Oct 28, 2014

Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang




Dialog berikut dibuat berdasarkan kisah nyata pertemuan antara Logos dengan sekumpulan Belalang terdiri dari  25 ekor, yang terjadi pada Ruang dan Waktu Formal.


Logos :
Saya sedang menyaksikan di depanku ada 1, 2, 3, .....dst 25 ekor Belalang
Wahai Belalang 1, mengertikah engkau dengan ucapanku ini?

Belalang 1:
Wahai Sogol, sebenar-benarnya saya adalah sedang lapar?

Logos :
Wahai Belalang 2, siapakah dirimu itu?

Belalang 2:
Wahai Sgool, saya sedang memburu mangsa?

Logos:
Wahai Belalang 3, dari manakah dirimu itu?

Belalang 3:
Wahai slogo, mangsa hampir kutangkap.

Logos:
Wahai Belalang 4, siapakah namamu itu?

Belalang 4, aku siap melompat.

Logos:
Wahai Belalang 5, mau kemanakah engkau itu?

Belalang 5:
Wahai goolos, minggir itu ada belalang cantik.

Logos:
Wahai Belalang 6, apakah makanan kesukaanmu itu?

Belalang 6:
Wahai gosool, aku ingin gosool.

Logos:
Wahai Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 apakah engkau mendengan kata-kata saya?

Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15:
Osloog..osloog bathok. Bathok e ila ilu.

Logos:
Wahai Belalang 16, 17, 18, 19, 20, apakah engkau melihat diriku?

Belalang 16, 17, 18, 19, 20:
Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal.

Logos:
Wahai Belalang 21, 22, 23, 24, apakah engkau mampu berpikir?

Belalang 21, 22, 23, 24:
Kakiku lebih berguna dari sayapku.

Logos:
Dimana Belalang 25? O rupanya dia terperangkap oleh jaring laba-laba.

Logos:
Oh kenapa tiba-tiba pikiranku lelah, staminaku menurun. Wahai Orang Tua Berambut Putih, bersediakah engkau menolong diriku?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku sudah tahu persoalanmu. Kesalahanmu adalah engkau mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang.

Logos:
Bukankah aku sudah berikhtiar, tetapi kepada Belalang tetaplah Belalang. Apakah tidak boleh seekor Belalang berkenalan dengan Logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Boleh sih boleh. Tetapi ambisimu agar para Belalang mempunyai Logos itulah yang bermasalah.

Logos:
Wahai Spiritual, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Spiritualisme:
Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

Orang Tua Berambut Putih:
Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

62 comments:

  1. Ardeniyansah
    16709251053
    S2 Pend. Matematika Kelas C_2016

    Assalamualaikum wr. . wb.
    logos dan belalang itu adalah perumpamaan dari guru dan murid pada umumnya, dibawa guru membawakan ilmu untuk murid tetapi murid dengan segala keunikkannya memang terkadang sulit untuk fokus. Elegi diatas menggambarkan logos yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap seekor belalang. Seperti halnya guru yang berharap lebih agar semua siswa mampu menerima pembelajaran yang ia berikan. Tetapi setelah saya pahami lagi, keduanya, logos dan belalang adalah dua hal dalam satu diri manusia.

    ReplyDelete
  2. Lana Sugiarti
    16709251062
    S2 Pendidikan Matematika D 2016

    Berdasarkan elegi tersebut, saya dapat mengambil makna bahwa “kamu adalah dewa atas dirimu sendiri”. Artinya bahwa segala hal yang dilakukan atas kendali diri sendiri, karena aku sedang berada dalam ruang dan waktuku, sedangkan dewa adalah aku yang berhasil menembus ruang dan waktu bersama logos, seperti yang telah dituliskan oleh bapak pada elegi tersebut. Hendaknya manusia tidak bersikap sombong agar mampu berkomunikasi baik dan dapat hidup baik dengan orang – orang disekitarnya.

    ReplyDelete
  3. Loviga Denny Pratama
    16709251075
    S2 P.Mat D

    menarik sekali elegi ini, judulnya juga menarik untuk dibaca isinya. Hal yang dapat saya pahami dari kisah elegi di atas adalah belalang sebaiknya berusaha untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan dari logos, dan logos berusaha memehami belalang dengan menanyakan hal yang sesuai dengan kemampuan dan pikiran belalang. Ambisi untuk memaksakan oranglain menggapai sesuatu merupakan hal yang tidak baik. Kita tidak boleh memaksakan hal tersebut, karena setipa orang memiliki kemampuan dan pikiran masing-masing.

