Oct 28, 2014

Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang




Dialog berikut dibuat berdasarkan kisah nyata pertemuan antara Logos dengan sekumpulan Belalang terdiri dari  25 ekor, yang terjadi pada Ruang dan Waktu Formal.


Logos :
Saya sedang menyaksikan di depanku ada 1, 2, 3, .....dst 25 ekor Belalang
Wahai Belalang 1, mengertikah engkau dengan ucapanku ini?

Belalang 1:
Wahai Sogol, sebenar-benarnya saya adalah sedang lapar?

Logos :
Wahai Belalang 2, siapakah dirimu itu?

Belalang 2:
Wahai Sgool, saya sedang memburu mangsa?

Logos:
Wahai Belalang 3, dari manakah dirimu itu?

Belalang 3:
Wahai slogo, mangsa hampir kutangkap.

Logos:
Wahai Belalang 4, siapakah namamu itu?

Belalang 4, aku siap melompat.

Logos:
Wahai Belalang 5, mau kemanakah engkau itu?

Belalang 5:
Wahai goolos, minggir itu ada belalang cantik.

Logos:
Wahai Belalang 6, apakah makanan kesukaanmu itu?

Belalang 6:
Wahai gosool, aku ingin gosool.

Logos:
Wahai Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 apakah engkau mendengan kata-kata saya?

Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15:
Osloog..osloog bathok. Bathok e ila ilu.

Logos:
Wahai Belalang 16, 17, 18, 19, 20, apakah engkau melihat diriku?

Belalang 16, 17, 18, 19, 20:
Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal.

Logos:
Wahai Belalang 21, 22, 23, 24, apakah engkau mampu berpikir?

Belalang 21, 22, 23, 24:
Kakiku lebih berguna dari sayapku.

Logos:
Dimana Belalang 25? O rupanya dia terperangkap oleh jaring laba-laba.

Logos:
Oh kenapa tiba-tiba pikiranku lelah, staminaku menurun. Wahai Orang Tua Berambut Putih, bersediakah engkau menolong diriku?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku sudah tahu persoalanmu. Kesalahanmu adalah engkau mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang.

Logos:
Bukankah aku sudah berikhtiar, tetapi kepada Belalang tetaplah Belalang. Apakah tidak boleh seekor Belalang berkenalan dengan Logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Boleh sih boleh. Tetapi ambisimu agar para Belalang mempunyai Logos itulah yang bermasalah.

Logos:
Wahai Spiritual, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Spiritualisme:
Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

Orang Tua Berambut Putih:
Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

50 comments:

  1. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Meskipun seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas mendidik di sekolah, akan tetapi hubungan dengan siswanya relatif masih terjaga karena hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan.

    ReplyDelete
  2. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada umumnya, guru akan tetap menampilkan sikap dan perilaku keguruannya, meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih dalam asuhannya. Dukungan dan kasih sayang akan dia tunjukkan. Aneka nasihat, petatah-petitih akan meluncur dari mulutnya. Kasih guru kepada muridnya seperti kasih ibu kepada muridnya yang sepanjang masa.

    ReplyDelete
  3. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mari kita terus belajar untuk sedapat mungkin berusaha menjaga kode etik guru, kita jaga hubungan dengan putra-putri didik kita secara profesional dan kultural, agar kita tetap menjadi guru yang sejatinya. Semakin banyak anak didik kita semakin besar juga kesempatan ladang amal yang diberikan kepada kita.

    ReplyDelete
  4. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari Elegi Logos berdialog dengan belalang. Dalam dialog tersebut logos terlalu mengharapkan jawaban dari apa yang ditanyakan, sedangkan belalang tidak merasa tertarik dan mengabaikannya. Hal ini bisa diperumpamakan hubungan antara siswa dan guru di sekolah. Dimana guru terlalu megharapkan sesuatu yang tinggi dari siswanya, salah satunya mengharapkan pencapaian akademis atau prestasi yang tinggi akan tetapi guru tidak melihat kemampuan siswanya yang masih terbatas. Sehingga apapun pembelajaran yang diberikan guru kepada siswanya tidak akan diserap oleh siswa karena itu diluar batas kemampuan siswanya

    ReplyDelete
  5. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Logos bisa menjadi dewa, juga bisa menjadi daksa. Dengan demikian Belalang bisa juga menjadi Logos. Maka dapat dikatakan bahwa logos sama dengan belalang. Akan menjadi dewa ketika berhasil menembus ruang dan waktu, sementara itu akan mejadi belalang atau daksa jika terjebak dalam ruang dan waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar dan bijak.

