Oct 28, 2014

Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang




Dialog berikut dibuat berdasarkan kisah nyata pertemuan antara Logos dengan sekumpulan Belalang terdiri dari  25 ekor, yang terjadi pada Ruang dan Waktu Formal.


Logos :
Saya sedang menyaksikan di depanku ada 1, 2, 3, .....dst 25 ekor Belalang
Wahai Belalang 1, mengertikah engkau dengan ucapanku ini?

Belalang 1:
Wahai Sogol, sebenar-benarnya saya adalah sedang lapar?

Logos :
Wahai Belalang 2, siapakah dirimu itu?

Belalang 2:
Wahai Sgool, saya sedang memburu mangsa?

Logos:
Wahai Belalang 3, dari manakah dirimu itu?

Belalang 3:
Wahai slogo, mangsa hampir kutangkap.

Logos:
Wahai Belalang 4, siapakah namamu itu?

Belalang 4, aku siap melompat.

Logos:
Wahai Belalang 5, mau kemanakah engkau itu?

Belalang 5:
Wahai goolos, minggir itu ada belalang cantik.

Logos:
Wahai Belalang 6, apakah makanan kesukaanmu itu?

Belalang 6:
Wahai gosool, aku ingin gosool.

Logos:
Wahai Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 apakah engkau mendengan kata-kata saya?

Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15:
Osloog..osloog bathok. Bathok e ila ilu.

Logos:
Wahai Belalang 16, 17, 18, 19, 20, apakah engkau melihat diriku?

Belalang 16, 17, 18, 19, 20:
Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal.

Logos:
Wahai Belalang 21, 22, 23, 24, apakah engkau mampu berpikir?

Belalang 21, 22, 23, 24:
Kakiku lebih berguna dari sayapku.

Logos:
Dimana Belalang 25? O rupanya dia terperangkap oleh jaring laba-laba.

Logos:
Oh kenapa tiba-tiba pikiranku lelah, staminaku menurun. Wahai Orang Tua Berambut Putih, bersediakah engkau menolong diriku?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku sudah tahu persoalanmu. Kesalahanmu adalah engkau mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang.

Logos:
Bukankah aku sudah berikhtiar, tetapi kepada Belalang tetaplah Belalang. Apakah tidak boleh seekor Belalang berkenalan dengan Logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Boleh sih boleh. Tetapi ambisimu agar para Belalang mempunyai Logos itulah yang bermasalah.

Logos:
Wahai Spiritual, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Spiritualisme:
Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

Orang Tua Berambut Putih:
Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

128 comments:

  1. Ratih Eka Safitri
    16709251059
    PPs Pendidikan Matematika C 2016

    Elegi di atas dapat memberikan pelajaran bagi kita sebagai calon guru (logos) dalam mengajar perlu adanya analisis karakteristik siswa (belalang) kita. Kita tidak dapat meminta siswa untuk jadi apa yang kita mau, menjadikan mereka pintar dan merubah sikap dan perilaku mereka. Setiap siswa mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga kita hanya bisa berupaya dan berharap untuk yang terbaik. Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos. Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

    ReplyDelete
  2. Ainun Fidyana Syafitri
    14301244006
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Dari Elegi yang berjudul Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang tersebut saya menangkap bahwa keadaan yang digambarkan seperti keadaan murid dengan guru. Guru yang mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi dari muridnya, padahal murid memiliki tingkatan yang berbeda-beda dan butuh perlakuan yang berbeda-beda pula. Tidak masalah jika guru menginginkan standar yang tinggi dari muridnya, akan tetapi tetaplah perlu dicermati pada kemampuan masing-masing individu, jangan sampai standar tersebut justru membebani murid dan murid jadi tidak fokus belajar. Satu hal yang penting adalah baik guru maupun murid harus mampu bercermin diri sehingga terhindar dari kesombongan, merasa paling benar, dan paling tau. Karena sebaik-baik kita tentu kita masih kurang baik, maka berbenah diri itu sangat penting.

    ReplyDelete
  3. Windi Agustiar Basuki
    16709251055
    S2 Pend. Mat Kelas C – 2016

    Dalam berdialog, hendaknya kita harus memperhatikan siapa lawan bicara kita. Ketika kita sudah mengetahui dengan persis siapa lawannya, selanjutnya yaitu pilihlah topik yang pas dan cara penyampaian yang mudah diterima oleh lawan tersebut. Sehingga dialog yang kita lakukan akan sesuai dengan ruang dan waktunya.

    ReplyDelete
  4. PUTRI RAHAYU S
    S2 PENDIDIKAN MATEMATIKA_D 2016
    16709251070

    Apa yang dipikirkan oleh murid (belalang) dan guru (logos) berbeda. Pertanyaan yang diberikan oleh guru kepada murid menimbulkan jawaban yang sebenarnya bukan hal tersebut yang diinginkan oleh guru. Akan tetapi tidak dapat dihindari karena memang apa yang dpikirkan oleh guru dan murid berbeda. Hal ini adalah suatu kewajaran dalam pembelajaran. Karena hakekatnya belalang (murid) sedang belajar untuk menjadi logos (guru).

    ReplyDelete
  5. Eka Dina Kamalina
    14301241055
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    "Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu." artinya bahwa belalang merupakan perumpamaan seseorang yang telah terperangkap dalam dirinya sendiri sehingga bersikeras melakukan apa yang diinginkan tanpa mendengarkan nasihat dari sekelilingnya. Dia merasa sudah memiliki pengetahuan bagi hidupnya dan dia merasa cukup dengan apa yang dimilikinya, namun semua itu hanya pikiran yang menyesatkan karenanya dia terbelenggu dan tidak berkembanglah pengetahuannya.
    Dewa merupakan perumpamaan seorang guru yang hendak mengajarkan ilmunya, akan tetapi guru itu tidak memiliki ilmu bagaimana cara menyampaikan ilmu yang dimilikinya sehingga apa yang diajarkan dapat diterima dengan baik.
    Intinya, dalam belajar dan mengajar kita harus senantiasa siap. Siap mendengarkan, memahami, dan aktif serta siap untuk memfasilitasi.

    ReplyDelete
  6. Dessy Rasihen
    16709251063
    S2 P.MAT D

    Dari elegi logos berdialog dengan belalang ini, ketika diibaratkan antara guru dan siswa, hendaklah guru tidak memaksakan kehendakpada para siswanya. Ada kalanya keadaan siswa sedang tidak fokus dalam pembelajaran. Begitu pula jika sebagai siswa hendaknya senantiasa menghargai apa yang dikatakan oleh guru. Agar di kelas tumbuh hubungan yang harmonis antara siswa dan guru sehingga pembelajaran dapat berlangsung secara menyenangkan bagi para siswa.

    ReplyDelete
  7. Wahyu Lestari
    16709251074
    PPs Pendidikan Matematika 2016 Kelas D

    dari elegi ini, ibarat guru dan siswa. dimana setiap darinya memiliki pikiran masing-masing . begitupun saat memberikan pertanyaan, harapan jawaban yang didapat seringkali tidak sama dengan apa yang diharapkan, seperti halnya pada guru dan siswa. maka dengan mendengarkan dari setiap asumsi yang kan menjadikan perbedaan menjadi saling melengkapi.

    ReplyDelete
  8. Wahyu Berti Rahmantiwi
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C 2016
    16709251045

    Dari elegi ini kita belajar kembali untuk tidak mengharapkan segala sesuatu dengan tinggi. Kita harusnya mempunyai sikap optimis dalam kehidupan ini dan jangan pesimis dalam menggapai semua keinginan kita. Keinginan yang tinggi juga harus dibarengi dengan memperbanyak ikhtiar dan do’a yang sungguh-sungguh. Dan kita harus menjauhkan kesombongan kita dan selalu belajar dari kesalahan yang pernah diperbuat agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

    ReplyDelete
  9. Ari Dhamayanti
    14301241045
    S1 Pendidikan Matematika I 2014
    Menurut saya, elegi di atas apabila diaplikasikan ke dalam pembelajaran adalah seorang guru (dalam elegi ini adalah logos) harus memahami setiap karakter siswa. Jangan memaksa siswa (dalam elegi ini adalah belalang) untuk pada suatu tingkatan tertentu untuk memeroleh ilmu baru. Padahal setiap siswa memiliki latar belakang yang berbeda – beda.

    ReplyDelete
  10. Lihar Raudina Izzati
    16709251046
    P. Mat C 2016 PPs UNY

    Belalang adalah dirimu yang terperangkap dalam ruang dan waktu karena tidak beriktiar menembus ruang dan waktu dengan bijak. Belalang tidak bisa menyatu dengan logos apabila ruang dan waktunya berbeda, karena belalang menembus ruang dan waktu dengan tidak bijak. Kita hanya bisa menggapai logos, tetapi kita tidak bisa benar-benar mendapatkan logos. Jika kita berhasil menembus ruang dan waktu dengan bijak bersama logos yang kau punya, itu artinya kita sedang berusaha menggapai dewa.

    ReplyDelete
  11. Nama : Irna K.S.Blegur
    Nim : 16709251064
    kelas : PM D 2016(PPS)
    Elegi diatas menceritakan logos yang berekspektasi terlalu tinggi terhadap belalang. Elegi tersebut bisa dijadikan sebagai sebuah analogi dari guru yang selalu berekspektasi tinggi terhadap murid-muridnya. Padahal, jelas guru dan siswa memiliki kemampuan menembus ruang dan waktu yang berbeda. Sehingga, guru tidak seharusnya semena-mena memberikan ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap siswa, kemudian menyalahkan kemampuan siswa jikalau ternyata kenyataan yang didapat oleh guru tidak sesuai dengan ekspektasiya. Guru seharusnya memiliki sifat yang santun terhadap siswa-siswanya.
    Setiap siswa memiliki karakter yang berbeda-beda, dan memiliki pemikiran yang berbeda pula. Terhadap guru pun begitu, ada siswa yang menganggap guru sebagai teman, guru sebagai orang yang ditakuti, guru sebagai musuh, dll. Kita sebagai guru tak bisa mengaharapkan sesuatu yang tinggi dari siswa, kita tak bisa memaksakan apa yang mereka pikirkan, kita tak bisa memaksakan bahwa pikiran siswa haruslah sama dengan pikiran guru, jawaban siswa adalah jawaban yang benar menurut pikiran guru. Kita tak bisa memaksa mereka harus selalu benar.

    ReplyDelete
  12. Ahmad Bahauddin
    16709251058
    PPs P.Mat C 2016

    Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
    Setelah membaca postingan ini, saya jadi teringat nasehat dari KH. Maimun Zubair. Beliau mengatakan “Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
    Mungkin seperti itulah maksud yang dibicarakan orang tua beramput putih kepada logos.