    ReplyDelete
  4. Syaifulloh Bakhri
    16709251049
    S2 Pendidikan Matematika C 2016

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    Elegi tersebut berkisah tentang karakter/sifat seseorang yang menganggap dirinya paling benar, tidak mau mendengarkan nasehat, sombong, angkuh, dan takabur. Selain itu merasa sudah cukup dalam menggapai ilmu padahal menuntut ilmu itu dari hayat sampai liang lahat. Na’udzubillahimindzalik. Semoga Alloh mengampuni atas kesombongan yang kita lakukan baik sadar maupun tak sadar. Aamiin.

    ReplyDelete
  5. Saepul Watan
    16709251057
    S2 P.Mat Kelas C 2016

    Bismilahir rahmaanir rahiim..
    Assalamualaikum wr..wb...

    Menurut pendapat saya berdialog dengan belalang ini mengibaratkan belalang sebagai diri kita yang sedang menggapai ilmu. Dalam menggapai ilmu kita tentunya memiliki harapan dengan ilmu yang kita miliki akan menjadi apa, bagaimana dan seperti apa diri kita nantinya (belalang menggapai dewa). Tentunya harapan kita adalah menjadi lebih baik dari keadaan kita sekarang ini. Belalang ke-1, 2, 3,..., 25 menggambarkan begitu banyak ketidakpahaman dan kesalahan-kesalahan yang kita buat di saat kita mempelajari ilmu. Namun, jika kita mau untuk menembus ruang dan waktu, maka kita harus senantiasa berusaha dan tidak bersikap sombong serta mampu untuk merefleksikan diri dari ketidakpahaman kita dalam menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  6. Sylviyani Hardiarti
    16709251069
    S2 Pendidikan Matematika Kelas D 2016

    Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh ruang dan waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus ruang dan waktu bersama logosmu. Artinya, seseorang yang berilmu tapi tidak mau belajar lagi, merasa telah purna ilmunya dan sombong akan semua miliknya, ia adalah belalang yang terperangkap oleh ruang dan waktu yang dibentuknya sendiri. Sedangkan dewa, ia adalah mereka yang selalu menambah, melengkapi dan menuntut ilmu, memberi manfaat kepada orang lain atas ilmu yang ia miliki, selalu berusaha berpikir jernih, kritis, intensif dan ekstensif dalam menghadapi setiap masalah atau apapun itu, serta selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah SWT. Ia adalah seseorang yang selalu berusaha meningkatkan dimensi hidupnya.

    ReplyDelete
  7. Annisa Hasanah
    16709251051
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi diatas menggambarkan logos yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap seekor belalang. Seperti halnya guru yang berharap lebih agar semua siswa mampu menerima pembelajaran yang ia berikan. Ialu berharap bahwa ilmu yang ia berikan mampu menghasilkan nilai yang tinggi. Padahal siswa berbeda-beda, daya serap ilmunya pun berbeda. Akan mustahil untk mengharap nilai sama jika cara pembelajaran dan ilmu yang disampaikan disama ratakan.

    ReplyDelete
  8. Ahmad Wafa Nizami
    16709251065
    PPs Pendidikan Matematika D 2016

    Elegi tersebut mencaritakan perbincangan logos dengan belalang yang mana perbincangan itu berada di ruang dan waktu fomal antara keduahnya. Akan tetapi hal itu membuat antara logos dan belalang menjadi miscomunication logos bertanya ini si belalang menjawab yang lain . artinya bahwa mereka berbeda dimeensi ruang dan waktu yang sama sehingga menyebabkan ketidak sinambungan antara keduanya. Bahwa logos berada di ruang da wantunya logos sedangkan belalang berada di ruang danw aktu belalang.

    ReplyDelete
  9. Helva Elentriana
    16709251068
    PPS Pend Matematika Kelas D 2016

    Elegi ini menjelaskan tentang satu kesalahan yang sering kita lakukan yaitu harapan yang terlalu besar tetapi tidak berusaha sekuat-kuatnya. Harapan yang terlalu besar tetapi akhirnya merasa lemah dan menyerah. Benar bahwa tidak ada orang lemah, tidak ada orang kecil. Yang ada hanyalah orang yang lemah niatnya dan yang kecil niatnya. Seekor belalang jika punya usaha yang kuat untuk menembus ruang dan waktu bersama logosnya maka ia akan lebih dari seekor belalang. Bahkan jika ingin menjadi dewa, dengan terus berusaha dan belajar hingga bisa menembus ruang dan waktu maka hal itu bisa terwujud. Namun tetaplah ingat, jikalau dalam pencapaian logos pun kita tak akan pernah mencapai akhir, karena kita manusia yang penuh keterbatasan dan logos entah tak terlihat batasnya. Maka dari itu kita butuh tetap rendah hati.