    ReplyDelete
  6. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pada jaman kontemporer ini kita bisa menjadi dewa, juga bisa dijadikan daksa. Dimana kita mampu berkuasa jika kita pandai menembus ruang dan waktu dengan bijaksana, tetapi kita juga dapat dikuasai jika kita terperangkat dalam ruang dan waktu. Jika kita terlalu berambisi menjadi dewa atau orang yang berkuasa dengan menghalalkan segala cara, maka sungguh ini bukan cara yang baik. Dan ketika kita menyerah tak berdaya, maka dengan kehebatan powernow kita akan dijadikan daksa yang bisa kapan saja diambil manfaatnya untuk kepentingan mereka. Maka berikhtiarlah dengan cara yang baik, jangan terlalu bernafsu menjadi penguasa, karena sesungguhnya hanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan untuk mengiringi ikhtiar yang baik, jangan lupa terlupakan proses berdoa memohon ampun kepada-Nya

    ReplyDelete
  7. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dari postingan Bapak Marsigit di atas, saya menangkap bahwa para belalang merasa skeptis terhadap Logos. Para belalang menyahut Logos dengan gosool, goloos, dan sebagainya tanpa satupun yang fasih menyebut Logos. Logos dengan segudang ilmunya sangat ingin disebut logos, sementara ‘skeptisnya’ belalang menjadikan mereka tetaplah kawanan belalang. Keduanya sombong dengan statusnya masing-masing. Maka benar yang dikatakan oleh orang tua berambut putih bahwa yang benar adalah dia sedang berusaha menggapai Logos. Dengan begitu, ia tidak akan berhenti berusaha dan belajar untuk mencapai logos. Sementara belalang harus dapat keluar dari perangkap ruang dan waktu untuk mencapai logos tersebut.

    ReplyDelete
  8. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B 2017

    Membaca satu kali, saya belum paham. Membaca dan membaca lagi, saya sedang berusaha memahami. Dan akhirnya yang saya tangkap dari postingan bapak di atas salah satunya adalah tentang refleksi diri. Bagaiman seharusnya logos mengambil tempat dalam kehidupan. Karena sebenar-benarnya logos adalah yang berusaha menggapai logos. Hal ini memperlihatkan bahwa logos sendiri adalah yang berusaha menggapai logos. Oleh karena itu, dengan memahami sebenar-benarnya logos, maka tidaklah tepat jika "logos memaksa si belalang menggapai logos"

    ReplyDelete
  9. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasar postingan ini saya mendapat sebuah pelajaran, dimana kita tidak boleh memandang rendah sesuatu dan sekaligus juga kita tidak boleh berkespektasi lebih terhadap suatu hal, karena itu akan membuat kita terlalu sibuk menilai hal lain dan tidak berkaca pada diri sendiri dan kemudian memperbaiki diri kita.

    ReplyDelete
  10. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas yang dapat saya tangkap yaitu ada 2 pihak yang mana satu pihak dengan pihak lain sama sama mempunyai keinginan ber-beda beda. Mereka tidak bisa bersatu karena tidak bisa saling memahami, karena kesombongan masing-masing. Coba jika kedua pihak mencoba untuk saling mengerti yaitu belalang mencoba memahami kalau logos ingin didengarkan, kemudian logos memahami jika belalang ingin makanan maka sesungguhnya mereka bisa bersatu.
    Maka pesan yang ingin di sampaikan adalah janganlah sombong. Karena sesungguhnya kita manusia itu tidak bisa sutuhnya menjadi sesuatu, yang kita lakukan hanyalah menggapainya. Dan yang utama menggapai RidhoNya.
    Maka yang perlu dilakukan, Berbuatlah kebaikan jangan terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ass. Terimakasih pak postingannya.
    Dari, postingan ini dapat saya simpulkan bahwa kita hidup tidak boleh berambisi terlalu tinggi, jangan berharap terlalu tinggi. Bermimpi boleh, namun jangan jadikan itu sebagai ambisi. Jadi sewajarnya saja, ketika kita mempunyai keinginan atau harapan, berusahalah dan berdoa. Selalu ikhlas menjalani hidup, ketika kita ikhlas maka setiap yang terjadi dalam hidup, kita akan mampu menerimanya. Selain itu, janganlah kita bersikap sombong. Karena yang kita punya pun bersifat sementara. Refleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat disadari maupun yang tanpa kita sadari.