    ReplyDelete
  13. Muhammad Mufti Hanafi
    13301144005
    Pendidikan Matematika C 2013

    Seorang terkadang memaksakan kehendaknya di atas kadar kemampuan, dan tidak menempatkan kemampuan pada ruang dan waktu yang sejatinya. Tepatlah nasihat sang Tua berambut putih untuk segera bertaubat dan kembali kepada jalan yang shahih. Yang menjadi persoalan baru manakala memaksakan kehendak dirinya adalah ketidaksabaran dirinya akan masalah yang timbul dan justru saling menyalahkan, bukan merunduk dan menyadari.

    ReplyDelete
  14. Boleh berharap setinggi-tingginya tetapi harus disertai dengan usaha dan doa. Belalang mungkin dapat belajar banyak hal tetapi tetap saja dia adalah belalang. Menyadari dimensi lebih baik agar dapat meningkatkan dimensi lebih tinggi lagi. Bukan menyombongkan dimensinya. Apa yang kita lakukan adalah sebatas menggapai apa yang diharapkan.

    ReplyDelete
  15. Anwar Rifa’i
    PMAT C 2016 PPS
    16709251061

    Dari elegi di atas dapat kita katakan bahwa kedua pihak tidak memiliki hubungan yang baik karena kurangnya komunikasi. Keduanya juga memiliki ego yang kuat masing-masingnya, tidak ada yang mau mengalah atau menerima satu dengan yang lain. Jika ego masing-masing tersebut tidak dihentikan dan tidak ada yang mengalah, maka akan terjadilah pertengkaran yang kuat. Maka sebaiknya masing-masing saling bertaubat atas kesalahan masing-masing. Istigfar dan memohon ampun pada Allah SWT.

    ReplyDelete
  16. ORIZA DEVI FEBRINA
    14301241019
    S1 Pendidikan Matematika I 2014


    Sesungguhnya yang membuat tidak adanya kerukunan dan toleransi itu adalah adanya ego masing masing, ego akan menyebabkan komunikasi yang kurang harmonis karena setiap orang kekeh dengan pemikirannya. efeknya jika terjadi seperti itu adalah adanya pertengakaran antara kubu satu dengan yang lainnya, mencobalah untuk memahami dan memiliki sikap toleransi, karena sesungguhnya ketika saling memahami maka akan terciptanya perdamaian dan kemajuan.

    ReplyDelete
  17. Indriyani Fatmi
    13301244031
    S1 Pendidikan Matematika 2013

    Sebagai manusia kita boleh berharap. Sebagai umat yang beragama, harapan itu disampaikan kepada tuhan dalam bentuk doa. Agar harapan/doa kita terkabul maka harus dibarengi dengan usaha/ikhtiar, berdoa adalah bentuk pemasrahan diri kita, karena mewujudkan segala doa adalah kuasa Tuhan. Karenanya apabila doa kita tidak terkabut maka kita harus ikhlas.

    ReplyDelete
  18. Sefti Lailatifah
    14301241040
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Postingan tersebut sangatlah menarik. Yang dapat saya ambil dari dialog-dialog tersebut bahwasannya adalah kita tidak dapat memaksakan kehendak kita pada orang lain. Kita tidak dapat memaksa seseorang untuk melakukan ini itu sesuai kehendak kita. Selain itu kita juga tidak boleh berlaku sombong dan ambisius. Kita juga mempunyai batas kemampuan tersendiri. Ada beberapa hal yang juga tidak dapat kita lakukan.

    ReplyDelete
  19. Hening Carrysa
    14301241012
    S1 Pendidikan Matematika A 2014

    Elegi ini mengajarkan bahwa setiap manusia harus lebih mawas terhadap dirinya sendiri, jangan merasa dirinya paling benar sehingga menjadikan dirinya sombong. Istighfarlah ketika dihadapkan dengan keburukan. Seperti halnya dalam dunia pendidikan, guru salalu merasa paling benar terhadap siswanya, padahal siswa juga memiliki hak untuk berpendapat (menuangkan ide dan gagasannya).

    ReplyDelete
  20. DIKY SETYA HERNANDA
    14301241043
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Elegi Logos Berdialog dengan Belalang tersebut mengingatkan saya tentang bagaiman seorang pendidik harus mampu memahami karakter masing-masing peserta didik yang dia ajar. Hal ini berarti Pendidik tidak boleh egois dalam mengajar di dalam kelas. Pendidik tidak boleh memaksakan kehendaknya tanpa memahami apa yang dibutuhkan oleh peserta didik.

    ReplyDelete
  21. Primaningtyas Nur Arifah
    16709251042
    Pend. Matematika S2 kelas C 2016
    Assalamu’alaikum. Elegi diatas menceritakan tetang interaksi antara belalang dengan logos. Logos memiliki harapan yang tingi kepada belalang. Pada akhirnya belalang tidak dapat memenuhi ekspektasi dari logos, hingga logos lelah berkespektasi. Sebenarnya belalang dan logos itu sama-sama sedang belajar untuk memahami satu sama lain.

    ReplyDelete
  22. Tahtalia
    14301241031
    S1 Pendidikan Matematika A 2014
    Dalam pembelajaran, kita harus bisa menjalin komunikasi yang baik dengan siswa. Dengan adanya komunikasi yang baik, pendidik dapat memposisikan diri dengan tepat tanpa berharap terlalu tinggi kepada siswa. Selain itu, pendidik akan lebih mampu memfasilitasi siswa untuk mencapai prestasi optimalnya sesuai dengan kebutuhannya.

    ReplyDelete
  23. Syahlan Romadon
    PM C 2016 / 16709251047

    Menurut saya, memiliki impian untuk menggapai sesuatu yang tinggi tidaklah salah. Yang penting adalah menggunakan sedaya upaya untuk menggapai impian itu tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Untuk menggapai impian tersebut kita harus menggapai ilmu. Namun sebenar-benarnya manusia tidak dapat menggapai ilmu, hanya berusaha untuk menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  24. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari elegi di atas, saya sangat tertarik dengan dialog Orang Tua Berambut Putih di akhir elegi "Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
    Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu." Jadi, untuk dapat mencapai yang terbaik, kita harus menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  25. 'Azzanie Karima Arroida
    14301241017
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari tulisan di atas yang berjudul Elegi Logos Berdialog dengan Belalang tersebut dapat diartikan bahwa dialog tersebut dilakukan dengan yang berbeda dimensi, sehingga tidak saling terkait isi dialognya. Agar dapat saling terkait, kedua belah pihak yang berdialog tidaklah boleh merasa sombong dan tinggi hati.

    ReplyDelete
  26. Hajarul Masi Hanifatur Rohman
    S2 Pendidikan Matematika C 2016
    16709251052

    Bismillaah....
    Berdasarkan elegi diatas dpat dipetik beberapa hal antaar percakapan logos dan belalang. Dimana keduanya sebaiknya saling menekan ego. Seseorang boleh mengharapkan orang lain untuk memahaminya atau mengharapkan respon yang baik, tetapi jangan memaksa. Boleh saja tetapi perlahan. Tetapi di lain pihak, seseorang jika sedang diharapakan jangan mengecewakannya, diperlukan usaha untuk mewujudkannya, terlebih demi kebaikan.

    ReplyDelete
  27. Fatmawati
    16709251071
    PM.D 2016
    nampaknya logos dan belalang berada pada beda dimensi. namun ketika mereka berada dalam satu forum, mereka mempertahankan dimensinya masing-masing. yang terjadi adalah logos merasa tidak diperhatikan oleh belalang, dan belalang menganggap logos tidak hadir disana. yang dapat saya simpulkan dari elegi diatas adalah jika kita berada dalam sat ruang lingkup (forum) dengan peserta yang berbeda-beda baik latar belakang maupun dimensi, hendaknya kita tidak angkuh, dapat membuka diri, dan mencoba untuk memahami dan memepelajari keadaan disekitar kita. jangan selalu fokus pada kepentingan diri sendiri.

    ReplyDelete
  28. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Meskipun seorang guru sedang dalam keadaan tidak menjalankan tugas, atau sudah lama meninggalkan tugas mendidik di sekolah, akan tetapi hubungan dengan siswanya relatif masih terjaga karena hubungan guru dengan siswa sesungguhnya tidak hanya terjadi pada saat sedang melaksanakan tugas atau selama berlangsungnya pemberian pelayanan pendidikan.

    ReplyDelete
  29. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Pada umumnya, guru akan tetap menampilkan sikap dan perilaku keguruannya, meski dalam wujud yang berbeda dengan semasa masih dalam asuhannya. Dukungan dan kasih sayang akan dia tunjukkan. Aneka nasihat, petatah-petitih akan meluncur dari mulutnya. Kasih guru kepada muridnya seperti kasih ibu kepada muridnya yang sepanjang masa.

    ReplyDelete
  30. KHOIRUDIN
    14301244002
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Mari kita terus belajar untuk sedapat mungkin berusaha menjaga kode etik guru, kita jaga hubungan dengan putra-putri didik kita secara profesional dan kultural, agar kita tetap menjadi guru yang sejatinya. Semakin banyak anak didik kita semakin besar juga kesempatan ladang amal yang diberikan kepada kita.

    ReplyDelete
  31. Suci Renita Sari
    14301241052
    S1 Pendidikan Matematika I 2014

    Dari Elegi Logos berdialog dengan belalang. Dalam dialog tersebut logos terlalu mengharapkan jawaban dari apa yang ditanyakan, sedangkan belalang tidak merasa tertarik dan mengabaikannya. Hal ini bisa diperumpamakan hubungan antara siswa dan guru di sekolah. Dimana guru terlalu megharapkan sesuatu yang tinggi dari siswanya, salah satunya mengharapkan pencapaian akademis atau prestasi yang tinggi akan tetapi guru tidak melihat kemampuan siswanya yang masih terbatas. Sehingga apapun pembelajaran yang diberikan guru kepada siswanya tidak akan diserap oleh siswa karena itu diluar batas kemampuan siswanya

    ReplyDelete
  32. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Logos bisa menjadi dewa, juga bisa menjadi daksa. Dengan demikian Belalang bisa juga menjadi Logos. Maka dapat dikatakan bahwa logos sama dengan belalang. Akan menjadi dewa ketika berhasil menembus ruang dan waktu, sementara itu akan mejadi belalang atau daksa jika terjebak dalam ruang dan waktu. Sebenar-benar orang cerdas adalah jika mampu menembus dan berada dalam Ruang dan Waktu yang benar dan bijak.