    ReplyDelete
  10. Heni Lilia Dewi
    16709251054
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016

    Dari elegi ini menggambarkan tentang interaksi antara logos dan belalang, memang menjadi mustahil jika belalang dipaksakan menggapai logos. Jika seseorang mengejar kekuasaan dan jabatan misalnya sehingga dia angkuh, maka tak layaknya sama dengan belalang. Yang perlu manusia upayakan adalah tetap menggapai logos untuk menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  11. Kunny Kunhertanti
    16709251060
    PPs Pendidikan Matematika kelas C 2016

    Untuk menjadi bijaksana dan baik, manusia harus bisa menempatkan dirinya sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Sebagai seorang guru sudah sebaiknya untuk menembus ruang dan waktu para muridnya. Seorang guru memang seharusnya mengenal para muridnya dengan baik, sehingga tidak ada jarak yang tercipta. Dengan seperti itu, apa yang menjadi harapan guru juga dapat dicapai para muridnya dengan baik.

    ReplyDelete
  12. SUMIATI
    16709251056_PMC 2016
    Pendidikan Matematika-S2

    Bismillaah...
    Harapan memang sangat diperlukan dalam hidup, namun harapan yang berlebihan juga tidak terlalu baik. Dalam pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik harus berjalan dengan seimbang. Guru mengerti dan memahami bahwa setiap peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda, ada yang dengan sekejap sudah paham dengan materi yang diajarkan dan ada juga yang harus dijelaskan beberapa kali baru bisa dipahami oleh peserta didik. kita harus bisa melakukan komunikasi secara baik dengan siswa. Dengan adanya komunikasi yang baik dengan siswa, guru bisa memposisikan diri dengan tepat tanpa berekspektasi yang terlalu tinggi kepada siswa. Selain itu, pendidik akan mempu memfasilitasi siswa untuk mencapai prestasi optimalnya.

    ReplyDelete
  13. Viani Kurniawati
    14301241051
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dalam elegi Prof. Marsigit menuliskan bahwa "Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh ruang dan waktumu. Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus ruang dan waktu bersama logosmu". Penggalan kalimat itu dapat diartikan jika kita membiarkan diri kita terjebak dalam ruang dan waktu, merasa sudah memahami banyak ilmu dan tidak mau untuk terus belajar maka kita hanya akan menjadi orang yang gagal dan tidak berkembang (dalam tulisab ini diperumpamakan belalang), tak akan menggapai logos. Namun jika kita mampu untuk terus merasa rendah hati, menghilangkan sikap sombong dan senantiasa menyadari bahwa ilmu tak akan ada habisnya untuk dipelajari maka kita akan menggapai logos, dan bersama logos kita dapat menjadi pribadi yang lebih tinggi dimensiya (dalam tulisan ini diperumpamakan dewa). Tetap rendah hati dan istiqomah dalam menuntut ilmu (ilmu dunia maupun akhirat). itu kuncinya.

    ReplyDelete
  14. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Pada elegi tersebut menyiratkan logos yang memiliki ekspektasi berlebihan terhadap seekor belalang. Seperti halnya guru yang berharap lebih agar semua siswa mampu menerima pembelajaran yang ia berikan. Padahal siswa yang diajarkan pada kelas yang berisi siswa yang heteregon. Oleh karena itu daya serap baik dari sisi pengetahuan dan keterampilan siswa berbeda – beda pula. Hanya saja mereka harus mencapai titik maksimal pencapaian mereka masing – masing, dan yang dapat mengukur hal tersebut adalah diri mereka sendiri.

    ReplyDelete
  15. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi di atas dapat memberikan pelajaran bagi kita sebagai calon guru (logos) dalam mengajar perlu adanya analisis karakteristik siswa (belalang) kita. Kita tidak dapat meminta siswa untuk jadi apa yang kita mau, menjadikan mereka pintar dan merubah sikap dan perilaku mereka. Setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga kita hanya bisa berupaya dan berharap untuk yang terbaik. Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos. Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

    ReplyDelete
  16. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari Elegi yang berjudul Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang tersebut saya menangkap bahwa keadaan yang digambarkan seperti keadaan murid dengan guru. Guru yang mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi dari muridnya, padahal murid memiliki tingkatan yang berbeda-beda dan butuh perlakuan yang berbeda-beda pula. Tidak masalah jika guru menginginkan standar yang tinggi dari muridnya, akan tetapi tetaplah perlu dicermati pada kemampuan masing-masing individu, jangan sampai standar tersebut justru membebani murid dan murid jadi tidak fokus belajar. Satu hal yang penting adalah baik guru maupun murid harus mampu bercermin diri sehingga terhindar dari kesombongan, merasa paling benar, dan paling tau. Karena sebaik-baik kita tentu kita masih kurang baik, maka berbenah diri itu sangat penting.