    ReplyDelete
  12. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam postingan ini diceritakan tentang Logos yang berusaha mengajak bicara belalang-belalang, sedangkan tidak satupun dari belalang tersebut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Logos. Bahkan belalang-belalang tersebut seakan tidak melihat kehadiran Logos. Fenomena ini terjadi di dunia nyata antara guru dengan siswa-siswanya. Jika guru memposisikan dirinya sebagai seorang yang berilmu, kemudian ia tanpa sadar akan berlaku sombong. Sebenarnya guru tersebut hanyalah seseorang yang berusaha menjadi guru. Dengan keadaan demikian, siswa tidak akan menggubris apa yang dikatakan oleh guru. Untuk mendapat perhatian dari siswa, guru harus memahami siswanya. Mengapa siswa tidka memperhatikannya? Mengapa siswa tidak mengerjakan LKS? Apa yang lebih menarik bagi siswa? Apa yang diobrolkan oleh siswa? Maka sebaik-baiknya seorang guru tetaplah rendah hati dan belajar dari siswanya.

    ReplyDelete
  13. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof.
    Dialog ini dapat dipikirkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dialog antara logos dan belalang ini dapat memberikan gambaran tentang komunikasi antara guru dengan siswa. Seringkali guru memiliki harapan yang terlalu tinggi pada siswa untuk dapat memahami seperti yang ia pahami. Atau guru menggunakan bahasa komunikasi yang tidak sesuai dengan kemampauan siswa. Sementara di pihak lain, siswa tidak bersungguh-sungguh dalam berikhtiar untuk memahaminya. Oleh karena itu, komunikasi antara guru dengan siswa tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini bukan berarti salah guru atau salah siswa saja, baik guru maupun siswa perlu melakukan refleksi diri.

    ReplyDelete
  14. Junianto
    PM C
    17709251065

    Elegi ini analog dengan kehidupan manusia. Dimensi ruang dan waktu merupakan dua hal yang selalu diperbincangkan. Setiap orang akan menjadi hebat jika ia mampu menembus ruang dan waktu. Logos dan belalang sebenarnya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Ketika salah satunya mengatakan bahwa ia benar maka sebenarnya ia sedang berusaha benar, ketika ia berkata logos maka sebenarnya ia sedang berusaha menggapai logos.

    ReplyDelete
  15. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mengambil hikmah dari ulasan ini adalah saat kita menilai kebenaran melalui orang-orang yang ada di sekitar kita maka sejatinya semua hanyalah tergantung pada kebenaran dalam ruang dan waktunya. Namun, perlu ditekankan juga bahwa pentingnya berkomunikasi yang efektif satu sama lain. Saat komunikasi antara satu dengan yang lain tidak sejalan maka akan membuat suatu kesalahpahaman. Selain itu, saat kita hendak bertanya, sebaiknya bertanya dengan ahlinya. Jika kita bertanya pada yang bukan ahlinya kita akan mendapatkan informasi yang sia-sia dan tidak tepat.