    ReplyDelete
  33. Jeanete Nenabu
    PPS PMat D (15709251004)

    Pada jaman kontemporer ini kita bisa menjadi dewa, juga bisa dijadikan daksa. Dimana kita mampu berkuasa jika kita pandai menembus ruang dan waktu dengan bijaksana, tetapi kita juga dapat dikuasai jika kita terperangkat dalam ruang dan waktu. Jika kita terlalu berambisi menjadi dewa atau orang yang berkuasa dengan menghalalkan segala cara, maka sungguh ini bukan cara yang baik. Dan ketika kita menyerah tak berdaya, maka dengan kehebatan powernow kita akan dijadikan daksa yang bisa kapan saja diambil manfaatnya untuk kepentingan mereka. Maka berikhtiarlah dengan cara yang baik, jangan terlalu bernafsu menjadi penguasa, karena sesungguhnya hanya Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan untuk mengiringi ikhtiar yang baik, jangan lupa terlupakan proses berdoa memohon ampun kepada-Nya

    ReplyDelete
  34. Irham Baskoro
    17709251004
    S2|Pendidikan Matematika A 2017|UNY

    Dari postingan Bapak Marsigit di atas, saya menangkap bahwa para belalang merasa skeptis terhadap Logos. Para belalang menyahut Logos dengan gosool, goloos, dan sebagainya tanpa satupun yang fasih menyebut Logos. Logos dengan segudang ilmunya sangat ingin disebut logos, sementara ‘skeptisnya’ belalang menjadikan mereka tetaplah kawanan belalang. Keduanya sombong dengan statusnya masing-masing. Maka benar yang dikatakan oleh orang tua berambut putih bahwa yang benar adalah dia sedang berusaha menggapai Logos. Dengan begitu, ia tidak akan berhenti berusaha dan belajar untuk mencapai logos. Sementara belalang harus dapat keluar dari perangkap ruang dan waktu untuk mencapai logos tersebut.

    ReplyDelete
  35. Tri Wulaningrum
    17701251032
    PEP S2 B 2017

    Membaca satu kali, saya belum paham. Membaca dan membaca lagi, saya sedang berusaha memahami. Dan akhirnya yang saya tangkap dari postingan bapak di atas salah satunya adalah tentang refleksi diri. Bagaiman seharusnya logos mengambil tempat dalam kehidupan. Karena sebenar-benarnya logos adalah yang berusaha menggapai logos. Hal ini memperlihatkan bahwa logos sendiri adalah yang berusaha menggapai logos. Oleh karena itu, dengan memahami sebenar-benarnya logos, maka tidaklah tepat jika "logos memaksa si belalang menggapai logos"

    ReplyDelete
  36. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Mat A 2017

    Terimakasih Prof, berdasar postingan ini saya mendapat sebuah pelajaran, dimana kita tidak boleh memandang rendah sesuatu dan sekaligus juga kita tidak boleh berkespektasi lebih terhadap suatu hal, karena itu akan membuat kita terlalu sibuk menilai hal lain dan tidak berkaca pada diri sendiri dan kemudian memperbaiki diri kita.

    ReplyDelete
  37. Trisylia Ida Pramesti
    17709251010
    S2 Pendidikan Matematika Kelas A 2017
    FILSAFAT ILMU

    Dari elegi diatas yang dapat saya tangkap yaitu ada 2 pihak yang mana satu pihak dengan pihak lain sama sama mempunyai keinginan ber-beda beda. Mereka tidak bisa bersatu karena tidak bisa saling memahami, karena kesombongan masing-masing. Coba jika kedua pihak mencoba untuk saling mengerti yaitu belalang mencoba memahami kalau logos ingin didengarkan, kemudian logos memahami jika belalang ingin makanan maka sesungguhnya mereka bisa bersatu.
    Maka pesan yang ingin di sampaikan adalah janganlah sombong. Karena sesungguhnya kita manusia itu tidak bisa sutuhnya menjadi sesuatu, yang kita lakukan hanyalah menggapainya. Dan yang utama menggapai RidhoNya.
    Maka yang perlu dilakukan, Berbuatlah kebaikan jangan terbatas oleh ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  38. Nama : Widuri Asmaranti
    NIM : 17709251035
    S2 Pend Matematika B 2017

    Ass. Terimakasih pak postingannya.
    Dari, postingan ini dapat saya simpulkan bahwa kita hidup tidak boleh berambisi terlalu tinggi, jangan berharap terlalu tinggi. Bermimpi boleh, namun jangan jadikan itu sebagai ambisi. Jadi sewajarnya saja, ketika kita mempunyai keinginan atau harapan, berusahalah dan berdoa. Selalu ikhlas menjalani hidup, ketika kita ikhlas maka setiap yang terjadi dalam hidup, kita akan mampu menerimanya. Selain itu, janganlah kita bersikap sombong. Karena yang kita punya pun bersifat sementara. Refleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan yang pernah kita perbuat disadari maupun yang tanpa kita sadari.

    ReplyDelete
  39. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 P.Mat C 2017

    Dalam postingan ini diceritakan tentang Logos yang berusaha mengajak bicara belalang-belalang, sedangkan tidak satupun dari belalang tersebut mendengarkan apa yang dikatakan oleh Logos. Bahkan belalang-belalang tersebut seakan tidak melihat kehadiran Logos. Fenomena ini terjadi di dunia nyata antara guru dengan siswa-siswanya. Jika guru memposisikan dirinya sebagai seorang yang berilmu, kemudian ia tanpa sadar akan berlaku sombong. Sebenarnya guru tersebut hanyalah seseorang yang berusaha menjadi guru. Dengan keadaan demikian, siswa tidak akan menggubris apa yang dikatakan oleh guru. Untuk mendapat perhatian dari siswa, guru harus memahami siswanya. Mengapa siswa tidka memperhatikannya? Mengapa siswa tidak mengerjakan LKS? Apa yang lebih menarik bagi siswa? Apa yang diobrolkan oleh siswa? Maka sebaik-baiknya seorang guru tetaplah rendah hati dan belajar dari siswanya.

    ReplyDelete
  40. Dimas Candra Saputra, S.Pd.
    17709251005
    PPs PM A 2017

    Assalamualaikum Prof.
    Dialog ini dapat dipikirkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Dialog antara logos dan belalang ini dapat memberikan gambaran tentang komunikasi antara guru dengan siswa. Seringkali guru memiliki harapan yang terlalu tinggi pada siswa untuk dapat memahami seperti yang ia pahami. Atau guru menggunakan bahasa komunikasi yang tidak sesuai dengan kemampauan siswa. Sementara di pihak lain, siswa tidak bersungguh-sungguh dalam berikhtiar untuk memahaminya. Oleh karena itu, komunikasi antara guru dengan siswa tidak dapat berjalan dengan baik. Hal ini bukan berarti salah guru atau salah siswa saja, baik guru maupun siswa perlu melakukan refleksi diri.

    ReplyDelete
  41. Junianto
    PM C
    17709251065

    Elegi ini analog dengan kehidupan manusia. Dimensi ruang dan waktu merupakan dua hal yang selalu diperbincangkan. Setiap orang akan menjadi hebat jika ia mampu menembus ruang dan waktu. Logos dan belalang sebenarnya berada di ruang dan waktu yang berbeda. Ketika salah satunya mengatakan bahwa ia benar maka sebenarnya ia sedang berusaha benar, ketika ia berkata logos maka sebenarnya ia sedang berusaha menggapai logos.

    ReplyDelete
  42. Uswatun Hasanah
    17701251022
    S2 PEP B

    Saya mengambil hikmah dari ulasan ini adalah saat kita menilai kebenaran melalui orang-orang yang ada di sekitar kita maka sejatinya semua hanyalah tergantung pada kebenaran dalam ruang dan waktunya. Namun, perlu ditekankan juga bahwa pentingnya berkomunikasi yang efektif satu sama lain. Saat komunikasi antara satu dengan yang lain tidak sejalan maka akan membuat suatu kesalahpahaman. Selain itu, saat kita hendak bertanya, sebaiknya bertanya dengan ahlinya. Jika kita bertanya pada yang bukan ahlinya kita akan mendapatkan informasi yang sia-sia dan tidak tepat.

    ReplyDelete
  43. Arung Mega Ratna
    17709251049
    S2 Pend. Matematika C

    Assalamu'alaikum wr.wb.
    Dari bacaan "Berdialog Dengan Belalang" sangat menarik, diibaratkan belalang itu adalah peserta didik dan Logos adalah seorang guru. Pesan yang terkandung dalam dialog tersebut adalah menjadi seorang guru jangan memaksakan kehendak kepada peserta didik, misalnya saja untuk mempunyai pikiran yang sama. Peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda-beda, pendapat mereka pun berbeda-beda. Seorang guru harus sabar, jangan mudah marah dan jangan mudah mengeluh. Menjadi peserta didik juga harus memperhatikan penjelasan guru, jangan menyepelekan apa yang diajarkan oleh guru, dan sadar betul bahwa tugas peserta didik untuk menimba ilmu pengetahuan.
    Baik seorang guru dan peserta didik harus menghargai dan memahami satu sama lain, merefleksikan diri dan mohon ampun kepada Allah perlu dilakukan agar kejadian seperti di atas tidak terjadi.
    Terima kasih
    Wassalamu'alaikum

    ReplyDelete
  44. Andi Gusmaulia Eka Putri
    17709251009
    PPs PM A 2017
    Elegi logos berdialog dengan belalang ini menceritakan tentang logos yang berusaha mencari perhatian atas sekumpulan belalang, dengan bertanya kepada masing-masing belalang. Ini bisa dianalogikan dalam kehidupan sehari-hari kita misalnya dalam kehidupan sosial kita yaitu ketika berinteraksi dengan orang lain itu harus ada hubungan timbal balik. Kita tidak bisa hanya ingin didengar saja namun kita juga harus mendengarkan, kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada oraang lain namun juga harus menimbang keinginan orang lain. Pada intinya, elegi ini mengajarkan kita untuk melakukan refleksi dan evaluasi diri untuk tidak menjadi orang yang egois atau orang yang mengabaikan orang lain.

    ReplyDelete
  45. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Menjadi seseorang yang selalu nyaman dengan kepuasan atas apa yang diri mereka peroleh sebenarnya merupakan rugi besar. Karena sebaik-baik manusia mereka lah yang dapat menjadi dewa. Dewa disini bukanlah dewa yang maha tahu segalanya, namun dewa bagi masing-masing kelompok. Misal guru adalah dewanya murid, dosen adalah dewanya mahasiswa, guru besar adalah dewanya para dosen. Jadi, untuk menjadi dewa seperti mereka hendaklah selalu berfikir terbuka dan tidak memaksakan kehendak dari apa yang kita fikirkan. Biarkan kita terus mencari dan mecari agar dapat menembus ruang dan waktu.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  46. Nama : Habibullah
    NIM : 17709251030
    Kelas : PM B (S2)

    Assalamualaikum wr.wb

    Dari elegy di atas secara implisit mengingatkan kita untuk selalu merefleksi dan muhasabah diri dengan merenungkan sejauh mana kebaikan-kebaikan yang telah kita perbuat sebagai bekal mati, karena dunia ini hanya sebagai ladang untuk berlomba-lomba menanam benih kebaikan dan ridhonya tuhan yang maha esa. Dan bentengilah diri dengan iman dan taqwa dari sifat tinggi hati dan sombong karena allah sangat membenci umatnya yang memiliki sifat tersebut meskipun sekecil buah Zahra.