    ReplyDelete
  17. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam berdialog, hendaknya kita harus memperhatikan siapa lawan bicara kita. Ketika kita sudah mengetahui dengan persis siapa lawannya, selanjutnya yaitu pilihlah topik yang pas dan cara penyampaian yang mudah diterima oleh lawan tersebut. Sehingga dialog yang kita lakukan akan sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  18. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Apa yang dipikirkan oleh murid (belalang) dan guru (logos) berbeda. Pertanyaan yang diberikan oleh guru kepada murid menimbulkan jawaban yang sebenarnya bukan hal tersebut yang diinginkan oleh guru. Akan tetapi tidak dapat dihindari karena memang apa yang dpikirkan oleh guru dan murid berbeda. Hal ini adalah suatu kewajaran dalam pembelajaran. Karena hakekatnya belalang (murid) sedang belajar untuk menjadi logos (guru).

    ReplyDelete
  19. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    "Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu." artinya bahwa belalang merupakan perumpamaan seseorang yang telah terperangkap dalam dirinya sendiri sehingga bersikeras melakukan apa yang diinginkan tanpa mendengarkan nasihat dari sekelilingnya. Dia merasa sudah memiliki pengetahuan bagi hidupnya dan dia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, namun semua itu hanya pikiran yang menyesatkan karenanya dia terbelenggu dan tidak berkembanglah pengetahuannya.
    Dewa merupakan perumpamaan seorang guru yang hendak mengajarkan ilmunya, akan tetapi guru itu tidak memiliki ilmu bagaimana cara menyampaikan ilmu yang dimilikinya sehingga apa yang diajarkan dapat diterima dengan baik.
    Intinya, dalam belajar dan mengajar kita harus senantiasa siap. Siap mendengarkan, memahami, dan aktif serta siap untuk memfasilitasi.

    ReplyDelete
  20. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dari elegi logos berdialog dengan belalang ini, ketika diibaratkan antara guru dan siswa, hendaklah guru tidak memaksakan kehendakpada para siswanya. Ada kalanya keadaan siswa sedang tidak fokus dalam pembelajaran. Begitu pula jika sebagai siswa hendaknya senantiasa menghargai apa yang dikatakan oleh guru. Agar di kelas tumbuh hubungan yang harmonis antara siswa dan guru sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan bagi para siswa.

    ReplyDelete
  21. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    dari elegi ini, ibarat guru dan siswa. dimana setiap darinya memiliki pikiran masing-masing . begitupun saat memberikan pertanyaan, harapan jawaban yang didapat seringkali tidak sama dengan apa yang diharapkan, seperti halnya pada guru dan siswa. maka dengan mendengarkan dari setiap asumsi yang kan menjadikan perbedaan menjadi saling melengkapi.

    ReplyDelete
  22. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dari elegi ini kita belajar kembali untuk tidak mengharapkan segala sesuatu dengan tinggi. Kita harusnya mempunyai sikap optimis dalam kehidupan ini dan jangan pesimis dalam menggapai semua keinginan kita. Keinginan yang tinggi juga harus dibarengi dengan memperbanyak ikhtiar dan do’a yang sungguh-sungguh. Dan kita harus menjauhkan kesombongan kita dan selalu belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

    ReplyDelete
  23. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut saya, elegi di atas apabila diaplikasikan ke dalam pembelajaran adalah seorang guru (dalam elegi ini adalah logos) harus memahami setiap karakter siswa. Jangan memaksa siswa (dalam elegi ini adalah belalang) untuk pada suatu tingkatan tertentu untuk memeroleh ilmu baru. Padahal setiap siswa memiliki latar belakang yang berbeda – beda.

    ReplyDelete
  24. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Belalang adalah dirimu yang terperangkap dalam ruang dan waktu karena tidak beriktiar menembus ruang dan waktu dengan bijak. Belalang tidak bisa menyatu dengan logos apabila ruang dan waktunya berbeda, karena belalang menembus ruang dan waktu dengan tidak bijak. Kita hanya bisa menggapai logos, tetapi kita tidak bisa benar-benar mendapatkan logos. Jika kita berhasil menembus ruang dan waktu dengan bijak bersama logos yang kau punya, itu artinya kita sedang berusaha menggapai dewa.

