksi, sehingga perlu diubah salah satunya menjadi sepasang yaitu positif dan negatif. Sekarang berbicara tentang manusia berjenis kelamin pria dimisalkan dengan kutub positif menikahi berjenis kelamin serupa dimisalkan kutub positif juga maka harusnya akan tidak terjadi reaksi. Maksudnya, memang untuk dekat dan menyukai siapa saja, jenis kelamin apa saja merupakan hak setiap manusia tetapi untuk urusan hati perasaan harus lebih berhati-hati apalagi saat memilih pasangan. Bila pun pernikahan sesama jenis terjadi, ada hal yang mendasari mengapa terjadi seperti itu contohnya trauma dalam menjalin hubungan dengan lawan jenis karena sakit hati yang berkepanjangan, dll. Hal itu harusnya dicari solusinya dengan berkonsultasi dengan keluarga, teman dekat, tidak dengan kemauan sendiri. Semua perlu dipikirkan baik-baik melibatkan hati, jiwa, psikis.

    ReplyDelete
  42. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Pertanyaan dari Sestri Nela Kurnia:
    Bagaimana Filsafat memandang konsep Lupa yang ada di dalam Psikologi?
    Memberikan jeda waktu pada otak untuk beristirahat agar lebih rileks dan lebih mampu menerima bebannya pikiran. Jeda tersebut bisa menjadi rezeki bagi orang karena mereka bisa menikmatinya dengan melakukan hal yang disenangi, jeda tersebut bisa menjadi bencana bagi orang karena mereka sengaja agar bisa lari dari masalah dan menikmati dengan mencuri waktu. Jeda itu bisa disebut lupa, orang mengalami lupa karena beban pikiran yang terlalu dipaksakan masuk ke dalam orak sehingga tanpa disadari ada hal yang tersembunyi dan menyebabkan lupa. Sehingga, bersyukurlah diberi lupa oleh Allah SWT karena itu merupakan salah bentuk sayang-Nya kepada manusia agar bisa istirahat sejenak dan beristighfar. Tetapi bila lupa karena memang sengaja dilakukan agar menghindari masalah, tidak mau bertanggung jawab, itu termasuk lupa yang sadis, karena memaksa pikiran untuk lupa padahal memang tidak saatnya untuk lupa. Begitulah jalannya mengapa lupa bisa menjadi rezeki dan bencana pada manusia.

    ReplyDelete
  43. Totok Victor Didik Saputro
    18709251002
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Selamat siang Prof.
    Kehidupan duniawi adalah tempat dimana kita menggunakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan. Banyak tantangan yang akan kita peroleh dalam menjalani kehidupan ini. Mengapa demikian? Manusia adalah makhluk sosial yang berarti hidup tidak hanya dengan dirinya sendiri melainkan memerlukan orang lain sebagai teman hidup. Dalam konteks ini, sebuah keunikan akan muncul satu sama lainnya. Keunikan ini pun dapat melahirkan sebuah prestasi yang berujung pada kehormatan atas prestasi tersebut. Artinya filsafat sungguh diikut sertakan dalam kondisi ini dan sesuai dengan ruang dan waktunya. Terima kasih.

    ReplyDelete