    ReplyDelete
  47. Nama: Hendrawansyah
    NIM: 17701251030
    S2 PEP 2017 Kelas B
    Assalamualikum wr wb.Saya teringat di masa kelas 2 SMA waktu tahun 2010,yaitu di SMAN 4 Kota Bima.Seorang guru bahasa Indonesia namanya pak Abdul Maman.Beliau bertanya kepada seluruh siswa satu ruangan”Pada saat apa orang marah?Semua siswa terkejut dan tak mampu menjawab.Akhirnya beliau menjawab pada saat lapar.Berkenaan dengan yang dipaparkan mungkin memiliki hubungan.Orang-orang ketika lapar sering melampiaskn emosinya sehingga menimbulkan kesalahan bagi dirinya.Tak dapat dipungkiri bahwa manusia adalah tempatnya khilaf dan kesombongan.Oleh karenanya tidak ada jalan keluar dari keslahan melainkan segera bertobat dan menyadarinya.Imam Al-Gazali mengatakan bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang menyadari kesalahannya dan segera bertobat.Semoga kesalahan yang pernah kita perbuat mendapatkan magfiroh dari Allah subhana huwa ta ala. Aminn.Wassalamualaikum wr wb.

    ReplyDelete
  48. Rahma Hayati
    17709251016
    Pascasarjana PM A 2017

    Assalamualaikum wr.wb

    Berdasarkan dialog dalam elegi ini yang dapat saya pahami adalah bahwa dalam menjalani kehidupan hendaklah kita senantiasa mengoreksi diri, merefleksikan diri, sejauh mana ikhtiar atau usaha yang dilakukan untuk mencapai suatu tujuan. Janganlah telalu mengekspektasikan sesuatu hal yang tinggi sementara usaha yang dilakukan belum sebanding. Dan juga janganlah memandang rendah akan sesuatu karena bisa saja itulah yang terbaik. Untuk itu senantiasalah memperbaiki diri, mengamati sekitar agar tidak terperangkat antara ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  49. Nama : I Nyoman Indhi Wiradika
    NIM : 17701251023
    Kelas : PEP B

    Dialog yang sangat mencerahkan. Sejauh-jauh usaha logos ingin menjadikan belalang untuk mencapai logos adalah tindakan yang sia-sia, sekaligus sombong. Hampir sama seperti manusia, sejauh-jauh manusia belajar hingga kemudian merasa diri sejajar dengan Tuhan maka ia sesungguhnya jauh dari Tuhan.

    ReplyDelete
  50. Nama : Rosyita Anindyarini
    NIM : 17701251031
    Kelas : PEP B S2 2017

    Bismillah.
    Terimakasih prof. Marsigit atas dialog bermakna di atas. Secara tersirat, saya dapat mengambil hikmah bahwa secara sadar maupun tidak kita menyimpan sifat sombong dan tinggi hati di dalam hati. Ketika logos bertanya kepada belalang 1-24 namun mendapatkan jawaban dan respon yang tidak sesuai dengan yang dia inginkan, dan kemudian si belalang malah menjawab pertanyaan logos sesuka hati dengan dasar harapan dirinya mampu berpikir logos, itu adalah sifat over confident. Tingginya hati yang berlebihan dapat mematikan hati itu sendiri atau bahkan menyesatkannya. Karena, sesungguhnya tidak ada yang logos, yang ada adalah menggapai logos. Tidak ada sifat dewa, yang ada hanyalah menggapai sempurna. Semuanya tergantung pada ruang dan waktu nya masing-masing. Mari kita instropeksi diri kita masing-masing dan memohon ampun kepada Allah swt atas segala kesalahan dan tingginya hati yang selama ini tersimpan dan tersembunyi di dalam nurani. Amin. Wallahu’alam bishowab.

    ReplyDelete
  51. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Disini logos berusaha mencapai belalang. logos mencoba untuk bertanya, berkomunikasi kepada belalang tetapi belalang tidak mengerti, bahkan belalang tidak tahu siapa logos. karena pada saat itu logos dan belalang berada di dalam ruang dan waktu yang berbeda, mereka berada di dalam ruang dan waktunya sendiri. logos harus menggapai dewa jika ingin dapat berkomunikasi dengan belalang.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  52. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb
    Seperti halnya guru, tidak akan dapat merangkul siswa untuk berinteraksi dengannya jika berada di ruang dan waktu yang berbeda. maka guru harus menggapai dewa, yang memiliki kemampuan untuk menembus ruang dan waktu sehingga dapat menyesuaikan ruang dan waktu siswa. tidak boleh bagi guru untuk memaksakan siswa untuk mengerti perkataannya, padahal mereka berada di ruang dan waktu yang berbeda.
    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  53. Charina Ulfa
    17709251039
    PPs Pendidikan Matematika B 2017

    Assalamu'alaikum wr wb.

    Dari elegi diatas dapat saya simpulkan diperlukannya sebuah refleksi diri, agar dengan berefleksi diri kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Adakala nya kita sebagai makhluk ciptaan Sang Khalik berlaku sombong (ambisuis) baik sengaja atau tidak, maka dari itu diperlukannya refleksi diri memohon ampunan dan petunjuk dari Tuhan.

    ReplyDelete
  54. Rigia Tirza Hardini
    17701251026
    S2 PEP B

    Jujur saja setelah membacanya berulangkali saya masih kurang mengerti. Sepertinya saya masih seperti belalang yang terperangkap dalam ruang dan waktu itu. Saya belum dapat menggapai logos. Saya terlalu lelah terperangkap dalam ruang dan waktu saya sendiri, kurang berusaha menggapai pengetahuan yang amat luas di luar sana. Kesadaran akan belajar harus saya tingkatkan lagi. Terimakazih atas postingan yang menjadi refleksi pribadi bagi saya, Pak.. semoga saya bisa menerapkan manfaatnya. Amin.

    ReplyDelete
  55. Wisniarti
    17709251037
    PM B Pascasarjana

    Menurut saya dari postingan ini yang dapat direfleksikan adalah orang yang belum memahami suatu pengetahuan atau ilmu maka apa yang dibahas dia tidak akan mengerti. Jika orang tersebut tidak ingin belajar dan membaca maka dia akan tetap dalam ketidak mengertiaannya. Namun, jika dia ingin belajar dan membaca maka dia akan keluar dari ketidak mengertiaannya menuju ke mengerti atau paham mengenai pengetahuan ilmu tersebut.

    ReplyDelete
  56. Bulan Nuri
    17709251028
    PPs PM B 20117

    Janganlah menjadi manusia yang berharap kepada manusia yang lainnya, karena sebenar-benarnya tempat pengharapan adalah kepada Tuhan yang maha esa. Sebab jika manusia berharap lebih pada sesama makhluk yang lainnya maka kekecewaanlah yang akan didapatnya. Selain itu dalam menjalani hidup tidak boleh ada kesombongan, karena kesombongan itu adalah musuh yang dapat menghilangkan segala kebaikan dalam diri. Oleh karena itu mari melakukan intropeksi pada diri sendiri, agar persaudaraan tetap terjalin dengan baik, serta memohon ampunlah kepada Tuhan atas segala kesalahan yang telah kita lakukan.

    Demikian, terimakasih.

    ReplyDelete
  57. Aristiawan
    17701251025
    S2 PEP 2017 B

    Ada beberapa hal yang saya pahami dari percakapan antara logos, belalang, orang tua berambut putih dan spiritualisme. Salah satunya adalah kita perlu menempatkan sesuatu tepat di posisinya, atau sesuai dengan ruang dan waktunya. Dalam elegi diatas dapat dilihat pada ucapan orang tua berambut putih kepada logos bahwa kesalahan logos adalah mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar kemampuan belalang.

    ReplyDelete
  58. Muhammad Sabri
    17701251034
    S2 PEP B

    Percakapan yang penuh dengan bahasa analog, yang saya pahami mungkin berbeda dengan apa yang ingin disampaikan dari percakapan ini, saya pahami bahwa bagaimanapun seorang guru berusaha agar muridnya mencapai pikiran guru tersebut, seorang murid tidak akan mampu menggapainya, karena bahkan guru itu sendiri tidak dapat menggapai pikirannya sendiri, karena ketika ia mencoba menggapai pikirannya, pikirannya sudah berubah dari pikiran yang tadi menjadi pikiran yang sekarang.

    ReplyDelete
  59. indah purnama sari
    17701251035
    PEP B 2017

    Terimakasih pak atas ilmu yang disampaikan melalui postingan bapak ini.
    secara tersirat elegi ini menyuruh kita untuk muhasabah diri, atau merefleksikan diri guna me=njadi pribadi yang lebih baik. tidak sombong dan sebagainya. logos tidak bisa memaksa belalang berfikir karena belalang bergerak sesuai ruang dan waktunya. itullah mengapa ambisi harus sesuai dengan ruang dan waktu agar tak ada pemaksaan yang terjadi ketika melalkukannya jadi kita bisa melakukan hal tersebut secara ikhlas.

    ReplyDelete
  60. Nama : Dyah Ayu Fitriana
    NIM : 17701251028
    Kelas : PEP B S2

    Bismillah
    Dari elegi tersebut merupakan bahasa analogi dari suatu gambaran pembelajaran di dalam kelas dimana sedang berlangsung dialog guru dengan siswanya. Janganlah guru berharap untuk menciptakan siswa sama dengan dirinya. Melainkan guru hanya membantu siswa untuk bisa lebih darinya. Membantu berbeda dengan menciptakan. Menciptakan bisa saja memaksa sebagai kata perintah. Tetapi membantu itu ada timbal balik antar guru dengan siswa. Disetiap akhir pembelajaran, guru dan siswa saling mereflesikan diri. Memberikan saran dan kritikan mengenai pbm yang sedang berlangsung. Hal itu agar pihak guru dan siswa akan lebih memiliki pengetahuan yang bermanfaat dan mudah diterima.

    ReplyDelete
  61. Kartika Kirana
    17701251039
    S2 PEP B

    Segala yang ada dan yang mungkin ada memiliki ruang dan waktunya masing-masing. Ketika kita mengharapkan sesuatu keluar dari ruang dan waktunya untuk menyamai ruang dan waktu kita, maka kita ingin mengeluarkannya dari hakikatnya.
    Yang absolut hanya ada pada pikiran. Secara spiritual ada pada Tuhan. Yang ini ada pada keyakinan.
    Saya tidak dapat mengharapkan murid saya menjadi seperti saya. Mereka punya tugasnya masing masing dan belajar dari pengalaman mereka, pada ruang Dan waktunya masing masing, membangun pengetahuan mereka masing masing.

    ReplyDelete
  62. Terima ksih Prof untuk tulisannya.
    Saya masih belum begitu memahami makna dari tulisan ini meskipun berulang kali membacanya. Akan tetapi ada sedikit makna yang saya temukan di dalam tulisan tersebut.
    Dialog dalam tulisan tersebut terkesan tidak nyambung. Antara yang diucapkan logos tidak mendapatkan respon atau balasan yang sesuai dari belalang. Sehingga dialog tersebut seolah-olah menjadi tanpa makna.
    Namun dari sini kita melihat bahwa syarat terjadinya sebuah komunikasi atau silaturahim yang baik adalah dengan berhenti menjadi egois yang mementingkan dirinya sendiri, menjauhkan diri dari sikap sombong, kemudian mencoba memahami orang lain agar tercipta sebuah silaturahim atau hubungan yang baik.

