Oct 28, 2014

Elegi Logos Berdialog Dengan Belalang




Dialog berikut dibuat berdasarkan kisah nyata pertemuan antara Logos dengan sekumpulan Belalang terdiri dari  25 ekor, yang terjadi pada Ruang dan Waktu Formal.


Logos :
Saya sedang menyaksikan di depanku ada 1, 2, 3, .....dst 25 ekor Belalang
Wahai Belalang 1, mengertikah engkau dengan ucapanku ini?

Belalang 1:
Wahai Sogol, sebenar-benarnya saya adalah sedang lapar?

Logos :
Wahai Belalang 2, siapakah dirimu itu?

Belalang 2:
Wahai Sgool, saya sedang memburu mangsa?

Logos:
Wahai Belalang 3, dari manakah dirimu itu?

Belalang 3:
Wahai slogo, mangsa hampir kutangkap.

Logos:
Wahai Belalang 4, siapakah namamu itu?

Belalang 4, aku siap melompat.

Logos:
Wahai Belalang 5, mau kemanakah engkau itu?

Belalang 5:
Wahai goolos, minggir itu ada belalang cantik.

Logos:
Wahai Belalang 6, apakah makanan kesukaanmu itu?

Belalang 6:
Wahai gosool, aku ingin gosool.

Logos:
Wahai Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15 apakah engkau mendengan kata-kata saya?

Belalang 7, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 14 dan 15:
Osloog..osloog bathok. Bathok e ila ilu.

Logos:
Wahai Belalang 16, 17, 18, 19, 20, apakah engkau melihat diriku?

Belalang 16, 17, 18, 19, 20:
Daun pucuk ternyata lebih enak dari daun pangkal.

Logos:
Wahai Belalang 21, 22, 23, 24, apakah engkau mampu berpikir?

Belalang 21, 22, 23, 24:
Kakiku lebih berguna dari sayapku.

Logos:
Dimana Belalang 25? O rupanya dia terperangkap oleh jaring laba-laba.

Logos:
Oh kenapa tiba-tiba pikiranku lelah, staminaku menurun. Wahai Orang Tua Berambut Putih, bersediakah engkau menolong diriku?

Orang Tua Berambut Putih:
Aku sudah tahu persoalanmu. Kesalahanmu adalah engkau mengharapkan yang terlalu tinggi dari seekor Belalang.

Logos:
Bukankah aku sudah berikhtiar, tetapi kepada Belalang tetaplah Belalang. Apakah tidak boleh seekor Belalang berkenalan dengan Logos.

Orang Tua Berambut Putih:
Boleh sih boleh. Tetapi ambisimu agar para Belalang mempunyai Logos itulah yang bermasalah.

Logos:
Wahai Spiritual, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?

Spiritualisme:
Aku melihat baik Logos maupun para Belalang sama-sama mempunyai kesalahan dan kesombongan masing-masing. Saranku adalah agar engkau semuanya segera merefleksikan diri dan mohon ampun atas segala kesalahan.

Orang Tua Berambut Putih:
Tiadalah sebenar-benar dirimu itu Logos; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Logos.
Tiadalah sebenar-benar dirimu Belalang; yang benar adalah engkau sedang berusaha menggapai Dewa. Belalang adalah dirimu yang terperangkap oleh Ruang dan Waktumu; sedangkan Dewa adalah dirimu yang berhasil menembus Ruang dan Waktu bersama Logosmu.

11 comments:

  1. Rindang Maaris Aadzaar
    18709251024
    S2 Pendidikan Matematika 2018

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Dari percakapan antara logos dan belalang, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita tidak boleh terlalu ambisius saat ingin mencapai sesuatu yang diinginkan. Ambisisus itu merupakan cita-cita yang diniati dengan ego dan sifat determine yang besar, semua itu harus dibarengi dengan motif, doa, dan komunikasi. Jika hanya ambisi saja dikhawatirkan akan terjebak dalam tempat yang sempit dan parsial yang seakan-akan hal tersebut sudah menjadi kebenaran yang universal, namun sebetulnya tidak. Misalnya ambisius salah satunya dapat menimbulkan keadaan perfectionist, perfect itu yang mengidam-idamkan atau menginginkan segala sesuatu itu sempurna. Padahal sebenar-benarnya manusia yang sempurna itu adalah yang sadar akan ketidaksempurnaan. Maka yang dikatakan perfect itu adalah sempurna dalam kesempurnaan, sempurna dalam ketidaksempurnaan dan tidak sempurna dalam kesempurnaan. Tetapi jika kita parsial perfect itu sempurna sesuai dengan yang dipikirkan dan dirasakan, namun hal tersebut mengakibatkan ketidaksesuaian dengan orang lain. Maka dari itu ambisi harus diimbangi dengan ikhtiar dan doa. Jadi dalam menghadapi persoalan, solusinya bisa cepat atau lambat, bahkan bisa bertahun-tahun. Sabar, berdoa dan ikhtiar yang perlu kita lakukan dalam menentukan sebuah solusi.

    Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

    ReplyDelete
  2. Septia Ayu Pratiwi
    18709251029
    S2 Pendidikan Matematika B

    Saya rasa percakapan diatas sangat menarik. Dari percakapa diatas dapat diceritakan bahwa logos sangat berharap pada belalang, meskipun ia juga sedang memperingatkan si belalang namun si belalang tidak mendengarkan. Ia hanya berambisi untuk memiliki atau menggapai sesuatu. Ambisi yang disertai kesombongan tersebut akhirnya berakhir dengan seekor belalang terperangkap oleh jarring laba-laba. Cerita pada tulisan diatas mengajarkan kita bahwa sesungguhnya kesombongan akan menghancurkan diri kita sendiri. Ambisiusitas yang tidak terkontrol pun akan menghancurkan diri kita juga. Terkadang kita perlu mendengarkan saran dari orang lain untuk mengontrol emosi dan hawa nafsu kita sehingga nantinya kita tidak terjebak dalam kesombongan. Selain itu, manusia tidak terikat ruang dan waktu. Ia bisa menjadi dirinya sendiri, bisa menjadi orang lain, dan bisa menjadi apa saja. Sehingga yang dikatakan oleh orang tua berambut putih “tiadalah sebenar-benar dirimu itu logos” bahwa iadalah sebenar-benarnya dirimu adalah dirimu sendiri. Mari memohon ampun dari kesombongan-kesombongan yang tidak sengaja pernah kita lakukan. Na’udzubillahi min dzaalik.

    ReplyDelete
  3. Cahya Mar'a Saliha Sumantri
    18709251034
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr.wb.
    Dialog belalang tersebut bisa mencerminkan kehidupan manusia saat ini, atau mungkin sejak manusia jaman dulu. Perbedaan yang dipaksakan, itu merupakan inti yang bisa saya petik dari dialog di atas. Misalnya, manusia A menceritakan tentang masalahnya lalu manusia B menanggapi dengan memberikan masukan-masukan yang dapat meringankan beban pikiran, sedangkan manusia C menyanggah masukan manusia B dan memberikan masukannya. Manusia C menganggap masukannya lah yang harus diikuti oleh manusia A, dari situ bisa juga dipetik bahwa menghargai beriringan dengan tidak menghargai di mana sanagat tipis sekali perbedaannya. Kadang, saat menghargai pendapat orang lain secara tidak sadar juga dirinya sendiri memberikan pendapat yang menjatuhkan pendapat orang lain. Sehingga, perlu adanya kesadaran diri atau refleksi diri setiap harinya agar mencapai logos tertentu.

    ReplyDelete
  4. Falenthino Sampouw
    18709251006
    S2 Pendidikan Matematika

    Selamat sore, Prof.
    Logos berpengaruh pada dimensi. Dimensi pencari logos dan belalang berbeda. Manusia adalah dewa dari belalang. Karena kemampuan mencapai logosnya telah berbeda. Belalang tak akan sanggup menggapai logosnya manusia tanpa keajaiban dari Tuhan Sang Pencipta. Jadi tanpa Bantuan Yang Maha Kuasa, sangat sulit bagi manusia melakukan segala upaya agar belalang harus menggapai logos yang setara dengan manusia.
    Terima kasih, Prof.

    ReplyDelete
  5. Aizza Zakkiyatul Fathin
    18709251014
    Pps Pendidikan Matematika A

    Dari elegi ini Saya mendapatkan pelajaran bagaimana seseorang harus pandai berkomunikasi. Dalam komunikasi dengan orang lain sudah seharusnya kita menyesuaikan dengan orang tersebut. Apabila dalam berkomunikasi gunakan bahasa dan topik bahasan yang sesuai. Ketika kita menggunakan bahasa yang terlalu tinggi maka yang terjadi seperti logos dan belalang tidak nyambung. Justru logos yang demikian telah berlaku sombong. Orang yang cerdas adalah orang yang dapat menyesuaikan dengan lingkungannya. Berlaku sombong adalah keadaan yang berhenti dalam berpikir, karena sudah merasa puas apa yang dia peroleh. Padahal sebenar-benar kita adalah semata-mata sedang menggapai logos atau ilmu pengetahuan.