    ReplyDelete
  16. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari bacaan "Berdialog Dengan Belalang" sangat menarik, diibaratkan belalang itu adalah peserta didik dan Logos adalah seorang guru. Pesan yang terkandung dalam dialog tersebut adalah menjadi seorang guru jangan memaksakan kehendak kepada peserta didik, misalnya saja untuk mempunyai pikiran yang sama. Peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, pendapat mereka pun berbeda-beda. Seorang guru harus sabar, jangan mudah marah dan jangan mudah mengeluh. Menjadi peserta didik juga harus memperhatikan penjelasan guru, jangan menyepelekan apa yang diajarkan oleh guru, dan sadar betul bahwa tugas peserta didik untuk menimba ilmu pengetahuan.
    Baik seorang guru dan peserta didik harus menghargai dan memahami satu sama lain, merefleksikan diri dan mohon ampun kepada Allah perlu dilakukan agar kejadian seperti di atas tidak terjadi.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  17. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi logos berdialog dengan belalang ini menceritakan tentang logos yang berusaha mencari perhatian atas sekumpulan belalang, dengan bertanya kepada masing-masing belalang. Ini bisa dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari kita misalnya dalam kehidupan sosial kita yaitu ketika berinteraksi dengan orang lain itu harus ada hubungan timbal balik. Kita tidak bisa hanya ingin didengar saja namun kita juga harus mendengarkan, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada oraang lain namun juga harus menimbang keinginan orang lain. Pada intinya, elegi ini mengajarkan kita untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri untuk tidak menjadi orang yang egois atau orang yang mengabaikan orang lain.

    ReplyDelete
  18. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menjadi seseorang yang selalu nyaman dengan kepuasan atas apa yang diri mereka peroleh sebenarnya merupakan rugi besar. Karena sebaik-baik manusia mereka lah yang dapat menjadi dewa. Dewa disini bukanlah dewa yang maha tahu segalanya, namun dewa bagi masing-masing kelompok. Misal guru adalah dewanya murid, dosen adalah dewanya mahasiswa, guru besar adalah dewanya para dosen. Jadi, untuk menjadi dewa seperti mereka hendaklah selalu berfikir terbuka dan tidak memaksakan kehendak dari apa yang kita fikirkan. Biarkan kita terus mencari dan mecari agar dapat menembus ruang dan waktu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  19. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegy di atas secara implisit mengingatkan kita untuk selalu merefleksi dan muhasabah diri dengan merenungkan sejauh mana kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat sebagai bekal mati, karena dunia ini hanya sebagai ladang untuk berlomba-lomba menanam benih kebaikan dan ridhonya tuhan yang maha esa. Dan bentengilah diri dengan iman dan taqwa dari sifat tinggi hati dan sombong karena allah sangat membenci umatnya yang memiliki sifat tersebut meskipun sekecil buah Zahra.

    ReplyDelete
  20. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualikum wr wb.Saya teringat di masa kelas 2 SMA waktu tahun 2010,yaitu di SMAN 4 Kota Bima.Seorang guru bahasa Indonesia namanya pak Abdul Maman.Beliau bertanya kepada seluruh siswa satu ruangan”Pada saat apa orang marah?Semua siswa terkejut dan tak mampu menjawab.Akhirnya beliau menjawab pada saat lapar.Berkenaan dengan yang dipaparkan mungkin memiliki hubungan.Orang-orang ketika lapar sering melampiaskn emosinya sehingga menimbulkan kesalahan bagi dirinya.Tak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan kesombongan.Oleh karenanya tidak ada jalan keluar dari keslahan melainkan segera bertobat dan menyadarinya.Imam Al-Gazali mengatakan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang menyadari kesalahannya dan segera bertobat.Semoga kesalahan yang pernah kita perbuat mendapatkan magfiroh dari Allah subhana huwa ta ala. Aminn.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan dialog dalam elegi ini yang dapat saya pahami adalah bahwa dalam menjalani kehidupan hendaklah kita senantiasa mengoreksi diri, merefleksikan diri, sejauh mana ikhtiar atau usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Janganlah telalu mengekspektasikan sesuatu hal yang tinggi sementara usaha yang dilakukan belum sebanding. Dan juga janganlah memandang rendah akan sesuatu karena bisa saja itulah yang terbaik. Untuk itu senantiasalah memperbaiki diri, mengamati sekitar agar tidak terperangkat antara ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  23. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Dialog yang sangat mencerahkan. Sejauh-jauh usaha logos ingin menjadikan belalang untuk mencapai logos adalah tindakan yang sia-sia, sekaligus sombong. Hampir sama seperti manusia, sejauh-jauh manusia belajar hingga kemudian merasa diri sejajar dengan Tuhan maka ia sesungguhnya jauh dari Tuhan.