    ReplyDelete
  63. Kholifatun Nur Rokhmah
    17709251011
    Pend. Matematika A 2017

    Setelah membaca elegi di atas yang saya refleksikan sebagai seorang pendidik adalah bahwa kita boleh sangat percaya kepada siswa-siswa kita untuk dapat menggapai ilmu yang kita berikan. Namun dengan penyadari perbedaan siswa kita yang unik tentunya harapan kita tidak serta merta terlalu tinggi karena akan ada siswa yang kesulitan menggapai guru yang menjadi dewa guru, dapat dikatakan bahwa terkadang siswa yang tidak bisa memahami materi yang disampaikan guru. Oleh karena itu sebagai guru kita juga harus menyadari untuk menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan materi, misalnya dengan aktivitas, karena jika kita ingin terlihat pintar tapi siswa tidak paham artinya kita sebagai logos yang sombong.

    ReplyDelete
  64. Junianto
    17709251065
    PM C

    Pada elegi ini saya mencoba mengaitkan dengan pembelajaran di sekolah. Terkadang guru berekspektasi semua siswa bisa memahami materi yang telah dipelajari sebagaiman dirinya menguasai materi. Hal ini seringkali terjadi dan mengesampingkan bahwa siswa itu unik. Dengan keunikan ini maka setiap siswa juga mempunyai minat dan bakat berbeda-beda. Maka dari itu, tidak semua siswa bisa menguasai semua materi di semua mata pelajaran. Hal ini dianalogikan dengan dialog pada elegi ini dimana kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada siswa dengan memaksa mereka harus paham 100% tentang materi.

    ReplyDelete
  65. Elegi ini juga bisa dijadikan pelajaran dalam menjalani kehidupan bahwasanya kita tidak bisa berekspektasi kepad orang lain sesuai apa yang kita harapkan. Hal ini disebabkan karena setiap orang memiliki kebebasan untuk bertindak dan mengambil keputusan. Seseorang tidak bisa mengharapkan sesuatu yang melebihi kapasitas orang lain, sebagaimana ujian yang tidak akan pernah melampaui batas kemampuan seseorang. Maka dari itu, setiap orang harus bisa bersikap bijak ketika bekerjasama dengan orang lain aga bisa saling menghormati dan menghargai.

    ReplyDelete
  66. Nama : Kartika Pramudita
    Nim : 17701251021
    Kelas : PEP B (S2)

    Terimakasih Pak
    Pada elegi logos berdialog dengan belalang ini menceritakan bahwa apa yang diharapkan oleh logos dari belalang tidak sesuai dengan ruang dan waktunya. Sesuatu yang tidak sesuai dengan ruang dan waktu akan menimbulkan ketidaksesuaian. Selanjutnya pada elegi logos berdialog dengan belalang juga menyadarkan kepada kita agar berhati-hati supaya terhindar dari kesombongan. Kesombongan justru akan membawa manusia ke dalam kehancuran, meruntuhkan semua yang dimiliki. Sehingga jangan pula mengaku logos karena sebenar-benar logos hanya bisa selalu dan selalu diusahakan untuk dicapai.

    ReplyDelete
  67. Hari Pratikno
    17709251032
    Pendidikan Matematika S2 (Kelas B)

    Seberapapun tinggi ilmu seseorang janganlah sombong, karena seseorang yang berilmu itu hakikatnya sedang berusaha berilmu. Jangan membebankan tugas yang kiranya tidak sesuai dengan kemampuan yang diberi tugas. Sebagai contoh dalam pembelajaran, guru dalam memberi tugas kepada siswa juga harus melihat terlebih dahulu apakah tugas itu mampu dikerjakan siswa.

    ReplyDelete
  68. Isoka Amanah Kurnia
    17709251051
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Dalam hidup kita seringkali memiliki keinginan tanpa berusaha dan bertawakkal kepada Allah. Kita hanya menginginkan hasil tanpa mau melewati proses. Belalang adalah diri kita yang tidak berani menerima tantangan dan keluar dari zona aman. Kita terus bersembunyi di balik bayang-bayang namun tetap berambisi untuk sukses. Tidaklah seseorang akan mendapatkan apa yang diinginkan jika ia tidak berusaha dan berdoa. Proses memang tak selamanya mulus, namun jika kita bisa melewatinya maka kita akan menikmati kesuksesan dan memenangkan pertarungan melawan diri sendiri. Namun jika kita memilih untuk diam di tempat, maka kita akan cukup menjadi belalang saja.

    ReplyDelete
  69. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, dimana kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Ketika kita hidup alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan orang lain, selain bertujuan untuk membentuk kepribadian diri kita, kita juga dapat memahami perasaan orang lain. Begitu indah karunia Tuhan kepada kita sehingga kita diberikan kepintaran dan fikiran. Oleh karena itu, baiknya kita harus bisa mengolah pikiran kita untuk tujuan yang baik dan jangan sampai merasa paling pintar (sombong) dengan ilmu yang kita miliki. Kita harus mau berbagi satu dengan yang lain. Paling penting adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan selalu bersyukur atas karunianya yang diberikan.

    ReplyDelete
  70. Riandika Ratnasari
    17709251043
    PPs PM B

    Manusia diciptakan sebagai mahluk sosial, dimana kita saling membutuhkan satu dengan yang lain. Ketika kita hidup alangkah baiknya jika kita mau mendengarkan orang lain, selain bertujuan untuk membentuk kepribadian diri kita, kita juga dapat memahami perasaan orang lain. Begitu indah karunia Tuhan kepada kita sehingga kita diberikan kepintaran dan fikiran. Oleh karena itu, baiknya kita harus bisa mengolah pikiran kita untuk tujuan yang baik dan jangan sampai merasa paling pintar (sombong) dengan ilmu yang kita miliki. Kita harus mau berbagi satu dengan yang lain. Paling penting adalah kita harus selalu mendekatkan diri kepada Tuhan dan selalu bersyukur atas karunianya yang diberikan.

    ReplyDelete
  71. Sofi Saifiyah
    17701251033
    S2 PEP B

    Membaca sekali masih belum bisa saya pahamai, membaca kedua masih juga belum bisa saya pahamai, membaca ketiga sambil pelan-pelan membacanya masih juga belum yakin apakah yang dimaksud pada elegi ini seperti yang saya pikirkan, atau malah jauh dari apa yang saya pikirkan? Entahlah. Meskipun begitu, saya tetap mencoba memaparkan apa yang saya tangkap dari elegi ini. Jika diibaratkan antara logos dan sekumpulan belalang adalah komunikasi antara individu dengan kelompok, dimana individu tersebut lebih mendominasi untuk menguasai setiap anggota kelompok dan memaksakan setiap anggoat kelompok untuk mengerti segala yang diucapkan olehnya. Karena paksaan tersebutlah setiap anggota kelompok memberontak dan tidak menjawab dengan benar setiap pertanyaan yang disampaikan oleh individu tersebut. Maka sebenar-benar kesomobongan masuklah kedalam individu maupun setiap anggota kelompok tersebut. Maka bersikaplah sesuai dengan ruang dan waktu, jangan melebihi ataupun menguranginya, karena segala yang berlebihan ataupun kekurangan itu tidaklah baik.

    ReplyDelete
  72. Gamarina Isti R
    17709251036
    Pendidkan Matematika Kelas B (Pascasarjana)

    Dari blog ini saya dapat menyimpulkan bahwa ketika terdapat kelompok yang berbeda jenjang maka akan terjadi perbedaan dalam logos masing-masing kelompok tersebut. Contohnya saat guru mengajar kpada siswa, maka akan dimungkinkan siswa sulit menggapai logos dari gurunya, tentu saja hal itu dikarenakan pengalaman dan pengetahuan seorang guru berbeda dengan pengalaman dan pengetahuan siswa. Namun guru kadang tidak menyadari sehingga dia secara tidak sadar membuat materi yang sederhana menjadi tampak sulit karena sibuk dengan logosnya. Oleh karena itu siswa harus menyesuiakan logosnya dengan siswa.

    ReplyDelete
  73. Pangestika Nur Afnia
    PEP B- S2
    17701251037

    Percakapan logos dan 25 belalang mengingatkan saya dengan percakapan guru dan siswa di dalam kelas. Guru memberikan pertanyaan ke seluruh siswa di kelas dan tidak seorang pun siswa yang menjawab seperti jawaban yang guru inginkan. Orang tua berambut putih mengatakan kepada logos agar tidak terlalu berharap terlalu tinggi pada belalang. Hal tersebut dapat dimaknai bahwa seorang guru tidak boleh menuntut muridnya terlalu tinggi. Misalnya seorang guru IPA tidak boleh menuntut muridnya harus pintar seperti dirinya. Guru hanya berikhtiar agar muridnya memahami IPA karena setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Bisa saja anak tidak menonjol dalam pelajaran IPA, tapi ia menonjol dalam bidang olahraga atau musik.

    ReplyDelete
  74. Devi Nofriyanti
    17709251041
    PPS P.Mat B 2017

    Analogi yang bapak berikan ditulisan ini antara belalang dan logos adalah potret pembelajaran yang banyak terjadi di kelas, terutama kelas matematika. guru terlalu memaksakan kehendaknya untuk mentransfer ilmu yang guru punya agar mampu diserap oleh semua siswa. namun ia tidak memperhatikan bahwa siswa hanya merasa terbebani dengan pengajaran yang seperti itu. alhasil matematika dianggap sebagai pelajaran yang tidak mengasyikkan, sulit dipahami siswa.

    ReplyDelete
  75. Dewi Saputri
    17701251036
    PEP B S2

    Assalamu'alaikum Wr. Wb.

    saya dapat mengambil hikmah dari percakapan antara logos dan belalang. Dimana kita tidaklah dapat menggapai sesuatu jika ada kesombongan didalam diri. Dan kita juga tidak dapat memaksakan kehendak kita agar orang lain sejalan dengan apa yang kita kehendaki. Karena setiap orang mempunyai pikiran dan tujuan hidup yang berbeda-beda.

    ReplyDelete
  76. Rahmi Puspita Arum
    17709251018
    PPs P.Mat A UNY 2017

    Segala cita-cita dan impian kita memang dapat terwujud jika kita berusaha untuk menggapainya. Akan tetapi ada hal yang memang tidak bisa kita gapai yaitu melawan takdir Tuhan. Memang benar ada pepatah mengatakan “impossible is nothing on the world”, namun kita sebagai manusia memiliki batas-batas yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Selama keinginan kita masih dalam batas-batas yang ditentukan maka berusahalah karena akan ada harga dari setiap usaha kita.