    ReplyDelete
  6. Deden Hidayat
    18709251032
    S2 Pendidikan Matematika B 2018

    Berdasarkan elegi tersebut bahwa kesombongan merupakan hal yang harus kita buang dari dalam diri kita. Kesombongan yang ada dalam diri kita akan membuat diri kita menjadi seseorang yang ambisius, dimana ambisius tersebut dapat memberikan pengaruh buruk. Ambisius bisa berakibat hilangnya kontrol didalam diri kita. Sedangkan untuk dapat menjalani kehidupan dengan baik diperlukan kontrol diri yang baik. Oleh karena itu, agar kita terjauh dari keinginan yang berlebih atau ambisius maka yang harus kita lakukan yaitu menghilangkan kesombongan. Sifat sombong dapat kita hilangkan jika kita sudah mampu mengolah pikiran dan hati dengan baik.

    ReplyDelete
  7. Rosi anista
    18709251040
    S2 Pendidikan Matematika B

    Assalamualaikum wr wb
    Dialog yang sangat menarik pak. Dari cerita di atas saya dapat menarik kesimpulan bahwa suatu keinginan di luar kemampuan tidak boleh dipaksakan. Seperti pemikiran logos terhadap seekor belalang, bagaimanapun si logos berkata pemikiran si belalang tidak akan pernah sama. Suatu keinginan merupakan suatu pengharapan seseorang terhadap sesuatu, memang benar dalam kehidupan manusia harus memiliki suatu pengharapan agar hidup lebih terarah dan memiliki tujuan.

    ReplyDelete
  8. Elsa Apriska
    18709251005
    S2 PM A 2018

    Elegi di atas menyampaikan bahwa Logos mengharapkan sesuatu yang terlalu tinggi dari seekor belalang. Yang saya pahami disini bukan berarti belalang tidak bisa menggapai logosnya manusia hanya saja memang belalang dan manusia itu sudah berbeda dimensi. Mungkin juka dikaitkan dengan kehidupan manusia adalah setiap manusia itu memiilki keterbatasannya. Tidak semua yang ia ingini bisa ia dapatkan. Karena itu lah manusia memerlukan bantuan dari Yang Maha Kuasa atas keterbatasannya tersebut.

    ReplyDelete
  9. Bayuk Nusantara Kr.J.T
    18701261006
    PEP S3

    Yang benar adalah engkau sedang menggapai logos. Seseorang jika sudah merasa menggapai logos, maka, dia akan berhenti untuk berpikir. Dengan demikian, kita tidak boleh merasa cepat mengerti sehingga akan tetap belajar.

    ReplyDelete
  10. Amalia Nur Rachman
    18709251042
    S2 Pendidikan Matematika B UNY 2018

    Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda beda, seperti yang diilustrasikan pad dialog elegi di atas. Namun, yang dapat kita petik yaitu, ketika kita menuntut ilmu harus diiringi dengan keikhlasan, daya juang yang tinggi, dan doa yang akan mendukung segala keberhasilan melalui proses dengan KuasaNya. Yang perlu diingat yaitu jangan sampai ada kesombongan dalam diri kita, karena kesombogan hanya akan membuat diri kita terjerumus pada sudut pandang yang salah mengenai dunia dan kebenaran yang sesungguhnya. Maka dari itu, dalam berfilsafat kita sebaiknya mempunyai pikiran yang luas dan mendalam yang selalu didasari pada spiritualitas

    ReplyDelete
  11. Surya Shofiyana Sukarman
    18709251017
    S2 Pendidikan Matematika A 2018

    Dari postingan diatas kita dapat memetik pelajaran bahwa sepatutnya mausia terus belajar dan memperbaiki di, baik itu untuk dunia maupun untuk akhirat, marilah belajar dengan bijak, dengan ambisi yang terkontrol agar terjauh dari sifat sombong. Manusia tidak akan mampu menggapai semua ilmu yang ada di dunia ini, karena di atas ilmu masih ada ilmu, di atasnya pun masih ada ilmu, di atas atasnya ilmu masih ada ilmu lagi, begitulah seterusnya.

    ReplyDelete