    ReplyDelete
  24. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas dialog bermakna di atas. Secara tersirat, saya dapat mengambil hikmah bahwa secara sadar maupun tidak kita menyimpan sifat sombong dan tinggi hati di dalam hati. Ketika logos bertanya kepada belalang 1-24 namun mendapatkan jawaban dan respon yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan, dan kemudian si belalang malah menjawab pertanyaan logos sesuka hati dengan dasar harapan dirinya mampu berpikir logos, itu adalah sifat over confident. Tingginya hati yang berlebihan dapat mematikan hati itu sendiri atau bahkan menyesatkannya. Karena, sesungguhnya tidak ada yang logos, yang ada adalah menggapai logos. Tidak ada sifat dewa, yang ada hanyalah menggapai sempurna. Semuanya tergantung pada ruang dan waktu nya masing-masing. Mari kita instropeksi diri kita masing-masing dan memohon ampun kepada Allah swt atas segala kesalahan dan tingginya hati yang selama ini tersimpan dan tersembunyi di dalam nurani. Amin. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  25. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Disini logos berusaha mencapai belalang. logos mencoba untuk bertanya, berkomunikasi kepada belalang tetapi belalang tidak mengerti, bahkan belalang tidak tahu siapa logos. karena pada saat itu logos dan belalang berada di dalam ruang dan waktu yang berbeda, mereka berada di dalam ruang dan waktunya sendiri. logos harus menggapai dewa jika ingin dapat berkomunikasi dengan belalang.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  26. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Seperti halnya guru, tidak akan dapat merangkul siswa untuk berinteraksi dengannya jika berada di ruang dan waktu yang berbeda. maka guru harus menggapai dewa, yang memiliki kemampuan untuk menembus ruang dan waktu sehingga dapat menyesuaikan ruang dan waktu siswa. tidak boleh bagi guru untuk memaksakan siswa untuk mengerti perkataannya, padahal mereka berada di ruang dan waktu yang berbeda.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  27. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Dari elegi diatas dapat saya simpulkan diperlukannya sebuah refleksi diri, agar dengan berefleksi diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Adakala nya kita sebagai makhluk ciptaan Sang Khalik berlaku sombong (ambisuis) baik sengaja atau tidak, maka dari itu diperlukannya refleksi diri memohon ampunan dan petunjuk dari Tuhan.

    ReplyDelete
  28. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Jujur saja setelah membacanya berulangkali saya masih kurang mengerti. Sepertinya saya masih seperti belalang yang terperangkap dalam ruang dan waktu itu. Saya belum dapat menggapai logos. Saya terlalu lelah terperangkap dalam ruang dan waktu saya sendiri, kurang berusaha menggapai pengetahuan yang amat luas di luar sana. Kesadaran akan belajar harus saya tingkatkan lagi. Terimakazih atas postingan yang menjadi refleksi pribadi bagi saya, Pak.. semoga saya bisa menerapkan manfaatnya. Amin.

    ReplyDelete
  29. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Menurut saya dari postingan ini yang dapat direfleksikan adalah orang yang belum memahami suatu pengetahuan atau ilmu maka apa yang dibahas dia tidak akan mengerti. Jika orang tersebut tidak ingin belajar dan membaca maka dia akan tetap dalam ketidak mengertiaannya. Namun, jika dia ingin belajar dan membaca maka dia akan keluar dari ketidak mengertiaannya menuju ke mengerti atau paham mengenai pengetahuan ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  30. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 20117

    Janganlah menjadi manusia yang berharap kepada manusia yang lainnya, karena sebenar-benarnya tempat pengharapan adalah kepada Tuhan yang maha esa. Sebab jika manusia berharap lebih pada sesama makhluk yang lainnya maka kekecewaanlah yang akan didapatnya. Selain itu dalam menjalani hidup tidak boleh ada kesombongan, karena kesombongan itu adalah musuh yang dapat menghilangkan segala kebaikan dalam diri. Oleh karena itu mari melakukan intropeksi pada diri sendiri, agar persaudaraan tetap terjalin dengan baik, serta memohon ampunlah kepada Tuhan atas segala kesalahan yang telah kita lakukan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  31. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Ada beberapa hal yang saya pahami dari percakapan antara logos, belalang, orang tua berambut putih dan spiritualisme. Salah satunya adalah kita perlu menempatkan sesuatu tepat di posisinya, atau sesuai dengan ruang dan waktunya. Dalam elegi diatas dapat dilihat pada ucapan orang tua berambut putih kepada logos bahwa kesalahan logos adalah mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar kemampuan belalang.