    ReplyDelete
  77. Muhammad Kamaluddin
    P. Mat B PPs 2017
    17709251027

    Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh berekspektasi terlalu tinggi terhadap sesuatu. Kaitannya dalm proses pembelajaran, sebagai sebagai seorang guru kita tidak boleh selalu berekspektasi terlalu tinggi kepada siswa. Pasalnya kemampuan setiap siswa beragam, dan ungkapan bahwa setiap siswa itu unik memang benar adanya. Untuk itu, sebagai seorang guru yang baik kita tidak boleh memaksakan kehendak. Sebaik - baik guru adalah yang mampu membangun komunikasi yang baik dengan siswanya dan mengerti apa yang dibutuhkan siswanya untuk mencapai prestasi optimalnya.

    ReplyDelete
  78. Elsa Susanti
    17709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas B

    Dari elegi ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa semuanya harus diletakkan pada ruang dan waktu yang tepat. Komunikasi tidak akan berhasil apabila lawan bicara berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Ini sama artinya saat kita mempunyai kunci namun kunci tersebut tiada artinya jika tidak dipasangkan untuk membuka pintu yang sesuai. Maka letakkanlah sesuatu sesuai kodratnya dan segeralah mohon ampun atas segala kesalahan.

    ReplyDelete
  79. Angga Kristiyajati
    17709251001
    Pps UNY P.Mat A 2017

    Terima kasih Banyak Pak Prof. Marsigit.

    Kami memahami bahwa untuk menjadi manusia yang baik dan bijaksana, kami sebagai manusia harus mampu untuk menempatkan diri kami sesuai dengan dimensi ruang dan waktu. Sebagai seorang guru, kami menyadari bahwa kami harus bisa menembus ruang dan waktu dari murid-murid kami. Kami harus mampu untuk mengenal mereka seideal mungkin. Sehingga dengan demikian tidak ada jarak yang terlalu jauh antara apa yang kami harapkan sebagai seorang guru dengan apa yang bisa dicapai murid kami.

    ReplyDelete
  80. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Saya tertarik untuk mengulas pernyataan dari salah satu belalang yakni "Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal", hal ini dapat kita tarik pada kehidupan bahwa manusia pada dasarnya tidak akan pernah puas, jika mereka bisa makan, maka mereka akan memimpikan makanan yang lebih lezat. Sama halnya dengan seseorang yang memiliki jabatan tertentu, mereka akan berusaha naik dan naik. Hal yang demikian ini dari elegi ini dilakukan oleh seorang "BELALANG", bukan seorang logos. Jadi, jika logos melakukan hal yang demikian itu, maka logos tersebut sejatinya telah berubah menjadi seorng belalang. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  81. Fitri Ni'matul Maslahah
    17709251058
    PPs PM C

    Elegi ini mengingatkan kita bahwa di antara manusia ada manusia yang ingin makan hanya dengan berpikir saja, ada yang bekerja keras demi bisa makan, ada yang tengah siap-siap untuk makan, serta ada pula yang tidak puas dengan yang telah diperolehnya dan menginginkan yang lebih dari itu. Sedangkan baik orang yang berilmu maupun tidak sama-sama terbuka kesempatan untuk berbuat salah, sehingga tidaklah benar menyombongkan diri sendiri dan mengunggulkan kelebihan dirinya, sedangkan sebenar-benar yang kita miliki ialah titipan dari Tuhan. Wallahu a'lam

    ReplyDelete
  82. Arina Husna Zaini
    PEP S2 B
    17701251024
    Assalamualaikum Wr.Wb
    Keunikan dari dialog dan logos yakni dialog mereka tak terarah dan tidak jelas karena logos memaksa memerintah belalang dan belalang tidak mendengarkan apa yang dikatakan logos. Benar apa yang dikatakan oleh spiritual bahwa logos dan belalang sama-sama sombong, logos sombong dengan keilmuannya sehingga ingin mengubah orang lain sesuai dengan apa yang diinginkannya, sedangkan belalang sombong dengan kemampuannya yang bisa melompat padahal masih banyak yang belum dia ketahui. Jika hal diatas direfleksikan dalam dunia pendidikan logos adalah guru dan belalang adalah murid, maka dalam proses belajar mengajar guru boleh saja memiliki ekspetasi pada muridnya, namun ekspetasi ini harus sesuai dengan keadaan murid, tidak perlu berekspetasi terlalu tinggi. Guru sebaiknya mengajar sesui dnegan kebutuhan siswa, dapat menjadi teman delajar sehingga proses belajar mengasikkan dan tidak terkesan tegang dan tentunya tidak memaksakan kehendak kepada siswa, jika ada anak yang sudah ataupun sulit untuk diatur , hal ini menjadi tantangan guru untuk menghadapinya dengan sabar dan baik.Terima Kasih.

    ReplyDelete
  83. Arung Mega Ratna
    17709251049
    PPs PMC 2017


    Setiap manusia memiliki keinginan dan cita-cita yang tingi. Hal itu harus diiringi dengan usaha dan doa. Tetapi jangan terlalu berlebihan sampai tidak ingat batas kemampuan yang dimiliki. Karena dengan memaksakan kemampuan yang melebihi batas kemampuan kita akan mengakibatka kita lelah dan patah semangat. Usaha dan doa harus terus beriringan. Jika suatu saat nanti masih belum berhasil, maka segera mohon ampun kepada Allah dan mohon petunjuk untuk dapat menggapai cita-cita yang diinginkan.

    ReplyDelete
  84. Latifah Fitriasari
    17709251055
    PPs PM C

    Supaya kita tidak terlalu sering mengalami kecewa, salah satunya dengan mengontrol ekspektasi kita. Asal-muasalnya pun serupa yaitu kita terlalu percaya dan memasang ekspektasi, kemudian ekspektasi ini gagal terpenuhi. Kita membebani orang lain dengan harapan tinggi. Nyatanya mereka tak sesempurna yang kita bayangkan selama ini. Berharap adalah fitrah manusia karena tak mungkin untuk menghentikannya begitu saja. Namun tampaknya ada yang perlu diubah dari cara kita berekspektasi. Mungkin memang tak tepat untuk mengharapkan orang lain selama ini. Mungkin, satu-satunya tempat berharap di dunia ini adalah Tuhan dan diri sendiri.

    ReplyDelete
  85. Metia Novianti
    17709251021
    PPs P.Mat A

    Setiap orang pasti memiliki ekspektasi. Elegi logos berdialog dengan belalang pada postingan kali ini mengajarkan kita agar tidak berekspektasi yang terlalu tinggi, karena ketika ekspektasi kita tidak terwujud akan menjadi boomerang bagi kita sendiri dan kita akan kecewa. Ekspektasi yang terlalu tinggi dapat berbahaya palagi bila kita limpahkan kepada siswa. Kemampuan siswa yang berbeda-beda dengan daya serap ilmunya yang berbeda membuat hasil yang diperoleh akan berebeda pula.

    ReplyDelete
  86. Insan A N/PPs PmC 2017/17709251052
    Dari elegi ini saya dapat mengambil suatu pelajaran, untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi(dalam hal ini kemajuan pegetahuan dan berpikir), maka perlu adanya interaksi antara logos(ilmu, guru) dan belalang(siswa, murid). Dengan interaksi ini, maka para belalang akan berkembang menjadi dewanya belalang, siswa bisa menjadi ahli dalam berbagai bidang

    ReplyDelete
  87. Putri Solekhah
    17709251006
    S2 Pend. Matematika A

    Assalamu'alaikum wr wb,

    Maksud dari intro di atas ialah dialog yang terjadi pada suatu pembelajaran oleh guru atau dosen serta 25 siswa atau mahasiswa yang mengikuti pembelajaran tersebut. Logos ialah sang guru atau dosen dan para belalang ialah para siswa ataumahasiswa. Dari dialog tersebut saya menyimpulkan bahwa belalang diibaratkan sebagai peserta didik yang mengikuti pembelajaran namun pikirannya tidak berada pada kegiatan pembelajaran tersebut. Artinya mereka tidak memperhatikan dengan baik apa yang dismpaikan oleh pendidik selama pelaksanaan pembelajaran. Hal tersebut berakibat para siswa atau mahasiswa tidak nyambung dengan apa yang sedang dibicarakan atau ditanyakan oleh guru atau dosen.

    Pesan moral yang diperoleh ialah bahwa kadangkala kita dapat berperan sebagai pendidik maupun peserta didik harus bersungguh-sungguh dan ikhlas dalam menjalani kegiatan pembelajaran. Sebagai seorang siswa atau peserta didik, kita hendaknya memperhatikan apabila guru/dosen sedang memberikan penejelasan tentang materi perkuliahan karena salah satu sumber ilmu dalam kegiatan pembelajaran ialah guru/dosen. Begitu pula sebagai seorang pendidik, hendaknya kita tidak berekspetasi terlalu tinggi dan mengharap semua siswa akan memperhatikan 100% apa yang kita sampaikan. Karena bisa jadi siswa kita sedang mengalami masalah konsentrasi sehingga tidak fokus dalam pelaksanaan pembelajaran. Hendanya kita sebagai pendidik memberikan variasi metode pembelajaran agar siswa tertarik dalam mengikuti dan memperhatikan pembelajaran yang kita berikan.

    ReplyDelete
  88. Ramayanti Agustianingsih
    17709251045
    PPs PMat C 2017

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Dialog yang cukup menarik, dari dialog tadi tergambar bahwa semua ada ruang dan waktunya. Dalam hal pembicaraan pun ada ruang dan waktunya jika ruang dan waktunya tidak sesuai maka pembicaraan yang terjadi pun menjadi tidak terarah, tidak ada yang dihasilkan melainkan ketidaksesuaian, tidak ada pengetahuan yang akan terbentuk oleh karena itu dalam berbicara kita harus melihat siapa dahulu lawan bicaranya kemudian menentukan teknik/topik pembicaraanya atau dengan kata lain kita harus masuk/menyesuaikan diri dengan ruang dan waktunya sang lawan biacara. Sekian dan terima kasih.
    Wassalamualaikum, wr.wb.

    ReplyDelete
  89. Novita Ayu Dewanti
    17709251053
    S2 PMat C 2017

    Bismillah
    Elegi ini menceritakan tentang logos yang bertemu dengan belalang dalam pertemuan formal. Dalam elegi ini dinyatakan bahwa tidak ada seorang pun yang benar benar logos, namun seseorang tersebut sedang berusaha menggapai logos dan seseorang bukan belalang melainkan sedang berusaha untuk menggapai dewa. Dewa disini adalah seseorng yang mampu menembus ruang dan waktu bersama logosnya.