    ReplyDelete
  25. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Elegi diatas menceritakan logos yang berekspektasi terlalu tinggi terhadap belalang. Elegi tersebut bisa dijadikan sebagai sebuah analogi dari guru yang selalu berekspektasi tinggi terhadap murid-muridnya. Padahal, jelas guru dan siswa memiliki kemampuan menembus ruang dan waktu yang berbeda. Sehingga, guru tidak seharusnya semena-mena memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap siswa, kemudian menyalahkan kemampuan siswa jikalau ternyata kenyataan yang didapat oleh guru tidak sesuai dengan ekspektasiya. Guru seharusnya memiliki sifat yang santun terhadap siswa-siswanya.
    Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, dan memiliki pemikiran yang berbeda pula. Terhadap guru pun begitu, ada siswa yang menganggap guru sebagai teman, guru sebagai orang yang ditakuti, guru sebagai musuh, dll. Kita sebagai guru tak bisa mengaharapkan sesuatu yang tinggi dari siswa, kita tak bisa memaksakan apa yang mereka pikirkan, kita tak bisa memaksakan bahwa pikiran siswa haruslah sama dengan pikiran guru, jawaban siswa adalah jawaban yang benar menurut pikiran guru. Kita tak bisa memaksa mereka harus selalu benar.

    ReplyDelete
  26. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah membaca postingan ini, saya jadi teringat nasehat dari KH. Maimun Zubair. Beliau mengatakan “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
    Mungkin seperti itulah maksud yang dibicarakan orang tua beramput putih kepada logos.

    ReplyDelete
  27. Muhammad Mufti Hanafi
    13301144005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Seorang terkadang memaksakan kehendaknya di atas kadar kemampuan, dan tidak menempatkan kemampuan pada ruang dan waktu yang sejatinya. Tepatlah nasihat sang Tua berambut putih untuk segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang shahih. Yang menjadi persoalan baru manakala memaksakan kehendak dirinya adalah ketidaksabaran dirinya akan masalah yang timbul dan justru saling menyalahkan, bukan merunduk dan menyadari.

    ReplyDelete
  28. Boleh berharap setinggi-tingginya tetapi harus disertai dengan usaha dan doa. Belalang mungkin dapat belajar banyak hal tetapi tetap saja dia adalah belalang. Menyadari dimensi lebih baik agar dapat meningkatkan dimensi lebih tinggi lagi. Bukan menyombongkan dimensinya. Apa yang kita lakukan adalah sebatas menggapai apa yang diharapkan.

    ReplyDelete
  29. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dari elegi di atas dapat kita katakan bahwa kedua pihak tidak memiliki hubungan yang baik karena kurangnya komunikasi. Keduanya juga memiliki ego yang kuat masing-masingnya, tidak ada yang mau mengalah atau menerima satu dengan yang lain. Jika ego masing-masing tersebut tidak dihentikan dan tidak ada yang mengalah, maka akan terjadilah pertengkaran yang kuat. Maka sebaiknya masing-masing saling bertaubat atas kesalahan masing-masing. Istigfar dan memohon ampun pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  30. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Sesungguhnya yang membuat tidak adanya kerukunan dan toleransi itu adalah adanya ego masing masing, ego akan menyebabkan komunikasi yang kurang harmonis karena setiap orang kekeh dengan pemikirannya. efeknya jika terjadi seperti itu adalah adanya pertengakaran antara kubu satu dengan yang lainnya, mencobalah untuk memahami dan memiliki sikap toleransi, karena sesungguhnya ketika saling memahami maka akan terciptanya perdamaian dan kemajuan.

    ReplyDelete
  31. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Sebagai manusia kita boleh berharap. Sebagai umat yang beragama, harapan itu disampaikan kepada tuhan dalam bentuk doa. Agar harapan/doa kita terkabul maka harus dibarengi dengan usaha/ikhtiar, berdoa adalah bentuk pemasrahan diri kita, karena mewujudkan segala doa adalah kuasa Tuhan. Karenanya apabila doa kita tidak terkabut maka kita harus ikhlas.

    ReplyDelete
  32. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Postingan tersebut sangatlah menarik. Yang dapat saya ambil dari dialog-dialog tersebut bahwasannya adalah kita tidak dapat memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk melakukan ini itu sesuai kehendak kita. Selain itu kita juga tidak boleh berlaku sombong dan ambisius. Kita juga mempunyai batas kemampuan tersendiri. Ada beberapa hal yang juga tidak dapat kita lakukan.

    ReplyDelete
  33. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus lebih mawas terhadap dirinya sendiri, jangan merasa dirinya paling benar sehingga menjadikan dirinya sombong. Istighfarlah ketika dihadapkan dengan keburukan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, guru salalu merasa paling benar terhadap siswanya, padahal siswa juga memiliki hak untuk berpendapat (menuangkan ide dan gagasannya).

    ReplyDelete
  34. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Logos Berdialog dengan Belalang tersebut mengingatkan saya tentang bagaiman seorang pendidik harus mampu memahami karakter masing-masing peserta didik yang dia ajar. Hal ini berarti Pendidik tidak boleh egois dalam mengajar di dalam kelas. Pendidik tidak boleh memaksakan kehendaknya tanpa memahami apa yang dibutuhkan oleh peserta didik.