    ReplyDelete
  32. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Percakapan yang penuh dengan bahasa analog, yang saya pahami mungkin berbeda dengan apa yang ingin disampaikan dari percakapan ini, saya pahami bahwa bagaimanapun seorang guru berusaha agar muridnya mencapai pikiran guru tersebut, seorang murid tidak akan mampu menggapainya, karena bahkan guru itu sendiri tidak dapat menggapai pikirannya sendiri, karena ketika ia mencoba menggapai pikirannya, pikirannya sudah berubah dari pikiran yang tadi menjadi pikiran yang sekarang.

    ReplyDelete
  33. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang disampaikan melalui postingan bapak ini.
    secara tersirat elegi ini menyuruh kita untuk muhasabah diri, atau merefleksikan diri guna me=njadi pribadi yang lebih baik. tidak sombong dan sebagainya. logos tidak bisa memaksa belalang berfikir karena belalang bergerak sesuai ruang dan waktunya. itullah mengapa ambisi harus sesuai dengan ruang dan waktu agar tak ada pemaksaan yang terjadi ketika melalkukannya jadi kita bisa melakukan hal tersebut secara ikhlas.

    ReplyDelete
  34. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  35. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari elegi tersebut merupakan bahasa analogi dari suatu gambaran pembelajaran di dalam kelas dimana sedang berlangsung dialog guru dengan siswanya. Janganlah guru berharap untuk menciptakan siswa sama dengan dirinya. Melainkan guru hanya membantu siswa untuk bisa lebih darinya. Membantu berbeda dengan menciptakan. Menciptakan bisa saja memaksa sebagai kata perintah. Tetapi membantu itu ada timbal balik antar guru dengan siswa. Disetiap akhir pembelajaran, guru dan siswa saling mereflesikan diri. Memberikan saran dan kritikan mengenai pbm yang sedang berlangsung. Hal itu agar pihak guru dan siswa akan lebih memiliki pengetahuan yang bermanfaat dan mudah diterima.

    ReplyDelete
  36. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki ruang dan waktunya masing-masing. Ketika kita mengharapkan sesuatu keluar dari ruang dan waktunya untuk menyamai ruang dan waktu kita, maka kita ingin mengeluarkannya dari hakikatnya.
    Yang absolut hanya ada pada pikiran. Secara spiritual ada pada Tuhan. Yang ini ada pada keyakinan.
    Saya tidak dapat mengharapkan murid saya menjadi seperti saya. Mereka punya tugasnya masing masing dan belajar dari pengalaman mereka, pada ruang Dan waktunya masing masing, membangun pengetahuan mereka masing masing.

    ReplyDelete
  37. Terima ksih Prof untuk tulisannya.
    Saya masih belum begitu memahami makna dari tulisan ini meskipun berulang kali membacanya. Akan tetapi ada sedikit makna yang saya temukan di dalam tulisan tersebut.
    Dialog dalam tulisan tersebut terkesan tidak nyambung. Antara yang diucapkan logos tidak mendapatkan respon atau balasan yang sesuai dari belalang. Sehingga dialog tersebut seolah-olah menjadi tanpa makna.
    Namun dari sini kita melihat bahwa syarat terjadinya sebuah komunikasi atau silaturahim yang baik adalah dengan berhenti menjadi egois yang mementingkan dirinya sendiri, menjauhkan diri dari sikap sombong, kemudian mencoba memahami orang lain agar tercipta sebuah silaturahim atau hubungan yang baik.

    ReplyDelete
  38. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi di atas yang saya refleksikan sebagai seorang pendidik adalah bahwa kita boleh sangat percaya kepada siswa-siswa kita untuk dapat menggapai ilmu yang kita berikan. Namun dengan penyadari perbedaan siswa kita yang unik tentunya harapan kita tidak serta merta terlalu tinggi karena akan ada siswa yang kesulitan menggapai guru yang menjadi dewa guru, dapat dikatakan bahwa terkadang siswa yang tidak bisa memahami materi yang disampaikan guru. Oleh karena itu sebagai guru kita juga harus menyadari untuk menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan materi, misalnya dengan aktivitas, karena jika kita ingin terlihat pintar tapi siswa tidak paham artinya kita sebagai logos yang sombong.