    ReplyDelete
  90. Firman Indra Pamungkas
    17709251048
    S2 Pendidikan Matematika 2017 Kelas C

    Assalamualaikum Warohmatullah Wabarokatuh
    Memiliki impian untuk menggapai sesuatu yang tinggi tidaklah salah, seperti sebuah ungkapan gapailah mimpi setinggi langit. Mimpi hanya akan tetap menjadi mimpi jika kita tidak pernah terbangun. Yang berarti impian tidak akan terwujud jika kita tidak segara melakukan tindakan untuk mewujudkannya. Yang penting adalah menggunakan sedaya upaya untuk menggapai impian itu tetapi tidak dengan menghalalkan segala cara. Untuk menggapai impian tersebut kita harus menggapai ilmu. Namun sebenar-benarnya manusia tidak dapat menggapai ilmu, hanya berusaha untuk menggapai ilmu.

    ReplyDelete
  91. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Percakapan di atas memberi pelajaran bahwa kita tidak bisa berharap terlalu tinggi pada sesuatu yang tidak pasti atau berubah-ubah. Yang menjadi tugas kita adalah terus berusaha tanpa kenal putus asa. Bahwa ada yang harus kita perjuangkan, meski yang sedang diperjuangkan bersifat ada dan yang mungkin ada.

    ReplyDelete
  92. Tari Indriani
    17701251027
    S2 PEP B

    Assalamu'alaikum wr.wb
    Dari cerita di atas, berdialog dengan belalang adalah hal yang sia-sia. Karena mereka melihat dan mendengarkan tetapi tidak memahami dan tidak memaknai. Mereka hanya sekedar iku-ikutan saja. Dari belalang kita belajar, bahwa jangan sampai hal yang kita lakukan tidak ada maknanya (tidak mengandung kebaikan). Jika tak banyak manfaat untuk orang lain, minimal bermanfaat untuk diri kita sendiri.

    ReplyDelete
  93. Ilania Eka Andari
    17709251050
    S2 PMat C 2017

    Elegi ini menyadarkan saya bahwa kita tidak boleh memaksakan kehendak jika sedang berdialog. Belum tentu apa yang ingin kita bicarakan akan dimengerti oleh lawan bicara kita. Kita tidak boleh berbicara dengan sombong, berbicara dengan bahasa yang tinggi dengan orang yang kita anggap tidak tahu apa-apa, maka dialog itu pun akan menjadi tidak nyambung seperti dialog antara logos dan belalang di atas. Mereka berdialog dengan perbedaan ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  94. Vidiya Rachmawati
    17709251019
    PM A

    Elegi dialog antara logos dan belalang ini menjelaskan tentang perbincangan seseorang yang tinggi ilmu dengan seseorang yang gagal paham dengan isi perbincangan tersebut. Hal ini memberikan hikmah bagi kita bahwa mengetahui lawan bicara adalah suatu hal penting. Hal ini dimaksudkan agar pesan yang disampaikan dapat dipahami dengan baik. Tidaklah sopan apabila kita berbicara ilmu matematika setinggi puncak gunung kepada siswa sekolah dasar yang berada di kaki gunung. Bisa jadi ilmu yang disampaikan justru menjadi bencana baginya.

    ReplyDelete
  95. Nurika Miftahuljannah
    PPs Pendidikan Matematika Kelas C
    17709251060
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dalam hidup, kesombongan adalah hal yang perlu dibuang jauh-jauh. Elegi ini mengajarkan kepada kita bahwa kesombongan perlu segera mungkin dihapuskan. Tak ada yang patut kita sombongkan. Semua yang kita miliki sesungguhnya hanyalah milik Allah SWT yang dititipkan kepada kita. Jangan sampai Allah mengambil semua yang kita miliki karena kesombongan kita.
    Wassalamu'alaikum wr. wb.

    ReplyDelete
  96. Nama : Mirza Ibdaur Rozien
    NIM : 17709251064
    Kelas : Pascasarjana Pendidikan Matematika C

    BISMILLAHIRROHMANIRROHIM
    Kita agar menjadi seseorang yang berkembang seharunya harus berani mencari jumping stone atau batu loncatan dari zona nyaman yang membuat kita tidak berkembang kemampuannya. Karena hal ini akan memperluas pengetahuan dan memberikan banyak sekali pengalaman yang berharga dan berguna untuk masa yang akan datang.
    TAMMA BIHAMDILLAH

    ReplyDelete
  97. Nama: Dian Andarwati
    NIM: 17709251063
    Kelas: Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

    Assalamu’alaikum. Elegi diatas menceritakan tetang interaksi antara belalang dengan logos. Logos memiliki harapan yang tingi kepada belalang. Pada akhirnya belalang tidak dapat memenuhi ekspektasi dari logos, hingga logos lelah berkespektasi. Sebenarnya belalang dan logos itu sama-sama sedang belajar untuk memahami satu sama lain.

    ReplyDelete
  98. Yustine Maulina
    17709251022
    PPs Pend Matematika A 2017

    Dari elegi saya mendapat sebuah pelajaran, bahwa kita tidak boleh memandang rendah sesuatu dan sekaligus juga kita tidak boleh berkespektasi terlalu tinggi terhadap suatu hal yang lain, karena itu akan membuat kita terlalu sibuk menilai hal lain dan tidak berkaca pada diri sendiri dan kemudian memperbaiki diri kita.

    ReplyDelete
  99. Eka Luthfiana Lathifah
    17709251062
    PPs PMat C

    pelajaran yang dapat diambil dari percakapan tersebut adalah bahwa kita tidak boleh berharap terlalu tinggi terhadap sesuatu, disesuaikan dengan kemampuan. harus berdasarkan ruang dan waktu. selain itu juga kita juga tidak boleh menyombongkan diri, apalah yang pantas untuk disombongkan, karena semuanya hanya titipan dari Allah. kita hendaknya mengevaluasi diri agar dapat memperbaiki diri kita.

    ReplyDelete
  100. Dewi Thufaila
    17709251054
    Pendidikan Matematika Pascasarjana C 2017

    Assalamualaikum.wr.wb

    Belalang tidak paham instruksi dari logos, hal tersebut karena belalang belum bisa menggapai apa yang diinginkan logos. Keduanya juga dalam menggapai ruang dan waktu berbeda, hal tersebut dapat karena perbedaan pengalaman dan pegetahuan.

    Wassalamualaikum.wr.wb

    ReplyDelete
  101. Luthfi Nur Azizah
    17709251002
    PPs P.Mat A

    Berbicara mengenai logos dan belalang memang merupakan keadaan yang berbeda. Seorang logos sebagai yang memiliki ilmu mencoba berbicara kepada belalang yang tidak memahami apa yang dibicarakan. Sama saja ketika guru berbicara dalam konteks ruang dan waktu tidak tepat pada siswa yang belum emgetahui apa yang sedang ia bicarakan. Tidak ada sang Maha Memiliki SegalaNya kecuali Allah SWT. Oleh karena itu, memiliki ilmu belum cukup untuk memhami berbagai hal yang ada di dunia ini sehingga memang tugas manusia adalah mencari ilmu sebanyak-banyaknya untuk bekal di kehidupan dunia maupun akhirat.

    ReplyDelete
  102. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  103. Atik Rodiawati
    17709251025
    S2 Pendidikan Matematika B 2017

    Keterbatasan kemampuan atau ketidaksetaraan kemampuan sepertinya merupakan topik yang diangkat dari elegi ini. Dari yang saya tangkap, ketidaksetaraan ini bisa terjadi antara guru dengan murid, dosen dengan mahasiswa atau dengan kata lain bisa dikatakan ketidaksetaraan antara kemampuan seseorang yang relatif berilmu lebih dengan seseorang yang relatif berilmu lebih rendah. Logos dianalogikan sebagai seseorang yang berilmu relatif lebih tingggi sedangkan belalang dianalogikan kebalikannya. Terlihat dari ketidakakuratan belalang bahkan dalam menyebutkan nama logos yang selalu salah. Begitu juga dalam dalam upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan dari logos yang juga, selalu di luar konteks.

    ReplyDelete
  104. Endar Chrisdiyanto
    Pendidikan Matematika A 2015
    15301244011
    Assalamu’alaikum, Wr.Wb
    Dari elegi ini, saya memhami bahwa seseorang mempunyai kesempatan yang sama dalam sesuatu hal. Akan tetapi hal itu tergantung dari usaha yang dilakukan seperti logos bisa menjadi belalang dan juga dewa sedangkan belalang tidak mampu menjadi dewa karena tidak mampu menembus dimensi ruang dan waktu dan juga tidak tahu apa-apa.

    ReplyDelete
  105. Febriana Putri Hutami
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241007

    Dari elegi logos berdialog dengan belalang, dapat dilihat bahwa ketika seseorang berdialog, sebaiknya ia mengetahui kapasitas lawan bicaranya. Agar tujuan dari berdialog dapat tercapai. Ekspektasi yang terlalu tinggi terhadap lawan bicaranya namun tidak dimbangi dengan memahami kapasitas lawan bicaranya, tidak akan mencapai tujuan berdialog. Karna pembicaraan itu hanya akan ngalor ngidul tanpa tujuan yang jelas. Maka dari itu, ekspektasi yang terlalu tinggi dapat menyebabkan orang yang berekspektasi akan kecewa. Misalnya, guru yang berekspektasi terlalu tinggi bahwa siswa akan paham dengan definisi-definisi yang ia sampaikan tanpa memperhatikan kapasitas siswa SD, sehingga siswa tidak nyambung dengan yang guru sampaikan.

    ReplyDelete
  106. Qorry Aina Fitroh
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241047

    Keduanya, antara logos dan belalang memiliki kesombongannya masing-masing. Logos sombong akan ilmu yang dimilikinya, sedangkan belalang sombong akan kemampuan melompatnya padahal banyak hal yang belum mereka ketahui dan kuasai. Dari hal tersebut kita belajar bahwa kesombongan seharusnya tidak menjadi sifat manusia, karena sejatinya segala hal yang dimiliki adalah titipan dariNya.

    ReplyDelete
  107. Siti Efiana
    15301241029
    S1- Pend.Mat I 2015

    Terima kasih, Prof. Dari elegi ini saya menjadi mengetahui bahwa saat berkomunikasi dengan orang lain hendaknya kita mengerti karakteristik, situasi, dan kondisi orang itu sehingga komunikasi pun bisa berjalan lancar. Selain itu, kaitannya dengan pembelajaran, seorang guru tidak boleh terlalu berekspektasi terhadap murid-muridnya, karena setiap murid memiliki kapasitas masing-masing, tugas seorang guru hanyalah memfasilitasi dan mengarahkan.

    ReplyDelete
  108. Siti Nur Fatimah
    15301241045
    Pendidikan Matematika A 2015

    Berdasarkan elegi percakapan logos dan belalang, dimana logos yang memiliki ilmu berbicara kepada belalang yang tidak memahami apa yang logos bicarakan. Berdasarkan hal tersebut saya menyimpulkan bahwa. Ketika kita berbicara dengan seseorang, kita harus mengetahui dulu kapasitas atau kemampuan orang tersebut agar pembicaraan nya nyambung atau keduanya saling mengerti. Sehingga tujuan pembicaraan tersebut bisa tercapai. Seperti hal nya dalam pembelajaran. Guru harus paham dulu kapasitas atau kemampuan siswa nya ,agar nantinya siswa dapat mengerti apa yang disampaikan oleh guru. Misalnya dalam mengajarkan matematika pada anak-anak sebaiknya tidak melalui definisi karena anak belum mampu menerima sesuatu yang abstrak, oleh karena itu ketika mengajarkan matematika kepada anak melalui definisi ataupun sesuatu yang abstrak maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai.