    ReplyDelete
  35. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Elegi diatas menceritakan tetang interaksi antara belalang dengan logos. Logos memiliki harapan yang tingi kepada belalang. Pada akhirnya belalang tidak dapat memenuhi ekspektasi dari logos, hingga logos lelah berkespektasi. Sebenarnya belalang dan logos itu sama-sama sedang belajar untuk memahami satu sama lain.

    ReplyDelete
  36. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam pembelajaran, kita harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan siswa. Dengan adanya komunikasi yang baik, pendidik dapat memposisikan diri dengan tepat tanpa berharap terlalu tinggi kepada siswa. Selain itu, pendidik akan lebih mampu memfasilitasi siswa untuk mencapai prestasi optimalnya sesuai dengan kebutuhannya.

    ReplyDelete
  37. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Menurut saya, memiliki impian untuk menggapai sesuatu yang tinggi tidaklah salah. Yang penting adalah menggunakan sedaya upaya untuk menggapai impian itu tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Untuk menggapai impian tersebut kita harus menggapai ilmu. Namun sebenar-benarnya manusia tidak dapat menggapai ilmu, hanya berusaha untuk menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  38. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, saya sangat tertarik dengan dialog Orang Tua Berambut Putih di akhir elegi "Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
    Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu." Jadi, untuk dapat mencapai yang terbaik, kita harus menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  39. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan di atas yang berjudul Elegi Logos Berdialog dengan Belalang tersebut dapat diartikan bahwa dialog tersebut dilakukan dengan yang berbeda dimensi, sehingga tidak saling terkait isi dialognya. Agar dapat saling terkait, kedua belah pihak yang berdialog tidaklah boleh merasa sombong dan tinggi hati.

    ReplyDelete
  40. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Berdasarkan elegi diatas dpat dipetik beberapa hal antaar percakapan logos dan belalang. Dimana keduanya sebaiknya saling menekan ego. Seseorang boleh mengharapkan orang lain untuk memahaminya atau mengharapkan respon yang baik, tetapi jangan memaksa. Boleh saja tetapi perlahan. Tetapi di lain pihak, seseorang jika sedang diharapakan jangan mengecewakannya, diperlukan usaha untuk mewujudkannya, terlebih demi kebaikan.

    ReplyDelete
  41. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    nampaknya logos dan belalang berada pada beda dimensi. namun ketika mereka berada dalam satu forum, mereka mempertahankan dimensinya masing-masing. yang terjadi adalah logos merasa tidak diperhatikan oleh belalang, dan belalang menganggap logos tidak hadir disana. yang dapat saya simpulkan dari elegi diatas adalah jika kita berada dalam sat ruang lingkup (forum) dengan peserta yang berbeda-beda baik latar belakang maupun dimensi, hendaknya kita tidak angkuh, dapat membuka diri, dan mencoba untuk memahami dan memepelajari keadaan disekitar kita. jangan selalu fokus pada kepentingan diri sendiri.

    ReplyDelete
  42. Resvita Febrima
    16709251076
    P-Mat D 2016
    Pelajaran yang dapat saya ambil dari elegi ini adalah bahwa kita tidak boleh sombong. Setinggi-tinggi nya ilmu yang telah dimiliki, tidak boleh membuat diri kita menjadi takabur/sombong karena masih banyak yang lebih berilmu dari kita. Ilmu yang didapat aruslah dibarengi dengan spiritual agar kita terhindar dari kesombongan. Refleksi danevaluasi serta memohon ampun kepada Tuhan atas kekhilafan yang telah kita lakukan.

    ReplyDelete
  43. Dwi Kawuryani
    14301241049 (Pendidikan Matematika I 2014)
    . Dalam elegi tersebut dijelaskan bahwa logos yang berharap terlalu tinggi kemana belakang, sehingga ketika belalang tidak sesuai dengan harapan logos maka logos kecewa. Berarti logos tidak kecewa dengan belalang tetapi kecewa dengan harapan yang ia buat sendiri.

    ReplyDelete
  44. Dwi Kawuryani
    14301241049 (Pendidikan Matematika I 2014)
    Belalang dalam elegi tersebut memiliki pemikiran yang berbeda dengan logos, sehingga mereka tidak dapat berkomunikasi. Karena dimensi mereka yang berbeda. Meskipun logos berusaha memaksakan pemikirannya pada belakang tetapi belalang tidak bisa sejalan dengan pemikiran logos.