    ReplyDelete
  39. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pada elegi ini saya mencoba mengaitkan dengan pembelajaran di sekolah. Terkadang guru berekspektasi semua siswa bisa memahami materi yang telah dipelajari sebagaiman dirinya menguasai materi. Hal ini seringkali terjadi dan mengesampingkan bahwa siswa itu unik. Dengan keunikan ini maka setiap siswa juga mempunyai minat dan bakat berbeda-beda. Maka dari itu, tidak semua siswa bisa menguasai semua materi di semua mata pelajaran. Hal ini dianalogikan dengan dialog pada elegi ini dimana kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada siswa dengan memaksa mereka harus paham 100% tentang materi.

    ReplyDelete
  40. Elegi ini juga bisa dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan bahwasanya kita tidak bisa berekspektasi kepad orang lain sesuai apa yang kita harapkan. Hal ini disebabkan karena setiap orang memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Seseorang tidak bisa mengharapkan sesuatu yang melebihi kapasitas orang lain, sebagaimana ujian yang tidak akan pernah melampaui batas kemampuan seseorang. Maka dari itu, setiap orang harus bisa bersikap bijak ketika bekerjasama dengan orang lain aga bisa saling menghormati dan menghargai.

    ReplyDelete
  41. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi logos berdialog dengan belalang ini menceritakan bahwa apa yang diharapkan oleh logos dari belalang tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Sesuatu yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu akan menimbulkan ketidaksesuaian. Selanjutnya pada elegi logos berdialog dengan belalang juga menyadarkan kepada kita agar berhati-hati supaya terhindar dari kesombongan. Kesombongan justru akan membawa manusia ke dalam kehancuran, meruntuhkan semua yang dimiliki. Sehingga jangan pula mengaku logos karena sebenar-benar logos hanya bisa selalu dan selalu diusahakan untuk dicapai.

    ReplyDelete
  42. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Seberapapun tinggi ilmu seseorang janganlah sombong, karena seseorang yang berilmu itu hakikatnya sedang berusaha berilmu. Jangan membebankan tugas yang kiranya tidak sesuai dengan kemampuan yang diberi tugas. Sebagai contoh dalam pembelajaran, guru dalam memberi tugas kepada siswa juga harus melihat terlebih dahulu apakah tugas itu mampu dikerjakan siswa.

    ReplyDelete
  43. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hidup kita seringkali memiliki keinginan tanpa berusaha dan bertawakkal kepada Allah. Kita hanya menginginkan hasil tanpa mau melewati proses. Belalang adalah diri kita yang tidak berani menerima tantangan dan keluar dari zona aman. Kita terus bersembunyi di balik bayang-bayang namun tetap berambisi untuk sukses. Tidaklah seseorang akan mendapatkan apa yang diinginkan jika ia tidak berusaha dan berdoa. Proses memang tak selamanya mulus, namun jika kita bisa melewatinya maka kita akan menikmati kesuksesan dan memenangkan pertarungan melawan diri sendiri. Namun jika kita memilih untuk diam di tempat, maka kita akan cukup menjadi belalang saja.

    ReplyDelete
  44. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, dimana kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Ketika kita hidup alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan orang lain, selain bertujuan untuk membentuk kepribadian diri kita, kita juga dapat memahami perasaan orang lain. Begitu indah karunia Tuhan kepada kita sehingga kita diberikan kepintaran dan fikiran. Oleh karena itu, baiknya kita harus bisa mengolah pikiran kita untuk tujuan yang baik dan jangan sampai merasa paling pintar (sombong) dengan ilmu yang kita miliki. Kita harus mau berbagi satu dengan yang lain. Paling penting adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan selalu bersyukur atas karunianya yang diberikan.