    ReplyDelete
  109. Woro Alma Manfaati
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241002

    Dari elegi di atas kita dapat belajar bahwa janganlah berekspektasi terlalu tinggi, lebih baik jadilah orang yang mampu untuk mengendalikan ekspektasi yang kita miliki. Sebab jika ekspektasi yang kita miliki itu tidak tercapai maka hal tersebut akan membuat diri kita kecewa dan dapat membebani orang lain juga. Berharap merupakan fitrah manusia, namun perlu menjadi catatan bahwa berharap yang tepat itu bukan kepada sesama manusia tetapi kepada Allah.

    ReplyDelete
  110. Yolanda Lourenzia Tanikwele
    15301241033
    S1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi ini mengajarkan bahwa ketika berdialog dengan orang lain kita harus bisa memosisikan diri kita sama dengan mereka sehingga tujuan dari dialog tersebut tercapai da jangan berekspektasi terlalu tinggi karena apabila tidak sesuai harapan akan timbul kekecewaan. Begitu juga dalam pembelajaran jangan sampai guru terlalu memanksakan kehendaknya mentransfer ilmu begitu saja tetapi cobalah berkomunikasi dan menjelaska sesuai tingkatan berpikir siswa dan menjadi fasiitator bagi siswa untuk memperoleh pengetahuan yang bermakna.

    ReplyDelete
  111. Rahma Hayati Nurbuat
    15301244007
    S1- Pendidikan Matematika I 2015
    Terima kasih Prof. atas informasi dan ilmunya yang telah dibagikan. Dari artikel tersebut saya belajar bahwa sebagai eorang pendidik yang bertugas untuk memfasilitasi peserta didiknya, kita harus bersikap netral. Dalam artian tidak boleh memihak dan memberikan penilaian yang bersifat pribadi terhadap hal-hal yang kurang disukai di dalam kelas. Hal etrsebut agar dapat mengapresiasi kelebihan dan kekurangan yang dimiliki peserta didik, karena mereka memiliki karakteristik yang harus difasilitasi berdasarkan gaya belajarnya masing-masing.

    ReplyDelete
  112. Raudhah Nur Pratiwi (15301244009)
    S1- Pend. Matematika A 2015

    Bismillah,
    Terimakasih atas eleginya Prof. Setelah saya membaca elegi tersebut, saya mengibaratkan logos itu seperti guru dan ilmu, dan belalang itu seperti siswa. Bahwa guru tidak boleh berkespektasi terlalu tinggi terhadap siswa. Sama halnya dengan logos yang berkekspektasi tinggi kepada belalang. Kemampuan yang dimiliki siswa itu berbeda-beda, jadi tidak bisa seorang guru menghadapkan siswanya langsung paham akan pelajara. Disebutkan pula bahwa “Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus ruang dan waktu bersama logosmu”. Sehingga untuk mendapatkan pemebelajaran yang baik, seorang guru harus mampu untuk menembus ruang dan waktunya siswa.

    ReplyDelete
  113. Fitria Restu Astuti
    15301241040
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Dari elegi ini saya menangkap bahwa belalang dan logos dikatakan berada pada dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Logos sudah berhasil menembus ruang dan waktu sedangkan belalang masih terperangkap dalam ruang dan waktu. Logos dapat memahami belalang tetapi belalang tidak mampu mengerti logos. Logos diibaratkan sebagai seseorang yang mampu memahami filsafat sedangkan belalang mencerminkan seorang yang masih awam. Namun meskipun kita memiliki ilmu setinggi apapun, kita tidak diperkenankan untuk mneyombongkannya. Karena semua yang ada di dunia ini hanyalah sementara.

    ReplyDelete
  114. Almaida Alvi Zahrotunnisa
    Pendidikan Matematika A 2015/S1
    15301241046
    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Dari artikel tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kita harus dapat menempatkan diri sesuai ruang dan waktu. Kita tidak boleh memaksakan kehendak dan kita harus bertindak sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

    ReplyDelete
  115. Nur’aini Habibah Sa’diyyah
    15301241044
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Berdasarkan elegi ini saya memahami bahwa janganlah terlalu berekspetasi atau berkeinginan terlalu tinggi. Selain itu, kita sebagai manusia harus selalu refleksi terhadap diri sendiri dan memohon pengampunan atas segala kesalahan yang diperbuat. Dimanapun kita berpijak, disanalah kita berusaha untuk menjadi sesuatu yang sepandan dengan yang ada di lingkungan itu. Beberapa dianggap orang yang telah berilmu adalah ia yang mampu menembus ruang dan waktu.

    ReplyDelete
  116. Hanifah Prisma Sindarus
    15301244013
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi ini mengajarkan kepada kita, untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi. Berkespektasi terlalu tinggi, berkespektasi akan hal-hal indah yang kamu dapatkan dan inginkan, namun terkadang tak semua ekspektasi itu akan berwujud realita. Tidak ada orang hidup yang tidak punya ekspektasi,yang jadi masalah hanya sejauh mana kita bisa mengontrol ekspektasi tersebut.

    ReplyDelete
  117. Isykarima Nur S
    15301241032
    S1 Pend. Matematika A 2015

    Yang dapat saya ambil dari elegi di atas adalah, saya tertarik dengan kalimat “Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.” Kesombongan adalah hal terburuk dari sifat manusia. Meski yang dimilikinya hanyalah sedikit ilmu tapi tetap saja menyombongkan diri. Sebagai makhluk Allah hendaklah kita menghindarkan diri dari sifat tersebut.

    ReplyDelete
  118. Nur Sholihah
    15301241020
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Tidak ada rasa kecewa jika tidak ada pengharapan yang berlebih. Berharaplah hanya kepada Allah, refleksi diri dan berdoa agar kita dapat mencapai yang kita harapkan. Dari elegi ini, sebagai seorang guru (logos) seharusnya lebih memahami keadaan dan pengetahuan siswanya sehingga guru tidak hanya memberikan apa yang ingin dia berikan namun memberikan apa yang siswa butuhkan.

    ReplyDelete
  119. Kristanti
    15301241041
    Pendidikan Matematika A 2015

    Elegi ini mengajarkan pada kita, bahwa setiap orang itu memiliki keterbatasan. Dalam pendidikan, seorang guru harus menempatkan dirinya sesuai dengan kemampuan yang bisa dicapai siswanya. Jangan mengharapkan siswanya terlalu tinggi, karena setiap anak memiliki kemampuan masing-masing. Jika seorang guru terlalu menunjukkan kemampuannya, dan mengharapkan siswa dapat mengikutinya, maka itu bisa dikatakan guru tersebut sudah sombong. Naudzubillah..

    ReplyDelete
  120. Gandes Sih Mustika
    S-1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241015

    Pelajaran yang dapat saya ambil adalah sebagai manusia kita harus mempu bercermin pada diri kita mengenai apa yang mampu kita lakukan dan yang tidak dapat kita lakukan. Sebagai manusia kita tidak boleh memiliki kesombongan sedikitpun.

    ReplyDelete
  121. Alfiani Indah P S
    15301241027
    S1-Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi di atas menggambarkan guru dengan muridnya. Sebagai guru, janganlha kita menuntut siswa kita untuk menuruti apa yang kita mau, apa yang kita harapkan, dan menuntut mereka sama dengan kita. Pikiran siswa tentu saja tidak bisa sama dengan seorang guru karena kapasitas yang dimiliki juga berbeda. Oleh karena itu, saat merencanakan pembelajaran, guru harus mempersiapkannya dengan mencoba melihat dari sudut pandang siswa. Jangan sampai pembelajaran yang dilakukan menurut sudut pandang guru dan membuat siswa menjadi bingung.

    ReplyDelete
  122. Malidha Amelia
    S1 Pendidikan Matematika A 2015
    15301241016

    Dari dialog diatas, seperti yang dikatakan oleh orang tua berambut putih, bahwa logos memiliki ambisi yang salah, sehingga dari semua pertanyaan yang diakatakan oleh logos tidak mampu untuk dijawab oleh belalang. Dan disitu terlihat adanay kesombongan antara logis dengan belalang. Sehingga seharusnya mereka segera merefelksikan diri dan mohon maaf atas segala kesombongan yang dilakukannya.

    ReplyDelete
  123. Monica Ansella
    15301241008
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Elegi ini menggambarkan percakapan yang terjadi antara guru dan murid di dalam sebuah pembelajaran. Guru dalam elegi tersebut menaruh harapan yang tinggi pada murid-muridnya, padahal sebenarnya mereka masih dalam tahap belajar, yang ilmunya belum begitu tinggi. Menurut saya, tidak ada salahnya menaruh harapan pada siswa, karena hal tersebut sama dengan bersikap positif atas potensi yang siswa miliki. Namun seorang guru juga harus pandai menilai kemampuan siswanya sehingga ia dapat memperkirakan metode apa yang cocok untuk menyelenggarakan pembelajaran. Usaha guru ini juga harus diimbangi oleh usaha murid. Jika keduanya bersinergi, para belalang itu pun akan dapat menggapai Dewa, yaitu membangun ilmunya sekaligus memenuhi harapan sang guru.

    ReplyDelete
  124. Rina Musannadah
    15301241039
    S1 Pendidikan Matematika I 2015

    Dari elegi ini, kita dapat memahami bahwa kita harus dapat memosisikan diri terhadap lawan bicara kita agar tidak ada kesombongan antar dua pihak dan komunikasi dapat berjalan dengan lancar. Hal ini dapat kita terapkan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran matematika, kita tidak boleh memosisikan diri sebagai guru yang sudah tahu akan segala hal yang akan diajarkan, kita harus memosisikan diri sebagai peserta didik yang belum memiliki ilmu akan hal tersebut. Dengan memosisikan diri sebagai peserta didik, kita dapat menyampaikan penjelasan dengan bahasa yang dapat dipahami oleh peserta didik. Bukan bahasa yang dianggap bahasa dewa oleh peserta didik.

    ReplyDelete
  125. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  126. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    PPS Pend. Matematika A

    Dari elegi tersebut dapat diamabil pelajaran bahwa orang berilmu harus tahu kepada siapa ia berbicara, dan bagaimana ia berbicara. Karena apabila seseornga yang berilmu lantas berbicara dengan orang lain sesuatu yang sulit justru dia sedang menunjukan kesombongan. Orang berilmu itu adalah orang yang pandai dalam beradaptasi. Maka dari itu tidak pantas seorang manusia sombong hanya karena memiliki ilmu yang lebih tinggi. Ingat di atas langit masih ada langit.

    ReplyDelete