    ReplyDelete
  45. Rahayu Pratiwi
    16709251077
    PPS PM-D 2016

    Kemampuan siswa tidak dapat disamaratakan begitu saja. Mau sekeras apa pun guru berusaha menyamaratakannya tentu takkan bisa. Begitu juga dengan siswa. Hanya saja mendekati kemampuan siswa lain tidaklah mustahil. Karena kemampuan siswa tidak sama, maka pencapaian dalam belajarnya pun tidak selalu sama. Yang menjadi tugas guru adalah berusaha semaksimal mungkin menjadi fasilitator dan motivator bagi siswa dalam mencapaian tertinggi dalam belajarnya. Mungkin si A dengan usaha yang maksimal dapat memperoleh nilai akhir 98, namun si B memperoleh nilai akhir 79 dengan usaha yang sama pula. Dengan nilai yang berbeda namun usaha dan kemampuan maksimal yang telah dikerahkan disinilah peran guru yang harus dipotimalkan.

    ReplyDelete
  46. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Logos dan 25 belalang mengibaratkan seorang guru di dalam kelas yang ada 25 siswanya. 25 siswa ini mempunyai karakter yang berbeda-beda. Guru pasti mengalami kesulitan untuk mengatur semua siswanya agar memahami apa yang disampaikan oleh guru. Guru perlu menerapkan pembelajaran inovatif agar siswa-siswanya bisa fokus dan memahami apa yang disampaikan oleh guru.

    ReplyDelete
  47. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Logos dan belalang mempunyai dimensi yang berbeda. Apa yang dikatakan belalang tidak bisa dpahami oleh belalang. Hal ini seperti dalam mata kuliah Etnomatematika saat pertemuan pertama. Mahasiswa saat diminta mengerjakan kuis oleh Prof. Marsigit banyak yang mendapatkan nilai 0 karena mahasiswa belum bisa menyemakan frekuensi dengan Prof.Marsigit. Mahasiswa perlu banyak membaca artikel-artikel yang diposting di blog Prof. Marsigit.

    ReplyDelete
  48. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Saya tertarik oleh nasihat Orang Tua Berambut Putih tentang “Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.” Hal ini mengartikan bahwa kita sebenarnya bisa menjadi lebih baik lagi dengan upaya yang maksimal sehingga level kita bisa naik dari yang sekarang ini. Kemampuan yang dimilli akan lebih banyak dari pada sebelum-sebelumnya.

    ReplyDelete
  49. Hana' Aulia Dewi
    14301241054
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari elegi logos berdialog dengan belalang tersebut saya belajar bahwa guru tidak dapat memaksakan siswanya mengerti dan menerima ilmu yang guru berikan begitu saja. Setiap siswa memiliki karakteristik dan kemampuan berpikir yang berbeda dan mereka sedang bersama-sama berusaha untuk belajar. Oleh karena itu, guru seharusnya juga belajar memahami karakteristik setiap siswanya dan memfasilitasi siswanya agar mampu belajar, bukan hanya sekedar sekedar belajar dalam artian transfer of knowledge, tetapi to construct.

    ReplyDelete
  50. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Elegi ini menganalogikan seseorang yang memiliki kemapuan berbeda yang sedang menuntut ilmu. Menuntut ilmu yang baik yaitu didasari dengan rasa ikhlas dan tidak boleh sombong atas ilmu yang sudah dimiliki. Seperti dalam metode berfilsafat yaitu berfikir intensif dan ekstensif, Intensif berarti dalam sedalam-dalamnya dan ekstensif berarti luas seluas-luasnya.

    ReplyDelete
  51. Muh Ferry Irwansyah
    15709251062
    Pendidikan Matematika PPS UNY
    Kelas D
    Terkadang apa yang kita anggap dalam, ternyata masih dapat diperdalam oleh orang lain dan yang kita anggap luas ternyata masih dapat diperluas oleh orang lain. Maka sebaiknya seseorang tidak boleh menyombongkan atas ilmu yang dimilikinya dan harus selalu didasari rasa ikhlas untuk

    ReplyDelete
  52. Luki Slamet Purwoko
    14301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dalam keterbatasan manusia , maka manusia harus memahami batasannya sendiri. Jangan ikut campur aas urusan yang bukan masalhmu sendiri, karena belum tentu dengan membantu itu baik. Sehingga jika hal buruk terjadi maka sebenar-benarnya dirimu adalah kesombongan sehingga cepat-cepatlah berdoa dan meminta ampun meimta pelindungan Nya.

    ReplyDelete
  53. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika 2014

    Logos dan belalang dari percakapan diatas sama sama memiiliki kesombongannya masing masing, hal ini tentu tidak akan baik karena kesombongan dapat mematika diri sendiri, setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing masing, tidak ada mnusia yang sempurna, adanya adalah manusia yang penuh dosa dan kelemahan, kita seharusnya merefleksikan drii kita, dan memohon ampun kepada Allah SWT, semoga kita semua tidak termasuk dalam orang orang yang sombong.