    ReplyDelete
  45. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, dimana kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Ketika kita hidup alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan orang lain, selain bertujuan untuk membentuk kepribadian diri kita, kita juga dapat memahami perasaan orang lain. Begitu indah karunia Tuhan kepada kita sehingga kita diberikan kepintaran dan fikiran. Oleh karena itu, baiknya kita harus bisa mengolah pikiran kita untuk tujuan yang baik dan jangan sampai merasa paling pintar (sombong) dengan ilmu yang kita miliki. Kita harus mau berbagi satu dengan yang lain. Paling penting adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan selalu bersyukur atas karunianya yang diberikan.

    ReplyDelete
  46. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Membaca sekali masih belum bisa saya pahamai, membaca kedua masih juga belum bisa saya pahamai, membaca ketiga sambil pelan-pelan membacanya masih juga belum yakin apakah yang dimaksud pada elegi ini seperti yang saya pikirkan, atau malah jauh dari apa yang saya pikirkan? Entahlah. Meskipun begitu, saya tetap mencoba memaparkan apa yang saya tangkap dari elegi ini. Jika diibaratkan antara logos dan sekumpulan belalang adalah komunikasi antara individu dengan kelompok, dimana individu tersebut lebih mendominasi untuk menguasai setiap anggota kelompok dan memaksakan setiap anggoat kelompok untuk mengerti segala yang diucapkan olehnya. Karena paksaan tersebutlah setiap anggota kelompok memberontak dan tidak menjawab dengan benar setiap pertanyaan yang disampaikan oleh individu tersebut. Maka sebenar-benar kesomobongan masuklah kedalam individu maupun setiap anggota kelompok tersebut. Maka bersikaplah sesuai dengan ruang dan waktu, jangan melebihi ataupun menguranginya, karena segala yang berlebihan ataupun kekurangan itu tidaklah baik.

    ReplyDelete
  47. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dari blog ini saya dapat menyimpulkan bahwa ketika terdapat kelompok yang berbeda jenjang maka akan terjadi perbedaan dalam logos masing-masing kelompok tersebut. Contohnya saat guru mengajar kpada siswa, maka akan dimungkinkan siswa sulit menggapai logos dari gurunya, tentu saja hal itu dikarenakan pengalaman dan pengetahuan seorang guru berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan siswa. Namun guru kadang tidak menyadari sehingga dia secara tidak sadar membuat materi yang sederhana menjadi tampak sulit karena sibuk dengan logosnya. Oleh karena itu siswa harus menyesuiakan logosnya dengan siswa.

    ReplyDelete
  48. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Percakapan logos dan 25 belalang mengingatkan saya dengan percakapan guru dan siswa di dalam kelas. Guru memberikan pertanyaan ke seluruh siswa di kelas dan tidak seorang pun siswa yang menjawab seperti jawaban yang guru inginkan. Orang tua berambut putih mengatakan kepada logos agar tidak terlalu berharap terlalu tinggi pada belalang. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa seorang guru tidak boleh menuntut muridnya terlalu tinggi. Misalnya seorang guru IPA tidak boleh menuntut muridnya harus pintar seperti dirinya. Guru hanya berikhtiar agar muridnya memahami IPA karena setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Bisa saja anak tidak menonjol dalam pelajaran IPA, tapi ia menonjol dalam bidang olahraga atau musik.

    ReplyDelete
  49. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Analogi yang bapak berikan ditulisan ini antara belalang dan logos adalah potret pembelajaran yang banyak terjadi di kelas, terutama kelas matematika. guru terlalu memaksakan kehendaknya untuk mentransfer ilmu yang guru punya agar mampu diserap oleh semua siswa. namun ia tidak memperhatikan bahwa siswa hanya merasa terbebani dengan pengajaran yang seperti itu. alhasil matematika dianggap sebagai pelajaran yang tidak mengasyikkan, sulit dipahami siswa.

    ReplyDelete
  50. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    saya dapat mengambil hikmah dari percakapan antara logos dan belalang. Dimana kita tidaklah dapat menggapai sesuatu jika ada kesombongan didalam diri. Dan kita juga tidak dapat memaksakan kehendak kita agar orang lain sejalan dengan apa yang kita kehendaki. Karena setiap orang mempunyai pikiran dan tujuan hidup yang berbeda-beda.

    ReplyDelete