    ReplyDelete
  54. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, belalang diibaratkan sebagai peserta didik dan logos adalah seorang guru. Pesan yang terkandung dalam dialog tersebut adalah menjadi seorang guru jangan memaksakan kehendak kepada peserta didik karena peserta didik mempunyai karakteristik, pendapat, dan pemikiran yang berbeda-beda. Seorang guru harus sabar, jangan mudah marah dan jangan mudah mengeluh. Menjadi peserta didik juga harus memperhatikan penjelasan guru, jangan menyepelekan apa yang diajarkan oleh guru, dan sadar betul bahwa tugas peserta didik untuk menimba ilmu pengetahuan. Baik seorang guru dan peserta didik harus menghargai dan memahami satu sama lain agar pembelajaran berjalan dengan baik.

    ReplyDelete
  55. Endryana Listyarini
    14301241034
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dialog di atas merupakan refleksi tiap-tiap manusia. Manusia yang mempunyai pendidikan tinggi berhati-hatilah dengan kesombongan, kesoktahuan ataupun rasa puas. Tetaplah merendah dan selalu mendekatkan diri pada Allah SWT. Jangan sampai terjebak oleh tipu daya kelangan-kalangan atas.

    ReplyDelete
  56. Listia Palupi Wisnu Aji
    14301241007
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada elegi di atas, jika di dalam dunia pendidikan logos sebagai guru dan belalang sebagai siswa. Dialog tersebut menggambarkan bahwa proses pembelajaran tidak komukatif dan jalan pikir tidak sejalan. Ketika berada di dalam kelas baik guru maupun siswa hendaknya fokus dan bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.

    ReplyDelete
  57. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Meskipun seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas mendidik di sekolah, akan tetapi hubungan dengan siswanya relatif masih terjaga karena hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan.

    ReplyDelete
  58. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada umumnya, guru akan tetap menampilkan sikap dan perilaku keguruannya, meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih dalam asuhannya. Dukungan dan kasih sayang akan dia tunjukkan. Aneka nasihat, petatah-petitih akan meluncur dari mulutnya. Kasih guru kepada muridnya seperti kasih ibu kepada muridnya yang sepanjang masa.

    ReplyDelete
  59. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mari kita terus belajar untuk sedapat mungkin berusaha menjaga kode etik guru, kita jaga hubungan dengan putra-putri didik kita secara profesional dan kultural, agar kita tetap menjadi guru yang sejatinya. Semakin banyak anak didik kita semakin besar juga kesempatan ladang amal yang diberikan kepada kita.

    ReplyDelete
  60. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari Elegi Logos berdialog dengan belalang. Dalam dialog tersebut logos terlalu mengharapkan jawaban dari apa yang ditanyakan, sedangkan belalang tidak merasa tertarik dan mengabaikannya. Hal ini bisa diperumpamakan hubungan antara siswa dan guru di sekolah. Dimana guru terlalu megharapkan sesuatu yang tinggi dari siswanya, salah satunya mengharapkan pencapaian akademis atau prestasi yang tinggi akan tetapi guru tidak melihat kemampuan siswanya yang masih terbatas. Sehingga apapun pembelajaran yang diberikan guru kepada siswanya tidak akan diserap oleh siswa karena itu diluar batas kemampuan siswanya

    ReplyDelete
  61. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Logos bisa menjadi dewa, juga bisa menjadi daksa. Dengan demikian Belalang bisa juga menjadi Logos. Maka dapat dikatakan bahwa logos sama dengan belalang. Akan menjadi dewa ketika berhasil menembus ruang dan waktu, sementara itu akan mejadi belalang atau daksa jika terjebak dalam ruang dan waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar dan bijak.

    ReplyDelete
  62. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pada jaman kontemporer ini kita bisa menjadi dewa, juga bisa dijadikan daksa. Dimana kita mampu berkuasa jika kita pandai menembus ruang dan waktu dengan bijaksana, tetapi kita juga dapat dikuasai jika kita terperangkat dalam ruang dan waktu. Jika kita terlalu berambisi menjadi dewa atau orang yang berkuasa dengan menghalalkan segala cara, maka sungguh ini bukan cara yang baik. Dan ketika kita menyerah tak berdaya, maka dengan kehebatan powernow kita akan dijadikan daksa yang bisa kapan saja diambil manfaatnya untuk kepentingan mereka. Maka berikhtiarlah dengan cara yang baik, jangan terlalu bernafsu menjadi penguasa, karena sesungguhnya hanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan untuk mengiringi ikhtiar yang baik, jangan lupa terlupakan proses berdoa memohon ampun kepada-Nya

    ReplyDelete